Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:08 Brail TV. 0:11 [musik] 0:15 Asalamualaikum warahmatullahi 0:17 wabarakatuh, Bang Ihsan. 0:18 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:20 wabarakatuh. 0:21 Bagaimana kabar Bang Ihsan? Sehat, Bang 0:24 Ihsan? 0:24 Kabar. Alhamdulillah. Insyaallah. Amin. 0:26 Insyaallah. 0:27 Amin. Amin ya Allah. 0:28 Iya. [terkesiap] Baik, Bang Insan. Ada 0:30 beberapa 0:32 ee topik yang ingin kami yang kami butuh 0:35 pencerahan dari Bang Isan. Yang pertama 0:38 ini terkait dengan ini kan sudah 4 bulan 0:40 ini 4 bulan lamanya ee rapat kabinet 0:44 akhirnya kembali dilaksanakan. terakhir 0:48 itu di tanggal 13 Maret 2026 0:52 dan kemarin sudah dilaksanakan rapat 0:54 kabinet oleh ee Presiden Prabo Subianto 0:58 dan ini adalah rapat yang bisa dikatakan 1:00 paripurn lah begitu dari catatan Bang 1:04 Ihsanudin Nursi dari rapat kabinet ini 1:07 apa, Bang? Kemudian juga kami ingin 1:09 menyoroti bahwa Presiden Prabowo sendiri 1:13 ini akan menargetkan jumlah BUMN akan 1:17 tersisa 350 1:20 perakhir 2026. Ini artinya kan akan ada 1:24 banyak badan usaha milik negara yang ee 1:27 harus diamputasi begitu ya. Kemudian ee 1:31 kami juga ingin menyoroti ketika ee adik 1:35 Prabowo ini murka ee terkait dengan 1:39 program MBG di mana program MBG ini 1:42 adalah program andalan dari Presiden 1:44 Prabowo yang digerogoti tumor ganas di 1:47 birokrasi. Begitu menurut ee Asim Jayo 1:51 Hadusumo. Silakan Bang Isan Nursi. 1:55 [batuk] 1:56 Baik. [berdehem] 1:58 Bismillahirrahmanirrahim. 2:01 Subhanaka la ilma lana illa maamtana 2:04 innaka antal hakim. Alhamdulillahiabbil 2:07 alamin. Allahum sayidina Muhammad 2:10 sayidina Muhammad. [berdehem] 2:13 Rabbanaidahirli 2:18 amri wahlatan. 2:25 Ee 2:28 yang pertama soal tumor ganas. 2:32 Tumorganis 2:32 baru nanti berkaitan dengan berkaitan 2:35 dengan rapat kabinet ya. 2:37 Iya. 2:39 Dan pengurangan BUMN. 2:42 Heeh. 2:43 Tersisa tahun ini 350. 2:47 [tertawa] 2:48 Baik. Ee 2:50 soal sumor ganas 2:53 ini menunjukkan bahwa ini indikasinya 2:56 banyak sekali kalau bicara tumor ganas 3:00 indikasinya bahwa ee 3:03 penyakit korupsi sudah mendarah daging 3:07 gitu. 3:09 penyakit korupsi sudah 3:12 bukan sekedar institutionalized tapi 3:15 sudah internalized gitu, 3:18 sudah menjiwa 3:21 dalam birokrasi. 3:23 Ee 3:26 kalau istilahnya digerogoti 3:28 dia berarti parasit gitu ya. 3:32 Ee saya kok ngelihatnya bukan soal 3:34 parasit, bukan soal juga ee 3:40 dia 3:42 menjadi 3:44 analogi dengan tumor. 3:46 Heeh. tapi lebih ke problem 3:49 ee 3:52 kemampuan kita 3:54 mendiagnosa 3:56 ee 3:58 kalau dalam bahasa saya 4:01 melakukan klarifikasi, 4:04 mengkonfirmasi, 4:05 memverifikasi, dan validasi 4:08 atas sebuah gejala dan kemudian kita 4:12 kita memberi obatnya. Jadi ee kita tidak 4:15 hanya melihat problem ini sebagai sebuah 4:18 gejala, 4:20 tapi kita melihatnya sebagai sebuah ee 4:25 ee 4:27 peristiwa sistemik struktural. 4:29 Ee sehingga 4:32 kita mampu menyelesaikan yang bukan cuma 4:34 sekedar 4:35 melepas parasit itu mencopat parasit itu 4:38 atau memberikan injeksi supaya si 4:41 parasit mati. 4:43 Tapi kita ee 4:46 memulihkan 4:48 secara sistematik struktural 4:51 ee apa yang menjadi 4:54 amanah, apa yang menjadi 4:58 oh tugas tanggung jawab kita, peran kita 5:01 dengan hak dan kewajiban kita, dengan 5:03 peranan kita sekaligus memperbaiki 5:05 kinerja. 5:07 Kalau istilah saya bukan cuma sekedar 5:09 kompetensi. 5:11 Jadi pada bulan Maret, 5:14 bulan Maret 2026 tanggal saya menyebut 5:17 kompetensi saja tidak cukup karena 5:20 dibutuhkan 5:22 ee 5:25 satu kemampuan menghayati, memahami 5:29 ee dan menerjemahkan serta melaksanakan 5:32 ee amanah yang diemban. 5:36 MBG sudah saya sebut bisa kita lihat 5:39 dalam konstruksi 5:41 School Smith School SMC. 5:43 H 5:44 eh itu saya sudah sampaikan beberapa 5:47 kali di di 5:50 ee Rasil kalau kita ngelihatnya sebagai 5:53 school SM scholation gitu ya, program 5:56 bantuan makan untuk 5:59 masyarakat. 6:01 maka kita bisa melihat apa yang 6:04 dilakukan oleh WHO, apa yang dilakukan 6:09 oleh FAO, 6:11 apa yang dilakukan oleh 6:13 ee UNP, apa yang dilakukan oleh eh 6:19 UNESCO 6:21 dan kemudian nanti berhubungan dengan ee 6:24 institusi ee olgarki ee 6:29 internasional. 6:31 yang saya sebut sebagai contoh awalnya 6:33 itu di Afrika. Lalu kemudian di beberapa 6:36 negara maju 6:38 yang ee di belakang itu supaya kelihatan 6:41 dia mulia, dia akan masuk ke dalam 6:44 konstruksi pendidikan 6:47 supaya kelihatan kelihatannya mulia. 6:50 Kita yang sedang kita bantu adalah 6:52 anak-anak terdidik 6:54 sehingga orang menerima kita. yang kita 6:56 akan bantu adalah mereka yang kekurangan 6:59 gizi. 7:01 Mereka yang kita bantu adalah ibu yang 7:05 suatu pekerjaan tentu mulia gitu ya. 7:09 Kalau kita ngelihat kayak gitu kelihatan 7:11 ya. Tapi ketika kita ambil dia dalam 7:16 pendekatan sistem, dalam pendekatan 7:18 ekosistem, 7:20 maka kita 7:22 berhadapan dengan satu kondisi ee kenapa 7:27 ee masyarakat 7:30 kekurangan 7:32 ee kalau pakai bahasa sederhananya. 7:35 Kenapa dia marginal, 7:37 pas-pasan, 7:39 kenapa dia butuh makan? 7:42 gitu ya. 7:42 Heeh. 7:43 Lalu kenapa kemudian dia perlu 7:44 meningkatkan kualitas hidupnya dengan 7:46 makanan itu? 7:49 Nah, itu dihortcut dengan Smills 7:51 Coalition dengan MBG yang diledek oleh 7:54 orang-orang itu ee sebagai 7:58 ee [tertawa] 8:00 Heeh. 8:01 yang kita sebut ya sebagai ejekan-ejekan 8:03 yang tidak menyenangkan gitu ya. 8:07 Saya sendiri tidak ingin masuk dalam 8:08 konstruksi vitality eh siility saling 8:12 mengejek gitu karena itu tidak 8:13 menyelesaikan masalah itu cuma 8:15 menyenangkan sesaat gitu ya. [berdehem] 8:18 Kalau kita bilang ee 8:22 ejekan-ejekan itu yang kita kutip dia 8:24 cuma sekedar menyenangkan sesaat dan 8:26 tidak memberikan jalan keluar. Saya 8:28 enggak mau begitu dan saya tidak begitu 8:31 ee di mana di mana forum saya tidak 8:33 ingin menggunakan sarana untuk masuk ke 8:35 dalam saling mengejek, saling 8:37 menghindar. Tapi saya menantang untuk ee 8:42 bagaimana mengkonstruksi dan 8:44 mendekonstruksi dan merekonstruksi 8:48 supaya kita banyak juara keluar. Jadi 8:49 ada orientasi solusi yang kita punya. 8:52 Jadi ee sejak 8:55 ee 8:58 36 tahun lalu gitu ya, 36 tahun lalu 9:02 saya sudah menulis buku seperti itu. 9:04 Saya tidak mau menjadi bagian dari 9:06 masalah, 9:08 tapi saya ingin memecahkan masalah gitu. 9:11 berorientasi pada solusi. Nah, kalau 9:13 kita 9:15 mengkonstruksikan NBG dengan model 9:18 begitu dan kenyataan begitu, maka 9:20 problemnya adalah ee seberapa siap 9:23 sebenarnya, seberapa baik sebenarnya 9:25 persiapan perencanaan perancangan 9:28 program ini. 9:30 Nah, kalau 9:32 kalau kita perhatikan di sini maka 9:35 problem besarnya ternyata ini tidak 9:38 dipersiapkan dengan baik. 9:41 ee ini tidak dirancang dengan baik. 9:45 Lalu ketika sampai pada posisi 9:47 pelaksanaan ini ternyata membuka 9:50 lapangan kerja bagi 9:52 ee kelompok tertentu 9:55 dengan mendirikan satuan pelayanan ya 9:58 SPPG. 10:00 Ee itu pun saya tidak ingin menggunakan 10:03 istilah istilah yang dipakai oleh mereka 10:06 untuk mengejek 10:08 karena saya bukan bagian dari civility 10:11 war. 10:12 part ofity. Saya bukan bagian orang yang 10:15 memerangi dengan model security ya 10:17 walaupun itu lakukan dengan suka dengan 10:20 dengan kelihatan suka atas posisi GZ 10:23 yang melakukan karena eranya memang era 10:26 tapi saya tidak ingin masuk dalam. 10:29 Nah, kalau kita tahu dia tidak disiapkan 10:33 dengan baik perencanaan, maka terjadi 10:35 alokasinya juga tidak baik. 10:38 Ee di sini kita masuk ke fungsi 10:41 anggaran. 10:42 Fungsi anggaran itu adalah perencanaan, 10:46 alokasi 10:48 ya, distribusi, 10:51 stabilisasi gitu ya. Di situ kelihatan 10:54 ada perencanaan, 10:56 ada alokasi, ada distribusi, 11:00 stabilisasi, 11:01 dan terakhir diatur diregulasi, 11:05 dituangkan di dalam aturan, gitu. He. 11:08 [berdehem] 11:08 Nah, kalau kita bilang perencanaannya 11:10 enggak bagus, alokasinya enggak pas, dia 11:12 tidak terdistribusi dengan baik, dia 11:14 tidak melahirkan stabilisasi dengan 11:16 baik, dan kemudian regulasinya kayak 11:18 gitu, gitu ya. Regulasinya juga 11:22 itu berantakan 11:25 maka dia gambaran kesalahan sistematik 11:28 struktural. 11:30 Jadi, enggak bisa kita bilang sekedar 11:31 ada persoalan analogi tumor 11:34 ee ganas yang menggerogoti gitu. 11:38 Analogi itu analogi biologi. 11:42 Analogi itu analogi fisik. Ini bukan 11:45 problem fisik. 11:48 Ini bukan problem materialism. Ini bukan 11:51 problem biological gitu ya. Ini 11:55 problem-problem 11:57 ee lebih dari sekedar kejiwaan. 12:01 ee karena ee ekosistem yang dibangun di 12:06 situ ternyata punya mata rantai. Ini kan 12:09 ekosistemnya yang dibangun dari 12:12 kebijakan yang yang tidak ee tidak 12:16 layak, tidak bagus gitu ya. 12:17 He 12:18 dia juga terbawa dari posisi sebelumnya. 12:20 Jadi memang ada kalau dalam kebijakan 12:24 publik ada yang namanya continuing 12:26 discontinuing. Memang ada hal yang 12:28 berlanjut dalam proses pemerintahan ini 12:31 sehingga dia masuk di situs. Padahal 12:34 pemerintahan sebelumnya menurut Bank 12:36 Dunia bangun infrastruktur saja e hanya 12:40 mampu menurunkan 0,3% 12:44 dari 24% terhadap PDB menjadi 23,7% 12:48 terhadap PDB. biayanya 12:52 costnya sehingga dikatakan sebagai tetap 12:54 tidak kompetitif biaya logistik kita 12:56 dibanding negara maju itu bukti 12:58 kegagalan padahal duit yang kita 13:00 turunkan untuk infrastruktur gila-gilaan 13:03 itu karena IOR-nya juga tinggial capital 13:06 ratio. Ini sebagai gambaran penyakit 13:08 bawaan penyakit bawaan dari 10 tahun 13:11 sebelumnya 13:13 ada penyakit yang dibawa masuk ke dalam 13:15 sebuah sebuah pemerintah baru. Ini bukti 13:20 sistemnya salah, bukan cuma sekedar ee 13:23 sistem birokrasi gitu. 13:26 Ini ada sistem sistem politik yang salah 13:29 gitu. Ngelihatnya lebih dalam lagi. Nah, 13:32 e kalau sistem politik yang salah itu 13:34 membuktikan [berdehem] 13:36 bahwa ada sistem besar yang salah 13:37 ketemu, sistem konstitusinya salah, maka 13:41 maka kita kita bisa beletin kalau pakai 13:44 bahasa saya bisa kita belajarin dengan 13:46 pendekatan konstitusional. 13:48 salah di mana dia gitu pendekatan 13:51 konstitusional. Makanya enggak bisa kita 13:53 masuk cuma sekedar pada kesalahan sistem 13:55 kebijakan atau kesalahan yang mengalir 13:58 begitu saja berdasarkan arus bawaan 14:00 gitu. Kalau pakai sekali lagi tumur 14:03 ganas yang menggerogoti gitu ya, itu 14:06 kelihatannya [berdehem] 14:08 arus bawaan dan pendekatannya 14:10 biological, pendekatannya materialism. 