Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Brail TV.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat
- rahimakumullah.
- Alhamdulillah wasyukurillah di bilangan
- tahun yang masih baru ini kita
- dipertemukan kembali di acara psikologi
- keluarga sepenggal acara yang
- mudah-mudahan mempersuasi kita semua
- untuk bisa menjadi anggota keluarga yang
- sangat sangat dikasihi oleh anggota
- keluarga yang lain sebagai ayah, sebagai
- ibu, sebagai pasangan atau juga sebagai
- anak-anak.
- Seperti biasa yang hadir adalah dua
- narasumber yang akan mempersuasi kita,
- Ustaz Husein Alatas dan juga Ustaz Abu
- Bakar Baraja. Sebelumnya tidak lupa
- salam selawat kita lantunkan untuk
- junjungan umat kekasih kita Muhammad
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Semoga kelak kita mendapatkan syafaat
- beliau.
- Amin.
- Dan dipertemukan di saat yang
- sangat-sangat kita rindukan.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustaz Husein, Ustaz Abu
- Bakar. Senang sekali karena tadi waktu
- di off air ee Ikhwan Afad kasusnya
- lumayan banyak. Mudah-mudahan semuanya
- bisa membuat kita jauh lebih cerdas
- menyikapi kondisi ya. Baik, sebelum kita
- mulai kita bersama-sama membaca
- al-Fatihah terlebih dahulu.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- Maiki yaumiddin.
- Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'
- ihdinasirathal
- mustaqim.
- anamtaaiim
- giril
- alaihim waladin.
- [Musik]
- Amin.
- Ini dari hamba Allah di Bogor.
- seorang istri yang aktif dalam komunitas
- keagamaan, sering ikut kajian tapi
- sering merendahkan suami di rumah
- karena merasa pemahaman agama sang suami
- di bawah dirinya, tidak sedalam dirinya,
- dan juga suka sekali membandingkan
- kesalehan suami ini dengan tokoh-tokoh
- di luar sana. Bagaimana Islam memandang
- seorang istri yang merasa lebih alim?
- sehingga rasa hormat kepada suaminya
- menurun. Apakah ada batasan di dalam
- menuntut kesempurnaan
- ibadah dari pasangan kita? Dan bagaimana
- kalau
- agama dipakai untuk menghindari masalah
- emosional,
- mempengaruhi kedekatan intim pasangan.
- Jadi sebaiknya bagaimana ya, seorang
- suami harus bersikap terhadap kritik
- yang dibungkus oleh dalil.
- Itu yang pertama. Kemudian
- yang kedua, kalau suami menghabiskan
- waktu 5 sampai 6 jam untuk ee bermain
- game online atau apapun juga setelah
- pulang kerja dan mengabaikan serta tidak
- memberikan perhatian emosional kepada
- istri. Dalihnya itu, Ustaz, adalah
- melepaskan stres atau healing dari
- pekerjaan.
- Apakah hukumnya kalau seorang kepala
- keluarga melalaikan waktu untuk istri
- dan anak demi alasan untuk melepaskan
- stres dari pekerjaan tadi? Dan kapankah
- ee
- apa ini? Oh, hiburan seperti itu
- dianggap makruh atau haram di dalam
- konteks di rumah tangga.
- Terus satu lagi nih pertanyaannya, kalau
- ini merupakan pelarian atau kecanduan,
- bagaimana sebagai seorang istri mengajak
- suami untuk kembali ke realitas? Soalnya
- biasa dianggap ngatur atau ngomel.
- Kemudian ada lagi satu kasus di mana
- seorang istri merasa terzalimi. Suaminya
- itu temperamental aja pakai banget,
- Ustaz. Ketika tersinggung sedikit saja
- dia bisa-bisanya menampar. Bahkan bukan
- hanya sekali dua kali, lama-lama saya
- enggak tahan, Ustaz. Untuk kondisi
- seperti ini, bolehkah saya minta cerai
- atau mengajukan cerai? Terima kasih.
- Heeh.
- Nah, bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma
- sholli ala Muhammadin wa ali Muhammad.
- Allahumma atina minika rahmah waimna min
- ladunka ilman nafi'.
- Wf' bima alamtana. Allahumdina subulam
- waakrijna minulumati nur wahdinaal
- mustaqim wajirna minzabi jahanam. Ya
- rahman ya rahim ya rabbal alamin.
- Amma ba'du. Menjawab
- beberapa pertanyaan yang masuk di
- seputar rumah tangga.
- Yang pertama, seorang wanita
- yang telah bersuami
- yang mengharapkan kehidupannya untuk
- betul-betul dapat menikmati suasana yang
- penuh dengan mawadah dan rahmah. Tapi
- ternyata yang didapati
- sikap yang kasar,
- yang arogan dari suami.
- Kalau dia meminta sesuatu terlambat ya
- marah-marah, bahkan menggunakan tangan
- dalam berkomunikasi bersama istrinya
- hingga memperlakukan istrinya layak
- seperti perlakuannya terhadap binatang.
- Bahkan binatang pun haram untuk kita
- aniaya. Apalagi
- sesama
- saudara dan saudari kita.
- Lalu wanita ini bertanya, "Apakah boleh
- kalau saya meminta untuk berpisah dari
- suami saya?"
- Jawabannya,
- "Dalam Islam perbuatan zalim haram
- hukumnya. Dari laki-laki terhadap wanita
- atau wanita terhadap laki-laki.
- Begitu juga dari orang tua terhadap
- anak. Apalagi dari anak terhadap orang
- tuanya, begitu juga terhadap sesama
- saudaranya.
- Bahkan terhadap orang nonmuslim pun kita
- haram berbuat anaya kepadanya.
- Jauh lebih dari itu, terhadap binatang
- pun kita diharamkan berbuat aniaya.
- Hingga seorang wanita karena dia
- menganiaya seekor kucing diikat tanpa
- diberikan matkan dengan sebab
- perbuatannya Allah masukkan dia ke dalam
- neraka.
- Sebaliknya, seorang wanita
- yang berlumuran noda dan dosa karena
- memberikan minum seekor anjing yang
- haus, Allah ampuni dia dan berikan dia
- hidayah hingga bertobat kepada Allah.
- Jadi hati-hati terhadap perbuatan zalim.
- Adzulmu dululumatun fid dunya wal
- akhirah. Kezaliman ini kegelapan dalam
- kehidupan dunia maupun di hari akhir
- nanti.
- Jadi kalau seorang wanita dianiaya oleh
- suaminya,
- bahasa suaminya
- dan pendekatannya menggunakan tangan, ya
- hingga menyakiti baik lahir maupun
- batinnya, harapannya pupus. Ya, kalau
- dibiarkan berlarut-larut
- ini bakal menimbulkan akhirnya apa?
- Kebencian
- terhadap agama yang dianggap membenarkan
- laki-laki untuk melakukan perbuatan
- tersebut.
- Oleh karena itu, Ibu sebelum memohon
- untuk bercerai,
- coba Ibu memanggil
- orang-orang yang dipandang oleh
- laki-laki tersebut.
- juga ada wakil dari pihak ibu untuk
- memberikan nasihat pada istrinya untuk
- tidak menggunakan tangan dalam bahasa
- komunikasi
- dan mengingatkan suaminya untuk
- memperlakukan istrinya dengan baik dan
- mulia.
- Kalau diberikan nasihat, teguran,
- dan kesempatan ternyata si laki-laki
- masih mengulangi perbuatannya, maka ibu
- jangan berdiam di hadapan kezaliman. Ibu
- berhak untuk menuntut
- bercerai dari laki-laki semacam ini yang
- hanya akan membawa penderitaan
- dan tidak akan memberikan kebahagiaan.
- Ibu di saat menjumpai laki-laki semacam
- ini, biasanya pada saat bercerai
- perempuan tidak boleh keluar dari rumah
- dan laki-laki tidak boleh mengusir
- istrinya. Tapi pada saat menjumpai suami
- yang perilakunya seperti ini, ibu boleh
- pulang ke rumah orang tua dan menuntut
- untuk bercerai. Kalau suami tidak mau
- menceraikan, ibu boleh mengajukan
- khuluk. Khuluk itu hak wanita yang Allah
- berikan untuk menebus dirinya dari
- ikatan hubungan suami istri karena
- merasa tidak dapat menjalankan agama
- Allah dengan sebaik-baiknya dan tidak
- lagi nyaman bersama pasangan.
- Tapi sayang, budaya di negeri kita ini
- menganggap laki-laki kalau berbuat
- kezaliman itu biasa. Kalau orang Jakarta
- bilang jamak gitu sih
- biasa.
- Kalau laki-laki berbuat dosa menyeleweng
- biasa. Kalau perempuan baru luar biasa.
- Padahal yang namanya perbuatan serong
- dari laki-laki perempuan, kezaliman dari
- laki-laki maupun perempuan tidak dapat
- dibenarkan.
- rumah tangga bukan untuk menjadi apa?
- pajang pertarungan
- bukan juga ee tempat bagi para
- gladiator, tapi agama ee pas berumah
- tangga tujuannya untuk membuat sepasang
- anak manusia bisa mencicipi, merasakan
- rasa tentram, suasana mawaddah untuk
- membantu mereka menjalankan amanat Allah
- sebagai khalifahnya di atas muka bumi.
- Jadi, Ibu hubungi orang tua ibu
- hubungi juga pihak mereka. berikan
- kesempatan kesempatan terakhir. Kalau
- seandainya main tangan lagi, maka apa?
- Maka cerai.
- Ada seorang wanita dilamar oleh seorang
- laki-laki. Laki-lakinya baik sebetulnya,
- cuma emosinya tidak terkendali.
- Dia melamar wanita ini. Si wanita
- tadinya menolak, tapi ternyata orang
- tuanya rupanya
- terpaksa menerima laki-laki ini karena
- orang tua dari orang tuanya sudah
- menerima.
- Jadi kakek wanita ini menerima. Akhirnya
- si anak tidak berdaya, terpaksa
- menyetujui. Tapi pada saat menikah
- ada syarat yang diajukan. Begitu kamu
- menggunakan tangan kamu maka jatuh
- cerai.
- Kalau kamu mau boleh, kalau tidak maka
- tidak ada pernikahan. Si laki-laki
- menerima, laki-laki suka memukul.
- Tapi hidup bersama-sama
- setiap kali emosinya datang, dia ingin
- memukul, dia ingat perjanjian. Kalau
- jatuh tangan cerai.
