Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:10 Brail TV 0:26 berasil 0:35 Y ahdi 0:37 yasya 0:40 wahuwal azizul hakim. 0:46 Sadaqallahul 0:48 aliyul adzim. 0:52 Asalamualaikum warahmatullahi 0:54 wabarakatuh. 0:57 Waalaikumsalam. 0:59 Waalaikumsalamih, Mbak 1:04 leaders. 1:09 Bismillahirrahmanirrahim. Dear leaders 1:10 dan calon leaders di seluruh Indonesia 1:12 dan luar negeri. Kembali lagi kita pada 1:14 acara Indonesia Leaders Talk ee yang 1:17 malam ini memasuki edisi ke-254 1:20 dengan tema PISA Scor Indonesia. 1:23 Sahabat-sahabat eh sekalian, PISA atau 1:27 Program for International Student 1:28 Assessment merupakan assesment 1:30 internasional yang mengukur kemampuan 1:33 pelajar usia 15 tahun dalam membaca 1:36 matematika dan sains. Bisa tidak hanya 1:39 menguji penguasaan materi pelajaran, 1:41 tetapi juga kemampuan peserta didik 1:44 menggunakan pengetahuan, bernalar, dan 1:46 memecahkan persoalan dalam kehidupan 1:48 nyata. 1:49 Malam ini kita akan mendiskusikan hasil 1:51 PISA 2025 Indonesia. Skor membaca dan 1:55 sains pelajar Indonesia menunjukkan 1:57 peningkatan sementara skor matematika 2:00 sedikit menurun. Namun secara 2:02 keseluruhan capaian Indonesia masih 2:04 berada di bawah rata-rata OECD dan 2:07 target RPJMN 2025-2029. 2:11 Diskusi kita pada malam hari ini tidak 2:13 hanya akan membahas angka dan peringkat, 2:15 tetapi juga melihat persoalan yang lebih 2:17 mendasar. kualitas pembelajaran, 2:20 kemampuan bernalar dan memecahkan 2:22 masalah, penguatan pendidikan dasar, 2:25 peran guru, serta penggunaan teknologi 2:27 dan kecerdasan buatan secara tepat dalam 2:30 pendidikan. Di tengah pesatnya 2:32 digitalisasi dan penggunaan AI, kita 2:34 perlu memastikan bahwa teknologi 2:36 benar-benar memperkuat proses belajar, 2:39 bukan menggantikan pondasi pendidikan. 2:42 Kemampuan membaca secara mendalam, 2:44 menulis, berhitung, berpikir kritis, 2:46 bereksperimen, dan berinteraksi langsung 2:48 dengan guru tetap menjadi bekal utama 2:50 bagi anak-anak Indonesia untuk 2:52 menghadapi masa depan. Untuk itu sudah 2:54 hadir pada malam hari ini para 2:56 narasumber kita. Yang pertama ee Bapak 2:59 Taufik Mulyadin, dosen dan pemerhati 3:01 pendidikan. Asalamualaikum, Pak Taufik. 3:04 Waalaikumsalam, Masi. 3:06 Terima kasih sudah hadir dan berikutnya 3:10 juga sudah hadir bersama kita Ki 3:12 Darmaningtias. Asalamualaikum Ki 3:14 Darmtias. Terima kasih sudah 3:15 hadiram warahmatullahi wabarakatuh. 3:19 I dan juga sudah hadir tuan rumah Indust 3:22 Pak Mardan. Pak Mardani. Asalamualaikum 3:25 Pak Mardani. 3:27 Salam Bang Haldi. Mas Taufik eh Pak 3:31 Dariming Tias. Ya, sudah lama tidak 3:35 berkomunikasihat 3:37 selalu. 3:39 Iya. 3:39 Baik. Ee sahabat sahabat sekalian nanti 3:41 mudah-mudahan segera bisa bergabung Ibu 3:43 Ramawati, Kepala Pusat Asesmen 3:45 Pendidikan dan juga ee Pak Dahlan Iskan 3:47 ya, mantan Menteri BUMN periode 3:49 2019-2014. 3:51 Baik sahabat-sahabat sekalian, sebelum 3:53 kita mulai acara Industal Leader Stok 3:55 ini, kami mengucapkan terima kasih yang 3:58 sebesar-besarnya kepada seluruh pemirsa 4:00 setia Indonesia Leader Stok, baik dalam 4:02 negeri ataupun luar negeri dan juga 4:04 kepada rekan-rekan media dan wartawan 4:06 yang senantiasa menyaksikan acara kita 4:08 ini. Acara Indonesia Lader Stok ini bisa 4:11 disaksikan e setiap ee Jumat malam pukul 4:14 20 sampai 21.30 30 ee di channel live 4:18 streaming YouTube ee Mardani Alisera dan 4:20 juga Rasil TV dan juga disiarkan melalui 4:23 siaran radio Rasil ee 720 AM di sekitar 4:28 Jaboretabek dan juga direlay di beberapa 4:30 kota di seluruh Indonesia yang terhubung 4:33 dengan ee jaringan radio Rasil. Baik, 4:36 sahabat-sahabat sekalian, kita mulai 4:37 acara Industal Leader Stok pada malam 4:39 hari ini dengan tema e PISA Skor 4:42 Indonesia. Kepada Pak Mardani 4:44 dipersilakan. ee untuk memberikan 4:48 pengantar dan pandangan awalnya. 4:51 Kasih, Mang Haldi. Izin ee Pak Daring 4:54 Tias, Mas Taufik ee memulakan. 4:58 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 5:00 warahmatullahi wabarakatuh. 5:03 Alhamdulillah. Allahumma sholli ala 5:04 sayyidina Muhammad amma ba. Selamat 5:08 malam dan salam sejahtera untuk kita 5:10 semua leaders dan calon leaders eh 5:15 Score Indonesia tahun 2025 baru saja 5:19 diumumkan oleh OECD ya dari 90-an ya 91 5:24 negara kita di peringkat 74 5:28 sekitar 74 5:30 tiga yang ee membaca sains dan matematik 5:35 ya ee sains 5:38 dan membaca naik sedikit ee matematiknya 5:42 turun. Tetapi secara keseluruhan nanti 5:45 Pak Darmin Tias dan Mas Taufik dari enam 5:49 level yang 5:52 di 5:54 persyaratkan atau dikategorikan di visa 5:58 ini kita mayoritas di level 2 ya. Jadi 6:03 level 3 ee hampir tidak ada. ya 6:07 rata-rata dua gitu yang ini menunjukkan 6:11 bahwa ee kita tidak sedang baik-baik 6:15 saja dalam masalah kualitas. 6:20 Tentu pada panitia sangat ee selalu 6:22 teriak ya antara ee 6:26 kuantitas dan kualitas problem kita ya. 6:29 Kuantitasnya 6:31 memang 300 lebih 300.000 Ibu lebih 6:34 sekolah di kita SD, SMP, SMA. 6:38 Bandingkan dengan Singapura yang 330-an 6:41 kemarin Pak Prabowo ngangkat itu. Tetapi 6:43 sebetulnya ketika kita sudah berhasil 6:46 membuat sistem maka angka 300, 300.000 6:51 atau R3 juta pun sebetulnya sama ya pada 6:53 manas. yang saya paham teman-teman 6:57 ee ee ojek online bisa mengelola ee 7:02 jutaan ya dengan sangat sistematis ya 7:06 apalagi ada AI sekarang. Sehingga 7:09 pandangan saya ada tiga hal yang harus 7:12 kita ambil perhatian dari nilai PISA 7:15 skor Indonesia di tahun 2025. 7:19 OECD ee ee punya kebijakan yang per 3 7:24 tahun ee di kita hampir 14.000 ya, Mas 7:29 Taufik yang ikutan dari 500-an sekolah 7:32 kalau enggak salah. 7:34 Pandangan saya satu, kita harus jujur 7:37 bahwa kualitas pendidikan di Indonesia 7:42 sebagaimana yang dipotret oleh PISA 7:46 PISA skor kita dari enam kemampuan kita 7:50 ada di level du ya. naik ketiga luar 7:55 biasa tapi memenuhi ee apa menyelesaikan 8:01 masalah yang kompleks, penalaran tingkat 8:03 tinggi, mengintegrasikan berbagai 8:06 informasi ya itu level 6. Kita di level 8:10 du level dasar atau minimum 8:14 mampu menggunakan keterampilan dasar 8:16 untuk memahami menyelesaikan tugas tapi 8:19 belum mampu menerapkannya dalam faktual 8:21 sehari-hari. 8:24 ini baik walaupun ee sedikit memalukan 8:30 karena kita tertinggal jauh dari negara 8:33 tetangga kita 8:35 bahwa enggak usah Singapura ya ee 8:38 Malaysia juga sudah jauh, Thailand sudah 8:41 jauh ya dan kita perlu menyadari potret 8:45 kualitas pendidikan di Indonesia tidak 8:49 sedang baik-baik saja. 8:51 Yang kedua, karena itu guru, guru dan 8:55 guru ya betul-betul program peningkatan 9:00 kapasitas 9:02 kualitas guru. Nah, itu mulai dari hulu 9:06 ke hilir. Memang 9:08 kita cukup sedih ketika ee banyak IKIP 9:13 pada merengtias berubah menjadi 9:14 universitas gitu. 9:17 itu ee satu ee langkah yang 9:22 ikut arus tapi sebetulnya harus 9:26 dibayar dengan kita tidak punya 9:30 kekhususan universitas yang menyiapkan 9:33 generasi yang akan datang. tidak mudah 9:36 menjadi guru. Ee 9:38 bahkan kalau para ulama mengatakan 9:41 profesi terbaik sesudah nabi dan rasul 9:43 adalah para guru. Ya. Dan karena itu 9:46 persiapan para guru mulai dari hulunya 9:49 yang masuknya memang yang kalau bisa top 9:53 10 tapi juga punya karakter betul-betul 9:56 dapat menginspirasi ya karena guru-guru 9:59 adalah makhluk langka yang istimewa. 10:03 Jadi poin kedua, guru, guru dan guru. 10:06 Poin ketiga, pandangan saya kita tidak 10:09 bisa mengandalkan kepada sekolah elit, 10:13 mengandalkan kepada satu dua rekrutmen 10:17 sekolah-sekolah yang dianggap akan 10:19 menjadi merusuar. Pandangan saya ini 10:22 tindakan yang sangat tidak proporsional. 10:27 Sekolah negeri, sekolah swasta yang 10:29 300.000 Ibu, itulah yang harusnya 10:31 menjadi dasar orkestrasi bagaimana 10:35 meningkatkan kualitas pendidikan di 10:37 Indonesia. Tentu masih banyak yang lain 10:40 untuk meningkatkan pisel skor kita. Tapi 10:42 izin Bang Haldi, Pak Darmanias, Mas 10:46 Taufik pandangan saya tiga ini dan nanti 10:48 akan berujung kepada ee revisi 10:52 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional 10:54 yang sedang berjalan nih. Padahal 10:56 panitia sangat ngawal ya. Saya banyak 10:59 berinteraksi dengan teman-teman di 11:00 Komisi 10 ya. Kita harus betul-betul 11:02 kawal payung hukum dan landasan 11:05 dasarnya. Ee tanggak belajarnya, 11:08 kekhasannya. 