14:12 Tapi kalau kita menggunakan 14:13 konstitusional maka pemetaan masalahnya 14:16 jadi bagus. 14:18 pemataan masalahnya menjadi terstruktur 14:21 rapi. Nah, karena pendekatan 14:23 konstionalnya menghendaki terstruktur 14:24 rapi, maka kita harus mesti lihat 14:27 [berdehem] 14:29 ini bagian dari upaya menyehatkan, ini 14:31 bagian dari upaya mencerdaskan 14:34 amanat konstitusinya begitu. Ini bagian 14:36 dari upaya ee memberi makan supaya ee 14:41 kelayakan hidup, penghidupan yang layak 14:43 bagi kemanusiaan itu terpenuhi. Nah, 14:46 model pendekatan pasal 23, pasal 27, 14:49 pasal 31, pasal 32 dan kemudian kata 14:52 pembukaan di konstitusi itu mewajibkan 14:55 gitu ya. Katakan ini sebagai kita bilang 14:57 deh sebagai menjalankan amanat 14:58 konstitusi, tetapi mewajibkan kerja 15:01 begini kerja penuh dengan kejujuran. 15:04 Hm. 15:05 Kerja penuh dengan k penuh tanggung 15:07 jawab. Jadi kalau pakai bahasa kerennya 15:10 gitu, 15:11 public accountability-nya, akuntabilitas 15:14 publiknya itu istilah ketika di DPR eh 15:19 29 30 tahun lalu gitu ya. He 15:22 akuntabilitas publiknya itu harus 15:25 dioptimalkan. 15:27 Nah, ternyata sejak yang namanya era 15:30 reformasi, 15:32 sejak yang namanya hasil pemilu 2004 15:35 hingga hasil pemilu 2024, 15:40 akuntabilitas publiknya buruk. 15:42 H 15:43 apa wujudnya? Wujudnya karena sistem 15:47 menyediakan seorang presiden adalah I am 15:50 the king, I am the law. Jadi apapun yang 15:52 dikehendaki Presiden, apapun yang dimo 15:54 presiden, apakah kehendak itu objektif, 15:56 apakah itu kehendak itu subjektif, dia 15:59 pasti jalan. Nah, di situ pertanyaan 16:01 kalau ini sebagai kehendak presiden gitu 16:03 ya, sebagai kehendak presiden, maka 16:05 sesungguhnya kehendak ini kehendak 16:07 konstitusional atau kehendak subjektif 16:09 pribadi atau di luar itu ada 16:11 kehendak-kehendak tertentu, ada 16:12 titipan-titipan ee niat tertentu gitu. 16:15 Ada niat tertentu di belakang itu gitu. 16:18 ee mari kita melihatnya secara secara 16:22 subjektif dan secara objektif. Kalau 16:25 secara objektif memang dia dimaksudkan 16:27 sebagai penerapan konstitusional 16:29 gitu ya, maka dia sebenarnya harusnya 16:33 wujudnya dalam tataran menyeluruh. 16:35 Tatanan menyuruh yang saya maksud adalah 16:38 bagaimana sebenarnya presiden 16:40 menjalankan sebuah sistem 16:41 konstitusional, memberikan lapangan 16:44 kerja, mencerdaskan. 16:47 Jadi kalau kalau kalimat kalimat kalimat 16:50 konstitusionalnya adalah dia membangun 16:53 kecerdasan, dia membangun ee penghidupan 16:57 ya kan melindungi segenap tumpah darah 17:00 bangsa, mencerdaskan, menyejahterakan. 17:04 Nah, kalau dia dalam perspektif 17:06 melindungi anak-anak, mencerdaskan 17:09 kehidupan gitu ya, menyejahterakan, 17:12 maka 17:14 dia punya tatanan yang mengharuskan, 17:17 mewajibkan ee seorang presiden bersama 17:22 timnya itu bekerja 17:26 dengan menihilkan kepentingan pribadi, 17:29 menihilkan kepentingan kelompok. Ah, ini 17:31 yang tidak ada. 17:33 Jadi kalau pakai bahasa 17:34 konstitusionalnya gitu ya, didorongkan 17:37 oleh keinginan luhur. Nah, itu yang 17:39 tidak ada. Akibat didorongkan oleh 17:43 keinginan luhur itu tidak ada. Maka 17:46 upaya melindungi, upaya mencerdaskan, 17:49 upaya menyejahterakan 17:51 distorsi dia, 17:53 terintervensi dia terinterferensi dia 17:57 gitu. Apalagi kemudian anggarannya gede 18:00 gitu. Heeh. 18:01 Nah, kenapa bicara anggarannya gede 18:03 gitu? Nah, di sini maksudnya lebih parah 18:05 lagi. Dia menyentuh lagi problematik 18:07 moral 18:09 dan problematik spiritual. Jadi, secara 18:12 intelektual sudah tidak benar, secara 18:15 material benar. Maka ketika masuk dalam 18:17 pendekatan spiritual dan moral makin 18:19 makin bermasalah. 18:21 Ah, di mana letak masalah spiritual dan 18:23 moralnya? ini kelihatan ketika kita 18:25 sampai pada posisi kajian spiritual dan 18:28 moral itu didekati dengan kalimat 18:30 didorongkan oleh luku dan harus disadari 18:35 sebagai kekuasaan itu wajib 18:36 dipertanggungjawabkan gitu ya baik di 18:38 dunia maupun di akhirat ya maka 18:42 secara moral sebaiknya kita ngelihat 18:45 sepatutnya kita ngelihat 18:48 bagaimana kondisi keuangan negara lagi g 18:51 kan kan Ini soal-soal alokasi alokasi 18:54 anggaran. 18:56 Bagaimana kondisi keuangan negara? 18:59 Keuangan negara sampai pada satu kondisi 19:02 utang mencapai 9.920 19:07 triliun. 19:09 Yang tahun ini saja APBN menanggung 19:12 beban untuk membayarnya sebesar 1400 19:16 triliun lebih sedikit. 19:19 1400 triliun lebih sedikit. 19:24 bunganya sekitar 8334 19:28 gitu. Eh, cicilan pokoknya jalan 19:31 pokoknya 833. 19:34 Lalu bunganya 599 19:38 600an triliun. Tapi pada saat yang sama 19:43 kita menyaksikan di jalan raya 19:46 mobil-mobil mewah sebagai pejabat publik 19:49 berseliwerang. Ulang-ulang. Perhatikan 19:51 baik-baik. 19:53 Mobil-mobil mewah pejabat publik 19:56 berseliuran 19:57 berlebelkan milik negara. 20:02 Bayangkan negara yang sedang dibebani 20:04 hutang demikian tinggi dan itu dibayar 20:08 oleh keringat rakyat dan ternyata para 20:11 pejabatnya gitu ya membekukan hatinya, 20:15 membutakan melatanya, menulitkan 20:18 telinganya atas beban hutang yang tinggi 20:21 itu dan mereka bermewah-mewah. 20:23 ini problem orang 20:26 dan pada saatnya sama ada alokasi 20:28 anggaran yang demikian besar tadi di MPG 20:31 tadi mereka kemudian ee eh eh eh 20:35 salurkan juga secara tidak efisien, 20:36 tidak efektif gitu. 20:39 Coba berapa kesalahan moral kalau kita 20:41 temukan di situ misalnya saya ulang ya 20:44 ini di cara berpikir nih. Cara berpikir 20:47 di tengah beban hutang demikian tinggi 20:50 9.920 20:51 triliun ditambah di ee ee ditambah 20:55 dengan posisi nilai tukar yang ambruk 20:58 enggak karu-karuan. 20:59 He 21:00 untuk tahun ini saja sudah sekitar 10 21:02 sampai 11% sementara sejak reformasi 21:05 sampai dengan 2025 9,38% 21:09 gitu ya dan kemudian menengah ambruk 21:12 karena tidak mampu menghadapi situasi 21:14 perekonomian. Lalu ada sejumlah pejabat 21:18 yang menikmati kemewahan 21:20 dibiayai oleh rakyat. Yang rakyat tadi 21:22 hasil keringatnya dipakai untuk 21:24 membiayai itu semua. Membiayai hutang, 21:27 membiayai kekalahan rupiah, membiayai 21:30 program-program yang ekosistemnya 21:32 berantakan enggak perlu karuan. 21:35 Ini problem sistematik struktural yang 21:37 saya maksud. 21:38 Hm. Jadi kalau kita melihatnya dalam 21:41 perspektif ee problematik struktural 21:44 kayak gini, maka kita tidak akan 21:46 serta-merta dengan sekedar melakukan 21:47 pendekatan tumur ganas yang menggerus, 21:51 tumur ganas yang merusak, tumur ganas 21:54 yang menghisap, tumur ganas yang ee ee 21:57 menggerogoti, bukan itu kalimatnya. Tapi 22:00 mari kita melihat dia dalam kerangka 22:02 secara menyeluruh baru kemudian kita 22:03 prakteli. 22:05 Eh, dan lagi siapa yang bicara kayak 22:07 gitu gitu loh. 22:08 Heeh. yang bicara kayak gitu, adik 22:09 presiden gitu. Kenapa bukan otoritas 22:12 yang betul-betul ada di tanggung jawab 22:14 itu? Misalnya, misalnya 22:17 ee PGN yang baru atau misalnya Purbaya 22:21 sebagai Menteri Keuangan yang membiayai 22:24 atau katakan BAPENAS sebagai perencana 22:26 pembangunan nasional atau katakan 22:29 menteri sosial gitu atau sebutlah 22:31 kemudian Menteri Kemiskinan gitu ya e 22:35 katakan menteri pembangun e menteri apa 22:37 pembangunan desa tertinggal. Jadi dia 22:39 mestinya menggambarkan satu tanggung 22:41 jawab. Ah ini makanya nanti masuknya di 22:44 di sidang kabinet. Dia mesti 22:47 menunjukkan tanggung jawab satu rezim 22:51 karena menjangkut soal menjalankan 22:53 amanat konstitusi gitu kalau ngambilnya. 22:56 Jadi [berdehem] 22:58 kalau ceritanya ada korupsi, ada polisi, 23:03 ada tentara, ada partai, ada pribadi 23:06 yang mendapat kenikmatan atau sebut, itu 23:09 cuma dampak buat saya. H 23:11 atau katakan itu cuman proses dalam 23:14 pendekatan pendekatan input menentukan 23:17 output 23:19 gitu. Ini pendekatan sistem nih input 23:22 menentukan output apalagi kemudian 23:24 dilihat dalam kerangka pendekatan sistem 23:26 gitu ya. Ada fondasi, ada visi, ada 23:29 misi, ada kebijakan, ada strategi, ada 23:32 program, ada input, ada proses, ada 23:35 output, ada outc dan ada multiplayer 23:38 gitu ya. maka kelihatan 23:41 ada lingkungan 23:43 internal yang salah disebabkan sistem 23:46 dan aktor yang salah 23:48 itu. 23:49 Tapi kan Pak Prabowo sendiri ee apa 23:53 namanya ee di depan rapat kabinet heran 23:56 kenapa MBG kemudian dituding boros 23:58 sedangkan ribuan triliun kekayaan 24:01 Indonesia hilang tak ada yang protes. 24:03 Bang. 24:03 Oh komparasi sistem yang salah. 24:07 Komparasi sistem. komparasi sistem yang 24:09 salah. Satu, dia tidak dia tumpak tidak 24:11 komparabel. 24:13 Eh, 24:15 ketika dibilang ribuan triliun, ribuan 24:17 triliun apa tadi? Ribuan triliun sumber 24:19 daya atau ribuan-triliun apa? 24:20 Heeh. 24:22 Ribuan triliun apa nih? Ribuan 24:23 kekayaan Indonesia. 24:25 Yang dimaksud dengan kekayaan lebih 24:27 jelas lagi, kekayaan sumber daya, 24:29 kekayaan produksi atau kekayaan 24:31 distribusi. 24:32 Heeh. 24:34 Ya, ini harus jelas sekarang. Kalau 24:37 kemarin yang diomongin oleh Fuat Bahawa 24:38 Wazir yang kemudian disebut-ribut oleh 24:40 orang banyak soal kekayaan sumber daya 24:42 alam. Loh, kalau Anda kemudian 24:45 orang-orang itu tidak ribut gitu ya, 24:47 tidak ribut soal dirampoknya kekayaan 24:49 sumber daya alam 24:51 itu ketidakributan itu karena orang 24:53 sudah terkena simbolik torture. 24:55 Hm. Apalagi 24:56 sudah terkena kekerasan simbolik 24:59 H. 24:59 Sehingga mereka merasa ee yang pakai 25:01 bahasa Irsandin Nursi kondisi abnormal 25:04 dia pandang sebagai normal. Maka Anda 25:05 sakit terus-menerus maka mereka enggak 25:07 bicara apa-apa. Loh, siapa yang 25:09 menerapkan kondisi abnormal? Ya, 25:11 pemerintah. Di mana? Kenapa kondisi 25:13 abnormal itu ya konstitusi? 25:17 Hm. 25:17 What's the point? What's the point? 25:19 Pernyataan diamnya rakyat, pernyataan 25:23 diamnya 25:24 ee tudingan presiden terhadap diamnya 25:27 masyarakat tentang perampokan belasan 25:29 ribu triliun itu menggambarkan gitu ya. 25:33 Lagi-lagi pemahaman masalahnya tidak 25:34 struktural. Anda hanya melihat akibat. 25:39 Anda hanya melihat akibat. Anda tidak 25:41 melakukan kajian sebab itu makanya wajib 25:44 dilakukan pendekatan sistem h 25:46 pendekatan sistemik struktural 25:48 fundamental dan fungsional itu 25:50 bahasanyaandin Nursi. Lakukan dengan 25:52 pendekatan sistem matik struktural 25:56 fundamental dan fungsional dilengkapi 25:58 dengan pendekatan feedback loop. Oh Agus 26:01 gak ikut di grup saya yaak. [tertawa] 26:07 Kalau kalau masuk dalam grup saya 26:09 melihat jangan begitu. Jadi metodologi 26:11 ilmunya dan konfigurasi sistemnya 26:13 lengkap dengan feedback loop itu itu 26:15 akan membuka mata kita, membuka mata 26:17 hati kita gitu ya. 26:20 Ee bagaimana cara kita memetakkan satu 26:23 masalah, bagaimana kita merumuskan satu 26:25 masalah, bagaimana kemudian 26:26 mendekonstruksi dan merekonstruksinya. 26:28 Nah, pernyataan e belasan ribu triliun 26:32 itu dirampok dan diam saja ee kan ada 26:37 yang intangible, ada yang tangible. 26:39 Sementara MBG itu jelas sekali 26:42 problemnya. Itu yang saya bilang tidak 26:43 kompatibel, tidak bisa dibandingkan 26:45 dengan mudah begitu gitu. 26:47 Itu menyederhanakan masalah yang tidak 26:49 sederhana. Lalu akhirnya apa? Tersat. 26:52 H 26:52 itu pakai pendekatan modelin Mursi. Jadi 26:55 kalau pakai pendekatan Mursi gitu ya, 26:58 ini sori karena saya ngomong nama saya 27:00 karena ini menyangkut soal tanggung 27:01 jawab akademik ya Agus ya. Maaf ya. 27:03 Iya. Iya Bang. 27:04 Ini soal tanggung jawab akademik dari 27:06 kajian yang saya lakukan sehingga saya 27:08 tidak menuding siapa yang bertanggung 27:10 jawab atas tanggung jawab akademik ini, 27:12 kajian ini. Tapi tanggung jawab akademik 27:14 Nursi karena memang Nursi yang melakukan 27:16 kajian ini sejak sebelum pemilu 204 27:21 saya sudah bikin kayak kajian ini. Jadi 27:23 kajian kajian pendekatan sistemik 27:25 struktural, metodologi ilmu konfigur eh 27:29 konfigurasi sistem dengan FB club sudah 27:31 saya sampaikan sejak 2004. 27:34 Makanya 27:35 saya tidak saya tidak terheran kalau ada 27:38 presiden yang menghina saya gitu ya. 27:41 Selamat berjuang membela bangsa dan 27:42 negara. Saya kayak jelata saya dihina ya 27:45 enggak apa-apa juga sih nih saya nih 27:47 saya menikmati penghinaan itu gitu. 27:49 [tertawa] 27:50 Karena ketika penghinaan itu tidak saya 27:52 terima, Allah mengatakan hinaan itu akan 27:54 baik kepada mereka yang menghina 27:56 [tertawa] gitu. 27:58 Dan ternyata terbukti. Masyaallah. Nah, 28:01 saya balik lagi. Nah. Eh, kalau pakai 28:04 pendekatan sumber daya, Anda lihat 28:07 secara sistem aktif struktural dengan 28:09 pendekatan ee historiografi secara 28:11 fenomenon gitu ya. Fenomenanya kayak 28:13 gimana l tatanan regulasinya. Kemarin di 28:17 PKB itu saya menyebut, "Coba deh bongkar 28:21 kalau berani Undang-Undang 2499 28:24 tentang lalu lintas devisa dan sistem 28:26 nilai tukar dan Undang-Undang 2507 28:29 tentang penenaan maal dan lengkapi 28:32 dengan undang-undang bongkar lagi 28:33 undang-undang MEA, bongkar lagi 28:35 Undang-Undang Antidiskriminasi lalu 28:38 kemudian tarik ke dalam konstitusi. Saya 28:40 mau tanya, 28:43 siapa pejabat publik dari mulai presiden 28:45 sampai dengan pimpinan partai yang mau 28:48 melihat itu secara struktural? Eh, halo 28:51 para pemimpin tertinggi di Indonesia. 28:54 Apakah Anda pemimpin bisnis, pemimpin 28:56 politik atau pemimpin pemerintahan atau 28:59 pemimpin 29:01 peradilan? 29:02 Coba berani enggak ngebongkar akar 29:05 masalah itu yang saya sebut tadi? 29:09 Setiap orang tentu menjawab berani. Tapi 29:10 benar enggak cara kita melakukan 29:13 dekonstruksi dan rekonstruksinya? 29:16 Ah, itu belum tentu. Karena menyangkut 29:17 soal ee apa yang saya sebut sebagai 29:21 metodologi ilmunya, konfigurasi 29:23 sistemnya, di dalam cading backlop-nya 29:26 dan kemudian 29:28 sampai seberapa bersih hati dan pikiran 29:30 kita. Begitu Agus. 29:33 Nah, ini saya omongin karena saya sudah 29:35 sampai pada posisi Indonesia sedang 29:38 menghadapi apa yang saya sebut sebagai 29:40 financial digital military India secara 29:44 kompleks yang hampir-hampir tidak 29:47 dipahami oleh banyak orang. 29:49 Orang cuma sebut perang cyber. Perang 29:52 cybernya di wilayah mana? Dengan kondisi 29:55 apa? Pada lingkup apa? Dengan metode 29:57 bekerja seperti siapa? Apa? Siapa 29:59 korbannya? bagaimana tatannya, apa 30:02 indikasi-indikasinya. 30:05 Mestinya sampai kayak gitu gitu loh 30:06 untuk melihat bahwa bukan cuma sekedar 30:09 ada MBG yang demikian rupa 30:11 dipersalahkan, tapi ada problem 30:13 strategis yang jauh lebih besar. Siapa 30:15 yang pemimpin tertinggi di negeri ini 30:17 yang menyadari betul ada perang 30:19 nonmiliter istilah saya ada perang 30:22 peradaban? 30:24 Coba coba coba kita dengar siapa yang 30:26 sadar itu. Ulang ya. Ulang ulang ya. 30:31 ini mestinya rapat kabinet begitu 30:33 bicaranya. Kalau saya gitu ya, [tertawa] 30:35 kalau saya rapat kabinet. 30:41 Siapa di antara para petinggi itu gitu 30:43 ya yang menyadari bahwa Indonesia 30:47 berada dalam posisi perang peradaban? 30:51 He. Kalau pakai pendekatanpendekatan 30:55 yang saya lakukan dengan menggunakan 30:57 dokumen National Security Strategic of 31:00 US sejak September 2002 sampai dengan 31:04 National Security Strategic of US sampai 31:06 dengan Desember 2025 lalu menggunakan 31:10 dokumen National Defense Strategic of US 31:13 sejak 2008 gitu ya 2012 dan hingga hari 31:18 ini gitu ya itu akan kelihatan bedah 31:20 personalnya itu. Makanya dalam dalam 31:23 kajian saya ee minggu-minggu ini saya 31:26 menggunakan pernyataan Tulsi Gabar, saya 31:28 menggunakan pernyataannya ee Donald 31:31 Trump dan lalu surat Donald Trump kepada 31:33 kongres. Jadi tanggal 12 Juni lalu 31:37 kemudian berikutnya tanggal 7 8 Juli 31:41 pertemuan angkara lalu surat Donald 31:43 Trump 10 Juli kemarin. Nah, itu mata 31:46 rantainya kelihatan. Nah, hal itu yang 31:48 kita ambil ini bukan sekedar perang 31:49 militer Bung. 31:51 Ini bukan cuma sekedar perang IT, perang 31:54 digital. Ini bukan cuma sekedar perang e 31:57 supply chain, pantai pasok. Ini bukan 31:59 cuma sekedar perang value chain, nilai 32:01 tambah atas kegagalan supply chain, 32:05 gitu loh. Jadi kalau saya eh berceramah, 32:08 berdiskusi tentang ini, Agus juga pernah 32:11 lihat nih, pernah dengar, pernah 32:12 menyaksikan dan pernah mengikuti 32:14 diskusinya. He. 32:15 Kalau kita menyaksikan ada perang 32:16 industri manufaktur, perang nilai tukar 32:19 gitu ya, perang ICT, perang cyber, 32:22 perang militer dan perang nonmiter yang 32:23 berujung pada perang peradaban gitu. 32:26 Maka mestinya 32:27 kita punya mekanisme, punya sistem, 32:30 punya model untuk mengantisipasi perang 32:34 yang sudah saya sampaikan ke publik 32:37 berpuluh-puluh tahun paling tidak 32:39 sejaknya namanya reformasi. 32:41 H 32:41 inilah yang sedang kita hadapi gitu. 32:43 Kenapa? Karena saya menyadari 9798 32:46 sebagai pukulan nilai tukar itu itu 32:48 bukan sekedar pukulan nilai tukar. 32:51 Jadi something beyond that gitu ya. Di 32:53 balik yang namanya perang nilai tukar 32:54 yang melahirkan 32:55 yang melahirkan krisis moneter dan 32:57 kemudian krisis multidimensi. Musnya 32:59 kita pahami kenapa dia bisa bergeser 33:02 dari problematik kejatuhan nilai tukar 33:05 yang dimulai dengan pukulan harga energi 33:09 harga minyak naik ke posisi perang nilai 33:11 tukar dijatuhkannya rupiah dari 2000 33:15 menjadi 16.000 sampai 18.000 ambruk lagi 33:18 begitu. 33:18 He he. 33:19 Lalu [berdehem] 33:20 dia kemudian menjadi krisis 33:22 multidimensi. 33:24 Kenapa kemudian ketika kita sadari 33:26 sebagai multikrisis, multidimensi, kita 33:28 tidak mencoba untuk melakukan ee 33:31 rekonstruksi atas krisis multidimensi 33:34 itu, gitu. 33:35 Nah, itu ketika saya di DPR itu saya 33:37 menyebut itu ini loh perang nilai tukar 33:39 ini mengakibatkan kejatuhan satu 33:41 generasi 33:43 yang dimuat di Jawa Pos. Cuma Jawa Pos 33:45 yang memuatnya. Nah, sekarang orang baru 33:48 ngelihat gitu loh. [tertawa] 33:49 Iya. I 33:50 ya. Mungkin mungkin mungkin ee ee saya 33:53 orang yang teriak di gurun Sahara kali 33:55 ya. 33:55 Iya. Artinya hanya 33:57 hanya orang-orang tertentu yang bisa 33:59 memahami apa yang dikatakan oleh Bang 34:00 Isa Nursi begitu ya. 34:01 E artinya mereka tidak punya bacaan 34:03 cukup tentang Al-Qur'an sebagai 34:05 petunjuk. 34:06 Masyaallah. 34:06 Al-Qur'an itu sudah memberi petunjuk kok 34:09 kalau itu tuh kayak gitu tuh ada di situ 34:11 gitu. Jadi ketika Anda baca setiap ayat 34:13 dan dia kemudian menginspirasi tentang 34:15 keilmuan, maka pada saat yang sama 34:17 sesungguhnya setiap ayat yang Anda baca, 34:19 setiap kata yang digunakan dan kemudian 34:22 menjadi narasi ayat dan tiap narasi ayat 34:24 berhubungan dengan narasi ayat, dia 34:26 harusnya menginspirasi ilmu dan 34:29 meningkatkan ilmuan. Itu kalimat 34:30 pentingnya, Gus. 34:31 Dan 34:31 dia menginspirasi ilmu dan meningkatkan 34:33 keimanan. 34:34 Dan kita tidak siap 34:35 baru kita aplikasikan pada hadis, gitu. 34:37 Iya. Iya. 34:38 Kenapa Gus? dan kita tidak siap untuk 34:40 menghadapi perang yang abang maksud itu 34:41 ya. Hingga saat ini kita masih berkutat 34:43 pada satu itu saja gitu. 34:47 Eh, dalam sebuah dialog saya dengan 34:50 Gigin Praginto gitu ya, 34:53 saya menyebut Indonesia in the middle of 34:55 nowhere. Tidak ke mana-mana gitu ya, 34:57 tidak jelas dan tidak ada di mana-mana. 35:00 Tapi dalam kajian lebih lanjut dalam 35:01 situasi perang yang penuh dengan 35:03 ketidakpastian, 35:04 iya. 35:04 Suasana tidak di mana-mana dan tidak ke 35:06 mana-mana itu menyelamatkan. Oh, 35:08 gitu ya. 35:09 Heeh. 35:10 Tapi ada tetapinya. 35:11 Heeh. 35:13 Ketika saya mengkaji lebih dalam lagi, 35:15 gitu. Ketika saya mengkaji lebih dalam 35:17 lagi, loh, kenapa Anda kemudian 35:20 tergopoh-gopoh mendaftar ke OACD? 35:23 Heeh. 35:25 Nah, lalu kemudian kenapa juga Anda 35:26 kemudian mendaftar menjadi anggota 35:28 Brick? 35:29 Heeh. 35:30 Kan kata kuncinya adalah seorang 35:31 pelangil tukar currency war. 35:34 Yang di beyond the currency war adalah 35:36 perang ID, perang digital. Care itu 35:39 gagal karena gerakan ID yang dipaksakan 35:42 ke masyarakat Inggris sehingga turun 35:44 yang namanya antistate. Itu jatuhnya 35:46 CSER. 35:48 Ulang ya ulang. Jatuhnya K itu karena 35:51 protes masyarakat Inggris terhadap 35:52 perdana menterinya yang perdana 35:54 menterinya 35:56 mengkampanyekan tentang ID dan maka 35:58 muncullah gerakan antistate. Antistate 36:01 itu kalau di negara barat anti 36:04 pemerintahan yang merupakan perpanjangan 36:06 tangan dari oligarki. 36:08 Iya. 36:09 Dari penguasa-penguasa politik dan 36:10 penguasa bisnis tertentu itu antistate. 36:13 Kalau di Indonesia antistate-nya itu 36:14 beda gitu loh. [tertawa] 36:16 Iya. Iya. 36:17 Kalau kita pelajari pelajari soal itu 36:19 gitu ya. Nah, 36:21 kalau dunia rata-rata mengalami 36:23 problematik yang secara global itu sama, 36:26 berarti kan kita bisa harus bisa 36:28 mengidentifikasi dong 36:29 kok secara global kita punya penyakit 36:31 yang sama ya. Misalnya penyakit yang 36:33 sama begini salah satu contohnya dan ini 36:35 sudah saya sampaikan di sebuah TV swasta 36:38 gitu ya. Saya sampaikan di INWS terbuka 36:40 aja saya sampaikan di INWS gitu ya. 36:42 Heeh. 36:42 Ee karena 36:45 karena ada seorang yang merasa hebat 36:47 dengan demokrasi liberal. Ada seorang 36:49 yang merasa hebat. Saya enggak saya 36:50 sebut siapa namanya. 36:51 Ada seorang yang merasa hebat dengan 36:53 pasar bebas. 36:54 Saya bilang 36:56 demokrasi liberal. 36:58 Demokrasi liberal itu secara nyata dari 37:04 era ah ini ini menarik kajian ini kajian 37:07 ini bukan kajian di Nursi ini kajian 37:09 kajian sejumlah kaum kritis di Amerika 37:12 sejak yang namanya gitu ya eh Ronald 37:17 Regen itu berarti sejak neoliberal 37:20 sampai dengan terakhir Trump telah 37:23 bergeser 37:24 dari rakyat yang sesungguhnya berdaulat 37:28 menjadi rakyat yang menjadi sisa-sisa 37:31 ee ee tetesan kedaulatan. 37:34 Ah, itu mereka ngambil contoh 37:36 macam-macam. Ee saya ngambil kemudian 37:38 karena ee saya tidak menerima ee begitu 37:41 saja atas kajian itu, saya mengajil 37:44 kajian VI research, saya mengambil 37:46 kajian GAL, saya mengambil data NBR, 37:49 saya ngambil data dari sejumlah ee 37:51 tokoh-tokoh pemikir kritis itu dengan 37:53 sekaligus pendokoh pemikirnya. keluarlah 37:56 kaji beberapa buku. Nah, di situ 37:58 terbukti bahwa 38:01 kedolotan rakyat itu sudah demokrasi itu 38:05 e kalau bahasa saya gitu ya, bahasa saya 38:08 itu bukan sekedar ilusi kesetaraan gitu 38:12 ya. [tertawa] 38:13 Bukan sekedar ilusi kesetaraan. Dia 38:16 gambaran 38:18 bahwa masyarakat itu terjebak ke dalam 38:22 mimpi kesamaan. 38:24 [tertawa] 38:24 Heeh. 38:25 mimpi kesamaan. 38:27 Jadi ee ada ada mimpi tentang kesamaan 38:30 kedudukan suara seorang suara seorang 38:34 warga negara Amerika dengan suara 38:36 seorang Elon Mask, ee suara seorang 38:39 warga Amerika setara dengan suara ee J 38:43 Besos yang muncul dalam ee pidato 38:46 inaugurasi Trump di 2026 kemarin. Nah, 38:49 dari situ muncul terbukti bahwa 38:52 sesungguhnya gitu ya, demokrasi itu 38:54 adalah berbeda dari suara-suara mereka. 38:56 Kenapa? Nah, saya buktikan dengan uang. 38:59 Nah, di situ kemudian baru kemarin eh 39:02 Paul Kookman membuktikannya dengan 39:04 istilah billionire dalam risetnya. Ini 39:06 menarik nih, Gus. 39:07 Anda bertanya ke situ. Jadi, saya saya 39:09 [tertawa] 39:11 akan menjawab dengan dengan data-data 39:12 yang saya punya, gitu ya. Baru kemarin 39:15 kurang lebih baru sekitar eh 2 minggu 39:18 tulisan Kikmen ee mencoba menyelisih 39:21 penggunaan istilah bilioner dalam pemilu 39:24 yang dilakukan kemarin. Pemilu kemarin 39:26 ini dalam rangka menghadapi pemilu 39:28 istilah mereka di November nanti. 39:31 Krukmen kaget ternyata penggunaan 39:33 istilah biner di Demokrat itu tidak 39:36 sebanyak penggunaan istilah biner di 39:38 republik. 39:39 Hm. 39:40 [tertawa] 39:41 Nah, itu temuan angka biner dalam 39:44 brisetnya Paul Kukman itu konsisten 39:49 dengan riset saya bahwa biaya kampanye 39:52 presiden di Amerika juga terus 39:54 meningkat. 39:55 Iya. 39:56 An artinya artinya pertanyaan besarnya 39:58 menjadi gini. Sama seperti di Indonesia, 40:02 biaya pemilu yang dikeluarkan oleh KPU 40:06 makin tahun makin meningkat. 40:08 Pertanyaannya adalah siapa yang menerima 40:11 manfaat atas meningkatnya 40:14 biaya pemilihan umum? Siapa yang 40:16 menerima manfaat optimal? 40:17 Pengusaha oligarki. 40:19 Ah, siapa lagi? Iya. Itu artinya terjadi 40:23 pergeseran gitu di situ. Pergeseran 40:25 kedatan 40:26 di ekonomi yang disebut dengan pasar 40:28 bebas yang tadinya ada ilusi tentang 40:31 konsumen adalah raja gitu ya. Iya. 40:34 Dengan pendekatan sistematik struktural 40:35 atas sumber daya produksi, distribusi, 40:39 dan digitalisasi, maka yang menikmati 40:42 adalah pemilik modal. 40:43 Heeh. 40:45 Oligarki. 40:45 Jadi, yang raja itu yang menentukan 40:47 oligarki lagi. 40:48 Nah, di situ 40:50 lagi-lagi ya gitu ya. Ketika sistem ini 40:52 ketemu, maka AI menjawabnya. Ini temuan 40:56 saya ini saya saya adu. 40:58 Heeh. Bagaimana Anda memandang dari 41:01 cerita bergesernya kekuas kedaulatan 41:03 rakyat ke tangan segelintir orang dan 41:06 bergesernya kekuasaan ekonomi ke tangan 41:07 segelintir orang. Segelintir itu e 41:09 oligar. Mereka jawab ini jawaban menarik 41:13 gitu ya. Itu menunjukkan kata ini kata 41:16 EA ini. 41:17 Heeh. 41:19 Ee ee ini menunjukkan katanya bahwa 41:24 dia enggak mau nyalahin demokrasi. Ada 41:25 sistem yang salah gitu. 41:29 dia tentu dia poinnya adalah gitu ya. 41:32 Kalau kita ngelihat lagi dalam tatanan 41:33 begitu maka sebenarnya ketika Gerindra 41:37 karena ini tatanan dunia dan kemudian 41:39 kita ikutan dalam istilah saya hanyut 41:42 dalam kebodohan terjerat dalam jalan 41:44 sesat gitu ya. kita ikut dalam posisi 41:45 hanyut dalam kebodohan dan terjerat 41:47 dalam jalan sesat, maka mestinya kita 41:50 keluar dong. Nah, di situ anggaran dasar 41:53 Gerindra benar pasal 11. Cuma 41:56 problematiknya kenapa cuma tinggal 41:57 kata-kata gitu. Nah, sekarangah mestinya 42:01 itu yang menjadi kajian rapat kabinet. 42:05 Oke, 42:05 gitu lagi-lagi usulan begitu mestinya. 