Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Brail TV.
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, ikhwan akhwat
- rahimakumullah.
- Hari ini 17 Juni 2025 21 Zulhijah 1446.
- Ya, kita bersama kembali di acara
- Psikologi keluarga yang semoga
- mempersuasi dan memotivasi kita sehingga
- bisa mewujudkan keluarga yang sakinah,
- mawadah, warahmah.
- Asalamualaikum Ustaz Husein, Abu Bakar
- dan juga semua yang bersama-sama radio
- silaturahim. kali ini.
- Oh ya, mohon maaf Mas Krishna tidak lagi
- bisa mendampingi kita, Ustaz.
- Mudah-mudahan acara yang hadir seminggu
- sekali ini tanpa Mas Krishna bisa bantu,
- bisa berjalan lancar doanya ya, Ustaz
- ya. Dan untuk kasus hari ini nanti ada
- dua. Tapi sebelumnya mari kita awali
- dengan bersama-sama membaca ummul kitab.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- Maliki yaumiddin.
- Iyaka na'budu wa iyyaka nasta
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim waladin.
- [Musik]
- Amin. Allahum amin. Jadi, ikhwan akhwat,
- Ustaz, kasus yang masuk dua itu yang
- pertama dari
- ee ini bagaimana mendidik anak khususnya
- anak laki-laki menjadi anak yang
- bertanggung jawab, berakhlak
- baik bagi dirinya sendiri, bagi istri
- dan juga anak-anaknya kelak. Karena
- sekarang, Ustaz, banyak sekali pria
- suami yang tidak lagi punya tanggung
- jawab terhadap istri dan anaknya. Godaan
- semakin berat melalui kecanggihan
- teknologi atau melalui smartphone
- semakin menggerogoti rasa tanggung jawab
- para pria ini. Enggak sedikit yang
- akhirnya selingkuh meninggalkan anak dan
- istrinya. Enggak sedikit yang malas
- berusaha maksimal untuk menafkahi
- keluarganya. Mohon nasihatnya. Sementara
- kasus yang satunya, Ustaz, itu seorang
- ibu yang punya suami pendiam dengan dua
- anak yang baik. Tapi masalahnya ada pada
- diri saya, Ustaz. Saya selalu curiga dan
- tidak bisa bergaul. Waktu itu saya
- tinggal di keramat jati. Selalu
- bertengkar dengan tetangga, selalu saya
- yang dipersalahkan dan dia selalu yang
- benar. suami enggak membantu. Kemudian
- pindahlah kami ke kalender. Semoga bisa
- rukun sama tetangga. Tapi ternyata sama
- saja. Baru 8 bulan saya sudah ada orang
- yang mempermasalahkan diri saya. Katanya
- nih, "Ustaz, saya enggak bisa bergaul.
- Saya selalu mau menang sendiri. Sekarang
- saya enggak punya teman. Saya hidup
- sendiri di rumah bersama anak-anak yang
- baru kelas 5 SD. yang saya pikirkan
- apakah saya ini memang enggak bisa
- bergaul atau memang orang-orang ini yang
- tidak baik, Ustaz. Jadi, bagaimana saya
- menghadapi semua ini? Itu kasusnya.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin.
- Hamdan katsiran thyyiban mubarokan fi
- kama yuhibubuna.
- Allah. Shli ala Muhammadin wa ali
- Muhammad. Asalamualaika
- ya Rasulullah. Asalamualaina wa ala
- ibadillah shihin. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah.
- Allahummaika
- rahmah waimna ladunka ilman nafiana
- bimaamtana waj'alna hudatan muhtadin
- wala taj'alna doina mudin birahmatika ya
- arhamar rahimin.
- Rabbana zidna ilman waqna shihin.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah.
- Pagi hari ini alhamdulillah psikologi
- keluarga kita ditemani oleh Ustaz Abu
- Bakar, Mbak Nuning kita
- Ustaz Abul Hasan Asyadili
- Artep Setia yang berbudi,
- begitu pula Rizal
- dan kerabat kerja yang bekerja menemani
- kita di studio. kepada seluruh keluarga
- besar
- pendengar Radio Silaturahmi,
- kepada
- saudara-saudara kita yang sedang
- merindukan
- penerangan,
- bimbingan petunjuk dari Allah. Semoga
- kita semua di tengah-tengah bulan suci
- ini, begitu pula sebentar lagi kita akan
- memasuki bulan Muharram. Semoga Allah
- subhanahu wa taala membantu kita untuk
- memperbaiki niat dan tujuan hidup kita
- yang selama ini mungkin kita masih
- terombang-ambing
- di antara angan-angan kecintaan pada
- dunia. Kita berharap sepenuhnya
- hati kita Allah Subhanahu wa taala
- murnikan untuk hidup dengan mengharapkan
- ridanya. Menjadikan Allah dan kehidupan
- akhirat sebagai tujuan kita. kehidupan
- dunia sebagai sarana menuju ke sana.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah, tadi
- telah kita dengarkan
- kasus pertama
- bagaimana kita mendidik anak kita untuk
- menjadi pria yang bertanggung jawab.
- Pertama-tama perlu saya ingatkan kepada
- Ibu,
- jangan sekali-kali terlintas dalam benak
- ibu
- yang ibu dan bahkan ibu inginkan dari
- anak ibu ini.
- Hanya menjadi seorang yang peduli pada
- ayah ibunya bekerja mencari nafkah. Ya,
- bertanggung jawab pada keluarganya,
- begitu pula pada orang tuanya. Jangan
- hanya sebatas ini.
- Kalau orang tua bangga dengan anak yang
- bekerja dengan gaji yang cukup besar,
- tingkat pendidikan yang tinggi, hidupnya
- juga terpandang, mencukupi kebutuhan
- kedua orang tuanya maupun keluarganya.
- Jangan hanya sampai di sini.
- Ini semua hanya merupakan kehidupan
- dunia.
- Sebagaimana seorang ada yang berpakaian
- indah, berpakaian mewah, sama dengan
- orang yang berpakaian sederhana. Belum
- tentu yang berpakaian mewah lebih baik
- dari yang berpakaian sederhana.
- Tapi yang berjiwa mulia,
- yang bertakwa kepada Allah,
- yang menjalani kehidupan ini tujuannya
- adalah Allah.
- hari akhir. Dia menyadari kehidupan
- dunia bukan merupakan tujuan diciptakan
- manusia.
- Kalau ibu bisa betul-betul menanamkan di
- hati anak-anak ibu semenjak dini
- tujuan hidup yang sebenarnya sebagaimana
- yang telah ditetapkan Allah.
- Wama khalaqtul jinnah wal insa illa
- liya'budun.
- Aku tak menciptakan jin dan manusia
- melainkan untuk mengabdikan hidup mereka
- kepadaku.
- Adapun rezeki Allah tegaskan, "Ma uidu
- minhum mir rizqin widu yutimun."
- Aku tidak menuntut dari mereka rezeki
- dan aku tidak menuntut dari mereka untuk
- memberikan aku makan. Innallaha hu
- razzaquwil matin. Sesungguhnya Allah
- dialah sang pemberi rezeki yang memiliki
- kekuatan yang kokoh, kuat dan dahsyat.
- Allah ciptakan dunia ini, ciptakan bumi
- kita dan seluruh kehidupan yang terdapat
- di dalamnya untuk melayani manusia.
- Bagaimana sikap kita terhadap Allah yang
- telah menciptakan kita, memuliakan kita
- di antara sekian banyak makhluknya,
- menganugerahkan kita rezeki, memberikan
- kita akal, lalu mengajarkan Al-Qur'an
- sebagai pedoman hidup kita. Bagaimana
- syukur kita?
- Nah, di sinilah
- kewajiban kita dalam hidup ini dengan
- nikmat yang Allah telah limpahkan pada
- kita untuk mengabdikan hidup kita
- kepadanya.
- Menjadikan Allah sebagai tujuan
- jalan hidupnya sebagai jalan yang kita
- lalui.
- Kitabnya sebagai pedoman hidup.
- Begitu kita menjalani tuntunan Allah
- Subhanahu wa taala, rahmat dan
- keberkahan akan Allah curahkan pada kita
- semua.
- Jadi kalau Ibu mendidik anak ibu
- selalu mengingatkan kepada mereka akan
- tujuan hidup mereka,
- mengingatkan mereka untuk mendirikan
- salat dan bukan hanya
- salat secara lahir, tapi hatinya
- terhubung dengan Allah. Dia menyadari
- dia salat bukan karena Allah butuh
- padanya, tapi dia yang butuh kepada
- Allah. Salat adalah wasilah komunikasi
- baginya untuk berhubungan dengan Allah
- yang maha pengasih penyayang, yang maha
- kuasa untuk memenuhi seluruh
- kebutuhannya, melindungi dirinya,
- melindungi semua orang yang dicintainya.
- Begitu dia melakukan salat memohon
- kepada Allah, Allah Subhanahu wa taala
- akan kabulkan permintaan.
- Begitu dia mengenali pedoman hidupnya,
- dia akan selalu terjaga tahu kewajiban
- dia kepada Allah, kewajibannya kepada
- kedua orang tua, kewajibannya kepada
- keluarganya, anak-anaknya itu
- otomatically.
- Tapi begitu hati seorang pria maupun
- wanita terputus hubungannya dengan
- Allah, maka pada saat itu
- dia akan hidup dalam keadaan
- terlunta-lunta, terombang-ambing, tidak
- mengenal tujuannya, tidak mengenal jalan
- hidupnya. Mungkin dia merasa dirinya
- sukses, meraih gelar yang cukup baik,
- menjabat jabatan yang begitu baik,
- kemudian fasilitas hidupnya mewah,
- memiliki aset di sana sini. Begitu juga
- uang yang
- membanjiri kehidupannya. Apakah dia
- bahagia kalau dia menjadi seorang
- koruptor,
- jadi seorang pengkhianat bangsa, jadi
- seorang yang hanyut bersama hawa nafsu,
- menganiaya keluarganya, menyia-nyiakan
- mereka. Karena apa? Karena hatinya
- terputus dari Allah.
- Oleh karena itu, anak dari mulai dini ya
- hingga usia 7 tahun di samping diberikan
- kesempatan buat mereka bermain
- permainan-permainan yang bersih yang
- tidak membahayakan dirinya,
- mendidik mereka juga untuk berkata-kata
- yang baik. Bila dia berkata salah pada
- usia tersebut, berikan peringatan ini
- perkataan yang tidak baikah atau ini
- perbuatan yang tidak baik secara
- perlahan-lahan pada usia tersebut ini
- merupakan usia yang betul-betul akan
- menentukan sikapnya di masa akan datang.
- Jangan dianggap sepele perlakuan yang
- baik orang tua pada anak, kedekatannya,
- perhatiannya, pengarahannya
- dan dicontohkan dari sikap perbuatan
- orang tua. Jangan orang tua mengatakan
- berkata yang tidak baik tidak boleh. Dia
- berkata yang tidak baik.
- Menyalahi janji tidak boleh. dia
- menyalahi janji.
- Jadi, betul-betul contoh kepribadian
- orang tua amat penting harus diketahui
- kita anak-anak sejak kecil selalu
- menganggap orang tua kita merupakan
- sebaik-baiknya idola. Seandainya mereka
- bicara bohong, kita percaya
- sampai terbukti kebohongannya.
- Tapi pada saat kita, kanak-kanak, kita
- melihat orang tua kita itu yang terbaik.
- Di saat mereka bercerita, di saat mereka
- berbicara, kita melihat mereka merupakan
- sosok yang paling apa? Kita banggakan.
- Nah,
- hal seperti ini seharusnya menjadi apa?
- Kesempatan buat orang tua untuk
- menanamkan sistem nilai yang baik.
- Tanamkan sistem nilai yang baik.
- Perkenalkan dia kepada Allah. Saya
- bicara jujur
- kepada para pendengar sekalian
- bahwa
- pendidikan yang saya rasakan indah bagi
- saya
- bukan sewaktu saya di pesantren bersama
- orang tua yang laki-laki, tapi pada saat
- saya bersama nenek saya dan saudari ibu
- saya. Karena ibu saya meninggal pada
- saat kita masih kanak-kanak.
- Tidak banyak yang mereka lakukan.
- Bahkan terkadang pendidikan disampaikan
- dalam bentuk cerita.
- Cerita-cerita,
- contoh yang diberikan dalam keluarga.
- Kita merupakan anak nakal kebetulan
- karena hiperaktif ya, agak aktif luar
- biasa bergaul ke sana kemari. Mereka
- hadapi dengan kesabaran. Mereka juga
- mendidik kita dengan apa? Dengan cara
- yang lemah.
- Ini penting sekali. Hingga kita
- betul-betul ya merasakan kenakalan kita
- berlalu. Kita mengingat, mengenang
- bagaimana kesabaran mereka, kepedulian
- mereka, perhatian mereka.
- Kita tidak ingin menyakiti perasaan
- mereka atau mempermalukan mereka.
- Kenapa?
- Hal jazaul ihsan al ihsan. Bukankah
- balasan kebaikan untuk kebaikan?
- Jadi tidak perlu berbicara keras, tidak
- perlu berbicara kasar. Anak harus
- menyadari bahwa orang tuanya peduli
- sayang kepada mereka.
- Saya punya cucu satu
- dimarahi oleh orang tuanya.
- Dia pada saat itu marah dan emosi.
- Usianya masih baru pada saat itu sebelum
- SD hingga SD. Saya tanya, "Bagaimana
- perasaan kamu orang tua kamu marah-marah
- seperti itu?" Dia bilang, "Jit, Abah
- marah-marah sayang." Marah-marah sayang.
- Kenapa? Karena walaupun pada saat Abah
- itu marah, tapi pada saat lain si Abah
- memberikan perhatian yang luar biasa
- kepadanya.
- Jadi di sini kita lihat ya, kita ini
- terkadang memandang anak-anak kecil
- mereka belum punya kesadaran. Padahal
- pada saat itu mereka amat-amat sensitif.
- Apa yang ditanam pada saat itu akan
- menjadi apa? tanaman yang memiliki akar
- yang kokoh. Oleh karena itu, hubungkan
- dia dengan Allah.
- Perkenalkan rahmat kasih sayangnya
- kepada kita melalui Asmaul Husna dan
- contoh-contoh dalam kehidupan ini.
- Kemudian ceritakan padanya bahwa kita
- ini merupakan makhluk yang lemah,
- yang tak berdaya. Hanya dengan bantuan
- Allah Subhanahu wa taala yang maha
- pengasih baru kita akan mengalami
- kesuksesan. Jadi selalu ingatkan dia
- untuk selalu bergantung berpegang pada
- Allah Subhanahu wa taala. Saya ingat ada
- seorang anak berkulit hitam dalam satu
- wawancara televisi di Amerika.
- B dalam ditanya, "Bagaimana kamu
- mengajarkan anak kamu salat?"
