Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:08 Brail TV. 0:16 Asalamualaikum warahmatullahi 0:18 wabarakatuh. Apa kabar Bang Ihsanuddin 0:20 Nursi? 0:22 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:24 wabarakatuh. 0:26 Iya kir alhamdulillah merdeka. Allahu 0:29 Akbar. Itu kan kalimat yang sering 0:31 disebut ya 81 tahun yang lalu. 0:35 [berdehem] Bang Ihsanuddin Nursi selalu 0:37 di hari kemerdekaan ini 18 Agustus orang 0:40 bertanya lagi ya, bagaimana panitia 9 0:45 yang menyebutkan piagam Jakarta itu kok 0:47 berubah pada 17 Agustus yang disampaikan 0:50 18 Agustusnya? BPU PKI mengarkan 0:54 demikian dan bagaimana proses di balik 0:57 itu semua? Pasti Bang Isanuddin Nursi 0:59 tahu tentang hal ini buat pendengar 1:02 nanti menyampaikan hal kisah di balik 1:04 itu. Tapi juga cerita di Timur Tengah 1:08 masih menjadi sebuah cerita yang 1:11 nampaknya menyangkut perekonomian dunia. 1:15 Ada fakta pertahanan Makkah, ada juga 1:17 fakta pertahanan Babel Mandep. Itu yang 1:20 berapa belas negara. Ini tiga negara. 1:23 Tapi apakah ini berpengaruh kepada 1:25 pergerakan? Dan tentu saja cerita dari 1:29 [berdehem] sosialisasi DPR tentang 1:31 Pancasila menjadi cerita lain. Dan ada 1:35 yang baru setelah Kiris Bank Indonesia 1:37 ini akan meresmikan Kartu Kredit 1:41 Indonesia KKI. Ini berbasis riba lagi 1:44 atau macam mana ini Bang Ihsanuddin 1:46 Nursi? Mungkin ada yang lain yang ingin 1:48 disampaikan sebuah cerita yang nampaknya 1:51 pendengar harus mendengar dari Bang 1:53 Ihsanuddin Nursi. kami persilakan 40 1:55 menit ke depan menemani Anda di berbagai 1:58 tempat muka bumi. Tafadol, Bang. 2:01 [mendengus] 2:01 Baik, kita mulai dulu dengan fakta 2:05 pertahanan Makkah dan fakta pertahanan. 2:08 Babel mantep. 2:11 Hm. 2:12 Ee 2:14 dalam 2:15 Makta Pertahanan Mekah minggu lalu kita 2:17 sudah bahas. Tapi kalau kita mau 2:18 mendalami lebih lanjut 2:20 Heeh. Ee 2:23 sebenarnya ini keberhasilan 2:26 tetap keberhasilan Washington dan Tel Af 2:28 memecah Islam. 2:30 Iya. 2:31 Jadi salah satu tema besar kalau saya 2:36 bilang bagaimana T Afis dan Ostet 2:43 ee harus memecah belah Islam. H 2:45 bayangkan kalau ee mereka tidak lagi 2:48 berpikir tentang fakta Makkah Sunni itu, 2:51 tapi menjadi fakta Makkah Islam. 2:54 Walaupun mereka menyebutnya sebagai ini 2:57 sebagai Makkah gitu, tapi mestinya kita 2:59 tidak dalam posisi tafarq. 3:02 Kita tidak dalam posisi terpecah-pecah 3:04 dengan menyebut Syiah dan Sunni. 3:06 He. 3:06 Karena bagaimanapun Al-Qur'annya sama, 3:08 Nabinya sama, Tuhannya sama gitu kan. 3:11 Betul. ee kalau ngambil begitu dan jika 3:15 betul-betul 3:16 bersatu tentu akan lain gitu. Tapi 3:19 karena masih tetap dalam posisi ee 3:23 menghargai satu kelompok lebih dari yang 3:25 kelompok yang lain maka ceritanya 3:27 menjadi gini. Nah, fakta Makkah. Fakta 3:30 Makkah sendiri seperti pembahasan kita 3:33 minggu lalu ee ini sebenarnya ee 3:38 merupakan juga pengakuan bahwa 3:41 ee 3:43 Washington tidak lagi mampu melindungi 3:46 Saudi. 3:47 H 3:48 itu itu sisi lain. Jadi Saudi sendiri 3:50 menganggap bahwa Washington sudah tidak 3:52 lagi mampu melindungi. Dengan begitu 3:55 sesungguhnya juga kelihatan ee pangkalan 3:59 militer di Saudi di RIAT atau di manapun 4:01 di kawasan Saudi itu sebenarnya tidak 4:03 tidak berperan banyak. Di tengah yang 4:05 namanya Saudi sudah belanja belanja 4:07 puluhan miliar 4:09 atas persenjataan dan bagaimana ee fakta 4:13 pertahanan bersama ee Amerika itu dengan 4:17 ada basis militer itu telah menghabiskan 4:19 biaya yang begitu besar untuk 4:21 pembangunannya. 4:23 Hm. 4:23 [mendengus] 4:24 Tapi karena disadari bahwa ternyata dia 4:25 tidak memberi manfaat atas Saudi, maka 4:27 terbangunlah fakta Makkah. Nah, fakta 4:30 Makkah itu sendiri menggambarkan 4:32 Pakistan sesungguhnya 4:35 diperhitungkan juga sebagai pemilik 4:36 nuklir. 4:38 Hm. 4:39 Karena ketika Pakistan dipertimbangkan 4:41 sebagai nuklir, sesungguhnya 4:44 fakta Makkah ini menunjukkan bahwa siapa 4:47 saja mengancam tiga negara ini karena 4:50 statusnya seperti fakta NATO, 4:52 maka nuklir akan bicara. Jadi ada 4:54 kekuatan nuklir lain gitu. 4:57 Nah, tapi ketika bicara nuklir maka 5:00 tidak ada satu negara di dunia yang 5:01 punya hulu doak nuklir paling banyak 5:03 kecuali Amerika. He. He. 5:06 Jadi eh eh posisi deter posisi deterans 5:10 he 5:11 itu itu menggambarkan tetap milik 5:13 Amerika, bukan milik Pakistan, Turki 5:16 atau 5:17 atau Saudi Arabia itu. Tapi tetap milik 5:19 Amerika dan itu panggung dunianya tetap 5:22 dimiliki dalam militer, dalam perspektif 5:24 militer tetap dimiliki oleh Amerika. 5:27 kecanggihan-kecanggihan 5:30 ee ee pangkalan udara terapung dengan 5:36 ee kapal induknya, dengan sejumlah 5:38 kekuatannya maupun kekuatan satelitnya. 