Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Brail [bernyanyi]
- TV.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat
- rahimakumullah.
- Alhamdulillah ya kita bisa bersama-sama
- kembali di psikologi keluarga dari Radio
- Silaturahim. yang mudah-mudahan akan
- mempersuasi kita, memotivasi kita untuk
- bisa menjadi lebih pas banget sebagai di
- rumah sebagai akun, sebagai suami,
- istri, nenek ataupun juga bisa jadi
- kalau ini dinikmati oleh anak-anak kita.
- Mudah-mudahan semuanya sehat, bugar,
- aman, terkendali. Tidak lupa salam
- selawat kita lantunkan untuk junjungan
- umat kekasih kita Muhammad Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak
- kita mendapatkan syafaat beliau dan
- dipertemukan dengan beliau di saat yang
- sangat kita rindukan di yaumil akhir.
- Ikhwan akhwat, untuk pagi ini seperti
- biasa Ustaz Husein dan Ustaz Abu Bakar
- sudah siap untuk membahas kasus-kasus
- yang [berdehem] masuk.
- Asalamualaikum Ustaz Husein, Ustaz Abu
- Bakar.
- Waalaikumsalam warahmatullah.
- Dan sebelum [berdehem] kita mulai sekali
- lagi mudah-mudahan kita mendapatkan
- limpahan berkah kita sama-sama membaca
- umul kita.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim
- maiki yaumiddin.
- Iyaka na'budu wa iyyaka nasta
- ihdinasirathal
- mustaqimathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim waladin.
- Amin. Alhamdulillah. [berdehem]
- Jadi, Ustaz em ikhwan akhwat, ada dua
- kasus yang
- akan dibahas pada kali ini
- dari Bunda Salwa yang ada di Sukabumi.
- Asalamualaikum, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullah.
- Saya berusaha mendidik anak dengan
- disiplin, membatasi mereka dengan
- gadget, HP, laptop. Tapi setiap kali ada
- di rumah kakek atau neneknya, anak saya
- ini dimanja habis-habisan.
- Diberikan apa saja yang kalau di rumah
- saya larang, termasuk ngasih jajanan
- atau makanan yang tidak sehat. Ustaz,
- akibatnya anak saya jadi membangkang.
- gimana caranya memberitahu orang tua
- kami untuk ee agar tidak terlalu ikut
- campur di dalam pola asuh anak-anak
- kami, begitu juga mertua, tapi jangan
- sampai memutuskan silaturahmi.
- Itu kasus yang pertama, Ustaz. Kemudian
- yang kedua masih terkait dengan buah
- hati nih, Ikhwan Akhwat dari Tangerang.
- Asalamualaikum, Ustaz. Anak remaja saya
- tiba-tiba jadi sangat tertutup. Mengunci
- diri di kamar, tidak menjawab, dan kalau
- ditanya ketus jawabannya, saya takut dia
- terpengaruh lingkungan buruk atau dia
- depresi. Kalau saya bersikap tegas, tahu
- enggak, Ustaz? Dia mengancam akan pergi
- dari rumah. Bagaimana pendekatan agama
- untuk melembutkan hati anak-anak? Apa
- langkah pertama secara psikologis untuk
- menembus tembok komunikasi remaja ini,
- Ustaz? Terima kasih. Ya, itu dua kasus
- ikhwan akhwat yang akan dibahas
- [berdehem] pada pagi ini. Mari kita
- simak dengan telinga [berdehem] jiwa
- kita. Silakan, Ust.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil
- alamin. Allahumma sholli wasallim
- wabarik ala abdika waasulika sayyidina
- Muhammadin
- wa alihi wasahbihi wik wasallim.
- Subhanaka la ilma lana illa maamtana
- innaka antal alimul hakim. Wala haula
- wala quwwata illa billahil.
- Alamualaika ya Rasulullah. Asalamualain.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi [berdehem]
- wabarakatuh.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah.
- Kembali berjumpa alhamdulillah
- bersama
- narasumber kita yang tidak asing lagi
- Ustaz Abu Bakar. Insyaallah
- pertemuan kita selalu memberikan
- harapan, mencerahkan, mentalamkan,
- menyibukkan,
- dan dapat betul-betul memberikan manfaat
- bagi ayah, ibu, maupun bagi anak-anak
- kita semua, bagi pasangan, suami istri
- dan kita dapat [berdehem] berperan aktif
- dalam membawa kebaikan, beramar makruf
- Sebagaimana yang Allah perintahkan
- kepada kita semua karena kita merupakan
- makhluk sosial.
- Apabila ada satu keburukan dalam
- lingkungan kita, kita biarkan maka
- keburukan tersebut akan mengular
- di tengah-tengah kita semuanya. Oleh
- karena itu, penting sekali kita selalu
- berusaha untuk menjaga yang makruf,
- tetap menjadi opini masyarakat.
- menjadi kebiasaan mereka, kesibukan
- sehari mereka. Walaupun tidak mungkin
- kita menghilangkan yang mungkar sama
- sekali, tapi yang mungkar menyembunyikan
- diri, tak punya keberanian untuk
- menampakkan kepalanya atau mengajak
- orang lain untuk ikut serta bersama
- mereka. [berdehem]
- Kita semua menyadari
- bagaimana pengaruh gadget dalam
- kehidupan kita.
- Ternyata bukan hanya pada anak-anak yang
- belum dewasa,
- orang-orang tua pun kita jumpai
- bagaimana mereka dipengaruhi oleh
- kecanduan gadget. Suami istri berada di
- ruangan yang sama, tapi ternyata suami
- sibuk dengan mainannya,
- istri sibuk dengan mainannya. Kalau
- ingin berkomunikasi dia panggil
- pasangannya tidak menjawab. Maka dia
- telepon baru
- dia apa?
- Dia ya memberikan jawaban. Terkadang
- bahkan jawabannya tidak mengenakkan.
- Kamu enggak tahu saya sedang ada
- pekerjaan,
- saya sedang ada kesibukan.
- Jadi kalau kita perhatikan bagaimana
- jarak di antara anggota keluarga
- masyarakat semakin berjauhan disebabkan
- karena apa? Karena jej
- memang kita sadari ada kebutuhan tapi
- banyak bahaya. Begitu pula racun yang
- disebarkan.
- Oleh karena itu Allah Subhanahu wa taala
- berfirman dalam surah at-Tahrim,
- Allah berfirman mengingatkan kita semua.
- Bukan hanya sebagian mengingatkan kita
- semua
- anggota keluarga ataupun masyarakat
- dalam kebersamaan menjaga yang makruf,
- menjaga diri kita agar tetap di atas rel
- kebenaran
- [mendengus]
- dan berupaya untuk menjauhi segala hal
- yang akan dapat merusak kesucian,
- kehormatan, demikian pula keseimbangan
- hidup kita. Allah berfirman, "Ya
- ayyuhalladzina amanu qu anfusakum
- wahlikum."
- Wahai orang-orang yang beriman, jagalah,
- lindungilah diri kalian dari azab api
- neraka. [mendengus]
- Maksud ayat ini, kita melindungi anak
- kita, keluarga kita, diri kita dari
- perbuatan-perbuatan, perilaku, kebiasaan
- yang bisa menjerumuskan kita ke dalam
- api neraka.
- [berdehem]
- dengan sendirinya butuh kerja sama.
- Tidak mungkin suami bekerja, istri tidak
- membantu atau istri peduli, prihatin,
- suami tidak ikut bekerja sama. Itu
- mustahil. Begitu juga tidak mungkin satu
- keluarga menjaga berhati-hati, tapi
- tetangga di sekitarnya tidak punya
- kepedulian.
- Akhirnya kita di rumah bersama anak
- kita, kita mengawasi mereka. Begitu anak
- kita keluar berinteraksi dengan
- teman-temannya, pengaruh teman begitu
- kuat.
- Dan kita harus tahu jiwa manusia itu
- condong pada hal-hal yang bagaimana?
- Yang menyenangkan
- tanpa mempertimbangkan akibatnya. Oleh
- karena itu ketika Nabi Allah Yusuf
- dipuji karena begitu apa? begitu kuat
- mengendalikan dirinya di hadapan godaan
- wanita yang memiliki kedudukan yang
- cantik jelita, tapi dia lebih rela untuk
- masuk ke dalam penjara daripada
- mengikuti nafsu mereka.
- Beliau mengatakan, "Wama ubarriu nafsi."
- Bukan saya ini yang membersihkan,
- mensucikan jiwa saya.
- Innan nafsamaratun.
- Karena jiwa manusia ini apa? condong ke
- arah yang buruk.
- Sebetulnya bukan condong ke arah yang
- buruk secara langsung, tapi condong
- kepada segala yang menyenangkan.
- Condong kepada segala yang selaras
- sesuai dengan hawa nafsu. Adapun
- akibatnya itu jarang dipertimbangkan
- oleh kebanyakan orang.
- Jadi maksudnya hawa naf jiwa manusia
- dicondong kepada apa saja yang
- menyenangkan, yang memuaskan nafsunya,
- yang memberikan dia kebebasan.
- Maka dalam ayat ini diungkapkan condong
- kepada keburukan.
- Illa ma rahima inna rabbi gfurur rahim.
- Kecuali orang yang memang apa? Masuk ke
- dalam rahmat Tuhanku.
- Hatinya selalu ingat Allah.
- Kemudian dia memohon perlindungan kepada
- Allah Subhanahu wa taala mengikuti
- bimbingan petunjuknya yang menjaga
- mengendalikan dirinya dari tipu daya
- setan dan perangkap hawa nafsu.
- Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa
- taala dalam suratul Ankabut berfirman,
- "Watlu ma uh uhiya ilaika min kitabik."
- Bacalah, renungkanlah apa yang
- diwahyukan kepadamu dari kitab Tuhan.
- Waqimah dan dirikan salah.
- Sesungguhnya salat akan mencegah diri
- kita dari perbuatan keji dan mungkar.
- Maksud mencegah di sini dengan hati kita
- mengingat Allah,
- kita juga selalu bersahaja di
- hadapannya, memohon pertolongannya.
- Allah akan lindungi kita dari setan yang
- berada di tempat gelap sedangkan kita di
- tempat terang. Bagaimana kita mau
- menghadapi setan? Dia di tempat
- gelap, kita di tempat terang. Dia
- melihat kita, kita tidak melihat
- dirinya. Jalan satu-satunya hanya kita
- berlindung kepada yang maha tahu, yang
- maha kuasa lagi maha pengasih dan
- penyayang.
- Jadi membaca ayat-ayat Allah membuat
- wawasan kita
- tercerahkan. Kita memahami tujuan hidup,
- memahami apa yang harus kita lakukan
- dalam hidup ini menuju jalan keselamatan
- dunia maupun akhirat. Sedangkan salat
- menghubungkan kita dengan yang maha
- pengasih lagi maha penyayang. Yang maha
- kuasa atas segala sesuatu yang maha kuat
- dan setan tak berdaya sur Abu Bakar
- untuk mendekati orang-orang yang hatinya
- terhubung dengan Allah.
- [berdehem]
- Oleh karena itu dalam surah Azzuhruf
- Allah berfirman, "Wam yasyuikri
- rahmanuqit lahu sitanan fahua lahu qim."
- Orang begitu dia
- memalingkan hatinya dari Allah.
- Kata Yasu diambil dari asya yau. Orang
- yang rabun.
- Yang rabun walaupun melihat tapi
- pandangannya bagaimana?
- Rabun.
- Oleh karena itu
- banyak orang yang rabun digambarkan
- seperti seekor himar yang Aah yang rabun
- seradak seruduk ke sana kemari. Nah,
- Allah gunakan kata asya ya asyu tidak
- menggunakan kata buta karena gambar
- lebih tepat.
- Kalau orang buta
- masih bisa belajar dari orang yang
- memberikan pengajaran padanya. Kalau
- orang rabun ini kan seradak seruduk
- jalannya enggak menentu. Begitu juga
- orang-orang yang lengah dari Allah, yang
- [mendengus] rabun dari Allah, maka dalam
- kehidupan dunia ini jalannya seradak
- seluduk.
- Akhirnya mengantarkan dirinya menuju ke
- mana? Ke jura.
- Kami biarkan setan mengendalikan dirinya
- bukan karena Allah zalim, tapi setan
- bersahabat dengan jiwa yang dikuasai
- hawa nafsu. Fahua lahu qarin. Ke mana
- dia pergi, setan selalu mendampingi
- dirinya. Oleh karena itu, berhubungan
- dengan kasus yang kita hadapi,
- jalan untuk betul-betul [berdehem]
- mendidik anak kita, mengarahkan dirinya
- untuk selalu betul-betul
- dalam kebajikan. Pertama, jangan
- lupakan. Ingatkan dirinya kepada Allah.
- Bacakan ayat-ayat Allah. Kemudian cari
- kesibukan yang bermanfaat buat dirinya.
- berolahraga. Biasanya anak yang hobi
- berolahraga agak jauh dari jajibkan
- olahraga yang positif. Nah, di sini
- harus ada pendampingan orang tua. Karena
- pada saat dia bermain bersama
- teman-teman kan mungkin saja apa?
- Pergaulan dia pergaulan yang tidak sehat
- dan tidak baik. Dia dengar dari apa yang
- dibicarakan teman yang sedang ngetren
- dan populer di saat dia tidak paham kamu
- ketinggalan zaman. Betul gak?
- Jadi seringkiali dia ingin bisa tampil
- di hadapan temannya berbicara dengan
- apa-apa yang viral. A diikuti mereka
- orang tua harus mendampingi anak.
- Mendampingi anak di luar, mendampingi
- juga anak di sekolah, memilihkan
- teman-teman lingkungan yang baik.
- [berdehem]
- Kalau dia seorang gadis,
- kalau bisa di samping bermain yang sehat
- buat dia juga ajak orang tuanya, ajak
- mengajak dirinya untuk belajar memasak,
- berkreasi, berinovasi dalam hal ini.
- Karena apa? Karena wanita kalau hobi ke
- arah ini, subhanallah bermanfaat bahkan
- sampai hari tuanya bersama suaminya.
- Bahkan kalau dia ingin menjadi apa?
- Orang yang bergerak dalam bidang kuliner
- dengan pengalaman masa kanak-kanak itu
- itu bisa menghasilkan hasil yang luar
- biasa. Dan Mbak tahu orang kalau ingin
- kursus membuat satu masakan itu bayarnya
- mahal.
- Mahal luar biasa. Tapi orang tua dengan
- keahliannya ditambah juga ajak dia
- membuka katakan ee bahagian masakmemasak
- kan di Google ada. Betul gak? Jadi
- usahakan arahkan dia ke arah yang
- positif. orang tua jangan meninggalkan
- dia. Jangan merasa cukup sehabis
- menyusui anak, anak tersebut mulai
- sekolah, orang tua bebas dari apa?
- Dari ee perhatian terhadap anaknya.
- Tidak. Orang tua betul-betul diserahkan
- amanat untuk menjaga, untuk betul-betul
- melindungi ya dan mengembangkan hal-hal
- yang positif dalam dirinya. Dan ingat,
- harus hati-hati dalam menghadapi apa
- masa-masa puber anaknya.
- Ketika nafsunya mulai tumbuh. Di sini
- orang tua yang perempuan kalau bisa
- ibunya memberikan bimbingan. Kalau
- kasusnya khusus dalam kewan
- yang laki-laki biar ayahnya berbicara.
- Kalau kasusnya umum biar orang tua
- laki-laki bersama ibu berbicara kepada
- mereka. Berikan wasi
- pengalaman-pengalaman yang mereka hadapi
- sebelumnya [berdehem] dan ingatkan efek
- buruk dari berbagai macam pengaruh di
- luar. Kalau ada pendampingan orang tua
- yang selalu mendampingi anaknya
- mengingat Allah, tapi jangan kaku ya.
- Jangan kaku, jangan juga keras, tapi
- [mendengus] secara alami bagaikan air
- yang mengalir. Si anak tidak merasa
- dikekang, tidak merasa dikendalikan,
- tapi dia bisa menikmati bagaimana
- perhatian orang tuanya yang peduli
- terhadap dirinya. Dan ini juga
- insyaallah berdampak positif pada saat
- si wanita atau si laki-laki menjadi apa?
- kepala rumah tangga atau ibu rumah
- tangga, dia juga akan melakukan hal yang
- sama. Karena pendidikan melalui
- pengalaman
- praktik yang alami dengan lemah lembut
- tanpa ada kekangan ataupun tekanan ini
- akan menjadi kebanggaan buat mereka.
- Orang tua saya mendidik saya dengan
- sebaik-baiknya sebagaimana yang
- dilakukan [berdehem] dicontohkan oleh
- Nabi dan keluarga Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Jadi kalau
- kita langsung masuk ke kasus yang
- pertama tadi, [berdehem]
- seorang ibu betul-betul
- mengendalikan anaknya untuk tidak
- hanyut bersama jej. Waktu dibawa ke
- kakek dan neneknya, kakek neneknya
- membebaskan.
- Ini bukan hanya terjadi pada ibu, pada
- saya juga.
