Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Brail TV. 0:16 Bismillahirrahmanirrahim. 0:17 Alhamdulillahiabbil alamin. Hamdan 0:19 katsir thyiban barokan fih kama yuhibbu 0:22 waardo. Allahumma shalli wasallim 0:24 wabarik ala sayyidina Muhammadin wa ala 0:26 ali sayyidina Muhammad. Masih 0:27 dipancarkan dari Jalan Masjid 0:29 Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibur 0:32 Bekasi, Radio Silaturahim dan juga Rasil 0:34 TV untuk Islam yang satu. Asalamualaikum 0:36 warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan 0:38 akhwat yang dirahmati 0:39 Allah. 0:40 Senang sekali di kesempatan ini kami 0:41 bisa kembali menjumpai ikhwan akhwat 0:44 dalam program acara psikologi keluarga. 0:47 Seperti biasa ee guru-guru kita 0:50 insyaallah akan memaparkan, menjelaskan 0:53 ee dari persoalan-persoalan rumah 0:56 tangga. 0:57 yang biasa hadir di dalam rumah 1:00 tangga-rumah tangga kita, Ikhwanat. Dan 1:02 semoga nanti ee guru-guru kita ini 1:05 memberikan solusi yang terbaik dari sisi 1:08 syariat Islam dan juga dari sisi 1:11 psikolog. Telah hadir guru kita. 1:13 Asalamualaikum warahmatullahi 1:14 wabarakatuh, Ustaz. 1:15 Waalaikumsalam warahmatullahsam 1:16 warahmatullahi 1:17 Ustaz Abu Bakar. Sehat ya? 1:18 Alhamdulillah. 1:19 Alhamdulillah. 1:20 Baik, seperti biasa untuk keberkahan 1:22 majelis ini kita awali dengan pembacaan 1:25 Quran surah Al-Fatihah yang akan 1:27 disampai dibimbing langsung oleh Ustaz. 1:30 Kami persilakan. 1:31 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 1:38 Bismillahirrahmanirrahim. 1:43 Alhamdulillahi 1:45 rabbil alamin 1:48 arrahmanirrahim 1:52 maiki yaumiddin 1:56 iyyaka na'budu wa iyyaka nasta' 2:01 ihdinasirathal 2:03 mustaqim 2:06 shathalladzina 2:08 an'amta alaihim 2:18 in 2:20 amin. 2:21 Amin. Amin. Amin ya rabbal alamin. 2:24 Sebelum saya bacakan ee kasusnya mungkin 2:27 sebagai narasi pembuka ee membangun 2:30 rumah tangga adalah ikhtiar menyatukan 2:32 dua kepala untuk mengarungi bahtera yang 2:35 sama. Namun di tengah realitas hidup 2:38 yang serba menuntut, dinamika ekonomi 2:41 kerap menjadi ujian paling nyata di 2:43 ruang privat keluarga. Satu kasus 2:47 disampaikan, "Saya seorang istri menjadi 2:50 terbebani, Ustaz, karena yang menjadi 2:53 pekerja saya seorang istri. Waktu dia 2:57 masih belum bekerja, saya yang 3:00 menanggung dirinya dan keluarga." 3:02 sampai kontrak rumah juga saya. Makan 3:05 untuk sehari-hari juga saya, untuk 3:09 ongkos pergi juga saya. Setelah 3:12 mempunyai anak satu ee dia mulai bekerja 3:16 tapi masih semua saya yang biayain. 3:20 Sampai sekarang sudah 5 tahun masih juga 3:22 saya. Uangnya ke mana dan untuk siapa? 3:26 Saya tidak berani menanyakan, Ustaz. 3:28 untuk minta listrik atau pembantu atau 3:31 apa saja saya belum berani karena waktu 3:34 saya minta dia dapat gajian katanya 3:37 tidak ada, Ustaz. Memang gajinya ee 3:41 mungkin lebih besar saya. Jadi sampai 3:44 saat ini belum pernah minta. Saya tahu 3:47 menjadi seorang istri itu ya harus minta 3:50 ke suami, tapi saya takut, Ustaz. Saya 3:53 takut kalau dia marah atau tidak 3:55 berkenan sama saya, Ustaz. saya harus 3:58 bagaimana? Demikian dari ee Safina dari 4:02 Cawang, Ustaz. Mohon nasihatnya. Terima 4:04 kasih. 4:12 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 4:15 Bismillahirrahmanirrahim. 4:19 Alhamdulillahi hamdan katsiran thyiban 4:23 mubarakan fi kama yuhibbuna. 4:28 Allahumma sholli wasallim wabarik ala 4:31 abdika wa rasulik 4:33 sayyidina wa nabiina Muhammadin wa alihi 4:38 wasohbihi wasallim. 4:45 Subhanaka la ilma lana illa ma alamtana 4:48 innaka antal alimul hakim. Wala haula 4:52 wala quwwata illa billahil aliyil adzim. 4:57 Allahumma atina minika rahmah waimna min 5:00 ladunka ilman nafi' unf'na bima alamt 5:06 rbana zidna ilman waikna biolihin amma 5:09 ba'du. Ikhwan akhwat yang dirahmati 5:11 Allah. 5:13 Di dalam Islam Allah subhanahu wa taala 5:20 membagi tugas 5:24 kepada hamba-hamb-Nya. sesuai dengan 5:27 peran dan kemampuannya. 5:30 sesuai dengan peran dan kemampuannya. 5:34 Oleh karena itu, kewajiban 5:36 seorang ustaz berbeda dengan kewajiban 5:40 seorang pengusaha. 5:44 Seorang katakan yang bergerak dalam 5:47 bidang medis kewajibannya beda dengan 5:50 seorang ustaz dan seorang pengusaha. 5:53 Begitu juga kewajiban 5:57 wakil rakyat dengan sendirinya 6:00 berbeda 6:02 dengan mereka-mereka yang bukan wakil 6:04 rakyat. Mereka dipilih oleh rakyat untuk 6:07 mewakili aspirasi rakyat. 6:10 Selagi mereka melakukan, berarti mereka 6:12 menjalankan amanat. Kalau tidak berarti 6:14 mereka pengkhianat. 6:16 Begitu juga kepala negara dan para 6:19 menteri yang membantunya. 6:21 Mereka memiliki tugas yang berbeda 6:23 dengan wakil rakyat, begitu pula dengan 6:25 pengusaha dan seorang ustaz. 6:28 Kepala negara yang dipilih oleh rakyat 6:31 menerima amanat yang besar. 6:34 Negara yang merupakan milik rakyat, 6:37 milik seluruh anak bangsa. 6:40 Mereka memberikan kepercayaan kepada 6:42 pemimpin yang mereka pilih untuk 6:44 mengurus kepentingan mereka, 6:45 mempergunakan kekayaan negeri kita ini 6:48 untuk kesejahteraan mereka dengan penuh 6:50 keadilan. Begitu pula mengembangkannya. 6:55 Oleh karena itu, kewajiban ini dinamakan 6:57 fardu kifayah. Artinya kewajiban yang 7:00 Allah wajibkan 7:02 sesuai dengan kifayah masing-masing. 7:05 Artinya sesuai dengan potensi kemampuan 7:07 setiap orang. 7:09 Kalau semua orang yang memiliki peran 7:11 yang berbeda bekerja sama menjalankan 7:14 kewajibannya, niscaya negara ini akan 7:18 tegak berjaya dan masyarakatnya akan 7:21 hidup harmoni. 