Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullah
- wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil
- alamin. Allahumma sholli ala Muhammad wa
- ala ali Muhammad. masih dipancaruaskan
- dari Jalan Masjid Silaturahim nomor 36
- Kalimanggis Cibubur Bekasi Radio
- Silaturahim untuk Islam yang satu.
- Ikhwat dan akhwat yang dirahmati Allah
- subhanahu wa taala, bagaimana kabarnya
- di sore hari ini kita kembali berjumpa
- dalam program tausiah sore kajian kitab
- Riyadus Shihin edisi hari Jumat di
- tanggal 7 Desember 2018. Alhamdulillah
- ikhwan dan akhwat narasumber kita ustaz
- kita beliau Ustaz Ahmad Saleh telah
- berada bersama kita saat ini. Kita
- langsung saja sapa beliau.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Sehat,
- Ustaz? Ya, alhamdulillah atas doa dari
- semuanya bikhair. Alhamdulillah. Baik.
- Alhamdulillah. Dan di sore hari ini,
- Ikhwan dan akhwat, seperti biasa kajian
- kita priyadus shihin dan tema kita
- tentang boleh menangisi orang mati tanpa
- menghitung-hitung kebaikan mayit dan
- tanpa meratap. Nah, Ustaz, ya. Jadi,
- tema kita, Ustaz, ini kalau Anda punya
- kitabus Shihin, kita masuk di bab 153.
- Nah, jadi sekali lagi saya ulangi ya.
- Boleh menangisi orang mati tanpa
- menghitung-hitung kebaikan mayit dan
- tanpa meratap. Nah, seperti apa ee yang
- diperbolehkan dalam Islam menangisi
- orang mati dan bagaimana ee meratap itu?
- Nah, itu nanti yang akan dijelaskan oleh
- Ustaz Ahmad Saleh. Baiklah, Ikhwan dan
- Akhwat, selama setengah jam ke depan
- mari kita simak bersama pemaparan yang
- akan disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh.
- Tafadal, Ustaz.
- Alhamdulillahi hamdan katiron thyiban
- mubarokan
- f kama yuhibuna
- waard ashadu alla ilahaillallah wahdahu
- la syarikalah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluhu wa innahu la nabi ba'
- allahumma sholli wasallim wabarik ala
- habibikal karim muhammadin waa alihi wa
- ashabihi waman tabiahum bisanin
- yaumiddin amma
- Ikhwan wal akhwat, pendengar radio
- silaturahim, serta pemirsa Rasil Visual
- di mana pun berada. Sesungguhnya segala
- puji bagi Allah yang telah memasukkan ke
- dalam dada kita rasa
- tumakninah, rasa untuk mengakui bahwa
- ee al-Islam adalah satu din yang kita
- yakini, kita ee percayai juga. Kita
- bersyukur kepada Allah yang telah
- menurunkan sebaik-baik kitab yaitu
- Al-Qur'an dan telah mengutus sebaik-baik
- nabi yaitu Nabi Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam. Serta mensyariatkan
- sebaik-baik aturan yaitu dinul
- Islam. Di saat yang lain mencoba
- menelusuri berbagai jalan untuk
- menemukan
- hidayah, untuk bisa mendapatkan jalan
- hidup. Namun kebanyakan di antara mereka
- tidak menemukannya. Bahkan di antara
- mereka jangankan menemukan untuk
- mendengar kabarnya pun tentang Islam,
- mendengar kabarnya tentang Al-Qur'an,
- mendengar Nabi Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam, mereka bahkan asing,
- bahkan masih merasa garib.
- Maka oleh sebab itu tidak henti-hentinya
- kita panjatkan puji dan syukur kepada
- Allah Subhanahu wa taala karena dengan
- kasih sayangnya kita diberi hidayah,
- ditunjukkan kepada Islam, ditunjukkan
- kepada ee risalah Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Tiib. Untuk
- tidak memperpanjang ee perkataan, mari
- kita langsung saja kepada kajian kita,
- yaitu bolehnya menangisi orang mati
- tanpa menghitung-hitung kebaikan mayit
- dan tanpa meratap. Tayib. Eh, kita mulai
- dari hadis pertama atau dalam bab ini
- atau hadis
- ke-925 dalam kitab Riyadus Shihin. an
- ibni Umarah radhiallahu anhuma anna
- rasulullahi shallallallahu alaihi
- wasallam qal anna rasulullahi sallallahu
- alaihi wasallam ada sa'da bna
- ubadah wamahu abdurrahman ibnu auffinnu
- abi waqqas wa abdullah ibnu mas'udin
- radhiallahu
- anhum fabaka rasulullahi shallallallahu
- alaihi wasallam falamma roalualumu buka
- ali
- was
- inhabuhami.
- Haditun
- alaih. Kalau kita pahami bahwa hadis ini
- menyampaikan bahwa dari Umar Ibnu
- Khattab dari Abdullah bin Umar, mohon
- maaf dari Abdullah bin Umar bahwa
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- menj Sa'ad bin Ubadah bersama
- Abdurrahman Abi Waqqas dan Abdullah bin
- Mas'ud radhiallahu anhu. Kemudian
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- menangis. Ketika orang-orang mengetahui
- tangisan Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam, maka mereka pun
- menangis. Kemudian beliau bersabda,
- "Adakah kalian tidak
- mendengar? Ala tasmaun. Tidakkah kalian
- mendengar?" "Inallaha la yuibu bidamil
- ain?" Sesungguhnya Allah tidak mengazab,
- tidak menyiksa karena apa namanya? Damil
- ain, tetesan air mata.
- dan juga tidak mengazab karena kesedihan
- hati. Walakin akan tetapi
- yadibu akan tetapi Allah
- mengazab yarhamu atau merahmati ya e.
- Jadi Nabi mengisyaratkan kepada
- lidahnya. Jadi e Allah mengazab karena
- lidah seseorang atau Allah merahmati
- karena lidah apa? lidah seseorang ketika
- ada orang yang dicintainya meninggal
- dunia.
- Dari hadis ini dapat kita lihat
- mutiara-mutiara yang begitu menarik. Di
- antaranya bahwa menangis dan perasaan
- sedih dibolehkan dan tidak dilarang.
- Jadi kalau ada ibu kita meninggal dunia
- atau ayah kita meninggal
- dunia, maka boleh kita meneteskan air
- mata, boleh kita bersedih, yang tidak
- boleh adalah meratap. Ya, tadi lisan
- tadi lisan yang meratap.
- Seseorang di zaman tabiin kalau tidak
- salah atau tabiut tabiin, beliau adalah
- seorang
- qadi sampai kepadanya kabar bahwa ibunya
- meninggal dunia. Fabaka. Maka beliau pun
- menangis. Maka kemudian dia
- ditanya, "Mengapa engkau menangis?"
- "Iya,
- pulahan." Kemudian dikatakan,
- "Lima,
- bagaimana lima la abki?" Bagaimana saya
- tidak menangis? Wahua. Padahal dia ibuku
- itu babun min abwabil jannah. Satu pintu
- dari sekian banyak pintu surga yang
- telah Allah sediakan. Sekarang di
- rumahku berkurang pintu surga. Kenapa?
- Karena ibuku telah meninggal dunia. Jadi
- yang dimaksud pintu surga itu adalah
- jalan untuk masuk ke dalam surga.
- Sesuatu yang bisa mengantarkan kita ke
- dalam surga. Sekarang itu sudah
- meninggal dunia. Maka dia menangisnya
- bukan karena kewafatan dalam pengertian
- ibunya, tetapi dia menyesali. Kenapa
- gitu kan sekarang kesempatan untuk
- mendapat surga itu mendapatkan rida
- Allah sudah berkurang karena ibunya
- telah dipanggil Allah subhanahu wa telah
- wafat. Ya,
- ini yang dilarang adalah jika seorang
- melakukan apa yang diharamkan syariat
- yaitu nadb niahah. Niahah itu merata
- atau menangis dengan suara terlampau
- keras. Ya, ada juga kita sering
- mendengar tangisan seseorang ketika
- mendengar ibunya telah meninggal
- dunia, ayahnya telah meninggal. Kemudian
- dia sambil ee memeluk dari lari dari
- ketika dia datang bisa jadi dia dari
- luar kota dia lari kemudian memeluk
- jenazah terus sambil berteriak ibu. Ah
- itu yang kemudian ee dicela di dalam
- Islam ini ya. Heeh. Adapun menangis
- biasa ya meneteskan air mata, merasa
- sedih, ada jaiz boleh. Yang tidak boleh
- adalah tadi meratap, menghitung-hitung
- kebaikan mayit dengan suara yang keras.
- Oi, pada kaza kaza kaza kaza. Ah,
- kada-kaz itu maksudnya bercerita tentang
- kebaikan orang yang sudah meninggal itu.
- Tapi sambil menangis dia menyesali
- karena tidak berbuat baik kepadanya gitu
- ya.
- Hadani hadis yang kedua atau hadis
- ke-926 dalam kitab Riyadus Shihin ini.
- Zaidin radhiallahu anhuma rasullahallahu
- alaihi
- wasallamai ibnatihi wahua
- maut rasulillahu alaihi wasallam faqahu
- sa'dun ma ya
- rasulallah q rahmatun
- jaalahallahu taala fiubi ibadii wa inama
- yarhabullahu min ibadihi aruhma
- yang artinya kurang lebih dari Usamah
- bin Zaid Usamah bin Zaid radhiallahu
- anhuma semoga Allah meridai Usamah dan
- juga Zaid anna Rasulullah bahwasanya
- Rasulullah sahu al wasallam rufi
- ilaihi wahua fil maut ya maksudnya rufi
- itu kalau bahasa kita diangkat tetapi
- maksudnya disampaikan kepadanya dikabari
- gitu
- bahwa anak putrinya sedang sakaratul
- maut. Lalu kedua mata Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam mengalirkan
- air
- mata. Kemudian saat berkata kepada
- beliau, "Apakah ini wahai utusan Allah?"
- Beliau menjawab, "Hadi rahmah ini adalah
- kasih sayang. Ini adalah rahmah yang ee
- dijadikan Allah di hati hamba-hamb-Nya
- yang disayangi Allah. Di antara
- hamba-hambanya adalah orang-orang yang
- penyayang." Jadi sekali lagi kalau kita
- karena penyayang kemudian kita
- menangis mama umi abi atau siapapun
- menangis karena kita menyayanginya
- karena kita menyayanginya baru setengah
- jalan, baru sepersekian jalan belum
- tuntas menyayanginya, belum tuntas
- membahagiakannya.
- Dialah yang
- kemudian senantiasa menghibur kita di
- saat kita berduka, di saat kita gagal
- dalam pengertian belum berhasil. Tapi
- merekalah yang kemudian menyayang kita
- dan menghiburnya. Namun sekarang dia
- telah tiada menangis. Jaiz, sedih boleh
- ya. Tidak harus ditahan-tahan ya karena
- bisa jadi penyakit. Heeh.