11:10 Kalau teman-teman guru selalu ngangkat 11:11 empat kan ya. Ee pertama tentu 11:13 kesejahteraannya, 11:15 kualitasnya, 11:17 ee jenjang karirnya dan tentu 11:20 perlindungannya. Empat ini harus 11:22 betul-betul dijaga para guru kita. Tapi 11:26 pada saat yang sama memang 11:27 anggaran-anggaran sebetulnya 20% ya 11:31 kalau sekarang R00 juta. Dan bersyukur 11:33 Mahkamah Konstitusi sudah membuat 11:36 keputusan di 2028 ee tidak boleh ada 11:39 lagi program selain program pendidikan 11:42 yang masuk dalam komponen 20%. Buat saya 11:45 Mahkamah Konstitusi ee betul-betul 11:48 mencoba menjaga ruh dari amanat 20% APBN 11:52 dan APBD untuk pendidikan. Walaupun 11:55 sudah 20% pandangan saya pada dan Mas 11:58 Topik tetap tidak akan mudah. Kita harus 12:01 nyari demand behindind the gun-nya. 12:04 Karena itu Menteri Pendidikan yang baik 12:06 yang mau rendah hati berkolaborasi 12:08 dengan para pakar yang ada tidak boleh 12:11 lagi ee stubborn keras kepala dengan 12:14 pikirannya sendiri. Nah, ee mungkin ee 12:19 kita juga berharap orang-orang terbaik 12:22 yang menjadi nahqoda untuk ee 12:26 Kementerian Pendidikan yang memang 12:27 menjadi dasar kemajuan satu negara. 12:29 Tidak ada negara maju kecuali 12:32 pendidikannya berkualitas. Itu Bang 12:34 Haldi. Ee nyun saya, Bu semuanya monggo 12:37 kita lanjutkan. 12:41 Baik. Baik. Terima kasih, Pak Mardani ee 12:44 atas pengantarnya. Dan sekarang kita 12:46 ingin mendengar pandangan dari Ki 12:48 Darmaning Tias eh terkait ee tema kita 12:51 pada malam hari ini terkait PIS PISA 12:54 skor Indonesia yang ee sudah berapa 12:57 tahun tidak terlalu beranjak naik ya. 13:00 Kepada Pak Kidas dipersilakan. 13:06 Masih di-mute Pak. 13:09 Baik, terima kasih ee undangannya. Sudah 13:13 lama saya tidak bertemu dengan 13:18 kawan satu ini. Sudah enggak tahu ke 13:21 mana jejaknya gitu ya. Ee oke. Baik. Ini 13:24 tema yang menarik karena kebetulan juga 13:26 sedang menjadi isu ya gitu. Jadi ya 13:30 memang kalau kita lihat data ee 13:36 kita dari tahun sejak mengikuti PISA 13:39 sampai hari ini kita memang belum 13:42 menembus ee angka 4 skornya 400 ya gitu. 13:48 Kita masih selalu di bawah 400 gitu. Ee 13:55 tahun ini memang ee 13:57 skor membaca dan sain naik ee 6 poin 14:03 tapi tetap belum mencapai 400. 14:07 Ee sedangkan 14:10 matematikanya turun dua poin juga belum 14:14 mencapai 400. Jadi menurut saya PR kita 14:18 bersama adalah bagaimana kita mengejar 14:22 ee ketertinggalan skor itu. Misalnya 14:26 kalau kita bandingkan dengan negara 14:28 tetangga yang ee menjadi urutan kedua 14:31 seperti Singapura itu tentu jauh sekali. 14:34 Nah, kalau kita 14:37 buka coba kita buka Undang-Undang 59 ee 14:42 2024 tentang ee rencana pembangunan 14:47 jangka panjang gitu ya. Ee itu menurut 14:52 saya juga menetapkan skor PISA yang 14:55 terlalu optimistis gitu ya. ee bahkan 14:59 yang dijadikan sebagai pijakan untuk 15:03 menentukan ee capaian skor bisa tahun 15:06 2040 yaitu skor bisa tahun ini juga 15:10 terlalu optimistis gitu. Karena ee dalam 15:16 RPJM 15:18 dalam RJPN 15:21 rencana pembangunan rencana jangka 15:24 panjang pembangunan nasional itu 15:27 ditetapkan bahwa skor ee PISA membaca 15:33 pada tahun 2045 itu 15:37 485. 15:41 ee baseline datanya tahun 2025 ini 15:46 ee 396. 15:48 Lalu matematika dipatok akan mencapai 15:52 400 15:55 di tahun eh 490 15:58 dari ee baseline datanya tahun ini 404 16:02 padahal kan ee ternyata malah di bawah 16:05 ya gitu. Lalu ee 16:09 sain itu dipatok akan mencapai ee 400 16:16 87 dari baseline data tahun ini 416. 16:22 Sementara ee tahun ini juga tidak 16:24 mencapai. Artinya kalau kita melihat 16:28 data ee Scorp bisa tahun ini yang ee 16:33 memang naik untuk skor membaca dan ee 16:38 apa sains, tetapi ee kenaikannya memang 16:41 belum sampai menembus ee angka 400. 16:46 sehingga ketika kita harus mencapai ee 16:50 angka hampir 500 di tahun 2045 16:54 memang PR-nya sangat banyak gitu ya. 16:58 Cuma memang bagi saya ada catatan. Jadi 17:01 ee apa? Pertama catatannya tahun ini 17:05 kebetulan ee ada 35 negara yang 17:08 mengalami 17:10 skor turun ya. ee kita masih beruntung 17:14 ada yang naik untuk membaca dan sainya 17:18 meskipun matematikanya turun. Itu itu 17:20 penghiburan pertamalah ya. Ee yang kedua 17:23 penghiburannya bahwa pesertanya itu 17:27 meningkat sehingga misalnya ee kita 17:30 urutannya turun barangkali itu terkait 17:33 juga dengan ee peserta yang meningkat. 17:35 Tetapi yang pasti ada kenaikan sedikit 17:39 gitu. Nah, tapi ee ini catatan kita 17:43 bersama. Hanya saja menurut saya yang 17:46 menarik adalah ee catatan dari eh 17:49 Andreas Sler ya eh direktur eh for educ 17:55 for Education and Skill at the 17:57 organization for Economic Cooperation 18:00 and Development atau OECD. bahwa menurut 18:03 dia Indonesia sebetulnya telah mencapai 18:07 sesuatu yang masih ee menjadi tantangan 18:11 bagi banyak negara gitu. ee karena apa 18:15 akses pendidikan yang ee 18:18 cukup men cukup meningkat gitu ya. Ee 18:22 selama dua dekade ini ee tingkat 18:26 pendidik tingkat partisipasi pendidikan 18:29 anak usia 15 tahun meningkat hampir dua 18:32 kali lipat. Meskipun demikian, capaian 18:35 anak usia 15 tahun di Indonesia dalam 18:38 tes ee PISA OCD tetap relatif stabil 18:42 gitu. Jadi ini saya kira ee catatan 18:45 positif memang bukan berarti bahwa 18:48 mestinya 18:50 karena aksesnya meningkat lalu ee apa 18:54 jumlah lalu skornya juga meningkat 18:57 bukan. Tetapi catatan Andreas ini adalah 19:01 bahwa ee peningkatan 19:04 ee angka partisipasi yang melonjak dua 19:08 kali lipat itu tidak mengorbankan 19:11 kualitas. Sebetulnya inti dari catatan 19:15 ee dari Andreas seperti itu gitu. Jadi 19:18 anak Indonesia menunjukkan tingkat 19:21 keingintahuan yang ee termasuk tinggi 19:25 juga ini sebetulnya di lepas dari 19:28 skor-skor yang menurun ya gitu itu ini 19:31 menurut dia ini merupakan ee modal 19:34 penting ee dalam perekonomian yang akan 19:38 datang maupun saat ini. ini saya kira di 19:43 apa ee sisi positif dari keberadaan PISA 19:47 tersebut. Nah, ee saya tidak tahu ya 19:51 apakah meningkatnya 19:53 ee skor untuk membaca dan sain itu efek 19:59 dari penerapan pembelajaran mendalam itu 20:02 atau bagaimana? Semoga ini efek dari 20:04 sana sehingga kalau memang ini efek dari 20:08 ee pembelajaran mendalam barangkali ee 20:11 sistem itu memang tepat untuk diterapkan 20:14 di kita. Sehingga itu yang harus di ee 20:17 kembangkan tentu dengan dukungan ee apa 20:22 diklat para guru yang ee lebih masif 20:25 gitu. Karena kan mungkin guru-guru yang 20:28 di daerah yang itu ee seringki 20:32 terlewatkan dari keikutsertaan dalam 20:35 diklat-diklat ee termasuk untuk diklat 20:38 pembelajaran mendalam itu gitu. Nah, 20:42 saya ingin memberikan catatan juga bahwa 20:45 ee memang 20:48 tes PISA ini menjadi acuan ee secara 20:52 global ya. Tetapi kalau kita lihat eh 20:57 sampling sampelnya lah sampelnya terlalu 21:00 kecil buat kita negara yang sangat luas 21:03 ini. Maka menurut saya kita tidak 21:07 terlalu risau dengan hasil visa ini. 21:10 Sejauh sejauh ini yang penting bukan 21:13 saya mengabaikan bisa bukan tapi sejauh 21:16 ee hasil dari tes visa ini dijadikan 21:20 sebagai referensi untuk melakukan 21:23 perbaikan sistem pendidikan nasional 21:26 gitu. sehingga ee dari sini kita 21:31 memulai melakukan perbaikan terhadap 21:33 sistem pendidikan kita yang ada saat ini 21:37 gitu. Jadi ee tidak dijadikan sebagai 21:41 pedoman penuh bahwa kita harus ee 21:45 seluruh proses pembelajaran itu mengacu 21:48 pada ee apa? 21:52 Untuk pencapaian nilai bisa yang bagus. 21:55 Tapi yang jauh lebih penting adalah 21:58 bagaimana kita tetap memberikan ee 22:00 pembelajaran untuk menjadikan pendidikan 22:04 itu bermakna gitu. Bermakna itu artinya 22:08 apa? Buat saya bermakna itu adalah 22:10 pendidikan menjadi bekal hidup bagi kita 22:14 gitu. Karena ee saya diingatkan oleh 22:18 senior saya Prof. Winarno Surahmad 22:21 almarhum dulu. Untuk apa kita memiliki 22:24 pendidikan yang bermutu tinggi tetapi 22:27 tidak bermakna gitu. Jadi kita memiliki 22:30 nilai ee tinggi tetapi kita tidak bisa 22:34 menyelesaikan persoalan-persoalan hidup 22:37 keseharian, gitu. Nah, menurut saya ee 22:40 itu jauh lebih penting gitu. ee tes PISA 22:44 adalah sebagai salah satu acuan untuk 22:49 memperbaiki sistem pendidikan itu, 22:51 tetapi dia tidak menjadi pedoman penuh 22:55 ee arah pembelajaran kita. itu yang yang 22:59 saya pahami karena ee saya tidak terlalu 23:03 risau dengan nilai-nilai kita kalau 23:06 dibandingkan dengan negara lain. Karena 23:08 kalau kita misalkan ee cek siapa yang 23:12 berada di urusan di urutan kecil dari 1 23:15 sampai 10 atau ee gitu, jelas 23:18 negara-negara yang secara geografis itu 23:22 jauh lebih sempit daripada kita. ee 23:25 karakter negaranya juga hampir serupa. 23:29 Katakanlah misalnya Singapura nomor dua, 23:31 e wilayah Singapura itu sejabodabek aja 23:37 enggak sampai gitu semuanya perkotaan. 23:40 Sementara kita ini sangat beragam gitu 23:43 dari ee Sabang sampai Merauke. Dan kita 23:47 tahu sampai hari ini masih banyak sekali 23:51 ee anak-anak yang untuk sampai ke 23:54 sekolah itu harus dengan perjuangan 23:57 penuh. Ee video yang beredar dalam 2 24:01 hari ini adalah misalnya anak-anak Nias 24:03 yang harus menyeberang sungai dengan ee 24:06 deras untuk pergi dan pulang sekolah. 