Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Rabbi zidni ilman Allahuma
- anfa'ni bima alamtani warzuqni ilman
- yang bermanfaat.
- Masih dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimalang Islamic
- Center Bekasi, inilah Radio Silaturahim
- dan Rasio Visual untuk Islam yang satu.
- Ikhwan dan akhwat, kembali lagi bersama
- saya Khalid Mustofa dalam acara tausiah
- siang. Kali ini edisi Rabu 4 Rabiul Awal
- 1439 Hijriah atau bertepatan dengan
- tanggal 22 November 2017.
- Baik ikhwan dan akhwat, seperti biasa di
- Rabu siang kali ini tausiah siang akan
- diisi oleh Ustaz Amin Roni. Dan
- alhamdulillah ikhwan dan akhwat, Ustaz
- sudah berada di tengah-tengah kita.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana
- kabar di hari ini, Ustaz? Alhamdulillah,
- sehat walafiat, insyaallah. Perjalanan
- lancar, Ustaz? Alhamdulillah, kalau
- siang relatif agak lengang, Ustaz.
- Ya, baik ikhwan dan akhwat,
- eh Ustaz Amin Roni kali ini masih akan
- melanjutkan
- tausiah siang yang sebelumnya yaitu
- kisah-kisah dalam Alquran dan kali ini
- temanya adalah kisah dua anak Nabi Adam.
- Baik untuk ikhwan dan akhwat yang ingin
- kirimkan SMS pertanyaan bisa kirimkan di
- nomor 08111999720
- atau di line telepon kami di 0218451512.
- Tafadhol, Ustaz.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillah wassalatu
- wassalamu ala Rasulillah wa ala alihi wa
- ashabihi wa mawalah.
- Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la
- syarikalah wa asyhadu anna Muhammadan
- abduhu wa rasuluhu la nabiya ba'dah.
- Allahuma shalli wa sallim ala Rasulillah
- wa ala alihi wa ashabihi wa man tabi'ahu
- bi ihsanin ila yaumiddin amma ba'd.
- Pendengar Radio Silaturahim yang
- dimuliakan oleh Allah
- dan pemirsa Rasiltv yang berbahagia di
- manapun berada, alhamdulillah
- karena izin, karunia, inayah, taufik
- serta pertolongan Allah semata pada
- kesempatan
- siang hari ini kita bisa bersilaturahim
- lewat udara
- mudah-mudahan silaturahim kita siang
- hari ini
- diberkahi, dirahmati dan memberikan
- kemanfaatan
- dan serta meningkatkan keimanan dan
- ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa
- Ta'ala. Amin ya rabbal alamin.
- Pada kesempatan yang baik ini kita akan
- lanjutkan membedah tentang kisah-kisah
- al azimah, kisah-kisah yang al faedah
- yang bermanfaat, yang besar, yang agung
- yang ada dalam Alquran
- dan pada kesempatan kali ini kita akan
- baca bersama, kita akan bedah bersama
- kandungan hikmah kisah di balik
- ee dua putra Adam.
- Landasan kajian kita pada kesempatan
- siang hari ini adalah surat Almaidah
- ayat yang ke
- 27 insya Allah sampai dengan ayat yang
- ke 32.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Watslu alaihim nabaa abnai Adama
- bilhaqqi idz qarraba qurbanan
- fatuqubbila min ahadihima.
- Fatuqubbila min ahadihima walam
- yutaqabbal minal akhar.
- Qala la aqtulannaka.
- Qala la innama
- yataqabbalullahu
- minal muttaqin.
- La in basatta ilayya yadaka litaqtulani
- ma
- ana bibasitin yadiya ilayka li aqtulak.
- Inni akhafullahi
- rabbul alamin.
- Inni
- uridu an tabua bi ismi wa ismika
- fatakuna min ashhabinnar.
- Wa dzalika jazau
- dzalimin.
- Fatawwa'at lahu nafsuhu qatla akhihi
- faqatalah.
- Faqatalahu faasbaha minal khasirin.
- Sadaqallahul
- adzim.
- Pendengar Rasil
- Radio Rasil Radio Silaturahim dan
- pemirsa Rasil TV yang dimuliakan oleh
- Allah, itulah
- bagian awal yang akan kita bedah pada
- kesempatan siang hari ini tentang kisah
- dua putra Nabi Adam.
- Kisah ini
- sesuai dengan yang kami baca tadi
- tercantum dalam surat Al Maidah ayat
- yang ke 27,
- 28, 29, dan 30.
- Dan masih pada konteks kisah ini pun
- insya Allah akan kita lanjutkan nanti
- pada ayat yang ke 31 dan 32.
- Pada empat ayat yang
- setelah kami baca tadi
- Allah subhanahu wa taala memerintahkan.
- Watlu.
- Kalimat tilawah sering sangat kita
- dengar.
- Dan menurut Imam Al Maroghi.
- Al qiroah maknanya tilawah itu adalah Al
- qiroah.
- Walatakadustastamilu
- illa fi qiroati kalamillahi taala.
- Dan amat sangat.
- Sering dipergunakan.
- Dalam hal membaca.
- Ayat-ayat Allah adalah dengan sebutan
- tilawah.
- Maka pada ayat ini watlu.
- Perintah Allah kepada Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam untuk
- membacakan.
- Kepada mereka.
- Hai kepada siapa?
- Kepada manusia pada umumnya.
- Atau juga kepada Yahudi, Bani Israil,
- Nasrani juga iya.
- Apa yang diperintahkan oleh Allah untuk
- dibacakan naba.
- Hai di mana akhbar artinya kisah.
- Kalau naba di sini disebutkan al khabaru
- alladzi yuhtamu bihi lifaidatin
- wamanfaatin adzimah.
- Kisah yang mengandung pelajaran yang
- besar.
- Dan faedah manfaat yang luas.
- Itu sering disebut dengan annaba.
- Jadi.
- Kisah yang besar.
- Cerita yang besar.
- Tidak saja berbicara tentang kapasitas
- besarnya berita itu.
- Tapi lebih dari.
- Berita yang ada.
- Fakta yang ada. Dia pun memberikan
- manfaat yang besar.
- Pelajaran yang agung maka naba. Nah.
- Nah yang Allah perintahkan kepada Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- adalah.
- Utlu baca.
- Naba naba abnai adama.
- Kisah. Cerita tentang dua anak kandung
- Nabi Adam.
- Ada sebagian ahli tafsir menyebutkan
- Ada sebagian ahli tafsir menyebutkan
- bahwa dia bukan langsung anak Nabi Adam,
- artinya keturunan secara nasab.
- Karena nanti ada kaitannya min ajli
- dzalika pada ayat yang ke-32.
- Peristiwa ini menjadi sebab ketetapan
- Allah bagi Bani Israil. Nah,
- padahal antara
- jeda waktu antara Nabi Adam dengan
- anak-anaknya kemudian dengan datangnya
- Bani Israil setelah menjadi bagian dari
- keturunan Nabi Yakub itu sangat jauh
- waktunya.
- Maka ada sebagian ahli tafsir bahwa
- kisah ini tidak langsung bicara anak
- Adam langsung secara nasab tapi dia
- adalah
- kisah di antara anak Adam di kalangan
- Bani Israil.
- Maka di sini banyak komentar dan yang
- paling masyhur adalah siapa dia?
- Karena menggunakan kalimat ibn, maka itu
- adalah anak kandung dari Nabi Adam
- alaihissalam.
- Kisah dua.
- Di sini memang para mufasir dalam
- Alquran tidak disebutkan siapa namanya
- dua putra anak Adam itu.
- Dan kita dapati sebenarnya dalam
- kisah-kisah Israiliyat tentang
- nama itu seperti Habil dan Qabil, ya.
- Maka
- para ahli tafsir menyebutkan
- berkaitan tentang ini adalah
- dalam ee
- jam haratul ulama ala anna hadza ila ibn
- ibnainihuma ibn Adam min sulbihi.
- Wafi safar at-taqwin annahuma awwalu
- auladu Adam. Ismu ahaduhuma Qayin au
- Qayi Qayiyain.
- Wahuwa al-baqar wasamahul mufassiruna
- wal
- wal muarrakhuna minal muslimin Qabil
- wahuwa al-qatil wasmu tsani Habil wahuwa
- al-maqtul.
- Nah, di
- memastikan bahwa atau memilih bahwa
- kisah dua anak Adam ini adalah langsung
- anak putra kandung
- beliau.
- Maka kemudian baik itu dalam perjanjian
- lama disebutkan perjanjian baru sebutkan
- ya
- ah, kedua anak Adam ini ada yang
- menyebutkan Qabil namanya.
- Iya, wa samahul mufassirun tapi para
- mufassir ini tentunya
- mengambil dari kisah kisah Israiliyat
- lebih
- untuk mengidentifikasi namanya ya
- al muar al muar orang-orang yang telah
- mendalami meneliti
- dari kalangan mufassir muslimin namanya
- adalah Qabil.
- Huwa al qatil, nah
- putra Nabi Adam yang membunuh itu adalah
- Qabil namanya.
- Wasmu tsani Habil wahuwal maktul.
- Dan yang kedua yang terbunuh itu adalah
- Habil dan dia adalah yang
- al maktul yang terbunuh.
- Bil haqqi dengan benar, artinya
- mengambil apa menceritakan kisah yang
- sebenarnya tentang ah, Habil dan Qabil
- ini dari sumber yang asli yaitu Alquran.
- Artinya ketika perintah ini dibacakan
- kepada Rasulullah
- berkemungkinan telah menyebar berita ini
- turun temurun gitu
- dan menjadi cerita apa legendarislah
- kisah tentang pembunuhan
- ah, Habil dan Qabil yang membunuh adalah
- Qabil dan yang terbunuh adalah Habil,
- nah
- nah pada beberapa apa pada kisah ini
- sebenarnya
- kita bisa mengambil satu pelajaran yang
- luar biasa, artinya apa?
- Artinya dari keluarga yang sama dengan
- bimbingan Nabi secara langsung gitu ya
- dengan ajaran Islam Ternyata tidak
- menjamin bahwa
- anak-anak itu pun akan seperti ayahnya
- sebagai seorang muslim.
- Seperti ayahnya akidahnya sebagai
- seorang nabi.
- Seperti ayahnya akhlaknya sebagai
- teladan bagi mereka.
- Dan ini juga menjadi catatan besar, uh
- masyaallah.
- Nanti kita akan telusuri, kita akan
- dalami.
- Ternyata ya
- dari apa rahim yang sama, dari
- sulbi yang sama, kemudian dengan
- pembinaan yang sama, dengan pengajaran
- yang sama, dengan apa guru yang sama,
- ternyata tidak menjamin
- menjadikan murid-murid itu dengan
- semaian ilmunya pun akan melahirkan
- manusia-manusia yang berakhlak dan
- berwatak sama. Oh, ternyata tidak. Ini
- menjadi pelajaran yang penting.
- Idz qarraba qurbanan.
- Ketika qarraba
- keduanya mengurbankan
- qurbanan suatu kurban.
- Ini memang dalam dalam tafsirnya
- disebutkan di sini memang adanya
- permasalahan
- antara dua putra Nabi Adam ini.
- Dan kemudian dua putra Nabi Adam ini
- sebagai seorang muslim, sikapnya begitu
- jelas.
- Artinya permasalahan yang mereka hadapi
- ia minta penyelesaiannya kepada Nabi
- Adam tentunya sesuai dengan petunjuk
- Allah dan Rasul.
- Ini sudah menjadi ketetapan dalam Islam
- itu.
- Wa intanaza'tum fi syai'in farudduhu
- ilallahi wa rasulihi. Apa yang terjadi
- berupa perselisihan, perbedaan pendapat
- berkaitan tentang masalah hidup dan
- kehidupan ini ya, maka keputusan
- hukumnya bagi seorang muslim itu ya cari
- kepada Alquran dan sunah, iya kan? Itu
- cari kepada ketetapan Allah, ketetapan
- Rasul.
- Nah, artinya
- sama ya
- apa yang ada dalam Alquran yang Allah
- perintahkan kepada kaum muslimin yang
- diteladankan oleh Rasulullah Shallallahu
- Alaihi Wasallam kepada umatnya dengan
- para nabi sebelumnya.
- Ternyata ajaran yang sama.
- Artinya permasalahan hidup itu
- bisa diselesaikan atau mestinya
- diselesaikan oleh seorang muslim dengan
- merujuk kepada petunjuk Allah dan Rasul.
- Nah.
- Maka
- di sini menunjukkan bahwa kedua putra
- Adam ini adalah dua-duanya muslim.
- Sehingga ketika dua kedua-duanya
- mendapatkan permasalahan
- mereka meminta penyelesaiannya kepada
- ayahandanya.
- Dan penyelesaian itu akan diputuskan
- menurut ketetapan
- Allah dan Rasul. Subhanallah.
- Ini inilah menjadi akidah bagi orang
- beriman.
- Nah.
- Kita sadari bahwa dalam hidup ini ya
- tidak ada namanya
- hidup tanpa masalah.
- Dan hidup sendiri bagian dari masalah,
- ya kan.
- Nah, bagaimana mensikapi masalah-masalah
- ini kan tinggal diklasifikasikan.
- Masalah yang prinsip dan masalah
- syariat. Masalah tentang apa? Sosial,
- ijtimaiyah, kemasyarakatan, masalah
- individual, lalu masalah tentang sosial,
- kan tinggal bagaimana permasalahannya.
- Jika permasalahan itu menyangkut tentang
- masalah hal yang prinsip, akidah,
- syariat, ya kembalikan kepada Allah dan
- Rasul. Fa intanaza'tum fi syai'in
- farudduhu ilallahi wa Rasul.
- Nah, itulah yang kita lihat, oh ternyata
- kedua putra Nabi Adam ini ketika
- menghadapi permasalahan
- di antara keduanya, mereka kembalikan
- kepada Allah dan Rasul melalui keputusan
- yang diberikan oleh ayahandanya yaitu
- Maka ketika
- permasalahan yang mereka hadapi, nah ini
- berkembang dalam tafsir. Permasalahan
- apa sih sesungguhnya? Nah.
- Sehingga muncul pada banyak kisah
- Israiliyat, salah satunya ya tadi, oh
- ini.
- Karena ini termasuk adalah putra pertama
- disebutkan di sini dalam tafsir.
- Ini memang termasuk anak-anak anak di
- awal ya.
- Annahuma awwalu auladi Adam. Jadi, Habil
- dan Qabil ini termasuk putra-putra Adam
- yang awal, yang pertama gitu ya.
- Jadi,
- ketika mereka menghadapi perselisihan
- maka kemudian muncul, apa sih
- permasalahannya? Sebagai manusiawi kita
- sebagai manusia biasa bertanya, apa
- masalahnya?
- Nah, inilah yang kemudian jawabannya itu
- muncul melalui kisah-kisah Israiliyat.
- Karena dalam Alquran tidak menyebutkan
- tentang itu. Nah, prinsipnya bagi
- seorang muslim permasalahan hidup itu
- bagaimana penyelesaiannya adalah
- dikembalikan kepada Allah dan dan Rasul.
- Nah, tapi
- tidak menafikan bahwa
- ada yang bertanya,
- permasalahan apa yang mereka hadapi?
- Sehingga ketika ditarik jawabannya, oh
- ini.
- Nah, setiap kali
- Allah memberikan keturunan kepada Nabi
- Adam, maka akan lahir putra dua yang
- kembar, laki dan perempuan. Kemudian
- dinikahkan secara silang. Nah, ini
- ternyata kisah Israiliyat.
- Iya kan? Kalau lah kita kembalikan
- kepada ayat ini, artinya
- kedua putra Adam ini memperoleh,
- mendapatkan atau menghadapi
- permasalahan,
- kemudian ia kembalikan, ia pertanyakan,
- ia mencari solusinya kepada Nabi Adam
- sehingga Nabi Adam memerintahkan idz
- qarraba qurbanan. Hendaknya kalian itu
- berkurban. Ya.
- Karena nanti kurban di antara kalian
- yang diterima tanda Anda yang benar.
- Dan siapa yang tidak diterima tanda
- bahwa Anda itu yang dalam posisi tidak
- dalam kebenaran.
- Nah, maka idz qarraba qurbanan,
- kalimat yang sering kita dengar kurban,
- artinya ya pendekatan diri kepada Allah,
- pengorbanan gitu ya. Bermacam-macam kita
- akan dapati versi-versi bagaimana
- pengorbanannya. Ini pun akan kita
- bagaimana sih syariat kurban sebelum
- Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- atau para nabi sebelumnya dan bagaimana
- syariat kurban setelah Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Tentunya
- yang jelas kurban adalah
- upaya pendekatan, mendekatkan diri
- kepada Allah.
- Taubat juga bagian dari berkurban,
- ibadah berkurban, berinfak berkurban,
- taqarrub gitu ya.
- Nah, ketika diarahkan kepada
- keduanya untuk mencari siapa yang benar
- dalam perselisihan itu idzkara kurbanan
- fatakub fatukubila min ahadihima.
- Nah, maka menggunakan kalimat fi'il
- majhul fatukubila diterima itu memang di
- dinafikan di apa disembunyikan
- permasalahannya.
- Apa yang diterima kurbannya? Bagaimana
- cara penerima kurbannya? Nah, itu kan
- syariat-syariat masa lalu yang yang
- memang esensinya memang tidak untuk itu
- yang jelas
- apa yang melatarbelakangi salah satu itu
- diterima dan salah satu tidak. Nah,
- fatukubila min ahadihima
- maka kurban salah satu dari keduanya
- diterima oleh Allah subhanahu wa taala,
- diterima.
- Ya, artinya diterima. Siapa? Nah,
- ini ternyata tadi seperti nama yang
- diberikan oleh para ahli mufasir yang
- mendalami meneliti yaitu yang bernama
- yang diterima adalah yang bernama Habil.
- Ya.
- Walam yutakabal minal akhar dan tidak
- diterima
- dari
- kurbannya yang lain yaitu
- Qabil.
- Qala la aktulannak.
- Nah, di sinilah kemudian muncul sikap
- bagaimana sikap orang yang
- dari keduanya yaitu sikap dari Qabil
- yang kurbannya tidak diterima oleh
- Allah.
- Mengapa tidak diterima?
- tapi yang jelas pada ayat ini
- dijelaskan qala la aqtulanna
- sikap
- kebencian, sikap tidak menerima, sikap
- apa kesombongan sikap apa ya tidak
- ikhlasnya itu muncul
- dari Qabil ini sehingga
- sikap itu terlontar pada satu sisi, satu
- tindakan la aqtulanna
- dengan menggunakan
- apa lamul amr, sungguh aku akan membunuh
- engkau
- qala
- maka kemudian
- berkata innama yataqabbalullahu
- hanya saja
- Allah menerima
- kurban itu
- dari orang-orang yang bertakwa saja
- innama yataqabbalullahu
- minal muttaqin
- ini menunjukkan bahwa
- syarat diterimanya satu pengorbanan,
- satu pendekatan diri kepada Allah hanya
- orang-orang yang memiliki sifat takwa
- kepadanya
- karena Habil dia bertakwa kepada Allah
- kemudian ia berkurban juga atas landasan
- ketakwaan
- ketakwaan itu juga didasari dengan
- keimanan, takwa di atas keimanan kepada
- Allah subhanahu wa taala
- maka itulah yang menjadikan kriteria
- kurban dia diterima oleh Allah
- berarti walam yutaqabbal minal akhar
- siapa yang tidak diterima oleh Allah
- kurbannya? Dia yang tidak dilandasi
- kurbannya dengan takwa
- nah dia tidak melandasinya dengan
- keimanan
- dia tidak melandasinya dengan keikhlasan
- kepada Allah subhanahu wa taala, jadi
- jelas pada posisi ini, baru satu ayat
- saja jadi dua putra Nabi Adam
- dalam berkurban pada kesempatan untuk
- menyelesaikan permasalahan ini, ada yang
- satu karena Allah, ada yang satu bukan
- karena Allah yang satu menyikapi
- perintah itu dengan penuh ketakwaan,
- yang satu menyikapinya dengan ee dengan
- apa? Dengan ambisi, dengan kesombongan,
- dengan hasad gitu kan, dengan apa?
- Dengan cara-cara yang tidak ben- benar,
- sehingga
- karena Allah Maha mengetahui nilai-nilai
- dari semua amal hambanya, maka
- dipastikan
- yang
- bertakwa kepada Allah, yang ikhlas dalam
- pengorbanannya, dialah yang pasti
- diterima.
- Siapapun, di manapun, ee dalam strata
- sosial apapun jika dalam ibadahnya tidak
- dilandasi dengan iman, dengan ketakwaan,
- maka dia tidak akan diterima oleh Allah
- Subhanahu wa Ta'ala. Nah, di sinilah
- pentingnya ikhlas, Subhanallah.
- Jadi, pendengar Radio Asil yang
- dimuliakan oleh Allah, pemirsa Asil TV
- yang berbahagia,
- pada kisah ini coba kita bayangkan
- betapa seorang nabi itu besar hasratnya
- untuk membimbing,
- untuk mengarahkan, untuk mengajari,
- untuk me- apa? Meneladani, meneladankan
- bagi mereka sifat-sifat yang baik,
- sifat-sifat ketakwaan kepada Allah. Tapi
- ternyata pembinaan itu pun pada akhirnya
- dikembalikan pilihannya kepada anak-anak
- mereka sendiri.
- Bagaimana anak itu memilih? Nah,
- tentunya ini nanti ada unsur-unsur lain
- di samping
- pada diri manusia ada potensi iman, pada
- ada potensi takwa, dan ada potensi
- keburukan,
- gitu kan, tapi bimbingan ini sangat
- berpengaruh besar
- untuk bisa menjadikan manusia itu
- condong kepada kebaikan.
- Ya, nyatanya Habil ini tumbuh menjadi
- anak yang jiwanya itu dengan celupan,
- dengan ajaran, dengan binaan orang
- tuanya cenderung kepada
- kebaikan-kebaikan.
- Kemudian kenapa muncul
- Kabil yang sama dalam pendidikan yang
- sama, bangku yang sama, sekolah yang
- sama, rumah yang sama, guru yang sama,
- tapi kenapa bimbingan baik itu justru
- tidak ia pilih?
- Tapi dia memilih kepada tadi, keburukan,
- kepada apa? Ketidakbenaran, kepada
- kekufuran. Nah, ini berarti unsur ini.
- Kalau kita lihat,
- apa yang kira-kira mendominasi
- Qabil,
- Qabil dalam melakukan hal ini? Dan
- kemudian apa yang kira-kira mendominasi
- Habil dalam memilih jalannya, pilihannya
- masing-masing? Yang jelas,
- kita tahu bagaimana kisah
- tentang ayahanda mereka berdua, yaitu
- Nabi Adam
- saat proses terusirnya dari surga.
- Iya, kan? Masyaallah, kita akan baca
- tentang itu dalam banyak ayat.
- Ternyata dalam proses itu, nah, muncul
- sumpah dari iblis yang mengatakan, dia
- berdoa kepada Allah, meminta kepada
- Allah secara khusus,
- bahwa dia akan menjadikan anak keturunan
- Nabi Adam ini
- banyak di antaranya yang tidak pandai
- bersyukur kepada Allah.
- Dia akan sesatkan anak Adam ini dari
- jalan yang benar. Nah, ini kan testimoni
- pertama nih, bagaimana upaya setan itu
- dengan sumpahnya dan permintaannya
- kepada Allah yang dikabulkan itu
- membuktikan, iya, kan? Coba.
- Dari keturunannya langsung Nabi Adam,
- kemudian setelah itu dia berjanji dan
- bersumpah.
- Nah, makanya
- kita bisa melihat, masyaallah, pasti di
- sana besar kemungkinan dan sangat kuat
- dorongannya tentang tipu daya setan.
- Nah, di sinilah akan kita bahas.
- Subhanallah, jadi
- banyak dari satu ayat saja
- pelajaran yang bisa kita peroleh tentang
- Habil dan Qabil ini,
- ya, bagaimana seorang muslim itu
- menyikapi permasalahan hidup?
- Ah, kan bohong kalau hidup ini tanpa
- masalah.
- Apalagi dunia Islam khususnya hari ini
- lebih mengecil dan me apa menciut
- tentang bagaimana Islam di Indonesia
- masya Allah betapa banyaknya
- permasalahan.
- Permasalahan anak remaja dengan
- dekadensi moralnya gitu kan.
- Permasalahan tentang para elit pemimpin
- yang jauh dari akhlak dan nilai-nilai
- kejujuran
- belum lagi bagaimana muslim antara satu
- dengan yang lain belum bisa
- apa belum bisa hidup dalam kebersamaan
- dalam kesatuan gitu ya. Terus bagaimana
- keberhasilan orang kafir memecah belah
- kaum muslimin sehingga mereka berhadapan
- tidak dengan orang yang non muslim
- justru lebih kepada kepada sesama
- muslim. Ini kan semua
- permasalahan-permasalahan hidup. Masya
- Allah.
- Itu baru pada tingkat nasional. Pada
- tingkat internasional pun
- permasalahannya luar biasa.
- Artinya masya Allah betapa banyak
- muslimin ini
- menggantungkan
- tentang nasib saudaranya, menggantungkan
- solusi dari permasalahan yang dihadapi
- oleh kaum muslimin di manapun berada
- ternyata kepada lembaga-lembaga yang
- notabene-nya ya gitu kan bukan
- menyuarakan tentang Islam.
- Sehingga harapan yang besar itu
- terkadang pupus. Ah, ya kan. Bagaimana
- muslim Palestina merdeka pupus.
- Bagaimana dorongan muslim sedunia untuk
- apa memerintahkan atau mengajukan
- tentang apa tentang kemerdekaan
- pupus harapannya. Ah, karena yang
- menjadi harapan mereka justru kepada
- lembaga-lembaga. Ini
- permasalahan-permasalahan yang besar
- maupun yang yang kecil.
- Belum lagi secara ekonomi, belum lagi
- secara politis, belum lagi secara
- sosial, belum lagi secara budaya, belum
- lagi secara sistem. Betapa permasalahan
- hidup yang dihadapi muslimin ini banyak
- sekali.
- Maka
- pasti muslimin itu akan berpikir,
- semuanya berpikir. Para ulamanya
- berpikir, para intelektualnya berpikir,
- berpikir untuk mencari solusi.
- Mencari solusi bagaimana supaya muslim
- ini bisa dengan leluasa dan merdeka
- menjalankan agamanya,
- kemudian membangun ekonominya,
- kemudian membangun kemasyarakatannya dan
- seterusnya dan seterusnya hingga
- berdirinya peradaban Islam yang rahmatan
- lil alamin. Pasti semua berpikir.
- Tentu dengan pendekatan yang
- bermacam-macam.
- Ada yang pendekatannya langsung secara
- ekstrem melihat bahwa Islam itu
- mendunia, maka permasalahannya pun
- dipecahkan dari sudut bagaimana Islam
- memberikan. Ada lagi pendekatannya ya,
- is muslim itu sudah berada dalam
- kotak-kotak negara-negara nation-nation,
- bagaimana mengkolaborasi Islam itu dalam
- aturan-aturan hukum dan seterusnya.
- Nah, ini kan semua problem yang sedang
- dicari permasalahannya.
- Kalau kita melihat kepada
- bagaimana sikap orang beriman wa makana
- qaulan mukminin.
- Ida du ilallah.
- Atau dalam surat Al-Hasyr wa ma atakum
- rasul fahudu wa ma nahakum anhu fantahu.
- Kemudian kisah tentang bagaimana nah,
- ini kan awal putra-putra Nabi Adam yang
- menghadapi permasalahan, maka bagi orang
- muslim ayo kita cari dalam Islam. Kita
- cari solusinya secara benar.
- Kemudian ketika
- mmm didapati solusi yang Allah turunkan,
- nah baru nanti akan muncul dua sikap.
- Tadi sikap Qabil, dia ikhlas menerima.
- Dia dengan penuh husnudzon dia jalankan
- apa yang diperintahkan oleh Allah dengan
- kesungguhan dan kesucian hati.
- Sementara ada yang mungkin terpaksa, nah
- kan tadi.
- Dia berkorban.
- Dia ikut mengikuti apa? Mengikuti aturan
- menjaga tapi dengan niat
- ketidakikhlasan, keterpaksaan,
- kesombongan, kemudian apa ya? Ambisi,
- kepentingan. Nah, tadi kan Habil dan
- Qabil, coba bayangkan.
- Sehingga pada kisah ini
- Allah terangkan bahwa hanya wujud
- pengorbanan, pendekatan diri kepada
- Allah yang didasari dengan keimanan dan
- ketakwaan itulah yang pasti diterima
- oleh Allah.
- Sementara kepada mereka yang setengah
- hati, yang mereka ya artinya ragu, yang
- mereka tidak ikhlas, yang mereka nah
- penuh kesombongan gitu kan, maka tadi
- diberi batasan. Innam yataqabbal
- menggunakan kata adat hasr yang artinya
- hanya
- hanya amalan-amalan yang didasari dengan
- takwa itulah yang Allah terima.
- Subhanallah.
- Jadi artinya dalam hidup ini
- permasalahan yang kita hadapi, kemudian
- kita temukan solusinya dalam Alquran,
- kemudian dengan penuh keimanan dan penuh
- husnuzan kepada Allah, hendaknya
- muslimin itu ya menjalankan apa yang
- menjadi ketetapan Allah sebagai solusi
- permasalahan hidupnya, mestinya begitu.
- Tanpa lagi dengan penuh keraguan.
- Lha wong memang Allah yang menciptakan
- manusia,
- Allah yang menjadikan dunia, dan
- kemudian Allah yang menyempurnakan
- fasilitas hidup di dunia untuk
- makhluknya, utamanya manusia. Kemudian
- demi kebaikan kemanusiaan manusia itu
- sendiri, Allah turunkan aturan. Aturan
- yang tidak ada kepentingan padanya.
- Aturan yang murni universal dari Allah
- untuk kemaslahatan mereka ya kan? Bukan
- aturan-aturan yang dibuat oleh manusia
- yang sarat dengan kepentingan, tapi
- aturan yang Allah turunkan untuk
- membebaskan manusia dari segala bentuk
- kezaliman dan lahir adalah rahmatal
- alamin itu, Subhanallah. Nah, mestinya
- kan begitu. Nah, di sinilah penuh
- keikhlasan. Apa itu ikhlas? Nah, ini kan
- perlu pertanyaan. Yang kedua juga tanpa
- hasad, tanpa kedengkian. Apa itu hasad?
- Nah,
- ternyata sifat hasad yang menonjol pada
- Qabil itulah yang membuat amalannya
- tidak diterima, ya kan?
- Dan sifat ikhlas yang dimiliki
- oleh Habil itulah ternyata yang
- menjadikan diterimanya amal kebaikan.
- Nah,
- masyaallah ini kan luar biasa.
- Jadi, kita akan bahas sedikit.
- Nah, karena ini memang tidak pure
- tentang kronologis kisahnya,
- tapi kita pure dalam artian ya membaca
- bilhaq kisah ini sesuai dengan konteks
- ayat mungkin tidak menyangkut karena
- tidak akan mengurangi
- kesempurnaan hikmah kisah ini dengan
- tidak disebutkan siapa namanya,
- peristiwanya apa, tidak mengurangi.
- Tapi yang jelas eee esensi dari kisah
- ini adalah bagaimana pribadi prototipe
- orang yang bertakwa dengan amalannya dan
- bagaimana pribadi prototipe yang dengan
- hasadnya dia tidak diterima ibadahnya
- dari kepada tidak diterima ibadahnya
- oleh Allah subhanahu wa taala. Walaupun
- dua prototipe ini sama-sama putra Nabi
- Nabi Adam. Tentunya juga ada ada
- hikmahnya.
- Kok ternyata kenapa mesti kedua Nabi
- Adam?
- Dua-dua anak seorang nabi. Nah, kenapa
- kemudian prototipenya berbeda? Nah, ini
- menjadi pelajaran bagi kita.
- Subhanallah.
- Kita nanti akan bahas juga kisah tentang
- bagaimana ending kisah Nabi Nuh dengan
- putranya. Masyaallah.
- Ketika sebagai
- seorang bapak dengan jiwa tanggung jawab
- dan kasih sayang serta kecintaannya
- kepada anak masih dia kejar terus
- anaknya yang sedang berlari ke atas
- gunung gitu kan.
- Begitu air bah terus menyusulnya, masih
- dia tawarkan, "Wahai anak, masuklah ke
- dalam safinah, ke dalam kapal. Kamu akan
- diselamatkan." "Tidak, Ayah. Aku akan
- cari tempat yang jauh lebih tinggi
- supaya saya selamat dari air."
- Sampai dikatakan tidak akan pernah
- terlepas orang-orang yang sudah
- ditetapkan oleh Allah untuk dia
- tenggelam, dia akan "Ayo, kemari bersama
- kami, bersama air." "Tidak, Ayah. Saya
- akan mencari." Sampai begitu.
- Hingga kemudian putranya itu tidak lagi
- nampak karena ditelan oleh gelombang
- badai.
- Sehingga dia berdoa kepada Allah, "Ya
- Allah, min ahli, itu adalah anakku, ya
- Allah. Lindungilah, selamatkanlah."
- Hingga kemudian keputusan Allah, "Laisa
- min ahli, itu bukan dari
- Bagaimana ini kisah? Masya Allah,
- seorang nabi gitu, ya.
- Nah, ini ternyata sebelum kisah Nuh itu
- sudah diawali dengan
- dua putra Nabi Adam.
- Iya, coba. Lahir dari kandungan yang
- sama, dari sulbi yang sama, ibnayi
- Adama, tapi dengan
- pendidikan yang sama itu ternyata lahir
- prototipe dua manusia yang sangat
- ber-berbeda.
- Nah, prototipe ini ketika ditelusuri
- secara secara psikologis, artinya ya
- ranah jiwa.
- Pertama, ranah kebaikan, kejernihan,
- kesucian, keikhlasan, itulah Ka-Kabil,
- ya kan. Kemudian jiwa yang selama ini
- dicelup, ternyata dia lebih cenderung
- dan terdorong dengan
- bisikan setan sehingga prototipenya
- justru menjadi potensial, menjadi contoh
- yang tidak baik. Allahu Akbar. Ini kan
- menjadi pelajaran.
- Nah, coba Habil.
- Berarti
- berkemungkinan dong potensi itu.
- Manusia itu memang ya potensi jiwanya
- memang ada dua.
- Satu potensi
- aflaha man zakaha,
- ya. Ee, apa? Qad fa alhama fujuraha wa
- taqwaha, potensi fujur, potensi takwa,
- dua-duanya ini kan secara suci kan
- ee, dua-duanya ya. Ini kan kalau bicara
- masalah jiwa, lho itu sama-sama. Kalau
- dilihat dua-duanya butuh kepada Allah.
- Butuh kepada agama kalau dipertanyakan
- secara apa? Secara psikolog kan banyak
- sekarang
- kajian-kajian tentang psikologi Islam.
- Ya, tokohnya mungkin di Indonesia
- seperti siapa? Dokter Profesor Dokter
- Zakiah ya.
- Itu kan bicara.
- Benarkah manusia itu butuh kepada agama?
- Benarkah jiwa manusia itu secara fitrah
- memang butuh kepada agama, kepada Allah?
- Yang sering kita katakan bahwa Islam itu
- fitrah
- fitrah manusia itu berada dalam
- Islam dalam surat Ar-Rum. Ternyata
- ketika dilihat dinamika jiwa itu begitu.
- Jiwa kita ini manusia itu semua
- membutuhkan adalah pertama membutuhkan
- kasih sayang.
- Kasih sayang dari Allah.
- Nah, kalaupun dia bertuhan kepada Allah,
- maka dia akan membutuhkan kasih sayang
- kepada Allah. Kalau dia punya keyakinan
- selain Allah, pasti dia punya makanya
- ada istilah apa? Ada istilah mengadu.
- Ada istilah curhat.
- Lha curhat itu kan kepada orang yang dia
- yakini bisa memberikan solusi. Ya kan?
- Maka bagi orang beriman, kepada siapa
- dia curhat?
- Ya. Dia punya masalah, dia
- curhat kepada Allah. Dia butuh
- pertolongan, dia minta kepada Allah. Dia
- bermunajat kepada Allah, ya kan? Ini
- artinya manusia secara fitrah memang
- butuh kepada Allah.
- Jiwa beragamanya itu ada. Dua-duanya
- sama nih.
- Nah, antara Habil dengan Qabil dan Qabil
- sama-sama punya potensi untuk itu.
- Kenapa kemudian ini murni kepada Allah?
- Padahal ajarannya sama. Kok ini malah
- cenderungnya kepada yang lain, tuh kan?
- Masya Allah.
- Nah, itu ya. Jadi
- pertama potensi
- potensi beragama itu ya karena butuh apa
- tadi? Rasa am, rasa aman.
- Nih, butuh apa? Butuh kasih sayang ya,
- butuh kasih sayang. Makanya tanda orang
- mengeluh itu memang dia sedang butuh
- kasih sayang.
- Jadi kalau orang-orang mengeluh ngapain?
- Itu memang butuh kasih sayang. Jadi,
- kalau ada orang sedang mengeluh, curhat,
- dia punya masalah, oh dia sedang minta
- kasih sayang itu. Nah, makanya, ya.
- Nah, ini tadi makanya, ketika
- kedua-duanya punya masalah, ya kan? Ayo,
- Anda berkorban kepada Allah.
- Mintalah, dialah yang punya apa, yang
- bisa. Wamayyattaqillaha yaj'allahu
- makhraja. Allahlah yang memberikan jalan
- keluar, memberikan solusi dari
- permasalahan. Mengadu kepada Allah,
- curhat kepada Allah, kan gitu kira-kira
- nih. Jadi, kalau mungkin dulu bahasanya
- adalah,
- di sini disebutkan dalam tafsir ternyata
- Habil itu memang punya latar belakang
- sebagai seorang
- peng, apa, seorang peternak. Nah,
- ternak yang terbaiklah yang dia
- persembahkan dalam kurban itu.
- Sementara Qabil ini adalah petani.
- Dan dia tidak sesungguh, sese, apa,
- dengan dengan kesungguhan hati
- mengorbankan hasil pertaniannya kepada,
- ini kan berkorban. Artinya pendekatan
- diri.
- Kurban itu, kurban secara umum adalah
- upaya pendekatan diri kepada Allah
- subhanahu wa taala. Nah, nah ini ketika
- kedua-duanya dapat masalah, nah gitu
- kan. Yang satu kan kurbannya ya,
- pendekatan dirinya kepada Allah, murni
- dia. Nah,
- karena dia memang butuh kasih sayang ya
- hanya kepada Allah. Yang satu bercabang.
- Ini sama-sama, satu bercabang, dia
- kepada Allah, juga dia tadi, ambisinya
- ada, hasadnya ada, dengkinya ada,
- sombongnya yang menonjol. Nah, kan
- sombongnya. Artinya, mestinya dia curhat
- kepada Allah, dia membutuhkan kasih
- sayang kepada Allah, tapi dia juga
- merasa dirinya mampu, merasa dirinya
- punya kemampuan, kekuatan. Nah, kan.
- Artinya ini terbagi, terpecah. Sementara
- ini bu, bulat. Itulah, ya kan? Ranah
- jiwa itu namanya, ranah jiwa.
- Kasih sayang.
- Yang kedua ya memang secara fitrah
- manusia itu ya butuh apa, butuh rasa
- aman.
- Butuh rasa aman, masya Allah.
- Nah, kalau Habil, eh kalau Habil ini
- memang merasa aman dia. Dengan keputusan
- Allah itu sudah merasa aman. Itulah yang
- terbaik, meskipun tidak ia senangi.
- Ini namanya orang, orang cari aman.
- Tanda bahwa orang itu pengin rasa aman
- kan sering marah.
- Iya kan, cari rasa. Kalau orang semuanya
- kenapa orang mesti datang ke dukun?
- Karena memang cari aman.
- Kenapa orang sampai minta benda-benda
- keramat untuk melindungi dirinya? Karena
- memang dia butuh keamanan.
- Kenapa dia curiga kepada orang lain?
- Karena memang butuh keamanan, iya kan.
- Ini jangan-jangan lingkungan rumah saya
- ini enggak aman, hah kan. Berarti memang
- dia butuh keamanan.
- Sementara Habil itu sudah me apa?
- Memberikan rasa amannya itu dengan
- keimanannya kepada Allah. Dia tidak
- butuh yang lain. Sementara ini merasa
- dia, masya Allah. Jadi, kalau kita runut
- secara psikologi ya Allah dalam sekali
- gitu ya. Subhanallah.
- Ini kan, jadi ikhlas.
- Habil ini adalah pribadi muslim yang
- ikhlas. Nah, maka potensi ikhlas,
- potensi ikhlas itu ada pada setiap
- manusia. Ini kalau kita dalami secara
- mendalam, apa itu ikhlas? Iya kan.
- Kok bisa bahwa Habil ini pribadi yang
- ikhlas? Apa itu ikhlas? Nah, ikhlas itu
- kan murni. Ikhlas itu kan jernih.
- Ikhlas itu kan suci.
- Akhlaso artinya menjernihkan,
- mensucikan, membersihkan.
- Nah, artinya kalau membersihkan,
- mensucikan tadinya awalnya adalah
- sesuatu yang tidak suci, yang kotor,
- yang yang tidak bersih. Itulah ikhlas.
- Beda dengan air. Air itu tohur, memang
- zatnya dia suci.
- Atau benda-benda yang baik itu tohir,
- karena asalnya dia suci. Beda dengan
- keikhlasan, keikhlasan itu dalam bidang
- amal. Artinya membersihkan, tadinya
- kotor.
- Karena setiap perbuatan manusia itu
- berpotensi memiliki banyak tujuan.
- Maka tujuan yang bernilai hanya tujuan
- yang semata-mata mengharap rida Allah.
- Begitu kira-kira.
- Ya kan? Bisa saja tadi si Qabil ini
- sama-sama dia berkorban.
- Tapi kurbannya ini dengan tujuan yang
- banyak.
- Bisa saja dia dengan sombongnya, "Akan
- saya kalahkan saudara saya." Nah, kan
- ini artinya sudah tidak bersih tujuannya
- kan? Bukan karena Allah. Bisa saja,
- "Pasti saya yang diterima." Ya kan
- begitu kira-kira. "Ah, enggak terlalu
- penting berkorban. Karena kalaupun nanti
- dia yang menang, saya akan kalahkan."
- Kan itu namanya artinya tidak bersih.
- Nah,
- beda ketika Habil ini kan memang ikhlas.
- Karena ini adalah
- sedang dalam proses mencari solusi dari
- Allah subhanahu wa taala.
- Kemudian tuntutan untuk itu dia harus
- berkorban, maka dia luruskan niatnya.
- Bukan karena sombong, bukan karena ingin
- mengalahkan, bukan karena apa? Karena
- dia jalankan sesuai dengan dengan
- proporsional perintahnya saja. Begitu
- kira-kira. Subhanallah.
- Nah, kalau orang-orang beriman ketika
- diberi oleh Allah solusi dari
- permasalahan hidupnya
- dengan apa yang ditunjukkannya kemudian
- dia katakan sami'na wa ato'na tanpa
- banyak apa? Tanpa banyak kemudian
- eee berkomentar tentang kepentingannya,
- keuntungannya dan seterusnya. Nah, ini
- kayaknya akan indah betul ending-nya
- ini. Masya Allah.
- Itulah yang dialami oleh
- Habil.
- Iya, dia bersihkan.
- Maka kalau menurut Imam Al Asfahani
- yang pakar dalam bidang pengertian
- bahasa, apa itu Al Ikhlas? Gitu kan.
- Kalau tidak salah, "Ma zala saubuhu ma
- zala anhu saubuhu ba'da an kana bihi."
- Segala sesuatu yang hilang kotornya
- setelah tadinya nya
- baur. Nah, ini makna ikhlas itu begitu.
- Ternyata ya kalau kita renungkan dalam
- setiap perbuatan contoh Habil.
- Ketika Habil ini berkorban
- artinya upaya mendekatkan diri kepada
- Allah, bisa saja bermunculan pada benak
- pikirannya
- atau dalam jiwa hatinya itu
- maksud-maksud yang banyak.
- Ya.
- Seperti semuanya kita, saya mau sedekah.
- Sedekah kepada siapa? Kepada orang tua.
- Kan tidak otomatis orang bersedekah itu
- semata-mata karena Allah semata.
- Bisa saja biar saya dikatakan beda
- dengan anak yang lain. Kan bisa saja.
- Atau bisa saja biar saya dikatakan anak
- yang dermawan.
- Kan begitu orang orang dalam memberi itu
- berkemungkinan munculnya banyak tujuan.
- Maka ketika orang menyadari bahwa hanya
- amal yang ikhlas karena Allah lah yang
- diterima, maka banyaknya tujuan-tujuan
- yang bermunculan itu ia singkirkan, ia
- luruskan. Hanya yang mengharap ridho
- Allah. Itulah ikhlas namanya.
- Subhanallah.
- Nah, sulit. Nah, ini makanya tadi
- eh di sini bisa membedakan. Kita nanti
- akan ketemu kenapa Habil bisa membedakan
- eh amal yang bisa diterima dengan yang
- tidak diterima. Maka dalam ayat begitu,
- "Wamayyattaqillah yaj'al
- wamayyattaqillah
- yaj'allahu makhroja." Ada lagi,
- "Intattaqullah yaj'allakum furqona."
- Jika kalian bertakwa kepada Allah maka
- Allah akan berikan pembeda. Nih loh amal
- yang lurus niat karena Allah, ini amal
- yang tidak lurus karena Allah. Kan gitu.
- "Intattaqullah yaj'al." Maka ketika ayat
- "Innama yataqabbalallahu minal
- muttaqin." Hanya saja orang yang
- bertakwa yang beramal itulah yang
- diterima. Artinya apa? Di sini secara
- tidak langsung, "Oh, berarti Habil itu
- adalah orang yang bertakwa."
- Sehingga takwanya itu menjadikan amalnya
- diterima. Kan begitu. Ini
- bahasa Alquran kan indah sekali ini,
- tidak langsung begitu. Oh, berarti Habil
- itu, Qabil itu orang yang saat itu tidak
- bertakwa. Sehingga korbannya tidak
- diterima oleh Allah karena tidak
- didasari dengan ketak waan. Nah, kalau
- mengembalikan kepada ayat lain,
- intattaqullaha yaj'al lakum furqan.
- Karena orang yang bertakwa kepada Allah,
- Allah akan berikan furqan, pembeda. Mana
- yang baik, mana yang buruk. Mana yang
- hak, mana yang ba batil. Subhanallah,
- luar biasa ini ya.
- Nah, artinya
- di situlah
- eee
- Habil ini bisa menjalankan perintah
- Allah dengan penuh keih keikhlasan. Ini
- belajar nih, belajar ikhlas.
- Jadi kalau ingin diterima oleh Allah,
- nah
- mengambil prototipe ini adalah, ayo kita
- ambil sikap Habil yang beramal itu
- karena takwa.
- Iman dan takwa. Apa itu takwa? Nanti
- diterjemahkan lagi, apa itu takwa? Iya.
- Iya kan? Ini baru ke kepada pribadi yang
- ikhlas, bersih. Nah.
- Jadi bukan berarti
- Habil sebagai manu manusia biasa itu
- tidak tidak bermunculan niat-niat yang
- buruk pada dirinya, itu manusiawi.
- Semua manusia dalam beramal itu pasti
- ada muncul itu niat-niat yang bukan
- karena Allah.
- Nah, tapi potensi itu bisa diminimalisir
- atau bahkan dihilangkan dengan kemudian
- meluruskan ikhlas karena karena. Jadi
- sama-sama nih.
- Lah Habil sama Qabil sama-sama
- berkorban.
- Secara zahiriyah dua-duanya
- mempersembahkan kepada Allah secara
- ikhlas, secara zahiriyah.
- Tapi ternyata potensi kebersihan beramal
- itu bukan kepada bentuk amalnya, tapi
- kepada ruhnya. Nah, kan gitu kan. Ya
- Allah, makanya
- termasuk Imam Al-Ghazali kan pernah
- berkata,
- al-a'malu
- suratun qaimah. Amal itu sesungguhnya
- adalah wujud yang kelihatan.
- Suratun qaimah. Wa arwahuha ikhlas. Ruh
- dari amal ini adalah keikhlasan.
- Jadi orang salat itu betul itu salat
- karena Allah.
- Kalau dilihat dari bentuk amaliyahnya.
- Tapi pelaku orang-orang yang sedang
- salat itu pasti
- jiwanya berbeda-beda.
- Kalau yang ikhlas pasti karena Allah.
- Kalau yang tidak ikhlas memungkinkan
- bertujuan banyak. Supaya dikatakan
- salehlah. Supaya dikatakan muslim yang
- baiklah, kan? Lah itu kan namanya
- Tapi secara zahir mereka sedang
- beribadah kepada Allah. Masalah diterima
- atau tidaknya itu menyangkut tentang
- niat yang ada pada diri mereka
- masing-masing. Fa innama li kulli imriin
- ma nawa. Karena semua amaliyah itu
- tergantung dari awal niat yang mereka
- lakukan. Subhanallah, ini belajar ya.
- Kita belajar ikhlas. Ayolah kita belajar
- ikhlas.
- Orang berpakaian.
- Ah, pakaian penting enggak kira-kira?
- Penting.
- Apa tandanya bahwa pakaian itu penting?
- Untuk menutupi badan kita. Ah, untuk
- menutupi ya. Pertama mungkin itu. Yang
- kedua
- kita selalu memilih. Ya, kan? Kenapa kok
- Anda memilih enggak warna hijau, kok
- warna merah? Enggak warna hitam, kok
- warna putih? Karena apa? Loh, karena
- ternyata itu menyangkut keindahan. Ya,
- kan?
- Saya kalau milih ini kayaknya cocok.
- Nah, itu kan menyangkut keindahan. Ya,
- kan?
- Itu tanda bahwa berpakaian itu punya
- tujuan banyak.
- Maka salahkah orang ketika memilih saya
- pakai ya berpakaian ini supaya kelihatan
- ganteng? Lah, memang itulah.
- Itu sesungguhnya wujud kenapa dia
- memilih pakaian. Dia akan memantaskan
- sesuai dengan situasi dan kondisi.
- Pantas itu apa? Pantas itu kan dalam
- pandangan.
- Kelihatan matching, kelihatan bagus,
- kelihatan indah, kan gitu kira-kira?
- Nah, ini tujuan bukan? Tujuan.
- Ada lagi yang kalau kita lihat nih nih
- di Ramayana harga satu pakaian 300.000.
- Nih, harga pasar harga pakaian 150.000
- ya. Nih, harga butik butiknya di Atrium
- Senen gitu kan. Satu satu baju 7 juta.
- Jauh enggak kira-kira? Beda enggak
- kira-kira? Loh. Jadi, kalau kita
- nih, pakaian Anda bermerek internasional
- berarti ini kelasnya ke atas wah, high
- class gitu ya.
- Oh, ini
- mereknya merek biasa saja berarti ini
- menengah nih, wasat nih kan.
- Middle nih, tingkat middle. Nah, kalau
- ini nih bajunya KW-KW semua gitu kan.
- Walaupun coraknya seperti kelas atas
- tapi
- KW oh, ini berarti ekonomi ke bawah. Oh,
- ternyata pakaian itu juga prestise
- dalam masyarakat. Ya, kan? Loh, ukuran.
- Nah.
- Jadi, ketika berkumpul manusia itu baru
- penampilannya saja dilihat ini pasti
- orang kaya karena pakaiannya bermerek.
- Nah, kan begitu kira-kira. Subhanallah.
- Jadi,
- mungkinkah orang berpakaian itu dengan
- tujuan yang bermacam-macam? Mungkin.
- Sangat mungkin.
- Beribadah pun begitu sih. Nah, loh pak
- berpakaian ibadah kan?
- Nah, baru kemudian karena orang ikhlas
- itu artinya orang yang tahu orang yang
- tahu bahwa amal yang diterima itu hanya
- karena mengharap ridho Allah
- pakaian yang sudah dia pilih kemudian
- dia niatkan bismillah. Saya berpakaian
- mudah-mudahan menutup aurat dan Engkau
- ridhoi. Nah, lurus namanya. Jadi,
- diantara banyak tujuan itu kemudian ia
- luruskan niat. Itu namanya ikh ikhlas.
- Begitu. Nah, kayak Habil ini
- coba kira-kira.
- Ini dua-duanya sedang berproses mencari
- kebenaran siapa yang benar. Nah. Ketika
- orang sedang mencari siapa yang benar
- amal itu sangat memungkinkan
- saya akan kalahkan dia. Nah.
- Mungkin enggak? Sangat mungkin. Ini
- Karena sedang berlomba sedang
- berkompetisi.
- Habil dan Qabil ini sedang berkompetisi
- untuk menunjukkan siapa dirinya yang
- benar.
- Nah, ternyata jalannya adalah berkorban.
- Ketika berkorban itu kan sangat
- memungkinkan.
- Awas lu, pasti saya menang. Wah, gitu
- kan. Saya akan berkorban yang terbaik,
- biar saya menang, dia kalah. Mungkin
- enggak? Mungkin. Nah, gitu kan. Sangat
- mungkin.
- Maka, bagaimana kira-kira
- dinamika jiwanya? Nah,
- saya lebih cenderung jiwa Qabil itu
- lebih bergelora kepada semangat
- mengalahkan.
- Iya, enggak?
- Sifat Qabil itu sangat bergelora kepada
- sifat mengalahkan. Saya kalahkan si
- Habil, biar saya menang. Kan begitu.
- Yang satu lain lagi.
- Karena ini adalah syariat.
- Dan karena syariat itulah saya jalani
- ini, ikhlas karena Allah. Nah, gitu
- kira-kira, ya. Bisa dipahami, ya. Coba.
- Umar bin Khattab radhiallahu anhu.
- Ketika melihat orang berebut mencium
- Hajar Aswad.
- Apa kata dia?
- Kalau bukan karena ini dicontohkan oleh
- Rasulullah, saya akan buang itu batu.
- Ngapain saya mencium batu? Kan begitu
- kira-kira. Nah, kan. Sementara orang
- berebut kan macam-macam tuh niatnya.
- Katanya kalau mencium batu Hajar Aswad
- nanti jadi orang yang kaya.
- Jadi kalau pulang haji apa, pulang umrah
- atau haji mampu mencium Hajar Aswad,
- maka dia akan diampuni dosanya. Juga
- berebut.
- Sementara kalau yang tadi, sebenarnya
- saya enggak mau, enggak sudi saya
- mencium batu. Batu itu kan makhluk.
- Hanya karena Rasulullah mencium dan
- mengajarkan supaya mencium itulah aku
- mencium. Coba, kan beda tuh.
- Beda enggak kira-kira? Beda betul. Ini
- bicara dinamika hati.
- Nah, ketika
- Habil,
- ini sebenarnya saya kalau berkorban kan
- ya kompetisi ini, ya, relatif. Tapi
- karena memang saya harus berkorban
- karena Allah inilah, maka saya
- berkorban. Nah, tapi niatnya lu lurus.
- Coba subhanallah. Maka dalam ayat ini
- enggak perlu banyak keterangan, cuman
- innama yataqabbalallahu minal muttaqin.
- Ternyata kedua dinamika jiwa antara
- Habil dan Qabil ini jelas.
- Bahwa beda betul. Persembahannya sama.
- Ya kan? Nilai yang mereka miliki sama,
- walaupun berbeda. Satu mungkin berbentuk
- hewan, satu berbentuk tapi yang jelas
- sama bentuknya secara dhohir. Sama-sama
- dipersyaratkan atau sama-sama masuk pada
- persyaratan kur kurban.
- Tapi ternyata dinamika jiwanya yang
- berbeda. Nah, inilah yang penting bagi
- kita. Mensikapi. Mensikapi betul,
- masyaallah.
- Jadi
- boleh jadi muslimin duduk bersama
- ingin sama-sama bertakwa kepada Allah,
- boleh jadi nih. Ingin menjadi mulia,
- ingin menjadi Nah, ketika ditawarkan
- solusi dari Allah, apakah sama dinamika
- jiwa mereka? Mungkin berbeda-beda.
- Ada yang satu di samping itu ibadah
- punya kepentingan, ada yang satu memang
- semata-mata ingin berjuang untuk
- mendapatkan ridho ridho Allah subhanahu
- wa taala. Subhanallah. Artinya
- di sinilah yang harus kita bersihkan
- sebagai seorang muslim. Ini loh,
- prototipe dua manusia dalam kasus yang
- sama
- dia menjadi murid dari satu guru ayah
- hanya seorang nabi, dalam pembinaan yang
- sama, pengajaran yang sama, ternyata
- dinamika kecenderungan jiwa itu sangat
- tergantung kepada keikhlasan atau
- ketidakikhlasan.
- Orang yang ikhlas dia akan berangkat
- amalnya dengan kecernihan hati,
- kebersihan jiwa, dan
- kenikmatan apa? Kekosongan, kebersihan
- untuk mengharap kepada Allah. Sementara
- yang satu sama-sama menjalankan perintah
- Allah, tapi dengan dinamika karena ada
- kepentingan, karena ada kesombongan,
- karena ada hasad.
- Maka kedua nilai amal dua orang ini pun
- berbeda. Jadi sama-sama
- putra nabi, tapi satu prototipe muslim
- yang bertakwa yang ikhlas, satu
- prototipe jiwa yang kotor dan hasad.
- Beda kan? Subhanallah. Ya.
- Wallahu a'lam bishawab.