Kembali ke berita

Rasil News

Reformasi Polri Dinilai Mendesak untuk Kembalikan Profesionalisme dan Etika Institusi

Admin

Bagikan

Reformasi Polri Dinilai Mendesak untuk Kembalikan Profesionalisme dan Etika Institusi

Depok, Rasilnews — Reformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali menjadi sorotan dalam Final Debat Hukum Tingkat Nasional bertema “Reformasi Polri & Masa Depan Demokrasi Indonesia”. Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Titi Anggraini, S.H., M.H., Mahfud MD, Eko Rudi Sutarto, dan Asfinawati.

Dalam pemaparannya, Titi Anggraini menegaskan bahwa reformasi Polri menjadi kebutuhan mendesak ketika institusi penegak hukum mengalami pergeseran dari fungsi dan nilai dasarnya. Menurutnya, reformasi harus dipahami sebagai upaya mengembalikan kepolisian pada fitrahnya sebagai institusi profesional, netral, dan beretika dalam negara demokrasi.

“Reformasi tidak cukup dimaknai sebagai perubahan struktural semata, tetapi harus menyentuh aspek profesionalisme dan etikalitas aparat. Tanpa itu, kepercayaan publik terhadap penegakan hukum akan terus tergerus,” ujar Titi dalam forum Final Debat hukum Tingkat nasional dengan tema Reformasi Polri dan Masa Depan Demokrasi Indonesia yang diselenggarakan oleh Integrity Law Firm Fakultas hukum Univeritas Indonesia di Makara Art Centre UI, Kampus Depok, Senin (02/02/25).

Ia menjelaskan, profesionalisme aparat kepolisian merupakan prasyarat utama agar penegakan hukum dapat berjalan secara objektif, independen, dan bebas dari kepentingan politik praktis. Sementara itu, etikalitas menjadi landasan moral agar kewenangan yang dimiliki tidak disalahgunakan dan tetap berpihak pada perlindungan hak asasi manusia.

Titi juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran publik terhadap gejala politisasi institusi negara, termasuk aparat penegak hukum. Menurutnya, ketika kepolisian terlibat atau dipersepsikan terlibat dalam kepentingan politik tertentu, maka prinsip negara hukum dan kualitas demokrasi akan terancam. “Dalam demokrasi, polisi adalah institusi sipil kunci. Ketika netralitasnya dipertanyakan, maka keadilan elektoral dan rasa aman warga negara ikut terganggu,” ujarnyanya.

Sejalan dengan itu, reformasi Polri dipandang penting untuk memastikan kepolisian tetap berada di posisi tengah dan tidak menjadi alat kekuasaan. Netralitas aparat dinilai sebagai fondasi utama dalam menjamin kesetaraan di hadapan hukum serta mencegah penegakan hukum digunakan sebagai instrumen tekanan politik.

Selain penguatan profesionalisme dan netralitas, Titi Anggraini menekankan pentingnya akuntabilitas dan pengawasan yang efektif. Menurutnya, standar etika yang jelas dan mekanisme pertanggungjawaban yang transparan akan memperkuat legitimasi kepolisian di mata publik. Hal tersebut sejalan dengan prinsip negara hukum yang menempatkan hukum sebagai panglima, bukan kekuasaan.

Dengan demikian, reformasi Polri bukan sekadar agenda perubahan institusional, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga masa depan demokrasi Indonesia. Mengembalikan kepolisian pada fitrahnya sebagai pelindung masyarakat dan penegak hukum yang profesional serta beretika dinilai menjadi syarat utama bagi terwujudnya demokrasi yang sehat dan berkeadilan.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim