Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 [musik] 0:09 [musik] 0:12 Brail TV [musik] 0:22 [musik] 0:50 Asalamualaikum warahmatullahi 0:51 wabarakatuh. Allahumma sholli ala 0:53 sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina 0:55 Muhammad. Alhamdulillah kita berjumpa 0:57 lagi hari ini hari Rabu tanggal 3 1:01 Februari 2021 atau 21 Jumadil Akhir 1442 1:05 Hijriah. Ya, seperti biasa Radio Sulatim 1:08 dan Resil TV melalui YouTube kembali 1:11 menghadirkan acara tamu kita. Kita 1:14 siaran secara eh Zoom ya, on live Zoom. 1:19 Kita akan menghadirkan seorang tamu yang 1:21 luar biasa. Beliau adalah dosen ekonomi 1:25 di UI. Sudah 17 tahun menjadi dosen di 1:28 UI. Beliau juga pernah menjadi deputi di 1:32 KPK, pernah menjadi e komisaris 1:36 di PLN Batam, kemudian juga pernah di 1:38 Peruri. 1:40 Di Peruri sebagai direktur utama kalau 1:43 enggak salah ya. Pernah juga di 1:45 mana-mana nih. [tertawa] 1:47 [terkesiap] 1:48 Oke, kita temis saja. Mm 1:52 ya kalau di Google tuh Juni Yahya. Junio 1:57 Yahya itu pakai ejaan lama ya, tapi 2:00 biasa kami panggil dengan Bang Nino yang 2:03 hobi 2:05 piara piara ikan, pihara hewan lah. 2:07 Mulai ikan sampai kanguru, sampai rusa, 2:10 sampai di rumahnya ramai tuh ya. 2:11 Kemudian juga dia rajin insyaallah rajin 2:14 ee puasa Senin Kamis, penyayang hewan, 2:17 penyayang keluarga, suka menjadi khatib 2:21 juga. [tertawa] 2:22 [terkesiap] 2:23 Lahirnya tanggal 2:25 11 Februari tahun '9, 2:29 dosen 2:31 ekonomi di Fakultas Ekonomi ee UI, 2:36 Universitas Indonesia. Asalamualaikum, 2:38 Bang Nino. 2:40 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:41 wabarakatuh. 2:43 Ah, 2:44 awet muda nih Bang Nino nih. Ya 2:47 Bang Nino. Kami Radio Rasil mengucapkan 2:50 selamat dias natalis ke-71 2:53 Universitas Indonesia UI tangguh untuk 2:56 Indonesia bangkit. Nah, kesan Bang Nino 2:58 tentang UI bagaimana? Kan sudah 17 tahun 3:02 di menjadi mengabdi di UI ya menjadi 3:05 dosen ya. 3:06 katanya juga pernah dipecat ketika 3:08 mahasiswa semester eh bukan semester 3:11 waktu itu masih zamannya tingkat tingkat 3:14 empat ya. Bisa diceritakan Bang Nino? 3:17 Iya. Alhamdulillah terima kasih. 3:19 Asalamualaikum warahmatullahi 3:20 wabarakatuh. 3:21 Waalaikumsalam warahmatullahi 3:22 wabarakatuh. 3:23 Saya merasa tersanjung sekali nih 3:25 diinterview oleh ee penyiar favorit 3:29 saya, 3:31 Mas Krishna. sudah puluhan tahun saya 3:33 ngikutin ee menjadi favorit apa fans 3:38 dari Mas Krishna nih. 3:41 Iya dari sejak SMA barangkali ya. 3:44 He. 3:44 Atau kuliah barangkali. 3:46 Ya, saya kalau bicara tentang UI ya, UI 3:49 tempat saya, tempat saya tumbuh. Dari 3:52 saya menjadi mahasiswa S1 di sana sampai 3:56 sekarang menjadi dosen sudah sekian lama 3:59 juga tadi seperti yang disebutkan. 4:01 di zaman mahasiswa. Saya alhamdulillah 4:05 berkesempatan menjadi aktivis menduduki 4:09 ee posisi ketua senat mahasiswa waktu 4:12 itu namanya FEUI 4:14 atau sekarang namanya BEM ya. Itu ketika 4:17 itu dan 4:18 karena aktivitas saya, saya sempat di 4:22 pecat oleh rektor sebagai 4:24 Kenapa dipecat? 4:25 [tertawa] 4:27 karena demo waktu itu. Demo terus ee ya 4:31 dianggaplah saya yang salah satu 4:34 apa salah satu motornya katanya Pak 4:39 zaman Pak Harto. 4:40 Oh jadi menentang pemerintah barangkali 4:41 waktu itu ya. 4:43 Ya seperti itulah kira-kira. Jadi 4:45 pertama yang dipecat ketua dewan 4:47 mahasiswa. Ketua dewan mahasiswa. Terus 4:49 setelah itu ketua-ketua sen membentuk 4:51 presidium. 4:52 Heeh. Nah, orang kedua yang dipecat itu 4:54 adalah saya waktu itu. Tapi 4:55 alhamdulillah saya di bantu oleh dekan 4:59 saya almarhum Pak Dr. Jinaidi Hadi 5:03 Sumarto. Jadi pemecatan itu di pemecatan 5:06 oleh rektor itu dianulir oleh dekan. He. 5:10 Alhamdulillah waktu itu memang ee 5:12 suasananya sangat jelas ya hubungan 5:15 kerja itu. 5:17 Dekan itu memang punya apa punya 5:19 diskresi ya yang tidak harus mengikuti 5:23 ee apa tidak harus mengikuti keputusan 5:26 rektor. Alhamdulillah waktu itu akhirnya 5:28 saya bisa menyelesaikan kuliah di FB UI. 5:31 Fui waktu itu namanya. Kemudian saya 5:35 sesuai cita-cita saya ingin jadi tetap 5:36 pengajar memang jadi dosen. Iya. ee lalu 5:40 saya melamar menjadi dosen. 5:43 He. 5:43 Lalu di waktu setelah itu dekannya sudah 5:46 diganti ee Pak Wagiono Ismail almarhum 5:49 juga sudah. Beliau nelepon saya, "Nino, 5:53 kamu kalau mau mengabdi kepada negara 5:56 kan enggak usah di almamater ya. harus 5:58 dalam mater kat 5:59 kenapa kamu ditolak oleh rektor jadi 6:02 pengajar [tertawa] 6:05 karena aktivitas saya itu jadi ya sudah 6:08 alhamdulillah saya 6:09 menunggu ya alhamdulillah saya dapat 6:11 beasiswa ke luar negeri dari negara juga 6:13 sebenarnya akhirnya saya bergabung 6:14 dengan Indosat lalu saya dapat beasiswa 6:18 sekolah di Amerika 6:20 ee ketemu rektor UI yang menggantinya 6:23 almarhum Prof. Yudi. 6:25 H. 6:26 Waktu itu beliau bilang 6:27 setelah Pak Mahar Marjono ya beliau ya. 6:30 Oh, setelah jauh. 6:31 Jadi setelah Pak Mahar Marjono itu Plt 6:34 PLT Officio Profat Santoso. He. 6:39 Kemudian baru Pak eh Pak 6:41 Noto Susanto Brigen ya. Ahli sejarah 6:45 beliau. 6:46 Iya. He. 6:47 Beliaulah yang memecat saya waktu itu. 6:49 H. 6:51 Lalu ee walaupun sebenarnya sebelum itu 6:54 saya dihubungi oleh Pak Wijaya Sastro 6:57 almarhum menawarkan saya sekolah ke 6:59 Amerika 7:00 H 7:01 untuk pindah dari FPEB UI sekolah ke 7:03 Amerika. Beliau sampaikan bahwa kami 7:05 yang mengurus sekolahnya, mau pilih aja 7:06 mau sekolah di mana. 7:08 Tapi saya menolak waktu itu. 7:10 Saya bilang kalau saya saya bersedia 7:12 kalau setelah apa jabatan saya selesai, 7:14 maka jabatan saya sebagai ketua senat 7:16 selesai. ya terserah kamu deh apa ya apa 7:19 artinya beliau bilang ya ini tawaran ini 7:21 sekali aja gitu akhirnya ya rupanya 7:23 beliau sudah tahu juga saya mau 7:25 sehingga ee ya memang nah itu yang salah 7:29 satu kebanggaan saya ya ee atau kami 7:32 semua alumni U bahwa hubungan di UI itu 7:36 antara dosen dengan mahasiswa ketika itu 7:38 ya 7:38 he 7:39 dosen dengan mahasiswa ya ee ee dengan 7:42 alumni waktu itu sangat erat gitu. He. 7:44 Seperti saya dibantu oleh dekan, saya 7:46 dibantu oleh ee alumni ya, ketua IS itu 7:49 Pak Dioyo kan salah satu orang yang 7:52 termasuk punya kekuatan ya, punya power 7:55 di negara ini pada saat itu. Beliau 7:57 Menko Min. Waktu itu jabatannya sangat 8:00 powerful sampai dia menawarkan seperti 8:02 itu. Tapi karena saya menolak ya beliau 8:04 lepas tangan akirnya. 