Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Allahu
- Akbar Allahu
- Akbar lailahaillallah
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Allahumma
- sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali
- sayyidina Muhammad. Alhamdulillah kita
- berjumpa lagi hari ini hari Jumat
- tanggal 26 Oktober 2018 atau 18 Safar
- 1440 Hijriah. Seperti biasa, Radio
- Silaturahim dan Rasil TV melalui YouTube
- kembali menghadirkan acara sirah nabawa
- bersama Ustaz Salman Alfarisi. Kali ini
- kita mengambil tema Pesona maaf Nabi.
- Pesona maaf Nabi. Asalamualaikum Ustaz
- Salman.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- perpisangan kita di pesantren kita.
- Iya itu bagi saya. Alhamdulillah kemarin
- kita ngomongin pisang ada Umahad Rasil
- yang mengirim kita untuk beli pisang.
- Masyaallah. Sekarang pisang kita sudah
- tertanam 360 apa 370 batang. Wah, saya
- sudah saya sudah berdoa terus nanti
- kalau sudah mulai daunnya mekar ya.
- Heeh. Eh, indah sekali di bawahnya pasti
- itu pisang. Pisang apa? Ada tanduk,
- ambon, kepok, i. Nanti itunya tuh
- batangnya kedongan pisangnya jangan
- dibuang tuh. Bisa buat pepok juga tuh
- dipotong-potong
- semuanya bermanfaat.
- Ternyata pisang ini juga memiliki ee
- banyak kelebihan. Ternyata semakin kita
- nanam pisang tuh semakin banyak orang
- yang bilang, "Cocok, Ustaz, teruskan
- pisang mudah bla bla bla bla banyak."
- Iya. Saya awalnya nanam pisang itu
- karena memang yang paling murah
- biayanya. He. Beli bibitnya aja murah.
- Terus ee di saya lihat kan gini, Bang.
- Setiap kita bersihin lahan itu pisang
- sudah ditebang pun hidup lagi dia. Oh,
- ini hebat pisang gitu kan. Heeh. Dan
- pisang bisa ditanam di pot juga bisa
- ditanam pot ya? Bisa di pot? Belum.
- Belum kita coba kalau itu. Jadi potnya
- nanti dikasih genteng dulu bawahnya
- kasih ya adalah di YouTube lihat. Boleh
- boleh boleh boleh. Hebat ni kita di
- pesantren, Pak Krisna karena kita harus
- kreatif ya dalam
- hal menekan budget ee operasional
- pesantren kita. Seperti cerita tadi
- sekarang lele kita itu sudah sesegini,
- Pak. Apa namanya? Se apa namanya?
- Sengan. Orang dewasa. Sangan orang
- dewasa. Masyaallah. Nah, ini kita
- bongkar ada 50 ekor lagi. Kita mau tanam
- lagi yang baru. Hm. 700 atau 800 ekor
- gitulah, Lele. Heeh. Nanti itu yang
- membuat biaya anak-anak ini makan
- walaupun ini kan makan ikan, makan ikan.
- Sayur mayur sendiri. Sayur mayur
- sendiri. Hidroponik. Kalau gitu
- hidroponik sama aquaponik. Pernah
- kawan-kawan cerita sama saya. Tapi kalau
- masih ada tanah pakai tanah aja lah. Gu
- bilang.
- Luar biasa. Oke. Baik. Kita mulai saja
- acara sirah nabawa karima pesona maaf
- Nabi. Tafadal Ustaz Salman Alfarizi.
- Terima
- kasih. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
- nastain ala umurid dunya waddin wasalatu
- wassalamu ala sayyidil mursalin
- sayyidina muhammadin wa ala alihi wa
- ashabihi ajmain amma
- ba'du. Ah, semua kata indah tentang
- pujian kita sampaikan kepada Allah
- subhanahu wa taala sebagai ungkapan rasa
- syukur dan terima kasih kita atas
- limpahan karunia yang tak terhingga.
- Jika ada orang yang mampu mengucapkan
- ungkapan cinta terindah, itu mungkin
- bisa mewakili rasa rindu kita kepada
- Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- yang sudah berkorban jiwa raga dan harta
- untuk menegakkan Islam dan nanti juga
- akan memberikan syafaat kepada kita saat
- semua tiada guna lagi ee di depan Allah
- subhanahu wa taala.
- Ibu-ibu, Bapak-bapak pemirsa, pendengar
- yang kami muliakan di mana pun Anda
- berada. Sukabumi, Batam ee apalagi
- Banyuwangi, Pontianak, Singapore, eh
- Jaboritab, Silogon ya ee Pontianak ya,
- Banyuwangi. Apa lagi Pak Krisna yang
- kita sebutkan? Semarang yaang. Nah,
- semua semoga diberkahi oleh Allah
- Subhanahu wa taala dan semua yang
- mendengarkan kita di mana pun ya
- berada. Kita hari ini pemirsa mau
- berbicara tentang pesona maaf Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Bila pernah ingat kita pernah membikin
- sebuah tema besar pesona akhlak
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Ini kita waktu itu membicarakan tentang
- global akhlak
- Nabi. Kita coba nanti sesekali bahkan
- sering sering membicarakan satu persatu
- akhlak Nabi. Hari ini pesona maafnya,
- mungkin besok pesona rendah hatinya,
- mungkin besok pesona adilnya, pesona
- amanahnya Nabi, persona beraninya Nabi
- sallallahu alaihi wasallam. Semua
- mempesona. Semua mempesona. Ee kenapa
- pesona? Karena kalau meneladani, aku
- agak malu aku bilangnya meneladani
- karena meneladani akhlak Nabi aku terus
- terang belum
- bisa. Kalau tahajud, duha, baca Quran,
- salat lima waktu, bersedekah, tak banyak
- tapi bisa lakukan sikit-sikit.
- Tapi kalau sudah akhlak Nabi ini Allah
- malu kita mengucapkannya tentang
- meneladani, maka kita hanya
- terp indah sekali gitu ya. Terpesona
- saja. Ha, terpesona saja. Ah, tentu saya
- juga nanti tidak tidak paham tentang
- teori-teori maafnya. Tapi ya nanti saya
- harus belajar membaca dengan baik dulu.
- yang akan saya ajak ini adalah kita
- bercerita tentang peristiwa-peristiwa
- Nabi
- memaafkan. Nah, ya nanti pemirsa boleh
- mengambil kesimpulan. Kita sama-sama
- ambil kesimpulan ya apa yang harus kita
- lakukan gitu. Belakangan ini banyak
- bikin kajian ini Pak Kristen kalau
- diundang orang pesona maaf temanya ya.
- Pesona maaf maaf maaf maaf memaafkan.
- Eh, tentu kisah yang sangat ee sering
- kita dengarkan tentang indahnya maaf
- Nabi adalah dia tidak marah ketika
- diludahi. Itu sering saya sampaikan di
- sini juga. Namun memang riwayat cerita
- ini
- difambil hikmah sebuah kejadian
- kadang-kadang sanad tak saya pedulikan
- memang. Karena hikmah di balik cerita
- lebih bermanfaat bagi saya daripada
- berdebat sanad sebuah
- teks. Nabi pernah diludahi tiga kali
- tidak marah. Setelah yang meludahi tidak
- ada, justru Nabi pergi menjenguknya
- memberikan obat serta makanan
- bervitamin. Kan luar biasa
- ya. Mungkin boleh saja Pak Krishna aku
- enggak marah diludahi
- seseorang. Kenapa? Karena yang ludahi
- ini ketua preman kampung itu dan
- bawa-bawa pedang terus dia kan gitu ya.
- Bukan karena kita maaf kan takut kita
- kan. Tapi hari ketiga setelah kita ludah
- diludahinya kita masuk rumah sakit dia
- misalnya ke UGD gawat darurat sudah mau
- mati
- mungkin aku bilang alhamdulillah Tuhanku
- semoga mati aja dia cepat. Dia bilang
- gitu kan. Tapi Nabi dia maafkan bukan
- karena dia tidak pandai membalas. Nabi
- itu orang yang paling pandai bergulat
- ya. Kuat badannya. Kuat badannya. Tapi
- ee Nabi mengajarkan umat tidak perlu
- memang membalas kejahatan dengan
- kejahatan. Memperbaiki itu bisa dengan
- cara yang lain. Sallallahu alaihi
- wasallam. Coba cerita itu kita hafal.
- Mungkin dari sejak kita SD saat kita
- belajar ngaji sama guru kita lebih
- duluan mungkin mak-mak zaman now ini.
- Mak-mak zaman now kan jilbabnya
- lebar-lebar ke lutut-lutut sudah kan
- gara-gara tempatan Madinah, tempatan
- Mekah ini menggembor-gemborkan hijab
- syarie-hijab syar'i. Takut betul mak-mak
- ini sehingga emak-emak ini pakai jilbab
- lebar-lebar. Senang hati kita. Tapi
- kenapa cerita ini tak mau diamalkan?
- Dia sudah tahu ceritanya. Jadi sejak dia
- masih SD. Semua orang saat ku tanya,
- "Tahu enggak cerita ini?" "Tahu. Kapan
- kau tahu?" "Sudah lama kali." "Jarang
- orang bilang ke aku, enggak
- tahu." "Jarang orang bilang ke aku,
- enggak tahu." Atau yang belum tahu
- mungkin
- begini. Ketika Nabi sallallahu alaihi
- wasallam itu tadi mungkin gini kita
- bilang ya, itu kan ceritanya. Nabi
- sedang mau ke masjid diludahi,
- dimaafkan. Ada enggak sih, Pak Krishna
- cerita Nabi lagi perang memaafkan? Wah,
- itu perang tapi
- maaf. Kalau nak kita ceritakan, Pak
- Krishna bisa 14 episode kita cerita maaf
- Nabi dalam
- peperangan. Nah, ini ya. Nah, makanya
- bilang tadi kita ini ada cerita nanti
- hasilnya saya serahkan kami pemirsa
- pendengar. Ini tadi cerita pertama yang
- paling sering kita dengar. Nyata-nyata
- belum bisa kita amalkan. Saya coba
- tanya, masih ada dendam tidak di hati
- kita untuk orang lain saat ini? Hmm.
- Kalau ada, renungkanlah cerita tadi.
- Nah, itu ya. Kalau sudah tidak ada,
- pertajam sifat maaf di hati.
- Nanti kita kita iringkan dengan ayat
- Al-Qur'an supaya nanti pernah aku
- diprotes kau ini Salman cerita Nabi,
- cerita Nabi Al-Qur'annya mana? Katanya
- memang pula lemah pula aku hafal Quran
- ni kan kayak gitu aku akui kalau aku
- pula ya kan nah pula sok pandai pula
- aku. Tapi pelan-pelan ku coba cari ayat
- maaf dari Al-Qur'an. Ya Allah ya Allah
- lebih indah lagi di Al-Qur'an cerita
- tentang maaf yang diceritakan oleh Allah
- Subhanahu wa taala.
- Indah
- betul penawaran maaf e ganjaran maaf
- yang diceritakan oleh Allah di
- Al-Qur'an. Wuh luar
- biasa. Hebat. Lebih indah dari sekedar
- tawaran mall dengan midnight sale.
- Iya. Kalau midnight sale orang
- berbondong-bondong datang ya. Enggak
- promo ee merek tertentu handphone kalau
- ngantri di counternya kadang-kadang 24
- jam karena ada potongan diskon 50%. Ini
- tawaran bagi orang yang pemaaf. Uh,
- indah. Kalau laki-laki kau akan
- diberikan lebih dari 71 wanita yang
- lebih cantik dari Raisa 40 kali lipat di
- atasnya. Coba bayangkan itu segin
- kerennya sekarang. Mau tidak kau maafkan
- itu dulu kan? Mau enggak kau maafkan?
- Dan kerennya ayat itu. Tuhan meminta
- kita memaafkan semuanya tanpa ada batas.
- Nanti ku ceritakan ayatnya. Ah, ada
- enggak ayat itu? Ada. Enggak ada cerita
- kita harus menaruh dendam kepada
- siapapun jika mengikuti
- Al-Qur'an. Tidak ada alasan untuk
- memperbaiki sesuatu kita harus
- marah-marah kalau kita pakai Al-Qur'an.
- Karena semua bisa selesai dengan
- memaafkan. Kalau Titi DJ bilang apa, Pak
- Krisna? Hanya cinta yang bisa
- menghapuskan dendam. Katanya kan ini
- kayaknya cinta sudah hilang memang di
- hati sanubari manusia. Yang ada hanya
- semangat yang bergelora sehingga mereka
- lupa bahwa Nabi tersayang Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam membawa agama
- ini dengan rasa cinta sehingga cinta
- membuat dia memaafkan segala-galanya. La
- haula wala quwata illa billah. Indah
- betul pemirsa dan pendengar yang kami
- muliakan. Aku sangat berterima kasih
- kepada Allah Subhanahu wa taala
- diarahkannya saya Pak Krisna untuk
- mempelajari seluk-beluk Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Tapi jangan
- kau anggap aku ahli. Aku ini masih sikit
- betul ilmu aku tentang Nabi. Nanti pula
- aku seringkiali dibilang orang aku pakar
- sirah nabawi. Salah itu. Aku bodoh
- mengenai sirah nabawi. Nah itu yang
- betul ya. Cuman sikit-sikit tahu kita.
- Ah, gitu. K tadi ayat Al-Qur'an tadi
- nanti ku sampaikan tadi kita bilang ada
- tidak nabi memaafkan bergejolak perang.
- Wah, kan karena jarang terdengar cerita
- jenderal memaafkan, presiden memaafkan
- diu suatu di situasi perang itu jarang
- betul. Nabi Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam suatu hari ketika dia mau ke
- Uhud, Pak
- Krishna, strategi dia mengharuskan dia
- melewati satu kebun milik orang kafir.
- Si kafir yang pemilik kebun ini bencinya
- setengah mati sama
- Nabi. Mendengar nama Nabi aja mau
- ditempelengnya rasa dia Nabi gitu.
- saking bencinya dia sama Nabi dan dia
- buta pula begitu. H
- buta kafir benci sama
- Nabi. Sering menghina Nabi. Hm. Menghina
- Nabi. Menghina istri-istri Nabi.
- Menghina ajaran Nabi. Menghina sahabat
- Nabi. Ini kan kita ini sekarang nih
- lekas marah jika ada penghinaan. Saya
- kadang-kadang cuman apa cuma saya yang
- memahaminya seperti ini. Wallahuam. Tapi
- Pak Krisna karena banyak yang
- mempersalahkan saya ketika saya bercita
- seperti ini. Namun setiap saya takut
- untuk menyampaikannya ada bisikan memang
- harus disampaikan bahwa begitu Nabi gitu
- ya.
- bahwa harus kita
- sampaikan tadi hina menghina sekarang
- membuat kita marah dan peperangan hampir
- saja berkecamuk nanti di tengah-tengah
- kita entar sama kita hanya gara-gara
- kesalahan-kesalahan kesalahan pasti akan
- terjadi even it
- yourself kita pun bisa salah bukan
- karena saya ustaz pembelajar sirah
- nabawah enggak bisa salah sangat sangat
- sangat sangat sangat sangat berpotensi
- saya salah dan itu harus saya ada di
- kepala saya sehingga bila itu terus
- beriang di kepala saya ketika saya
- melihat kesalahan orang respon pertama
- saya bukan benci tapi memaafkan dan
- memperbaik tak perlu kita melemparkan
- kata-kata pedas apalagi hanya sekedar
- menggoreng misalnya
- ya ini lihat tadi Nabi terpaksa lewat
- dari kebun
- Seorang kafir pencaci Nabi
- buta dan dia pemilik kebun ini dengar
- kalau Nabi akan lewat dari sini. Hmm.
- Ditunggunya Muhammad di perbatasan
- kebunnya. Pas dia dengar riuh rentak
- kaki, dia bert Muhammad gitu dong.
- Berhenti
- kau. Kau jangan lewat kebunku
- ini. Hm. Kalau nampakku muka kau dengan
- jelas Muhammad, tanah yang kenggam ini
- akan kulemparkan ke muka kau. Paham kau?
- Gitu dia Pak
- Krisna. Sahabat mendengarkan makian si
- Mirba namanya ini menarik
- pedangnya itu kata sahabat. Ya
- Rasulullah ini perang. Kata dia. Dia ini
- tukang caci kita. Selesaikan aja
- sekarang.
- Kalau aku jenderalnya mungkin hajar aja
- lae. Aku bilang gitu ya
- kan. Tapi Nabi luar biasa Pak Krishna.
- Ngapain kau marah karena dihina oleh
- orang yang buta matanya buta pula
- hatinya? H orang yang marah karena
- perbuatan bodoh orang berarti sama-sama
- bodoh dia dengan orang itu. Kata Nabi,
- Allah. Allah. Aku kalau Nabi ada
- sekarang, kupeluk ku cium. Dia enggak
- tahu kok kan gini ya. Hebat kali engkau
- ya Rasulullah mampu menahan amarah aku
- Pak Krist biniku salah taruh dompet aja
- aku marah dia sama dia. Kalau kau bilang
- kan jangan ganggu-ganggu dompet aku.
- Handphone aku. Ngapain kau
- ganggu-ganggu? Enggak mampu aku maafkan
- itu. Pak Krisna kesalahan terjadi kita
- marahi. Disenggol orang mobil kita, kita
- marahi. Ada yang nyinggung kita. Kau
- belajar sampai di mana kau dapat-dapat
- aku?
- Baca Quran aja belpotan. Sok debat aku
- kau. Eh, gini kita ini sombongnya kita
- minta ampun. Seolah-olah semua ilmu
- pengetahuan itu ada di kepala
- kita sehingga benar salahnya di kepala
- saya adanya. Oh, paten kali pula kau ya
- kan? Jadi guru bangsa aja kau. Sudah.
- Iya. Ini semua orang kadang-kadang sok
- pintar. Lihat Nabi sallallahu alaihi
- wasallam. Betapa luar biasa kehebatan
- yang dititipkan oleh Allah Subhanahu wa
- taala. Dihina agama, ajaran, sahabat,
- istrinya. Ketemu penghinanya. Saat
- menghina pula sahabat siap
- mengeksekusinya. Namun Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam mengajarkan
- kita
- umat jangan marah karena perbuatan orang
- yang
- bodoh. Allah. Allah. Sahabat kembali
- menyarungkan pedangnya. Set. Disarungkan
- mereka pedang itu, Pak Krishna.
- Geleng-geleng kepala dia sama nabi yang
- dia cintai ini. Benar engkau utusan
- Allah Subhanahu wa taala. Bertambah kuat
- keimanan para sahabat Pak Krishna.
- Bertambah hebat kecintaan mereka sama
- Allah dan Rasul-Nya. Ini yang kurang
- saya lihat sekarang. Harusnya respon
- tokoh agama itu berakhlak. Gak perlulah
- kita menunjukkan yang tidak baik,
- mempertontonkan kehebatan bahwa yang
- lain tidak hebat. Apa gunanya? Kalau
- begitu, Nabi sallallahu alaihi wasallam
- memenangkan pertarungan selama 23 tahun
- dipenuhi dengan kisah maaf. Kalau enggak
- percaya, ayo sama-sama kita baca hadis
- Nabi. Mau Kutubus Sittah, Musnad Ahmad,
- Muwata, Imam Malik, Addarimi. Nanti ada.
