Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Terima kasih masih tetap bersama Rasil
- untuk Islam yang satu bersama Ustaz
- Valentino Dinsi. Kita mencoba bagaimana
- memper mengoptimalkan waktu dan
- kesempatan yang Allah berikan kepada
- kita untuk menjadi hamba yang ee
- kontributif. Tadi kita sudah dengar
- betapa selama berbulan-bulan banyak
- sekali pengalaman batin yang dirasakan
- oleh Ustaz Valentino Deni yang begitu
- ingin membuat Indonesia menjadi jauh
- lebih maju di bidang perekonomian.
- Apalagi buku yang terakhir beliau tulis
- ee perekonomian berbasis masjid itu
- sungguh sangat luar biasa. Dan kita
- masih ee ingin sekali dengar Ustaz
- Valentino Dinsi terkait dengan
- pengalaman ee spiritual selama hari-hari
- dikekang untuk tidak boleh melakukan
- apapun karena kondisi yang seperti itu.
- Mungkin ada hal lain yang akan membuat
- kami merasa begitu bersyukur dengan
- kesehatan yang kami miliki ini gitu.
- Iya. Jadi memang apa ya kita harus
- banyak mengambil hikmah atas setiap
- kejadian yang menimpa kita. Apakah
- kejadian baik atau kejadian buruk ya.
- Alhikmatu tholatul mukminin anna wajada
- fahual haqq. Hikmah itu adalah barang
- mukmin yang hilang yang dia berhak untuk
- mengambilnya apabila dia
- menjumpainya. Jadi pesan saya tadi dalam
- hadis yang mengatakan nikmatani ma'budun
- fihi makirun minannas. Ada dua nikmat
- yang kadang-kadang manusia itu dia lupa
- ya dia lalai yaitu ashah kesehatan. Jadi
- perlu keseimbangan left balance itu
- dalam kesehatan itu kan tadi masalah
- makan, masalah tidur, he
- olahraga janganlah seperti kami-kami ini
- seperti saya l paling enggak itu
- begadang tidur malam teralu, asik
- bekerja sehingga tidak seimbang antara
- makan, tidur dan olahraga. He walaupun
- dulu waktu saya masih anak saya tiga
- dengan istri saya tuh saya enggak
- jauh-jauh suka ke fitness first di
- junction itu. Itu seminggu bisa dua kali
- tiga kali gitu belakangan enggak pernah
- ya. Begitu lahir yang keempat dan yang
- kelima lupa kita. Jadi hilanglah
- disiplinnya itu. Iya ya. Ya kejadian
- yang panjanglah ya mungkin kemudian
- terjadi ya begituah ya. Dan farah waktu
- luang. Jadi betul-betul ketika kita
- punya waktu luang manfaatkan betul untuk
- tilawah Quran untuk menghafal Al-Qur'an.
- Saya beruntung dulu waktu masih kerja di
- Garuda itu kan sebelum punya jemputan
- naik
- bus. Jadi dari Kemayoran atau dari
- Kampung Rambutan tuh naik bus sampai ke
- Cungkar kan jauh. Udah bacaannya mulai
- menghafal Quran itu ya lumayan ya perasa
- manfaat itu ketika ketika sakit ini kita
- bacanya berat udah pasang aja murotalnya
- kita murajaah ngikutin itu. He ya. Kalau
- dulu enggak dilakukan gitu ya mungkin
- cuman juz 2930. Tapi kan karena kita
- biasa dulu berdisiplin ya lumayan juga
- beberapa juz kita bisa hafal gitu kan.
- Dan terasa ketika kita sakit gini dalam
- kesendirian ya Quran aja temannya kan.