- Si ibu mengatakan, "Anak saya pernah
- bertanya, kenapa saya harus salat?"
- Si ibu berkata pada anaknya, "Nak, kita
- ini manusia yang lemah,
- tidak berdaya, tidak punya kekuatan."
- Pada saat kita mengalami kebutuhan,
- kepada siapa kita harus memohon?
- Contohnya di saat aku, kita membutuhkan
- sesuatu atau katakan, "Kamu butuhkan
- sesuatu, dari mana ibu bisa membelikan
- kamu?"
- Maka kita kembali kepada Allah Subhanahu
- wa taala.
- melalui doa, melalui salat agar Allah
- membantu kita. Malah bisa memberikan
- kamu pakaian, bisa menyekolahkan kamu,
- bisa mendidik kamu, mencukupi kebutuhan
- kamu karena bantuan Allah.
- Jadi si anak merasa bahwa salat ini
- bukan satu beban dan tekanan. Tapi
- ibunya mengajarkan dengan salat ibu bisa
- mendidik kamu, membesarkan kamu juga
- memberikan berbagai macam apa kebutuhan
- kamu. Kalau kamu lakukan hal ini
- semenjak kamu kecil, ketahuilah oh tidak
- diuntungkan dengan salat kamu. Tapi kamu
- akan selalu mendapatkan perhatian
- kecintaan dari Tuhan. Jadi jangan hanya
- kita melaksanakan kewajiban.
- Kita merasa kalau ada panggilan salat
- seolah merupakan beban di hati kita.
- Salat lagi, salat lagi. Tapi kalau kita
- merasa kita diundang oleh Allah
- Subhanahu wa taala menghadap ke
- hadapannya, mengajak kita mencurahkan
- isi hati kita, kemudian juga membantu
- kita keluar dari kelemahan kita dan di
- sana segala-galanya
- terdapat pada Allah Subhanahu wa taala.
- Jadi, Ibu dari mulai di ini tanamkan
- betul-betul di hatinya kebutuhan dia
- kepada Allah. Jadikan Allah sebagai
- tujuannya. Bila dia lemah, ajak dia
- untuk bersama-sama kembali kepada Allah
- Subhanahu wa taala. Dan terangkan
- tuntunan agama yang Allah berikan
- merupakan tuntunan yang terbaik. Karena
- Dia yang paling tahu betul-betul kondisi
- kita, keadaan kita. Karena Dia sang
- pencipta. Jadi betul-betul tumbuhkan di
- hatinya rasa baik sangka terhadap
- apa-apa yang datang dari Allah.
- Nah, orang tua pada saat tersebut dengan
- sendirinya
- mengontrol pergaulannya. Biarkan dia
- bermain bebas, tapi jauhi dari
- teman-teman yang bakal berpengaruh buruk
- terhadap dirinya. Tontonan yang ditonton
- pun juga harus diawasi karena dia akan
- belajar dari tontonannya.
- Bahkan sekarang anak lebih banyak
- bersama jej daripada bersama orang
- tuanya.
- Jadi usahakan berikan tontonan yang
- bermanfaat. Bukan dilarang untuk
- menonton. Berikan tontonan yang
- bermanfaat yang bisa menumbuhkan
- kesadarannya, memperbaiki akhlaknya.
- Kemudian pada saat waktu istirahat
- hentikan. Pada saat waktu belajar pun
- demikian. Jadi mampu untuk mengatur
- waktunya dengan baik.
- Begitu mulai dia meningkat ya usianya,
- tiba saatnya di mana orang tua ya di
- samping menanamkan sistem nilai ikut
- sertakan dia dalam berpikir, dalam
- bermusyawarah, dalam pengambilan
- keputusan untuk melatih dirinya mandiri.
- Jangan semua keputusan kita ambil.
- Pada akhirnya begitu dia dewasa, dia
- tidak punya rasa percaya diri.
- Saya kenal satu orang baik,
- ahli ibadah, suka menderma,
- kaya raya, pengusaha.
- Tapi dalam usaha, dalam transaksi, baik
- dalam pembelian maupun dalam penjualan,
- dalam mencari solusi, tidak pernah
- sekalipun anaknya ikut sertakan.
- Selalu dia mengambil keputusan. Dia
- selalu merasa anaknya belum punya
- kemampuan.
- Subhanallah.
- Pada saat ayahnya meninggal dunia, harta
- yang ditinggalkan mereka tidak mampu
- jaga.
- Mereka bingung harus berbuat apa pada
- harta yang yang ditinggalkan. Kenapa?
- Karena ayahnya tidak pernah mengajak
- mereka
- mengambil keputusan. Bahkan kalau berdua
- bersama ayahnya
- pada saat si anak membawa mobil, semua
- kendali ayahnya mengendalikan.
- Jadi perjalanan bukan anak ya sebagai
- seorang yang membawa kendaraan yang
- mutuskan. Dia mau naik tol mau katakan
- jalan kemari jalan mana, Bah? Naik tol
- jangan, Pah. Jadi selalu keputusan
- diserahkan pada siapa? Pada orang tuanya
- dia pegang usaha bapaknya tapi apa?
- Keputusan keputusan semua orang tuanya.
- Bayangkan dari mulai kecil sampai beli
- baju, beli sepatu, beli apa, semua
- pilihan orang tuanya. Akhirnya membuat
- itu anak di saat mulai dewasa tidak
- punya kepercayaan diri. Harta yang
- melimpah yang dikumpulkan dengan susah
- payah dihabiskan oleh anaknya karena si
- anak tidak mampu untuk bersikap secara
- baik. Tapi ada lagi
- orang tua pengusaha.
- Begitu anaknya mulai tamat SMA, dibilang
- sama anaknya, "Sambil sekolah
- kamu cari tanah,
- cari tah.
- Kemudian
- kamu bangun. Keuntungan kita bagi dua.
- Dalam tahap awal si ayah lihat tanahnya
- posisinya bagus apa tidak. Di sasi lihat
- posisi cukup bagus, dia beli.
- Kemudian pada saat gambar dia
- berhubungan dengan tukang gambar.
- Setelah itu tanya sama ayah, "Gimana
- ayah si ayah berikan pendapat sesuai
- dengan pengalamannya. Setelah itu ini
- urusan kamu, kamu kerja."
- Allah kasih dari mulai ya dia mulai
- menggarap pekerjaannya sampai si anak
- berkembang. Waktu ayahnya meninggal
- dunia, si anak sudah kaya raya, tidak
- terlalu berharap terhadap warisannya.
- Jadi seharusnya didik anak kita untuk
- mandiri ya, maka dia akan mandiri. Tapi
- kalau kita selalu putuskan
- keputusan pada urusan yang menyangkut
- dirinya, begitu pula tidak melatih
- kecerdasannya, ya anak tersebut tidak
- akan pernah dewasa walaupun kita
- merupakan orang yang kita anggap unggul,
- bijak, anak kita rusak akibat ulah
- perbuatan kita.
- Jadi hendaknya begitu anak mulai
- meningkat dewasa, bukan lagi anak yang
- kita kendalikan, tapi ajak anak tersebut
- untuk berpikir, berdialog.
- Begitu juga berkaitan dengan kamarnya,
- serahkan pilihannya, warna yang dia
- suka, apa yang dia suka. Ya, bahkan
- termasuk di saat dia memilih jodoh, kita
- hanya memberikan pengarahan, memberikan
- nasihat, tapi jangan kita paksakan baik
- laki atau perempuan.
