Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat
- rahimakumullah. bersyukur sekali kita
- bisa bersama-sama di acara Bincang
- komunikasi yang hadir sebulan sekali ya
- di setiap minggu pertama bersama Dr.
- Laila Monaganim. Mudah-mudahan bahasan
- hari ini akan sangat mempersuasi kita
- apalagi yang sudah senjak usia nih atau
- bisa juga ee yang serumah dengan yang
- senja usia. Tidak lupa salam selawat
- kita lantunkan untuk junjungan umat
- kekasih kita Muhammad Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak
- kita mendapatkan syafaat beliau dan
- dipertemukan dengan beliau di saat yang
- sangat kita rindukan di yaumil akhir.
- Ikhwan akhwat, Mbak Mono sudah hadir di
- sini. Kita sapa beliau. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat, bugar, aman.
- Alhamdulillah.
- Sudah lama enggak ketemu ya.
- Jadi tadi waktu di off air bicara soal
- usia yang senja dan komunikasi ee
- persisnya seperti apa nih?
- Ya, kita mau bahas komunikasi oke saat
- pensiun. Kan kita hidup bersama dengan
- berbagai generasi ya, Makuneng.
- Iya. dengan orang yang mungkin ee
- kitanya yang sudah pensiun atau keluarga
- kita yang sudah pensiun, pasangan atau
- orang tua dan lain sebagainya.
- Iya. Jadi memang pensiun itu sebuah fase
- kehidupan ya ikhwan akhwat yang menandai
- babak kita beranjak dari yang tadinya
- sibuk banget kemudian menjadi kurang
- sibuk meskipun mungkin juga masih ada
- kesibukan yang lain dan kesudahan dengan
- aktivitas kerja kita sebelum pensiun
- tentu beda banget. Nah, seperti apakah
- gerangan yang harus kita jaga pelihara
- terkait dengan komunikasi kita? Yuk,
- kita simak dengan telinga jiwa kita.
- Silakan, Mbak Mona.
- Terima kasih Wan Akhwat yang dirahmati
- Allah. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ee kita ketemu lagi ngebahas tentang
- komunikasi ya. Ee
- saat ini kita bahas tentang pensiun.
- Pensiun itu transisi besar
- di dalam kehidupan kita ya. peralihan
- dari kehidupan kerja yang cenderung
- sangat aktif ee dan ee berubah dari ee
- kewajiban formal bekerja yang rutin
- begitu ya. dampaknya besar sekali secara
- fisik, emosional, sosial, dan ekonomi.
- Ee coba kita lihat ya bagaimana data ee
- dari
- ee apa namanya kebijakan dari pemerintah
- 2015 itu ee orang-orang yang pensiun
- cenderung dalam konteks ini adalah ee
- apa namanya? Orang yang bekerja di
- sektor formal ya. Eh, 2015 itu 56 tahun,
- 2019 57 tahun, 2023
- ee 58 tahun, 2025 59 tahun dan
- diprediksi 2002 eh 204565
- tahun. Bayangin makin ee ini ya ada
- perubahan-perubahan.
- Eh, coba kita eh ngobrolin sedikit
- tentang sebuah film yang ngebahas
- tentang ee bagaimana kehidupan seorang
- yang sudah pensiun. Eh, A man called Oto
- ya.
- Wow.
- Ini beberapa tahun lalu filmnya gitu ya.
- Film oleh Tom Hang. Ini menceritakan
- kisah yang sangat menyentuh ee seorang
- lansia yang berjuang menghadapi masa
- pensiun. dia kehilangan
- ee anggota keluarganya dan proses
- adaptasi dalam perubahan hidupnya itu
- digambarkan di dalam ee film tersebut
- gitu ya. Jadi pensiun sebagai titik
- balik dari identitasnya. Dulu Oto itu ee
- ee punya pekerjaan tetap dan dia merasa
- dia punya tujuan, dia punya struktur
- yang jelas, dia punya identitas yang
- jelas gitu ya dalam kesehariannya. waktu
- pensiun
- dia merasa itu hilang gitu ya. Saat
- pensiun itu bukan hanya kehilangan
- pekerjaan, dia juga ee rasa diri yang
- terikat dengan rutinitas dan
- produktivitas itu menjadi semacam krisis
- eksistensi diri gitu ya.
- Aku dulu kerja sekarang aku siapa ya
- gitu. Itu itu yang terjadi ya di dalam
- film tersebut gitu ya. kehilangan dan ee
- ketidak
- siapan dia dalam beradaptasi dengan
- perubahan atau jadi resistance gitu ya.
- Ee kemudian ee pasangannya meninggal,
- istrinya dulu begitu membuat hidupnya
- hangat dan teratur. Jadi kehilangan ee
- pekerjaan dan pasangan hidup dari si Oto
- pemain e utama ini dia menolak adaptasi
- ee secara sosial dan secara emosional
- dan dia nolak teknologi baru. Kemudian
- dia nolak orang-orang yang ada di
- lingkungan rumahnya dan dia berpegang
- teguh pada rutinitas lama yang ee sudah
- mapan di dalam kesehariannya gitu ya.
- Akhirnya dia mulai menyadari, dia mulai
- melakukan perubahan yang membuat dia
- bisa beradaptasi gitu ya. Di film itu e
- ada tetangga-tetangganya dia yang hangat
- dan spontan gitu ya, membuat dia jadi
- mau membuka diri, bantu orang lain,
- menemukan kembali ee hubungan-hubungan
- sosial dengan lingkungannya. Dan ini
- adaptasi ini penting sekali dari ee
- menyendiri, terisolasi gitu ya. Jadi mau
- terlibat sama orang lain dari merasa
- kehilangan. Jadi dia mencari makna-makna
- baru dalam hidupnya gitu. Dari orang
- yang mengontrol dan kaku dia jadi lebih
- fleksibel dan lebih punya empati. Jadi
- adaptasi
- setelah pensiun itu penting sekali dari
- penolakan dan kehilangan arah. Ee
- akhirnya dia mau ketemu-ketemu
- orang-orang baru di lingkungannya atau
- orang-orang yang dia dulu enggak begitu
- perhatikan karena rutinitas dia gitu ya.
- Ee kemudian ee jadi dia mau menyesuaikan
- diri dan akhirnya menerima dan
- berinteraksi kembali sama orang lain.
- Jadi apa kuncinya? komunikasi sebagai
- jembatan dari orang mau beradaptasi ee
- terhadap kehidupan barunya dari dia
- komunikasinya defensif gitu ya, kayaknya
- menutup diri dan lain sebagainya. ee
- bicaranya singkat, sering nolak
- interaksi karena dia punya trauma,
- karena usia dan rasa kehilangannya dia.
- Jadi dia mau membuka diri dan lebih
- empati sama orang. ternyata komunikasi
- antar pribadi ee yang hangat gitu ya dan
- tulus itu bisa menjadi pemulihan jiwa
- dan bisa beradaptasi secara sosial. Jadi
- ee eh contoh dari film yang saya
- sampaikan tadi itu sebenarnya refleksi
- dalam kehidupan nyata kita yang mungkin
- saja karena kita lintas generasi, kita
- hidup bersama saat ini dengan enam
- generasi tradisionalis, Baby Boomers, X,
- Millenial, Gen Alpha. sama-sama dalam
- enam generasi tersebut begitu yang
- beda-beda dan di antaranya ee tentunya
- sangat mungkin ada yang sudah mm melalui
- pensiun gitu ya. Jadi ee beda ee ketika
- ketika yang ee sudah pensiun ini ee
- berinteraksi sama orang yang ee mungkin
- masih aktif atau anak-anak yang lebih
- muda, generasi yang sekarang milenial,
- Genzi atau Alfa gitu ya. Beda bahasa,
- beda emosi, beda ekspresi, beda
- nilai-nilai gitu ya. ee maka ini perlu
- ee punya empati, punya ee
- tindakan-tindakan real yang lebih pas
- gitu ya. Jadi komunikasi efektif
- tidak selalu
- bergantung pada kesamaan bahasa, tapi
- kemauan kita untuk membuka hati ee dari
- orang yang ngobrolnya ee karena orang
- menutup diri, jadi dia ngomongnya
- sendiri. akhirnya mau dialog sama orang
- gitu ya, dari monolog ke dialog dari
- orang yang ngedengerin dirinya sendiri
- akhirnya mau ngedengerin orang lain,
- ngerespon orang lain dengan penuh
- perhatian dan akhirnya jadi hidup ini
- jadi lebih bermakna begitu. Transformasi
- dari orang yang punya kontrol dan ee
- ngeluh gitu ya. Jadi ee terhubung sama
- orang lain dan penuh ee kasih sayang.
- Nah, ee Iwan akhwat yang dirahmati
- Allah, kita akan ngebahas lebih dalam
- lagi tentang pensiun. Nanti ee kita akan
- ada ee tamu yang spesial juga. Tapi
- sebelumnya izinkan saya membahas dulu
- beberapa overview terkait ee pensiun ya,
- Mbak Nuning.
- Ee pensiun itu punya sisi positif begitu
- ya.
- Iya. eh waktu luang jadi lebih bebas,
- bisa fokus ke banyak hal, ke hobi, ke
- traveling, ke berkebun, belajar banyak
- hal baru, atau mendekat lagi kepada
- spiritualitas, kepada Allah, ya.
- Kemudian ee bisa ee menghayati luar
- biasa ya aku bisa bernafas gitu ya. ee
- kemudian ee menghayati arti dari ee
- ngobrol sama orang lain, arti dari diam
- ee dan bisa menghayati semua fase-fase
- dalam kehidupan ini gitu. Kemudian yang
- positif lagi dari em pensiun adalah
- bebas dari tuntutan pekerjaan. Enggak
- ada deadline, no deadline, ya. ee
- kemudian juga ee ee enggak ada ee atasan
- ee atau tekanan pekerjaan gitu ya.
- Atau juga ee perlu memberikan support
- yang ee apa menjadi kewajiban kepada
- bawahan dan lain sebagainya atau tekanan
- ee target-target dan lain sebagainya
- gitu ya. Terus juga jadi dekat sama
- keluarga, banyak waktu untuk anak, untuk
- cucu, untuk pasangan juga ee peluang
- berkarya dengan cara baru. Ternyata
- pensiun juga kita bisa memulai berkarya
- dengan ee ee apa hobi kita gitu yang
- selaras dengan impian kita gitu.
- Misalnya kita suka nulis atau kita suka
- jadi mentor atau kita suka jadi advisor
- atau kita suka berkebun, bikin usaha
- yang kita nyaman dan menjadi tokoh di
- komunitas kita ee ee dan lain
- sebagainya. E tetapi sebagai catatan
- kalau kita memang mau mulai bisnis itu
- adalah sebuah perjuangan yang perlu ee
- kesungguhan gitu ya. Tapi kalau merasa
- bisnis ini adalah bagian dari hobi gitu
- ya, tidak ada ketergantungan
- yang ee sangat lekat dengan kebutuhan
- keseharian, itu akan jadi lebih nyaman
- begitu ya. Ee kita bisa main di
- hobi-hobi masa kecil, bikin
- barang-barang dari kayu atau ee apa
- namanya? Bikin ee karya-karya yang kita
- suka, makanan dan lain sebagainya.
- kita buang semua gengsi gitu ya. Itu itu
- bagus banget.
- Ee jadi banyak banget sisi positif
- ketika kita menjalani pensiun. Nah, ada
- kondisi-kondisi
- ee pensiun yang kita akan alami gitu ya,
- kecenderungannya gitu ya secara fisik,
- tantangan-tantangannya ya, secara fisik
- dan kesehatan daya tahan tubuh makin
- menurun. memang eh namanya juga e tubuh
- itu bagai ikan mesin gitu ya. Udah udah
- dipakai sekian lama. Jadi memang ada ada
- proses penyusutan begitu ya. Ada lebih
- banyak waktu untuk jaga kesehatan juga
- dengan itu. Tapi juga risiko dari
- penyakit karena kerusakan bertahap pada
- sel tubuh kita, jaringan, organ tubuh,
- fungsinya menurun karena penuaan gitu
- ya. Penuaan alami ya. ee itu fungsinya
- menjadi menurun dan ee cenderung ee
- orang juga mengalami tantangan-tantangan
- baru, tekanan darah tinggi, diabetes, ee
- apa namanya
- ee ee kroposat ee tulang dan lain
- sebagainya gitu ya. dan ee penurunan
- kesehatan mental dan fisik juga bisa
- saja terjadi karena kurangnya aktivitas
- secara psikologis jadi depresi, jadi
- dimensia ringan atau juga fisik jadi
- makin melemah secara psikologis dan
- emosional juga
- stres ya merasa hilang identitas, bosan
- ya yang sangat aktif biasanya yang punya
- posisi aktif ee dulunya saat bekerja
- bisa jadi mengalami post syndrome,
- merasa enggak lagi penting, berguna,
- atau diakui sehingga hilang rasa
- produktif dan identitas. Jadi, ada
- kelebihan dan kekurangan dari ee diri
- kita ketika kita mm pensiun, Mbak
- Nuning, ini sebagai overview. Nah,
- nantinya kita akan ngelihat
- apa sih tantangan-tantangan komunikasi
- ee yang kita hadapi ketika kita pensiun.
- Tapi sebelumnya barangkali Mbak Nuning
- kita bisa diskusi dulu dengan ee apa ee
- kita bisa memperkenalkan ada tamu kita
- sahabat
- ee saya Mas Rifki. Ee mudah-mudahan nih
- sudah bisa ini. Monggo Mbak Non.
- Iya ikhwan Akhwat. Jadi nanti akan hadir
- juga ke ruang dengar kita Dr. Rifq Abdul
- Aziz Som, Mom. Beliau adalah dosen dan
- peneliti di bidang komunikasi
- interpersonal dengan fokus kajian pada
- komunikasi lansia. Wow. Ederly
- communication. Aha. Dan dinamika
- psikososial pasca pensiun.
- Beliau menyelesaikan studi doktoralnya
- di Universitas 11 Maret disertai
- disertasi yang berjudul Komunikasi
- Interpersonal dalam Membangun Resiliensi
- lansia yang mengalami post retirement
- syndrome. Wow. Penelitian dan
- publikasinya banyak menyoroti aspek
- resiliensi komunikasi, hubungan antar
- generasi, serta peran media di dalam
- mendukung kesejahteraan emosional
- lansia. Keren banget. Nanti kita simak
- ya. Sementara ee informasi tambahannya
- selain aktif meneliti, Dr. Rifki ini
- juga terlibat dalam berbagai kegiatan
- pengabdian masyarakat yang fokusnya pada
- literasi media digital. bagi lansia
- komunikasi inklusif, kemudian juga
- pemberdayaan
- komunitas yang berbasis teknologi. Wow.
- Jadi terkait dengan ini semua karya
- ilmiahnya yang sudah diterbitkan di
- berbagai jurnal nasional dan
- internasional
- seperti Journal of Social and Political
- Sciences dan The Messengers. Ia juga
- menjadi pembicara pada konferensi
- internasional seperti International
- Conference of Humanities and Social
- Science atau ICH HSS ya. Temanya
- Communication Resilience in Elderly
- Retir wis keren banget. [tertawa]
- Mudah-mudahan eh linknya dengan beliau
- sudah sambung.
- Halo, Mas Rizki. Mas Rifkiore
- Bu Mona. Hai.
- Iya, senang banget Mas Rifki bisa
- bergabung di sini.
- Ini keren banget nih, Mas nih. Hai, Mas
- Rifki.
- Eh, kita lagi ngebahas tentang
- komunikasi oke saat pensiun gitu ya. Dan
- kalau ee lihat riset-researchnya Mas
- Rifki ini banyak juga berkaitan dengan
- itu. Bisa cerita sedikit enggak tentang
- gimana sih masalah komunikasi
- saat pensiun dan apa solusinya? Oke,
- masalahnya dulu deh. Potensi-potensi
- masalah dalam ee apa? Komunikasi terkait
- pensiun.
- Putuskah? Enggak.
- Oke. Halo. Oke. Suaraus
- ya. Mas Rifki kedengaranah? Bisa
- terdengar tadi.
- Oke. Bisa diulang pertanyaannya.
- Jadi gini eh kan Mas Rifki nih ceritanya
- research-nya banyak terkait dengan eh
- komunikasi ee apa namanya saat pensiun
- gitu ya untuk Erderly gitu ya. Jadi,
- gimana sih masalah-masalah yang
- berpotensi terjadi pada seseorang yang
- ee setelah pensiun gitu? Saat pensiun
- itu
- sangat menariknya ketika kita bicara
- soal pasti kan manusia itu merasa ini
- adalah dari kehidupan.
- Heeh.
- Yang paling kerasa adalah yang e dari
- beberapa hal yang memang saya lihat
- setelah observasi
- yang terjadi dan siap itu merasa
- kebingungan.
- Merasa apa?
- Kebingungan.
- Oh kebingungan. Oke.
- Apa yang harus dia lakukan dan apa yang
- harus dia bangun setelah pensiun.
- Heeh. Heeh.
- kita lihat dari sisi komunikasi
- ee pertama
- pasangan yang sejogianya
- yang mendukung itu ee apatali tidak
- memberikan secara peluh
- karena ya saya e berada di posisi yang
- sama
- nih ceritanya gitu kan. Nah, sisi lain
- anak-anak jelaskan jelas. Kurang jelas
- ya
- sinyal. Oke. Oke. Iya. Ee bisa mohon
- maaf bisa lanjut agak kurang jelas bisa
- ee lebih lambat lagi.
- Baik ya. Di sisi lain
- ketika kita bicara tentang kerjaan
- dengan alat setelah tensi sebetulnya hal
- itu
- sangat susah untuk tidak karena
- anak-anak mungkin
- sibuk atau
- jarak yang membedakan atau jarak yang
- terjauh untukai.
- Sedangkan kalau misalnya lansia tersebut
- harus datang ke rumah anak-anaknya itu
- di sini sudah tidak
- juga
- bisa memutus komunikasi.
- Heeh.
- Yang lebih jauh lagi ya
- adalah pemerintah di Indonesia.
- Heeh.
- mempersiapkan bagaimana pension ini bisa
- bisa resilien
- artinya
- setelah manusia infans
- lebih inas saja silakan untuk hidup
- secara mandiri tanpa dibekali
- kamu itu mau apa, kamu itu harus seperti
- apa setelah pensiun.
- Iya.
- itu ee yang sering saya dapatkan di
- lapangan dan itu adalah
- besar bagi kita.
- Iya.
- Ee
- itu itu tentangannya ya. Jadi ee
- tantangannya
- Iya betul. E kalau kalau sebelum ee masa
- kecil itu ee dijaga oleh pemerintah
- dengan sekolah gitu ya, setelah selesai
- sekolah dia masuk dunia kerja gitu ya,
- setelah pensiun silakan gitu ya. Enggak
- ada enggak ada panduan atau atur apa ya
- ee kegiatan-kegiatan yang menjaga mereka
- begitu ya.
- Kurang ya belum ya belum banyak.
- Betul. Kurang belum banyak.
- Akhirnya apa solusinya? adalah mereka
- lebih banyak ee berdiam diri di rumah.
- Iya.
- Hm.
- Sehingga itu menjemput ee
- menyebabkan masalah-masalah psikologis.
- Iya.
- Nah, mungkin kalau mungkin ee gak kena
- atau gini sering melihat kok lansia
- setelah pensiun sini lebih lagi
- melihat kebisingan lebih tidak
- terkendali.
- Heeh. Terus ee
- suaranya seperti dibuta,
- terus komunikasi instruksionalnya juga
- kan saya sama diatur kerja mungkin kalau
- misalnya saya eh peneliti saya sempat
- menemukan satu istilah post retirement
- syndrome.
- Heeh. Nah, pos syndrom ini merupakan
- power syndrom.
- Artinya eh
- lansia-lansia ini tidak hanya yang
- memiliki power saja. yaikuti
- masalah-masalah ee dari psikologi
- komunikasi
- tapi untukikasi
- seluruh pensiunan mulai dari
- dapat dan sudah sampai tidak men pasti
- mempasi
- ini hal-hal yang memang e sangat
- profesional.
- Nah, menakan kembali pengalan ketika pas
- pensiun itu kan sebetulnya hal yang
- dilakukan
- peran-peran
- atau akhir itulah
- sangat-sangat diharapkan. Heeh.
- Bisa jadi anak, bisa istri, dan bisa
- jadi teman sekali. Nah, apa yang
- menuntut media
- ee komunikasi interpersonal yang
- dilakukan untuk melakukan untuk
- membangun residen silat itu sangat
- tergantung kepada
- kalau kita bicara di masa ini media
- sosial itu sangat penting jari jari atau
- pancak kaki Kalau enggak mungkin bahasa
- apa? Bahasa
- lansinya mereka sering bicara se itu
- hal yang
- ee
- media sosial bagi
- sayang ya begitu bagus.
- Iya. Enggak enggak terlalu dengar ya
- jadinya ya. Oke. Eh, Mas Rifki, jadi eh
- post retirement syndrome sindrom pasca
- pensiun gitu ya. Ee karena kesepian itu
- banyak sekali ee masalah isolasi apalagi
- ee tidak aktif secara sosial ya. karena
- tadi ee ee banyaknya karena aktivitas ee
- yang diagendakan oleh pemerintah itu
- tidak cukup ee banyak gitu ya sehingga
- kecenderungannya mereka akan tinggal di
- rumah gitu ya dan teman makin sempit
- gitu ya. Kalau di kantor kan banyak
- teman, ketemu teman dan secara ee ini
- otomatis gitu ya. Dan ee kemudian belum
- lagi tadi pendapatannya ya ee bisa jadi
- uang pensiun ee ada atau ee atau ada
- yang tidak ada gitu ya. Ee jadi sibuk
- makan tabungan nanti ee habis-habis
- habis habis gitu ya. Kalau tidak
- dikelola dengan baik uangnya juga jadi
- masalah keuangan ya.
- Oke. Terus ee ketika masalah-masalah
- lain dalam komunikasi khususnya itu
- seperti apa? Itu kan tadi apa yang
- membuat potensial menjadi ee post
- retirement syndrome tadi ya. Oke, mangga
- silakan.
- Kalau dari sisi komunikasi
- ee
- hal yang paling amat sangat ee
- timbul
- Heeh. pada lansia adalah ketika
- aspirasinya tidak bebas tersampaikan.
- Oke.
- Banyak banyak keterbatasan keterbatasan
- dari mereka
- Heeh.
- yang memang dibungkam. Artinya lansia
- ini merasa ragu.
- Heeh.
- Dia dia mau bicara dengan anaknya, dia
- timbul perasaan, "Ah, saya takut ganggu
- anak saya nih." gitu.
- Heeh. Heeh. He.
- Sementara
- sementara kalau dia bicara dengan istri
- atau ee rekan
- serumahnya
- Heeh.
- rata-rata kan mereka punya kondisi yang
- sama.
- Heeh.
- Artinya
- sama-sama lansia dan sama-sama punya
- emosi yang
- ee mutsu
- tidak di ee
- apa tidak bisa diprediksi seperti itu.
- Iya.
- Iya.
- itu hal yang sangat menarik ya
- maksudnya.
- Iya. Iya.
- Saya ee saya melakukan penelitian di
- bidang lansia. Observasi saya mendalam.
- Heeh. Heeh. dan hampir menyentuh kalau
- dari komunikasi dibilang etnografi
- karena memang ternyata
- karena memang ternyata banyak sekali
- realitas-realitas sosial yang baru
- muncul ketika individu itu mencapai
- umur-umur lansia di atas ee 60 tahun
- mulai dari komunikasinya, mulai dari
- bagaimana dia mengelola relasinya dan
- juga bagaimana mereka harus membangun
- kembali kebiasaan-kebiasaan an baru
- pasca pensiun.
- Nah, itu ee hal yang sulit dilakukan
- oleh lansia kalau misalnya memang tidak
- ada dukungan dari orang-orang sekitar
- atau dari signifikan ada
- gitu.
- Oke. Ee jadi ee ee aspirasi tidak
- tersampaikan. apa yang dia pikir dan
- rasakan tidak secara
- baik bisa diekspresikan gitu ya. Bisa
- enggak memberikan beberapa contoh ee
- dari pengalaman penelitian yang ee
- mungkin relate dengan ee apa kehidupan
- kita saat ini gitu terutama untuk e
- orang yang ee pensiun. Ee bisa ada
- beberapa contoh barangkali.
- Oh ya. Ee yang relate itu sebetulnya
- banyak ya.
- Heeh.
- Ee pengalaman-pengalaman yang memang
- seperti kan kalau misalnya
- banyak lansia yang memang pensiun itu
- mereka berawal dari pejabat ya Bu Mona
- ya.
- Iya pejabat.
- Betul. Nah kalau misalnya pejabat itu
- kan pasti dia punya komunikasi
- instruksional yang jelas.
- Iya.
- Apa apa-apa dilayani, apa-apa pakai
- ajudan, apa-apa pakai supir.
- Nah, hal yang pernah saya temui lucu itu
- adalah gini, mereka selalu curhat.
- Ee, Mas Rifki, setiap pagi itu seminggu
- pertama
- Heeh.
- saya itu setelah pensiun saya kok
- tiba-tiba buka lemari ya.
- Heeh.
- Dan saya nunggu di depan teras.
- Heeh.
- Buka lemari pakai seragam dan nunggu
- depan teras waktu.
- Ah. Bapak kenapa nunggu di depan teras?
- Saya nunggu dijemput sama supir kantor,
- Mas.
- Walah, itu ee kok bisa begitu? Iya,
- bayangkan saya 40 tahun lebih dilayani
- seperti itu dan sekarang saya harus di
- rumah tanpa ada yang melayani.
- Nah, terus Bapak gimana saya bilang
- untuk bisa bertahan crafting normal
- membangun kembali kebiasaan baru
- tersebut? Eh, itu cukup waktu yang lama
- itu long time katanya.
- Heeh.
- Ini terjadi pada siapa? Terjadi pada
- pensiunan ASN.
- Heeh. Heeh.
- Nah, terus saya tanya kenapa jadi Pak?
- Bapak gimana maksudnya setelah pensiun
- itu tidak dipersiapkan?
- Heeh. Heeh.
- Tidak ada sama sekali, Mas. Mereka
- bilang jadi ya sudah pensiun itu
- dilepas. Nah, itu tadi yang saya bilang
- ya.
- terus ee bisa bertahannya seperti apa.
- Nah, akhirnya saya ee kembali ke
- anak-anak. Tapi
- anak-anak juga saya ragu nih pada
- awalnya, Mas Rizki. Ragunya kenapa?
- Karena kan mereka sibuk nih ceritanya
- katanya.
- Heeh.
- Terus saya datang nginp di rumahnya
- lebih dari 2 hari itu merasa tidak
- betah.
- Heeh.
- Tapi di sisi lain,
- Heeh.
- Komunikasi dengan cucu juga
- ada gap. banyak-banyak bahasa yang beda.
- Terus udah gitu ee
- cucu-cucu juga mainnya sekarang sudah
- pakai gadget, pakai games. Kami di sini
- terisolasi rasanya Mas Rizki gitu. Nah,
- itu kan perasaan terisolasi tuh saya
- sampai garis bawahi ya. Kok bisa mereka
- merasa terisolasi dengan
- ee keadaan yang memang mereka tidak
- inginkan gitu kan.
- Iya. He.
- Nah, akhirnya ee
- sampai berapa lama mereka bisa keluar
- dari hal tersebut? Rata rata
- Heeh.
- 6 bulan sampai tahun.
- 6 bulan sampai setahun.
- Betul. Rata-rata 6 bulan sampai setahun
- mereka baru bisa keluar dari
- yang ee dibungkam tersebut.
- Heeh.
- Caranya seperti apa? Ternyata ketika
- mereka dikenalkan dengan media sosial,
- Facebook apalagi
- mereka menemukan komunitas-komunitas
- yang awalnya mereka tidak tekuni seperti
- mereka jadi olahraga, jadi sepeda gitu
- kan.
- Nah, di situ kan ada pertukaran
- informasi, akhirnya komunikasinya dibung
- ee dibungkam kembali. Mereka punya teman
- senasib dan sepertanggungan.
- Nasib dan sepertanggungan. I
- iya
- sama-sama menerima gaji pok setiap
- bulan.
- Heeh. Heeh.
- Terus hingga akhirnya nah itu yang yang
- paling yang paling penting adalah mereka
- kembali ke ee teman-teman sekolahnya.
- Nah, reunian. Iya.
- Kenapa reunian yang memang sangat
- penting? Karena
- kan kalau teman sekolah seangkatan pasti
- umurnya sama semua ya.
- Iya. [tertawa]
- Artinya mereka ketika ee berbincang
- terus ketika bertemu
- hal yang sama terjadi itu
- Iya.
- Mereka pecahkan bersama gitu.
- Iya. Jadi kadang-kadang kalau ketemu Kak
- saya kalau reunian itu hal yang dibahas
- itu pasti penyakit, diabetes, obat
- alternatif
- [tertawa]
- yang yang 6 bulan pertama sampai setahun
- pertama setelah pensiun itu.
- Oke.
- Ee
- bilang jadi
- He
- Mas Rifki. Oke, sebentar ya. Saya saya
- penasaran nih. Tadi Mas Rifki menyatakan
- bahwa di Indonesia
- ee ee pengelolaan
- dari pemerintah terkait
- lansia atau
- ee ya lansia ya retirement period itu
- gitu ya itu kurang banyak gitu ya. Nah,
- ya contoh seperti apa sih yang bagus itu
- dan di negara mana yang eh apa namanya
- yang ideal seperti apa tuh?
- Oh, oke. Ee ini berkaitan dengan baru
- saja kemarin saya menulis sebuah hiba
- penelitian.
- Heeh.
- Ee saya membandingkan dengan angka
- harapan hidup di Jepang. Nah, mungkin ee
- Bu Mona dan pendengar dan Bu Nuning bisa
- melihat atau
- meresapi satu kata dari bahasa Jepang,
- Nomewaku.
- Nah,
- di Jepang sana itu
- artinya lansia-lansia itu ee disiapkan
- untuk mandiri hingga tua.
- Hm.
- Bahkan mereka itu siap loh maksudnya
- untuk ee tidak merepotkan anak-anaknya
- dan ee mereka mau hidup sendiri di panti
- jompo. Nah, saya tuh heran kenapa kok
- bisa mereka semandiri itu secara sistem
- mendukung artinya panti-panti jompo juga
- disiapkan dengan proper oleh pemerintah.
- Nah,
- seperti apa kalau misalnya di Indonesia
- kita kok tidak bisa meniru seperti itu
- gitu loh. artinya menimbulkan
- menciptakan lingkungan yang ee inklusif,
- siap untuk ee menerima lansia-lansia
- gitu.
- Heeh.
- Nah, mungkin perintah bisa nih awal
- awal-awal memperkenalkan ee atau membuat
- sebuah lingkungan yang inklusif untuk
- bagi pensiunan gitu kan. Kita coba
- mungkin awal-awalnya dari ee bikin
- perumahan yang memang ee lansia khusus
- untuk lansia gitu.
- Nah, itu kan sangat penting ya. Jadi
- disiapkan di perman itu disiapkan
- fasilitas kesehatan, terus taman-taman,
- fasilitas olahragaus lansia. Nah, di
- Jepang tuh ada
- sampai seperti itu,
- gitu. Jadi ee mereka tuh sudah siap, oh
- saya mau tua itu nanti aja di panti
- jompo, ah gitu. Dan mereka tidak merasa
- dibuang, Bu Mona di Jepang
- karena apa tadi? Disiapkan di satu
- lingkungan yang memang mereka mendukung
- satu sama lainnya. H
- artinya mereka bertemu teman sebaya tuh.
- Teman sebanya yang dibilang teman
- senasib sepertanggungan. Sama-sama tua,
- sama-sama pensiunan, sama-sama mungkin
- kalau misalnya timbul dengan penyakit ee
- komorbidnya yang sama gitu kan. Jadi
- saling mendukung akhirnya.
- Heeh. Nah, maaf tadi tadi kan ada rumah
- yang di ini untuk lansia dan sebagainya.
- Itu itu di Jepang itu dipersiapkan oleh
- pemerintah atau bagaimana?
- yang di Jepang itu.
- Heeh.
- Yang di Jepang ada beberapa yang
- disiapkan oleh pemerintah memang.
- Oke. Di sini di kita kan juga ada ya
- panti jompo dan lain sebagainya. Mungkin
- belum begitu me apa ee merakyat ya belum
- begitu. Itu itu cuman untuk artinya
- lebih banyaknya di rumah gitu ya.
- Di rumah.
- Oke.
- Iya kan?
- Iya. Heeh.
- Nah, satu lagi. Satu lagi yang perlu
- dibaris bawahi ketika anak-anak
- menyimpan orang tuanya di panti jompo.
- Heeh.
- Kalau di kita stigmanya kan pasti anak
- durhaka ya.
- Heeh. Heeh. Ada stigma tertentu.
- Nah, itu yang yang harus kita ubah ya
- maksudnya.
- Heeh.
- Mungkin pandi jompo tuh mereka inginkan
- loh. Maksudnya mereka butuhkan loh.
- Heeh.
- Gitu.
- Heeh.
- Daripada kita membiarkan orang tua yang
- memang ee secara komunikasi, secara
- psikologis tidak aman, diam di rumah.
- Heeh. Tapi kalau misalnya disimpan di
- panti jompo, panti jomponya yang proper
- loh ya, bukan panti jompo yang memang
- kita seolah-olah dibuang gitu loh.
- Iya, betul.
- Yang memang ada pengurusnya, yang memang
- ee ada fasilitas kesehatan ya. Saya
- yakin ada sih di Indonesia gitu ya. Tapi
- memang masih berbayar dan mahal sekali
- gitu kan.
- Secara secara kalau di Jepang itu sudah
- masuk dalam biaya asuransi kesehatan
- lansia gitu kan mereka.
- Oke. Iya. Ya, itu beda bedanya dari situ
- ya. itu memungkinkan akses untuk
- diperoleh.
- Di sini bisa juga untuk diperoleh,
- tetapi high cost ya ada lumayan Heeh.
- high cost kalau mau yang benar-benar ee
- rama lansia, aksesibilitas,
- eh nyaman gitu ya, itu memang high cost.
- Tapi kalau yang di Jepang mungkin sudah
- tersedia untuk pilihan ya sebagai
- pilihan masyarakat begitu ya.
- Iya betul. pilihan masyarakat karena kan
- memang ee di Jepang juga banyak yang
- tidak menikah ya Bu Mona ya.
- Heeh.
- Heeh.
- Jadi mereka tuanya memang sudah ada
- pilihan.
- Heeh.
- Ya sudah gitu kan.
- Heeh.
- Itu ee seperti hal yang biasa saja gitu
- mereka tua di panti jompo gitu.
- Iya. Jadi ee berarti jompo yang memiliki
- sistem yang baik ya ee membuka ee
- komunikasi yang baik, fasilitas akses ee
- memungkinkan mereka memiliki partisipasi
- aktif di dalam ee ee kesehariannya gitu
- ya. punya dukungan sosial dari
- teman-temannya juga gitu ya sehingga ee
- mereka bisa mandiri, mereka bisa
- berdaya. Ee itu juga ternyata penting.
- Ada beberapa saat yang lalu teman
- menjelaskan sebuah penelitian itu lansia
- yang dikasih
- ee apa namanya? support orang yang
- ngedukung ya kayak misalnya perawat dan
- lain sebagainya. eh itu e yang yang
- segala-gala dibantuin gitu ya atau cukup
- banyak di-support gitu ya. Ternyata
- lebih cenderung lebih cepat sakitnya
- lebih lama gitu ya, lebih cepat gitu ya
- dibandingkan sama yang diminta mandiri.
- Jadi artinya pengelolaan untuk rumah
- lansia itu juga perlu dipikirkan sebaik
- mungkin sehingga ee ee apa namanya
- kebutuhan-kebutuhan
- ee ee fisik, emosional, ee spiritual,
- kebutuhan
- lainnya gitu ya, itu apa di dilayani
- gitu ya, difasilitasi.
- Betul. Iya, betul, betul. Dan satu lagi
- yang hal yang e menarik itu beberapa
- klinik-klinik dan beberapa panti jompo
- di Jepang itu hampir 50% perawat dan
- yang memang melayaninya orang Indonesia.
- Heeh.
- Oh.
- Saya saya heran maksudnya kok bisa orang
- Indonesia ya?
- Ternyata orang Indonesia sana terkenal
- dengan ngemong dan highx communication.
- Betul betul betul betul. kita tuh kita
- tuh dikenal dengan orang sabar,
- melayani, mengayomi dan itu yang
- dibutuhkan sama lansia kan sebetulnya.
- Iya dekat ya ngomong ya sayang gitu ya
- ngerasa ini orang tuanya gitu ya. Jadi
- itu penting tu ya perasaan itu ya. Heeh.
- Betul. Itu saya sedikit bangga. Oh
- ternyata masih ada campur tangan orang
- Indonesia ya.
- Iya iya iya iya iya.
- Oke, sedikit lagi ee ee selain dari yang
- tadi ya, aspirasi tidak disampai tidak
- tersampaikan dalam konteks komunikasi
- gitu ya. Jadi merasa enggak dibutuhkan
- lagi atau kesepian, terisolasi dan lain
- sebagainya. Ee dan ada perubahan dengan
- tadi ya e dari pekerja profesional jadi
- pensiunan atau dari pejabat jadi ini dia
- harus menyesuaikan. Dia harus yang
- gayanya gaya gaya gaya nyuruh gitu ya,
- gaya formal. Jadi hilang itu. Lalu
- solusinya seperti apa? Apa solusi yang
- perlu ee seorang
- ee yang menjadi pensiun itu perlu
- adaptasi dari sisi komunikasi dan juga
- bagi lingkungannya perlu seperti apa
- tuh? Bisa sharing.
- Oke.
- Heeh.
- ini ee kita menempatkan diri sebagai ee
- lingkungan apalagi ee pasti di
- lingkungan kita seringlah beberapa kali
- pasti ada yang ee tiba-tiba pensiun, ada
- yang beberapa kali pensiun. Kalau saya
- ee seharusnya sebab menempatkan diri
- ee karena kita di Indonesia ya budayanya
- kolektif artinya ee kita nyatuan lah
- kalau misalnya bahasa ee ininya bahasa
- harusnya. Nah, saya kadang-kadang kalau
- misalnya di lingkungan RTRW saya maafin
- RTRW ya Mas saya tinggalnya masih di
- ini.
- He.
- Cuma RTRW ada yang baru pensiun. Saya
- kadang-kadang suka ajak ngobrol.
- Heeh. Heeh. He.
- Terus ee gimana Bapak Ibu sudah pensiun
- gitu bla bla bla. Terus
- saya arahkan kalau misalnya pasti satu
- hal yang paling utama e mereka muncul
- adalah kembali ke Tuhan. Nah.
- H. Terus saya bilang ee Bu, Ibu ikut
- pengajian ini aja atuh cobain. Gitu kan.
- Ee nanti nanti saya kasih linknya ya
- gitu. Ada di Ustaz ini semangat kan
- akhirnya menemukan arah gitu.
- Terus
- di lingkungan saya karena satu
- lingkungan pasti kan pendidikan mereka
- tidak jauh dari saya ya. Artinya tidak
- jauh tuh ee bisa jadi satu almamater
- gitu kan.
- Heeh.
- Saya tanya juga ee Bu, Ibu dulu SMA-nya
- di mana sih gitu? Oh, di sini. Oh,
- Bu, ternyata ada ikatan alumninya loh.
- Ibu mau saya gabungin enggak ke sana?
- Wah, itu mereka tuh
- sangat senang tuh sebetulnya.
- Heeh.
- Jadi,
- Heeh.
- kita sebagai lingkungan yang memang ee
- tidak mengenali atau tidak tahu, kita
- harus jemput bola. Artinya ee kita harus
- menciptakan resiliensi itu mulai dari
- kita, kita yang sadar gitu loh. Mereka
- itu enggak sadar. Mereka sedang ada di
- sisi yang tidak baik-baik saja secara
- komunikasi. I
- mereka membutuhkan bimbingan-bimbingan
- yang memang kita sudah tahu nih apa yang
- dibutuhkan dan apa yang harus dilakukan
- oleh lansia ketika ee pensiun yang tadi
- ee pertama arahkan kepada apa yang
- memang biasanya lansia lakukan ketika
- setelah pensiun biasanya yang tadi
- kembali ke Tuhan mereka butuh
- kegiatan-kegiatan spiritual.
- Heeh.
- Gitu. Jadi sebagai anak, sebagai ee
- orang yang di sekitarnya coba arahkan ke
- sana. Karena biasanya di
- pengajian-pengajian itu mereka menemukan
- orang-orang yang klop.
- Iya,
- gitu. Bisa sharing secara agama atau
- mungkin nanti jatuh-jatuhnya jadi
- arisan. Ibu saya juga yang pensiunan
- semenjak diikutin saya suruh ikut
- pengajian. Jadi, agendanya setiap hari
- enggak berhenti. [tertawa]
- I, Mas Rifki kan ee ee kan ketika
- pensiun itu ee akan lebih baik di rumah
- gitu ya. ee jadi lebih intens interaksi
- dengan pasangan hidup gitu ya. Ee pas
- yang yang biasanya berangkat pagi,
- pulang sore gitu ya atau pulang malam.
- Nah, sekarang ini stay stay ee dan ee
- hadir terus gitu ya. Enggak semua
- pasangan siap bisa jadi ributan ee
- karena beda harapan, beda kebutuhan,
- ruang privasi atau tidak mampu
- menyampaikan secara terbuka apa yang
- dipikir dan dirasakan itu solusinya
- seperti apa dari seseorang yang pensiun
- itu kepada pasangannya atau dari
- pasangannya kepada orang yang pensiun
- tersebut?
- Nah, ini juga yang sangat sulit
- dipecahkan ya ketika pelanggaran harap
- di antara pasangan pensiunan.
- Heeh.
- Nah, ee
- karena kan sebetulnya ketika konflik
- terjadi mereka jauh dari anak-anak ya.
- Jadi kita sebagai anak-anak juga enggak
- tahu apa konflik yang terjadi kan.
- Makanya banyak tuh yang memang sudah
- pensiun dan tua lansia mereka mohon maaf
- bercerai gitu kan.
- Heeh. Heeh. Betul. Artinya ee di situ
- memang ada konflik yang memang sudah
- tidak bisa lagi diselamatkan.
- Iya. Iya.
- Sebagai pasangan nanti mungkin yang
- sudah tua dan mungkin ee
- ya kita harus memahami bagaimana
- karakteristik masing-masing. Artinya
- ketika ee wanita mungkin akan lebih
- banyak berbicara dibandingkan pria ya.
- Dan ketika
- pasti komunikasinya akan sangat sekali.
- Nah, itu tidak banyak diketahui oleh
- pria sebetulnya.
- Heeh.
- Jadi, artinya ego dari masing-masing
- masih tinggi.
- Heeh. Heeh.
- Nah, bagaimana caranya? Nah, diarahkan
- kita sebagai anak-anak, sebagai yang
- masih muda,
- klik pasti karena ada pelanggaran
- harapan gitu ya. Ketika mungkin ee
- setelah pensiun, "Mama kok jadi enggak
- pernah masak ya?" gitu. Mama kok jadi
- enggak pernah ini? Enggak pernah itu ya.
- mungkin dari ee suaminya. Nah, kita
- anak-anaknya harus memberi ee pengertian
- karena mereka sendiri tidak akan bisa
- memecahkan secara langsung.
- Heeh.
- Mereka berdua secara komunikasi tuh akan
- sering cekcoklah istilahnya.
- Heeh.
- Banyak sekali. Meskipun di luar harmonis
- tapi secara nyatanya cok itu di rumah
- itu. Itu saya dari 2 bulan saya
- observasi penelitian ya. Saya hampir
- tiap hari ke rumahnya cek cok. Tapi
- ketika di depan panggung-panggung
- depannya ya harmonis gitu.
- Iya. Iya. Kayak bagus baik-baik saja ya
- di belakang [tertawa]
- perjuangan
- di belakangnya. Mereka mah marah-marah
- terus kalau misalnya mau pergi ee tuh
- kan mama mah susah banget diaturnya gitu
- kan. [tertawa] Tapi ketika di depan
- panggung gitu mereka it's oke-oke aja
- gitu tuh.
- Terus akhirnya siapa ya? Iya. I
- anak-anaknya udah udah udah siapa sok
- duluan mandi duluan gitu. Udah udah udah
- udah sok ini, ini gitu kan. Akhirnya
- nah.
- Iya iya iya. Jadi
- itu jadi mereka pasti pasti berkonflik
- enggak ada enggak ada enggak ada
- solusinya. Karena kalau ketika lansia
- egonya tinggi, hal kecil apapun juga
- pasti akan menimbulkan konflik.
- Iya iya iya iya.
- Mungkin memang harus lebih bijaksana ya
- nerima perubahan ya, nerima transisi.
- Betul. saya setuju lebih dekat dengan
- pemilik ee semesta ini ya kepada Allah
- ya.
- Betul.
- Heeh.
- Betul. Jadi komunikasi transendentalnya
- yang harus diperbaiki awal-awal ketika
- setelah pensiun.
- Betul. Dan Bu ee bikin komunikasi
- terbuka dan empati gitu. mau dengerin
- pikiran dan perasaan pasangan, mau
- ngertiin, tidak menghakimi, itu juga
- penting ya untuk di ee jadi memahami
- khawatirnya pasangan, memahami apa yang
- diharapkan, mungkin itu harus diulang
- lagi gitu belajarnya gitu. Karena kan ee
- [tertawa]
- ketika sudah menikah kan e dengan
- masing-masing bekerja atau salah satu
- bekerja itu kan beda gitu suasananya
- dengan yang hadir selalu gitu ya kan.
- Iya betul. Jadi apalagi kalau sudah
- lansia kan dibilangnya dia mempunyai
- kemunduran kembali seperti balita ya.
- Iya.
- Nah, jadi ee dua-duanya nih gitu
- maksudnya sama-sama egonya tinggi. Lu
- pengin kayak gini misalnya lu pengin
- kayak gini dalam tanda kutip ya.
- Iya.
- Enggak bisa enggak bisa dipatahkan gitu
- maksudnya
- itu susah sekali.
- Iya.
- Nah, makanya untuk apa? Mencari
- kesibukan masing-masing. Jadi saya tuh
- suka memberikan pengertian kalau
- misalnya saya ke PWRI terus anak-anaknya
- curhat kan. Ee Mas Rifki ee kok ibu
- bapak saya tuh mereka enggak pernah mau
- pergi bareng. Enggak apa-apa, Mas. Saya
- bilang, "Ngakah mereka pergi
- masing-masing." Saya bilang, "Suaminya
- mau ke mana, istrinya mau ke mana?
- Jangan pernah kita mempersatukan kalau
- mereka enggak mau bersatu."
- Iya.
- Karena gini, di bayangin aja ya, Mas,
- Mbak. Mereka itu pernikahan mungkin
- sudah lebih dari 40 tahun ya.
- Heeh.
- Nah, 40 tahun satu rumah, satu atad,
- komunikasi intens gitu kan.
- Iya. Heeh.
- Terus ee ditambah lagi selama 40 tahun
- itu kan mereka bekerja juga kan. Jadi ya
- udah gitu komunikasinya pada saat
- mungkin malam aja atau ee pagi aja gitu
- atau weekend aja ya kan.
- Iya.
- Nah ini setelah pensiun 20 lihat
- muka-mukanya terus udah gitu ditambah
- egonya yang mu berubah.
- Iya. Iya.
- Terus ee ditambah lagi ada
- perubahan-perubahan secara fisik.
- Iya iya iya iya betul sekali
- betul itu juga itu juga konflik
- sebetulnya banyak yang kayak
- istri saya sudah istri saya sudah cantik
- lagi kenapa [tertawa] ya gini-gini
- aduh saya bilang itu kan sudah takdir ya
- maksudnya tapi itu yang memang sering
- iya
- menjadi masalah
- Mbak Mona
- oke
- Mas Rifki ada yang bertanya nih boleh ya
- disampaikan
- boleh
- jadi dari Ibu Ida dukungan orang sekitar
- penting seperti yang tadi dilakukan.
- Apa dong yang bisa saya lakukan untuk
- membuat orang di rumah saya, ayah ibu
- itu sudah di atas 65 tahun merasa
- dihargai dan dihormati? Karena saya
- kadang-kadang takut salah.
- Terima kasih.
- Iya. Iya. Oke. Ee silakan Mas Rifki.
- Oke, Bu Ida. Ee jadi sebetulnya untuk
- membuat semua orang dihargai, ciptakan
- lingkungan yang enak dulu deh, gitu.
- Bisa mungkin makan makan malam, gendarin
- malam bareng
- atau bisa jadi liburan bareng.
- Itu itu biasanya yang sangat
- diidam-idamkan oleh lansia ya.
- Heeh.
- Liburan bareng anak, liburan bareng
- cucu. Nah, di situ kan mungkin akan
- timbul tuh unek-unek terus.
- Karena apa? Karena ketika liburan
- biasanya ee timbul
- ee sifat-sifat asli dari individu.
- Heeh.
- Heeh.
- Siapa yang egonya paling tinggi? Siapa
- yang membutuhkan? Siapa yang mau
- didengar? Pada saat liburan itu setiap
- penelitian
- itu kita kelihatan. Nah, bisa jadi
- liburan deh, piknik gitu.
- Iya.
- Nah, nanti di situ kita lihat kalau
- misalnya memang ada yang lebih tinggi
- egonya dan memang ada yang mau
- disampaikan itu nanti akan kelihatan.
- Iya.
- Iya.
- Gitu. Terus kalau kalau misalnya enggak
- bisa liburan ya tadi makan malam aja
- bareng atau makan bersama.
- Iya.
- Atau mungkin lebih intens kumpul
- keluarga
- ee menimbulkan forum-forum yang memang
- bikin nyaman
- gitu. Jadi kita yang harus menciptakan
- suasana itu ya.
- Betul. Kita kita yang sadar
- karena harus ada harus ada satu individu
- yang satu keluarga enggak boleh saling
- cuek sama sekali.
- Iya.
- Oke. Satu lagi nih dari Pak Sudiarto.
- Usia sudah ee tidak disebutkan di sini
- pegawai kos. Oh, pegawai yang kos di
- tempat kosnya bapaknya sudah berusia 70
- tahun.
- Heeh. Apa dong yang bisa saya lakukan
- mendengar siaran ini? Jadi tertarik deh.
- Bagaimana menunjukkan peduli dan empati
- kepada yang punya kos-kosan kami yang
- sudah usianya 70 tahun itu. Dia pendiam
- soalnya, Mbak Nuning. Ohoh. Gimana nih,
- Mas Rifki?
