Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil
- alamin. Allahumma sholli ala Muhammad wa
- ala ali Muhammad wa ba'du. Dipancarkan
- dari Jalan Masjid Silaturahim nomor 36
- Kalimanggis, Cibubur, Bekasi. Radio
- Silaturahim dan Rasil Visual untuk Islam
- yang satu. Bagaimana kabarnya Iwan
- Akhwat di siang hari ini? Semoga selalu
- semangat dalam menjalankan segala
- aktivitasnya dan tentunya yang kita
- harapkan bersama ialah semoga kita
- selalu dalam perlindungan Allah
- subhanahu wa taala. Amin ya rabbal
- alamin. Dan senang sekali Wahwat jumpa
- lagi bersama kami dalam tausiah siang.
- Dan kali ini saya Panji Ahmad akan
- menemani ikhwan dan akhwat ee dalam
- tausiah siang bersama Ustaz Ahmad Zaki.
- Dan alhamdulillah di Senin hari ini kita
- live dan sudah ee dan beliau sudah hadir
- bersama kami di studio. Mari kita sapa
- terlebih dahulu. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Kabar sehat, Ustaz?
- Alhamdulillah sudah semakin baik.
- Insyaallah. Alhamdulillah. Baik nah di
- edisi kali ini hari Senin 25 Rabiul Awal
- 1440 Hijriah atau bertepatan dengan 3
- Desember 2018. Ee Ustaz masih dalam
- kitab atau bahasan kajiannya itu e kitab
- Mukhtarul Ahadis An-Nabawiyah. Dan bagi
- wanat baik mendengarkan kami melalui
- kanal 720 AM ataupun melalui ee channel
- kami di YouTube yaitu Rasil TV. Karena
- kita live, kita akan membuka sesi tanya
- jawab di sesi kedua. Nanti bisa dicatat
- dari sekarang nomor ee hubungnya yaitu
- untuk SMS ataupun WhatsApp. Silakan
- kirim pertanyaannya ke nomor
- 081199720. Adapun untuk ee nomor
- interaktif kami silakan hubungi ke nomor
- 0218451512.
- Sebelum kita melangkah lebih jauh lagi,
- mari kita buka tausiah siang kali ini
- dengan doa thabul ilmi. Rbana zidna
- ilman nafi'an warzuqna fahman taman.
- Amin ya rabbal alamin. Dan baiklah
- akhwat tausiah siang bersama Ustaz Ahmad
- Zaki dalam kitab Mukhtarul Ahis
- anabawiyah. Kepada Ustaz kami
- persilakan.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi hamdan yuwafiamahu wa
- yukafiu
- mazidah. Ya rabbana lakal hamdu kama
- jalalik
- waimanik. Subhanakallahumma lah alika
- anta
- kamaita nafsik.
- Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la
- syarikalah wa ashadu anna sayyidana wa
- nabiyana Muhammadan abduhu wa
- rasuluh. Allahumma fasolli wasallim
- wabarik waadzim ala abdika wa rasulika
- Muhammadin wa ala alihi wasahbih.
- Shatan wasalaman daimaini mutalazimaini
- ila
- yaumiddin. Amma
- ba'd. Para
- pendengar radio silaturahim yang
- dirahmati Allah.
- Alhamdulillah baru saja kita kaum
- muslimin di Indonesia dan di Jakarta
- khususnya baru saja
- kita
- mengadakan reuni
- 212 yang
- alhamdulillah semua terlaksana sesuai
- harapan
- Saya perhatikan cuacanya pun
- bagus, keadaan di sana pun sangat
- tertib.
- terjadi
- keharmonisan, saling
- menghargai, saling membantu, saling
- menyapa satu sama lain.
- akan saya perhatikan juga melalui
- YouTube ee
- bagaimana
- tentara
- menyapa saudara-saudara kita kaum
- muslimin dengan begitu
- haru dan alhamdulillah semuanya berjalan
- dengan baik dan insyaallah semuanya
- sesuai
- harapan dan mudah-mudahan untuk ke
- depannya tentunya akan semakin lebih
- baik
- lagi dan
- mudah-mudahan apa yang
- kita peringati kemarin pagi semoga
- mendapatkan keridaan Allah Subhanahu wa
- taala. Semoga menjadi sesuatu yang
- bermanfaat untuk negara, agama dan
- bangsa.
- Para pendengar Radio
- Silaturahim, sebelum kita lanjutkan
- kajian ini, seperti biasa marilah kita
- awali dengan ummul Quran suratul
- Fatihah. Semoga Allah memberikan
- keberkahan pada hidup kita. Allah
- panjangkan umur kita dalam taat
- kepadanya.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin
- arrahmanirrahim maiki
- yaumiddin iyaka na'budu wa iyyaka
- nastain ihdinasiratal
- mustaqimathalladzina an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim
- waladin.
- Amin. Para
- pendengar radio
- silaturahim yang dirahmati Allah.
- Insyaallah ke depan kita akan membacakan
- beberapa hadis-hadis Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam yang
- berkenaan dengan keseharian kita,
- berkenaan dengan kehidupan kita
- berbangsa, bernegara,
- bermasyarakat. Dan hadis-hadis tersebut
- juga sekaligus terapi untuk jiwa kita
- semua.
- Yang
- pertama ruya an rasulillahi sallallahu
- alaihi wasallam salatun munjiat.
- Ada tiga hal dalam hidup kita
- ini yang
- insyaallah
- ketika ketika tiga-tiganya ada pada diri
- kita, insyaallah akan membawa
- kebahagiaan, keselamatan dunia dan
- akhirat. Karena Rasulullah katakan
- salatun munjiat. Ada tiga hal yang dapat
- munjiat.
- menyelamatkan ya annatu
- keselamatan almunjiah atau
- almunji yang
- menyelamatkan. Nah, ini munjiat jamak
- dari munjiatun yang
- menyelamatkan. Jadi ada tiga faktor
- dalam hidup
- kita atau yang harus menjadi sikap kita,
- jiwa kita.
- Pertama,
- khasyatullah fisirri wal
- alaniah.
- Khasyatullah. Kita sudah sering dengar
- kata-kata
- khasyiah. Kita takut kepada
- Allah. Kita juga sering mendengar
- kata-kata
- takwallah, takut kepada Allah Taala.
- Jadi
- khasyatullah kita takut kepada Allah,
- kita punya rasa malu kepada Allah, kita
- sadar diri siapa kita? Siapa Allah
- Taala karena kita sadar
- diri untuk apa kita
- diciptakan, ke mana kita akan kembali.
- Jadi khasyatullah fis sirri wal alaniah.
- Kita takut kepada Allah
- Taala
- fisirri. Baik dalam keadaan sir, tidak
- terlihat di ruang
- tertutup di saat kita seorang diri.
- Wal alaniah ini kebalikan dari sir.
- Kalau sir itu tidak terlihat,
- tersembunyi rahasia, maka
- alaniah terlihat orang di tengah-tengah
- keramaian.
- Kalau di depan
- orang, depan halayak ramai, di depan
- umum, banyak orang yang menampakkan
- kebaikan. Ada istilah di anak-anak
- sekarang ini istilah jaim ya, jaga
- image.
- Sebenarnya saya tidak seperti apa yang
- saya nampakkan di permukaan.
- Saya tidak sebaik apa yang
- nampak di zahir
- saya, tapi saya
- bikin-bikin, saya
- paksakan karena saya punya tujuan, saya
- punya maksud, saya punya kepentingan.
- Semua bisa saya
- bikin-bikin, saya
- godok, saya make up diri
- saya persis seperti seorang yang
- sebenarnya tidak
- cantik, tapi karena di-make up,
- dipoles, jadilah seorang yang cantik.
- Begitu
- pula orang yang tidak baik, orang yang
- bukan orang yang saleh, orang ahli
- maksiat, tapi semuanya karena demi
- kepentingan, karena punya tujuan, jaga
- image. Akhirnya dibikin-bikin semuanya
- menjadi sebuah drama
- sandiwara. Dalam Islam kita diajarkan
- kejujuran.
- Tidak
- boleh
- kita mentazkiah diri kita seolah-olah
- diri kita orang baik padahal kita bukan
- orang
- baik. Makanya dalam Al-Qur'an Allah
- nyatakan, "Fala tuzak
- anfusakum." Jangan kalian semuanya
- menganggap kalian paling baik atau tuzak
- anfusakum. Kalian bikin-bikin mentazkiah
- diri.
- Seolah-olah kita orang yang terbaik atau
- paling tidak seolah-olah kita orang yang
- baik, orang yang
- saleh. Huau bimanittaqo. Allah yang maha
- tahu. Siapa di antara kita yang
- sesungguhnya bertakwa kepada Allah
- Subhanahu wa taala? Muslim yang
- sesungguhnya. Jadi dalam Islam hanya ada
- kejujuran.
- Al-adlu keadilan. Assidu kebenaran,
- kejujuran. Islam memerangi penyakit
- nifaq,
- kemunafikan
- yang Allah ee Rasulullah gambarkan
- bagaimana
- karakter orang-orang munafik. Di
- antaranya idza haddasa kadab. Kalau
- berbicara manis. Enak meyakinkan orang,
- tapi
- sesungguhnya semuanya adalah
- kamuflase, semuanya ada
- hiasan pemanis bibir. Sehingga orang
- banyak tertipu dengan kata-kata indah
- kita. Waidza wa'ada akhlafa. Bila
- janji ingkar memang tidak ada niat yang
- benar.
- Tidak ada niat untuk menepati janji
- hanya karena
- kepentingan. Omongannya begitu indah,
- ucapannya, tutur katanya begitu
- manis, muatan-muatannya sangat
- menjanjikan,
- menggiurkan, memberikan
- harapan. Tapi waid wa'da akhlafa. Bila
- berjanji akan melakukan ini, akan
- melakukan itu, akan melakukan kebaikan.
- Akhlafa sebagai kebiasaan orang
- munafik
- adalah
- berkhianat. Akhlafa menyalahi,
- mengingkari
- janji. Waidza tumina kona. Yang ketiga,
- bila diberikan amanah, diberikan mandat,
- khana, pasti dia akan berkhianat.
- dia enggak akan memenuhi janji. Karena
- bukan itu yang menjadi tujuan. Bukan
- untuk menunaikan tugas, bukan untuk
- melaksanakan amanah. Bukan itu yang dia
- inginkan, tapi sebuah kedudukan,
- penghormatan,
- materi. Nah, itulah yang sulit bagi
- kita. Kalau
- sekedar kita di hadapan orang lain
- semuanya saya kira yang andai kata kita
- malu melakukan
- di apa? Di hadapan orang tapi belum
- tentu kita tidak malu ketika tidak ada
- orang. Nah, kalau Islam mengajarkan
- kejujuran sama.
- Kalau kita malu, kita tidak akan lakukan
- di saat kita
- sendiri. Di hadapan orang lain pun kita
- tidak akan lakukan. Kita tidak akan
- memperindah nama baik
- kita. Kita citrakan seolah-olah diri
- kita ini orang yang baik, yang
- amanah, orang yang memiliki kejujuran,
- menegakkan keadilan. Tapi sebenarnya
- sebaliknya. Nah, ini di antara sifat
- yang akan membawa keselamatan
- kebahagiaan kita dunia dan akhirat
- adalah khasyatullahi fis sirri wal
- alaniah. Kita takut kepada Allah Taala
- baik dalam keadaan sendiri, di ruang
- tertutup, tidak ada yang melihat. Sama
- saja buat kita ketika kita berada di
- tengah-tengah masyarakat. orang lihat
- bagaimana sikap kita tidak ada
- perbedaan. Sama juga dengan halnya
- dengan hujatan dan
- pujian. Bagi orang-orang yang saleh,
- yang baik, yang taat kepada Allah Taala
- enggak ada bedanya. Saya mau dihujat,
- saya mau dipuji setinggi langit, enggak
- ada bedanya buat saya. Itu itu
- juga ini bukan sesuatu yang gampang.
- sudah menjadi tabiat kita manusia,
- karakter kita yang sudah melekat sejak
- kecil. Kita senang terhadap pujian itu
- tabiat manusia. Dan kita enggak suka
- hujatan. Ketika kita dihujat, ketika
- kita dikritik, memang itu kesalahan dan
- kekurangan kita. Apa salahnya kita
- terima. Kemudian
- soal kebaikan atau kelebihan yang ada
- pada kita, kita pun tidak perlu
- berbangga.
- Karena
- semuanya merupakan hadiah anugerah dari
- Allah Taala. Lalu apa yang kita
- banggakan? Inilah sikap hati, perbuatan
- hati ini amat sulit. Nah, ketika kita
- sudah bisa mengalahkan nafsu
- kita, kita
- bisa mengedemankan akal
- sehat, hati nurani, agama Allah,
- kebenaran di atas
- segalanya, barulah kita menjadi mukmin
- yang sejati. barulah kita termasuk
- orang-orang yang akan selamat bahagia di
- akhirat
- nanti. Kemudian
- kedua, almunjiah penyelamat kedua adalah
- wal adlu fir wal ghadab.
- Al-adlu. Kita
- bijak, adil, tidak pilih kasih, tidak
- tebang pilih. Kita tempatkan sesuatu
- pada
- tempatnya firid wal ghadab. Dalam
- keadaan suka atau dalam keadaan murka
- waktu kita senang ataupun waktu kita
- kesal.
- Kalau kita lagi senang kepada seseorang,
- kita cinta kepada seseorang, kita ada
- punya maksud, tujuan, apalagi kita punya
- harapan kepada
- seseorang, apakah kita
- mampu mengedepankan akal sehat dan agama
- kita atau tidak?
- Kalau kita karena kecintaan kita
- terhadap sesuatu, terhadap orang-orang
- yang kita
- sukai, kita
- mengidolakan orang-orang
- tertentu, biasanya ketika kita sudah
- mengidolakan seseorang, ketika kita
- sudah ada
- kepentingan, ketika kita punya maksud
- dan
- tujuan, biasanya kita mengangkat
- seseorang orang memuji-muji seseorang,
- mendewa-dewakan seseorang melebihi
- kapasitasnya. Dalam Islam tidak boleh.
- Kita boleh cinta kepada siapapun juga,
- tapi jangan sampai melebihi
- kapasitas orang tersebut dari
- sesungguhnya.
- Ah, sebagaimana kita dalam
- Islam, kita boleh cinta kepada Nabi,
- tapi kecintaan kita tidak boleh melebihi
- dari keberadaan Nabi sebagai makhluk
- Allah, Abdullah, dan utusan
- Allah. Ketika saya cinta kepada Nabi
- Muhammad, karena berlebihan cinta saya,
- saya katakan bahwa Nabi Muhammad adalah
- anak Allah, anak Tuhan.
- Padahal sesuai dengan keyakinan kita,
- Abdullah wa Rasuluh, hamba Allah dan
- utusannya. Kita cinta kepada Nabi,
- mengikuti sunahnya, membela agamanya,
- menjalankan
- sunahnya. Kita cinta kepada keluarganya,
- kepada para sahabatnya, tapi tidak
- melebihi dari apa yang telah ditetapkan
- oleh Allah Subhanahu wa taala. Kalau
- saya cinta melebihi seperti ini, maka
- cinta saya, kebaikan saya berbalik
- menjadi
- keburukan. Begitu juga karena saya cinta
- kepada seseorang, saya punya
- harapan.
- Lalu kesalahannya pun saya
- benarkan, kekurangannya saya anggap
- kelebihan. Itu sebuah kesalahan.
- Jadi di sini aladlu fir walhadab. Kita
- harus tetap konsisten, jujur, menjunjung
- tinggi
- kebenaran baik di saat kita rida ataupun
- di saat kita enggak suka kepada
- seseorang.
- Sebaliknya, karena saya enggak suka
- kepada
- seseorang, padahal orang tersebut baik,
- padahal orang tersebut
- jujur, punya
- kapasitas berkompeten di
- bidangnya. Tapi karena saya enggak
- suka, saya enggak searah, saya enggak
- enggak tidak satu tujuan, saya bukan
- satu partai, saya bukan satu organisasi.
- Kemudian saya cemooh
- perjuangannya, saya hina usaha
- kerasnya, saya lecehkan nama
- baiknya, saya
- cemarkan situ
- kehormatannya. Berarti kita bukan orang
- yang jujur.
- Padahal Rasulullah mengajarkan kita apa?
- Aladlu firidha wal ghadab.
- Tetap tegakkan kebenaran, junjung tinggi
- kejujuran. Baik di saat kita suka
- ataupun di saat kita murka. Di saat kita
- suka, jangan sampai kita kesukaan kita,
- kecintaan kita melebihi dari kapasitas
- seseorang sampai akhirnya yang
- salahnya salahnya kita
- benarkan, kekurangan kekurangannya kita
- anggap itu satu kelebihan.
- Padahal semuanya sikap kita akan
- membahayakan diri kita dan orang
- tersebut. Nah, begitu juga sebaliknya
- karena kebencian kita padahal orang
- tersebut baik, saleh, jujur,
- bermanfaat, kemudian kita lecehkan
- dengan berbagai cara, kita musuhi, kita
- sakiti, kita cemarkan nama
- baiknya. Ini bukan perbuatan yang baik,
- perbuatan yang dimurka oleh Allah.