8:05 He 8:05 ya terserah kamulah. Akhirnya dia 8:07 dipecah ya. Dipecat 8:09 itu cerita. Nah, sebagai ee insan UI, 8:12 anggota almamatar UI, tentu saya punya 8:14 kebanggaan terhadap UI. Namanya jya 8:17 Universitas Indonesia. saya bersyukur 8:19 bisa kuliah di situ, 8:22 sekarang juga bisa bergabung sebagai 8:24 staf pengajar di situ. Ee dan sampai 8:27 saat ini memang ee UI bisa 8:30 mempertahankan kualitasnya ya, masih 8:32 tetap bisa menjaga nama besarnya, nama 8:34 baiknya walaupun sudah banyak ee 8:38 universitas-universitas swasta yang juga 8:42 tidak kalah baiknya ya daripada 8:44 Universitas Indonesia. Mungkin itu 8:45 jawaban saya sementara 8:46 sama Bu Sri Mulyani satu angkatan 8:48 enggak, Bang? 8:50 Sri Mulyani tiga angkatan di bawah saya. 8:53 Oh, tiga angkatan di bawah. M 8:56 Bang Nino ya. 8:58 Oke. 9:00 Ee 9:02 gimana kabarnya ekonomi kita nih 9:04 sekarang? Ekonomi Indonesia bisa dijawab 9:05 dengan singkat saja Bang Nino? 9:08 Ya, kalau kita bicara data saja ya. 9:10 Bicara data kan pertumbuhannya e sekitar 9:13 3% tahun 2000. atau 4% lah karena banyak 9:16 data ya. Tapi kalau kita pakai data 9:18 ambillah rata-rata itu tahun 2020 kan 9:21 tumbuh sekitar 4% kira-kira. 9:23 He 9:24 ya masih ada selisi 1% dibanding inflasi 9:26 katanya. Inflasi 1% ya eh 3% itu masih 9:29 ada selisih 9:30 artinya masih ada pertumbuhan ekonomi 9:32 kitaun 9:34 masih dalam kondisi pandemi seperti ini. 9:37 Tapi hanya pertumbuhan ya dari sisi 9:38 pertumbuhan. Kalau dari segi beban kita 9:41 tahu hutang kita sudah sampai 6.000 RB 9:43 triliun utang negara. Sesuatu yang ee 9:47 agak berat nanti pengembaliannya. 9:49 Dan yang mengembalikan ya bukan sekarang 9:51 gitu, yang mengembalikan generasi yang 9:52 akan datang nanti karena kan 9:54 pinjaman ini jangka panjang ya. 9:56 Jadi siap-siap saja bagi generasi muda 9:58 untuk ee menjadi pelunas hutang ini. Itu 10:02 secara singkat seperti itu. [tertawa] 10:05 Iwan Anawat. Kami masih 10:07 berbincang-bincang dengan Bang Nino. 10:08 Beliau adalah dosen senior di FE UI. 10:13 ee tadi menceritakan kesan-kesannya 10:15 sehubungan dengan Dias Natalis UI yang 10:18 ke-71 10:19 dengan teline UI Tanggo untuk Indonesia 10:22 bangkit. Kalau kita dengar tadi ini kan 10:25 zoom di rumahnya ya, terdengar 10:27 suara-suara burung tadi karena Bang Nino 10:29 memang penyayang hewan ya. Di rumahnya 10:32 dulu tuh ada kanguru, ada walabi, ada 10:35 apalagi banyak sekali. Sekarang apa 10:37 kabar Kang Ngurunya? itu 10:39 sudah habis gitu ya ketika waktu itu ada 10:42 bencana banjir ee rupanya mereka enggak 10:45 tahan ya dengan 10:46 Heeh. 10:46 ee banjir itu ee jadi ya mati gitu ya. 10:51 Hm. 10:52 Itu walabinya itu kalau kijangnya saya 10:55 taruh di percetakannya peruri di 10:58 Kelawang. 10:59 Oh gitu. 11:00 Itu masih ada hutan di sana. E saya 11:02 lepas di sana. 11:04 Nah ngomong-ngom 11:05 itu yang sisanya tinggal burung dan 11:07 ikan. 11:08 [tertawa] 11:10 Ya, kita tahu Bang Nino ini dulu e juga 11:12 pernah jadi direktur utama di Peruri ya, 11:16 perusahaan 11:18 percetakan 11:19 uang negara ya 11:21 percetakan uang Republik Indonesia. 11:23 Oke. Saya pengin tahu tuh uang tuh 11:25 dibuat dari bahan apa? Apa bahannya dari 11:27 Indonesia? Terus di mana dicetaknya? Dan 11:30 bagaimana tuh teknis peredarannya? 11:33 Oke, kalau mulai dari bahan, bahannya 11:36 itu kertas. kertas dari bahan dari cuten 11:39 dari kapas ya. Jadi 11:41 itu dari Indonesia bahan ya 11:43 ada sebagian kecil. 11:45 H 11:45 ya. Jadi sampai dengan tahun saya 11:48 menjabat itu tahun 2008 itu semua masih 11:50 impor. 11:51 H 11:52 ya di dunia ini hanya ada delapan 11:55 pembuat kertas uang. 11:57 Hanya delapan apa uang 12:00 delapan negara apa delan pabrik. 12:01 Per delapan perusahaan delan perusahaan 12:04 ya. Del 12:04 perusahan 12:05 ya. Karena ada satu perusahaan yang di 12:06 berdiri di dua negara. 12:08 Hm. 12:09 Itu ada delapan perusahaan di dunia yang 12:12 mencetak atau membuat kertas uang. 12:15 Kertas uang itu namanya durable paper. 12:17 Jadi kertas yang tahan apa ya? Yang 12:21 beratlah ya tahan beratnya. Ee durable 12:25 paper namanya. Makanya kertas itu ketika 12:28 datang ke perur dia dites dulu di 12:31 apa dibanting di apa di ditaruh di 12:36 direndam di air. 12:38 Heeh. 12:38 Yang enggak cuman dibakar aja karena 12:40 dibakar dia memang enggak mempan untuk 12:41 dibakar. Tapi yang lainnya itu dites 12:43 dulu seperti itu. Nah, 12:45 kertas itu diimpor dari delan perusahaan 12:47 di dunia. Perusahaan di ini adalah ya 12:49 menguasai produksi kertas uang ya. Jadi 12:53 mereka itu ee semacam oligopoli. Jadi 12:57 mereka juga yang menentukan harga. 12:59 Nah, tahun berapa tahun sebelum saya 13:02 menjabat itu ada perusahaan Indonesia 13:04 yang mencoba membuat kertas uang. 13:06 He. 13:07 Tapi akhirnya terjadi sengketa dengan 13:09 Peruri. Akhirnya mereka tidak bisa di 13:13 pakai produknya. Walaupun sebenarnya 13:15 Yayasan BI punya 13:17 saham di situ ya. Jadi, nah jadi ee nah 13:22 kalau prosedurnya prosedurnya yang 13:23 membeli kertas itu adalah Bank 13:25 Indonesia. 13:26 Membeli kertas Bank Indes 13:27 Lalu Bank Indonesia ya memberikan kepada 13:30 perik kertas itu untuk dicetak menjadi 13:32 uang. 13:33 Itu mesinnya ada di di Indonesia di 13:35 Peruri 13:36 mesinnya di Peruri ya. Kita punya mesin 13:39 waktu itu. Waktu zaman saya itu ada 11 13:41 mesin. 13:42 Satu mesinnya itu harganya 600 miliar 13:44 harganya. 13:44 Wih [tertawa] 13:47 600. Terus bagaimana cara memprotectnya 13:50 supaya enggak bocor itu? Misalnya dia 13:52 cetak banyak-banyak gitu. 13:54 Nah, ini yang menarik nih. Ini yang 13:56 menarik, Mas. Jadi, pegawai peruri itu 14:00 apa ya? Dia sehari-hari kan mencetak 14:02 uang, tapi di mata mereka itu mencetak 14:04 uang seperti mencetak koran, mencetak 14:06 barang cetakan lain. 14:08 He. 14:08 Jadi mereka imun gitu terhadap itu. 14:11 Jadi ee hampir tidak ada kebocoran ya. 14:13 Kalaupun ada s 14:14 enggak bisa ngentit. Selembar dua lembar 14:16 enggak bisa ngentit. 