Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Brail TV.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, ikhwan akhwat
- rahimakumullah.
- Alhamdulillah ya, kita dipertemukan
- kembali dengan psikologi keluarga.
- mudah-mudahan mempersuasi dan memotivasi
- kita semuanya untuk bisa menjadi sosok
- yang tepat dalam keluarga kita kah atau
- di dalam ee pergaulan kita yang lain.
- Dan tidak lupa tentu saja salam selawat
- kita lantunkan untuk junjungan umat
- kekasih kita Muhammad Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak
- kita mendapatkan syafaat beliau dan
- dipertemukan dengan beliau di saat yang
- sangat kita rindukan di yaumil akhir.
- Baik, ikhwan dan akhwat.
- Sudah hadir dua narasumber kita di sini.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz Husin.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kasus hari ini, Ustaz [berdehem]
- itu bisa jadi juga mewakili dari apa
- yang terjadi pada sahabat-sahabat kita,
- ikhwan akhwat di luar sana. Jadi yang
- pertama
- saya bertahan dalam pernikahan yang
- sangat toksik, Ustaz. Penuh dengan
- tekanan batin dan semua demi anak-anak.
- Tapi kesehatan mental saya semakin hari
- semakin memburuk.
- Apakah bercerai demi menyelamatkan
- kewarasan diri dibenarkan dalam Islam,
- Ustaz? Dan mana yang lebih merusak bagi
- anak-anak kita? Orang tua yang bercerai
- atau orang tua yang bersama yang
- bersama-sama tapi penuh konflik.
- Itu yang pertama, Ustaz. Ada satu lagi
- kasusnya. ini dari seorang pria. Saya
- merasa terjepit harus membiayai orang
- tua yang tidak punya tabungan masa tua,
- Ustaz. Tapi saya kan harus juga
- menaskahi
- istri dan anak yang sedang tumbuh. Saya
- merasa stres, sesak nafas setiap hari,
- Ustaz.
- yang ingin saya ketahui secara syariat
- mana yang harus diprioritaskan
- orang tua atau keluarga dan bagaimana
- mengelola stres finansial agar tidak
- merusak keharmonisan keluarga.
- Itu kasusnya, Ustaz. Tapi seperti biasa
- sebelumnya kita akan bersama-sama
- membaca ummul kitab.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- Maiki yaumiddin
- iyaka na'budu wa iyyaka nasta
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim
- waladin.
- Amin.
- Allahumma sholli ala Muhammadin
- wa ali Muhammad
- wa ala shabatika
- algurril mayamin wasairina ala najhil
- qawim ila yaumiddin.
- Asalamu alaika ya rasulullah. Assalamu
- alaina waa ibadillah shihin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah.
- [berdehem]
- Semoga
- Allah subhanahu wa taala memberikan
- solusi yang sebaik-baiknya
- bagi setiap orang yang menghadapi
- masalah.
- Asal mereka bersama Allah, Allah akan
- selalu menyertai mereka. Bila Allah
- menyertai mereka, Allah Subhanahu wa
- taala akan menjauhkan dari mereka segala
- yang tidak baik dan akan mencurahkan
- [berdehem]
- kepada mereka rahmatnya. ini merupakan
- kunci
- [berdehem]
- untuk membuka
- berbagai macam persoalan yang tertutup
- yang akan dapat menentramkan hati kita
- semua.
- Pertanyaan pertama atau kasus pertama
- seorang ibu yang sudah memiliki beberapa
- anak.
- Dia menjalani kehidupan rumah tangganya
- bersama suami dalam keadaan yang penuh
- dengan toksit atau racun.
- yang membuat kehidupannya sehari-hari
- dalam tekanan dan penderitaan.
- Lalu mana yang lebih baik? Berpisah
- apakah terus bertahan
- dalam derita demi anak-anak? [berdehem]
- Mana yang lebih baik bagi anak-anak?
- Berada dalam suasana [berdehem]
- rumah tangga
- yang bercerai ayah ibunya.
- Apakah
- anak-anak yang berada di bawah naungan
- kedua orang tuanya walaupun setiap waktu
- kedua orang tuanya dalam keadaan
- [berdehem]
- jawabannya kedua-duanya buruk.
- yang terbaik
- bagaimana
- pasangan suami istri ini coba bisa
- datang kepada orang yang memberikan
- nasihat
- agar suami memperbaiki sikapnya.
- Istri juga berupaya untuk mendukung
- suaminya.
- Karena seorang laki-laki yang didukung
- oleh pasangannya
- akan muncul rasa percaya diri,
- akan mendorong dirinya untuk apa?
- Melakukan [berdehem]
- perbuatan-perbuatan,
- pekerjaan-pekerjaan yang akan
- membahagiakan pasangan.
- Tapi wanita yang tidak mendukung
- suaminya
- bahkan seringki menjatuhkan suami,
- merendahkan dirinya, ini merupakan
- tindakan yang akan meruntuhkan rumah
- mereka dengan tangan mereka sendiri.
- Jadi, alangkah indahnya kalau seandainya
- persoalan ini [berdehem]
- dicarikan solusi dari orang-orang yang
- bijak. Sebagaimana orang kalau
- mengalami gangguan THT datang ke dokter
- THT.
- mengalami gangguan pencernaan datang
- kepada ahli gastro
- mengalami katakan [berdehem]
- diabet ya datang kepada ahli indoktrin.
- Begitu juga orang kalau sakit jantung
- datang kepada dokter jantung. Nah,
- sekarang persoalan yang Ibu hadapi ini
- berkaitan dengan tindakan suami. Apakah
- tidak bisa diperbaiki?
- Apakah pernah ada usaha-usaha untuk
- mengingatkan suami dengan cara-caranya
- yang hanya akan membuat rumah tangganya
- penuh dengan racun, penuh dengan rasa
- tidak puas dari pasangannya.
- Akhirnya apa yang dirasakan istri bakal
- terasa juga oleh suami. Karena walaupun
- mereka dua sebetulnya sama dengan satu.
- Jadi apa yang dirasakan oleh istri dalam
- suasana yang penuh kebahagiaan, suami
- juga merasakan.
- Istri tenang, suami tenang. Tapi kalau
- yang satu katakan dalam suasana yang
- tidak baik, ini juga berpengaruh pada
- pasangan.
- Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa
- taala perintahkan kaum laki-laki sebagai
- suami untuk menggauli istrinya dengan
- cara yang baik, berkata yang baik dan
- indah, yang akan menumbuhkan
- ladang-ladang yang subur, harum ya dalam
- jiwa mereka.
- Karena jiwa mereka tergantung apa yang
- kita tanam. Kalau kita tanami
- pohon-pohon yang bermanfaat juga
- pohon-pohon yang menghasilkan aroma yang
- semerbak dari kalimah thayibah,
- perbuatan-perbuatan baik, pasti mereka
- akan menikmati kebahagiaan bersama.
- Begitu juga di samping suami juga
- berkata baik dan santun, istri juga
- harus melakukan hal yang sama.
- Masing-masing jangan mau menang sendiri.
- Karena dalam kehidupan rumah tangga
- enggak ada yang namanya kalah menang.
- Kalau satu kandas, pasangannya pun akan
- ikut kandas.
- Begitu juga berpengaruh terhadap
- pendidikan anak-anak mereka yang rumah
- tangganya tidak tenang. Subhanallah.
- Tanpa mereka transfer apa yang
- disaksikan anak-anak langsung menyerap
- semua penyakit-penyakit yang ada pada
- ayah ibunya.
- Nanti mereka juga akan melakukan hal
- yang sama pada pasangan-pasangan mereka.
- Oleh karena itu perlu dijelaskan mana
- yang benar, mana yang salah, mana yang
- baik, mana yang buruk. ini penting
- sekali untuk dipahami sebagai basic
- knowledge pengetahuan berdasar kalau
- seandainya suami istri tidak mengetahui
- basic knowledge kehidupan rumah tangga
- di mana suami memperlakukan istrinya
- dengan mulia memberikan hak-haknya
- sebagai juga ibarat istri juga
- menjalankan kewajibannya sebagai istri
- Allah tidak jadikan suami sebagai lawan
- bagi istri atau sebaliknya tapi Allah
- jadikan mereka ba'dahu
- supaya bekerja sama dalam suasana yang
- penuh dengan keindahan.
- Dan ini Mbak Nin
- yang bisa membantu pasangan suami istri
- itu menghadapi stres finansial.
- Yang bisa membantu menghadapi stres
- finansial. Kalau mereka bersama-sama
- tenang, yakin pada janji Allah, mereka
- berusaha, dunia tidak akan merisautkan
- mereka. Tapi bila hati mereka kosong
- dari Allah,
- akibatnya dengan mudah persoalan
- finansial bisa mereka membuat mereka
- ribut. Persoalan tetangga, persoalan
- anak, persoalan ini, semuanya menjadi
- bumerang buat mereka. Oleh karena itu,
- hendaklah kita tambatkan hati kita, jiwa
- kita di sisi Allah. Menghormati,
- mengagungkan Allah, menempatkan Allah
- pada kedudukan yang termulia, yang
- teragung selain Allah. Semua merupakan
- makhluk-makhluknya.
- Pergaulan kita bersama makhluk Allah
- sesuai dengan keridaan Allah. Yang tidak
- sejalan dengan keridaan Allah kita
- tinggalkan. Yang sejalan dengan keridaan
- Allah kita lakukan. Taburkan rahmat di
- tengah-tengah umat. Maka kita akan
- merasakan juga apa? buahnya dalam
- kehidupan kita dengan penuh kekhusyukan
- menghadapkan wajahnya kepada Allah bukan
- ke hadapan batu. Batu hanya merupakan
- simbol. Siapa yang menghadapkan wajahnya
- ke sana seolah-olah dia menghadapkan
- wajahnya kepada Allah. Walaupun di mana
- pun kita menghadapkan wajah kita, di
- sana ada Allah. Karena Allah tidak
- terikat oleh dimensi ruang.
- Dia meratap dan merintih.
- Lalu seorang menegur dia, "Kamu kalau
- ada kebutuhan, kebetulan di sini ada
- amirul mukminin, silakan kamu minta
- kepadanya."
- Dia mengatakan, "Bagaimana saya akan
- meminta kepada seseorang sedangkan di
- hadapan saya Rabbul alamin yang maha
- kuasa untuk memenuhi seluruh hajat saya.
- Di mana saya menaruh wajah saya?"
- Jadi sebetulnya semua manusia ini takkan
- kuasa untuk menolong kita.
- Tapi Allah Subhanahu wa taala yang kuasa
- betul-betul untuk menaungi kita,
- menolong kita dalam kesempitan,
- dalam kegelapan kuasa untuk menerangi
- kita dan memecahkan problema-problema
- yang kita hadapi.
- Nah, sekarang saya kembali kepada ibu
- yang mengalami
- betul-betul suasana yang tidak nyaman,
- penuh toksik dalam kehidupan rumah
- tangga. bingung apakah akan bercerai
- bagaimana nasib anak-anak?
- Apakah bertahan dalam berita?
- Nah, sekarang
- saya berikan buat Ibu solusi untuk
- mengetahui sejauh mana perasaan ibu
- terhadap suami. Karena kalau orang
- sedang marah, sedang emosi,
- yang ada hanya kebencian.
- Tapi pada saat sedang cinta
- memadu kasih, semua yang buruk terasa
- indah.
- Yang gelap pun menjadi terang. Bahkan
- yang berbau tidak sedap. Subhanallah.
- Bagi para pencinta, mereka mengatakan
- justru itu merupakan letak keindahan.
- seperti orang yang menikmati terasi yang
- luar biasa baunya. Mereka mengatakan
- justru itu merupakan
- hal yang membawa keindahan. Sebagaimana
- menyaksikan gading yang retak, dia
- mengatakan justru retaknya itu yang
- membuat gading berharga.
- Jadi untuk mengetahui sejauh mana
- perasaan ibu sama suami
- sebagaimana suami boleh melakukan ila
- bersumpah katakan dia tidak ingin apa
- menggauli istrinya. Allah berikan batas
- waktu 4 bulan, tidak boleh lebih.
- Setelah 4 bulan ya apakah dia masih
- ingin terus?
- Apakah dia ingin berpisah? Sengaja Allah
- berikan waktu sedemikian rupa supaya
- laki-laki ini berpikir. Karena pada saat
- egonya sedang tinggi dalam keadaan
- marah, dia tidak melihat harga dan nilai
- dari istri.
- Tiap hari marah-marah enggak berhenti.
- Begitu istrinya sakit atau istrinya
- meninggal dunia baru dia merasakan
- kehilangan. Jadi jangan sampai setan
- menutupi hati kita untuk dapat melihat
- dan menghargai pasangan kita.
- Jangan waktu dia berada kita enggak
- syukuri. Waktu pergi atau waktu sakit
- baru kita sadari ternyata sebetulnya
- kita mencintai dia. Tapi ternyata cinta
- kita salah caranya.
- Seharusnya kalau mencintai kita menjaga,
- melindungi.
- Kita juga apa ee betul-betul berupaya
- untuk membahagiakan orang yang kita
- cintai. Bukan cinta semau kita.
- Jadi, Ibu demikian pula suami ibu bisa
- sementara waktu berpisah bersama suami.
- Ini cobaan katakan istri kembali ke
- rumah orang tua, suami juga demikian.
- Coba
- katakan selama sebulan, 2 bulan, 3
- bulan. Bagaimana kira-kira perasaan ibu?
- Kalau ibu merasakan sudah tidak ada
- perasaan sama sekali terhadap suami, ibu
- merasakan hidup ibu menderita, ya tidak
- sama sekali ada titik terang, ibu bisa
- ambil keputusan. Tapi setelah ibu
- timbang dengan baik, karena banyak saya
- jumpai perempuan marah, sakit hati, dia
- bersumpah untuk tidak kembali. Baru
- beberapa hari, baru berapa hari
- tahu-tahu apa
- balik
- sudah minta balik. Ini saya alami dan
- saya saksikan depan mata saya.
- Seorang perempuan lari dari rumah
- suaminya yang ngamuk-ngamuk, pegang
- golok.
- Akhirnya datang ke tempat ibunya
- mengadukan suaminya. Ibunya bilang,
- "Apa?" "Saya sudah bilang, "Kamu jangan
- menikah dengan laki-laki seperti ini,
- tapi kamu enggak dengar ibu.
- Sekarang kamu enggak usah balik lagi."
- Dibang, "Biar dibayarin saya enggak mau
- balik."
- Itu kurang lebih siang hari, kan?
- Tahu-tahu habis magrib atau habis isya
- suaminya datang.
- Kebetulan ketemu saya, "Ustaz, saya bisa
- ketemu sama itu." Saya bilang, "Bisa
- saya panggil suami kamu nyusul itu.
- Si bilang, saya enggak rida dunia
- akhirat, air susu saya kalau kamu
- kembali." Si anak langsung singkirin
- ibunya, "Ibu, enggak boleh begitu. Kalau
- suami istri lagi ribut, ibu harusnya
- damaikan." Langsung dia keluar gandeng
- suaminya pulang.
- Jadi kita ini mudah sekali
- berubah-rubah.
- Hati kita antara senang h benci itu
- dekat sekali. Orang bilang jaraknya
- lebih tipis daripada sehelai rambut.
- Oleh karena itu, kalau ibu memang merasa
- sudah tidak nyaman, tidak bahagia
- bersama suami,
- jangan ambil keputusan
- secara cepat. Coba berpisah sementara
- waktu. Dan saya pernah usulkan hal ini
- kepada pasangan suami istri.
- Si istri sudah terlalu menjelek-jelekkan
- suaminya.
- Cerita ke sana kemari
- sudah enggak tahan bersama suaminya.
- Akhirnya saudaranya bingung gimana
- berhadapan dengan karena yang
- diceritakan mengenai suaminya semua hal
- yang jelek.
- Lalu dia bertanya, "Bagaimana kira-kira,
- Ustaz?" Saya bilang begini, "Saya tidak
- berani mengatakan
- kalian berpisah.
- Sekarang
- saudari perempuan kamu biar tinggal sama
- orang tuanya selama sebulan, 2 bulan
- paling lambat hanya 4 bulan."
- Suaminya selama itu gelisah kan? yang
- tadi suka marah-marah, tidak karuan.
- Begitu pisah sama istrinya, suaminya
- apa?
- Berusaha melalui berbagai macam cara
- untuk menarik istrinya kembali.
- Si perempuan pada hari pertama, kedua
- masih terbawa emosi.
- Setelah seminggu ya 2 minggu mulai dia
- berubah. Ternyata apa? dia merasakan ada
- kekosongan dengan tidak adanya suami.
- Walaupun suaminya apa katakan
- perilakunya dalam sebagian hal tidak
- baik tapi dalam sebagian hal
- akhirnya belum sampai sebulan
- si perempuan minta balik. Saya bilang
- sama saudaranya, "Coba kamu lihat,
- kalau kamu ikuti kemauan dia, nanti
- begitu dia rindu sama suami ingin balik,
- kamu bakal dimusuhi sama dia. Jangan
- masuk di antara dua suami istri, biar
- diambil keputusan sendiri." Jadi, Ibu ya
- kalau ibu merasa bahwa rumah tangga ibu
- penuh toksik, ibu sudah tidak nyaman
- menderita demi anak ibu bertahan,
- sekarang kita buktikan. Coba ibu kembali
- ke rumah orang tua biar suami merasakan
- apakah dia masih menyayangi ibu, apakah
- ibu masih merindukan suami? Jangan kita
- menganjurkan mereka berpisah. Begitu
- mereka berpisah tahu-tahu datang
- penyesalan.
- [berdehem]
- Karena pernah kejadian satu perempuan
- ribut sama suaminya, dia bercerita pada
- temannya kebetulan seorang
- seorang apa? Seorang ahli hukum.
- Diceritakan [mendengus] perilaku
- suaminya begini, saya sudah enggak tahan
- lagi. Si perempuan ternyata panas luar
- biasa. yang mendengarnya panas. Temannya
- diperlakukan seperti itu. Akhirnya
- dibawa si perempuan mengajukan gugatan
- cerai
- dengan alasan yang begitu banyak.
- Akhirnya pengadilan memanggil pihak
- laki-laki. Tapi si ahli hukum ini
- betul-betul apa? mendorong si perempuan
- untuk apa? Berpisah.
- Akhirnya si perempuan karena didampingi
- oleh ahli hukum dan juga hatinya panas,
- maka dalam waktu tidak lama kemudian
- mereka berpisah.
- Setelah berpisah
- lama si ahli hukum tidak bertemu dengan
- teman. Berapa bulan kemudian ketemu
- dengan temannya, tubuhnya pusat
- pasir
- dalam keadaan sakit-sakitan.
- Ditanya, "Kenapa kamu seperti ini?"
- Dia bilang, "Saya ternyata saya merasa
- menyesal.
- Walaupun saya dulu sering ribut bersama
- suami, tapi hati saya masih terisi.
- Kalau sekarang saya merasakan kosong dan
- hamba.
- Dulu saya kesal masih bisa marah sama
- pasangannya kan. Sekarang mau marahin
- siapa?"
- Akhirnya apa?
- Si ahli hukum mengatakan, "Mulai
- sekarang saya tidak mau lagi terlibat
- ikut campur untuk memisahkan pasangan
- suami istri."
- Jadi, Ibu ya untuk tahu perasaan ibu
- pada suami dan perasaan suami pada ibu,
- ibu bisa tinggal di rumah orang tua.
- Katakan bahwa saya mau belajar. Kalau
- saya merasa saya tidak sanggup lagi
- hidup bersama kamu, saya putuskan untuk
- berpisah. Tapi kalau saya temukan saya
- masih memiliki perasaan terhadap kamu,
- saya ingin kamu merubah cara dan sikap
- kamu agar kita dapat hidup dalam suasana
- yang damai, tenang, harmoni, dan jauh
- dari toksik.
- Betul enggak?
- Dan perasaan manusia jangan pernah
- dipegang. Paling cepat berubah. Paling
- cepat
- berubah.
- Jadi, jangan kita pegang perasaan.
- Bahkan kita ini sekarang lagi supek,
- lagi jengkel, lagi kesal.
- Ya, enggak lama kemudian ketika mendung
- tersebut berlalu, kita merasakan
- perasaan yang berbeda.
- Jadi, dalam hal ini ibu pikirkan
- baik-baik. Kalau ibu merasa memang
- setelah berpisah dalam masa perpisahan,
- percobaan, ibu merasa tidak lagi ada
- perasaan terhadap suami ibu sudah enggak
- mampu bertahan, ibu berpisah
- menghindari hal-hal yang membuat ibu
- tidak dapat merasakan perasaan nyaman,
- tidak dapat beribadah dengan baik. Ya,
- adapun anak,
- dia tidak akan kehilangan ibunya
- walaupun berpisah. Tidak juga kehilangan
- bapaknya.
- anak bisa datang kepada ibu, tinggal ibu
- memberikan motivasi pendidikan pada
- mereka. Tapi ingat kalau berpisah jangan
- racuni anak-anak ibu untuk membenci
- ayahnya. Karena kalau sampai anak ini
- berbuat seperti ini, dia akan terjerumus
- dalam kebencian dan durhaka. Akhirnya
- jauh dari rahmat Allah. Tetap walaupun
- ibu tidak suka pada suami ibu atau
- mantan suami ibu, anak jangan ditanamkan
- kebencian pada ayah.
- Begitu juga jangan sekali-kali laki-laki
- menanamkan kebencian di hati
- anak-anaknya pada ibunya. Bahkan kalau
- ada hal yang buruk, jangan ceritakan dan
- jangan buka. Hingga si anak melihat
- suaminya atau bapaknya orang yang
- terhormat, begitu juga melihat ibunya
- sebagai wanita terhormat. Dengan cara
- seperti ini ya, anak tersebut bisa
- mempunyai idola yang dibanggakan itu
- orang tuanya. Tapi kalau sampai anak
- memandang remeh bapaknya, ibunya, maka
- idolanya akan ditembuhkan di rumah.
- Sedangkan kasus yang kedua
- seorang
- ee pria
- yang merasa berat mengurus orang tuanya,
- sementara keluarganya juga perlu.
- Mana yang harus didahulukan, orang tua
- ataukah keluarga?
- Jadi pasangan suami istri,
- suaminya kebetulan
- memiliki orang tua yang tidak punya
- tabungan di hari
- dan dia punya istri, dia mesti
- memberikan nafkah kepada istrinya. Siapa
- yang harus didahulukan, orang tua atau
- istri?
- Dengan sendirinya tidak ada satu yang
- harus didahulukan.
- Istri dan anak butuh nafkah, orang tua
- juga membutuhkan nafkah. Kenapa tabungan
- orang tua habis di hari tua? Bukankah
- untuk menyekolahkan anak-anak, untuk
- membesarkan mereka, bahkan sekolah
- mahal, orang tua
- rela untuk pinjam sanasi demi membuat
- anaknya sukses. Tahu-tahu begitu.
- Orang tuanya lanjut usia tak berdaya,
- anak lupa kepada orang tuanya
- pengorbanannya. Hanya ingat pada istri
- dan anak.
- Ini perbuatan zalim dan hati-hati
- Anda bisa-bisa terjerumus dalam azab
- Allah dan tidak akan mencium bau surga
- karena dosa-dosa
- besar
- ya.
- Sebagaimana disebutkan Al-Qur'an yang
- pertama mempersekutukan Allah. Yang
- kedua adalah durhaka pada orang tua.
- Jadi anak di saat dia mulai tumbuh
- dewasa, maka hendaklah dia mengingat
- kewajiban dia pada ayah ibu. L bagaimana
- istri dan anak? Kita juga berkewajiban
- memberikan nafkah pada istri kita.
- Bagaimana seandainya gaji kita
- pas-pasan,
- Allah menguji kamu bahwa rezeki kamu ini
- apakah kamu hanya berharap dari
- pekerjaan kamu apa berharap dari Allah?
- Kalau kamu menggantungkan hidup kamu
- pada Allah, pasti dengan niat kebaktian
- kamu pada ayah ibu kamu, niat
- bertanggung jawab pada istri kamu, Allah
- akan berikan rezeki.
- Oleh karena itu, kenapa kita dituntut
- untuk bergantung kepada Allah? Waallahi
- fatawakalu intuntum mukminin. Hendaknya
- kepada Allah kalian bersandar kalau
- kalian itu beriman bukan pada pekerjaan
- kalian. Berapa banyak orang meraih gelar
- PhD,
- master, pendidikan tinggi, tapi
- kehidupannya
- dalam keadaan pas-pasan. Bahkan banyak
- yang minus.
- Tapi berapa banyak orang-orang yang
- tidak berpendidikan tinggi justru apa
- bisa memerintah orang-orang yang
- berpendidikan di bawahnya.
- Ini kita jumpai
- Lims Willion orang yang tidak tamat
- sekolah kecuali SD. Mungkin juga tidak
- tapi bawahannya semua yang bekerja
- kalangan profesional.
- Jadi Rizek ingat bukan karena gelar
- negeri, bukan juga karena kepandaian
- kita. Karena banyak orang pandai kalah
- gajinya sama apa? Sama tukang ledeng.
- Betul-betul orang yang memperbaiki
- ledeng yang mencuci AC bisa lebih besar
- gajinya daripada orang yang tamat
- sekolah majester.
- Gajinya cuma UMR lebih sedikit.
- Sedangkan ini yang bekerja mencuci AC 1
- hari bisa dapat R500.000 sampai R1 juta
- naik turun.
- Jadi ingat rezeki di tangan Allah
- yarzuqu man yasya. Allah berikan rezeki
- kepada siapa yang Allah kehendaki. Dan
- barang siapa yang ingin rezekinya
- diluaskan oleh Allah
- bakti pada ayah ibunya. Hubungi talih
- rahimnya.
- Kemudian
- banyak-banyak beristigfar kepada Allah.
- Dan isi waktunya dengan membaca
- Al-Qur'an Allah akan muka rezekinya
- seluas-luasnya.
- Karena silaturahmi apalagi bakti pada
- ayah ibu itu pembuka pintu rezeki.
- Saya bukan ingin membanggakan diri tapi
- sebagai pelajaran
- saya
- waktu orang tua masih hidup, orang tua
- laki-laki
- itu
- hampir dikatakan hari-harinya
- membutuhkan biaya.
- Dia cuci darah seminggu tiga kali.
- Belum lagi terkadang dirawat 10 hari, 20
- hari di rumah sakit dengan biaya yang
- cukup tinggi.
- Saya sebagai anak punya kewajiban pada
- istri, pada anak, tapi kewajiban pada
- orang tua tidak kalah pentingnya.
- Apalagi sudah lanjut usia,
- sakit-sakitan, cuci darah.
- Saya sedapat-dapatnya
- dengan apa yang Allah berikan
- kita keluarkan biaya.
- Terkadang seminggu bisa sampai R juta,
- R0 juta,
- terkadang bisa sampai R juta. Karena
- biaya ICU juga cukup mahal. Kalau pakai
- akal sehat dari mana? Tapi hanya niat
- ingin berbakti pada orang tua, Allah
- berikan rezekinya. Allah berikan
- rezeki.
- Rezekinya
- sampai mobil saya jual,
- Allah kasih subhanallah. Apakah Allah
- diam? Allah berikan ganti rugi. Begitu
- orang tua kita meninggal dunia,
- Subhanallah. Kita mau jual rumah
- bertahun-tahun enggak laku-laku. Ya,
- berapa hari kemudian langsung laku.
- Allah gantikan yang hilang dengan yang
- lebih baik. Tapi yang paling indah kita
- merasakan kita di hari tua orang tua
- kita, kita bisa berbuat kebaikan pada
- mereka.
- Dan saya kenal beberapa orang yang bakti
- pada ayah ibunya, rezekinya mengalir.
- Luar biasa. Betul-betul. Padahal
- laki-laki ini apa? Kalau malam berjudi
- sama mabuk, pagi tidur sampai siang,
- tapi orang antri nunggu di rumahnya yang
- mau beli maupun yang menawarkan barang.
- Bayangkan coba.
- Tapi begitu dia melek mata sebelum
- ngurusi yang lain, dia perhatikan
- ibunya, makanannya, kebutuhannya. Kalau
- ibunya bilang, "Kamu beli mobil baru,
- kasih saudara kamu.
- Bangunkan rumah buat saudara kamu. Apa
- yang ibunya perintahkan tidak pernah
- ditolak." Allah kasih rezekinya mengalir
- dengan luar biasa. Sedangkan kakaknya,
- kakak laki-laki ini bangun malam, puasa,
- ibadahnya, zikirnya luar biasa.
- Dia bangun satu rumah bertahun-tahun
- enggak laku-laku.
- Sampai dibilang, "Ya Allah,
- apa dosa saya? Saudara saya yang mabuk
- kalau malam
- siang tidur. Kenapa rezekinya mengalir
- dengan mudah? Sedangkan saya yang bangun
- malam, berpuasa di waktu siang, berzikir
- kepada kamu, kenapa kok kondisi saya
- dalam keadaan ser? Saya bukan
- mengungkit, ya Allah, tapi mau bertanya
- apa sebabnya.
- Ternyata apa?
- Kakaknya ini kalau orang tuanya tanya,
- "Kamu lagi ada uang?" Tidak butuh untuk
- ini untuk itu. Lagi enggak ada mi usaha
- lagi sepi. Kalau adiknya yang pemabuk
- ini kalau ditanya, "Ya Fulan ada uang?"
- "Ada, Mi." "Berapa, M perlu?" Padahal
- lagi enggak ada uang. Dari mulai dia
- kerja kecil-kecilan, dia pinjam sana
- sini untuk membahagiakan ibu
- di luar hari akhirat. Bagaimana di hari
- akhirat nanti ya tergantung bagaimana
- hubungan mereka dengan Allah. Tapi di
- dunia karena kebaktian pada ibunya Allah
- berikan rezeki yang luas.
- Jadi kalau orang bertanya mana yang
- harus didahulukan antara orang tua sama
- istri dan anak? Ini pertanyaan
- menunjukkan bahwa Anda tidak memahami
- bahwa orang tua itu pembuka pintu rahmat
- keberkahan dunia maupun akhirat. Semakin
- banyak Anda memberikan orang tua dan
- berbuat kebaikan pada mereka, rezeki
- Anda untuk anak-anak istri juga akan
- berlimpah. Dan ketahuilah kebaktian Anda
- terhadap orang tua akan menularkan
- kebaktian pada anak-anak Anda. Juga akan
- membuat istri Anda hormat kepada orang
- tua. Tapi kalau Anda meremehkan mereka,
- Anda mengajarkan pada istri Anda untuk
- meremehkan mereka. mengajar juga
- anak-anak Anda untuk tidak menghormati
- nenek mereka atau kakek mereka. Oleh
- karena itu, kalau Anda diberikan rezeki,
- katakan 10 juta atau R juta.
- Jangan Anda mengatakan, "Saya punya
- istri, punya anak, kebutuhannya banyak.
- Orang tua salah sih enggak menyimpan
- tabungan." Lah kan untuk sampean
- semuanya habis untuk siapa?
- untuk kamu. Oleh karena itu, bagi sesuai
- dengan kemampuan kamu. Berapa untuk
- biaya orang tua,
- untuk istri sama anak kamu. Kalau bilang
- pada orang tua kamu, "Doakan Abah Umi
- supaya saya punya rezeki yang luas bisa
- membuat Abah Umi bahagia, memenuhi
- kebutuhan abi." Begitu juga sama istri,
- sama anak, doakan suami kamu agar bisa
- menjadi orang berbakti dan menjadi orang
- juga yang dimurahkan rezekinya hingga
- bisa betul-betul apa? mensejahterakan
- kalian. Dan jangan kalian berkeluruh
- kesah karena saya bantu orang tua.
- Mungkin dengan sebab orang tua Allah
- buka pintu rezeki yang seluas-luasnya.
- Bahkan bukan mungkin. Insyaallah dan
- pasti sesuai dengan janjinya Allah akan
- buka pintu rezekinya. Insyaallah enggak
- ada lagi stres finansial.
- Tidak ada bagi orang yang taat pada
- Allah, tidak mempersekutukannya, bakti
- pada orang tuanya, bersilaturahmi, Allah
- akan banjiri mereka dengan rezeki dari
- sisi Allah Subhanahu wa taala.
- Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua
- dan jadikan kita anak-anak yang selalu
- berbakti. Begitu juga anak-anak kita
- berbakti pada ayah ibu mereka, berbuat
- kebaikan pada kerabat dan sesama
- manusia. Amin ya rabbal alamin.
- Masyaallah. Jadi ikhwan akhwat kalau
- kita bersandar pada Allah
- akan menjadikan hari kita lebih
- bercahaya. Sementara berbakti pada ayah
- bunda yang sudah senja usia itu utama
- banget ya. Seperti apa yang kita dengar
- barusan karena doa ayah bunda akan
- membuka pintu rezeki gitu ya. Nah,
- apakah yang akan disampaikan yang akan
- membuat kita semakin yakin untuk
- menghadapi hal-hal semacam ini dari
- Ustaz Abu Bakar Baraja? Yuk, kita simak.
- [berdehem]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi
- alhamdulillah
- segala pujian kita aturkan
- dengan berbagai macam pujian-pujian
- yang kita alungkan
- di saat itu. Pujian-pujian itu membuat
- berkahnya kehidupan kita.
- Puji
- memuji itu adalah sesuatu hal yang
- lumrah.
- Namun ketika kita bersyukur kepada Allah
- di sini tempat kita mendapatkan sesuatu.
- Syukur ini adalah bagaimana kita bisa
- merasakan
- bagaimana nikmatnya
- ketika syukur itu sudah mengalir dalam
- kehidupan.
- Kita akan merasakan bagaimana syukur itu
- hadir di dalam kehidupan.
- Maka kita akan tetapkan bahwa kita
- adalah diri kita. Ketika kita menegaskan
- kepada diri kita bahwa kita adalah diri
- kita, maka dengan otomatis
- kita akan mengenal Allah.
- berbagai macam permasalahan
- yang terjadi
- sehingga ada seorang yang mengalami
- toksik
- dalam keluarga.
- Dalam keluarga mengalami toksik
- katanya beracun.
- Apa yang terjadi? bahwa tidak akan
- mungkin terjadi racun di dalam kehidupan
- kita kalau kita tidak melakukannya.
- Jadi ketika itu racun yang kita pegang,
- yang kita lakukan, kita berbuat, kita
- melakukan, itu yang menjadikan posisi
- dalam hidup kita, kehidupan kita.
- Jadi apa dong yang terjadi? Bagaimana?
- Kan ini berbagai macam peristiwa,
- persoalan-persoalan
- tidak ada katanya Allah. Fa inna maal
- usr
- mudahkan.
- Inna maal usri.
- Mudahkan.
- Jadi kesulitan-kesulitan
- itu kalau kita mengambil yang Buddha
- akan jadi mudah,
- akan menjadi mudah ketika kita melihat
- sesuatu itu sulit, kita lihat mudah,
- maka akan jadi mudah.
- Kalau kita memperhatikan toksik,
- beracun, berbagai macam peristiwa yang
- terjadi, maka pikiran kita akan terjadi
- suatu peristiwa-peristiwa.
- Makanya akan terjadi berbagai macam
- peristiwa.
- Segala sesuatu akan menjadikan sesuatu
- itu menjadi peristiwa.
- Bagaimana kok enggak? Tidak ada racun
- kecuali kita yang bermain di sana.
- Kalau kita bermain dengan racun, maka
- kita akan kepegang sana, megang ini
- racun. Bagaimanapun kita akan mengambil
- ini. Tapi kalau kita tidak bermain, maka
- permainan itu akan menjadi yang
- menyenangkan.
- Jadi tidak ada yang namanya tafsir. Buat
- apa kita berpikir kalau kita mau
- menghancurkan, kita mau berpikir ini,
- kita akan berpikir bingung ini. Untuk
- apa kita bingung? Yang penting mudahkan.
- Dalam segala sesuatu kita lihat mudahkan
- yang mudah, yang menyenangkan. Ketika
- kita bisa melihat yang menyenangkan
- insyaallah semua itu akan menyenangkan.
- Enggak akan ada. Wah, ini bimana saya
- harus pisah. Karena suami saya
- marah-marah enggak tenang.
- Suami marah-marah, kita diam.
- Kita menjadi seorang istri diam.
- Suami marah-marah kita diam. Ketika
- sudah diam, sudah tenang, baru kita
- bicara.
- Bukan suami marah-marah, kita ikut
- marah-marah. Ya sudah
- bubar
- bubar.
- Marah-marah ketemu marah-marah. Ya sudah
- penuh dengan marah-marah.
- Jadi ketika suami marah-marah kitanya
- tenang. Kita diam. Jadikan seorang istri
- yang tenang.
- Kalau seorang istri itu mengalami
- ketenangan, maka sang suami lama-lama
- marahnya hilang menjadi tenang.
- Jadikan hidup kita menjadi seorang satu
- orang di dalam keluarga ada yang
- memimpin
- ketenangan maka semuanya hidupnya akan
- tenang.
- Kalau anak-anak itu podo ribut ke sana,
- keluar ramai ke sana,
- permainannya tidak benar, nakal
- bagaimana
- berbagai macam peristiwa, main game,
- main itu, kita tenang. Bukan yang kita
- pikirkan permainannya, tapi yang kita
- pikirkan si anak.
- Jadi enggak toksik.
- Yang kita pikirkan siapa? Si anak. Anak
- itu bagaimana kita interaksikan, kita
- komunikasikan
- yang menyenangkan.
- Begitu juga kepada suami.