7:23 Tapi kalau ulama tidak menjalankan 7:25 tugasnya untuk memberikan penerangan, 7:26 pencerahan, bisa menimbulkan 7:28 penyimpangan di tengah-tengah umat. 7:30 Kalau para pengusaha tidak mengeluarkan 7:33 kewajiban zakat harta mereka juga 7:36 dukungan mereka untuk perjuangan, maka 7:39 akan membuat nanti hanya ulamanya 7:41 berkeliling ecek-ecek minta bantuan 7:44 menjual agama Allah. Bahkan dengan mudah 7:47 dikendalikan oleh para penguasa hingga 7:50 menjadi alat mereka. 7:53 Jadi masing-masing dikenakan kewajiban 7:55 sesuai dengan perannya. Begitu juga 7:58 kewajiban suami 8:00 berbeda dengan kewajiban istri. 8:06 Allah telah tetapkan langsung dari 8:08 Allah. Arrialu qawwamuna alanisan. 8:14 Sesungguhnya kaum pria 8:17 mereka 8:21 bertanggung jawab 8:25 terhadap wanita-wanita mereka. Di sini 8:27 di antaranya bukan hanya suami dan 8:30 istri, tapi juga 8:33 ayah terhadap putri-putrinya. 8:36 Begitu pula saudara terhadap saudarinya. 8:39 Walaupun dia menerima warisan separuh 8:41 bahagian saudara laki-lakinya, saudara 8:43 laki-lakinya punya kewajiban untuk 8:45 mengurus saudara perempuan. 8:49 Suami juga demikian. 8:51 Allah amanatkan istri di atas pundak 8:54 suami. Kata qawwam itu kata superlatif 8:57 dari kata qaim. 8:59 Qoimun al ahli artinya dia tegak 9:01 mengurus ya keluarganya. 9:05 Qawam di sini di samping menunjukkan 9:07 arti mengurus, menanggung keluarganya 9:10 ya, wanita-wanitanya juga mengandung 9:13 makna meluruskan 9:14 mengurus meluruskan mengarahkan mendidik 9:17 mereka untuk menjadi wanita-wanita yang 9:19 baik termasuk istrinya. 9:23 Kenapa? Bimaquimallahuahum 9:27 bain. Karena Allah telah berikan 9:29 keutamaan bagi masing-masing yang 9:30 berbeda. 9:32 Keutamaan yang ada pada laki-laki, 9:34 keutamaan yang ada perempuan kalau 9:35 dijalankan akan saling melengkapi. 9:39 Kalau tidak ada pembahagian tugas repot 9:40 gak? Nanti saling tuding-menuding. 9:44 Tapi ada pembahagian tugas laki-laki 9:46 dijadikan sebagai penanggung jawab yang 9:49 mengurus yang menguruskan juga 9:51 wanita-wanita mereka. wabar 9:55 juga dengan nafkah yang mereka 9:57 keluarkan. 9:59 Lalu sebaliknya wanita falihatu 10:02 qonitatun hafidatun lil ghaibi bima 10:05 hafidullah. Wanita-wanita yang saleh ini 10:08 yang taat kepada Allah. Taat kepada 10:11 suaminya dalam ketaatan pada Allah. 10:14 Menjaga kehormatannya, menjaga dirinya, 10:17 menjaga juga kehormatan suaminya pada 10:19 saat suaminya tidak ada. 10:21 dengan penjagaan dari Allah. 10:25 Kalau kita lihat di sini ya, bagaimana 10:28 Allah Subhanahu wa taala membangun 10:32 pasangan rumah tangga, membangun 10:34 masyarakat 10:35 betul-betul di atas neraca keseimbangan. 10:40 Kewajiban suami itu merupakan hak istri. 10:43 kewajiban istri, hak suami. Allah 10:46 tetapkan bahwa yang wajib memberikan 10:48 nafkah adalah laki-laki. 10:51 Kalau sampai laki-laki mengabaikan 10:54 kewajiban dia untuk memberikan nafkah 10:56 pada istrinya, 10:58 malah dia biarkan istrinya yang 11:00 menanggung nafkah rumah tangga. Padahal 11:02 si laki-laki ini mampu untuk bekerja. 11:05 Maka apa yang dimakan ini merupakan 11:10 sesuatu yang dimakan 11:14 dan termasuk bahagian dari suhud 11:16 waludillah. 11:18 Bahagian dari apa? Sesuatu yang bisa 11:21 termasuk dalam golongan yang diharamkan 11:23 Allah. 11:24 Allah berfirman dalam suratun nisa, 11:27 waisqan. 11:35 Ini ayat 4. 11:37 Berikan kaum wanita shodqat 11:41 di sini jamak shodqah yang artinya mahar 11:43 yang menjadi hak mereka. 11:47 Artinya jangan kita tahan, kita berikan 11:50 kepada mereka. Tapi kalau mereka dengan 11:52 legowo, ikhlas bilang sama suaminya, 11:55 "Emas yang kamu berikan untuk saya jual, 11:57 untuk kebutuhan rumah tangga, silakan 11:59 kalian makan dengan penuh kenyamanan dan 12:03 kebahagiaan." Itu mahar, kan? Nafkah 12:06 juga begitu menjadi kewajiban suami 12:10 yang memberikan nafkah untuk mengurus 12:12 kebutuhan rumah tangga. Kalau suaminya 12:16 mampu bekerja tapi dia malas bekerja 12:18 atau tidak menjalankan kewajiban dia 12:20 padahal dia memiliki uang, maka dia 12:22 memakan sesuatu yang diharamkan Allah 12:24 sampai istrinya dibawa. 12:28 Tapi kalau suaminya katakan tadinya 12:30 memberikan nafkah dengan baik, 12:33 bertanggung jawab, peduli, kemudian 12:37 diphk 12:39 dip 12:40 yang tadinya dia menjadi tulang punggung 12:43 keluarga. setelah di PHK apalagi kalau 12:45 usianya tua susah untuk dapat pekerjaan 12:49 di tempat lain walaupun pengalaman dia. 12:53 Nah, biasanya orang kalau pertama di PHK 12:55 tuh rasa frustasi yang luar biasa. Yang 12:58 biasanya terima gaji setiap bulan 13:00 tahu-tahu 13:02 dia terapung di awang-awang tidak 13:05 memiliki pegangan seperti layangan yang 13:07 putus. 13:09 Si istri mengatakan, "Kamu tidak perlu 13:11 bingung, tidak perlu bergelisah. Saya 13:14 alhamdulillah punya usaha bisa 13:15 berdagang. Kita nikmati sama-sama. 13:18 Si suami juga tidak begitu saja 13:21 mengabaikan. Dia berusaha untuk cari 13:23 pekerjaan, berusaha, tapi belum tentu 13:25 usahanya berhasil. Nah, banyak terjadi 13:28 hal ini di tengah-tengah masyarakat. Si 13:31 istri memaklumi, menerima karena 13:33 suaminya bukan orang yang melarikan 13:35 kewajiban dia, tapi kondisi. Apalagi 13:38 saat ini banyak 13:40 perempuan ya berhadapan dengan kondisi 13:43 yang saya sebutkan tadi. Yang bersabar 13:45 mengingat kebaikan suami, dia tidak mau 13:48 berpisah. Tapi yang enggak bersabar, 13:50 yang tadi dapat nafkah yang wajar 13:52 tiap-tiap bulan, tahu-tahu ternyata 13:54 terputus. 13:56 Akhirnya seperti terjadi di Tasik, 13:58 banyak wanita-wanita yang datang ke KUA 14:00 mohon berpisah dari suaminya 14:04 karena suaminya sudah tidak mampu lagi 14:06 untuk memberikan nafkah. Dengan 14:09 sendirinya 14:11 itu hak dia untuk menggugat kalau dia 14:13 enggak bersabar ya bersama suaminya 14:16 ingin berpisah ya. 14:18 Walaupun suaminya tadinya begitu peduli, 14:21 setia memberikan nafkah, tapi kondisi 14:24 yang membuat dia tidak mampu lagi 14:25 menjalankan tugasnya. 14:28 Istri punya pilihan boleh berpisah, tapi 14:30 kalau dia bersabar mengingat kebaikan 14:32 suami, apalagi kalau dia hari tua, mau 14:35 ke mana perempuan? 14:37 Kita 14:39 belajar 14:42 bukan untuk bekerja, 14:44 tapi kita belajar bekerja untuk 14:46 meluruskan hidup kita sebagai khalifah. 14:49 Bisa menjalankan tanggung jawab kita, 14:51 luruskan kehidupan kita terhadap 14:54 orang-orang yang wajib kita berikan 14:55 nafkah. Tapi pekerjaan bukan tujuan. 14:58 Jadi jangan kita belajar ya untuk 15:01 bekerja. Kemudian kita bekerja ya dengan 15:05 harapan bisa mencari kehidupan. Allah 15:08 sudah berikan kita kehidupan. Kita 15:10 ingatkan kehidupan ini pinjaman dan 15:12 amanat yang kelak kamu 15:13 pertanggungjawabkan. Jadi orang yang 15:14 belajar, yang bekerja jangan dunia 15:17 sebagai orientasinya, 15:19 dunia sebagai sarana ya untuk membantu 15:22 dia menjalankan amanat Allah sebagai 15:25 khalifahnya. Begitu juga berpasangan. 15:28 Pertemuan dua hati juga membuat mereka 15:32 menikmati suasana sakinah. Hidup mereka 15:34 enggak hampa, enggak hambar. Merasakan 15:38 saling mengisi mereka bisa menjalankan 15:41 amanat juga dengan baik. 15:44 Nah, apa yang terjadi pada kasus kita 15:48 pagi hari ini? Seorang laki-laki lama 15:50 tidak bekerja. 15:53 Urusan nafkah dia, bahkan termasuk 15:55 keluarganya pun. 15:58 ditanggung oleh wanita ini yang bekerja. 16:01 Sampai akhirnya dia punya pekerjaan, 16:04 ternyata gajinya tidak muncul-muncul. Ke 16:06 mana perginya itu uang? Dia mau 16:08 bertanya, dia takut. Enggak bertanya dia 16:11 merasa terbebani. Pendapatan dia semua 16:14 untuk urusan rumah tangga. 16:16 Suaminya mirip dengan ayam jago. 16:19 Berkumpul bergaul dengan istrinya, makan 16:21 di rumah kemudian 16:23 pergi. 16:26 Ini namanya suami-suami preman. 16:29 Suami-suami 16:30 preman. 16:30 Preman yang tidak bertanggung jawab. 16:34 Tapi ibu dalam waktu yang sama enggak 16:36 berani nanya. Takut kalau sampai suami 16:38 meninggalkan ibu. 16:41 Maka dengan sendirinya keputusan di 16:42 tangan ibu. 16:44 Kalau ibu merasa ibu terbebani, 16:48 ibu merasa hidup ibu menjadi hambar, 16:52 tidak nyaman, suami yang tidak sama 16:55 sekali menjalankan kewajibannya, ibu 16:57 punya hak untuk menggugat cerai. 17:01 Tapi kalau ibu masih sayang sama suami, 17:04 masih sayang sama 17:06 suami, paling tidak ibu ada suami di 17:08 samping ibu. Ibu berat berpisah dengan 17:11 dia. Kalau berpisah belum tentu dapat 17:13 suami yang sebaik suaminya. 17:17 Kalau ibu mau menerima, mau meneri 17:20 menerima 17:22 sudah saya lebih suka menerima hal ini 17:24 daripada berpisah. Akhirnya masuk ke 17:26 dalam suasana yang tidak jelas sama 17:28 sekali. Apalagi dia sudah punya anak. 17:31 Berapa anaknya? 17:32 Satu. 17:34 Dia merasa memilih bersama suaminya 17:36 walaupun dalam kondisi terbebani ya. 17:41 lebih baik menurut dia daripada dia 17:43 berpisah. 17:45 Jadi kembali kepada ibu. Kalau ibu 17:47 menggugah cerai karena suami tidak 17:49 menyangkan kewajiban itu merupakan hak 17:50 ibu. 17:53 Tapi kalau Ibu memilih untuk menerima, 17:55 ya bersabar itu juga merupakan hak ibu. 17:59 Dan dengan sendirinya sebetulnya yang 18:01 seharusnya menerima masukan dan nasihat 18:03 dari saya itu suami Ibu. 18:06 Sedangkan buat Ibu saya terangkan 18:08 pilihan ya. 18:09 yang bisa ibu pilih antara terus bersama 18:12 suami bersabar karena takut akan 18:14 berhadapan dengan situasi yang tidak 18:16 menyenangkan. 18:20 Itu pilihan ibu. Kita sama sekali enggak 18:23 punya hak untuk memaksa karena ibu yang 18:24 mengarungi. Tapi kalau ibu menuntut 18:27 untuk berpisah dari suami yang tidak 18:29 bertanggung jawab, tidak peduli, tidak 18:31 memberikan nafkah, 18:34 ini juga merupakan hak ibu secara penuh 18:36 dan dihormati. 18:38 Karena Allah wajibkan atas suami untuk 18:41 memberikan nafkah. Kalau pada saat belum 18:43 bekerja dapat dimaklumi setelah dia 18:45 bekerja ternyata tidak kunjung juga 18:46 melaksanakan kewajiban dia. Nah, Ibu 18:49 enggak bersabar suami ini. Ibu bisa 18:53 berpisah dan saya doakan mudah-mudahan 18:54 dapat suami yang lebih baik. 18:56 Tapi yang jelas seorang laki-laki itu 18:59 tidak dihormati karena dia laki-laki. 19:03 Apa gunanya penampilan dia laki-laki, 19:05 tubuhnya laki-laki, tapi jiwanya jiwa 19:09 orang yang tidak bertanggung jawab. 19:12 Orang seperti ini tidak ada nilainya di 19:14 sisi Allah. 19:16 Begitu juga wanita bukan hanya karena 19:18 wanita, karena kecantikannya, karena 19:20 kekayaannya, semuanya tidak ada gunanya. 19:22 kesombongan dia pun tidak berguna kalau 19:24 dia menyombongkan hartanya. 19:27 Tapi kesetiaan dia, ketulusan ya dalam 19:31 menjalankan kewajiban sebagai seorang 19:33 istri, seorang ibu, dia berjuang, dia 19:36 menutupi kejelekan suaminya, memberikan 19:38 nasihat yang baik bagi suami. Jangan, 19:40 jangan kita jemut takut memberikan 19:42 nasihat buat suami. Jadi, ibu seharusnya 19:44 memberikan nasihat pada suami. 19:48 Menjelaskan kondisi ibu. Bukan. Ibu juga 19:50 semakin semakin tua itu bakal semakin 19:52 lemah. Bahwa saya ini berat buat saya 19:56 untuk memikul beban rumah tangga. Kita 19:58 mau tahu bagaimana sikap dia. Kalau 20:00 sikap dia acuh cacuh dan tidak peduli 20:05 lebih baik mumpung belum terlalu 20:09 terlanjur dan jauh, ibu minta pisah dari 20:11 suami semacam ini. Karena sepanjang masa 20:14 ibu akan terbebani oleh sikap perbuatan 20:17 yang tidak bertanggung jawab dan cuaik 20:18 serta acuh-taacuh. 20:21 Jadi kembali kepada pilihan ibu. 20:24 Mudah-mudahan saya doakan kalau ibu 20:26 tetap bersabar, suami Ibu diberikan 20:28 hidayah. Kalau Ibu enggak bersabar mau 20:30 menggugat, mudah-mudahan Ibu dapat suami 20:32 yang lebih baik lagi. Insyaallah. Amin 20:33 ya rabbal alamin. 20:35 Masyaallah. Terima kasih, Ustaz atas 20:37 penjelasannya yang menyejukkan sekaligus 20:40 ya mengingatkan kita bahwa tadi niat ee 20:45 mungkin istri sedekah ya kepada suami 20:47 dan keluarganya, keikhlasan, ikhtiar, 20:50 masyaallah bekerja gitu untuk keluarga 20:51 itu kan luar biasa, Ustaz. Dan ini 20:53 menjadi mungkin menjadi fondasi juga ya 20:55 untuk keutuhan rumah tangga seperti ini, 20:58 Ustaz. Namun 21:00 iya Ustaz 21:01 ada satu kejadian seorang wanita menikah 21:03 sekian lama dengan seorang pria. 21:06 He. 21:07 Priya sarjana, wanitanya juga demikian. 21:11 Tapi Allah kasih subhanallah rezeki 21:13 istrinya ini 21:15 banyak. 21:15 Lebih besar. 21:16 Ternyata bukan hanya lebih besar, 21:18 meluap, mengalir. 21:19 Hmm. Masyaallah. sehingga dia biayai 21:22 bukan hanya suaminya hidup, suaminya 21:24 tidak apa tidak berperan besar dalam 21:26 kehidupan rumah tangga, tapi dia cintai 21:29 suaminya, dia sayang suaminya 21:31 dan dia bersyukur alhamdulillah bahwa 21:33 Allah berikan dia rezeki yang luas. 21:35 Mungkin kalau rezeki tadi di tangan 21:37 suaminya, mungkin suaminya belum tentu 21:38 memperhatikan dia dengan baik 21:41 kan. Yang penting ada kan? 21:42 Iya. 21:42 Yang penting kan diberikan kemudahan. 21:44 Jadi dia bantu keluarga suami dibantu, 21:46 keluarga perempuan dibantu, semua orang 21:49 dibantu sama dia. 21:50 H 21:52 itu pun masih melimpah 21:54 dan si wanita ini hormat pada suaminya. 21:57 Jadi kalau ke mana-mana selalu dia minta 21:59 suami yang bicara. 22:00 Hm. 22:02 Ida bisa ide dia 22:03 tapi yang bicara suami. 22:04 Masyaallah. 22:05 Jadi dia enggak ingin suami direndahkan 22:07 oleh orang lain. 22:08 Masyaallah. 22:10 Dengan sendirinya kalau dia beriman, 22:11 bertakwa dia akan menjadi wanita 22:13 surgawi. 22:14 Iya. I 22:14 tapi ada wanita disayang sama suami, 22:17 diutamakan sama suami, diberikan 22:19 macam-macam. Dibelikan apa yang dia mau, 22:21 diberikan emas. Tapi kalau cerita depan 22:24 orang, "Ini bukan suami saya yang 22:25 belikan. Ini bukan suami saya yang 22:28 belikan. Saya dibelikan oleh orang 22:29 lain." 22:30 Masyaallah. Ada seperti 22:32 Iya. Saya dapat hadiah dari sana, orang 22:34 tua saya memberikan. Padahal orang 22:35 tuanya enggak mampu. 22:36 Iya. 22:37 Masyaallah. Jadi semua yang diberikan 22:39 suaminya 22:40 tidakak dihargai. 22:42 Nah, ini orang-orang seperti ini yang 22:45 mengingkari kebaikan orang yang berbuat 22:47 baik pada dan hidupnya tidak akan pernah 22:49 bahagia. 22:50 Tapi orang yang paling dicintai Allah 22:52 itu yang bersyukur pada Allah. Bersyukur 22:54 juga kepada orang yang berbuat kebaikan 22:56 padanya apalagi suaminya. 22:58 Masyaallah. 22:59 Jadi hidup dengan hati yang syukur, 23:02 kemudian juga bersabar menghadapi cobaan 23:04 hidup ini insyaallah menjadi pembuka 23:07 pintu rahmat yang sebaik-baiknya buat 23:08 kita semua.Ayaallah. 23:11 Nah, kita ingin mendengar dari psikolog 23:13 kita nih, Ustaz Abu Bakar Baraja. Karena 23:15 memang kita menyadari dalam praktiknya 23:18 sehari-hari mungkin ada ya rasa lelah 23:20 mungkin dari seorang istri seperti itu 23:23 dan mungkin juga rasa apa ya getir, 23:26 cemas ketika 23:28 sudah bertahun-tahun 23:30 ya terbebani tadi yang disampaikan itu. 23:32 Nah, bagaimana dari sisi psikolognya? 23:35 Silakan Ustaz Ab Bakar. 23:37 Asalamualaikum warahmatullahi 23:40 wabarakatuh. 23:41 Waalaikumsalam warahmatullah. 23:44 Alhamdulillah 23:47 segala nikmat yang Allah berikan 23:51 itu menjadikan suatu hal yang besar. 23:56 Nikmat-nikmat yang Allah berikan akan 24:00 meningkatkan 24:02 berbagai macam kenikmatan-kenikmatan. 24:05 Ketika kita bersyukur hasil dari nikmat 24:09 itu insyaallah akan lebih besar lagi 24:14 ya. Seperti beberapa kasus yang kita 24:18 dapatkan. Seorang yang selalu 24:21 menikmati 24:23 apa yang diberikan Allah selalu dia akan 24:27 besar. 24:28 Dia akan bisa lebih menikmati. Dapatnya 24:31 sedikit tapi dia bisa menikmati. 24:35 Dapatnya cuman segep, tapi dia bisa 24:38 menikmati itu seakan-akan besar. 24:43 Dapatnya besar tapi dia enggak bisa 24:44 nikmati. Habis begitu saja. 24:48 Karena menikmati 24:50 sesuatu yang diberikan Allah itu hal 24:54 yang terbaik. He. 24:55 Nah, sekarang kita lihat kasus ini. 24:58 Kasus ini seorang istri 25:04 bekerja 25:06 sebelum menikah dia sudah bekerja. 25:08 He. 25:10 Pas menikah melihat suaminya 25:14 tidak pernah 25:16 memberikan sedikit pun. 25:18 Heeh. 25:19 Untuk apa? Untuk di rumah, untuk makan, 25:22 untuk apa? tidak pernah memberikan 25:27 si istri yang bekerja, dia akan 25:29 mengeluarkan uang dan sebagainya. 25:32 Istrinya yang berpontang-panting 25:38 dan subhanallah dapat juga. 25:41 H 25:42 meskipun sedikit. Setelah dapat 25:45 diberikan buat makan, buat apa sudah 25:48 selesai. Namun dia masih berpikir, 25:52 "Kenapa kok suami saya tidak mau 25:55 memberikan?" 25:58 Padahal dia punya kemampuan, dia punya 26:01 kebisaan. Dia bisa memberikan itu, dia 26:03 bisa melakukan ini, bisa. Tapi kenapa 26:06 kok dia tidak mau melakukan? 26:11 Istrinya bergumel di dalam hatinya, di 26:14 dalam pikirannya 26:16 bahwa suaminya tidak pernah melakukan. 26:24 Setelah 1 tahun dia punya anak, 26:27 suaminya bekerja. 26:30 Hasil dari pekerjaannya 26:33 tidak diberikan kepada dirinya. 