Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Telah kita bersama simak kajian kitab
- Mukhtarul Hadits An Nabawiyah bersama
- Ustad Ahmad Zaki.
- Dan untuk yang sudah bergabung akan saya
- bacakan dan untuk Anda yang belum
- bertanya Anda bisa masih ada kesempatan
- untuk Anda bertanya di 08111999720
- ataupun di 0218451512
- untuk teleponnya.
- Dan saya akan membacakan SMS yang
- pertama Ustad, ini datangnya dari
- ee tidak mencantumkan nama ya. Oh Bapak
- Nurdin ya di Jakarta. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi.
- Assalamualaikum Pak Pak Ustad ini kalau
- memberi salam secara tertulis baik di
- dalam buku-buku, surat dinas, kata
- pengantar dan juga di media sosial
- gimana hukumnya? Sunnah kifayah atau
- fardhu kifayah Ustad?
- Ya.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Allahumma alhimna rusydana wa alimna ma
- yanfauna
- wa zidna ilman.
- Masalah
- salam.
- Ini sebenarnya sudah diatur ya dalam
- kitab-kitab fikih
- atau dalam hadits-hadits Rasul.
- Bahwa mengucapkan salam assalamualaikum
- dalam bentuk bahasa Arab tidak dirubah
- He. itu adalah merupakan sunnah.
- Sunnah.
- Tapi jadi memberi salamnya sunnah
- sedangkan menjawabnya hukumnya wajib.
- Ya.
- Itu
- hukum dasarnya. Ketika kita bertemu
- saudara kita yang satu akidah
- maka dianjurkan dan nanti juga ada
- syarat-syarat salam.
- Enggak boleh umpamanya ada wanita cantik
- kemudian kita beri salam itu memang
- menggoda.
- Kita tidak dianjurkan untuk memberi
- salam.
- Jadi memberi salam salam ini sunnah
- salam ini kebaikan tetap harus ada
- tempatnya bukan sebebas-bebasnya. Ya.
- Kalau memang sembarangan bukan pada
- tempatnya maka kita enggak enggak akan
- mendapatkan pahala bisa juga kita jadi
- dosa.
- Karena memang
- kita semata-mata ingin menggoda ada
- wanita cantik He. kita goda
- terus-terusan
- beri salam lagi beri salam lagi mungkin
- saja bisa dosa.
- Kita mempermainkan.
- Ya yang jelas salam itu ada aturannya
- tapi hukum dasarnya
- itu sunnah dan menjawabnya wajib.
- Adapun
- di surat-surat
- kalau memang
- seperti kita WA, kita SMS He. enggak
- apa-apa ya
- tetap hukum dasarnya berlaku.
- Ketika kita ingin ngundang dan lain
- sebagainya hukum dasarnya berlaku.
- Nah cuma kalau yang namanya surat-surat
- di kantor
- yayasan dan sebagainya yang memang
- ditujukan untuk umum
- kemudian juga pakai bahasa Indonesia
- boleh-boleh saja. Saya enggak mau
- mengatakan sunnah atau bukan sunnah tapi
- paling tidak hukumnya mubah boleh.
- Boleh. Karena ini pada umumnya dibaca
- atau berlaku untuk di luar kita juga
- bisa saja diterima oleh orang-orang yang
- beda akidah dengan kita.
- Itu semua bisa terjadi.
- Nah jadi yang hukum sunnahnya ini ketika
- kita bertemu sesama
- orang muslim dan lafadznya pun dengan
- bahasa Arab
- itu tetap hukumnya enggak berubah. He.
- Nah adapun kayak di WA, di surat-surat
- dan di manapun juga
- itu
- mungkin juga bisa sunnah tergantung
- orang yang kita
- tujukan. He.
- Nah jadi ini kembali lagi tapi paling
- tidak mubah.
- Ya.
- Jadi kembali kepada keadaan lagi.
- Jadi kita bisa melihat
- kita tujukan kepada siapa layak enggak
- He.
- salam ini kita tujukan kepada seseorang.
- Jadi semua hukum ini
- yaduru ma'al illah wujudan wa adaman
- hukum itu tergantung
- proses.
- Hukum itu tergantung perbuatannya. Nah
- bagaimana prosesnya? Terkadang juga yang
- namanya hukum ditentukan oleh tujuan.
- Jadi
- apa
- al hukum
- itu namanya
- erat kaitannya dengan al maqasid. He.
- Hukum sesuatu tergantung tujuan. Tujuan.
- Semua ditentukan dengan itu. Nah jadi
- salam juga ada yang
- haram bisa
- tergantung
- bagaimana
- jalannya.
