Kembali ke berita

Rasil News

Waspada Gempa Mesti Jadi Budaya

Admin

Bagikan

Waspada Gempa Mesti Jadi Budaya

Rabu, 6 Rabiul Awwal 1448 H/ 19 Agustus 2026
Artikel Media Indonesia.com

Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) akhir pekan lalu kembali mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan gempa tinggi. Berada di kawasan ‘ring of fire’ dan pertemuan sejumlah lempeng tektonik membuat aktivitas seismik menjadi risiko yang harus dihadapi masyarakat. Karena itu, gempa NTT tidak boleh dipandang sebagai bencana yang selesai setelah tanggap darurat berakhir. Peristiwa tersebut harus menjadi momentum mengevaluasi kesiapan masyarakat, kualitas infrastruktur, dan efektivitas mitigasi yang selama ini dijalankan.

Edukasi kebencanaan harus menjadi agenda utama. Masyarakat tidak cukup diberi tahu bahwa Indonesia rawan gempa, tetapi harus dibekali pengetahuan praktis tentang apa yang dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa. Pengetahuan mengenai jalur evakuasi, titik kumpul, cara menyelamatkan diri, serta mekanisme pelaporan keadaan darurat dapat mengurangi kepanikan dan menekan risiko korban.

Edukasi itu harus berkelanjutan. Pemerintah tidak boleh menunggu bencana datang untuk kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan. Kampanye kebencanaan harus hadir dalam keseharian dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan akses informasi.

Sekolah menjadi tempat strategis membangun budaya tersebut. Edukasi dan simulasi gempa perlu dilakukan berkala, bukan sekadar seremonial. Anak-anak harus memahami tindakan penyelamatan, jalur evakuasi, dan lokasi berkumpul yang aman. Kebiasaan itu diharapkan terbawa hingga ke rumah. Dalam menerima informasi gempa, masyarakat juga harus mengutamakan sumber resmi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat memercayai jaringan pemantauan nasional yang ditopang lebih dari 2.000 sensor kegempaan. Kepercayaan pada sumber resmi penting untuk mencegah informasi keliru yang dapat memicu kepanikan.

Kesiapsiagaan masyarakat juga harus diiringi pembenahan infrastruktur. Paradigma pembangunan perlu digeser dari sekadar mendirikan bangunan tahan gempa menjadi bangunan yang benar-benar aman gempa. Perhatian tidak cukup pada kekuatan struktur utama, tetapi juga elemen nonstruktur yang dapat terlepas dan menimbulkan korban. Pengalaman gempa NTT menunjukkan bahwa bangunan yang struktur utamanya tetap berdiri belum tentu sepenuhnya aman.

Karena itu, standar keselamatan harus memperhitungkan seluruh unsur yang berpotensi membahayakan. Pemerintah pusat dan daerah harus memastikan standar konstruksi diterapkan konsisten. Pengawasan tidak boleh berhenti pada dokumen administratif. Sekolah, rumah sakit, fasilitas publik, dan permukiman di kawasan rawan gempa harus menjadi prioritas penguatan.

Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mengubah kehidupan warga. Di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, misalnya, 3.000 jiwa terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi lampu darurat dan selimut seadanya. Pemerintah tentu saja tidak boleh tinggal diam dan berpangku tangan. Jarak Jakarta ke NTT yang membentang sejauh 2.225 kilometer tidak menjadi halangan bagi pemerintah pusat untuk segera datang dan menolong. Ada komitmen dan tanggung jawab yang dikedepankan meskipun terpaut faktor geografis.

Ketika bencana tiba, pemerintah memang harus memperhatikan betul soal pendistribusian bantuan. Sering kali masalahnya bukan pada ketersediaan stok di gudang pusat, melainkan pada rantai pasok dan jalur distribusi ke wilayah terisolasi. Tidak hanya itu, bantuan darurat kerap terjebak pada pemenuhan karbohidrat seperti mi instan dan beras demi alasan kepraktisan, sementara aspek gizi seimbang (protein, vitamin) terabaikan. Perencanaan logistik haruslah berbasis standar kesehatan pengungsi. Dalam situasi darurat, bantuan tidak cukup hanya hadir, tetapi juga harus layak dan memadai bagi mereka yang terdampak.

Pada akhirnya, investasi terbesar menghadapi gempa bukan membangun kembali setelah kehancuran, melainkan mempersiapkan masyarakat sebelum bencana datang. Biaya edukasi, simulasi, dan penguatan bangunan jauh lebih murah daripada rehabilitasi dan kehilangan nyawa. Indonesia tidak mungkin mencegah gempa, tetapi risikonya dapat ditekan. Dengan demikian, kesiapsiagaan harus menjadi budaya, bukan sekadar reaksi sesaat ketika bencana terjadi.

Wallahu a’lam bish shawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim