Kembali ke berita

Rasil News

Robohnya Lumbung Kami : FOI Ingatkan Bahaya Hilangnya Kemandirian Pangan Indonesia

Admin

Bagikan

Robohnya Lumbung Kami : FOI Ingatkan Bahaya Hilangnya Kemandirian Pangan Indonesia

Depok, Rasilnews — Hilangnya lumbung pangan masyarakat dinilai menjadi tanda memudarnya kemandirian pangan sekaligus lunturnya budaya gotong royong di tengah masyarakat desa. Kondisi itu menjadi perhatian dalam diskusi “Robohnya Lumbung Kami : Menyambut Hari Kebangkitan Nasional – Rembug Pangan Indonesia 2026” yang digelar Food Bank of Indonesia di Gedung IV Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Rabu (20/5/2026).

Pendiri FOI, Muhammad Hendro Utomo, mengatakan forum diskusi tersebut menghasilkan berbagai gagasan dan solusi untuk membangun kembali gerakan lumbung pangan berbasis masyarakat serta menghidupkan budaya pangan lokal.

Menurut Hendro, kebangkitan pangan nasional harus dimulai dari kebangkitan lumbung masyarakat. Karena itu, FOI menyiapkan rangkaian kampanye hingga Hari Pangan Sedunia pada Oktober 2026 dengan mengangkat semangat Hari Kebangkitan Nasional dan peran generasi muda.

“Kalau kita ingin bangkit, maka lumbungnya harus dibangkitkan lebih dulu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, istilah “Robohnya Lumbung” dipilih karena lumbung pangan warga kini hampir tidak lagi ditemukan di desa-desa. Padahal, lumbung bukan sekadar tempat menyimpan hasil panen, tetapi juga simbol gotong royong dan kemandirian masyarakat.

“Yang hilang bukan hanya bangunan lumbungnya, tetapi juga budaya, teknologi tradisional, sampai benih-benih lokal,” katanya.

Hendro menilai Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan benih lokal yang sangat besar. Namun, banyak varietas padi tradisional perlahan menghilang dan tergantikan oleh benih pabrikan.

Ia mencontohkan sejumlah varietas seperti Pandanwangi, Rojolele, hingga Mendel dari Gunungkidul yang dahulu mudah ditemukan, tetapi kini semakin langka.

Menurutnya, persoalan pangan saat ini bukan semata soal keterbatasan lahan pertanian. Sebab, lahan di desa-desa masih tersedia cukup luas. Yang justru hilang adalah benih lokal beserta pengetahuan masyarakat dalam mengolahnya.

Padahal, kata Hendro, benih lokal memiliki banyak keunggulan, baik dari sisi rasa maupun kandungan gizi. Ia mencontohkan beras apel dari kawasan Halimun-Salak yang dinilai lebih tahan basi dan memberi rasa kenyang lebih lama.

“Kalau dimakan bersama kulit arinya, kandungan gizinya tinggi, kaya vitamin B kompleks dan protein, serta tidak mudah memicu diabetes,” ujarnya.

Hendro juga menyoroti minimnya regenerasi petani muda di Indonesia. Ia menilai sektor pertanian sejak lama dipandang tidak menjanjikan sehingga kurang diminati generasi muda.

“Anak muda tidak tertarik karena pertanian sering diposisikan hanya sebagai alat politik dan alat mempertahankan keuntungan segelintir orang,” katanya.

Karena itu, FOI mendorong pengembangan pangan lokal menjadi industri kecil berbasis masyarakat agar memiliki nilai ekonomi yang mampu menarik minat generasi muda untuk kembali bertani.

Diskusi tersebut melibatkan berbagai akademisi dan pakar lintas disiplin, di antaranya dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, akademisi Fakultas Ilmu Budaya UI, antropolog, psikolog, hingga ahli gizi.

Kegiatan itu juga menjadi bagian dari peringatan satu dasawarsa pengabdian FOI bagi masyarakat Indonesia.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim