Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Assalamualaikum
- warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillahirobbil alamin
- wabihi nastain
- ala umuriddunya waddin
- wal aqibatulil muttaqin
- wala udwana illa aladzolimin.
- Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la
- syarikalah
- wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa
- rasuluh.
- Allahumma sholli wasallim ala hadzan
- nabiyil amin
- sayyidina wa maulana Muhammadin
- wa ala alihi wa ashabihi wattabiin
- waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin.
- Amma ba'd.
- Ikhwan, akhwat
- para pendengar
- Radio Silaturahim
- dan pemirsa
- Rasul TV
- yang kami cintai dan kami muliakan
- malam hari ini
- dengan bersyukur kehadirat Allah atas
- rahmat dan taufiknya
- alhamdulillah kita dapat jumpa kembali
- dalam tausiah malam.
- Semoga acara ini dapat mengantarkan kita
- pada pemahaman yang lurus terhadap
- ajaran agama
- dan dapat kita amalkan dalam kehidupan
- sehari-hari, amin ya rabbal alamin.
- Ikhwan dan akhwat sekalian
- ketika saya masih sekolah di SMP
- waktu itu di kelas 2
- ada
- orang tua dari teman saya
- yang meninggal.
- Kemudian
- bersama teman-teman
- dari satu kelas
- dan juga kelas lain
- kami datang bertakziah
- ke rumah
- teman saya
- yang baru ditinggalkan oleh orang
- tuanya.
- Suasana duka sangat terasa.
- Dan kita dengar
- tangisan-tangisan
- dari mereka yang ditinggalkan.
- Dalam suasana seperti itu
- tiba-tiba ada seorang yang
- memperingatkan dengan keras
- "Ayo kamu jangan menangis!
- Jangan ditangisi!
- Kalau kamu tangisi
- nanti orang tuamu disiksa."
- Nah, ini kalimatnya.
- Kalimatnya demikian.
- Jadi
- kata orang itu dengan suara yang keras
- dan lantang
- "Kalau mayit itu ditangisi keluarganya
- maka
- orang tuanya disiksa."
- Waktu itu karena saya masih SMP
- ya saya diam saja.
- Tapi dalam hati saya
- kok
- masa sih begitu?
- Padahal menangis itu kan suatu yang
- fitrah.
- Sesuatu yang tidak bisa dihindari.
- Ya.
- Nah, ternyata ikhwan dan akhwat sekalian
- setelah saya memasuki perguruan tinggi
- kemudian saya kaji lebih jauh
- oh, ternyata
- pemahaman-pemahaman seperti itu
- sudah berkembang di masyarakat.
- Bahwa
- apabila
- seorang mayit
- ya, atau jenazah
- ditangisi
- oleh keluarganya
- maka akan disiksa.
- Itu pemahaman pada umumnya.
- Nah, sesungguhnya ikhwan dan akhwat
- sekalian setelah kita
- pelajari lebih jauh
- ya
- itu pemahaman sebetulnya
- keliru.
- Mengapa? Karena
- dia tidak memahami
- asbabul wurud dari hadis itu.
- Memang hadisnya kalau dipahami secara
- lahiriahnya demikian.
- Innal mayyita
- la yu'azzabu
- bibuka'i ahlihi alaih, itu kalimatnya
- itu.
- Innal mayyita la yu'azzabu, sesungguhnya
- mayit itu
- la yu'azzabu menggunakan lam ta'kid
- lagi, pasti akan disiksa
- dengan tangisan keluarganya terhadapnya.
- Nah, setelah saya kaji
- tentang naqdul hadis
- kritik hadis dan sebagainya
- ternyata ikhwan dan akhwat
- saya jumpai dalam hadis-hadis sahih
- ya, sebagian teksnya saya bacakan di
- sini supaya jelas
- hadis Abdillah Ibni Umar
- jadi hadis dari Abdullah bin Umar
- wa Umar dan dari Umar sendiri, Umar bin
- Khattab.
- Wa Aisyah dan dari Aisyah.
- Jadi, sahabat-sahabat besar semua ini.
- Ibnu Umar
- Umar bin Khattab, Aisyah.
