Rasilnews — Umat Islam diingatkan untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki kualitas shalat. Ibadah shalat tidak cukup hanya dilakukan sebagai kewajiban, tetapi harus dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ dengan menghadirkan kekhusyukan, ketenangan, dan kesadaran hati.
Pesan tersebut disampaikan Ustaz Wahyudi KS di hadapan jamaah Salat Subuh Masjid Raya Cibubur Country (MRCC), Ahad (16/8/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Raya Cibubur Country dengan Radio Silaturahim dalam menghadirkan narasumber Rasil untuk mengisi tausyiah Subuh. Kerja sama tersebut diharapkan menjadi sarana memperkuat keimanan, mempererat silaturahmi, sekaligus menumbuhkan kecintaan umat kepada Rasulullah ﷺ.
Masjid Raya Cibubur Country merupakan fasilitas tempat ibadah berkonsep terbuka yang berada di dalam kawasan perumahan Cibubur Country, Jalan Letda Nasir, Cikeas-Nagrak, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Masjid yang dibangun oleh pengembang Agung Sedayu Group tersebut mulai dibangun pada 2011 dan selesai pada 2012. Konsep bangunannya mengusung desain terbuka atau open-plan dengan memanfaatkan ruang terbuka dan ventilasi untuk mendukung sirkulasi udara serta pencahayaan alami.
Dalam tausyiahnya, Ustaz Wahyudi KS mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ merupakan teladan utama bagi umat Islam, termasuk dalam pelaksanaan shalat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shallū kamā ra’aytumūnī ushalli.”
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan shalat.”
Hadis tersebut menjadi pengingat agar umat Islam tidak berhenti belajar mengenai tata cara shalat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Terus Belajar dan Mengevaluasi Ibadah
Umat Islam diingatkan untuk tidak pernah merasa puas dengan kualitas ibadah yang telah dilakukan. Evaluasi perlu dilakukan secara terus-menerus, termasuk dengan mempelajari tuntunan shalat dari para guru dan ulama.
Semakin banyak ilmu yang dipelajari, diharapkan semakin baik pula kualitas ibadah yang dilakukan. Dengan ilmu, seorang muslim dapat mengetahui apakah pelaksanaan shalatnya telah sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ atau masih terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki.
Menghadirkan Kekhusyukan dalam Shalat
Khusyuk bukan sekadar tidak banyak bergerak ketika shalat. Lebih dari itu, kekhusyukan berkaitan dengan kehadiran hati ketika menghadap Allah SWT.
Seorang muslim perlu menghadirkan kesadaran bahwa dirinya sedang bermunajat kepada Allah SWT. Dalam konteks tersebut, ihsan menjadi salah satu landasan penting dalam beribadah.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika tidak mampu melihat-Nya, maka meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat hamba-Nya.
Kesadaran tersebut diharapkan membuat seorang muslim lebih sungguh-sungguh dalam melaksanakan shalat dan tidak sekadar menjalankannya sebagai rutinitas.
Tidak Tergesa-gesa dan Menjaga Thuma’ninah
Umat Islam juga diingatkan untuk tidak tergesa-gesa dalam melaksanakan shalat. Setiap gerakan, mulai dari berdiri, rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, hingga duduk di antara dua sujud, harus dilakukan dengan tenang dan sempurna.
Peringatan ini berkaitan dengan kisah seorang sahabat yang melaksanakan shalat dengan tergesa-gesa. Rasulullah ﷺ kemudian mengajarkan agar setiap gerakan shalat dilakukan dengan benar dan disertai ketenangan.
Karena itu, shalat tidak seharusnya dipandang sebagai aktivitas yang harus segera diselesaikan. Setiap gerakan perlu dilakukan dengan kesadaran dan penghayatan.
Jangan Jadikan Shalat Sekadar Rutinitas
Shalat harus menjadi sarana seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan sampai tubuh melaksanakan shalat sementara hati justru sibuk dengan berbagai urusan dunia.
Al-Qur’an memberikan peringatan tentang orang-orang yang melaksanakan shalat dengan kemalasan.
“Wa idzā qāmū ilash-shalāti qāmū kusālā.”
“Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.”
Ayat tersebut menjadi bahan evaluasi agar umat Islam tidak hanya memperhatikan pelaksanaan shalat secara lahiriah, tetapi juga memperhatikan keadaan hati ketika beribadah.
Berusaha Melaksanakan Shalat di Awal Waktu
Melaksanakan shalat di awal waktu merupakan bentuk kesungguhan seorang muslim dalam memenuhi panggilan Allah SWT.
Karena itu, umat Islam diingatkan agar tidak terbiasa menunda-nunda shalat tanpa alasan yang dibenarkan. Menjaga waktu shalat merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Tausyiah tersebut juga mengingatkan bahwa kehidupan manusia akan selalu menghadapi berbagai ujian dan perubahan. Dalam kondisi tersebut, umat Islam perlu memiliki pegangan yang kuat dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Nasihat dan ilmu agama juga perlu diterima dengan sikap terbuka selama bersandar pada kebenaran dan tuntunan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Para sahabat Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan dalam kesabaran, adab, dan ketaatan terhadap petunjuk Rasulullah ﷺ. Keteladanan tersebut perlu terus dipelajari dan diterapkan oleh umat Islam saat ini.
Pada akhirnya, memperbaiki shalat berarti juga memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Umat Islam diajak untuk terus belajar, mengevaluasi ibadah, menghadirkan kekhusyukan, menjaga thuma’ninah, serta berusaha melaksanakan shalat di awal waktu.
Dengan demikian, shalat tidak berhenti sebagai kewajiban ritual, tetapi menjadi sarana untuk membentuk pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT dan semakin baik dalam menjalani kehidupan.