- Ahah. Saya pernah diprotes. Ada tapi
- hadis ketegasan Nabi kita presentasikan
- kawan. Persentasenya lebih besar
- mana? Apakah persentasi Nabi dengan
- ketegasan menegakkan Islam lebih banyak
- atau persentasi dengan sifat akhlak yang
- luar biasa? Nabi menegakkan Islam ini
- lebih banyak? Oh, aku pengin kali aku
- menengok itu,
- pula. Kenapa?
- Kalaulah kita tidak mau saling
- memaafkan, ini akan terus digunakan
- sebagai senjata oleh orang yang memang
- tidak senang kepada agama ini. Ya, akan
- digunakan. Tapi bila kita gampang
- memaafkan, maka kebingungan orang nak
- mengobok-obok agama
- ini. Orang yang marah itu sering saya
- sampaikan di rasil ini, orang yang marah
- itu mudah dikalahkan. Karena memang
- pepatah Melayunya air beriak tanda tak
- dalam, Pak Krishna. Air tenang justru
- sering menghanyurkan. Pernah kau dengar,
- Pak Krishna, ada orang mati tenggelam di
- air yang deras? Enggak ada. Itu orang
- mati tenggelam di sungai yang
- tenang. Hati-hati kita. Nah, ini
- keislaman kita. Jadi, Nabi sallallahu
- alaihi wasallam tadi mampu memaafkan di
- peperangan. Kita kasih lagi satu lagi
- cerita banyak ini. Nanti kita kasih
- cerita sampai 10.30 nanti aku cerita
- terus tang maaf Nabi bukan satu
- lagi suatu hak. Kalau yang ku baca
- peperangan Zatir Riqa' ya. Nabi
- sallallahu alaihi wasallam berjalan jauh
- menuju Zatir Riqa'. Dia istirahat di
- bawah pohon kayu. Tidur
- dia. Sahabat juga istirahat. Tiba-tiba
- ada orang datang mendekati Nabi
- Muhammad. Siapa yang bisa bantu kau
- sekarang? di peperangan
- ini dan kisah ini harus disempurnakan
- membacanya luar biasa
- ini. Nabi sallallahu alaihi wasallam
- orang yang sangat tenang. Akhlak
- Rasulullah selanjutnya nanti kita kita
- akan pelajari pesona tenangnya Nabi
- sallallahu alaihi wasallam
- ya. Jawab Nabi apa?
- Allah. Bergetar tangan si kafir jatuh
- pedangnya diambil oleh Nabi. E kau siapa
- yang bisa bantu kau sekarang?
- Kalau aku itu pasti kebas sudah lehernya
- itu. Ah, mati kau. Rasakan kau situ. K
- bilang gitu kan. Kau pikir aku enggak
- hebat. Mungkin kita bilang gitu
- mengumpat-umpat gitu kan. Ketika si
- kafir bilang enggak ada Muhammad. Terus
- apa menurutmu yang akan lakukan? Ditanya
- Nabi.
- [Tertawa]
- Pak menurutmu apa yang K lakukan
- sekarang? Engkau adalah pengambil pedang
- yang paling baik yang pernah aku kenal.
- katanya, "Ya Allah, si kafir ini kafir
- ini pintar juga dia ya." Ya, tadi
- diancamnya Nabi, sekarang Ka'bah balik.
- Nabi yang ngancam dia. Ketika Nabi
- tanya, "Kira-kira apa yang akan K
- lakukan sama kau?" Apa kata dia? "Engkau
- yang kukenal adalah peng apa? Pengambil
- pedang yang paling baik." "Baiklah kalau
- begitu. Mau kau masuk Islam lah."
- "Enggak mau kau masuk Islam," katanya.
- Aku kadang-kadang geleng-geleng kepala
- aku, "Ya, ini orang udah bandel, enggak
- mau pula masuk Islam. Kalau aku nabinya
- kebas langsung langsung kutebas
- tas. Tapi Nabi
- bilang, "Aduh, enggak mau kau masuk
- Islam." Enggak gitu. Tapi aku janji sama
- kau. Janji apa? Aku enggak akan ganggu
- kau lagi Muhammad. Enggak akan ganggu
- orang yang mengikutimu lagi. Juga tidak
- akan mau diajak oleh siapapun mengganggu
- orang e mengganggumu dan mengganggu
- orang yang mengikutimu. Oh, baiklah.
- Nabi ya Allah. Nabi amin ya. Ya sudah
- pulanglah aku ke rumah. Aku
- kadang-kadang geram. Kenapa kau suruh
- pulang ini orang ya Rasulullah? Kenapa
- enggak ketem saja? Iya kan geram kita
- tahu enggak pakai pulang dia ke rumahnya
- diceritakan oleh kitab yang saya baca
- sampai dia rumah nak nanti kalian harus
- belajar dari orang yang ayah temui. Dia
- adalah orang yang paling baik sedunia
- nak siapa itu. Ayah Muhammad namanya.
- Allah.
- Allah keren kali nabi kita itu ya. Si
- Mirba yang kita cerita tadi yang butaha
- tadi empat anaknya masuk Islam Pak
- Krishna. Empat bukan
- satu. Empat. Kenapa empat-empatnya masuk
- Islam? Datang Nabi. Eh masuk Islam kau
- enggak masuk neraka kau sesat ajaran kau
- ini. Kayak gitu
- kagak. Bukan bukan dalil di
- Al-Qur'an. Enggak kawan.
- Jarang Nabi mengislamkan seseorang
- karena dalil. Boleh kita pertaruhkan
- segala-galanya untuk membaca
- itu. Empat anak Mirba masuk Islam karena
- persona akhlak Nabi menghadapi ayahnya
- yang sebegitu bencinya sama Nabi. Namun
- Nabi
- tenang betul menghadapi si Myba ini.
- Empat-empatnya masuk Islam, kawan. Bukan
- Islam KTP kayak aku ini, tapi Islam yang
- loyalnya luar biasa. Harta, jiwa, raga,
- darahnya empat-empatnya mereka korbankan
- untuk
- Islam. Kalau ada mereka ni
- empat-empatnya kita wawancarai, kenapa
- kau masuk Islam? Karena dalil tidak.
- Mana ada dalil sampaikan Nabi ke aku.
- Katanya, "Kau diancam masuk neraka?"
- Kagak. Kau diiming-iming surga? Kagak
- tapi akhlaknya sangat mempesona. Apalagi
- ketika dia memaafkan ayah kami yang
- sebegitu jahatnya kepada dia. Allah.
- Allah. Ya
- Rasulullah. Makanya kita ini saya kalau
- sudah ziarah ke Masjid Nabawi berdiri
- depan Nabi. Sesudah saya ucapkan
- assalamualaika ya Rasulullah,
- assalamualaika ya Nabi Allah,
- assalamualaika ya safatallah. Maka
- kata-kata selanjutnya apa? Maafkan saya
- ya
- Rasulullah karena tak sanggup saya
- mencontoh akhlakmu ya Rasulullah. Bilang
- gitu sering gak sanggup saya ya
- Rasulullah. Berat rasanya ya
- Rasulullah. Itu yang saya katakan ke
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- dan saya bilang saya akan coba
- menceritakan pesona akhlakmu ini kepada
- semua orang. Moga mereka mau terpesona
- dan syukur-syukur kalau mereka mau
- meneladaninya ya Rasulullah. Ah, itu
- dia. Maka sekarang sering saya kumpulkan
- buku-buku, tulisan-tulisan ulama-ulama
- baik dari Google buku tentang akhlak
- Nabi kita besar Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam.
- Pemirsa, pendengar yang kami muliakan,
- cerita yang supaya enak cerita maaf
- kita. Ada enggak Nabi memaafkan orang
- yang sangat jahat sama Nabi
- bertahun-tahun? Kita kita cari pula ya.
- Penghina Nabi itu ada enggak ada.
- Namanya siapa? Abu Sufyan.
- Abu Sufyan itu memusuhi Nabi
- habis-habisan. Bukan lagi bukan menghina
- aja. Apa sudah dilakukan sama si Abu
- Sufyan ini? Ya, sebentar. Belasan
- tahun kok. Bukan belasan tahun kali ya,
- hampir 20
- tahun dia menyakiti Nabi sallallahu
- alaihi
- wasallam. Saat Nabi melakukan perjalanan
- menuju Makkah dalam rangka memang
- menaklukkan kota Makkah, Abu Sufyan
- mengintai pasukan Nabi di
- Utsfan. Dia tertangkap oleh Abbas.
- dibawa oleh Abbas kau kita selesaikan
- perkara kau di depan Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam nanti mungkin
- ada yang dengar cerita ini. Udah sering
- kudengarkan itu Salman sudah kuamalkan
- belum cerita ini? Ah itu yang
- pertanyaan semua yang ku ceritakan bisa
- jadi sudah pernah didengar tapi
- pertanyaannya Salman sudah kita amalkan
- belum ini?
- Sampai di baseecampnya Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam, Umar heran
- melihat Abbas menenteng orang yang
- ditutup mukanya. Abbas, siapa yang kau
- bawa itu buka kepalanya? Kalau dia yang
- harus kita selesaikan, enggak usah kau
- bawa ke Rasulullah. Biar saya selesaikan
- di sini. Umar bin
- Khattab radhiallahu anhu
- wardah. Umar, kau tenang di situ. Biar
- ini urusan saya dengan
- Rasulullah. Tapi Umar enggak puas. Abbas
- buka. Oh gitu ya. Tapi dengan nego yang
- pandai dari Abbas, akhirnya Abbas
- berhasil membawanya ke depan Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Ketika
- dibuka, Abu Sufyan geram kali Umar bin
- Khattab, "Abbas kalau kau buka tadi di
- gerbang kita hanya bawa kepalanya aja ke
- sini."