- An Abdillah ibni Ubaidillah.
- Dari Abdillah bin Ubaidillah
- bin Abi Mulaikah.
- Jadi
- di sini disebutkan
- dari Abdillah bin Ubaidillah
- ibni Abi Mulaikah.
- Qala, dia menginformasikan
- tufiyat ibnatun li Utsman, katanya.
- Telah wafat atau meninggal
- salah seorang putri
- atau anak perempuan
- dari sahabat Utsman
- radhiallahu anhu, semoga Allah
- meridhoinya.
- Bi Makkata, di Mekkah.
- Nah, jadi Abdullah ini meriwayatkan
- bahwa
- putrinya
- Sayyidina Utsman bin Affan
- meninggal di Mekkah.
- Waji'na linasyhada.
- Dan kami datang
- ke rumah Utsman itu untuk
- menyaksikannya.
- Wahadharaha ibnu Umar.
- Dan ternyata
- Ibnu Umar juga hadir.
- Abdullah bin Umar atau Ibnu Umar.
- Wa ibnu Abbasin dan Ibnu Abbas juga
- hadir di situ.
- Di rumahnya Utsman.
- Wa inni lajalisu bainahuma.
- Sesungguhnya aku duduk di antara Ibnu
- Umar dan Ibnu Abbas, kata Abdullah.
- Nah, jadi
- beliau duduk diantara Ibnu Abbas dan
- Ibnu Umar.
- Au qola jalastu ila ahadihima.
- Atau
- sebagian menjelaskan bahwa aku duduk di
- samping salah satunya.
- Di samping
- Ibnu Umar atau di samping Ibnu Abbas.
- Summa jaa al akhoru.
- Kemudian datang
- orang yang lain.
- Fajalasah ila jambi, maka
- dia duduk di sampingku.
- Faqola maka berkatalah
- Abdullah ib Abdullah Ibnu Umar.
- Berkatalah Abdullah bin Umar
- li Amr ibnu li Amr ibnu Utsman.
- Abdullah bin Umar berkata kepada
- Amr bin Utsman.
- Ala tanhaa anil buka i gitu.
- Tidakkah kamu melarang mereka menangis?
- Menangisi
- wafatnya seorang tadi.
- Fainna Rasulullah Shallallahu alaihi
- wasallam qol.
- Maka sesungguhnya Rasulullah Shallallahu
- alaihi wasallam bersabda kata dia.
- Innal mayyita
- layuadzabu
- bibukai ahlihi alaih.
- Sesungguhnya mayit itu pasti akan
- disiksa
- dengan tangisan
- keluarganya atasnya.
- Nah, ini tak hadisnya demikian.
- Waqola Ibnu Abbas.
- Berkatalah Ibnu Abbas.
- Qod Umar radhiallahu anhu yaqul
- Demikian juga Umar kata beliau telah
- menyatakan kalimat ini
- Ba'du dzalika sebagian dari kalimat
- tersebut
- Summa haddasa kemudian dia menceritakan
- Kata Ibnu Abbas
- Sudartu ma Umar radhiallahu anhu
- Saya lakukan perjalanan bersama Umar
- radhiallahu anhu
- Min Makkata dari Mekkah
- Ya jadi beliau melakukan perjalanan
- bersama
- Umar Ibnu Abbas ini
- Dari Mekkah
- Hatta idza kunna
- Bil Baida
- Ketika kami sampai di Baida suatu nama
- suatu tempat
- Idza huwa bi raqbin
- Tahta dzilli samurat
- Ya tiba-tiba
- Dijumpai ada sekelompok orang
- Yang bernaung di bawah pohon samura
- Nama suatu pohon
- Ini waktu
- Ibnu Abbas dengan perjalanan dengan Umar
- dari Mekkah sampai di Baida dia jumpai
- ada serombongan orang bernaung di bawah
- pohon samura
- Faqola maka berkatalah Umar
- Idzhab
- Fanzur man haula
- Pergilah wahai Ibnu Abbas lihatlah siapa
- mereka itu
- Qola
- Fanadzartu
- Ibnu Abbas mengatakan maka aku
- Mendekat ke sana
- Dan aku melihatnya
- Faidza Suhaibun
- Ternyata di sana kami jumpai Suhaib
- Faakhbartuhu maka aku beritakan kepada
- Umar
- Wahai Umar ternyata
- Yang ada di bawah pohon samura itu
- adalah Suhaib
- Faqola ad'uhu li
- Umar berkata, "Panggil dia padaku."
- Maka aku
- Kata Abdullah.
- Maka aku berkata kepada Suhail.
- "Berangkatlah kamu
- dan temuilah
- ya
- Amirul Mukminin."
- Inilah
- gelar untuk
- Umar bin Khattab.
- Dan Abu Bakar itu
- gelarnya Khalifatu Rasulillah. Supaya
- jelas ini.
- Abu Bakar pengganti Rasulullah sebagai
- kepala negara, bukan sebagai nabi.
- Nah, setelah
- Abu Bakar wafat
- Umar menggantikan Abu Bakar.
- Enggak lagi disebut Khalifah, enggak.
- Kalau Khalifah Khalifatu Abu Bakrin,
- Khalifatu Rasulullah itu terlalu
- panjang.
- Maka beliau dapat gelar Amirul Mukminin,
- pemimpin orang-orang mukmin. Demikian
- juga Sayyidina Utsman bin Affan mendapat
- gelar Amirul Mukminin. Demikian juga
- Ali, Sayyidina Ali bin Abi Thalib
- mendapatkan gelar Amirul Mukminin.
- Ketika Umar bin Khattab terkena musibah.
- Waktu itu beliau akan melaksanakan salat
- menjadi imam.
- Salat subuh.
- Tiba-tiba beliau ditusuk
- oleh Abu Lu'lu'ah.
- Seorang Persia yang dia merasa geram
- pada Umar, benci pada Umar
- karena Umar dapat
- mengalahkan
- Persia. Kemudian
- Umar tidak langsung meninggal.
- Beliau mengatakan
- ya
- ini saya terasa ada orang menusuk saya
- atau mungkin saya digigit oleh
- binatang buas kata Umar.
- Ternyata beliau ditusuk
- dan maaf ikhwan dan akhwat sekalian
- ini
- perutnya ini
- ya
- sampai mengeluarkan air.
- Waktu itu kan belum ada operasi ya,
- belum zaman
- sehingga setiap beliau minum air keluar.
- Nah, pada saat seperti itulah
- Dakhola Suhaibun, Suhaibun
- masuk Suhaib
- ke rumah Umar melihat Umar seperti itu
- yabki dia menangis.
- Yaqul
- wa akho
- wa sohibah katanya.
- Waduh saudaraku Umar, wahai sahabatku
- Umar.
- Sebaliknya Umar bin Khattab dengan tegas
- mengatakan faqola Umaru
- berkatalah Umar radhiallahu anhu semoga
- Allah meridhoinya ya Suhaibu
- katanya
- atabki
- alaiya
- apakah kamu menangisi aku?
- Waqod qola padahal telah bersabda
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- innal mayyita
- yu'adzabu
- biba'di buka'i ahlihi alaihi,
- sesungguhnya mayit itu
- akan disiksa
- dengan sebagian tangisan dari
- keluarganya atasnya, jadi hampir sama
- dengan hadis tadi.
- Jadi Ibnu Abbas meriwayatkan Umar
- melihatkan juga.
- Nanti kita lihat ikhwan sekalian, akhwat
- ya
- bagaimana selanjutnya?
- Qala Ibnu Abbas.
- Berkatalah Ibnu Abbas.
- Falam mata Umar.
- Tatkala Umar wafat.
- Mata, meninggal atau mati.
- Ya, bahasa halusnya wafat.
- Atau meninggal.
- Radhiallahu anhu, semoga Allah
- meridhoinya.
- Zakartu dzalika li Aisyah kata Ibnu
- Abbas.
- Saya menceritakan hadis tadi.
- Innal mayyita. Layuadzabu bibukai ahlihi
- alaihi.
- Hadis tadi.
- Ya, bahwasanya mayit itu disiksa karena.