5:41 Bahkan kemarin pernyataan Trump 5:42 jelas-jelas 5:44 kita adalah negara yang liding dalam 5:46 teknologi, yang memimpin teknologi dalam 5:48 berbagai hal. 5:50 Setelah yang namanya meminta meminta 5:53 sejumlah korporasi swasta memasuk 5:56 perudal itu dipercepat lebih 5:58 lebih dari ee kebiasaan. Nah, 6:01 [mendengus] 6:01 artinya sesungguhnya ketika dihadapkan 6:03 dengan papel mandep maka 6:07 lagi-lagi kita bisa lihat negara-negara 6:09 tuk memang tetap dalam posisi dipecah 6:11 belah. Karena andai kata negara-negara 6:13 teluk itu tidak dipecah belah, Israel 6:16 tidak berdaya. 6:18 Walaupun Israel punya nuklir. 6:20 Walaupun punya nuk, tapi Israel tidak 6:22 berdaya. Andai kata seluruh negara itu 6:24 bersatu. Jadi lagi-lagi ini ee 6:26 konfigurasi yang menyatakan bahwa TIF 6:29 dan Washington tetap berhasil memecah 6:31 belah Islam. 6:33 Kalau kita bilang ini adalah memecah 6:35 belah Islam, l lagi pertarungan bukan 6:37 pertarungan sekedar pertarungan militer 6:39 atau pertarungan energi atau pertarungan 6:41 digital, tapi pertarungan agama. 6:43 Ideologi. [berdehem] 6:45 Pertarungan ideologi. Kalau mau bilang 6:46 ideologi mesti rendah, pertarungan agama 6:48 sudah. 6:48 H 6:49 gitu 6:50 terbukti sudah kalau gambaran yang 6:52 begitu gitu. Nah, 6:53 sekarang persoalannya balik ke ke kita. 6:56 Bagaimana pertanyaan kita sebagai umat 6:58 yang terbaik? Bagaimana pertanyaan kita 6:59 sebagai umatan yang satu? Bagaimana 7:01 pertanyaannya? Bahwa kita menegakkan 7:04 qulallahu 7:05 hu ahad gitu. Itu jadi 7:09 ya jadi jangan jangan apa ya bahasanya 7:13 jangan kita mengucapkan tapi kemudian 7:14 kita tidak melakukannya gitu. [tertawa] 7:17 Itu yang 7:18 Iya. Iya. Dan dan nampaknya secara 7:20 diplomasi duta besar Iran di Indonesia 7:23 itu telah menyampaikan dari awal 7:24 pentingnya peran Indonesia yang kita ini 7:28 pernah menyadari atau tidak ya peran 7:30 kita dengan kunjungan menteri 7:32 pepperangan dan juga latihan perang kita 7:35 di Taiwan sana menjadi sebuah cerita 7:37 lain gitu Bang. Oke. [mendengus] 7:40 Nah, itu yang kemarin juga dinyatakan 7:41 oleh ee ee oleh Pak Duta Besar Pakistan 7:45 yang pikir apa peringatan ulang tahun di 7:47 Pakistan di Ron ituul. 7:49 Jadi mereka menganggap 7:50 ini ini juga sebuah fakta pertahanan 7:53 dalam rangka melindungi kepentingan. 7:54 Nah, justru 7:56 dari pernyataan dua dubes itu 7:58 menunjukkan bahwa ada persaingan 8:00 mendalam di antara negara-negara Islam 8:03 dari kondisinya negara masing-masing. 8:05 Jadi ee ikatan keislamannya, ukhuwah 8:09 Islamnya gitu ya, 8:10 ukhuah islamiahnya enggak ada di situ. 8:12 Kalau kalau ngambil begitu. Jadi kalau 8:15 kita ngambil lagi cerita bagaimana duta 8:17 besar, 8:18 masih duta besar masing-masing pihak 8:21 menyatakan seperti itu. 8:23 Iya. 8:24 Tidak ada jam wq enggak ada enggak ada 8:29 umah tuh enggak ada di situ. Enggak ada 8:32 itu istilah umatan wahidah. Nah di situ 8:34 ketemu rumusnya 8:36 bahwa kedekatan hati kedekatan hati satu 8:38 sama lain itu itu urusan aku. [tertawa] 8:42 Tapi tapi ketika dibilang urusan aku 8:44 sebenarnya tergantung sekali pada posisi 8:46 bagaimana keikhlasan kita. Ee bagaimana 8:49 keikhlasan kita, kemukhlasan kita gitu 8:51 ya. He 8:52 itu dalam menghadapi tantangan, ancaman, 8:54 dan gangguan itu. Gitu. Kalau kalau ah 8:57 di sini kalau saya melihat 8:59 dalam percaturan militer ke depan, 9:02 dalam percaturan digital ke depan, dalam 9:05 percaturan 9:06 keuangan ke depan ee Amerika masih tetap 9:10 di atas angin 9:11 dalam menghadapi negara-negara keluk. 9:14 Walaupun sudah cukup frustrasi ya 9:16 masalah Oman juga sampai diancam ini kan 9:20 ya enggak sampai akhirnya [tertawa] 9:23 sampai-sampai akhir urusannya J Kusner 9:25 ketemu Hamas pun enggak ada urusan 9:27 karena mereka 9:28 mereka masih tetap bisa masih bisa tetap 9:30 mendikt 9:31 tidak ada sejarah membuktikan bahwa 9:33 seorang Jet Kus adalah seorang 9:35 negosiator. Enggak ada itu tidak ada 9:37 pengalamannya di situ. Tidak. He, 9:39 bukan sekedar pengalaman deh, 9:41 tapi tidak ada dalam sejarah Amerika 9:43 yang menunjukkan seorang J. Kusner 9:45 adalah 9:46 orang yang cukup punya punya kapasitas 9:48 kompetensi, Pak. Kalau di media 9:50 penekan dia 9:51 media di media 9:52 Heeh. 9:53 media Amerika sendiri cukup ngeledek 9:55 soal gitu, cukup mengejek gitu kalau 9:57 soal itu. Jadi, pertarungan itu 10:00 lagi-lagi ketika minta PISA ke Indonesia 10:03 ya, pihak ke Indonesia mestinya bisa 10:04 mendamaikan cerita tentang bagaimana 10:05 Syiah dengan Suni. 10:07 Hm. 10:09 mestinya kehadiran kita mestinya begitu 10:11 kita ee kita bisa mendekat dengan 10:13 ya kita punya kedudutan besar Iran, kita 10:15 punya kedutaan besar semua negara itu 10:17 kita punya kecuali kedutan besar Israel 10:20 walaupun [berdehem] Israel tetap 10:22 bisa 10:22 walaupun Israel tetap beroperasi di 10:24 Indonesia gitu. [tertawa] 10:28 Hm. [mendengus] 10:29 Itu itulah realitas Indonesia. Nah, 10:31 begitu kita balik ke Indonesia, begitu 10:33 kita ngelihat, 10:34 di situlah sesungguhnya 10:36 kita gagal mengaplikasikan Pancasila 10:38 karena Pancasila itu 10:40 butir-butir universal. 10:42 Hm. 10:43 Nah, jangankan keluar untuk mengamalkan 10:45 butir-butir Pancasila, ke dalam aja kita 10:48 gagal. 