24:10 ini banyak sekali ee persoalan-persoalan 24:12 semacam itu sehingga ee kita tidak bisa 24:15 melihat ee potret pendidikan kita secara 24:20 utuh itu dari PISA gitu. Bisa memang 24:24 bisa menjadi ee referensi kita untuk 24:27 melakukan perbaikan, tetapi kita tidak 24:30 bisa ee menengok sepenuhnya ke PISA. 24:34 Tetapi yang jauh lebih penting adalah 24:37 bagaimana pendidikan itu bisa 24:39 berkontribusi untuk satu menyiapkan 24:42 anak-anak itu ketika ee mentas dari 24:46 bangku pendidikan formal itu dia tidak 24:50 menciptakan ketergantungan pada orang 24:53 lain, tetapi dia bisa mandiri. Itu satu. 24:56 Yang kedua 24:58 ee mereka berpikir secara rasional. 25:01 berpikir dan bertindak secara rasional 25:04 sehingga ketika menghadapi ee misalnya 25:07 ee efek dari perkembangan teknologi 25:10 informasi ini mereka 25:13 menghadapinya dengan rasional pula 25:15 sehingga tidak mudah tertipu, tidak 25:18 mudah di ee apa kibuli orang lain dan 25:22 sebagainya. Dan ketiga, mereka bisa 25:26 berkontribusi untuk menyelesaikan 25:29 persoalan-persoalan yang ada di 25:31 lingkungannya. Entah itu soal ee 25:34 ekologi, entah itu soal kesejahteraan 25:37 sosial, entah apa. Kira-kira pandangan 25:40 saya seperti itu, ee Mas moderator. 25:46 Baik. Baik. Terima kasih Kias 25:50 atas pandangan awalnya. Sekarang kita 25:52 mendengar dulu dari Pak Taufik dan Pak 25:55 Dahlan Iskan sudah hadir. Asalamualaikum 25:57 Pak Dahlan. Terima kasih sudah hadir 26:01 ya. Kita ke Pak Taufik. Dipersilakan Pak 26:04 Taufik. 26:06 Oke. Ya. Baik. Eh Mas Haldi e mohon izin 26:09 salam kenal KMA Pak juga Pak Dar. 26:13 Mohon izin. 26:14 Iya. Ee kebetulan tadi juga tersentil 26:17 juga ya Pakis. Kebetulan saya juga 26:19 alumni UPI nih. 26:22 Alumni IP yang kebetulan awal mula IKIP 26:24 menjadi UPI gitu ya. Jadi ee saya 26:26 angkatan-angkatan awalah lah yang UPI 26:28 itu berubah gitu ya saat awal-awal 26:29 berubah menjadi universitas. 26:31 Universitas IKIP ya. 26:34 Betul. Betul. 26:38 Lanjut. 26:39 Iya. I. E jadi mungkin tadi sudah banyak 26:42 yang diulas oleh Pakardani keman juga 26:44 oleh gitu ya. Dan ee saya sepakat gitu 26:47 ya, bahwa nilai ini yang pasti adalah ee 26:51 sebuah kesyukuran yang pertama gitu ya. 26:53 Ee tadi terlepas dari banyak negara yang 26:56 kemudian ee skornya turun. Artinya itu 26:59 mengindikasikan adanya ee masalah yang 27:01 mungkin lebih kritis gitu ya. E kita 27:04 relatif stabil gitu. ee tetapi tentu 27:07 saja kita tidak lantas cepat puas gitu 27:09 ya dengan hasil tersebut dan kemudian 27:11 terlalu diglorifikasi 27:13 dan seolah ee kita telah berhasil gitu. 27:17 Karena betul tadi skor penambahan skor 27:20 yang tadi di ee bidang apa namanya itu 27:23 reading gitu ya membaca kemudian juga di 27:25 sains yang poin ya kemudian matematika 27:27 memang kurung dua poin gitu. itu 27:29 dikatakan kalau di dalam laporan sendiri 27:31 sebetulnya dikatakan stabil gitu. 27:32 Artinya relatif samalah dengan kondisi 27:35 di ee 3 tahun sebelumnya gitu ya di 27:38 tahun 2022 gitu seperti itu. Ee tapi 27:42 yang betul tadi saya sepakat bahwa ini 27:44 merupakan ee satu salah satu referensi 27:47 saja gitu untuk kita dalam membaca peta 27:50 pendidikan dan kemudian kondisi 27:51 pendidikan di Indonesia gitu. Karena 27:54 memang ee ini ibaratnya potret angle-nya 27:57 mungkin belum menyeluruh gitu. tetapi 27:59 paling tidak banyak hal yang bisa kita 28:00 ambil pelajaran gitu. Jika tadi sudah di 28:04 ulas tentang ee skor yang memang ee 28:07 selalu banyak gitu ya di apa istilahnya 28:09 itu ya ditampilkan kemudian disebar tapi 28:11 sebetulnya kalau lihat laporannya gitu 28:13 itu banyak hal yang bisa kita explore di 28:15 situ. Selain nilai sebatas tadi ya nilai 28:19 ee atau skor di tiga subjek tadi gitu ya 28:22 di membaca kemudian matematika dan 28:24 sains. Tapi banyak hal lain yang 28:25 kemudian sebetulnya bisa kita explore 28:28 dan kalau kita lihat sendiri gitu kalau 28:29 melihat dari proporsi gitu karena mereka 28:32 sebetulnya melaporkan 28:34 proporsi yang low performer dengan high 28:37 performer gitu. Jadi anak-anak yang 28:39 kemudian memiliki eh performance gitu ya 28:43 eh akademik yang tinggi yang skornya 28:45 tinggi dan kemudian yang paling rendah 28:46 gitu. Kalau tadi Pak Marnani sudah 28:48 bilang bahwa oh skornya tuh banyak di 28:50 level 2 gitu bahkan sebetulnya mayoritas 28:53 di bawah itulah. gitu ya. Seperti itu. 28:55 Jadi dalam catatannya misalkan di ee apa 29:00 namanya tuh yang levelnya di jadi kalau 29:03 bisa itu kan sebetulnya menganggap bahwa 29:04 level 2 itu adalah level yang paling 29:07 yang masih diterima yang paling rendah 29:09 lah gitu level 2 kemudian sampai level 6 29:12 gitu. Dan kemudian Indonesia sendiri di 29:16 visa 2025 ini misalkan dalam catatan di 29:19 sini di membaca sendiri itu kan masih 29:21 27% ya yang kemudian levelnya itu dua 29:25 atau di atasnya gitu. Kemudian kalau di 29:29 ee matematika itu 17% memang ini yang 29:31 paling rendah dan kemudian di sains ini 29:33 yang paling tinggi ya ee sebanyak 37% 29:36 dan selebihnya itu skornya masih di 29:38 bawah dua gitu. Bahkan di bawah dua itu 29:42 banyak gitu, banyak banget yang masih 29:44 levelnya satu bahkan di bawah satu gitu. 29:47 Jadi ee kalau dari sini kita lihat bahwa 29:50 selain tadi skor yang memang belum 29:51 sampai kalau kita tadi menyampaikan 400 29:55 tapi kalau kita lihat sebarahnya gitu 29:57 ternyata mayoritas itu masih di bawah 30:00 standar gitu ya seperti itu. Jadi itu 30:02 menjadi salah satu catatan untuk kita 30:04 bahwa ee PR kita tidak hanya tadi 30:08 sekedar mengejar skornya, tetapi juga 30:11 pemerataan gitu ya ee kualitas 30:13 pendidikan. Bahkan kalau dilihat lagi 30:15 untuk high performance-nya gitu, high 30:18 performer itu nyaris enggak ada untuk 30:20 semuanya ketiganya. Untuk yang level 5, 30:22 level 6 kita nyaris tidak ada ya. Inya 30:24 sangat-sangat kecil banget seperti itu. 30:27 Dan ee artinya adalah bahwa kita masih 30:30 ya masih berkutat di situ gitu ya. masih 30:32 berputat di bahwa ee selain tadi memang 30:35 skornya yang memang belum 400 bahkan 30:37 masih cukup jauh kalau dilihat dari 30:38 rata-rata ee keseluruhan negara yang 30:40 berpartisipasi di tahun 2025 itu gitu ya 30:43 e dan bahkan kita berada masih banyak di 30:45 level yang masih di bawah level 2 itu. 30:48 Nah, selain itu eh catatan saya adalah 30:52 kalau kita lihat tadi memang kita 30:53 sebetulnya punya modal. Jadi apakah 30:55 anak-anak kita itu secara intelig itu 30:58 tertinggal gitu atau secara kehausan 31:00 akan ilmunya tertinggal enggak. 31:02 seperti itu juga disampaikan ya oleh Ki 31:04 Darma gitu bahwa disampaikan oleh 31:06 direkturnya sendiri gitu bahwa ehity 31:09 gitu. Jadi PISA itu juga mencakup ada 31:12 beberapa poin gitu satunyaity rasa ingin 31:14 tahu nih gitu ya dan kemudian jauh 31:17 tinggi gitu. Jadi curiosity atau rasa 31:19 ingin tahu dari siswa kita gitu yang 31:22 dipotret oleh bisa itu tinggi melebihi 31:24 rata-rata ee skor yang mengikuti dari 91 31:28 negara gitu. dan kemudian modal lainnya. 31:31 Jadi moda rasa ingin tahunya tinggi nih 31:32 anak-anak kita nih, anak-anak Indonesia. 31:35 Terus yang kedua adalah rata-rata lebih 31:38 tinggi lagi nih dari rata-rata ee 91 31:41 negara adalah bahwa anak-anak kita tuh 31:44 mau bekerja lebih gitu ketika 31:47 mendapatkan tantangan. Artinya mereka 31:49 tidak gampang menyerah gitu dan siap 31:51 untuk bekerja lebihlah gitu jika 31:54 mendapatkan tantangan. Ini modal lagi 31:56 yang positif gitu ya. Kemudian yang 31:58 ketiga adalah mereka juga mengukur nih 32:01 ee siswa itu menganggap pendidikan itu 32:05 tidak berguna gitu ya. Waste of the time 32:07 kalau di situ gitu ya. Jadi buang-buang 32:09 waktu aja gitu. Itu jauh lebih rendah 32:12 artinya. Jadi kalau tidak salah 24% ya 32:15 rata-rata kemudian kita hanya di 9%. 32:18 Artinya apa? anak-anak kita optimis, 32:21 punya keyakinan besar terhadap 32:22 pendidikan bahwa itu akan merubah hidup 32:25 mereka gitu ya, menjadi lebih baik. Itu 32:28 tiga modal besar kita yang sebetulnya 32:30 harus ditangkap. Tapi bahkan nih 32:32 sebetulnya dari lapornya sendiri gitu, 32:36 modal ini tuh ya bisa dikonversikan ke 32:40 nilai yang menjadi lebih tinggi. Salah 32:42 satu contoh adalah misalkanity katanya. 32:45 Jadi kalau satu poin naik nih di Kia 32:47 City rasa ingin tahu, maka itu akan 32:49 berpengaruh naik 20 poin gitu di nilai 32:52 anak tersebut. Luar biasa kan gitu. 32:55 Tetapi ini tidak akan terjadi kalau 32:57 kemudian 32:59 ya tidak ditangkap dan difasilitasi 33:01 dengan tadi kualitas pembelajaran yang 33:04 baik, 33:05 ditopang oleh guru yang baik, lingkungan 33:08 yang baik, dan tentunya fasilitas gitu 33:12 ya yang mencukupi gitu. Karena ternyata 33:16 dalam laporan itu juga kita cukup tinggi 33:18 nih anak-anak yang menganggap bahwa ini 33:20 kurang guru gitu di kelas itu, di 33:23 sekolah itu. Jadi jangankan berbicara 33:25 soal kualitas, kehadiran guru saja ini 33:27 masih PR gitu. Jadi anak-anak kita luar 33:32 biasa. Mereka rasa ingin tahunya tinggi, 33:34 mereka mau bekerja keras, kemudian 33:37 mereka masih optimis melihat pendidikan 33:39 gitu ya. Tetapi lantas kalau kemudian 33:42 kita tidak diimbangi gitu ya dengan 33:45 kualitas pendidikan dan segala macam 33:47 termasuknya, fasilitasnya 33:50 dan hal lain gitu yang bisa mendukung 33:52 kualitas pendidikan kita itu bisa 33:54 dihadirkan untuk mereka maka potensi 33:57 tadi menjadi sia-sia sih. Sayang sekali 33:59 gitu, sayang banget gitu seperti itu. 34:02 Jadi ee harapannya adalah bahwa 34:04 pemerintah, kita semua tolong anak-anak 34:08 kita masih punya potensi luar biasa 34:12 gitu. Jangan sampai kita kemudian 34:14 menyiakan dan kemudian melewatkan waktu 34:17 yang terbaik ini gitu ya. Mungkin itu 34:20 Mas Ri. Terima kasih. 34:23 Baik terima kasih Pak. 34:25 Terimafik. 34:27 Dan sekarang kita ke Pak Dahlan Iskan 34:29 ya. Pak Dahlan. 34:30 Yang lain dulu. Yang lain dulu. Saya 34:31 baru join ya. 34:33 Sudah nih, Pak. Tadi sudah Kidar Maning 34:36 Tias ini ada Kidarmaning Tias. 34:38 Pak Taufik juga sudah enggak apa-apa, 34:40 Pak. 34:41 Pandangan aja kita sekarang bahas 34:43 tentang PISA skor. Monggo, Pak. 34:45 Bagaimana? 34:46 Heeh. Silakan. 34:48 ee saya dengarkan yang terakhir bagus 34:53 sekali dan tentu 34:58 saya baru baru datang dan menurut saya 35:01 jadi berpikir begini tadi sambil 35:03 mendengarkan itu saya berpikir bahwa 35:06 alangkah 35:08 ketertinggalannya ya nanti kalau semua 35:11 orang berlomba di situ ee pendidikan di 35:14 pesantren kita karena latar belakang 35:16 saya pesantren. 35:17 dan ee bagaimana ya cara men apakah cara 35:23 bahwa pesantren harus berubah gitu ya. 35:25 Karena pesantren begitu banyak dan kalau 35:28 pesantren tidak berubah alangkah 35:31 kesenjangan ini nanti begitu besar 35:34 begitu kalau semua mengejar skorisa itu 35:38 katakanlah menjadi motivasi baru gitu. 35:40 Nah, pertanyaan saya, Pak ee saya 35:42 pertanyaan saja. Apakah kurikulum kita 35:46 sudah bisa mm sudah memenuhi syarat 35:51 untuk kejar-kejaran skor PISA itu? Gitu. 35:54 Ee tolong saya saya pengin belajar di 35:57 forum ini. Makasih. Makasih. 36:00 Silakan Ki Darm atau Pak Mar dan Pak 36:03 Taufik nanti kalau ada ngasih tanggapan 36:05 terkait pertanyaan Pak. Silakan. 36:08 Silakan. 36:10 Salam kenal dulu, Pak Dahlan. Ya, 36:12 meskipun saya mengenal Bapak sejak jadi 36:15 pemretos 36:16 dan sekarang mengikuti 36:18 tulisan-tulisannya yang viral ya. 36:20 Jadi, sebetulnya banyak belajar dari Pak 36:22 Dahlan juga. Jadi 36:24 ee saya ini sebetulnya termasuk kelompok 36:29 orang yang tidak mau melihat ee 36:33 skor-skor itu, Pak. 36:35 termasuk ee perbandingan 36:38 apa World Class University segala itu. 36:41 He. 36:41 Kenapa? Karena parameter yang dipakai 36:44 itu berbeda gitu. Katakanlah ee 36:48 parameternya kan parameterparameter 36:51 yang ada di negara-negara maju termasuk 36:55 termasuk akses internet termasuk begitu. 36:58 Sementara buat saya, saya ee kebetulan 37:02 memulai memulai terjun di pendidikan 37:05 sejak 44 tahun lalu lah kira-kira gitu 37:07 ya. 37:08 itu ee 37:11 menghadapi 37:12 tantangan di masyarakat itu jauh berbeda 37:16 dengan ee mereka yang berada di 37:19 negara-negara maju itu. Tapi saya bisa 37:23 survive kira-kira gitu loh. Nah, jadi 37:26 menurut saya 37:28 itu lebih cenderung bagaimana pendidikan 37:30 itu membuat kita itu survive gitu. Untuk 37:35 apa kita harus mengejar ee visa yang 37:39 tinggi-tinggi, ranking university yang 37:41 tinggi-tinggi, tetapi pada akhirnya 37:45 anak-anak kita ini terabut dari 37:48 akar-akar geografis, ekonomi, sosial, 37:52 budaya, 37:53 adat istiadat dan sebagainya itu 37:56 sementara kita belum punya. Kalau kita 38:00 ini kan sudah ee punya pengalaman 38:04 sendirilah. 38:06 Orang-orang dari kita, orang-orang 38:07 Indonesia itu yang sekolah di luar 38:09 negeri ke mana itu bisa bertahan di 38:11 sana, bisa bertahan di sini. 38:13 Artinya kita mempunyai memiliki daya 38:17 survive yang sangat tinggi. 38:20 Menurut saya itu jauh lebih ee penting 38:23 dibandingkan misalnya ee kita ngejar ee 38:27 ranking-ranking 38:29 yang akhirnya itu kita justru tidak 38:33 mempunyai daya survive ee ketika 38:36 menghadapi masalah gitu. Karena itu, 38:39 Pak, saya potong, Pak, sebentar, Pak. 38:41 Pak, sekarang ranking itu ada dan 38:43 berlaku di negara-negara OCD 38:46 dan di Indonesia siapa yang terdorong 38:51 untuk mengejar ranking ini, Pak? E kan 38:53 pemerintah tidak peduli kan, Pak, dengan 38:55 ranking ini. 38:56 Pemerintah sangat peduli justru 38:58 pemerintai. 38:59 Sangat peduli justru ee sejak ee 2000-an 39:05 ini ee salah satu 39:08 melihat mutu universitas itu dari 39:12 masuknya ke ranking dunia. Padahal kalau 39:16 kita lihat siapa sih pembuat ranking? 39:20 pembuat ranking itu bukan Universitas 39:21 Harvard bukan gitu. Itu ya semacam 39:24 kelompok e yang 39:26 negara-negara OCD ya. 39:28 Iya kelompok-kelompok tertentu yang 39:29 membuat ranking tapi mendikte kita gitu 39:33 loh. Termasuk misalnya kita yang di 39:36 tingkat perguruan tinggi ya misalnya ee 39:38 untuk jadi doktor harus menulis di ee 39:42 jurnal berindeks Scopus. 39:44 Sejumlah negara maju itu sudah 39:46 meninggalkan. Tetapi kita justru itu 39:49 menjadi rujukan utama. Padahal siapa sih 39:53 pembaca jurnal berindeks Scopus itu 39:56 dibandingkan ee cost yang dikeluarkan? 40:00 Imbang enggak? Siapa yang menikmati yang 40:02 memanfaatkan data-data yang ada di 40:05 jurnal itu. 40:06 Oh, 40:07 jadi sebetulnya itu adalah ranking itu, 40:10 Pak. Kalau saya kebetulan saya menulis 40:12 mungkin nanti bisa digoogling saya 40:15 menulis buku judulnya melawan 40:17 liberalisasi. 40:19 Ranking-ranking ini adalah bagian dari 40:23 kapitalisasi, liberalisasi, 40:26 dan ee apa ee komersialisasi pendidikan. 40:32 bagaimana pendidikan itu bisa 40:33 dikapitalisasi untuk ee 40:36 kepentingan-kepentingan 40:38 kaum kapitalis gitu loh. Jadi bukan 40:41 untuk membuat kita lebih mandiri, kita 40:44 lebih 40:46 Saya agak setuju, Pak. Saya agak setuju 40:48 dengan pendendap Saya agak setuju dengan 40:50 pendapat ini karena di bidang lain itu 40:53 juga berlaku, Pak. Misalnya kita tender 40:55 ya, misalnya tender di bidang bisnis 40:58 ini, 40:58 itu salah satu persyaratan tender 41:01 internasional itu adalah barang ini 41:04 pernah e barang ini sudah dipakai di 41:07 salah satu atau berapa negara anggota 41:10 OECD misalnya begitu. Nah, itu terus itu 41:14 berarti semacam kartel begitu di Amerika 41:17 sehingga misalnya produsen-produsen dari 41:20 negara negara bukan anggota WC itu 41:22 enggak memenuhi dianggap, enggak 41:23 memenuhi syarat begitu. 41:25 Betul. 41:26 Memang itu bagian dari kapitalisasi ilmu 41:29 pengetahuan itu, Pak. Dan itu sebetulnya 41:31 yang kita tidak pernah sadari gitu. Jadi 41:35 sebetulnya kalau kita lihat sejak ee 41:39 80-an ya 80-an ee yang jadi momentumnya 41:44 adalah ee konsensus Washington itu 41:47 sebetulnya ee pendidikan itu menjadi 41:51 lebih ke komersialisasi. Karena itulah 41:54 sebetulnya ee ada pergeseran ee 41:59 pendidikan yang dulu dikelola oleh 42:02 UNESCO. dulu semua pendidikan itu 42:05 dikelola oleh UNESCO. Di bawah UNESCO 42:07 lah maksud saya ee bukan dikelola tapi 42:10 bimbingan teknisnya semacam itu ya. 42:12 Ee kemudian bergeser ke WTO dan 42:17 ee 42:18 dalam varian WTO ini ada OECD gitu loh. 42:22 Ee ini saya kira dengan melihat ee peta 42:25 semacam ini kita jelas kita tahu bahwa 42:27 nah kalau kalau memang begitu kenapa 42:29 kita pedulikan Pak? kan enggak usah 42:31 peduli aja. Tapi tetapi 42:34 di 42:35 di samping kita tidak peduli juga kita 42:38 harus membuat rumusan sendiri standar 42:41 yang akan kita kejar itu apa? Seandainya 42:44 kita tidak peduli dengan itu, standar 42:46 yang akan kita kejar apa? Apakah sudah 42:48 ada atau belum, Pak? Standar itu 42:50 ee pertama saya akan jawab dulu soal 42:53 kenapa kita peduli gitu ya. Kenapa kita 42:56 harus ikut itu ya? karena pemerintah 42:58 sendiri ee kecenderungannya 43:02 mengikuti arus global. Itu satu ya. 43:05 Kalau saya kan kebetulan orangorang ee 43:08 mandiri, jadi saya bisa bersikap seperti 43:11 itu. Tetapi kalau birokrasi mau tidak 43:13 mau dia akan mengikuti kecenderungan 43:16 global. Nah, lalu kalau kita tidak 43:20 mengikuti itu apa? Bagi saya sih dalam 43:22 banyak kesempatan selalu saya kemukakan 43:25 kita menyelesaikan persoalan-persoalan 43:27 kita. Misalnya soal sampah ini 43:29 berkali-kali saya kemukakan ke 43:31 teman-teman dari termasuk teman-teman 43:33 dari IPB. Kita punya pohon jati eh iya 43:37 punya daun jati, punya daun pisang. 43:42 Di sisi lain kita berhadapan dengan 43:44 sampah plastik. 