26:38 hasil pekerjaannya itu ke mana? 26:41 He. 26:41 Dia tidak pernah tahu ke mana uang ini, 26:46 uang hasil kerjanya itu ke mana. Dia 26:50 tidak pernah mengerti 26:54 apakah diberikan ke adiknya, kakaknya, 26:56 apakah diberikan ke mamanya. Tidak 26:59 pernah 27:01 tahu. 27:03 Si istri mau nanya bingung, takut. 27:07 Nanti kalau dia ngambek, kalau dia marah 27:09 gimana? 27:11 Nanti dia kalau tinggalin aku, aku 27:13 sendirian. Dia bingung. 27:16 Padahal istri itu punya penghasilan. 27:21 He. 27:22 Harusnya yang berperan siapa? Yang 27:25 berani siapa? yang punya peran, yang 27:28 punya penghasilan, dia harus mengatakan 27:33 karena dia punya penghasilan maka dia 27:36 harus berkat. 27:38 Namun dia menjadi kebingungan, 27:41 ketakutan. 27:42 Sudah 5 tahun ini dia masih bingung 27:47 kenapa kok suami saya tidak mau 27:49 memberikan sedikit saja 27:53 sedikit uang untuk dirinya. 27:57 Bagaimana dia bisa melakukan itu kalau 28:00 misalnya 28:02 istrinya yang berpean 28:05 ya 28:07 dan tidak diberikan peran sedikit pun si 28:11 suami untuk melakukan dia bisa bekerja, 28:14 hasil pekerjaannya kita hargai. 28:17 Kalau hasil pekerjaannya itu dihargai, 28:21 insyaallah dia akan berikan. 28:23 Namun itu tidak pernah terjadi. 28:28 Jadi yang menjadi pikiran si istri, 28:31 kenapa kok suami saya tidak pernah 28:35 memberikan 28:37 sedikit pun karena dia enggak pernah 28:39 minta. Sekali minta pas lagi enggak 28:41 megang duit katanya lagi enggak punya 28:42 duit. Dia takut 28:45 lagi minta terus dia ngambek. Dia 28:49 bingung lagi. 28:51 Akhirnya dia tidak pernah minta-minta 28:54 sampai 5 tahun dia sudah pusing sampai 28:58 dia sakit perutnya, kepanya kepusingan. 29:02 Bagaimana kehidupannya dia? 29:06 Dia mau bekerja. Dia kalau misalnya dia 29:08 mau malam nih, mau tidur. Aduh, besok 29:10 saya kalau enggak kerja gimana? 29:14 sampai dia mau tidur enggak bisa tidur 29:19 karena kekhawatiran 29:22 kalau nanti suaminya ngambek. Bagaimana 29:25 ya? 29:26 Kalau kita lihat, 29:29 kalau kita perhatikan 29:32 apa yang terjadi sama si istri, 29:38 kalau kita lihat mungkin saja 29:42 kedua orang tuanya 29:45 seperti apa. Mungkin kedua orang tuanya 29:49 terlalu menghambakan 29:51 kepada si suami. 29:56 Ibunya terlalu mengontrol atau ibunya 30:00 yang mengkendalikan 30:02 suaminya. 30:05 Jadi si istri tuh dia bingung. Ini papa 30:09 papa saya dikendalikan sama mama. Ini 30:13 suami saya juga saya kendalikan. Tapi 30:15 enggak bisa. Saya khawatir dan bingung 30:18 dia. 30:21 Nah, kita tahu kalau itu terjadi, kalau 30:24 si ee istrinya ee 30:29 ibu dari istri itu mengendalikan 30:31 suaminya, artinya bahwa dia mencontoh, 30:39 dia mencontoh 30:41 ibunya. 30:44 Dia mencontoh ibunya mengendalikan 30:46 suami, 30:48 tapi dia enggak bisa mengendalikan. 30:52 Mungkin juga karena ada pertentangan 30:56 maka dia punya ketakutan. 30:58 Dia bertentangan sama ibunya, dia 31:01 bertentangan sama papanya, dia 31:04 bertentangan. Maka dia takut kalau 31:07 misalnya nanti menjadi seorang istri, 31:11 suaminya pergi dan bercer bercerai. Nah, 31:15 itu yang menjadi pikiran dia. 31:18 Apalagi dia mendengarkan cerita-cerita 31:21 bahwa perpisahan itu begini. Nanti kalau 31:23 sudah punya anak, dia perpisahan yang 31:27 dia lihat di media sosial yang bisa 31:31 membingungkan dirinya, dia ketakutan. 31:35 Akhirnya dia melakukan pekerjaan A B D 31:39 sambil bekerja dia lihat yang ada 31:41 pekerjaan yang lain diambil lagi 31:46 sampai waktunya dia tidak ada lagi hanya 31:49 bekerja dan terakhir dia menjadi 31:55 ketakutan. 31:59 Dia menjadi ketakutan. 32:00 H 32:01 ketakutannya bagaimana? 32:03 Sekarang saya mau bekerja. Saya bekerja. 32:06 Nanti pekerjaan saya bagaimana? Nanti 32:09 kalau misalnya suami saya pergi, saya 32:12 begini bingung dia besok mau bekerja, 32:16 pagi mau bekerja. 32:18 Dia sudah mikirkan 32:22 mau pergi kerja melihat suaminya serba 32:25 salah. Akhirnya dia enggak bisa tidur. 32:30 Dia enggak bisa 32:32 tidur. 32:33 Lelah pikirannya lelah. Capek. Kenapa 32:37 kok dia enggak bisa tidur? Karena dia 32:39 mikirin suami, mikirin pekerjaan. 32:43 Dua saja yang dipikirkan. Masih ada lagi 32:46 pikiran kepada orang tuanya, masih ada 32:49 lagi pikiran kepada saudara-saudaranya. 32:52 penuh pikirannya dia. 32:54 He. 32:55 Ketika dia sudah penuh, dia enggak bisa 32:58 berbuat apa-apa. 33:00 Dia pengin bicara sama suaminya, nanti 33:03 akan terjadi begini. Dia mau bicara sama 33:05 orang tuanya, nanti akan terjadi seperti 33:08 itu. Bingung 33:12 dia mengalami kebihan. 33:15 Nah, bagaimana seorang istri yang 33:18 seperti ini? 33:22 Kita harus lepaskan satu persatu 33:27 pikirannya. 33:29 Pikiran tentang keluarganya lepaskan. 33:33 Pikiran tentang suaminya lepaskan. 33:37 Lepaskan. bukan melepaskan suami, bukan 33:40 lepaskan keluarga, bukan lepaskan 33:43 pikiran-pikirannya 33:45 dia. 33:47 Pikiran-pikiran itu yang akan 33:50 mempengaruhi. 33:53 Jadi, pikiran-pikiran itulah yang 33:56 mempengaruhi dirinya bagaimana dia bisa 34:00 dan sehingga dia tidak bisa tidur. 34:03 Kenapa dia enggak bisa tidur? karena 34:05 pikiran-pikiran itu 34:08 sekarang dia harus lepaskan satu 34:11 persatu. H 34:14 dia harus tinggalkan pikiran itu. 34:16 Bagaimana saya bisa melepaskan orang 34:18 pikiran itu datang sendiri dia tiba-tiba 34:21 muncul. Enggak saya panggil, enggak saya 34:26 ambil, saya lakukan, tidak. Tapi dia 34:29 tiba-tiba 34:31 datang sendiri. 34:33 pikiran itu datang sendiri. He. 34:36 Karena ketakutan sama suami, ketakutan 34:38 begini, ketakutan begitu. Itu 34:40 pikirannya. 34:45 Sekarang kita lepaskan. Bagaimana kita 34:48 melepaskannya? 34:52 Perhatikan 34:54 apa yang kamu 34:57 lakukan. 