Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi
- nastainu ala umuri dunya waddin
- wassalatu wassalamu ala asrofil anbiya
- wal mursalin wa ala alihi wa ashabihi
- ajmain.
- Rabbi zidni ilman Allahumma anfa'ni bima
- allamtani wa alimni ma yanfa'uni
- warzuqni ilman yanfa'uni.
- Masih dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibubur
- Bekasi Radio Silaturahim dan juga Rasel
- TV untuk Islam yang satu.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh ikhwan dan akhwat sekalian,
- apa kabarnya di siang hari ini?
- Semoga ikhwan dan akhwat masih selalu
- dalam lindungan Allah subhanahu wa
- taala.
- Amin ya rabbal alamin.
- Alhamdulillah senang sekali saya
- Muhammad Abdullah Rasyid dapat berjumpa
- kembali dengan ikhwan dan akhwat
- sekalian di ruang dengar Anda
- dalam tausiah siang edisi Senin
- 18 Syawal 1439
- Hijriah atau yang bertepatan dengan 2
- Juli 2018.
- Alhamdulillah narasumber kita saat ini
- sudah hadir di studio kita sapa terlebih
- dahulu. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabar sehat Ustaz ya?
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Ikhwan dan akhwat eh kali
- ini seperti biasa Ustaz Ammi Zaki akan
- menyampaikan kajiannya dari kitab
- Mukhtarul Hadis an Nabawi.
- Langsung saja kita persilakan. Tafadhol
- Ustaz.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi hamdan yuwafi ni'amahu wa
- yukafi'u mazidah.
- Ya rabbana lakal hamdu walaka syukru
- kama yanbaghi lijalalik
- wa azimi sultanik.
- Subhanakallahumma la nuhsi sanaan alaika
- anta kama asnaita ala nafsik.
- Nuksi sanaan alaika anta kama asnaita
- ala nafsik.
- Wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu
- la syarikalah.
- Wa asyhadu anna sayyidana wa nabiyyana
- Muhammadan abduhu wa rasuluh.
- Allahumma fasalli wasallim
- wabarik wa'adzim ala abdika wa rasulika
- Muhammadin wa ala alihi wa sahbih.
- Salatan wasalaman daimaini mutalazimaini
- ila yaumiddin.
- Amma ba'd.
- Para pendengar, pemirsa TV Rasya
- yang dirahmati Allah. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillah senang sekali
- kita
- dapat berjumpa pada siang hari ini
- melalui
- on air Radio Silaturahim.
- Yang insyaallah
- beberapa menit ke depan
- kita akan
- membacakan beberapa
- riwayat
- yang bersumber dari Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam
- dengan takrir kitab Mukhtarul Hadits an
- Nabawiyah.
- Seperti biasa
- sebelum kita lanjutkan acara tersebut
- terlebih dahulu marilah kita awali
- taklim ini
- dengan
- bertabarruk.
- Kita bertabarruk dengan Alquran suratul
- Fatihah.
- Semoga Allah taala
- senantiasa membimbing kita
- menuntun kita
- ke jalan yang benar.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirobbil alamin.
- Arrahmanirrahim Maliki yaumiddin. wa
- iyyaka nasta'in, ihdinash shirothol
- mustaqim.
- Shirotalladzina an'amta alaihim, ghairil
- maghdubi alaihim waladh dhallin.
- Amin.
- Para pendengar, pemirsa TV Rasya,
- marilah kita lanjutkan
- materi kita
- yang insya Allah
- kita akan
- mulai
- dari hadis yang ke 414.
- Ruya an Rasulillahi Shallallahu alaihi
- wasallam.
- Ayyuhannas, irba'u ala anfusikum.
- Innakum la tad'una ash shamma wala
- ghaiban.
- Innakum tad'una sami'an qariba.
- Wahuwa ma'akum.
- Qolahu fi safarin wa kanu yajhiluna bit
- takbir.
- Rawahul Bukhari wa Muslim.
- Rasulullah
- ber
- dialog atau Rasulullah
- mengajak
- para sahabat berbicara atau menyampaikan
- pesan kepada para sahabat.
- Ayyuhannas.
- Wahai sekalian umat manusia.
- Di saat itu Rasulullah menghadapi para
- sahabatnya.
- Tapi
- walaupun yang diajak bicara pada waktu
- itu adalah sahabat-sahabat beliau,
- namun
- hadis tersebut tetap berlaku untuk semua
- umat manusia sampai saat ini, bahkan
- sampai akhir hayat kita, akhir hayat
- dunia, akhir umur dunia.
- Pesan Nabi anfusikum.
- Tenangkanlah
- diri kalian.
- Keadaan
- tidak menentu.
- Terkadang
- orang di saat
- tenang,
- di saat
- sehat,
- di saat sedang berkecukupan,
- tidak ada masalah,
- tentu
- seseorang akan tenang
- dalam masalah apapun juga.
- Waktu berbicara,
- waktu menyikapi masalah,
- tetap dalam keadaan tenang.
- Innakum la tad'una as-shamma.
- Kalian sesungguhnya
- tidak sedang memanggil-manggil
- as-shamm,
- shammam, yaitu tuli.
- Kalau kita berbicara kepada orang yang
- pendengarannya kurang,
- atau mungkin
- orang-orang tua
- yang sudah pakai alat mendengar,
- tentu
- kita membutuhkan suara yang lebih
- kencang. Bahkan mungkin kita bisa
- setengah teriak.
- Karena kita berbicara kepada orang yang
- pendengarannya sudah jauh menurun.
- Masing-masing, ya termasuk saya,
- seringkali saya berbicara kepada orang
- yang pendengarnya sudah menurun.
- Mau tidak mau saya harus menggandakan
- suara saya.
- Bahkan
- seringkali kita teriak.
- Ketika kita berdoa,
- ketika kita berzikir,
- kita tidak sedang
- berhadapan dengan
- zat yang
- tuli.
- Allah subhanahu ta'ala zat yang Maha
- Mengetahui, Maha Mendengar.
- Tidak usah kita ucapkan.
- Yang ada dalam benak kita, yang ada
- dalam pikiran kita, hati kita,
- tetap Allah ta'ala zat yang Maha
- Mendengar.
- Jadi kita tidak sedang
- memanggil-manggil, berdoa, memuji
- yang tidak mendengar ataupun
- yang ghaib,
- yang jauh, yang tidak ada di hadapan
- kita.
- Innakum tad'una sami'an qariba.
- Sesungguhnya
- kalian
- sedang berdoa,
- sedang bermunajat
- kepada zat yang sami', yang amat Maha
- Mendengar,
- qariban dan sangat amat dekat.
- Walaupun kita tidak boleh
- membayangkan kedekatan Allah seperti
- kedekatan kita dengan makhluk.
- Karena Allah Maha Suci dari
- tempat dan waktu.
- Allah munazzah anizzamani wal makan.
- Allah Maha Suci dari tempat dan waktu.
- Jadi kata-kata dekat
- itu dekat
- bukan berarti tempat dekat, bukan
- berarti jarak. Tapi dekat hubungan kita.
- Seperti
- kalau kita
- kerja di luar negeri, sedangkan istri
- dan anak-anak kita di Indonesia.
- Jarak cukup jauh, tapi jauh di mata,
- dekat di hati.
- Istri dan anak-anak
- atau suami, orang tua,
- selalu ada di hati.
- Selalu kita doakan mereka.
- Karena
- kita sangat dekat
- kepada orang-orang yang kita cintai.
- Nah, di sini begitu juga Allah Ta'ala
- Zat yang Maha dekat tapi
- Allah Ta'ala senantiasa merahmati kita
- mendengar rintihan kita, doa kita.
- Wahuwa ma'akum dan Allah Ta'ala
- senantiasa bersama kalian, bersama kita.
- Di sini
- perlu saya kembangkan
- walaupun
- tidak ada ya
- dalam hadis ini
- tapi tidak ada salahnya
- kalau kita sedikit hubungkan dengan
- keadaan sekarang.
- Nah, di mana pro kontra itu tidak akan
- pernah habis.
- Saya seringkali sewaktu saya mengajar di
- satu tempat
- di masjid, mushola, majelis taklim
- itu
- akan selalu ada pertanyaan-pertanyaan.
- Ini contohnya
- ada satu jamaah yang seringkali sebelum
- subuh mereka menyuarakan Alquran
- mereka mengatakan assalatu khairum minan
- naum, mengajak masyarakat agar segera
- bangun dan sebagainya.
- Bahkan diawali dengan ayat-ayat Alquran
- dengan pembacaan selawat, zikir
- nah, bahkan ketika
- salat pun si imam menggunakan pengeras
- suara sampai terdengar jauh ke luar.
- Bahkan setelah itu banyak juga yang
- berzikir dengan pengeras suara.
- Ini pro kontra yang terus-menerus ada
- yang suka, ada yang tidak suka.
- Dan bahkan
- ada orang yang mengharamkan
- karena
- mereka punya alasan ada yang mengatakan
- karena mengganggu orang dan sebagainya.
- Tapi ada juga yang membid'ahkan karena
- dengan dasar-dasar yang mereka pegang.
- Tapi ada juga yang mengatakan, "Oh, ini
- syiar agama.
- Ini wakaf yang harus kita manfaatkan.
- Masa iya kita kalah dengan
- konser-konser.
- Kemarin di rumah sebelah konser dangdut
- luar biasa.
- Dengan sound system yang begitu
- kerasnya.
- Masa iya kita kebenaran agama, zikir
- harus kalah
- dengan maksiat
- dan macam-macam alasan.
- Ini soal pandangan.
- Jadi kita kembali
- kepada
- diri kita pribadi.
- Kalau saya menyikapinya,
- selagi itu memang dibutuhkan oleh
- masyarakat.
- Selagi masyarakat memang senang
- dengan hal-hal seperti itu.
- Termasuk kita umpamanya membaca Alquran
- dengan suara kencang, bertadarus baik di
- bulan Ramadan ataupun di luar Ramadan.
- Kalau saya pribadi
- hal-hal yang memang
- ibadah mahdhah
- saya lebih suka
- enggak usah pakai pengeras suara karena
- hanya untuk diri kita.
- Kecuali kalau yang manfaatnya untuk
- orang lain seperti azan.
- Memang dibutuhkan, harus ada pengeras
- suara.
- Tapi ketika tidak dibutuhkan
- seperti saya membaca Alquran, saya
- bertadarus
- saya berzikir
- ini urusan saya kepada Allah Ta'ala.
- Walaupun
- saya tidak melarang
- orang-orang yang mengguna-menggunakan
- pengeras suara sekencang-kencangnya.
- Selagi itu manfaat enggak masalah.
- Tapi kita kembali koreksi, muhasabah
- diri kita masing-masing.
- Apakah
- dengan pengeras suara
- mengganggu hati kita, ketulusan kita
- atau tidak.
- Pro kontra akan selalu ada.
- Apakah hati kita bersih
- dari tujuan-tujuan selain Allah Ta'ala?
- Apakah bacaan kita memang sudah benar,
- baik,
- enak didengar orang,
- sesuai dengan standar
- tajwid,
- imam-imam Al Haram?
- Kenyataannya banyak
- orang-orang yang bertadarus menggunakan
- pengeras suara,
- makhraj mereka pun banyak yang cacat.
- Belum lagi nanti tajwid mereka.
- Itu yang dzahir.
- Apalagi
- kalau disertai dengan tujuan-tujuan yang
- lain
- dan sebagainya.
- Jadi sebaiknya kalau buat saya, walaupun
- saya tidak melarang melarang dan saya
- tetap mengatakan bahwa itu mubah,
- sah-sah saja kita menggunakan pengeras
- suara atau tidak,
- tapi
- kalau saya tetap
- lebih menjaga
- hati pribadi.
- Karena tidak mustahil
- ketika ada orang apa menghujat saya,
- enggak senang dengan bacaan saya,
- akhirnya saya marah.
- Saya mengatakan
- perjuangan agama dihalang-halangi, toh
- orang berbuat baik dimusuhi.
- Itu alasan yang akhirnya saya buat-buat
- sendiri.
- Padahal hujatan itu, kritik itu datang
- dari saudara kita juga yang seagama.
- Kalaupun ada yang memuji saya, "Luar
- biasa bacaan Anda,
- begitu merdu,
- persis seperti
- saya pergi haji dulu,
- bacanya persis mirip. Saya jadi teringat
- saja menangis ketika
- saya mendengar bacaan Pak Ustaz."
- Akhirnya saya merasa diangkat, saya
- merasa manja.
- Akhirnya gara-gara pujian, saya
- berdosa lagi.
- Jadi dihujat salah,
- diangkat-angkat salah. Nah, lebih baik
- kalau saya
- tetap saya baca Qur'an di masjid, tapi
- tanpa pengeras suara.
- Cukup diri saya yang dengar.
- Tanpa mengganggu
- orang-orang yang di sebelah saya.
- Nah, itulah
- jadi prinsip ibadah,
- termasuk berdoa,
- berzikir.
- Nah, kita sedang berhadapan dengan zat
- yang Maha Mendengar, zat yang Maha
- Mengetahui. Jadi, tidak perlu kita
- kencang-kencang, apalagi menggunakan
- pengeras suara,
- kecuali kalau dibutuhkan
- dan memang itu bermanfaat.
- Dalam acara dakwah, silakan. Karena
- tidak semua orang mau di datang ke
- masjid,
- mau menghadiri pengajian.
- Kita tahu
- bahwa di rumah-rumah tetangga,
- di pinggir-pinggir jalan,
- masih ada orang yang
- mau datang ke masjid malu, tapi dia
- kepingin mendengar pengajian.
- Itu silakan.
- Nah, jadi itu namanya ada muatan-muatan
- dakwah. Tapi kalau zikir, saya baca
- Qur'an,
- itu ibadah mahdhah yang tidak mengandung
- muatan dakwah.
- Kalaupun kita mengatakan ada muatan
- dakwahnya, yaitu mungkin pandangan kita
- pribadi.
- Ah, kesimpulannya,
- jadi ini masalah mubah, kita tidak perlu
- ribut, tidak perlu menghujat, tapi
- kembali kepada diri kita masing-masing.
- Allah yang mengetahui isi hati kita.
- Kemudian berikutnya,
- ruwiya an Rasulillahi sallallahu alaihi
- wasallam,
- iyyakum wal baula fil maqabir, fa innahu
- yurisul baros.
- Iyyakum wal baul. Hati-hatilah.
- Jangan sampai kalian buang air atau
- pipis di maqabir.
- Maqabir jamak dari maqbarah.
- Ini dalam Alquran juga ada ya,
- Jadi jamak dari maqbarah.
- Jadi maqabir itu pemakaman-pemakaman
- umum.
- Atau pemakaman wakaf.
- Ini di kampung-kampung masih ada
- pemakaman wakaf keluarga. Jadi di
- samping rumah ada kuburan
- kakek-neneknya, kuburan orang tuanya.
- Ada lagi di tempat-tempat ibadah, di
- masjid, di mushola. Biasanya yang punya
- wakaf berpesan, "Nanti kalau saya
- meninggal, tolong
- saya dikubur di depan imam."
- Itu sah-sah saja, enggak enggak masalah.
- Karena memang
- tanah-tanah dia.
- Dia ingin mewakafkan, tapi dia kepingin
- dekat mushola. Dengan harapan
- moga-moga kuburannya senantiasa
- mendapatkan rahmat, karena ada
- pengajian, ada sholat jamaah.
- Dan ini jangan dibicarakan lagi.
- Karena
- kalau dibicarakan lagi enggak ada
- habis-habisnya. Ada satu kelompok yang
- anti sholat di masjid atau mushola yang
- di depannya ada makam.
- Jadi pesan Nabi ini, jangan sampai
- kalian buang air kecil, pipis di
- kuburan-kuburan.
- Baik di kuburan, di gundukan tanahnya
- ya.
- Ataupun di areal pemakamannya.
- Mungkin kita tidak
- mengencingi kuburannya ya, gundukan
- tanahnya itu yang di dalamnya ada
- ada
- mayit.
- Tapi
- kita
- buang air di arealnya. Entah itu di
- rumput-rumputnya, di pepohonannya, atau
- di antara
- dua kuburan.
- Ini termasuk saya, karena
- eh rumah saya dekat dengan kuburan saya
- pun masih kecil ya umur masih di bawah
- 10 tahun ya memang tukang melakukan itu
- juga ya sembarangan
- bahkan apa yang ada di situ ya kita
- berani makan karena banyak pohon-pohon
- biasanya
- pohon-pohon kalau di kuburan itu subur
- pohon pepaya, pohon-pohon liar
- cukup-cukup banyak
- kenapa dilarang fa innahu yurid al baros
- karena dapat menyebabkan al baros
- baros itu penyakit belang
- penyakit belang ini
- ini penyakit kulit ya ada lagi al juzam
- kusta
- ada lagi lepra dan sebagainya itu
- berdekatan ya
- nah al baros
- ini penyakit yang
- eh mungkin menjijikkan ya
- walaupun kita tidak boleh
- menyerang, kita tidak boleh mengatakan
- menular dan sebagainya kita tidak boleh
- menampakkan tapi yang jelas
- karena kulit itu permukaan
- cantik atau tidaknya seseorang dulu itu
- dilihat dari kulit body sama, tinggi
- sama, gemuknya sama, cuma perbedaan
- kulit jadi masalah ada wanita yang atau
- laki-laki yang putih ada yang hitam
- cuma perbedaan kulit andai kita
- hitam mungkin kurang cantik tapi karena
- dia putih walaupun sebenarnya kurang
- cantik tapi karena putih
- banyak laki-laki terjebak di warna kulit
- padahal enggak cantik itu orang tapi
- karena putih ah banyak laki-laki
- terjebak ada lagi kulit hitam tapi manis
- cantik andai kata dia putih lebih cantik
- dari yang putih
- ini banyak yang terjebak
- nah jadi kulit itu adalah keindahan
- kulit itu penampilan, penampakan
- penampang itu adanya di kulit
- jadi bagus atau enggaknya itu di
- permukaan
- nah kalau permukaannya ini enggak bagus
- tentu menjijikkan.
- Nah, apalagi kalau sampai menular ya.
- Nah, ini salah satu penyebabnya adalah
- al baulu fil maqabir.
- Kencing atau pipis di areal pemakaman
- baik di gundukan tanahnya ataupun di
- daerah di dalam pemakaman itu sendiri.
- Di saat
- Alquran ini ah di saat Rasulullah
- mengatakan ini atau di saat Alquran
- turun
- memang para sahabat belum membutuhkan
- pembuktian.
- Tapi semua apa yang diucapkan
- baik itu Alquran ataupun hadis nabi
- ternyata semuanya terbukti.
- Ada
- saya suka buka YouTube
- ada seorang spesialis ya
- spesialis
- yang mengkaji mukjizat mukjizat Quran
- dan hadis nabi
- itu Profesor Doktor Abdul Daim Al
- Kuhail.
- Itu luar biasa.
- Banyak sekali penemuan-penemuan beliau
- fakta-fakta ilmiah
- yang
- ada di dalam Alquran.
- Bahkan belum lama ini saya sedang
- melihat surah Al Ikhlas itu salah satu
- dasar konstruksi ilmu konstruksi
- ah kalau dalam matematik ada geometri
- ya.
- Nah, itu konstruksi bangunan itu
- dasar-dasarnya itu ada di surah Al
- Ikhlas surah Qul Huwallahu Ahad. Nah,
- bagaimana itu memang cukup luas
- penjabarannya.
- Nah, begitu juga dalam hal ini
- ilmu pengetahuan akan membuktikan
- apa hubungannya
- kencing di kuburan dengan penyakit al
- baras.
- Jadi ini tidak mustahil walaupun saat
- ini saya atau kita semuanya belum
- menemukan
- apa hubungannya, korelasinya, tapi yang
- jelas sudah pasti ada. Kenapa laki-laki
- dilarang menggunakan emas? Kenapa wanita
- boleh? Itu pun sama, semua ada
- penyebabnya.
- Terus berikutnya hadis ke 416.
- 16
- Ruya an Rasulillahi sallallahu alaihi
- wasallam al imanu ma'rifatun bil qalb.
- Wa qaulu bil lisan wa amalun bil arkan.
- Al iman
- amana yukminu percaya
- meyakini.
- Ini kerjaan hati.
- Bukan kerjaan fisik. Kalau kerjaan fisik
- seperti saya salat, Allahu Akbar.
- Gerakan saya bisa dilihat orang.
- Suara saya bisa didengar orang.
- Tapi ketika saya meyakini bahwa salat
- itu wajib
- tidak bisa dideteksi oleh apa pun juga.
- Kita melakukan sesuatu. Kenapa sih kita
- salat?
- Kenapa sih kalau kita enggak salat,
- banyak atau orang-orang non muslim
- enggak salat, bahkan sebagian orang
- Islam juga
- banyak yang enggak salat tapi usaha
- mereka sukses.