43:46 Bagaimana universitas yang hebat-hebat 43:49 itu mengelola memanfaatkan daun pisang, 43:53 daun ee jati itu untuk pembungkus 43:57 sebagai pengganti plastik. Kan enggak 43:59 ada yang berpikir seperti itu. Kita 44:03 sebagai 44:04 karena tidak ekonomis, Pak. Karena tidak 44:05 ekonomis lagi, Pak. Memproduksi plastik 44:08 itu murahnya bukan main. Sementara harga 44:11 harga daun pisang, daun jati itu semakin 44:13 mahal. Nah, itu kan ee apa akhirnya kita 44:17 terbentur ke bisnis itu kan, Pak? 44:19 Iya. Iya. Iya. 44:20 Jadi bukan kalau ya lebih mahal kalau 44:25 misalnya ee diproduksi secara masif kan 44:27 bisa jadi lebih murah akan mendorong 44:30 masyarakat untuk menanam pisang yang 44:32 lebih banyak sehingga kemandirian 44:35 ekonomi juga tercipta gitu loh. Tapi kan 44:38 ini enggak gitu. Hal yang sederhana ee 44:41 adakah kita ee pendidikan kita itu 44:43 mengajarkan 44:45 bagaimana kita harus memelihara air? 44:49 Enggak pernah. Semua rumah kita, semua 44:53 lahan kita ditutup beton. Kita enggak 44:55 pernah 44:55 Tapi Bapak tapi Bapak setuju kan bahwa 44:58 harus ada standar yang perlu kita kejar. 45:02 Nah, kalau tidak mau pakai standar PISA, 45:04 kita harus mengejar standar apa? 45:06 ee standar itu penting, standar 45:10 pendidikan itu penting, 45:12 tapi target akhirnya itu mau ngapain 45:15 gitu loh. Saya sekali lagi tadi saya 45:18 jelaskan saya enggak menolak bisa. 45:21 Tidak, tetapi jangan dijadikan sebagai 45:24 pedoman penuh. Ini hanya sebagai 45:27 referensi untuk memperbaiki sistem 45:30 pendidikan. 45:32 Ultimate goal-nya apa? Ultimate goal-nya 45:34 adalah terciptanya 45:37 lulusan 45:39 Indonesia itu yang bisa mandiri itu, 45:42 Pak. Jadi, perkaran itu bisa ee apa 45:47 skornya naik tajam atau enggak itu 45:50 enggak masalah. Yang paling penting 45:52 ketika lulus dari sekolah tidak menjadi 45:55 beban masyarakat maupun negara itu Pak. 45:58 Tapi standar itu belum ada kan, Pak. 46:00 Standar yang Bapak inginkan itu belum 46:02 ada kan baru pikiran-pikiran kan. 46:04 Iya. Sebetulnya kita sudah punya standar 46:07 ee ada Pak standar nasional pendidikan 46:10 itu ada gitu. Jadi cuma 46:13 ee kita pengin mengkompare membandingkan 46:17 dengan standar ee PISA. Jadi sebetulnya 46:21 selain standar PISA kita juga ada 46:25 standar nasional pendidikan Pak gitu 46:27 loh. Pisa itu 46:29 semacam untuk ngecek gitu loh. 46:31 Masih komen juga Mas Taufik. Padahal Mas 46:33 Taufik juga bagus ini pendapat saya Mas 46:35 Taufik. 46:36 Silakan silakan silakan. 46:38 Oke. Baik ya. Terima kasih banyak nih ee 46:41 K dan Pakardani. Ni seru tadi sih 46:44 ngelihat penjelasan dari Kiarma ya. Ee 46:47 tapi memang itulah ee kesulitannya 46:49 adalah ketika kita berbicara di forum 46:52 internasional atau forum global gitu dan 46:54 ketika kita tadi betul belum punya satu 46:56 standar yang kemudian itu bisa dipahami 46:59 ataupun juga ya bisa diterima oleh 47:01 global rasa-rasanya memang kita sulit ya 47:03 untuk apa ya bisa dibilang ee kita tu 47:06 karena kita bahasanya beda gitu gitu 47:08 untuk menunjukkan bahwa oh kualitas 47:09 pendidikan kita tuh ada di mana seperti 47:11 itu. Tapi saya sepakat sekali bahwa 47:13 ukuran-ukuran internasional itu itu 47:14 bukan jadi satu-satunya atau bahkan 47:16 bukan menjadi tujuan utama gitu. Itu 47:18 salah satu referensilah, salah satu ee 47:21 masukanlah insight gitu ya. Ee namun 47:23 memang selama kita belum punya satu 47:25 standar yang kemudian utuh dan itu bisa 47:28 dipercaya dan diyakini oleh ee apa 47:31 namanya itu oleh diri kita sendiri 47:33 kemudian juga oleh pihak luar. rasanya 47:34 memang ee sulit ya untuk kemudian kita 47:37 bisa oh kita kualitas kita bagus loh 47:39 gitu seperti itu. Jadi memang itu 47:41 diperlukan sekali sih padahalan gitu. 47:42 Dan saya lihat sih memang standar yang 47:44 ada saat ini tuh kan apa bisa dibilang 47:46 ya tadi ya tergantung pemerintah 47:48 pemerintah berubah kemudian ada beberapa 47:50 yang berubah lagi gitu ya dan 47:52 rasa-rasanya itu memang tidak ada satu 47:55 apa ya satu desain yang kemudian kita 47:57 sepakati bahwa ini itu akan kita pakai 47:58 dalam jangka waktu yang panjang. standar 48:00 ini harus kita tetap gitu ya, kita 48:03 ikuti, kita kemudian ee penuhi gitu. 48:05 Padahal itu ee sekarang sekarang begini 48:09 sekarang ini kan bermunculan 48:11 sekolah-sekolah yang inisiatifnya dari 48:14 perorangan 48:15 itu banyak sekali sekarang dan 48:17 kualitasnya bagus-bagus. 48:19 Sudah ee bahkan ada yang berani melawan 48:23 kurikulum pemerintah dengan cara hanya 48:26 mengajarkan tiga mata pelajaran 48:27 misalnya. Ee kemudian ee ini tidak atas 48:31 nama NU, tidak atas nama Muhammadiyah 48:33 meskipun latar belakangnya aktivis lah 48:36 yang gelisah terhadap pendidikan dan 48:38 kemudian ini mereka membuat 48:40 sekolah-sekolah yang luar biasa 48:42 bagusnya. Bagaimana seandainya mereka 48:45 ini punya asosiasi khusus tidak mau 48:48 peserta asosiasi ini sekolah yang 48:50 biasa-biasa saja enggak mau. Pokoknya 48:52 mereka ini saya kira seluruh Indonesia 48:55 100 sudah ada. Saya kira 100 sudah ada. 48:58 Iya 1000an. 48:59 Mereka ini bersatu menyusun standar 49:04 bahwa inilah standar yang akan kita 49:06 kejar bersama-sama. Begitu mungkin 49:08 enggak begitu? 49:10 Iya. 49:10 Saya bisa 49:11 jangan tergantung pemerintah maksud 49:12 saya. 49:14 Oke. Saya saya bisa bantu jawab Pak. Pak 49:16 Dhan 49:17 itu sebetulnya sudah ada Pak namanya 49:20 ee SPK sekolah apa ya? Lupa aku. Ee 49:24 kerja sama. Jadi itu merupakan 49:27 sekolah-sekolah yang kurikulumnya tidak 49:31 hanya mengikuti ee kurikulum nasional, 49:34 tetapi juga mengikuti 49:37 kurikulum misalnya ee Cambridge, IIB dan 49:40 sebagainya. Kira-kira begitu 49:42 jumlahnya memang ee saya kira sekarang 49:44 ini sudah lebih dari 500 lah itu ya dan 49:49 sudah ada asosiasinya, Pak. dan 49:51 pemerintah juga ee memfasilitasi 49:54 membiarkan itu ee itu namanya SPK. 49:58 Kenapa? Karena dia kerja sama dengan 50:00 lembaga pendidikan asing. Termasuk 50:03 mungkin kalau yang ee ee ee di Surabaya 50:06 juga banyak sekali saya kira ya. Tapi 50:08 kalau di ee Jakarta itu tentu jauh lebih 50:11 banyak dan di daerah-daerah juga sudah 50:13 lebih banyak dan pemerintah tidak 50:16 melarang itu justru menjamin itu ee 50:19 menjadi salah satu pilihan bagi warga 50:23 Indonesia terutama yang mampu. Jadi itu 50:26 sudah ada, Pak. 50:28 Organisasinya juga sudah ada. 50:31 Baik. 50:32 Tetapi mereka belum membuat standar. 50:34 Sudah, sudah, Pak. Sudah. mereka ee 50:38 menerapkan dua kurikulum. Jadi, selain 50:41 kurikulum nasional ditambah dengan 50:43 kurikulum entah itu Cambridge, entah IP, 50:47 entah apa kira-kira gitu. 50:50 Baik, terima kasih. 50:52 Silakan, Pak Marani silakan DLAN, 50:56 Mas Taufik memang ee di Undang-Undang 51:00 Sistem Pendidikan Nasional kita sekarang 51:03 ini jauh lebih lentur ya. ada pendidikan 51:07 formal ee informal, nonformal ya. Yang 51:13 private makin banyak, yang pesantren 51:15 juga bisa diwadahi. Bahkan homeschooling 51:18 ee bisa ee dan bisa ikut paket A, paket 51:22 B, paket C. Ini bagus buat saya. Kalau 51:25 terkait dengan standar ee ee PISA ee 51:29 kita juga punya ya tes kemampuan 51:32 akademik SD, SMP, SMA dan hasilnya sama 51:35 baik visa skor maupun tka kita jauh di 51:39 bawah rata-rata dan ini menjadi 51:42 lagi-lagi kalau buat saya orkestrasi 51:45 negara. Kalau yang padahal bilang 51:48 tentang private banyak sekali. Ada yang 51:51 Montessor, saya kenal teman-teman 51:54 jaringan sekolah Islam terpadu padahal 51:57 yang SDIT. Tapi ada juga jaringan 51:59 sekolah alam ya. Saya punya sekolah 52:01 gabungnya jaringan sekolah alam 52:03 nusantara gitu loh. Ada yang IB ya, ada 52:07 yang Cambridge dan itu semua 52:09 diakomodasi. itu kelebihan dari sistem 52:13 ee pendidikan nasional kita saat ini. 52:15 Tetapi ketika kita ee melihat makronya, 52:21 kalau ngelihat mikronya di antara 52:24 katakan hutan yang ee meranggas ee ee ee 52:30 menua dan coklat ada 2 3 5 10 yang hijau 52:35 bagus-bagus. Tetapi in general memang 52:38 kita punya catatan kalau terkait based 52:41 university 52:43 ee dan lain-lain ee tentu masing-masing 52:46 ada unsur-unsurnya. Tetapi ee saya punya 52:50 pendapat si DARMA, ada beberapa yang 52:53 memang kayak IT league di Amerika dan 52:56 mostly swasta itu padahalan Cambridge 52:59 kah eh Imperial College di UK eh NTU ya 53:05 NUS buat saya itu memang salah satu 53:08 universitas terbaik walaupun kita juga 53:10 susah ya karena salah satu rankingnya ee 53:14 persentase 53:15 mahasiswa asing nih kita Pak ee ee 53:18 Sidarma dan mereka rata-rata negara 53:20 kecil kalau diprosentasikan tinggi kalau 53:23 kita negara besar. Jadi buat saya 53:25 ranking itu ataupun ee indeks itu bisa 53:29 kita ikuti yang memang make sense dan 53:33 cocok dan enggak usah terlalu 53:34 dipusingkan. Tetapi kalau yang PISA ini 53:38 pandangan saya karena dia mengukur tiga 53:41 kemampuan dasar membaca sains dan 53:44 matematik dengan enam kriteria level 1 2 53:48 tadi Mas Topik bilang kita mayoritas di 53:50 300-an ya 364 369 53:54 itu di bawah dua memang gitu loh karena 53:57 dua itu 400-an gitu loh. Jadi ketika 54:00 mungkin bisa padahalan kalau 4 * 7 54:02 berapa? Tapi ketika dikasih soal Bapak 54:05 Budi pergi ke pasar dengan uang segini 54:08 ingin jualan nasi uduk perlu