Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Halo. Asalamualaikum Bang Toni. 0:01 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:03 wabarakatuh Mas Sangga. 0:05 Bagaimana Bang Toni? Sehat ya? 0:06 Alhamdulillah sehat walafiat. Di pagi 0:10 hari ini kita akan menyoroti beberapa 0:12 hal Bang Teni setelah kita melewati 0:15 euforia Piala Dunia. Bang Teni suka bola 0:17 enggak ya kemarin? 0:20 Ee suka tapi tidak mau ediktif ya. 0:23 Tidak mau ediktif. Iya. Kalau di 0:26 Indonesia kayaknya emang populer sekali 0:28 gitu ya. Ini Bang Toni kita ingin menyel 0:32 yang pertama 0:35 kasus FEB ya. Kasus FEB ee bagaimanapun 0:38 ini masih menjadi ee headline 0:42 pemberitaan untuk media-media nasional. 0:45 ee selain dilihat dari kasusnya gitu ya, 0:49 ada istilah ini. Ini yang bikin ini yang 0:52 bikin media nih ee ada istilah doktrin 0:56 kambing hitam gitu, ada istilah seperti 0:59 ini nih. Jadi sebenarnya nama Febri ee 1:02 Adriansa ini kan ee siapa sebenarnya 1:06 yang sedang kita sorot gitu ya, bahkan 1:10 nantinya yang akan kita ee hakimi gitu 1:13 ya. Apakah fokusnya nanti akan bergeser 1:16 dari kasus Febri Adriansyah ini? Karena 1:20 orang itu melihat harusnya kita bicara 1:22 soal koruptor ya. Yang jelas di negeri 1:25 ini koruptor punya kuasa. Nah, apalagi 1:28 kuasanya itu melakukan ee kejahatan 1:32 lagi. Namun orang juga melihat itu 1:35 karena ini kaitannya dengan lembaga ee 1:38 coklat tua dan coklat muda gitu ya. Ada 1:41 juga gonjang-ganjing 1:43 ee Trunojoyo istilahnya begitu. Ini 1:45 kalau ee apa dan juga wartawan banyak 1:49 melihat apa yang apa yang dibangun di 1:52 belakang kasus itu. Lalu juga ada 1:55 skenario apa ke depan. Makanya 1:57 analisa-analisa kan ada yang liar sekali 2:01 gitu ya. Ada yang ada yang tajam juga 2:04 gitu ya. dari mulai gonjang-ganjing 2:06 tronojoyya sampai ke isu pergantian ee 2:10 kandidat Kapolri gitu ya yang bermain. 2:14 Nah, sebenarnya Bang Toni saya ingin 2:15 melihatnya dalam satu ee teori teori 2:18 memang ee ketika kekuasaan itu 2:22 ee terus dipegang dengan erat gitu ya, 2:27 dia tidak mau lepas gitu. Makanya semua 2:30 bidang, semua lembaga pun harus ee 2:32 dipegang. Nah, tidak peduli itu siapa 2:35 lawan ataupun kawan nanti demi kekuasaan 2:38 semuanya diterapas. Makanya di sini kan 2:40 korupsi juga akhirnya meraja lela karena 2:43 ada satu ada satu istilah itu gitu. Nah, 2:46 ini dari kasus ee Febri, Bang Toni. 2:49 Selanjutnya kita juga ingin ee menyoroti 2:53 gitu ya, ini mengenai 2:57 negeri ini yang sebenarnya [berdehem] ee 3:00 generasi-generasi 3:02 kita ini dipertontonkan kalau di bidang 3:04 politik gitu ya, hal-hal seperti ini. 3:06 Lalu di bidang ekonomi juga 3:08 dipertontonkan ya berita-berita naik 3:11 turunlah gitu ya. Bagaimana Bang Toni 3:12 juga ee melihat generasi bangsa ini 3:16 dipupuk, ditanam gitu ya supaya 3:18 mentalnya itu sehat gitu melihat melihat 3:21 kondisi ee bangsa gitu. Kalau ada 3:23 istilah ee Genzi ataupun generasi 3:26 sekarang itu rentan sekali jiwanya, 3:28 mentalnya, dikasih masalah sedikit gitu 3:31 ya dibandingkan generasi-generasi dulu 3:33 gitu ya. Sebenarnya yang harus di 3:35 ditanam itu apa menurut Bang Toni? dari 3:38 segi pendidikannya duluah, apakah 3:40 ekonominya duluah gitu ya atau 3:41 nilai-nilai spiritual agamanya dulu nih 3:44 Bang Toni. Karena nanti ketika mereka 3:45 mau masuk ke politik ataupun masuk 3:48 menjadi pejabat kan itu yang akan 3:50 dilihat gitu ya. Ee beberapa hal ini 3:52 Bang Toni monggo. [berdehem] 3:53 Iya. Yang pertama soal febri atau jam 3:57 pitsus. Ini kan soal biasa biasa terjadi 4:01 maksudnya. 