- Saya tidak mengatakan pada anak
- perempuan saya, "Ya, kamu terima si
- Fulan." Tidak. Saya bilang, "Coba kamu
- lihat, kamu bicara sama dia. Kalau tidak
- cocok, jangan kamu paksakan diri kamu.
- Kalau dia cocok, lelakinya baik-baik,
- orang tuanya, keluarganya juga
- baik-baik. Allaha barakatillah."
- Karena di saat dia mengambil keputusan
- sendiri, dia akan punya rasa tanggung
- jawab. dia tidak akan menyalahkan orang
- tuanya, tidak akan menyalahkan takdir.
- Tapi kalau orang tua yang pilihkan ini
- pilihan babah ini, ini pilihan mama, ini
- bukan keputusan saya, akhirnya dia tidak
- akan berjuang untuk apa? Untuk
- menghadapi seluk-beluk kesulitan dalam
- rumah tangganya.
- Jadi kembali Ibu kepada pokok
- pembicaraan kita. Anak ibu tumbuh
- tergantung bagaimana ibu mendidik.
- Kalau ibu hanya mendidik dia untuk
- urusan dunianya, maka ingat
- dia bisa menyia-nyiakan ibu, bisa
- menyia-nyiakan keluarganya karena dia
- tidak merasa apa pernah mendapatkan
- pendidikan tentang hal tersebut. Tapi
- kalau kita ingin anak kita berbakti pada
- kita menjadi orang yang bertanggung
- jawab, mulai hubungkan dia dengan Allah
- yang selalu mengawasi hamba-hambanya
- walaupun dalam kesendirian. Sehingga
- walaupun anak ibu jauh dari ibu, anak
- tersebut akan selalu menjaga dirinya,
- menjaga juga perasaan ibu.
- Ada seorang anak sudah dewasa
- ketika sedang berkumpul dengan
- teman-temannya
- pukul .00 malam, dibilang sama temannya,
- "Saya mau pulang ke rumah."
- Kenapa banci kamu? Dia bilang, "Saya
- tidak ingin membuat gelisah orang tua
- saya.
- Orang tua saya di rumah menunggu.
- Selama ini dia memberikan perhatian,
- mendidik. Saya bisa menjadi seperti ini
- karena orang tua saya. Saya tidak ingin
- membuat dirinya menunggu. Dia
- bergegas-gegas pulang, orang tuanya
- menunggu. Orang tua walaupun anaknya
- sudah dewasa, tetap di matanya adalah
- anaknya.
- Begitu juga istrinya. Istrinya kalau
- istrinya taat, baik, peduli padanya,
- suami juga yang bertakwa pada Allah.
- tidak ingin membuat istrinya bergelisah
- dan susah.
- Pembicaraan yang menyenangkan dia, yang
- baik, yang memberikan semangat,
- memberikan motivasi, apresiasi terhadap
- apa yang dilakukan. Dan dia di saat dia
- selalu ingat Allah, dia akan memaklumi
- kekurangan-kekurangan istrinya. Bukan
- mencercanya, tapi berusaha melakukan
- perbaikannya. Jadi, mulai
- mulai pendidikan kita dengan
- menghubungkan anak kita kepada Allah.
- Dia milik Allah bukan milik kita.
- Sekarang milik kita sebentar lagi.
- Jangankan sebelum kita meninggal dunia,
- pada saat dia mulai dewasa, dia merasa
- dia memiliki dirinya. Terkadang kita mau
- ajak pergi bersama kita, dia mengatakan,
- "Saya punya pilihan yang lain." Ingat,
- di saat dia selalu bersama Allah, dia
- akan tahu kewajibannya kepada Allah,
- kewajibannya kepada ibu, kewajibannya
- pada istri, kewajiban pada anak-anaknya.
- Dan ibu orang tua tidak akan berletih,
- lelah untuk mengarahkan anaknya.
- Tapi kalau kita lupa mengingatkan anak
- kepada Allah, balasan dari Allah anak
- tersebut yang kita besarkan, yang kita
- didik, yang kita perhatikan akan
- mengabaikan ibu. Karena kita mengabaikan
- Allah. Allah berfirman, "Wala takunu
- kalladzina nasulullah faansahum
- anfusahum." Jangan kalian termasuk dari
- orang yang lupa kepada Allah. Akhirnya
- Allah membuat mereka lupa diri.
- Mereka lupa diri, anaknya juga lupa
- diri. Laki-lakinya main perempuan
- selingkuhan. Anak perempuannya juga
- lepas dari kendali. Ini banyak keluhan
- orang tua sekarang ini. Anak perempuan
- yang baik-baik sampai SMA begitu masuk
- perguruan tinggi tidak lagi mau dengar
- orang tuanya. Yang laki-laki pun
- demikian. Tadinya baik, Ustaz, rajin
- beribadah. tahu-tahu ternyata begitu dia
- mulai di perguruan tinggi kenal dengan
- teman-temannya bahkan di SMA mulai tidak
- mendengarkan orang tua. Kenapa? Karena
- mungkin dia salat tapi hatinya tidak
- pernah sama sekali apa dihubungkan,
- diperkenalkan dengan Allah.
- Sebetulnya hidup ini indah. Cinta kepada
- Allah merupakan apa? Merupakan pangkal
- dari segala kecintaan yang positif dan
- baik yang akan dapat menguruskan
- kehidupan kita. Tapi lupa kepada Allah
- merupakan pangkal segala kerusakan.
- Jawaban saya ini bukan jawaban seorang
- psikolog, tapi jawaban seorang ustaz.
- Nanti psikolog insyaallah akan
- memberikan jawaban yang berkaitan dengan
- problema Ibu. Tapi saya merasakan
- betul-betul saya bersama anak-anak.
- Saya sendiri waktu kanak-kanak yang
- paling betul-betul berpengaruh pada kita
- itu apa? Betul-betul pada saat kita
- diingatkan pada Allah. Saya terkadang
- mendengarkan cerita saya punya bibi ya.
- Karena ibu sudah meninggal dunia, dia
- bercerita mengenai cerita tadi malam
- yang didengarkan dari Bang Zaid.
- Bang pernah ngalami enggak, Bang Zaid?
- Diceritakan cerita-cerita,
- pelajaran-pelajaran walaupun dengan
- humor pada saat itu, itu ternyata
- berbekas betul buat hati kita. Mana
- kebaktian pada orang tua, ketaatan pada
- Allah, bagaimana juga memberikan maaf
- kepada saudara kita yang bersalah. itu
- betul-betul merupakan pelajaran yang
- kita enggak sangka-sangka tanpa
- disengaja melalui cerita masuk ke dalam
- hati kita.
- Nah, kasus yang kedua
- berkaitan dengan seorang wanita
- yang merasa dia tidak apa tidak bisa
- memiliki teman.
- Dia merasa bahwa
- setiap kali dia berteman selalu terjadi
- keributan.
- Apakah sebabnya karena dirinya tidak
- pandai bergaul,
- egois seperti yang dikatakan oleh
- teman-teman yang mau menang sendiri
- atau disebabkan karena teman-teman yang
- tidak baik
- dan dia sudah berusaha untuk pindah
- rumah dari tetangga yang lama berpindah
- kepada tetangga yang baru.
- Jawabannya Ibu sederhana.
- Seorang
- yang pandai dan baik itu
- bukan yang mampu untuk mencari banyak
- teman kemudian menyia-nyiakan mereka.
- Ada orang berteman banyak tapi tidak
- lama kemudian apa?
- Dia menyia-nyiakan teman yang begitu
- banyak.