10:50 Itu 10:50 itu gagal. Jadi kalau kalau saya 10:53 menggunakan saya menggunakan istilah gap 10:55 and gain gitu ya, 10:57 ada kesenjangan dan ada keuntungan gitu 10:59 ya. [berdehem] 11:00 Kita tahu bahwa Pancasila itu 11:01 butir-butirnya sedemikian rupa. 11:03 Ketuhanan yang maha esa gitu kan. Nah, 11:06 begitu masuk Ketuhanan Yang Maha Esa kan 11:09 tafsir 11:09 dengan kewajiban menjalankan syariat 11:12 bagi pemeluk Islam gitu ya, bagi 11:14 pemeluknya kan dicopot 11:15 gitu 11:16 dilepas. H. 11:17 Nah. Nah, itu menunjukkan bahwa 11:21 pertarungan antara kelompok Islam 11:23 yang beragama Islam dengan kelompok non 11:25 Islam. 11:26 Kalau pakai kajiannya kajiannya GS gitu 11:29 ya, 11:29 ada tiga kelompok lain yang dihadapi 11:31 oleh Islam termasuk di dalamnya kelompok 11:33 Freemason, kelompok 3G gitu ya. 11:35 Heeh. 11:37 Saya ngomongnya terbuka aja nih. Saya 11:39 ngomongnya terbuka aja nih. [tertawa] 11:41 Ada ya? 11:43 ada direpresentasikan itu gitu loh. 11:46 Walaupun mereka tidak walaupun mereka 11:48 bukan mereka tapi itu ada di situ gitu. 11:51 Nah, 11:51 he [mendengus] 11:52 di situlah mereka tidak ingin Islam 11:56 masuk ke dalam norma struktural. 11:58 Mereka cuma ingin melihat Islam silakan 12:01 dijalankan secara kultural. Itu kan 12:03 artinya 12:04 mayoritas Islam di Indonesia enggak ada 12:06 gunanya gitu. [tertawa] 12:08 Karena boleh dikerjakan secara kultural. 12:10 Sebentar. Kita tahu kalau dikerjakan 12:12 secara kultural itu perjuangannya luar 12:15 biasa dan bisa jadi antara norma 12:17 struktural dengan kulturalnya 12:18 bertentangan 12:20 enggak ketemu. Jadi, jadi ee baik cerita 12:24 tentang perumusan ee Ketuhanan Yang Maha 12:27 Esa. Ketuhanan 12:29 dengan kewajiban menjalankan syarat 12:31 syariat Islam bagi pemeluknya 12:33 dan di 12:34 dan kemudian dicopot menjadi sekedar 12:35 Ketuhanan Yang Maha Esa. Lalu kemudian 12:38 Presiden adalah orang Indonesia asli. 12:40 yang beragama Islam, yang beragama Islam 12:42 juga cepat, hilang begitu aja. Maka 12:44 sesungguhnya 12:45 ketika kembali lagi ke 12:47 dekret 5 Juli 59 dengan menyatakan bahwa 12:51 Undang-Undang Dasar 5 dijiwai oleh 12:53 piagam Jakarta gitu kan karena 12:55 deadlocknya perdebatan ideologi itu 12:57 menunjukkan 12:59 h 12:59 ini dalam ceramah saya di satu tempat 13:01 itu menunjukkan 13:02 pembukaan di pembukaan tidak hilang itu 13:03 piagam Jakartanya. 13:06 Hm. [mendengus] 13:07 ee itu menunjukkan bahwa Islam secara ee 13:11 secara politik itu kalah karena dia 13:14 tidak menjadi norma norma dasar. 13:16 H 13:17 dia hanya sekedar menjadi norma 13:19 kultural. 13:20 Nah, kekalahan politik ini berkelanjutan 13:22 sampai akhirnya Masumi membubarkan diri 13:25 sampai akhirnya hingga sekarang. Jadi 13:27 kalau ngelihat pertarungan besar, 13:29 melihat pertarungan besar di dalam 13:31 negeri dengan cerita Pancasila kayak 13:32 gitu gitu ya, sungguhnya Islam sudah 13:35 sudah kalah sejak yang namanya ee 13:38 perubahan 17 Agustus ke 18 Agustus itu 13:40 ketika kata-kata tujuh kata kunci itu 13:42 hilang dan makin hilang lagi ketika 13:45 masuk ke posisi ee Undang-Undang Dasar 13:47 50 makin hilang makin hilang lagi ketika 13:51 bicara 5 Juli 59 dan hingga sekarang. 13:53 Hm. 13:54 Hingga sekarang. Dan yang paling nyata 13:56 sekarang adalah di mana sekularisme 13:58 merajalela, sekularisme melembaga. Maka 14:01 ketika ada ketika kemarin juga kita 14:03 minggu lalu kita bicara kabinet bayangan 14:05 gitu ya, 14:06 saya bilang itu jauh panggang dari api 14:08 gitu. 14:09 Mereka terbukti bahwa mereka cuma mau 14:11 ganti rezim tapi tidak ingin memperbaiki 14:13 sistem yang rusak ini. 14:15 Jadi artinya ketika kita kembali ada 14:16 keinginan untuk mensosialisasi 14:18 Pancasila, wong wong penerapan 14:21 konstitusinya bertentangan dengan 14:22 Pancasila kok gimana sih? kan malah 14:24 membutuhkan jadi bangsa munafik. Jadi 14:26 [berdehem] 14:28 penafsiran iya penafsirannya salah ya 14:30 koperasi ditafsirkan macam K koperasi 14:33 merah putih macam gini kan. H 14:36 iya artinya kalau kalau kita mau ngambil 14:39 mau ngambil Pancasila dalam perspektif 14:42 Undang-Undang Dasar 45 antara batang 14:44 tubuh yang tidak cocok dengan kata 14:46 pembukaan itu kan bangsa munafik. 14:49 Terus Anda mempertahankan Pancasila apa? 14:51 Pancasila yang rujukan dengan rujukan 14:53 alinea 4. Tapi kemudian dibalik di balik 14:56 itu tidak ketemu dengan alinea 2 dan 14:58 alinea 3. 15:00 Gimana ceritanya alinea dua? Alin bicara 15:03 tentang Indonesia yang merdeka berdaulat 15:05 ahli dan makmur. Kita berdaulat 15:09 merdeka iya tapi tidak berdaulat. 15:11 Gimana? [tertawa] 15:13 Adil enggak? Enggak juga. Magmur. 15:15 Enggak. Enggak juga. Itu divisinya. di 15:17 misinya kita bisa lihat terjadia 15:20 perlindungan terhadap segenap tumpah 15:22 darah bangsa. Ada enggak memajukan 15:24 kesejahteraan umum? 15:26 Ada enggak memajukan ee meningkatkan 15:28 kesejahteraan dan meningkatkan 15:30 kecerdasan kehidupan berbangsa gitu? 15:32 Enggak juga. berantakan kita di Jadi 15:35 artinya ketika bicara tentang Pancasila 15:38 itu dan kemudian riwayatnya seperti apa, 15:41 nah di sini kita masuk. 