- Gitu. Luar biasa. Ketika Nabi mengatakan
- dan Abbas juga mengatakan, "Abu Sufyan,
- kalau kau ingin keluar dari
- sini, nyawa dan badanmu enggak terpisah,
- harus masuk Islam."
- Respon Abu Sufyan, "Pak Krishna bandel
- enggak mau dia." Gua bilang, "Ya, kalau
- ada orang yang kayak gini mungkin
- sebenarnya berhasil dibawa ke Nabi,
- masih diajak dialog oleh Nabi, itu saja
- udah udah udah udah pesona luar biasa
- menurut saya.
- Tapi ketika dia menolak tawaran Nabi
- untuk masuk Islam, diancam dulu baru
- akhirnya masuk Islam. Diterima
- keislamannya oleh Nabi sallallahu alaihi
- wasallam. Ashadu alla ilahaillallah wa
- asyhadu anna muhammadar rasulullah.
- Sebagian sahabat rata-rata mengatakan,
- "Ah, Islamnya Islam merek ini pasti
- Islam untuk menyelamatkan saja." Ini
- enggak sampai di situ, kawan.
- Sesampainya di Makkah, Nabi berpidato,
- siapa yang di Masjidil Haram aman, siapa
- yang di rumah-rumahnya aman, siapa yang
- di rumah Abu Sufyan aman.
- Ini aku pernah kasih ilustrasi di
- pengajian emak-emak. Tahu enggak kalian,
- Bu, betapa agungnya akhlak Nabi ini?
- Kayak mana ilustrasinya
- sekarang? Tapi ini ilustrasi. Jangan ada
- yang marah, ya.
- Misalnya ada seorang perempuan yang
- sudah 15 tahun menikah, tiba-tiba
- suaminya datang membawa dua perempuan
- dan mengaku dengan jujur, "Dek, ini
- istri abang kedua, ini istri abang
- ketiga." Kira-kira apa yang akan
- dilakukan perempuan ini, Pak? Ngamuk.
- Ngamuk. Wah, ini si perempuan ini bukan
- hanya sekedar baiklah, Bang. Aku
- terimalah ini istri kedua, ini istri
- ketiga, Abang.
- itu baru sekedar menerima Islamnya Abu
- Sufyan. Tapi bila menempatkan Abu Sufyan
- sejajar dengan Masjidil Haram, maka
- perempuan ini bilang, istri pertama ini
- bilang, "Bang, Mercy kita kan ada lima."
- He. Yang Mercy S Class 500 ini kasih ke
- istri kedua, Bang. Yang Mercy S Class
- yang warna abu-abu kasih ke istri
- ketiga. Rumah kita kan ada lima. Yang di
- Menteng kasih istri ketiga, yang di
- Kemang dia istri kedua.
- Abang kan ngirim aku 4 miliar sebulan,
- Bang. Yang 2 miliar aja pada aku.
- Semiliar lagi untuk istri kedua,
- semiliiar lagi untuk istri ketiga.
- Kebayang enggak kau, Pak Krisna, ada
- orang yang mampu melakukan itu lagi?
- Itu loh maafnya Nabi yang kita ceritakan
- tentang Abu Sufyan tadi. Kadang-kadang
- kalau tidak diilustrasikan ke kondisi
- kita, kita enggak tahu maafnya Nabi ke
- Abu Sufyan itu sesuatu yang hebat. Kita
- pikir itu biasa-biasa aja. macam ee
- pulsa kau diambil kawan kau mungkin
- perasaan kau ya kan Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam dahsyat
- pesona maaf yang begitu gemilang indah
- yang membuat Islam ini memang mentereng
- bayangkan luar biasa 23 tahun masyarakat
- jahiliah diislamkan loyal seperti Abu
- Bakar, Umar, Utsman, Ali, Khalid bin
- Walid yang awalnya musuh berubah menjadi
- pejuang. Umar berubah menjadi pembela e
- Amar bin As berubah. Oh, luar biasa. Abu
- Sufyan diutus oleh Nabi bahkan ke
- beberapa pasukan-pasukan yang di luar
- Islam dengan membawa bendera Islam yang
- sangat e perlu dijaga. Kehebatan
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- dalam hal
- memaafkan. Ini yang harus kita pelajari.
- Sering saya bilang gini, Pak Krishna.
- Cerita akhlak nabi ini harus kita ulang
- 41 kali sehari semalam, Pak Krishna.
- Iya. Sengking geramnya aku sekarang
- tentang semangat beragama yang muncul
- dalam diri umat Islam tidak diiringi
- oleh akhlak Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam. Ini sebenarnya aku harus terus
- terang. Aku pun belum bisa mengamalkan.
- Tadi kan aku bilang. Cuman cerita ini
- jangan dibuang. Cerita ini dijadikan
- semacam rem untuk kita ketika karena
- gini, pastilah emosi kita pasti marah
- itu normal. Tapi sesudah marah apa yang
- kita lakukan? Maafkan. Memaafkan atau
- memberantas? Ini yang harus kita
- pikirkan. Karena enggak mungkin kata
- Imam Asyafi'i rahimahullah, bila pantas
- marah kau tidak marah, namanya kau
- keledai.
- marah boleh, tapi sesudah marah apa yang
- kau lakukan? Tapi kata Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam ketika
- ditanya oleh seorang sahabat, "La tag
- wal wakal jannah, jangan kau marah,
- dikasih Allah kau
- surga." Seiring dengan firman Allah yang
- kita ceritakan tadi apa?
- Wasariu ila
- maghfiratim mir
- rabbikum wa jannatin arduhas samaawatu
- wal ard uiddat lil
- muttaqin alladina
- yunfiquuna
- fisarrai
- waddarra qomah di situ. Wal kadimininal
- ghaid.
- Ah, orang-orang yang mampu menahan
- amarah kan diberi Allah surga seluas
- langit dan bumi. Pak Krishna
- walinainas. Orang-orang yang mampu
- memaha memaafkan siapa? Manusia Pak
- Krishna indah kali ayat Allah ini. Yang
- kita maafkan itu manusia. Bukan harus
- sesama NU baru kau maafkan. Bukan harus
- sesama Muhammadiyah baru harus kau
- maafkan. Bukan kalau sesama HTI baru kau
- maafkan. Bukan kalau sesama jemaah
- tabligh baru kau maafkan. Bukan kalau
- sesama salafi baru dimaafkan. Manusia
- harus kita
- maafkan.
- Walinainas ayat Al-Qur'an
- itu. Dan kalau kau berhasil
- memaafkannya ee apa? Jannatin arduhas
- samawatu wal ardu. Surga seluas langit
- dan bumi. Pak Krishna kebayang enggak
- kau kalau dikasih tanah sehektar di
- Sudirman?
- Fantastis. Woh woh w. Berapa semeter
- sekarang tanah di Sudirman Pak Krishna?
- Mungkin 500 juta kali ya. Kalau kita
- punya sehektar Pak Krisna berapa duit
- kita itu? 5 triliun mungkin Pak Krisna
- ya.
- itu di kalau misalnya gini ada presiden
- misalnya ngomong kayak gini, "Kalau kau
- kalau kalian berhasil saling memaafkan,
- kuk kasih kau kapling sehektar di
- Sudirman." H mak itu mungkin aku, Pak,
- yang akan
- maafkan. Tapi Allah bukan tanah
- Sudirman. Tanah Sudirman mah kecil,
- pajaknya gede. Enggak usah kau ambil Pak
- Krishna pusing kau nanti pajaknya. Iya.
- Iya. Pajaknya berapa nanti? Kalau aku
- dikasih tanah di Sudirman, ku jual
- langsung daripada bayar pajaknya.
- Ngapain? Misalnya kasih orang aku mobil
- Mercedes-Benz, ku jual ku beli aja.
- Apaanza? Pajaknya kemahalan. Gua bilang
- ya
- kan. Tapi surga yang dijanjikan Tuhan
- bukan Mercedes-Benz, bukan tanah di
- Sudirman. Keindahannya tak pernah
- terlintas oleh mata. Pak Krishna. Kalau
- masih terbayang keindahannya di di otak
- kita itu belum surga. Makan makan sawah
- kok Pak
- Krishna. Gigitan pertama susu gimana
- gitu rasanya. Gigitan kedua cokelat
- Belgium yang begitu sempurna terasa. Eh.
- Gigitan ketiga madu dari Yaman yang
- siber itu rasanya. Gigitan keempat kayak
- mencium bidadari yang enak rasanya.
- Bayangkan kalau kau memaafkan orang, ini
- loh yang dikasih Tuhan nanti sama
- kau. Walau aku, K bilang luar
- biasa. Maaf ini ternyata. Jadi cerita
- maaf yang dicontohkan oleh Nabi tadi
- tidak
- tidak apa
- namanya istilah orang politik sekarang
- itu apa
- namanya ee tidak untuk melakukan diri
- supaya dianggap berakhlak. Apa nama
- orang Kisah? Pencitraan bukan
- pencitraan itu Nabi sallallahu alaihi
- wasallam. Tapi ada tuntunan dari Allah
- Subhanahu wa taala. Maka ketika
- Abdurrahman bin Auf datang menghadap
- Nabi, Pak Krishna 13 tahun Nabi
- berdakwah di Makkah.
- Nabi dicaci, dimaki, gila penyihir.
- Entah apa-apa dibilang ke Nabi.
- Dilempar, dicekek, ditendang, di banyak
- sudah diembargo. Datang Abdurrahman
- bilang, "Muhammad ini agama apa sih yang
- k bawa ini?" Itu loh aku ini Muhammad
- sebelum aku masuk Islam mulia aku. Masa
- setelah memeluk agama Islam yang kata
- kau agama hebat ini jadi terhina aku
- Hamzah datang ke Nabi. Muhammad takut
- kau sama orang itu. Aku ahli strategi
- perang. Umar bilang apa yang kau
- sampaikan ini betul tidak Muhammad?