- Tapi orang yang betul-betul apa
- menjadi perhatian dari teman-temannya.
- Orang yang di saat berbicara,
- di saat dia berlaku,
- selalu yang menjadi perhatian adalah
- perasaan teman-temannya.
- Bukan bukan apa bukan mengikuti
- perasaannya, mengukur mereka dengan
- tolok ukur dirinya. Orang yang mengukur
- orang lain dengan apa? dengan
- perasaannya
- semua orang harus memberikan perhatian
- kepada dirinya,
- maka orang seperti jangan harap akan
- memiliki teman.
- Tapi kalau dia berteman dengan orang,
- dia berikan perhatian pada
- teman-temannya ya, dia menghormati
- mereka bahkan dia mengalah dari mereka,
- pada saat itu teman-temannya akan
- memberikan hati mereka untuk dirinya.
- Nah, seringki kita ini apa? Merasa semua
- orang tuh bersalah pada kita.
- Semua orang bersalah kepada kita, tidak
- menghargai kita. Kita lupa.
- Kamu selama ini menghargai mereka.
- Tidak. Berikan tidak perhatian kepada
- mereka. Kalau kamu kehilangan teman kamu
- yang tadinya baik kepada kamu, maka kamu
- akan bisa apa?
- selamanya kamu tidak akan bisa menarik
- orang yang tidak suka pada kamu. Tapi
- sebaik-baiknya orang itu bukan hanya
- menjaga teman yang sudah ada, tapi bisa
- mengubah orang lain yang membenci
- dirinya, yang tidak suka padanya,
- berubah menjadi orang yang baik padanya.
- Ada pepatah dalam bahasa Indonesia,
- teman 1000 sedikit,
- musuh satu banyak.
- Kalau orang logikanya seperti ini ya,
- dia tidak akan mencari musuh. Dia akan
- berusaha betul-betul apa? Untuk bisa
- betul-betul mendekatkan orang di
- sekelinya. Sebagaimana Rasul sallallahu
- alaihi wasallam diperintahkan Allah,
- idfa billati hiya ahsan.
- Hadapi orang, sikapi orang dengan cara
- yang lebih baik. Faidalladzi bainaka
- wainahu adawatun kaahu waliyun ham.
- Hingga orang yang tadinya membenci kamu
- berubah menjadi orang yang begitu
- mencintai kamu. Lalu wama yulaqoha
- illalladina shobaru w yulaqoha illaim.
- Orang yang seperti ini tidak akan sama
- sekali apa diberikan sikap seperti ini
- kecuali yang sabar dan orang-orang yang
- beriman.
- Kalau kita tahu tujuan hidup kita bukan
- di dunia,
- tujuan hidup kita kelak di hari akhir
- nanti. Dan Allah Subhanahu wa taala
- perintahkan kita berlomba-lomba
- untuk melakukan kebaikan, maka semua
- kebaikan yang kita lakukan tidak akan
- sia-sia. Tapi yang paling berbahaya di
- saat setan membisik-bisikkan ke dalam
- hati kamu, jangan kamu rendahkan diri
- kamu. Jangan kamu mengalah. Jangan kamu
- ini, jangan kamu ini memanas-manasi
- hatinya. Itu perbuatan setan. Tapi kalau
- orang yang beriman selalu perilakunya
- didasari ingatan kepada Allah dan
- mengharapkan ridanya. Kalau dia mengalah
- dari temannya, mengalah dari temannya
- walaupun temannya salah, itu akan
- membuat hatinya yang keras akan luluh.
- Saya teringat kepada seorang
- yang alim.
- Seorang a alim dari keluarga Rasul.
- Ketika dia sedang menyampaikan ceramah
- di hadapan murid-muridnya,
- saudara sepupunya datang kepadanya
- mencaci maki di muka umum.
- Bahkan mengatakan kamu ini tidak berguna
- mengajarkan orang lain, tapi kamu begini
- begitu dan lain sebagainya. Dan semua
- yang diucapkan merupakan apa? Merupakan
- ee hasil dari perasaan negatif sebunya.
- Bukan yang sebenarnya
- kan perasaan ini terkadang
- waliyadubillah apa? Bisa membuat orang
- melihat yang putih menjadi hitam, yang
- hijau menjadi kuning. Ya, sebaliknya
- kalau dia cinta yang hitam bisa menjadi
- putih. Betul gak?
- Pandangan cinta itu akan membuat segala
- sesuatu begitu indah di matanya. Tapi
- pandangan kebencian akan mengubah yang
- baik, yang indah menjadi buruk.
- Saudara sepupu yang sedang mengajar ini
- berdiam.
- Ada lagi yang kamu mau sampaikan?
- Dia bilang, "Sudah tidak baik."
- Malam-malam dia datang ke tempat saudara
- sepupunya. Dia ketuk pintunya
- ucapkan salam saudara sepupunya. Sehabis
- dia tumpahkan emosinya, marahnya kan
- timbul penyesalan. Pasti
- dia merasa apa? Merasa malu kan?
- Tapi ternyata ini orang mengatakan
- saya ingin mengucapkan kepada kamu.
- Seandai tadi yang kamu ucapkan ya di
- majelis saya merupakan kebenaran,
- saya mohon ampun pada Allah. Semoga
- Allah membalas kebaikan kamu karena
- mengingatkan saya.
- Seandainya ucapan yang kamu sampaikan
- tidak benar, saya mohon kepada Allah
- semoga Allah memaafkan kamu.
- Saudara sepupunya langsung menangis,
- merangkul dirinya
- memohon maaf bahwa dia sampaikan itu
- karena rasa iri. Dia saksikan saudara
- sepupunya begitu menonjol sedangkan dia
- tidak seperti saudaranya.
- Nah, dia sadar bahwa untuk meraih
- kemuliaan bukan dengan cara kita
- melampiaskan iri kita, tapi dengan
- berbuat yang serupa.
- Dan jangan kita beranggapan kalau kita
- enggak bisa berbuat yang serupa dengan
- Dia, kita enggak bisa buat yang lain.
- Manusia diberikan keistimewaan dan
- keutamaan masing-masing.
- Jadi, ibu dalam pergaulan jangan ibu
- melihat benar salah dengan perasaan ibu
- atau ibu ukur dengan menyenangkan ibu
- atau menyakiti ibu. Karena belum tentu
- yang menyenangkan ibu benar. Belum tentu
- yang menyakiti ibu itu salah. Jadi, kita
- harus berusaha betul-betul apa? Bekerja,
- berbuat kebaikan sebagaimana petunjuk
- yang Allah berikan. Kalau kita salah,
- jangan malu untuk mengakui kesalahan
- kita. Kalau kita benar, bersyukurlah
- kepada Allah dan jangan kita
- menyombongkan diri lalu kita melecehkan
- orang lain yang tidak serupa dengan
- kita. Oleh karena itu, Allah ingatkan
- kita dalam hidup ini untuk selalu
- menggunakan kalimah thayibah. Kalimah
- thayibah. Kalimah thayibah ini bagaikan
- pohon yang akarnya
- menghujam ke dalam batang yang tinggi,
- ranting-rantingnya memberikan kesejukan
- dan buah-buahnya tidak akan pernah
- berhenti. Seorang walaupun tidak
- memiliki sesuatu, tidak memiliki
- kekayaan, tidak memiliki berbagai macam
- fasil hid, tapi kalau dia orang yang
- selalu berkata baik, menjadi orang yang
- paling kaya, menjadi sebutan bagi setiap
- orang. Di rumahnya, di tengah
- keluarganya, anak-anaknya, tetangganya,
- masyarakatnya, setiap orang yang
- mengenal akan menyebutkan kebaikan
- dirinya. Dan itu menjadi modal yang amat
- indah untuk membuat orang terpikat,
- terpesona padanya. Jadi, Ibu mulai saat
- ini coba Ibu banyak melakukan evaluasi
- dan muhasabah. Ibu jangan pernah mau
- menyalahkan orang lain. Salahkan diri
- sendiri, tapi bukan karena putus asa.
- Untuk memperbaiki dan menyempurnakan
- diri ibu hingga ibu, subhanallah bisa
- mengubah bukan hanya orang yang cinta
- lebih cinta, tapi bisa mengubah
- kebencian orang lain menjadi orang yang
- mencintau.
- Waquulu linasi husna. Berkata baiklah
- kamu kepada siapa? Kepada manusia. Itu
- pesan dari Allah Subhanahu wa taala. Dan
- jangan gunakan kata-kata yang tidak
- baik, yang buruk. Saya terkadang tanpa
- disadari
- bertanya kepada seseorang
- tidak dengan maksud buruk, tapi
- pertanyaan tersebut menyinggung dirinya.
- Saya bertanya, "Berapa anak kamu
- sekarang?" Saya lupa. Itu orang ternyata
- enggak punya anak.
- Kan bisa aja dia beranggapan saya
- menyindir dirinya kan itu pulang ke
- rumah menjadi kegelapan yang membuat
- kita sumpek. Sumpek yang luar biasa.
- Jadi kalau kita berbicara tanpa
- disengaja kita menyinggung seseorang itu
- di rumah perasaan gelisah yang luar
- biasa. Jadi kegelisahan tersebut datang
- karena kita salah berbicara. Oleh karena
- itu, mohon pada Allah agar menjaga lidah
- kita. Dan yang paling banyak
- menjerumuskan orang ke dalam api neraka
- adalah lidah kita. Dan yang paling
- banyak menaburkan kebencian lidah kita.
- Lidah kita ini yang paling banyak
- menaburkan kebencian. Nah, sebagai
- penutup dari jawaban ini,
- ada seorang laki-laki
- punya istri empat.
- Tadinya alhamdulillah punya penghasilan
- yang mencukupi, tahu-tahu dia
- ambruh.
- Karena ambruk kan dia enggak bisa apa
- memenuhi kewajiban dia.
- Akhirnya dia bilang, "Sudah, daripada
- saya berdosa, mendingan saya tinggalkan
- sebagian istri saya." Istri yang pertama
- yang punya anak banyak, ya. Kemudian
- datang pada yang kedua, dia bilang,
- "Kamu tahu kondisi saya sekarang?
- Saya enggak bisa melaksanakan kewajiban
- saya sebagai suami. Saya takut berdosa
- di hadapan Allah."
- Jadi saya berpikir, "Bim kalau kita
- berpisah,
- istrinya marah, tidak ada berpisah.
- Kalau kamu tidak punya uang, enggak
- punya ongkos untuk kemari, saya yang
- berikan ongkos."
- Ternyata yang ketiga juga sama,
- yang keempat sama, tidak ada yang mau
- berpisah. Kenapa?
- Karena yang paling mengesankan bagi
- mereka suaminya yang selalu berkata
- lembut.
- Suaminya selalu berkata. Padahal
- biasanya kan di antara madu terjadi
- persaingan.
- Tapi bagaimana coba yang berpotensi
- biasanya sering melakukan keributan?
- Karena kata-kata yang manis bisa membuat
- empat istri menolak untuk berpisah.
- Jadi, Ibu kalau ibu selalu berkata baik,
- berhati baik, dan ibu ingat berikan
- perhatian pada orang di sekeliling ibu,
- ibu akan mendapatkan 1000 perhatian.
- Berikan rasa hormat kepada orang
- sekalian kita. Mereka akan berikan 1000
- hormat buat ibu. Tapi kalau ibu menunggu
- orang menghormati kita, menegur kita,
- menghargai kita, perhatian pada kita,
- lama-kelamaan ibu sakit jiwa. Ibu merasa
- seolah-olah apa? Orang semuanya sinis,
- orang semuanya dengki, orang-orang
- semuanya sedang membicarakan dia. Ini
- kan bahaya sekali kan. Betul. Datang ke
- acara perkawinan, dia berjalan ke sana
- kemari, dia mengharap orang menegur
- dirinya. Enggak ada yang menegur.
- Akhirnya orang kan merasa ini orang
- sombong kan. Tapi kalau Ibu ketemu orang
- dengar senyum, apa kabar Pak? Apa kabar
- jeng? Apa kabar ses? Dihadapi dengan
- senyum. Orang yang tadinya mukanya asem
- berubah menjadi gula aren.
- Jadi mulai dari diri kita semua
- tergantung yang kita tanam. Fammal
- mqatin khairar wal mqaratinar
- yarar. Wallahuam.
- Masyaallah.
- Untuk tidak dibenci orang, disukai orang
- ternyata bukan khas sederhana. Lidah
- memang tidak bertulang. Ya, lantas dari
- dua kasus ini apakah gerangan yang
- disampaikan oleh psikolog kita? Yuk kita
- simak.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillah,
- begitu banyak Allah memberikan
- nikmatnya kepada kehidupan kita. dari
- kita kecil hingga kita dewasa.
- Kenikmatan itu penuh dengan berbagai
- macam
- berbagai peristiwa yang kita alami. Itu
- adalah kenikmatan yang luar biasa
- dari kecil hingga dewasa. kenikmatan itu
- kalau kita perhatikan
- kenikmatan-kenikmatan
- yang kita dapatkan lebih besar daripada
- ketidaknikmat.
- Tapi apa yang terjadi? Kok kita
- merindukan yang tidak nikmat
- kok kenapa begini? Kenapa begitu?
- Kita ketahui setiap kita melangkah
- adalah kenikmatan. kita berkata,
- bertemu, berinteraksi
- dengan teman, dengan siapa, itu adalah
- satu kenikmatan dari Allah.
- Tapi kenapa kok perasaan saya dia tuh
- selalu begitu, dia selalu begini?
- Kenapa kok dia selalu mempermasalahkan
- saya? Jadi dia mengatakan dia
- mempermasalahkan
- saya.
- Nah, ada kata-kata dia mempermasalahkan
- saya. Ada kata-kata mempermasalahkan
- saya. Kata mempermasalahkan ini dari
- dirinya atau dari dirinya?
- Dari orang tersebut atau dari dirinya
- yang merasakan.
- Dengan jelas kalau kita perhatikan
- bahwa permasalahan itu datang dari
- dirinya, bukan dari orang lain.
- Bukan dari orang lain, tapi dari
- dirinya. Kenapa kok permasalahan itu
- datang dari dirinya? Karena dia yang
- melihat masalah itu diambil, dirasakan
- di situ tempatnya dia mempunyai masalah.
- Ketika Ibu pindah dari satu tempat ke
- tempat yang lain masih sama juga.
- Yang pertama tetangganya tidak
- menyenangkan. Yang kedua tetangganya pun
- tidak menyenangkan.
- apa yang terjadi semuanya itu kembali
- kepada dirinya.
- Kembali kepada dirinya yang
- mempermasalahkan.
- Kita perhatikan bahwa ada orang yang
- datang kepada kita dengan berbagai macam
- karena baru.
- Karena baru dia enak
- menyenangkan,
- bergembira sekali, dua kali, tiga kali
- melihat perilaku kita yang berbeda. maka
- orang itu sudah tidak menjadikan teman
- lagi.
- Seperti misalnya ketika orang datang,
- assalamualaikum. Waalaikumsalam.
- Kita senyum, kita tertawa, kita gembira,
- kita berikan air minum dan sebagainya.
- kita mendengarkan
- apa yang menjadi keinginan orang itu.
- Karena dia datang, dia ingin membutuhkan
- keinginan.
- Kalau dia datang, dia ingin mendengar
- perkataan kita, kita berikan perkataan
- yang baik.
- Dia datang,
- asalamualaikum. Waalaikumsalam. Oh, iya.
- Silakan duduk. Oh, iya. Iya. kemarin itu
- ada terjadi di situ ya. Kenapa kok dia
- selalu memperhatikan saya? Kita mengadu
- kepada dirinya.
- Waktu kita mengadu, apa yang terjadi?
- Orang itu ngelihat, "Loh, kok
- datang-datang sudah mengeluh ke orang
- lain. Oh, datang-datang mempermasalahkan
- orang lain, mempersoalkan
- orang lain.
- Di sinilah."
- Maka orang yang lain yang datang yang
- teman lagi, yang dekat lagi, dia sudah
- tidak akan mendekat lagi.
- Karena apa-apa yang terjadi dia sudah
- mengeluhkan orang si fulan, si fulan, si
- fulan bukan berkata baik,
- bukan perkataan-perkataan yang baik yang
- dilontarkan,
- bukan melainkan keluhan
- tindakan yang tidak baik. Karena orang
- itu tidak menyenangkan. Itu yang
- disampaikan kepada orang. Apa akibatnya?
- akibatnya dia tidak akan pernah
- mendengarkan dan orang sudah tidak ada
- yang mau dekat lagi sama dirinya.
- Makanya ketika
- ada tamu datang,
- kita sampaikan dengan baik, dengan
- senyuman, dengan kata-kata yang baik,
- dengan menyenangkan. Di sini dia akan
- menyenangkan.
- dan bertemu dengan orang lain mengatakan
- si fulan baik, tidak pernah menyalahkan.
- Karena itulah dia datang untuk
- berteman, bergaul bersama, mau
- mendengarkan kisahnya, mau mendengarkan
- sesuatu yang lebih baik.
- Itu teman yang terbaik.
- Dan yang kedua, coba kita perhatikan.
- Kita perhatikan apa-apa yang kita
- katakan.
- Ketika dia berbicara, kita dengarkan
- apa yang menjadi keluhannya,
- apa yang menjadi kebutuhannya.
- Itu yang kita berikan. Kalau kita mampu,
- kita berikan. Kalau kita enggak mampu,
- kita mohon maaf bahwa saya tidak bisa.
- Sehingga ada ketertarikan orang yang
- datang.
- Dan yang ketiga ketika lagi berjalan,
- lagi di lapangan, di luar bertemu, kita
- senyum,
- kita senyumkan, kita tertawakan,
- di situ akan terjadi interaksi.
- Insyaallah ibu akan menyenangkan.
- Ibu akan senang dengan permasalahan ini.
- Oke. Dan yang kedua, bagaimana mendidik
- anak
- sebagaimana ee Allah memberikan
- kehidupan kita tentu ada tatanya.
- Yang kita ketahui bahwa mendidik anak
- pertama kali kita tidak boleh marah.
- Anak kecil umur 2 tahun menjatuhkan
- gelas pecah. Loh, kenapa kamu
- melakukan itu? Kenapa? Tidak boleh.
- Jadi tidak boleh marah mengomel
- kepada anak-anak.
- pada usia 0 tahun hingga 12 tahun tidak
- boleh dimarahin.
- Ketika dia melakukan, dia melakukan
- sesuatu yang dahsyat, lompat dari ee
- bangku satu ke tempat yang lain, dia
- lompat, dia bergerak, dia tindakan itu
- adalah anak-anak.
- Karena itu proses perkembangannya.
- Kenapa kau dia lari ke sana lari ke
- sini? Karena dia belum mendapat
- sentuhan.
- Kalau dia mendapat sentuhan sering
- dipeluk, waktu disusui dipelukin, dan
- waktu lagi berjalan diambil dipeluk
- dilepas lagi. Tidak terlalu lama
- pelukannya. Kalau pelukan terus nanti
- dipeluk lagi, dipeluk lagi, maka dia
- menjadi kelekatan, maka dia megangin
- terus si mamanya.
- Maka semua itu dengan keseimbangan.
- Jadi kita tidak boleh marah. Tidak
- marah, tidak mengomel, tidak menunjukkan
- yang negatif. Ketika dia salah tuh kamu
- naruhnya salah.
- Tidak sampai dengan umur 12 tahun.
- Setelah umur 12 tahun, kita tinggal
- berdialog.
- Kita tidak marah, tidak ngomel.
- Dan yang kedua tidak menyalahkan.
- Ini kamu nanti yang meletakkan ini, ini
- kamu yang jatuhkan.
- Ini kamu membuat suatu permasalahan.
- Tidak.
- Tidak dipermasalahkan.
- Karena dia itu
- merupakan proses perkembangan.
- Ketika itu dia mengambil. Mengambil itu
- merupakan satu proses perkembangan. Dia
- mengambil kalau kita katakan kamu bisa
- mendapatkan, oh dia senang, dia
- bergembira.
- Dia mendapatkan sesuatu, dia meletakkan
- sesuatu dia senang. Dan kita katakan
- sampai tuh kamu sudah bisa tuh kamu
- sudah bisa melakukan ini. Kamu sudah
- mampu mengerjakan kamu sudah apresiasi
- ini meningkatkan dirinya.
- Dengan kita tidak marahin, kita tidak
- mempermasalahkan, dia akan membuka,
- pikirannya akan terbuka,
- pikirannya akan menjadikan senang,
- bangga.
- Kita tidak marah-marah, tidak memberikan
- ee sesuatu yang salah, tidak. Tapi kita
- melembutkan, kita kata-kata yang baik,
- kita menyenangkan dan kemudian kita
- berikan apresiasi.
- Apresiasi ini yang membuat dirinya
- meningkat.
- Jadi, harga dirinya juga meningkat.
- Sampai umur 12 tahun dia merasa dirinya
- keker. Dia bisa melakukan sesuatu.
- Dan yang ketiga tidak dipertanyakan,
- tidak dipertanyakan.
- Kamu sudah salat belum?
- Kamu sudah makan belum? Kamu sudah mandi
- belum? Tidak.
- Yuk, kita salat kita bersama-sama.
- Walaupun kitanya sudah salat, dianya
- yang salat, kita tetap mengatakan, "Yuk
- kita salat."
- Kalau usianya sudah sampai waktu makan,
- yuk kita makan kita. Jadi di usia
- 12 tahun ke bawah, dari 0 sampai dengan
- 12 tahun itu kita barangkan, kita
- masukkan kata-kata kita.
- tidak bilang nah kamu kamu sudah makan
- belum? Kamu makan dulu nih makanan ini.
- Ini dimakan nih. Tuh kalau kamu makan
- nanti cepat gemuk kamu akan sehat.
- Enggak gitu nih makanan kita makan.
- Ini makanan enak sekali. Yuk kita
- cobain. Kita cobain.
- Coba kita rasakan.
- kita rasakan
- bukan bilang coba kamu rasain dulu kamu
- enak enggak kalau kamu enak langsung
- kamu makan enggak gitu
- yuk kita coba
- yuk kita rasakan ada kita di sini bukan
- pertanyaan bukan apa membuat statement
- jadi yang ketiga itu membuat statement
- Bagaimana statement-statement itu yang
- dia akan kagum, dia akan berpikir, dia
- akan melakukan sesuatu dengan
- kognitifnya,
- pengetahuannya.
- Yang tadinya enggak tahu jadi tahu, oh
- itu tidak boleh, oh ini enggak boleh.
- Dia akan berpikir.
- Kalau dia sudah berpikir, wah senang
- sekali. Setelah 12 dia mulai merasakan,
- dia melakukan sesuatu dengan
- menyenangkan.
- Jadi bagaimana?
- Tidak marah,
- tidak menyalahkan, dan tidak banyak
- bertanya. Kita tidak mempertanyakan
- personal, tapi kita ajak dia
- bersama-sama.
- Insyaallah tiga poin, tidak marah.
- tidak mempermasalahkan,
- tidak bertanya, itu adalah keindahan.
- Insyaallah. Masyaallah, ikhwan akhwat,
- semoga kita semakin mampu membimbing
- anak-anak kita menjadi sosok yang kita
- dambahkan. Sayang sekali waktunya
- sedikit. Bisa tambahkan, Ustaz? Jadi
- kesimpulannya
- seperti yang Ustaz Ab Bakar sampaikan
- tadi ya,
- mendidik anak ini memang
- di samping
- kita betul-betul ya
- punya konsistensi istikamah.
- Kemudian ketauladanan orang tua paling
- penting.
- Jadi kalau saya suka menyalahi janji,
- tidak bertanggung jawab, anak kita
- menyaksikan hal tersebut, ini akan
- menjadi contoh yang melekat lebih
- daripada ucapan yang kita ucapkan.
- Kalau orang tua mengatakan pada anaknya,
- "Kamu tidak boleh merokok." Anak kecil
- tidak boleh merokok. Si anak beranggapan
- bahwa kalau sudah dewasa dia boleh
- merokok.
- Seharusnya kalau orang tuanya ingin
- menjauhi anaknya dari rokok, mulai dari
- dirinya. Wabda binafsik, mulai dari diri
- kamu.
- Jadi pertama ketauladanan, kedua
- istiqamah ya. Kemudian yang ketiga
- yang menjadi roh dari pendidikan
- tersebut cinta.
- Cinta ini subhanallah
- tidak membutuhkan biaya besar. Tidak
- harus kita pergi ke sana kemari untuk
- membeli cinta.
- Apabila hati kita memiliki betul-betul
- luapan cinta yang bersumber dari rahmat
- Allah Taala, Allah kasih, Subhanallah,
- dapat menjadi samudra yang menggenangi
- kehidupan ini, akan membuat orang
- merasakan rasa damai, kedekatan, dan
- tentram.
- Kemudian
- didik anak kita juga dengan apa? Dengan
- tanggung jawab.
- berikan tugas-tugas sesuai dengan
- kemampuan dia.
- Kalau dia melakukan tugas dengan baik,
- berikan apresiasi. Kalau dia melakukan
- kesalahan,
- dia harus menanggung konsekuensinya.
- Bukan dengan cara-cara yang menyakiti
- fisiknya atau menyakiti perasaannya,
- tapi supaya dia menyadari kesalahannya
- agar dia bisa meningkatkan kinerjanya
- lebih baik lagi dan pilih pilihkan
- teman-teman dan lingkungan yang baik
- baginya. Saya merasa kemunduran yang
- saya alami
- di antaranya berteman dengan teman yang
- salah. Tapi kemajuan yang kita dapatkan
- terkadang hanya duduk satu hari bersama
- teman kita. Ternyata membawa kita menuju
- wawasan dan subhanallah memperlihatkan
- kesalahan kita selama ini. Kesalahan
- kita terlihat karena bersama teman yang
- baik.
- Teman yang menjadi contoh dan lingkungan
- yang baik. Dan saya banyak melihat
- contoh-contoh orang-orang yang baik ya.
- di antaranya merupakan orang yang dekat
- dengan kita, keluarga, orang tuanya
- berikan kepercayaan. Dari mulai
- kanak-kanak ternyata begitu orang tuanya
- tua, orang tuanya tidak letih lagi. Anak
- ini yang menjadi apa? Orang yang
- bertanggung jawab bahkan mengurus
- saudara-saudarinya sampai pada
- anak-anaknya.
- Jadi menjadi bapak dalam usia muda.
- Karena apa? Karena dia menikmati.
- Menikmati pekerjaan tersebut sebagai
- apa? bukan sebagai beban buat dia, tapi
- sebagai satu kenikmatan. Dia bisa
- berbakti kepada kedua orang tuanya, bisa
- berbuat baik kepada saudara saudarinya
- hingga dia menjadi apa? menjadi orang
- yang betul-betul paling dicintai,
- dihormati oleh kedua orang tuanya maupun
- keluarga-keluarganya yang lain. Maka di
- saat kita ini hidup bukan hanya untuk
- diri kita, tapi untuk keluarga kita,
- untuk orang lain, kecintaan Allah
- Subhanahu wa taala akan bertambah dan
- petunjuknya pun demikian. Sebagaimana
- firman Allah, inna rahmatullah
- qoribun minal muhsinin. Sesungguhnya
- rahmat Allah amat dekat dari orang yang
- berbuat kebaikan. Maka Nabi dalam
- mendidik umatnya, begitu juga mendidik
- keluarganya, selalu berpegang kepada
- peribasyiru
- wala tunafiru. Sebarkan kabar gembira.
- Jangan kalian membuat orang lari.
- Kemudian yasiru wala tuassir. Permudah.
- Jangan kalian mempersulit dalam agama
- demikian. Permudah. Kalau memang itu
- mudah, jangan kita persulit bagi orang
- lain. Dan apa-apa yang kita lakukan ini
- menjadi contoh buat keluarga kita, buat
- juga orang-orang di sekeliling kita.
- Nah, kita menyadari sebagai seorang
- ustaz bukan orang yang sempurna, penuh
- dengan kesalahan. Terkadang kita belajar
- dari teman bicara kita, belajar dari
- teman-teman di sekeliling kita. Kita
- buka mata kita dan jangan pernah kita
- malu untuk mengakui kesalahan kita dan
- memperbaiki kesalahan-kesalahan yang
- pernah kita ucapkan ataupun pernah kita
- lakukan. Semoga Allah Subhanahu wa taala
- membimbing kita semua untuk senantiasa
- terus menuju kemuliaan.
- Bila kita berdosa, bersalah, kita mohon
- ampun. Bila kita melakukan kebaikan,
- kita bersyukur memuji kepada Allah yang
- telah memberikan hidayahnya kepada kita
- semua. Semoga para pendengar, para
- pemirsa yang ikut dalam psikologi
- keluarga ini, Allah Subhanahu wa taala
- sempurnakan hidayahnya, bahagiakan rumah
- tangganya, jadikan anak-anaknya sebagai
- anak-anak yang saleh, yang berbakti
- kepada kedua orang tua, yang bertanggung
- jawab sebagai khalifah Allah di atas
- muka bumi ini. Hingga membawa kemuliaan
- bagi mereka, bagi orang tua mereka,
- begitu pula bagi bangsa dan umat mereka.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta astagfiruka wa atubu
- ilaik walu minkum. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz Hutain,
- Ustaz Abu Bakar, kemudian juga Ateb,
- Rizal, dan Algi untuk kebersamaan kita
- di psikologi keluarga kali ini. Billahi
- taufik wal hidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.