apa itu 54:12 sudah rumit itu dan rata-rata di kita 54:14 gagal memahami itu. Nah buat saya tetap 54:17 kualitas pendidikan guru, guru, guru. 54:19 Nah, yang kedua tentu negara hadir ya. 54:24 Dan paling sederhana kemarin kita bahas 54:26 padahalan kalau guru kan menitanya empat 54:29 ke mereka. Pertama ada jaminan 54:31 kesejahteraan, 54:32 kedua ada kepastian karir, yang ketiga 54:37 ee peningkatan ee ee perlindungan, dan 54:41 tentu yang keempat kualitasnya. Nah, 54:43 empat-empatnya ini harusnya saya lagi 54:46 sedih padahal yang paling eh sebenarnya 54:48 Pak Prabowo sudah bagus memberikan 54:51 setiap sekolah dulu satu sekarang dua 54:54 nih ee ee namanya smart screen. Smart 54:58 screen ya 54:59 ee tapi yang diperlukan bukan smart 55:01 screen tapi tunjangan buat guru gitu loh 55:05 gitu loh. Kalau gurunya dikasih 55:07 tunjangan ada kesejahteraan buat guru, 55:11 ada perlindungan buat guru, lama-lama 55:13 guru nyaman, habis itu dites kualitas 55:16 gurunya. Nah, makin tinggi tesnya baru 55:18 dia dapat insentif. Maka luar biasa 5 10 55:22 tahun ke depan saya yakin mau PISA Sor, 55:24 mau TKA, mau World Ranking University, 55:27 pelan-pelan kita naik. Tapi MK sudah 55:30 bagus. Tidak boleh ada lagi unsur MBG di 55:34 20% dari ee karena 20% angkanya besar 55:37 sekali itu. Kalau itu kita alokasikan 55:40 buat guru, buat beasiswa, wah itu buat 55:43 saya pelan-pelan. Belum lagi buat 55:46 sekolah. Pak Prabowo kemarin bagus 55:47 sekali ee waktu mengatakan kita enggak 55:50 comparable sama Singapura. Singapura 55:52 300-an, kita Rp300.000. Tapi kalau kita 55:55 bisa sistem yang baik 300, 300.000 R 55:58 juta semua sama selama sistemnya jalan 56:01 gitu, Bang Ali. 56:03 Iya. 56:05 Baik, terima kasih Pak Mardani. 56:07 Gimana Pak Dalan ee pandangannya saya 56:10 setelah mendengar yang lain? 56:12 Lanjut. 56:12 Cukup cukup bagus bagus bagus. 56:18 Tapi kan itu kan average ya. Average itu 56:21 kan berarti yang baik-baik kan kemakan 56:24 yang kurang baik. Jadi seandainya Pak, 56:27 seandainya ini sekitar 500 atau 56:30 katakanlah 1000 sekolah, 56:32 1000 sekolah yang terbaik-terbaik 56:34 dijadikan satu, 56:35 itu saja yang dinilai level kita ada di 56:38 mana. Jadi jangan dicampur dengan yang 56:40 jutaan yang jelek-jelek ada di level 56:42 berapa? 56:43 Saya kira kita bisa di level 6, Pak. 56:46 Karena apa? 56:47 Wah, 56:48 serius. Saya selalu jadi ee referensi 56:52 saya apa yang selalu saya katakan? 56:55 Buktinya 56:56 kalau lulusan SMP dari sekolahsekolah 57:01 tadi yang bagus-bagus yang Pak 57:04 ee 57:05 Dahlan katakan melanjutkan ke 57:08 negara-negara maju entah Australia, 57:11 entah Singapura, entah Amerika, entah ee 57:14 Inggris 57:15 tidak 57:16 perlu ee melalui anu ee apa matrikulasi. 57:22 Artinya mereka sudah bisa mengikuti 57:26 pelajaran secara langsung. Demikian juga 57:28 yang lulusan SMA ketika kuliah di luar 57:32 negeri, di negara-negara maju, mereka 57:34 juga enggak perlu melakukan matrikulasi. 57:37 Artinya apa? Berarti ee kualitas 57:41 kita ini sama dengan mereka. Demikian 57:44 yang ee S1 maupun S2 di negara-negara 57:48 maju itu bersama dengan ee mahasiswa 57:52 dari seluruh dunia juga tidak perlu 57:55 melakukan matrikulasi. Artinya daya 57:59 tangkap dan daya dongnya sama dong. Gitu 58:01 kira-kira jawaban saya selalu itu, Pak. 58:04 Makanya saya tidak 58:06 mau mengeneralisir pendidikan kita 58:09 karena apa? 58:11 pendidikan kita itu ya kalau di Jawa ee 58:13 ini mungkin penting juga untuk kita 58:15 sampaikan di sini Pak, 58:18 dari 75.000 58:21 kecamatan yang ada di Indonesia, 58:25 hanya 4% yang memiliki kualitas 58:30 pendidikan cukup baik dan 4% itu 58:33 semuanya ada di Jawa. 58:36 Universitas terbaik juga ada di Jawa. 58:39 PTN-PTN terbaik ada di Jawa, PTS terbaik 58:42 ada di Jawa. Sementara yang luar Jawa 58:45 ini yang selalu ketinggalan. Jadi kalau 58:47 kita tadi comparekan ee dengan yang ya 58:52 yang Pak Dalan Iskan sebut, kita optimis 58:57 berada di level 6. 58:58 I 58:59 kira-kira gitu, Pak. 59:00 Bagus, bagus. Makasih. Makasih optimis, 59:03 Pak. 59:03 Terima kasih, Kidarma. Jadi sebenarnya 59:06 kan ee tadi juga intinya kan Pak kita 59:08 punya banyak sekolah berkualitas. Ketika 59:11 gurunya bagus, sistemnya bagus ya anak 59:15 didiknya juga akan bagus. 59:17 Tapi ujungnya kan biaya, Ustaz, Pak. 59:20 Betul. 59:20 Karena sekolah-sekolah bagus itu 59:22 biasanya berbiaya mahal. Yang bisa masuk 59:25 ke sana orang-orang yang bisa membayar 59:27 mahal dari keluarga mahal. Nah, gimana 59:30 caranya agar ee sekolah yang standar 59:33 bagus-bagus yang berbiaya mahal ini bisa 59:37 di ee terapkan juga di sekolah-sekolah 59:40 yang rakyat ee menengah ke bawah. 59:42 Mungkin Pak Mardani sebagai legislator 59:45 bisa menyampaikan pandangan 59:46 ya, Pak Hali. Eh, Ki Ki Darma pasti 59:51 tidak terlalu nyaman pernyataan saya 59:54 ini. Padahalan karena saya ngutip Mas 59:57 Menteri ya. 59:59 punya banyak catatan kepada Mas Menteri 1:00:01 Nadim. Tapi Nadim dalam satu 1:00:03 pernyataannya mengatakan kalau sekolah 1:00:07 ee di Jakarta, 1:00:10 Bandung, Surabaya, dan Medan disatukan 1:00:14 visa skornya sama atau mendekati visa 1:00:18 skornya Singapura. 1:00:20 Jadi ada satu kenyataan hard pack-nya 1:00:26 ketika pendapatan perkapitannya tinggi 1:00:30 maka kualitas pendidikannya juga tinggi. 1:00:34 I 1:00:34 tapi kalau ee Taman Siswa beda. Saya 1:00:38 setuju saya sudah ke Taman Siswa 1:00:40 pokoknya luar biasa Kidarma nanti akan 1:00:42 komen. Tetapi kenapa? Karena guru-guru 1:00:45 Taman Siswa punya ee unsur pengabdian 1:00:48 yang luar biasa. Sama sama saya ketemu 1:00:51 teman-teman di jaringan sekolah Islam 1:00:52 terpadu, jaringan sekolah Nusantara itu 1:00:55 ideologis e pengin membangun gitu loh. 1:00:57 Nah, karena kalau kita lihat yang satu 1:00:59 lagi yang IB atau yang Cambridge padahal 1:01:06 atau Mas Topik rata-rata dari 1:01:08 orang-orang yang punya modal kuat. 1:01:10 sekolah itu sekolah di sekolah enggak 1:01:12 kenapa itu bagus itu hakim mereka tetapi 1:01:14 kalau saya lagi conference konscern Mang 1:01:16 Hald kita punya ratusan ribu sekolah 1:01:20 negeri dan sekolah swasta yang 1:01:22 kondisinya tadi sisa skornya dari level 1:01:25 6 kita di level 1 ini yang harus 1:01:27 pelan-pelan naik ke level 2. Tadi Kiarma 1:01:29 juga sudah di RPJMN ee saya setuju 1:01:33 Kiarma ee matematik 430 1:01:36 sekarang padahal kondisinya masih di 1:01:39 360-an 1:01:41 kejauhan itu. Nah, pelan-pelan selama 1:01:44 kita tidak meningkatkan kualitas 1:01:45 gurunya, kurikulumnya. 1:01:48 Karena ada satu catatan bab kurikulum 1:01:51 juga ini. Karena itu mestinya tim 1:01:54 leadbank di Kemen Dikdas Dustmen harus 1:01:57 betul-betul the best person, the best 1:02:01 employee, the best teacher in the world. 1:02:03 Karena sekolah itu kejar-kejarannya 1:02:06 bukan dengan bukan dengan nyun sewu. 1:02:09 Anggaran penting eh ee ee teknologi 1:02:13 penting, tapi lebih penting tuh adalah 1:02:15 risetnya. Sekolah itu adalah tempat 1:02:18 karena kalau ngajarnya dulu sama 1:02:20 sekarang padahal saya punya teman 1:02:23 sekolah dia PKBM saja ya. PKBM eh EBOM 1:02:28 Albiruni itu di rumah saja, tapi not 1:02:32 only study but it also research gitu 1:02:35 loh. Jadi sekolahnya memang eh jadi 1:02:38 banyak sekali projject-projeknya 1:02:39 dijalankan dan anak-anak itu bisa tembus 1:02:41 ke New Zealand padahal di PKBM gitu loh 1:02:44 pakai-paket C gitu loh. Nah, tapi memang 1:02:47 tidak massal d kelas yang satu kelas 10 1:02:51 dan tidak banyak. Tapi maksud saya yang 1:02:53 seperti itu ada. Dan karena itu memang 1:02:55 rencana undang-undang pendidikan kita ke 1:02:57 depan harus betul-betul lentur kalau 1:03:00 perlu ee ada insentif buat 1:03:03 sekolah-sekolah baik seperti itu. Begitu 1:03:05 Mang Ali. 1:03:06 Baik, terima kasih Pak Merani. Kita 1:03:08 sekarang ke Mas Taufik ya Mas Taufik 1:03:11 terkait dengan pemerataan pendidikan ya. 1:03:13 Tadi intinya Pak Pak ee apa? Mardani 1:03:17 juga menyampaikan sebenarnya kita banyak 1:03:19 sekolah-sekolah yang bagus ya ee yang 1:03:21 sekarang sedang terkenal seperti MAN IC 1:03:25 kalau di ee SMA ya dan belum lagi 1:03:28 sekolah-sekolah swasta ee Katolik dan 1:03:30 banyak sekali ya sekolahnya Pak Luhud 1:03:32 juga Dell di Toba itu di kampung beliau 1:03:35 itu juga luar biasa. Tapi kan itu kena 1:03:38 ketika di-support ee benar-benar oleh 1:03:41 pembiayaan ya, dukungan ee kebijakan, 1:03:44 kualitas guru dan segala macam. Dan itu 1:03:46 mungkin sulit untuk diwujudkan di 1:03:49 sekolah-sekolah negeri yang ratusan ribu 1:03:50 yang mayoritas masyarakat menengga ke 1:03:52 bawah bersekolah di sekolah-sekolah 1:03:54 negeri. Apalagi belum lagi kita 1:03:56 berbicara soal ee madrasah dan pesantren 1:04:00 ya. Nah, itu juga banyak. Nah, bagaimana 1:04:03 kira-kira agar ee sekolah-sekolah ee 1:04:06 yang berkualitas yang dengan dukungan ee 1:04:09 anggaran e biaya yang dan infrastruktur 1:04:12 sarana prasana yang bagus ini itu juga 1:04:15 perlahan bisa juga diterapkan di ee 1:04:18 sekolah-sekolah negeri, madrasah, 1:04:20 pesantren yang jumlahnya jauh lebih 1:04:21 banyak di masyarakat Indonesia. 