- Subhanahu wa taala. Karena itu perbuatan
- orang-orang
- munafik. Haddasa kadaba. Bila berbicara
- dusta yang ada di hatinya enggak seperti
- itu, kebenaran tetap kasat mata kita,
- hati nurani kita enggak bisa membohongi
- diri kita. Kalau kita lihat bahwa orang
- tersebut tidak baik, orang tersebut
- salah, hati kita mengatakan iya, tapi
- mulut kita yang memuji-muji. Begitu pula
- ketika kita melihat orang lain ini
- benar, tapi karena tidak satu partai
- dengan saya, bukan satu organisasi, maka
- saya huj, saya lecehkan, saya hancurkan
- nama
- baiknya, saya bunuh karakternya. Itu ada
- kerjaan orang-orang munafik.
- Kemudian yang
- ketiga, faktor penyelamat kita. Walqasdu
- fil faqri wal
- gina. Hidup
- sederhana. Baik dalam keadaan tidak
- mampu, dalam keadaan tidak punya uang,
- atau dalam keadaan banyak
- uang. Hidup ini bagaikan
- roda. Di satu saat kita ada di bawah,
- besok kita akan ada di atas. Besok kita
- akan ada di
- tengah-tengah. Dulu ada yang masa
- kecilnya
- bahagia, hidup penuh dengan
- kemewahan. Tak lama ibu bapaknya
- meninggal, kemudian berubah nasibnya
- menjadi gembel, menderita.
- Sebaliknya ada yang dulunya gembel,
- seorang pemulung, anak
- pemulung
- cacat.
- Kemudian di masa
- remajanya, di masa dewasanya menjadi
- orang yang amat bermanfaat, terhormat,
- disegani, dan orang yang memiliki
- kekayaan banyak. Semuanya itu dunia
- berubah-rubah.
- Dulu saya kecil, saya muda, saat ini
- saya sudah dewasa, saya sudah tua, dan
- besok saya akan menjadi lansia. Dulu
- saya sakit, sekarang saya sehat. Kemarin
- saya sakit, saat ini saya sehat. Itulah
- keadaan dunia. Nah,
- bagaimana keadaan yang senantiasa
- berubah-ubah kita hadapi dengan satu
- prinsip yang tidak akan berubah-ubah.
- Karena kalau kita mengikuti sesuatu yang
- berubah-ubah, kita tidak punya prinsip,
- kita tidak akan bisa bahagia. Kita tahu
- bagaimana kapal laut itu berlabuh dari
- mulai berlayar sampai
- berlabuh berapa ribu
- kilometer. Tamparan hantaman ombak,
- angin yang terus-menerus.
- Tapi
- tetap apapun yang dia alami di tengah
- jalan tetap dia tidak bergerak, dia
- tidak mengikuti arus ombak, tidak
- mengikuti arus angin. Dia
- tetap menuju ke satu
- tujuan. Begitu pula pesawat terbang.
- Kita tahu bagaimana di udara hempasan
- angin yang begitu
- dahsyat, tapi tetap dia berjalan dengan
- begitu cepat sampai akhirnya landing di
- tempat
- tujuan. Begitu juga kita dunia ini dari
- mulai kita dilahirkan sampai kita
- meninggal dunia penuh dengan ujian
- cobaan, penuh dengan hal-hal yang tidak
- menentu hantaman dari sana sini. Kalau
- kita tidak punya pendirian, kita tidak
- sikapi dengan sikap yang teguh, prinsip,
- maka kita tidak akan mencapai tujuan.
- Jadi karena keadaan ini berubah-ubah
- maka tetap kita alqasdu kita konsisten
- di saat kita
- miskin jangan kita berputus asa. Di saat
- kita senang, di saat uang banyak, di
- saat menduduki jabatan, ingat kemarin
- kita miskin, kemarin kita enggak punya
- apa-apa. Jangan
- berlebihan. Jangan ngikuti hawa nafsu.
- Makan semaunya, jalan-jalan ke sana
- kemari. Ikuti nafsu benar-benar bahwa
- dunia, ingat bahwa dunia ini tidak
- selamanya berada di atas. Besok kita
- akan jatuh. Di saat
- jatuh kita
- akan merana, kita akan berduka
- sesedih-sedihnya karena tidak siap
- untuk
- ada di satu keadaan yang kita tidak
- inginkan.
- Kalau dari susah ke senang itu biasa.
- Tapi kalau dari senang uang
- banyak pejabat
- kemudian jadi orang
- fakir, jadi orang
- gembel, luar biasa
- penderitaannya. Nah, jadi alqasdu fil
- faqri wal gina. Hidup penuh dengan
- kesederhanaan. Jangan berlebihan.
- Ingat di saat kita susah jangan berputus
- asa. Jangan gara-gara kita susah kita
- enggak ibadah, kita enggak
- salat, kita maksiat. Ingat bahwa setelah
- ini inna maal usri yusron. Inna maal
- usri yusro. Setelah kemudahan datang ada
- setelah kesulitan akan ada kemudahan.
- itu senantiasa seperti
- itu. Nah, jadilah kita muslim yang punya
- prinsip tetap alqasd kita berada di
- tengah-tengah. Jadi di saat kita senang,
- kita tidak lupa daratan, kita ingat
- bahwa setelah di balik kesenangan ini
- akan ada kesulitan. Di saat kita sulit,
- kita ingat bahwa di hadapan kita akan
- ada pertolongan Allah Subhanahu wa
- taala. Begitu juga kita hidup di dunia
- yang
- susah, yang penuh dengan perjuangan,
- penuh dengan pengorbanan, penuh dengan
- air mata. Ingat, setelah dunia ini akan
- ada akhirat. Di sanalah tempat tinggal
- kita yang sebenarnya. Begitu pula
- Anda-anda semua. Kita semua yang
- sombong, yang angkuh, yang menduduki
- jabatan, punya kekayaan.
- Ingat bahwa di balik kemewahan yang kita
- rasakan pada saat ini ada satu azab yang
- akan membuat kita menangis untuk
- selama-lamanya. Itulah tiga faktor yang
- membawa kebahagiaan kita. Nah, di
- samping tiga faktor almunjiah yang
- menyelamatkan faktor penyelamat, ada
- lagi nanti muhlikah. Jadi ada munjiah
- yang menyelamatkan, ada muhlikah yang
- membinasakan.
- Di sini di saat yang bersamaan kemudian
- Rasulullah katakan watun
- muhlikat. Ada tiga faktor yang akan
- membinasakan kita, yang akan membawa
- kita kepada satu
- kehinaan, kemalangan.
- Yang pertama, hawan
- mutta
- hawa ini bahasa Arab ya, tapi sudah
- masuk ke bahasa Indonesia. Kita sering
- bilang hawa
- nafsu. Padahal itu dua ya, dua kalimat.
- Ada hawa, ada nafs. Alhawa dan an-
- nafs.
- Alhawa, hawa
- yahwi itu ingin, keinginan,
- kecenderungan cinta. Itu namanya
- hiwayah,
- kecenderungan. Kalau
- saya suka makan dengan nasi padang, nah
- berarti anak ahwi tuh saya cenderung
- saya suka nasi
- padang ya. Hiwayah itu
- masdarnya. Jadi masdarnya hiwa atau
- alhawa hawa yahwi. Hawan dan hiwayatan.
- Nah, jadi ee Hawa ini keinginan,
- kecenderungan atau
- keberpihakan. Jadi, baik itu keinginan
- nafsu terhadap makanan, minuman,
- termasuk nafsu kepada jabatan, nafsu
- kepada materi, nafsu kepada nafsu birahi
- itu alhawa ya secara umum ini kalau
- annafs. Annafs itu jiwa, jiwa manusia.
- Nah, jiwa manusia ini pada dasarnya kita
- suka yang enak-enak, kita suka
- dihormati, kita enggak ingin susah, kita
- enggak ingin menderita, itu jiwa
- kita. Jadi, hawa an nafas, kecenderungan
- jiwa kita ini itu Allah gambarkan dalam
- Al-Qur'an. Wa innan nafsa la ammaratun
- bisu. Nah, nafsu ini seringki membawa
- manusia untuk melakukan hal-hal yang
- dilarang oleh Allah Taala. Itu Nabi
- Yusuf mengatakan, "Ya Allah, ceritakan
- dalam Al-Qur'an." Wa innan nafsa
- laarudun bisu. Walaupun nanti ada yang
- namanya annafsul lawwamah, annafsul
- mutmainah, tapi sebelum itu semua maka
- nafsu ini akan membawa kita, mendorong
- kita untuk bersenang-senang.
- tanpa melihat akibat setelah kita
- mengikuti
- nafsu. Jadi, semuanya
- kesalahan-kesalahan yang kita lakukan
- itu karena di depannya nafsu yang
- mengendalikan. Setelah kita lakukan baru
- terjadi
- penyesalan. Banyak orang melakukan
- kesalahan semuanya nafsu. Seolah-olah
- itu benar di depan di
- hadapannya. Jadi nafsu ini menjadi
- menjadi raid, menjadi pemimpin. Dia
- ikuti nafsunya. Jadi fisik kita ini cuma
- tinggal mengikuti nafsu kita. Nafsu kita
- yang mengendalikan jiwa apa? Diri kita,
- fisik kita. Apa kata nafsu kita? Maka
- kita akan anggota badan ini akan
- mengikuti nafsu, ya. Nah, itulah yang
- namanya al-hawa, ya. Nah, jadi kata
- Rasulullah yang dapat ee membinasakan
- seseorang adalah hawan mutta nafsu yang
- ditaati, yang
- diikuti. Nafsu ini bagaikan anak kecil.