14:17 Iya. Jadi sangat kecil sekali kebocoran 14:20 itu. Cara mengawasinya adalah BI kan 14:22 mengirim kertas. He. 14:24 Sejumlah kertas itu peri mencetaknya. 14:28 Dari situ ada yang gagal pastikan. Nah, 14:31 semua yang berhasil dicetak dan yang 14:32 gagal dicetak itu dikirim ke Bank 14:34 Indonesia. 14:35 Yang reject-reject ada ya? 14:36 Ada yang gagal. 14:37 Ada yang reject itu dibolongin. 14:39 Dibolongin tapi tidak bulat bolongnya 14:41 tapi berbentuk bintang bolongannya itu. 14:43 H 14:44 ya. Dibolongin diterjakan ke BI. Jadi, 14:46 kertas yang masuk ke meruri dan kertas 14:48 yang dikembalikan ke BI jumlahnya sama. 14:51 Hm. 14:52 Jadi di situ saja sudah ketahuan kalau 14:53 ada selisih kan sebenarnya. 14:55 Oke. 14:55 Nah, nanti kertas yang reject itu dari 14:57 BI itu diperiksa oleh BI dan dibakar 15:00 oleh BI. 15:01 Hm. 15:02 Ee sisa bakarannya itu dikirim lagi ke 15:05 Peruri. Peruri mencek apakah betul yang 15:07 dibakar itu adalah kertas uang. H 15:10 gitu. Nah, itu dicek lagi jumlahnya 15:12 persis seperti jumlah yang kita ee 15:15 kirim. He 15:16 itu salah satu metode kontrolnya. Jadi 15:19 begitu ada yang kurang langsung bisa 15:21 bisa dideteksi. 15:23 H 15:23 itu nanti diurutin lagi di mana mulai 15:25 kurangnya itu. 15:26 Karena kan proses mencetak uang ini 15:28 terdiri dari empat proses besar ya. Satu 15:32 mencetak ee mencetak offset namanya 15:36 pencetak seperti cetak koran biasa. He. 15:39 Yang kedua cetak Intaglio. Namanya 15:41 Intaglio itu yang ditanam cetakannya 15:43 ditanam dalam kertas itu. 15:45 Makanya kalau salah satu metode atau 15:48 cara mencek uang itu asli atau palsu itu 15:52 adalah melihat, meraba, dan menerawang. 15:55 Ya, melihat, menerawang, dan meraba. 15:57 meraba itu terasa bahwa 16:00 uang itu ee ada cetakan integliionya 16:03 itu. H 16:04 dari cetakan integaglio itu itu masih 16:06 berbentuk kertas ee plano besar seperti 16:09 koran gitu ya. Lalu di kertas itu 16:11 dipotong-potong. He. 16:13 Jadi lembaran kecil-kecil. Dan lembaran 16:16 kecil-kecil itu di apa? Di di 16:21 kumpulan jadi satu ya seperti boot itu 16:23 namanya boot ya. ee apa 16:25 gepokan uang itu 16:27 itu jadi prosesnya seperti itu. 16:28 Nah, itu semua terhitung berapa yang 16:30 yang pindah dari oset pindah ke 16:33 intaglio, integlio ke pemotongan, 16:35 pemotongan ke e apa lepakan itu semua 16:39 jumlahnya sama. 16:41 Lalu penomorannya itu siapa yang memberi 16:43 yang nomor-nomornya? Iya, sori, maaf 16:45 terlewat tadi satu itu nomor itu di yang 16:49 yang mencetak nomornya adalah peruri. 16:53 Tapi 16:53 itu satu uang satu nomor ya? Enggak ada 16:55 enggak ada nomor seri. Satu uang satu 16:57 nomor, 16:57 enggak ada nomor doble. Iya, 16:58 enggak ada nomor double. 17:00 Iya. 17:02 Tapi nomornya dari Bank Indonesia, nomor 17:03 urutnya dari Bank Indonesia. 17:06 Hm. 17:06 Gitu 17:08 gitu ya. Nah, jadi ada yang double. 17:11 Kenapa kalau uang dolar itu kertasnya 17:13 mulus-mulus? Kalau Indonesia suka ada 17:14 lecek-lecek tu apa beda bahannya. 17:18 Justru uang rupiah sebenarnya itu 17:20 bahannya paling terbaik ya, salah satu 17:22 yang terbaik di dunia. 17:24 Oh gitu 17:24 ya. Jadi Iya. Jadi kalau pertama dari 17:27 pertama dari security features-nya ya eh 17:30 apa security features itu eh 17:33 fature-fiture pengamannya ya. 17:35 Pengamannya ya zaman saya di sana itu 17:38 ada 22 pengaman di uang kertas kita 17:41 ya. Yang paling tinggi itu Swiss Frank. 17:44 Fix prime itu ada 24, 17:46 dolar itu hanya 18, 17:48 lalu yen itu hanya 13 17:51 ya. Jadi orang Indonesia 17:53 kita ada 24 ya. Kita ada berapa? 17:55 22. 22 waktu itu ya. Mungkin sekarang 17:57 sudah nambah lagi saya enggak tahu juga 17:58 waktu itu 22. Jadi eh orang Indonesia 18:03 ini kan nice to have ya. Senang beli 18:04 yang baru-baru, yang mahal-mahal. Jadi 18:07 begitu ada penawaran baru dibeli ya. Dan 18:10 yang membeli itu Bank Indonesia ya, 18:11 bukan bukan Peruri. 18:13 Peruri hanya mencetaknya saja. 18:16 H 18:17 itu jadi ee seperti itu. Nah, 18:20 itu. Nah, kalau lecek-lecek itu, nah itu 18:22 perilaku dari pemakai uang kita, 18:25 pengguna [tertawa] uang kita sebenarnya. 18:27 Oh, bukan dari uang ya, bukan dari bahan 18:29 ya. 18:29 Iya. Uang. 18:30 Iya. Uang Indonesia. Orang Indonesia ini 18:32 kan ee apa? uangnya itu dipapel 18:37 ya, ditaruh mohon maaf ya, ditaruh di 18:39 dalam BH ya, [tertawa] dan segala macam 18:43 itu. Jadi pernah kan pernah pernah 18:46 Indonesia mencetak uang di plastik 18:48 H 18:49 polimer. 18:49 Hm. 18:50 Ya, ketika menjelang Y2K dulu ya, 18:54 Millenium Bug itu 18:55 kita sempat mencetak di Australia, 18:57 Indonesia mencetak di Australia di 18:59 bahannya itu polimer plastik. 19:02 Nah, karena perilaku orang Indonesia itu 19:05 yang seperti tadi, ternyata enggak cocok 19:07 polimer. Bahan polimer itu. 19:09 Kenapa? 19:09 Lebih cepat rusak. Lebih cepat rusak 19:11 daripada ee kertas durable tadi 19:15 ya. Karena itu perilakunya kan disepel, 19:17 ditaruh di kena keringat, ditaruh di BH 19:19 segala macam itu. Mohon maaf ya. itu. 19:22 Jadi ee akhirnya enggak enggak pernah 19:25 lagi dicetak di 19:27 enggak pernah dicetak lagi di apa di 19:32 bahan polimer tadi gitu. 19:34 Itu sebenarnya perilaku ya kalau orang 19:36 Jepang itu ya walaupun ee nah Jepang itu 19:40 mencetak uangnya bukan dari kertas kapas 19:42 tapi kertas pisang. Dari pisang 19:44 bahannya. 19:44 Oh kenapa? 19:46 Ya itu masing-masing selera 19:48 masing-masing aja ya. Nah, kertas pisang 19:51 itu lebih lebih mudah rusak daripada 19:53 kapas sebenarnya. Lebih murah mungkin 19:55 juga ya. 19:55 Kalau ukuran uang semua dunia sama ya. 19:57 Ukuran ukuran berapa kali berapanya 19:59 lebar beda-beda. Paling lebar uang apa? 20:02 Uang Jerman kayaknya itu lebar-lebar ya. 20:05 Jerman kan sekarang pakai euro ya. Euro 20:07 juga termasuk lebar, pound lebar ya, 20:10 Rispray juga lebar. 