Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Rasul [musik] TV
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim,
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillahirobbil alamin
- Hamdan katsiron toyyiban mubarokan fihi
- kama yuhibbu robbuna wa yardho. Asyhadu
- an laa ilaha illallah wahdahu laa
- syarikalah Wa asyhadu anna Muhammadan
- abduhu wa rosuluhu laa nabiya ba'da amma
- ba'd.
- Dipancaruaskan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis,
- Cibubur, Bekasi, Radio Silaturahim dan
- Rasul TV untuk Islam yang satu. Ikhwan
- akhwat para pendengar Radio Silaturahim
- dan pemirsa Rasul TV yang dimanapun
- antum dan antunna berada di sore hari
- ini semoga ikhwan akhwat yang saat ini
- sedang menyimak Radio Silaturahim
- berkumpul bersama keluarga di rumah
- ataupun yang saat ini sedang berada
- dalam perjalanan dan dimanapun antum dan
- antunna berada semoga kita semuanya
- selalu dalam kesehatan dan senantiasa
- selalu dalam lindungan dan rahmat Allah
- Subhanahu wa ta'ala.
- Bahagia sekali ikhwan akhwat bersama
- saya Muhammad Hafiz Al Floresi beserta
- teman-teman pejuang dakwah yang bertugas
- di sore hari ini ada Bang Neja di
- kameramen dan Bang Yusuf Subangkit di
- meja operator alhamdulillah kembali
- hadir dalam program tausiyah sore
- bersama guru kita Ustadz Ahmad Jazuli
- Kholil. Dan alhamdulillah ikhwan akhwat
- di edisi hari ini hari Rabu tanggal 10
- Sya'ban 1442 Hijriah atau bertepatan di
- tanggal 24 Maret 2021.
- Dan ikhwan akhwat saat kita saat ini
- kita sedang menyiarkan secara live
- melalui Zoom bersama guru kita dan kita
- sudah terhubung dengan beliau, kita sapa
- terlebih dahulu. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabar sehat, Ustaz, ya?
- Alhamdulillah, alhamdulillah.
- Allahu Akbar.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala, insyaallah pada
- kesempatan kita di sore hari ini guru
- kita masih melanjutkan pembahasannya
- yakni di pekan sebelumnya guru kita
- membahas dengan tema mahabbah dan
- insyaallah di pekan yang ini guru kita
- juga masih melanjutkan pembahasannya
- namun sub bahasan di sore hari ini
- adalah
- yang berhak dicintai. Benar, Ustaz, ya?
- Iya.
- Baik.
- Marilah kita simak nasehat dari beliau,
- langsung saja kita serahkan kepada
- Ustaz. Tafadhol, Ustaz.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Al fadhilah hadisinna habibina
- rasulillah Muhammad ibni Abdillah
- sallallahu alaihi wasallam wa ala alihi
- wa ashabihi wa azwajihi wa dzurriyatihi
- wa ahli baitihi Al Fatihah.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirobbil alamin.
- Arrahmanirrohim. Arrahmanirrohim. Maliki
- yaumiddin. Iyyaka na'budu wa iyyaka
- nasta'in. Ihdinash shirothol mustaqim.
- Shirothalladzina an'amta alaihim ghoiril
- maghdhubi alaihim waladh dhollin. Amin.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirobbil alamin. Wassholatu
- wassalamu ala asyrofil mursalin.
- Sayyidina wa Maulana Muhammadin wa ala
- alihi wa ashabihi ajma'in. Amma ba'd.
- Fa inna ashdaqol hadits kitabullah
- Ta'ala wa khoirol hadi hadyu Muhammadin
- sallallahu alaihi wasallam wa syarrul
- umur muhdatsatuha wa kullu muhdatsatin
- bid'ah wa kullu bid'atin dhalalah wa
- kullu dhalalatin finnar.