- Kalau betul kenapa takut kau? Kita kuat.
- Nabi indah betul jawabannya. Sabar dia
- 13 tahun bak bahkan 15 tahun. Karena
- kata dia Allah menyuruh saya Abu Bakar,
- Umar, Hamzah, Abdurrahman
- memaafkan, bukan membunuh apalagi
- memerangi. Nanti ada yang bilang, "Itu
- kan periode Makkah." Oh, cocok kali
- pertanyaan itu kan. Oh, ya. Luar biasa.
- Karena gini, Kawan-kawan, kalau hanya
- sekedar adu kuat dalil, oke kau menang,
- kira-kira apa yang dirasakan oleh yang
- kalah?
- apa yang akan dirasakan oleh yang
- kalah. Tapi kalau kita saling
- menggandeng, saling memperbaiki, saling
- merangkul, yang salah kita perbaiki
- baik-baik, tentu dong. Jangan biarkan
- kesalahan terjadi. Karena amar maruf
- nahi mungkar harus
- dilakukan. Iya. Bukan berarti karena
- kita pemaaf, kita tidak nahi mungkar.
- Nahi mungkar. Tapi ketika nahi mungkar
- dipraktikkan sesuai yang diajarkan oleh
- Nabi Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam, keindahan dan pesona Islam ini
- semerbak seperti tulip di bulan April di
- Turki, Pak Krishna. Indah nampak,
- warnanya beda-beda tapi pesonanya luar
- biasa. Pernah Bapak lihat tulip di
- Turki? Di Google aja kita lihat. Kalau
- ke Turkija belum kita lihat tuh.
- Beda-beda enggak warnanya, Pak Krisna?
- Beda-beda. Ada yang ada yang kudingan.
- Oh, tulip yang merah enggak merasa lebih
- indah. Tulip ungu enggak merasa lebih
- benar. Tulip putih tahu kita sama-sama
- tulif. Enggak usah berantem. Ya udah
- kita mekarkan aja. Biar datang orang
- dari pelosok-pelosok dunia ni ke
- Turki. Hah. Kita tidak mau belajar dari
- alam. Padahal Allah sering mengajak kita
- untuk memikirkan semesta. Iqra. Bismi
- rabbikalladzi khalaq diturunkan Allah.
- Belum ada yang diisa dibaca. Lantas apa
- yang harus kau baca? Semesta ini
- mengajari kita mengesakan Allah. Semesta
- ini mengajarkan kita berakhlak. Semesta
- ini mengajarkan kita loyal terhadap
- Allah. Semesta ini mengajarkan kita
- bertasbih, bertahmid, berzikir kepada
- Allah. Iqra diturunkan belum ada buku,
- kawan. Disuruh kita membaca tapi bukunya
- enggak ada. Semesta ini harus bisa kita
- baca. semesta ini mengisyaratkan banyak
- perintah agama yang luar biasa. Pemirsa,
- pendengar yang kami
- muliakan, di ayat lain di surah Pusilat
- ayat
- 34 Allah bilang begini. Wala tastawil
- hasanatu walas
- sayayi idfa billati hiya
- ahsan
- faidzalladzi bainaka wa bainahu
- adawatun.
- Kaahu waliyun
- [Musik]
- ham. Indah betul akhlak ayat ini, Pak
- Krisna lebih indah dari ayat apa? Lagu
- begadang. Jangan
- begadang kalau tiada
- artinya. Tapi lagu begadang terkenal.
- Ayat ini jangan-jangan ada yang belum
- pernah dengar. I kan.
- Wala tastawil hasanatu walas
- sayyiah idfa' billati hiya ahsan
- faidzalladzi bainaka wa bainahu
- adawatun
- kaannahu waliyun
- hamim. Pemirsa yang dengar ayo sama-sama
- kita baca sekali lagi.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- [Musik]
- id billati hiya ahsan
- faidzalladzi bainaka wa bainahu adawatun
- kaannahu waliyun
- hamim Allah pusilat ayat
- 34 surah ke-41 coba nanti diperiksa
- pemirsa pendengar ya dan tidaklah sama
- kebaikan dengan kejahatan. Ya Allah,
- ayat ini indah kali ya. Dia ingatkan
- kita nakkan mungkin sama memang
- perbuatan baik dan perbuatan jahat. Ya
- loh, indah kali ni. Allah ingin tegaskan
- bahwa yang sesudahnya ini harus kau
- pikirkan
- Salman. Jadi Allah bilang gini
- seolah-olah sama kita nih, Salman,
- kebaikan dan kejahatan itu tidaklah kan
- pernah sama. Catat itu baik-baik,
- Salman. Baik, ya Allah. Kita bilang
- terus Allah apa? Idfa billati hiya
- ahsan. Tolaklah kejahatan itu ya dengan
- cara yang lebih baik. Kata para ulama
- maafkan Allah. Allah. Heh. Idfa billati
- hiya ahsan. Balaslah kebaikan eh
- keburukan itu dengan kejahatan. E e e
- apa namanya? Dihinanya kita. Kita
- traktir dia makan sate Padang. Iak keren
- enggak itu? Ya. Ya. Terus apa kata
- Allah? Salman kalau kau lakukan itu
- nanti Pak Krishna kita yang ku bilang
- tadi kita beli beli tanah buat beli
- pisang. Waktu kita beli tanahnya itu
- banyak preman yang datang menggertak
- kita.
- Beberapa kenalan kita yang ada di Mabes
- TNI yang ada di yang orang-orang kuat ya
- yang kita kenal bilang apa? Berapa
- pasukan yang kita harus kirim untuk
- mengamankan itu Salman?
- Ada orangnya, Pak, yang sering ngomong
- kayak gitu sama aku. Karena melalui dia
- juga dapat aku tanah ini. Eh, melalui
- teman-temannya beliau ini. Berapa orang
- aku kirim untuk jaga? Si Salman bilang
- aja katanya, "Pak, aku selesaikan dulu
- dengan caraku ya. Nanti kalau memang aku
- enggak bisa, aku kabari Bapak." Bilang
- ayat ini. Idfaillati hiya datang ke
- pesantren. Aku enggak ada. Tapi dasar
- nih pesantren sok kaya kagak ada duitnya
- soksok mau beli tanah ini tanah gua nih
- katanya gitu padahal bukan tanah dia.
- Tapi kalau saya temui diam enggak berani
- ngomong kayak gitu. Saya ingatkan dia,
- "Baik-baiklah, Pak ya. Nanti kalau
- memang bagaimanabagaimana kita
- selesaikan." Datang lagi marah-marah
- lagi. Tapi ya saya enggak ada. datang
- lagi marah sampai ngancam-ngancam nih
- bawa bawa golok nih perang aja kita nih
- gitu sampai
- pisau bilang ngapain kita perang gua
- bilang bapak Islam agamanya gua bilang
- saya juga Islam yang mau Bapak perang
- ini pesantren, Pak. Pesantren yatim dua
- lagi. Lu jangan macam-macam gitu-gitu.
- Oh iya, Bapak yang tentara tadi ku
- ceritakan lagi. Wah itu udah udah
- kelewatan tuh kita kirim aja pasukan.
- Jangan kau bilang aku masih cari
- solusinya. Tahu-tahunya, Pak, tapi tidak
- pakai akhlak kuselesaikan. Tahu enggak
- pakai apa, Pak? Pakai hepeng.
- Berapa banyak lu? Oh, enggak usah ku
- ceritakan. Nanti nanti datang pula orang
- nyumbang gara-gara ku ceritakan kan
- Heng. Setelah kita bilang, "Pak, ayo
- kita duduk bersama. Bapak mau minta
- berapa dari transaksi ini?" Saya sekian
- masih ngamuk-ngamuk. Baik, Pak. Saya
- bayar. Tunggu kasih saya waktu ya, Pak
- ya.
- Nah, tapi saya gak bayarnya bertahap
- karena ada beberapa preman ini, Pak
- Krisna gitu ya. Oh, akhirnya selesai
- satu. Alhamdulillah. Nah, enggak pernah
- saya balas dengan apa-apa. Saya saya
- datang ke Pak Lurah. Pak Lurah jangan
- dimarahi. Tapi mereka karena Pak
- Lurahnya juga bilang udah udah ini nih
- Pak Lurahnya alhamdulillah bila kita
- geram juga dia. Jangan Pak Lurah itu
- warga Bapak dia juga tetangga kita di
- pesantren. Ah biasa itu Pak Lurah cuman
- saya minta didampingi sama Pak Lurah.
- Saya bilang gituamping baik Ustaz ya
- sudah kita kerangkeng aja ustaz. Jangan,
- Pak. Tapi indah, Pak Krishna. Ketika
- kita selesaikan dengan cara yang baik,
- akhirnya kita salam-salaman, kita
- berpelukan dan dia katakan ke saya,
- "Ustaz, saya mohon maaf sudah kasar sama
- Ustaz.
- Alhamdulillah semakin yakinlah aku
- sejarah Nabi ini. Coba kemarin K bilang
- sama Bapak itu, Pak, kiri aja tiga kombi
- kemari. Satu orang aja pun main-main ke
- situ tentara. Takut orang sama kita.
- Jadi sekarang aku sama mereka berteman,
- tanah pesantren kita aman. Enggak ada.
- Enggak ada sama mereka kalau saya
- ketemu, Pak. Enggak ada. Santai. Sudah.
- Indah betul, Pak
- Krisna. Indah betul.
