Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz Husein, Ustaz Abu Bakar, dan
- ikhwan akhwat di manaun radio
- silaturahim bisa disimak. Alhamdulillah
- wasyukurillah kita dikaruniai kesempatan
- berada bersama-sama di psikologi
- keluarga penggal acara yang
- mudah-mudahan mempersuasi kita dan
- menjadikan kita sosok yang memang sangat
- diperlukan oleh anak-anak bukan hanya
- buah hati kita, tetapi juga anak-anak
- bangsa ini. Tidak lupa salam selawat
- kita lantunkan untuk junjungan umat
- kekasih kita Muhammad Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak
- kita mendapatkan syafaat beliau dan
- dipertemukan dengan beliau di saat-saat
- yang sangat kita rindukan di yaumil
- akhir. Ikhwan akhwat, seperti biasa
- sebelum kita mulai kita akan
- bersama-sama membaca ummul kitab.
- Silakan, Ustaz.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim
- maiki yaumiddin
- iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'
- ihdinasirathal
- mustaqimathalladzina
- giril magdubi alaihim
- wadin.
- Amin.
- Ikhwan akhwat, ustaz, hari ini ada dua
- kasus yang masuk ke acara psikologi
- keluarga yang disampaikan oleh
- sahabat-sahabat kita, akhwat yang memang
- perlu mendapatkan persuasi ini. Yang
- pertama, kami sedang menghadapi suatu
- masalah, Ustaz, dari seorang wanita.
- Kami berdua suami istri sudah 7 tahun
- menikah sampai saat ini belum dikaruniai
- seorang anak pun. Tapi kami berdoa
- semoga Allah karunia. Yang menjadi
- masalah, Ustaz, apakah kalau kami
- memungut seorang anak menjadi anak
- angkat atau suami saya menikah lagi saja
- untuk mendapatkan seorang anak? Nah,
- ketika suami ditawarkan nikah lagi, dia
- mengatakan, "Enggak perlu." Saya jadi
- ragu, Ustaz. Apa benar dia enggak mau
- atau malu mengatakannya? Jadi, bagaimana
- Ustaz, kami mohon penjelasan terkait
- dengan anak angkat atau biarkan dia
- menikah lagi. Kemudian kasus yang kedua,
- seorang istri yang merasa sedih
- berkepanjangan karena suami tidak pernah
- menafkahi keluarga. Dia merasa rumah
- tangga sudah cukup karena saya bekerja.
- Tapi dengan saya bekerja kan saya jarang
- berada di rumah sepanjang hari,
- ninggalin rumah, ninggalin anak-anak.
- Jadi, Ustaz, waktunya anak sekolah saya
- titipkan ke pesantren. Anak saya enggak
- cuma satu, tapi semua saya titipkan ke
- pesantren. Dan sampai mereka dewasa
- selesai SMA tingkatannya. Terus terang
- saya merasa bersalah sih, tidak
- membesarkan mereka di rumah. Tapi karena
- harus bekerja kan anak harus mendapatkan
- pendidikan yang baik dan di pesantren
- itu insyaallah, Ustaz. Alhamdulillah
- anak-anak saya menjadi anak yang baik,
- taat kepada Allah. Pertanyaan saya kalau
- kondisi seperti ini dengan suami yang
- seperti itu lama-lama di usia yang sudah
- lansia ini, saya kok merasa enggak
- bahagia ya? Sepertinya semua pernikahan
- jadi tanggung jawab saya dari dulu
- begini dan sekarang setelah tua. Saya
- merasa ada tidak ikhlas nih, Ustaz. Jadi
- ada kesal juga sama dia yang sampai
- sekarang tetap saja tidak pernah
- memberikan uang sedikit pun untuk
- keluarga.
- Apakah begitu ruginya perempuan yang
- bekerja, Ustaz? Apa sebaiknya perempuan
- itu memang di rumah saja? Besarkan
- anak-anak. Ya ampun, Ustaz. Mohon
- penjelasannya bagaimana melegakkan
- perasaan saya yang semakin ke sini
- semakin merasa
- dimanfaatkan begitu dan terima kasih
- Ustaz atas bantuannya. Iya itu dua kasus
- Ustaz.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin hamdan
- katsiron thayyiban mubarokan fik
- yuhibbu.
- Allahumma sholli ala muhammadin wa ali
- Muhammad. Allahumma atina minika rahmah
- waimna min ladunka ilman nafi wafana
- bima.
- Alalamualaika ya Rasulullah.
- Assalamualaina wa ala ibadillah shihin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Seorang wanita menikah dengan seorang
- pria
- selama 7 tahun, tapi belum dikaruniai
- seorang anak.
- Di sisi yang lain
- sebagian orang dikaruniai banyak anak,
- tapi mereka mengeluh.
- Mereka mengeluhkan
- anak yang banyak tersebut menjadi beban
- buat diri.
- Ini merupakan cobaan yang Allah
- Subhanahu wa taala berikan kepada masing
- dan bukan hanya ibu dan suami ibu yang
- dicoba, tapi Nabi Ibrahim juga hingga
- hari tua baru mendapatkan anak. Begitu
- juga Nabi Allah Zakaria. Oleh karena
- itu, jangan sekali-kali ibu berkecil
- hati.
- Berdoalah seperti doanya Nabi Allah
- Zakaria.
- Mohon pada Allah untuk dianugerahkan
- keturunan yang saleh yang akan menjadi
- penyejuk hati ibu di dunia dan kelak di
- hari akhirat nanti akan menjadi
- anak-anak yang akan membahagiakan ibu
- atau menjadi penyebab ibu mendapatkan
- kebahagiaan yang sempurna di hari akhir
- bersama.
- Ibu pernah menawarkan kepada suami untuk
- menikah lagi.
- Hal ini menunjukkan kebesaran hati ibu.
- Tapi kalau suami menolak, ibu tidak
- perlu
- bercuriga. Apakah dia malu
- atau ibu mendesak dirinya karena dia
- lebih tahu tentang kemampuannya.
- Karena beristri dua juga bukan merupakan
- satu hal yang mudah. Di mana potensi
- konflik pasti akan lebih apa? akan lebih
- besar.
- Seorang yang menikah lebih dari satu
- bukan bertanda bahwa dia lebih bahagia
- dibandingkan orang yang beristri satu.
- Tidak. Tapi cobaan yang akan bertambah.
- Apakah dia sanggup untuk bisa menegakkan
- keadilan?
- Apakah dia justru terpelanting atau
- terombang-ambing di tengah-tengah
- kebingungan? Jadi, ibu tidak perlu
- mendesak suami,
- tapi ibu bersama suami berdoa agar Allah
- sempurnakan kebahagiaan.
- Ibu bersama suami, karuniakan anak,
- jadikan mereka anak-anak yang saleh yang
- kelak akan membawa kebahagiaan dunia dan
- akhirat bagi Bapak dan adapun kalau Ibu
- ingin mengangkat anak, kalau seandainya
- anak laki-laki
- hendaknya anak laki-laki tersebut dari
- keluarga ibu yang merupakan muhrim.
- Contohnya anak dari saudara ibu, anak
- dari saudari ibu ya supaya dia menjadi
- muhrim hingga hari tua. Tapi kalau anak
- perempuan hendaknya diambil dari ponakan
- suami. Artinya dari orang yang muhrim
- bersama suami. Hingga di saat anak
- tersebut dewasa tidak akan timbul
- persoalan-persoalan
- yang tidak menyenangkan.
- Dan mudah-mudahan dengan ibu mengangkat
- seorang anak, Allah mudahkan untuk
- mendapatkan anak. Wallahu fi aunil abdi
- makal abdu fiuni aki. Allah akan selalu
- menolong hambanya selagi hambanya juga
- suka menolong sesamanya.
- Dan banyak kejadian banyak kejadian kita
- jumpai. Orang lama tidak mendapatkan
- anak. Begitu dia mengangkat anak, Allah
- anugerahkan baginya anak. Bahkan bukan
- hanya satu, tapi Allah anugerahkan
- baginya anak yang cukup banyak.
- Jadi yang paling penting dalam
- menghadapi situasi ini, Ibu dengan
- ikhlas menerima
- ketentuan Allah Subhanahu wa taala
- sambil mengharapkan rahmatnya,
- karunianya agar dianugerahkan
- keturunan yang saleh ya, yang dapat
- membawa dan menyempurnakan
- kebahagiaan ibu dunia maupun akhirat.
- ini yang paling dan jangan pernah
- berkecil hati. Jangan pernah berkecil
- hati
- karena belum mendapatkan anak. Ada yang
- sudah 20 tahun tidak mendapatkan anak,
- Allah anugerahkan baginya.
- Tapi yang paling penting
- bukan adanya anak, tidak adanya anak.
- Yang penting bagaimana suami sama ibu
- selalu dalam ketaatan Allah, keikhlasan
- kepadanya.
- Dunia yang luput yang tidak kita mampu
- gapai bisa digantikan di hari akhirat.
- Asal kita beriman bertakwa, tapi agama
- kita, ketakwaan kita, akhirat kita yang
- luput tiada gantinya. Jadi hendaklah ibu
- berlapang dada menerima, tidak perlu
- mendesak. Kalau ibu melihat suami ibu
- berminat untuk berumah tangga, ibu juga
- harus siapkan diri ibu. Kira-kira Ibu
- bagaimana berhadapan dengan situasi yang
- baru?
- Pasti kecemburuan akan muncul. Oleh
- karena itu, harus kalau seandainya harus
- terjadi mencari pasangan yang bisa
- memahami
- kebesaran hati ibu.
- Pasangan yang taat dan takut kepada
- Allah hingga dia tidak berbuat kezaliman
- dan menimbulkan persoalan di belakang.
- Adapun berkaitan dengan kasus kedua,
- suami istri yang sudah cukup lama
- berumah tangga memiliki beberapa anak,
- tapi yang mencari nafkah yang bekerja
- ibu.
- Karena dia mencari nafkah tidak mampu
- untuk merawat anaknya dengan baik.
- Sedangkan suaminya hanya menonton dan
- berpangku tangan. Mendidik anak tidak,
- memberikan nafkah tidak, hingga ibu bisa
- memberikan waktunya untuk anak-anak.
- Maka ibu memilih untuk memasukkan
- anak-anaknya ke dalam pesantren.
- Alhamdulillah anak-anaknya menjadi orang
- yang taat. Karena daripada tinggal di
- rumah,
- tidak memiliki idola yang baik, dia
- menjumpai orang tua laki-laki yang tidak
- bertanggung jawab, dia akan
- mengakibatkan nanti akhirnya menimbulkan
- penularan
- dari bapak yang tidak bertanggung jawab
- kepada anak-anak yang tidak bertanggung
- jawab. Karena anak pada saat tumbuh yang
- jadi idola itu selalu orang tuanya.
- Dan dia menganggap perbuatan orang
- tuanya benar walaupun salah. Tapi dengan
- belajar di pesantren,
- mempelajari nilai-nilai Islam, berakhlak
- baik, dia tahu bahwa selama ini ibunya
- yang bersusah payah berjuang untuk
- merawat mereka, sedangkan ayahnya kurang
- mempunyai tanggung jawab. Jadi
- sebetulnya peran ibu sekarang ini ibu
- sebagai ibu juga, sebagai suami juga,
- ibu merupakan pahlawan yang maka
- di hadapan ibu ada dua pilihan. Yang
- pertama ibu bersabar.
