Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Brail TV.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat
- rahimakumullah.
- Senang sekali hari ini bisa bersama-sama
- kembali di acara psikologi keluarga
- bersama Ustaz Husein Alatas dan juga
- Ustaz Abu Bakar Baraja. Dan kasus yang
- masuk mudah-mudahan juga memberikan
- gambaran tersendiri bagi kita yang bisa
- jadi sedikit banyak juga mengalami hal
- yang kurang lebih sama. Tidak lupa salam
- selawat kita lantunkan untuk junjungan
- umat kekasih kita Muhammad Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak
- kita dipertemukan
- dengan beliau di saat yang sangat kita
- rindukan di yaumil akhir. Dan terima
- kasih sekali lagi untuk yang selalu
- bersama Radio Silaturahim yang hadir
- hari ini juga lumayan banyak.
- Sebelumnya kita awali bersama dengan
- membaca ummul kitab.
- Auzubillahim minasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- Maiki yaumiddin
- iyaka na'budu wa iyyaka nasta
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim waladin.
- Nah, baik ikhwan akhwat. Ada dua kasus
- yang
- bisa dibahas kali ini. Yang pertama dari
- seorang anak berusia 20 tahun namanya
- An. Saya bingung harus bagaimana, Ustaz?
- Orang tua sering sekali bertengkar dan
- ketika mereka bertengkar sering juga
- melibatkan saya atau menyalahkan di
- depan saya. Saya sering mendengar ibu
- menangis atau ayah yang justru
- marah-marah besar. Jadi saya susah
- tidur, Ustaz. Susah konsentrasi di
- kampus dan saya merasa seolah-olah
- pertengkaran mereka disebabkan karena
- saya. Tetapi saya tidak memihak karena
- saya menyayangi keduanya. Pertanyaan
- saya, bagaimana mengatasi rasa bersalah
- dan kecemasan yang berlebihan ini? Apa
- yang harus saya lakukan ketika mereka
- sedang bertengkar? Bagaimana cara
- melindungi kesehatan mental saya, Ustaz,
- di suasana yang tidak stabil ini? Terus
- kalau mereka berdua bercerai, bagaimana
- saya bisa tetap berbakti kepada keduanya
- tanpa melanggar ajaran agama? Terima
- kasih. Kemudian kasus yang satunya
- adalah dari
- seorang
- istri mungkin ya. Di sini saya dan suami
- berasal dari latar belakang yang
- berbeda, Ustaz. Suami punya interpretasi
- agama yang ketat sekali. Sering merasa
- bahwa saya harus patuh dan nurutin semua
- keinginannya tanpa musyawarah. Apakah
- terkait pendidikan anak, pekerjaan, atau
- juga pergaulan yang membuat saya merasa
- tertekan dan tidak berharga sebagai
- individu. Kami bertengkar itu karena
- perbedaan pandangan ini. Jadi, dalam
- segi ee pandangan Ustaz, bagaimana
- syariat tentang pembangkangan istri ini?
- Bagaimana kita bisa menengahi dan
- memberikan pemahaman yang moderat
- mengenai hak dan kewajiban suami istri
- dalam Islam agar tetap sakinah.
- Terus bagaimana memperbaiki komunikasi
- yang sudah sangat buruk ini? Saya capek,
- Ustaz. Lelah secara mental. Bagaimana
- saya bisa membangun kembali harga diri
- saya dengan menegosiasikan batas-batas
- yang sehat tanpa memunculkan konflik
- yang lebih besar. Masyaallah.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma
- sholli ala Muhammadin wa ali Muhammad.
- Allahumma atina
- min ladunka rahmatan waimna min ladunka
- ilman nafi bima
- allahum ahdina subulam waakrijna
- minadulumatian nur wahdina ilaatikal
- mustaqim
- asalamualaika ya rasulullah assalamu
- alaina wa ala ibadillah shihinal
- wasalamualaikum
- warahmat warahmatullah wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- menjawab pertanyaan
- pertama
- itu kasus pertengkaran suami istri
- dalam saat bertengkar melibatkan anak
- hingga membuat anak mengalami
- keadaan yang betul-betul membuat dirinya
- stres
- karena yang satu ayahnya, yang satu
- ibunya dan Dia wajib untuk bersikap baik
- pada keduanya dan dia juga mencintai
- keduanya.
- Oleh karena itu, orang tua seharusnya di
- saat mereka bertengkar, berselisih,
- seharusnya mereka tidak melibatkan anak
- mereka
- agar si anak ini tidak apa terpengaruh
- jiwanya.
- Karena perpecahan di antara mereka itu
- sebetulnya
- menghancurkan hatinya.
- Harapan setiap anak, orang tuanya hidup
- dalam keadaan harmoni. Bisa menjadi
- idola kebanggaannya,
- memberikan bimbingan nasihat
- menjadi contoh yang baik. Tapi di saat
- menyaksikan ayah ibunya bertengkar
- itu dampaknya cukup berat buat
- anak-anak.
- Dan tidak mungkin si anak berpihak pada
- ibu untuk memusuhi ayah. Tidak mungkin
- juga berpihak pada siapa? Pada ayah
- untuk memusuhi ibunya.
- Kedua-duanya merupakan dua bola matanya.
- Kalau persoalannya di luar ayah ibunya
- mungkin mudah. Tapi kalau sudah
- berkaitan dengan ayah ibu dengan
- sendirinya
- anak di sini
- berat menghadapi kondisi seperti ini.
- Kecuali di saat anak tersebut orang yang
- berilmu, orang yang bijak yang bisa
- mengingatkan ayah ibunya.
- Tapi kalau tidak tanpa disadari orang
- tua menghancurkan anaknya,
- memberikan contoh yang tidak baik. Oleh
- karena itu dalam Al-Qur'an kalau terjadi
- pertentangan perselisihan di antara
- suami istri
- atau seorang suami ingin katakan
- memberikan pendidikan pada istri, itu
- seharusnya
- mereka lakukan ya di antara mereka tanpa
- diketahui oleh anak.
- di mana Allah berfirman,
- alisa bimaahu baum
- wimqu min amwallatifuna
- faiduhunna
- wahjuruhunna fil madji
- Allah tempatkan laki-laki sebagai
- pengayom pelindung
- yang membimbing wanita-wanita mereka
- baik itu istri, anak perempuannya.
- Ini merupakan tanggung jawab laki-laki
- dalam hal ini. Kata qawam diambil di
- kata qoim.
- Fulan qoimun ala ahli artinya
- bertanggung jawab untuk mengurus urusan
- keluarganya. Dia yang memberikan nafkah,
- dia yang menyediakan juga tempat
- tinggal.
- Kemudian
- fasolihatu qonitatun hafidatun lil
- ghaibi bima hafidullah.
- Nah, wanita yang baik yang saleh itu
- yang patuh kepada Allah, taat padanya
- dan juga taat patuh pada suaminya
- pada hal-hal yang Allah Subhanahu wa
- taala ridai. Tapi kalau berkaitan dengan
- apa yang diharamkan Allah, maka dalam
- hal ini si istri tidak boleh mematuhi
- suami. Yang harus dilakukan dia
- mengingatkan suaminya.
- Sebagaimana seorang anak wajib berbakti
- berbuat baik pada kedua orang tuanya.
- Tapi pada saat orang tuanya
- memerintahkan dirinya melakukan
- perbuatan yang tidak benar, dia tidak
- boleh taati orang tuanya dalam hal
- tersebut, tapi tetap memperlakukan orang
- tuanya dengan mulia. Contoh, orang tua
- memerintahkan katakan anak untuk membeli
- minuman keras, anak enggak boleh
- mentaati orang tuanya
- dengan alasan berbakti tidak benar.
- Karena tidak diboleh kita, tidak boleh
- kita mentaati makhluk dalam kemaksiatan
- kepada
- Allah
- Allah.
- Jadi pada saat
- ee seorang berumah tangga ada kewajiban
- pada laki-laki, ada kewajiban juga pada
- perempuan.
- Jadi antara kewajiban dan hak penuh
- keseimbangan.
- Seorang laki-laki sebagaimana yang
- sering kita ucapkan sebelum menuntut
- haknya hendaknya jalankan kewajibannya.
- Perempuan juga demikian. Sebelum dia
- menuntut haknya, hendaknya dia
- menjalankan kewajibannya. Hingga dengan
- masing-masing menunaikan kewajibannya,
- mereka akan betul-betul tumbuh dalam
- suasana penuh pengertian, penghargaan,
- dan juga akan menumbuhkan rasa cinta
- dari buah komunikasi yang baik di antara
- mereka.
- Nah, wanita yang saleh ini ya yang taat
- pada Allah juga taat kepada suaminya.
- Ketaatan pada suami itu pada apa-apa
- yang Allah Subhanahu wa taala ridai
- juga. Suami juga bersikap baik, mulia
- pada istrinya pada apa-apa yang Allah
- Subhanahu wa taala ridai, bukan pada apa
- yang diharamkan Allah. Kemudian
- hafidatun lil ghaibi bima hafidallah.
- Wanita yang saleh ini juga menjaga
- kehormatannya.
- Menjaga kehormatan suaminya pada saat
- suaminya tidak ada. Dia tidak
- mengizinkan laki-laki untuk masuk ke
- rumahnya pada saat suaminya tidak ada.
- Ya, juga menjaga harta suaminya. Nah,
- pada saat dia menjaga, Allah juga akan
- menjaga dirinya. Fasihat qonitatun
- hafidatun lil ghaibi bima hafidallah.
- Jadi, kalau orang menjaga, Allah juga
- akan jaga. Tetapi kalau orang tidak
- menjaga kehormatannya,
- tidak menjaga apa yang mesti dijaga,
- maka jangan dia menyalahkan Allah dan
- mengatakan bahwa ini takdir Allah.
- Tidak. Allah perlakukan kita ya dengan
- perlakuan yang baik. Kita berbuat baik
- satu dibalas 10 bahkan sampai 700.
- Kalau kita berbuat salah dihitung hanya
- satu. Jadi kalau kita mendekat kepada
- Allah satu langkah, Allah akan datang
- kepada kita dengan apa? dengan lebih
- cepat lagi. Jadi, wanita yang menjaga
- kehormatannya dirinya, Allah akan jaga
- dirinya.
- Wanita yang menjalankan kewajibannya,
- Allah akan muliakan dirinya. Begitu juga
- laki-laki juga yang menjaga
- kehormatannya, ya, melaksanakan
- kewajibannya, Allah Subhanahu wa taala
- akan muliakan dirinya. Jadi ingatalqin
- dan buatlah sesuka hatimu. Apa yang kamu
- perbuat kamu akan terima balasan kamu.
- Nah, setelah itu Allah mengatakan
- wallati takunuzahum.
- Dan apa? Dan wanita-wanita yang kalian
- khawatir pembangkangan mereka.
- Faiduhun.
- Berikan nasihat, bacakan ayat-ayat
- Allah. Ingatkan dengan ucapan-ucapan
- Nabi kita. Kalau Anda enggak bisa
- langsung minta orang yang terpandang,
- yang terhormat, yang bijak untuk
- memberikan nasihat. Apalagi kalau sesama
- wanita.
- Kalau tidak bisa juga wahjuruhunna fil
- madaji. Artinya
- kalian boikot mereka tapi dalam kamar
- mereka jangan sampai keluar.
- Jangan sampai ku
- artinya biar keributan suami istri itu
- biar dalam domain mereka jangan sampai
- keluar. Nanti kalau keluar melibatkan
- anak-anak, akhirnya anak-anak bisa
- bersikap kurang ajar kepada yang satu.
- Bisa nanti mulai bersikap tidak baik
- pada ayahnya atau kepada ibunya. Ini
- merupakan hal-hal yang bisa menimbulkan
- dampak negatif.
- Kalau seandainya sudah ditempuh cara
- ini, ternyata masih
- tidak berhasil.
- Waftumq
- baini. Kalau kalian takut terjadi
- perpecahan di antara keduanya. Fabu
- hakam min ahlihi waam min ahlihah.