- Para pendengar Radio Silaturahim dan
- pemirsa Rasiltv yang dirahmati Allah,
- alhamdulillah
- kembali kita panjatkan puji serta syukur
- kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala
- yang senantiasa melimpah curahkan nikmat
- karunia-Nya kepada kita, terutama nikmat
- iman dan Islam, nikmat sehat walafiat
- nikmat panjang usia dalam taat, termasuk
- nikmat dipertemukannya kita
- oleh Allah subhanahu wa ta'ala di sore
- ini
- ee dalam rangka menjalankan salah satu
- perintah-Nya yang diwajibkan atas kita
- semua yaitu menuntut ilmu yang insya
- Allah pada sore ini
- kita akan melanjutkan kajian kita minggu
- yang lalu tentang tentang mahabbah dalam
- sub bahasan
- ee yang berhak
- dicintai atau yang berhak
- memperoleh mahabbah.
- Mudah-mudahan apa yang kita pelajari ini
- ee menjadikan menjadi ilmu yang
- bermanfaat bagi kita fidunya wal
- akhirat. Shalawat dan salam semoga
- selalu tercurah atas Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam beserta
- keluarganya, para sahabat, para pengikut
- dan pengamal sunnahnya.
- Para pendengar Radio Silaturahim dan
- pemirsa Rasiltv rahimakumullah.
- Minggu yang lalu sudah saya sampaikan
- tentang
- dalil-dalil syara ya
- tentang hub ee hubbul abdi lillah
- yakni tentang mahabbahnya hamba kepada
- Allah subhanahu wa ta'ala.
- ee
- [berdehem][batuk]
- Maka pada siang ini sore ini kita akan
- melanjutkan kepada apa sih sebenarnya
- mahabbah itu?
- Eee.
- Setiap pancaindra yang Allah ciptakan
- ya
- baik itu matanya, telinga, mulut
- ya dan lain sebagainya
- [berdehem]
- mempunyai fungsi sendiri-sendiri.
- Ya, mempunyai fungsi sendiri-sendiri.
- Mata berfungsi untuk melihat, telinga
- untuk mendengar, begitu juga yang
- lainnya.
- Nah, semua yang dilihat, yang didengar,
- yang dirasa
- itu dalam istilahnya
- bahasa Arab disebut mudrak.
- Ya.
- Nah, mudrakat ini
- ada kalanya
- adalah sesuai dengan tabiat kita manusia
- ada juga yang bertolak belakang.
- Artinya ada yang menyenangkan, ada yang
- tidak menyenangkan.
- Nah, ketika
- telinga kita mendengar sesuatu yang
- menyenangkan
- nah, senangnya telinga mendengarkan
- sesuatu itu namanya khub atau mahabbah.
- Artinya apa? Suka.
- Jadi, telinga ini suka mendengar apa
- namanya suara-suara yang indah.
- Mendengar apa namanya
- lantunan ya ayat-ayat Alquran
- dengan lagu yang sangat apa namanya yang
- sangat indah.
- Kemudian mungkin juga mendengarkan
- musik. Nah, itu sudah merupakan
- kecenderungannya
- telinga
- menyukai suara-suara yang indah.
- Ya.
- Nah
- kecondongan hati telinga kepada
- suara-suara yang indah, itulah namanya
- hub atau mahabbah.
- Sebaliknya sekarang, mendengarkan suara
- yang ngawur-ngawuran,
- nah itu telinga ini enggak suka, maka
- kebalikan dari mahabbah nantinya,
- kebalikan dari hub.
- Ya.
- Oleh sebab itu makanya
- Al Imamul Ghazali mengatakan, ya, bahwa
- sudah menjadi kecenderungan indra kita
- ini suka kepada sesuatu,
- kayak tadi telinga suka mendengarkan
- suara-suara yang indah, sehingga beliau
- itu tidak berani mengatakan bahwa musik
- itu haram.
- Ya, tidak. Walaupun banyak ulama yang
- mengatakan
- musik itu bagian dari alatul malahi dan
- itu adalah haram. Kenapa?
- Karena diciptakannya telinga ini memang
- sudah menjadi fitrahnya, ada
- kecenderungannya, yaitu menyukai
- suara-suara yang indah.
- Begitu juga mata.
- Mata ini punya fungsi untuk melihat,
- tapi juga punya kecenderungan,
- yaitu melihat sesuatu yang indah, yang
- cantik.
- Maka kecondongan, kecenderungan
- apa namanya mata kita kepada hal-hal
- yang indah, yang cantik,
- itu namanya hub, itu namanya suka.
- Ya, itu namanya suka.
- Nah, begitu juga dengan indra-indra yang
- lainnya.