- menerima ya tugas amanat yang mulia
- tersebut. Berarti ibu mendapatkan dua
- janji Allah sebagai istri, sebagai
- suami.
- Ibu mendidik, membesarkan anak-anak dan
- pasti di sisi Allah balasannya berbeda.
- Di hadapan anak-anak juga ibu merupakan
- pahlawan bagi mereka. Sedangkan sang
- ayah yang tidak bercocok tanam, tidak
- bekerja, dia yang akan mengalami
- kerugian. Nah, Ibu bersabar bersama dia
- karena bagaimanapun juga Bapak ini
- merupakan bapak dari anak-anak Ibu.
- Kalau terjadi pergesekan, perpisahan,
- pasti juga akan menimbulkan perasaan
- tidak nyaman.
- Apalagi sudah di hari tua.
- Jadi, ibu tidak perlu berkeluh kesah,
- tidak perlu menyesali, tapi ibu
- siap-siap untuk menerima karunia dari
- Allah yang tak terhind.
- Ibu dibantu oleh Allah, alhamdulillah
- bisa mencari nafkah, memberikan e
- kebutuhan buat anak-anak. Ini bukan
- merupakan pekerjaan yang kecil.
- Sedangkan suami jangan karena
- perbuatannya ibu mengalami kerugian
- melakukan reaksi yang ini pilihan
- pertama. Pilihan yang kedua, kalau ibu
- merasa bahwa tidak nyaman lagi bersama
- suami karena dia tidak memberikan nafkah
- bertanggung jawab, ibu berhak untuk
- menuntut pisah daripadanya.
- Tapi pertimbangkan kira-kira mana yang
- lebih nyaman buat ibu. Masih ada suami
- di samping ibu walaupun suami tersebut
- merupakan suami tanpa daksa
- atau ibu merasa lebih nyaman tanpa
- suami? Ibu pilih, ibu istikharah. Kalau
- ibu merasa walaupun kurang lebihlah
- adanya suami di rumah paling tidak
- menjadi centeng. Walaupun tidak bisa
- memberikan nafkah menjadi centeng
- menjaga kehormatan ibu.
- Atau ibu merasa tiap memandang dia, ibu
- merasa jengkel, muak, melihat laki-laki
- yang tidak bertanggung jawab hingga
- membuat ibu akhirnya resah, takut kalau
- sampai ibu tidak menerima ketentuan
- Allah. Bisa berpisah tapi pertimbangkan.
- Karena banyak perempuan-perempuan
- saya jumpai di hari tua, begitu berpisah
- dengan suaminya, dia merasakan
- kekosongan. Walaupun suaminya sebetulnya
- tidak memberikan apa-apa,
- tapi paling tidak dia merasa ada sesuatu
- yang terisi walaupun tidak sempurna. Maa
- yudrakullah la yudrakullu. Yang tidak
- bisa digapai semuanya paling tidak apa?
- Paling tidak jangan sampai kehilangan
- semuanya. Tapi ibu harus ingat dengan
- perjuangan ibu kalau ibu ikhlas dan
- rida, ibu mendapatkan pahala yang tak
- terhingga dari sisi Allah Subhanahu wa
- taala. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa
- taala sempurnakan kebahagiaan dua
- penanya sama masing-masing suaminya.
- Allah berikan karunia anak bagi yang
- pertama. Dan Allah bahagiakan ibu dengan
- anak-anak ibu menjadi anak-anak yang
- saleh, mendapatkan pasangan yang saleh,
- memiliki keturunan dan cucu yang saleh
- yang tidak serupa suami ibu yang kurang
- tanggung jawab.
- Masyaallah. Jadi ikhwan akhwat
- dari dua kasus ini bekerja sepenuhnya
- atau jadi ibu rumah tangga saja
- atau dari rumah tapi mendapatkan
- penghasilan tambahan kalau seandainya
- memang keuangan keluarga seperti itu.
- Belum lagi tadi soal yang kita dengan
- kesulitan memiliki keturunan ya. Tapi
- seperti yang kita dengar dari Ustaz
- Husein, segala sesuatunya
- tidak mungkin tidak bisa kita lalui
- selagi ada Allah. Lantas kira-kira apa
- nih yang akan didengar
- dari Ustaz atau Bapak Abu Bakar Baraja?
- Yuk, kita simak.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Alhamdulillah,
- segala puji dan syukur kita panjatkan
- kepada Allah.
- Nikmat yang selalu diberikan
- akan menggantikan segala sesuatu yang
- meresahkan.
- Nikmat yang datang kepada diri kita
- menjadikan ketenangan hidup kita.
- Rahmat-Nya
- akan memberikan
- berbagai macam ketentuan yang kita
- lakukan.
- Jadi apagi yang kita akan lakukan?
- Semua yang diberikan Allah selalu
- menyenangkan.
- Apalagi yang kita tunggu
- sesuatu yang datang
- pasti ada sesuatu yang menyenangkan.
- Ketika
- kita
- berhadapan dengan seseorang,
- maka orang itu akan menjadi baik.
- orang itu akan menjadi baik dan
- menyenangkan.
- Kenapa kok kita bisa katakan menjadi
- baik? Karena perbuatan kita
- menjadi baik. Karena perbuatan kita itu
- baik. Ketika perbuatan kita baik, pasti
- akan menjadi baik dalam kehidupan.
- Tidak akan mungkin sesuatu itu bergerak
- dengan sendirinya. Tapi ada yang
- mengatur. Siapa itu? Allah.
- Allah yang mengatur kehidupan diri kita.
- Begitu juga
- bagaimana
- kedua suami istri yang menikah.
- Ketika dia menikah, tentu di situ ada
- harapan.
- Bagaimana dia mengharapkan seseorang
- yang muncul.
- Harapan itu adalah ketentuan.
- Karena segala sesuatu itu ada
- ketentuannya.
- Maka kita berharap kepada Allah, kita
- berdoa kepada Allah, kita berjanji
- berbagai macam untuk mendapatkan
- apa yang diberikan kepada kita.
- Pastikan Allah akan memberikan
- Allah akan memberikan
- jika
- kitanya baik. kitanya sempurna.
- Setelah kita persoalkan
- ternyata ada beberapa
- ketentuan yang tidak diizinkan untuk
- bertemu. Mengapa?
- Apa yang terjadi ketika itu
- tidak terjadi?
- Loh, kok bisa tidak terjadi?
- Karena keduanya ada sesuatu yang tidak
- perlu.
- Di sini kita perlu perhatikan
- bahwa suami istri itu bertemu pasti dia
- pasti punya anak.
- Namun saat ini kita tidak punya anak.
- Kita berdoa belum punya anak. Kita
- meminta belum diberikan
- karena Allah yang menentukan.
- Jadi kita sebagai seorang
- yang mampu melaksanakan,
- yang bisa memperbuatkan
- di sini kita menentukan bagaimana kita
- akan melakukannya.
- Nah, ketika kita bersuami istri pasti
- akan ada sesuatu yang kita peroleh, kita
- dapatkan, namun hasilnya nol. Tidak.
- Tidak.
- Kalau kita berpikir
- mau 7 tahun, 8 tahun, 10 tahun, 12
- tahun, ada yang 12 tahun tiba-tiba dia
- mempunyai anak.
- Ada yang 6 tahun tiba-tiba dia punya
- anak.
- itu yang penting
- loh. Tapi kan saya belum tentu, saya
- belum periksa, maka periksa dulu. Kalau
- dulu tidak ada tempat bagaimana meriksa,
- sekarang periksa dulu apakah kita cocok
- suami istri ini benar cocok.
- kita periksa dulu.
- Nanti ketika periksa insyaallah akan
- ditentukan oleh Allah.
- Nah, kemudian kita mengharapkan
- apakah kita mempunyai anak pungut atau
- suami menikah lagi.
- Coba kita pikirkan anak mungut, anak
- angkat.
- yang sudah dijelaskan
- bahwa anak angkat itu perempuan dari
- pihak laki-laki, laki-laki dari pihak
- wanita. Itu agar supaya mukhrimnya
- jelas. Sudah kita pastikan. Nah, kalau
- kita angkat kita itu baik.
- Itu baik.
- Kalau kita angkat untuk menghidupkan
- baik, bukan dari mana kita ambil, tidak.
- Kita lihat situasinya kalau anak itu
- kurang baik, kita angkat atau kita piara
- anaknya
- di rumah,
- insyaallah akan menjadi baik.
- Insyaallah akan menjadi baik. Nah, kalau
- suami disuruh menikah lagi,
- apakah kita benar-benar melepaskan itu?
- Apakah kita tidak mengkhawatirkan?
- Kita mengkuhawatirkan terjadinya
- sesuatu? Tidak.
- Karena saya ikhlas untuk suami menikah
- lagi.
- Apakah suami
- malu atau enggak bisa atau apa tidak?
- Dia tidak mengatakan itu. Nanti kalau
- dia mau dia akan lakukan. Kalau dia
- belum ya tidak perlu.
- Jadi bagaimana dong?
- Yang paling penting di sini, mari kita
- bersama-sama
- menerima.
- Menerima ini apakah kita punya anak
- angkat, apakah suami menikah lagi atau
- keduanya tidak ada. Kita hidup bersama.
- Menerima sesuatu yang diberikan Allah.
- Yakinkan bahwa sesuatu itu baik. Baik
- kita berdua saja insyaallah akan menjadi
- lebih
- banyak yang kita ceritakan. Banyak
- orang-orang yang 20 tahun dia berjuang,
- dia melakukan dia tidak punya anak.
- Namun tiba-tiba dia punya anak.
- Ada anak yang 4 tahun sudah gelisah,
- sudah berobat ke sana, berobat ke sini,
- berobat ke sana, tidak dapat.
- Tapi ketika dia lepaskan
- saya serahkan kepada Allah. Saya terima
- semua ini. Saya yakinkan bahwa saya akan
- berhasil. Teruskan. Enggak, enggak lama
- sedikit lagi dia mempunyai anu.
- Jadi bagaimana dong? Karena apa yang
- terjadi
- itu dari Allah. Yakinkan bahwa Allah
- yang mengeluarkan dan menentukan.
- Yakinkan bahwa Allah yakin. Maka kita
- minta sama Allah.
- Jadi
- apapun yang kita inginkan, pastikan
- bahwa Allah pasti bisa melakukannya.
- Kalau kita yakin kepada Allah pasti bisa
- insyaallah ya. Oke.
- Dan yang kedua,
- seorang istri
- di mana dia bekerja
- mencari nafkah, suaminya tidak bekerja,
- suaminya hanya duduk-dudukan saja.
- Ya, kalau dia ada proyek-proyek sedikit,
- diambil
- proyek-proyek sedikit. Kalau enggak dia
- tenang saja.
- Suaminya
- pendiam.
- Dia melakukan sesuatu punya anak tiga,
- empat.
- Si istri bingung. Nah, kalau saya mau
- bekerja nanti anak-anak bagaimana? Maka
- setelah SD dimasukkan ke pesantren.
- Jadi anak-anak itu dipesantrenkan hingga
- SMA.
- Anak-anak itu dipesantrenkan hingga ke
- SMA.
- No. Kalau dia masuk ke pesantren hingga
- SMA, jadi bagaimana hubungannya
- antara anak-anak dengan ibunya dengan
- bapaknya?
- Jadi, bagaimana hubungannya?
- Nah, ini yang perlu kita perhatikan.
- Apakah kita cuman bertemu
- sebulan,
- 2 bulan, 6 bulan sekali kita ketemu dan
- anak-anak itu di pesantren dan kemudian
- dia mulai besar. Bagaimana kalau dari SD
- dipesantrenkan?