- Ajak ngobrol, Mas. Pakarto ajak ngobrol
- dulu deh. Kalau enggak ajak ngobrol,
- kalau agamanya Islam, ajak salat bareng
- ke masjid.
- itu itu sangat merasa dihargai tuh
- pasti.
- Iya.
- Nah, kalau misalnya sudah ajak baleng
- seorang ke masjid,
- Mas Sujar tuh bisa beli makanan ke
- Goofood, makan bareng, sharing.
- Iya, iya, iya. [tertawa]
- Nah, itu itu yang yang dirasakan banyak
- lansia itu mereka dihargainya mulai dari
- hal sekecil sesepele itu.
- Iya. Iya.
- Enggak usah kita ekspektasi kita harus
- ngobrol tentang pekerjaan latar belak.
- hal-hal sesepelek kita ajak
- kalau misalnya waktunya ibadah kita ajak
- ibadah bareng.
- Iya setuju.
- Terus kalau misalnya ada kalau ada
- event-event di lingkungan ee
- kehidupannya kita libatkan kerja bakti
- misalnya atau misalnya jadi DKM.
- Jadi DKM di nah itu mereka senang banget
- tuh pasti.
- Iya iya berharga ya.
- Karena karena
- betul karena kan semasa mereka kerja
- mereka sangat diakui ya.
- Betul. Mereka sangat diakui, mereka
- sangat diterima, mereka sangat dilihat,
- dipandang.
- Betul. Betul.
- Cara seperti itu dilibatkan lagi di
- organisasi sekitar.
- Terus pemikirannya kita gunakan kembali.
- He.
- Lewat misalnya, lewat individu yang ee
- penasihat Karang Taruna bisa jadi gitu
- ya.
- Nah, itu menjadi solusi
- sebetulnya bagi mereka-mereka yang ee
- pendiam. Nah, bisa jadi diamnya ee Bapak
- Kos itu kan kita tanda tanya ya, apakah
- dia dia ee dalam sisi ada sisi masalah
- psikologis atau memang orangnya
- introvert.
- Oke.
- Oke,
- Mbak Mona satu lagi Mbak Mona nih
- ee soal rumah yang ramah lansia tadi ini
- dari ee tidak disebutkan namanya Mas
- Rifki. Saya pernah dengar ada kok di
- tempat kita ini di Jakarta perumahan
- yang untuk lansia itu bahkan terkoneksi
- satu rumah dengan rumah yang lain. Ada
- pintu yang terhubung.
- Iya. Luar biasa. Itu banget.
- Cuman waktu itu saya tidak ee enggeh
- banget ada di lokasi mana.
- Iya informasinya terima kasih ya.
- Oke, Mbak Mana silakan. Oke, ee Mas
- Rifki terima kasih banyak sudah sharing.
- Ee ini ee menginspirasi dan
- mudah-mudahan ee makin banyak ee
- akademisi dan praktisi yang bisa
- mendukung untuk ee kita semua seluruh ee
- apa namanya? kekuatan bangsa ini baik
- dari pemerintah, dari organisasi sosial,
- dari akademisi, dari berbagai ee apa
- stakeholders untuk sama-sama mendukung
- lansia eh ramah lansia gitu ya ee
- program-program ramah lansia dan
- termasuk dari sisi bagaimana mendukung
- komunikasinya
- dari lansia ee sebagai bahasan dari ee
- ee sore hari ini ya. Terima kasih banyak
- untuk sharing-nya eh Mas Rifki.
- Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya.
- Siap. Kita bertemu secara langsung
- biar bisa 2 jam.
- Keren banget soalnya
- kita semua nih sudah senja usia.
- Iya sudah. [tertawa]
- Makasih ya Mas Rifki ya.
- Makasih Mas Rifki. Bye.
- Sama-sama.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Mbak Nuning. Saya mau tambahin beberapa
- hal.
- Iya dong.
- Jadi ee kalau tadi Mas Rifki membahas
- tentang bagaimana ee apa namanya
- perasaannya gitu ya, merasa terisolasi
- dan ee tantangan-tantangan yang terjadi
- dari pasangan dari dari dengan ee beda
- generasi tadi gitu ya, anak cucu yang
- beda gayanya, mereka lebih digital,
- mereka lebih informal gayanya. Sementara
- orang yang lebih senior itu cenderung
- lebih formal gaya-gayanya gitu ya.
- ee terus sulit untuk ngomongin
- perasaannya, enggak terbiasa
- mengekspresikan dulu kan. Udahlah diam
- aja deh kalau ada apa-apa gitu ya.
- Sementara mereka kalau mau
- mengekspresikan gayanya beda lagi ee
- merasa kesepian atau juga mereka merasa
- kehilangan bisa jadi sampai kehilangan
- makna hidup itu berat banget begitu ya.
- Ee ee apa namanya? Gaptek lagi ya.
- mending ee jadi e eh untung-untung
- kemampuan untuk minimal untuk media
- sosial oke gitu ya. Tapi kalau misalnya
- ada masalah-masalah dengan media sosial
- atau dengan gadget juga kadang-kadang
- masalah gitu ya. Eh maka supporting saya
- setuju banget tadi ya dari Mas Rifki ya.
- Supporting kita sebagai orang-orang yang
- bisa mendukung ee ee orang-orang yang
- sudah lansia di lingkungan kita gitu ya.
- Itu apa yang perlu kita lakukan gitu ya
- untuk mendukung mereka. Eh, bisa jadi
- mereka juga punya masalah fisik ya,
- gangguan fisik, pendengaran kurang jelas
- ngomongnya juga daya ingat juga dimensia
- ya. Jadinya ngomongnya miskomunikasi
- atau akhirnya udah deh saya enggak usah
- ngomong deh sama orang gitu ya. Nah,
- gimana caranya komunikasi dengan
- pasangan? ee
- yang perlu dilakukan adalah mau membuka
- diri tadi ee
- melihat ini transisi yang wajar dalam
- hidup gitu ya. Mau lebih dengerin, mau
- lebih ee dekat sama pasangan, mau lebih
- terbuka menyampaikan pikiran dan
- perasaan ee
- meskipun tadi ee sulit gitu ya, akhirnya
- sendiri-sendiri gitu ya. Karena kan
- kebutuhan pasangan itu ada yang ingin
- bareng, ingin sendiri. Mungkin bisa
- sama-sama memberikan ruang kalau mau
- sendiri, tapi juga bisa menjalankan
- rutinitas bersama. Jalan pagi bareng,
- olahraga bareng, masak berkebun, atau
- juga ee apa namanya? Ngobrol gitu ya. Ee
- karena kalau kita sudah saling terbuka
- bisa jadi maksudnya bisa saling mengerti
- pikiran dan perasaan. mau empati gitu
- ya, apa yang dia pikirin curhat,
- dengerin curhat itu bakal lebih enak. ee
- balik balik lagi menghormati ruang
- pribadi tadi ya ee dan adaptif dengan
- peran-peran baru. Terus sama anak kayak
- gimana ee yang perlu dilakukan sebagai
- ee lansia atau orang yang telah
- menjalani ee pensiun gitu ya ee bisa
- lebih ee jaga komunikasi dengan ee
- generasi yang berbeda dengan anak cucu
- begitu ya. Pahami cara berpikir mereka.
- Jadi ee ee yang bisa kita kendalikan
- adalah diri kita sendiri. Maka kita
- siapapun posisi kita, kita yang berusaha
- mengadaptasi. Ee orang-orang lain yang
- ada di lingkungan kita. Alhamdulillah
- juga bisa mengikuti ee upaya untuk
- mendukung ee kita. Tetapi yang perlu
- berubah adalah saya sendiri. Begitu ya.
- ee jaga ee bisa memahami orang yang
- berbeda gaya, berbeda ee kemampuan
- digital gitu ya. Malah malah bisa
- meminta tolong ee dekatin mereka dan
- bisa ngertiin mereka, hindari menggurui.
- Karena nanti kalau mereka misalnya
- ngerespon dengan enggak enak, nanti
- jadinya jadi ilfil juga gitu ya. Jadi
- pendengar yang baik. Anak-anak kadang
- juga butuh didengerin, bukan dinasehhati
- gitu ya. ee menghargai perspektif mereka
- karena sudah berbeda ya, sudah bukan
- anak-anak lagi gitu ya. Ee ee kemudian
- juga libatkan dalam kehidupan keluarga,
- dalam kegiatan-kegiatan keluarga. ajak
- main, diskusi, cerita, dongeng,
- ketemuan, membangun koneksi emosional,
- terus belajar teknologi. Ah, ini dia ya
- [tertawa] refleksi untuk ee orang-orang
- ee senior ya, lansia ya, belajar
- teknologi gimana caranya ee ee jadi ee
- kayak misalnya saya ngasih tahu sama ibu
- saya begitu ya. Nomor satu dicatat ya.