- Abah ibunya ketat dalam masalah jej.
- Sedangkan dia datang ke hadapan saya.
- Sebagai kakek nenek kita ini agak lemah
- lem
- lemah.
- Apa yang bapak ibunya tidak kasih kita
- berikan tapi kita arahkan apa yang dia
- lihat. Hal-hal yang bermanfaat seperti
- kisah Nabi ya hal-hal yang positif ya.
- Dengan sendirinya apa yang dilihat hal
- yang bermanfaat. Si kakek bisa
- mendapatkan perhatian dari cucu dan
- kecintaannya tapi tidak merusak cucunya.
- Begitu juga orang tua di saat
- betul-betul bersikap ketat, ingat,
- jangan menggunakan bahasa-bahasa yang
- arogan,
- sikap-sikap yang kasar, tapi orang tua
- kalau bisa berkomunikasi dengan anaknya,
- arahkan kepada apa ee tayangan-tayangan
- yang bermanfaat, yang positif dengan
- cara yang baik, lemah lembut dan berikan
- batas waktu. Steve Job
- sebagai pemilik Apple.
- Dia kan termasuk orang yang punya apa?
- Kontribusi besar dalam apa? Dalam bidang
- apa? Bidang jajet kan atau peralatannya.
- Tapi dia membatasi anaknya. Dia batasi
- anaknya 1 hari hanya 1 jam. Bayangkan
- coba 1 hari hanya 1 jam. [mendengus]
- Karena keasyikan bermain akan membuat
- kita kehilangan keseriusan, kehilangan
- disiplin, kehilangan juga tanggung
- jawab. Dan sebelum kita mengarahkan anak
- kita harus dimulai dari diri kita.
- Kalau kita suami istri terpengaruh
- terikat dengan jejat, ya anaknya
- otomatis apa?
- Kalau si Bapak Ibu mengatakan pada
- masa-masa belajar kamu tidak boleh dekat
- dengan jejet. Nanti kalau sudah selesai
- belajar boleh mah. Boleh mah. Seperti
- seorang bapak menyaksikan film yang
- tidak baik. Anak kecil enggak boleh
- lihat. Kalau sudah besar boleh, Pak.
- [tertawa]
- ini otomatis akan apa menjadi pendidikan
- yang tidak sehat, tidak baik buat anak
- kita. Sebelum mendidik kejujuran pada
- anak kita, bersikaplah kamu jujur.
- Sebelum kamu mendidik mereka untuk punya
- kepedulian, berikan kepedulian buat
- anak-anak kamu menjadi bekal buat
- mereka. Sebelum kamu mendidik mereka
- untuk berkata baik, sopan, santun,
- berikan contoh kepada mereka.
- Karena apa yang mereka akan terima
- tergantung kebiasaan yang didapatkan
- orang tua. Jadi, Bapak, Ibu pada saat
- datang ke rumah kakek nenek kalau perlu
- sebelumnya komunikasikan.
- Anak-anak ini tumbuh nanti kan
- tergantung kebiasaan yang kita berikan.
- Sekarang Abah Mama biarkan mereka
- katakan dengan bebas menggunakan gadget
- begitu pulang ke rumah jadi pembangkang.
- Saya yakin mama dan Abbas sebagai kakek
- dan nenek tidak ingin anak-anak kita
- sampai terjerumus dalam hal-hal yang
- tidak baik. Jadi kerja sama antara kakek
- nenek bagaimana mengarahkan anak kepada
- gadget yang sehat dengan waktu juga yang
- terbatas. Kemudian ajak mereka bermain
- di luar. Jangan hanya dalam kamar
- tertutup, akhirnya bisa menimbulkan
- stres,
- bisa menimbulkan juga asosial yang
- mengakibatkan dia tidak mampu
- berinteraksi baik di rumahnya, baik
- bersama temannya, maupun di pekerjaannya
- nanti.
- Jadi, usahakan mereka bersosial. Nanti
- orang tua mengarahkan, "Ini perbuatan
- kamu salah." Nah, kalau diganggu sama
- teman-temannya bisa berikan pengarahan.
- Kamu harus sikapi dengan cara baik.
- Bukan orang tua ikut serta dalam
- konflik.
- Iya.
- Orang tua sama orang tua ribut gara-gara
- anak ribut. Tapi orang tua memberikan
- petunjuk bimbingan yang sehat buat
- anak-anaknya.
- Jadi [mendengus] kalau seandainya orang
- tua terlibat,
- anak diberikan pendidikan yang baik pada
- waktu dini, insyaallah anak tersebut
- punya daya tahan menghadapi depresi,
- menghadapi stres, menghadapi tekanan
- baik di luar maupun dalam rumah. Oleh
- karena itu, saya sering menghadapi
- pengaduan dari orang tua yang anaknya
- tidak mau berkomunikasi dengan orang
- tua, malah mengunci diri bahkan tidak
- mau makan dan dianggap orang tua itu
- merupakan musuh. Nah, di sini orang tua
- harus melakukan evaluasi,
- harus melakukan juga muhasabah. Kenapa
- anak tersebut menganggap orang tuanya
- sebagai musuh? Kenapa anak tidak mau
- curhat sama orang tuanya? Ada apa coba?
- Jadi kalau kita ingin benahi anak kita,
- kita harus betul-betul menyadari sebab
- dari perilaku tersebut. Kita yakin bukan
- hanya dari penyebab eksternal, tapi
- kembali kepada penyebab internal. Karena
- kalau seandainya dia mengalami depresi
- di luar, orang tua siap menampung,
- mendengarkan keluh kesah mereka, niscaya
- si anak akan curhat.
