Kembali ke berita

Tajuk

Tajuk Rasil : Ketika Tokoh Agama Bergelimang Tahta dan Harta

Admin

Bagikan

Tajuk Rasil : Ketika Tokoh Agama Bergelimang Tahta dan Harta

Rabu, 21 Rabiul Akhir 1444 H/ 16 November 2022

Artikel Hidayatullah.com

Islam adalah agama yang adil. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan dunia agar menjadi orang taqwa. Justru, umat Islam diperintahkan menjadi umat yang kuat agar bisa menjalankan amanah dakwah dengan baik. Karena itu, umat Islam diperintahkan untuk menaklukkan dunia, bukan untuk mencintainya, tetapi wajib menggunakan dunia itu untuk kebaikan bersama.

Sejumlah sahabat Nabi Muhammad ﷺ, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya – radhiyallaahu ‘anhum – dikenal sebagai orang-orang berharta. Bahkan, sebagian juga dikenal sebagai orang yang sangat kaya dan sekaligus sebagai penguasa, seperti Utsman bin Affan r.a. Tetapi, para sahabat Nabi itu memberikan teladan, bagaimana meletakkan kekuasaan (tahta) dan harta secara adil. Mereka tetap menjadi manusia-manusia yang sangat tinggi ketaqwaan dan akhlaknya. Mereka bisa dijadikan teladan bagi umat manusia.

Namun tidak dapat dipungkiri, godaan tahta dan harta itu begitu kuat. Kekuasaan adalah hal yang diimpikan oleh manusia. Kadangkala ada orang sudah melimpah hartanya, tetapi tetap berburu tahta, dengan berbagai alasan. Jika tahta dan harta digunakan dengan adil, maka keduanya akan memberikan dampak kebaikan yang besar. Tetapi, tahta dan harta juga bisa melenakan manusia. Bahkan, tokoh agama pun bisa terjebak untuk mengejar dan menyalahgunakan tahta dan harta. Padahal, para tokoh agama adalah manusia-manusia yang sepatutnya sudah “selesai” urusan dunianya.

Dalam pandangan Islam, para tokoh agama adalah pelanjut perjuangan para nabi. Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Beliau memberikan contoh yang nyata, bagaimana tahta dan harta beliau gunakan secara optimal untuk kebaikan. Jika para tokoh agama gagal menjadi contoh dalam penegakan akhlak mulia, maka musibah besar akan menimpa umat manusia. Sebab, para tokoh agama (ulama) itu ibarat bintang yang menerangi jalan di tengah kegelapan. Manusia akan semakin jauh dari agama, karena tidak menemukan sosok yang bisa dijadikan teladan.

Masyarakat Barat yang menolak campur tangan agama dalam kehidupan pun dipicu oleh perilaku tokoh-tokoh agama mereka yang terjebak dalam kubangan kenikmatan tahta dan harta, ditambah wanita. Inilah yang digambarkan oleh Brenda Ralph Lewis dalam bukunya: “Sejarah Gelap Para Paus – Kejahatan, Pembunuhan, dan Korupsi di Vatikan”(Kompas-Gramedia). Seorang Paus – pemimpin tertinggi agama Katolik – bernama Benediktus IX, ditulis sebagai: “salah satu paus abad ke-11 yang paling hebat berskandal, yang dideskripsikan sebagai seorang yang keji, curang, buruk dan digambarkan sebagai ‘iblis dari neraka yang menyamar sebagai pendeta’.

Kejahatan Paus Benediktus IX ini luar biasa. Ia lahir sekitar tahun 1012. Dua orang pamannya juga sudah menjadi Paus, yaitu Paus Benediktus VIII dan Paus Yohanes XIX. Ayahnya, Alberic III, yang bergelar Count Tusculum, memiliki pengaruh kuat dan mampu mengamankan singgasana Santo Petrus bagi Benediktus, meskipun saat itu usianya masih sekitar 20 tahunan. Paus muda ini digambarkan sebagai seorang yang banyak melakukan perzinahan busuk dan pembunuhan-pembunuhan. Penggantinya, Paus Viktor III, menuntutnya dengan tuduhan melakukan ‘pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan lain yang sangat keji’.

Kehidupan Benediktus, lanjut Viktor, ‘Begitu keji, curang dan buruk, sehingga memikirkannya saja saya gemetar.” Benediktus juga dituduh melakukan tindak homoseksual dan bestialitas. Kekuasaan yang begitu besar dimiliki oleh para tokoh agama yang berujung kepada penyelewengan, kemudian menyulut berbagai protes. Tahun 1887, Lord Acton seperti menyindir hegemoni kekuasaan agama dan menulis surat kepada Bishop Mandell Creighton.

Revolusi Prancis, tahun 1789, yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”, juga dipicu oleh kerusakan moral sebagian tokoh agama yang terlibat dalam penindasan rakyat. Muncullah trauma masyarakat Barat terhadap para tokoh agama, sampai-sampai mereka memekikkan semboyan: “Berhati-hatilah, jika Anda berada di depan wanita, hatilah-hatilah Anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta.”(New York: Cambridge University Press, 1975).

Kita perlu belajar dari sejarah masyarakat Barat itu. Para tokoh agama yang sedang diuji oleh Allah SWT dengan limpahan tahta dan harta perlu sangat berhati-hati dalam menjalankan amanahnya. Jangan sampai masyarakat memandang agama hanya dijadikan sebagai alat untuk memenuhi syahwat tahta dan harta. Ingat, Iblis paham betul bagaimana menjerumuskan manusia dalam kesesatan! Iblis tahu titik-titik lemah manusia. Semoga Allah SWT melindungi kita semua, para ulama dan para pemimpin kita! Aamiin.

Walllahu A’lam bishshawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim

Tajuk Rasil : Ketika Tokoh Agama Bergelimang Tahta dan Harta · Berita · Radio Silaturahim 720 AM