- Makin jauh dari Allah, makin sukses.
- Jadi al imanu, keimanan, keyakinan
- adalah ma'rifatun bil qalb.
- Hati ya, ini urusan hati, ma'rifah.
- Hati kita mengenal, hati kita mengakui.
- Ma'rifah, i'tiraf.
- Jadi benar-benar mengakui
- bukan dibikin-bikin.
- Jadi kalau hati ini
- itu enggak bisa berbohong. Yang
- berbohong lidah.
- Makanya Allah katakan dalam Alquran ma
- kadzabal fuadu ma raa. Hati tidak akan
- bisa berdusta.
- Dalam surah Al Qiyamah
- dikatakan balil insanu ala nafsihi
- basirah. Manusia tahu siapa dirinya.
- Kalau saya bersalah, saya tahu walaupun
- saya membantah, lidah saya membantah,
- tapi hati saya tahu, saya sadar memang
- saya yang lakukan, memang saya korupsi.
- Banyak orang-orang
- yang
- terkena kasus baik itu korupsi dan
- sebagainya
- hati mereka tahu mereka memang melakukan
- itu, mereka melakukan kecurangan mereka
- benar-benar korupsi mereka merekayasa
- kejahatan
- mereka tahu
- cuma lidah mereka yang berbohong.
- Nah, jadi al-imanu ma'rifatun bil qalb.
- Iman ini adalah
- hati benar-benar mengenal
- siapa pencipta kita
- dan mau mengakui.
- Setelah hati ini mengakui
- tentang kebenaran Islam
- tentang rukun-rukun iman, adanya
- malaikat, adanya hari kiamat dan
- sebagainya
- ha, jadi hati kita mengakui.
- Orang yang beriman benar-benar dia
- meyakini pasti dia akan mewarisi
- rasa takut kepada Allah Ta'ala.
- Ini contoh hanya contoh ya.
- Saya seringkali saya tantang di majelis,
- di mana
- coba seandai kata
- ini jamaah pengajian
- berani enggak
- bulan puasa kemarin satu hari saja
- jangan puasa
- saya bayar 1 miliar.
- Itu ternyata enggak akan ada yang
- berani.
- Padahal enggak ada yang tahu
- seandai kata dia berbohong kepada saya
- juga
- enggak tahu
- atau nanti sore enggak usah salat asar
- saja tinggalkan satu waktu.
- Jadi imbalannya 1 miliar.
- Ini saya kira ini bagi kita ya
- Bang Undi ya
- ini Bang Zulfikar
- ini saya kira enggak akan mampu, enggak
- akan bisa.
- Hati ini enggak akan bisa dibohongi.
- Saya umpamanya,
- katakan,
- saya dapat hadiah 5M,
- kemudian dia dapat perempuan cantik,
- dapat jabatan,
- dengan syarat nanti asar satu waktu aja,
- enggak usah salat.
- Saya kira saya enggak bakal bisa
- berbohong.
- Tetap
- iman tadi,
- keyakinan saya,
- yang mengatakan bahwa salat itu wajib,
- kalau saya enggak salat berdosa,
- sanksinya nanti di hari kiamat dan
- sebagainya,
- mewarisi
- rasa takut kepada Allah Ta'ala. Saya
- enggak akan berani.
- Nah, karena saya takut, mau enggak mau
- terbukti dalam perbuatan.
- Makanya di sini
- dilanjutkan dengan wa qaulum bil lisan.
- Harus ada sebuah ucapan.
- Tapi ucapan ini berlaku sesama kita.
- Ada orang meyakini sesuatu tanpa kita
- tahu,
- urusannya langsung kepada Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala.
- Jadi kalau
- sesama kita, itu memang harus ada bukti.
- Tapi kalau Allah, tidak perlu bukti
- fisik.
- Walaupun saya tidak mengucapkan,
- tapi hati saya meyakini, Allah Maha Tahu
- bahwa hati saya meyakini.
- Nah, jadi qaulum bil lisan,
- ini
- bukti bahwa dia seorang muslim.
- Tapi juga yang namanya bukti, berapa
- banyak orang mengucapkan kebaikan,
- dia muslim tapi enggak menjalankan
- salat.
- Tidak mengeluarkan zakat, hanya
- identitasnya muslim.
- Hanya
- lidahnya.
- Sebentar-sebentar astagfirullah, kalau
- kaget astagfirullah. Kan banyak ini
- latahan.
- Padahal salat enggak apa enggak,
- astagfirullah.
- Masya Allah, Subhanallah, enggak salat,
- tukang judi, tapi sebentar-sebentar
- astagfirullah.
- Kemudian banyak sekali orang-orang yang
- tidak takut kepada Allah sering
- mengucapkan assalamualaikum dan
- lain-lain.
- Bahkan saya sering kali perhatikan ya
- orang-orang di lingkungan, di mana yang
- saya tahu dia enggak salat, saya tahu
- dia enggak puasa, tapi kalau soal
- lebaran mau pulang kampung nomor satu.
- Dua dua tiga hari sebelum lebaran pulang
- kampung.
- Mereka mengatakan saya mau lebaran di
- kampung.
- Padahal enggak layak, enggak pantas.
- Walaupun sah-sah saja dia pakai baju
- baru, dia makan ketupat lebaran
- tapi kalau saya malulah kepada Allah
- taala, saya salat kagak, puasa kagak
- mau merayakan lebaran.