- Suami yang marah-marah, yang kesal,
- bikin wah enggak enakin kita ngelihat
- juga. Aduh.
- Kita diam dulu, kita tenang dulu, kita
- abaikan. Yang marah-marah itu kita
- tinggalkan, kita buang. Yang
- marah-marahnya dia kita tinggalkan, kita
- abaikan. Maka perbuatan yang baik itu
- yang kita munculkan.
- Enggak akan terjadi penceraian,
- perpisahan. tidak akan terjadi kalau ada
- yang mau masuk ke dalam ketenangan ini.
- Jadi ketika seseorang sudah mulai
- menjadikan tenang, insyaallah
- suami juga akan tenang, anak-anak juga
- akan
- enggak bisa. Kalau dia tidak bisa, ya
- sudah biarkan.
- Biarkan dia marah-marah. Kita tetap
- membina semuanya dengan suasana yang
- tenang. Dia akan tenang.
- Insyaallah dia akan tenang.
- Jadi
- perceraian jangan berpikir
- kita ini dalam berkeluarga seringnya
- yang kita umumnya banyak yang kita
- datangkan dapatkan
- datang-datang gini
- karena suami saya tuh seperti ini dia
- enggak bisa dibilangin dia keras kepala
- dia batu benar dia enggak bisa dikasih
- tahu saya enggak mau bicara lagi sama
- dia.
- Oke, kita dengerin.
- Iya.
- Terus ya sudah enggak bisa.
- Oke, sudah selesai. Oke, ya. Oke. Kita
- ngomong kita baik, baik baik baik. Oke.
- Coba nanti datang lagi. Begitu datang
- lagi sudah enak kan?
- itu
- bertanda marahnya karena saat itu.
- Kalau saat itu marahnya kita terima,
- kita lakukan, kita permasalahkan, kita
- adung, kita persoalkan, maka itu akan
- menjadi panas, menjadi
- respon sedikit pun. marah ketika kita
- respon sedikit dia akan menyambar.
- Maka ketika seorang marah, kesal, enggak
- enak,
- perkataannya kurang baik, kita enggak
- usah merespon.
- Kita diam.
- Kita berbicara yang menyenangkan, yang
- bahagia, yang memberikan ketenangan.
- Itu yang paling utama.
- Jadi yang paling utama enggak berpikir
- bawakan cerai.
- Cerai itu keputusan terakhir.
- Kalau memang sudah tidak bisa lagi, ya
- sudah cerai.
- Ini enggak bisa lagi. Bisa
- kesulitan bagaimanapun katanya Allah
- mudahkan.
- Kalau kita mudahkan, maka akan terjadi
- mudah insyaallah.
- Jadi jangan kita tergesa-gesa
- untuk mengambil keputusan.
- J keputusan itu enggak usah kita
- gesa-gesa,
- terburu-buru,
- kita santai, kita tenangkan,
- kita rilekskan.
- Insyaallah akan terjadi
- kemudahan-kemudahan
- insyaallah. Dan yang kedua
- ee jawabannya sih cuman satu. Prioritas
- apa yang kita ambil? Orang tua atau
- keluarga? Yakin kita sebagai seorang
- suami
- akan menentukan ya orang tua.
- Enggak mungkin kita akan lepaskan orang
- tua itu jadi utama.
- Ya, sebagaimana yang tadi sudah
- dijelaskan sama Ustazin, bagaimana
- pentingnya seorang
- melakukan perbuatan baik sama orang tua
- akan mendapatkan kebaikan.
- Jadi, yakinkan bahwa orang tua
- [berdehem] itu yang utama.
- Kalau terjadi sesuatu, mana yang kita
- harus pilih? Istri atau orang tua? ya
- orang tua
- kita harus memilih yang pasti memilih
- orang tua.
- Jadi yang paling utama adalah orang tu.
- Oh finansial kita nih enggak bisa dong.
- Kita kan cuma dapatnya pas-pasan buat
- rumah. Pas-pasan menambah anak satu
- pas-pasan. Nambah anak dua pas-pasan.
- nambah ibu satu pas-pasan enggak akan
- jadi pas semuanya jadi pas-pasan.
- Jadi yang penting itu kapan saja yang
- penting ada kita makan yang ada yang ada
- yang kita makan yang enggak ada yang
- enggak usah kita cari enggak usah kita
- muter-muter. Yang penting yang ada kita
- makan.
- Itu yang terbaik.
- Insyaallah. Jadi yang lebih penting
- adalah tetap kita pastikan adalah orang
- tua yang paling utama. Insyaallah.
- Ee
- nomor satu prioritas.
- Masyaallah. Tanpa ayah bunda mana ada
- kita di dunia ini kan.
- Em masih ada sedikit waktu tambahkan
- Ustaz sebagai [berdehem] penutup
- dalam satu diriwayatkan oleh Anas bin
- Malik
- dari Bukhari dan Muslim.
- Rasulullah bersabda, "Man sarrahu an
- yubsat lahu fi rizqi
- waunsau fiarih falyasir rahimah."
- Siapa-siapa yang mau diluaskan
- rezekinya,
- mau dihapuskan dosa-dosanya,
- jaga dan hubungi rahimnya.
- Apalagi ayah ibu
- kita berhubungan dengan rahim kita di
- luar ayah ibu saja sudah membuka pintu
- rahmat apalagi ayah ibu.
- Dan Rasulullah mengatakan, "Sungguh
- rugi, sungguh rugi, sungguh rugi."
- Seorang anak dia mengalami masa-masa tua
- kedua orang tuanya tapi tidak dapat
- masuk surga.
- Karena apa? Dengan kebaktian pada orang
- tua dia menjamin insyaallah surganya di
- dunia, surganya di hari akhirat.
- Oleh karena itu Allah berfirman, "Wa
- ahsinu innallaha yuhibbul muhsin."
- Berbuat ihsanlah. Sesungguhnya Allah
- mencintai orang yang berbuat ihsan. Nah,
- dalam ayat Quran dijelaskan
- prioritasnya.
- Wabil walidain ihsan
- wabidil qurba wal yatama wal masakin
- win.
- Kemudian wal jaril qurba wal jaril
- junubi washibiambi.
- Kita lihat bagaimana kita diperintahkan
- berbuat ihsan. pertama-tama kepada kedua
- orang tua. Kepada kedua orang tu. Kenapa
- Allah enggak sebutkan pada anak? Karena
- anak
- bagi orang tua seperti air dari tempat
- tinggi yang mengalir ke bawah. Tapi
- kalau untuk orang tua kalau enggak
- dipompa
- tidak akan naik. Maka Allah berikan
- wasiat berulang kali. Karena Allah tahu
- manusia ini kalau sudah berkeluarga
- banyak yang lupa pada ayah ibunya
- kecuali yang jiwanya penuh dengan rahmat
- dan kesadaran yang tinggi.
- Baru setelah itu kaum kerabat terdekat.
- Dengan sendirinya Allah enggak sebutkan
- anak istri karena ini merupakan
- apa yang berada pada buah hati kita.
- Tapi jangan karena anak istri kita
- abaikan ayah ibu kita, orang tua kita.
- Di samping mengantarkan kita menuju api
- neraka jahanam juga akan membuat hidup
- kita menderita dan sesat.
- Kemudian baru anak-anak yatim, apalagi
- kalau dari keluarga kita,
- orang-orang miskinnya. Kemudian
- tetangga yang dekat, tetangga yang lebih
- jauh ya. Kemudian teman-teman dekat
- kita.
- Masa kita berteman tapi tidak peduli
- menyaksikan orang-orang yang menjadi
- teman kita dalam kesusahan. Dan ini
- harta yang kita pegang bukan milik kita,
- milik Allah.
- Sekarang kita diberikan amanat. Besok
- begitu kita meninggalkan dunia ini kan
- pindah ke tangan orang lain lagi. Allah
- melihat bagaimana kamu pergunakan harta
- kamu dari mana kamu dapatkan. Ini yang
- akan menentukan. Oleh karena itu, orang
- sukses dan gagal bukan karena jabatan,
- kedudukan, dan kekayaan.
- Orang seperti Donald Trump jadi presiden
- Amerika kaya raya kan, tapi orang gagal
- lagi meneliti jalan menuju jurang api
- neraka.
- Tapi orang-orang yang beriman, yang
- taat, yang berbuat kebaikan, jauh dari
- kezaliman, dia orang yang sukses.
- Walaupun hanya seorang petani,
- walaupun pedagang kecil, walaupun dia
- tidak memiliki apa-apa, tapi dia taat
- pada Allah. Usahanya yang halal dan apa
- yang Allah berikan ditempatkan di tempat
- yang penuh dengan berkah. Jadi, jangan
- tergiurat kekayaan, lihat kedudukan,
- lihat ketampanan, kecantikan. Walaupun
- dia bergelar, berdasi, memiliki jabatan
- yang tinggi, tapi kalau dia tidak
- berjalan di atas jalan Allah, sampean
- gagal.
- Betul gak?
- Jadi bagi masyarakat apalagi yang
- beriman pada Allah, ingat Allah tidak
- bertanya berapa banyak uang yang kamu
- punya, apa kedudukan kamu, apa gelar
- kamu. Tapi Allah lihat
- bagaimana kamu menempatkan diri kamu di
- antara kebenaran,
- keadilan, dan ketidakadilan.
- Lalu untuk siapa kamu hidup dalam
- kehidupan dunia?
- Sudahkah kamu siapkan bekalmu untuk
- kehidupanmu yang kekal dan? Kalau tidak,
- maka orang-orang semacam ini,
- orang-orang yang hidupnya sia-sia,
- matinya akan mengantarkan dia menuju
- derita tiada tara. Waliubillah. Jadi,
- jangan terpedaya oleh kehidupan dunia
- kita di dunia kalau kita diberikan
- rezeki pas-pasan
- untuk kebutuhan kita bisa membantu sana,
- bantu sini. Alhamdulillah
- kita di rumah aman, rezeki kita ada,
- sehat afiat. Seperti yang dalam riwayat
- Rasulullah mengatakan, "Man kana aminan
- fi sirbih muafan fi badani wahuqu yaumih
- faqad lahud dunya biha."
- Orang kalau aman di rumahnya, di
- perjalanan,
- sehat badannya, kebutuhan sehari-harinya
- ada, dia telah apa? memiliki dunia dan
- seluruh isinya. Karena banyak orang kaya
- enggak aman hatinya. Banyak orang kaya
- enggak enggak sehat.
- Cuci darah, jantungnya begini,
- jantungnya begitu, enggak tenang,
- jiwanya gelisah. Apa artinya?
- Makanya alhamdulillah Ustaz Abu Bakar
- baraja ini tiap bertemu dengan orang
- senyumnya memberikan harapan Ibu Hajah
- Nur juga. Pada guru saya, Ustaz Syadili
- ini dulu mengajar saya Al-Qur'an.
- Walaupun cuma mengajar Al-Qur'an di
- kampung-kampung, anaknya berangkat ke
- luar negeri, belajar di luar,
- berkembang dengan pesat. Padahal guru
- Al-Qur'an pendapatan dia waktu zaman di
- pesantren paling cuma Rp500, Rp1.000.
- Itu sudah luar biasa. Betul-betul nanti
- mikul kayu di gunung ya untuk anak-anak
- ya, masak sampai tengah malam. Jangan
- dilihat pekerjaannya. Kelihatannya
- sepele. Tapi pekerjaan semacam ini
- merupakan jihad di jalan Allah. Ada
- Ustaz Junaidi juga berdakwah di kampung,
- di tempat-tempat kumuh yang
- sempit-sempit. Ya,
- jangan lihat tempatnya yang sempit.
- Insyaallah menjadi jalan menuju surga
- yang luas, membawa kebahagiaan
- insyaallah. Begitu pula kepada seluruh
- keluarga besar Radio Silaturahmi.
- Mudah-mudahan apa yang mereka infakkan,
- tenaga, waktu, pikiran, begitu juga
- harta kepada para pendengar juga Allah
- jadikan sebagai pembuka pintu rahmat
- Allah di dunia untuk kita, keluarga kita
- juga untuk bangsa negara kita dan jadi
- bekal di hari akhir nanti.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta astagfiruka wa atubu
- ilaik wal afu minkum. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah
- wabarakatuh. Terima kasih sekali Ustaz
- Husein, Ustaz Abu Bakar. Ya, ikhwan
- akhwat. Bakti pada ayah bunda ternyata
- utama karena doa beliau akan membuka
- pintu rezeki. Sementara tadi yang masih
- harus kita genggam berat adalah terkait
- dengan stres finansial. Tambatkan saja
- hati kita pada Allah. Insyaallah
- semuanya aman. Terima kasih sekali lagi
- untuk semua. Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.