- Nah, hadis
- ini dapat kita lihat pesan-pesannya
- adalah boleh menangisi mayit tanpa
- meraung dan
- menjerit. Saya tidak tahu persis. Saya
- pernah mendengar ada satu kaum
- tertentu. Jadi kalau kita ingin
- mendapatkan balasan dari keluarganya
- harus nangis di hadapannya. Katanya
- meraung dan menyerut. Wallahualam. Ini
- cerita zaman dulu, zaman masih kecil ya.
- tetangga tandanggaan, cerita koton kalau
- di kota tuh begini begini begini
- wallahuam. Tapi apakah itu benar atau
- tidak? Wallahualam. Tapi kemudian saya
- ingin sampaikan kalau kemudian kita
- meraung-raung dengan suara keras ya
- meskipun kalimatnya juga yang sederhana
- sekali lagi tadi itu tidak disukai di
- dalam Islam. Artinya diharamkan ya
- menyebut-nyebut ini tapi sambil dengan
- suara keras sehingga menunjukkan bahwa
- dia tidak rela, menunjukkan dia tidak
- rida.
- orang yang dicintainya diambil oleh
- Allah Subhanahu wa taala, maka ini yang
- diharamkan. Maka ini yang kemudian ee
- tidak dibenarkan. Ini hadis yang kedua.
- Amma al hadis asal atau hadis ke-927
- dalam kitab ini. Waan anasin radhiallahu
- anhu anna rasulullahi shallallallahu
- alaihi wasallam dakala ala banihi
- ibrahima radhiallahu anhu wahua yajudu
- binafsihi fa'alat aina rasulillahi
- shallallahu alaihi wasallam tadrifani
- faqala lahu
- abdurahman ibnu auf wa anta ya
- rasulullah faqala ya bnafin innaha
- rahmatun
- Ibrahimuahzunun dari Anas radu bahwa
- alaihi wasallam menemui anaknya Ibrahim
- semoga Allah meridainya yang sedang
- menghembuskan nafas terakhirnya kedua
- mata Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam melelehkan air mata.
- Abdurrahman bin Auf berkata kepadanya,
- "Engkau menangis wahai utusan Allah."
- Begitu kurang lebih ya. Ini terjemah
- bebas
- rupanya. Ya bnafin wa anta ya
- Rasulullah. Begitu kalau kalimatnya dan
- engkau ya Rasulullah. Ah maksudnya
- kemudian maksudnya tadi ya
- ee engkau menangis ya Rasulullah. Begitu
- ya. Lalu beliau bersabda, "Wahai Ibnu
- Auf, ini adalah air mata rahmat. air
- mata
- sayang. Kemudian air mata pertama itu
- diikuti air mata kedua dan seterusnya.
- Lalu beliau bersabda, "Mata menangis dan
- hati berdukacita, tetapi kami tidak
- mengucapkan selain ucapan yang membuat
- rida Tuhan kami. Dan sesungguhnya kami
- ini, ya Ibrahim benar-benar sedih
- berpisah denganmu." Jadi boleh
- mengatakan seperti tadi ya, meskipun
- sudah meninggal dunia boleh kepada orang
- mati mengatakan sesungguhnya aku sedih
- kehilangan engkau. Gitu kan boleh.
- Banyak di antara kita kemudian
- mempermasalahkan hadis ini menunjukkan
- kebolehannya ya. misalnya. Maka
- kemudian yang dimaksud susungnya hati
- ini sedih ya Ibrahim bukan sedang
- komunikasi tapi ada pengungkapan
- perasaan
- ya. Nah ini kemudian nanti akan ee hadis
- ini juga akan menjawab persoalan yang
- tadi yang mengatakan seakan-akan kita
- tidak boleh ber bukan komunikasi. Sekali
- lagi misalnya begini. Ketika kita baca
- tarikh ya, sirah nabawiyah, sirah Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- sampai kepada kisah bahwa Nabi
- sallallahu alaihi wasallam giginya
- patah, kakinya berdarah, kemudian kita
- berdiri, "Ya Rasulullah." Kemudian kita
- menutup sirah itu sambil menangis. Ya
- Rasulullah, maafkan aku. Sesungguhnya
- aku belum dapat melanjutkan
- perjuanganmu. Gitu kan. Itu bukan
- berarti kemudian ngobrol secara langsung
- meskipun kalimat itu seakan-akan sedang
- ngobrol. Sebagaimana tadi Nabi
- sallallahu alaihi wasallam, "Ya Ibrahim,
- sesungguhnya hati ini pilu berpisah
- denganmu. Hati ini sakit, sedih berpisah
- denganmu." Ya, jadi ini saya kira ini
- hadis diriwayatkan ee oleh Imam Bukhari,
- Imam Muslim ya. Namun Imam Muslim bagian
- ee meriwayatkan sebagian redaksinya.
- Jadi sekali lagi para ikhwan sekalian,
- menangisi orang meninggal dunia jaiz,
- namun kemudian menjadi haram jika
- tangisan itu diikuti dengan ratapan,
- diikuti dengan teriakan, diikuti dengan
- suara yang sangat keras, ya. Nah, ini
- jadi ee harus menjadi catatan bahwa jadi
- menjadi bermacam-macam hukumnya. Ada
- yang hukumnya jaiz boleh. Ada yang hukum
- hukumnya apa namanya? Hukumnya haram. Ya
- boleh jika menangisnya biasa meneteskan
- air mata, sedih, mengungkapkan seperti
- tadi. Namun kalau kemudian diungkapkan
- dengan suara yang keras, kemudian kita
- mengatakan juga bahwa ee apa namanya ya?
- Seperti itu ya. Nah, maksudnya teriak.
- Nah, ini maka menjadi haram hukumnya.
- Ini saya kira ikhwatul iman ee tiga
- hadis dalam bab ini dan dari hadis
- ketiga ini dapat kita lihat selain
- pelajaran dalam hadis-hadis sebelumnya,
- hadis ini juga menjelaskan kewajiban
- menyerahkan perkara dan rida kepada qada
- dan qadar Allah tabaraka wa taala. Tidak
- ada larangan mata menangis dan hati
- sedih tanpa disertai kemarahan dan ke ee
- apa namanya? Kekalutan. Jadi, ini yang
- harus di kita pahami ya. Demikian saya
- kira sebagai pengantar dalam ee tausiah
- sore ini. Wasallallahu ala nabiina
- Muhammadin walhamdulillahi rabbil
- alamin. Wallahu aam biswab.
- Baik ikhwan dan akhwat yang dirahmati
- Allah subhanahu wa taala. Demikian tadi
- tahu saya disampaikan oleh Ustaz Ahmad
- Saleh di kesempatan hari ini dan kami
- akan segera kembali setelah jeda
- berikut.
- Allah
- [Musik]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Ikhwan dan
- akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
- taala. Terima kasih Anda masih bersama
- kami dalam program di kesempatan sore
- hari ini atau sore kajian kitab Riyadus
- Shihin dan tema
- kita tentang meratapi
- mayit atau lebih tepatnya adalah boleh
- menangisi orang mati tanpa
- menghitung-hitung kebaikan mayit dan
- tanpa meratap meratap. Iya. Kita akan ke
- pertanyaan. Ini ada pertanyaan sudah
- masuk, Ustaz. Dari hamba Allah.
- Asalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Baik, Ustaz
- Ahmad Saleh. Ee saya punya sahabat yang
- pada waktu pemakaman suaminya ikut
- mengantar ke tempat pemakaman. Heeh. Di
- saat itu sempat dia agak histeris, tapi
- hanya ditahan saja, Ustaz. Dan di saat
- yang bersamaan dia dimarahi seorang
- ustaz. Karena menurut ustaz tersebut
- tidak boleh ada air mata saat suaminya
- dimakamkan. Apakah memang seperti itu,
- Ustaz? Dan apakah sebaiknya seorang
- istri tidak ikut ke pemakaman
- suaminya? E naam. Masyaallah. Hamba
- Allah. Semoga Allah merahmati kita
- semua bahwa sekali lagi bahwa menangis
- itu jaiz boleh. Tetapi tadi histeris ini
- yang di harus dihilangkan ya. Histeris
- ini yang harus
- dihindari. Kalau tadi sempat histerisnya
- terucap ya suara sempat keluar kemudian
- didengar oleh ustaz tersebut sehingga
- ustaz tersebut melarangnya maka itulah
- sebuah keharusan. Itulah sebabnya kenapa
- para istri dulu, para kaum perempuan itu
- tidak disunahkan hadir di pemakaman
- karena bisa jadi tadi masalahnya ya.
- Namun kemudian bagi orang yang mampu
- mengendalikan rasa sedihnya dengan cara
- tadi dia tidak histeris, tidak kemudian
- apa nam menyesali mengungkapkannya
- apalagi kemudian keceplosan berteriak.
- Nah, ini yang kemudian harus dihindari.
- Maka oleh sebab itu pertanyaan tadi
- apakah seorang istri boleh ke pemakaman
- atau tidak? Maka jawabannya bisa boleh
- bisa
- tidak. Karena ada seorang istri begitu
- terpukul atas kematian suaminya karena
- bisa jadi mereka sedang merencanakan
- sesuatu. Begitu mesranya tiba-tiba dia
- kaget. Sok tiba-tiba kabar datang
- kepadanya beberapa saat saja bahwa
- suaminya meninggal dunia. Nah, biasanya
- itu sangat terpukul ya. Makanya di sini
- juga tidak boleh kita terlalu panjang
- angan-angan. Kemudian dia kemudi apa
- tadi? Ee ee meratap itu kemudian yang
- tidak boleh. Ya. Maka oleh sebab itu ya
- kan ee dalam pengantaran jenazah juga
- sesungguhnya kaum hawa itu di belakang
- ya, muslim, muslimin di depan. Hikmahnya
- apa? Para ulama kemudian mengungkap
- berbagai hal ya. Ah karena tadi kenapa
- kemudian disunahkan? Sebagian ulama
- mengatakan disunahkan harus pakai harus
- diantar diantar maksud langsung oleh
- orang ya di apa
- ditandu di apa istilahnya tidak pakai
- mobil tidak pakai ini. Kalau itu mungkin
- terjangkau. Makanya di negara-negara
- tertentu itu meskipun jauh mereka tetap
- ini apa namanya? Dengan cara di ditandu
- dengan cara di ee kata orang sini di apa
- di ya apa istilah bahasa sini ditandu
- ya. He ditahan. Nah, pertama selain
- pahalanya juga besar, kedua orang lebih
- khusyuk untuk mengingat kematian tadi.