- Masing-masing mengutus utusan orang yang
- bijak dari pihak laki-laki, yang bijak
- dari pihak perempuan.
- in islahan yihauinahuma.
- Kalau kedua-duanya ingin melakukan
- perbaikan, Allah berikan taufik.
- Tapi kalau seandainya kedua-duanya ingin
- berpisah, Allah akan memberikan ya
- masing-masing ya dari karunianya dan
- keutamaannya.
- Jadi ditempuh cara yang bijak untuk
- tidak membuat persoalannya akhirnya apa?
- menyebar keluar melibatkan nanti
- akhirnya intervensi orang-orang yang
- salah,
- orang-orang yang tidak bertanggung
- jawab, berbicara akhirnya membuat
- kondisi rumah tangga rusak. Nah,
- sekarang banyak orang kalau menghadapi
- persoalan mulai beredar di di Instagram,
- di YouTube ya. Bahkan tampilan foto yang
- tadinya bersama suami mulai suaminya
- dihilangkan.
- atau sebaliknya dan mulai jadi buah
- bibir akhirnya bukan lagi domain pribadi
- menjadi apa
- menjadi tutur cerita di tengah-tengah
- masyarakat
- ini orang-orang yang menghancurkan rumah
- mereka dengan tangan mereka
- menghancurkan rumah tangga mereka dengan
- apalagi kalau seandainya mereka punya
- anak tersebut tumbuh dari nutrisi yang
- tidak sehat pertengkaran, perselisihan
- atau cacian makian yang laki kepada
- istrinya, yang istri kepada suaminya.
- Bagaimana kesan anak pada orang tua?
- Kenapa dikirim putusan dari
- masing-masing? Karena kalau yang
- bersangkutan
- terbawa emosi, dia enggak mampu
- menjelaskan apa yang dia inginkan. Pihak
- lain tidak paham. Kalau suami istri
- ribut, itu susah untuk bisa saling
- memahami. Karena apa? karena terbawa
- oleh emosi. Persoalannya kecil tapi
- merembet ke mana-mana.
- Bahkan kesalahan-kesalahan dulu yang
- tersimpan di koper dibongkar kembali.
- Padahal masalahnya seperti orang punya
- rumah gentengnya satu pecah bocor marah
- dibongkar rumah semuanya.
- Padahal cuma masalah apa?
- Genteng
- atau kloset rumahnya mampet. Emosi.
- Akhirnya dia lakukan tindakan yang bisa
- apa?
- yang bisa menimbulkan kerusakan yang
- lebih besar.
- Jadi seharusnya masing-masing mengirim
- utusan kalau memang dengan akal sehat
- mereka sudah tidak bisa lagi berkumpul
- bersama-sama, mereka pisah dengan cara
- baik-baik.
- Kalau seandai mereka mau ruju, Allah
- Subhanahu wa taala perbaiki mereka. Tapi
- jangan ikuti hawa nafsu.
- Karena hawa nafsu ini bisa membuat kita
- buta, membuat kita tuli, membuat kita
- kehilangan rasa.
- Akhirnya kata-kata yang keluar tidak
- benar. Keputusan yang kita ambil
- mendatangkan penyesalan di kemudian
- hari.
- Dan kita harus tahu bahwa kita bersama
- pasangan kita itu Allah jadikan untuk
- saling melengkapi, saling
- menyempurnakan, bukan saling menjajah.
- Terkadang laki-laki yang menang menjajah
- istrinya. Terkadang perempuan yang
- menang semena-mena menjajah suaminya.
- Ini bukan lagi saling menjajah, tapi
- hunna libasul lakum wa antum libasul
- lakum.
- Karena kita tahu bahwa laki-laki hanya
- sendirian tanpa pasangan tidak sempurna.
- Perempuan juga demikian.
- Tapi sayang yang kita pahami terkadang
- dongeng-dongeng cerita-cerita israiliyat
- yang memandang perempuan ini sebagai
- makhluk inferior.
- Padahal ibunya kan perempuan,
- istrin juga
- perempuan. Dia pandang remeh perempuan
- sama dengan memandang remeh ibunya. Nah,
- di tradisi jahiliah dulu memang
- laki-laki memandang perempuan itu
- makhluk inferior. Bahkan di
- tengah-tengah orang Yahudi mereka
- menganggap bahwasanya perempuan yang
- menyebabkan suaminya tergelincir dari
- surga.
- Jadi pandangan-pandangan negatif
- mengenai perempuan sampai juga ee
- riwayat yang beredar perempuan
- diciptakan dari iga laki-laki yang
- bengkok ini juga merupakan riwayat
- israiliat. Quran menjelaskan ba'dukum
- min ba'd. Quran juga menjelaskan
- bahwasanya apa? Bahwasanya pria wanita
- diciptakan dari asal usul dan entitas
- yang sama.
- Allah Subhanahu wa taala tidak
- menjadikan
- laki-laki dengan jenis kelaminnya lebih
- mulia dari wanita. Juga tidak menjadikan
- wanita dengan jenis kelaminnya lebih
- mulia dari pria. Tapi yang paling mulia,
- yang paling bertakwa. paling taat dan
- paling baik dan mulia
- amal-amal kebaikannya.
- Jadi
- ee seorang anak seharusnya tidak
- dilibatkan dalam masalah ini. Dan saya
- pernah mengalami
- seorang ibu bertengkar dengan suaminya.
- Dia bawa anaknya.
- Tiap dia berbicara dia bilang sama anak,
- "Betul enggak, Nak, ucapan Mama?"
- Lanjutkan lagi bicara. Betul enggak,
- Mak, ucapan anak? anaknya masih baru
- usia mungkin 11 12 tahun. Saya bilang,
- "Ini betul-betul
- sikap wanita yang tidak tahu apa yang
- harus dilakukan.
- Wanita ini mudah menghancurkan rumahnya
- dengan tangannya dan menghancurkan anak
- perempuan. Akhir yang mendidik anak
- perempuannya bersikap nanti kurang ajar
- terhadap ayahnya."
- Ini yang tidak boleh dilakukan.
- Ada kita ketahui beberapa perempuan
- pisah sama suaminya. Dia punya beberapa
- anak tapi kalau si anak berbicara buruk
- tentang ayahnya, si ibu marah luar
- biasa.
- Orang bertanya, "Kenapa saya tidak ingin
- anak saya menjadi anak yang kurang ajar
- terhadap orang tua?" Akhirnya
- menghancurkan masa depannya.
- Urusan saya sama suami itu antara kita
- berdua. Jangan kita pengaruhi anak kita
- untuk bersikap tidak hormat kepada
- masing-masing. Kan indah sekali kan.
- Tapi sayang sungguh sayang, manusia
- zaman sekarang lebih banyak dikuasai
- emosi sama egonya daripada
- mempertimbangkan tanggung jawabnya juga
- balasan yang Allah sediakan di hari
- akhir nanti.
- Jadi kesimpulannya untuk ananda kita ini
- yang mengalami kebingungan, Anda tahu
- kewajiban Anda sebagai seorang anak
- tetap bersikap baik pada ibu, bersikap
- baik pada ayah, baik pada masa mereka
- rukun maupun pada masa mereka berpisah.
- Jangan Anda berpihak. Tapi menyampaikan
- nasihat
- pada ayah atau pada ibu dengan cara yang
- santun tidak dilarang dalam agama.
- Seperti Nabi Ibrahim memberikan nasihat
- kepada ayahnya.
- Jadi tetap dengan berkata santun. Kalau
- perlu bericara secara pribadi kepada
- ayah.
- Jelaskan dia punya undang-undang. Kita
- ini betul-betul bersedih melihat ayah
- bersama ibu dalam kondisi seperti ini.
- Apa ayah enggak bisa pertimbangkan
- juga perbaiki hubungan ini. Ayah sudah
- membuahkan anak berusia lebih daripada
- 20 tahun. Bukan hidup baru sebulan, 2
- bulan. masa bersabar menjalani kehidupan
- selama 20 tahun tidak bisa bersabar
- untuk apa sisa-sisa yang amat berharga
- ini.
- Kalau ayah berpisah belum tentu bisa
- baik, bisa mendapatkan wanita lebih baik
- dari ibu. Begitu juga sama ibu datang
- ibunya berikan nasihat yang baik. Tapi
- pada saat ibu jangan kedua-duanya
- memanggil anaknya bertengkar, saling
- mencaci, saling memaki, saling
- menyalahkan depan anak. Ini merupakan
- kesalahan yang fatal.
- Jadi, Ananda kita bisa memperdengarkan
- rekaman ini kepada kedua orang tua.
- Berikan nasihat yang baik ya, yang indah
- dan Anda kembali pada Allah. Salat,
- berdoa agar Allah memberikan hidayah
- kepada ayah ibu agar mengembalikan hati
- mereka. Karena kita harus tahu masalah
- hati itu di tangan Allah.
- Kita enggak bisa mengendalikan hati
- kita. Pada saat kita benci pada
- seseorang, kita enggak bisa berubah. Itu
- kebencian yang muncul dari mana? Hati
- kita. Dan yang menguasai hati kita
- adalah Allah. Oleh karena itu ada
- pepatah mengatakan, "Lau kana qalbi mai
- maktartu girirakum wala ritu siwakum fil
- hawa badala." Kalau hati saya di tangan
- saya ini, saya enggak bakal pilih orang
- lain. Saya akan pilih kalian.
- Tapi ternyata apa?
- Ternyata hati ini justru memilih yang
- menyusahkan dirinya.
- Orang Tegal bilang si angel.
- Angel
- gelem diburu. Betul gak?
- Sedangkan yang mudah, yang suka sama
- kita, yang dekat dari keluarga kita
- enggak repot-repot
- dibilang sudah terlalu dekat perasaannya
- seperti saudara sendiri.
- Terkadang orang bilang, "Ini saya
- tawarkan buat kamu wanita baik, cantik."
- Di mata dia enggak cantik. Tapi yang dia
- sukai justru wanita yang kadar karena
- kecantikannya lebih apa?
- lebih kurang dibandingkan.
- Lalu ketika diingatkan dibilang di mata
- saya dia yang terindah. Jadi kita harus
- tahu bahwa hati di tangan Allah. Maka
- mohon pada Allah untuk mengubah hati
- ayah ibu yang tadinya sering bertengkar,
- bermusuhan untuk melembutkan hati
- mereka. Dan doa anak dalam hal ini
- mustajab.
- Doa yang mustajab. Bersikap baik pada
- ayah ibu. Kalau seandai mereka mengajak
- kamu untuk terlibat, katakan
- saya mohon dibebaskan dari hal ini.
- Karena ayah-ayah saya, ibu-ibu saya,
- mana mungkin saya berpihak dalam ini.
- Kalau seandainya harus dilibatkan, saya
- ingin kalian berdua rujuk kembali dan
- rukun. Jadi berdoa kembali kepada Allah
- Taala, doakan kedua orang tua. Tapi
- jangan sekali-kali Anda terlibat
- berpihak ke sana maupun kemari. Berikan
- kata-kata yang manis untuk keduanya. Apa
- Anda ayah tidak menyesal kalau kita ini
- trauma menjadi korban akibat
- pertentangan di antara kalian berdua?
- Hidup sebentar. Beberapa saat lagi kita
- akan apa? Tinggalkan. Dan sering
- laki-laki beranggapan
- wanita lain di luar lebih baik daripada
- istrinya.
- Memang yang belum kita rasakan, belum
- kita coba, kita beranggapan terkadang
- apa? lebih menarik.
- Tapi begitu kita coba ternyata apa?
- Bisa saja istri kita yang sebelumnya
- lebih baik, perempuan juga demikian. Dia
- merasa dirinya masih cantik, masih
- menarik, masih muda. Laki-laki di luar
- mengagumi dirinya.
- Begitu dia pisah dengan suaminya, dia
- menikah dengan pengagumnya. Ternyata
- pengagum juga sama. Seminggu, du minggu
- kekagumannya hilang, dia kagum lagi
- terhadap yang lain.
- Masyaallah.