- He ya. Makanya alhamdulillah nih anak
- saya
- nih saya punya anak lima. Yang kedua nih
- umurnya belum 18 tahun. Nanti 19 18 19
- Oktober ini umurnya baru 18 tahun. Sudah
- minta nikah dia. Masyaallah. I laki-laki
- ya. Sudah saya kalau ya kita cuma
- mempersiapkan aja kan. Tapi anak saya
- ini dua-duanya pintar. Betul. Saya
- bilang hebat loh dua-duanya. Jadi yang
- yang pertama ini calonnya sudah hafal
- kira-kira 25 juz. Subhanallah. Yang
- kedua ini calonnya ini ee 17 tahun
- umurnya itu sudah 20 juz lebih. bilang,
- "Hebat kamu ya, pintar." Itu
- keberuntungan lain yang Allah berikan.
- Keberuntungan yang lain Allah berikan.
- Ini anak saya kan hafalannya ya enggak
- banyak lah gitu kan. Tapi rupanya dia
- punya ini jalan itu dapat calon-calon
- pasangan istri yang mereka sudah enggak
- boleh cuman kita enggak boleh. Ini yang
- kedua nih hafalinnya dulu 30 juz. Oh,
- ada syarat lain ya? Iya. Kita kasih
- catatan sekarang sudah 20 sekian nanti
- kalau sudah 30 juz baru boleh nikah.
- Jadi buat trigger juga dia gitu kan.
- Iya. Iya. Iya.
- Ya, pada akhirnya kan kita bergerak dari
- satu fase ke fase yang berikut ya. He.
- Dulu kita anak ya, kemudian menikah jadi
- orang tua dan besok harus nikahin anak
- nanti jadi kakek-kakek, nenek-nenek kan
- gitu. Proses saya pikir ini suu proses
- saja yang memang jalani saja. Tapi saya
- bilang saya minta sama Allah tadi saya
- bilang Allah sudah kasih saya tiga
- Indonesia, Masjidil Haram dan Masjidil
- Aqsa. He saya waktu bapak saya pulang ke
- rumah saya, kakek saya juga begitu. Saya
- biasa berhadap-hadapan sama mereka. Saya
- baca Quran sambil mereka mendengar kita
- menangis berdua. Ya, saya pengin saya
- bagaimana saya melakukan hal itu ketika
- saya masih SMA dan masih kuliah. He.
- Karena saya ingin saya diperlakukan hal
- yang sama oleh anak saya dan cucu saya.
- Karena dalam surah Tur kan Allah
- berfirman tuh, walladina amanu
- watabatumin alhaqna
- bihimatum. Dan orang-orang beriman
- kemudian anak cucu mereka mengikuti
- mereka dengan keimanan yang sama.
- Artinya ada transformasi keimanan dari
- bapak kepada anak, kepada cucu itu.
- Alhaqna bihim zuriatahum. Nanti mereka
- akan dikumpulkan. Ya, saya suka
- berfantasi, Mbak Nuning. Jadi, saya
- kebayang itu kalau kita beriman, kita
- punya anak yang beriman, punya cucu yang
- beriman, itu nanti seperti kayak kalau
- habis lebaran itu kita halal bihalal
- ngumpul semua. He. Ngumpul semua entar
- kita tanya, "Eh, kamu anak siapa?" "Ya,
- anak Bapak. Siapa nama El?" gitu kan.
- Ini siapa? Oh, ini anak saya, Pak. Cucu,
- kakek ini. Siapa namanya? Ya, saya
- kebayang begitu bahwa akan ada reuni
- besar di kalangan orang-orang beriman
- itu yang dia dikumpulkan dan saling
- bertanya. Saya kebayang ya ini lagi
- sakit-sakit saya pikir kebayang itu saya
- dikumpulkan sama anak cucu saya yang
- saya enggak pernah ketemu, enggak tahu
- gitu kan. Saya bertanya, "Siapa di
- antara anak kalian yang hafal
- Quran?" Yang hafal Quran. Wah, ini ini
- nih nih, Pak. Dia yang hafal Quran. Yuk,
- kalau gitu pegangan semua tangannya.