- Waktu kita kesasar waktu itu juga. Wah,
- semua pada ngasih tahu. Hampir semua
- penduduk
- tahu. Eh, ini ada satu lagi nih yang
- sedang kita selesaikan. Satu lagi
- janjinya kemarin angkanya sekian,
- sekarang dia naikkan angkanya. Ah,
- enggak apa-apa nanti kita minta ngobrol.
- Saya bilang, "Ah, luar biasa." Nah,
- karena di daerah situ tuh terkenal
- memang tanah itu suratnya ber apa
- namanya? Ber ee berlapis-lapis lebih
- dari satu. Tapi saya bilang, "Kita
- selesaikan duduk ngopi kita lebih baik
- marah-marah." Ngapain? Gua bilang,
- "Bapak menang, Bapak capek." Gang,
- "Nanti Bapak tangkap polisi, gimana?
- kan. Nah, saya menang lebih malu lagi.
- Saya gu bilang, "Masa sih ustaz main
- berantem kan gitu ya."
- Ah, dahsyat. Idfa billati hiya
- ahsan. Balaslah keburukan dengan tapi
- juga Pak Krisna juga aku nih belum
- sempurna juga ngamalkan kadang-kadang ku
- tempeleng juga orang. Nah, gitu. Sering
- aku nempeleng orang kalau salah. Sering
- juga aku. E di situ kadang-kadang
- makanya aku bilang aku mohon maaf sama
- Rasulullah karena gak ceritaku ini yang
- ku ceritakan yang mampu aja. Kalau yang
- enggak mampu aku yang marah-marah.
- Sering Pak sering sekali saya
- marah-marah. Saya sering marah-marah.
- Tapi apakah itu kita jadikan sebagai
- habit kita terus-menerus? Tak maukah
- kita menoleh sejarah Nabi yang indah
- dengan pesona maafnya? Tidakkah kita
- tergerak dengan istilah Allah idfa
- billati hiya ahsan? Terus kata Allah
- apa? Faidalladzi bainahu bainaka wa
- bainahuatun kaannahu waliyun hamim.
- Indah betul. Kalau kau mampu Salman
- menolak keburukan dengan kebaikan, nanti
- tiba-tiba orang yang memusuimu menjadi
- teman yang sangat setia bagimu. Allah.
- Allah. Betul
- itu. Sekarang Pak Krisna pesantren kita
- itu preman-preman yang jaga. Sudah.
- Betul.
- Wah, saya salam, saya salut, saya sayang
- sama mereka
- sekarang. Mereka juga peluk saya
- sekarang. Eh, jadi teman setia sudah dia
- jaga kita sekarang. Kalau pakai tentara
- kan enggak bisa selalu menjaga.
- Hah. Tapi gi makanya Arilasu itu benar.
- Sentuha dia tepat di
- hatimu. Dia akan jadi milikmu selamanya.
- Kan gitu ya. Seorang itu sejelek-jelek
- dan sejahat-jahatnya orang, kalau kau
- mampu memegang hatinya, kau akan jadi
- pemiliknya untuk
- selama-lamanya. Itu pegang hadis Zarah.
- Karena di situ letak
- semuanya. Tapi kalau kita balas
- kebencian dengan kebencian, kejahatan
- dengan kejahatan, batu ketemu batu
- pecah, api ketemu bensin
- terbakar. Kenapa tidak kita mainkan
- bahasa alam ini? Kalau ada yang
- kebakaran, apa yang kau lakukan, Pak?
- Dipadamkan. Cari air. Kalau enggak cari
- air, cari debu, pasir, mati hab.
- Bukannya cuma kau foto, kau kau. Kan
- orang sekarang kalau kebakaran malah
- direkam, di-share ke Facebook.
- Kadang-kadang orang-orang ini aneh
- sekarang. Ada orang berantem di-share di
- Facebook. Bukannya mendamaikan malah
- nge-share. Koplak manusia zaman sekarang
- ini kan gitu ya.
- Oke. Kalau nak kita bahas secara bahasa
- Arab, kata Nabi, kata Allah yang tadi
- saling, yang tadi bermusuhan sama kau
- itu kalau kau maafkan Salman, dia akan
- menjadi waliyun hamim. Kalau bahasa
- Indonesia cuma bisa membahasakannya
- teman setia. Kalau ku bilang itu istilah
- yang sangat dalam dari Allah Subhanahu
- wa taala untuk meyakinkan kita bahwa
- saling memaafkan memang pemenangnya
- sudah.
- Allah. Who knows? Andai one day kita
- bisa mengamalkan ini, kegemilangan Islam
- di tanah Nusantara yang memang luar
- biasa ini mentereng kelihatan nanti
- disegani tapi tidak pernah ditakuti. Oh,
- itu keren sekali. Dia kuat, hebat, tapi
- membantu termasuk orang yang berbeda
- agama. Keren, Pak. Keren sekali.
- Pengobatan gratis boleh orang Kristen
- datang. H enggak ada lagi pengobatan
- gratis khusus beragama Islam. Enggak
- kayak gitu kita nanti pengobatan gratis
- untuk semua umat manusia. O
- keren sekali yang melayani ibu-ibu
- berhijab yang lebar-lebar. Ustaz-ustaz
- yang berjenggot panjang sampai ke puser
- mungkin ya yang celananya nyingkrang
- tapi senyumnya manis-manis.
- Rindu kita melihat Islam yang dikemas
- dengan simbol juga dengan akhlak yang
- luar biasa. Allah mudah-mudahan sebelum
- aku meninggal bisa ku tengok kayak gitu.
- Amin. Ya, itu saja mungkin pemirsa dan
- pendengar yang kami muliakan. Saya
- serahkan lagi mikrofon yang indah ini ke
- Pak Krishna.
- Biasa, Ustaz Salman Alfarisi. Baik,
- sekarang kami beri kesempatan untuk Anda
- yang mau bertanya silakan untuk ngirim
- WA di
- 0811 kali 999 93 kali. Belakangnya
- gelombang radio rasil 720 atau telepon
- catat nomor telepon
- 021
- 845
- 1512. Kami tunggu telepon
- [Musik]
- Anda. Allahu
- Akbar. Allahu Akbar.
- Lailahaillallah.
- [Musik]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- Allahu
- Akbar. Allahu Akbar.
- [Musik]
- Lailahaillallah. Radio Silaturahim yang
- dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim 36 Kalimanggis Cibubur masih
- daerah Sirah Nawawiyah bersama Ustaz
- Salman Alfarisi. Asalamualaikum Ustaz
- Salman. Waalaikumsalam. Hari ini paten
- kali, Ustaz. Masyaallah. Cuman Ustaz
- mohon maaf saya kurang sulit sekali
- untuk memaafkan suami saya yang kedapan
- tatanan dia selingkuh Ustaz. Saya sulit
- sekali untuk memaafkannya walaupun dia
- sudah minta maaf. Hm. Aku nak tanya
- sulit enggak maafkan tapi kalian tetap
- jadi suami istri enggak? Kalau kau tetap
- jadi istrinya itu namanya Bu kau sudah
- memaafkan tapi maaf masih KW3 mungkin
- namanya ya. Karena maaf original itu
- memang sampai kita melupakan ya. E maaf
- yang ee lebih di atas original adalah
- seperti tadi sudah dimaafkan dilayani
- pula dengan baik gitu ya. Jadi memang
- gini ya peristiwa selingkuh
- menyelingkuhi tentu jarang orang yang
- bisa maafkan itu ya.
- Jarang sekali orang bisa maafkan itu. Ee
- sesudah cerita tentang pesona maaf Nabi
- ini, ada baiknya memang kita pelajari
- kapan kita boleh marah. Kalaupun kita
- marah, apa cara kita marah? Itu harus
- kita juga pelajari ya. Cerita tentang
- persona maaf Nabi ini bukan berarti kita
- ee siap untuk disakiti selama-lamanya.
- Tidak. Tapi kita bijak
- menyikapinya. Kita selesaikan dengan
- cara yang baik. Misalnya kalau kau
- diselingkuhi tadi kan Bu ya, orang yang
- paling hebat mungkin hatinya, "Bang,
- daripada kau selingkuh mending nikah
- ajaalah kau sama dia. Udahlah aku istri
- pertama, dia istri kedua." Tapi mungkin
- untuk mencari perempuan yang kayak gini
- udah enggak ada mungkinnya. Tapi agama
- tetap mengatakan itu yang paling baik
- bila itu memang berurusan dengan rumah
- tangga gitu ya. Atau yang kedua kita
- nasehati dia, "Bang, aku ini perempuan
- yang tidak siap untuk kau duakan dengan
- siapapun." Ya kan? Aku mohon maaf. Kau
- harus pikirkan baik-baik. Anak kita udah
- lahir, mengapa harus kau lakukan itu
- lagi? Sadar kau, Bang. Itu godaan setan
- untuk kita. Bla bla bla. Nasehati, ya
- kan?
- Saya enggak bisa menerima kalau kau
- harus menikah lagi. Jadi, aku bisa
- maafkan kau jika engkau berhenti sampai
- di sini untuk melakukan itu. Diulanginya
- lagi. Baiklah, Bang. Aku akan menuntut
- ke hakim, Bang. Tapi aku nuntut
- baik-baik bahwa aku tidak kuat kalau kau
- tetap selingkuh. Kita pisah sajalah
- dulu, ya. Pisah ini sebagai ujian buat
- kita, Pak. Kan Allah mengatakan, "Kau
- boleh talak aku 1 2 3. Kalau lepas saja
- akuah talak satu." H karena enggak kuat
- aku tapi selesaikan dengan cara yang
- tenang. Karena ketenangan itu akan
- membuat semuanya jadi baik. Tapi kalau
- kita marah-marah, enggak ada yang
- selesai. Enggak akan ada yang selesai
- bila kita hanya sekedar
- marah. Gak ada.
- Justru orang akan ikut-ikutan ngomporin
- kalau kita
- marah. Tapi dibicarakan dengan tenang
- setenang-tenangnya itu akan menghasilkan
- sesuatu. Ya, kalau enggak ya bahaya
- kita. Nah, itu ya. Jadi perselingkuhan
- berat tapi memaafkan jauh lebih hebat.
- Wallahuam.
- Oke. Asalamuala Salman. W kalau sesama
- ulama saling menyalahkan, besar
- akibatnya buat umat. Bila orang awam
- awam cukup akibatnya diri sendiri. He.
- Bagaimana yang pakarnya tidak mau
- memaafkan dari Bapak Iskandar? Maka
- itulah kita
- bilang ulama kita
- ini sekarang ini banyak
- ulama ya ulama ya ulama. Oe jadinya gitu
- loh ya. Kalau dia
- ulama harusnya ilmu yang dia miliki
- mampu mengkontrol emosinya. Harusnya
- begitu. Bukan juga berarti dia letoi.
- Tidak. Ya. Dari sejak dulu agama ini
- berkembang bukanlah di tangan
- ulama-ulama yang pedas mulutnya ya.
- Bukan di tangan ulama-ulama yang e cepat
- reaksi marahnya. Tidak.
- Islam ini berkembang justru di tangan
- ulama-ulama yang pemaaf di semua negeri.
- Kita lihat
- begitu. Itu sejarah membuktikan itu.
- Kita pelajari aja ke
- belakang. Islam di Indonesia ini sudah
- memaafkan banyak kelompok, banyak
- generasi, banyak
- perbuatan. Nah, itu harus kita
- lanjutkan.
- Jadi, e saya juga sangat mengherankan
- sekali bila ada kita yang saya bukan
- ulama, ustaz saja sebenarnya saya belum
- pantas, makanya panggil saya Bang Salman
- saja misalnya ya. Tapi bila kita lihat
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,
- bila kita buka ayat-ayat maaf dari Allah
- Subhanahu wa taala membuat kita memang
- harus
- memaafkan ya.
- Atau bila kita buka ayat tentang e
- melawan dari Allah, ayat memaafkan dari
- Allah, kenapa kita tidak gabung?
- Akhirnya kita jadi sambal yang enak gitu
- loh, Pak Krisna. Ya, kita sambal yang
- enak. Ee enggak tomat aja isinya, tapi
- ada cabainya, ada tomatnya, ada
- bawangnya, ada terasinya. Ulek dia. Enak
- jadinya. Itu ayat Al-Qur'an bila
- digabung semuanya. Tapi bila hanya ayat
- maaf saja juga yang disampaikan,
- khawatir juga kita kalau nanti orang
- Islam ini letoy
- pula. Enggak letoi juga kita. Kita
- memaafkan tapi memikirkan bagaimana kita
- menang gitu. Karena memang berhasil
- pemaaf menjadi pemenangnya. Di mana-mana
- begitu, kawan. Di mana-mana. Di
- mana-mana begitu. Sering kita lihat
- pemenangnya adalah yang memaafkan. Di
- kehidupan kita sehari-hari sebenarnya
- banyak kita lihat yang seperti itu ya.
- Banyak yang kita lihat seperti itu. Yang
- memaafkanlah pemenangnya. Nah, itu
- kalaulah Allah sudah mengatakan begitu,
- Nabi sudah mencontohkan begitu, semesta
- juga menunjukkan hal itu.
- Hm.
- Kenapa tidak kita lakukan, tidak kita
- amalkan? P
- wallahuam. Oke. Asalamualaikum. Ustaz
- Salman. Bag bagaimana pendapat Ustaz
- kenapa yang membakar bendera tauhid
- tidak ada merasa bersalah sama sekali
- dari Suma di Bintara? Allah. Sebenarnya
- saya tidak mau menyinggung ee studi
- kasus ini ya sama sekali.
- Karena ee saya setiap ingin membahas
- sebuah kasus yang seperti ini, saya
- harus
- mempelajarinya. Sementara sekarang saya
- enggak ada waktu mempelajarinya. Hm.
- Saya hanya mendapatkan info dari grup
- WhatsApp yang saya sama sekali tidak
- percaya info itu. Jadi dia mau itu ada
- grup WhatsApp ustaz lah, ada grup
- WhatsApp itu. Saya lihat isi grup
- WhatsApp ustaz aku juga ada juga
- WhatsApp aku yang grup-grup bandel juga.
- He isinya sama aja kalau sudah ngomongin
- bendera tauhid ini enggak ada bedanya
- antara WhatsApp grup ustaz dengan
- WhatsApp grup preman. Sama aja itu juga
- yang di-share. Berarti berita ini enggak
- enggak layak saya jadikan pedoman.
- Maka bila saya harus berkomentar
- mengenai kisah ini, saya harus pelajari
- baik-baik apa sebenarnya yang
- terjadi. Ada meme-meme yang kita
- pelajari bahwa berita atau media bisa
- saja membuat penusuk menjadi korban yang
- ditusuk menjadi pelaku. Kan bisa preming
- berita kan ada ilustrasi begitu ya.
- Dengan anglen-nya ya. Angle tergantung
- angle-nya
- ya. Maka supaya adil ya kita serahkan
- siapa ini yang mempelajari ini. Enggak,
- aku enggak ada waktu, Pakna. ngurusin
- pesantren aja udah repot aku. He.
- Apalagi saat-saat ini. Kalau perlu aku
- minta sama Allah waktu aku yang 24 jam
- ini dibikin 48 jam untuk ngurusi
- pesantren. Karena apalah aku kalau tanya
- orang isu-isu kayak isu politik, isu ee
- pertengkaran antara semua umat Islam,
- isu Syria, isu Jamal Kasogi lah apa
- macam,
- aduh daya tampung waktu saya untuk
- membaca hal-hal yang seperti ini lemah
- sekarang. yang kau bilang karena saya
- sudah lebih fokus berdakwah ya, fokus
- berdakwah di pendidikan khusus anak-anak
- duafa yang harus saya pikirkan bagaimana
- mengkemas kurikulumnya baik, bagaimana
- men meng apa namanya? Bagaimana
- ee menjuluk rahmat Allah Subhanahu wa
- taala supaya rezeki ke pesantren datang?
- karena free, karena ee masyaallah sudah
- banyak sekali yang saya butuhkan setiap
- bulan yang harus untuk menutupi semua
- itu, Pak Krisna. Enggak angka kecil ya,
- angka besar sekali untuk saya. Besar
- sekali untuk saya yang harus saya
- keluarkan sekarang di pesantren. Jadi
- kalau ada isu bendera tauhid dibakar,
- aduh sudah enggak sempat aku bahas cuman
- anak-anak saya saya ingatkan jadi
- iktibar buat kita, "Nak, kalau suatu
- hari kau benci sesuatu nak usah kau
- respon dengan
- pakarmembakar. Kau benci siapa, Nak? Kau
- orang NU benci HTI. Contoh, enggak usah
- kau
- bakar-embakar. Ee tolong tahan
- kebencianmu juga. Belajar kita, Nak,
- kalau besok kau bikin organisasi, jangan
- pinjam lambang agama menjadi lambang
- organisasimu. Karena itu micu
- pertengkaran entar sama kita nanti.
- Wallahuam. Baik, kita terima telepon
- dulu. Halo. Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Iya. Dengan siapa ini?
- Maaf.
- Dari Tangerang. Siap. Dengan siapa?
- Ace. Ace. Iya, silakan Pak Ace. Pak
- Ustaz menyambung yang barusan Pak Ustaz.
- Baik. Baik. Iya. Mengenai masalah
- pembakaran bendera ee tauhid ya. Heeh.
- Ya,
- sebetulnya saya tidak setuju dengan ee
- apa namanya statement dari pihak apa
- namanya itu ketua Bansernya
- dari ee Garut itu. Jadi, seolah
- menutup-nutupin lah kalau kita buka-buka
- saja gitu. Jangan jangan dipelintir
- ee apa namanya bahasanya itu enggak
- logislah gitu. pura-pura mengamankan
- orang direbut kok mengamankan. Jelasin
- saja yang sejujurnya gitu ya. Ini ee
- mencuat seperti ini sebetulnya dari
- kalangan ee pengurusnya juga seperti
- itu. Dari kalangan yang lainnya pun ya
- banyak bertanya tanya akhirnya mana sih
- yang sebetulnya gitu yang benar kan
- gitu. Akhirnya masyarakat itu masyarakat
- awam saja. Jadi ke mana-mana gitu
- menjurusnya yang seharusnya tidak
- terjadi akhirnya terjadi. Itulah ee
- makanya umat sekarang ini tergantung
- kepada yang memimpinnya. Sebetulnya
- kalau pemimpinnya aja tidak bisa untuk
- diikutin, ya bagaimana? Hancurlah negara
- kita. Terima kasih, Pak Ustaz.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Saya
- kira aduh aku
- ini kebingungan aku kalau sudah menjawab
- respon-respon yang seperti seperti ini
- ya. Hm. Saya tetap memilih jalan tengah
- dalam dakwah. Ee gak mau ikut-ikutan
- dalam hal-hal seperti apa yang mau saya
- peruncing. Misalnya saya mau membela ee
- NU atau membela ee ee ee netizen yang
- benci yang membela dan yang dibela ini
- sama-sama kitabnya Ka'bah, sama-sama
- Tuhannya Allah, sama-sama ee Nabinya
- Muhammad, sama-sama apalagi e kitabnya
- Al-Qur'an.
- maka kesalahan pasti akan terjadi.
- Kesalahan pasti akan
- terjadi. Itulah k dari semua elemen.
- Jadi semua masyarakat kita ini perlu
- kembali menundukkan kepala, merendahkan
- hati. Kalau kita hanya mencari yang
- sebetulnya dan yang sebetulnya mau
- sampai
- kapan? Kerendahan hati sudah yang
- dibutuhkan di sini. Kerendahan hati.
- Tapi memang aku sudah sering aku ditolak
- dengan istilahku ini enggak dan saya
- tidak akan berubah ya karena saya
- melihat sesuatu perkara perbedaan itu
- bisa diselesaikan dengan kerendahan hati
- tanpa mengklaim
- menghakimi. Saya ini kalau mau
- ikut-ikutan ribut-ribut gitu ya, banyak
- dalil yang ingin kita ributkan dari
- sejak saya mulai berdakwah Pak Krishna
- ya. ee saya mulai berdakwah itu
- macam-macam yang sudah saya hadapi dalam
- hal ee bergelut dengan mencari yang
- sebetulnya dan sering bahkan selalu saya
- lakukan begitu. Saya memposisikan diri
- saya salah saja daripada harus saya
- benar. Gak apa-apa wong saya tidak
- meminta kalau saya harus diustkan suatu
- saat nanti. Artinya kalau saya salah
- lagi, salah lagi, salah lagi. Akhirnya
- umat menilai, ah Salman ini mah bukan
- ustaz. Ya gak apa-apa saya kan fokus di
- pesantren saja. Sudah. He uang pesantren
- saya juga saya yang saya terima yang
- saya senang itu, Pak Krisna udah miskin
- bodoh lagi. Itu yang paling senang saya
- terimanya. Hm. Kenapa? Orang miskin
- pintar itu banyak yang ngasih beasiswa.
- He. Tapi orang miskin sudah bodoh. Siapa
- yang mau ngasih? Ah kita. Maka aku
- enggak perlu pintar-pintar kali aku.
- Maka dibilang orang ternyata bodoh kau
- Salmannya. Enggak apa-apa. H.
- Kenapa? Karena ingin di posisi
- sebetulnya membuat keruh suasana.
- sekarang. He enggak ada yang mau rendah
- hati, "Oh, iya saya salah." Misalnya
- kemarin, baik NU ataupun yang merasa
- dibakar bendera ini, kenapa tidak saling
- sama-sama duduk berbarengan dengan hati
- yang tenang? Nanti saya bilang, "Siapab,
- "Kami sudah tenang, Ustaz." Tapi dia
- enggak tenang. Itu aja sudah menundukkan
- kau tak
- tenang. Respon kau kayak gitu sudah
- menundukkan kau tak tenang.
- Kalau
- tenang kita dihina di Ya Allah saya
- sering melakukan itu soalnya dalam
- kasus-kasus kecil mendirikan pesantren
- di Sawangan itu ya laul kalau saya
- tambah ceritanya Pak Krishna berapa kali
- kita korban uang hanya untuk
- menyelesaikan perselisihan dengan preman
- sekitar situ dan agamanya
- Islam itu bukan sekali dua kali kalau
- saya ceritakan semuanya tapi efek yang
- saya dapatkan adalah apa? Saya jadi
- tentram di sana.
- Saya tidak bergesekan dengan siapapun,
- Pak Krisna. Ada tokoh masyarakat yang
- tiba-tiba menjauh dari saya. Saya selalu
- saya saya datang, saya mohon maaf, Pak.
- Saya salah, saya pendatang di sini.
- Kalau ada kekeliruan dari saya, tolong
- saya diajari. Selalu itu yang saya
- katakan. Padahal tim saya bilang,
- "Enggak, Ustaz, ente enggak salah gini."
- Enggak. Lebih baik saya memposisikan
- diri saya salah dan saya minta maaf jika
- itu memuaskan dia. Kenapa? Apa artinya
- sih saya salah di di mata seseorang?
- demi untuk dama kita. Sudahlah saya
- salah. Kenapa? Kalau memang saya mengaku
- salah supaya kita damai dengan tulus
- ikhlas. Sering saya lakukan. Bahkan
- baru-baru ini, Pak Krisna ada tokoh yang
- menjauh dari kita dan terkesan agak ini
- kita. Saya justru ajak beliau untuk
- membagi 150 sembako. H atas nama beliau.
- Hm. Oh saya saya apa? Ayo kita berjuang
- sama-sama lagi. H teman-teman saya
- bilang ngapain enggak? Inilah strategi
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- berjuang. He gak perlu kita saling
- melawan. Kita sama-sama agama Islam. Gua
- bilang. Oke kita terima telepon lagi.
- Halo. Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam. Ya. Ini maaf. Saya
- Kaharudin. Ustaz Kaharudin. Silakan.
- Apakah Harudin dari Pinangrant.
- Pinangranti. Silakan Pak Harudin.
- Pinangranti.
- Ya. Ini mungkin saya tujukan ke Ustaz
- Salman ini. Ahlin wasahlinha.
- Halo. Ya, silakan Pak. Ya. Jadi gini
- Ustaz ee kebetulan saya ada saudara
- keluarga dari di Palu, Ustaz. Di yang
- korban bencana di Palu. Palu, ya.
- Ah, itu mau ikut ke saya untuk
- dimasukkan ke pesantren. He.
- Nah, saya tertarik untuk masukin ke
- pesantrennya Ustaz Salman gitu. Kalau
- boleh dan apa syarat-syaratnya, Ustaz?
- Dia masih baru tamat SD, Ustaz. Nanti
- laki-laki perempuan laki-laki bawa
- enggak ada syaratnya, Pak. Yang penting
- hidupnya hidungnya ngadap ke bawah.
- Enggak, Pak.
- Iya. Enggak ada syaratnya, Pak. Bawa aja
- ke pesantren. Iya. Baik, Ustaz. Iya,
- Ustaz. Apalagi korban bencana enggak ada
- syaratnya. Bawa aja. Iya. Jadi anak
- yatim, Ustaz. Jadi dia bapaknya sudah
- meninggal, tinggal ibunya. Ibunya pun
- sekarang sakit-sakitan, Ustaz. Baik,
- baik, baik. Bawa, Pak. Kalau ada lagi
- dari Donggala, Palu yang kayak gitu
- nasibnya bawa lagi, Pak. Kami terima.
- Insyaallah. Baik, Ustaz. Terima kasih
- banyak, Ustaz. Terima kasih banyak, Pak.
- Kadiran. Terima kasih. Iya.
- Asalamualaikum, Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Untuk Pak
- Karudin kalau bisa telepon lagi untuk ee
- mengetahui nomor telepon Ustaz Salman ya
- atau alamatnya Kris ke Pak Krisna atau
- ke radio ya telepon biar nanti dikasih
- alamatnya biar dibimbing ke arah
- pesantren. Apalagi korban Palu Donggala
- Sigi, Pak. Kalau memang Bapak punya lagi
- stoknya saya enggak saya enggak saya
- nutup batas dah kalau untuk mereka yang
- di sana gitu loh. Ada 2 3 4 5 6 enggak
- apa-apa. Apalagi korban ya apalagi kita
- hanya baru bisa menerima laki-laki kalau
- perempuan. Makanya saya tanya laki-laki
- enggak. Karena kalau perempuan bukan
- saya enggak mau terimanya, belum ada
- tempatnya. Nah, itu kalau laki-laki
- ahlan wasahlan wa marhaba dan syaratnya
- mau dia belajar sama kami. Sudah cukup.
- Oke. Asalamualahan. Tadi surat yang
- dibacakan di Al-Qur'an tuh surat apa
- yang harusnya kita memaafkan kepada
- orang yang bersalah? Surah Fusilat atau
- surah
- ke-41 ayat 34.
- Hm. Kalau maaf berhadiah surga seluas
- langit dan bumi itu Ali Imran ayat 134
- 135, Pak Krishna. Hm. Doakan pemirsa
- agar saya lebih rajin mempelajari
- Al-Qur'an sehingga saya bisa kawinkan
- antara sirah nabawi dan Al-Qur'an yang
- indah ini. Luar biasa ini, Pak. Oke.
- Luar biasa. Luar biasa. Baik, Ustaz.
- Kita sudah dibatasi waktu. Mohon maaf
- untuk Anda yang sudah kirim SMS tidak
- dapat kami bacakan semuanya karena
- keterbatasan waktu dan jangan lupa ee
- lusa eh besok besok hari Sabtu ada
- pengajian di Masjid Nanjar bersama Ustaz
- Husin Natas, Ustaz Hamzah Alatos,
- kemudian Ustaz Umar Ibrahim juga Ustaz
- Fawas Abi Zawiyah tempatnya di Masjid
- Takqwa Nanjar, Jalan Cendrawasi Sawah
- Baru Ciputat dekat rumahnya Ustaz Salman
- yang lama ya. Iya. Kemudian hari Ahadnya
- ada pengajian Ahad pagi bersama Ustaz
- Husin Alatas dan Ustaz Heri Nurdi mulai
- pukul 8.00 sampai dengan menjelang ee
- zuhur. Tempatnya di Masjid Silaturahim,
- Jalan Masjid Silaturahim Kalimangis
- Cibubur. Baik, terima kasih atas
- perhatian Ustaz. Barangkali mau kasih
- terakhir penutup atau menutup wafu,
- maafkanlah. Ee karena memaafkan itu
- membuat kita menang. Sudah. Wallahuam.
- Oke, baik. Terima kasih Salman. Saya
- Muhammad Krishna Fajar Hidayah dan
- Muhammad Fahri Atar. Eh, oh
- Anis. Anis Mualim. Mohon pamit.
- Wabillahi taufik walhidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam.
- [Musik]
- [Musik]
- Allahu
- Akbar. Allahu
- Akbar. Lailahaillallah.
- [Musik]
- Yeah.