15:42 Hm 15:44 ketika dideklarasikan 15:46 17 Agustus 45 sebagai kemerdekaan 15:51 H 15:52 kami bangsa Indonesia pengalihan 15:54 kekuasaan secara seksama 15:57 bertanda gitu kan. 15:59 Iya. 15:59 Soekarno dan Hata. Lalu katanya ada 16:03 kelompok Indonesia Timur yang tidak 16:04 ingin bergabung kalau rumusannya begitu 16:07 katanya. 16:08 Maka ada kata-kata 16:09 katanya dan itu tidak terbukti. 16:11 H 16:12 tidak sulit sekali dibuktikan gitu. 16:14 Walaupun ada juga isu beredar 16:16 sesungguhnya IJ Kasimo Katolik itu tidak 16:18 memasalahkan tujuh kata kunci itu gitu. 16:21 Hm. H 16:22 itu. Nah, artinya kalau kita mengambil 16:25 perspektif perubahan ke situ, maka pada 16:28 tanggal 18 Agustus ketika diresmikan 16:30 sebagai Undang-Undang Das 45 dengan 16:34 [berdehem] 16:35 dengan menghilangkan 16:38 kewajiban menjalankan syariat Islam bagi 16:40 pemeluknya dan menghilangkan presiden 16:42 adalah orang Indonesia. Hilang yang 16:44 beragama Islam. Hilang yang beragam 16:46 Islamnya. Maka di situ kelihatan 16:49 kemenangannya kemenangan pihak-pihak 16:52 tertentu. Di situ berjalanlah 16:54 prinsip-prinsip sekular. Sudah. 16:56 H. 16:57 Jadi boleh ada ketuhanan yang maha esa. 16:59 Karena ketuhanan maha esa tergantung 17:00 sekali pada interpretasi masing-masing. 17:02 Nah, saya ketika masuk ke dalam perspek 17:05 itu 17:05 saya menyebut jadi di era di era 17:09 reformasi selalu ada penolakan 17:13 kalimat ini bukan negara agama gitu kan. 17:15 Iya. ini bukan negara agama. Itu tahu 17:17 ada kalimat-kalimat kayak gitu. Gitu 17:19 saya bilang betul memang bukan negara 17:21 agama 17:22 tetapi negara beragama. Artinya karena 17:25 Anda tetap mencantumkan Ketuhanan Yang 17:27 Maha Esa di sila pertama Anda tetap 17:30 mengakui di batang tubuh negara 17:32 berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 17:34 Pasal 29 ayat 1. 17:36 Maka sesungguhnya negara ini negara 17:37 beragama. Jadi kalau kemudian Anda malah 17:40 memainkan posisi posisi kehidupan 17:43 sekuler, maka negara ini menjadi negara 17:45 tidak beragama. 17:47 He. 17:47 Karena Anda cuma meninggikan 17:48 materialisme. 17:50 Hm. 17:51 Anda cuma menjunjung tinggi, 17:52 memperjuangkan, menegakkan sistem 17:54 materialisme itu habis-habisan. Maka 17:56 Anda telah eh kalau pakai bahasa 17:58 halusnya membelakangi Pancasila, 18:01 membelakangi konstitusi. Kalau saya 18:02 bukan lagi ngebelakangin, mengkhianati. 18:05 Sudah. 18:06 Hmm. Iya. Luar biasa. 18:10 Kalau secara konstitusional kita sudah 18:11 mengkhianati, maka jangan heran seperti 18:14 yang saya bilang, kita akan 18:15 terus-menerus mengalami krisis 18:16 multidimensi. 18:18 Ada social distust, ketidakpercayaan 18:20 kehidupan satu sama lain. Ada social 18:23 disorder, kehidupan aburad seperti buku 18:26 saya gitu ya. 18:27 Ada kemudian social disobedient, 18:29 pembangkangan-pembangkan sosial. Maka 18:31 enggak usah heran kalau di 81 tahun ini 18:34 ada bendera yang dikibarkan 18:38 di Aceh sana 18:40 dari ujung ke ujung gitu loh. 18:42 Dan kesultanan hal-hal Mehara juga 18:44 tinggal menunggu aja kalau itu kejadian 18:46 gitu kan. Belum lagi yang lainnya 18:48 begitu. [mendengus] 18:49 H 18:50 artinya 18:51 ee kita memang dalam krisis 18:52 multidimensi. Nah, pada konstruksi kayak 18:54 gini muncul pertanyaannya adalah peran 18:57 kepemimpinan nasional. peran pemimpin 19:00 nasionalnya. Jadi bukan sekedar 19:02 kepemimpinan nasional saja, tapi juga 19:05 peran pemimpin nasional. Nah, ketika 19:07 masuk ke dalam posisi peran pemimpin 19:09 nasional, di situ muncul alinea tiga, 19:12 berkat rahmat Allah yang maha kuasa 19:16 dan didorongkan oleh keinginan. 19:19 Kekuasaan Anda itu bukan kekuasaan 19:20 karena Anda menang pemilu. 19:22 Hm. 19:24 Kekuasaan Anda itu kekuasaan karena 19:25 Allah mengizinkan. Nah, posisi Allah 19:27 mengizinkan Anda berkuasa itu ada makna 19:29 ganda. 19:30 Makna pertama memang Allah menyetujui 19:32 Anda berkuasa gitu ya. 19:33 Kedua, 19:34 secara benar. Yang kedua, Anda akan 19:36 dibuktikan bahwa apakah Anda memang 19:38 menipu atau tidak menipu dengan 19:39 kekuasaan itu. 19:41 Jadi macam istidrod gitu ya, Bang? 19:45 Iya, betul. Betul. Macam istidrod. Jadi 19:48 maknanya ganda. harus kita lihat di 19:50 situ. Di situ kita mau ngebuktikan 19:51 seperti apa 19:52 karena ciri-ciri seorang pemimpin yang 19:54 Rasulullah sampaikan kan sederhana 19:56 sebagaimana sebuah negeri yang sedang 19:58 mencontohkan di ujung sana bukan begitu? 