- Nomor satu ini dipencetnya ini, ini,
- ini. Nomor dua. Jadi enggak apa-apa ibu
- saya juga mau nulisin gitu ya. Ini nomor
- satu ini yang dipencet
- video atau menghapus foto atau apa
- informasi yang supaya tidak berlimpah
- ini banget bikin hang dan lain
- sebagainya itu juga di diajarkan dengan
- cara yang lebih pelan dan lain
- sebagainya sampai ditulis gitu ya. Saya
- setuju tadi dengan lingkungan sosial
- ikut komunitas, ikut RT RW, berbagi
- pengalaman ya manfaatkan orang-orang
- senior ee untuk bisa mengajar, bisa jadi
- ngaji, bisa jadi pembicara di majelis
- taklim, membimbing generasi muda atau
- juga ee ee ee apa menghindari untuk
- komentar negatif sama beda generasi
- karena memang generasi itu ee beda
- pendekatannya. sama satu lagi keluarga
- besar Mbak Nuning ya ee tetap jalin
- silaturahim dengan keluarga besar secara
- rutin ee ee ee kalau tadi ee dengan
- lingkungan teman-teman alumni dan lain
- sebagainya. Tapi keluarga besar itu
- adalah kekuatan ee menurut saya penting
- sekali ya acara-acara hadir untuk
- membangkitkan ee ikatan-ikatan lagi.
- Hindari ributan sampai misalnya ributan
- warisan atau isu-isu sensitif gitu ya.
- Dan bagaimana narik lagi supaya
- nilai-nilai luhur keluarga besar juga
- makin makin kuat gitu ya. Tetap hidup,
- tetap ada kedekatan kita karena memang
- ee keluarga itu betapa pentingnya gitu.
- Jadi ee pensiunan itu memang
- challenging gitu ya, komunikasinya
- berbeda dengan kehidupan ee biasa
- lainnya gitu. Gitu Mbak Nuning.
- Masyaallah keren banget ya. Jadi ikhwan
- akhwat, kesempatan untuk memahami
- orang yang lanjut usia, bisa yang
- serumah atau bisa juga tetangga dan
- sebagainya tadi sudah mempersuasi kita
- untuk ayo deh jangan diam aja katanya.
- Sementara kalau ada yang punya hobi
- menggambar, merenda, menulis ya itu juga
- bisa jadi kegiatan para senja usia.
- Iya. Sementara kalau
- tadi ada perumahan yang terkoneksi
- antara satu rumah
- cuman sayang mesti dicari di Google kali
- ya.
- Ee jadi ee kami di keluarga saya kita
- sudah mulai diskusiin lucu banget ya
- kita punya rumah connected satu sama
- lain satu rumah. Saya punya saudara yang
- punya kayak begitu Mbak Nun tetapi itu
- keluarga keluarga. Jadi bukan bukan ee
- bukan umum gitu.
- Umum. Iya iya
- iya. Biasanya Mbak Mona sejauh ini kita
- masih ada sedikit waktu. He.
- Orang pensiunan itu kalau diajak ngobrol
- tuh topik yang menarik bagi mereka apa
- selalu masa lalu? Enggak juga.
- Iya. Bisa masa lalu, bisa presentation
- saat ini mereka ngerasain apa yang
- mereka harapkan, apa yang mereka ee
- inginkan. Ee cita-cita ke depan. Jadi
- yang dulu, sekarang, dan masa datang
- yang connected relate sama mereka. itu
- yang perlu kita kita diskusikan, kita
- tanya, kita cari diskusinya yang menurut
- mereka tuh seru gitu. Itu itu ee apa ya
- resolve untuk mereka begitu, Mbak
- Nuning.
- Iya. Iya. Ya,
- kalau terkait dengan usia terus agak
- enggak dengar gitu, gimana caranya?
- Iya, ini tantangan ya. [tertawa]
- Ngomongnya bisa lebih pelan, bisa lebih
- keras ya. pelan dan keras gitu ya. Itu
- lamban. Heeh.
- Heeh. Sampai terdengar, sampai sama
- makna. Di kepala kita jambu air, di
- kepala beliau jambu air juga gitu. Jadi
- dong tik gitu.
- Iya. Iya.
- Heeh.
- Terus kan kadang-kadang ketika kita
- ngobrol dengan ayah ibu
- Heeh.
- Ada saatnya kita memberikan ee masukan
- atau saran itu biar enggak nyinggung
- seperti apa komunikasinya. Ya, ini ini
- dari kitanya ya kepada orang tua ya.
- Muda. Heh.
- Ya, kita bisa ee sampaikan misalnya itu
- memang penting sekali ya dengan
- hati-hati ee ayah ibu sampaikan saja
- gitu ya bahwa menurut saya nih gitu ya
- ee begini begini begini gitu. Jadi kita
- sampaikan menurut pendapat saya begini
- begini begini ee apa namanya bisa saja
- ee ayah atau ibu punya pendapat yang
- berbeda. Saya pendapatnya begini dan
- alasannya kenapa rasional di balik ee
- piki apa ya yang kita sampaikan itu, itu
- membuat perbedaan gitu. Jadi orang tuh
- bisa ngerasa ini tulus, ini enggak
- tulus. Itu dari situ gitu, Mbak Nuning.
- Iya. Iya. Ada enggak sesuatu yang kalau
- bisa hindari bahas tentang bla bla bla
- terhadap ayah ibu gitu biasanya?
- Ee
- saya belum kebayang sekarang ya ee apa
- yang perlu dihindari. Ee
- kayaknya ketika memang itu penting itu
- perlu dibahas ya
- apapun ya
- enggak apa-apa. Heeh.
- Heeh. Karena memang
- keluarga kan gitu.
- Heeh.
- Dan kita waktunya sudah di penghujung.
- Bisa jadi kalau ada yang mau ditambahkan
- sebagai closing statement bahasan kita
- kali ini.
- Iya, terima kasih Mbak Nuning. Ee
- alhamdulillah hari ini kita ngebahas
- tentang komunikasi oke saat pensiun gitu
- ya atau ee ini relate dengan lansia. Dan
- alhamdulillah tadi sudah ada pakar ee
- yang membahas terkait yang melakukan
- penelitian terkait dengan ee apa namanya
- ee komunikasi dengan lansia atau dengan
- orang yang pensiun gitu ya. Ee kita
- sudah dengarkan dari Mas Rifki.
- Alhamdulillah. Terima kasih. Sebagai
- catatan ee
- komunikasi itu penting, kunci untuk
- keluar dari keterasingan. Karena orang
- yang cenderung sudah pensiun itu
- cenderung mengalami perubahan-perubahan
- dari biasanya aktif menjadi ee apa ee
- banyak di rumah begitu ya. ee maka
- bagaimana caranya kita tetap menemukan
- makna hidup kita sendiri yang sebagai
- orang yang sudah pensiun atau lansia
- perlu menemukan makna hidup, beradaptasi
- dengan perubahan karena yang pasti
- adalah perubahan dan berkomunikasi
- secara empati itu menyembuhkan diri kita
- sendiri dan untuk ee bikin ee hubungan
- kita lebih bermakna membangun
- hubungan-hubungan baru. ee bahkan di
- saat yang paling sunyi di dalam hidup
- kita gitu ya, kita perlu ee berefleksi
- kembali dan berusaha untuk ee ee apa
- memperbaiki terus gitu komunikasi kita
- dengan lingkungan-lingkungan terdekat
- kita begitu.
- Ee dan terutama juga dekat komunikasi
- dengan Allah Subhanahu wa taala. Semoga
- bermanfaat diskusi kita hari ini, Mbak
- Nuning. Terima kasih.
- Insyaallah.
- Jadi untuk Mas Rifki terima kasih sekali
- burung merpati terbang tinggi
- hinggap di dahan pohon cemara. Terima
- kasih hadirnya Mas Rifki mempersuasi
- lansia untuk bicara. Mbak Mona juga
- terima kasih banyak ya. Mudah-mudahan di
- kesempatan lain karena banyak juga yang
- lansia tuh merasa perlu banget
- mendapatkan tambahan-tambahan seperti
- ini.
- Betul. Yang jelas lagi satu lagi ah
- pantunnya.
- Petik bunga di Taman Indah rangkai dalam
- pot bunga cantik. Masa pensiun tiba
- sudah tapi komunikasi tetap menarik.
- Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.