- Itu yang perlu kita perhatikan.
- Benar di pesantren itu baik. Kalau di SD
- dari sampai SD antara anak dengan orang
- tua sudah cukup
- interaksinya,
- pertemuannya,
- komunikasinya
- sudah mengalami cukup,
- insyaallah
- boleh kita taruhkan ke pesantren
- karena dia sudah cukup.
- Tapi di SD ini tidak ada pertemuan.
- Datang pulang sekolah dia di rumah
- berbicara ke sana ya. Mamanya enggak
- tahu di mana.
- Mamanya pulang kerja, bapaknya juga
- bingung dia dudukkan aja.
- dan anak itu kesendirian disendiri
- dimasukkan ke pesantren.
- Akhirnya hilang
- karena dia tidak mendapatkan sesuatu
- sentuhan
- tidak mendapatkan sentuhan.
- Ketika dia dari SD dari 0 tahun sampai
- dengan 12 tahun, dia berkeceramah terus
- dekat sama ibunya, dekat dengan
- bapaknya, selalu bersama.
- Di sini yang namanya baik.
- dimasukkan pesantren boleh saja,
- tapi di SD enggak bisa pulang capek
- masak terus pergi lagi kerja pagi-pagi
- sudah mengerjakan sesuatu.
- Apa yang terjadi?
- Anaknya bengong.
- Di sini yang kita harus perhatikan
- bahwa anak itu 0 sampai 12 tahun
- sebaiknya
- ada di rumah.
- 0 sampai 12 tahun ada interaksi dengan
- orang tua
- sama mamanya berkomunikasi
- ada pelukan, ada sentuhan, ada
- komunikasi yang menarik.
- Hingga sampai 12 tahun dia sudah merasa
- nyaman, sudah merasa tenang. ketika itu
- dimasukkan pesantren. Baik.
- Tapi kalau misalnya 12 tahun masih
- pusing, mamanya mengatakan udah daripada
- dia enggak bisa dididik, dididikin aja
- di pesantren. Ini yang perlu
- diperhatikan.
- Apakah nanti setelah itu dia
- setelah SMA dia keluar dia baik,
- orangnya baik tapi hubungan interaksi
- kepada orang tua yang lemah,
- interaksi kepada orang tua yang lem.
- Nah, ketika itu kita perhatikan. Nah,
- pertanyaannya bagaimana saya lagi
- setelah saya sudah tua ini anak-anak
- semuanya sudah keluar dari pesantren dan
- hidupnya menyenangkan.
- Apa yang terjadi? Kok saya merasa resah?
- Coba kita perhatikan
- diri kita.
- Kita perhatikan diri kita. Kita dari
- awalnya bekerja dari anak masih kecil
- dari sampai besar kita bekerja. Setelah
- itu pensiun.
- Setelah saya pensiun bagaimana ini saya
- sendiri.
- Suami cuman duduk naruh. Kalau ada
- proyek dia datang. Kalau enggak ada
- enggak pernah memberikan uang. Enggak
- pernah beli ini buat beli itu. Tidak
- pernah. Kalau ada pun misalnya dapat
- proyek dikasih
- itu suami.
- Nah, sekarang istri sudah pensiun.
- Bagaimana?
- Tetapkan jadi seorang istri. Jadilah
- menjadi seorang istri. Kuatkan menjadi
- seorang istri. Selama suami tidak
- bertindak yang tidak baik, tetaplah
- menjadi seorang istri.
- Kalau suaminya dia tidak KDRT, tidak
- marah-marah, tidak main ke mana-mana,
- tidak ke sana, tidak ke mari, dia di
- rumah dekat dekat sama istrinya,
- membantu sedikit,
- insyaallah dia akan menjadi baik. Tapi
- ini tidak, cuma dudukkan aja.