- Saya pakai baju koko pakai kain
- malu rasanya, jadi hati enggak bisa
- dibohongi gitu.
- Dulu saya pernah ya
- katakan saya enggak salat Id
- bukan enggak bukan Ramadannya tetap cuma
- enggak salat Id ya
- karena
- waktu masih remaja terkadang kita suka
- malas ya.
- Kita perasaan malu kalau keluar dari
- dari rumah.
- Enggak berani menatap orang.
- Enggak berani ada tamu saya keluar
- karena saya enggak salat Id.
- Itu cuma enggak salat Id.
- Sampai
- sebegitu enggak pedenya saya.
- Rasa malu gimana kalau kita enggak
- puasa, enggak salat.
- Nah jadi waqolun bil lisan di sini
- hubungan sesama manusia harus ada bukti
- ucapan. Wa amalun bil arkan dan
- ada bukti perbuatan, jadi ada bukti
- ucapan, ada bukti perbuatan. Tapi ini
- berlaku untuk manusia.
- Sebenarnya
- iman ini
- yang pokok.
- Walaupun
- yang namanya iman harus dibuktikan
- dengan perbuatan. La imana bila amal
- wala amal bila iman. Tidak sah, enggak
- berlaku iman tanpa amal. Begitu juga
- amal tanpa iman. Ada orang zikir.
- Banyak sekarang pengajian-pengajian
- zikir terus-terusan.
- Bangun malam.
- Tapi
- mereka tidak pasrah kepada Allah Ta'ala.
- Mereka bukan mengikuti agama, tapi ada
- aliran-aliran tertentu.
- Mereka tanpa salat, tapi bangun di
- tengah malam.
- Itu ada ya aliran-aliran zikir. Betul
- yang diucapkan
- kalamullah, ayat Qur'an.
- Tapi mereka tidak
- mengikuti
- Islam yang dibawa oleh Rasulullah.
- Itu pun tidak bisa.
- Nah, tapi ada lagi
- orang yang benar-benar beriman.
- Ini contohnya saja ya.
- Ini memang perdebatan.
- Tapi kita tidak mau masuk ke perdebatan
- nya.
- Karena orang seringkali
- lidahnya kotor.
- Ini tentang yang benar. Persis seperti
- bapak ibunya Felix Siauw.
- Walaupun Katolik, tapi mendukung dan
- mendanai dakwahnya Ustad Felix Siauw.
- Ini enggak bisa dipungkiri. Soal itu
- urusan kepada Allah Ta'ala. Kita enggak
- perlu bahas-bahas nanti gimana nasib
- bapak dan ibunya. Ini urusannya kepada
- Allah. Jangan kita vonis bahwa si A, si
- B masuk neraka. Termasuk ada orang
- berani vonis
- berani bertanya, berani menulis buku
- tentang bapak ibunya Rasulullah berada
- di neraka.
- Ini benar-benar kalau buat saya ini
- kurang ajar kepada Nabi.
- Ada perasaan apa sih?
- Kita juga seandai kata
- ini Mas Zulfikar ya
- punya bapak ya, katakan umpamanya dia
- apa, awalnya non muslim.
- Kemudian masuk Islam. Kalau umpama saya
- mengatakan Bapak Ibu ente di neraka lu
- lagi di azab oleh Allah Ta'ala.
- Ini saya kira menyakiti.
- Ya, menyakiti saudara saya. Jangan
- bahas-bahas ke situ, ke situ. Jadi kita
- sudah apa beliau sudah masuk Islam sudah
- bagus, jangan sentuh-sentuh lagi itu
- urusan kepada Allah.
- Apalagi ini Nabi Muhammad yang
- sedikit-sedikit kalau mencontohkan orang
- kafir yang disebut Abu Thalib, padahal
- Abu Jahal ada. Abu Lahab ada, ada ayat
- Qur'an berbicara tentang orang kafir
- contohnya Bapak paman nya Rasulullah,
- Ibu Bapak nya Rasulullah. Ini saya kira
- ada ada kebencian apa ya, ada perasaan
- apa yang ada di hatinya sehingga yang
- disebut-sebut itu terus.
- Ini langsung saja, ini Abu Abu Abu Abu
- Lahab.
- Abu Lahab orang yang jelas-jelas kafir
- ini.
- Enggak seperti Abu Thalib, ya. Yang
- memang dia beriman
- tapi tidak menampakkan keislamannya.
- Kalau Abu Lahab jelas di samping kafir
- memusuhi Nabi.
- Tapi
- ada surah yang namanya surah Al Lahab.
- Tabbat yada Abi Lahabi wa hab, Abi
- Lahabi wa tab.
- Ada seorang yang
- yang dia baca setiap sholat Dzuhur Abu
- Tabbat, nanti Ashar Tabbat lagi terus
- seumur hidup bacaannya Tabbat enggak
- kayak enggak ada surah lain aja.
- Kan surah lain selain selain Tabbat kan
- banyak.
- Tapi Tabbat terus-terusan dibaca, habis
- Fatihah Tabbat lagi, naik rakaat kedua
- Tabbat lagi.
- 17 rakaat dalam sehari Tabbat doang
- bacaannya dan itu bertahun-tahun dia
- baca.
- Akhirnya pada suatu hari dia mimpi.
- Mimpi ketemu Nabi tapi Nabi melengos,
- Nabi buang muka.