- Annafsu syabba ala hubbir ya inuhmilhu
- alubir. Bila Anda biarkan, bila Anda
- manja anak-anak kecil
- ini, maka dia akan jadi manja.
- Nah, kita lihat ya, ada anak-anak kecil
- yang mungkin baru 1 tahun bahkan kurang
- dari 1 tahun ada yang baru 5 bulan, 6
- bulan, 7 bulan sudah disapi, enggak
- disusui lagi sama ibunya. Ada. Tapi ada
- lagi sudah 2 tahun masih nyusu sama
- ibunya. Bahkan ada yang sampai masuk SD
- masih nyusu juga. Bahkan ada yang masuk
- SMP. Bahkan saya juga pernah kenal,
- pernah punya tetangga yang sudah kelas
- SMA. Bayangkan sudah anak SMA tapi masih
- nyusu juga sama ibunya. Karena apa?
- Karena
- inmilhu bila Anda biarkan enggak disapi
- sejak kecil, maka terus sampai SMA dia
- masih nyusu pada ibunya.
- ini bukan mengada-ada tapi saya pernah
- melihat beberapa kali. Jadi saya
- benar-benar fakta ya. Dan bukan cuma
- saya saja, masih ada lagi yang saya
- tidak tahu. Bahkan Bapak Ibu pernah
- mengalami hal seperti ini. Nah, itulah
- yang namanya nafsu. Hawan
- mutta nafsu yang ditaati, yang selalu
- diikuti kemauannya. Nafsu ini enggak ada
- habisnya.
- Tapi kemampuan kita ada batasnya. Fisik
- kita ini ada
- batasnya. Umur kita makin tua makin tua.
- Kalau ngikuti nafsu enggak habis-habis.
- Saya pengin makan ini, suka makan itu.
- Padahal penyakit saya sudah
- banyak. Tubuh saya enggak bisa menampung
- makanan, minuman yang begitu banyak,
- yang keras-keras.
- Tapi nafsu saya
- terus kita rata-rata suka makan duren
- tapi yang sudah terkena darah tinggi,
- kena
- diabet enggak akan mampu fisiknya. Yang
- tidak kena apa-apa saja, yang masih
- sehat
- 100% enggak bisa kita makan duren
- sebanyak-banyaknya. 10 kilo, 20 kilo, 30
- kilo. Akan berbalik nanti fisik kita.
- Nah, jadi semua ada batasnya. Umur kita
- ada batasnya, fisik kita ada
- batasnya, tenaga kita ada batasnya. Nah,
- tidak mungkin kita mengikuti sesuatu
- yang enggak terbatas. Pasti yang
- terbatas ini akan dikalahkan oleh nafsu
- yang tidak punya batas.
- Kemudian yang kedua yang dapat
- membinasakan seseorang syuhun
- mut ini hampir sama dengan mutta syuhun
- ini bagian dari nafsu juga. Nafsu
- manusia itu sayang cinta harta. Biasanya
- kalau cinta harta itu pelit. Karena saya
- cinta saya enggak mau keluarkan. Saya
- yang bersusah payah saya yang cari. Masa
- iya saya harus keluarkan dengan
- gampangnya. Saya bersusah payah. Jadi
- seorang dokter, jadi seorang insinyur,
- jadi seorang
- gubernur bukan sesu sesuatu yang
- gampang. Wajar kalau gaji saya besar,
- uang saya
- banyak. Karena saya jadi gubernur, saya
- jadi menteri. Tapi bagaimana perjalanan
- saya jadi menteri, jadi gubernur, jadi
- dokter, insinyur, dosen, dan sebagainya
- itu perjalanan yang panjang. Dari itu
- setelah kita peroleh
- semua, kita ukur dengan perjuangan kita.
- Akhirnya kita cinta dunia, kita pelit.
- Nah, ketika kita sudah cinta dunia,
- ketika kita sudah terjangkit penyakit
- pelit, maka penyakit pelit tadi akan
- membinasakan kita.
- Walaupun kita bersusah
- payah dalam waktu yang cukup lama,
- berjuang untuk mendapatkan apa yang saya
- dapati pada saat ini. Tapi yang namanya
- dunia
- walaupun bersusah payah saya peroleh,
- tapi enggak mustahil. Besok saya akan
- jatuh, besok jabatan saya akan ada di
- tangan orang
- lain. Besok saya akan dicopot oleh
- atasan saya.
- Atau mungkin besok saya
- sakit, terkena stroke, bisa saja saya
- mati, saya lepas itu semuanya. Padahal
- saya perjuangkan jabatan yang selama ini
- ada pada saya itu berpuluh-puluh tahun
- dengan bersusah payah.
- Tapi ketika Allah tidak berkehendak,
- maka dengan mudahnya Allah ambil kembali
- dari tangan saya dan Allah serahkan
- kepada orang lain. Jadi ingat bahwa
- setelah kita
- menjabat itu hanya sementara dan
- kemudian akan berpindah ke tangan orang
- lain dan setelah itu hanya ada hisabnya
- pada kita yang begitu
- sulit yang akan membuat kita menderita
- untuk selama-lamanya.
- Ketika kita terjangkit penyakit syuhun
- mut pelit yang selalu kita turuti, cinta
- dunia yang kita taati yang membuat kita
- tidak punya belas kasih kepada orang
- lain, yang membuat kita keras hati kita,
- enggak punya rahmah, enggak mau menolong
- orang lain, enggak mau tahu penderitaan
- orang
- lain. Karena kita ukur dengan usaha
- kita, penderitaan kita, susah payah
- kita.
- Nah, padahal semuanya itu tidak ada
- artinya di hadapan Allah
- Taala yang kita nikmati sebentar,
- sesaat, tapi hisabnya selama-lamanya.
- Kemudian yang ketiga, faktor pembinasa
- yang ketiga, waabul mari binafsih. Bila
- kita semuanya sudah bangga dengan diri
- sendiri, mengagumi diri sendiri, kita
- kagumi kekayaan kita, kita banggakan
- jabatan kita, banggakan ketampanan kita,
- kecantikan kita, kepintaran kita,
- penemuan-penemuan kita. kita banggakan
- kesuksesan kita, karir kita dan
- sebagainya. Nah, ketika kita sudah
- mukjib ya, ketika seorang sudah mukjibun
- binafsih, mengagumi dirinya, nganggap
- dirinya
- hebat. Karena kita anggap diri kita
- hebat, dihormati orang,
- dibanggakan, dipuji-puji,
- diangkat-angkat, akhirnya kita merasa
- bangga. Kita merasa di atas. Ketika kita
- sudah merasa di atas, akhirnya kita
- sombong. Karena kita sudah
- sombong, definisi sombong kata
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- adalah batharul haq. Kita menolak,
- menggilas
- kebenaran. Menolak kebenaran saja sudah
- tidak boleh. Apalagi kebenaran tadi kita
- gilas, kita tidak mau terima. itu yang
- lebih berbahaya
- lagi. Dan zalim kepada orang banyak.
- Itulah definisi sombong. Nah, jadi
- semuanya ini ijabul mari binafsih. Orang
- mengagumi diri sendiri berarti sombong.
- Nah, kalau sombong orang sudah
- meninggikan dirinya, mengangkat dirinya,
- maka dengan mudahnya tergelincir akan
- jatuh ke jurang kehinaan.
- Nah, oleh karena itu sombong ini
- merupakan penyakit yang amat dibenci
- oleh Allah Subhanahu wa
- taala. Sombong
- ini
- sebuah
- sifat yang akan membuat membuat
- seseorang lupa siapa dirinya, bagaimana
- masa
- dulunya dan ke mana akan kembali.
- Siapa yang ciptakan dia karena sudah
- berada di atas, maka dia tidak lihat itu
- semua. Yang ada yang dia lihat hanya
- dirinya yang paling tinggi. Padahal
- belum tentu seperti itu juga hanya saya
- menganggap diri saya paling tinggi,
- paling hebat. Apakah orang lain melihat
- saya seperti saya melihat diri saya?
- Belum tentu juga.
- Nah, oleh karena
- itujabul mari
- binafsih. Seorang ketika sudah mengagumi
- dirinya sendiri, maka siap-siap akan
- terjungkal menuju ke jurang. Nyungsep
- bukan saja jatuh, tapi nyungsep. Itu
- lebih enggak enak
- lagi. Luar
- biasa apa yang didefinisikan oleh
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Ini adalah
- terapi. Ini adalah bahan untuk kita
- mengarungi samudra kehidupan. Samudra
- kehidupan penuh dengan hal-hal yang
- menakutkan. Oleh karena itu, Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam memberikan
- bekal kepada kita agar sewaktu kita
- mengarungi samudra kehidupan ini, kita
- sudah membawa bekal yang insyaallah kita
- akan selamat sampai tujuan.
- Kemudian berikutnya mungkin satu lagi
- ruwya Rasulillahi sallallahu alaihi
- wasallamun yudriku
- bihinaldu dunya wal akhirah. Ada tiga
- hal yang kalau kita ingin bahagia, kita
- ingin mendapatkan cita-cita, keinginan
- kita, harapan kita baik di dunia maupun
- di akhirat. Ada tiga faktor lagi di
- sini. Yang pertama asabru alal bala.
- sabar dalam menghadapi berbagai cobaan.
- Jadi apa yang kita pernah hadapi, yang
- sedang akan kita hadapi dan apa yang
- akan kita hadapi nanti, apapun juga
- masalahnya,
- bagaimanapun
- beratnya, bagaimanapun coraknya, sepahit
- apapun
- rasanya,
- tetap antisipasi semuanya itu hanya
- dengan berbekal kesabaran.
- Salat dan
- sabar ini adalah senjata untuk kita
- menghadapi berbagai masalah dalam
- kehidupan. Makanya ada dalam Al-Qur'an
- Allah katakan wastainu bisabri
- wasah. Mintalah pertolongan kepada Allah
- Taala dengan salat, dengan
- sujud dan sabar dalam menghadapi ini
- semuanya. Itulah senjatanya, itulah
- wasilahnya. Sampai akhirnya Allah
- berikan pertolongan kepada kita
- semua. Kemudian warid bilqada. Menerima
- keputusan, menerima ketentuan Allah
- Taala. Kalau orang dapat rezeki senang,
- siapa yang enggak mau? Orang punya istri
- cantik pasti
- mau. Orang mendapatkan jabatan yang
- empuk pasti senang, sehat. Itulah yang
- kita inginkan. Jadi sehat, kemudian
- punya
- jabatan, uang yang banyak, istri yang
- cantik, rumah mewah, itu yang kita
- inginkan
- semua. Tapi
- apakah dunia ini, hidup ini akan
- berjalan sesuai kemauan kita? Belum
- tentu. Yang sudah bersusah payah pun
- harus mengalami pahit getirnya
- kehidupan.
- Apalagi yang tidak pernah berusaha untuk
- mencapai
- kesenangan, belum tentu dia akan
- mencapai apa yang dia inginkan. Nah,
- jadi karena dunia
- ini belum tentu sesuai dengan keinginan
- kita, belum tentu sesuai dengan planning
- kita, cita-cita kita. Bahkan bisa saja
- orang yang
- cita-citanya jadi dosen, enggak tahunya
- jadi tukang ojek.
- Ada yang cita-cita kepengin jadi
- lurah, enggak tahu jadi pemulung. Tapi
- ada lagi orang yang enggak niat jadi
- lurah, enggak niat jadi
- camat. Niatnya saya pengin hidup di
- Jakarta narik
- beca daripada saya di kampung bertani,
- bercocok tanam
- cuma kotor dengan lumpur. Enggak ada
- niat mau jadi lurah. Cuma ingin mau
- narik becak biar punya uang karena
- instan. Kalau nanam manen itu lama
- hasilnya. Tapi kalau saya narik becak di
- Jakarta ini pada saat itu spontan cuma
- 10 menit dari sini ke depan saya dapat
- uang
- Rp10.000. Enggak niat jadi lurah. Enggak
- tahunya nasib bicara
- beda. Jadi seorang lurah hanya jadi
- tukang becak sebentaran kemudian jadi
- lurah untuk dua periode dan seterusnya.
- Jadi pegawai negeri dan
- seterusnya. Itulah keadaan. Nah, jadi
- arri bilqada kita nerima berlapang dada
- dengan keputusan
- Allah. Kita boleh berusaha, kita boleh
- berdoa silakan.
- Tapi apakah keinginan kita sama dengan
- iradah Allah, dengan keputusan Allah?
- Belum tentu juga. Nah, jadi apa yang
- Allah tetapkan kita tidak punya pilihan.
- Kita hanya bisa ikhtiar, berusaha dan
- berdoa. Adapun kepastian hanya Allah
- Subhanahu wa taala yang menetapkan. Jadi
- setelahnya kita sudah berusaha bersusah
- payah, kemudian nasib bicara beda, maka
- kita terima dengan penuh dengan
- ketulusan. Kemudian yang ketiga yang
- akan membawa kebahagiaan kita dunia
- akhirat, wadua firak. Doa minta kepada
- Allah Taala di waktu
- arrakha, di waktu senang. Jangan di saat
- kita kena musibah datang ke masjid.
- Di saat kita kena musibah baru kita
- salat, baru kita ingat Allah. Kemarin
- waktu kita lagi senang, banyak duit,
- enggak pernah ingat musala, enggak
- pernah ingat masjid, majelis
- taklim, enggak pernah bangun malam.
- Ini banyak orang seperti itu. Begitu
- sudah jatuh, sudah sakit, uang sudah
- enggak punya, jabatan enggak punya,
- kemudian sudahnya sakit kena stroke,
- baru dia nangis-nangis. Saya kepengin ke
- masjid, kepengin rasanya ke musala,
- pengin rasanya puasa, pengin baca Quran,
- cuma kepengin-kepengin tapi enggak bisa.
- Ya, orang K
- stroke. Seandai kata enggak struk,
- apakah mungkin dia kepengin? Belum tentu
- juga. Karena dia sudah enggak
- berdaya, uang sudah enggak ada, harapan
- juga sudah
- pupus. Hanya Allah Taala satu-satunya
- tempat tempat dia berharap.
- Nah, oleh karena itu wajar kalau banyak
- orang-orang yang sudah jatuh, jatuh
- sakit, jatuh susah, kemudian menjadi
- orang yang baik.
- Alhamdulillah masih Allah ingatkan,
- masih keburu. Belum sampai mati kita
- sudah tobat, belum sampai mati kita
- sudah jadi orang saleh, sudah ke
- masjid. Masih lebih baik, masih mending.
- Alhamdulillah Allah masih sadarkan.
- ketimbang enggak sadar sampai mati, mati
- dalam keadaan menjabat, mati dalam
- keadaan berlumuran darah kaum
- muslimin, mati dalam menistakan agama
- Allah, mati dalam berbohong, mati di
- jalan
- setan. Nauzubillah.
- Maka orang-orang seperti itu tidak punya
- kesempatan untuk tobat dan bagian mereka
- adalah jahanam wasaat masiro
- seburuk-buruknya tempat dan tidak ada
- harapan lagi di sana yang ada hanya
- penderitaan, penyesalan yang tiada
- henti. Maasyiral
- muslimin, para
- pemirs pendengar Radio Rasil yang
- dirahmati Allah. Itulah beberapa pesan
- dari Nabi untuk kita mengarungi samudra
- kehidupan. Insyaallah kalau kita pegang
- pesan-pesan Nabi ini, kita akan meraih
- sukses bahagia dunia dan akhirat.
- Wallahuam. Wasalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.
- Demikian Wanwat penjelasan beberapa
- hadis dalam kitab Mukhtarul Hadis oleh
- Ustaz Ahmad Zaki. Dan karena kita live
- di sesi kedua nanti kita akan mengundang
- bagian nawat yang ingin bertanya dalam
- uraian hadis-hadis yang telah dijelaskan
- silakan kirim pertanyaannya ke nomor
- WhatsApp ataupun SMS yaitu nomor
- 0811999720. Adapun untuk layanan
- interaktif kami silakan hubungi
- 0218451512.
- Sebelum kita beralih ke sesi selanjutnya
- itu tanya jawab, kita akan rehat sejenak
- dengan nasyid berikut ini.
- [Musik]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- Radio Silaturahim dan Rasil Visual untuk
- Islam yang satu. Terima kasih WFAT masih
- bersama kami di radio Saturahim baik di
- kanal AM720 ataupun di channel kami di
- YouTube yaitu Rasil TV. Kita live di
- siang hari ini kita memasuki sesi tanya
- jawab atau sesi kedua dan sudah ada
- beberapa pertanyaan yang masuk Ustaz
- saya akan bacakan satu persatu yang
- pertama dari hamba Allah. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah. Komitmen
- terhadap prinsip hidup sedangkan keadaan
- selalu berubah. Ustaz, adakah
- tips-tipsnya memegang teguh prinsip
- hidup tentunya prinsip yang sesuai
- dengan Al-Qur'an dan Asunah? Iya.
- Allah.
- Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma
- alhimna rusdana waimna ma
- yanfa'una wazidna ilma.
- Kitabullah, Al-Qur'an dan sunah Rasul
- ini
- merupakan sumber
- hukum, sumber segalanya buat
- kita. Jalan hidup kita tentu sudah
- diarahkan oleh kitabullah dan sunatur
- rasul. Apa yang akan kita hadapi ke
- depan? Kita enggak
- tahu keadaan semuanya berubah. Bahkan
- diri kita saja berubah. Mungkin ada yang
- kemarin kurus sekarang gemuk. Sekarang
- gemuk besok
- kurus. Seperti itu. Ada yang kemarin
- sakit ringan, kemudian sekarang sakit
- keras. Yang kemarin sakit keras sekarang
- sembuh dan sebagainya. Ada lagi enggak
- kita duga. Di saat kita sehat, kawan
- kita baru kemarin ngobrol pada kita,
- enggak tahunya meninggal dunia. Itu
- keadaan itu keadaan seseorang yang akan
- menimpa diri seseorang. Belum lagi
- keadaan kehidupan, keadaan orang banyak,
- keadaan politik, keadaan berbangsa,
- bernegara, teknologi dan sebagainya kita
- enggak tahu. Dan ada lagi orang
- yang tadinya beriman kemudian kafir.
- Yang tadinya enggak beriman kemudian
- beriman. Tadinya orang saleh jadi ahli
- maksiat, tadinya ahli maksiat jadi orang
- saleh, semuanya bisa terjadi ke depan
- kita enggak
- tahu.
- Jadi sebenarnya kita sudah ulang-ulang
- kita baca
- terus-menerus enggak usah dari
- mana-mana yang kita ulang-ulang setiap
- hari asalkan kita
- resapi. Kita mohon di saat kita mengucap
- kita mohon dan di luar itu pun kita
- boleh
- ulang-ulang. Ada dalam Fatihah ayat
- ihdinasiratal mustaqim. Ihdina.
- Kata-kata ihdina had yahdi ini bisa
- artinya membimbing-bimbinglah aku,
- tunjukkan aku. Tapi bagi kita, kita ini
- sudah
- muslim.
- Tapi Quran ini kompleks ya. Nah, ini di
- antara hanya di antaranya karena tafsir
- ini luas. Hanya di antaranya saja.
- Ihdina, ya Allah tetapkan. Nah, di sini
- ditetapkan keadaan boleh berubah, tapi
- kita jangan sampai mengikuti keadaan. Di
- laut banyak angin dan ombak, di udara
- juga pesawat banyak humpusan
- angin. Tapi terus
- konsisten. Begitu juga diri kita, jiwa
- kita, keadaan boleh berubah. Apapun juga
- zaman, waktu semuanya boleh berubah. Dan
- enggak sedikit orang yang banyak berubah
- karena perubahan waktu, karena keadaan,
- karena tuntutan. Banyak seperti itu.
- Tadinya orang saleh jadi orang ahli
- maksiat. Tadinya ada di partai ini
- pindah ke partai A. Tadinya pendukung
- ini pindah ke pendukung B dan
- sebagainya. Itu keadaan yang menyebabkan
- dirinya, prinsipnya berubah. Nah, kita
- minta kepada Allah Taala, silakan dunia
- ini berubah. Silakan dunia ini
- kiamat, silakan.
- Fisik saya hancur, lebur, silakan saya
- sakit dan sebagainya. Tapi jiwa saya,
- hati saya, keberpihakan saya, loyalitas
- saya, iman saya tetap enggak berubah.
- Ihdinasiratal mustaqim. Ya Allah,
- tetapkan aku di atas kebenaran. Tetapkan
- aku memegang kebenaran. Tetapkan aku
- jangan sampai bergeser dari kebenaran.
- Jangan sampai di tengah jalan kemudian
- saya tergelincir berubah arah.
- Ihdinasiratal mustaqim. Ulang-ulang. Ya
- Allah tunjukkan kami, tetapkan kami,
- bimbing kami. Nanti waktu doa
- ihdinasiratal mustaqim. Allahummaahdina
- bihudak. Ih Allahumahdina fiman hadait.
- Banyak itu doa-doanya. Itu semua minta
- agar hati kita ditetapkan. Bukan fisik
- ya. Kalau fisik berubah ya. Bapak, Ibu
- yang tadi muda sekarang nenek-nenek itu
- enggak perlu diminta
- proses. Nah, yang perlu kita minta
- apapun yang terjadi, mau tua, mau muda,
- mau sakit, mau sehat, mau kaya, mau
- miskin, tapi ihdina. Tetapkan enggak
- berpaling dari semenjak sekarang sampai
- lusa sampai kita meninggal dunia. Jadi
- walaupun banyak nanti ya kiat-kiatnya,
- doanya banyak, cukup Ibu ulang-ulang
- ihdinasiratal mustaqim dengan penuh
- harapan. Insyaallah dengan kata-kata
- yang sikat ini ibu ulang-ulang cukup
- membuat hati Ibu tidak goyah untuk
- menghadapi apapun juga. Wallahuam. Baik,
- kita beralih ke pertanyaan selanjutnya,
- Iwan Akhwat. Ee yaitu asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah. Pak Ustaz,
- nafsu keinginan dan sama kebutuhan itu
- sama contoh keinginan makan buah apa itu
- juga termasuk nafsu? Padahal itu suatu
- kebutuhan. Ibu Fatimah dicondet. Terima
- kasih. Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim. Ya, pertanyaan
- yang sangat bagus. Jadi, pelajaran buat
- kita. Jadi, antara nafsu dengan
- kebutuhan ya masing-masing kita punya
- kebutuhan. Kebutuhan hidup enggak boleh,
- enggak. Kita hidup di dunia, kita perlu
- dunia. Makanya Allah katakan di Quran,
- wala tansa nasibaka minad dunya. Jangan
- engkau enggak ambil
- bagian. Kita hidup ini jangan semuanya
- dapat uang. Kita sumbangkan ke masjid,
- sumbangkan anak yatim. Habis mana untuk
- kita? Kita butuh biaya hidup, butuh
- makan minum, butuh kesehatan, butuh
- tempat tinggal, butuh pendidikan dan
- sebagainya. Jadi jangan kita tidak ambil
- bagian. Nah, jadi ini semuanya kembali
- ke ee metode kesehatan, prinsip-prinsip
- kesehatan yang telah ditetapkan oleh
- pakar-pakar
- kesehatan. Jadi, berapa sih kebutuhan
- kita sehari semalam? Berapa kalori yang
- kita butuhkan? Berapa vitamin C yang
- kita butuhkan, berapa mineral? berapa
- karbohidrat yang boleh masuk untuk
- standar standar kesehatan dan ini
- semuanya enggak ada yang sama ya, Ibu
- yang bertanya ini enggak ada yang sama.
- Nah, kemudian ada orang yang
- aktivitasnya lebih banyak, ada yang cuma
- di
- kantoran. Nah, tentu ini berbeda.
- Kebutuhan gizi, kebutuhan gula. Orang
- yang cuma di kantor kerja di belakang
- meja dengan tukang beca, tukang gerobak,
- guli di pasar, tentu mereka lebih
- membutuhkan pasukan lebih banyak
- dibanding yang kerja di kantoran. Nah,
- jadi kalau untuk ukuran kita yang
- seperti ibu-ibu rumah tangga ya,
- umpamanya ini umpama doangan, saya juga
- bukan bukan dokter, saya bukan ahli
- gizi, saya enggak ngerti. Umpama ini
- seandai kata makan cukup 2 hari dalam
- sehari pagi sore, pagi sore dengan porsi
- nasi katakan 100 gr andai kata ditimbang
- ya atau mungkin satu piring tapi enggak
- penuh 100 gr atau mungkin 1,5 ons umpama
- atau sampai 1/4 kilo mungkin ya untuk
- ukuran orang normal seperti itu sekali
- makan kemudian semangkok sayur, kemudian
- buahan ya, ada apel, ada pir. Kemudian
- nanti seperti itu lagi nanti surenya ah
- dengan sepotong daging atau sebutir
- telur tambah apa sepotong tahu tempe itu
- saya kira kalau untuk ukuran ibu-ibu
- rumah tangga itu mungkin sudah cukup dua
- kali sehari. Nah, paling ditambah kalau
- iseng ya ada cemilan dikit-dikit itu
- enggak berlebihan.
- itu yang dibutuhkan oleh tubuh kita.
- Kira-kira seperti itu. Nah, tapi ada
- lagi nanti ya seperti kuli-kuli panggul
- di pasar mungkin enggak cukup dengan
- porsi seperti itu. Dia mungkin sekali
- makan plus
- nambah dan sehari tiga kali kebutuhan
- mereka karena pengeluaran tenaga mereka
- jauh lebih banyak dari kita. Nah, jadi
- lebih baik Ibu konsultasi ke ahli gizi
- atau ahli-ahli kesehatan. Ah.
- se seberapa banyak yang harus ibu makan.
- Nah, setelah sudah mendapatkan takeran
- atau porsi yang benar dari pakar
- kesehatan, lebih dari
- itu jangan dimakan. Karena ketika kita
- umpamanya ditetapkan dua kali, ibu makan
- tiga kali. Nah, maka yang ketiganya itu
- bukan lagi kebutuhan, itu berarti
- nafsu. Satu piring sebenarnya sudah
- cukup ya mau nambah. Padahal satu piring
- nasi karbohidratnya sudah sekian kalori.
- Tapi karena kita nambah itu nambahnya
- itu
- nafsu. Nah, ini gambar kecilnya. Tapi
- lebih jelasnya lagi tanya ahli
- kesehatan. Jadi saya sekedar sudut
- pandang agama. yang melebihi kebutuhan
- itu adalah nafsu kita. Itulah yang
- sebenarnya harus kita keluarkan, kita
- sedekahkan jadi pahala. Bukan jadi
- penyakit tapi jadi pahala. Makanya dalam
- Islam ada sedekah, ada yang tahunan, ada
- lagi nanti yang mingguan tiap hari
- Jumat. Ada lagi nanti yang harian di
- pagi hari awali hari kita dengan
- sedekah. Nah, insyaallah sehat.
- Wallahuam. Baik. Jadi di luar dari
- kebutuhan itu hawa nafsu, Ustaz. Ya.
- Iya. Demikian, Ibu Fatimah dicondet. Ee
- kita beralih ke pertanyaan lainnya,
- Ustaz. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullah. Ustaz, apakah sifat
- munafik, kikir, dan sombong bisa
- disembuhkan dan bagaimana caranya,
- Ustaz? Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Dari Bunda Rido.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Semua semua
- insyaallah ada solusinya, ada terapinya
- tinggal kembali kepada kita apakah kita
- mau atau enggak. Banyak orang sakit yang
- pasrah dengan penyakitnya. Enggak mau
- pantang, enggak mau
- berolahraga. Akhirnya penyakitnya
- semakin berat sampai
- mati. Ada lagi orang yang kepengin
- sembuh. Dia pantang ikuti nasihat
- dokter. dia olahraga teratur, makan
- teratur, hidup teratur, istirahat
- teratur, sembuh. Jadi semua tergantung
- kita. Nah, jadi memang penyakit ini
- penyakit berat, penyakit pelit, itu
- hubbud
- dunia. Sulit untuk melawannya. Nah, tapi
- bukan berarti enggak ada solusinya. Ini
- saya kasih contoh satu ya.
- Ketika umpama kalau saya
- ingin ee menghancurkan sebuah kerupuk,
- mungkin saya remas dengan tangan saya
- hancur karena cuma
- kerupuk. Nah, tapi ada lagi nanti yang
- lebih keras. Umpamanya biji rambutan.
- Mungkin saya pites, saya bejek pakai
- tangan saya sulit hancur. Biji duren
- lagi sebenarnya tidak seberapa keras.
- Dipotong juga bisa. Tapi kalau untuk
- ukuran tangan saya keras, nah bagaimana
- untuk menghancurkannya? Pakai benda yang
- lebih keras kemudian kita pukul dia akan
- hancur. Nah, begitu juga untuk
- menghancurkan tembok. Mungkin kalau saya
- pukul kayak tangan saya, tangan saya
- yang remuk.
- Tapi bukan berarti tembok enggak bisa
- hancur. Nah, coba pakai benda yang lebih
- keras lagi, pakai palu. Kemudian dengan
- tenaga yang kuat dia pun akan hancur.
- Nah, begitu juga penyakit syuhun ya itu
- yang sudah berakar, yang sudah
- lama bukan berarti enggak ada obatnya.
- Memang sulit ya, termasuk kayak kanker
- ya. Kanker yang sudah kronis stadium 4,
- stadium 5 dan seterusnya sulit tapi
- bukan berarti enggak bisa disembuhkan.
- Nah, jadi ini contoh saja kiatnya ya.
- Hancurkan
- sekaligus enggak bisa ini penyakit
- enggak boleh kita manja-manja. Kalau
- dimanja-manja, dipiara itu dia akan
- semakin manja karena bagian dari nafsu
- tadi. Syuhun mut bagian dari nafsu. Kan
- tadi saya katakan dalam pepatah ee apa
- ee bahwa nafsu annafs katl nafsu jiwa
- manusia itu bagaikan anak kecil.
- In apa? In
- tuhmilhu bila Anda
- manja,
- disayang-sayang, dipelihara, maka dia
- akan tumbuh besar seperti itu. Tapi
- waimu
- yanim paksa tidak boleh nyusul lagi
- dengan ibunya, maka dia mau enggak mau
- dia kehausan, dia lapar, apapun juga
- bisa
- dimakan. Begitu juga dengan penyakit
- pelit, langsung paksakan.
- Ya, obati dengan secara paksa. Ini
- enggak bisa pelan-pelan lagi kalau
- syuhun mut karena sudah berakar, sudah
- tahunan. Jadi paksakan besok umpamanya
- kita dapat uang, dapat gaji, paksakan.
- Begitu dapat gaji langsung sumbangkan ke
- fakir miskin langsung. Jangan
- setengah-setengah. Nah, nanti padahal di
- rumah banyak ya. Di rumah kita masih
- banyak. Ini pelajaran hancurkan rasa
- pelit ini dengan kita paksa. Ternyata
- setelah kita keluarkan enggak apa-apa.
- Kita tetap sehat, kita tetap bisa makan
- minum, kita masih bisa beraktivitas,
- enggak ada yang kurang, enggak ada yang
- terganggu. Nah, jadi memang harus
- dipaksa. Termasuk begini, anak
- kecil yang namanya suruh minum obat
- susah, enggak gampang.
- Mau enggak mau kalau bahasa Betawi saya
- itu dicekokin, direjeng, dipegangin,
- kemudian dijejelin obat. Yait bahasa
- saya di Jakarta seperti itu. Mau enggak
- mau ditelan. Dia sudah enggak bisa
- berontak masuk obat ke
- mulutnya itu
- dipaksa demi kebaikan anak itu sendiri.
- Begitu juga yang namanya
- penyakit-penyakit kronis seperti ini,
- penyakit nifak, penyakit apa harus
- dilawan, harus digempur, hancur total,
- harus
- roboh ya tunasnya benar-benar terkikis.
- Nah, insyaallah kalau sudah seperti itu,
- insyaallah akan sembuh. Itu awalnya.
- Tapi juga bukan berarti enggak ada
- pengobatan selanjutnya. Tetap pengobatan
- rutinnya ada, tapi hancurkan dulu.
- Kemudian kita rutin kita obati dengan
- penyakit itu. Nah, insyaallah akan
- terobati dan akan terkikis. Wallahuam.
- Baik, kita beralih ke pertanyaan
- selanjutnya. Iwan akhwat dari hamba
- Allah lagi. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ya.
- Waalaikumsalam warahmatullah. Ustaz,
- jelasnya takdir itu seperti apa, ya,
- Ustaz? Saya pernah dengar ada takdir
- yang bisa dirubah dan takdir yang tidak
- bisa dirubah. Kemudian saya pernah
- dengar juga ada takdir harian dan
- lain-lain. Mohon penjel penjelasannya,
- Ustaz. Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim. Sebenarnya
- kalau kita pahami takdir itu sesuatu
- yang nikmat, bukan menakutkan ya. Bukan
- menakutkan sama
- sekali.
- Jadi takdir itu adalah sebuah
- keputusan, sebuah ketetapan. Itu takdir.
- Takdir itu kalau saya artikan ya ke
- dalam bahasa sekarang bisa juga
- perencanaan. Kalau saya mau bangun rumah
- saya hitung-hitungan dulu.
- hitung-hitungan ini kalau secara
- matematik ya, secara konstruksi kalau
- kita tanyakan kepada ahli
- bangunan ee insinyur bangunan, kalau
- saya ingin membangun gedung dengan luas
- sekian, tingginya
- sekian, hitung-hitungannya seperti apa?
- Nah, ternyata hitung-hitungannya nanti
- besi yang ukuran 10 mili sekian banyak,
- semennya sekian banyak, bataknya sekian
- banyak, semuanya sudah dihitung-hitung.
- Kalau memang sesuai dengan rencana,
- enggak dikurangi, maka bangunan ini akan
- kokoh. Hidup bisa apa? Berdiri kokoh
- sampai 100 tahun, 200 tahun. Tapi jangan
- dikurangi. Nah, ketika kita kurangi,
- maka bisa saja di tengah jalan bisa
- hancur. Ini kalau enggak ada
- faktor-faktor alam ya, seperti gempa
- bumi. Nah, itu yang namanya takdir
- perencanaan, ketetapan,
- hitung-hitungan. Nah, begitu juga kita
- Allah tetapkan umur kita sekian,
- semuaanya Allah sudah
- tetapkan. Nah, jadi yang ditanyakan tadi
- ada yang bisa berubah, ada yang enggak
- bisa berubah. Nah, itu betul ya. Jadi
- ada mubrom, ada muallaq. Jadi yang
- namanya mubrom yang memang enggak bisa
- diubah-ubah seperti bapak Allah ciptakan
- laki-laki. Enggak bisa bapak berusaha
- untuk jadi perempuan sampai kapan ya
- laki? Begitu juga yang laki saya Allah
- takdirkan laki. Sampai di mana saya
- enggak bisa mengubah diri saya jadi
- perempuan. Termasuk proses penuaan. Saya
- sudah terlanjur hidup berapa puluh tahun
- yang lalu saya dilahirkan. Saya enggak
- bisa pertahankan masa muda saya. Saya
- kepengin remaja terus. Saya kepengin
- ganteng terus. Saya kepengin usaha apa?
- Fisik saya seperti ini terus prima,
- sehat, makan apa saja bebas. Saya enggak
- bisa pertahankan. Ini sudah ketetapan
- Allah. Makin tua, makin tua, makin tua,
- makin lemah fisik ini dan mati besoknya.
- Jadi enggak ada yang bisa tetap. Ini
- sudah jadi keputusan Allah. Bapak, Ibu
- enggak akan bisa merubah sunatullah ini.
- Makin tua jadi laki, jadi perempuan dan
- sebagainya. Enggak akan bisa siapapun
- berubah. Tapi ada lagi yang tergantung
- kita. Kalau Bapak Ibu jaga kesehatan
- akan sehat, tapi kalau sembarangan akan
- mudah
- sakit. Kalau hati-hati insyaallah
- selamat dalam perjalanan. Kalau enggak
- hati-hati, jalan kebut-kebutan, rawan
- dengan musibah, rawan dengan kecelakaan.
- Begitu juga saya dulu ketemu teman ya,
- saya punya teman ini banyak cukup banyak
- yang tadinya waktu sama-sama kecil
- sama-sama remaja bagus putih, orangnya
- ganteng. Setelah sekian lama sudah 7
- tahun, 8 tahun enggak ketemu. Ketemu
- ternyata kok ternyata udah jelek berubah
- hitam lagi. Emang kerjaan itu apa? Iya.
- Saya ngojek di jalanan kepanasan
- terus-terusan. Nah, itu perubahan takdir
- Allah juga.
- Tapi karena memang kita coba andai kata
- hidupnya di AC, di kantoran, enggak
- mungkin dia hitam. Karena hidupnya di
- jalanan tengah hari bolong, bawa motor
- di tengah trik matahari ya akhirnya
- proses. Nah, itu takdir Allah. Tapi
- karena mama kita
- melakukannya kan pilihan kita. Nah, coba
- seandai kata kita di kantoran, di
- ruangan AC enggak mungkin hitam. Nah,
- itulah takdir tapi muallaq tergantung
- atau erat kaitannya dengan perbuatan
- kita, keseharian kita. Itu semuanya
- tergantung kita. Kita mau seperti apa
- akan jadi seperti
- itu semua ya. Melalui proses-proses yang
- kita sering bilang itu apa?
- Sunatullah, sebab akibat ataupun hukum
- alam. Itulah yang namanya takdir dan
- mungkin masih sebenarnya masih panjang
- lagi ya itu secara singkat. Wallahuam.
- Baik ee nanti insyaallah mungkin di lain
- bab kita bahas ten hadir Ustaz ya. Heeh.
- Baikat dan akhirnya kita sampai di
- penghujung acara nih Ustaz. Mungkin
- kesimpulannya dari di siang hari ini di
- beberapa hadis yang Ustaz telah jelaskan
- dalam kitab Mukhtar Ahadis Annabawiyah.
- Silakan
- Ustaz. Ee bismillahirrahmanirrahim. Saya
- tidak menyimpulkan, tapi saya ingin
- mengingatkan ya apa
- yang kemarin kita saksikan di televisi,
- saudara-saudara kita berkumpul masa kaum
- muslimin berkumpul di satu tempat yang
- jumlahnya sudah di atas 8 juta mungkin
- ya. datang dari tempat yang berbeda dari
- arah mana saja itu
- sebenarnya mata hati seseorang enggak
- akan bisa
- berbohong. Ada orang nonmuslim masuk
- Islam karena menyaksikan, karena terharu
- dengan kejadian yang kemarin dengan yang
- tahun-tahun kemarin seperti itu juga.
- Ada orang-orang yang tadinya enggak baik
- kemudian menyaksikan kerukunan,
- kedamaian, santun, dan lain-lain. Mereka
- jadi orang yang baik tobat kepada Allah
- Taala. Kita pun yang masih punya hati
- nurani benar-benar enggak sedikit yang
- menangis. Saya semalam ee
- apa ee waktu di mau mengajar di satu
- masjid yang akhirnya saya enggak
- mengajar, ada dari Sumatera Barat dari
- Payakumbu datang mengucapkan terima
- kasih kepada pengurus Masjid Tenabang
- yang memang Masjid Tenabang ini Almakmur
- menyediakan fasilitas untuk penginapan.
- Walaupun sekedar di bawah ya, tidur asal
- jadi, tapi tetap mereka membolehkan
- siapapun juga yang tidur di masjid,
- jemaah yang datang dari jauh masjid jadi
- tempat penampungan dan pengurus juga
- enggak apa enggak lepas tangan tetap
- mereka berikan makan minum selayaknya.
- Sampai akhirnya banyak orang-orang ingin
- nanya, "Ini berapa yang saya harus
- bayar?" Pengurusnya kaget, "Enggak ada
- bayar-bayaran di sini. memang sudah
- kewajiban
- kami. Jadi, akhirnya banyak yang pada
- menangis tanpa kita sadari. Saya kira
- bukan cuma saya yang terharu, semua
- terharu ya. Banyak yang pada menangis.
- Nah, itulah Islam. Marilah kita
- buktikan. Itulah Islam. Benar-benar
- enggak ada apa-apa yang dikhawatirkan
- akan terjadi begini-begini. Selagi
- enggak ada penyusupan, selagi enggak ada
- orang-orang yang berniat berhati busuk,
- enggak akan terjadi
- apa-apa dari berbagai elemen, dari
- berbagai organisasi. dari berbagai sudut
- pandang dan lain-lain itu berkumpul jadi
- satu kepentingannya hanya satu membela
- agama Allah Subhanahu wa taala
- menegakkan keadilan. Nah, ketika tujuan
- sama insyaallah kita semuanya kita
- dibimbing oleh para ulama, dikendalikan,
- diawasi, kita ternyata enggak terjadi
- apa-apa.
- Nah, itulah saya berbangga dan saya
- berharap kepada Allah Subhanahu wa taala
- yang hadir di 212 kemarin semoga
- mendapatkan limpahan rahmah magfirah
- dari Allah Subhanahu wa taala dan apa
- yang mereka korbankan, yang mereka
- keluarkan semoga mendapatkan gantian
- dari Allah Taala baik di dunia maupun di
- akhirat. Amin ya rabbal alamin. W tauf
- illa billah alaihi tawakaltu waai unib.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilaha illa anta astagfiruka wa atubu
- ilaik. Wasallallahu ala nabiyana
- Muhammadin wa ala alihi wasahbihi
- wasallam. Walhamdulillahi rabbil alamin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Demikian akhwat tausiah siang kali ini
- bersama Ustaz Ahmad Zaki dalam kitabnya
- yaitu Mukhtarul Hadis Annabawiyah. Dan
- kita ucapkan banyak terima kasih kepada
- Ustaz Ahmad Saki. Semoga selalu diberi
- kesehatan, Ustaz, dan kelapangan
- sehingga kita bisa bertemu lagi di Senin
- mendatang. Amin. Dan tentunya juga rasa
- terima kasih banyak kami ucapkan kepada
- para ikhwan dan akhwat di siang kali
- ini. Meriah sekali pertanyaannya masuk
- dan tentunya juga kita ucapkan mohon
- maaf ee beberapa pertanyaan yang tidak
- kami bacakan karena keterbatasan waktu
- seperti Ibu Riza dan Ibu Rosi tadi
- Cikarang. Dan akhwat saya Panji Ahmad
- Besak yang bertugas ada Neza dan Yusuf
- Bangkit atau Fahri di meja operator.
- Mohon diri kita tutup bersama tausiah
- siang ini dengan doa air majelis.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla ant waubu ilaik. Wabillahi
- taufik wal hidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- [Musik]
- Saat ku
- merasa tak ada yang
- mampu. Tak ada yang
- bisa merubah
- hidupku.
- Hanyalah engkau
- saja yang
- kusut
- namanya. Di
- setiap aku menghela nafasku.
- Nama-Mu yang
- terucap
- kuserahkan semua. Hanya pada-Mu hidupku
- dan matiku hanya untukmu
- kupasrahkan
- jiwaku dan
- ragaku hanya
- untuk-Mu saja.
- [Musik]