- Tapi jaga rumah tangga kita. Mohon
- perlindungan kepada Allah Subhanahu wa
- taala agar dijauhkan dari tipu daya
- setan dan juga kejahatan-kejahatan
- dari jin dan manusia. Jadi, Anda sebagai
- anak laki-laki banyak berdoa salat ya
- dan jangan mau terlibat berpihak ke sana
- maupun kemari. Jadilah anak yang saleh
- yang taat pada Allah, taat kepada ayah,
- taat kepada ibu. Hormati mereka.
- Mudah-mudahan dengan sikap Anda Allah
- berikan hidayah kepada ayah ibu Anda.
- Nah, yang kedua
- berkaitan dengan pasangan suami istri,
- suaminya super ketat dalam menerapkan
- tuntunan agama.
- Istri diwajibkan untuk patut manut
- sepenuhnya.
- Saya tidak memahami yang dimaksudkan
- dengan
- super ketat dalam tuntunan agama ini.
- Apakah yang kembali kepada syariat
- Allah? Apakah hal-hal yang berbeda
- pendapat?
- Kalau berkaitan dengan syariat Allah,
- baik suami maupun ibu tidak bisa
- melakukan tawar-menawar.
- Artinya suami istri kalau berkaitan
- dengan syariat Allah wajib mengatakan
- samna wa karena datang dari Allah kita
- juga merupakan ciptaan Allah. berhutang
- kepada Allah dengan hidup kita menerima
- nikmat maupun karunianya.
- Cuma
- penyampaiannya dengan cara yang baik,
- memberikan pendidikan yang baik ya untuk
- tidak menyakiti ya satu sama lain.
- Karena diksi ini penting. Diksi dalam
- menyampaikan sesuatu itu penting sekali.
- Kita memiliki kalimat thayibah untuk
- kita sampaikan pada pasangan kita. bukan
- lagi seperti instruksi yang disampaikan
- oleh ee anggota TNI yang pangkatnya
- lebih tinggi kepada yang bawah. Karena
- istri kita ini pasangan kita
- saling menyempurnakan satu dengan
- lain
- lain. Allah perintahkan waasyiruhunna
- bil marruf. Allah perintahkan juga untuk
- menggunakan kalimah thayibah sebagaimana
- Rasul memberikan bimbingan kepada
- istri-istrinya.
- Jadi kalau berkaitan dengan syariat yang
- pasti dari Allah,
- baik ibu maupun bapak wajib untuk
- menerimanya samna waana. Jangan
- menganggap ini terlalu ketat. Tapi kalau
- berkaitan dengan perbedaan pendapat,
- coba duduk sama-sama. Laki-laki jangan
- merasa lebih tinggi dari perempuan.
- Perempuan jangan merasa juga apa
- namanya? ee lebih inferior hingga dia
- merasa dirinya ditekan. Tidak. Duduk
- sama-sama musyawarah dengan cara
- baik-baik.
- Suami membacakan ayat-ayat Allah, sunah
- nabinya, istri mendengarkan. Tapi jangan
- ada kesan penindasan. Katakan pada
- istri, "Saya bertanggung jawab di
- hadapan Allah." Terhadap apa yang Allah
- perintahkan, demikian apa yang Allah
- larang. Nah, saya ingin kamu sebagai
- istri membantu saya,
- mendukung saya agar saya betul-betul
- bisa menjalankan perintah Allah
- Subhanahu wa taala. Nah, kalau ada
- perbedaan pendapat dalam urusan katakan
- yang berkaitan dengan ee ijtihad, ada
- perbedaan interpretasi, hendaknya bisa
- dirundingkan sama-sama.
- Karena kita tahu bahwasanya terkadang
- sesuatu yang kita paksakan pada orang
- lain itu bukan bahagian dari tuntunan
- agama.
- Hanya merupakan perbedaan pendapat. Ya,
- sebagai contohlah saya bawakan
- masalah-masalah yang sepele.
- Sebagian suami yang punya pendapat
- bahwa membaca surah Yasin malam Jumat
- itu bidah. Sedangkan istrinya suka
- membaca surah Yasin yang dibacakan
- ayat-ayat Allah Subhanahu wa taala. Nah,
- dalam hal ini kalau suami tidak suka
- jangan membaca tapi istrinya yang
- membaca juga jangan apa? Jangan
- dihalang-halang. Kecuali kalau melakukan
- perbuatan yang mungkar secara
- terang-terangan.
- Atau katakan suaminya umpamanya tidak
- qunut,
- istrinya qunut. Gara-gara perbedaan ini,
- suami istri ribut. Kamu istri saya harus
- ikut cara beribadah saya. Ini cara-cara
- seperti ini enggak wajar.
- Tapi kalau menutupi aurat sempurna, ya
- kemudian menjaga menjaga batasan
- pergaulan antara laki-laki dan perempuan
- itu merupakan hal yang memang diajarkan
- Al-Qur'an, dicontohkan oleh Nabi dengan
- sendirinya. Seorang wanita jangan
- mengajukan keberatan dalam hal ini. Dan
- Anda semakin terjaga kehormatan Anda,
- semakin betul-betul Anda dekat dari
- Allah dan pintu rahmat keberkahan juga
- dibukakan. Jadi kalau mentaati sesuami
- suami pada apa-apa yang Allah
- perintahkan juga patuh pada apa yang
- dilarang oleh Allah Taala ini bukan
- hanya ketaatan pada suami tapi kepatuhan
- yang paling utama kepada
- Allah subhanahu wa taala. Anda menjaga
- kehormatan Anda. Nah, karena pertanyaan
- ini dan penjelasan yang disampaikan
- tidak sempurna, kalau seandainya suami
- istrimu datang langsung ya untuk ee
- menyampaikan perbedaannya itu lebih
- baik. Karena kita khawatir memberikan
- obat salah obat karena kita belum
- mendiagnosis keadaannya apa secara
- jelas. Nah, kalau apa yang ibu merasa
- keberatan berkaitan dengan syariat Allah
- Subhanahu wa taala, ibu salah. Ibu wajib
- di sini mentaati suami karena
- Allah.
