Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- Allah senang sekali bisa bersama-sama
- Anda kembali.
- di acara bincang komunikasi bersama Dr.
- Laila Monaganim yang mudah-mudahan
- mempersuasi kita semuanya untuk bisa
- lebih ringan melangkah ke depan di dalam
- menghadapi perjalanan hidup kita terkait
- dengan komunikasi nih ya. Tidak lupa
- salam selawat kita lantunkan untuk
- junjungan umat kekasih kita Muhammad
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Semoga kelak kita mendapatkan syafaat
- beliau dan dapat bersama-sama beliau di
- saat yang sangat kita rindukan di yaumil
- akhir. Sebelumnya terima kasih juga
- untuk radio-radio yang telah
- bersama-sama menyebarluaskan siaran dari
- Radio Silaturahim. Silaturahim yang ada
- di Semarang di ee Banyuwangi ada suara
- Habibullah ya. Kemudian Radio Latansa,
- radio silaturahim yang ada di Jogja yang
- di Bondowoso, kemudian juga Seila FM dan
- Radio Madina serta Radio Rasal di
- Palembang. Mudah-mudahan bahasan hari
- ini tadi waktu di off air kayaknya
- penting banget nih untuk kita pahami
- dengan sepenuh hati, sepenuh rasa. Tapi
- kita sapa dulu narasumber kita yang
- cantik jelita ini. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Mbak Mona.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Hai Mbak Nuning, sudah lama
- enggak ketemu.
- He. Mudah-mudahan kehadiran sebelum
- puasa ini juga meringankan langkah kita.
- Ngomong-ngomong kita ini kan harus kenal
- baik dengan generasi di bawah kita yang
- merupakan anak-anak kita ya.
- Banyak yang enggak tahu bahwa mereka tuh
- bla bla bla. Kita harus bla bla bla.
- Nah, ini kan yang mau kita bahas.
- Betul sekali.
- Masyaallah. Jadi, ikhwan akhwat,
- bagaimana kita bisa memahami generasi
- yang sekarang ini kita sebut generasi
- digital kali ya, karena luar biasa
- sekali dengan internet dan teknologi.
- Sementara mereka juga begitu adaptif,
- begitu mahir, kritis, tapi kadang-kadang
- ya kebawa nih. Nah, baiklah. Bagaimana
- kita sebagai pendamping di dalam
- perjalanan mereka
- mencoba memahami cara mudah memahami
- Genzi ya.
- Iya.
- Oke, silakan yuk kita dengar sepenuh
- hati, sepenuh jiwa. Silakan Mbak Mona.
- Terima kasih Mbak Nuning. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Ah, senang sekali ketemu lagi hari ini
- kita ngebahas tentang Genzi ya. Seru
- banget nih Genzi nih ya. Yuk kita lihat
- lihat e kita pernah membahas tentang Gen
- beberapa saat yang lalu tentang generasi
- sebenarnya semua generasi. Ee sekarang
- kita ee mengingat kembali tetapi akan
- lebih fokus kepada Genzi gitu ya. Mm
- karena kita adalah makhluk sosial dan
- kita hidup bersama dengan ee sejumlah
- generasi. Ada tujuh generasi yang kita
- hidup bersama saat ini. Tujuh generasi
- ya, generasi tradisionalis
- yaitu kelahiran 1922 sampai 1945
- gitu ya sebelum kemerdekaan. Jadi e-eang
- kita ya. Kemudian 46 sampai 64 yaitu
- baby boomer ya. ee setelah ee lahiran,
- setelah kemerdekaan lalu banyak jadi bom
- bayi ya. Kemudian 65 sampai 80 Gen X ya
- saya Gen X.
- Kemudian
- 81
- sampai 94
- adalah gen milenial, gen Y, gen
- milenial. Setelah itu, Gen Gen Z yaitu
- 95 sampai 2010 ya. Nah, anak-anak
- sekarang ini banyak sekali Gen ya. Ee
- jumlah Gen bisa sampai 30%
- lebih ya kemungkinan ya sekitar segituan
- dari jumlah penduduk di Indonesia. ini
- riset tahun 2020 ya sekitar ee 56 tahun
- yang lalu.
- Kemudian setelah itu Gen Alfa
- 2011 sampai 2024
- dan setelah itu gen beta 2025 sampai ee
- seterusnya begitu ya. Nah, ee 2025 belum
- banyak cerita-ceritanya, tetapi saat ini
- kita akan ngebahas tentang Gen Z yang
- sudut pandangnya dilihat dari gen ee X
- ya, gen X
- di atasnya tuh ya. Heeh.
- Dua. Dua di atasnya. Jadi ee ceritanya
- curhatan emak-emak, ibu-ibu atau orang
- tua
- ee seusia saya kepada anaknya
- Genzi gitu ya. Genzi anak anak-anaknya.
- Nah ee yuk kita lihat sebelumnya ee apa
- sih yang ngebentuk manusia gitu ya. ee
- manusia itu dibentuk dari ada tiga ya
- yang kira-kira secara kelompok besarnya
- begitu ya dari biologis atau secara
- genetik di bawah beserta kelahiran
- fitrahnya dari sana seperti apa.
- Kemudian secara psikologis ya dari
- bagaimana diasuhnya,
- bagaimana pengalaman hidupnya dan lain
- sebagainya gitu ya. Kemudian lingkungan.
- lingkungan itu juga berpengaruh yaitu
- temannya, masyarakat, budaya, ekonomi,
- media, ee
- sosial dan lain sebagainya, politik itu
- juga berpengaruh. Jadi yang kita bahas
- pada kesempatan ini adalah apa sih yang
- berpengaruh terhadap orang-orang yang ee
- apa namanya yang lahir di periode
- tersebut begitu di periode tahun 1995
- sampai 2010. Cara mikirnya kayak gimana
- sih? Karena pada periode itu ada COVID,
- ada digital yang luar biasa dan lain
- sebagainya gitu. Kenapa begitu? Karena
- ada sebuah kajian, sebuah penelitian
- yang bilang bahwa
- usia 5 sampai 15 hingga 20 tahun
- itu kejadian-kejadian eksternal,
- kejadian politik, sosial, lingkungan,
- kesehatan ya. itu ternyata berpengaruh
- pada karakter seseorang. Selain dari
- tadi tuh dari biologisnya, genetiknya,
- terus kemudian dari psikologisnya,
- pengasuhan dan lain sebagainya. Jadi ee
- ternyata peristiwa-peristiwa yang
- terjadi itu berpengaruh begitu. Nah,
- jadi ee disebut generasi itu biasanya
- periodenya 20 tahun begitu ya. 20 tahun,
- 20 tahun dan lain sebagainya. Nah, ee
- yuk kita lihat sedikit lagi pemetaannya
- dari generasi yang ee dari yang
- tradisionalis, baby boomers. Ya, sekilas
- saja sekali lagi ya saya ingin ajak
- untuk kita bisa ngelihat pemetaannya.
- Setelah itu kita akan zooming, fokus ke
- generasi ee
- X kepada generasi
- ee Genzi gitu ya.
- Kalau generasi tradisionalis
- atau ee tradisionalis atau yang tadi
- kelahiran sebelum kemerdekaan 22 sampai
- 45 itu masa di mana seseorang ketika itu
- lagi masa ee perang gitu ya. Jadi dengan
- masa perang ee mereka itu banyak
- berjuang gitu ya. masa perjuangan. Saya
- bayangin ya, kemerdekaan ya, masa
- perjuangan itu masa sulit secara
- ekonomi, masa perjuangan dan lain
- sebagainya. Maka keluarga itu jadi
- sangat penting bagi mereka. komunitas
- itu penting. Mereka juga punya dedikasi
- yang tinggi, kerja keras, menghormati ee
- otoritas gitu ya, menghormati ee kata ee
- apa pemimpin ini lakukan apa iya
- diikutin kata Pak RT-nya. Ayo kita ee
- apa namanya? Ngumpul ngumpul begitu ya.
- Jadi loyal patriotisme. Kenapa
- patriotisme? karena ingin segera
- merdeka. Kemudian orangnya cenderung
- sabar ya percaya pada pemerintah itu di
- generasi yang ee sebelum kemerdekaan.
- Meskipun pada saat itu pemerintah dalam
- konteks ee itu sebelum kemerdekaan
- pemerintahnya dalam kerajaan-kerajaan
- begitu ya. He.
- Nah, setelah itu ada generasi setelah
- generasi tradisionalis ada generasi baby
- boomers. Baby boomers itu kelahiran 46
- setelah kemerdekaan. 46 sampai 64.
- Bolak-balik aja 46 sampai 64.
- Misalnya kalau tradisionalis itu seperti
- yang saya hormati Pak JK
- ee ee kalau dari luar negeri Pak
- Mahartir Muhammad atau Eyang Titik Puspa
- ya beliau sudah meninggal ya.