20:12 Yang ukurannya standar sama semua setiap 20:15 e nominal itu pecahan itu ee Yolar 20:18 justru. H 20:20 ya, dolar itu enggak ada yang besar, 20:21 enggak ada yang kecil. Sama ukurannya 20:23 semua walaupun nilainya berbeda-beda. 20:25 Nah, orang Jepang itu sangat sayang sama 20:27 uangnya ya. Jadi 20:29 jarang sekali di Jepang itu ada uang 20:31 jelek karena mereka punya dompetnya juga 20:33 dompet khusus yang enggak berlipat gitu 20:35 dompetnya lurus. 20:36 Oh. 20:37 Ee itu itu Jepang yang itu. Makanya 20:40 kalau lihat uang yen jarang sekali 20:41 ketemu uang yen yang jelek gitu ya. 20:43 Hampir enggak ada mungkin 20:44 itu bisa dibuat burung-burungan buat mas 20:46 kawin. 20:48 Wah. 20:49 [tertawa] 20:50 I itu salah satunya juga penyebabnya. 20:53 Terus Mas Nino apa kabar uang 75 pecahan 20:56 75 masih ada enggak tuh? Uang Rp75.000 20:59 katanya dibuat 21:00 saya enggak tahu lagi ya. Saya enggak 21:02 tahu lagi. Tapi itu kan sebenarnya bukan 21:04 uang dalam konteks dalam maksudnya uang 21:07 bukan untuk alat bayar itu ya. 21:09 Hm. 21:10 Itu uang untuk souvenir. Souvenir dalam 21:13 rangka 75 tahun Republik Indonesia. 21:15 Oh, gitu. Jadi tidak dicetak banyak ya. 21:18 tidak dicetak banyak dan tidak dipakai 21:20 bisa dipakai untuk membayar itu uang 21:22 itu. 21:22 Oh, begitu. 21:24 Terus saya mau tahu 21:26 uang Rp1.000 itu berapa biaya 21:29 produksinya? Itu uang Rp1.000. 21:32 Rp1.000 kan logam ya. 21:34 Hm. Tapi ada juga yang yang kertas juga 21:37 ada Rp1.000 ada. 21:39 Iya. Itu ee saya lupa kalau yang 1.000. 21:42 Kalau yang Rp100.000. 21:44 Tapi biasanya di bawah itu atau di atas 21:46 nilai nominalnya? Biaya produksinya di 21:48 bawah. 21:49 Pasti di bawah ya. 21:51 Iya. 21:51 Jadi kayak uang Rp100.000 itu biaya 21:54 produksinya dulu zaman saya itu sekitar 21:57 90 sen dolar. 21:59 90 sen dolar 22:00 biaya produksinya. 22:02 Mm 22:03 uang Rp100.000 lama sama Rp50.000 ya. 22:06 Jadi kalau sekarang mungkin Rp14.000 22:08 biayanya itu karena tadi 22 teacher ee 22:12 keamanannya, durable paper-nya gitu. 22:16 Oke, Iwan dan kenapa kami ee 22:19 bincang-bincang mengenai uang? Karena 22:21 narasumber kita ini Bang Nino, beliau 22:24 ini pernah jadi direktur utama di Peruri 22:27 ya. Jadi tahu banget bagaimana cara 22:30 memproduksi uang secara fisik ya. Itu 22:35 gimana suasana 22:38 pabrik itu pasti terkunci sekali itu ya. 22:41 Sangat steril kali ya. 22:43 Iya. Jadi, pabrik uang di seluruh dunia. 22:46 Jadi, percetakan uang di seluruh dunia 22:48 itu adalah perusahaan yang bisa mencetak 22:50 uang itu hanya perusahaan yang mendapat 22:53 kewenangan dari pemerintah. 22:55 Ya, bisa kayak di Amerika tuh 22:57 pencetaknya ee 23:01 ee ini juga ya, lembaga pemerintah juga 23:03 ya. Tapi kayak di Prancis itu sebagian 23:06 dicetak oleh swasta. 23:08 Di Inggris juga sebagian dicetak oleh 23:11 swasta. 23:12 Hm. He. 23:12 Di Hongkong malah yang mencetak dan 23:14 mengedarkan itu bank swasta. Ya, tapi 23:17 dia semua harus mendapat perintah atau 23:20 mendapat kuasa dari negara untuk 23:22 mencetak. Nah, kita punya asosiasi 23:26 percetakan uang sedunia. Jadi, dan punya 23:28 standar pengamanan yang di endorse ya, 23:32 yang disetujui oleh Interpol, H 23:35 International Police ya, organization 23:37 itu jadi standar seluruh dunia seperti 23:40 itu pengamanannya. Nah, kalau kayak 23:42 Timor Timor Timur tuh pabrik uangnya 23:44 gimana? Sudah ada di sana atau dia bikin 23:47 di luar negeri 23:49 kayak negara 23:49 setahu saya mereka mencetak di setahu 23:51 saya mereka mencetak di Australia ya. 23:54 Pernah mencoba 23:55 pernah mencoba mencetak di Indonesia? 23:58 Pernah. Terus kayak Sri Lanka itu eh 24:02 maaf ee Nepal. Nepal itu uangnya dicetak 24:05 di peruri. 24:07 I. 24:07 Oh gitu. 24:08 Nepal. Iya. 24:10 Kita pernah mencetak juga uang logam 24:13 Malaysia, 24:15 uang logam Argentina pernah di Peruri. 24:18 Nah, itu bagaimana pengawasan? 24:21 Iya, itu standar interpol tadi. 24:25 Uh, luar biasa itu ya. 24:27 Nah, Per selain mencetak uang juga 24:29 mencetak ee dokumen security yang lain, 24:32 paspor ya, cukai, 24:36 buku tanah. Nah, kita pernah mencetak 24:38 pasport Malaysia tapi tidak boleh 24:41 ditulis made in Indonesia gitu syaratnya 24:43 dikontraknya. 24:45 Terus kita seena mungkin masih sampai 24:48 sekarang mencetak pasport Sri Lanka, 24:50 pasport Nepal, Mas. 24:54 [tertawa] 24:55 Nah, Mas Nino kan sekarang sebagai dosen 24:59 di FE UI. Padahal Mas Nino ini ee pernah 25:04 memegang lembaga-lembaga yang strategis. 25:07 KPK sebagai deputi, PLN, Batam sebagai 25:10 komisaris, 25:12 lalu apaagi tuh? Ee Indosat ya. Kenapa 25:16 kok miningnya? Hah? 25:18 KPK. 25:19 KPK juga 25:21 KPK. Terus apa lagi? 25:24 KPK. Saya pernah jadi deputy. 25:27 Deputi di BP Batam. Otorita Batam. lah 25:30 juga. 25:30 He kenapa? Kenapa kok milihnya setianya 25:33 kepada menjadi dosen di UI? 25:37 Iya. 25:37 Ada apa? 25:38 Pertanyaan yang 25:39 pertanyaan yang menarik nih. 25:41 Memang passion saya dari dulu ingin jadi 25:45 apa ya? 25:47 bukan bukan dos, bukan pengajar ya, 25:49 bukan guru tapi sebagai fasilitator 25:53 mungkin yang ingin bisa membagi 25:57 he 25:58 membagi 25:59 ilmu yang saya miliki. 26:00 He 26:01 kan salah satu bekal ee kita di akhirat 26:04 nanti insyaallah kan ilmu yang diajarkan 26:07 gitu ya salah. 26:10 Oke, 26:12 itu jadi itulah passion saya seperti 26:14 itu. 26:15 H 26:16 ya. Alhamdulillah akhirnya saya bisa 26:18 gitu ya ketika saya setelah masa 26:22 berubah, zaman berubah, saya diundang 26:25 oleh FEB UI untuk mengajar di sana. 26:29 Ee saya ketemu mantan dekan saya yang 26:31 nelpon. Saya tadi saya cerita itu ya. 26:33 Saya tanya sama belum, Pak. Bapak ingat 26:36 20 tahun yang lalu nelpon. [tertawa] 26:40 Iya noh. Katanya kan zaman sudah berubah 26:42 [tertawa] 26:43 gitu 26:46 politik ya. Ee Mas, ketika saya sekolah 26:49 dulu, prinsip ekonomi itu berkorban 26:52 dengan sekecil-kecilnya tapi mendapat 26:54 untung yang sebesar-besarnya. Kira-kira 26:56 prinsip itu masih masih relevan enggak 26:58 sekarang? 