- Nah, kenapa sampai kcipin itu? Mungkin
- Bapak, Ibu menyikapi dia dengan
- sikap-sikap yang emosional. ee memandang
- remeh pandangan dia, pendapat dia, tidak
- mendengarkan keluh kesah dia. Saya ingat
- kejadian pada masa kita kanak-kanak,
- pada masa puber itu seringkiali kita
- menghadapi saat-saat depresi. Maklum
- dalam suasana pancarobah kan
- kita suka sesuatu, suka juga sama lawan
- jenis kita mulai tumbuh pada saat itu.
- Ini enggak bisa dielakkan sama sekali.
- Nah, pada saat itu kita mengalami
- betul-betul saat yang tidak nyaman.
- Kita ketemu seorang tua ditanya, "Kenapa
- kamu dalam keadaan suntuk?" Dalam
- keadaan stres dan depresi. Stres apa
- kamu? Kamu enggak cari uang, enggak
- kerja, enggak berusaha. Kita nih yang
- stres menghadapi saat ini. Nah, ini
- kesalahan. Stres yang dihadapi anak pada
- masa puber beda dengan stres kamu.
- Jadi, kita harus hadapi ada masalah apa?
- Nak, coba jelaskan. Kalau seandainya si
- anak curhat, orang tua mendengarkan
- memberikan pengarahan solusi itu
- selesai.
- Selesai,
- selesai. [mendengus]
- Jangan jauh-jauh seorang anak mengeluh
- pada orang tua
- di sedang tertarik sama fulan. Dia baru
- tamat SD atau sedang SD kelas 6. Jangan
- dianggap remeh. Harus [berdehem]
- saya tertarik sama dia. Selalu
- terbayang-bayang ini. Itu wajar itu masa
- puber
- si orang tua tanggapi dengan baik. Kamu
- sekarang enggak usah khawatir. Kamu
- belajar.
- Kalau nanti kamu sudah siap dewasa, bisa
- lamarkan kamu kalau kamu masih suah-suka
- sama dia. Jangan sampai kita hadapi apa
- kamu masih kecil bicara-bicara masalah
- enggak malu kamu. Jadi dipermalukan
- kemudian tidak ditanggapi sama sekali.
- Akhirnya mengakibatkan dia apa?
- Bingung. Stres
- bingung. itu perasaan bukan datang dari
- luar dari dalam hatinya sebagai efek
- masa-masa puber apalagi anak SMP. Betul
- gak? Jadi orang tua pada kamu suka waj
- tumbuh sama-sama menyukai diri suka sama
- kamu ya
- ayah siap melamarkan buat kamu dan kamu
- harus ingat perempuan tidak pernah
- menghargai laki-laki yang bodoh.
- Perempuan tidak menghargai laki-laki
- yang lemah. Jadi kamu harus kuat, harus
- pintar. Itu jadi motivasi.
- Iya. dimotivasi
- dan biasanya nanti masa-masa pertumbuhan
- itu akan membuat dia yang tadinya suka
- gimana
- berubah
- dan boleh tanya kita semua ini pasti
- pernah mengalami
- betul
- betul harus
- cuma ada yang malu untuk diakan
- ada yang tidak bijak dalam menanggap
- jadi sebetulnya kita butuh orang-orang
- pada masa-masa pancaroba itu untuk
- menanggapi kita
- betul betul
- jadi kalau hal-hal seperti ini jangan
- dianggap tamu kalau maksiat, pacara itu
- tabu. Tapi kalau kita mendengarkan
- curhat anak-anak kita, tanggapi dengan
- positif.
- Heeh.
- Bahkan orang tua kalau mengatakan,
- "Kalau kamu menikah bakar SMP, saya
- nikahkan." Tapi jangan pacaran. Sabar,
- sabar. Beberapa saat saya sering bilang
- sama anak saya begitu, "Kamu SMA paling
- tidak harus nikah."
- Kalaupun SMP, ingat jangan pacaran,
- jangan dekat-dekat dengan perempuan.
- kamu siapkan diri kamu. Saya punya anak
- alhamdulillah habis tamat SMA menikah
- kita berikan dorongan untuk sekolah.
- Begitu selesai sekolah sudah punya anak
- besar-besar.
- Jadi kalau seandainya kita diberikan
- kelebihan oleh Allah daripada kita
- foya-foya ke sana kemari mendingan
- gunakan untuk mendidik anak kita,
- mempersiapkan dia berumah tangga,
- mendidik dia untuk menjadi orang dewasa.
- Biasanya laki-laki kalau menikah
- mentalnya, jiwanya beda dengan laki-laki
- yang pacaran. Kalau laki-laki yang
- menikah muncul tanggung jawab di
- hatinya. Tapi kalau laki-laki yang
- berpacaran dengan perempuan nanti ganti
- sana ganti dini. Setelah berumah tangga
- CLBK lagi mulai cinta lama bersemi.
- Betul gak? Nah, ini banyak kejadian
- seperti jadi kesimpulannya
- kita dari mulai kanak-kanak dampingi
- anak kita. Kalau sampai anak ibu
- mengalami depresi, menutup pintu, coba
- ajak diskusi. Jangan menekan, jangan
- mengancam, jangan kita menyepelekan
- pandangannya pada saat tersebut. Karena
- dia akan menghormati, menghargai orang
- yang menghargai perasaan dia pada saat
- tersebut. Panggil coba ibu mau dengar
- atau ayah mau dengar atau panggil orang
- yang kira-kira bisa diterima.
- Dan saya bukan sekali dua kali
- menghadapi hal ini. Sering saya jumpai
- keluh kesah orang tua. Anak-anaknya yang
- pada masa puber mulai menentang,
- membangkang, atau dari masa SMA masuk
- kuliah. Anak saya baik, taat. Begitu
- masuk kuliah ternyata sikapnya berubah.
- Karena apa? Yang tadinya main di empang
- yang kecil, sekarang masuk di Samudra.