- Tangisan keluarganya atasnya.
- Ini diceritakan oleh Ibnu Abbas kepada
- Aisyah radhiallahu anha, Sayyidah
- Aisyah.
- Istri Nabi.
- Wanita yang sangat cerdas.
- Banyak meriwayatkan hadis.
- Dipangkuannya Nabi wafat.
- Aisyah ini.
- Faqalat.
- Tiba-tiba Aisyah berkomentar mengenai.
- Hadis tadi.
- Rahimahullahu Umar kata beliau, kata
- Sayyidah Aisyah.
- Semoga Allah merahmati Umar.
- Wallahi, demi Allah katanya.
- Mahaddasa Rasulullah Shallallahu alaihi
- wasallam, Nabi enggak pernah
- menceritakan hadis seperti itu.
- Ya, innallaha.
- Layuadzabul mukmina.
- Innallaha layuadzibul mukmina bibukai
- ahlihi alaihi.
- Hadis yang menjelaskan bahwa Allah akan
- menyiksa seorang mukmin.
- Karena tangisan keluarganya atasnya.
- Saya ulang bacaannya.
- Innallaha
- la yu'adzibu al mukmina, sesungguhnya
- Allah menyiksa orang mukmin
- bi buka'i ahlihi alaihi, karena tangisan
- keluarganya atasnya.
- Walakin, akan tetapi kata Aisyah
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- qala bersabda
- Innallaha la yazidul kafiro adzaban
- bi buka'i ahlihi alaihi, sesungguhnya
- Allah akan menambah siksa atas
- orang-orang kafir
- ya
- bi buka'i ahlihi karena ee
- dengan tangisan keluarganya atasnya.
- Jadi di sini dipahami
- ya
- seorang itu disiksa
- karena dia kafirnya
- karena dia dosa ya.
- Kata beliau, Sayyidah Aisyah mengatakan
- hasbukumul Quran
- cukup bagi kalian Alquran
- wala taziru wazirotun wizro ukhro, kata
- Sayyidah Aisyah.
- Tidak ada seorang yang berdosa
- menanggung dosa orang lain. Artinya
- dalam ayat ini, ini Alquran ini
- menegaskan bahwa tidak ada orang
- menanggung dosa orang lain.
- Masing-masing orang menanggung dosanya
- sendiri.
- Jadi enggak masuk akal kalau ada
- mayit ditangisi kok yang disiksa
- mayitnya
- ya gitu ya, padahal yang berbuatkan
- orang lain
- ya.
- Qala Ibnu Abbas inda dzalik
- ya, kemudian Ibnu Abbas mengomentari
- juga mengenai hal ini.
- Wallahu huwa adhhaka wa abka
- sesungguhnya Allahlah yang membuat
- seorang itu
- tertawa atau menangis
- bukan kehendak kita
- ya
- kita menangis itu bukan kehendak kita,
- Allah yang menjadikan kita menangis.
- Faqola Ibnu
- Abi Mulaikah, berkatalah Ibnu Abi
- Mulaikah
- Wallahi ma qola Ibnu Umar syai'an.
- Ya, jelas, memp- memperhatikan
- kritik hadis dari Aisyah tadi
- kata
- Abi Mulaikah
- Ibnu Umar dia
- enggak bicara sedikitpun.
- Mengapa?
- Karena Sayyidah Aisyah
- tahu asbabul wurudnya.
- Background dari turunnya hadis itu.
- Haditsu Aisyah, hadis berikutnya juga
- hadis dari Aisyah.
- Wa Ibnu Umar dan Ibnu Umar
- Wa Urwata dan Urwah
- qola
- zukiro inda Aisyah
- disebutkan di samping Aisyah
- annabna Umar
- rofa'a ilannabi Shallallahu alaihi
- wasallam. Maksudnya
- Ibnu Umar
- meriwayatkan hadis marfu' yang sampai
- kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam
- annal mayyita sesungguhnya mayit itu
- yu'azzabu fi qobrihi
- disiksa dalam kuburnya
- bibukai ahlihi karena tangisan
- keluarganya.
