Jakarta, Rasilnews — Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian setelah dolar Amerika Serikat menyentuh angka Rp17.710 per dolar AS (data Selasa 19 Mei 2026). Meski rupiah mengalami tekanan, kondisi tersebut dinilai belum menunjukkan adanya masalah serius pada fundamental ekonomi Indonesia.
Hal itu disampaikan Ikhwan Abidin Basri, pakar ekonomi syariah, penulis, sekaligus penerjemah buku-buku ekonomi Islam di Indonesia, usai mengisi program Ekonomi Islam Radio Silaturahim, Selasa (19/05/26).
Menurut Ikhwan, secara fundamental kondisi ekonomi Indonesia masih cukup baik. Ia mencontohkan neraca perdagangan Indonesia yang terus mencatat surplus selama sekitar 70 bulan berturut-turut.
“Artinya ekspor kita masih lebih besar dibanding impor. Dari sisi perdagangan luar negeri, sebenarnya kondisi ekonomi kita masih kuat,” ujarnya.
Meski demikian, Ikhwan menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi kondisi perdagangan, tetapi juga pergerakan modal di pasar keuangan global.
Ia mengatakan, ketika investor melihat peluang investasi yang dianggap lebih menguntungkan di negara lain, maka modal yang berada di Indonesia bisa keluar dalam waktu cepat atau dikenal dengan istilah capital outflow.
“Kalau investor merasa ada tempat lain yang lebih menguntungkan, modal bisa berpindah keluar negeri. Itu yang biasanya membuat dolar naik dan rupiah melemah,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi seperti ini sulit dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah maupun Bank Indonesia karena sangat dipengaruhi sentimen pasar dan kondisi global.
Namun, Ikhwan menilai pelemahan rupiah saat ini masih dalam batas yang bisa dikelola. Ia optimistis rupiah dapat kembali menguat apabila kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia membaik.
“Kalau investor kembali nyaman berinvestasi di Indonesia, modal akan masuk lagi dan rupiah juga bisa kembali menguat,” katanya.
Terkait dorongan agar pemerintah segera menurunkan nilai dolar melalui intervensi besar-besaran, Ikhwan mengingatkan bahwa langkah tersebut harus dilakukan secara hati-hati.
Menurutnya, jika intervensi dilakukan terlalu agresif sementara pasar belum mendukung, hal itu justru bisa menguras cadangan devisa negara.
“Indonesia menggunakan sistem nilai tukar mengambang terkendali, bukan kurs tetap. Jadi pemerintah tidak mematok nilai rupiah terhadap dolar,” tuturnya.
Ikhwan juga menanggapi pernyataan Presiden terpilih Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak terlalu terdampak penggunaan dolar.
Ia menilai, meski masyarakat desa tidak menggunakan dolar secara langsung, dampaknya tetap bisa dirasakan melalui kenaikan harga bahan baku impor, seperti kedelai untuk produksi tahu dan tempe.
“Kalau harga kedelai impor naik karena dolar menguat, tentu pengrajin tahu dan tempe juga akan terdampak,” ungkapnya.
Di akhir wawancara, Ikhwan mengajak masyarakat untuk tetap tenang menghadapi kondisi nilai tukar saat ini. Ia menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang aman dan dapat dikelola dengan baik.
“Insyaallah aman. Selama melihat data dan kondisi yang ada, masalah ini masih bisa kita kelola,” pungkasnya.