35:00 Jadi kita perhatikan 35:03 apa yang kita lakukan. 35:06 Seorang istri saya akan bekerja sudah 35:08 melayani suami selesai. Saya sudah 35:11 melayani suami selesai. Kemudian saya 35:15 mau bekerja. 35:19 Kita katakan saya mau bekerja. Waktu mau 35:22 perjalanan lihat. Oh di situ ada ini, 35:25 ada itu, ada itu. Lihat. Perhatikan 35:28 perjalanannya. sampai di tempat kerjaan 35:31 bekerjalah sesuai dengan apa yang 35:35 dilakukan. 35:38 Jadi perhatiannya dia kepada pekerjaan, 35:42 bukan kepada pikirannya yang mamanya, 35:45 suaminya begitu. Tidak. Ketika saya 35:48 sudah lakukan sesuatu sama suami, 35:51 selesai. 35:53 Waktu kita mau berjalan bekerja, katakan 35:57 saya mau bekerja. 36:01 Jadi, katakan saya mau bekerja sehingga 36:03 pikiran-pikiran itu lepas di rumah 36:07 suaminya. Jadi suaminya 36:10 kita tegaskan bahwa suaminya jadi 36:14 suaminya. Lepaskan waktu bekerja pulang. 36:19 Waktu pulang katakan, "Saya mau pulang. 36:23 Oh, nanti di dalam rumah ada suami. 36:25 Nanti suami itu begini se begitu. Jangan 36:28 pikirkan waktu pulang di jalanan ada 36:31 mobil, ada sepeda, ada motor, ada orang 36:36 jalan. Kita perhatikan. 36:40 Jadi semuanya kita perhatikan. Yang kita 36:44 lihat itu yang kita 36:47 masukkan ke dalam pikiran. Jadi terlepas 36:52 begitu masuk ngelihat suaminya, "Oh, itu 36:55 suami saya. 36:57 Oh, ini anak saya." 37:01 Jadi bentuknya adalah realita. 37:08 Jadi, bentuk realita 37:11 ketika dia melakukan adalah bentuk 37:14 realita. 37:16 Jadi yang kita fokuskan adalah bagaimana 37:20 seorang istri bekerja dan selalu yang 37:24 realita. 37:27 Bukan kita mikirin ke sana sini, tapi 37:30 yang realita. Kalau dia realita, 37:33 insyaallah dia akan tenang. Dia tidak 37:36 memikirkan ibunya, tidak memikirkan, 37:39 suaminya, tidak memikirkan itu. Ya 37:42 sudah, dia bekerja bekerja. 37:45 Ketika suami enggak bekerja, itu 37:47 suaminya. Namun dia tidak mendapatkan 37:50 uang. Kita minta enggak dikasih ya sudah 37:54 minta lagi. Enggak dikasih ya sudah. 37:57 Minta lagi. Enggak dikasih ya sudah. 37:59 Terus tiap hari minta 38:02 pasti dia akan berikan. 38:04 Mintanya enggak usah marah-marah. 38:07 Minta 38:08 insyaallah. Kalau kita mintanya tidak 38:11 marah-marah insyaallah bisa. 38:14 Insyaallah. 38:15 Insyaallah. 38:15 Iya, Ustaz. Ustaz, jika ya kondisi 38:18 ekonomi, kondisi seperti ini kan memang 38:20 banyak, Ustaz. 38:21 Dan jika berlangsung lama, Ustaz, 38:22 khususnya dari sisi suami, Ustaz, 38:24 bagaimana si suami itu kembali apa ya 38:27 memaknai kepemimpinan gitu, Ustaz, dalam 38:31 diri dia dan juga memahami kerja sama 38:33 tim ya antara 38:34 I 38:34 suami dan istri, Ustaz. Bentuk 38:36 kontribusi nonfinansial apa, Ustaz, 38:38 kira-kira bisa tetap diberikan gitu. 38:40 Ketika kondisi ini terpaksa gitu. 38:42 Kita akan tahu Annisa syaqal wanita itu 38:45 belahan jiwa laki-laki itu juga 38:47 sebaliknya. 38:48 Iya. 38:48 Ya. Laki-laki juga belahan jiwa wanita. 38:51 H. 38:54 Mereka tidak bahagia hanya dengan 38:55 kekayaan. 38:56 Hm. 38:57 Dengan nafkah bahkan yang super 39:00 sempurna. 39:01 He 39:02 tampan dan cantik bertemu bersama-sama. 39:05 Tapi ketahuilah semua ini tidak akan 39:08 memberikan rasa sakinah ke dalam jiwa 39:11 kecuali kalau hati mereka disatukan oleh 39:13 Allah. 39:17 I 39:18 hanya Allah yang bisa menuangkan 39:20 sakinah, mawaddah, rahmah dan kedamaian. 39:24 Artinya pasangan suami istri jangan lupa 39:27 pada Allah. Tuhan yang telah menciptakan 39:30 mereka yang melimpahkan rahmatnya. 39:33 Begitu Allah bimbing perintahkan mereka 39:35 tidak menyambut seruan Allah. Oleh 39:38 karena itu, dua hati ini yang bisa 39:41 menyatukan hanya Allah. Sampai dalam 39:44 hadis, dalam Quran, lau anfakta ma fil 39:47 ardhi jamian 39:48 ma alltaubi. 39:52 Kalau kamu menginfakkan semua harta di 39:55 bumi, kamu tak akan mampu untuk 39:57 menyatukan hati mereka.Akallah. 40:01 Tapi Allah kuasa. H 40:03 kenapa? Karena hati kita semua di tangan 40:05 Allah. 40:06 I 40:07 kalau kita taat dekat sama Allah, istri 40:08 taat. Pada saat itu suami istri 40:11 merasakan kedamaian, ketentraman 40:13 walaupun tinggal dalam sebuah rumah yang 40:15 kecil. 40:16 He 40:16 bahagia. Tapi kalau kita jauh dari Allah 40:20 atau salah satu dari kita istri atau 40:22 suami jauh dari Allah, itu langsung akan 40:25 terasa apa? Merasa tidak nyaman dalam 40:27 rumah tangga. Karena apa? Suami istri 40:30 satu tim. H 40:32 seperti kesebelasan bola. Kalau kipernya 40:36 meninggalkan 40:38 posnya, 40:39 gawangnya, 40:40 bahkan maju menjadi penyerang, 40:44 apa yang terjadi? 40:45 Kebobolan. 40:46 Mudah sekali. Dari jauh pun musuh bisa 40:48 apa? 40:49 Kebobol. 40:50 Betul gak? 40:50 Iya. 40:51 Kalau digantikan oleh bek yang menangkap 40:53 bola akan kena penalti. 40:55 Betul gak? 40:56 Iya. 40:56 Kartu merah. 40:57 Begitu juga kalau seanda bukan kartu 40:58 merah, penalti. 40:59 Iya. 41:00 Betul ya? 41:02 paling hanya mengelak dengan kakinya. 41:05 Jadi kalau ditempatkan bukan pada 41:06 posisinya kesebelasan tidak akan sama 41:08 sekali apa 41:09 atau bek tidak menjalankan tugas begitu 41:11 datang serangan dia menghindar 41:14 atau katakan 41:16 gelandang tengah atau kanan luar kiri 41:18 luar tidak menjalankan tugasnya 41:19 masing-masing bawa bola sendiri-sendiri 41:22 bisa dikalahkan oleh kesebelasan yang 41:24 lemah kalau mereka bersatu 41:25 rumah tangga juga begitu 41:27 kalau suami istri bersatu 41:30 pertama-tama selalu ingat Allah 41:32 iya 41:32 bertakwa kepadanya nya insyaallah Allah 41:35 berikan kedamaian dalam rumah tangga. 41:37 Hati yang tadinya 41:38 terpisah disatukan kembali. 41:41 Nah, pada saat itu suami istri tidak 41:43 akan hitung-hitungan. 