- Kita tujukan kepada siapa termasuk
- bismillah juga
- hukum dasarnya sunnah
- tapi haram pun bisa kita membaca
- bismillah.
- Itu nanti semuanya tergantung
- wallahualam.
- Tergantung tujuan dan niat kita Ustad ya
- mungkin ya.
- Iya. Kadang juga di kayak di WA gitu ada
- yang salam itu singkat ASS kita jawab
- WSS gitu gimana Ustad?
- Singkatan-singkatan gitu.
- Kalau singkatan-singkatan
- ini semuanya sudut pandang fikih ya ada
- yang melarang He. dengan alasan-alasan
- tertentu ya.
- Jadi sebenarnya ini cuma sudut pandang
- fikih yang bisa saja antara Ustad yang
- satu dengan Ustad lain yang lain mungkin
- bisa beda pandangan. Tapi yang jelas
- kalau memang benar-benar dalam bentuk
- bahasa Arabnya itu terhormat enggak
- boleh kita andai kata ada di surat
- undangan
- tulisan yang dalam bahasa Arab
- assalamualaikum kemudian dibuang
- sembarangan sampai diinjak-injak orang
- itu pun kita berdosa. Adapun yang
- diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
- atau ditulis dengan bahasa Indonesia itu
- berbeda lagi. Maka
- kehormatannya pun berbeda. Jadi karena
- sudah bukan dalam bentuk aslinya
- termasuk Alquran He. andai kata surat
- Yasin dalam redaksi aslinya
- itu terhormat enggak boleh tapi andai
- kata Yasin saya tulis dengan Y A A A S I
- I I N He. maka enggak lagi muhtarom
- karena bukan dalam bentuk aslinya. Ya.
- Wallahualam.
- Ya semoga terjawab dan kembali ke SMS
- selanjutnya dari hamba Allah
- assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi. Saya mau bertanya Pak
- Ustad kalau uang yang saya terima untuk
- kebutuhan keluarga ternyata dari
- kesyirikan dan baru saya sadari setelah
- anak-anak dewasa bagaimana
- dan caranya untuk menghilangkan
- kemudaratan tersebut Ustad?
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Bertobat istigfar, menyesal enggak ada
- yang susah.
- Semua kita bisa salah bisa lupa
- dan
- bisa juga sesuatu yang bertahun-tahun
- kita lakukan tapi kita enggak tahu.
- Semua bisa terjadi.
- Apalagi ini di luar pengetahuan Ibu dan
- Ibu baru sadar setelah sudah sekian
- puluh tahun.
- Bagaimana apakah tobatnya Allah terima?
- Sudah pasti.
- Enggak ada yang susah bagi kita.
- Jadi kalau memang
- kita membiayai hidup rumah tangga kita
- dengan
- makanan, minuman dengan uang yang haram
- saat ini saya baru sadar
- yang pertama kita putus mata rantainya.
- Setelah kita sudah tahu oh ini barang
- haram oh ini sumbernya dari yang haram
- tutup sumbernya jangan sampai mengalir
- rumah kita, keluarga kita
- barang haram lagi.
- Jadi diputus yang pertama.
- Kemudian setelahnya diputus ini persis
- seperti
- seorang yang terkena penyakit kalau saya
- sakit
- faktor-faktor yang membuat saya sakit
- yang membuat saya batuk, yang membuat
- saya BAB dan sebagainya jangan saya
- konsumsi
- untuk sementara waktu.
- Kemudian
- setelah itu diobati.
- Begitu juga
- dengan kejadian yang dialami
- oleh keluarga Ibu.
- Jadi putus mata rantainya jangan terima
- lagi yang haram
- kemudian
- tobat kepada Allah subhanahu wa taala.
- Istigfar He.
- menyesal
- minta ampun terus-menerus.
- Cukup sampai di situ enggak ada yang
- sulit
- bagi Allah taala untuk mengampuni atau
- mengabulkan
- permohonan seseorang.
- Allah selalu membuka pintu tobat
- selebar-lebarnya.
- Apalagi setelah kita
- sadar kita menyesal kita menangis.
- Allah taala
- tawwabun rahim
- tawwabun hakim
- ghafurun rahim sami'un alim.
- Allah taala maha mengetahui maha
- mendengar maha penerima tobat.
- Jadi enggak ada dosa, kesalahan yang
- tidak dimaaf oleh Allah subhanahu wa
- taala
- kecuali kesyirikan
- yang memang kita lakukan dengan sengaja
- dan kita sudah tahu bahwa itu adalah
- kesyirikan.
- Tapi bagi orang yang belum pernah tahu
- syirik pun tetap Allah taala akan ampuni
- kecuali kalau kita kembali lagi
- mengerjakan setelahnya kita tahu.
- Begitu juga
- yang Ibu alami selama ini
- cukup Ibu menyesal Ibu tobat, istigfar
- dan putus mata rantainya
- jangan sampai mengalir lagi ke
- tubuh keluarga Ibu. Jadi bersihkan jadi
- semua lemak-lemak yang jahat, kolesterol
- yang kita enggak butuhkan, ketika kita
- enggak pasok, maka pas di samping
- pasokan itu terhenti, kemudian dia akan
- terkikis.
- Kita beraktivitas,
- kita bekerja,
- semuanya akan terkikis habis.
- Jadi dengan cara itu insyaallah
- Allah subhanahu wa taala mengampuni,
- memaafkan kesalahan
- yang lalu. Wallahualam.
- Baik, Allah Maha Pengampun atas segala
- dosa hamba-hambanya, Ustaz, ya. Iya.
- Dengan tobatannya yang nasuha atau tobat
- yang sungguh-sungguhnya, Ustaz.
- Baik, kembali ke SMS datang dari Bapak
- siapa ini? Tidak menyatakan nama.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi Ini apa yang dimaksud, eh
- mohon penjelasannya apa yang dimaksud
- dengan hadis mardud, Ustaz?
- Seperti ada seorang ulama mazhab pernah
- berpendapat bahwa hadis yang di mana ada
- seorang yang buta meminta keringanan
- untuk tidak salat berjemaah di masjid
- karena tidak ada yang menuntunnya. Tapi
- dalam hadis itu Rasul tetap memaksa
- orang
- tersebut tetap ke masjid.
- Maka ulama menyatakan bahwa itu hadis
- mardud karena tidak mungkin Allah
- memaksakan hambanya beribadah melebihi
- kemampuannya.
- Nah, bismillahirrahmanirrahim.
- Mardud dari kata roddayaruddu.
- Roddayaruddu menolak.
- Jadi mardud artinya yang ditolak.
- Dalam hadis juga
- man amila amalan laisa alaihi amruna
- fahuwa roddun atau fahuwa mardudun.
- Jadi tertolak, ditolak. Berarti saya
- enggak menyatakan hadis ini palsu atau
- bukan, ya. Ini saya hanya mengatakan
- kalimat mardud yang ditanyakan. Nah,
- jadi kalimat mardud yang ditanyakan
- itu
- ditolak atau dengan kata lain palsu itu
- hadis.
- Ini saya hanya bicara kalimatnya, ya.
- Bukan bicara intinya. Adapun hadisnya,
- riwayatnya, wallahualam saya
- bukan enggak enggak
- enggak membidangi, saya bukan spesialis
- hadis.
- Jadi andai kata
- riwayat itu
- maudu, palsu, maka status hadisnya pun
- mardud,
- tertolak.
- Wajib kita tolak,
- tidak boleh kita terima kalau memang
- benar hadisnya itu maudu. Maudu.
- Saya juga
- tahu siapa yang dimaksud itu adalah
- Abdullah bin Ummi Maktum,
- Heh. seorang yang buta,
- seorang yang
- dalam keadaan sulit,
- pernah minta izin kepada Rasulullah
- karena rumah beliau juga jauh.
- Apalagi dulu belum ada listrik, Heh.
- belum ada lampu senter,
- dan memang beliau orang yang enggak
- ngelihat, orang yang buta. Iya.
- Kemudian jalan pun belum seperti
- sekarang ada ada MHT, ada aspal, Iya.
- jalan pun masih dalam keadaan seperti
- dulu, ada pegunungan, ada jurang,
- Batu-batu besar. berbatuan dan
- sebagainya, bahkan lubang-lubang.
- Nah, bahkan di padang pasir
- itu di saat malam hari banyak
- berkeliaran seperti ular-ular padang
- pasir, kalajengkingnya.
- Abdullah bin Ummi Maktum
- minta izin kepada Rasul,
- "Bisakah, bolehkah, ya Rasulullah,
- aku enggak salat waktu subuh enggak
- salat ke masjid karena aku enggak ada
- yang nuntun."
- Dan keadaan Madinah seperti itu,
- ya mungkin seperti zaman dulu kita
- enggak tahu.
- Nah, kemudian memang
- dalam riwayat
- kemudian Nabi setelah Nabi
- membolehkan untuk enggak ke masjid,
- akhirnya
- dipanggil kembali Abdullah bin Ummi
- Maktum, "Anda hal sami'tan nida?"