- Jadi bisa digunakan persyaratan ini
- untuk kesempatan terakhir. Begitu Anda
- main tangan, maka hubungan suami istri
- berakhir. Si perempuan kembali ke orang
- tuanya demi keselamatan dirinya. Jangan
- dibiarkan bersama sua suami. Bisa saja
- suami melakukan berbagai macam
- intimidasi terhadap istrinya. Sudah tiba
- saatnya untuk mengakhiri
- perbuatan-perbuatan laki-laki yang
- sewenang-wenang. Kalau dia kawin lagi
- sama orang lain, berbuat hal yang sama.
- Orang semacam ini sebaiknya tidak
- diizinkan untuk berumah tangga.
- Diisolasi aja sudah jangan berumah
- tangga. Karena kalau berumah tangga
- hanya membawa bencana penderitaan bagi
- orang lain.
- Jadi harus pribadi kita, akhlak kita
- diluruskan. Jangan dibiarkan
- semau-maunya. Seolah-olah tidak ada
- Allah Subhanahu wa taala.
- Maka dalam ucapan Sayidina Utsman, ma
- yazauhul Quran yazauhus.
- di mana apa yang tidak dapat
- diselesaikan oleh Al-Qur'an. Karena
- Al-Qur'an hanya pedoman hidup. Sultan
- turun tangan untuk apa? menyelesaikan
- persoalan tersebut. Jadi seharusnya baik
- itu Pengadilan Agama memberikan
- peringatan kepada laki-laki untuk tidak
- melakukan perbuatan seperti ini. Dan
- seringki yang mendorong laki-laki
- berbuat seperti ini karena punya hobi
- yang tidak baik. Contohnya karena jejet.
- Di saat dia berjanja terganggu emosinya
- mulai muncul karena kesenangannya
- terganggung
- atau katakan suka minum,
- suka main judi, suka keluar malam,
- ditegur sama istrinya, dia merasa
- laki-laki
- bebas, perempuan tidak punya hak untuk
- apa? Mengritik. Sampai ketika ditanya
- oleh istrinya pulang malam, "Dari mana
- buaya kamu?" Suami jawab, "Dari kali,
- dari ka
- atau dari sungai."
- Artinya hal yang tidak harmonis. Oleh
- karena itu, laki-laki jangan semena-mena
- ya ditegur jangan pulang malam. Semakin
- malam dia pulang. Istri juga punya hak.
- Kumpul sama-sama dia menunggu di rumah
- menantikan suaminya menjaga anaknya,
- menyiapkan makanan. Suami pulang taruh
- tas pergi bersama teman-temannya. Nah,
- laki-laki semacam ini kalau melamar anak
- perempuan kita jangan diterima.
- Jangan diterima walaupun bawa mahar yang
- cukup mahal. Karena kita akan serahkan
- anak kita di tangan laki-laki yang tidak
- menjaga amanat Allah dengan
- sebaik-baiknya. Wallahuam. Ustaz Bakar
- satu lagi lanjut langsung apa-satu apa
- gimana?
- Enggak soalnya ditungguin yang aku punya
- belum.
- Yang kedua,
- seorang laki-laki kebetulan dari
- pemahaman agamanya kalah dengan
- istrinya. Ini kebalikannya.
- Si istri merasa
- dia lebih berilmu,
- lebih saleh, lebih bertakwa, akhirnya
- bersikap merendahkan suaminya.
- Seorang wanita seperti ini berarti tidak
- memahami agama.
- Tidak memahami agama. hanya sebatas
- kulit dan permukaan muncul kebanggaan
- menggantikan
- akhlak yang seharusnya dilakukan istri
- di hadapan suami.
- Jadi, bagaimana kalau istri betul-betul
- beragama dia tahu. Allah berfirman,
- "Fasalihatu qonitatun hafidatun lil
- ghaibi bima hafidullah."
- Wanita yang saleh, wanita yang taat pada
- Allah juga taat hormat pada suami. Ini
- ujian dia. Kalau dia mengetahui agama,
- maka ujiannya berarti apa? Berlapis. Dia
- tahu tapi tidak mengamalkan.
- Falihatu
- hafidatun
- hafidatun lil ghaib. Dia menjaga
- kehormatan di saat suami tidak ada. Dia
- juga menjaga harta suaminya.
- Kemudian juga bersikap yang baik, mulia
- sebagai istri maupun sebagai ibu.
- Bima karena dia menjaga Allah. Dia
- berbuat semata-mata karena apa? Karena
- takut dan hormatnya pada Allah. Allah
- menjaga dia.
- Jadi istri walaupun diberikan ilmu yang
- lebih luas, seharusnya dia menunjukkan
- sikap yang baik mulia sebagai wanita
- yang mengenal agama bisa menjadi contoh
- buat suaminya membimbing suaminya untuk
- apa? Untuk menjadi laki-laki yang baik,
- yang bertanggung jawab, kemudian
- mengajak untuk menghadiri majelis
- taklim, ya juga bersikap sopan di
- hadapan suaminya.
- ini baru merupakan wanita yang salhah.
- Tapi karena dia memahami agama lebih
- baik dari suaminya, lalu bersikap juga
- tidak baik di hadapan suami, merasa dia
- lebih apa? Lebih apa? Lebih lebih baik,
- lebih unggul, suaminya mungkin lebih
- inferior di matanya, lalu dia berbuat
- semenama, berarti ini tidak mengetahui
- agama sama sekali.
- Jadi kebalikan dari yang tadi. Yang tadi
- laki-laki memandang remeh istrinya.
- Sedangkan yang satu memandang remeh
- suaminya.
- Dan ini kita jumpai banyak di
- tengah-tengah kita. Ada sebuah kisah,
- kebetulan
- ada pasangan suami istri. Suaminya
- kebetulan dari sisi ekonomi lemah.
- Istrinya justru yang dominan.
- Mereka mendirikan satu perusahaan,
- suaminya ikut bersama-sama dia di
- perusahaan.
- Wanita ini lebih cerdas, lebih pandai
- ya,
- tapi tetap sikapnya di hadapan suami
- hormat. Jadi dalam keputusan-keputusan
- walaupun datang dari istri tapi justru
- si perempuan menyerahkan justru
- keputusan pada suami supaya kesannya
- suaminya apa?
- Suaminya apa? Sebagai pemimpin. Karena
- dia tidak mau sampai suami dipandang
- remeh oleh
- oleh anak buaya. Jadi suami tetap
- menjadi pemimpin walaupun masukan dari
- istri tapi suami yang tampil ke depan.
- Dengan cara seperti ini, suami
- menghargai, mensyukuri kebaikan
- istrinya.
- Hidup mereka penuh keharmonian. Ini
- punya kelebihan, ini punya kekurangan.
- Ini punya kelebihan, di sini punya
- kekurangan. Dengan saling melengkapi
- baru kehidupan akan terasa indah. Hunna
- libas lakum
- waantum libasahum. Kalau wanita dari
- sisi agama lebih tahu si laki-laki pasti
- juga punya kelebihan.
- Betul gak?
- Laki-laki punya kelebihan. Kalau si
- wanita menghormati suaminya
- menghargainya, suaminya betul-betul akan
- menghargai apa? Agamanya. Jangan seperti
- kejadian di satu tempat istri belajar
- agama, belajar di majelis taklim mulai
- ya bukan berbicara sopan terhadap
- suaminya, mulai menggunakan kata-kata
- yang arogan, kasar terhadap suaminya.
- Akhirnya lama-kelamaan suami bilang apa?
- Daripada hadir di pengajian tapi
- akhlaknya seperti ini, mendingan apa?
- Kamu mendingan kamu ikut arisan aja.
- Karena begitu belajar agama sikapnya
- mulai apa? Bersikap arunggan. Ini bukan
- belajar agama. Jangan sampai kesannya
- nanti agama ini dibawa dianggap sebagai
- apa? Sebagai sesuatu yang membuat orang
- angkuh, sombong, berbuat semena-mena.
- Akhirnya benar yang dikatakan Kalmak
- bahwa agama ini merupakan candu bagi
- banyak orang.
- Bagaimana mereka masyarakat umum
- dibodoh-bodohi untuk bersabar menerima
- kezaliman atas nama agama. Kalau tidak,
- kamu tidak akan mencium bau surga.
- Oleh karena itu, laki-laki yang boleh
- mengatakan, "Kalau kamu tidak taat
- suami, kamu tidak akan mencium bau
- surga.
- surga kamu tergantung bagaimana kamu
- meridai suami kamu.
- Ini enggak benar sama sekali.
- Istri punya hak, suami punya hak. Istri
- wajib menggauli istrinya dengan baik.
- Istri juga wajib menghormati suaminya
- dengan baik.
- Kalau istri menjalankan kewajibannya,
- suami tidak melakukan, maka dia akan
- berhadapan dengan tanggung jawabnya di
- hari kemudian nanti. Begitu juga
- sebaliknya, kalau suami menjalankan
- kewajiban dia sebaik-baiknya, istrinya
- hanya menuntut haknya tidak menjalankan
- kewajibannya, Allah tidak akan lihat,
- hargai ilmunya bahkan walaupun dia
- menghafal Al-Qur'an. Jadi yang
- menyebabkan agama sekarang dispelekkan,
- diremehkan, dilecehkan karena
- orang-orang yang beragama justru yang
- pertama melanggar agama Allah Subhanahu
- wa taala.
- Bukan mereka justru menyampaikan
- pesan-pesan Allah yang disampaikan pesan
- pribadi.
- Ini yang menyedihkan, mengerikan. Jadi
- kesimpulannya wanita yang seperti ini
- yang bersikap arogan karena memahami
- agama lebih baik dari suaminya, wanita
- yang belum memahami agama yang tujuannya
- untuk menyempurnakan akhlak manusia.
- Kalau dia berakhlak di hadapan suaminya,
- bersikap mulia, hormat, suaminya akan
- semakin menghargai apa? Agama Allah.
- Jangan mulai belajar agama, mulai
- menghakimi suami setiap saat hingga
- suami terintimidasi
- menggunakan agama Allah hingga suami
- enggak berani membantah. Padahal agama
- Allah tidak pernah mengajarkan apa
- seperti itu. Jadi kalau ada
- wanita-wanita seperti ini tidak merubah
- sikap dan perangainya yang menambah
- penderitaan suami, ya lebih baik suami
- tukar saja sama yang lain.
- Biar wanita ini berpasangan dengan
- laki-laki yang serupa dengan dirinya.
- Dari wanita-wanita salehah banyak
- alhamdulillah wanita-wanita saleh yang
- mendambahkan suami yang saleh. Biar
- wanita ini bertemu dengan pasangan yang
- serupa.
- Biar dia merasakan bagaimana sikap yang
- tidak menghargai suaminya akhirnya
- membuat nikmat Allah diangkat. Tapi juga
- saya ingatkan kepada laki-laki ini,
- jangan Anda kalau diingatkan oleh istri
- dengan tujuan baik, ya, Anda salah,
- melanggar agama, Anda marah.
- Istri menegur baik-baik atau mengajak
- untuk bangun di waktu subuh, suami
- enggak mau bangun, marah-marah.
- Dia merasa diintimidasi oleh istrinya
- istrinya kebetulan belajar agama. Ini
- salah besar. Kalau dia disuruh bangun
- untuk mengerjakan salat tidak mau
- berulang kali, istri punya hak untuk
- berpisah. Karena salat merupakan tiang
- agama. Kalau dia merobohkan tiang agama,
- ya maka agamanya
- hanya sebagai seorang muslim tapi tidak
- salat, tidak menjalankan perintah Allah,
- diingatkan oleh istrinya berulang kali
- untuk salat, dia tersinggung.
- Ini berarti memang kebangetan.
- kebangetan. Yang salah bukan istrinya,
- tapi apa? Suaminya. Padahal istrinya
- bangun kan suaminya pelan-pelan,
- Mas-mas. Salat subuh, mari kita salat
- sama-sama atau salat katakan apa? Di
- masjid. Dia bisa salat di masjid, di
- rumah bisa menjadi imam bagi istrinya
- salat untuk kedua kalinya.
- Karena wanita tuh ada kebanggaan kalau
- selalu didampingi.
- Walaupun katakan nafkah yang diberikan
- ala kadarnya, tapi selalu didampingi
- oleh suami, dilindungi, ya diperhatikan
- itu merupakan kebanggaan buat wanita.
- Tapi walaupun dicukupi semua
- kebutuhannya tapi diabaikan seperti
- layangan putus.
- Seperti layangan fu putus. Nah, ini yang
- banyak dialami oleh wanita-wanita kita.
- Jadi kita ingin ada keadilan,
- keseimbangan antara pria wanita yang
- laki-laki sebelum menuntut haknya
- menjalankan kewajibannya.
- Wanita juga sebelum menuntut haknya dia
- jalankan kewajibannya dan tidak
- dibenarkan salah satu dari mereka
- berbuat kezaliman pada pasangannya. Nabi
- berkata apa? Khairukum khairukum liah
- yang paling baik dari kalian yang paling
- baik pada keluarganya.
- Wa ana kirukum liahli. Dan saya orang
- yang paling baik terhadap keluarga. Nabi
- orang yang sabar, yang bijak, yang
- mengalah, bahkan membantu istrinya.
- Menjahit sendalnya sendiri, berbelanja
- sendiri. Kalau sekarang laki-laki
- seperti dianggap apa? Laki-laki yang
- diperbudak sama istri.
- Laki-laki takut istri. Ini kesalahan
- besar.
- Laki-laki yang melayani istrinya,
- membantu istrinya, meringankan bebannya
- merupakan laki-laki yang mulia. Apalagi
- zaman sekarang gaji UMR, mau bayar
- pembantu enggak mampu.
- Tahu-tahu istrinya kerjaannya cuma
- nonton, jejet, suaminya menyapu, suruh
- minta jagain anak enggak mau. Tugas
- perempuan.
- Ah, laki-laki seperti ini perlu sebelum
- menikah diberikan kursus dulu. I
- apa kewajiban suami dulu? Saya
- bersama-sama ketika masih belum ada
- pembantu,
- kita bantu urusan rumah
- dari mulai mencuci, dari mulai masak,
- dari mulai ke pasar saya enggak izinkan
- istri ke pasar. Bahkan kalau kita jalan
- bersama istri sama anak masih kecil,
- saya enggak biarkan dia gendong. Takut
- kalau dia serimpet jatuh, kita yang
- gendong. Orang bilang, "Ustaz Husein
- takut istri enggak disangka-sangka.
- Pulang dari Mesir takut sama istri."
- Saya bilang ini kalau yang ngomong orang
- enggak waras, kita lari percuma gak?
- Percuma.
- Karena barometernya beda.
- Dia menganggap laki kalau membantu
- istrinya takut istri. Tapi kalau laki
- ngikutin suaminya yang ngajak maksiat
- dianggap itu laki-laki yang apa? Yang
- harmoni.
- Itu baru namanya laki-laki. Takut apa?
- Harusnya
- istri. Kalau istrinya tidak melakukan
- hal yang benar, seharusnya itu yang
- ditegur.
- Tapi membantu, meringankan beban istri,
- menghiburnya. mendampinginya. Ini
- merupakan pekerjaan mulia yang
- dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Mungkin
- cukup dua dulu. Panjang kan?
- Ya Allah.
- Jadi samarah itu bukan satu kata yang
- mudah ya terwujud ya. Sakinah mawadah
- warahmah. Jadi wahai para pria kalau
- satu tangan jatuh itu berarti talak juga
- jatuh. Heeh. Betapa tidak mudahnya
- menahan diri ya. Tapi kita mau dengar
- lagi dengan telinga jiwa kita apa yang
- sudah kita dapat dari Ustaz Husein
- ditambah dengan apa yang akan
- disampaikan oleh Bapak Abu Bakar Baraja.
- Mari kita simak. Silakan.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillah,
- segala puji yang kita aturkan kepada
- Allah
- adalah sesuatu yang mulia.
- Karena kemuliaan itu akan memberikan ke
- dalam kehidupan keluarga.
- Kemuliaan itu bisa memberikan
- warna-warna
- yang menyenangkan.
- Kemuliaan itu pun akan menjadikan suatu
- proses perjalanan yang sejuk.
- Ketika
- kita berhadapan dengan sesuatu yang
- lebih baik, maka kita akan mendapatkan
- kebaikan-kebaikan.
- Waktu kita melakukan sesuatu dengan
- kebaikan, maka kebaikan itu akan terus
- berkembang. Tidak ada satu pun yang
- negatif, yang tidak baik akan datang
- kepada diri kita.
- Karena ketika kebaikan itu ada di dalam
- diri kita, maka dengan sendirinya
- akan ber sebar luas kebaikan-kebaikan
- kebaikan.
- Nah, yang terjadi di dalam proses ini
- ada seorang
- suami
- yang dengan kerasnya dia sayang sama
- istrinya. Sayang.
- Dia begitu sayang tapi dia punya
- kekerasan.
- Pertama dia tidak menggunakan tangannya
- untuk istrinya karena dia sayang.
- Dia melempar
- semuanya itu ke benda-benda.
- Lama-kelamaan enggak kuat hatinya, maka
- dia mukul kepada istrinya.
- Apa yang terjadi ketika seorang langsung
- memukul kepada istrinya? Enggak kuat.
- Dia tidak mampu lagi menahan si istri,
- tidak mampu lagi menahan apa yang
- dilakukan sang suami.
- Perbuatannya kasar, tapi dia sayang.
- Si suami ini sayang memberikan sayang,
- mengeluhkan, membantu,
- memberikan sesuatu yang menyenangkan.
- Tapi sayang. Namun ketika dia sedikit
- saja ada masalah seperti misalnya
- disuruh mengambilkan sesuatu.
- Nah, si istri lagi melakukan sesuatu
- juga lagi mengerjakan sesuatu.
- Dan si istri mengatakan sebentar.
- Apa yang terjadi kepada si suami?
- Langsung dia marah.
- Nah, perbuatan ini apa yang terjadi pada
- si suami? Kok dia sedikit saja marah?
- Apa yang terjadi pada dirinya? Nah,
- kalau kita melihat seperti ini, ada
- sesuatu yang terjadi pada si suami.
- Mungkin latar belakangnya dia yang tidak
- karuan
- seperti misalnya pada waktu itu
- harus menentukan, harus melakukan, harus
- begitu. dia mau dia menurutin
- dia perintah
- diperintah pada waktu SMA waktu kuliah
- dengan tegasnya dia diperintah
- dengan perintah akhirnya si suami itu
- memerintah
- dengan memerintahnya dia itu karena dia
- mendapatkan perint Perintah dari mana?
- Perintah itu dari lingkungannya.
- Siapa saja? Baik itu orang tuanya maupun
- pengasuhnya.
- Sang suami ini diberikan, diperintah
- sejak kecil dia perintah. Tapi ada juga
- yang si suami ini ya main tangan karena
- dari kecil dia enggak bisa diam.
- Dia selalu melempar.
- membuat sesuatu gaduh karena
- diperlakukan
- ketika dia misalnya mau minta sesuatu
- ditunda dulu dia lempar dia melakukan.
- Nah, itu perbuatan si suami sejak belum
- menikah.
- Jadi waktu dia belum menikah itu sudah
- punya problem.
- Problematika yang dia dapatkan ini terus
- berlanjut ketika dia sudah punya istri.
- Dengan mudahnya, dengan enaknya, dengan
- gampangnya, tapi tetap sayang sama
- istri. Namun tindakan-tindakannya
- itu kasar.
- tindakan-tindakannya
- itu kasar. Nah, kalau seorang seperti
- ini tidak kita selesaikan
- kalau tidak bisa diselesaikan
- permintaan untuk cerai itu boleh.
- Tapi ketika sang suami itu mau
- diselesaikan,
- mau diusahakan untuk bisa berubah,
- insyaallah bisa.
- Kalau si suaminya mau.
- Nah, pertama bagaimana
- karena dia punya perlakuan yang luar
- biasa. Karena diperlakukan sejak kecil
- dia diperlakukan seperti
- yang enggak benar.
- Ketika dia menikah, dia lakukan itu
- kepada siapa? Kepada istrinya.
- Kepada siapa? Kepada temannya yang
- kasar. Tapi begitu sayang. Ini akibat
- dari perbuatan-perbuatan. Nah, oleh
- karena itu sang suami yang seperti ini
- harus kita ingatkan.
- Apakah misalnya dia minta sesuatu kita
- harus berikan? Tidak. Kita ingatkan
- bahwa apa yang dibutuhkan itu tidak
- harus segera kita ingatkan. Ketika dia
- mau marah, kita ingatkan sebagai seorang
- istri, ingatkan istigfar.
- Katakan yang sebenarnya.
- dan sampaikan kepada suami bahwa itu
- tidak benar
- kepada suami sebelum dia melempar dia
- melakukan
- tidak benar
- itu tidak boleh.
- Jadi ketika dia minta lagi mengerjakan,
- "Oh, aku sedang melakukan, aku sedang
- mengerjakan ini." Tidak mengatakan
- sebentar. Karena mengatakan sebentar
- teringat pada waktu dulu. Waktu dulu dia
- mau minta makan, ya sudah entar tunggu
- aja sebentar.
- Dia merasa kesal.
- Waktu dia mau minta jajan katakan,
- "Entar dulu, sebentar.
- H kesal orangnya di depan sudah menunggu
- tapi dientarkan dulu. Uh kesalnya.