- Nah, ini mahabbah itu itu.
- Nah, ketika rasa suka
- ya,
- itu begitu dalam di dalam diri manusia,
- maka disebut namanya
- apa namanya rindu.
- Asyik gitu maksyuk ya.
- Nah,
- [berdehem]
- itulah mengenai ee hub atau
- mahabbah.
- Dan semua orang pasti menyukai hal-hal
- yang
- indah,
- yang baik, yang menyenangkan, itulah
- fitrah
- manusia.
- Ya, fitrah manusia. Siapapun manusianya,
- dia tentu akan suka yang demikian.
- Nah, selanjutnya para pendengar Radio
- Silaturahim dan pemirsa Rasio TV yang
- dirahmati Allah.
- Ee tinggal sekarang apa yang menyebabkan
- manusia ini suka?
- Apa yang menyebabkan kita ini suka?
- Ya,
- bahwa suka atau mahabbah atau cinta
- itu tidak mungkin terjadi
- kecuali adalah
- karena mengenal.
- Bahasa agamanya karena makrifat.
- Bagaimana ee
- ini saudara
- apa
- [berdehem]
- saudara Yusuf itu akan mencintai
- istrinya
- kalau dia tidak mengenal.
- Ya,
- jadi bisanya Yusuf mencintai istrinya
- itu karena dia kenal istrinya.
- Dia tidak akan menye kita tidak akan
- mencintai sesuatu kalau kita tidak
- mengenalnya.
- Ya,
- nah, cuma mengenal itu
- tidak harus melihat. [berdehem]
- Awas, mengenal tidak harus melihat.
- Ya,
- kita bisa mengenal
- ee
- Bapak Presiden Soekarno.
- Bapak Presiden Soeharto, walaupun
- mungkin kita tidak pernah berjumpa
- dengan Bapak Presiden Soekarno.
- Kita bisa mengenal siapa Sahabat Abu
- Bakar, siapa Umar, Utsman, Ali
- radhiallahu anhu.
- Walaupun kita tidak tidak hidup sezaman
- dengan mereka. Begitu juga kita bisa
- mengenal Rasulullah.
- Walaupun kita tidak bisa melihat
- Rasulullah.
- Tidak bisa melihat bukan berarti kita
- tidak bisa mengenal. Begitu juga,
- ya, bahwa orang bisa mencintai Allah
- walaupun Allah tidak bisa dilihat dengan
- basyar.
- Ya.
- Nah, karena itu sekarang bagaimana cara
- untuk mengenal dulu?
- Untuk mengenali seseorang, sesuatu yang
- pertama adalah dengan bergaul erat.
- Ya. Kalau kita pingin mengenal, nah,
- kalau-kalau kita pingin mengenal Habib
- Husein, bergaul erat dengan Habib
- Husein.
- Sehingga kita tahu bagaimana beliau
- kalau berjalan, kalau makan, kalau
- tidur, kalau kalau dan seterusnya.
- Ya.
- Nah, bagaimana Sahabat mengenal Rasul?
- Setiap hari mereka bergaul dengan Rasul,
- sehingga tahu bagaimana Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam.
- Ini yang menumbuhkan, yang menyebabkan
- orang mahabbah, orang cinta karena
- mengenal.
- Nah, karena mengenal. Caranya mengenal
- adalah dengan bergaul.
- Nah, itu. Lalu sekarang
- kita ini
- tidak bisa bergaul dengan Rasulullah.
- Lalu bagaimana kita bisa mengenal Rasul?
- Yang kedua adalah baca biografinya
- Rasulullah.
- Sejarah hidup Rasulullah sejak dari
- dilahirkan sampai akhir hayat beliau.
- Nah, baca itu.
- Ya, sejarah hidup. Hmm, sirah nabawiyah.
- Dari situ kita akan mengenal. Makanya
- banyak di barat itu
- untuk memperkenalkan Rasul
- kepada mereka-mereka yang belum kenal,
- disuruh membaca buku itu.
- Hmm.
- Nah, inilah apa namanya salah satu
- cara atau yakni cara kedua untuk
- mengenal.
- Nah, nah ini [berdehem] eh Hafiz
- ya, itu
- kalau bulan Rabiul Awal banyak orang
- Islam ini memperingati Maulid Nabi
- sallallahu alaihi wasallam.