- Faqolat
- berkata Aisyah
- wahal Ibnu Umar
- rahimahullah
- Ibnu Umar keliru kata beliau.
- Semoga Allah meridhoinya.
- Semoga Allah merahmatinya. Innamakola
- Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,
- sesungguhnya Rasulullah Shallallahu
- alaihi wasallam bersabda
- innahu la yu'azzabu bi khoti'atihi wa
- dzanbihi.
- Kata beliau, Rasulullah sabdanya enggak
- begitu.
- Kata Nabi in kata Aisyah ini, Nabi
- menyatakan innahu la yu'azzabu
- bi khoti'atihi dzanbihi
- sesungguhnya
- seseorang itu disiksa, pasti disiksa bi
- khotiatihi sebab kesalahannya
- wa dzanbihi dan dosanya
- bukan karena tangisan
- tapi
- oleh dosanya
- oleh kesalahannya, jadi ini masuk akal
- ya
- dia yang bersalah, dia yang
- berdosa, dia yang disiksa
- wa inna ahlu la yabkuna alaihi al an,
- sedangkan keluarganya menangisi dia, nah
- jadi gitu
- kisahnya
- ya
- Sayyidah Aisyah meriwayatkan dalam hadis
- yang lain untuk melengkapi hadis ini
- dalam suatu perjalanan Rasulullah dengan
- para sahabat
- beliau jumpai
- ada satu keluarga Yahudi
- yang menangisi
- kuburan ibunya
- lalu Rasul menyampaikan pada mereka
- ya, para sahabat dengar sewaktu itu
- kata Nabi, oh
- mereka menangisi orang tuanya
- padahal dia sedang disiksa
- nah orang mengira
- sahabat mengira dipahami, oh disiksa
- karena ditangisi keluarganya, padahal
- bukan, dia disiksa karena dia orang
- Yahudi
- nah gitu ya, nah jadi disitu eh ada slip
- pemahaman ya dari
- para sahabat, maka Aisyah
- kritik Aisyah luruskan
- ya jadi
- eh kemudian
- di dalam keterangan yang lain kami
- jumpai
- yang tidak boleh itu
- ya jadi kalau menangis yang wajar boleh,
- enggak apa-apa Rasulullah juga
- mengeluarkan air mata
- menangis waktu
- eh
- putrinya meninggal, waktu putranya
- meninggal Ibrahim bin Muhammad juga,
- waktu ditanya Nabi
- "Haza rahmatun", ini air mata rahmat
- katanya.
- Kemudian
- apa yang enggak boleh? Yang enggak boleh
- itu menangis berlebihan.
- Yang disebut niyahah.
- Dalam bahasa Arab itu, ya dalam
- kalimat-kalimat hadis yang lain itu.
- Ya, niyahah atau niyahah.
- Itu menangis berlebihan, merobek-robek
- baju, membanting badan, menendang ini,
- nah itu yang enggak boleh. Ya, meratapi
- secara berlebihan.
- Tapi kalau menangis yang wajar enggak
- apa-apa. Nah, jadi inilah saya kira
- ikhwan dan akhwat sekalian
- beberapa hadis saya bacakan.
- Nanti pada kesempatan lain saya baca
- lagi hadis yang lebih jauh tentang
- larangan
- niyahah tadi, ya. Larangan meratapi
- secara berlebihan itu ada. Nah, jadi
- maksud waktu saya SMP tadi, ya ada ada
- eh semacam tokoh di situ mengatakan
- eh jangan menangisi maksudnya jangan
- meratapi secara berlebihan. Tapi
- menangisi biasa itu enggak enggak ada
- masalah. Demikian ikhwan dan akhwat
- sekalian, ya. Ini eh yang kami bacakan
- adalah hadis mattafaqal Bukhari wa
- Muslim. Hadis sahih yang disepakati oleh
- Imam Bukhari dan Muslim. Ya,
- mudah-mudahan bermanfaat
- dan insyaallah kita akan lanjutkan
- dialog
- dalam kajian ini.
- Mudah-mudahan kita bisa mengambil dengan
- baik sehingga kita kita tidak keliru,
- ya. Demikian
- wal afwu minkum wassalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.