- Kemudian Baby Boomers itu misalnya ee ee
- Ahmad Albar ya dunia ini panggung
- sandiwara
- panggung sandiwara itu yang nyanyi itu
- ya. Nah, Ahmad Albar, Iwan Fals,
- kemudian Mama Dede ya. Eh, itu itu
- adalah kelahiran baby boomers begitu ya.
- Nah, di baby boomers itu setelah
- kemerdekaan. Jadi di masa itu udah
- merasa lebih bebas makanya bayinya
- banyak bom bayi gitu ya terjadinya ya.
- Maka setelah kemerdekaan itu mereka
- mulai mikir gimana ya ngisi ya industri
- mulai berkembang. Mereka mulai mikirin
- bagaimana membangun ekonomi dengan lebih
- baik dan lain sebagainya. Nah, maka di
- generasi baby boomers itu orangnya tuh
- pekerja keras, orangnya disiplin,
- orangnya PD. Ya, kalau yang sebelumnya
- itu patuh, kalau yang ini PD. Kemudian
- orangnya juga gaptek ya, cenderungnya
- gaptek ee ee kalau compare sama sekarang
- gitu ya, orangnya loyal. Jadi ee setelah
- itu Gen X. Nah, ini dia Gen X yang akan
- kita bahas pada kesempatan ini. Gen X
- kepada Gen Z. Kenapa sih banyak banget
- ributan, enggak ngertiin dan lain
- sebagainya gitu ya. Habis ini kita akan
- bahas secara detail. Nah, Gen X itu
- kelahiran 65 sampai 80. Siapakah Gen X?
- Mm,
- Dedy Kobuzer,
- Rosa, kemudian
- Sandiaga Uno, kemudian Anis Basuedan dan
- lain sebagainya. Begitu ya. Jadi di masa
- itu adalah masa yang masih ee kita masih
- main ee sapi tahu enggak sapinong?
- Sapinong itu yang karet di
- digabung-gabung terus ee apa di
- di ee putar-putar gitu Mbak Duning
- orangnya ada di situ gitu ya. main
- engkle ya, masih main eh
- permainan-permainan yang eh physically
- kita ketemu orang begitu ya. Nah, jadi
- di GenX itu yang kelahiran 65 sampai 80
- ya ee itu masa transisi sebelum
- selanjutnya digital gitu ya. Jadi ee dia
- suka dia lebih toleran,
- lebih suka keberagaman,
- lebih terbuka pada kritik. Bedain sama
- generasi sebelumnya yang ee kalau
- tradisionalis yang pertama itu yang
- sebelum kemerdekaan itu dikasih tahu
- gini harus ikut gitu.
- He
- ngikutin. Sementara generasi X itu
- cenderung terbuka pada kritik, cenderung
- terbuka pada saran. dikasih tahu gini
- dia mikirin terus masa itu adalah
- ekonomi dan industri sudah berkembang,
- sudah bangkit, sudah bagus. Bedain sama
- yang sebelumnya yang masih
- kemerdekaan. Setelah kemerdekaan mengisi
- kemerdekaan yang sekarang adalah ee
- mereka sudah mulai bangkit ekonomi
- industri gitu ya. Ee kemudian juga
- setelah itu baru gen ee milenial. ya
- atau gen Y ya gen milenial. Gen Y itu
- kelahiran 81 sampai 94. Ini enggak akan
- kita bahas secara detail pada kesempatan
- ini karena kita akan ngebahas Gen Z sama
- gen X. Cara pandang kenapa kok ini tuh
- sering beda pendapatnya, sering enggak
- ngerti satu sama lain gitu ya. ini yang
- akan kita bahas ee cara mudah untuk
- memahami apa yang membuat seseorang
- berpikir demikian begitu ya. Nah, Gen Y
- atau milenial itu udah dia tahun 1
- sampai 94 di mana ee teknologi sudah
- berkembang begitu ya. Segala sesuatu
- bisa ee ee berkembangnya beda sama
- generasi sebelumnya. Kalau sebelumnya
- itu kalau mau bikin industri
- ee transportasi
- pakainya em eh bluebird gitu ya yang ee
- ada spirnya ada ini. Sementara kalau
- yang eh gen gen
- eh milenial itu bikinnya pakai Gojek
- gitu ya, pakai pakai Grab gitu ya. Jadi
- beda cara pandangnya, cara bikin
- bisnisnya karena yang ini pakai
- teknologi begitu. Jadi di milenial atau
- gen Y itu teknologi luar biasa
- berkembang. Berbagai hal pakai
- teknologi. Kemudian waktu stay di layar
- itu tinggi. Sementara generasi
- sebelumnya ketemu itu ketemu ngobrol
- sama orang. Sementara yang di sini
- ngobrol sama orangnya lewat digital
- begitu ya.
- Ee ketergantungan sama teknologi makin
- tinggi ee ada pergeseran cara berbelanja
- di ee generasi Gen Y. Pada masa Gen Y
- itu mulai ee milenial itu mulai ada
- perilaku berbelanja dengan internet
- makin tinggi. Kemudian Genzi. Gen ini
- yang akan kita bahas. Gen Genzi lahir
- brojol sudah pakai teknologi begitu.
- Jadi mereka canggih, mereka mudah
- menyerap teknologi, cerdas ee dalam
- memahami teknologi, toleran pada
- perbedaan. saking toleran pada
- perbedaan. Bisa saja mereka mendengar
- berbagai sudut pandang karena ee ee ee
- dunia di jari saya dalam waktu ee ee
- setiap hari itu berjam-jam dia di ee
- dikunjungi
- oleh teknologi sehingga input yang masuk
- ke dalam pikirannya adalah berbagai
- informasi yang luas sekali.
- Ini berdampak besar sekali kepada
- bagaimana berkomunikasi. Kok yang yang
- Gen X ini enggak ngerti kenapa kok cara
- pandangnya kok beda ya sama saya dulu ya
- gitu. Makanya banyak
- ributan ya. Mereka juga butuh healing
- serba mudah ya. Kemudian ada COVID ingat
- ya COVID itu di masa mereka lagi di usia
- 5 sampai 15 tahun begitu.
- ee kemudian ee pembatasan ee sampai 5,
- 15 sampai 20 gitu ya di situ ya. Ee
- pembatasan ee pembelajaran tatap muka
- kemudian interaksi dengan orang makin
- terganggu. Pengalaman belajar mereka
- lebih cepat stres karena ketemu sama
- orang ngobrolnya makin terbatas,
- kesejahteraan emosionalnya terganggu
- gitu ya, terisolasi.
- Kemudian juga khawatir kesehatan,
- bingung, "Aduh, kesehatan aku sehat
- enggak ya? Aku cemas, depresi, makin
- tinggi." Karena bayangin waktu COVID
- waktu itu gitu ya,
- kurangnya layanan ee kesehatan termasuk
- kesehatan mental pada saat itu membuat
- mereka menjadi lebih cemas. Kemudian
- waktu itu ee pekerjaan, ekonomi juga
- menurun. pada orang tua-orang tua mereka
- ada banyak kendala-kendala ee secara
- finansial juga pengangguran pada saat
- itu meningkat. Implikasinya kepada
- bagaimana mereka hidup itu juga
- terganggu begitu ya.
- hubungan sosial juga pembatasan
- perjalanan mereka juga ee penutupan
- tempat-tempat ee hiburan, larangan untuk
- pertemuan dengan orang-orang bahkan ee
- ketemuan pada saat wedding aja dengan ee
- kakak-kakaknya atau saudara-saudaranya
- aja dibatasi gitu untuk pertemuan
- wedding aja gitu ya. Jadi perkembangan
- eh tentang komunikasi antar pribadinya
- tuh menjadi terganggu gitu ya. Nah, jadi
- dengan adanya situasi itu apa yang
- terjadi? Banyak sekali
- perubahan-perubahannya ya. Sedikit
- tentang gen alfa ya. Gen alfa itu adalah
- 2011 sampai 2024.
- Itu anak yang benar-benar real brojo
- langsung ee dengan teknologi begitu ya.
- ee akrab dengan teknologi dan mereka itu
- paling sejahtera. Eh ee biasanya yang
- punya anak ee ee alfa itu adalah
- milenial gitu ya, cenderung milenial
- atau Genzi awal gitu ya yang punya anak
- alfa. Nah, saya ingin ngajak untuk
- ngelihat nih ya. Jadi yang kita bahas
- sekarang bagaimana gen X kepada gen Z
- gitu ya.
- Gen itu maunya segala sesuatu jelas. Ini
- ada ada pernyataan ada orang curhat
- kayak gini. Saya ngerasa Gen itu segala
- sesuatunya maunya jelas gitu ya.
- Misalnya ada tugas harus jelas
- disampaikan. Sementara GenX biasanya
- enggak jelas karena diharapkan
- inisiatif. Gen X dikasih tahu misalnya
- ya datang ke kantor eh eh biasanya waktu
- dulu GenX kerja di zaman ee waktu baru
- lulus kuliah atau di usia 20-an dia
- mulai kerja di zaman itu. Maak silakan
- dia harus kreatif sendiri cari-cari.
- Sementara Gen itu yang sekarang masuk
- dunia kerja atau ngerjain sesuatu itu
- dia ee cenderung di menurut generasi X
- itu kurang inisiatif gitu.
- Ee biasanya ee harus dijelasin harus
- ngapain dan lain sebagainya. Jadi, Gen X
- ngelihatnya atau bos-bosnya si Gen
- ngelihat e Gen itu kayaknya kurang
- kreatif deh begitu ya. Kurang ee apa
- namanya? Ee harus dibimbing gitu ya,
- harus diajari agar berinisiatif, enggak
- mau trial and error gitu ya. Sementara
- Gen jadi diam aja kalau enggak disuruh
- gitu. Nah, ternyata kenapa begini gitu
- ya? Kenapa begini perbedaan ini? Karena
- ee gen X itu
- informasinya terbatas waktu dulu gitu
- ya. Jadi mereka harus buru-buru, memburu
- ilmu begitu. Sementara Genzi lahir
- informasinya sudah berlimpah, udah
- terbiasa dapat ee berbagai informasi
- dengan mudah begitu.
- Jadi sementara kalau Gen X itu trial and
- error, cobain segala sesuatu. Dia
- ngelihat ke seniornya kayak gimana,
- terus dia nyontek gimana caranya. Ee
- jadi dia mencari tahu sendiri gitu ya.
- Dulu itu diharapkan begitu karena
- seniornya adalah bisa jadi tradisionalis
- yang zaman sebelum kemerdekaan lahirnya
- atau seniornya adalah baby boomer gitu
- ya. Jadi mereka yang e senioritasnya
- tinggi gitu. Sementara yang Genzi itu eh
- tidak demikian. Jadi dianggap ee
- ketidakjelasan informasi itu tantangan
- untuk pamer skill gitu. Sementara Gen
- karena segala sesuatunya sudah mudah dia
- peroleh
- ee dia sudah biasa ada instruksi
- terstruktur gini gini gini gini gini
- gitu ya. ada tutorial tutorial melakukan
- a ada videonya. Jadi dia itu udah biasa
- dapat informasi yang jelas, yang
- terstruktur.
- Jadi
- ee dia itu ee apa namanya? Bisa jadi
- dianggap tidak ee tidak punya inisiatif.
- Padahal bukan demikian gitu. Bukan dia
- enggak inisiatif, tetapi dia maunya
- jelas. dia enggak mau salah melangkah
- gitu. Jadi eh
- cara pandangnya adalah dia mau dia
- bukannya enggak kreatif loh, dia bisa
- sangat kreatif ya. Genzi itu bisa sangat
- kreatif tetapi dia mau ada panduan yang
- jelas gitu. Nah, Gen X eh
- bagi GenX anak Gen yang diam gitu ya
- atau anak buah Gen yang diam kesannya
- enggak punya inisiatif. Padahal
- Gen lagi nunggu suruh ngapain gue
- kerjain sebaik-baiknya gitu.
- Nah, bagi Genzi sering dia takut
- melangkah takut salah tadi gitu ya kalau
- instruksinya enggak jelas. Sementara
- yang Gen X biasanya enggak ada
- instruksi, kreatif sendiri, cari-cari
- sendiri begitu. Ee mereka menghargai
- efisiensi Gen Genzi itu gitu ya. Efisien
- aja kasih tahu gimana saya kerjain gitu.
- Melakukan trial and error mah ngabisin
- waktu kata dia begitu. Ee ngabisin waktu
- dan bisa dihindari kalau komunikasinya
- jelas dari awal ya udah bisa bisa
- selesai.
- gitu.
- Jadi ee
- ini enggak sederhana ya, Mbak Nuning ya.
- Ketika ketika ee yang satu ngelihatnya
- bahwa kamu enggak kreatif nih, [tertawa]
- kamu enggak inisiatif nih, padahal
- enggak, bukan gitu gitu. Gen Genzi tadi
- inginnya clear dari awal apa yang harus
- dia lakukan daripada memaksakan salah
- satu pihak untuk berubah. Maka kita
- harus tahu apa yang perlu kita lakukan.
- Siapa nih kita nih? Kalau kita adalah
- Gen X yang lebih senior, dia harus tahu
- gimana ngedekatin Gen gitu. Ini Gen
- bukannya enggak kreatif loh ya. Genzi
- itu keren-keren orangnya, pintar-pintar
- orangnya gitu. Maka
- dia harus memberikan konteks hasil
- akhirnya kayak gini. ngasih tahu gitu,
- kasih tahu panduannya ini hasilnya kayak
- gini nanti dipantau begitu.
- Jangan tolong urus laporan bulanan
- misalnya begitu. Itu itu abstrak gitu
- tapi saya butuh laporan bulanan untuk
- rapat direksi hari Jumat ya supaya
- mereka paham kenapa kok biaya
- operasionalnya naik. Jadi pakai format
- tahun lalu tapi kasih improvisasi di
- bagian grafik ya gitu. Jelas ee clear
- kalau ngomong sama Gen itu ternyata gitu
- ya.
- [tertawa]
- Ini ini ini curhat juga ini untuk saya.
- Kenapa kok aduh anakku kok enggak paham
- ya atau e generasi Genzi kok kurang
- paham ya? apa yang saya mau gitu.
- Setelah digali, ternyata cara pandang
- itu yang berbeda.
- Kemudian tentang definisi inisiatif gitu
- ya. Bagi generasi X inisiatif itu
- bergerak tanpa disuruh.
- Generasi saya itu ya udah lu cari
- sendiri, cari kreatif.
- ee datang ke rumah orang langsung ikut
- eh misalnya datang ke rumah saudara gitu
- ya, ikut ikut ee beresin apa, ikut cari
- apa, ikut apa apa secara kreatif ee dan
- ee apa namanya? Mereka itu memang biasa
- melakukan eksperimen trial and error
- tadi gitu. Jadi ee
- mereka mencoba untuk mencari ya hal
- seperti itu gitu. Sementara
- Gen
- sangat terbantu dengan feedback instan.
- Jadi ee
- ayo jelas yang jelas informasinya gitu
- ya. Daripada menunggu tugas selesai baru
- dikoreksi. Mereka tuh lebih suka kalau
- mereka dikasih tahu terus mereka dikasih
- arahan kalau ada yang salah segera
- dikasih tahu saat itu. Jangan nanti
- kalau udah selesai di ujung baru dikasih
- tahu gitu. Mereka enggak suka seperti
- itu. Emang treatmen kita kepada generasi
- yang berbeda itu ternyata berbeda
- begitu.
- Hm.
- Ee ee kita lihat kalau generasi yang ee
- tradisionalis yang sebelum kemerdekaan
- itu ee memberikan
- ee apa namanya? Saran pun kita harus
- hati-hati gitu. karena itu ee ee apa
- senioritasnya mereka cukup tinggi gitu.
- Jadi kalau kita ee Bapak Ibu ee tolong
- ya jangan lakukan ini gitu ya, itu akan
- kalau kalau ee apa ya enggak hati-hati
- ngomongnya bisa jadi bedalah gitu ee
- persepsinya.
- Nah, ee mendekati
- cara memperbaiki dan ee menjembatani
- perbedaan tadi sama Gen tadi adalah ee
- ubah mendekati senior menjadi
- monitoring. Jadi, jangan jangan gayanya
- kita kayak X kepada ee generasi yang
- lain. Mere kan berusaha dekatin kakak
- kelas gitu ya. H
- dekatin senior di kantor baik-baik sama
- mereka gitu ya supaya diajarin, supaya
- dikasih tahu, supaya gitu. Itu gaya yang
- dulu. Kalau sekarang mereka enggak kayak
- gitu. Mereka dikasih tahu dan mereka
- dimonitor gitu. Ee dulu ee kita
- mendekati senior secara langsung,
- sekarang ee ajak mereka diskusi gitu.
- Menurut kamu cara yang paling tepat
- untuk ngerjain ini kayak gimana gitu.
- Jadi mereka diminta untuk ngeluarin
- gagasan langsung. Nanti kalau mereka
- ternyata tidak
- bisa menjelaskannya dengan baik, kita
- kasih tahu, kita kasih arahan gitu. Jadi
- mereka juga di diminta untuk ngembangin
- gitu ya. Jadi ee kakak kelas atau
- seniornya itu ditempatin untuk ikut
- memberikan panduan secara langsung ee
- memandu meng apa membimbing,
- mengajak, mengingatkan gitu ya, mengasih
- feedback gitu ya. Feedback-nya juga
- harus nyaman karena mereka enggak mereka
- egalit gitu. Mereka enggak enggak
- senioritas gitu.
- Jadi tangguh itu terbentuk karena
- minimnya bimbingan untuk generasi X.
- Sedikit bimbingan mereka harus kreatif
- sendiri gitu ya.
- Sementara Genzi kalau dibiarin mereka
- bingung ee karena mereka ee hidup hidup
- mereka itu di dalam situasi yang
- bergejolak terus gitu. Jadi ee e dengan
- dunia yang serba cepat itu mereka
- sebenarnya aset besar karena mereka bisa
- ee beradaptasi
- tetapi mereka harus dikasih panduan
- supaya mereka merasa enggak buang-buang
- waktu. Coba ini, coba itu.
- Saya sekarang juga bisa ngelihat. Benar
- juga ya kalau zaman dulu tuh enggak ada
- panduan kita coba ini kalau salah nanti
- disalah-salahin gitu.
- Iya.
- Heeh.
- Begitu ee Mbak Nun itu ee catatan yang
- pertama ya. formality. Eh, ada yang mau
- disampaikan dulu pengalaman mungkin Mbak
- Nuning
- yang mengganggu itu
- He sekarang itu lebih dari setengah hari
- loh bersama-sama dengan yang namanya
- gadget itu.
- Iya.
- Kan kadang-kadang kita
- mengingatkan dan segala macam. Tahu
- enggak jawabannya?
- Iya.
- Ibu ini justru penting.
- Iya.
- Secerdas apapun kita, kalau kita enggak
- bisa ada di ranah ini, nanti kita bakal
- terbengkelai gitu. Iya,
- itu memang sebegitu ya.
- Iya. Iya. Jadi mereka kan hidupnya
- dengan teknologi. Iya kan? Sementara ee
- kita dari generasi Baby Boomer, Gen X
- dan tradisionalis dulu enggak kayak
- gitu. Jadi kita merasa aneh kalau mereka
- terlalu dekat dengan gadget, kayaknya
- sudah tergulung sama gadget gitu ya. He.
- Padahal mereka dari dari lahir atau
- mereka di masa perkembangannya mereka
- melihat itu di depan mata gitu. Maka
- kita perlu diskusi untuk membuat mereka
- ngelihat bahwa eh hidup itu ketemu sama
- orang juga perlu loh, tapi diajak
- diskusi gitu. Karena mereka dibesarkan
- dalam situasi yang seperti itu. Kita
- juga tidak dibesarkan dalam situasi
- seperti itu. Makanya kita anggap itu
- tidak sepenuhnya penting. Sementara
- mereka menganggap itu sepenuhnya
- penting. Begitu kita merasa ketemu sama
- orang penting loh. Gitu.
- Mereka bilang di medsos itu ketemu
- orang.
- Ketemu orang. [tertawa]
- Betul. Maka dialog diskusi untuk
- memahami kenapa sih kok kamu mikirnya
- begitu gitu.
- Heeh. saya berjuang ee cukup serius
- gitu, Mbak Duning, ya, untuk ngertiin
- kenapa sih kamu mikirnya kayak gini
- gitu. [tertawa]
- Heeh.
- Terus ee kemarin dulu itu waktu ngobrol
- sama anak-anak
- Heeh.
- Udah deh sekarang bagusan lu bikin
- konten, duitnya jelas daripada lu
- ngelamar kerjaan paling-paling UMR itu
- jadi daya tarik luar biasa bagi
- anak-anak ya.
- Betul banget. Betul banget. Betul
- banget. Eh,
- ketika berapa tahun lalu ee anak saya
- bilang punya cita-citanya
- lulus SMA? Ya, hampir lulus SMA waktu
- masih SMA. Mau jadi YouTuber. Saya
- kaget, "Ah,
- apaan [tertawa] nih?
- Jadi apa?"
- Nah, ee sekarang kita bisa melihat bahwa
- content creator itu ada pemasukannya
- begitu. Jadi mereka udah jauh lebih
- advance. Sementara kita melihat
- pekerjaan yang real yang berhubungan
- dengan ee profesi tertentu gitu ya. Itu
- itu bukan profesi tuh YouTuber itu bukan
- profesi atau content creator itu bukan
- profesi at that time gitu ya.
- Karena kita tidak terbiasa dengan itu.
- Artinya lambat laun sekarang kita jadi
- memahami atau saya juga jadi lebih
- memahami oh iya ya ini juga bisa jadi
- salah satu pendekatan begitu.
- Tetapi ee ee bagi saya memiliki
- pengetahuan yang
- teknis khusus itu juga diperlukan.
- Makanya ya kalau mau jadi content
- creator apapun perlu ada skill-nya.
- Kalau enggak ada skill-nya cuman
- ngomong-ngomong doang mau apa ya kan.
- He.
- Oke Mbak Nuning. Saya mau ngelanjutin
- dengan
- Iya.
- Formalitas. He
- Gen X itu Gen X ya yang kelahiran 65
- sampai 80 sangat menghargai hierarki.
- Oke.
- Iya atau formalitas. He
- cara ngomong dengan atasan, etika
- berpakaian,
- penggunaan gelar sering dianggap
- penting. Sementara Gen X eh Gen Z, Gen
- ya yang kelahiran 95 sampai 2010 itu
- anak-anak muda sekarang ini lebih suka
- struktur yang flat datar, makanya
- egaliter. Mereka gitu.
- Mereka lebih menghargai atasan yang bisa
- diajak diskusi santai
- dan tampil apa adanya, otentik gitu ya.
- Namanya otentik mereka nyebutnya gitu
- ya. E bagi mereka rasa hormat itu dari
- kompetensinya, bukan dari jabatan, bukan
- dari usia. Nah, ketika mereka bertemu
- dengan generasi sebelumnya yang
- menghargai
- ee senioritas, formalitas gitu ya, itu
- jadinya
- clash enggak sederhana tuh gitu.
- Iya.
- ee
- kita ee dia cara dia memperlakukan pada
- generasi sebelumnya itu
- kayak ee kayak dia memperlakukan sama
- temannya kan. Kalau di Jawa itu ada apa
- unda usuk basa gitu ya, Mbak Nuning ya.
- Mbak Nuning kan ee kadang suka ee apa ee
- siaran pakai bahasa Jawa ya. Ada bahasa
- apa atas yang
- ada kromo inggil, ada biasa, ada ngoko,
- ada. Ah, oke ya. Itu ya ee klasifikasi
- ee apa bahasa itu kan. Kenapa bahasa ini
- dipakai untuk ngomong sama siapa itu
- berubah gitu sekarang ini.
- Jadi tidak sederhana itu untuk
- dua-duanya. di rumah misalnya ya
- formalitasnya
- anak itu masih memanggil ayah, ibu
- begitu ya.
- He
- ee om, tante gitu ya. Ee tidak langsung
- menyebut nama begitu. Ee anak kalau
- ngomong ee orang tua kalau ngomong anak
- enggak boleh menyela gitu ya walau tidak
- setuju gitu ya. Eh, kemudian ini GenX
- nih. Gen X nih.
- Eh, saya minum dulu ya, Mbak Nuning ya.
- Iya. Daripada kesedak.
- Heeh. Daripada kesedak nih. Eh,
- jadi memang sih ikhwan akhwat ya,
- pemahaman akan hal ini sesuai dengan
- perkembangan zaman dan bagaimana
- pertumbuhan anak-anak kita memang perlu
- sangat-sangat kita pahami.
- Heeh. Oke, lanjut
- Mbak Nuning. Jadi ini kalau Gen X
- ya yang kelahiran 65 sampai 80 itu ee
- kalau orang tua bicara
- enggak boleh menyela meskipun enggak
- setuju gitu ya.
- Maksudnya memotong omongan,
- enggak boleh memotong omongan. Kemudian
- pakaian, sikap di rumah juga dijaga
- sedemikian rupa, santun. Apalagi kalau
- ada tamu begitu ya. Hormat itu tahu
- posisi dan tata krama gitu. Itu hormat
- namanya.
- Nah, ee genzi itu otentik gitu. Otentik
- orang berani ngomong, "Aku enggak
- setuju, Ma." Karena menurut aku gini
- gini gini gini gini. Si Gen X ini enggak
- akan gitu sama orang tuanya yang
- tradisionalis.
- Kalau enggak setuju, jarang akan ngomong
- bahwa aku enggak setuju. Sementara Genzi
- akan berani ngomong, "Aku enggak setuju,
- Ma. Aku enggak setuju, Pah." gitu ya. ee
- lebih nyaman diskusinya dua arah.
- Sementara ya cara diskusi ee saya ingat
- ya salah satu keluarga saya
- yang masih ee ee erat sekali dalam
- budaya ee Jawa gitu ya.
- itu ketika berbicara itu ee yang bicara
- itu yang paling ditua, yang paling tua
- gitu atau yang paling dituakan yang lain
- diam gitu ya
- ngedengerin. Sementara Gen itu enggak
- mau kayak begitu. Lebih nyaman diskusi
- dua arah bahkan soal keputusan keluarga
- begitu.
- keterbukaan emosi seperti aku capek, aku
- butuh jeda, aku butuh privacy.
- Boleh ya ngomong aku butuh privacy?
- [tertawa]
- Gen X kaget-kaget. Aduh butuh privacy.
- Ya gitu. Itu wajar bagi dia karena
- otentik apa adanya. Jadi hormat. Kalau
- tadi eh gen X itu hormat tahu posisi,
- tahu tata krama. Kalau Genzi hormat itu
- diperlakukan setara, didengar begitu.
- Jadi dengan adanya perbedaan itu gitu
- ya, makanya bisa jadi gen X itu nganggap
- gen itu enggak sopan.
- Iya.
- Gen itu ee seenaknya gitu. Ee padahal
- Genzi bukannya seenaknya, dia otik apa
- adanya gitu.
- Nah, maka
- orang tua gen yang X, gen X itu tetap
- dihormati tanpa harus otoriter.
- Gen X itu harus berubah, gen Z juga
- harus berubah, memahami, saling
- memahami. Gen X atau orang tua
- tetap menurut saya harus dihormati,
- tetapi dia enggak boleh otoriter begitu.
- enggak boleh harus kayak gini gitu ya.
- Yang dulu dia diperlakukan kayaknya gue
- dulu digituin deh gitu ya. Sekarang kok
- aku enggak boleh di ngegituin gitu. Jadi
- ee dia sendiri merasa ee apa terganggu
- gitu ya. Aku dulu digituin sekarang aku
- enggak boleh ngegituin. [tertawa]
- Curhat curhat.
- Terus ee anak boleh berpendapat tapi
- jangan kehilangan sopan santun dong
- anak-anak. Ngikutin dong jangan jangan
- semaunya. Begitu gitu. Mbak Nuning
- ngalamin enggak situasi itu? Iya iya iya
- [tertawa] aja pakai banget.
- Iya.
- Ee kita sambil lalu ke pertanyaan yang
- dikirim ya. Boleh.
- Ini kenapa anak-anak sekarang yang
- disebut Mbak Mona tadi Genzi cenderung
- menghindari nasehat yang sifatnya
- menggurui. Mereka bilang, "Hah, enggak
- gitu-gitu juga." Apakah ini bukan
- berarti mereka enggak sopan kan ya? Tapi
- kita sebagai orang tua merasa tetap aja
- diidak sopani. Harus bagaimanakah saya?
- Oh iya dari 0811. Sekian silakan. Iya.
- Gen X atau orang tua gitu ya. Ee biasa
- dulu di kasih tahu dan dengerin kan gitu
- ya. dikasih tahu, dengerin ee tak tadi
- ya, tahu posisi, tata krama, terus ee
- karena orang tua Gen X itu adalah gen ee
- tradisionalis yang zaman perang atau ee
- zaman setelah kemerdekaan di awal-awal
- Gen X orang tuanya baby boomer awal atau
- tradisionalis gitu ya. E orang tua saya
- tradisionalis gitu ya. Jadi ee di zaman
- itu strata atau posisi eh itu memang
- benar-benar ee patuh senioritas begitu.
- Makanya kalau kita ngomong itu ee perlu
- ee tata krama yang baik. Jangan terus
- bahasanya juga terpilih gitu. Enggak
- bisa kayaknya enggak kayak gitu deh.
- Kayaknya ee gue enggak suka deh kayak
- begitu gitu. Enggak ada tuh kayak begitu
- se seperti itu bicaranya gitu. Jadi kita
- udah biasa kayak gitu. Sementara
- generasi sekarang yang dari awal sudah
- di ee guyurin oleh berbagai informasi
- yang ee kesetaraan
- yang dari budaya Barat yang begitu masuk
- dan mereka terima ee dengan
- segala ragamnya gitu ya, maka mereka
- tidak terlalu nyaman untuk diberi
- masukan yang kesannya nya sebagai aturan
- gitu harus kayak gini tapi mereka suka
- ee
- ada reasons kenapa kok harus kayak gini
- gitu dan ee sebagai bujukan. Jadi kita
- itu harus makin ee ee mampu dalam
- menjelaskan sesuatu dengan alasan yang
- dia bisa terima dan ada di
- bagusnya kita lakukan ini deh. Kenapa?
- Karena begini begini begini begini. Jadi
- sesuatu yang kita yakini dulu adalah
- paten udah enggak laku lagi gitu.
- [tertawa]
- Nasehat harus diimbangi dengan dialog.
- Nasehat diimbangi dengan dialog. Betul
- sekali. gitu-gitu doang ya. Oke, ini
- satu lagi dari Pak Pur
- Pur.
- Heeh.
- Purdi ya.
- Kalau 30% penduduk Indonesia ini
- sekarang merupakan Gen apa yang bisa
- dilakukan pemerintah lebih baik dari
- yang sekarang? Karena informasi dari
- media sosial kadang-kadang juga akan
- menyesatkan anak-anak kita. Harus
- bagaimanakah kita? Eh, 30% ya, Mbak Mona
- ya?
- Iya. 29, sekian pers
- ya. taruhlah 30% ya. Iya. He.
- Jadi ee
- kita mau apa nih? Mau ngubah supaya jadi
- generasi yang kayak gimana yang kayak
- dulu enggak bisa. He.
- Heeh. Jadi generasi yang sekarang ini ya
- adanya ini kita perlu menjaganya.
- Ee dan ini akan terus tumbuh nantinya
- jadi orang yang akan begitu.
- Maka yang perlu kita jaga bersama adalah
- kalau ada regulasi yang ingin di ee
- sampaikan atau ada kebijakan yang ingin
- di
- di
- hayati dilaksanakan oleh mereka, kita
- harus rasional sama mereka. Harus
- menjelaskan dengan cara yang dia bisa
- terima. Harus ada dialog gitu.
- Jadi enggak bisa ee
- gaya
- udah ini aja ya gitu. Kayak dulu tuh
- generasi yang tradisionalis ngegituin ke
- X gitu enggak bisa atau tradisional
- tradisionalis ngegituin ke baby boomer
- gitu enggak bisa.
- Ee maka yang berubah siapa? Saya si
- sayanya di mana? sayanya GenX makanya
- saya harus berubah gitu, harus lebih
- memahami bagaimana pendekatan terbaik
- gitu.
- Mbak Mona
- ini PR-nya banyak nih. Termasuk
- bagaimana pendekatan pemerintah, I kan?
- He.
- Pendekatan pemerintah itu kalau dulu
- pendekatannya ee top down gitu ya.
- Sekarang pemerintah udah harus ngubah
- gayanya. Gayanya gaya menyampaikan
- informasi, mendialogkan gitu.
- Jadi dialog memang luar biasa penting
- ya.
- Betul. Betul.
- Ini ada pertanyaan. Sebetulnya bukan
- pertanyaan ya.
- Anak saya itu selalu bilang, "Mama
- jangan angkat telepon sembarangan kalau
- enggak tahu. Ngapain sih? Nanti banyak
- loh gangguannya." Dulu kita enggak
- kepikiran seperti itu, ya, Mbak Nuning.
- Ini kenapa mereka punya keyakinan bahwa
- enggak perlu merespon hal-hal yang kita
- enggak tahu. Gimana, Mbak Mona?
- Oke.
- Iya. Ee jadi eh kalau kalau Gen X itu
- Gen X saya ya tahun ee 5 sampai 80.
- He.
- Itu di zaman dulu bayangin ya zaman dulu
- ya ee lebih suka komunikasi langsung ya
- kan. Kita kan ketemu orang langsung ya
- kan telepon atau juga rapat langsung
- tatap muka karena ngerasa lebih jelas,
- lebih bisa ngerasain emosi ee emosi
- feeling satu sama lain gitu. Nah,
- sementara Gen itu eh digital native
- lahir ee lebih sering cemas kalau nerima
- telepon mendadak gitu ya. dia dia enggak
- suka nerima telepon mendadak gitu. Ee
- dia lebih nyaman komunikasinya enggak
- langsung ketemu sama orangnya ee lewat
- WhatsApp dulu.
- He.
- Jadi dia punya waktu untuk mikirin.
- Iya.