- Apa kemudian di sana dalam Maulid
- dibaca?
- Maulid Diba, dibaca Simtudduror, dibaca
- ya, kitab-kitab atau buku-buku tentang
- Maulid, sejarah hidup Nabi sallallahu
- alaihi wasallam.
- Jadi kalau gitu untuk apa perayaan
- Maulid Nabi? Untuk mengenal Nabi lebih
- dekat lagi.
- Inilah cara kedua karena kita bergaul
- enggak bisa, maka kita bacalah sejarah
- hidup Nabi sallallahu alaihi wasallam.
- Tujuannya apa membaca sejarah hidup?
- Supaya kita lebih mengenal Rasul.
- Dengan mengenal Rasul akan menumbuhkan
- cinta kepadanya.
- Sekarang tanya kepada hati Anda
- ya
- apakah membaca Maulid ini perbuatan
- buruk?
- Membaca sejarah hidup Nabi, bagaimana
- kita bisa cinta Nabi kalau kita tidak
- mengenal? dan salah satu untuk mengenal
- Nabi adalah membaca sejarah hidup dan
- itulah Maulid Nabi. Tujuannya adalah ke
- sana.
- Nah.
- Makanya saya heran ada orang kok
- mengharamkan
- mengharamkan Maulid Nabi. Wah, aduh,
- lebih buruk lagi dari itu.
- Sampai hidangannya saja yang di
- dikeluarkan untuk acara Maulid Nabi itu
- lebih buruk dari daging babi.
- Sampai ada yang mengatakan seperti itu.
- Ya. Kenapa seperti itu?
- Karena mereka melihat ini adalah
- melihat eee
- pelaksanaannya bukan tujuannya ke mana.
- Padahal tujuan kita tujuan orang yang
- memperingati Maulid Nabi itu adalah ini,
- untuk mengenal supaya tumbuh cinta
- sehingga
- teraplikasikan
- terwujud diwujud bisa diwujudkan apa
- yang menjadi pesan Allah
- dalam surat At-Taubah ayat 24.
- Katakanlah jika bapakmu, anakmu
- saudaramu, istrimu, ya
- kemudian keluargamu, harta kekayaanmu,
- rumah tempat tinggalmu lebih kamu cintai
- daripada Allah dan Rasul-Nya.
- Jadi supaya kita lebih mencintai Rasul
- daripada yang lain.
- Nah, caranya adalah bagaimana? Nah, ini.
- Bagaimana menumbuhkan
- cinta itu
- untuk tumbuh ini lewat pengenalan lebih
- dulu dan di antara upaya mengenal Nabi
- adalah membaca sejarah hidup Nabi.
- Jadi substansinya,
- ya,
- yang kita lihat
- gitu.
- Adapun cara bagaimana mengenal, terserah
- bagaimana saja.
- Ini salah satu.
- Nah, kalau sekarang kita tidak bisa
- membaca sirah nabawiyah.
- Tidak bisa membaca biografi nabi, ya.
- Lalu bagaimana? Apa apakah ada cara
- lain? Ada. Yaitu yang ketiga.
- Mendengarkan.
- Ya,
- keterangan penjelasan tentang Rasul dari
- orang yang sudah mengenal Rasul.
- Nah, itulah makanya ada mauidhoh, ada
- ceramah-ceramah yang menerangkan tentang
- akhlak Rasul dan lain sebagainya.
- Ya, enggak mungkin dalam satu kali
- pertemuan dibahas. Karena itu berlanjut
- terus acara ini enggak pernah habis.
- Nah, tinggal kita ini mau melihat apa
- namanya
- kepada substansinya.
- Atau melihat apa namanya, ee amal
- amaliyahnya.
- Ya, tergantung kepada
- Anda semuanya.
- Ehm.
- Kemudian
- [berdehem]
- para pendengar Radio Silaturahim.
- Jadi sekali lagi untuk kita mencintai
- Allah adalah dengan
- mengenal.
- Nah, selanjutnya bahwa manusia dalam
- kaitannya dengan ini itu ada empat
- golongan manusia.
- Yang perti insan nafsahu wa baqoahu wa
- kamalahu wa dawama wujudihi.