- Jadi bagaimana dia bisa terpenuhi?
- Nah katakan tunggu sebentar.
- Apa yang dia tunggu? dia harus menunggu
- kalau dia mau dan dia kalau bisa kalau
- bisa ya suami seperti ini harus
- dikonsulkan
- agar supaya proses
- pengembangan dirinya bisa berubah.
- Karena tidak mungkin kalau kita biarkan
- istrinya juga akan tersiksa. Boleh
- enggak dia menuntut cerai? Boleh.
- Lebih baik pisah daripada terus-menerus
- menghadapinya.
- Itu yang lebih baik. Namun kalau
- istrinya juga sayang, suaminya juga
- sayang, hanya perilaku yang kita tidak
- butuhkan itu kita hilangkan.
- Bagaimana kita hilangkan? Tentunya
- dengan berbagai macam apa yang terjadi
- pada dirinya.
- Dan yang kedua
- ada perbandingan.
- Yang kedua,
- kebalikannya.
- Seorang istri merasa dirinya pintar. Si
- suami tidak pintar. Tidak. Benar-benar
- sama.
- Sama. Benar-benar sama. Cuman si istri
- lebih cermat menghadapinya.
- Sang suami tidak. Karena dia punya
- perembangan yang lain,
- punya permasalahan yang dihadapi yang
- lain.
- Jadi, sehingga belajar agama itu tidak
- selalu fokus,
- dia tunggu sebentar. Yang penting yang
- bisa dia lakukan dia kerjakan. Nah,
- kalau istri terus dia membahwa
- menggisahkannya,
- menganalisanya,
- menentukan semua yang dia pikirkan
- dan kemudian dia bandingkan, masok suami
- saya enggak bisa baca Qurannya kayak
- gitu.
- Dia belum bisa. Padahal dia sudah bisa.
- Sudah bisa baca Quran cuman belum
- tajwidnya yang benar-benar.
- Istrinya memaksakan dia, "Coba dong
- belajar. Makanya harus baca, makanya
- harus belajar." Kalau dia belajar terus
- keagamaan,
- dia akan berpikir nanti bagaimana
- usahanya.
- Dia belajar yang benar yang dia bisa
- lakukan. Istri belajar yang benar yang
- harusnya dia lakukan.
- Kalau seperti ini, hidup itu akan
- tenang, seimbang.
- Nah, si istri yang membandingkan ini
- dia membandingkan dirinya dengan suami,
- membandingkan suami pada orang lain itu
- yang tidak benar.
- Karena dirinya sudah merasa yang lebih
- baik,
- maka tidak dibenarkan
- istri yang membandingkan.
- Seperti yang tadi sudah diberikan contoh
- bahwa bagaimana hidup itu bisa
- bersama-sama
- seimbang. Kalau hidup itu seimbang,
- insyaallah kehidupan ini bisa lebih
- baik. Insyaallah.
- Masyaallah.
- Berarti memang banyak yang harus
- dipertimbangkan. Tapi kita masih punya
- sedikit waktu sih.
- S 2 menit.
- Em, ada tambahan closing statement dari
- Ustaz Husein.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Allah Subhanahu wa taala jadikan wanita
- bukan sebagai lawan bagi pria. Begitu
- juga
- pria bukan sebagai lawan bagi kaum
- wanita, tapi Allah jadikan mereka
- berpasang
- berpasang-pasangan.
- Sebagaimana firmannya, wamin ayatihi
- khalaqakum min anfusikum azwajan
- litaskunu ilaiha. Dari tanda-tanda
- kebesaran Allah, Allah ciptakan bagi
- kalian dari diri kalian dari jiwa yang
- sama pasangan-pasangan kalian agar
- kalian betul-betul menikmati dan
- merasakan rasa tentram dan teduh yang
- menaungi kalian berdua.
- Lalu Allah berikan kado dan bingkisan.
- Waja'ala bainakum mawaddatan warahmah.
- Allah jadikan di antara kalian rasa
- mawaddah dan rahmah.
- Kalau kita perhatikan hubungan suami
- istrinya, ada seorang wanita dinikahkan
- orang tuanya tanpa melihat sebelumnya
- suaminya. Pertama dia marah-marah
- alasannya Abah memaksakan dia untuk
- kawin dengan laki-laki yang dia tidak
- kenal.
- Begitu berumah tangga berlalu satu
- malam,
- ternyata si perempuan apa? Merasa lebih
- akrab dengan suaminya. Seolah sudah
- berkenalan sekian lama.
- Demikian juga suami. Bahkan kalau orang
- bertanya mengenai suaminya dari sisi
- ekonomi katakan kurang ya dia enggak mau
- sama sekali apa menunjukkan hal
- tersebut. Orang tua bertanya, "Kamu ada
- uang enggak?" "Ada." "Alhamdulillah,
- Pak." "Ada." "D ada."
- Padahal enggak ada suaminya enggak
- punya. Dia enggak mau sampai suaminya
- jatuh martabatnya di hadapan orang
- tuanya. Begitu juga suami berusaha
- melindungi istrinya di hadapan
- keluarganya.
- Walaupun katakan ada kekurangan istri
- waktu ditanya, "Bagaimana istri kamu?"
- Alhamdulillah baik-baik, shah, thayibah.
- Jadi kita lihat bagaimana Allah jadikan
- hubungan di antara mereka ini. Walaupun
- tidak saling kenal-menengenal, Allah
- tuangkan rasa mawaddah di hati mereka.