27:00 Ya masihlah. Maksudnya kalau ekonomi SMA 27:03 apa SMP seperti itu. 27:05 Iya. Di ilmu ekonomi mikro itu adanya 27:09 ya. Artinya di ilmu ekonomi ee usaha ya. 27:13 Ee bisnis economics katanya kalau bahasa 27:15 Inggrisnya itu memang seperti itu. 27:17 Hm. 27:17 Ya. Bagaimana mendapatkan keuntungan 27:19 yang sebesar-besarnya dengan sumber daya 27:22 yang tertentu. Artinya tidak [mendengus] 27:24 yang kecil tapi tertentu. Yait yang 27:26 namanya efisiensi itu kan. 27:27 Heeh. Jadi ee ya itu sumber daya 27:31 tertentu menghasilkan ee laba 27:33 [mendengus] atau menghasilkan keuntungan 27:34 yang sebesar-besarnya 27:36 atau menghasilkan keuntungan tertentu 27:39 dengan sumber daya yang sekecil-kecilnya 27:42 gitu. 27:43 Itu ee prinsip ekonomi memang itu. Jadi 27:46 itu masih berlaku mungkin sampai akhir 27:49 zaman juga masih berlaku seperti itu. 27:51 Karena kan kalau namanya usaha 27:53 harus ada untung, harus ada lebihnya 27:56 gitu. ya 27:58 sejauh mana ekon ee ilmu ekonomi yang 28:01 diajarakin itu ee sejalan dengan 28:04 prinsip-prinsip Islam. 28:07 Ya. Jadi sebenarnya prinsip Islam itu 28:10 sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad 28:13 sallallahu alaihi wasallam bahkan 28:14 sebelumnya ya sudah berlaku di 28:17 di kawasan di seluruh dunia mungkin ya 28:19 kan kalau kita ingat Pak apa Rasulullah 28:22 sallallahu alaihi wasallam itu seorang 28:23 pedagang 28:24 dan kalau kita ingat juga hadis beliau 28:27 bahwa profesi yang paling dicintai oleh 28:29 beliau adalah pedagang. H. 28:31 Nah, berdagang itu artinya menjual 28:34 sesuatu dengan keuntungan tertentu. 28:37 Itu kanip ekonomi. Yang kedua, kalau di 28:40 Quran kan juga dibawa setiap 28:42 piutang-putang itu harus ada pencatatan, 28:44 harus ada saksi. He. 28:46 Berarti kan itu sistem accounting itu. 28:48 Heeh. Harus dicatat 28:49 surat terpanjang itu dalam Quran ya 28:51 di Albaqarah. 28:52 Iya. 28:52 He. 28:53 Terus ada ee juga kalau kita bicara 28:56 Al-Qur'an juga mengenai riba ya. apa 28:58 yang tidak boleh dalam ekonomi itu dalam 29:01 transaksi itu tidak boleh ada riba gitu 29:04 ya atau bunga itu. Jadi ee sebenarnya ya 29:09 prinsip artinya gini bahwa dalam Islam 29:13 itu prinsip ekonomi itu juga satu bagian 29:16 yang dari bagian dari ibadah sebenarnya 29:19 karena tercantum dalam Al-Qur'an. Tidak 29:22 semua apa? Tidak semua ibadah itu 29:26 dijelaskan dalam Al-Qur'an ya kan sangat 29:28 enggak tidak 29:29 terbatas sekali ya maksudnya seperti 29:31 hanya hukum nikah misalnya, hukum waris, 29:35 hukum hudud ya misalnya. Lalu ekonomi 29:38 tadi termasuk di dalam penjelasan dalam 29:41 Al-Qur'an. Artinya Allah Subhanahu wa 29:43 taala sendiri sudah menetapkan 29:46 bahwa ada prinsip ekonomi dalam Islam, 29:49 prinsip zakat ya. prinsip gitu kan 29:52 kaitannya ekonomi semua seperti itu 29:54 mungkin cara ringkasnya 29:56 ya Bang Nino ini banyak orang-orang yang 29:59 sukses tanpa melalui dia barangkali 30:02 enggak paham mengenai ekonomi tapi 30:04 sukses mereka lulusan SD atau dia enggak 30:07 berpendidikan tapi sukses seperti 30:09 Jackman dan di Indonesia banyak sekali 30:11 orang-orang pengusaha top yang dia tidak 30:15 melalui pembelajaran ilmu ekonomi. 30:18 Bagaimana Mas melihat ini? 30:22 Sebenarnya kita semua kalau menurut 30:25 orang kapitalis ya, ilmu kapitalis kita 30:27 manusia [mendengus] ini adalah salah 30:28 satu binatang ekonomi namanya. H 30:31 ya kan ee orang-orang ee ori apa ya 30:35 orang-orang 30:37 yang tidak ber orang-orang ateis itu 30:39 bilang kita kan binatang yang berpikir 30:41 manusia itu binatang yang sebenarnya 30:43 binatang sama dengan binatang yang lain 30:45 cuman kita punya kemampuan berpikir 30:49 artinya mereka tidak bilang ini 30:50 kemampuan yang diberikan Allah Subhanahu 30:52 wa taala tapi kita binatang yang 30:53 berpikir nah 30:55 salah satu dari pemikiran itu adalah 30:57 menjadi binatang ekonomi. Karena 31:00 binatang kan enggak juga enggak punya 31:01 prinsip ekonomi ya. Yang penting 31:02 perutnya kenyang kalau mereka kan 31:04 kalau kita kan juga punya prinsip itu. 31:06 Artinya kita kenyang tapi kita masih 31:08 punya tabungan, masih ingin punya 31:10 kekayaan yang lebih besar gitu ya. Ingin 31:13 bertambah terus kekayaannya gitu. 31:15 Nah, jadi sebenarnya setiap ee apa insan 31:19 itu berekonomi terlibat dalam ekonomi. 31:23 Yang berbeda adalah skalanya. ada yang 31:26 skalanya kecil, skalanya besar atau 31:29 menengah dan seterusnya. Nah, bagi 31:32 masyarakat di bawah itu justru ekonomi 31:36 Indonesia saat ini yang bisa bikin 31:38 survive adalah mereka yang kita 31:40 bilangnya ekonomi informal ya. Ekonomi 31:43 informal ini artinya tidak perlu punya 31:45 perusahaan ya, tidak punya catatan 31:48 apa-apa. Mereka cuman pagi punya modal 31:52 berapa, beli barang apa, dijual, siang 31:54 dapat untung. untungnya dipakai untuk 31:57 kehidupannya itu ekonomi sebenarnya 31:59 ya. Jadi, nah yang yang perlu 32:02 dikembangkan adalah mereka ini 32:04 sebenarnya ya ketika krisis, beberapa 32:06 kali krisis di Indonesia ini atau di 32:09 seluruh dunia bahkan ya yang yang 32:11 menolong yang menopang ekonomi ya negara 32:14 kita itu adalah mereka sektor informal 32:17 ini pedagang kaki lima ya, pedagang 32:19 wartek, warung semua itu. Jadi 32:22 sebenarnya kita sudah melaksanakan itu. 32:24 [berdehem] Jadi dan ekonomi tidak harus 32:26 juga formal ya mengikuti kaidah-kaidah 32:30 ya artinya harus efisien, efektif dan 32:32 segala macam. Itu jawaban saya 32:35 barangkali atau 32:36 oke 32:36 mungkin ee kurang jelas. 32:39 Eh Iwan Anwat, kami masih 32:41 berbincang-bincang dengan Bang Nino. 32:43 Beliau adalah dosen senior di Fakultas 32:46 Ekonomi Universitas Indonesia. Beliau 32:49 juga pernah di KPK di Debuti, pernah di 32:52 PLN Batam, pernah juga di Indosat, 32:54 pernah juga di Peruri sebagai direktur 32:57 utama. Ee seperti biasa kami akan 32:59 bacakan nomor HP beliau. Barangkali 33:01 ingin bertanya lebih lanjut tentang 33:04 ee Bang E kepada Bang Nino ini. Ini 33:07 nomornya siapkan purpen sama kertas. 33:09 Kami akan bacakan nomor HP dari Bang 33:11 Nino atau kalau Anda lihat di Google 33:14 Yuni Yunio Yahya ejaan lama ya nomornya 33:19 0821 33:22 kemudian 69 33:25 54 33:27 7005 33:30 0821 33:31 sudah kemudian 69 33:36 54 7 005. 