- Tapi kalau ada hal-hal yang berbeda
- karena latar belakang yang berbeda
- dengan sendiri, coba duduk sama-sama
- kita lihat apakah ini merupakan hal yang
- harus
- apakah hal yang tidak harus. Nah, kalau
- Ibu lihat umpamanya suami katakan
- bersikap lebih tegas lagi dalam sebagai
- persoalan ibu demi keharmonian kerukunan
- ibu mentaati suami. Ketaatan pada suami
- dalam hal-hal yang baik juga mulia.
- Dalam hal yang baik mulia
- demi menjaga keutuhan rumah tangga. Dan
- ibu jangan merasa seolah-olah harga diri
- ibu direndahkan. Ibu tidak diberikan
- kesempatan untuk berpendapat dan
- berpikir. Tidak.
- Oleh karena itu, alangkah indahnya
- pasangan suami istri di saat istri lagi
- marah, lagi emosi, suami mengulur.
- Jangan sama-sama menarik.
- Nah, di saat istri mengendorkan, suami
- menarik,
- insyaallah hubungan di antara mereka
- tidak putus.
- Ada suami yang sedang marah-marah,
- berapi-api, istrinya diam aja bahkan
- menunjukkan muka sedih. Ya, akhirnya
- lama-kelamaan.
- suami mulai muncul perasaan miris di
- hatinya.
- Nah, begitu suaminya dipelaskan,
- "Mas, enggak seperti itu.
- Kisahnya tuh begini begini. Kalau salah
- minta maaf, kalau salah
- insyaallah saya enggak ulangi lagi. Tapi
- kalau seandai suami salah paham jangan
- langsung dijelaskan. Pada saat dia emosi
- akal sehatnya hilang. Tunggu sampai dia
- reda baru jelaskan, "Mas, tadi Mas
- bilang begini begini. Sebetulnya Mas
- salah paham kasusnya itu begini begini
- begini." Kan lebih enak kan. Begitu juga
- kalau seandainya istri salah paham,
- istri salah faham
- paham, jangan mentang laki-laki dia
- merasa dia direndahkan dengan istri
- angkat suara depan dia.
- Istri terkadang kalau emosi banting
- pintu ini itu dan lain sebagainya keluar
- kata-katanya enggak bagus bahkan bisa
- mengatakan ceraikan saya.
- Kalau kita hadapi saat itu sama aja api
- kita berikan bensin
- akhirnya yang kebakaran bukan hanya dia.
- Kita ikut-ikut kobongan.
- Betul kok?
- Iya. Jadi
- tunggu sampai dia reda ya baru apa? Baru
- berikan nasihat yang baik. Saya sering
- bilang kalau laki-laki istrinya keras
- dia marah-marah. Jangan sekali-kali kamu
- tanggapi.
- Lebih baik kamu diam
- sebentar akan berakhir. Tapi begitu kamu
- kasih bahan bakar bisa meledak-ledak
- bahkan bisa berkepanjangan.
- Kalau yang susah hanya dia pasti enggak
- apa-apa. Kita ikut susah juga
- ujung-ujungnya. Betul gak?
- Betul.
- Jadi pada akhirnya kalau kita ikuti kita
- menyesal tapi kalau kita bersabar ada
- pepatah Arab mengatakan apa?
- Asru
- sabar itu persis kayak jadam murul
- mazhab pahit memang rasanya hulul awak
- tapi akibatnya kesudahannya apa
- baik tapi ada yang manis enak tapi
- setelah itu gula kita naik jantung kita
- juga mulai enggak karuan betul gak jadi
- jangan kita hanya melihat sesuatu senang
- dan tidak senang nikmat dan tidak nikmat
- terkadang yang tidak menyenangkan itu
- menjadi keba kebaikan buat kita. Jadi,
- saya enggak bisa bicara terlalu jauh
- karena perkaranya saya juga enggak jelas
- apa kira-kira yang jadi bahan perdebatan
- dalam perbedaan ini. Kalau Ibu bisa ee
- masukkan apa kira-kira yang menjadi
- sebab perbedaan apa yang tidak
- menyenangkan Ibu, insyaallah kita bisa
- jawab lebih apa? Lebih jelas lagi. Atau
- Ibu datang kemari sama Bapak tapi jangan
- sendirian.
- Karena kalau sendirian masing-masing
- punya apa?
- Masing-masing ya punya paling tidak apa?
- Punya cara sendiri untuk membenarkan
- perbuatannya
- dari sudut pandang masing-masing. Nah,
- kita ingin dua-duanya datang. Kita mau
- dengarkan karena sudah sering sekali
- laki-laki datang mengadukan urusan
- istrinya. Tapi setiap kita bilang bawa
- istrinya, dia enggak bawa. Jadi
- tujuannya bukan untuk tahu benar salah,
- tapi ingin tahu pembenaran.
- Seperti kemarin di pengajian, satu
- pengajian satu orang bertanya, "Ustaz,
- kata ustaz, kalau seandainya istri
- ee
- keberatan kalau kita bantu orang tua
- kita."
- Kata ustaz, "Lebih baik ditukar, diganti
- sama yang lain aja." Orang bilang,
- "Hati-hati ya, ini tidak begitu
- langsung. Berikan nasihat, berikan
- peringatan, bacakan ayat Al-Qur'an,
- panggil ya orang yang bisa memberikan
- nasihat. Kalau dia tetap menentang
- keberatan kita berbakti pada orang tua
- kita baru pada saat itu apa?
- Jangan begitu dengan kesempatan saya
- lagi pengin tinggalkan istri saya, Ustaz
- Husein ngomong begitu, "Ini enggak
- benar."
- Jadi harus ada apa? Tahapan. Kalau
- memang istri ini menjadi penghalang kita
- berbakti pada orang tua, tidak mau
- mengerti,
- tukar sama yang lebih baik, lebih taat
- pada Allah, lebih cantik kalau perlu.
- He.
- Jadi tidak menimbulkan apa?
- Perasaan-perasaan tidak nyaman. Karena
- rata-rata perempuan yang seperti ini
- wajahnya sama sekali tidak mengenakkan.