- "Wahai Abdullah, apakah Anda mendengar
- azan?"
- Kemudian dia jawab, "Iya, saya masih
- mendengar azan, kuping saya masih
- mendengar tapi mata enggak ngelihat."
- Kemudian Nabi katakan, "Kalau gitu tetap
- kamu wajib ke masjid." Nah, ini
- benar atau tidak riwayatnya, ini saya
- enggak tahu. Heh. Nah, jadi saya enggak
- masuk hadisnya,
- yang saya jawab adalah kalimat
- mardudnya, ya. Jadi berarti maudu,
- tertolak, enggak boleh dipakai itu
- hadis. Wallahualam. Heh.
- Jadi bukan hadisnya, ya. Iya. Tapi
- hadisnya Ustaz pernah dengar juga, ya,
- kisah itu?
- Oh, sering, banyak. Banyak riwayat yang
- dijelaskan. Baik.
- Kembali ke SMS datang dari Bapak Deni di
- Batam. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi Ada yang mengatakan bahwa
- membaca surah Yasin sama dengan
- pahalanya khatam Quran. Benarkah? Apakah
- ada hadisnya, Ustaz?
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Ini
- masalah fadhoilul a'mal,
- terkadang
- ada yang berlebihan.
- Heh.
- Entah benar riwayat atau enggak, saya
- terlepas dari itu.
- Yang jelas
- Yasin
- sebenarnya bukan cuma Yasin,
- Quran dari A sampai Z
- semuanya adalah kalamullah.
- Kalau kita baca ayat yang mana pun juga,
- surah yang mana pun juga,
- tetap hukumnya ibadah, kita dapat pahala
- dari Allah subhanahu wa taala.
- Tapi
- masing-masing
- surah
- punya keistimewaan.
- Tapi juga kita enggak boleh mengatakan
- mana lebih afdal,
- qul huwallahu ahad atau ayat kursi.
- Jangan kita banding-bandingkan.
- Masing-masing ada tempatnya, ada
- keistimewaannya.
- Contoh,
- seandai kata
- ada kalimat
- dari Islam
- yang diajarkan kepada kita ada
- alhamdulillah,
- ada bismillah,
- ada assalamualaikum, semuanya bagus,
- tapi ada tempat-tempatnya. Seandai kata
- saya mau makan, saya mau minum, saya
- baca assalamualaikum,
- itu bukan tempatnya. Salam bagus tapi
- bukan tempatnya.
- Bismillah bagus tapi tetap ada waktu dan
- tempatnya.
- Begitu juga Yasin.
- Masing-masing punya fadilah,
- masing-masing punya keistimewaan.
- Surah Kahfi dianjurkan
- dibaca pada malam atau hari Jumat.
- Walaupun di malam yang lain, hari yang
- lain tetap boleh, bagus.
- Tapi ketika kita baca pada tempatnya
- yang dianjurkan, itu pahalanya akan
- berlipat ganda dibanding waktu-waktu
- yang lain.
- Begitu juga
- qulhu, qul audzubirobbinnas, al falaq
- dianjurkan oleh Rasulullah untuk kita
- baca pagi dan sore Iya. sebagai tameng,
- sebagai pelindung, senjata kita.
- Yang ayat-ayat lain tidak diperintah,
- kita enggak diperintah untuk baca surah
- wal asri pagi dan sore. Nanti al asr ada
- lagi keistimewaannya, ada lagi itu waktu
- dan tempatnya.
- Jadi
- masalah Yasin
- dikatakan
- sama juga kita baca Alquran semuanya,
- bukan cuma Yasin, qulhu saja
- kita baca qulhu tiga kali sebanding
- dengan Alquran. Tapi apakah pahalanya
- atau dipandang dari sudut yang lainnya?
- Heh.
- Jadi Yasin ini dikenal dengan qolbul
- Quran, hatinya Alquran.
- Yang namanya hati, qolbun itu jantung,
- jantung tempat berdenyut sumber
- kehidupan.
- Tapi orang hidup bukan cuma jantung.
- Kalau saya cuma cuma punya jantung tapi
- saya enggak ada ginjal, enggak ada hati,
- enggak ada paru,
- jadi merupakan satu kesatuan.
- Jadi kalau saya termasuk orang yang
- enggak suka membeda-bedakan Heh. baca,
- kita baca pasti pahalanya ada, pasti
- fadilahnya ada.