33:42 Oke ya, 33:46 Bang Nino. 33:48 Saya lihat di YouTube orangnya ganteng 33:52 dari pendengar ini. 33:56 Oke, saya baca e ini dulu nih dari 33:58 pendengar. 34:06 Oke. 34:10 Ee 34:12 Bang Nino boleh tahu peran BI sebetulnya 34:15 apa dalam hal perbankan di Indonesia? 34:20 Dari ada pertanyaan Bang Nino 34:22 dihidupin? 34:24 Ee tolong dihidupkan ya. 34:26 Ada yang tanya peran BI dalam perbankan 34:28 Indonesia apa Bang Nino? Ada yang tanya, 34:32 Bank Indonesia atau Bank Sentral itu di 34:35 dalam sistem ekonomi eh ekonomi bank 34:40 sentrat adalah render of the last resort 34:43 katanya. Jadi bank Bank Indonesia adalah 34:46 backing back up backing ya backing dari 34:49 perbankan. 34:50 Jadi ketika bank-bank itu mengalami 34:53 kesulitan atau perlu dana itu mintanya 34:57 ke Bank Indonesia mengambil kredit dari 35:00 Bank Indonesia. Bank Indonesia juga 35:02 sebagai tempat penampungan atau ee 35:05 banknya bank istilahnya itu ya yang 35:07 namanya bank sentral itu banknya bank 35:09 atau lender of the last resort. Jadi 35:11 kalau bank-bank biasanya kan kalau 35:13 mereka transaksi itu ee saling 35:16 meminjamkan, saling ee ee meminjamkan 35:21 ya. Jadi kalau mereka kan gini, kita 35:22 nyimpan uang, uang itu kan kita ee kita 35:27 oleh bank dipinjamkan lagi ke orang lain 35:29 yang punya usaha. Jadi tidak selalu bank 35:31 itu cukup uang kasnya. Ketika 35:33 orang-orang yang punya uang itu ingin 35:35 mengambil uang, uangnya ee bisa-bisa 35:38 tidak cukup. itu bank bisa meminjam ke 35:41 bank lain untuk menutup kekurangan itu. 35:44 Kalau bank-bank semua sudah tidak bisa, 35:46 bank itu bisa minta ke Bank Indonesia. 35:48 He. 35:48 Ya. Jadi ee kalau kita pernah ingat 35:51 istilah atau yang yang bertanya apakah 35:53 sudah lahir tahun '98 35:55 itu ramai waktu itu yang namanya BLBI, 35:58 bantuan likuiditas Bank Indonesia 36:01 itu. Jadi itu yang jadi apa? Ee itulah 36:05 peran Bank Indonesia satu. Yang kedua 36:08 dia juga jadi ee pencetak uang tadi 36:11 peredaran uang. 36:12 He 36:12 yang meredarkan uang. Nah, yang ketiga 36:16 sebagai stabilitator 36:19 stabilitator moneter. 36:21 H 36:22 ya. Jadi kalau di sistem ekonomi makro 36:25 yang besar itu ada moneter, ada fiskal 36:27 untuk mengelola ekonomi negara. moneter 36:31 ini perannya seperti ketika kita harga 36:34 dolar naik misalnya nilai dolar naik. 36:36 Nah, Bank Indonesia yang mengkan 36:38 intervensi 36:40 itu satuan 36:42 intervensi dengan menjual cadangan 36:44 dolarnya sehingga dolar itu bisa turun. 36:47 Yang kedua, dalam menentukan tingkat 36:49 bunga. 36:50 Hm. 36:51 Kalau terjadi inflasi ini agak ilmiah 36:53 sedikit ya. He. 36:54 Kalau terjadi inflasi itu Bank Indonesia 36:58 yang menaikkan tingkat bunga. 36:59 H 37:00 umum. Tingkat bunga deposito, 37:03 tingkat bunga pinjaman. He. 37:05 Supaya uang itu kan kalau yang namanya 37:07 inflasi itu artinya uang yang beredar 37:09 lebih banyak dari barang yang tersedia. 37:12 Jadi ee apa 37:16 Bank Indonesia menaikkan tingkat bunga 37:17 supaya orang menyimpan uangnya di bank 37:20 sehingga uang yang beredar berkurang di 37:22 masyarakat sehingga inflasi itu bisa 37:24 ditekan. Kira-kira itu secara umum peran 37:27 dari ee bank bank sentral. 37:31 Oke, Bang Nino ini enggak ada 37:32 pertanyaan. Asalamualaikum, Bang Nino. 37:35 Bang Nino, kalau saya pernah ee pinjam 37:38 uang bank di bawah 37:41 di bawah Rp50 juta dan macet, apakah 37:44 nama saya sudah tercatat di BI dan saya 37:47 tidak bisa pinjam lagi? 37:50 Iya, jawabannya. Iya, betul. 37:53 Betul ya. 37:53 Jadi berapapun jumlahnya ya. 37:55 Iya. Jadi kayak misalnya kita menunggak 37:57 kredit card, 37:59 kartu kredit itu kan enggak sampai Rp 38:01 juta ya kadang-kadang. kadang R juta, 4 38:03 juta itu sudah masuk sudah masuk dalam 38:07 ee apa ya artinya terdaftar 38:10 sebagai orang yang tidak dipercaya. 38:14 Kalau tiba-tiba dia mau membayar apakah 38:16 lalu menjadi bunga berbunga padahal 38:18 sudah tidak ada tagihan lagi? 38:22 Iya jawabannya ya. Ya itu adalah salah 38:26 satu ee apa ya keburukan dari keuangan 38:31 konvensional. He. 38:33 Bahwa kalau orang menunggak itu ya 38:35 bunganya terus berbunga-bunga terus. He. 38:38 Kalau mungkin ada yang pernah mengalami 38:40 meminjam uang dari fintech itu ya, 38:43 financial technology itu 38:45 itu sampai ada yang bunuh diri kan 38:46 karena tidak mampu membayar ee utang 38:49 yang sudah berbabunga itu. 38:51 Jadi ya sistem keuangan konvensional itu 38:54 kalau saya bilangnya ee keuangan 38:56 jahiliah kan ada keuangan syariah, ada 38:58 keuangan jahiliah. Keuangan jahiliah 39:00 seperti itu. 39:02 Oke. 39:05 E 39:06 harus dibayar. 39:08 Iya ada. Asalamualaikum Bang Nino. Saya 39:10 ingin bertanya apakah KPK sekarang masih 39:12 punya gigi? 39:14 [tertawa] 39:15 Masih punya gigi masih ya artinya masih 39:18 ada yang ditangkap, masih ada yang kena 39:21 OTT 39:23 gitu. Jadi masih masihlah kalau dibilang 39:25 punya gigi ya. Masih 39:27 masih ya masih ini ya 39:29 gitu. 39:30 Oke. 39:31 Baik. Adaang minta nomor telepon Bang 39:34 Nino dong. Oke Bang Nino ini nomor 39:36 teleponnya. Silakan. Anda yang mau 39:37 mencatat, Bang Nino adalah dosen 39:42 ekonomi 39:43 Universitas Indonesia, dosen senior. 39:45 Pernah juga di KPK sebagai pernah juga 39:49 di PLN Batam sebagai komisaris, kemudian 39:52 pernah juga di Indosat, 39:55 pernah di Peruri sebagai direktur utama. 39:57 Ini nomor teleponnya Bang Nino. 0821 40:03 69 40:06 54 40:08 7 005 40:12 0821 40:14 69 40:17 54 40:18 7 40:20 00 40:22 5. Oke. 40:26 Ee 40:31 ee Bang Nino dengan cara apa kita bisa 40:34 memperbaiki ekonomi Indonesia, Bang 40:36 Nino? 40:38 Ah, ini bagus nih pertanyaan yang baik 40:40 nih. Ini pertanyaan juga yang 40:41 susah-susah gampang artinya. 40:45 Baik enggak baik tergantung kita semua 40:47 juga sebenarnya ya. He 40:48 artinya yang pertama tentu peran 40:51 pemerintah ya dari segi kepastian 40:54 kepastian hukum terutama khususnya. 40:57 He. 40:57 Jadi kalau kita lihat negara-negara yang 40:59 maju di dunia itu kepastian hukumnya 41:03 jelas dalam kita berusaha itu jelas 41:05 hukumnya 41:07 ya. Ketika ada kengketa, ketika ada 41:09 peraturan-peraturan itu semuanya jelas. 