Kembali ke berita

Tajuk

Tajuk Rasil “Membela Mereka yang Al-Mustadh’afiin”

Admin

Bagikan

Tajuk Rasil “Membela Mereka yang Al-Mustadh’afiin”

“Tajuk Rasil”
Kamis, 4 Rabiul Akhir 1445 H/ 19 Oktober 2023

Oleh: Imam Syamsi Ali

Saya yakin jika saja seseorang memilki akal sehat dan hati nurani pastinya akan menerima kenyataan jika dalam konflik Palestina-Israel ini pihak yang mustadh’afin (yang lemah) dan mazhlumin (terzholimi) adalah bangsa Palestina. Mereka adalah korban penjajahan lebih 70 tahun; tanah, rumah, bahkan nyawa sedemikian banyak yang telah korban. Sementara dalam setiap peristiwa yang terjadi selalu dipaksa dan dipojokkan untuk berada di posisi kejahatan.

Saya tidak ingin lagi merincikan penderitaan bangsa Palestina dari masa ke masa. Sejak tahun 1947 hingga kini semua telah menjadi catatan kelam sejarah. Bagaimana wilayah Palestina di awal Israel diberikan sebongkah tanah oleh Inggris sedemikian luas dan subur. Kehidupan bangsa Palestina sangat maju dan makmur karena mereka termasuk bangsa yang kepintarannya di atas rata-rata. Tapi setelah sekian lama terjajah bangsa Palestina dipaksa memposisika diri seolah bangsa terbelakang, kurang terdidik, bahkan biadab.

Semua itu seharusnya menjadikan mereka yang berakal sehat dan punya hati nurani mengakui jika bangsa Palestina memang bangsa yang dilemahkan (mestadh’afii) dan terzholimi (mazhlumin). Dan karenanya dengan akal sehat dan hati nurani pula hendaknya bangsa Palestina mendapat perlakuan sebagai mustadh’afin dan mazhlumin, baik secara moral keagamaan maupun kemanusiaan. Berikut ini beberapa argumentasi yang mendasar Kenapa bangsa Palestina harus mendapat dukungan sebagai pihak al-mustadh’afin al-mazhlumi:

Satu, karena pertimbangan dasar kemuliaan manusia. Baik dalam pandangan Islam maupun atas dasar nilai Universal kemanusiaan atau kemuliaan manusia menjadi hak yang sangat mendasar. Dalam pandangan Islam diyakini bahwa kemuliaan manusia secara alami merupakan pemberian Allah yang sangat mendasar. “Dan Sungguh Kami (Allah) telah muliakan anak cucu Adam”. Dan dalam tatanan Deklarasi Universal HAM juga mendapat tempat yang mendasar.

Dua, salah satu bentuk kemuliaan manusia adalah kebebasan yang Allah karuniakan kepada mereka. Kita yakini bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia melalui deklarasi Tauhid “laa ilaaha illallah”. Esensi dasar dari kalimah Tauhid adalah “kebebasan” yang bertanggung jawab. Manusia bebas tapi punya tanggung jawab kepada Tuhan (illallah). Jaminan kebebasan juga dipastikan melalui Deklarasi Universal HAM yang dideklarasikan di tahun 1948, berabad-abad setelah Islam mendeklarasikan melalui firman Ilahi dan lisan Rasulullah ﷺ.

Tiga, karena tuntutan keadilan dan kesetaraan. Menjadi tuntutan alami manusia untuk diperlakukan secara adil dan setara. Pada konteks ini pastinya saja pasti akan mengakui kenyataan bahwa bangsa Palestina telah diperlakukan secara sangat tidak adil dan diskriminatif. Baik oleh dunia internasional, khususnya kalangan negara-negara besar yang mengaku demokratis dan beradab juga media. Keadilan dalam pandangan Islam menjadi sangat mendasar. Bahkan menjadi salah satu karakteristik ketakwaan yang mendasar: “berbuat adillah karena itu dekat kepada ketakwaan”. Dalam nilai kemanusiaan keadilan menjadi esensi. Sehingga dalam Konstitusi banyak negara, termasuk Amerika (justice for all) dan Indonesia (keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

Empat, perintah amar ma’ruf nahi mungkar. Perintah menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran menjadi sangat mendasar dalam ajaran Islam. Bahkan sekiranya ada rukun Islam keenam, perintah inilah yang menjadi rukunnya. Ma’ruf atau kebaikan tertinggi dalam ajaran Islam adalah kebebasan yang diekspresikan dalam ketauhidan. Sebaliknya kemungkaran terbesar adalah isti‘bad (penyembahan selain kepada Allah. Penjajahan adalah bentuk perlakuan perbudakan kepada sesama dan merupakan kemungkaran yang harus dihapuskan.

Lima, karena memang panggilan ukhuwah. Dalam hal ini bisa karena ukhuwah islamiyah. Tapi bisa juga karena ukhuwah insaniyah/basyariyah. Membela kaum mustadh’afin seperti bangsa Palestina dan mereka yang termarjinalkan di berbagai belahan dunia adalah bagian dari komitmen ukhuwah, baik karena dasar ukhuwah islamiyah maupun karena dasar ukhuwah insaniyah. Yang ingin saya simpulkan adalah pembelaan kepada kaum mustadh’afin seperti bangsa Palestina bukan sekedar karena emosi atau sentimen buta. Tapi memang memiliki dasar kuat pada nilai-nilai yang diyakini, baik pada aspek keagamaan maupun kemanusiaan. Dan karenanya tidak harus Muslim untuk anda membela Palestina. Cukup sadar diri sebagai manusia.

Tapi jika anda Muslim dan manusia, maka kewajiban itu menjadi sempurna pada kedua sisi nilai; keagamaan dan kemanusiaan. Terlebih lagi bagi bangsa Indonesia. Atas mereka ada kewajiban moral sekaligus kewajiban konsitusi yang mengharuskan mereka untuk ikut berjuang menghapuskan penjajahan di atas dunia ini. Dan lebih khusus lagi bangsa Indonesia punya utang sejarah. Palestina adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.

Tentu harapannya bahwa dukungan itu bukan sekedar dengan kata-kata dan retorika. Tapi dengan aksi nyata yang memungkinkan. Bagi pemerintah seharusnya dari awal menyerukan pertemuan darurat tingkat tinggi OKI atau negara-negara Islam untuk memberikan dukungan nyata ke Palestina. Salah satunya melalui pressure politik dan dagang. Sayang hingga kini pertemuan darurat negara-negara Islam itu belum ada. Seolah pembantaian ribuan rakyat sipil itu hal biasa. Bagi masyarakat luas, salah satu yang bisa dilakukan dan penting saat ini adalah mendoakan Saudara-Saudara kita di Palestina. Semoga Allah kuatkan dan karuniakan kemenangan. Dan yang meninggal semoga diterima ke dalam golongan hamba-hambaNya yang syuhada. Amin!

Wallahu a’lam bis showwab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim

Tajuk Rasil “Membela Mereka yang Al-Mustadh’afiin” · Berita · Radio Silaturahim 720 AM