- Pegangan kita. Pegangan semua.
- Yuk. Kan ada tuh qala Allah azza waalla
- ahlil Quran. Allah berfirman kepada ahli
- Quran
- iqra bacalah kama turid dunya
- sebagaimana kamu dulu membaca dunia.
- Wartaqil dan naik fazalatuka fi akhiril
- ayah. Karena tempat tinggal kamu itu di
- tempat akhir ayat yang kamu baca. Jadi
- saya kebayangin itu ini pegangan semua
- nih satu keturunan satu generasi. Heeh.
- Kalau sekarang kita naik lift ke lantai
- katakan 53 tekan mobil 53 naik ke dalam
- itu gerak sendiri. Tapi nanti di akhirat
- enggak. Saya ngebayangin
- bagaimana itu dia kita dibawa naik itu
- sama anak keturunan kita dengan hafalan
- Qurannya. Kalau dia bacanya sedikit ya
- berhentib dibukka turun semua. Tapi
- kalau dia bisa bawa terus sampai kita ke
- atas itu sampai ke surga yang paling
- tertinggi. Ya. Saya pikir ini apa?
- Bayangan-bayangan yang wajar ya. He di
- saat-saat sakit itu ya yang teringat
- lebih ke akhirat, ke anak-anak, ke cucu
- gitu kan. Dan saya minta saya bilang
- keadilannya Allah, "Ya Allah dulu aku
- memperlakukan hal yang sama kepada
- bapakku dan kepada ibu kakekku, kakek
- bahkan aku ingin diperlakukan juga hal
- yang sama oleh anak dan cucuku." Keren
- banget. Dan pasti Allah, Allah kan maha
- rahman, Rahim, maha pengabul do apa? Ee
- mengabulkan doa. Saya enggak enggak
- muluk-muluk gitu kan. Ya Allah ya sudah
- tanamin kar kasih jalannya. Ya Allah
- saya melakukan itu kepada bapak saya
- kepada kakek saya. Saya juga ingin
- diperlakukan hal yang sama oleh anak
- saya dan oleh cucu saya. Kebayang saya
- kek kakek kek kek sini kek kek dengerin
- ya. Aku mau baca surah Alqalam ya kakek
- dengerin ya. Saya kebayang begitu gitu.
- Wah kan betapa bangganya jadi orang tua
- jadi kakek gitu ya. Padahal cucu belum
- ada sudah bayangin gitu ya. Itulah
- itulah ee C saya bilang enggak tahu
- berpikir saya kadang-kadang suka
- meloncat-loncat membayangkan sesuatu
- yang belum terjadi ya. Tapi saya pikir
- itu sesuatu yang baik-baik saja ya.
- Mangga ketika kakek saya sakaratul maut
- itu hari Jumat magrib habis salat dia
- habis selesai salat sudah
- makan anaknya datang. Anaknya itu yang
- paling dia cintai ibu saya. He. Anak
- kesayangannya. Ibu saya tuh, "Pak, Pak,
- Wiwi enggak kenal." Ohoh. Enggak kenal
- karena memang sudah ding ya, sakarat.
- Saya datang pulang karena diteleponkan
- saya cuma nongok pintu kamar.
- Asalamualaikum kakek. Dia ketawa. He he.
- Valen haal ya malah. Dia dengar saya
- terus e mau salat. Eh, belum salat
- waktu. Saya bilang, "Kakek, makan dulu."
- Makan. Habis makan sudah selesai makan
- rapiin kita wuduin. Nah, sudah azan tuh
- kek azan saya bilang, "Dah, sudah kakek
- siap-siap salat." Udah sambil tempat
- tidur di Allahu Akbar meninggal tempat
- tidur. Waktu itu Valen usia berapa?
- Saya kuliah selesai D3 itu sudah sudah
- anu ya sudah itu ya. Iya selesai D3 L ya
- gitu kan.