- Seperti seandai kata saya
- makan
- jeruk,
- walaupun saya enggak tahu manfaatnya
- jeruk, enggak tahu kandungan gizi yang
- ada di dalam jeruk, sudah pasti saya
- akan mendapatkan manfaat dari jeruk
- tadi.
- Enggak perlu saya tahu rinciannya,
- berapa kadar vitamin C-nya, berapa kadar
- airnya, berapa kadar seratnya, enggak
- perlu saya tahu itu.
- Ketika saya makan jeruk, pasti saya akan
- mendapatkan manfaat dari jeruk tadi.
- Nah, jadi ini banyak orang-orang yang
- yang suka beramal Heh.
- tapi enggak menuntut ilmu agama,
- enggak ngerti hukum halal haram, enggak
- ngerti akidah,
- yang dia tahu hanya
- amalan terus-terusan.
- Karena memang ada satu tujuan, bisa
- sakti, bisa ini, bisa itu.
- Nah, ini jadi hati-hati, jangan sampai
- kita ambil amal-amalan,
- jangan sampai kita terpedaya dari
- orang-orang yang tertipu.
- Yang tidak paham agama, yang tidak paham
- syariat dan akidah.
- Akhirnya
- dan ini bukan cuma kata saya,
- bukan cuma sekedar omongan, tapi banyak
- di antara mereka yang langsung saya
- tahu, saya tahu orang-orangnya.
- Jadi ada di antara mereka yang enggak
- salat, enggak puasa, tapi kalau soal
- zikir,
- amalan Yasin dan sebagainya, mereka
- nomor satu. Heh.
- Bahkan
- ada orang yang biasa tadi salat
- berjemaah lima waktu di masjid, ikut
- kegiatan pengajian rajin,
- ketika masuk ke dunia amalan,
- akhirnya mereka anti dengan pengajian,
- enggak mau lagi salat berjemaah.
- Ini yang kita khawatirkan.
- Jadi buat saya, kalau saya itu bukan
- orang yang membeda-bedakan
- soal zikir, semuanya baik, cuma ada
- waktu dan tempatnya. Wallahualam.
- Iya.
- Selanjutnya SMS datang dari hamba Allah,
- Ustaz. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi. Ini mengenai investasi.
- Bagaimana hukumnya ketika saya investasi
- ke pengelola dengan hasil dengan bagi
- hasil 5% setiap bulan dari total dana
- yang kita investasikan, Ustaz. Besaran
- persentase keuntungan itu pengelola yang
- tentukan.
- Bagaimana hukumnya hal seperti itu?
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Kita harus
- mengetahui duduk perkara sebenarnya,
- harus tahu pasti.
- Jadi ini saya juga belum jelas.
- Jadi kalau dalam Islam
- yang namanya
- kerja sama
- itu harus jelas semua-semuanya.
- Aturannya, kesepakatannya.
- Sedikit
- kita
- menyalahi aturan mungkin bisa riba.
- Jadi riba ini sangat halus.
- Banyak orang yang enggak selamat dari
- riba.
- Jadi riba, definisi riba itu kan kullu
- qardin jarro naf'an fahuwa riba.
- Setiap pinjaman yang menarik keuntungan
- itu adalah riba.
- Banyak saat ini
- sistem ekonomi yang dianut di
- hampir seluruh dunia adalah sistem
- kapitalis.
- Yang merugikan satu pihak, menguntungkan
- pihak lain.
- Ketika
- saya minjam ke bank
- dalam karena saya untuk modal usaha
- atau untuk berobat dan sebagainya
- pihak bank enggak mau tahu.
- Saya rugi, saya untung, yang penting
- saya harus mengembalikan sekian persen
- setiap bulannya.
- Tapi ketika saya invest
- berbeda lagi.
- Enggak seberapa yang saya terima.
- Jadi kalau dalam Islam ini unsur di
- samping bebas dari riba
- unsur kejujuran semuanya harus ada.
- Jadi ini khawatirnya, Kak. Jadi kalau
- dalam dalam fikih dalam masalah
- mudharabah He itu mudharabah yang ada
- bagi hasil, bukan bunga.
- Bunga dari modal.
- Saya menanamkan invest 100 juta.
- Saya harus terima nanti setiap bulan
- katakan 5%.
- Saya menanamkan modal ke teman saya.
- Siapa yang bisa jamin
- kalau usahanya lancar?
- Bisa saja dia rugi. He.
- Ketika dia rugi, saya enggak mau tahu,
- yang penting saya harus dapat 5% tiap
- bulan dari 100 juta.
- Yang ada dalam Islam
- berapa persen yang kita terima dari
- hasil dari keuntungan?