- Jadi dengan teman dia ke sana ke musala,
- balik lagi ke masjid. balik tulang. Nah,
- di situ dia
- merasakan nyaman.
- Merasa nyaman. Kalau kita melihat
- seorang suami yang merasa nyaman, sudah
- biarkan itu suami.
- Kenapa kita kutak-katik? Kenapa dia
- enggak bekerja? Sudah kita hidup dengan
- apa adanya.
- Apa yang terjadi? Maka terjadi sudah
- kita hidup ngapain kita ber
- pusing-pusing
- merasakan bahwa oh suami saya begini,
- suami saya enggak bisa.
- Selama dia menjadikan orang yang baik
- insyaallah. Tapi kalau orangnya tidak
- baik maka jangan.
- Jangan kita ketika orang itu tidak baik.
- Kalau baik, insyaallah selamanya. Maka
- seorang istri itu sebaiknya terima,
- yakinkan kepada dirinya bahwa dia
- benar-benar
- menjadi seorang istri.
- Menjadi seorang istri yang benar-benar
- insyaallah. Oke.
- Jadi
- terima saja apa yang terjadi dalam rumah
- tangga kita selagi dia baik gitu. Mau
- nyari uang kek, mau enggak kek, mau apa
- kek, yang penting dia baik gitu ya. Gitu
- kan.
- Betul.
- Masyaallah. Allah akan kasih rezeki
- kepada kita. Kalau ada di antara ikhwan
- akhwat yang juga ingin mempertanyakan
- sesuatu terkait dengan masalah yang
- datang boleh WA ke 081199720
- ya bersama radio silaturahim insyaallah
- psikologi keluarga akan menjadi bagian
- dari perjalanan kita. Ada yang mau
- ditambahkan sebelum kita akhiri
- kebersamaan ini?
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Jadi kita pastikan
- apapun
- yang terjadi pastikan bahwa itu baik.
- Pastikan bahwa itu baik. Kejadian demi
- kejadian yang kita lakukan adalah baik.
- apapun yang kita lakukan pasti jadi
- baik.
- Diingat
- bahwa kita ingin menjadi tenang.
- Hidup ini menjadi tenang.
- Maka kita melakukan sesuatu yang baik.
- Ketika kita melakukan sesuatu yang baik,
- maka datang kebaikan demi kebaikan.
- Tidak mungkin kita melakukan kebaikan
- datang yang tidak baik. Tidak mungkin.
- Pastikan kalau kita melakukan kebaikan,
- pasti akan datang kebaikan lagi.
- Nah, hidup tenang itu karena adanya
- perbuatan baik, adanya perlakuan yang
- konsisten istiqamah.
- di mana perlakuan istikamah ini
- menjadikan diri kita tenang.
- Kenapa kok bisa istikamah tenang? Karena
- istikamah itu berjalan dengan tenang,
- dengan tertib, dengan sistematis.
- Karena istikamah itu adalah satu
- perbuatan yang kita tetapkan.
- Jadi istikamah inilah yang membuat
- ketenangan hati kita. Kita akan tenang
- sampai kapanpun kita akan tenang.
- Insyaallah.
- Insyaallah.
- Jadi kalau golden age atau usia-usia
- yang sangat penting itu anak harus
- bersama kita, mudah-mudahan bisa kita
- lakukan ya. Karena buah hati kita adalah
- sesuatu yang sangat-sangat
- kita dambakan setelah dewasa nanti gitu
- ya ceritanya. Senang sekali kita sudahi
- kebersamaan kita di psikologi keluarga
- dari Radio Silaturahim. Sekali lagi
- kalau ada yang ingin Anda tanyakan
- terkait dengan kasus yang di sekitar
- Anda, silakan WA ke 08
- 11199720.
- Sekali lagi terima kasih Ustaz Husein,
- Ustaz Abu Bakar dan semua yang berada
- bersama-sama kami. Billahi taufik wal
- hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.