- Hm. Masyaallah. Si anu ya tidak sangka
- orang baik. Masyaallah. Hmm. Si anu ya
- masyaallah tidak sangka. Padahal dia
- perencanamu membangun masjid. Hmm. Si
- anu. Nah di kemudian sampailah kepada
- satu pemahaman bagi yang
- mengantarkannya. Iya. bahwa kita pun
- juga akan seperti dia. Kita bisa jadi
- hanya bisa merencanakan sesuatu, tapi
- sebelum itu terjadi Allah sudah
- memanggil kita. Bisa gitu ya. Jadi
- banyak hikmah. Kemudian e namun kemudian
- kalau di zaman now di terutama di
- Indonesia di ibu kota ya di ibukota
- antara tempat tinggal dengan pekuburan
- kan memang berjauhan. Ada yang dekat
- bukan? Ini ini yang menarik sekali ini
- umat Islam ini masyaallah terbagi di
- beberapa tempat tetapi kemudian
- pemakaman juga terbagi-bagi,
- terpisah-pisah jauh ya. Ada orang sini
- misalnya orang
- Cibubur pemakamannya di sono di tempat
- yang jauh. orang yang dekat dengan peman
- apa pemakaman di sana yang dekat malah
- dia dia punya apa namanya pemakaman di
- tempat lain itulah ya saya ingin
- sampaikan seringkiali ini ini cuma
- masalah ya maka harus dituntaskan
- sesungguhnya agar kita ini umat Islam
- ini meninggal ya dekat dengan
- pekuburannya juga gitu ya. Heeh. ya
- karena memang ee ada beberapa hal
- tentang wakaf pekuburan ini tidak apa
- belum ditangani oleh ee masing-masing ee
- masyarakat di situ ya. Jadi ada
- kecamatan ini sudah punya pemakaman,
- kecamatan sebelahnya belum gitu kan.
- Desa ini sudah punya desa sebelahnya
- belum akibatnya bisa apa namanya apa
- namanya ya semerawut gitu ya. Heeh. Nah,
- kembali kepada permasalahan. Jadi,
- apakah kemudian boleh seorang istri ee
- apa namanya? Ee datang ke pemakaman
- ataukah sebaiknya tidak boleh seorang
- istri datang ke pemakaman suaminya
- tadi? Kalau dia mampu mengendalikan
- falabasabih tidak mengapa. Sebagaimana
- tadi dia pun akan diingatkan ya dengan
- kematian itu. Karena hadis itu im apa
- umum. Nabi dulu mengatakan apa namanya
- ini tentang ziarah kubur asalnya ya.
- Tapi sekarang kemudian Nabi
- mempersilakan para sahabat untuk
- berziarah kubur karena akan mengingatkan
- kepada kematian dan mengambil pelajaranp
- pelajar. Begitu juga tentang tadi
- pemakaman ya. Meskipun sekali lagi
- banyak ee awalnya adalah tidak
- disukainya kaum muslimat gitu kan
- mengantarkan. Karena tadi alasan-alasan
- yang dilihat banyak sekali yang
- ditakutkan. Namun kemudian sekarang ada
- beberapa pemahaman-pemahaman,
- kajian-kajian yang semakin mengerti.
- Maka kemudian menjadi tidak masalah
- kalaupun mereka datang. Tapi tetap
- sekali lagi ikhtilat meskipun sulit di
- apa namanya? Dihindari namanya
- ikhtilafat di kuburan gitu, tapi itulah
- faktanya gitu kan. mestinya kita harus
- inikan apa ee mesti diatur mana misalnya
- oh pihak keluarga yang ingin menyaksi
- silakan tapi dengan catatan tadi harus
- mengikhlaskan kalau kemudian muncul ee
- kalimat seperti tadi
- histeris sampai terdengar orang lain
- maka sebaiknya tidak harus datang
- artinya ya sudah mendingan dia tinggal
- ini berdoa dari kejauhan saja tapi untuk
- yang terakhir kalinya saya ya untuk
- terakhir kalinya di rumah juga kan bisa
- apa ikut ikut memandikan suami, maka
- oleh sebab itu penanganan atau
- istilahnya penyelenggaraan jenazah
- sebaiknya oleh kerabat yang dekat. Ya,
- demikian saya kira yang dapat saya
- jelaskan. Wallahuam bisawab.
- Baik, kemudian Ustaz ada pertanyaan
- kembali dari
- Bapak Dayat di Bogor. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Baik, Ustaz. Bolehkah kita
- berziarah kubur setelah mendoakan terus
- dilanjutkan membaca Quran seperti
- membaca
- Yasin? Naam. Ini terjadi beberapa
- perbedaan di kalangan ulama ya, apalagi
- ulama
- kekinian. Karena pertama gini, bahwa apa
- tadi? Berdoa sudah sampai situ selesai
- sepakat. Tapi kalau kemudian dilanjutkan
- baca Quran gitu kan. Jadi
- begini jelas kalau hadisnya jelas.
- Janganlah kita menyamakan antara kuburan
- dengan
- rumah. Maka di rumah bacakan
- Quran. Maka mafhum ah mafhumnya apa
- namanya? Mafhum itu ada dua. Mafhum
- mukhalafah dengan mafhum muwafaqah.
- Mafhum muwafaqahnya berarti atau ya ee
- mukhalafahnya berarti di kuburan tidak
- boleh baca Quran, gitu kan. Karena tadi
- di agar dibedakan antara rumah dengan
- kuburan. Dibacakanlah Quran. di di
- rumah. Berarti pemahaman sebaliknya sama
- dengan tidak boleh baca Quran di mana?
- Di kuburan. Itu jelas. Sampai di situ
- juga jelas. Namun kemudian
- permasalahannya ada sebagian orang
- setelah mendoakan itu melakukan
- kegiatan-kegiatan
- lain. Nah, untuk menghilangkan
- kegiatan-kegiatan lain yang tidak
- disukai bahkan disebut kategorinya
- bidah, maka membaca Quran menjadi
- solusinya sebagai apa namanya?
- tandingannya agar yang tadi
- pekerjaan-pekerjaan yang tidak
- semestinya menjadi tidak dilakukan
- karena dengan adanya bacaan bacaan
- Quran. Jadi sekali lagi asalnya tadi
- pemahamannya bahwa membaca Quran itu di
- rumah bukan di kuburan. Namun sebesu
- maka itu para ulama jelas akan
- membiarkan baca Quran ya orang baca
- Quran di kuburan karena tadi daripada
- kemudian mereka apalagi mohon maaf
- misalnya kerabat kita itu menjadi tokoh
- yang sangat maka kemudian orang datang
- ya p murid-muridnya dari jauh datang ya
- bukan hanya ini kemudian mereka ya
- meratapi orang tua kita gitu kan ee
- sebagai murid yang jauh kemudian dia
- katakan kad waz yang menurut kita itu
- menjadi jatuh kepada sesuatu yang tidak
- dibenarkan. Maka salah satunya kemudian
- daripada begitu, nah ini istilahnya
- daripada begitu itu seringki tidak ada
- nasnya gitu. Seringki juga di penghujung
- antara apa ya menjadi syubhat. Jadi
- apakah ini akan selamat atau celaka gitu
- ya. ini makanya oleh sebab itu
- berhati-hati. Namun kalau kemudian ada
- yang demikian itu maksudnya ada
- kegiatan-kegiatan yang menunjukkan ke
- arah kesyirikan, maka membaca Quran
- kemudian menjadi bukan masalah yang
- harus dipermasalahkan di tempat itu.
- Namun kalau kemudian orang sudah
- mengerti maka kemudian dia bisa
- melakukannya di rumah. Sekali lagi harus
- dibedakan bahwa rumah harus senantiasa
- dihidupkan dengan Al-Qur'an maka harus
- dibedakan dengan kuburan. Kubur itu ada
- maksud para kalau
- begini, kenapa kuburan seakan-akan harus
- terlihat angker? Itu ada maksud
- sesungguhnya. Kenapa harus dibiarkan
- seperti itu? Sehingga ulama terdahulu
- memasang lampu pun tidak boleh gitu kan.
- Karena ini akan menghadirkan rasa tadi
- rasa takut yang kemudian rasa takut ini
- dianya berlari kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Itulah sebabnya nanti kenapa
- orang miskin kemudian doanya lebih dekat
- kepada Allah dibanding orang kaya.
- Karena kesadaran keperluannya betapa
- besarnya dibanding orang
- kaya. Doanya orang sakit biasanya lebih
- lebih kencang. Kencang dalam
- pengbanding orang yang sehat. Orang yang
- sekali lagi yang lapar lebih kencang
- dibanding yang penuh perutnya. Begitu
- juga. Jadi sekali lagi semuanya itu ada
- beberapa maksud-maksud yang menarik.
- Kenapa kemudian di kuburan harus begini?
- Woh, masyaallah ya. Kalau kita lihat ee
- sejarah apa namanya risalah-risalah
- meskipun sekarang semuanya mohon maaf
- ya, mohon maaf sekali lagi. Sekarang ini
- kan pekuburan dengan arena bermain sama.
- Hm. Bahkan orang bisa main di kuburan
- tidak ada rasa takutnya. Akibatnya apa?
- Mereka kemudian anak-anak kita ini tidak
- lagi menghormati dalam tanda petik
- risalah-risalah tentang kuburan.
- Dulu kita jangankan duduk di atas
- kuburan ya, melangkahi aja tak boleh
- dulu. Sekarang main bola justru di
- kuburan ya. Jemuran di kuburan karena
- memang ini tadi ada pesan-pesan yang
- tidak sampai gitu kan.
- Pemahaman-pemahaman yang memang ee
- maqasidnya maksud dari itu semua tidak
- sampai kepada kita sehingga kita
- kemudian memperlakukannya sama. Ya. Jadi
- sekarang kita
- lihat ya tidak tidak lagi sesuatu yang
- sakral itu menjadi sakral ee karena tadi
- adanya beberapa ee perlakuan-perlakuan
- yang dianggap disamakan ya. Jadi saya
- kira kembali kepada pertanyaan. Jadi
- memang ya ee apa namanya? Kembalilah
- baca Quran di mana? Di rumah ya di
- masjid di rumah. Falatafad maskur.
- Sekali lagi ini bukan keputusan bukan
- pemahaman mutlak ya. hanya berangkat
- dari tadi bahwa semuanya memiliki
- tujuan, maka kemudian afdalnya baca
- Quran di ru di rumah bukan ber oh kalau
- begitu maksudnya tidak boleh kasusnya
- seperti apa dilihat jadi harus dilihat
- dulu khalfiahnya latar belakangnya
- sehingga kita bisa mengatakan boleh atau
- tidak boleh itu sangat tergantung
- khalfiahnya ya latar belakangnya apa.
- Kalau latar belakangnya tidak ada
- apa-apa sudah di rumah saja ya. Tapi
- kalau kemudian seperti tadi
- dikhawatirkan ini sudah dijagalah
- kuburan itu gitu agar orang tidak
- melakukan
- kesyirikan-kesyirikan, mengkultuskan
- kuburan kakek kita atau ayah kita. Maka
- kita pun menjaganya dengan apa? Baca
- Quran misalnya. Wallahuam bisawab. Baik.
- Kemudian
- dari pertanyaan kembali datang dari Ibu
- Darma. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Ee
- sewaktu almarhum suami meninggalkan
- saya, saya tuh menangis tapi pada
- bilang, "Sudah, doakan saja. Ternyata
- malah kita
- dari mestinya saya kalau mau nangis
- nangis aja. Nah, kalau sudah merasa
- cukup ia akan berhenti dan tidak jadi
- kaya penyakit.