- Teman-temannya meracuni dia dengan
- berbagai macam
- toksin. Kamu ketinggalan zaman, kamu
- bodoh, kamu begini. Bahkan
- teman-temannya juga yang perempuan
- meledek dia. Ya, Nora. Betul gak?
- [tertawa]
- Betul. Betul. Dan akhirnya laki-laki
- yang tadinya anteng diam di rumah
- baik-baik
- mulai ya setelah dicemokkan oleh
- teman-teman wanitanya mulai dia mulai
- condong ke arah apa? Begitu dia
- melakukan perbuatan yang salah bersama
- perempuan, dia akan mengalami depresi
- yang besar. Jadi, enggak ada jalan illa
- kecuali kita kembali kepada Allah,
- mendidik anak kita untuk dekat dengan
- Allah. Dan yang paling penting di
- samping semua itu komunikasi yang baik
- dengan anak kita. Kita arahkan mereka ke
- arah yang positif untuk kembali pada
- Allah. Cari kegiatan, aktivitas,
- kesibukan yang bisa menyibukkan mereka
- dari hal-hal yang tidak baik.
- Mudah-mudahan bermanfaat. Wallahuam.
- Tantangan orang tua zaman sekarang beda
- banget dengan waktu
- sebelum yang namanya media sosial dan
- juga ee pertemanan yang terjadi seperti
- sekarang ini. Dari dua kisah itu tadi
- saja baru diberikan
- gambaran oleh Ustaz Husein, kita merasa
- e oh. Nah, apa pula kata Ustaz Abu Bakar
- Baraja terkait dengan dua masalah ini?
- Yuk, kita simak.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- [mendengus] Asalamualaikum
- warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah nahmadu wau wasastagfir.
- Alhamdulillah.
- Begitu banyaknya
- pujian yang kita layangkan kepada Allah.
- [mendengus]
- Di saat itu pujian itu akan terus
- memberikan sesuatu yang luar biasa dan
- menyenangkan.
- Ketika kita mengatakan
- bersyukur kepada Allah, dengan
- sendirinya hati dan perasaan kita selalu
- beriringan
- dekat [berdehem] dengan kekuasaan.
- Apalagi dengan [mendengus]
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- yang di mana contoh-contoh yang
- diberikan Allah itu memberikan kita akan
- melakukannya.
- Contoh-contoh itu memberikan kita
- memberikan kita untuk melakukan
- contoh-contoh
- kepada [mendengus] siapa? Kepada
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Jadi contoh itu yang kita ikutin,
- yang kita panutkan
- itu contohnya.
- Jadi ketika
- seorang
- seorang tua yang mempunyai anaknya
- yang mempunyai anaknya yang mengatur
- yang saat ini adalah gadget.
- Kenapa kita harus atur?
- Karena dia benda. Kenapa kok benda itu
- kita harus atur? Enggak bisa kita atur.
- Yang kita atur adalah anak kita.
- Jadi, gadget itu suatu benda yang enggak
- bisa diatur.
- Di dalamnya berbagai macam persoalan,
- berbagai macam tayangan, berbagai macam
- enggak perlu kita atur karena dia
- datang.
- Yang kita atur siapa? anak kita.
- Jadi anak kita ini kita atur
- bagaimana dia bisa melihat gadget itu
- tepat pada waktunya.
- Ketika sekolah dia sekolah yang sekarang
- sekolah pakai gadget oke pakai gadget.
- Gunakan untuk sekolah.
- lepas dari sekolah pergi pulang bermain
- ya melakukan sesuatu tindakan tetap
- jadi dia anak-anak kita ini
- bermain
- dengan sesuatu gerakan bukan dengan
- gadget
- misalnya main badminton di gadget sudah
- Ada
- main bola di gadget sudah ada
- main apagi sudah ada di gadget
- main apapun sudah ada. Terus anak kita
- masuk ke situ main tidak benar.
- Biarkan
- gadget itu biarkan. Tapi berikan
- kesempatan anak kita bermain.
- Berikan kesempatan anak kita bermain.
- Kalau anak-anak kita melakukan
- permainan,
- berikan kesempatan. Orang main bola di
- rumah umur 4 tahun, 5 tahun main bola di
- rumah tungang tung. Wah, enggak boleh
- main bola di sini. Enggak boleh. Mau
- main di mana sekarang? Sekarang lapangan
- itu sudah berbagai macam.
- Semuanya sudah tidak ada di dalam. Ada
- yang di mana? Di rumah. Oke. Ketika dia
- lagi main bola di rumah. Nah, sekarang
- bagus nih tendangannya. Jangan
- kencang-kencang
- terus pelan pelan pelan pelan. berikan
- kesempatan anak melakukan
- bola, nanti main halma nanti main
- congklak nanti main berbagai macam
- itu. Permainan yang benar-benar yang
- akan dilakukan bukan di gadget. Congklek
- ada di gadget,
- ular tangga ada di gadget, semua ada.
- permainan-permainan
- ada di gejet. Jadi dia main di gadget.
- Itulah
- permasalahan yang terjadi saat ini. Anak
- dibiarkan
- bukan diarahkan.
- Mama bapaknya
- bekerja terus bagaimana anaknya?
- Mama sama papanya bekerja.
- Terus anaknya bagaimana? Nah, kita
- berikan permainan.
- Kita berikan permainan.
- Kita lepas.
- Nanti pas pulang kamu main apa? kita
- memberikan informasinya
- menanyakan main apa. Oh, aku main bola,
- aku main badminton, aku main ee klereng,
- aku main kok banyak banget mainnya.
- Karena dia mainnya di gadget,
- dia bisa mengucapkan banyak permainan.
- Terus kita senang
- kalau dia cuman gini, aku tadi main bola
- capeknya mah.
- lari ke sana, lari ke sini. Benar dia.