- Ya.
- Nah, jadi ini menampakkan apa
- menunjukkan bahwa
- jangan lagi kita sentuh-sentuh.
- Jadi termasuk Abu Lahab sendiri sudah,
- Allah sudah laknat. Kita
- ikutin saja. Kita mau baca, silakan.
- Jadi, jangan kita tambah-tambahkan. Nah,
- apalagi ini soal Abu Thalib yang saya
- ngeri dengarnya. Sebentar-sebentar orang
- melaknat Abu Thalib.
- Bahkan ibu bapaknya nabi di neraka. Ini
- ada kebencian apa gitu ya?
- Ini seandai kata nabi masih ada, ini
- seandai kata
- entah apa yang terjadi.
- Nah, jadi sudah meninggal saja,
- Rasulullah sudah enggak ada, itu pernah
- orang bermimpi
- orang yang
- sebentar-sebentar baca
- Tabbat yada Abi Lahabi wa tab.
- Dalam salat hanya itu seumur hidup.
- Nah, jadi ini Abu Thalib termasuk orang
- yang tidak mengucapkan, tapi
- dalam akidah ahli sunnah wal jamaah
- saya dari kecil
- saya hidup di pengajian
- saya hidup di ustaz-ustaz, kiai-kiai
- Betawi, di habib-habib Betawi,
- Saya enggak pernah mendengar dari dan
- termasuk buku-buku yang saya baca
- jadi akidah kita hanya mengatakan Abu
- Thalib mukminun
- walakin yakhtumu islamma. Dia seorang
- mukmin, tapi dia menyembunyikan
- keimanannya karena situasi yang terjadi
- pada saat itu. Seandai kata dia
- menampakkan keislamannya, pasti eh
- orang-orang kafir
- akan lebih konyol lagi sikapnya kepada
- Nabi Muhammad. Nah, itu merupakan
- strategi Abu Thalib dalam melindungi
- keponakannya.
- Nah, silakan dibaca lagi eh termasuk eh
- seorang ulama besar menulis buku yang
- judulnya Asnal Mathalib fi Najati Abi
- Thalib. Nah, beliau sangat eh
- luas dalam masalah ini ya.
- Nah, jadi jangan lagi di antara kita dan
- termasuk nanti jangan ditanyakan lagi.
- Enggak perlu ya. Jadi, saya tutup
- masalah ini, jangan ditanyakan lagi Abu
- Thalib menurut akidah ahli sunnah wal
- jamaah, bukan menurut saya. Menurut
- akidah ahli sunnah yang saya pelajari
- dari kecil, ulama-ulama yang saleh,
- buku-buku yang baik, yang jujur adalah
- Abu Thalib mukminun Quraisyiyun seorang
- mukmin walakin yak tumu Islam, cuma dia
- tidak menampakkan atau menyembunyikan
- keislaman beliau.
- Nah, adapun hadis-hadis yang berbicara
- tentang Abu Thalib, nah silakan dibahas
- di buku tersebut.
- Kemudian berikutnya
- ini hadis yang pendek, kita baca
- ruya an Rasulillahi sallallahu alaihi
- wasallam iyyakum wa ma yu'tadzaru minhu
- iyyakum hati-hatilah kalian
- jangan sampai melakukan sesuatu
- yang
- nantinya orang lain akan mengatakan ya
- maklum deh
- ya memang dia orang rada-rada
- memang dia rada memang dia kita tahu
- enggak bisa apa-apa
- yang namanya orang susah
- itu jangan sampai
- kita melakukan
- perbuatan
- yang sebenarnya perbuatan itu
- enggak pantas dilakukan
- bisa menyebabkan orang marah
- yang akhirnya
- orang
- yu'tadzaru ya
- jadi orang memaklumi kita ya maklum deh,
- yang namanya anak papa maklum deh nama
- juga begini
- itu termasuk saya sering
- berhadapan dengan orang-orang seperti
- itu
- jadi akhirnya saya mendengar ya maklum
- deh
- memang sudah rada-rada, memang orang
- kurang, memang orang sudah
- apa
- error
- itu seringkali kita mendengar
- nah, jadi jangan ini pesan ya
- walaupun hal itu dibolehkan
- tapi
- tidak pantas dilakukan.
- Jadi jangan sekali-kali kita melakukan
- sesuatu yang mengundang cemooh
- yang mengundang tuduhan
- yang mengundang apa? Menyebabkan
- provokasi.
- Jangan sekali-kali. Walaupun, ini
- walaupun.
- Itu diperbolehkan. Ini contoh. Katakan
- saya tinggal di sekitar sini.
- Ya.
- Tahu-tahu
- banyak mungkin orang kenal saya di
- sekitar sini.
- Tahu-tahu ada wanita cantik di sini,
- saya nikahi diam-diam.
- Sah, enggak apa-apa.
- Saya jalan berdua, saya gandengan
- tangan, toh istri saya enggak masalah,
- sah dong, enggak dosa, enggak dilarang
- oleh agama.
- Tapi masyarakat sini enggak ada yang
- tahu kalau itu sudah
- jadi istri.
- Sudah sah.
- Ini juga masih dilarang.
- Apalagi nanti saya masuk ke satu rumah.
- Orang tahu, orang enggak tahu kalau saya
- sudah menikah.