20:01 [berdehem] 20:02 Ee orang kemudian menoleh soal Iran. 20:05 Iran hebat negara kecil yang PDB-nya 20:07 tidak berarti tapi bisa mempertahankan 20:10 bisa menunjukkan ke panggung dunia 20:12 harkat martabatnya. Loh, sistem 20:14 Indonesia lebih hebat dari itu kalau 20:16 sesungguhnya sistem yang kecil yang Anda 20:17 terapkan. H. 20:18 Tapi karena sistem yang Anda terekam itu 20:20 sistem yang mengkhianati, maka Anda jadi 20:22 seperti sekarang. Itu yang harus 20:24 dipahami apa itu? 20:26 Kalau di Iran sana itu para ulamanya 20:29 yang menentukan pemimpinnya. Kalau 20:31 sistem Indonesia, ulama bekerja sama 20:34 dengan berbagai kalangan yang tetap 20:36 bersikap beragama. Ulang ulang ulang. 20:39 Kalimat pentingnya di sini. H 20:41 ulama bersama dengan berbagai kalangan 20:43 yang tetap beragama itu menentukan 20:46 siapa pemimpin. Itulah peranan MPR. 20:50 Karena kalimatnya adalah DPR. 20:53 MPR adalah terdiri dari ya DPR, utusan 20:56 daerah, dan utusan golongan. Itu artinya 20:59 ada ulama, ada kalangan-kalangan lain 21:01 yang beragama, ada kalangan politik yang 21:03 juga beragama. Jadi sikap beragama itu 21:06 yang muncul dalam PMPR sehingga negara 21:09 ini tidak menjadi negara sekuler. Begitu 21:11 sesungguhnya jiwanya kalau mau diambil 21:14 gitu. Itu lebih hebat dari Iran. Tapi 21:17 diamputasi. 21:18 Hm. 21:19 Diamputasi habis-habisan. Diturunkan 21:21 derajatnya. 21:25 Keren sebenarnya negeri ini kalau sesuai 21:27 dengan tapi kan kalimat konstitusi ini 21:29 selalu menjadi jargon sesuai dengan 21:31 konstitusi selalu begitu Bang. Macam 21:34 mana, Bang? 21:35 Iya. Nah. 21:36 Nah. Ketika dibilang sesuai konstitusi 21:37 muncul pertanyaan Ihsanuddin Nursi. 21:40 Konstitusi mana yang Anda berlakukan 21:42 gitu? Karena [berdehem] 21:44 theure theure hari ini berlaku dua 21:47 konstitusi. 21:48 He 21:48 konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 21:52 yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945 21:56 dikukuhkan oleh dekret presiden 5 Juli 21:59 59 atau konstitusi yang ditetapkan pada 22:03 10 Agustus 2002 yang menyatakan dirinya 22:06 sama dengan Undang-Undang 45. 22:08 Hm. 22:09 ulang yang menyatakan dia sebagai 22:11 Undang-Undang Dasar sama dengan Undang 22:13 45 yang asli yang mana coba 22:15 gitu 22:17 pusing kan? Nah, jawabnya jawabnya 22:19 adalah karena mereka ingin memanipulasi 22:22 Undang-Undang Dasar 45 itu, maka mereka 22:25 bilang Undang-Undang Dasar yang sudah 22:27 diamandemen empat kali itu adalah sama 22:29 dengan Undang-Undang Dasar 45 yang asli 22:31 padahal berbeda. He. 22:33 Nah, dari sana muncul kajian saya 22:36 berlaku berarti di negeri ini berlaku 22:38 dua konstitusi, theure 22:41 H 22:41 berlaku dua konstitusi. 22:43 Yurnya adalah berlakunya Undang-Undang 22:45 Dasar 45 asli dan Undang-Undang Dasar 10 22:48 Agustus 2002. 22:50 Hm. 22:50 The facto yang berlaku adalah 2002 22:54 gitu. 22:54 Nah, karena berlaku yang 2002 itu 22:56 bertentangan dengan Pancasila, 22:58 bertentangan dengan kata pembukaan, maka 23:00 jadilah ini negeri amburadul. 23:03 Tiba tiba masa datang akal katanya gitu 23:06 ya. [tertawa] 23:07 Tapi hari ini, Bang, hari ini nih lagi 23:11 ya Agustus kan banyak isu. Tapi Badan 23:14 Eksekutif Mahasiswa nih lagi pada 23:16 nyiapin lontong dan lain-lain. Ini buat 23:18 demo bakda zuhur nanti. 15 BEM fakultas 23:23 juga 25 lembaga di luar UI yang bersedia 23:27 untuk e turun ke jalan. Ribuan. Apa yang 23:31 terjadi ee dengan keadaan yang sekarang? 23:34 sedemikian represifkah atau harus tetap 23:37 ada yang berbicara nahi mungkar. Sebuah 23:41 ee apa? Kalimat yang gampang diucapkan 23:44 tapi gak gampang dilakukan. [berdehem] 23:48 Yang pertama secara konstitusional 23:51 mungkin keputusan MK 23:53 tentang Gibran Raka bumi benar. 23:55 Kemungkinan benar 23:57 secara 23:59 Pak perhatikan dulu logikanya. 24:01 He tak coba dengar. bahwa keputusan MK 24:04 tentang GB sebagai Cawapres yang 24:07 sekarang Waapres mungkin benar secara 24:10 konstitusional. Tapi pertanyaannya 24:12 apakah keputusan MK tentang yang 24:15 konstitutif itu itu rujuk dengan juridis 24:18 filosofisnya dengan rujuk dengan juridis 24:20 sosiologisnya? 24:21 He 24:23 ulang-ulang ya. Pertanyaan pertanyaan 24:24 akademik nih. Pertanyaan akademik. 24:26 Heeh. 24:27 Mungkin gitu ya, saya bilang tadi 24:30 mungkin keputusan MK yang membenarkan 24:33 Gibran Raka bumi sebagai Capres yang 24:35 sekarang mungkin secara konstitusional 24:38 benar walaupun basis konstitusinya sudah 24:41 konstitusi amburadul ya. 24:43 Oke ya. 24:45 H 24:45 oke ya benar. 24:47 Tetapi pertanyaan berikutnya, 24:50 apakah keputus yang konstitusional itu 24:54 rujuk ke dalam yuridis sosiologis dan 24:56 yuridis filosofis? 24:58 Hm. 24:59 Enggak ada yang bisa jawab. Itu yang 25:01 saya bilang kemarin. Jadi kalau ada 25:03 orang kalau Jimli Asidqi bilang jangan 25:05 mempersoalkan ijazahnya Gibran dalam 25:08 acara kemarin di di hari Minggu kemarin 25:11 di peluncuran buku memandu revolusi dan 25:14 meluruskan Indonesia gitu ya. Jimle 25:16 menyatakan, "Jangan persoalkan ijazahnya 25:18 Gibran itu karena dia tidak mau 25:20 dipersoalkan keputusan dia." MKMK 90. 25:23 He 25:24 yang jelas-jelas dia senjang. Nah, di 25:26 sini kalimatnya dia senjang. Dia punya 25:29 ada kesenjangan dengan yuridis 25:30 sosiologis, yuridis filosofis. 