- Karena dia enggak mengatakan main bola,
- main badminton, main semuanya permainan
- dimainkan.
- Akhirnya yang terjadi di gadget. Nah,
- oleh karena itu arahkan, berikan
- kesempatan,
- belikan bola, berikan sesuatu. Nah,
- kemudian didik anak-anak kita. kepada
- sesuatu yang namanya agama.
- Dari kecil, dari kecil teruskan
- informasikan bahwa Allah itu ada. Allah
- itu benar, Allah itu memberikan ini dari
- Allah. Itu semua kalimat-kalimat kata
- itu selalu dikatakan Allah.
- Bukan sekarang seperti yang tadi
- bagaimana menanamkan agama. Anak saya
- sudah SMP, SMA. Bagaimana menanamkan
- agama? Setelah SMP, SMA kita baru
- berpikir agama.
- Dari 0 tahun informasikan
- kata-kata Allah. Allah.
- Dari sini kita akan dapatkan
- dan kalimat-kalimat, kata-kata
- masyaallah.
- Dan kata-kata yang kita keluarkan itu
- adalah kata-kata yang baik, bukan
- kata-kata yang tidak baik.
- Pertama kali yang selalu dia dengar
- kalimat-kalimat yang thayibah, yang
- benar.
- Kalimat-kalimat yang benar itu masuk ke
- dalam pemikirannya. Kalau
- kalimat-kalimat benar itu masuk pada
- pikirannya sampai besar dia selalu
- mencari yang benar.
- Tapi selalu disalahkan tuh kamu enggak
- boleh pakai kayak gitu. Jangan kayak
- gitu. Harusnya begini.
- Jangan pakai seperti itu. Harusnya
- seperti ini.
- Jangan pakai. Nah, di dalam pikirannya
- dia jangan memakai. Jadi selalu
- pikirannya mengatakan jangan. Jangan.
- Efek dari jangan-jangan tersebut selalu
- akan dicari.
- Perbuatan-perbuatan yang selalu
- dikatakan jangan dia akan cari.
- Nah, oleh karena itu perbuatan-perbuatan
- yang baik,
- perbuatan-perbuatan yang benar itu kita
- berikan.
- Jadi, ada permainan melakukan segala
- sesuatunya dengan baik. Perhatikan,
- jangan menyalahkan.
- Ketika anak kita salah, kita tunjukkan
- yang benar, yang salah kita tidak harus
- sampaikan.
- Kita tunjukkan yang benar.
- Misalkan dia menaruh sesuatu salah,
- enggak usah kita bang. Wah, ini salah.
- Kamu jangan taruh di situ, nanti pecah.
- Sebaiknya kamu harus taruhnya di sini.
- Enggak bisa. Oh, ngomongan sudah
- disalahkan kemudian dibenarkan. Dia
- bingung mana ini.
- Tapi langsung gini nih kamu taruh di
- sini kelihatannya lebih baik.
- Ketika dia kita terletakkan yang baik,
- yang salah biarkan. Karena dia tidak
- akan mencari lagi yang salah. Yang salah
- sudah tidak ada lagi di dalam
- pikirannya. yang salah sudah tidak masuk
- lagi ke dalam pikirannya. Yang benar,
- yang benar itu yang masuk. Dan setelah
- dia mulai besar, dia akan mencari.
- Ketika dia sudah dewasa, sudah benar ee
- sudah mulai masuk ke remaja,
- dia mau mencari enggak bisa. Dia mencari
- yang benar, dia akan selalu mencari yang
- benar. Kita tunjukkan yang benar ini
- arahnya.
- Seperti yang tadi dikatakan jangan
- pacaran
- ya. Kita katakan tuh oh aku senang sama
- perempuan itu. Oke. Baik. Kamu
- perhatikan pelajaranmu. Insyaallah nanti
- kamu akan mendapatkan.
- Jadi katakan yang baik. Yang baik.
- Insyaallah kata-kata yang baik ini akan
- meningkatkan kebaikan-kebaikan.
- kebaikan.
- Apapun yang terjadi, pastikan kata-kata
- yang baik ini akan meningkatkan kebaikan
- insyaallah.
- Oke.
- Jadi, ikhwan akhwat, jadi teman, jadi
- sahabat bagi anak-anak kita. Enggak
- nyalahin mereka meskipun mereka salah,
- tapi dengan cara yang lain luar biasa
- sekali ya. Kita masih punya waktu, Ustaz
- Husin bisa tambahkan terkait dengan
- bagaimana menjadi orang tua yang proper
- bagi buah hati kita.
- Bismillahirrahmanirrahim. Rabbanaidna.
- Sebagai penutup,
- kalau orang tua
- punya waktu banyak bersama
- teman-temannya,
- baik Bapak maupun Ibu,
- seharusnya mereka lebih banyak
- memberikan waktu mereka untuk anak-anak.
- Bermain bersama anak-anak. Kelihatannya
- sepele kan ibu bermain katakan mainan
- bersama anak-anaknya.
- Baik itu main congklak, main biasa
- kebersamaan yang perlu. Si Bapak juga
- tidak jaga image main bersama anak-anak
- sebetulnya lebih nikmat daripada kita ya
- melakukan penyegaran, kumpul bersama
- teman di luar yang seringki membawa
- dampak negatif ke dalam rumah.
- [mendengus]
- Bapak yang sering berkumpul bersama
- teman di luar, makan di luar, di samping
- melakukan pemborosan, baik itu secara
- materi, finansial, maupun waktu juga
- mengabaikan hak-hak istri kita,
- anak-anak kita di rumah.
- Dan Rasul mengingatkan, wa ati kullaha
- haqqin haqqah. Berikan setiap orang yang
- berhak-hak.
- Oleh karena itu, buat saya, saya lebih
- menikmati
- kalau waktu senggang kumpul bersama
- istri, bersama anak-anak, bercanda
- bersama mereka daripada kita melakukan
- refreshing di luar.