- Karena yang namanya keuntungan
- itu bisa turun naik.
- Kalau saya tentukan dari modal 100 juta
- saya harus dapat uang
- 5 juta setiap bulan.
- Itu enggak pasti, enggak ada yang bisa
- jamin untung atau rugi.
- Atau berapa banyak keuntungannya per
- bulan, itu semuanya turun naik. He.
- Tapi kalau untungnya dari
- bagi dari untung.
- Katakan kalau untungnya ini sekarang
- satu ini hari ini 1 juta
- hari besok 2 juta He. itu semuanya
- berubah-ubah. Kalau memang perjanjian
- bagi hasilnya dari keuntungan He.
- keuntungan yang dibagi itu enggak
- masalah.
- Tapi itu pun harus syar'i, jangan ada
- yang
- diberatkan, jangan ada yang dizalimi.
- Iya.
- Kalau saya dapat untung
- saya akan berikan.
- Tapi
- kalau saya rugi, pemilik modal pun siap
- menerima kerugian. Sama-sama.
- Untung ruginya harus bareng-bareng. He.
- Nah, itu mudharabah
- dibolehkan. Tapi kalau sistem yang
- kapitalis itu sistem ribawi yang akan
- menghancurkan kehidupan, menghancurkan
- bangsa dan negara, itu adalah sistem
- ribawi. Wallahualam.
- Baik, ada penelepon masuk, Ustaz. Halo,
- asalamualaikum.
- Waalaikumsalam. Dengan siapa, di mana,
- Pak? Pak Abu di Jakarta.
- Siapa?
- Abu, Pak.
- Pak Abu di Jakarta,
- lagi di jalan nih. Silakan, Pak Abu.
- Assalamualaikum, Ustaz. Iya,
- waalaikumsalam.
- Saya mau nanya, Iya, Ustaz. Iya,
- silakan, Pak. Heeh, dulu saya waktu baru
- masuk kerja
- sama sekarang kerja ini saya
- eee
- saya kan bikin lamaran.
- Iya.
- Heeh, lamaran itu emang di tempat saya
- kerja sekarang itu minimal tuh SMA.
- Sebetulnya tanpa lamaran pun saya harus
- sudah masuk, cuman untuk
- untuk apa eee namanya sebagai
- eee
- bahan untuk apa? Administrasi. Heeh.
- Itu saya harus ngisi, iya.
- Halo. Iya, silakan. He.
- Dengar, Pak, ya?
- Iya, terus, Pak.
- Heeh. Nah, itu kan saya harus ngisi eee
- data.
- Heeh, nah di sana data itu ada minimal
- pendidikan SMA gitu, Pak. Iya.
- Heeh, nah di situ karena saya kan SD
- nih, Pak. Iya. Jadi di situ saya emang
- enggak ditanya eee apa namanya untuk
- pekerjaan eee untuk pendidikan. Iya.
- Cuman di situ tertera pendidikan minimal
- minimal SMA. Iya. Nah, di situ tuh saya
- isi asal saya isi aja gitu, Pak.
- Iya. Ustaz gitu maksudnya. Nah, itu yang
- saya tanya.
- Jadi saya di situ SMP ada di saya ini
- hanya lulusan SD, Ustaz. Iya. Nah, di
- SMP juga saya isi asal saya isi, SMA
- saya isi asal saya isi gitu. Iya. Tapi
- sampai sekarang alhamdulillah saya masih
- kerja di tempat sekarang saya kerja ini,
- Ustaz. Iya.
- Nah, yang saya mau tanya nya kan ini
- hukumnya gimana dengan hasil gaji saya
- gitu, Ustaz. Iya.
- Heeh.
- Ya, baik, Pak.
- Heeh, baik. Itu aja, Ustaz. Iya, baik,
- Pak Abu, ya. Iya.
- Oke, Ustaz.
- Iya. Bismillahirrahmanirrahim.
- Dalam muamalah, dalam kerja
- sebenarnya yang dituntut masalah
- profesionalisme
- kejujuran dalam kerja.
- Memang
- di
- negara kita
- yang namanya basa-basi
- itu memang dari dulu seperti itu. Iya.
- Tadi Bapak mengatakan tanpa ijazah pun
- sebenarnya Bapak bisa. Memang
- ada sebuah keahlian.
- Jadi di situ ada sebuah kejujuran.
- Umpama saya.
- Saya ingin ngajar di sekolah.
- Saya memang enggak punya
- ijazah S1 pendidikan.
- Tapi sekedar saya ngajar Iqro baca di SD
- tingkat SD, insya Allah saya bisa
- jadi guru SD. Tapi untuk menjadi guru SD
- saya harus punya formalitas.