- kelengketan yang berasal dari jiwa,
- bukan sebatas fisik. Kemudian warahmah.
- Rahm luar biasa walaupun istrinya sudah
- tua, lanjut usia,
- begitu juga si bapak ternyata bukan
- berkurang, bukan berkuang
- malah kedekatan mereka semakin akrab dan
- dekat. Kalau waktu muda masih bisa
- ditinggalkan lama-lama oleh pasangannya,
- begitu semakin tua
- begitu suaminya sedikit aja menghilang.
- Di mana suami saya?
- Suami juga begitu.
- Dari mana
- dia cari istrinya? Padahal sudah tidak
- terdapat lagi syahwat. Masing-masing
- sudah apa? Renda dan dingin.
- Tapi ada rahmat sebagai penggantinya.
- Tapi kalau sifatnya hanya syahwat
- begitu bosan.
- Katakan dia menikahi 1000 wanita cantik.
- Begitu datang yang baru, yang 1000
- dilupakan.
- Tertarik kepada yang baru. Walaupun
- kecantikannya kurang dibandingkan yang
- lain, tapi mereka bilang yang ini punya
- kelebihan. Begitu didapatkan apa yang
- dia mau kembali ke jeremuan. Ya,
- akhirnya mulai dia berhasrat terhadap
- yang lain. Nah, kalau nafsu diikuti,
- akhirnya kita akan terus menderita dan
- tidak pernah tenteram dalam hidup. Tapi
- kalau kita berumah tangga dengan
- mengikuti petunjuk Allah, tidak
- mengumbar nafsu kita, subhanallah
- hubungan yang penuh dengan mawadah dan
- rahmah memberikan rasa sakinah.
- Ini yang seharusnya kita lakukan dalam
- kehidupan rumah tangga. Adapun
- kecantikan relatif.
- Kecantikan rela
- relatif
- relatif.
- Sekarang cantik,
- besok kita bisa bosan. Tapi ada
- perempuan yang jadi pasangan kita.
- Walaupun puluhan tahun kita berumah
- tangga, kita lihat dia semakin cantik,
- semakin menarik. Kenapa?
- Karena dia bukan berdandan hanya sebatas
- wajahnya.
- Karena ada masanya mukanya keriput,
- perutnya habis melahirkan juga apa?
- Kendor.
- Mulai kendor dan penuh dengan
- bekas-bekas apa?
- Melahirkan. Ya, itu wajar. Tapi kalau
- kecantikan bersumber dari dalam
- kesetiaan, kejujuran, amanat,
- pengabdian, ini akan membuat subhanallah
- apa?
- Wajahnya dari hari ke hari menarik
- menimbulkan kerinduan, rasa akrab dekat.
- Dia selalu terbayang bagaimana istrinya
- yang tadinya cantik, muda, tahu-tahu
- tubuhnya rusak karena melahirkan
- anak-anaknya,
- karena mengurus dirinya, menyediakan
- makanannya. Betul gak? Heeh.
- Dia pulang ke rumah suasana sudah
- bersih. Ini kan patut disyukuri.
- Jadi ada yang lebih indah dari apa? Dari
- kita hanyut bersama syahwat kita.
- Hanyut bersama syahwat membuat tubuh
- kita rapuh, jiwa kita menderita dan
- tidak pernah puas walaupun rambut telah
- memutih, tapi ternyata nafsu kita
- rambutnya semakin hitam.
- Kalau rambut kepala seorang sudah
- memuti, ternyata ini enggak pernah
- berubah nih. Sudah tua bahkan semper
- lagi air liurnya keluar masih mencari
- wanita muda. Ini saya lihat dengan mata
- kepal sendiri.
- Bayangkan di hotel saya datang bertamu,
- saya lihat sudah semper ada
- perempuan-perempuan tiga empat orang
- lagi menggoek dirinya soal mawa sama
- dia. Dia tertawa-tawa air liurnya keluar
- pada sudah enggak berdaya. Kenapa
- syahwat
- hina enggak?
- Hina kanillah.
- Tapi kalau berumah tangga kan tidak. Dia
- enggak merasa direndahkan istrinya
- ketika dia ikut membantu istrinya,
- membersihkan rumahnya. Si istri juga
- tidak merasa dipermudah ketika mengurus
- suaminya.
- Ini yang dikatakan hunna libasul lakum
- wa antum libasun nahw. Mudah-mudahan
- Allah anugerahkan kita insyaallah
- rahmatnya untuk menjadi manusia yang
- bertakwa, yang menegakkan keadilan,
- berlaku baik terhadap keluarga, mendidik
- anak kita, dan tidak berbuat aniaya
- terhadap siapapun juga untuk tutup hidup
- kita dalam keadaan husnul khatimah.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta astagfiruka waubu ilai.
- Masyaallah. Terima kasih sekali Ustaz
- Husein, Ustaz Abu Bakar dan ikhwan
- akhwat. Mudah-mudahan kita bisa genggam
- erat ya kerinduan untuk sakinah, mawadah
- warahmah
- dan
- mudah-mudahan juga apa yang kita dengar
- hari ini benar-benar mampu menjadikan
- kita pasangan yang
- mm masuk ke dalam sanubari enggak bakal
- diabaikan atau dilupakan. Sekali lagi
- banyak terima kasih. Billahi taufik wal
- hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.