41:46 Suami di saat memberi dia merasa ini 41:47 kewajiban dia dan dia bahagia bisa 41:50 memberikan istrinya. 41:52 Istri juga demikian. Di saat dia 41:54 mentaati suaminya, melayani suaminya, 41:57 penuh kebahagiaan. Bahkan kalau suaminya 42:00 atau suaminya kata kasihan melihat dia 42:02 enggak bekerja, melihat dia terlalu lama 42:04 apa bolak-balik kerja diminta 42:06 pembantunya. Dia mengatakan, "Mas kamu 42:08 bukan saya yang di saya kasihan lihat 42:11 kamu." Enggak saya mau saya yang 42:12 ngelayani Mbak Mas. 42:15 Jangan perintah membantu pembantu untuk 42:17 urusan yang lain. Tapi untuk urusan Mas 42:19 saya yang mau apa melayani. Ini karena 42:22 apa? Karena cinta. 42:26 Itu yang namanya sakinah 42:27 mawadah. Da dan rahmah. 42:30 Si laki-laki di saat melihat istrinya 42:32 dalam keadaan katakan susah hati atau 42:36 lemah, dia maklumi keadaan istrinya. 42:38 Bahkan dia hibur. Ada saat-saat jemu 42:41 diajak istrinya keluar untuk 42:43 menghilangkan kejemuannya. 42:45 Sakit dia temani istrinya dan selalu 42:48 berkata-kata yang manis. Istrinya pun 42:50 berkata manis pada suaminya. ini 42:52 betul-betul membuka pintu rahmat 42:54 kebahagiaan dari seluruh penjuru. 42:58 Tapi walaupun diberikan segala-galanya, 43:00 suaminya kasar terhadap istrinya, kurang 43:03 perhatian. 43:04 atau istri juga kasar, suka 43:07 mengungkit-ngungkit, ya tidak mensyukuri 43:09 kebaikan suami. Ini sama aja 43:13 dengan sebuah kapal 43:16 yang berisi muatan antara kapten dan 43:19 pembantu kapten berbeda pendapat. 43:22 H 43:23 bahkan bertengkar. Apa yang bakal 43:25 terjadi? 43:26 Berantakan. Oleh karena itu, suami istri 43:30 saling melengkapi, 43:32 mereka saling menyempurnakan. Hunna 43:34 libasakum wa antum libas. Dan perlu kita 43:38 ketahui bahwa kondisi yang dihadapi para 43:40 sahabat Rasul itu berat luar biasa. 43:43 H 43:44 berjuang, mencari nafkah. 43:46 Iya. 43:47 Dan ini bukan di Indonesia yang subur. 43:50 Iya. 43:50 Di mana seluruh wilayah Indonesia bisa 43:52 ditanami, sungai cukup banyak. Di sana 43:54 itu kondisi amat sulit, pakaian juga 43:57 mahal, kebutuhan pangan juga mereka 44:00 perhitungkan. Hingga Rasul terkadang 44:04 satu du hari tidak mencicipi makan 44:06 kecuali air. Begitu juga putri beliau 44:09 juga lemah menahan lapar. Suaminya 44:13 bekerja 44:15 dengan apa? Dengan sebatas kemampuan dia 44:19 bekerja. terkadang melakukan 44:21 pekerjaan-pekerjaan yang dianggap oleh 44:23 orang rendah. 44:25 Artinya dari sisi segi ekonomi itu lebih 44:27 sulit 44:28 jauh dibandingkan sekarang. Tapi kita 44:30 ini tidak bersyukur, tidak puas karena 44:32 apa? 44:33 Kita suka membanding-bandingkan. 44:35 Si fulan hidup bahagia, suaminya belikan 44:37 mobil, belikan ini, belikan ini. 44:39 Iya. 44:40 Sedangkan suami dia gaji UMR. 44:42 He. 44:43 Naik kendaraan umum. Kalau mau 44:45 jalan-jalan juga harus katakan pinjam 44:48 mobil. 44:50 Nah, kalau si istri 44:51 membanding-bandingkan suaminya dengan 44:53 dengan pria lain, dengan suami lain, 44:55 ya pasti dia akan sepanjang hidupnya 44:57 menderita. 44:58 Tapi kalau dia bersyukur, alhamdulillah 45:01 suami saya walaupun gaji UMR, penuh 45:03 perhatian, kasih sayang pada saya, 45:05 tanggung jawab pada anak-anaknya, 45:08 belum tentu yang diberikan kelebihan 45:10 materi bisa seperti suami saya. Jadi 45:12 kalau kita bersyukur kepada Allah 45:14 Subhanahu wa taala, 45:16 sabar menghadapi cobaan, 45:19 kemudian 45:21 selalu berkata baik, berbuat kebaikan, 45:23 insyaallah kebahagiaan akan terbuka dari 45:26 seluruh penjuru. 45:26 Amin. Insyaallah. 45:28 Saya kenal seorang wanita, Ustaz Abu 45:29 Bakar. 45:32 Kebetulan 45:33 dia mau menikah, tapi usia dia mungkin 45:37 sudah 40 tahun. H 45:40 dia terlambat menikah karena dia meniti 45:42 karirnya hingga menjadi seorang 45:44 pengusaha yang kaya. 45:45 Iya. Iya. 45:47 Akhirnya 45:50 dia mau mencari seorang suami 45:52 ditunjukkan suami tapi sudah punya istri 45:55 punya anak. 45:58 Dilihatnya laki-laki baik 46:01 semangat kerjanya tanggung jawab dia 46:03 terima sebagai 46:05 istri kedua. H 46:08 dia muliakan suaminya, diberikan 46:10 kendaraan buat suaminya. Suaminya hidup 46:12 pas-pasan 46:13 diberikan. Kemudian istrinya pun nafkah 46:16 tiap bulannya istri muda yang tanggung. 46:18 Masyaallah. 46:20 Anak-anaknya semua dari mulai sekolah, 46:22 pakaian, sekolah kebutuhannya istri 46:24 mudanya yang tanggung. 46:27 Yang dinambahkan oleh istri ini 46:29 laki-laki yang perhatian padanya. He 46:31 yang menemani dia pada waktu menggilir 46:35 yang tua. Dia suruh-suruh suaminya apa? 46:37 Kembali kepada yang tua. 46:38 He. 46:40 Terkadang anak-anaknya dibawa ke tempat 46:42 istrinya karena dia enggak punya anak. 46:45 Jadi kita lihat kalau ada tafahum, 46:49 ada tafahum di antara mereka ada 46:52 pengertian suaminya enggak berkurang 46:54 kok. 46:54 Pengertian. 46:55 Betul enggak? 46:55 Iya. Malah suaminya ya pulang ke tempat 46:59 yang tua membawakan nafkah, membawakan 47:01 ini dan istri yang tua senang bahagia. 47:03 Kenapa? Yang kedua ini tidak apa tidak 47:06 semena-mena nguasai suaminya 47:11 sampai Subhanallah istrinya meninggal 47:13 dunia. 47:15 Istrinya meninggal dunia yang pert bukan 47:18 yang pertama, yang kedua. 47:18 Kedua, 47:19 yang kedua meninggal dunia. Tapi paling 47:21 tidak 47:22 kalau kita lihat dia bersama suaminya 47:24 ini menemukan kebahagiaan. dengan harta 47:26 yang dimiliki, dia bisa berbagi dengan 47:29 istri tuanya, dengan anak-anaknya. Dia 47:31 merasa hidupnya bermanfaat yang dulu dia 47:34 tidak rasakan. 