- Begitu kita pandang wajahnya wali
- iyazubillah yang terang menjadi gelap.
- Heeh.
- Begitu juga laki-laki juga kalau dia
- tidak taat pada Allah, bersikap kasar,
- meninggalkan salat, marah-marah, mau
- menang sendiri. Subhanallah. Bagi
- seorang wanita melihat laki-laki seperti
- ini, Subhanallah, suasana dingin
- panas,
- dalam suasana terang pun gelap gulita.
- Jadi, laki-laki jangan mau menang
- sendiri, perempuan juga jangan mau
- menang sendiri. kita kembali kepada
- standar nilai yang sama. Kemudian ingat
- rasa cinta itu baru akan tumbuh dengan
- kalimah thayibah dan perlakuan yang
- baik. Bukan dengan ancaman, bukan dengan
- menggunakan teror, tapi dengan kalimah
- thayyibah. Insyaallah rumah tangga kita
- bisa kita bangun dengan cara yang baik
- dan mulia. Ee ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah, karena ada acara saya
- pamit lebih dulu. Dan selanjutnya
- insyaallah akan dilanjutkan oleh ustaz
- kita, syikh Allah kita, Ustaz Abu Bakar
- Baraja yang selalu senyum
- membuat orang yang berselisih memandang
- wajah beliau aja. Alhamdulillah Allah
- Subhanahu wa taala berikan apa?
- Keteduhan hatinya insyaallah.
- Masyaallah. Jadi seberap pun parahnya
- ketidakcocokan kita dengan pasangan,
- please deh jangan didengar anak-anak
- karena itu bisa menjadi nutrisi jiwa
- yang paling enggak sehat gitu ya, Ustaz
- ya. Sementara ee apakah yang akan kita
- dengar dari paparan Ustaz Abu Bakar
- Baraja? Mari kita simak.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillah,
- segala puji dan syukur kita kepada Allah
- yang senantiasa memberikan kepada
- kehidupan kita
- sampai di yaumul akhir nanti.
- Begitu nikmatnya
- apa yang diberikan Allah kepada
- hamba-Nya.
- setetes air saja
- bisa mensejukkan
- bagi mereka yang haus.
- Itulah kehidupan dalam proses
- ketika kita melihat
- ada seorang anak yang sedang
- memperhatikan
- kedua orang tuanya.
- Ketika seorang anak itu memperhatikan
- kedua orang tuanya,
- orang tuanya, terjadilah keributan yang
- luar biasa.
- Anak ini memperhatikan kedua orang
- tuanya,
- ingin kedua orang tuanya tidak terjadi
- pertengkaran.
- Tapi yang terjadi malah bertambah
- bertengkar dan anak itu dari SMP, SMA
- sampai kuliah melihat pertengkaran
- setiap hari.
- Jadi apa yang terjadi ketika dia melihat
- pertengkaran, hatinya tidak tenang,
- perasaannya tidak bisa dia pegang dengan
- benar
- sehingga mentalnya pun
- berantakan.
- Ketika pertengkaran itu terjadi, anak
- itu hanya melihat, memperhatikan.
- Dia ingin melihat bahwa ibu dan bapaknya
- itu
- akur,
- senang, bahagia.
- Tapi apa yang terjadi?
- pertengkaran yang dilihatnya
- mengakibatkan
- mentalnya
- tidak karuan.
- Dengan kondisi yang seperti inilah yang
- membuat anak itu akhirnya tidak karuan.
- Dia mulai memberontak dirinya.
- Tapi dia berpikir kalau saya memberontak
- ini tidak ada gunanya.
- Jadi apa yang harus dia pikirkan? Dia
- tidak perlu memikirkan.
- Dia tidak perlu memikirkan karena kedua
- orang tuanya adalah orang tuanya,
- dirinya adalah dirinya. Dia bisa
- menyampaikan pesan kebaikan. Ketika
- sedang ribut, kita katakan
- diam,
- diam.
- Jadi apa yang terjadi? Anak itu
- berbicara
- kita clearkan. Pertama sedang ribut,
- mama diam dulu, papa diam dulu.
- Itu yang penting buat seorang anak yang
- menghadapinya.
- Jadi ketika lagi ribut kita katakan
- diam, diam.
- Jadi enggak perlu kita memikirkan kenapa
- kok mereka ribut, kenapa kok bisa
- seperti ini, kenapa itu tidak ada
- gunanya kita berpikir seperti itu.
- Enggak ada artinya kita berpikir seperti
- itu. Yang perlu kita perhatikan
- diamkan.
- Jadi
- bagaimana ketika dia lagi ribut? Kita
- diamkan.
- Kita diamkan. Jangan sampai terjadi yang
- lebih dari itu.
- Oke. Jadi yang pertama kita diamkan
- dan ketika itu
- insyaallah ketika mamanya mengatakan
- enggak bisa, papanya juga bilang enggak
- bisa. Dengan
- keramaian ini membuat hatinya tidak
- tenang.
- hatinya tidak tenang. Jadi kita harus
- berbuat apa? Perhatikan pada diri kita.
- Perhatikan pada diri kita bahwa itu
- mereka bukan saya.
- Itu mereka bukan saya. Keributan itu
- adalah untuk mereka bukan untuk diri
- saya. Saya dilahirkan dengan kebaikan
- dari Allah, bukan dengan keramaian.
- Jadi, perhatikan diri kita,
- tapi kita menyampaikan pesan kebaikan
- dia.
- Dan yang kedua itu mereka bukan saya.
- Katakan kepada diri kita diri kita. Kita
- ini adalah kekuatan pada diri kita.
- Kenapa kok kita harus perhatian sama
- mereka? Perhatikan sama mereka yang
- baik-baik.
- Jadi ketika lagi ramai lagi ribut itu
- mereka bukan saya.
- Saya adalah orang yang tenang, yang
- bahagia. Itu mereka bukan saya. Ketika
- kita sudah diamkan. Kalau enggak bisa ya
- itu mereka bukan saya.
- Itu yang kita harus perhatikan.
- Perhatikan diri kita. Kita tidak perlu
- memperhatikan
- apa yang menjadi keributan mereka.