- Jadi ya begitulah Bapak saya juga
- begitu. Hari Jumat juga begitu kelihatan
- ini dingin sekali. Saya usapin, saya
- bacain. Bismillahilladzi la yadurun fil
- ardhi wama
- wami saya usapin dari ujung rambut
- sampai ujung kaki karena saya ingat ini
- kalau kita baca doa ini setan enggak
- bisa ganggu dia. Subhanallah. Ustaz ada
- telepon masuk. Boleh kita terima ya.
- Asalamualaikum.
- Halo. Oh, putus ya. Oke deh. Baik. Ee
- waktu juga sudah bentar lagi ya. Heeh.
- Jadi, Subhanallah, Ikhwan Akhwat. Kalau
- seorang berpikir tentang bagaimana
- keluarga besar kita akan hand in hand
- kelak di tempat yang sangat kita ee
- rindukan itu dan kemudahan tercapai
- karena hafalan Quran atau hal-hal
- semacam yang Ustaz Valentino Dini
- katakan ini sebuah ee inspirasi yang
- sungguh luar biasa agar kita juga
- membawa bukan hanya diri sendiri tetapi
- juga seluruh keluarga kita, keturunan
- kita. Kalau ada sesuatu yang mungkin
- bisa ditambahkan, Ustaz, sebelum kita
- sudahi acara m itu kan suratnya surat
- tur ya. He itu tidak akan bisa begitu
- kalau kita tidak mentransform. Kita
- harus mentransformasikan keimanan kita
- kepada anak kita, kepada cucu kita, dan
- ke next generation. Jangan pernah
- bermimpi, jangan pernah berharap kalau
- kita tidak pernah mengajarkan keimanan
- yang sama kepada the next generation itu
- apa? Mengkhayal, ya. Jadi, jadilah kita
- orang yang saleh ya. Orang yang saleh
- dan juga muslih menjadikan orang lain
- juga saleh. Ya, saya pikir kegembiraan
- apa keinginan lebih tinggi dari apa lagi
- ketika kita dimasukkan ke dalam surga
- berkumpul dengan anak keturunan kita,
- Mbak? Iya. Saya pikir itu kenikmatan
- tertinggi, nikmat yang paling iman luar
- biasa. Dan nanti hadiahnya kita melihat
- wajahnya Allah kan. Wah, subhanallah.
- Dan itu hanya bisa kita lakukan ya saat
- ini, saat kita masih hidup ya. mulai
- mentransformasikan sedikit-sedikit
- nilai-nilai itu. Kalau enggak ya kita
- kan ingin jadi orang baik, tapi yang
- anaknya baik, cucunya baik. Tapi kalau
- kita enggak pernah mengajarkan itu,
- jangan pernah berharap. Iya. Baik. Emm,
- terima kasih sudah meluangkan waktu
- berbagi di sini, ikhwan akhwat.
- Mudah-mudahan em obrolan singkat ini
- membuat kita ee semakin punya gambaran
- ya. Yang jelas tadi saya janji di akhir
- saya akan berikan kembali nomor WA-nya
- Ustaz Valentino Dini. Kalau kalau Anda
- ingin ee bertanya sesuatu dan bisa
- dibagikan oleh beliau di
- 081514
- 4583. Sekali lagi
- 081514 4583.
- Mudah-mudahan di kesempatan berikutnya
- kesehatan, kepulihan, kebugaran Ustaz
- Valentino Dinsi semakin meningkat
- sehingga bisa terus memperjuangkan
- bagaimana Indonesia, bagaimana kemudian
- juga Masjidil Haram dan Aqsa menjadi
- jauh lebih dalam tanda petik membuat
- kita semua bangga akan itu. Sekali lagi
- terima kasih Ustaz dan billahi taufik
- wal hidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- [Musik]
- Aku
- dilorongkan luka hati
- redd kini jadi
- [Musik]
- kianara semalam sudah sampai
- [Musik]