25:34 Sampai orang bilang, "Bagaimana orang 25:36 yang seperti itu bisa menjadi cawapres? 25:39 Bagaimana orang yang bisa kayak itu bisa 25:40 menjadi wapres?" 25:42 logika-logika yang juris, sosiologis, 25:44 juris, filosofis itu kan enggak bisa 25:46 dijawab dengan sederhana. Dalam bahasa 25:48 yang lain, kesenjangan fakta-fakta yang 25:50 ada di masyarakat, kesenjangan 25:52 nilai-nilai yang ada di masyarakat, 25:54 aspirasi masyarakat secara umum 25:56 sesungguhnya bertentangan dengan 25:58 keputusan MK. Itu yang saya sebut 26:01 sebagai gap. Gap-nya di situ melahirkan 26:04 gain bagi mereka. 26:07 Nah, di situ pertarungan politik 26:09 besarnya. Jadi ada pertarungan besar e 26:12 politik yang sejak katakan sejak lama 26:16 sejak 1926 26:18 H 26:18 lalu kemudian muncul ke 1948 lalu muncul 26:22 ke 196566 26:23 lalu muncul ke sekarang itu enggak 26:25 pernah selesai. 26:26 Hm. 26:27 Begitu juga dengan kelompok nasionalis 26:29 pragmatis, nasionalis liberal gitu ya 26:31 yang tahu begitu. Begitu juga dengan 26:33 kelompok agama lain. Seolah-olah ah di 26:36 sini muncul tadi yang saya bilang ini 26:37 adalah bukti betapa pengaruh Freemason, 26:40 betapa pengaruh 3G itu kokoh. 26:45 Kekokohan pengaruh Freemason, kekokohan 26:47 pengaruh 3G itu masuk dalam kurikulum 26:50 Indonesia, kurikulum pendidikan 26:52 Indonesia, kurikulum politik Indonesia, 26:54 kurikulum ekonomi Indonesia. 26:57 Hmm. Ini ini primensi 26:59 dalam bahasa lain sesungguhnya 27:00 lanjut dong. Dalam bahasa lain, 27:02 sesungguhnya ini ee umat Islam di 27:05 Indonesia 27:07 itu dalam posisi terpojok, 27:09 maka jadi buih dia. 27:12 H 27:13 jadi buih dia. Dan tidak ada satu tokoh 27:15 tokoh yang wah Anda kalau memang mau 27:17 kembali ke undang-perim silakan saja. 27:19 Kami juga suka ee gedung DPR MPR 27:21 diduduki. Loh bukan itu artinya. Berarti 27:24 Anda lebih setuju perubahan itu dengan 27:26 kekerasan, dengan revolusi. 27:27 Heeh. 27:28 Itu bukan kalimat pemimpin. 27:30 Hm. He 27:32 itu kalimat menikmati jabatan. 27:35 [berdehem] 27:35 Ulang ya. E saya ngomongnya ngomongnya 27:37 agak tegas. Ngomongnya agak 27:39 walaupun terasa tegas. H 27:41 maaf [tertawa] ya. 27:42 Ketika Anda mengatakan silakan saja 27:44 duduk MPR DPR 27:46 kalau ingin memang kembali ke Undang 45 27:49 gitu kan. 27:50 Karena dicari yang paling yang paling 27:52 efektif lah gitu. Kalau pakai konstitusi 27:54 panjang nih ceritanya gitu. 27:56 Iya. 27:57 Iya. posisinya adalah ketika mereka 27:59 bilang silakan duduki MPR kami juga 28:01 senang begitu ya itu menunjukkan bahwa 28:03 kalian itu penikmat kekuasaan bukan 28:05 pejuang tegaknya kebenaran 28:07 karena ujung-ujungnya dia lagi dia lagi. 28:09 [berdehem] 28:11 Hm. 28:12 Enggak enggak enggak. Filosofinya bukan 28:13 soal dialogi-dial lagi tapi filosofinya 28:15 adalah Anda cuma sekedar penikmat 28:16 kekuasaan Anda bukan pejuang tegaknya 28:19 kebenaran dalam kekuasaan. 28:21 Anda tidak dalam posisi 28:22 inansahumitamakum. 28:25 Anda tidak dalam posisi memperjuangkan 28:27 kebaikan dan kebenaran. Anda cuma 28:29 sekedar menikmati atas kekuasaan 28:31 kebenaran yang palsu itu. Itu kalimat 28:33 pentingnya. 28:35 Itu yang terjadi di negeri ini. Betapa 28:37 banyak penikmat kekuasaan di atas 28:39 tegaknya Undang-Undang Dasar Palsu itu 28:42 gitu. 28:43 Itu kondisi kondisi parahnya sampai 28:45 akhirnya kondisi seperti sekarang 28:47 sehingga muncul yang namanya demo 28:49 macam-macam. H 28:50 mereka mereka cuma merasakan akibat, 28:54 tapi mereka tidak pernah mau mengukur, 28:57 mengulir, mengurut, 29:00 mentrisback. Kenapa keadaan ini seperti 29:03 sekarang? Keadaannya sekarang karena 29:05 tadi ada pengkhianatan terhadap 29:08 konstitusi, ada pengkhianatan terhadap 29:10 semangat kejuangan republik, ada 29:12 pengkhianatan terhadap keinginan 29:14 tegaknya harkat martabat bangsa. Kalau 29:17 berdasarkan pada Undang-Undang 45 yang 29:18 asli di tengah pengakuan asli itu 29:21 dianggap sebagai sama dengan yang 29:22 amandemen gitu loh. 29:24 Itu ngelihatnya. 29:26 Hah? [menghela napas] 29:27 Iya. Ya, akhirnya alam yang akan bicara 29:31 ya. Karena kan pengkhianatan bukan hanya 29:33 di Indonesia, di berbagai tempat ini 29:36 sering dijawab oleh alam. Ini Gunung 29:38 Krakatau saja sudah batuk-batuk. Gempa 29:41 kemarin sudah di mana-mana. Tapi ada 29:43 orang bilang, "Ah, itu natural. memang 29:45 sudah saatnya macam mana, Bang, 29:47 sebenarnya pengingatan ini, Bang? 29:49 Loh, itu ketikat kalimat natural itu 29:52 menunjukkan bahwa gitu ya, 29:55 dia 29:56 ee tidak mampu melihat relasi betapa 29:59 gerak manusia itu mempengaruhi alam. 30:02 Alam itu bereaksi. 30:04 Dia tidak paham, 30:05 dia tidak paham bagaimana setiap gerak 30:08 manusia, setiap perilaku manusia itu 30:10 mempengaruhi, apalagi pemimpin itu 30:12 mempengaruhi. Saya akan ngambil contoh 30:14 begini. He. 30:14 Kalau Anda tidak percaya bahwa alam ikut 30:17 berpengaruh ke atas gerakan Anda, 30:19 ambil jarak tertentu. 