42:08 Dan ini dan ini terjadi tidak hanya di 42:12 Amerika saja tapi juga di Indonesia dan 42:14 juga di seluruh dunia, Bang. Sistem ini 42:17 akhirnya demokrasi ini adalah suara 42:19 bukan lagi suara rakyat tapi suara 42:21 oligarki begitu, Bang, ya. [tertawa] 42:23 Iya. Eh itu yang saya sebut sebagai ee 42:29 ilusi kesetaraan, ilusi kesamaan gitu. 42:33 Dan kalau hak asasi manusia tuh ilusi 42:35 apa? 42:38 ilusi kebasan. [tertawa] 42:40 Jadi H itu ilusi kebebasan. 42:44 Loh ini betul loh ini kajian-kajian 42:46 kajian-kajian yang saya lakukan dalam 42:48 perspektif saya untuk 42:50 melihat 42:51 ee sampai kan begini kan e pernyataan 42:55 begini Gus. Pertanya ini pernyataan 42:57 kalangan-kalangan tertentu. Ternyata 42:59 Al-Qur'an benar. Itu artinya kan mereka 43:02 melihat kenyataan lalu kemudian baru 43:03 mereka kembalikan ke Al-Qur'an kan. 43:05 Betul. Oke. Cara metodologinya begitu 43:08 gitu. E metodologinya melihat kenyataan 43:11 lalu dikembalikan ke dalam ayat. Dilihat 43:13 ayat mana yang cocok gitu ya. 43:15 Iya. 43:15 Bagaimana kau dibalik? Bagaimana 43:17 Al-Qur'an sebagai pembimbing kehidupan, 43:21 sebagai pedoman kehidupan. Hudalinas, 43:22 hudal lil muttaqin kan sebagai 43:24 pembimbing berarti sebagai petunjuk, 43:25 sebagai pembimbing, sebagai 43:27 aturan-aturan yang membina kehidupan 43:29 itu kita pakai untuk memotret keadaan. 43:32 Gitu dong cara pandangnya baru asik. 43:35 Dua-duanya kita pakai gitu loh. 43:36 Tapi kayaknya kayaknya ini gajahnya 43:38 enggak enggak cukup setengah jam nih, 43:40 Bang. Ini gajahnya butuh [tertawa] 43:43 kita sudah di penghujung acara apa 43:45 namanya? Bang Fahri sudah ngasih sinyal 43:48 nih, Bang. Mungkin kesimpulan terakhir 43:49 Bang. 43:50 Bang sudah ngasih sinyal. 43:51 Maaf ya. Iya, maaf. Maaf sudah 40. 43:55 [tertawa] 43:56 Maaf sekali lagi karena saya 43:58 saya ee saya ingin mengatakan memang ee 44:04 ada posisi diametral pada bangsa ini. 44:07 He 44:10 ada seorang yang bernama Tiok 44:13 bersuara demikian lantang soal MPG, 44:15 [berdehem] 44:16 bersuara lantang soal SPPG. Ada seorang 44:19 Fatimah Azahra yang bersuara lantang 44:22 sedemikian rupa. 44:23 Heeh. Ada beberapa 44:25 analis-analis baru yang mencoba memotret 44:29 keadaan. Kelihatannya keran gitu ya. 44:31 Saya enggak usah sebut siapa namanya. 44:33 Level kajiannya memang sedikit menyentuh 44:35 konten gitu ya. Dari kajian 5C casing 44:38 context content. Dia menyentuh konten 44:41 tapi dia tidak pernah bisa melihat 44:43 kedalaman. dia tidak bisa melihat 44:45 konsistensi dari keseluruhan itu 44:47 sehingga kajian itu ee ee dia berjarak 44:52 dengan Al-Qur'an sebagai pembimbing 44:54 kehidupan, Al-Qur'an sebagai pembina 44:55 kehidupan, Al-Qur'an sebagai petunjuk 44:57 kehidupan. Jadi, eh the guidance of 45:00 life, the way of life gitu ya. Kan 45:02 Al-Qur'an bukan sekedar the way of life, 45:04 bukan sekedar the guidance of life gitu 45:06 ya, bukan theing of life, the brief of 45:08 life gitu. Tapi dia dia menatas 45:11 keseluruhan kehidupan dari persalahan 45:13 kecil aja. 45:14 ngetok rumah orang aja mesti pakai 45:15 asalamualaikum kalau tiga kali sautin 45:17 tidak keluar enggak usah masuk enggak 45:19 usah maksa gitu kan itu kan sepele 45:21 banget gitu loh sampai akhirnya kita 45:23 diatur kalau jalan tuh jangan 45:25 gebruk-gebrukin kaki ya gitu kan kalau 45:27 jalan jangan dongakin kepala gitu coba 45:29 begitu sampai begitu aja diatur gitu loh 45:31 heeh heeh 45:32 diajarin gitu loh dikasih tahu itu hal 45:34 detail itu sampai kayak gitu apalagi 45:36 kemudian kayak petunjuk artinya 45:39 sesungguhnya gitu ya 45:40 Heeh 45:41 siapa saja para petinggi republik ini 45:44 yang melanjutkan negeri ini menjadi 45:47 negeri sekuler. 45:49 Ulang ya, ulang sebagai penutup nih. 45:53 Siapa saja petinggi atau para tertinggi 45:56 di negeri ini yang menjadikan negeri ini 45:59 menjadi negeri sekuler, yang menjadi 46:02 negara-negara sekuler, yang menjadikan 46:04 masyarakatnya menjadi masyarakat 46:06 sekuler, penuh dengan kegandrungan akan 46:10 kebebasan, kegandrungan gitu ya akan 46:14 materialism. 46:15 Hah, 46:15 maka percayalah di akhir jabatannya atau 46:19 kemudian menjelang setelah menjelang 46:21 pejabatnya. di akhir jabatannya dan 46:23 setelah menjabat dia tidak akan punya 46:25 kedamaian kehidupan. 46:27 Iya. 46:28 Saya tidak ingin menyatakan terakhir 46:30 bahwa dia akan terakhir terhina tapi 46:31 saya ingin mengatakan dia ah setelah dia 46:33 menjabat dia tidak akan pernah punya 46:35 kedamaian kehidupan karena dia telah 46:37 ikut menanam kerusakan. 46:40 Saya ulang ya tegas ya saya enggak mau. 46:43 Karena dia telah ikut menanam kerusakan. 46:45 Bahkan dia telah menjadi teladan 46:47 kerusakan. 46:50 siapapun dia, saya tidak peduli siapapun 46:51 dia. Karena mekanisme hidupnya memang 46:54 begitu. 46:55 Iya, Pak. 46:56 Satu sistem kehidupannya memang begitu. 46:57 Jadi, pemimpin dia teladan, pemimpin dia 47:01 menanam nilai. Nah, ketika dia menanam 47:03 nilaian sekuler dan dia teladani sekuler 47:05 itu, maka dia telah ikut berkontribusi 47:08 tegaknya sekuler, tegaknya gaya hidup 47:10 liberal materialism, individualism yang 47:12 dalam seabad ini Barat gagal mengangkat 47:16 perkat martabatnya. 47:18 Baik. Demikian Agus. 47:19 Subhanakallahumma wabihamdika ashadu 47:22 alla ila antafir alaih waan minkum. 47:26 Wasalamualaikum warahmatullahi 47:28 wabarakatuh. 47:28 Waalaikumsalam warahmatullahi 47:30 wabarakatuh.