Kembali ke berita

Tajuk

Tajuk Rasil : Hindu Radikal dan Zionisme adalah Bahaya Besar Bagi Dunia Multibudaya

Admin

Bagikan

Rabu, 02 Rabiul Awwal 1444 H/ 28 September 2022

Artikel Hidayatullah.com, oleh: Shamsul Islam

Mereka yang meyakini sebuah dunia yang bebas dari hegemonik etno-nasionalisme, rasisme, kefanatikan agama, dan kebencian sudah tepat dengan mengawasi Zionisme dan sekutunya (Zionisme Kristen), pelaku utama pembersihan etnis “lain”. Namun, peradaban yang meyakini multikulturalisme dan koeksistensi damai ini tidak menyadari ancaman lain yang juga tidak kalah berbahaya, yaitu Zionisme Hindutva atau Hindu Radikal.

Seperti yang terbaca dalam istilah tersebut, Hindutva adalah cara pandang Hindu radikal, singkatnya India Hindu eksklusif tanpa Muslim dan Kristen. Agama-agama lain seperti Sikhisme, Buddha, dan Jainisme tidak memiliki status independen tetapi diperlakukan sebagai bagian dari Hinduisme.

Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS; Organisasi Sukarelawan Nasional) adalah pembawa bendera paling menonjol dari politik Hindu radikal yang kadernya saat ini memerintah India. RSS didirikan oleh Keshav Baliram Hedgewar pada tahun 1925 yang kecewa dengan perjuangan kemerdekaan India yang dipimpin oleh Mohandas Karamchand Gandhi ketika melawan kekuasaan Inggris karena percaya bahwa bangsa India adalah entitas gabungan yang terdiri dari Hindu, Muslim , Sikh, Kristen dan pengikut agama lain yang tinggal di India.

Hedgewar dan rekan-rekannya secara agresif mengklaim bahwa India adalah negara eksklusif Hindu. Bagi RSS, musuh sebenarnya bukanlah penguasa Inggris, melainkan Muslim dan Kristen karena mereka menganut agama asing. Jadi RSS mewakili nasionalisme Hindu radikal, yang disebut sebagai Hindutva yang menentang nasionalisme India yang inklusif dari Gandhi. Menurut ideologinya, Hindutva adalah ‘Hindu’ sejati yang tidak boleh direduksi menjadi apa yang dipahami sebagai Hinduisme. Hindutva adalah komitmen agresif terhadap keyakinan bahwa India adalah Tanah Air dan Tanah Suci umat Hindu yang merupakan Arya, berbahasa Sansekerta dan percaya pada Kastaisme. Orang lain adalah ras asing.

Yang penting lagi, RSS dan kader-kader terkemukanya yang sekarang memerintah India adalah pendukung paling vokal dari Zionisme dan Zionis Israel setelah Barat. Penulis terkenal India, Khushwant Singh mencatat bahwa RSS “mendukung Zionisme dan negara Yahudi Israel tanpa alasan lain selain bahwa RSS selamanya mengobarkan perang melawan tetangga Arabnya yang beragama Islam”. Pemimpin RSS saat ini, Mohan Bhagwat seperti pendahulunya telah meminta kader RSS untuk meniru Israel untuk menapaki “jalan Israel sambil melayani perjuangan nasionalisme.”

Di tingkat pemerintahan Narendra Modi [Perdana Menteri India sejak 2014] yang juga merupakan ideolog terkemuka RSS adalah Perdana Menteri India pertama yang mengunjungi Israel pada pertengahan 2017 [hampir 70 tahun setelah berdirinya Republik India] dengan kemudian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi India pada awal 2018. Keduanya terus menikmati persahabatan dekat meskipun Netanyahu tidak lagi menjadi perdana menteri Israel.

India tidak hanya menjadi salah satu importir terbesar senjata Israel tetapi juga konsumen terbesar peralatan pengawasan dan intelijen entitas Zionis. Pengungkapan terakhir tentang Israel yang membuat spyware Pegasus memperjelas bagaimana India secara besar-besaran membelinya untuk digunakan memata-matai pengacara, jurnalis, politisi dan aktivis yang diduga menentang politik Hindutva. Kolaborasi Zionis Israel dan India dibuktikan dengan fakta bahwa India tetap menjadi satu-satunya negara demokrasi yang tidak membagikan informasi apa pun tentang pembelian spyware Pegasus yang telah digambarkan sebagai ‘senjata dunia maya paling kuat’.

Saking tertutupnya pemerintah Modi, Mahkamah Agung, pengadilan tertinggi India harus membentuk komite untuk mencari tahu kebenaran pada Oktober 2021. Laporan itu diserahkan dalam sampul tertutup pada 25 Agustus 2022. Itu adalah skenario yang menyedihkan bagi demokrasi India bahwa para penguasa India bahkan menolak untuk menanggapi komite yang ditunjuk oleh pengadilan tertinggi yang pertimbangannya bersifat rahasia. Hanya karena alasan yang diketahui Pengadilan, putusan itu tidak dijatuhkan. Sementara itu, dua wartawan investigasi terkenal; Ronen Bergman dan Mark Mazetti yang mengandalkan dokumen resmi Israel menegaskan bahwa India memang membeli Pegasus atas izin Netanyahu. Menurut laporan tersebut,

“Pada Juli 2017, Narendra Modi, yang memenangkan jabatan dengan platform nasionalisme Hindu, menjadi perdana menteri India pertama yang mengunjungi Israel. Kunjungan Modi, bagaimanapun, sangat ramah, lengkap dengan momen yang dipentaskan dengan hati-hati saat dia dan Perdana Menteri Netanyahu berjalan bersama tanpa alas kaki di pantai setempat. Mereka punya alasan untuk perasaan hangat itu. Negara-negara mereka telah menyetujui penjualan paket senjata canggih dan peralatan intelijen senilai sekitar $ 2 miliar – dengan Pegasus dan sistem rudal sebagai pusatnya. Beberapa bulan kemudian, Netanyahu melakukan kunjungan kenegaraan yang langka ke India. Dan pada Juni 2019, India memberikan suara untuk mendukung Israel di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB untuk menolak status pengamat ke organisasi hak asasi manusia Palestina, yang pertama bagi bangsa itu.” Seolah menegaskan India telah meninggalkan bangsa Palestina.

Wallahu a’lam bis shawaab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim

Tajuk Rasil : Hindu Radikal dan Zionisme adalah Bahaya Besar Bagi Dunia Multibudaya · Berita · Radio Silaturahim 720 AM