30:21 Tisu Anda gantungin, terus Anda tisu 30:24 Anda pegang, Anda gantung. 30:25 Heeh. 30:25 Tangan Anda bergerak seperti mengipas 30:27 dengan jarak tertentu. 30:29 Itu tisu bergerak enggak? 30:30 Geraklah. 30:31 Bergerak. 30:32 Bergeraklah. Artinya setiap gerakan Anda 30:35 gitu ya, setiap ucapan Anda itu 30:38 mempengaruhi Allah. Nah, ketika gerakan 30:40 Anda, ucapan Anda, pikiran Anda serba 30:43 negatif, maka alam akan mencari 30:46 keseimbangan baru. 30:47 Nah, keseimbangan itu adalah hukum 30:49 Allah. 30:50 Mizan. 30:51 Siapa saja yang merusak keseimbangan 30:53 yang aku ciptakan, dia akan merasakan 30:55 akibatnya. Oh, gitu melihatnya. Siapa 30:59 saja yang merusak keseimbangan, dia akan 31:00 merasakan akibatnya. Jadi peristiwa 31:02 gempa di NTT gitu ya, Rokat yang sudah 31:05 batuk-batuk gitu ceritanya atau kemudian 31:08 kita tahu terjadi pak beberapa tahun 31:11 lalu di di di 31:15 kemudian pernah terjadi juga di NTB gitu 31:17 ya. 31:17 Itu nunjukin bahwa sesungguhnya 31:20 bangsa ini dalam gerak yang setelah 31:23 mengganggu kerusakan keseimbangan 31:26 dan dia pasti akan 31:28 memakan kurban gitu pasti. Apakah korban 31:31 jiwa, apakah korban harta, itu itu soal 31:33 nomor dua. Tapi keseimbangan itu akan 31:35 terus muncul kayak gitu gitu melihatnya. 31:37 Nah, jadi kalau kita ngambil sekarang 31:40 situasi sekarang seperti sekarang itu 31:42 karena memang kita sudah mengalami 31:43 krisis multidimensi. 31:45 Kris krisis multidimensi yang saya 31:48 bilang tadi sebagai diindikasikan oleh 31:50 tiga hal. political, social, economical 31:53 distrust, political, economical, social 31:56 disobedient, political, economical, 31:59 social disorder dan disobedient. Dia 32:02 menyatakan menggambarkan 32:05 ada problem moralitas di bangsa ini. 32:08 Itu ngelihat sama seperti di panggung 32:10 internasional, ada problem moralitas di 32:12 panggung internasional walaupun sudah 32:15 berjalan berabad-abad 32:17 gitu, tapi paling tidak itulah itulah 32:19 perguliran waktu. 32:21 Nah, sesuai dengan buku saya nih, 32:24 kita belum merdeka. Selamat datang di 32:26 negeri amburadus gitu kan. E bangsa 32:29 terbelah, prahara bangsa. 32:31 Tidak ada rasa apa-apa kecuali saya 32:33 ingin mengatakan, "Yuk kita waspada, yuk 32:36 kita antisipasi." 32:38 Ee gitu ngelihatnya bagaimana 32:40 merekonstruksinya. 32:41 Udah saya bilang kalau ingin 32:43 merekonstruksinya 32:44 kan sudah kemarin saya ngomong lagi saya 32:47 enggak minta Pak dari Anda ini loh 32:49 rekonstruksinya begini loh cara 32:50 berpikirnya bahkan bagaimana pasal 33 32:54 tentang koperasi itu aja saya sudah 32:56 rumuskan dengan sebisa yang saya lakukan 32:58 tidak dalam paham 32:59 tidak dalam paham kiri tidak dalam paham 33:01 kanan tapi dalam paham Indonesia gitu 33:04 loh [tertawa] 33:05 masyaallah sebenarnya 7 tahun yang lalu 33:09 Anda kan sempat bersentuhan sama Mereka 33:11 dengar kata tapi nampaknya berat. Ada 33:14 ada bumper ya. Ada sepertinya ada ada 33:18 cerita di balik cerita. Sikitlah kasih 33:20 bocor sedikit Bang. Apa sebenarnya? 33:23 [tertawa] 33:24 Masyaallah. 33:26 Yang pasti 33:28 saya tidak bisa berceramah dengan yang 33:30 namanya 33:31 ee kelompok-kelompok yang memusuhi 33:33 Tuhan, memusuhi Allah. 33:34 Oh, itu [berdehem] 33:37 poinnya itu. 33:38 Saya tidak bisa bercengkerama. Saya 33:40 tidak bisa duduk bareng, saya tidak bisa 33:43 tidak bisa bekerja sama tepatnya. 33:46 Atau bahkan mungkin mereka merasa 33:49 saya adalah orang yang berbahaya atau 33:50 orang yang sangat tidak disukai karena 33:52 berarti saya memusuhi sikap-sikap 33:54 berpikir mereka. Bisa jadi begitu 33:57 Ihsanuddin Noisi itu benar jadiah di 33:59 kalangan sebagian [tertawa] 34:02 masyaallah 34:04 sebagian itu sebagian sebagian para 34:06 penguasa bukan sebagian orang biasa. Oh 34:07 iya iya. [tertawa] 34:09 Masyaallah. 3 menit menuju 40 menit. Apa 34:14 yang ingin disampaikan oleh Bak 34:15 Ihsanuddin Nursih di 81 tahun? 34:18 Kemerdekaan yang nampaknya kita cukup 34:22 meriah ini walaupun ee penjual bendera 34:24 menurun sekarang, Bang. Katanya turun 34:26 kata sampai 75%. Apakah ini karena 34:29 ekonomi atau nasionalisme yang meluntur 34:31 di antara anak bangsa ini? 34:35 Kalau National meluntur sudah sejak 34:37 tahun 283 saya menyatakannya ke hadapan 34:41 seorang 34:42 waktu itu statusnya menteri muda 34:44 gitu ya yang kemudian menjadi menteri 34:46 berturut dan kemudian salah seorang di 34:49 ee yang kemudian salah satu yang ee 34:53 tidak mendukung Soeharto di rapat mereka 34:55 di Mei '98 34:57 ee itu sudah saya nyatakan ke dia 34:58 demikian dalamnya pada tahun jadi 35:00 artinya ketika 40 sekian tahun saya 35:03 sudah menyatakan bahwa terjadi krisis 35:05 patriolitisme, krisis idealisme, krisis 35:08 nasionalisme. Tahun 2 3 itu, 35:10 H 35:11 saya ngomong itu pertanyaan saya sama 35:12 dia. Waktu itu saya wartawan. He. 35:15 [tertawa] 35:15 Waktu itu saya wartawan. 