1:04:26 Oke. Baik. Ee Mas Haldi mungkin saya 1:04:28 coba menjawab ya. Yang pertama adalah 1:04:30 yang patut kita ee pikirkan dan mungkin 1:04:33 seharusnya kita yakini gitu ya, bahwa 1:04:35 kita tuh sebetulnya kekuatan kita kan 1:04:36 sebetulnya di keberagaman ya. Kar itu 1:04:39 sudah menjadi apa ya istilahnya ee satu 1:04:42 hal yang buat saya itu kelebihan di kita 1:04:44 termasuk dalam dalam pendidikan gitu ya. 1:04:46 Kita punya modal pendidikan yang beragam 1:04:48 gitu. Termasuk tadi kan banyak sekolah 1:04:49 bagus nih gitu ya. Mungkin kembali ke 1:04:51 bagus ini sih gitu yang dimaksud bagus. 1:04:54 Saya kira ee ukuran bagus ini tiap apa 1:04:58 ya, tiap model pendidikan itu bisa 1:05:01 beragam gitu ya keunggulannya. K tadi 1:05:03 misalkan e juga alumni pesantren, 1:05:05 ketrasah Pak gitu ya. 1:05:08 Kita kan maksudnya mungkin kalau disorot 1:05:09 pakai angl-nya atau pakai ee lensanya 1:05:12 bisa mungkin enggak akan dapat gitu 1:05:14 skornya. Tapi kalau kita lihat alumninya 1:05:16 misalkan kan banyak sekali kontribusinya 1:05:18 dan kemudian ee mereka tidak harus di 1:05:21 bidang agama, di bidang apapun mereka 1:05:23 bisa di menjalani dan bahkan bisa 1:05:25 menjadi ahli dan bahkan menjadi tokoh 1:05:27 gitu ya. Artinya ini salah satu ini 1:05:30 salah satu model saja gitu. Dan 1:05:31 sebetulnya banyak tadi ee sekolah rumah, 1:05:33 kebetulan anak saya juga homeschooling, 1:05:34 sekolah rumah betul-betul hanya kami 1:05:36 orang tuanya nih yang mendidik gitu ya, 1:05:38 seperti itu. Karena kami yakin bahwa 1:05:40 kita harus punya kurikulum sendiri gitu 1:05:42 buat anak saya gitu dan juga istri gitu. 1:05:45 Ee artinya adalah bahwa justru yang 1:05:47 gelindung inilah tadi ya keberagaman 1:05:48 yang tadi sepakat dengan Pak Marani. 1:05:50 Kelenturan ini yang kemudian harus di di 1:05:52 apa ya di ditegakkan untuk melindungi 1:05:55 keberagaman tadi apalagi semacam 1:05:57 eksperimen gitu. Kemudian mana silakan 1:05:58 gitu bentuk-bentuk model selama 1:06:00 outputnya gitu luarannya itu baik gitu 1:06:03 ya silakan gitu diberikan ruang yang 1:06:05 pasti adalah untuk kalaupun ada 1:06:07 peraturan yang disebut standarnya adalah 1:06:08 untuk melindungi hak-hak anak gitu ya 1:06:10 dan kemudian orang-orang yang terlibat 1:06:11 di dalamnya seperti itu. Karena saya 1:06:13 yakin dengan keberagaman ini kita kalau 1:06:16 hanya kita apa ya standar artinya sebuah 1:06:18 keseragaman kayaknya enggak cocok dengan 1:06:20 kita Indonesia gitu ya. Dan kemudian 1:06:22 tadi sekolah yang terbaik ya mungkin ee 1:06:24 kalau sekarang sih tadi ya saya senang 1:06:26 banget e banyak sekolah yang kemudian 1:06:29 meredefinisi gitu ya atau menerjemahkan 1:06:32 ee standar bagus untuk sekolahnya 1:06:34 masing-masing itu apa gitu ya. Oke. Kita 1:06:36 ke sekolah kita kelebihannya apa nih di 1:06:38 kepemimpinan misalkan sekolah kita 1:06:39 kelebihannya apa nih? Oh di pendidikan 1:06:41 karakter di sekolah kita tuh apa nih? 1:06:43 Kemandirian bisnis apa segala macam itu 1:06:46 yang kita butuhkan gitu. Jadi silakan 1:06:49 redefinisikan gitu untuk ee memahami 1:06:51 keunggulannya bagusnya itu di mana dan 1:06:52 kemudian konsisten saja dengan itu gitu. 1:06:55 Dan memang biaya memang itu menjadi 1:06:56 penting ya tadi gitu. Ee kalau kita mau 1:06:59 dalam konteks ke sebuah negara ya kita 1:07:01 harus secara juri hitung ulang gitu 1:07:03 apakah betul modal kita terbatas, dana 1:07:05 kita terbatas dengan 20% itu gitu ya. 1:07:08 Kalaupun memang belum bisa semuanya ya 1:07:10 namanya kita bertahap gitu ya, mana yang 1:07:12 sekiranya bisa dikejar dalam waktu yang 1:07:14 relatif singkat. Dan kemudian yang pasti 1:07:16 adalah ini banyak model gitu ya ee 1:07:18 sekolah-sekolah di luar negeri itu ee 1:07:21 misalkan di Cina sendiri dah gitu ya. Di 1:07:23 Cina itu kan kalau dalam tangkapan 1:07:25 beberapa standar gitu ya itu tuh bisa 1:07:28 dibilang ee lumayan bisa dibilang cukup 1:07:31 merata walaupun belum merata sepenuhnya 1:07:32 gitu ya. Karena tadi gitu ee semua apa 1:07:35 ya pembinaan sekolah itu tuh tidak 1:07:37 dibebankan semuanya itu ke negara gitu 1:07:39 ya atau misalnya ke dinas enggak tetapi 1:07:41 ke sekolah yang sudah baik diberikan 1:07:43 tanggung jawab support oleh negara untuk 1:07:44 kemudian menularkannya ke sekolah yang 1:07:45 lain gitu ya seperti itu. Nah ee dan itu 1:07:50 pun tidak hanya di level sekolah bahkan 1:07:52 ke level guru-gurunya juga. Jadi 1:07:53 misalnya kepala sekolah yang baik itu 1:07:54 dirotasi tuh ke sekolah-sekolah yang 1:07:56 enggak baik, yang masih perlu PR, masih 1:07:58 ada PR-nya yang kemudian dibedahi gitu 1:08:00 ya. Khususnya dengan di-support juga 1:08:01 dengan hal yang memang diperlukan gitu. 1:08:03 Jadi pembinaan itu oleh sekolah-sekolah 1:08:05 sudah baik. Kemudian tadi 1:08:07 pimpinan-pimpinan pendidikan yang 1:08:08 kemudian sudah dirasa baik itu kemudian 1:08:10 disupport oleh negara untuk memimpin di 1:08:13 sekolah-sekolah yang masih banyak PR-nya 1:08:15 gitu ya. Dan kemudian itu mereka kan 1:08:17 menularkan tidak hanya memperbaiki 1:08:19 sekolahnya, tetapi juga bisa dibilang 1:08:21 mereka itu ee membina gitu ya 1:08:23 calon-calon pemimpin sebelum ee 1:08:24 selanjutnya setelah mereka atau si 1:08:27 kepala sekolah yang bagus ini pindah ke 1:08:29 sekolah yang lain maka sudah disiapkan 1:08:31 gitu ya kandidat yang akan meneruskanlah 1:08:33 gitu perjuangannya di sekolah tersebut. 1:08:35 Jadi ibaratnya kita bisa berbagi peran 1:08:37 lah gitu dengan masyarakat. tidak 1:08:38 semuanya dibebankan ke kementerian, 1:08:40 tidak semuanya dibebankan ke misalkan ke 1:08:43 dinas gitu ya sehingga ee kita menjadi 1:08:47 jauh lebih saya tuh dengan cara tersebut 1:08:49 menjadi lebih efektif. Tetapi tadi ya 1:08:51 catatan saya adalah bahwa keberagaman 1:08:53 itu adalah menjadi kunci dan kekuatan 1:08:55 kita gitu. Dan kita harus konfiden 1:08:56 dengan itu. Yang paling pasti adalah 1:08:57 kita harus bisa mendefinisikan oke kalau 1:09:00 saya punya lembaga maka saya unggul. 1:09:02 Unggulnya di mana? Kita konsisten dengan 1:09:04 hal itu, gitu. dan justru menjadi 1:09:06 pembuktian itu bukan sekedar skor gitu 1:09:08 ya. Buat saya alumninya sih kontribusi 1:09:11 alumni-alumninya seperti apa gitu. Itu 1:09:13 yang sebetulnya ee apa ya bisa dibilang 1:09:15 itu 1:09:17 bagi saya adalah sebuah skor yang 1:09:19 kemudian ee bisa orang sepakati 1:09:21 bersamalah kalau alumninya bagus-bagus, 1:09:23 alumninya oke, alumninya bisa 1:09:25 berkontribusi, sudah kita percayalah 1:09:26 apapun yang dipunyai oleh sekolah 1:09:28 tersebut gitu ya. Seperti itu sih. 1:09:30 Baik. 1:09:31 Ee jadi mungkin itu Mas Hi. 1:09:32 Terima kasih Mas Taufik. sahabat-sahabat 1:09:36 ee sangat silakan K Darma ada ingin 1:09:38 menyampaikan pandangan? 1:09:39 Iya, mungkin saya perlu sampaikan bahwa 1:09:42 ini menjawab pertanyaan Mas Aldi tadi 1:09:44 ya. 1:09:45 I 1:09:46 bahwa sebetulnya ada hal yang patut kita 1:09:51 support juga ya. Pemerintah sekarang itu 1:09:54 akan bukan akan ya, sekarang ini sudah 1:09:57 membangun namanya mungkin pernah dengar 1:09:59 juga sekolah nasional terintegrasi. 1:10:04 sekarang ini sudah tahun ini itu ada di 1:10:07 17 ee wilayah sekolah ada 17 sekolah 1:10:12 sekolah terintegrasi ini nantilah akan 1:10:15 menjawab pertanyaan Mas Haldi tadi 1:10:18 bagaimana supaya pendidikan yang bagus 1:10:21 itu ditanggung oleh negara juga sekolah 1:10:25 Garud unggul Garuda itu kan sebetulnya 1:10:30 sekolah yang diperuntukkan 1:10:33 bagi anak-anak yang memiliki tingkat 1:10:36 kecerdasan ee di atas rata-rata. Enggak 1:10:40 tahu miskin atau kaya, enggak peduli. 