41:12 Itu yang pertama sebenarnya. Jadi ee 41:15 kadang-kadang seperti ayam dengan telur 41:17 hukum dan ekonomi ini. Tapi kalau kita 41:20 secara empirik ya hukum itu yang nomor 41:22 satu yang harus ditegakkan dulu dalam 41:25 pengembangan ekonomi. Jadi peraturan 41:28 tidak boleh berubah-berubah 41:30 ya. Lalu ee apa ketersediaan 41:34 sarana infrastruktur itu juga harus ada. 41:38 ya. Nah, kalau dalam konteks syariah 41:42 ya kita berusaha dengan dengan cara yang 41:44 syari, cara yang jujur, cara yang jujur 41:49 ya artinya kalau kita jualan, jualan 41:52 produk yang kualitasnya baik, harganya 41:56 yang 41:58 masuk akal, ya, tidak boleh mengambil 42:00 keuntungan sebesar-besarnya seperti itu. 42:03 Itu ya. Jadi kalau kondisi ekonomi 42:05 Indonesia saat ini memang kita masih 42:08 tergantung kepada 42:11 bahan dasar ya, komoditas 42:13 seperti batuara, 42:15 kelapa sawit gitu ya. Kita belum punya 42:19 unggulan. H 42:21 apalagi dari segi manufaktur. Kita tahu 42:23 Korea, Cina itu kan punya produk-produk 42:27 yang punya daya saing di dunia. 42:29 Hm. Sementara andalan kita itu hanya 42:33 dari yang tadi saya sebutkan tadi, 42:35 komoditas. Komoditas ini harganya sangat 42:38 fluktuatif 42:39 tergantung permintaan di dunia. 42:41 Sedangkan kalau kayak misalnya handphone 42:43 itu kan yang menentukan harga 42:45 produsennya. 42:46 H 42:47 salah satu contoh lah ya. Nah, 42:49 sebenarnya kita punya potensi ekonomi 42:50 yang sangat besar sebenarnya itu 42:52 pariwisata 42:54 dan ee mungkin kalau kita fokus ya di 42:57 salah satu sektor ekonomi seperti ini, 43:01 insyaallah ekonomi Indonesia akan lebih 43:03 maju. Yang kedua kita punya potensi 43:05 pasar 275 juta orang. Ini saja kita 43:10 layani ya dengan cara yang syari 43:13 harapannya seperti itu ya. H 43:15 insyaallah akan berkah gitu, akan maju 43:17 ekonomi Indonesia. Apalagi kan katanya 43:20 80% dari 275 juta itu orang muslim. 43:24 He. 43:25 Ya, kalau masing-masing muslim ini ee 43:28 apa menjalankan ekonomi yang syari, 43:31 insyaallah bisa ya. Tapi memang bicara 43:34 seperti ini lebih mudah mengatakan 43:36 daripada menjalankannya ya. Tapi 43:39 pengalaman saya, saya pernah jadi 43:41 pembina salah satu BMT. 43:44 Hm. 43:45 Baitul Malwil 43:47 yang waktu itu kedudukannya di Masjid 43:50 Pondok Indah waktu itu. Kemudian pindah 43:51 ke masjid ke pasar di Pondok Pinang. 43:54 Itu ekonomi kecil saja ya yang dibiayai. 43:58 Pagi-pagi kita kasih pinjaman Rp50.000 44:01 kepada pedagang pasar, 44:03 sorenya kita dapat kembali Rp100.000. 44:08 Artinya itu kan bagi hasil ya namanya 44:10 nisbah itu bagi hasil. Jadi pedagang 44:14 untung ee baitulnya juga terus bertambah 44:18 ni apa kekayaannya bisa dipakai lagi 44:21 untuk mengembangkan usahanya gitu. Nah, 44:24 ini yang yang perlu dikembangkan 44:26 sebenarnya ekonomi syariah namanya bukan 44:27 keuangan syariah. Ekonomi syariah. 44:29 Ekonomi syariah ya. 44:30 Nah, yang kedua 44:31 beda ya. 44:31 Iya. Saya pernah di koperasi. Koperasi 44:34 di Peruri kan biasanya BUMN itu punya 44:38 koperasi fungsional namanya. Itu juga 44:40 saya arahkan ke sana 44:43 membantu membina ee apa ekonomi informal 44:48 tadi. 44:49 Jadi pedagang apa? Wartek di sekitar 44:53 Perjek 44:54 [mendengus] 44:55 itu kita berikan kredit. Kredit yang 44:56 tadi itu Rp100.000 Rp50.000 tapi 44:59 balikinnya hari itu juga. 45:01 Oh 45:01 gitunya. kembalikan 45:02 masih berlaku enggak sekarang? 45:04 Saya enggak tahu sekarang ya. Saya sudah 45:06 meninggalkan Bluri 8 tahun yang lalu. 45:08 Heeh. 45:09 Tapi kalau yang BMT di Pondok Pinang 45:11 rasanya masih dan masih banyak lagi 45:13 BMT-BMT atau BPR Syariah yang modelnya 45:16 seperti itu rasanya. 45:18 Sebenarnya kita juga kalau kita punya 45:20 ada 20 orang, kita bisa bikin tuh BMT 45:22 itu dalam bentuk operasi syariah tadi. 45:25 Nah, itu seperti itu dan itu ee 45:29 kelipatan apa labanya atau harta apa ya 45:33 harta ya aktivanya itu cepat sekali. 45:36 Nah, seminggu sekali kayak di Pondok 45:38 Pinang itu pedagang pasar itu seminggu 45:39 sekali kita adakan pengajian 45:42 supaya ya mengingatkan merekalah 45:45 mengalah integritas, mengasalah 45:48 bagaimana menjaga amanat gitu. 45:50 Alhamdulillah itu berkembang 45:53 ya. Jadi yang di masjid tadinya kan di 45:55 masjid Pondok Indah, tapi akhirnya ee 45:58 pihak pengurus ingin membuat sendiri 46:00 seperti itu ya. Mungkin karena melihat 46:02 kemajuannya seperti itu, jadi kita tidak 46:04 diperpanjang itu kontaknya di situ. 46:07 Akhirnya pindah ke ee Pasar Pondok 46:10 Pinang itu dekat Masjid Pondok Pinang di 46:12 situ. 46:13 Oke, 46:13 seperti itu ya. Alhamdulillah mengelola 46:15 tuh anak-anak muda yang punya dan ada 46:18 ada mahasiswa UI juga ketika itu ya 46:20 I 46:21 yang punya di bidang itu. 46:24 Perelananya selanjutnya dari Bapak 46:25 Fahrudin di Bandung. Bang Nino, apa 46:27 pendapat Bang Nino rencana Muhammadiyah 46:29 untuk membuat bank untuk mendirikan 46:31 bank? Pendapat Bang Nino gimana? Hah? 46:35 Saya setuju sekali. 46:36 Hm. 46:37 Saya setuju sekali. Saya pernah membantu 46:40 waktu itu ee Muhammadiyah pernah mau 46:43 membuat bank, sempat sudah membeli saham 46:45 bank ee aduh saya lupa nama banknya ya. 46:49 Tapi ternyata pengurusnya itu tidak 46:51 amanah sehingga asetnya habis. 46:56 Ya, waktu itu saya membantu Pak Bambang 47:00 Sudio yang kemarin terakhir jadi kepala 47:03 BAS Basna. 47:04 He. 47:05 Itu saya lupa banknya namanya apa ya. 47:07 pernah Muhammadiyah itu punya bank, 47:09 membeli saham bank. 47:11 Hm. 47:11 Tapi mengerusnya tidak amanah. Saya 47:13 setuju banget setuju sekali 47:15 ya. Karena bank syariah yang ada 47:17 sekarang ini e menurut saya belum cukup 47:20 gitu ya. Belum cukup bisa menjangkau. 47:23 Belum belum cukup apa maksudnya? Belum 47:24 cukup syariah atau apa? 47:24 Menjangkau. 47:25 Menjangkau ya. 47:26 Iya. Menjangkau menjangkau masyarakatnya 47:28 dan belum cari. Betul gitu. [tertawa] 47:33 Masih ada cela-cela ini ya. Iya. 47:35 Konvensionalnya ya. 47:37 Iya, masih mencari-cari padanannya di 47:39 bank konvensional. 