- Karena nangis yang dijeda-jeda. Jadi
- sampai sekarang jadi suka nyesek kalau
- lagi ingat. Benarkah Ustaz? Mohon
- pencerahannya. Naam. Ya. Jadi
- sebagaimana tadi nangis falyatafadol
- gitu silakan nangis dengan catatan tadi.
- Tidak diikuti dengan ratapan, tidak
- diikuti dengan suara yang keras, tidak
- diikuti dengan teriakan, tidak diikuni
- dengan kebencian. Ya, menunjukkan bahwa
- kita tidak rida kepada takdir Allah. Ya,
- itu syaratnya. Kalau kemudian itu semua
- bersih dari itu semua, silakan
- nangis-nangis saja ya. Nangis misalnya
- nangis nangislah silakan gitu ya dengan
- berbagai macam tangisan ya dengan
- catatan tadi gitu. Karena Nabi pun juga
- meneteskan air mata dalam pengertian
- lain
- menangis dulu mungkin. Wallahualam ya
- para sahabat pun memahaminya
- berbeda. Dikira menangis itu maka wa
- anta ya Rasulullah apa itu mahadza gitu
- kan. Tapi kemudian Nabi katakan hadza
- atau hadi rahmatun. Ini adalah kasih
- sayang. Ya Allah menjadikan yang
- demikian itu kepada orang-orang yang
- memiliki rasa sayang. Nah, jadi nangis
- aja silakan. Apalagi tadi ya karena aduh
- suaminya atau terus menangis. Nah,
- tetapi sekali lagi ee kalau kalau kita
- tidak nangis ya tidak harus dipaksakan
- menangis sebagaimana bagaimana saya
- menangis enggak bisa nahan saya sedih.
- Falyatafadol. Silakan sedik. Hanya tadi
- catatannya jangan sampai menunjukkan
- kita tidak rida kepada Allah, tidak rida
- kepada takdir Allah sehingga kemudian
- kita bersuara keras atau meraung-raung
- atau meratap. Ah, itu yang kemudian yang
- tidak dibenarkan. Ya, demikian saya
- kira. Wallahuam biswab. Baik, kemudian
- kita ke Bapak Ginanjar di kalender.
- Ustaz, asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Bolehkah
- kita berdoa memohon mati syahid dengan
- motivasi agar terhindar dari rasa sakit
- sekarat? Mengingat sekaratnya orang mati
- syahid seperti digigit semut. Kemudian
- bagaimana sikap kita jika seorang imam
- salat, seorang imam salat jenazah
- menanyakan kepada makmum, "Apakah
- jenazah ini orang baik sampai tiga
- kali?" Naam. Apakah? Saya jawab khair
- atau diam saja karena saya tidak kenal
- jenazah yang akan disalatkan, Ustaz.
- Iya. Terima kasih. Masyaallah. Pertama,
- pertanyaan pertama apa? Ada dua
- pertanyaan kan? Pertama apa?
- Tentang ee coba dilihat lagi ee pertama.
- Oke, saya jawab dulu yang kedua deh yang
- masih ingat ya. Kalau kemudian imam
- salat jenazah mempertanyakan bagaimana
- memohon mati syahid. Oh, mati syahid.
- Ya, baik. Saya jawab yang nomor dua dulu
- ya. Iya. Ah, bagaimana kalau ketika
- ditanyakan bagaimana pendapat kalian
- tentang mayit ini? Kir khair baik baik
- gitu kan. Maksudnya itu bagi orang yang
- makrifat, orang yang kenal ya. Kalaupun
- anda kalau Anda tahunya cuma baiknya
- saja gitu kan jawab baik dia orang baik.
- Atau Anda mengenal baik dan buruknya
- sebut aja yang baiknya baik gitu. Kalau
- Anda kemudian tidak tahu menahu ya juga
- tidak harus ikut-ikutan gitu loh. Ah,
- saya mah mau ini mau nyalatkan aja
- enggak tahu orangnya. Nah, ini juga
- sesungguhnya kalau para ulama mohon maaf
- ya, ada beberapa tingkatan. Kalau mereka
- kemudian orang baik maka
- berbondong-bondong ikut menyalatkan.
- Tapi kalau dikenal dia orang yang bukan
- ahlul khair ya saya katakan bukan ahlul
- khair maka mereka pun agak enggan gitu.
- agak enggan itu bukan berarti kemudian
- tidak tapi melakukan tetapi tidak
- dibarangi dengan semangat yang tinggi
- gitu loh ya. Nah, salah satunya kemudi
- oleh sebab itu maka sebaiknya yang
- menyalatkan itu adalah orang yang
- mengenal orang tersebut. Selain dia
- mengerti tata caranya kenal dengan orang
- tersebut sehingga bisa memahami betul
- dekat betul doanya kepada Allah
- subhanahu wa taala. Misalnya ayahnya men
- anaknya yang harus ngimami salat harus
- yang saya maksudkan di apa? afdal, ahsan
- gitu. Karena um menyalatkan bapaknya kok
- mendoakan kepada Allah untuk bapaknya
- masa tidaklah lebih. Kalau di kita
- mungkin ya tapi logika keimanan mestinya
- anak yang berdoa itu lebih kuat
- mendoakannya dibanding yang lain gitu.
- Kalau sekarang kan terbalik. Orang lain
- karena bergaul dengan bapak kita lebih
- kuat mendoakannya dibanding
- anak-anaknya. Mestinya anak-anaknya.
- Jadi sekali
- lagi ee jadi kalau ada yang nanya khair
- khair jawab saja khair karena nanti
- malaikat juga menyaksikan menjadi saksi
- oh orang ini orang baik tentu bukan
- kebaikan-kebaikan dan yang direkayasa
- kita katakan baik karena yang kita tahu
- ada baiknya maka kita khair meskipun
- kita tahu juga dia ada jeleknya namun
- bagi seorang muslim yang diingat-ingat
- adalah kebaikannya bukan hanya saat
- meninggal dunianya termasuk masa
- hidupnya juga kita menurut antum gimana
- itu ee ee dia orang
- baik gitu ya. Tapi dia, nah baru kalau
- dia ternyata dia juga tahu, ya sudahlah
- doakan aja mudah-mudahan Allah memaafkan
- ya. Beda. Kecuali kalau mau dijadikan
- saksi. Menurut kamu gimana? Adil enggak
- dia atau orang baik? Adil itu maksudnya
- ilmu dan amalnya sama gitu. Dalam
- mustalahul hadis adil itu adalah antara
- ilmu dan amalannya sama, tidak berbeda.
- Nah, itu adil namanya. Dia orang baik,
- bukan?
- Ah, maka kita katakan setahu saya dia
- orang baik. Namun, nah jadi namun
- disebutkan kekurangan-kekurangan. Maka
- Umar bin Khattab kan ketika orang
- mengatakan dia baik, Umar langsung
- bertanya, "Apa kau pernah jalan bareng
- sama dia?" "Belum pernah." "Apa engkau
- tetangganya?" "Bel bukan?" "Bagaimana
- mungkin kau bisa mengatakannya benar,
- mengatakannya dia baik padahal kau
- sendiri tidak tahu tentang dia?" Itu
- kalau untuk dijadikan nanti ee apa
- namanya? Saksi. saksi adil kan mesti
- harus begitu. Nah, kembali kepada
- pertanyaan pertama. Boleh enggak kita
- meminta mati syahid?
- Jaiz. Bahkan dianjurkan. Sebagaimana
- kita juga memohon husnul
- khatimah. Mati syahid itu bagian dari
- husnul khatimah. Allahumma inni asaluka
- biusnil khatimah. Allahumma hawin ala fi
- sakaratil maut. Kan begitu. Ya Allah
- mudahkan aku dalam sakaratul maut. Sakar
- sakaro itu ada e sakara itu kan mabuk
- ya. mabok. Adapun kemudian Allahumma
- inna nas'aluka syahidan bisa Allahum
- Allahuma ya Allah kalau tadi memohon
- bisa juga Allahum ya Allah jadikan kami
- adalah orang-orang yang mati syahid
- jaiz ya bahkan itu sebenarnya kita minta
- kepada Allah ya mati syahid karena tadi
- tahu Om orang mati syahid itu matinya
- seperti apa tadi digigit semut bahkan
- dalam riwayat lain mah enggak sampai
- digigit semut kenapa orang mati syahid
- itu ketika pedang mau sampai rasa sakit
- sudah diangkat itu orang mati syahid.
- Jadi meskipun dicincang macam enggak
- terasa gitu ya. Bahkan merasakannya apa?
- Di hadis lain kita lihat oh dia seperti
- orang yang dikasih minum sirup yang
- dingin yang segar oleh seorang bidadari
- di padang yang tangdus lagi panas.
- Padang tandus panas dikasih sirp yang
- begitu segar yang memberi juga bidadari
- yang begitu cantik. Ah, itu mati syahid
- gambaran seperti sehingga orang yang
- mati syahid kemudian berdoa, "Ya Allah
- kembalikan aku ke dunia matikan seperti
- kemarin ya Allah mati." Nah, gitu ya.
- Meskipun tidak mungkin tetapi
- tafsir-tafsir bisa apa ee dapat kita
- temukan salah satunya ee apa namanya
- tafsir Ibnu Katsir dan tafsir-tafsir
- lainnya ya. Jadi itu jadi boleh meminta
- mati syahid bahkan dianjurkan. Kemudian
- yang
- kedua apa tadi? Yang kedua itu ee mati
- syahid sama. Sebentar, Ustaz. Yang kedua
- itu tentang bagaimana sikap kita jika
- seorang imam salat jenazah. Ah, masya
- khair. Kir itu ya. Masyaallah. Ya Allah
- ya rabbana. Jadi itu ya maka saksikanlah
- apa yang kita ketahui. Persaksikan apa
- yang kita ketahui. Kalau dia ada baiknya
- katakan baik. Bahwa kemudian
- keburukannya ya kita tidak menghitungnya
- karena susah lah. Kita bukan ahli
- hitung. Menghitung kebaikan dengan
- keburukannya orang baik. Ya kebaikannya
- yang gambar digambarkan oleh kita.
- Kalaupun kita ditanya dari mana kamu
- mengat dia orang baik? Oh, dia orang
- yang suka memberikan ini sedekah, orang
- yang suka ini. Meskipun juga suka judi
- dia, tapi judinya tidak kita sebutkan.
- Oh, karena nanti juga dia akan diaminkan
- oleh para mal malaikat. Ya, jadilah
- kelebihan. Seringki dalam syariat itu
- ada kalanya yang dihitung kebaikannya,
- keburukannya gak gitu. Ada kalanya. Saya
- kat dalam kasus-kasus tertentu seperti
- itu ya. Demikian wallahuam bisawab.
- Baik.
- Kemudian
- ustaz
- baik kita seorang imam salat jenazah.