- Walaupun itu istri saya, tapi orang
- enggak tahu. Nah, perbuatan saya ini
- mengundang cemooh, menyebabkan orang
- berdosa.
- Itu juga jangan. Sampai kata Nabi, "Man
- waqofa mauqifa tuhmah." Orang yang
- melakukan sesuatu tapi mengundang
- cemooh
- mengundang kontroversi, mengundang
- tuduhan
- "Fala yalumannan illa nafsah." Jangan
- salahkan orang lain yang menuduh, tapi
- salahkan diri Anda sendiri.
- Karena kita melakukan sesuatu yang
- memang
- orang tahunya bukan suami istri.
- Nah, makanya i'lan ya harus ada
- pemberitahuan bahwa saya sudah menikah.
- Walaupun dengan acara sederhana, cuma
- tahlilan lah.
- Cuma kiri kanan saya undang, toh nanti
- juga menyebar.
- Ya.
- Nah, jadi iyyakum wa ma yu'tadzaru
- minhu, jangan sekali-kali Anda, kalian,
- kita semua melakukan sesuatu
- yang akhirnya ujung-ujungnya orang
- maklumin kita. Udah deh, maklumin
- namanya orang error.
- Kan enggak enak kita di kata seperti
- itu. Ya, maklum deh, emang udah error
- tuh manusia.
- Karena perbuatannya seperti itu
- terus-menerus.
- Nah, ini pesan yang luar biasa dari
- Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
- Jadi, nanti
- ini merupakan parameter ya.
- Tolak ukur.
- Kapan dan di manapun juga kita hidup,
- kita tinggal, kita bermasyarakat
- hati-hati. Manusia enggak ada yang sama.
- Yang sebaik sama kita juga bisa berubah
- nanti sewaktu-waktu. Kawan bisa jadi
- musuh, musuh bisa bisa jadi kawan.
- Yang baik bisa jadi benci, kebencian
- bisa jadi kebaikan dan sebagainya. Itu
- semuanya enggak ada yang mustahil.
- Nah, oleh karena itu
- kita melakukan sesuatu hati-hati.
- Jangan sampai mengundang cemooh dan
- tuduhan yang akhirnya menjatuhkan nama
- baik kita sendiri.
- Jadi, ini paling susah kita jaga
- kehormatan, jaga nama baik. Ini termasuk
- saya.
- Ini kita biasa berhadapan dengan orang
- banyak.
- Namanya manusia, enggak ada yang sama.
- Bahkan saya bilang yang error juga ada.
- Saya bicara ke mana, dia pahamnya ke
- mana.
- Pernah dulu.
- Saya mungkin ini orang punya niat yang
- tidak baik atau mungkin orangnya error.
- Ya.
- Enggak nyambung.
- Pernah ada kasus
- di satu tempat
- di lingkungan tempat saya mengajar.
- Ada seorang meninggal dunia.
- Jadi, satu rumah ini beberapa keluarga.
- Katakan ada lima keluarga.
- Yang satu muslim,
- salah satu anaknya ya. Ibu bapaknya non
- muslim, anak-anak yang lain juga non
- muslim, tapi satu ada yang masuk Islam.
- Kemudian yang muslim ini meninggal
- dunia.
- Meninggal dunia,
- ini saya anggap masih bagus.
- Saudara-saudaranya
- atau keluarga besarnya
- minta jamaah pengajian, jamaah mushola
- untuk mendoakan si muslim tersebut di
- rumahnya. Jadi diundang jamaah mushola,
- jamaah itu diundang,
- walaupun saya enggak tahu.
- Kemudian setelah terjadi, saya ditanya,
- "Ustaz, boleh enggak
- tahlilan di rumah orang Katolik?"
- Saya tanya lagi,
- "Permasalahannya seperti apa dulu?"
- Saya enggak berani memutuskan boleh atau
- enggak boleh.
- Kemudian dijabarkan begini begini
- begini. Oh, saya katakan boleh, enggak
- masalah. Karena yang kita doakan siapa?
- Yang kita doakan si muslim.
- Cuma tempatnya saja di rumah keluarga
- yang memang
- non muslim. Hanya dia yang muslim. Jadi
- kita tujuan, tujuan bacaan ke siapa?
- Jadi bukan bicara tempat.
- Saya katakan boleh.
- Nah, ternyata memang
- mungkin dia punya tujuan yang kurang
- baik atau saya bilang error.
- Kita enggak bisa sembarangan bicara
- ternyata. Ini pelajaran juga buat saya.
- Ternyata disebarluaskan kata-kata saya,
- omongan saya. Tuh lihat tuh, ustaz apaan
- kayak begitu.
- Doain orang non muslim masih boleh.
- Ah, dari sejak itu ini pelajaran banget,
- pukulan berat buat saya.
- Nah, ternyata masih ada di tengah-tengah
- masyarakat orang yang
- seperti itu. Jadi kapan dan di manapun
- juga tetap manusia enggak ada yang sama
- hatinya,
- keadaannya juga, kemudian nalar mereka
- juga belum tentu sama.
- Inilah yang paling sulit buat saya
- menyesuaikan diri di tengah-tengah
- masyarakat.
- Para pendengar, pemirsa TV Rasail
- yang dirahmati Allah,
- itulah beberapa hadis
- ya kita bahas pada siang hari ini.
- Semoga manfaat buat kita semuanya.
- Hadanallahu iyyakum ajma'in.
- Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.