35:17 [mendengus] 35:17 Jadi saya bilang ini kok saya lihat ada 35:19 krisis nasionalisme, saya ada krisis 35:21 idealisme saya bilang dan ada krisis 35:23 patriotisme yang muncul semuanya serba 35:25 uang, serba uang, serba uang. Saya sudah 35:27 mencium kayak gitu. Semuanya serba 35:29 transaksional, material istilah sayaitu. 35:32 Kemudian dia mengakui pada tahun 94 dan 35:35 orang baru merasakannya ketika 35:37 reformasi. 35:38 H. 35:38 Nah, dari situlah sesungguhnya gambaran 35:42 betapa bangsa ini sudah ee menghadapi 35:46 perlembagaan, kelembagaan, penjiwaan 35:49 atas sekularisme. 35:51 Hm. 35:52 Nah, kalau begitu ceritanya, maka 35:55 untuk menghadapi situasi sekularisme itu 35:58 gitu ya, kembalikan bangsa ini pada 36:00 relnya. Bukan surut, bukan surut ke 36:03 belakang, bukan mengembalikan pemikiran. 36:06 Memang mengembalikan pemikiran surut. Ee 36:09 kalau Anda sudah tersesat di dalam jalan 36:11 berpikir, Anda tersesat di jalan 36:13 berpikir 36:14 kan Anda mesti mengembalikan. Sama 36:16 seperti Anda misalnya melakukan 36:18 kesalahan gitu ya, Anda bertaubat itu 36:20 kan berarti Anda mengembalikan. Apa 36:21 salahnya? 36:23 Apa kenapa Anda mesti bilang kalau kita 36:25 kembali ke undang 45 maka kita sur ke 36:27 belakang? Itu pikiran materialisme. 36:29 Paham itu kalimat? Jadi mereka yang 36:31 menyatakan kembali ke5 materialisme dan 36:34 itu memberlakukan autoritarian rezime 36:36 seperti era Soeharto itu menggambarkan 36:38 betapa dia tidak mengerti metodologi 36:40 berpikir dan konfigurasi ilmu. 36:43 Siapapun dia termasuk Amin Rais misalnya 36:46 sekalipun dia kayak gitu berpikirnya. 36:48 Oh kita surut ke belakang kalau kita 36:50 kembali ke 45 itu pikiran materialisme. 36:53 Karena mikir mundur ke belakang itu 36:54 fisiknya. 36:56 Dalam pemikiran itu tidak ada. Tidak ada 36:58 yang namanya mundur ke belakang itu 36:59 surut. Enggak ada. 37:01 Saya ingat ada ulama yang mengatakan, 37:03 "Ustadz, jangan ngelihat kaca spion mulu 37:05 dong." Loh, Quran kan adanya di belakang 37:07 terus kita sejarah ya susah jadi begitu, 37:10 Bang, ya. 37:12 Nah, [mendengus] kalau Anda dibilang e 37:13 dibilang jangan melihat kata Aion dulu 37:15 itu artinya Anda tidak pandai menjaga 37:18 sudut pandang, refleksi, posisi, dan 37:21 proyeksi. 37:22 Hmm. 37:24 Kalau ada orang yang menyatakan begitu, 37:26 itu artinya dia tidak mampu berpikir 37:29 refleksi. posisi dan proyeksi. 37:31 H 37:31 Al-Qur'an menggambarkan tiga-tiganya 37:34 kemarin, hari ini, dan yang akan datang. 37:36 H 37:37 Alquran menyatakan mereka belajar dari 37:39 nenek moyang tapi itu salah dibenarkan. 37:41 Luruskan maka keluarlah iqra bismiak. 37:45 Itulah diluruskan karena kesalahan 37:48 diposisikan. Maka tegaklah laul w quata 37:52 illa billah. Maka tegaklah lausrik 37:54 billah amillah. itu posisi proyeksinya 37:57 adalah pilihan bagi Anda. Anda mau 38:00 menjalankan la tusrik billah amantu 38:02 billah Anda atau tetapnya namanya amant 38:04 togut. 38:05 Hm. 38:07 Masyaallah. 38:07 Pilihan di Anda. Jadi kalau ada orang 38:10 yang ngomong kayak gitu itu enggak 38:11 ngerti metodologi berpikir namanya. 38:13 Metodologi berpikirnya sorry to say 38:15 harus saya sampaikan di rasil tegas 38:17 kampungan, ketinggalan zaman. 38:20 [tertawa] 38:20 Jadi jangan ngomong sembarangan kalau 38:22 enggak ngerti metodologi. Sampaikan ke 38:25 ustaz yang kayak gitu. [tertawa] 38:27 Benar 38:29 benar ini saya ngomong benar ini. 38:31 Ajarkan saya pada pada [tertawa] 38:34 metodologi berpikir Al-Qur'an. 38:36 Benar. Serius kok saya ngomong kayak 38:38 gini. 38:38 Undang saya ke mana pun mari kita 38:40 berdiskusi, bertukar pikiran. Saya siap 38:42 untuk itu. 38:42 Masyaallah. 38:43 Gitu loh. [tertawa] 38:45 Luar biasa. 38:47 Ini ini maafkan saya ya. saya kalau saya 38:49 terasa kelihatan tegas dan keras. Karena 38:52 saya memang banyak menyalkan kaum ulama, 38:54 kaum ustaz yang tidak mampu berpikir 38:56 bagaimana refleksi, 38:58 bagaimana posisi, bagaimana proyeksi. 39:01 Padahal itu diajarkan dalam metodologi 39:03 Al-Qur'an itu diajarkan gitu loh. 39:07 Saya kira begitu. Saya mohon maaf kalau 39:09 terasa 39:10 terasa agak keras gitu ya, terasa agak 39:13 kencang gitu ya. He. 39:14 Karena saya memang dalam berkali-kali 39:16 saya bilang 39:18 subhanallah astagfirullah. 39:20 Saya dalam posisi kerisauan yang amat 39:24 dan saya tidak tahu saya mesti berbagi 39:25 ke siapa kerisauan saya yang amat sangat 39:27 ini gitu ya. Kecuali tiap tiap tiap 39:29 Selasa saya menyampaikan ini [tertawa] 39:31 ke radio silaturahim. 39:32 Enggak tahu kenapa ya, mungkin karena 39:34 tanggal lahir Bang Iksanuddin Nursi sama 39:36 ya sama ulang tahunnya radio silaturahim 39:39 tanggal 9 [tertawa] 39:40 September mendatang. Insyaallah ya. 39:42 Mudah-mudahan kita undang nanti, Bang 39:45 ya. 39:46 Oh, terima kasih, Bang. Ee hari ini 39:48 cukup mencerahkan. Mudah-mudahan Allah 39:50 memberikan keberkahan dari ikhtiar kita, 39:53 amar makruf nahi mungkar. 39:55 Sama-sama. Subhanakallahumma wabi asadu 39:59 antaum. 40:05 Waalaikumsalam warahmatullahi 40:08 wabarakatuh.