47:41 Oke. 47:41 Mestinya kan dibalik. 47:44 Baik. Nih selanjutnya dari siapa? 47:46 0813992. 47:49 Asalamualaikum, Bang Nino. Oh, dari Juna 47:51 di Bekasi. Bang Nino, bagaimana ekonomi 47:53 Indonesia ke depan dengan banyaknya 47:55 hutang hampir 6.000 triliun sampai 47:57 pemerintah minta wakaf ke masyarakat, 48:00 "Bayar bunga saja sudah pusing, apalagi 48:02 bayar pokoknya. Mohon penjelasannya, 48:04 Bang Nino. 48:06 Iya, itu memang sangat mengkhawatirkan 48:09 ya. Yang namanya hutang besar itu itu 48:12 mengkhawatirkan itu pasti ya. Artinya 48:17 kita punya kewajiban untuk melunasi dan 48:20 bagaimana melunasinya itu. Nah, itu yang 48:22 harus dipikirkan ya. Apa berdagang 48:25 dengan hutang itu biasa. Tapi kalau 48:28 hutangnya sudah semakin besar, kita 48:30 harus mengukur kemampuan kita untuk 48:31 mengembalikannya. 48:33 Sepertinya kalau bicara apa membaca 48:37 komentar-komentar dari para pejabat, 48:40 pemerintah masih punya keyakinan bisa 48:43 melunasi 48:44 ya. Yang pertama itu kalau dari segi 48:46 pemerintah. Tapi kalau dari segi kita 48:49 sebagai masyarakat ya kita berusaha 48:52 sebaik-baiknya saja. Artinya kita 48:54 berusaha di bidang kita ekonomi informal 48:57 tadi dikembangkan. 48:59 Lalu bidang-bidang ekonomi yang belum 49:02 optimal seperti pariwisata yang tadi 49:04 saya sampaikan itu kan itu masih ada 49:06 potensi di situ ya 49:08 potensinya masih sangat besar. 49:10 Nah, tinggal ini kebijakan pemerintah 49:12 lagi nantinya apakah itu mau di 49:16 kapitalisasi istilahnya ya mau di digali 49:19 apa digali ee potensinya di pemberbesar 49:24 atau tidak ya. Yang kedua tentunya kait 49:27 kaitannya dengan masalah korupsi dan 49:30 hukum. Hukum dan korupsi 49:32 itu korupsi itu juga menjadikan biaya 49:34 ekonomi kita tinggi. Ya, itu yang harus 49:37 dibahas nih korupsi itu ya dari hutang 49:41 yang 600 apa 6.000 R triliun tadi itu 49:46 juga kan sebagian kita tahu ada yang 49:47 dikorupsi 49:49 dari orang-orang yang ditangkap itu kan 49:50 ternyata 49:52 sebagian dari APBN itu yang di yang di 49:55 yang di ini ya yang diambil 49:58 untuk mereka pribadi. Jadi itulah satu 50:01 penegakan hukum ya yang pasti. Yang 50:04 kedua termasuk di dalamnya adalah 50:07 membasmi korupsi. 50:09 Yang ketiga, apa ya? Mengangkat atau 50:13 mengelola 50:15 sektor-sektor ekonomi yang masih punya 50:16 potensi besar. 50:18 Dan bagi kita yang di bawah, masyarakat 50:21 bawah ini sebenarnya bisa berk 50:23 berkontribusi 50:26 ya. Seperti misalnya kita membentuk apa 50:29 ee BMT tadi kita kumpul 20 orang bikin 50:32 koperasi yang punya kemampuan lebih 50:35 membantu yang lain ya bantuannya itu 50:39 tidak apa jangan berbentuk donasi atau 50:42 infak tapi berbentuk dana bergulir ya. 50:46 Jadi BMT lah ya kan 20 orang bisa bikin 50:49 BMT koperasi syariah namanya 50:51 kalau istilah kita kan BMT. 50:54 Sebenarnya banyak sebenarnya potensi 50:55 yang bisa kita lakukan. Nah, kembali ke 50:58 6.000 triliun itu yang membayar nanti 51:01 generasi yang akan datang. Seperti saya 51:02 sampaikan tadi, 51:03 siap-siap aja bagi generasi muda untuk 51:06 mulai dari sekarang memikirkan 51:08 bagaimana cara memunas nanti. [tertawa] 51:12 Oke, Bang Nino. Kita beralih ke 51:13 pertanyaan berikutnya dari pendengar ini 51:15 dari Custom, Pak Custom di Pondok Aren. 51:18 Asalamualaikum, Bang Nino. Bang Nino, 51:21 kalau pinjaman-pinjaman online itu di 51:23 bawah pengawasan siapa? Karena banyak 51:25 yang membawa lambang OJK dan saya pernah 51:27 menghitung dari teman yang pernah pinjam 51:29 itu bunganya per bulan sampai 30%. 51:32 Begitu pertanyaan dari Pak Kastam di 51:35 Pondok Aren. 51:37 Iya. Kalau yang namanya 51:40 apa? Lembaga keuangan itu pengawasnya 51:42 adalah pengawasnya adalah ee OJK. Tidak 51:48 ada yang tidak ada yang lain. Jadi kalau 51:50 terjadi 51:52 apa istilahnya kecurangan di situ ya, FR 51:55 dalam bahasa ekonominya itu tanggung 51:57 jawab salah satu KJK ikut bertanggung 52:00 jawab sebenarnya. Jadi kalau ada bank 52:02 yang gugur 52:05 atau bank yang tidak gugur lah ya, bank 52:08 tidak bisa memil kewajibannya atau 52:10 seperti tadi adalah itu namanya fintech 52:12 itu kan fintech tadi menggunakan ee 52:15 sarana teknologi untuk menawarkan 52:19 menyediakan pinjaman dan sebagainya. itu 52:21 tugasnya Joj untuk mengawasi itu. Nah, 52:25 kita sebagai masyarakat kembali lagi 52:28 ketika kita ingin atau membutuhkan dana, 52:32 carilah lembaga-lembaga keuangan yang 52:35 sudah terdaftar atau bersertifikasi dari 52:39 OJK. 52:41 Kan kebanyakan lembaga-lembaga yang tadi 52:43 itu kan rentenir yang menggunakan 52:46 sarana teknologi. Sebenarnya rentenir 52:48 kan sudah ada dari zaman dulu ya, dari 52:50 zaman dahulu kalam. 52:53 Nah, sekarang mereka bisa difasilitasi 52:55 dengan 52:57 ee apa? Dengan teknologi. Nah, itu 53:00 banyak masyarakat yang terjebak karena 53:02 mudahnya memperoleh. 53:04 Dan kita kan manusiawi ya, ketika terima 53:07 uangnya senang. H 53:09 tapi begitu harus membayar berat rasanya 53:12 ya. Makanya juga kan dalam Islam itu 53:15 hutang itu sesuatu yang harus dipenuhi 53:19 dan juga bagian salah satu salah satu 53:22 mustahik dari infak zakat itu adalah 53:26 orang yang berhutang 53:28 ya. Jadi kita boleh menggunakan infak 53:30 itu untuk membantu orang yang berhutang 53:32 kesulitan. Nah, kembali pengawasan itu 53:35 sebenarnya jawaban saya. OJK lah yang 53:37 mengawas. 53:40 Baik, Bang Nino. Sebenarnya masih banyak 53:42 pertanyaan yang masuk tapi kelihatannya 53:44 kita sudah dibatasi oleh waktu. Terima 53:46 kasih Bang Nino atas kesediaannya untuk 53:49 kami wawancara dari Radio Rasil ya. 53:52 Mudah-mudahan sehat. Salam buat Tehnia 53:54 dan anak-anak di rumah, cucu-cucu. 53:57 [tertawa] 53:57 Salam tukang ngurunya di rumah. 54:00 Oh, sudah enggak ada sekarang ya? 54:02 Oke, mudah-mudahan Bang Nino sehat dan 54:05 terus mengabdi untuk UI ya, Dias Natalis 54:08 ke1 eh ke-71 54:11 UI tangguh untuk Indonesia bangkit. 54:14 Terima kasih Bang Nino. Jazakallah 54:15 khair. Asalamualaikum warahmatullahi 54:17 wabarakatuh. 54:20 Waalaikumsalam warahmatullahi 54:21 wabarakatuh.