- Wa bugduhu li halakihi wa adamihi wa
- nuqsonihi wa quwati kamali.
- Fahadi itu kulli hayyin.
- Yang pertama sebab pertama bahwa manusia
- siapapun manusia dia akan
- mencintai dirinya.
- Dia akan menyukai dirinya.
- Dia menginginkan dirinya kekal.
- Nah, [berdehem]
- lau yu'ammaru alfa sanatin, seandainya
- dipanjangkan
- sampai 1.000 tahun, emang maunya
- manusia.
- Ingin kekal, ya.
- Ingin sempurna.
- Nah, kemudian di kehancuran,
- mati.
- Dan itu sudah dijelaskan, innal
- mautalladzi tafirrūna minhu fainnahu
- mulāqīkum, sesungguhnya kematian yang
- kalian semua lari darinya.
- Kematian itu akan datang, akan
- mendatangi kamu, menemui kamu.
- Manusia enggak suka hancur, enggak suka
- rusak, enggak suka sakit,
- enggak suka kurang, ya.
- Nah,
- itu adalah
- manusiawi.
- Oleh sebab itu,
- eee,
- [berdehem][batuk]
- ketika sahabat Umar sudah masuk Islam,
- ditanya oleh Rasulullah, "Umar,
- kamu cinta kepadaku?" "Tentu,
- Rasulullah."
- "Lalu, siapa yang lebih kau cintai, aku
- atau dirimu?"
- Jawab Sahabat
- "Aku mencintaimu, wahai Rasulullah,
- melebihi kecintaanku kepada siapapun dan
- kepada apapun selain diri saya."
- Jelas dari situ bahwa Sahabat Umar ini
- berarti lebih mencintai dirinya daripada
- Rasulullah. Kenapa? Semua manusia
- itu dia pasti dia menyukai, mencintai
- dirinya melebihi kepada siapa,
- kecintaannya kepada siapapun.
- Nah, pada waktu itu karena Sahabat Umar
- belum mengerti makna mahabbah kepada
- Rasul, kenapa harus lebih mencintai
- Rasul dari kecintaan pada dirinya. Pada
- saat itu belum, beliau belum menemukan
- wajar-wajar saja dia itu.
- Kenapa? Karena pengetahuan agamanya
- belum mumpuni, belum cukup. Sehingga dia
- belum menemukan jawaban.
- Nah, ini ini yang pertama ya.
- [berdehem]
- Hasan Al Basri rahimahullah taala
- mengatakan man arafa robbahu ahabahu.
- [berdehem] Siapa yang mengenal Tuhannya,
- pasti dia akan mencintainya.
- Terus waman arafa dunia zahada fiha.
- Siapa yang mengenal dunia, maka dia akan
- zuhud ya.
- Zuhud pada dunia.
- Zuhud itu ya
- ini apa namanya?
- Ini
- Fais apa Hafiz ini? Hafiz ya? Ya, zuhud
- itu Hafiz, asalnya adalah
- mengutamakan yang nilai lebih besar.
- Memilih
- nilai yang lebih besar. Namanya milih
- itu mesti kan
- dua yang dipilih ke atas ya, dua ke
- atas. Enggak mungkin satu.
- Nih kalau orang suruh memilih uang 100
- ee dolar dengan 100.000
- pasti akan memilih 100 apa namanya? Gitu
- kan. Kenapa?
- Lain karena nilainya jauh lebih besar.
- Nah, itu namanya zuhud yang begitu.
- Karena lebih memilih yang nilainya
- besar.
- Nah, selanjutnya ini dikaitan dengan
- kehidupan dunia dan akhirat dan nilai
- ukhrawi.
- Tuh begitu ya. Maka kalau ada orang
- suruh me mendahulukan
- nilai ukhrawi yang akan kamu kejar atau
- nilai duniawi. Nah, orang zuhud itu dia
- akan memilih melakukan atau mencari
- nilai ukhrawi daripada duniawi. Ini
- namanya zuhud yang begini.
- Nah, itu karena dia enggak bukan orang
- zuhud namanya orang zahid. Ya.
- Jadi, tadi siapa yang mengenal dunia,
- kata Hasan Al Basri, pasti dia akan
- zuhud terhadap dunia.
- Ya, pada dunia itu berarti apa? Lebih