- Ee terus ee dia ee mikirin jawabannya
- terus nanti dia jawab. Nanti setelah itu
- kalau baru enggak ngerti baru oke boleh
- teleponan. Memang beda ee perbedaannya.
- Nah, sekarang kita berhadapan dengan
- penggunaan ee ee apa ya ee penyimpangan
- pemanfaatan teknologi gitu ya. Ada scam,
- ada ee apa penggunaan yang ngacau-ngaca
- lah telepon yang ujuk-ujuk ee nawarin
- apa, nawarin apa gitu.
- Itu membuat kita menjadi
- ee juga berhati-hati ya kan. kita
- menjadi lebih berhati-hati tetapi secara
- alamiah kita lebih suka teleponan
- langsung.
- Itu yang terjadi, Mbak Nuning.
- Saya saya mengajar mahasiswa karena saya
- peduli gitu ya. Dulu waktu zaman saya
- masih ee kuliah ee saya yang akan
- menghubungi dosen saya karena dosen saya
- generasi ee tradisionalis atau baby
- boomers gitu ya.
- saya menghubungi beliau ee ee dengan
- pemahaman senioritas yang aduh itu orang
- yang sangat saya hormati dan lain
- sebagainya.
- sekarang sama mahasiswa
- ee karena saya sudah berusaha untuk
- memahami nih ya ini cara pandang saya
- berusaha untuk memahami saya telepon nih
- duluan nih itu boleh tuh dimatiin oh
- saya kaget-kaget
- boleh ya dimatiin ya kaget-kaget saya
- padahal tahu itu ee dari dari saya
- setelah saya saya ee kaget dulu gitu ya
- agak syok gede e menyaksi ikannya gitu.
- Aduh, kayaknya kalau dosen saya dulu jam
- berapa pun juga
- telepon ya diterima
- telepon.
- Aduh, pasti jarang telepon. Saya yang
- duluan nelepon ya kan karena ee
- mahasiswanya gitu ya.
- H
- apalagi kalau beliau menelepon berarti
- kan ada sesuatu yang penting banget nih.
- Saya pasti akan waduh ada apa nih? Ada
- apa nih? Gitu ya. Tapi saya akan segera
- menelepon ini. Saya menelepon untuk
- ngasih tahu untuk ayo kita ee ngebahas
- ini yuk. B tujuannya nih untuk untuk di
- kepala saya ingin membantu tetapi
- dimatiin itu kaget saya. Nah,
- butuh waktu untuk mengerti cara mikirnya
- kayak gimana sih? Emang boleh ya dosen
- ditutup matiin gitu?
- Enggak sopan amat.
- Enggak sopan amat gitu ya.
- Tetapi setelah akhirnya saya pahami, oh
- gitu ya cara pandangnya ya, mereka
- enggak nyaman malah jawabnya kayak
- begini,
- "Bu, maaf bisa WA dulu [tertawa]
- boleh ya ngomong gitu ya, gitu." Saya
- pun kaget. Tetapi setelah akhirnya saya
- pahami, oh iya ya, mereka enggak nyaman
- dengan itu begitu dengan langsung
- dikontak. Mereka uncertain gitu
- dan jujur terhadap
- dan jujur apa adanya. Iya,
- makanya kaget-kaget nih si dua generasi
- ini ketemunya.
- Jadi saya setuju kalau saran dari Genzi
- tadi untuk hati-hati kalau ada telepon
- itu benar karena ada posisi
- penyalahgunaan penggunaan telepon
- begitu.
- Sekarang ini merembah luar biasa.
- Tapi di sisi lain dalam hubungan mereka
- menghindari bertelepon ya.
- Heeh. Anak saya aja kalau saya e kontak
- ee belum tentu tuh segera diangkat
- begitu ya akan ya sudah saya akan nanya
- dulu nak boleh
- [tertawa]
- aduh gitu ya akhirnya ee setelah itu
- baru mengerti oh kenapa jadi memahami
- cara berpikir komunikasi itu lebih
- memahami cara
- cara berpikir merasa dan berperilaku
- seseorang kenapa kok dia begitu Mbak
- Noning
- kalau kita menuntut sama-sama dia juga
- harus belum tentu mudah karena mereka
- kan generasi baru. Terus ngomong-ngomong
- mereka cukup kritis ya terhadap banyak
- hal ya.
- Kritis mereka Mbak Nuning. Mereka banyak
- menanyakan segala sesuatu itu boleh ya
- nanya begitu ya gitu kalau kita
- sebelumnya kan enggak boleh apalagi
- nanya sesuatu yang sensitif begitu ya.
- Mereka akan secara terbuka maka cara
- kita pun harus berubah. Cara kita untuk
- lebih membuka diri untuk memahami kenapa
- kok dia berpikir seperti itu. Bukan
- berarti enggak sopan, tetapi orang yang
- sudah biasa transparan, orang sudah
- biasa udah deh formality-nya di diangin.
- Heeh. Di-cut aja deh, gitu.
- Terus kalau telepon mendadak tadi ya ee
- itu tuh mereka enggak enggak nyaman
- gitu, Mbak Nuning. Takut salah jawabnya
- gitu. Jadi pertimbangan-pertimbangan itu
- mereka bukan bukan mereka cuek. Jadi
- enggak ngangkat itu bukan mereka
- mengabaikan tapi mereka sendiri menjaga
- diri sendiri supaya enggak cemas
- berkomunikasi gitu. Jadi [tertawa]
- masalah mental health-nya mereka sendiri
- juga gitu.
- Ya, sayangnya kita sudah di penghujung
- nih.
- Jadi, closing statement-nya terkait
- dengan bagaimana memahami Genzi ini
- mudah-mudahan bisa segera juga kita
- serap ya. Kayaknya enggak gampang sih,
- jujur.
- Iya.
- Iya, silakan Pak Mona. Eh, Iwan dan
- akhwat yang dirahmati Allah, terima
- kasih. Eh, diskusi ini semoga
- mencerahkan, memberikan insight,
- mengingatkan kita bahwa ee
- kita tidak pernah tidak berkomunikasi.
- Diam pun kita berkomunikasi. Maka kita
- perlu mempelajari keterampilan ini. Ini
- keterampilan penting dalam
- ee kehidupan kita begitu ya. Maka kita
- juga perlu berkomunikasi dengan orang
- yang berbeda generasi dari kita. Kita
- ngertiin kenapa mereka ee cara
- berpikirnya seperti apa. Dari
- tradisionalis,
- dari baby boomers, dari
- milenial, dari Genji, dari Alfa. Susah
- banget nanti. Beda banget nih Alfa nih.
- Gitu ya. ee eang-eang sama Alfa nih akan
- ee challenging juga dan gen Z eh dan gen
- e beta gitu ya. Jadi dengan perbedaan
- itu yang perlu kita lakukan adalah
- jangan baperan ya.
- Ngertiin cara mikirnya mereka. Kenapa
- kok mereka begitu? Terus kita juga perlu
- terbuka untuk dialog, respek sama
- generasi masing-masing. Semua orang
- ingin dihormati, semua orang ingin
- dianggap penting, semua orang ingin
- tidak diremehkan. Semua orang ingin ee
- ini jangan ingin nyamanlah hidupnya
- dengan kita. Maka kita juga harus
- berubah. Jangan stereotype. Wah, anak
- Gensi ini pasti begini. Kenapa dia
- begitu? ada rasional yang bisa kita
- pahami dan kita pilih cara berkomunikasi
- sebaik-baiknya.
- Semuanya dimulai dari diri kita sendiri.
- Demikian, Mbak Noning. Emm, ini
- sebetulnya sudah closing statement ya,
- tapi kalau masih ada yang tanya kayaknya
- kita masih punya waktu deh.
- Oke oke oke boleh boleh boleh.
- Oke. Nah, pertanyaannya tunggu sebentar
- dari tidak ada namanya cenderung
- menghindari nasehat itu bagian dari
- mereka. Mohon informasi tambahan
- bagaimana sebagai orang tua menasehati
- yang tidak di sangkal begitu saja di
- awal harus dengan cara apa? Terima
- kasih, Mbak. [tertawa]
- Iya. Jadi ee
- cenderung mereka menghindari nasehat ya.
- Kenapa? Kenapa nasehat ee kenapa mereka
- menghindari nasihat? Mungkin mungkin
- cara menasehatinya mungkin kita perlu
- evaluasi kembali gitu. Karena cara ee
- nasehat itu mungkin kita ngelihat
- ee yang benar gini dia melakukan yang
- salah sehingga kita kasih tahu harusnya
- kayak begini. Padahal, nah itu kalau
- gayanya adalah gaya gaya top down gitu
- ya, dari atas ke bawah ee dan kita
- nunjukin bahwa dia salahnya di sini sini
- sini
- pasti gagal.
- Bisa jadi Heeh. Bisa jadi mereka enggak
- mau nerima.
- Iya, betul. Betul.
- Nah, kalau gayanya adalah kita diskusi,
- ajak dialog,
- ajak dialog. Balik lagi tadi
- kalau perlu nanya.
- Kalau perlu nanya, kenapa kok kamu
- begini ya? Gitu. Penjelasan dia
- kenapa kok kamu enggak nerima telepon?
- [tertawa]
- Aduh itu kaget saya Mbak Nuning
- teleponnya di tret gitu di-off dimatiin.
- Kaget saya beneran. Maksudnya kalau anak
- sendiri masih
- hah nangis-nangis tapi juga ya udah deh
- gitu ya. Tapi ini ee
- ee
- apa namanya? kategorinya dalam konteks
- ini adalah mahasiswa gitu. Itu kan bikin
- saya kaget gitu ya. Tapi setelah saya
- memahami, oh iya ya, akhirnya saya
- bilang, "Yuk kita teleponan yuk jam
- segini yuk gitu." Atau bisa enggak ee
- kita ngobrol jam segini gitu? Ternyata
- itu jauh lebih mudah ngubah kok cara
- komunikasinya itu ternyata beda gitu.
- Jadi
- dan jadinya enggak enggak ada yang
- negatif gitu. ee ee gaya-gaya kita yang
- sudah dibiasain aturan atasan, bawahan
- gitu, [tertawa]
- aturan senioritas sama ee yang di
- bawahnya gitu ya, diasuh begitu sama
- orang tua kita yang generasi
- tradisionalis,
- yang generasi di zaman senioritas masa
- perang harus patuh, harus ngikutin,
- harus senior gitu ya. itu udah enggak
- bisa lagi kepakai. Makanya dialog itu
- penting.
- Bikin dia mengungkapkan pikiran dan
- perasaannya. Bikin kita mengungkapkan
- pikiran dan perasaannya. Kita kasih tahu
- kenapa ini lebih baik seperti ini.
- Ini ini enggak mudah.
- [tertawa]
- ini cocok banget dengan pertanyaan bukan
- pertanyaan sih ee statement dari Ibu
- Susi. Kalau begitu Mbak Mona,
- yang namanya informasi yang kitaikan itu
- harus dengan apapun juga mau marah, mau
- apa dialog, dialog, dan dialog setuju.
- Saya juga akan mencoba apa-apa nanya,
- apa-apa nanya. Jadi memang begitu ya,
- Nak, sekarang ya.
- Iya. kita coba untuk ngomong dari hati
- ke hati, minta waktu ee ya maksudnya yuk
- kita ngobrol yuk atau kita tentukan ee
- tetapi ada kesepakatan juga gitu ya. Ee
- ini
- ini memang kadang-kadang ee ngomongin
- ego juga gitu ya. Kayaknya saya harus
- minta waktu deh sama dia. [tertawa]
- Tapi ya ya memang begitu. Akhirnya saya
- ee negonya begini, "Nak, yuk kita
- sepakati yuk kita ngobrol jam segini yuk
- gitu." Nah, itu ternyata lebih efektif.
- Eh, Nak, kita ngobrol yuk jam segini
- cuman sebentar kok kita ngobrolnya tek
- udah gitu.
- Jadi,
- jauh lebih efektif.
- Jadi, kita harus bersahabat, kemudian
- juga harus
- santai. Enggak boleh dengan gaya
- komunikasi yang tadi itu top down
- plus dengan terlalu formal juga enggak.
- Iya, betul.
- Wahai ikhwan akhwat, yuk belajar. Iya,
- [tertawa] betul, Mbak Noni.
- Iya, kayaknya bisa ditambahkan terkait
- dengan ee transparansi antara kebutuhan
- kita sebagai orang tua dengan anak yang
- termasuk Genzi ini yang sebetulnya sih
- bagus, tapi bagi kita enggak cocok.
- Iya.
- Iya, kan?
- Ee saya akhirnya berusaha untuk
- menjelaskan secara jujur bagaimana dulu
- saya dibesarkan gitu ya.
- Oh, biar dia punya gambaran.
- Heeh. Heeh. dengan pemetaan generasi ini
- itu membuka banyak hal yang
- ee tadinya sekat-sekat gitu. Jadi e dulu
- saya tuh begini loh karena begini begini
- begini logikanya. Kemudian sekarang kok
- begini begini begini kenapa? Karena
- akhirnya jadi diskusi, akhirnya jadi
- ngobrol bla bla bla gitu. Implikasinya
- menjadi terbuka begitu Mbak Nuning.
- Ee
- ngobrol di ruang makan itu berharga
- sekali.
- [tertawa]
- ngobrol di ruang makan shotsot gitu ya.
- Tapi berharga sekali.
- Iya.
- Heeh. Ee sekarang saya kalau ngajakin
- ngobrol sama anak saya ee ee berusaha
- untuk menjelaskan yuk kita ngobrol yuk
- sekarang yuk gitu ee dengan waktu
- tertentu gitu ya. Mm atau saya datangin
- ee minta waktu sebentar nak ngobrol ini
- yuk. Ee terus akhirnya selesai sudah
- saya tinggal gitu. Jadi
- kayak minta waktu yang cukup lama itu
- udah enggak laku lagi tuh gitu kayaknya
- atau duduk di sini. When I was young ya
- dulu ya waktu saya sama orang tua saya
- didudukin tuh tuk tuk tuk tuk tuk
- dikasih tahu kayak semacam ceramah gini
- gono gono gon gono. Ya udah dulu
- didengerin aja sambil
- manggut-manggut,
- manggut-manggut sambil sebenarnya dalam
- hati, "Aduh, udah deh, udah deh, udah
- deh." gitu ya. Tapi enggak ada yang
- berani ngomong. Sekarang ditinggal,
- ditinggal. Enggak beres, enggak enggak
- jadi ngomongnya gitu loh.
- Jadi sekali lagi menghadapi ee Genzi ini
- kita perlu pemahaman baru
- dan juga sikap-sikap yang
- benar-beneran kita perbarui dari
- kebiasaan kita terhadap orang tua dulu.
- dibanding dengan kehadapan anak-anak
- kita terhadap kita sekarang ini.
- Ngomong-ngomong dengan kondisi seperti
- ini, kalau dalam hitungan kadar stres
- itu ee pernah enggak Mbak Mona hadapi?
- Heeh.
- Anak-anak loh yang stres.
- Oh iya. Itu gimana kita
- anak cukup cukup stres karena tekanan
- ekspektasi dari berbagai generasi yang
- juga mungkin ee menekan gitu.
- He
- kayaknya mereka tuh salah aja gitu.
- Iya kan? Kenapa? Kenapa? Karena mereka
- masih di posisi sebagai anak-anak yang
- masih bocah bocah baru masuk kerja. He
- atau ee masih ee ee kuliah gitu ya yang
- ee di dipertanyakan mereka di bawah
- mereka atasan-atasannya adalah orang
- yang enggak ngertiin gitu mungkin ya kan
- karena mereka beda generasi gitu.
- Mungkin yang milenial akan berbeda gitu
- ya. K. Kenapa kita tidak bahas milenial
- sekarang? Karena yang kontras banget itu
- di sini gitu. Milenial ee masih agak
- narik ke atas, narik ke bawah gitu.
- Begitu juga ada perasaan-perasaan kayak
- gitu. Tapi yang lebih jelas kelihatan di
- dalam dunia ee kehidupan sehari-hari
- maupun dunia kerja itu Gen itu Mbak
- Nuning sekarang ini.
- He.
- Kenapa banyak orang bilang
- Genzi itu kesannya begini, kesannya
- begitu?
- Enggak kok, sebenarnya they are
- excellent. Mereka keren, mereka kreatif,
- mereka tuh smart. Saya saya yakin itu
- betul.
- Cuman mereka beda gayanya gitu. Maka
- yang berubah kita maksudnya
- menyesuaikan diri
- siun siapapun. Heeh. Genze juga
- ee harus belajar cara berkomunikasi sama
- orang generasi yang lain juga gitu. Dia
- harus ngebuka diri juga. Jangan semua
- orang harus nyesuaiin sama dia. Enggak.
- Nah, sekarang yang siapa yang perlu
- memperbaiki diri? Saya. Siapa saya? Oh,
- saya Genzi. Saya harus memperbaiki. Tahu
- diri dong kalau komunikasi sama
- eang-eang kayak gimana gitu. Tahu diri
- dong kalau komunikasi sama seang
- angkatan kayak gimana. sama gen ee dia
- akan kesulitan untuk mendapatkan e
- approval dari Gen X kalau gayanya adalah
- gaya egaliter. Kayak ujuk-ujuk ee
- misalnya begini,
- "Bu, ee saya ingin
- ee minta
- ee tanda tangan sekarang." bayangin
- [tertawa]
- boleh ya minta tanda tangan sekarang ya
- gitu kayaknya guided gitu. Nah, itu
- pilihan katanya perlu di ini. Kalau dulu
- itu enggak boleh kayak gitu. Nah,
- sekarang ee Gen X gen Gen Z kalau lagi
- mau ngomong sama Gen X coba dong
- perhatiin cara ngomongnya gitu. Selamat
- pagi dulu, selamat siang dulu atau
- asalamualaikum dan lain sebagainya. Saya
- ini ini ingin gini begini begini.
- Makanya panduan panduan berwatsapp,
- panduan menelepon itu perlu
- diperhatikan. Panduan tata krama karena
- beda tata kramanya. Bukan mereka enggak
- enggak beres, enggak. Mereka beda cara
- dibesarkan bertata krama karena tata
- krama mereka banyak dipengaruhi oleh
- digital gitu
- yang titik-titik titiknya tidak sama
- dengan kita punya ya. Tap
- Iya. Digital itu kan dari berbagai
- negara Mbak Nuning.
- Iya betul.
- Heeh. Beda banget dan egaliter. Yang
- yang bikin digital siapa? Usia berapa?
- Iya kan?
- He he.
- Gayanya juga beda. Dan itu yang masuk ke
- dalam ee software mereka. [tertawa]
- Ini ada ee bukan pertanyaan sih. Tadi
- kan bicara
- ada
- pendengar yang mengatakan anakku lulus
- kuliah enggak mau cari kerja. dia lebih
- suka dengan penghasilan yang mengagumkan
- ketika berada
- di
- industri kreatif seperti konten kreator
- dan juga podcast atau vlog dan lain
- sebagainya.
- Jadi kalau begitu bagaimana kalau
- kemudian ke depan anak-anak makin enggak
- mau kuliah? [tertawa]
- Eh
- enggak perlulah pokoknya yang penting
- ini. Nah, bagaimana ini komentar Mbak
- Mona?
- Iya. Jadi, Mbak Nuning eh content
- creator ini sekarang makin
- industri yang besar ya, makin makin
- banyak gitu ya. Jadi ee ee maka maka ini
- juga bisa jadi salah satu pilihan. Heeh.
- Tetapi saran saya apa yang dikontenin
- kalau enggak ada isinya? isinya tetap
- kompetensi individu. Kita mau konten
- tentang
- ee apa namanya ee tentang ee ee mobil
- misalnya kita harus tahu tentang mobil,
- kita harus punya background pengetahuan
- itu gitu.
- Jadi makin kalau enggak makin makin kita
- berkualitas makin kualitas juga
- kontennya gitu. Terus pada enggak mau
- kuliah,
- terus belajarnya dari mana gitu.
- dia bisa jadi gini, belajar mah tetap ya
- menurut saya belajar itu tetap gitu.
- Apakah belajar otodidak atau belajar
- dengan sistem? Kalau kuliah itu ada
- sistemnya, ada aturannya, ada
- kurikulumnya, ada paketnya, ada ee ee ee
- ee dijaga juga pendidiknya ee orang yang
- punya ee standar kualitas tertentu
- begitu. Jadi masuk lembaga pendidikan
- itu jauh lebih mudah karena sistemnya
- sudah ada. Tetapi kalau cuman dari
- lembaga pendidikan tanpa mengembangkan
- kualitas diri sendiri itu ee enggak akan
- bagus juga gitu. Maka sebaiknya adalah
- menurut saya nih
- menurut saya kuliah itu penting gitu. Ee
- atau belajar itu penting. Apakah belajar
- formal atau informal dua-duanya penting
- gitu. Kalau mau belajar formal ee
- melalui lembaga pendidikan atau kuliah
- itu ee jauh lebih mudah. Tapi kalau kita
- ditambah sama kualitas kreativitas
- sendiri, wah cepat set gitu dibandingin
- sama
- ya tetap kita mau belajar tapi belajar
- sendiri. Bisa juga belajar tapi kan
- belajar sendiri kan kurikulumnya harus
- cari sendiri gitu tetap belajar kok.
- Bagi saya kuncinya tetap belajar begitu.
- Iya. Heeh.
- Jadi bukan berarti lantas
- tidak perlu mengambil kesempatan untuk
- menjadi seseorang kecuali jadi apa tadi?
- Konten kreator.
- Content creator itu harus ada isinya loh
- gitu. He. Oke. Jadi kuliah tetap aja
- karena toh itu juga merupakan jalur lain
- ya untuk mencapai sesuatu.
- Betul. kuliah itu dengan pengetahuan
- tersebut kalau mau nanti jadi content
- creator ya kita bisa mengisinya dari
- pendekatan itu gitu. Tentu saja harus
- ditambahin sama kreativitas yang luar
- biasa begitu.
- Em ini kan dekat Ramadan ya Mbak Mona
- ya.
- Bagaimana mereka dengan kebiasaan yang
- seperti itu yang bukan niat buruk untuk
- enggak sopan sama orang tua, bukan
- sengaja untuk tidak menghargai.
- Heeh.
- Kebetulan bisa jadi ini juga disimak
- oleh Genzi.
- Heeh.
- Pesan Mbak Mona terkait dengan dekat
- puasa. Yuk deh. Oke, kalian memang
- begini tapi
- bisa enggak tingkatkan? Nah, mungkin itu
- bisa bermanfaat.
- Oke. Ee para Genzi, anak-anak muda,
- kebanggaan kita ee masa depan Indonesia
- banyak tergantung pada kalian juga gitu
- ya. So, ini karena kalian adalah
- kebanggaan Indonesia, Gen ee
- kembangkan diri terus ee tingkatkan
- potensi diri ee tingkatkan kemampuan
- berkomunikasi dengan semua generasi.
- Karena generasi yang dulu-dulu itu juga
- punya pengetahuan yang besar sekali.
- Punya punya apa namanya? ee ee cara ee
- dia punya kearifan yang luar biasa gitu
- untuk kita kita belajar kepada mereka
- gitu. Yang di zaman kemerdekaan dulu
- orang-orang hebat, orang yang mengisi
- kemerdekaan. Bagaimana generasi-generasi
- sebelumnya yang punya punya ee apa ya e
- pengetahuan yang luar biasa untuk kita
- belajar. Nah, ee masa puasa ini adalah
- masa masuk pesantren gitu ya. Masa masuk
- pesantren itu ee kita mengasah hati,
- mengasah pikiran, mengasah iman kita
- gitu ya. Maka di zaman masuk pesantren
- itu, pesantren itu bisa ilmunya ilmu
- ilmu kehidupan, ilmu agama gitu ya.
- kembangin diri sedemikian rupa. Ee apa
- namanya? Ee ee kembangkan potensi diri
- sedemikian rupa. Pahami dalam konteks
- komunikasi, pahami ee lintas generasi
- dengan sebaik-baiknya. Belajar dari
- mereka juga dan ee jadilah orang yang
- terbaik. Begitu karena Indonesia butuh
- butuh generasi ee Genzi.
- sebagai calon pemimpin masa depan. Dan
- kalau imannya bagus, kita bersyukur
- sekali karena Genzi adalah harapan kita
- semua.
- Ini refleksi untuk kita semua, Mbak
- Nuni.
- Semua semua orang ya, termasuk Genzi ini
- ee balik lagi untuk dekat dengan apa
- namanya ee ibadah, untuk dekat dengan
- masjid, untuk dekat dengan tempat-tempat
- ibadah untuk Genzi itu ternyata kemauan
- dia untuk berbagi kepada orang lain jauh
- lebih tinggi dibandingkan generasi
- sebelumnya. Maka ee ee kalau saya
- menyebutnya PSR-nya itu tanggung jawab
- sosial individunya lebih tinggi itu bisa
- dikembangkan lagi di masa Ramadan gitu
- ya. Masa berkembang, masa berdaya, masa
- berkarya, insyaallah akan berkah untuk
- kita semua.
- Masyaallah.
- Terima kasih banyak nih, Mbak Mona.
- Mudah-mudahan bukan hanya ee Gen X yang
- memang menyimak siaran dari Rasil, tapi
- kalau Gen juga mendengarkan.
- Heeh. ini pun semoga bisa mempersuasi
- karena terus terang ya besarnya populasi
- Genzi yang tadi Mbak Mona katakan 30%
- dari penduduk Indonesia ini menjadikan
- Genzi penentu arah perkembangan bangsa
- kita dan bagian penting dari bonus
- demokrasi Indonesia.
- Masyaallah. Mudah-mudahan ya kita lanjut
- lagi nanti dengan bahasan yang akan
- menggelitik dan menggerak serta
- mempersuasi anak-anak muda kita. Terima
- kasih.
- Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.