1:10:43 Pokoknya anak-anak yang ee memiliki 1:10:47 tingkat kecerdasan di atas rata-rata 1:10:50 ditampung di sekolah unggul Garuda itu 1:10:54 dengan biaya penuh dari negara. Demikian 1:10:57 juga ee sekolah nasional terintegrasi 1:11:01 ini juga ee ditampung eh dibiayai oleh 1:11:05 negara. Nanti targetnya itu setiap 1:11:07 daerah akan ada minimal satu sekolah ee 1:11:11 nasional terintegrasi. Itu gitu. 1:11:14 Persoalannya sebetulnya adalah menurut 1:11:16 saya di tata kelolanya. Karena apa? 1:11:19 Karena sepertinya sekolah unggul Garuda 1:11:21 sekarang dikelola oleh Kementerian 1:11:23 Pendidikan Tinggi. Padahal itu ee 1:11:27 jenjangnya jenjang pendidikan ee 1:11:30 menengah gitu. Nah, ini bagaimana supaya 1:11:33 tetap dikelola oleh ee pemda tetapi 1:11:37 kualitasnya dikontrol oleh pendidikan 1:11:41 tinggi gitu. ini ini saya kira jadi ada 1:11:44 ee terlepas dari perdebatan tapi saya 1:11:48 kira sekolah unggul Garuda dan sekolah 1:11:51 nasional terintegrasi 1:11:53 itu adalah jawaban bagaimana mengejar 1:11:56 ketertinggalan ini. Dan karena tadi saya 1:11:59 sampaikan bahwa 4% dari 75.000 1:12:04 Ibu kecamatan yang memiliki sekolah baik 1:12:07 itu ada di Jawa, maka sekolah 1:12:09 terintegrasi ini, sekolah nasional 1:12:11 terintegrasi itu lebih difokuskan ke 1:12:15 luar Jawa. Jadi harapannya itu dapat 1:12:18 mengejar ketertinggalan pendidikan di 1:12:21 luar Jawa. itu itu ee masalahnya yang 1:12:24 harus kita pahami ini banyak yang tidak 1:12:27 tahu kita itu sebetulnya kekurangan guru 1:12:31 PNS sejak zaman Pak Joko itu relatif 1:12:34 tidak ada pengangkatan guru PNS 1:12:38 mengangkat mengganti guru PNS dengan P3K 1:12:41 itu enggak cukup karena apa? Orang yang 1:12:44 menjadi guru P3K itu hanya orang 1:12:46 kepepet. Mereka yang ee the best dalam 1:12:50 ee di universitas, di perguruan tinggi 1:12:52 enggak akan tertarik menjadi guru P3K. 1:12:55 Karena itulah kita juga mengapresiasi 1:12:58 ee keputusan politik ee pemerintah 1:13:03 Prabawa itu untuk mengangkat sekitar 1:13:06 500.000 1:13:08 Ibu guru PNS dari P3K ee dan maupun umum 1:13:13 dan tentu harus melalui seleksi supaya 1:13:17 pengangkatan guru PNS ini itu tidak ee 1:13:21 kontraproduktif gitu. Jadi 1:13:24 pengangkatan guru PNS tetap 1:13:26 memperhatikan kualitas pendidikan gitu. 1:13:29 Nah, sekarang ini kita ee mengeluh soal 1:13:32 kualitas pendidikan. Tetapi jangan lupa 1:13:34 memang selama lebih dari 10 tahun 1:13:38 pendidikan dibiarkan gitu loh. Anggaran 1:13:41 pendidikan itu tidak ee semuanya 1:13:45 dikelola oleh kementerian yang mengelola 1:13:47 pendidikan. Kalau sekarang ada Dikti, 1:13:49 ada Kemdikdasmen, Dikti, Kementerian 1:13:51 Agama. Tetapi kalau sekarang jelas untuk 1:13:55 MBG dan sekolah kedinasan. sekolah 1:13:58 kedinasan ee itu yang di sebetulnya 1:14:01 tidak mandat konstitusi itu justru 1:14:05 memakan anggaran terbesar dibandingkan 1:14:08 dengan anggaran yang dikelola oleh 1:14:10 kementerian yang melaksanakan pendidikan 1:14:14 ee dasar, menengah, dan tinggi. 1:14:18 Kira-kira itu moderator. Terima kasih. 1:14:22 Baik, terima kasih ee Ki Darma. Baik, 1:14:26 sahabat-sahabat sekalian. Ee kita tiba 1:14:28 di akhir acara. Ee para narasumber 1:14:32 dipersilakan memberikan closing 1:14:34 statement-nya. Closing statement pertama 1:14:37 ke Mas Taufik. Persilakan Mas Taufik. 1:14:44 Masih mute, Mas. 1:14:45 Masih di-mute, Mas. 1:14:48 Saya dulu. Saya dulu, ya. 1:14:49 Oh, Pak Pak. Oh, Pak Dalan. Pak Dalan. 1:14:51 Silakan, Pak Dalan. 1:14:52 Saya dulu. Nah, dari berbagai 1:14:55 pembicaraan tadi sebetulnya inisiatif 1:14:57 memperbaiki pendidikan itu tidak lagi 1:14:59 tergantung pada pemerintah. Sekarang 1:15:01 inisiatif masyarakat sudah banyak 1:15:02 sekali. Tetapi memang kan biayanya mahal 1:15:05 dan selama ini dibiayai oleh murid 1:15:08 karena orang-orang yang mampu itu mampu 1:15:10 nyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah 1:15:12 unggul tadi terutama yang swasta tadi. 1:15:16 Berarti memang Pak Mardani sudahlah ee 1:15:19 ekonomi ini harus maju karena kalau 1:15:23 pendapatan kapita naik nanti rakyat ini 1:15:26 punya uang. Kalau punya uang dia bisa 1:15:29 yang unggul. Jadi ya sudahlah ekonomi 1:15:31 ini harus baik. Jangan ekonomi ini 1:15:33 rusak-rusak ini. Terima kasih. 1:15:36 Iya. Iya betul. Memang gitu, Pak. 1:15:38 Kesimpulannya sudah masuk tuh, Pak. 1:15:41 Sudah semua kayaknya 1:15:42 sudah kesimpulan itu. Sekarang monggo, 1:15:45 Mas Taufik sekarang. Silakan. 1:15:48 Waduh, kalau gini susah nih padahal nih. 1:15:50 Iya 1:15:52 ya. Memang sih ee apa namanya tuh kalau 1:15:54 ngelihat dari sejarah macam-macam negara 1:15:55 gitu ya. Jadi mereka itu kan sebenarnya 1:15:57 kayak telur sama ayam gitu, pendidikan 1:15:59 sama ekonomi gitu. Tapi dari fakta, dari 1:16:01 data yang ada memang ekonomi baru 1:16:03 pendidikan gitu ya. Itu dari banyak 1:16:04 negara memang pelajarannya seperti itu. 1:16:06 Mau tidak mau memang pendidikan yang 1:16:08 baik, pendidikan yang ee apa namanya tuh 1:16:11 yang bagus gitu ya, itu memang berbiaya 1:16:13 tinggi dan artinya kita memang butuh 1:16:15 butuh cost gitu ya. Ee dan itu memang 1:16:17 harus ditopang dengan ekonomi yang 1:16:19 baiklah seperti itu. Tapi tadi ya kita 1:16:21 ini anak-anak kita tuh luar biasa 1:16:22 sebetulnya potensinya gitu. Tapi sayang 1:16:24 saja kalau memang kita tidak lantas 1:16:26 memfasilitasi memberikan kualitas. Betul 1:16:29 gitu kan? Gurunya yang baik, 1:16:31 fasilitasnya yang oke dan kemudian tadi 1:16:33 ee hal lainnya lah gitu ya. Kurikulum 1:16:34 itu salah satu hal saja dan sebetulnya 1:16:37 tanpa guru yang baik gitu ya, tanpa tadi 1:16:40 ee kelengkapan yang lainnya rasanya jadi 1:16:42 kurang berpakai juga sih kita gunakan di 1:16:44 kurikulum seperti itu. Makasih Mas 1:16:47 terima kasih Mas Taufik. Berikutnya Ki 1:16:50 silakan closing statement. 1:16:52 Iya saya sepakat dengan Pak Dahlan ya. 1:16:54 Jadi ekonomi diperbaiki. Kalau ekonomi 1:16:57 diperbaiki, 1:16:58 anggaran pendidikan cukup dan 1:17:01 betul-betul dialokasikan untuk ee proses 1:17:04 pembelajaran, maka tidak perlu ragu kita 1:17:08 terhadap kualitas pendidikan kita, gitu. 1:17:11 Tetapi kalau seperti sekarang ini 1:17:14 menuntut pendidikan yang berkualitas 1:17:16 sementara anggarannya enggak ada, ya 1:17:19 saya kira itu apa ya, naib. Betul gitu 1:17:22 ya. seperti misalnya sekarang PTN-PTN 1:17:25 dituntut untuk ee mencapai ranking 1:17:29 dunia. Sementara subsidi pemerintah itu 1:17:33 untuk PTN itu sekarang 1:17:36 hanya 20% gitu loh. 1:17:38 Jadi gimana mau meningkatkan kualitas 1:17:41 pendidikan? Makanya saya bilang kalau 1:17:44 mau meningkatkan ee kualitas pendidikan, 1:17:48 berikan ee subsidi yang cukup untuk 1:17:50 PTN-PTN terkemuka itu supaya mereka 1:17:53 terkonsentrasi 1:17:55 untuk melakukan pembelajaran gitu. Kalau 1:17:59 mereka suruh cari duit ya seperti 1:18:01 akhirnya seperti yang terjadi sekarang 1:18:03 ini gitu. Akhirnya jalur mandiri yang 1:18:06 diperbanyak, penerimaan mahasiswa 1:18:09 reguler diperbanyak 1:18:11 ee sekedar untuk mencapai ee target 1:18:15 pendapatan yang cukup kualitasnya 1:18:18 dikorbankan. Kira-kira seperti itu sih. 1:18:21 Baik, terima kasih Kidarma. Berikutnya 1:18:24 Pak Marani. Silakan Pak Marani. 1:18:27 Kalau ada 100 masalah Mas Taufik, 1:18:31 Sidarma Dahlan, leaders dan calon 1:18:33 leaders dan kita disuruh memilih, saya 1:18:36 satu naikkan gaji guru. 1:18:39 Karena gaji guru yang naik dan membawa 1:18:43 kebahagiaan 1:18:46 enggak masalah ee sekolahnya bocor 1:18:49 misal, enggak masalah bukunya lama. Tapi 1:18:52 kalau gurunya ya ee kan empat tuh ya ee 1:18:56 kesejahteraannya naik, e kualitasnya 1:18:59 naik, karirnya terjamin, kemudian 1:19:02 perlindungannya ada, maka saya yakin 5 1:19:05 tahun ke depan kita akan punya kualitas 1:19:08 pendidikan yang baik. Begitu Bang Ali. 1:19:11 Baik. Eh, terima kasih Pak Mardani, Pak 1:19:14 Dalan Iskan, Ki Darma, dan Mas Taufik. 1:19:17 ee diskusi kita pada malam hari ini 1:19:19 sangat fundamental karena ee kemajuan 1:19:22 suatu bangsa itu sangat ditentukan oleh 1:19:25 kualitas pendidikannya. Sudah pasti tadi 1:19:27 kesimpulan kita berkelindan juga dengan 1:19:29 ekonomi ya seperti itu. Tapi ujungnya 1:19:32 adalah sebenarnya ada di faktor 1:19:34 manusianya. Mudah-mudahan ee Pak 1:19:37 Presiden Prabowo, jajaran pemerintahan, 1:19:40 Pak Menteri, dan juga seluruh unsur 1:19:41 masyarakat swasta. Yuk, kita semua 1:19:44 bahu-membahu bagaimana kualitas ee 1:19:46 pendidikan kita semakin bagus dari waktu 1:19:49 ke waktu dan juga kualitas sumber daya 1:19:51 manusia kita, skor pisa kita juga dan 1:19:54 standar-standar pendidikan lainnya 1:19:57 secara bertahap bisa semakin baik juga. 1:19:59 Saya yakin kita bisa selada kemauan kita 1:20:01 untuk saling berkolaborasi, bergandengan 1:20:04 tangan, bahu-membahu untuk kemajuan ee 1:20:07 masyarakat dan bangsa kita. Terima 1:20:09 kasih. Sampai ketemu pada acara 1:20:10 Indonesia pekan depan pada waktu dan 1:20:13 channel yang sama. Asalamualaikum 1:20:15 warahmatullahi wabarakatuh. 1:20:16 Waalaikumsalamikumsalam warahmatullahi 1:20:18 wabarakatuh. 1:20:20 Terima kasih. 1:20:29 Amin. Amin. 1:20:31 Sampai Pak Tofik ngerja di mana? Di 1:20:33 fakultas apa? Oh, saya di BINUS. 1:20:37 Oh, sekarang di BINUS, Pak Tofik. 1:20:39 Sekarang di BINUS. Betul. Awalnya di 1:20:41 UPI, tapi sekarang di BINUS. Di 1:20:43 manajemen, Pak. 1:20:45 Oh, diem 1:20:46 tapi masih mengikuti pendidikan sih. 1:20:48 Jadi, ya. 1:20:50 Ya, pendidikan 1:20:51 seru. 1:20:51 Manajemennya manajemen apa, Mas? 1:20:53 Sufikarma sehat selalu. 1:20:54 Iya, sama-sama. Saya di program 1:20:58 Silakan. 1:20:59 Silakan. Manajemen apa, Pak Taufik? 1:21:01 Silakan. 1:21:02 Eh, international busis and management. 1:21:03 Oh, internal busis and management. 1:21:05 Spesialisasinya apa, Mas Tik? 1:21:07 Di e development. 1:21:09 Oh, lebih ke eh human capital ya berarti 1:21:12 ya? Humanist. 1:21:13 Betul. Betul. Tapi pengembangan ininya 1:21:14 karena ada background pendidikan jadi 1:21:16 nyambungnya.