- Baik. Heeh. Jadi sudah terjawab ya untuk
- Bapak Ginanjar di Jakarta Timur. Baiklah
- ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah
- Subhanahu wa taala. Kita jeda dulu Ustaz
- ya. Oh, kita akan jeda kembali ikhwat
- tidak sejenak dan nanti kami akan segera
- kembali ke tengah ruang dengar Anda
- setelah nada takwa berikut ini.
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Radio
- silaturahim untuk Islam yang satu.
- Ikhwan dan akhwat, terima kasih Anda
- masih bersama kami dalam kajian kitab
- Riyadus Shihin.
- Dan kita ke pertanyaan selanjutnya ini
- ada Ibu Diah di Celeduk. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Pak Ustaz, saya juga habis
- kehilangan suami. Saat meninggalnya saya
- bisa tahan semuanya. Tapi semakin ke
- sini saya lebih sering menangis. Saya
- kemudian membaca doa Yasin, tapi terus
- teringat, apakah ini tandanya saya belum
- ikhlas? Naam, Ibu dia. Semoga Allah
- merahmati Anda. Ee pertanyaan, apakah
- itu pertanda bahwa Anda belum ikhlas?
- Tentu jawabannya Anda yang lebih tahu
- dibanding saya. Karena tangisan,
- kesedihan tidak harus senantiasa berarti
- tidak ikhlas.
- Ada orang sudah puluhan tahun ditinggal
- ibunya
- tercinta. Dia bisa bergembira, bisa
- semangat bekerja. Namun ketika di rumah,
- di saat dia sedang tahajud, tiba-tiba
- dia ingat kepada
- ibunya. Dia menangis. Kemudian dia
- katakan,
- "Allahumagfirli waliwalidya warhamhuma
- kama
- rbayani." Ingat kepada ibunya kemudian
- ia menangis. Tidak harus diterjemahkan
- bahwa dia belum ikhlas.
- Adapun tadi Anda yang bisa jawab apakah
- Anda sudah ikhlas apa belum gitu kan.
- Rela apa tidak gitu kan. Bahwa ke milik
- Allah diambil oleh
- pemiliknya. Kalau kemudian Anda sudah
- berkata, "Saya ikhlas sejak awal dan
- sampai sekarang saya ikhlas." Bahwa
- kemudian Anda ketika mengingatnya
- menangis itu berarti lain urusan. Itu
- menunjukkan bahwa Anda begitu cinta
- kepadanya. Anda menghormatinya Anda
- menginginkan kebaikan.
- Sesungguhnya maka ketika ingat lagi
- seperti itu, tadi anda baca yang bisa
- Anda baca doakan untuknya gitu ya.
- Jangankan kita, Nabiuna Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam pun juga
- begitu ya. Dalam satu riwayat Nabi
- senantiasa kalau ingat kepada ibu kita
- khadijah radhiallahu
- anha fabaka, maka Nabi pun menangis.
- Hadza yang demikian itu tidak
- serta-merta menunjukkan bahwa Nabi tidak
- ikhlas melepas kepergian
- Khadijah gitu ya. Maka sekali lagi tidak
- serta-merta pengertiannya adalah tidak
- ikhlas. Bisa jadi kita memang sudah
- ikhlas, sudah ah bahkan sudah lupa, tapi
- suatu saat kita ingat kita menangis
- bukan menunjukkan bahwa itu tidak ikhlas
- ya. Tapi bisa jadi juga ada yang
- menunjukkan kemudian menyesal tidak
- ikhlas lagi. Ada. Tetapi sekali lagi
- Anda lebih mengetahui maksud dari
- tangisan Anda ketika mengingat kewafatan
- suami Anda. Anda yang lebih tahu dari
- saya gitu ya. Namun saya ingin
- mengatakan sebaiknya kembalikan kepada
- Allah bahwa tangisan itu bisa jadi
- tangisan mahabbah, tangisan cinta ya.
- Karena belum seutuhnya misalnya kita
- dulu membahagiakan suami kita. bisa jadi
- kita mengenang masa-masa bagaimana
- penolakan kita kepada suami kita di saat
- dia mengharapkan kepada kita kebaikan
- misal dan seterusnya dan seterusnya ya.
- Jadi itu saya kira yang dapat saya
- jelaskan. Mudah-mudahan saja ya sekali
- lagi mudah-mudahan saja tangisan Anda
- bukan tangisan ketidakelaan tadi ya
- tetapi tangisan Anda karena Anda masih
- mencintainya ya. Baik saya kira itu yang
- bisa saya jawab.
- Wallahuam bisawab. Baik. Wallahuam
- bisawab. Ibu Diah di Celeduk. Semoga
- terjawab Ibu Diah. Kemudian dari Ibu
- Diah kita ke pertanyaan
- dari dari Ibu dia sekarang ke Bapak
- Dayat.
- Sudah ada
- bab Hm. Mohon maaf ustaz tayib. Labas
- ini.
- Baik. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. dari Ibu Mame di Jati
- Waringin, Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh, Ibu Mam.
- Iya, saya ingin bertanya, Pak Ustaz.
- Saya ingin membalas kebaikan kedua orang
- tua saya sebanyak-banyaknya doa. Heeh.
- Rasanya kalau sendiri kurang. Heeh.
- Makanya setelah wafatnya kedua orang tua
- saya, saya mengadakan
- pengajian-pengajian dari 1 hari sampai 7
- hari setelah kematiannya dengan doa yang
- dikhususkan untuk kedua orang tua saya.
- Heeh. Begituun setiap tahunnya saya juga
- membuat peringatan dengan
- pengajian dengan niat pahala kebaikannya
- untuk kedua orang tua saya. Namam.
- Walaupun insyaallah kedua orang tua saya
- sudah
- mewakafkan sebagian hartanya di jalan
- Allah Subhanahu wa taala dengan
- membangun masjid di atas tanahnya
- sendiri dan swadayanya sendiri. Namam.
- dengan harapan ini
- merupakan
- deposito mereka nanti di akhirat. Nah,
- nam insyaallah. Nah, menurut Ustaz,
- apakah tindakan saya mengadakan
- pengajian-pengajian itu bertentangan
- dengan ajaran Islam atau tidak? Nam
- pertanyaan yang sering ditanyakan
- sesungguhnya. Baik, saya ingin sampaikan
- pertama saya secara nas dulu saya ingin
- jawab ya. Yang sesuai nas itu bahwa
- ketika Anda ingin berbakti kepada mereka
- maka lanjutkan perjuangan mereka. Dalam
- hal ini mereka mewakafkan tanah,
- dibangun masjid, maka Anda yang harus
- memakmurkan tuh ya. Anda makmurkan ajak
- orang lain memakmurkan masjid yang
- dibangun oleh siapa? Oleh orang tua
- kita. Itu bukti Anda bakti kepadanya.
- Kemudian menurut hadis itu, Anda
- melanjutkan hubungan silaturahminya
- dengan teman-temannya, dengan siapanya?
- dengan teman-temannya dan
- kerabat-kerabatnya hubungkan kembali.
- Oh, saya anaknya Fulan bin e anaknya
- Fulan atau anaknya Fulana. Saya ingin
- ini kazak kazak itu baktinya. Tapi
- kemudian dengan pertanyaan tadi saya
- ingin ee tinjau dari dua sisi paling
- tidak tentang apa ee pengajian di malam
- ke berapa tadi? Satu, kedua, ke sampai
- keet7 kemudian 40, 100. Kan begitu.
- Ada orang memandangnya begini bahwa
- hitungan-hitungan itu berasal dari agama
- lain.
- Ya, dari agama lain. Saya tidak
- memutuskan dulu. Saya akan analisa dulu.
- Sehingga kata mereka melakukan itu sama
- dengan melakukan seperti agama lain.
- Fahukmuhul bidah. Bukan hukum ya. Maka
- statusnya bidah. Kalau hukum kan cuma
- lima ya.
- halal eh apa namanya ee mustahab
- kemudian jaiz atau mubah kemudian makruh
- haram itu hukum. Kalau ini tadi status
- maka statusnya orang mengatakan oh itu
- berarti bidah. Saya akan meninjau dari
- sisi lain. Para ulama justru mengadakan
- pengajian di 1 sampai 7 itu karena orang
- Islam yang baru memeluk Islam gitu kan
- masih terbiasa di hari kalau ada
- kematian itu kesatu, kedua, ketiga itu
- ada
- kumpul-kumpul. Kumpul-kumpul apa?
- membacakan
- mantra. Nah, mereka karena baru masuk
- Islam digantilah kemudian oleh para
- ulama jangan
- mantra. Gantilah tahlil, gantilah ini
- ini dengan maksud sehingga apa yang
- menjadi asalnya ee apa namanya
- kegiatan-kegiatan yang tidak mengandung
- Islam sekarang menjadi mengandung Islam.
- Yang diucapkan yang ia ingat adalah tadi
- subhanallah, alhamdulillah dan
- seterusnya. perlu saya kemukakan bahwa
- tahlil, tahmid, takbir itu dipersilakan
- baca di mana saja dan kapan saja.
- Kecuali di mana? Di tempat yang kotor.
- Di toilet itu tidak boleh. Jadi ada
- batasan yang oh tidak bolehnya di sini.
- Tapi kalau itu seperti tadi saya
- katakan, jadi kalau kita mengikuti
- ajaran agama lain, iya jelas. Namun
- kemudian itu sesungguhnya dulu
- asal-usulnya para ulama tuh bagaimana
- cara berpikirnya.
- Makanya Islam di Indonesia ini
- disebarkan tanpa konflik maksud saya
- tanpa dengan ee peperangan-peperangan
- sebagaimana di tempat lain. Makanya oleh
- sebab itu ee dakwah Islam yang paling ee
- apa ya elegan bukan elegan juga yang
- paling di apa diikuti banyakbanyak
- pengikutnya adalah di Indonesia ini. Ya,
- kalau kita membaca kembali bagaimana
- dakwah ee
- wali apa bukan Wali Songo. Songo itu ada
- ada ininya juga ya, ada maksudnya bukan
- Songo. Jadi banyak sekali
- istilah-istilah yang kemudian dari sono
- kemudian diadopsi di kita. Contoh
- misalnya gerbang ee kita kan disebut
- gerbang itu gopuro gapura. Nah, tapi
- pada as gapura ini barang siapa yang
- ingin masuk apa namanya mendapatkan
- ampunan maka bisa masuk ke sana. Masuk
- ke sana karena di situ tempat kajian,
- tempat apa namanya? ee ee ee orang
- bertobat, berzikir kepada Allah,
- melaksanakan, bahkan kemudian masuk
- gerbang apa namanya? Gfuro, ya. Dan
- salah satu kesaktian seseorang menjadi
- hebat itu adalah ee apa namanya? ee
- kalimus
- syada. Kalimus syada yang dimaksud ada
- kalimat syahadat. Itulah sesungguhnya
- ajimat. Ajimat dalam pengertian nanti
- ajimat dalam bahasa Arab seperti apa ya.
- Itu ada sesuatu yang menjadikan dia
- menjadi gagah, menjadi hebat. Kenapa?
- Karena dia hanya menggantungkan kepada
- Allah Subhanahu wa taala. Kembali kepada
- permasalahan. Jadi kesimpulannya jika
- itu tadi yang dibacakan adalah
- Al-Qur'an mengingatkan kita atau
- menghibur orang apa namanya yang
- meninggal dunia, kelerabat yang
- meninggal dunia, maka ini yang disebut
- dengan bahasa kita
- takziah. Takziah itu bisa seperti tadi.
- Jadi itu pun bukan bukan seharusnya
- begitu. Kalau sunahnya kan 3 hari sudah
- gitu kan. Hanya karena dulu sekali lagi
- latar belakang oh apalagi kemudian orang
- kita juga sekarang karena
- turun-temurunnya masih begitu kemudian
- apalagi juga mengkajinya ini. Maka kita
- juga harus ee apa namanya di sini harus
- memahami pesan-pesannya apa. Oh agar
- senantiasa mereka tidak berduka tapi
- mengingat Allah. Gimana caranya? Maka
- itulah kemudian yang diajarkan oleh
- guru-guru kita ya. Jadi kemudian Anda
- memohonkan ampunan kepada Allah. Jadi,
- adapun tadi apakah kemudian itu menjadi
- kebaikannya misalnya dan mau saya
- kirimkan kepada siapa? Kepada orang tua
- kita. Apakah itu akan sampai atau tidak?
- Lihat banyak perspektif untuk bisa
- menjawab ya atau menjawab tidak. Ya,
- untuk menjawab ya jelas jika orang tua
- kita sama-sama muslim punya syahadat
- gitu kan. Banyak juga yang kemudian
- seperti itu. Doa seseorang bisa
- mempengaruhi orang di alam sana. salam
- kita bisa mempengaruhi orang yang di
- alam yang berbeda. Makanya saya kira ee
- dapat kita baca berbagai kitab saya kira
- yang menjelaskan tentang yang demikian
- itu. Jadi demikian saya kira yang dapat
- saya jelaskan. Wallahuam bisawab. Baik.
- Wallahuam bisawab. Kemudian itu tadi ee
- pertanyaan dari
- ee kita beralih ke pertanyaan e Ibu Mame
- ya di Jadin kemudian kita ke Bunda Rido.
- Ustaz asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Baik Ustaz,
- apakah mertua atau orang tua suami
- memiliki kedudukan yang sama dengan
- orang tua kandung? Apakah mertua juga
- salah satu pintu menuju surga? Oh. Naam.
- Naam. Dari Ibu siapa ini? Dari Bunda
- Rid. Nah, ukhti Bunda Rid. Semoga Allah
- merahmati Anda dan merahmati kita
- semua. Mertua dalam hal ini yang
- ditanyakan adalah ibu atau ayah dari
- suami
- kita, maka kedudukannya menjadi sama
- dengan orang tua kita. Kenapa? Karena
- kita setelah jadi istri itu diserahkan
- oleh ayah kita ya, oleh ayah kita ini
- kepemimpinannya, tanggung jawabnya
- kepada
- suami. Jadi kita ini sekarang di bawah
- tanggung jawab suami kita. Sementara
- Quran maupun hadis mengharuskan anak itu
- bakti kepada orang tua. Ketika anak
- harus bakti kepada orang tua, maka kita
- sebagai pengikut suami, orang yang taat
- kepada suami, yang nota benih anak dari
- ibu bapaknya, maka kita pun harus
- mendukungnya, harus ikut juga berbakti
- kepada mereka. Karena itu juga bakti
- kepada ibu bapak mertua itu sama dengan
- juga bakti kepada suami kita. Ah, itu
- gimana? Nah, lagi-lagi seringki hanya
- meminta
- teks. Meminta teks tanpa harus berpikir
- konteksnya gitu loh ya. Pokoknya kalau
- ada teks selesai. Padahal banyak yang
- harus dipikirkan secara konteks gitu.
- Seperti tadi anak itu milik
- ibunya. Eh, sekali lagi anak lelaki itu
- milik ibunya. Adapun perempuan kalau
- yang sudah menikah menjadi tanggung
- jawab suaminya.
- suaminya akan jadi ada empat perempuan
- yang ditanggung oleh satu lelaki ya.
- Siapa yang ditanggung oleh satu oleh
- satu lelaki? Jadi seorang lelaki itu
- bertanggung jawab tentang ibunya,
- kemudian tentang putrinya, tentang
- saudarinya gitu kan. Nah, kemudian
- istrinya empat. Begitu juga seorang apa
- namanya? Seorang istri hendaknya juga
- melihat siapa ayahnya kata asingnya kan
- ee siapa suaminya, siapa saudara
- lelakinya, siapa anak lelakinya. Jadi
- mereka ikut ke situ ya. Nah, ini yang
- kemudian yang harus dipahami sehingga
- kembali kepada e permasalahan tadi. Jadi
- status dalam penghormatan, status
- dalamik kebaikan itu disamakan dengan
- orang tua kita. Dan itu bagian dari
- babun min abwabil jannah. satu pintu
- dari sekian banyak pintu surga gitu ya.
- Jadi meskipun tidak ada nas yang
- menjelaskan begitu gitu, hanya secara
- konteks nanti kita loh buktinya kalau
- kita misalnya tidak menghormati apa
- tidak menghormati mertua suami kita
- tersinggung. H berarti kalau begitu
- berbakti kepada orang tua kita
- insyaallah juga akan menggembirakan
- suaminya gitu kan. meskipun kita tidak
- menginginkan ee tidak dalam rangka
- menginginkan kebaikan apa namanya
- keridaan dari suami. Meskipun nanti
- keridaan suami akan mempengaruhi dia
- untuk mendapatkan surga lebih cepat. Ya.
- Maka salah
- satunya seorang istri apabila suaminya
- rida, maka wajib dia masuk surga. Nah,
- maka oleh sebab itu hubungannya dengan
- suami itu berarti ke mana? Ke ayah, ke
- ibu. Dalam hal ini berarti mertua juga
- harus dipersamakan dalam bakti kita
- kepada mereka. Bahkan kalau sudah jadi
- istri untuk bakti kepada ibu bapak harus
- izin dari suami. Misalnya mau nengok
- sudah lama belum nengok ibu bapak. Izin
- Mas pertama Mas kapan kita nengok ibu ya
- sama bapak? Aku seharian di sini apa
- sepanjang masa nih di rumah mertua.
- Bagaimana kalau kita nengok ibu bapak
- aku misalnya? Oh boleh boleh kata
- suaminya atau aduh aku enggak lagi sibuk
- nih. Ya gimana kalau engkau saja bersama
- anak-anak enggak apa-apa kan? Nah, itu
- juga seorang siapa? Seorang suami juga
- harus memberikan kesempatan kepada
- istrinya agar dia juga bakti ya
- berterima kasih kepada apa-apa yang
- pernah dilakukan oleh ibu bapaknya dulu
- sebelum dia jadi istrinya. Karena nanti
- akan menjadi tidak adil kalau segala
- sesuai sekarang menjadi harus tergantung
- suaminya mengekang komunikasi dengan ibu
- bapaknya. Wong dia dulu disusui
- ibunya, disayang bapaknya bahwa kemudian
- sekarang diserahkan oleh Allah apa oleh
- ayahnya kepada kita itu dalam
- pertanggungan jawab.
- gitu ya. Bahwa kemudian tidak boleh
- kemudian secara 100% mengekang istri
- kita untuk tidak berkomunikasi dengan
- keluarganya juga tidak benar itu ya.
- Jadi ini saya kira jadi jika dalam
- dimaksud disamakan dalam pengabdiannya,
- penghormatannya maka aljawab naam sama
- insyaallah. Wallahuam biswab. Baik Bunda
- Rid semoga terjawab. Kemudian dari hamba
- Allah Pak Ustaz. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Oh, Ibu Albar. Ya, Ustaz
- disebut tidak ikhlaskah bila ada seorang
- seseorang yang mengatakan mengapa,
- kenapa begitu? Soalnya ada cerita anak
- dikabari orang tuanya sakit, ternyata
- dalam perjalanan pulang orang tuanya
- sudah meninggal. Jadi tidak sempat
- bertemu dengan si anak. Maka si anak
- itu kemudian terucap kalimat kalimat
- tersebut. Bagaimana menurut pendapat
- ustaz?
- Namam kalimat limaza, kenapa, mengapa,
- itu juga tidak sererta-merta bisa
- disimpulkan langsung. Kenapa ucapan itu
- muncul juga harus diteliti. Misalnya
- begini, si anak tadi, kenapa saya baru
- dikasih
- tahu? Kalau punya alasannya, jawab saja.
- Kenapa kami baru memberitahu kamu?
- Karena kamu sedang kuliah. Kami tidak
- ingin mengganggu kuliah kamu. Apalagi
- kamu sedang munaqosah skripsi atau
- munaqosah tesis, munaqosah disertasi.
- Aku tidak ingin kamu menjadi terganggu
- pikiranmu ketika ibumu sakit atau ketika
- ayah. Nah, kalau ada
- jawabannya. Tapi si anak semestinya ya
- kalau sudah teri begitu ya ucapkan saja
- inn lillahi wa inna ilaihi rojiun.
- Karena toh juga belum tentu kalaupun dia
- beritahu saja awal dia mampu
- menghidupkan kembali ibunya atau
- bapaknya gitu kan. Nah, maka oleh sebab
- itu kalau ada jawabannya jawab saja
- enggak
- apa-apa. Kenapa baru sekarang saya
- dikasih tahu setelah ibu sekarang
- meninggal dunia? Kenapa ketika ibu masih
- sakit aku tidak dikasih tahu? Ah,
- alasannya mesti segala sesuatu kan ada
- alasannya. Kenapa? Jelaskan. Kamu kan
- sedang
- kuliah. Kamu mau menghadapi ujian. Satu,
- kami khawatir kamu ujianmu e ujian kamu
- menjadi terganggu. Kedua, tiketnya juga
- tidak murah. Apalagi sekarang high
- season kan gitu misalnya high season
- mahal gitu kan. Itu juga jadi
- pertimbangan kenapa tidak diberitahu.
- Kalaupun diberitahu juga nanti dia tidak
- bisa pulang karena mahal tiketnya
- misalnya gitu ya. Jadi saya
- kira pertanyaan-pertanyaan limaz kalau
- memang ada jawabannya jawab. Tapi kalau
- tidak ada jawabannya diampun sudah
- biarin aja nanti juga dia akan mengerti
- sendiri. Begitu saya kira ya. Jadi
- memang kearifan kita dalam rumah tangga,
- dalam berkehidupan di keluarga juga
- begitu. Kearifan,
- kebijaksanaan itu seringkiali ada yang
- bisa diterima tapi ada kalanya tidak
- mampu memuaskan seluruh anak atau tidak
- akan mampu memuaskan seluruh kerabat.