- Nah, sekedar formalitas
- itu masih enggak apa-apa, yang penting
- saya jujur memang saya bisa untuk
- sekedar ngajar Iqro di SD.
- Dan insya Allah
- saya akan
- jalankan amanah ini dengan sebaik
- mungkin. Tapi untuk berjuang
- di SD
- dibutuhkan formalitas. Iya.
- Memang dibentuk sistem seperti itu yang
- sebenarnya
- enggak perlu formalitas.
- Tapi sangat dibutuhkan seolah-olah
- formalitas segalanya buat kita.
- Nah, jadi yang penting buat Bapak memang
- Bapak
- mengerti apa yang Bapak kerjakan.
- Bapak juga jujur dalam
- mengemban tugas. He.
- Jadi selagi Bapak itu memang Bapak
- waktu Bapak melamar Bapak dikasih
- kerjaan, memang benar-benar Bapak bisa
- mengerjakan
- sesuai dengan tugas yang diberikan,
- sesuai dengan
- apa yang Bapak bidangi.
- Dan selama kerja
- Bapak juga tetap jujur, enggak ada
- kebohongan.
- Nah, jadi ini tuntutan-tuntutan
- formalitas
- sekedar buat administrasi.
- Saya juga enggak mengatakan berbohong
- itu boleh, enggak.
- Berbohong tetap sampai di mana, sampai
- hari kiamat enggak boleh. He.
- Tapi karena memang sistem, terkadang
- sistem yang dibikin
- seperti ini.
- Yang seharusnya tanpa ijazah
- saya pun bisa ngajar di SD.
- Tapi karena memang
- prosedurnya yang mengharuskan seperti
- itu
- saya ingin berjuang di jalan Allah, tapi
- prosedurnya mengharuskan seperti itu.
- Nah, jadi insya Allah
- kesalahan, walaupun salah saya enggak
- bisa membenarkan kesalahan adalah sebuah
- kesalahan.
- Nah, tapi karena di balik kesalahan itu
- hanya kesalahan formalitas, syarat saja,
- padahal Bapak memang punya kemampuan.
- Bapak juga jujur.
- Dan selama bekerja
- baik-baik saja sampai saat ini.
- Nah, mudah-mudahan yang Bapak
- lakukan itu di masa lalu
- mudah-mudahan dimaaf
- mudah-mudahan maghfur, diampuni oleh
- Allah subhanahu wa taala. Mudah-mudahan
- enggak jadi masalah.
- Dan
- yang penting Bapak tetap pegang prinsip.
- Bapak kerja dengan baik
- jangan tinggalkan ibadah
- Bapak niat berjuang di jalan Allah
- sekian persen umpamanya ada rezeki
- kita sedekah, bantu perjuangan agama.
- Insya Allah itu sebagai mukafir.
- Wallahualam.
- Iya, Pak Abu, terjawab dan insyaallah
- tidak apa-apa ya, Ustaz ya. Kecuali
- mungkin nepotisme yang tidak punya
- keahlian tapi dimasukkan kerja. Iya,
- betul.
- berdosa ya.
- Satu SMS terakhir sebelum pamit, Ustaz.
- Ini datang dari Bapak Ari di Bekasi.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi. Pak
- Ustaz, lebih utama mana membaca Alquran
- sedikit tapi dengan terjemah atau
- membaca Alquran banyak, panjang tapi
- tidak dengan terjemahannya, Ustaz?
- Ya, bismillahirrahmanirrahim.
- Memang
- terkadang kita suka dipengaruhi oleh
- pemikiran-pemikiran
- yang akhirnya membuat kita kebingungan.
- Saya lebih baik salat dua rakaat
- ketimbang saya salat tarawih 20 rakaat
- tapi cepat-cepat dan sebagainya.
- Ini seringkali membuat kita
- bimbang.
- Soal pahala, soal diterima sebenarnya
- wewenangnya Allah subhanahu wa taala.
- Semakin banyak kita ibadah,
- semakin banyak
- kita melakukan kebaikan tentu nilai
- pahalanya semakin banyak. Itu secara
- teori.
- Adapun sah atau enggak sah, diterima
- atau enggaknya, itu Allah subhanahu wa
- taala yang maha tahu.
- Yang berhak menerima atau menolak
- amal kita semua.
- Jadi,
- memang yang namanya
- kita ibadah,
- membaca Alquran,
- yang terbaik adalah
- di samping makhraj hurufnya benar,
- adab-adabnya benar,
- kemudian
- kita berusaha untuk memahami
- Alquran,
- memahami perintah dan larangan Allah.
- Kemudian ada bentuk pengamalan.
- Memang itu yang terbaik.
- Terlepas dari banyak atau sedikitnya
- kita baca Alquran.
- Jadi, membaca Alquran ini
- ada dua ya.
- Membaca dalam arti memahami,
- ada lagi membaca dalam arti kita hanya
- ibadah mahdhah karena membaca Alquran
- itu ibadah berbeda dengan membaca
- buku-buku yang lain.
- Jadi, ketika Bapak membaca terjemah, itu
- bukan lagi membaca Alquran, itu lagi
- mendalami, mengkaji. Membaca atau tapi
- dalam arti memahami. Iya.
- Itu lain lagi, tetap kita ada pahalanya
- ketika kita berusaha memahami Alquran.
- Walaupun satu ayat kita berusaha pahami
- kemudian kita amalkan.
- Itu namanya mengkaji, mempelajari,
- bukan sekedar membaca.
- Kalau membaca
- ya seperti kebanyakan orang membaca
- bismillahirrahmanirrahim,
- alhamdulillahirobbilalamin,
- arrahmanirrahim.
- Di saat ini saya enggak ada waktu untuk
- merenungkan karena saya sedang ibadah.
- Iya.
- Jadi, seperti dalam salat
- saya baca yang lebih panjang insyaallah
- pahalanya lebih besar.
- Saya baca Alquran satu juz, dua juz,
- insyaallah kalau dua juz pahala saya
- lebih banyak.
- Nah, nanti di luar itu
- saya apa yang saya baca
- saya renungkan satu ayat satu ayat.
- Jadi, di luar bacaan.
- Jadi, membaca lain, mengkaji lain.
- Nah, jadi
- kita jangan dipengaruhi oleh
- omongan-omongan gitu.
- He eh.
- Lebih baik ba- lebih baik baca satu ayat
- ketimbang baca dua juz tapi tanpa makna.
- Jadi, ini lain-lain tempatnya.
- He eh. Kalau kita membaca itu memang
- ibadah ta'abbud,
- ibadah mahdhah. Nah, sedangkan ini kita
- mengkaji tetap ada pahalanya, tetap
- bernilai ibadah.
- Cuma lain waktu lain tempat.
- Iya.
- Jadi, itu lain-lain. Jadi, kalau buat
- saya
- saya baca Quran, saya baca
- sebanyak-banyaknya.
- Yang penting makhraj hurufnya beres,
- adab-adabnya juga jangan terlalu cepat,
- pakai tajwid. Itu yang dibutuhkan
- sewaktu kita membaca dalam arti ibadah.
- Jadi, kita pisahkan antara mengkaji dan
- ibadah. Dua-duanya dibutuhkan,
- dua-duanya dapat pahala. Jadi, enggak
- usah kita banding-bandingkan. He eh.
- Wallahu a'lam.
- Baik.
- Kesimpulan, Ustaz, mungkin pembahasan di
- siang hari ini. Oh, iya.
- Para pendengar, pemirsa Radio Rodja dan
- Rasil.
- Inilah
- kajian kita pada siang hari ini.
- Jadi, intinya
- adalah kita memahami dan mengamalkan.
- Bukan masalah
- yang lain-lainnya,
- sekedar pengetahuan tanpa kita amalkan,
- tanpa kita pahami itu pun enggak ada
- maknanya.
- Jadi, yang ter- terpenting buat kita
- dalam kita memahami segala sesuatu,
- kemudian kita hayati, kita amalkan, kita
- aplikasikan dalam kehidupan kita
- sehari-hari.
- Inilah
- yang jadi kajian kita pada siang hari
- ini, semoga manfaat buat kita.
- Wama taufiqi illa billah alaihi
- tawakkaltu wa ilaihi unib.
- Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu
- alla ilaha illa anta astagfiruka wa
- atubu ilaik.
- Wasallallahu ala nabiyyina Muhammadin wa
- ala alihi wa shahbihi wasallam.
- Walhamdulillahirobbilalamin.
- Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam. Demikian,
- Ikhwan dan Akhwat, kajian kitab
- Muhtashar Hadits an-Nabawiyah bersama
- Ustaz Ahmad Zaki. Banyak ilmu dan banyak
- pelajaran yang kita dapatkan di hari
- ini. Semoga bermanfaat dan saya Muhammad
- Fahri temani Ondy dan juga Insan
- Semangat pamit. Subhanakallahumma
- wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta
- astagfiruka wa atubu ilaik.
- Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.