4:03 Jadi meledak ribet. Kemudian ee dibuat 4:09 skema untuk 4:11 meredamkan gitu kan situasi selesai 4:15 hilang muncul lagi gitu kan 4:19 ya ee meledak semua orang membicarakan 4:23 ya kemudian antara ahli kompromi dicari 4:27 situasi untuk mencairkan ya meredam 4:31 redam lagi muncul kasus lagi meledak 4:35 lagi ya elit kumpul kompromi-kompromi 4:39 sana sini terus kemudian cari upaya 4:42 untuk meredam lagi kan gitu. Kenapa kita 4:46 jadi masyarakat, jadi rakyat itu 4:48 kagetan? 4:49 Pola ini kan sudah dari zaman bakhola di 4:52 Indonesia itu terus-menerus. 4:55 Mau rezim siapapun akan terjadi seperti 4:57 ini ya nanti akan kita bicarakan 4:59 sebenarnya kesalahannya di mana, kan 5:01 gitu. Masalahnya di apa, sumber masalah 5:04 utamanya itu di mana ya? Kalau kemudian 5:07 sumber masalah utamanya tidak 5:09 diperbaiki, ya kemudian akan muncul 5:12 kemudian ee produknya terus-menerus 5:15 seperti Febri dan sebagainya. Ini Febri, 5:17 kasus Febri ini kan produk gitu kan. 5:21 Selama mesinnya tidak diperbaiki, 5:24 sistemnya tidak diperbaiki, jangan 5:26 berharap tidak ada febr-febr yang lain. 5:29 Yang namanya juga produksi jangan terus 5:30 kalau produk ya 5:31 jangan terus. Kalau pabriknya, sistem 5:35 fabrikasinya tidak diperbaiki, maka 5:38 produknya akan terus wah memproduksi 5:41 cacat. Bangsa ini akan terus melakukan 5:44 membuat apa? Memproduksi sesuatu yang 5:46 cacat. Muncul Febi, muncul febri, muncul 5:48 febri dan terus-menerus. Kenapa kita 5:50 jadi bangsa yang kagetan? Kenapa? Karena 5:52 pendidikan kita rendah. Karena kita 5:54 tidak berpikir jangka panjang. Gimana 5:56 pikir fangca panjang? Perut lapar. 6:00 Itu problem. Jadi kasus febri ini ee kan 6:06 ee 6:07 banyak kasus sebelumnya blak blak blak 6:10 blak ya mirip-miriplah gitu kan cuma 6:12 nama orangnya pelakunya beda. Yang 6:15 terlibat juga berbeda tapi kan polanya 6:17 sama jumlah uangnya berbeda tapi ee kita 6:22 dari garis merahnya ya itu kan polanya 6:25 sama seperti itu terus gitu kan. Dan ini 6:27 bisa dikatakan di e semua 6:30 institusi-institusi basah ya dalam tanda 6:33 kutip 6:34 institusi-institusi basah. J kalau 6:35 institusi yang kering ya dapatnya yang 6:37 kering kecil-kecil dan itu tidak ee 6:40 meledak gitu. Tapi kalau institusi basah 6:42 B tadi menyebut institusi basah. Jadi 6:45 bukan hanya mejanya yang basah. Ini 6:47 sudah satu institusi nih ya. 6:48 Iya. Iya gitu kan. Malah ada yang tidak 6:51 bermain kan gitu. 6:53 Negara ini itu sudah terlalu jauh gitu 6:56 kan. terperosoknya. Jadi ee dari sinilah 7:00 kemudian kita lihat ee apa Masangga ee 7:05 ada problem yang serius. Yang pertama 7:08 soal ini dulu sebelum problem yang lebih 7:10 utama 7:11 itu karena ada teori elit ya. E 7:14 banyaklah ee semua akan ditentukan oleh 7:17 elit baik ekonomi maupun elit politik. 7:19 Kalau di Amerika ada ditambahi oleh 7:22 right mill itu ada namanya elit militer. 7:24 Ee setiap negara elitnya beda-beda. 7:27 Tetapi yang pasti elit politik dan elit 7:29 ekonomi itu jadi satu. 7:31 Selalu selalu muncul. Tapi kalau di 7:33 negara komunis itu elit-elit politiknya 7:35 yang lebih kuat. 7:36 Ya, kalau di negara-negara demokrasi itu 7:40 elit ekonominya ya biasanya lebih kuat 7:42 daripada elit politik. Meskipun tetap 7:44 harus kerja sama. elit ekonomi tidak 7:46 bisa leluasa kalau tanpa didukung oleh 7:48 elit politik. Di negara yang lain lagi 7:51 ada faktor ee militer, elit militer 7:54 seperti di Amerika atau negara-negara 7:57 yang kuatlah secara militer itu biasanya 8:00 e Orde Baru dulu itu ada elit militer 8:03 juga yang terlibat. ee bahwa hukum kita 8:07 itu yang pertama itu adalah hukum yang 8:09 terintervensi 8:11 oleh elit, 8:12 baik elit ekonomi maupun elit politik. 8:15 Elit politik karena mereka bisa ee apa 8:19 namanya me 8:22 apa mengisi posisi-posisi itu ya. Ee 8:27 elit politik itu berkuasa atas struktur 8:30 gitu kan. Sementara elit ekonomi memang 8:33 mereka membangun ya ee para penegak 8:36 hukum itu dari nol. Mereka sekolah 8:38 disekolahin, mereka butuhan dikasih, 8:41 mereka kemudian dirawat terus-menerus. 8:43 Ini elit elit ekonomi itu yang terjadi 8:47 dan hukum kita betul-betul hukum yang 8:49 terbuka untuk diintervensi oleh elit 8:52 ekonomi maupun politik. Maka seringki 8:56 ini menjadi tumpul ketika melawan elit 8:59 politik atau melawan elit ekonomi 9:02 kan begitu. 9:03 Apakah bisa dikatakan intervensinya 9:05 positif atau negatif nih, Bang Toni? 9:07 Berarti intervensi negatif. 9:08 Saya sudah bilang kalau ee dalam teori 9:10 elit itu intervensi selalu negatif. 9:13 Selalu negatif 9:14 cenderung negatif ya cenderung negatif 9:17 intervensi intervensinya. Kenapa? karena 9:20 elit elit ini jumlahnya kecil 9:23 terkoordinasi dan mereka kemudian bisa 9:26 masuk kepada ee apa kepada 9:32 ee penegak hukum 9:35 kepada struktur hukum maupun kepada ee 9:39 kontens ee hukum itu sendiri, regulasi 9:42 itu sendiri 9:43 gitu kan. Jadi bisa masuk ini kepada ee 9:47 apa ee materi hukum ee dengan regulasi 9:51 adanya di DPRI itu intervensi mereka ya. 9:54 Dan itu sejak apa dua sebenarnya sudah 9:58 lama tapi menjadi akut itu sejak ee 10:02 dua abad yang lalu gitu kan. materi 10:05 hukum, kemudian kepada penegak hukum ya, 10:08 kemudian kepada struktur hukum artinya 10:11 menciptakan posisi. Kalau kamu apa 10:14 macam-macam ya kita geser. Nah, itu kan 10:16 masuk di dalam struktur hukum. Bila 10:18 perlu posisi ini eh posisi A itu 10:20 dihilangkan ya sudah tidak ada lagi 10:23 misalnya dirombak struktur hukum itu 10:26 bisa elit melakukan itu 10:28 gitu kan. 10:29 Itu itu satu hal. Nah, jadi ee kepada 10:32 materi hukum, kepada ee struktur hukum 10:35 maupun kepada penegak hukum itu bisa 10:38 ditentukan, bisa diubah oleh elit dan 10:42 ini ee ini kan artinya intervensi. 10:44 Kemudian yang kedua adalah penegakan 10:48 hukum kita memang lemah tanpa peran alit 10:52 ketika terjadi kasus misalnya kan sudah 10:54 terbuka semuanya ee ada istilah ada 10:58 anekdot lah yang kemudian seringki 11:00 menjadi guyonan bangsa Indonesia itu 11:02 kalau kamu kehilangan kambing lapur 11:05 sapimu jadi hilang kan gitu jadi gitu 11:09 kan dan itu kemudian menjadi sebuah 11:12 proses pemerasan melalui Pasal-pasal itu 11:14 kan sudah sering terjadi di dalam 11:17 institusi hukum ya. Dan itu menunjukkan 11:20 bahwa penegakan hukum kita memang lemah. 11:24 Di sini tidak ada elit, tetapi di sini 11:26 mana yang lebih kuat dialah yang 11:28 kemudian ee menang. Ya, pada akhirnya 11:32 tidak hanya di dunia sosial ee di dunia 11:35 hukum juga ee berlaku survival of the 11:38 fitest gitu kan. Siapa yang bisa 11:40 beradaptasi? siapa yang bisa ee apa 11:43 namanya melobi, siapa yang bisa 11:45 menyesuaikan diri. Itulah yang lebih 11:47 bisa hidup, bisa survive. Kan begitu. 11:50 Itu kan ee teorinya Herbert Spencer ya, 11:54 Survival Autus. Kemudian eh berkembang 11:58 ini seringkali orang paham ee berkembang 12:00 dengan Darwin meskipun itu dikatakan 12:02 Darwinisme sosial, tetapi sebenarnya 12:04 lebih dulu Herbert Spencer daripada 12:06 Darwin ee tentang evolusi itu. Ah, kita 12:09 masuk dalam hukum. hukum itu juga sama 12:12 ada survival of eh the fitus gitu kan. 12:16 Siapa yang kemudian masih bisa 12:17 beradaptasi itulah yang kemudian masih 12:19 bisa bertahan itulah yang kuat dalam 12:22 hukum kita seperti itu. Jadi ada dua 12:24 faktor. Ada faktor ee terbukanya 12:26 intervensi yang begitu lebar 12:28 selebar-lebarnya. Begitu juga ee posisi 12:31 yang lain hukum kita yang memang lemah 12:33 di dalam penegakannya. Ini masalah. 12:35 Kenapa ini semua jadi masalah 12:37 terus-menerus ee masangga? Karena 12:40 kontrolnya lemah. Kenapa kontrol lemah? 