- Selalu ada yang tidak suka atau yang
- kurang menyetujui gitu ya. Dan itu hidup
- namanya. Hidup itu mesti bukan mesti ya
- ada kalanya begitu. hidup itu ada
- kalanya sepakat semuanya, ada kalanya
- tidak sepakat semuanya, ada kalanya
- sebagian besar sepakat, sebagian kecil
- tidak sepakat atau sebagian besar tidak
- sepakat, sebagian kecil yang sepakat.
- Demikian saya kira yang dapat saya
- jawab.
- Wallahuam bisawab. Baik, kita akan
- terima telepon, Pak Ustaz.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Saya dari hamba Allah nih. Baik,
- silakan, Pak. Heeh. Ingin bertanya nih,
- Ustaz.
- Gini, Pak Ustaz. Namam. Saya sudah 4
- tahun ditinggal istri. Heeh. Jadi, ya
- hasrat sebenarnya ingin nikah lagi. Tapi
- bagaimana, Pak Ustaz, kalau saya nikah
- lagi apa kita bisa ketemu lagi di
- akhirat gitu, Ustaz? Nam. Masyaallah.
- Kedua, begini, Ustaz. Ada ada dua dua
- pertanyaan nih. Tetapi menyimpang
- masalah ini nih dari metode. Jadi, yang
- ya kedua yaitu masalah salat. Salama
- salat di misalnya salat sunah. Apakah
- kita perlu membaca surat itu apa ee doa
- iftah begitu, Ustaz? Terima kasih, Pak
- Ustaz. Asalamualaikum. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Tib saya
- ingin sampaikan pertama jika kita ingin
- menikah lagi, apakah nanti kita bisa
- ketemu dengan istri kita? Yang pertama
- saya sampaikan insyaallah akan ketemu
- lagi ya. Jadi kalau kita nikah lagi bisa
- jadi kemudian nanti dua-duanya jadi
- pendamping kita di dalam surga. bisa
- jadi dua-duanya jadi kepala bidadari
- gitu kan. Mengepalai bidadari-bidadari
- yang sering kita e temukan di dalam ee
- kisah-kisah dalam Al-Qur'an maupun di
- dalam Al-Hadis. Jadi insyaallah kalau
- sekali lagi frekuensinya sama yang saya
- maksudkan frekuensinya sama dulu dia
- memiliki keimanan, kita memiliki
- keimanan yang sama maka insyaallah
- ketemu lagi. Bahkan ada riwayat-riwayat
- yang menyatakan justru ee kalau bagi
- muslimat itu nanti ketemunya dengan
- siapa? dengan suami yang pertama gitu.
- Tapi kemudian ada ee yang mengatakan
- bahwa nanti bukan dengan suami yang
- pertama, tetapi dengan orang yang paling
- saleh di antara suami-suami itu. Ah, ini
- wallahuam mana yang benar. Tetapi yang
- jelas bahwa itu ee keputusannya jelas
- Allah maha bijaksana keputusannya. Jadi,
- kembali kepada pertanyaan tadi. Pertama,
- apakah bisa berjumpa dengan istri
- pertama? Insyaallah selama keimanannya
- sama maka akan dikumpulkan kembali di
- dalam ee surganya Allah azza wa jalla.
- Kemudian yang ee jadi itu ya yang
- pertama tentang ee nikah. Nikah apa
- apabila nikah lagi. Kemudian ada
- pertanyaan kedua enggak tadi beliau?
- Enggak ada, Ustaz. Enggak ya. Cuma itu
- aja kan. Jadi gitu saya kira Bapak yang
- dapat saya kemb tapi bisa bertemu dengan
- istrinya lagi? Oh bisa. Insyaallah. Yang
- kedua tentang itu tadi salat sunah. H
- apakah salat sunah gitu ya. Ee jadi
- begini. Jadi salat sunah itu jadi tetap
- salat sunah juga disunahkan sesuai
- dengan salat wajib. Hanya di dalam salat
- itu kan ada yang hukumnya wajib, ada
- yang hukumnya sunah. Jadi kalau kita
- salat sunah membaca doa iftitah wa
- afdol ya. Tetapi karena doa iftitah itu
- kemudian tadi dihukumi oleh sebagian
- ulama hukumnya bukan wajib yang harus
- dibaca gitu kan. Meskipun itu sunah Nabi
- sallallahu alaihi wasallam, maka
- kemudian orang tidak membacanya juga
- tidak mengapa. Satu. Contoh berikutnya
- misalnya disunahkan membaca tasbih
- ketika ruku itu tiga
- kali ya disunahkan tiga kali. Namun
- sekalipun boleh misalnya gitu ya. Maka
- ketika salat sunah maka dia hanya baca
- sekali sudah tidak urusan ya boleh. Nah,
- jadi ee sesungguhnya sekali lagi saya
- ingin sampaikan bahwa tata cara salat
- sunah itu sama dengan tata cara salat
- wajib. Hanya dari sisi hukum. Kalau ini
- kelewat tidak misalnya ini salat apa ini
- hukumnya sunah tidak harus kemudian ee
- misalnya ee kemudian kita tidak ingin
- membacanya maka falyaf'al gitu ya. Nah,
- ini yang saya pahami dari beberapa
- perbandingan ee mazhab yang ada ya.
- Demikian saya kira yang bisa saya jawab.
- Wallahuam bisawab. Baik. Wallahuam
- bawab. Baik, Bapak hamba Allah semoga
- terjawab dan nampaknya kita sudah berada
- di menit-menit terakhir Ustaz nih. Namam
- di kesempatan sore hari ini. Namun ada
- beberapa pertanyaan dari Ibu Albar, Pak
- Ustaz. Namam tadi sempat terjeda.
- Asalamualaikum Pak Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Baik. Mohon
- maaf bukan Ibu Albar dari Bapak Johar di
- Kalideres. Pak Ustaz mohon
- pencerahannya. Apakah orang yang
- meninggal rohnya melihat ketika ada
- keluarganya ziarah ke
- kuburannya? Sebab saya pernah mendengar
- penjelasan dari seorang ustaz demikian.
- Hm. Baik. Saya satu lagi, Ustaz, ya.
- Biar saya jadikan satu saja. Heeh.
- Asalamualaikum, Ustaz. Dari Rosita di
- Cikarang ingin bertanya, Pak Ustaz.
- Bapak saya sudah meninggal. Heeh. Waktu
- masih hidupnya Bapak saya poligami.
- Heeh. Tanpa sepengetahuan ibu saya.
- Heeh. Dan sampai sekarang kami
- anak-anaknya tidak boleh mengunjungi
- istri poligaminya. Mungkin ibu saya
- juga saya, ibu saya mah juga tidak
- terima. Mohon pencerahannya, Pak Ustaz.
- Berdosakah kami dan sikap ibu saya
- seperti
- itu? Tayib. Saya ingin sampaikan dulu.
- Kalau kita membaca dalam kitab Arruh
- misalnya karya Ibnu Qayyim Aljauziyah.
- Jadi ee ruh itu maksudnya yang sudah
- meninggal dunia, ruh orang tua kita yang
- terjangkau itu bisa melihat kita.
- Makanya mereka juga sedih ketika kita
- melakukan
- kemaksiatan-kemaksiatan dan mereka pun
- gembira dengan kesalehan kita gitu ya.
- Hanya saja mereka tidak bisa
- berkomunikasi karena alamnya sudah
- berbeda ya. Alamnya sudah berbeda. Nah,
- maka oleh sebab itu salah satu ber apa?
- berbuat baik kepada ibu bapak kita, ya
- berarti kita berbuat baik itu akan
- menggembirakan mereka juga ya. Tetapi
- kalau kita melakukan
- kemaksiatan-kemaksiatan, berarti kita
- menyakiti mereka juga yang sudah
- meninggal dunia. Nah, oleh sebab itu ini
- harus di ee pahami betul jangan sampai
- kemudian makanya yaitu tadi kejujuran
- itu di dalam hati ya, ketakwaan itu di
- dalam hati. Maka oleh sebab itu bahwa
- kemudian dia meskipun tidak dilihat oleh
- siapapun oleh maka hendaknya dia
- berhati-hati ya karena akan mempengaruhi
- juga mereka yang telah tiada ya. Maka
- kemudian ada hadis yang mengatakan
- amalan apa pahalanya ngalir terus kepada
- mereka padahal kita yang mengamalkan. Ya
- misalnya apa ya itu ilmu yang dulu
- diajarkan oleh orang tua kita. kita
- amalkan ngalir terus ya. Ada tiga tuh
- yang yang kita kenal tiga itu pengec apa
- namanya tak tahsis ee ya artinya apa
- namanya pembatasan itu bukan hanya bukan
- hanya tiga maksudnya bukan hanya
- dibatasi tiga tetapi kemudian tiga
- itulah yang kemudian disebutkan namun
- kalau kita lihat ternyata juga banyak
- amalan-amalan lain yang dapat menjadikan
- ee orang tua kita yang sudah meninggal
- dunia bisa mendapatkan kemuliaan dan
- kebaikannya. Baik itu yang pertama.
- Kemudian ee jadi oleh sebab itu
- hendaknya juga kita berhati-hati ya ee
- apa namanya bahwa mereka masih bisa
- memperhatikan kita. Hanya saja karena
- alamnya berbeda maka mereka tidak bisa
- berkomunikasi dengan kita. Kemudian yang
- kedua tentang apa tadi? Tentang
- poligami. Ketika masih hidupnya ayah
- kita berpoligami maka kita sebagai anak
- bakti kepada ibu kedua gitu kan sama
- dengan bakti kepada ayah kita.
- bahwa kemudian ibu kita
- melarangnya ya di hadapannya kita bisa
- mengatakan iya. Karena segala sesuatu
- keputusan yang bertentangan apalagi itu
- memutuskan silaturahmi batal dalam
- syariat Islam. Misalnya tadi melarang
- tidak boleh kan gitu. Ini kan memutus
- silaturahmi ya. Apalagi dia statusnya
- menjadi ibu kita. Apalagi misalnya sudah
- bertemu dengan ayah kita dulu. yang saya
- maksudkan bertemu gitu ya, sudah
- berhubungan dengan ayah kita, maka dia
- jadi ibu kita gitu ya, ibu kedua. Nah,
- maka bakti kita kepadanya sama dengan
- bakti kepada ayah kita yang telah
- meninggal dunia. Jadi kalau ibu kita
- kemudian melarangnya gitu kan, karena
- itu kan tanggung jawab ayah kita. Ayah
- kita tiada, maka kita sebagai ahli
- warisnya harus bertanggung jawab.
- Makanya mereka nanti mempunyai hak waris
- bersekutu dengan ibu kita. Kalau
- misalnya ee seorang ee istri itu
- mendapatkan bagian misalnya berapa ya
- istri? 1/6 ya kalau enggak salah. Jadi
- berarti apa? 1/6 / 2 jadi 1/12 ya. Ibu
- kita dapat
- 1/12 ya 1/6 kan begitu. Ibu kita dapat
- 1/12 ibu yang kedua tadi dapat 1/12.