- Oleh karena itu, banyak saya dengarkan
- orang-orang tua merasa jenue di rumah,
- Bapak maupun Ibu.
- Mereka bertanya, "Mau ke mana ya? Mau
- ngapain ya?"
- Sebetulnya itu pertanyaan yang
- menunjukkan bahwa mereka tidak punya
- tujuan yang jelas dalam hidup. Karena
- waktu yang banyak ini kan bisa digunakan
- untuk berbagai macam aktivitas yang
- bermanfaat.
- Benar.
- Oleh karena itu sering kita mendengar
- istilah killing timeah merupakan waktu
- ini merupakan musuh
- yang harus dibunuh. [tertawa]
- Harus dibunuh. Padahal waktu itu
- sebagaimana firman Allah, wal asri
- innal insana lafi khusin.
- Jadi coba Bapak maupun Ibu jangan
- biasakan
- keluyuran di luar
- yang seringki
- kita akhirnya membawa
- persoalan-persoalan yang tidak baik ke
- dalam rumah. Dan jangan biasakan juga
- makan di luar kecuali sekali-sekali.
- Usahakan agar anak-anak mencintai
- masakan ibunya.
- Bapak juga bisa apa? Bisa berkreasi
- dalam hal ini. Bisa masak bersama ibu.
- Jangan dianggap ini pekerjaan perempuan.
- Bisa berkreasi juga ada resep yang baru.
- Ajak anak-anaknya untuk masak
- bersama-sama. Itu jauh lebih senang
- daripada kita makan di restoran. Sudah
- biayanya banyak. Sekali makan bisa R1
- juta, R2 juta kan eman-eman. Mbak Uning.
- Tapi kalau makan di rumah, pembantu juga
- jangan lupakan. Ini pendidikan buat anak
- kita. Kita makan jangan
- bersenang-senang. Lupa pembantu kita,
- lupa supir kita, pekerja kita, apa yang
- kita nikmati
- bagi untuk mereka. Ini pendidikan yang
- amat praktis
- buat anak-anak kita.
- Dia melihat orang tuanya menghargai
- orang yang bekerja bersamanya,
- mereka juga akan melakukan hal yang
- sama. Jangan mendidik anak kita menjadi
- egois, menjadi tuan yang selalu dilayani
- dan tidak menghargai kebaikan orang.
- Kalau anak kita bersikap tidak baik,
- ingatkan kamu
- butuh kepada mereka.
- Seringki kalau pada masa lebaran ibu-ibu
- muda itu waduh mereka mengeluh yang luar
- biasa karena pembantunya pulang ke
- rumah. Bahkan anaknya seringki menangis.
- Karena apa? Karena merindukan pembantu.
- Si ibu marah. Memang ibu kamu itu main
- tampar sana tampar sini akhirnya membuat
- persoalan semakin tidak baik. Jadi
- kesimpulannya
- kalau kita punya waktu luang biasakan
- kita isi waktu luang kita dengan
- keluarga kita dengan hal-hal yang
- positif atau kita bermasyarakat dalam
- keadaan beramar makruf nahi mungkar dan
- jaga hubungan kita dengan masjid.
- Anak laki-laki kita ajak ke masjid. Itu
- penting sekali buat mereka. Begitu juga
- anak-anak wanita kita. ajak juga mereka
- ke majelis-majelis taklim untuk
- mendengarkan taklim yang baik. Dan kita
- ingatkan juga para ustaz, berbicaralah
- kepada masyarakat sesuai dengan umur
- mereka, keadaan mereka. Bicara dengan
- anak-anak beda dengan bicara dengan
- orang tu
- Heeh. Tu aji usahakan ada
- majelis-majelis buat anak-anak kita,
- buat orang tua. Jangan sampai anak kita
- akhirnya menerima informasi yang salah,
- yang sudah mengakar. Akhirnya
- mendengarkan nasihat-nasihat yang
- disampaikan oleh para ulama yang mereka
- anggap tidak lagi update, akhirnya
- mereka jenuh,
- tidak merasa tertarik dengan agama.
- Jadi kesimpulannya berikanlah setiap
- orang yang berhak-haknya istri kita,
- anak-anak kita, orang tua kita, tetangga
- kita, dan jaga keseimbangan di antara
- semuanya. Memenuhi hak orang tua jangan
- sampai mengabaikan hak istri.
- Memenuhi hak istri sama anak-anak jangan
- mengabaikan hak orang tua. Karena mereka
- masing-masing memiliki hak yang mesti
- kita penuhi. Mudah-mudahan para pemirsa,
- para pendengar psikologi keluarga ini
- insyaallah bersama
- Ustaz ee Ustaz Abu Bakar Baraja, Mbak
- Nuning yang selalu membawa cahaya
- insyaallah
- dan radio silaturahmi yang memperat.
- Semoga Allah limpahkan rahmat,
- keberkahannya, ampuni dosa-dosa kita,
- dan jawaban-jawaban kita menjadi solusi
- yang tepat buat Bapak Ibu. Demikian pula
- anak-anak kita sekalian.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta astagfiruka wa atubu
- ilaik wu minkum wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz Husein,
- Ustaz Abu Bakar dan ikhwan akhwat yang
- bersama-sama kami. Kalau seandainya Anda
- ada sesuatu yang mau ditanyakan terkait
- dengan masalah di rumah dalam keluarga
- bisa kirim WA ke 0811999720
- ya. Nanti ee kesempatan berikutnya akan
- dibahas oleh Ustaz Husein dan ee Pak Abu
- Bakar Baraja. Baiklah, mudah-mudahan ee
- kita semakin cerdas mencari sebab
- internal terjadinya hal-hal di dalam
- keluarga kita ya. Billahi taufik wal
- hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.