12:43 Karena masyarakat enggak paham. Jauh 12:45 sebelumnya Sokrates itu sudah pernah 12:47 bilang demokrasi itu tidak akan jalan 12:50 bahkan cenderung ke arah yang negatif 12:52 destruktif if ketika masyarakatnya itu 12:55 tidak sejarah pemahamannya tentang 12:57 politik. Ya, masyarakat kita itu 13:00 jomplang pemahaman yang elit. Mungkin 13:03 karena di Indonesia ada dominasi elit 13:05 mungkin Bang Toni 13:07 di mana-mana ada dominasi elit tetapi 13:09 Heeh. Jadi masyarakatnya tadi dibuat 13:11 tidak masyarakatnya itu cerdas. Ketika 13:14 masyarakat itu memiliki SDM yang tinggi 13:17 kesadaran politiknya tinggi. 13:20 Masyarakat yang berpendidikan itu kan 13:23 memiliki kesadaran politik yang tinggi 13:24 ya. Ketika mereka dibodohi mereka tahu, 13:27 merasa. Ketika mereka ditipu mereka tahu 13:29 dan merasa. Ketika mereka dizalimi, 13:31 mereka tahu dan merasa beda dengan 13:33 masyarakat yang bodoh, dengan pendidikan 13:35 yang rendah, SDM yang rendah, ya mereka 13:38 dibodohi, merasa dipintarkan. 13:41 H 13:42 zaman Belanda coba kolonialisasi 13:45 itu kan sebuah proses pembodohan, tapi 13:47 yang dibodohi senang. 13:49 Proses kezaliman yang dizalimi juga 13:50 banyak yang senang. Hanya elit-elit 13:52 kecil itu yang kemudian mengorbankan 13:53 diri jadi pahlawan gitu kan. 13:55 Jadi ee dikasih sembakau misalnya gitu 13:59 kan. ee satu sisi. Jadi, tangan kirinya 14:03 merampok, tangan kanannya ngasih 14:04 sembakau. Merampoknya 5 triliun, ngasih 14:07 sembakaunya 5 miliar. Kan begitu yang 14:09 terjadi selama ini. 14:11 Dan masyarakat merasa senang, dapat nih 14:13 elektabilitas naik, dapat nih 14:16 popularitas naik, dapat nih aksabilitas 14:18 naik, senyum. Jadi ketika mau pemilu 14:21 bagi-bagi. Itu kan dari dulu begitu. 14:23 Ketika mau survei bagi-bagi dulu ya. 14:27 legal memang gitu ya, tapi tangan kiri 14:29 merampoknya enggak karuan dan masyarakat 14:31 merasa gembira, merasa senang, merasa 14:33 ketawa, berpesta dengan ee pembagian 14:37 yang kecil-kecil itu. Padahal itu hasil 14:40 perampokan. Gini misalnya ya, Mas Angga 14:43 punya rumah, punya kebun lah ya, mangga 14:47 atau duren lah yang kerenlah. Duren itu 14:49 10 hektar sawit. 14:51 Iya atau sawit kita ambil. diambil oleh 14:54 si A. Diambil kemudian datanglah orang 14:57 si A itu datang ke Mas Angga. Mas Angga 14:59 ini ada duren ya enak durennya ini 15:02 musangking gitu dimakan. Padahal duren 15:04 Mas Angga sendiri dan itu hanya dibagi. 15:06 [berdehem] 15:07 Dia ambil 20 truk ya ngasih cuman satu 15:10 sak gitu kan. 15:12 Iya 15:12 tapi Mas Angga bangga gitu loh. Ini 15:15 bukan Mas Angga lah Mas Farmen lah gitu 15:17 kan. Farmen mana kek gitu kan ya. Kenapa 15:20 mereka bangga? karena tidak memiliki 15:23 sense of belonging gitu kan. Karena 15:26 tidak memiliki itulah yang kemudian ya 15:29 kenapa tidak miliki itu? Karena SDM 15:31 rendah. Kenapa SDM rendah? Karena 15:33 pendidikan rendah. Kalau mau memperbaiki 15:35 bangsa ini untuk jangka panjang 15:38 pendidikan tidak ada yang lain dengan 15:40 pendidikan. SDM tinggi dengan SDM tinggi 15:43 etas kerja tinggi, atas kerja tinggi 15:44 produktivitas tinggi. Produk naik, 15:46 produktivitas naik, penghasilan naik, 15:48 penghasilan naik, tidak lagi miskin. 15:51 Iya, 15:52 itu prosesnya dan pemerintah harus 15:54 terlibat seperti ini. 20% pendidikan 15:56 dipakai untuk mana-mana gitu kan ya dan 15:59 sebagainya. itu itu ya ya ee amanat 16:03 undang-undang sudah bagus tapi 16:04 implementasinya yang masih perlu di 16:07 dikawal ya dikontrol diawasi dan 16:10 kemudian didorong untuk memiliki 16:12 komitmen sesuai dengan ee undang-undang 16:16 itu. Eha bisa kita shortcut ee jalan 16:20 pintas untuk memperbaiki bangsa ini. 16:22 Kuncinya ada di pimpinan. Pimpinan yang 16:24 punya integritas dan pimpinan yang punya 16:27 kapasitas 16:28 gitu kan. pimpinan bij kalau apa namanya 16:32 ee ya para filosuf muslim seperti 16:35 Alfarabi misalnya ya pemimpin yang 16:38 bijaksana gitu kan bijaksana itu bisa 16:40 menerawang bisa melihat ee bangsa ini 16:43 untuk jangka panjang seperti apa. maka 16:46 kebijakan-kebijakan yang dilakukan itu 16:49 memang dipertimbangkan untuk jangka ee 16:52 panjang ya istilahnya ee dalam ee tapi 16:56 kalau ditarik 16:58 bahasa komunikasi politik ya Erotless 17:01 itu eh 17:04 which watch effect gitu apa efeknya gitu 17:07 loh. 17:07 Iya. 17:08 Setiap kebijakan itu apa efek jangka 17:10 pendeknya, apa efek jangka panjangnya. 17:13 Kemudian juga bisa dilihat ya kalau 17:16 menggunakan teorinya Robert Mon itu apa 17:19 fungsi manifestnya dan apa fungsi 17:21 latinnya. Kira-kira fungsi manifest itu 17:24 ee sudah diprediksi, sudah direncanakan 17:27 akan berakibat A B C D E kemudian ee apa 17:31 melakukan juga melakukan mitigasi 17:34 terhadap kemungkinan-kemungkinan yang 17:36 bisa berdampak ee negatif terhadap 17:38 bangsa ini itu dihitung gitu. Di situlah 17:41 kemudian ada proses evaluasi. Kalau ini 17:44 tidak dilakukan, ya apakah kita sudah 17:46 melakukan? Iya, sudah melakukan tapi 17:48 memang perjalanannya sangat lambat 17:50 sekali. Apa yang dilakukan oleh Pak 17:52 Prowo, kita perlu apresiasi misalnya 17:54 perampasan aset sedang digarap ee terus 17:58 kemudian ee sedang digarap meskipun 18:00 undang-undangnya juga ee ROO-nya sedang 18:02 berproses di prolegnas di DPR gitu kan 18:06 ya. Tetapi lagi-lagi harus 18:07 dipertimbangkan untuk fungsi manifest 18:10 dan fungsi latinnya untuk ee yang e 18:13 terencana eh which watch effect ya, efek 18:17 efeknya efeknya apa untuk jangka 18:19 panjang, efeknya apa jangka pendek gitu 18:21 kan. Tapi juga harus dihitung ada 18:23 dysfunction, ada ular-ulah di kelompok 18:26 MBG bagus ya meskipun mekanismenya perlu 18:29 diperbaiki terutama untuk di wilayah ke 18:33 3T wilayah-wilayah yang dibutuhkan gitu 18:35 kan. 18:36 Oh, banyak orang yang miskin yang butuhi 18:38 itu. Itu itu kita perlu apresiasi ya. 18:41 Eh, tetapi harus juga dysfunction. 18:44 Banyak orang yang numpang nyari makan di 18:46 situ dalam pengertian dengan cara-cara 18:48 ilegal, merampok uang negara, 18:50 pimpinan-pimpinan MPG seperti itu. Nah, 18:52 ini kalau diantisipasi dari awal kan 18:54 tidak sebesar itu ya. Ee KMP misalnya, 18:59 KMP juga banyak sedang banyak sorotan 19:02 gitu loh ya. 19:03 Kemudian ee KMP pada akhirnya akan melek 19:06 seperti MBG ya kita tidak tahu karena di 19:09 situ ada uang 240 miliar kan uang yang 19:13 tidak tidak sedikit itu kalau 19:14 disumbangkan separuh sama Rasil wah 19:16 Rasil itu seumur hidup itu bisa 19:19 [tertawa] 19:21 begitu Mas Angga 19:22 ini belum belum tentu juga itu gitu ya. 19:25 Nah tadi kaitan dengan e gonjangganjing 19:28 Trunojoyo ini Bang Toni. Apakah 19:31 menangkap ini ya? pergantian-pergantian 19:34 kepemimpinan dan juga ini kan biasanya 19:36 kalau kita bicara ini ee posisi posisi 19:39 jabatan itu biasanya suka suka ee 19:43 paradoks gitu ya dengan syarat-syarat 19:44 administratif atau apa. Kita lihat 19:46 kops-kops yang ada gitu ya dekat ke 19:48 penguasa atau tidak. Begini, 19:51 Mas Angga, wacana untuk pergantian 19:55 ee Kapolri itu kan sudah lama 19:58 dan seringki munculnya dari Menh kan, 20:02 Minhan. Kemudian untuk menggantikan si A 20:05 gagal, menggantikan lagi si B gagal. 20:08 Bahkan kemarin sudah ya ini sudah 20:10 terbuka di media lah. Saya enggak perlu 20:13 takut untuk bicara ee tak enggak perlu 20:15 menyimpan lagi itu Karyota sudah 20:17 disiapin 20:19 gitu kan. Tapi juga gagal juga gitu loh 20:23 ya. Ini kan sudah 20:25 setahun yang lalu ya lewat seri setahun 20:27 yang lalu. Kenapa itu gagal gitu kan ya? 20:31 Ya, pernah enggak Pak Prabowo sebagai 20:33 seorang yang memiliki otoritas untuk 20:34 mengganti presiden itu ada sinyal 20:37 mengganti. Mengganti Kapolri maksudnya 20:39 ada sinyal mengganti. Kan enggak ada. 20:41 Iya ada. 20:42 Apakah kemudian Pak Prabowo itu stroke 20:45 dengan Kapolri? Belum tentu juga. Banyak 20:47 informasi yang Pak Prabowo tersinggung 20:49 dan marah sama Kapolri termasuk kasus 20:51 kemarin kan. 20:52 Iya 20:53 gitu kan ya informasinya kan Pak Prabowo 20:56 juga kecewa marah bikin gaduh. Pak 20:58 Prabowo kan presiden yang ingin 21:01 menyelesaikan segala sesuatunya dengan 21:03 tenang sehingga bisa bekerja dengan 21:04 baik, bisa membangun negara ini. Dengan 21:07 kegaduhan beliau enggak suka. Makanya 21:09 siapapun yang bisa dirangkul dirangkul 21:11 sama beliau gitu kan. Tapi kenapa kok 21:13 kemudian seringki muncul justru dari ya 21:17 dari Trunojo rame-rame ramai-ramai. 21:20 Eh rumornya ini silakan dicek aja 21:22 rumornya. kemarin sudah ada yang nurunin 21:25 pasukan di Jakarta itu full pasukan 21:28 gitu, pasukan-pasukan elit gitu kan. 21:30 Iya. Rumornya Jumat malam terjadi ada 21:34 rumor ya. Tapi silakan ceklah saya kan 21:36 namanya juga rumor gitu kan. 21:39 Iya rumor. 21:41 Ton itu ngomongnya hati-hati ya memang 21:42 perlu hati-hati juga kan gitu. [tertawa] 21:45 Bahasa yang paling paling paling selamat 21:47 adalah rumornya kan begitu. 21:49 Iya 21:50 rumornya gitu kan. Ya, 21:53 jangan, jangan ini jangan ngomongnya 21:55 enggak hati-hati kayak itu ya pengacara 21:57 itu tuh. [tertawa] 22:01 Wartawan pada kesal sama dia. 22:02 Minta maaf gitu kan. 22:04 Iya, minta maaf. 22:06 Misalnya gitu seandainya memang 22:08 seandainya faktanya memang begitu tapi 22:10 kan tidak perlu diomongkan. Tidak semua 22:12 fakta harus diomongkan kan gitu. 22:15 Karena satu bisa membuat tersinggung. 22:17 Yang kedua, susah untuk dibuktikan 22:19 karena semua tidak ee semua saksi akan 22:22 lari gitu kan gitu. 22:24 Iya. Iya. 22:24 Tidak semua fakta itu bisa diungkapkan 22:27 ke publik karena ee bisa menimbulkan 22:30 masalah baik masalah hukum maupun 22:33 masalah keamanan. Kan begitu aja itu 22:35 sebenarnya. Ya, 22:37 kalau pertanyaannya siapa juga 22:38 sesungguhnya yang membantah 22:40 pernyataannya si apa namanya ee 22:44 pengacara itu kecuali para politisi yang 22:47 tidak terima? Kan begitu aja. [tertawa] 22:49 Iya. 22:49 Kalau rakyat tidak mana ada yang bantah 22:51 rakyat itu 22:53 paling ah hukum karena melihatnya dari 22:55 sisi hukum enggak boleh itu intervensi 22:57 ya. Untungnya yang ngomong gitu bukan 22:59 JK. Kalau CK ngomong bukan intervensi, 23:03 saya instruksikan kata CK itu kan 23:06 [tertawa] 23:08 cuman ma yang pengacara gitu kan kalau 23:10 yang ngomong pakai presiden beda cerita 23:13 tapi kan masyarakat semua tahu dan 23:16 seperti mengaminkan gitu kan 23:21 ya cuman secara hukum itu memang salah 23:24 tidak boleh eksekutif itu ya ee kenapa 23:28 kita mengikuti demokrasi Kemudian muncul 23:30 trias politika yang menjadi bagian dari 23:32 sistem ketetanegaraan kita. Karena tidak 23:35 boleh ada intervensi eksekutif, 23:37 yudikatif, legislatif. Ya, secara 23:39 teoritis begitu. Idealnya, harapannya 23:43 seperti itu, regulasinya seperti itu. 23:46 Tapi faktanya, nah persoalannya kan 23:48 gitu. Tapi semua lagi-lagi semua fakta 23:51 itu tidak semua bisa diungkap ke publik. 23:54 Ini masalah ee keamanan dan masalah 23:57 hukum kan begitu. Tapi publik kan paham 24:00 soal soal itu. Jadi ee 24:04 seperti ada kendala ada tembok yang 24:07 begitu tebal dan besar. Apa itu tembok 24:09 begitu besar dan tepat seperti ya ya 24:12 kita enggak tahu. Ah ini ini bahasa 24:14 publik ini kita enggak tahu apa itu gitu 24:17 loh. 24:18 Ee tetapi lagi-lagi feeling saya feeling 24:21 ini kan bicara feeling ya mungkin 24:24 analisis juga dari dari situlah kemudian 24:26 menjadi sebuah analisis. Sepertinya 24:28 memang Kapolri enggak akan diganti 24:30 kecuali ya ee minimal setelah pensiun 24:33 tahun 2000 ah pensiun diperpanjang ya 24:36 minimal 2027 24:38 ya sesuai skema awal pensiun awal agak 24:41 panjang 24:43 aturannya kan pensiun ee umur 58 kan 24:47 berubah 24:48 ee berubah terus kemudian yang yang 24:52 dengan skema itu minimal ee yang kedua 24:55 atau memang ada gonjang-ganj anjing yang 24:57 tidak memungkinkan lagi untuk 24:59 dipertahankan. 25:00 H 25:01 bisa diganti. Kalau dua situasi seperti 25:04 itu, rasa rasanya kan sekali lagi 25:08 rasa-rasanya 25:10 kok enggak akan diganti gitu loh. 25:12 Kok enggak akan diganti? Kalau orang 25:15 mengatakan pengamat kok pakai perasaan 25:17 ya. E kita menggunakan perasaan itu bisa 25:20 dari insting kita menggunakan teorinya 25:22 eh apa namanya Bston itu ya insting itu 25:25 di atas ini di atasikan kadang-kadang 25:27 begini oh rasanya kok enggak enak ah 25:30 enggak jadi pergi ah gitu kan kemudian 25:32 berlaku gak mayaribuk mayayaribuk ya gak 25:35 mayar mayar ribuk kan insting kan 25:38 iya 25:39 gitu kan tinggalkan yang meragukan ya ya 25:43 kemudian jalan yang tidak meragukan Mas 25:45 Angga mau pergi perasaan enggak enak Ah, 25:47 perasaan enggak enak. Jadi ragu kan 25:50 kalau jadi ragu ya enggak usah kan gitu. 25:53 Biasanya ada masalah ternyata pikiran 25:55 tidak mampu menjangkau ya akal logika 25:58 tidak mampu menjangkau karena logika itu 26:00 disuplai oleh data sementara data tidak 26:03 semuanya tersaji. Ah kadang-kadang data 26:06 yang tidak kadang kan empiris. Data 26:08 empiris ini yang tidak semuanya belum 26:10 tersaji di hadapan menjadi hidangan 26:13 logika ya. ee panca indra yang kemudian 26:16 masuk ke logika, maka seringki ee apa 26:21 kekosongan itu diisi oleh insting yang 26:24 kemudian melihat 26:26 gitu. Nah, karena kita e paham yang 26:29 lebih dominan adalah positivisme yang 26:32 pada akhirnya inseng seringkiali ah itu 26:34 kan perasaanmu. 26:35 Masa pengamat pakai perasaan [tertawa] 26:38 tapi ada dasar ilmiahnya begitu loh ya. 26:42 Ada dasar ilmiahnya, Mbak e. Dasar 26:45 ilmiahnya itu melalui tebon dan juga ada 26:47 dasar keimanannya itu melalui hadis 26:50 tadi. Kan begitu, Mas. 26:52 Nah, makanya saya bilang bahasa yang 26:54 lebih sederhana kan, bahasa yang 26:55 membumilah, bahasa alat-alat ketimuran 26:57 lah, rasa-rasanya 27:00 kok enggak akan dicopot kecuali dua hal 27:03 itu gitu loh. 27:07 Baik, Bang Toni. Ini sebagai penutup 27:10 tadi ya. Pertanyaan kedua, karena tadi 27:12 berawal dari kasus Febri, ini kan hal 27:14 yang dipertontonkan kepada generasi kita 27:17 nih ya, yang tadi kalau ada salah satu 27:20 penyebabnya masyarakat yang kurang ee 27:23 terdidik, kurang paham, kurang sadar, 27:25 bisa jadi generasi-generasinya juga 27:27 karena memang bermasalah dengan 27:28 mental-mentalnya gitu ya, dipertontonkan 27:31 hal-hal kasus seperti ini. Bagaimana 27:32 menyiapkan generasi ini yang mentalnya 27:34 siap dengan semua 27:36 semua kasus ini, Bang Toni? Penutup. 27:38 Iya. sebelum arah ke sana sedikit saya 27:40 tambahi. Ada teorinya eh Pardi itu abad 27:45 ke-20 itu ada yang namanya ee apa? 27:51 Capital eh kemudian Hertus dan Field. 27:55 Saya mak field. Jadi Febri ini itu 27:58 adalah lapangan pertarungan di antara 28:02 para gajah gitu loh. 28:04 Betul 28:04 gitu. Jadi, Fabrik itu adalah field 28:08 medan ee pertempuran di antara dua apa 28:13 dua kelompok yang yang kuat. Sehingga 28:16 kelabaanlah si ee Pak Prabowo ini 28:19 melihat sampai kan di bocor alus itu 28:21 sempat diungkapkan juga gitu. Iya. 28:24 Kalian mau menjatuhkan saya dengan ini 28:27 dengan pasukan yang disiagakan gitu loh. 28:30 Siapa yang pasukan apa dan siapa yang 28:33 berapa banyak di mana saja dan siapa 28:35 yang menyiapkan ya silakan cari 28:38 informasi sendiri begitu. Ee terus 28:40 kemudian bagaimana mempersiapkan 28:42 generasi yang akan datang ya ee 28:45 bergantung uswah. Ada istilah yang 28:48 sering kali saya ungkap diel ini lisan 28:50 minisanil maq. Orang itu butuh 28:53 keteradanan. Siapa yang perlu 28:55 diteladani? Ya, elit. 28:57 Selama elit itu mempertontonkan tidak 28:59 memberikan contoh atau memberikan contoh 29:01 yang buruk dan berdampak destruktif 29:04 terpasang ini, ya rakyat ikutan. Contoh 29:07 yang paling sederhana, yang paling 29:09 minimalis itu kan ketika lampu merah 29:11 gitu k ada nyebrang kemudian di ee apa 29:15 namanya? Tang panggil media aja 29:17 ditilang. Kemudian ada lampu merah lagi 29:19 di tempat yang lain, ada yang melanggar 29:21 ditilang. Ada yang kemudian jadi 29:23 pelanggar ditilang. Kira-kira dalam 29:25 jangka 1 bulan itu berkurang tidak? 29:28 Hm. 29:29 Pelanggaran itu 29:32 drastis berkurangnya 29:34 gitu kan. Terus kemudian ada elit gitu 29:37 kan ya. Ketika kemudian korupsi ya 29:41 langsung dihukum ee tidak pandang bulu 29:44 lalu dihukum semuanya. ee ada yang 29:47 kumpul pokoknya di atas 5 miliar tegas. 29:51 Kalau di atas 10 miliar misalnya seumur 29:53 hidup. 29:54 Kalau di atas e se ini ee apa namanya 29:57 kan undang-undangnya tidak menyebut 30:00 sekian miliar itu di angkanya sekian 30:03 sekian lama angkanya sekian sekian kan 30:05 enggak nyebut kan. Sehingga di situ ada 30:07 ruang untuk bernegosiasi. Coba 30:09 disebutkan 30:11 ya, jika gitu kan ee R miliar di atas R 30:15 miliar di bawah 5 mil 1 sampai 5 miliar 30:19 ya maka hukumannya minimal hukuman itu 30:23 20 tahun minimal. 30:26 Kalau itu korupsi tidak ada remisi, 30:27 tidak ada macam-macam itu dikhususkan. 30:31 Kalau 5 miliar sampai 10 miliar itu 30:34 hukumannya 30 tahun. Kalau di atas 10 30:37 miliar itu seumur hidup. Kalau di atas 30:40 50 100 miliar itu hukuman mati. Coba 30:43 angka undang-undangnya langsung secara 30:46 kuantitatif disebutkan seperti itu dan 30:49 kemudian dijalankan. 30:50 Jerah enggak itu? 30:53 Iya cerah. 30:54 Jerah artinya apa? Uswah keteladanan. 30:58 Selama tidak ada keteladanan satu selama 31:01 pendidikan tidak tinggi gitu kan maka 31:03 tidak ada kontrol dari rakyat. ini ee 31:06 apa namanya ee bottom up ya. Terus 31:09 kemudian ee 31:12 ee kemudian kalau kemudian tidak ada 31:16 uswatun ini top down tidak ada uswah, 31:19 tidak ada keteladanan enggak akan 31:21 dua-duanya. Mau jalur yang mana? 31:24 Mau jalur keteladanan gitu atau mau 31:26 jalur dari rakyat yaitu pendidikan? 31:29 Kalau dua-duanya tidak ada 31:31 ya 2000 enggak ada perubahan ya 2045 31:37 ee apa Indonesia emas jadi Indonesia 31:39 cemas 31:41 pada akhirnya jadi Indonesia lemas gitu 31:45 lemas 31:46 generasinya lewat gitu Bang Toni ya 31:48 ee iya iya kita ee tidak belum ada 31:52 tanda-tanda untuk perbaikan generasi 31:54 ini. tanda tanda tangga ee dalam sebuah 31:57 apatisme karena keteladanan enggak ada. 31:59 Kalau orang tua itu tidak bisa menjadi 32:01 teladan, anak-anaknya kan kemudian 32:03 kecewa pada akhirnya apatis. Ketika 32:05 apatis anak itu mencari alternatif dan 32:07 alternatifnya sekarang disajikan 32:09 teknologi IT kan, teknologi digital 32:12 semua ada di media, semua ada di medsos. 32:14 Mereka akhirnya anak-anak kecanduan. 32:17 Sekarang anak-anak yang berkacamata jauh 32:19 lebih banyak daripada masa kita dulu 32:21 kan. 32:22 Iya. Ya, anak-anak yang daya khayalnya 32:26 tinggi masih ada ee apa kualitas 32:29 mahasiswa aja sudah jauh dengan kita 32:31 dulu gitu. 32:32 Baik, Bang Toni. Baik, waktu kita sudah 32:35 habis, Bang Toni. Ya, alhamdulillah 32:37 dialog kita di pagi hari ini semoga 32:39 mencerahkan. 32:41 Insyaallah kita jumpa lagi pekan depan, 32:42 Bang Toni. 32:43 Semoga selalu sehat. 32:45 Amin. Amin. 32:46 Asalamualaikum warahmatullahi 32:47 wabarakatuh. 32:47 Waalaikumsalam warahmatullah.