47:36 Karena berangkat dari rumah, bekerja, 47:39 berusaha, mengembangkan usahanya, tapi 47:42 dia enggak merasakan sama sekali apa. 47:45 Nah, suami ini ya bekerja alak tidak 47:47 mungkin sama sekali mampu memberikan 47:49 nafkah, apalagi wanita seperti ini. 47:51 Untuk yang tua kok masih pas-pasan? kan. 47:54 Tapi kita lihat ada kelebihan pada 47:57 laki-laki ini yang membuat si perempuan 48:01 ini bahagia dan 48:03 jadi tidak ada yang sempurna dalam hidup 48:05 ini. 48:06 Kita berumah tangga 48:08 kita sudah melalui berbagai macam apa 48:11 namanya ee cobaan kesempitan, 48:14 kesulitan hidup sampai anak sakit pun 48:17 kita enggak mampu untuk membawa ke 48:19 dokter karena tidak punya kemampuan 48:22 juga ngontrak. Kalau sudah mulai 48:24 mendekati saat akhir, kita juga pasrah 48:27 pada Allah ke mana kita akan pindah. Ini 48:30 semua cobaan sebetulnya mengasah hati 48:32 kita, mengasah jiwa kita, menguji syukur 48:35 dan sabar ki 48:36 kita. Jadi kita berharap mudah-mudahan 48:39 ini menjadi pelajaran yang baik buat 48:42 kita. Dan jangan lihat suami dengan 48:45 tolak ukur materi. 48:47 Jangan lihat istri juga apa 48:49 dengan tolak ukur materi atau 48:51 kecantikannya. Kok sekarang enggak 48:53 seperti dulu? 48:55 Seabis melahirkan anak, ketahuilah dia 48:58 mulai memudar, perutnya tidak kencang 49:01 karena melahirkan anak kamu. Seharusnya 49:03 kamu syukuri dia. Jadi, jangan kamu 49:06 menilai hanya sebatas apa? Laki-laki 49:09 yang baik akan mensyukuri kebaikan 49:11 istrinya. Walaupun istrinya sudah mulai 49:14 pudar, kecantikannya, 49:16 sudah mulai Melayu, dia juga demikian. 49:19 Jadi, jangan karena merasa laki-laki ya. 49:22 Dia ingin berbuat semuanya. Tidak. Orang 49:24 yang mensyukuri kebaikan istrinya orang 49:26 mulia. 49:27 Begitu juga istri yang mensyukuri 49:29 kebaikannya adalah wanita-wanita 49:32 yang selalu mendapatkan selawat dari 49:34 para malaikat. Jadi mudah-mudahan 49:35 insyaallah 49:37 bermakna bagi kita semua. Hargai orang 49:39 yang dekat dengan kita. 49:42 Karena kalau dia pergi meninggal dunia 49:44 walaupun kita menaburkan sejuta bunga 49:46 tidak akan menghilangkan penyesalan di 49:47 hati kita. Jadi mudah-mudahan Allah 49:49 subhanahu wa taala limpahkan rahmatnya. 49:52 Amin. 49:52 Petunjuknya agar kita sadar apa yang 49:54 harus kita lakukan 49:56 dan selalu berbuat ihsan kepada sesama 49:58 kita. Amin ya rabbal alamin. 50:00 Pak Bakan mungkin penutupnya silakan. 50:03 Jadi ketika suami istri apa yang tadi 50:07 sudah dijelaskan sama Ustaz Husin 50:10 yang terbaik 50:12 ketika istrinya bekerja sang suami belum 50:16 bekerja atau sebagai ambil sana ambil 50:19 sini coba bergerak terus 50:23 h 50:24 ketika di rumah dia yang menyapu, dia 50:29 yang menyuci piring, 50:30 dia yang melakukan sesuatu. 50:33 He 50:35 di mana itu ada pekerjaan perempuan. 50:37 Tapi tidak. Ini adalah pekerjaan 50:40 membantunya, 50:41 kontribusi. Ya. 50:42 Jadi ada gerakan, ada sesuatu gerakan 50:46 bukan diam. Kalau diam itu akan menjadi 50:50 pening kepala istrinya. Tapi dia 50:53 bergerak. 50:54 Jadi istri juga bebannya berkurang 50:58 karena suaminya bergerak. bergerak 51:01 melakukan segala sesuatu sebelum pergi 51:03 pagi-pagi sudah mempersiapkan makanan. 51:07 Istrinya senang dia sedang waktu mau 51:09 pergi kerja sudah disiapkan oleh 51:12 suaminya. 51:13 He 51:14 itu yang terbaik. Jadi perhatikan 51:18 suami ketika dia tidak bekerja atau dia 51:22 mungkin pendapatannya sedikit. Sampaikan 51:25 saya cuma dapat segini untuk memberikan 51:28 orang tuanya atau memberikan adiknya. 51:31 Sampaikan katakan uang ini cuma dapatnya 51:35 segini. 51:36 Itu yang harus disampaikan. Kalau 51:40 disampaikan, insyaallah semuanya akan 51:43 menjadi baik. 51:44 Betul. 51:44 Insyaallah. Amin. Memang seharusnya 51:47 suami kalau di satu sisi sudah bilang 51:49 materi tidak punya kemampuan, 51:51 dia bisa katakan mengantar istrinya ke 51:54 pekerja, menjemputnya, membersihkan 51:56 rumah. Dan se lelaki yang saya ceritakan 51:58 tadi yang menikah 52:00 dengan wanita kedua itu mengurus rumah, 52:03 membersihkan rumah ya, 52:05 kemudian menemani istrinya. Artinya yang 52:09 tadinya tidak dirasakan oleh istri, 52:11 sekarang dia mendapatkan 52:12 penuh perhatian, Pak. Masyaallah. Jadi 52:15 apa yang kita enggak bisa lakukan Allah 52:17 maafkan. Tapi yang bisa kita lakukan 52:19 jangan kita berbalas paraas. 52:21 Seperti yang Ustaz Abu Bakar tadi 52:22 katakan. 52:23 Masyaallah. Jadi contoh tadi ya 52:24 pernikahan yang cukup ideal Ustaz ya. 52:27 Meskipun istri yang kedua. Masyaallah. 52:29 Baik Ustaz penutupnya Ustaz. 52:30 Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla 52:33 ilahailla anta astagfiruka wa atubu 52:35 ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi 52:38 wabarakatuh. 52:39 Waalaikumsalam warahmatullahi 52:40 wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih. 52:42 Jazakallah kirus yang atas dan ustaz abu 52:45 bakar baraja atas penjelasannya di 52:48 kesempatan ini dari kasus tadi yang 52:50 disampaikan. Dari perbincangan ini ada 52:52 satu hal yang mungkin patut kita ee 52:55 ingat bersama. Ujian ekonomi bukanlah 52:58 akhir dari keharmonisan keluarga ya, 53:01 melainkan ruang untuk mungkin menguji 53:04 kedewasaan ee cinta dan juga keikhlasan 53:07 ikhtiar kita. ketika nominal rekening 53:10 tidak seimbang, jangan biarkan juga rasa 53:12 hormat dan kasih sayang juga ikut 53:15 berkurang gitu. Insyaallah insyaallah 53:17 Allah menjaga keharmusan, sakinah, 53:19 ngadah dan keluarga kita. Amin. Amin ya 53:21 rabbal alamin. 53:22 Saya Rizal Hak bersama teman yang 53:24 bertugas ada Kang Budi Billahi taufik 53:27 walah. Wasalamualaikum warahmatullahi 53:29 wabarakatuh. Waalaikumsalam 53:30 warahmatullah.