- Kalau mereka mempermasalahkan saya, saya
- menjadi keributan karena ini, karena
- itu, sehingga
- menjadi keributan saya. Katakan lebih
- baik diam.
- Apa yang membuat keributan pada diri
- saya? Jangan menjadikan keributan pada
- orang tua.
- Ketika kita menjadikan permasalahan,
- kita mau minta sesuatu, ibunya ngasih,
- bapaknya tidak ngasih menjadikan
- keributan. Jangan lebih baik saya tidak
- inginkan
- sehingga tidak menjadikan lemah. Dan
- yang kedua,
- bagaimana kalau mereka berpisah terus
- apa yang bisa saya lakukan? Tetap
- berbuat baik.
- Tetap berbuat baik. Karena kita
- dianjurkan untuk berbuat baik kepada
- orang tua. Bagaimanapun mereka, mereka
- bersama, mereka berpisah, tetap kita
- berbuat baik.
- Kita enggak boleh berbuat kasar. Kita
- tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak
- baik. Kita tetap berbuat baik.
- perbuatan baik kita ini yang akan
- menjadikan kehidupan yang lebih baik.
- Bagaimana dengan mereka? Mereka sudah
- berpisah itu mereka bukan saya.
- Perpisahan mereka adalah untuk mereka,
- bukan untuk saya. Dan saya tetap menjadi
- seorang ibu, menjadi seorang bapak.
- Bapak menjadi bapak saya, Ibu menjadi
- ibu saya
- tetap enggak bisa ditukar.
- Bagaimanapun terjadinya enggak bisa
- ditukar
- dan kita tetap berbuat baik.
- Insyaallah itu yang terbaik.
- Insyaallah. Dan selanjutnya yang kedua.
- Yang kedua ini ada permasalahan
- bagaimana seorang suami yang bersih
- keras terhadap agamanya. Agama itu
- keras.
- Agama itu keras. Kalau yang benar,
- katakan benar. Kalau yang salah, katakan
- salah. itu
- kalau ada yang kurang lebih sedikit
- tidak ada benar dan salah.
- Jadi ketika dia melakukan sesuatu yang
- melanggar agama
- ya kita katakan tidak boleh. Kalau suami
- menegaskan tidak boleh, ya tidak boleh.
- Istri mengatakan tidak boleh.
- Kalau suami mengatakan
- tidak pakai qunut, harus kamu enggak
- pakai qunut. Si istrimu pakai qunut,
- enggak ada masalah.
- Tidak ada masalah. Ya sudah kamu pakai.
- Ketika bersama dengan suami kamu enggak
- perlu makai. Ketika suami enggak ada,
- kamu salat sendiri kamu pakai qunut.
- Kan ringan,
- enggak jadi keributan.
- Suami enggak tahu enggak ada. Dia enggak
- ada kan enggak ketahuan dia pakai apa
- enggak pakai. Ketika ada suami ya kita
- enggak pakai qunut.
- Masalah pendidikan anak.
- Saya mau mensekolahkan di sekolah Islam.
- si ibu atau si bapak katakan si bapak
- mengatakan jangan sekolah itu tidak baik
- sebaiknya sekolah di sini di mana ya
- sekolah Islam juga cuman lebih keras oh
- itu baik oke kita ikutin sama bapaknya
- karena kita ikutkan untuk kebaikan
- sama-sama sekolah
- Tapi itu kan sekolahnya terlalu keras.
- Harus pakai gini, harus gini. Enggak
- apa-apa. Masih kecil pakai kerudung.
- Misalnya TK pakai kerudung harus
- dikerudungin. Ya sudah pakai kerudung.
- Ketika enggak ada bapaknya, enggak ada
- apa-apanya dibuka enggak ada masalah.
- Kita tidak permasalahan. Tapi ketika ada
- bapaknya, bapaknya mau datang, ayo pakai
- kerudungnya.
- Jadi, bagaimana kita mengatur seorang
- istri mengatur
- suami yang keras? Jadi tidak keras
- karena dia baik. Karena dia orang yang
- baik, menyenangkan
- dan mengikuti yang benar.
- Ketika qunut, dia mau pakai qunut terus
- suaminya mengatakan tidak. Terus tidak
- mau bingung dia enggak pakai nanti
- gimana nih saya dosa. Tidak. Kita tidak
- pakai pada salat subuh kita enggak pakai
- qunut. Pada saat ada suami. Ketika
- enggak ada suami, suami lagi pergi salat
- di masjid, kita salat pakai qunut.
- Pakai qunutnya enggak ada masalah.
- Itu namanya
- baik buat kehidupan. Nah, komunikasi
- kita bagaimana? Kita tetap
- berkomunikasi,
- menyayangi,
- memberikan kebaikan.
- Artur senyuman,
- berkata menyenangkan.
- Akan terjadi kehidupan. Jangan kita
- bertengkar. kita bertengkar bahwa enggak
- boleh itu, enggak bisa itu enggak
- apa-apa kan pakai qunut itu. Wah, enggak
- perlu kita berpikir seperti itu.
- Jadi, bagaimana kita harus mengaturnya?
- Kita atur dengan kebaikan.
- Insyaallah kalau kita mengatur dengan
- kebaikan, maka akan jadi
- kebaikan-kebaikan.
- Karena perbuatan kita yang baik akan
- mendatangkan kebaikan
- insyaallah.
- Masyaallah. Jadi kalau yang kita dengar
- hari ini terkait dengan rumah tangga
- beneran harus dipertimbangkan
- karena biar bagaimanapun juga enggak
- semua yang dikatakan suami harus
- diikutin kan. [tertawa]
- Dan juga kalau merasa bahwa
- nutrisi buruk yang kita berikan pada
- anak-anak karena pertengkaran kita
- dengan pasangan, mudah-mudahan bahasan
- kali ini mempersuasi kita semuanya untuk
- bisa menjadi orang yang menggenggam lima
- huruf S A B A R. Baik, terima kasih
- Ustaz Abu Bakar Baraja dan juga Ustaz
- Husein yang karena ada keperluan telah
- mendahului ee keluar dari ruangan ini.
- Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.