- Maka oleh sebab itu sekali lagi memang
- perasaan ketidaksukaan atau
- ketidakridaan sangat wajar terjadi gitu
- ya. Apalagi tadi tanpa pengetahuan
- meskipun secara hukum kan sesungguhnya
- harus dipahami ya bahwa itu bukanlah
- sesuatu yang
- haram mendingan seperti itu daripada
- kemudian dia melakukan kemaksiatan
- daripada kemudian me apa namanya
- melakukan yang tidak dibenarkan oleh
- syariat Islam apalagi ini sudah terjadi
- maka kita hendaknya lebih dewasa. Jadi
- kembali kepada pertanyaan sebaiknya
- tetap Anda berbakti kepada ibu kedua
- setelah ya tapi nanti akan menyakiti ibu
- saya kalau saya berbakti kepadanya. Anda
- kan bisa lewat belakang kalau misalnya
- sebaik dalam masalah itu ya lewat
- belakang maksudnya ustaz harus kedap
- bukan maksudnya lewat tidak harus
- memberitahu orang tua dalam masalah itu
- karena tetap Anda sebagai ahli warisnya.
- Anaknya adalah saudara anda gitu kan.
- Saudara seayah namanya gitu ya. Nah,
- maka oleh sebab itu saya kira tidak ada
- alasan ya, tidak ada alasan untuk ee
- memutuskan hubungan ee apa namanya
- dengan ibu kedua kita ya atau istri
- kedua dari bapak kita gitu ya. Eah,
- tidak ada alasan untuk memutuskan itu.
- Tetap harus berbuat baik. Demikian saya
- kira yang saya dapat jelaskan.
- Wallahuam bisawab. Baik, Pak Ustaz.
- Terima kasih untuk pertanyaan dari apa?
- Ibu Rosita dan juga tadi pertanyaan dari
- Bapak Johar. Kemudian ke pertanyaan
- terakhir, Pak Ustaz sebelum kita tutup.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Dari Bekasi.
- Kalau koruptor apalagi yang kelas kakap
- meninggal, apakah jenazahnya disalatkan?
- Nah,
- masyaallah ya. Nah,
- koruptor ya secara hukum dihukumi
- koruptor. Mohon maaf ya ini karena
- secara hukum di dunia begitu dinyatakan
- koruptor kebenarannya wallahuam bisa
- koruptor benar atau bisa jadi karena
- hakim bukan malaikat bisa jadi malaikat
- apa hakim ada beberapa hal yang harus
- ditinjau misalnya tapi kesimpulan dikata
- koruptor kemudian dia mati apakah harus
- disalatkan? Kenapa kemudian alasannya ee
- apa namanya tidak disalatkan? Menurut
- saya, menurut saya kalau dia seorang
- muslim bersyahadat kemudian dikoruptor
- tetap dia harus disalatkan. Alasannya
- apa? Tapi kan dia orang maksiat, orang
- yang berdosa. Toyib. Kalau memang itu
- kalau begitu kita konsekuen. Kalau kita
- mati maka tidak boleh ada orang
- nyalatkan kita. Kenapa? Ini kan ada
- orang maksiat. Siapa yang menjamin diri
- kita ini bersih? Gak ada. Maka para
- ulama dulu begitu tahu hukumnya. Oh, ini
- menurut hukum begini. Tapi dia katakan,
- "Siapa di antara kita sekarang yang
- tidak bebas dari kemaksiatan? Ayo kita
- salatkan." Disalatkan akhirnya ya. Ah,
- jadi meskipun nanti ada orang
- mengatakan, "Oh, nyata-nyata dia
- falyatafadol, tapi saya memandang
- salatkan." Itu satu. Yang kedua, tentang
- koruptor. Koruptor itu bisa berbagai
- macam alasan.
- Bisa jadi hukumnya nanti berhutang ya
- kan koruptor itu mohon maaf ya
- definisinya menjadi banyak itu misalnya
- gini saya melakukan korupsi saya
- menganjurkan anggaran dalam anggaran itu
- misalnya pembangunan jembatan
- misalnya dalam anggaran itu pembangunan
- jembatan tetapi saya memandang kemudian
- loh ini jembatan kok masih bagus
- ternyata saya alihkan menjadi misalnya
- penanganan atau pengaspalan
- jalan ini bisa dianggap korupsi saya
- karena mengajukan tidak sesuai dengan
- tidak sesuai dengan yang di dilakukan.
- Jadi apa yang kita lakukan tidak sesuai
- dengan yang dianjurkan seperti kasus
- sekarang ya, kasus yang menimpa ee salah
- satu ee tokoh pemuda kita, maksudnya
- pemuda muslim ya. Kemudian dia dianggap
- ini karena tadi proposalnya A namun
- kemudian dia pakai menjadi B. Ah, itu
- juga korupsi. Jadi sekali lagi, korupsi
- itu bisa berarti dikategorikannya
- pencuri, tapi juga bisa dikategorikan
- tidak pencuri, gitu. Nah, maka oleh
- sebab itu belum tentu ketika dia disebut
- koruptor gitu ya, koruptor itu mesti ada
- uraiannya kenapa dia disebut koruptornya
- gitu loh ya. Maka nanti Anda bisa
- konsultasilah ya lebih lanjut kepada
- pakar hukum dulu hukum tata negara atau
- huk e ya pakar hukum gitu kan. sehingga
- kita tahu bagaimana koruptor itu. Nah,
- dari situ kita bisa mengambil hukum
- seperti tadi apakah mau disalatkan atau
- tidak. Tapi saya memandang
- salatkan. Kenapa? Apalagi dia masih
- bersyahadat ya. Ee kalau dianggap
- sebagai berhutang tapi kan ada hadis
- yang mengatakan bahwa Nabi tidak
- menyalatkan orang
- berhutang. Saya kira itu tidak bisa kita
- hanya menelan dari informasi hadis itu.
- Mesti ada pertanyaan mengapa Nabi tidak
- menyalatkan? Kan salah satunya adalah
- dia berhutang. Kalau memang itu Nabi
- tidak menyalatkan, mengapa menyuruh
- sahabat untuk
- menyalatkan? Kan tidak masuk akal. Kalau
- kalau Nabi tidak menyalatkan itu bukti
- bahwa itu adalah Nabi tidak rida. Kalau
- Nabi tidak rida, mengapa menyuruh
- sahabat untuk menyalatkan? Nah, kalau
- kita melihat dalam ee hadis-hadis lain,
- Nabi itu ulil amri bertanggung jawab
- tentang hal-hal yang berhubungan dengan
- sahabatnya. sahabatnya punya hutang.
- Maka Nabi yang saya pahami, Nabi harus
- mencari sesuatu untuk bayar hutang gitu
- loh. Sehingga sahabatnya suruh
- menyalatkan. Sementara sebelum
- dikuburkan nanti itu hutang dia sudah
- dipenuhi kalau dia ahli warisnya tidak
- mampu untuk membayar. Jadi bisa
- pemahamannya seperti itu gitu loh ya.
- Jadi oleh sebab itu sekali lagi
- pertanyaan tadi saya d ee dapat memahami
- bahwa itu salatkan saja bahwa kemudian
- nanti ada yang berpendapat, "Oh, gak
- begini
- falyatafadol ya silakan." Karena ini ee
- apa
- namanya? Ada beberapa hal karena ini
- boleh dibilang hadis terbuka. Hadis
- terbuka itu dalilnya terbuka dalam
- pengertian ada beberapa kajian-kajian
- yang harus dilihat sebagai latar
- belakang kesan. Jadi, maka oleh sebab
- itu dalam menyimpulkan sebuah
- hukum tidak bisa melihat satu atau dua
- dalil gitu kan. Ada beberapa yang harus
- kita lihat, khalfiah yang harus kita
- bangun. Maksudnya latar belakang dia
- melakukan itu apa? Coba Anda bayangkan
- orang mencuri di zaman Umar bin Khattab
- bukan yang mencuri yang dihukum. Justru
- majikannya yang dihukum. Padahal
- majikannya tidak nyuri. Tapi ada
- beberapa khalfiah latar belakang yang
- mengakibatkan orang tersebut mencuri.
- Tuh, maka akhirnya apa? Oh, ini akibat
- majikannya tidak ngasih makan dengan apa
- namanya? Dengan sesuai. Maka akhirnya
- yang dihukum siapa? Majikannya. Padahal
- yang mencuri siapa? Bujangnya, gitu.
- Nah, ini hal-hal semacam ini kan enggak
- gampang ee ingin mengetahui bagaimana.
- Padahal kita tahu juga bahwa Umar bin
- al-Khattab adalah salah satu khalifah
- min khulafair rasyidinal mahdiyin yang
- Nabi mengatakan alaikum bisunnati
- wasunnatil khulafair rasyidin alahdiin
- gitu ya. Demikian saya kira yang bisa
- saya jawab.
- Wallahuam biswab. Baik. Dan itu menjadi
- pertanyaan terakhir, Ustaz, di sore hari
- ini. Pertanyaan ee dari bab
- pertanyaan dari Bekasi. Oh, Tayb. Baik,
- terima kasih Ikhwan dan akhwat yang
- dirahmati Allah Subhanahu wa taala.
- Namun sebelum berpisah mungkin ada
- kesimpulan yang bisa disampaikan Ustaz.
- Nam, kesimpulan yang dapat saya
- kemukakan dalam bab ini. Jadi, kita
- boleh menangisi mayit orang mati ya
- tanpa ee menyebut-nyebut ya menyebut
- kebaikan-kebaikannya dengan maksud agar
- orang tahu kebaikannya atau dengan
- maksud apa namanya? Dengan maksud
- penyesalan. Ah, kemudian kita boleh juga
- menengasih mayit tersebut dengan tanpa
- meratapi. Apalagi kemudian menangis itu
- karena bukti kita sayang atau cinta
- kepada si mayit. Ya, demikian yang dapat
- saya simpulkan. Wasallallahu ala nabiina
- Muhammadin walhamdulillahi rabbil
- alamin. Wallahu aam bisawab. Baik,
- Ustaz. Terima kasih, Ustaz. Ya, ikhwan
- yang dirahmati Allah subhanahu wa taala.
- Dengan demikian saya sudah jumpa kita di
- sore hari ini. Namun sebelum kita
- berpisah kami akan informasikan
- satu kajian hari Ahad. Jadi kami undang
- Anda ikapat untuk mengikuti kajian Ahad
- pagi setiap hari Ahad di pekan kedua dan
- pekan keempat setiap bulannya. Dan untuk
- pekan ini insyaallah dilaksanakan pada
- hari Ahad tanggal 9 Desember 2018 ya
- pukul .00 sampai dengan pukul 11.00
- Narasumber kami asatid asatid Rasil.
- Tempatnya di mana? Di Masjid Silaturahim
- Kalimangis Cibubur Kota Bekasi. Baik
- saya Bagus. Kemudian ada Fajar dan juga
- Kang Yusuf Subangkit. Mohon undur diri.
- Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Terima
- kasih. Masyaallah. Alhamdulillah.
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- H
- H