Menggugat Negara Zionis Israel, Dr. Ahed Abu Al-Atta: Rakyat Palestina Akan Tetap Bertahan di Tanahnya

Cileungsi, Rasilnews — Palestina adalah wilayah bersejarah di Timur Tengah yang memiliki arti penting bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Di sana terdapat Masjid Al-Aqsa, salah satu tempat suci umat Islam. Dahulu Palestina berada di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, sebelum akhirnya dikuasai Inggris setelah Perang Dunia I. Pada tahun 1917, muncul Deklarasi Balfour yang mendukung pembentukan tanah air bagi Yahudi di Palestina. Sejak saat itu, konflik antara warga Palestina dan komunitas Yahudi semakin meningkat hingga berdirinya Israel pada 1948, yang membuat banyak rakyat Palestina kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi.

Hingga sekarang, konflik di Palestina masih berlangsung, terutama di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Kondisi di Gaza menjadi perhatian dunia karena banyak warga sipil terdampak perang, fasilitas umum rusak, dan bantuan kemanusiaan terbatas. Meski hidup dalam kondisi sulit, rakyat Palestina tetap bertahan di tanah mereka dan terus berharap adanya perdamaian serta kehidupan yang lebih aman di masa depan.

Melihat kondisi tersebut, Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah, Pondok Pesantren Al Fatah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menggelar seminar internasional bertajuk “Menggugat Negara Zionis Israel” pada Ahad (24/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan akademisi sekaligus aktivis kemanusiaan asal Palestina, Dr. Ahed Abu Al-Atta, sebagai pembicara utama untuk membahas sejarah konflik Palestina-Israel serta kondisi kemanusiaan terkini di Jalur Gaza.

Acara yang dihadiri ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, santri, akademisi, serta masyarakat umum itu membahas sejarah konflik Palestina-Israel, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza, hingga pentingnya solidaritas internasional terhadap rakyat Palestina.

Dr. Ahed Abu Al-Atta dikenal sebagai akademisi dan tokoh publik Palestina yang aktif berdakwah dan melakukan kegiatan kemanusiaan di Indonesia. Ia saat ini menjabat sebagai Direktur Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP), serta kerap menjadi pembicara dalam forum akademik dan kemanusiaan terkait isu Palestina.

Dalam pemaparannya, Dr. Ahed menjelaskan bahwa Palestina sejak lama menjadi wilayah yang dipandang strategis dan memiliki sumber daya alam yang melimpah. Menurutnya, para tokoh Zionis sejak awal telah menyadari nilai penting wilayah Palestina, baik secara ekonomi maupun geopolitik.

“Mereka meyakini bahwa Palestina adalah tanah yang memiliki banyak kebaikan dan sumber daya yang besar,” ujar Dr. Ahed di hadapan peserta seminar.

Ia juga menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika diajak ayahnya mengunjungi Al-Quds atau Yerusalem. Dalam perjalanan tersebut, ayahnya memperlihatkan kawasan pertanian yang dikenal sebagai penghasil tanaman tin, zaitun, dan anggur berkualitas tinggi.

“Ketahuilah bahwa Tanah Palestina adalah salah satu penghasil anggur terbaik di dunia,” kata Dr. Ahed menirukan pesan ayahnya.

Dalam seminar itu, Dr. Ahed turut menyinggung sejarah berdirinya negara Israel dan perpindahan warga Yahudi dari berbagai negara menuju Palestina setelah Deklarasi Balfour pada 1917.

Menurutnya, sebelum Palestina dipilih sebagai lokasi berdirinya negara Israel, sejumlah wilayah lain seperti Uganda, Argentina, dan Semenanjung Sinai di Mesir sempat dipertimbangkan.

Namun pada akhirnya, Palestina dipilih dengan alasan keterkaitan sejarah Yahudi dengan wilayah tersebut.

“Sebagian besar narasi sejarah itu menurut kami masih menjadi perdebatan dan banyak dipaksakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa setelah Israel berdiri, warga Yahudi dari berbagai negara diberi berbagai fasilitas untuk berpindah dan menetap di Palestina, mulai dari rumah hingga bantuan finansial.

“Mereka dijanjikan rumah dan kehidupan yang aman apabila pindah ke Palestina,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Dr. Ahed juga menyoroti kebijakan pembangunan permukiman Israel di wilayah Palestina yang menurutnya dilakukan di atas tanah milik warga Palestina.

Selain membahas sejarah, seminar tersebut banyak menyoroti kondisi terkini di Jalur Gaza yang hingga kini masih menghadapi dampak konflik berkepanjangan.

Dr. Ahed menyebut agresi militer yang terjadi telah menyebabkan banyak korban luka dan kerusakan fasilitas publik. Rumah sakit, sekolah, dan layanan dasar masyarakat disebut mengalami gangguan serius.

“Rumah-rumah sakit tidak lagi berfungsi secara normal dan sekolah-sekolah banyak yang berhenti beroperasi,” ujarnya.

Ia juga menyinggung situasi pascagencatan senjata yang menurutnya belum berjalan efektif. Pelanggaran masih terjadi dan akses bantuan kemanusiaan disebut sangat terbatas.

“Bantuan ada yang masuk, tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan kebutuhan masyarakat Gaza,” katanya.

Selain itu, warga Gaza disebut menghadapi pembatasan aktivitas ekonomi, termasuk bertani dan bekerja, yang semakin memperburuk kondisi sosial masyarakat.

Di hadapan peserta seminar, Dr. Ahed menegaskan bahwa rakyat Palestina tetap berusaha bertahan di tanah mereka meskipun menghadapi tekanan besar.

“Kami akan tetap berdiri di tanah Palestina. Kami tidak akan mundur,” ujarnya.

Menurutnya, Palestina bukan hanya persoalan rakyat Palestina semata, tetapi juga memiliki nilai penting bagi umat Islam dunia karena keberadaan Masjid Al-Aqsa.

Sementara itu, pihak STAI Al Fatah menyampaikan bahwa seminar internasional tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari edukasi publik mengenai isu kemanusiaan global dan upaya membangun kepedulian terhadap perdamaian dunia.

Panitia berharap kegiatan tersebut dapat memperluas pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terkait sejarah konflik Palestina serta pentingnya solidaritas kemanusiaan lintas negara.

Acara berlangsung tertib dan ditutup dengan doa bersama untuk perdamaian Palestina serta keselamatan masyarakat sipil yang terdampak konflik di Jalur Gaza.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *