Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Pertama kali, kita mengambil peran dulu. 0:01 Kita mau bermain sebagai apa? Sebagai 0:04 brand owner kah? Atau sebagai reseller 0:06 kah? Atau sebagai dropshipper? Karena 0:10 strategi jualannya itu beda-beda. 0:12 Betul, betul. 0:14 Begitu. 0:14 Kalau seandainya Bang, untuk kita-kita 0:16 yang masih awam nih, untuk 0:18 mungkin gimana benar-benar dari nol 0:20 banget, mana yang paling ideal untuk 0:23 memulai? Apakah sebagai dropshipper, 0:25 sebagai reseller, atau sebagai brand 0:26 owner? Dan tolong dijelasin Bang, 0:28 masing-masing itu apa? 0:29 Iya. 0:29 Ada yang masih [tertawa] apa lah, 0:31 makanan apa lagi itu. 0:33 Baik, jadi gini. 0:36 Ada tiga istilah tadi ya. Ada brand 0:37 owner, ada reseller, ada dropshipper. 0:41 Nah, brand owner artinya pemilik 0:44 daripada brand. 0:45 Ya, atau bahasa mudahnya adalah Anda 0:49 pemilik produknya, Anda yang produksi, 0:51 gitu. 0:52 Ya. Yang kedua, reseller. Nah, reseller 0:55 ini orang suka kebolak-balik. Reseller 0:58 dan dropshipper itu suka kebolak-balik. 0:59 Reseller itu sebenarnya di apa, 1:01 distributor. 1:02 Ya. 1:03 Dia enggak punya produk yang dia 1:05 produksi, tapi dia membantu atau dia 1:08 menjadi mitra dari sebuah brand untuk 1:11 ikut menjual. Warung itu juga termasuk 1:14 distributor. Ya. Yang terakhir adalah 1:16 dropshipper. Dropshipper 1:19 bahasa kerennya kan dropshipper. Padahal 1:22 kalau kita dulunya ini lebih mengenal 1:23 istilah makelar. 1:26 [tertawa] 1:27 Makelar gitu ya. 1:29 Karena dia enggak punya produk, dia 1:31 tidak punya stok produk, tapi dia hanya 1:33 bantu menjual. 1:34 Jadi pengiriman langsung dari brand 1:37 owner-nya. 1:38 Nah, iya betul. 1:39 reseller. 1:39 Dia hanya membantu untuk 1:41 merekomendasikan barang. 1:43 Nah cuman kan orang suka suka beda-beda 1:47 nih, apa suka 1:49 kebentur antara reseller dan dropshipper 1:52 teman-teman ya. Sekali lagi ya, kalau 1:53 dropshipper itu dia tidak perlu stok 1:54 barang. Kalau reseller, dia stok barang. 1:58 He eh. 1:59 Nah, ada satu fakta menarik ya, tentang 2:01 dropshipper ini kenapa sekarang 2:02 digandrungi sama banyak masyarakat? 2:04 Karena seakan-akan kalau kita mau jualan 2:06 online menjadi dropshipper, kita itu 2:08 enggak perlu modal. 2:09 He eh. 2:11 Kan dia enggak perlu stok barang. 2:12 Betul. 2:12 Begitu toh? 2:13 Betul. 2:13 Nah, tapi ada satu kendala nih, Bang 2:16 Musa nih. 2:16 He eh. 2:17 Harga di marketplace itu jadi 2:21 berantakan. 2:21 kacau gitu kan. Nah, ini teman buat 2:23 teman-teman yang sudah mulai jualan 2:25 online pasti ngerasain kan? 2:27 He eh. 2:27 Jualan online di marketplace, harganya, 2:30 persaingannya 2:31 agak kejam. 2:32 Betul, betul, betul, [tertawa] betul. 2:33 Kejam banget gitu. Nah, karena kenapa? 2:35 Karena distributor yang stok barang 2:38 dengan dropshipper yang tidak stok 2:40 barang itu saling bersaing di situ. 2:42 Iya. 2:43 Saling bersaing di situ. Ya, saran saya 2:47 jangan jadi dropshipper kelamaan. 2:49 He em, harus naik kelas nih. 2:50 Harus naik kelas jadi reseller begitu. 2:52 Karena sejatinya dropshipper itu hanya 2:54 sebatas metodologi melakukan riset 2:57 produk. 2:58 He em. 2:59 Begitu. Dari ada lima brand, katakanlah 3:01 gitu ya, lima brand yang mana ya yang 3:03 saya mau stok barang? 3:04 He em. 3:04 Dicoba dulu, di-dropship dulu. A, B, C, 3:08 D, E, yang mana yang responnya paling 3:10 oke, di situlah dia berani stok barang. 3:12 He em. 3:13 Kan awalnya hanya begitu saja. 3:14 Betul, betul, betul. 3:15 [tertawa] 3:15 Menarik, menarik, menarik. Bahkan eh 3:18 Bang Musa ada teman cerita, dia sebagai 3:20 dropshipper. Dia bahkan tidak mengambil 3:22 untung dari apa yang dia jual. 3:24 Kadang kadang dia jual rugi. Artinya 3:26 ketika dia ngambil dari satu satu 3:29 produsen, dia dapat 10.000, dia jual 3:31 9.000, Bang. 3:33 Dia enggak jual di bawah harga pasar 3:35 supaya orang-orang beli ke dia. 3:36 Iya. 3:36 Keuntungan dia dari mana? Keuntungan dia 3:38 dari ekspedisi, diskon ekspedisi. 3:40 Iya. 3:40 Karena dia ngirim banyak, akhirnya 3:42 dapat [tertawa] potongan ekspedisi. Ada 3:44 banyak hal menarik Ikhwan dan Akhwat 3:45 yang akan kita bahas nanti ke depannya. 3:46 Untuk Ikhwan dan Akhwat yang ingin 3:49 bertanya-tanya, bisa langsung kirim 3:51 WhatsApp ataupun SMS ke nomor 3:53 08111999720. 3:58 Sekali lagi di 08111999720. 4:04 Atau kalau mau telepon interaktif 4:06 langsung nanya-nanya, hayuk boleh Iwan 4:08 dan Nawat ditunggu di sini. 4:10 Ke 0218451512. 4:19 Jadi kalaupun 4:21 kita enggak punya pengalaman, kita mau 4:22 jadi dropshipper, apa yang harus kita 4:24 lakukan pertama kali, Bang? 4:26 Baik, jadi gini. 4:28 Pertama-tama hilangkan dulu mindset 4:31 bercita-cita untuk jadi dropshipper 4:33 selamanya gitu. 4:34 [tertawa] 4:34 Hilangkan dulu. 4:35 Nah, kenapa demikian? Karena teman-teman 4:38 gini, tetap saja kita harus ambil posisi 4:41 itu sebagai 4:42 pedagangnya atau pebisnisnya, bukan 4:45 internet marketer. 4:47 Nah, itu kan beda ya. 4:48 Nah, kalau internet marketer, mereka 4:50 tahu celahnya. Kayak tadi Bang Musa 4:53 sampaikan tuh, dia berani jual rugi 4:55 karena ada benefit dari logistik gitu 4:58 kan. Nah, itu tuh mainannya internet 5:00 marketer. Dia dia tahu celah-celah 5:02 demikian. Nah, tapi kalau untuk orang 5:04 awam, mindset-nya harus mindset pedagang 5:07 dulu gitu, penjual dulu. 5:09 Saya mau menjual barang yang mana ya? 5:12 Kan begitu. 5:13 Betul. 5:13 Nah, kalau belum punya produk, ya 5:16 alternatifnya adalah teman-teman tinggal 5:19 buka marketplace. Ya. 5:22 By the way gini, ada marketplace, ada 5:24 media sosial, nanti kita juga akan bahas 5:26 tuh. 5:26 Bedanya apa? 5:27 Bedanya apa ya, mainnya gimana. 5:29 Nah, 5:30 tapi kalau untuk memulai sekali, Anda 5:31 belum punya produk apapun, Anda bisa 5:34 cari produk-produk yang lagi trending 5:38 ya, di marketplace tertentu. 5:40 Entah yang itu hijau, yang merah, yang 5:42 orange gitu ya. 5:43 Tokopedia gitu maksudnya. 5:44 [tertawa] 5:44 Enggak Enggak Bang, kita nyebut brand 5:46 biar 5:47 tergambar gitu. 5:48 Oke, oke, oke, oke. 5:50 Jadi, buka Tokopedia, Shopee, Lazada, 5:53 harus disebut semua nih, Bang, biar 5:54 adil. Bukalapak dan lain-lain. 5:55 [tertawa] 5:56 Terus lihat yang paling laku di situ apa 5:58 gitu ya? 5:58 Iya. 5:58 Ehm. 5:59 Itu bisa. Lalu juga banyak sekali di 6:01 apa, Instagram itu kan juga banyak 6:03 akun-akun 6:04 Ehm. 6:04 eh brand owner atau distributor atau 6:07 supplier yang mereka memang cari eh 6:09 dropshipper. 6:10 Ehm. 6:10 Nah, kita bisa mulai dari situ atau 6:12 mulai dari ikut komunitas belajar 6:16 bisnis, biasanya sudah ada produk-produk 6:18 yang bisa dipasarkan secara langsung. 6:21 gitu. Yang insyaallah 6:23 Kita sampaiin enggak nih? 6:24 Sampaiin, Bang. [tertawa] 6:27 Bocoran sedikit-sedikit boleh ya? 6:28 Yang insyaallah eh kalau enggak ada 6:31 halangan bulan depan, 6:33 ya, Raksil akan keluarkan sebuah program 6:35 belajar kewirausahaan. 6:37 Gitu ya. Mudah-mudahan lancar nih. 6:39 Amin, amin, amin, amin, ya rabbal 6:40 alamin. 6:41 Nah, jadi bisa mulai dari mana untuk 6:43 yang belum punya produk? Bisa mulai dari 6:44 ikut program kita, insyaallah nanti akan 6:47 ada produk-produk yang teman-teman bisa 6:49 langsung jual. 6:50 Ehm. 6:50 Begitu. Tanpa perlu stok dulu. 6:52 Dan kadang masalahnya tuh mau jual tapi 6:55 enggak tahu caranya, Bang. Nanti ada 6:56 diajarin juga caranya. 6:57 Iya. Jadi, kita benar-benar pandu dari 7:00 cara jual, gini, dari cara 7:03 memasuki dunia online yang benar gitu 7:05 ya. 7:06 Lalu cara tampil di hasil pencarian 7:09 Google. 7:10 Cara jualan di marketplace, di media 7:13 sosial sampai cara mengelola 7:15 WA gitu loh. Untuk dapatin database dan 7:18 lain sebagainya. 7:19 Karena eh banyak mindset-nya tuh, Bang, 7:23 jualan online tuh ribet, jualan online 7:25 tuh harus melek teknologi penjualnya, 7:27 jualan online tuh harus punya 7:28 pengetahuan yang banyak, risiko ruginya 7:30 besar. Sebenarnya kondisi real-nya tuh 7:33 seperti apa sih, Bang? Apakah memang 7:35 kalau mau jualan online sesulit itu? 7:37 Kalau misalkan ada ibu-ibu yang 7:38 mendengarkan nih, sehari-hari dasteran 7:40 di rumah, ngurus anak, enggak bisa 7:43 [tertawa] 7:43 main handphone juga bisanya cuma buka 7:45 WhatsApp. Apakah masih bisa untuk 7:47 berjualan online? 7:49 Iya, jadi gini eh Bapak Ibu sekalian ya, 7:52 Sahabat Rasil semuanya. 7:54 Iya. 7:55 Kalau soal saya gaptek Pak, bisa enggak 7:59 jualan online gitu ya? Atau bagaimana 8:02 caranya? Jadi strategi untuk jualan 8:05 online itu banyak. Makanya ketika kita 8:07 mau masuk di dunia online, kita mengukur 8:09 dulu diri kita itu 8:11 mampunya pakai strategi yang mana gitu 8:14 ya. 8:15 Pakai strategi yang mana. Salah satunya 8:17 aja, jadi gini 8:18 eh ada 8:20 salah satu strategi yang yang fokusnya 8:22 bukan untuk langsung jual produk tapi 8:24 untuk mendapatkan database terlebih 8:26 dahulu. 8:27 Nah, database berarti contact person 8:29 daripada calon pembeli terlebih dahulu. 8:31 Dia kumpulkan dulu database-nya, ketika 8:34 sudah terkumpul baru dia menawarkan 8:36 produk. Nah, ini kan panjang. 8:39 Gimana cara dapetin database-nya? Kita 8:40 butuh lead magnet, kita butuh ini, kita 8:42 butuh itu. Nah, kalau untuk pelaku yang 8:45 katakanlah tingkat gapteknya 1 sampai 5, 8:47 dia nomor 3 lah gitu ya. 8:48 Masih oke lah ya, 8:50 masih lumayan. [tertawa] 8:51 Masih 3 lah ya. Nah, yang dikhawatirkan 8:53 itu dia terlalu banyak buang waktu 8:55 akhirnya. Begitu, kecuali Anda punya 8:58 staf. Anda punya staf yang memang untuk 9:01 ngurusin hal-hal demikian. Kalau memang 9:04 benar-benar baru pribadi aja, baru 9:06 sendiri mainnya, manfaatkan platform 9:08 digital yang Anda paling kuasai. 9:12 Iya, yang hari-hari hari demi hari Anda 9:14 komunikasi dengannya. 9:15 Gitu toh? Berarti pakai dulu 9:18 WhatsApp ya. 9:20 Dan media sosialnya apa yang yang 9:23 dipakai sama dia. Katakanlah 9:24 Facebook misalkan. 9:25 Facebook atau Instagram gitu, kita sebut 9:26 brand enggak masalah ya. 9:27 Enggak apa-apa. 9:28 [tertawa] 9:29 Aman Bang, 9:31 buat pembelajaran. 9:32 Oke, 9:33 begitu. Jadi seenggaknya pilih dulu 1 9:36 sampai dengan 3 platform. Iya, 9:38 Ya, kalau sudah expert kan katakanlah 9:39 dia di di eh Tokopedia ada, di Bukalapak 9:43 ada, di Shopee ada gitu ya. Lalu di 9:46 Instagram ada, ngebangun fanpage juga, 9:48 uh macam-macam yang di yang di terapin 9:51 semua dia. Nah, untuk sampai di tahap 9:53 itu kan butuh waktu. 9:54 Betul. 9:55 Sedangkan kita butuh langsung transaksi. 9:57 Mmm. 9:57 Ya. Maka dari itu manfaatkan dulu 10:00 WhatsApp-nya atau WhatsApp bisnisnya ya 10:03 dengan eh media sosial pilih salah satu 10:06 dulu dan marketplace pilih salah satu 10:08 dulu. 10:09 Mulai dari situ dulu teman-teman gitu 10:11 ya. 10:12 Nah, dari situ nanti kita bisa lihat 10:14 tuh. Oke, ini saya sudah mulai terjadi 10:17 transaksi demi transaksi nanti baru 10:18 paham maksudnya first impression kesan 10:21 pertama ketika orang lihat ulasan itu 10:24 apa efeknya dan lain-lain gitu ya. 10:25 Intinya sekarang cari transaksi satu dua 10:28 transaksi per hari itu saja dulu gitu 10:30 ya. 10:30 Iya. Jadi, cari closing-an dulu Iwan dan 10:32 Nawaf, cari yang beli dulu 10:34 Iya. 10:34 supaya ada uang masuk sehingga kita 10:35 lebih termotivasi. Benar tuh Bang Fawaz. 10:37 Jadi, Iwan dan Nawaf, kalau mau mulai 10:39 jangan pelajarin semuanya, pusing nanti. 10:42 Iya. 10:42 Mulai dulu kalau memang punyanya 10:44 WhatsApp seperti yang tadi Bang Fawaz eh 10:46 jelaskan, kalau memang adanya WhatsApp 10:48 jualan lewat WhatsApp gitu Bang ya. 10:49 Iya. 10:50 Eh di kontak WhatsApp ada nomor siapa, 10:51 tawarin saja satu-satu kan. 10:53 Eh nanti kita kita kita bahas 10:55 tuh satu-satu gimana caranya. 10:56 [tertawa] 10:57 Nah, tadi Bang Fawaz sempat ngomong ada 10:59 marketplace, ada media sosial. 11:02 Iya. 11:02 Eh apa tuh Bang bedanya Bang buat 11:05 marketplace dan media sosial? Terus eh 11:07 mana yang lebih efektif untuk jualan? 11:09 Jadi gini, kita ngelihatnya dari dua 11:11 perspektif nih barusan nih. 11:12 Betul. 11:12 Mmm. 11:12 Perspektif pertama adalah dari 11:15 eh 11:17 kita sebagai calon konsumennya. 11:19 Mmm. 11:19 Kita sebagai pengguna layanan. 11:20 Mmm. 11:21 Ya, kalau kita buka Tokopedia, kita buka 11:23 Bukalapak, kita buka Shopee, Lazada dan 11:26 yang lain sebagainya ya. 11:28 Tujuan kita tuh buka aplikasi tersebut 11:30 kan sudah sudah sudah sudah jelas ya. 11:33 Kita ingin belanja. 11:35 Atau kita ingin membandingkan produk. 11:38 Ehm. 11:38 Ya, kita datang ke pasar. 11:39 Ehm. 11:40 Kita ngelihat 11:41 ada 11:43 eh kain di pasar. 11:45 Ehm. 11:45 Harganya berapa? 100.000. 11:47 Ehm. 11:48 Kita cek 11:49 terlebih dahulu, gitu kan. Kita buka 11:51 terlebih dahulu tuh aplikasi tadi untuk 11:52 melihat barang yang sama harganya 11:54 berapa. Nah, artinya mau orang itu buka 11:57 aplikasi-aplikasi tersebut untuk belanja 12:00 maupun untuk membandingkan, 12:03 siapapun yang buka aplikasi itu adalah 12:05 orang yang siap untuk mengeluarkan uang, 12:07 kan gitu kan. 12:08 Betul. 12:08 Nah, itu dulu ya. Lalu yang kedua media 12:11 sosial. 12:12 Kalau media sosial agak beda cerita nih. 12:15 Enggak semua orang buka Instagram, buka 12:18 Facebook untuk cari produk. 12:20 Ehm. 12:20 Kadang dia untuk eh apa namanya? Update 12:24 status. 12:25 Untuk stalking mantan. 12:27 [tertawa] 12:27 Untuk ria-riaan. 12:29 Untuk pamer. 12:30 Sohibnya. 12:31 Untuk ngelihat apa influencer idolanya 12:33 dia, gitu kan. Sehingga kalau kita 12:36 sebagai pedagang, 12:38 kita sebagai pebisnis nih, teman-teman 12:39 ya. 12:40 Ehm. 12:41 Eh, perspektif pedagang itu kita 12:42 ngelihatnya jadi gini. Kalau saya mau 12:45 jualan di media sosial dengan saya 12:47 jualan di marketplace, berarti caranya 12:49 harus beda dong. 12:50 Betul, betul. 12:52 Caranya harus beda. Kalau di 12:54 marketplace, orang yang datang sudah 12:56 siap keluar uang. Maka ada istilah yang 12:59 namanya hard selling, kan. 13:00 Ehm. 13:01 Sudah langsung jual aja, gitu loh. Kalau 13:03 di media sosial, orang yang datang belum 13:06 tentu dia siap untuk berbelanja, maka 13:09 jangan langsung ditawari produk. 13:11 Ehm. 13:11 Caranya adalah gimana agar orang itu 13:14 jempolnya berhenti di postingan Anda, 13:16 kan gitu. 13:17 Iya, iya. Betul. 13:18 [tertawa] 13:18 Jangan sampai dia terus 13:20 Terus 13:21 scroll. 13:21 Jadi gimana caranya biar jempolnya itu 13:23 ngerem, gitu kan. Nah, jadi ada dua, dua 13:26 hal yang perbedaannya itu sangat 13:28 mencolok gitu ya. Yang satu hard 13:30 selling, yang satu soft selling. Nah, 13:32 dasarnya itu cuman tetap ini bukan ilmu 13:35 pasti gitu Bang Mus ya. Karena tetap ada 13:37 banyak juga marketplace di apa eh toko 13:39 online di Instagram yang penjualannya 13:42 fantastis gitu loh. 13:44 Ya, tapi dasarnya ketika kita baru 13:46 memulai pahami dulu itu. 13:48 Ya, dua cara menjual berbeda antara di 13:51 marketplace dan media sosial. 13:54 Kalau dari pendapat Bang Mus pribadi 13:56 untuk yang benar-benar gaptek 13:59 lebih baik 14:01 untuk di awal ya? 14:02 Iya. 14:03 Lebih baik marketplace atau media 14:04 sosial? 14:06 Tanpa keraguan dijawab langsung 14:07 marketplace. 14:08 Marketplace ya? 14:08 [tertawa] 14:09 Nanti kalau sudah sudah lebih expert 14:10 baru 14:10 Yes. 14:11 media sosial. Iya iya iya. 14:13 Eh baik Bang Fawaz, kita mulai sebelum 14:15 masuk ke pembahasan lebih lanjut kita 14:17 bacain WhatsApp dulu Bang. 14:18 Ah, monggo. 14:19 Banyak nih Bang yang sudah kirim 14:20 WhatsApp. Ada Bu Ingga, Bu Dharma. 14:24 Banyak dari emak-emak Bang yang ngirim 14:25 WhatsApp nih Bang. 14:26 Ya, alhamdulillah. 14:28 Ada juga dari 14:31 emm Pak Bayu, Pak Abay di Jakarta. 14:34 Assalamualaikum Bang Fawaz, Kang Mus. 14:36 Jika seseorang sudah punya produk tapi 14:39 berupa stok-stok dalam jumlah banyak dan 14:43 stoknya ini dead stock Bang Fawaz. 14:46 Stoknya banyak dan dead stock. 14:47 Tidak terbaharui. 14:49 Tidak terbaharui. 14:50 Iya. 14:51 Apakah online, apakah dengan cara online 14:53 masih bisa dipasarkan? 14:55 Misalkan untuk sepatu-sepatu yang 14:57 size-nya broken. Mohon nasihatnya. 15:00 Baik. 15:00 Jadi, dia punya stok 15:02 stoknya ini sudah sudah mengendap 15:04 Iya. 15:04 cukup lama. Apakah bisa dipasarkan 15:06 secara online? 15:07 Produknya sepatu pula ya? 15:08 Produknya sepatu pula. 15:09 Oh, ini sepatu pula ya? 15:10 Kebetulan ini sepatu. 15:11 Jadi, kenapa tadi ada saya sampaikan 15:14 sepatu pula gitu ya? Jadi, 15:16 eh 15:17 tepatnya saya kurang tahu ya. Cuman ini 15:19 saya baca tentang 15:22 awal daripada network marketing dulu 19 15:26 sekitar 1960-an di Amerika. 15:29 Itu ekonomi parah dan ada satu pabrik 15:33 sepatu ya sama ini. 15:34 Ya, pabrik sepatu dia sudah tidak bisa 15:37 produksi lagi. 15:38 Ya. 15:40 Tidak punya staf. 15:41 Ya, tidak punya budget promosi. 15:44 Nah, saat itu kurang lebih kondisinya 15:46 hampir sama seperti sekarang ya orang 15:49 pabrik-pabrik manufacture besar itu 15:52 hancur dan masyarakat banyak yang kena 15:54 PHK. 15:55 Nah, saat itu pengusaha 15:58 ada salah satu sahabatnya dia yang 16:00 kebetulan kena PHK. 16:01 Dia datang ke pabrik dia ngelamar kerja. 16:05 Ya, dia bilang di sini enggak ada 16:07 pekerjaan yang hanya yang ada tersisa 16:09 sepatu 16:11 sisa. 16:12 Gitu ya, kita enggak bahas kualitasnya 16:14 itu bagaimana sepatu sisa yang sudah 16:15 tidak bisa produksi lagi. Nah, akhirnya 16:18 temannya ini menawarkan diri untuk sini 16:20 saya jualin sepatunya. 16:22 Saya jualin sepatunya tanpa dibayar 16:25 berupa gaji melainkan langsung komisi. 16:28 Ya toh, nah dia kelilinglah dari rumah 16:30 ke rumah door to door door to door dan 16:32 dia 16:34 dari penjualan 1 2 3 4 sampai mulai 16:36 banyak dia mulai berdandan pakai jas. 16:39 Gitu ya, tapi tetap door to door ini 16:41 gitu ya tetap door to door ya. Nah, 16:43 sehingga rekan-rekan lain teman-temannya 16:45 dia yang lain itu ngelihat loh si fulan 16:47 ini sudah 16:48 dapat kerja kerja di mana gitu ya. Nah, 16:51 dia bilang saya kerja di pabrik sepatu 16:52 dia enggak tahu kalau ini sebagai 16:54 freelance gitu kan. 16:55 Sebagai apa namanya sales saja yang 16:59 tidak ada gaji. Akhirnya orang-orang ini 17:02 mendaftar pula. 17:03 Sebagai 17:04 Sebagai freelance penjual sepatu 17:05 tersebut dan muter tuh pabrik sepatunya 17:09 dan dia bangkit lagi dan 17:11 penerapan model penjualan seperti itu 17:13 akhirnya diterapkan sama banyak 17:14 industri. 17:15 Gitu ya, nah 17:17 jadi Pak, 17:18 ini kisahnya mirip. 17:20 [tertawa] 17:21 Iya, iya, iya. 17:22 Kalau tidak, kalau misalkan stoknya ada, 17:25 ya, pertanyaannya adalah kalau ini 17:27 penjualannya kembali bergulir, gitu ya, 17:30 ini justru kita tanya balik gitu ya. 17:32 Kalau penjualannya kembali bergulir 17:33 dengan Bapak merekrut dropshipper atau 17:35 reseller untuk bantuan tenaga penjual, 17:38 apakah akan produksi sepatu lagi? 17:40 Iya, jangan nanti ketika sudah berjalan, 17:43 bergulir, [tertawa] 17:44 stoknya malah habis. Nanti nanti 17:46 diperbarui. 17:47 Nanti diperbarui. 17:49 Oh gitu, baik-baik. Tapi memang 17:51 sangat-sangat mungkin berarti Bang ya? 17:52 Mungkin banget. 17:53 Mungkin banget, mungkin banget. 17:56 Eh, 17:57 kita lanjut Bang Fawaz. Jadi, yang perlu 18:00 di, tadi kan sudah di, dibahas, ada 18:02 marketplace, ada juga media sosial. 18:05 Heeh. 18:06 Terus kemudian untuk awal, eh, arahin ke 18:08 marketplace, karena marketplace lebih 18:09 gampang, pasarnya sudah ada dan 18:11 lain-lain. Nah, untuk marketplace, kita 18:15 sudah ada nih yang mau dijual, sudah 18:16 tahu nih Bang yang mau dijual apa. Taruh 18:18 misalkan tadi sepatu, kita sudah tahu 18:19 yang mau dijual sepatu. Gimana caranya 18:22 kita nyiapin kontennya nih Bang? Gimana 18:24 caranya kan marketplace kita posting 18:25 foto dong. 18:26 Iya, betul. 18:26 Gimana caranya kita menyiapkan produk 18:28 kita itu terlihat menarik 18:31 Heeh. 18:31 di marketplace, supaya ketika 18:33 seperti tadi yang Bang Fawaz bilang, 18:35 ketika orang ngelihat di marketplace tuh 18:37 ngelihat foto kita berhenti. 18:38 Iya. 18:39 Enggak lanjut, itu gimana caranya itu 18:40 Bang? 18:41 Baik, jadi 18:42 eh, ini agak, agak, agak panjang dikit 18:44 enggak apa-apa. 18:45 Enggak apa-apa Bang, kita masih punya 18:46 banyak waktu. Rencana sampai maghrib 18:47 [tertawa] sih Bang. 18:48 Gitu ya, terus para pendengar siap semua 18:50 ya. 18:50 Siap semua. 18:52 Monggo, monggo [tertawa] Bang. 18:53 Jadi begini, saya mulai dari kenapa 18:55 marketplace, gitu dulu ya. 18:57 Karena marketplace itu, teman-teman 18:59 sekalian, ya, 19:01 karakteristik daripada orang yang hadir 19:04 membuka marketplace, ya, 19:07 tadi 19:08 sudah siap untuk menerima penawaran. 19:11 Artinya, 19:13 kita enggak perlu eh menerapkan strategi 19:15 yang aneh-aneh, tarik database dan lain 19:17 sebagainya. Jadi untuk memulai 19:19 benar-benar Anda hanya 19:21 eh perlu memenuhi apa yang diminta sama 19:25 marketplace tersebut. 19:26 Itu dulu satu, ya. Nah, paling untuk 19:29 tahap awal antara Tokopedia, Bukalapak, 19:32 Shopee. 19:33 Wah, ini ngeri banget itu semua-semua 19:35 disebutin. 19:35 Lazada. 19:35 Lazada gitu ya. Nah, dari empat ini saya 19:38 mau jualan di mana? 19:40 Gitu ya, saya mau mulai jualannya di 19:42 mana? Nah, itu perlu riset. 19:44 Risetnya gimana? Biasanya saya gini, 19:46 teman-teman. Saya mau menjual eh sebuah 19:49 produk 19:50 baju 19:52 kurta gitu ya. Nah, baju kurta. 19:55 Baju kurta ini baju yang gamis panjang 19:57 ya? 19:57 Iya, yang panjang. Baju muslim kurta 20:00 Pakistan. Nah, itu kan. 20:01 Pakistan. 20:02 Itu lengkap begitu kenapa? 20:04 Judulnya, copywriting-nya. 20:07 Judul di 20:07 Masih keingat riset kemarin. 20:09 [tertawa] 20:10 Jadi judul di marketplace-nya kita 20:12 cantumin panjang tuh ya. Jangan cuma 20:13 baju muslim doang. 20:14 Detail, harus detail. 20:15 Harus detail. 20:15 Nah, saya lanjut ya. Jadi 20:17 eh saya mau memilih nih, saya mau jualan 20:19 di mana ya? Di yang hijau kah, yang 20:21 merah kah, mau Shopee kah, Tokopedia, 20:22 Bukalapak, yang mana dulu? Nah, saya 20:24 pertama-tama yang akan saya lihat adalah 20:26 yang barang mau saya jual ini, saya cek 20:28 dulu di tiga itu gitu ya. 20:31 Toko penjual kurta di hijau, merah dan 20:35 oranye ini gitu ya, di Tokopedia, 20:36 Bukalapak dan Shopee, yang mana yang 20:39 paling merata penjualannya. 20:41 Bukan yang paling besar ya. Jadi kita 20:43 bisa cek kan. 20:44 Eh kita searching dulu ya, baju muslim 20:48 kurta Pakistan katakan lagi itu. Lalu 20:50 keluarlah toko-toko yang menjual produk 20:53 tersebut. Nah, kita lihat dulu 20:55 total transaksi daripada toko-tokonya. 20:59 Kalau dari banyaknya toko hanya 21:01 didominasi oleh satu sampai dengan lima 21:03 toko aja dengan penjualan ribuan, yang 21:05 lainnya 21:07 puluhan-puluhan aja ya. 21:09 Saya akan cek yang sebelahnya. 21:11 Kalau yang sebelahnya 21:12 ternyata eh ada banyak toko yang nilai 21:15 transaksinya ratusan, maka saya akan 21:17 jualan di situ. 21:18 Mmm. 21:19 Gitu ya. Karena saya menilainya lebih 21:22 lebih lebih merata gitu loh. 21:23 Iya. 21:24 Lebih merata. Artinya eh 21:27 orang yang mau beli baju muslim kurta 21:29 itu di platform yang banyak toko laku 21:33 itu lebih banyak yang butuh gitu loh. 21:36 Mmm. 21:36 Lebih banyak kita bisa jualan di sana. 21:38 Nah, ketika saya sudah memilih 21:39 platformnya 21:41 yang kedua adalah melengkapi profil 21:43 tokonya secara profesional. Nah, ini 21:45 dulu. 21:46 Mmm. 21:47 Bikin selengkap-lengkapnya. 21:49 Nah, biasanya orang itu malas ngisi 21:50 deskripsi. 21:51 Mmm. Betul. 21:52 Dikasih jatah 1.000 karakter diisi cuman 21:55 tiga. 21:55 [tertawa] 21:57 Murah aja. 21:58 Toko murah biasanya kalau deskripsinya 22:00 gitu loh. 22:00 Toko murah gitu kan, serba ada dan 22:02 lain-lainlah. Nah, jadi pertama eh 22:06 hilangkan dulu kebiasaan itu ya. 22:09 Karena gini, kalau kita jualan secara 22:11 langsung senjata kita itu kan mulut. 22:14 Mmm. 22:14 Senjata kita verbal. Tapi kalau di dunia 22:16 digital 22:17 senjata kita itu copywriting. 22:19 Senjata kita itu bagaimana caranya kita 22:21 mampu mengkomunikasikan 22:23 melalui teks. 22:26 Ya, jadi sering-sering menulis deskripsi 22:30 produk dan lain sebagainya itu 22:31 sebenarnya latihan semua. 22:32 Mmm. 22:33 Ya, jadi kalau ada kesempatan untuk 22:35 mengisi deskripsi jangan 22:37 singkat-singkat. Tapi ceritakan bisnis 22:40 Anda secara tekstual. 22:42 Foto dan lain-lain ya, paling saya 22:44 tekankan hanya di foto produk. 22:46 Mmm. 22:47 Gitu ya. 22:47 Foto produk ini penting. 22:49 Mmm. 22:49 Jadi masih banyak, saya bukan bukannya 22:51 eh tidak menyarankan Anda enggak foto 22:54 pakai smartphone gitu ya. 22:56 Tapi bayangkan begini 22:58 Anda pakai smartphone foto produk. 23:00 Mmm. 23:00 Sedangkan toko sebelahnya ya, modelnya 23:04 saja sudah bule. 23:05 Iya, fotonya proper banget. 23:07 [tertawa] 23:08 Seperti itu kan, nah maka dari itu 23:11 kalaupun mau fotonya cuma sekedar pakai 23:13 handphone, dua hal saja. Pertama Anda 23:16 harus mau belajar editing setidaknya, 23:20 ya. 23:21 Yang kedua 23:23 ya pencahayaanlah ketika pengambilan 23:25 gambar dan lain sebagainya. Begitu, oh 23:27 satu lagi ditambah lagi setiap produk 23:29 itu sekarang di marketplace. 23:31 Setiap produk yang kita pos selalu 23:33 dikasih 23:35 video. Dikasih jatah kita bisa 23:37 menampilkan videonya. Jadi 23:40 fotografi dan videografi sekarang 23:41 penting banget untuk pelaku penjualan 23:43 online. So belajar tentang hal itu saya 23:46 pikir bukan hal yang sia-sia. 23:48 Gitu ya, nah itu semua dari profil yang 23:51 profesional, foto yang terlihat serius 23:54 ya, bukan bukan cuma saya serius nih 23:57 fotonya nih, bukan cuma itu tapi harus 23:59 terlihat serius. 24:00 Iya, hasilnya juga harus serius ya. 24:01 [tertawa] 24:02 Harus terlihat serius. 24:03 Hasilnya mah berhenti di niat tuh, 24:04 hasilnya juga harus kelihatan serius. 24:06 Betul. 24:07 Betul karena orang kadang enggak tahu 24:09 perjuangan kita, orang kan cuma ngelihat 24:10 dari hasilnya saja. 24:11 Yes, apalagi kalau dia cari pencarian 24:13 yang keluar langsung ribuan 24:15 Iya. 24:15 foto produk. Betul. Betul kan, gimana 24:17 caranya kita bisa bersaing sama 24:20 foto-foto lain yang lebih profesional 24:23 lah yang yang tampak tampak serius 24:25 mengerjakannya. 24:26 Iya iya iya iya, jadi di sini yang yang 24:29 dinilai hasilnya bukan prosesnya. 24:30 Yes. 24:31 Walaupun kita kerjanya enggak serius 24:32 kalau hasilnya serius oke juga tuh Bang 24:34 ya. [tertawa] 24:35 Baik Iwan dan Nawad, 24:37 cukup seru per diskusi kita. Bagi Iwan 24:39 dan Nawad yang ingin berpartisipasi ayo 24:42 sekali lagi saya kami undang di nomor 24:44 WhatsApp 08111999720 24:48 atau telepon interaktif ke 0218451512. 24:52 Jangan ke mana-mana Iwan dan Nawad kami 24:54 akan kembali setelah 25:08 [musik] 25:15 Masih bersama kami Ikhwan dan Akhwat di 25:17 acara Ahlan Wasahlan. 25:20 Pada hari ini spesial tentang digital 25:22 marketing suatu hal yang sering kita 25:25 dengar, kita sering dengar kisah-kisah 25:27 suksesnya orang-orang jadi kaya 25:28 mendadak, ada anak muda 25:31 ee lulus kuliah langsung kaya, bahkan 25:33 ada yang anak-anak SMA 25:35 trennya nih Bang Fawaz, banyak anak-anak 25:37 SMA yang orang tuanya bilang "Uh, anak 25:39 saya ngapain nih? Kok bisa tiba-tiba 25:40 dapat banyak uang?" Ada yang pikir "Wah, 25:42 jangan-jangan anak saya jualan narkoba 25:44 atau yang lain." Padahal enggak Ikhwan 25:46 dan Akhwat. Padahal anak bisa jadi 25:48 anak-anak Ikhwan dan Akhwat mendapatkan 25:50 banyak uang karena mereka berjualan 25:51 secara online. 25:52 Iya. 25:53 Kalau dengar cerita Bang Fawaz tadi ada 25:55 yang namanya dropshipper, bahkan dia 25:56 tidak punya barang dia bisa berjualan 25:59 barang orang lain. 26:00 Iya. 26:00 Dan ketika diseriusin untungnya lumayan 26:02 besar, gitu. Jadi kalau dulu 26:05 orang tua-tua tuh berharap menantunya 26:08 enggak di rumah gitu, supaya dapat 26:10 banyak penghasilan. Hari ini banyak yang 26:12 mantunya sarungan penghasilannya jauh 26:14 lebih besar. 26:14 [tertawa] 26:16 Sarungan dari rumah ketak-ketik 26:18 ketak-ketik handphone dikira main 26:19 handphone padahal lagi transaksi tuh. 26:22 Menarik. Banyak WhatsApp Bang Fawaz yang 26:24 masuk ke kita, ada dari 26:27 Bunda Milda. Assalamualaikum 26:28 warahmatullahi wabarakatuh Bang Fawaz, 26:29 Kang Musa, saya lagi belajar jualan 26:31 online. 26:32 Oke. 26:32 Masih lingkup kecil lewat WhatsApp 26:35 status dan WhatsApp grup. Saya jualan 26:37 baju-baju muslim. 26:39 Agar membuat orang-orang yang melihat 26:40 lebih tertarik selain dari kata-kata 26:42 atau tulisan 26:44 kira-kira bagaimana ya caranya? 26:47 Kadang-kadang saya juga coba selingin 26:49 dengan produk-produk lain seperti 26:50 makanan dan lain-lain. Mohon nasehatnya 26:52 Bang Fawaz, syukron. 26:55 Baik, terima kasih Ibu siapa? Afwan. 26:56 Ibu Ibu Naemilda. 26:59 Bunda Emilda. 27:00 Emilda. 27:01 Masya Allah. 27:02 Esmeralda, kayaknya nama Spanyol ya 27:03 Bunda Emilda ini. 27:04 [tertawa] 27:05 Mungkin masih ada keturunan. 27:06 Latin. 27:08 Silakan, Bang. 27:08 Baik, Bunda. 27:11 [tertawa] 27:12 Sudah akrab banget. 27:13 Sudah akrab ya. 27:14 Jadi jadi begini, ee 27:17 memang 27:18 kita ee 27:20 walaupun ada marketplace, walaupun ada 27:22 media sosial, 27:24 He eh. 27:24 tapi uniknya di Indonesia itu 27:28 transaksi kok malah juga lebih tinggi 27:30 lewat WhatsApp ya, kan begitu tuh. 27:31 [tertawa] 27:32 Oh, artinya closing lebih banyak lewat 27:33 WhatsApp. 27:33 justru memang lebih banyak di ee 27:36 WhatsApp via chatting. 27:37 Oh, iya iya iya. 27:38 Nah, jadi ini yang perlu teman-teman 27:40 tahu gitu ya. 27:41 He em. 27:41 Nah, jadi kalau ee baru memulai di 27:45 WhatsApp sebenarnya 27:48 ke depannya pun Anda akan ada di 27:49 WhatsApp. 27:50 Iya, iya. 27:50 [tertawa] 27:51 Walaupun kita sudah main di mana-mana 27:52 gitu ya. 27:53 Iya, mau pakai strategi yang lain-lain 27:55 gitu ya, tetap aja nanti ee WA itu akan 27:58 sangat berguna gitu ya atau aplikasi 28:00 sejenis 28:01 He em. 28:02 bila tergantikan gitu ya. 28:03 Oh, Telegram gitu ya, Line. [tertawa] 28:06 Ada lagi nih, apa ee BIP atau apa gitu 28:09 ya. 28:10 Nah, artinya sama ajalah ya. 28:12 He em. 28:13 Jadi gini, ee Bunda. 28:15 [tertawa] 28:16 Sorry ya, saya tadi agak ketawa soalnya 28:18 dengar kaya mendadak tadi loh. 28:19 He em. 28:20 [tertawa] 28:21 Dan menantu 4.0. 28:23 Menantu 4.0 tuh. 28:26 Jadi gini, untuk mengoptimal ee 28:28 mengoptimalisasi penjualan di WhatsApp 28:32 He em. 28:33 He em. Ibu perlu 28:36 menambah kontak itu dulu. 28:38 He em. 28:39 Ya. 28:39 He em. 28:40 Karena di WhatsApp itu status kita 28:42 ya, hanya bisa dilihat oleh orang yang 28:45 saling menyimpan nomor. 28:46 He em he em. 28:47 Betul toh? 28:48 Betul. 28:49 Ibu perlu pikirkan sebuah cara bagaimana 28:52 agar Ibu dapat kontak baru. 28:56 Gitu ya. Nah, nanti ini kita insya Allah 28:58 di pelatihan kita akan kita bahas detail 29:00 gitu ya. 29:01 Dagang pecel. 29:02 [tertawa] 29:03 Cara nambah kontak gitu ya? 29:05 Bagaimana cara 29:06 Ada strateginya tuh Bang ya? 29:07 Ada strateginya [tertawa] gitu ya. 29:09 Nah, jadi eh bagaimana agar kita 29:12 menambah kontak person kita gitu ya. 29:16 Bercanda ya, jangan terlalu serius soal 29:18 dagang tadi ya. 29:19 [tertawa] 29:19 Ibu bisa mulai dari join grup demi grup 29:23 gitu ya. Eh grup WhatsApp, grup Facebook 29:27 ya, dimulai dari itu dulu. 29:28 Tapi pastikan grup-grup yang Anda masuki 29:31 adalah grup-grup yang sesuai. 29:34 Ya, penghuninya itu sesuai dengan calon 29:36 pembeli daripada produknya. Kalau 29:39 produknya baju muslim, kira-kira calon 29:42 pembelinya itu 29:44 eh 29:45 bagaimana sih gitu kan? Ya tentu pertama 29:48 muslim. 29:49 Pria maupun wanita usia berapa? Nah, dia 29:52 kira-kira kalau di Facebook itu 29:54 mem-follow fanpage apa? 29:57 Mmm. 29:57 Masuk di grup apa? Nah, di situlah Ibu 30:00 juga harus masuk dan diagendakan. 30:03 Ya, setiap hari saya nge-share apa di 30:06 grup yang mana. 30:08 Begitu. Kalau kita bicara tentang 30:10 WhatsApp dan baru jualan basic nih baru 30:13 memulai banget 30:15 Nah, saya kasih gini aja. Ada dua 30:18 teknik menjual gitu ya. Yang pertama 30:20 adalah kita menawarkan orang. 30:23 Yang kedua 30:25 memancing orang untuk bertanya ke kita. 30:27 Nah, kalau memancing orang untuk 30:30 bertanya ke kita, kita memanfaatkan 30:32 status. 30:32 Mmm. 30:33 Kalau kita yang mendo- apa menawarkan 30:36 terlebih dahulu, nah kita manfaatkan 30:38 broadcast message kan seperti itu. 30:40 Ya, pertanyaannya kalau kita broadcast 30:43 message biasanya akan dianggap {tanda 30:47 kutip ya} spam iya bila ke kontak yang 30:50 belum menyimpan nomor kita. Betul. 30:52 Mengganggu gitu ya. Nah, nanti takutnya 30:54 kita diblok justru informasinya enggak 30:56 sampai. 30:57 Gitu ya. Jadi ada dua cara tadi Ibu. 30:58 Yang pertama tawarkan langsung ya lewat 31:02 broadcast bikin copywriting-nya yang 31:04 baik. Yang kedua adalah pancing dia 31:07 bertanya lewat status-status yang kita 31:08 bikin. Nah, belum selesai nih. 31:10 Status itu saya kasih tips bikin status 31:13 yang agar dilihat semua orang. 31:15 Artinya mau foto produknya bagus atau 31:17 tidak, kan ujungnya itu yang menilai 31:19 adalah transaksi ya. Iya. Saya foto 31:21 produknya biasa aja tapi transaksi saya 31:23 tinggi. Mantap. He em em. 31:25 [tertawa] 31:26 Nah, jadi bagus tidaknya sebuah foto dan 31:28 lain-lain gitu itu saya kembalikan lagi 31:31 hasilnya adalah eh tolak ukurnya adalah 31:34 transaksi. 31:35 Ya. 31:37 Tapi gimana caranya agar status kita 31:39 dibuka sama orang? Kan begitu ya. 31:41 Jadi gini, pertama 31:43 eh saya sarankan pakainya WA bisnis. He 31:46 em. 31:46 Ya, pakainya WA bisnis. Kenapa WA 31:48 bisnis? Karena WA bisnis bisa membuat 31:51 labeling he em dari nomor-nomor kita. 31:53 Jadi kita bisa broadcast langsung ke 31:55 semua orang gitu ya yang sudah kita 31:57 tandai. Yang kedua status WA kita 32:01 ya. 32:02 Status WA itu kan menarik ya. Dia 32:04 platform-nya itu gini modelnya. Kalau 32:06 kita posting yang pertama 32:08 lalu kita bisa posting-posting lagi yang 32:10 banyak kan. Sampai kadang-kadang ibu-ibu 32:12 jualan tuh sampai titik-titik ya. Kecil 32:14 gitu ya. 32:14 Titik-titik kecil gitu ya. Nah, itu saya 32:16 tidak merekomendasikan sama sekali. Iya. 32:18 Ya. Tapi tawarkan begini Ibu. Satu 32:21 produk setiap jam berapa dipostingkan. 32:24 Harus konsisten gitu ya. Konsisten. 32:26 Jadi satu produk tertentu Ibu punya 10 32:28 produk. Nah, produk yang ini setiap jam 32:30 ini ya saya postingnya. Katakanlah 32:31 begitu ya. Jadi dibikin manajemen 32:33 waktunya. Yang kedua setiap memposting 32:35 setidaknya posting tiga status. 32:38 Ehm. 32:39 Status yang pertama, kedua, dan yang 32:40 ketiga. Yang ketiga ini kan yang akan 32:42 tampak dari luar. 32:43 Betul. 32:44 Jadi, orang yang mau ngelihat status 32:46 kita, dia itu melihat postingan kita 32:48 yang ketiga. 32:49 Ehm. 32:49 Ya. Maka, postingan kita yang ketiga itu 32:52 harus berisikan kata-kata sedikit yang 32:55 memancing orang untuk klik, gitu loh. 32:57 Ehm. 32:57 Yang untuk membuka status kita. 33:00 Ya. 33:00 Iya, iya. 33:00 Jadi, ada tiga status, ya. Bikin tiga 33:03 post status. Yang ketiga adalah yang 33:06 dilihat oleh 33:08 eh kontak kita. 33:10 Ehm. 33:10 Iya, toh? Nah, maka isi yang ketiga itu 33:13 harus kata-kata yang memancing orang 33:15 tersebut ngeklik. Contoh, 33:18 alhamdulillah, kasih emot tonjok ke 33:20 atas, senyum. Itu kan orang penasaran, 33:23 ya. "Ih, kenapa nih dia?" gitu, ya. 33:25 Dibuka. Ketika dibuka, masuk ke post 33:27 satu, kan? 33:29 Post satu ini harus mengkomunikasikan 33:31 kendala orang yang buka. 33:34 Begitu. Ya. Yang kedua baru foto produk. 33:37 Contohnya gimana tuh kendala orang yang 33:38 buka? 33:39 Jadi, contoh gini. 33:40 Ehm. 33:41 Eh, saya punya kendala, kalau saya, ya. 33:43 Saya punya kendala cari baju muslim yang 33:46 ukurannya pas. 33:47 Ehm. 33:47 [tertawa] 33:48 Gitu, ya. 33:49 Iya, iya, iya, iya. 33:50 Super-super ekstra, gitu, ya. 33:51 Super-super ekstra large, gitu, ya. 33:53 Ehm. 33:53 Nah, maka saya akan akan eh 33:57 memilih untuk lanjut, ya, bila 34:01 kata-kata yang di pertama dilihat di 34:04 saya lihat ketika saya klik itu adalah 34:06 soal keresahan saya mencari baju. 34:08 Iya. 34:09 Gitu, ya. Eh. 34:11 Anda bisa tulis begini, "Kamu lagi 34:14 susah?" Atau gini, "Susah, kan?" 34:16 Beda, ya. "Kamu lagi susah?" Atau 34:17 "Susah, kan?" 34:19 "Cari baju muslim kurta yang big size?" 34:23 Ehm. 34:23 [tertawa] 34:24 Gitu, ya. Tiba-tiba saya baca itu, saya 34:26 klik, nah, itu sudah eh dari quality 34:29 barangnya setelahnya. 34:30 Dari situlah, kurang lebih. Gitu, ya. 34:32 Jadi alurnya gitu. Tiga. 34:34 Yang pertama, yang pertama tadi 34:36 keresahan orang. Yang kedua, foto 34:38 produknya. Yang ketiga, 34:40 clickbait-nya. Kata saya tadi gitu ya. 34:42 Pancingan untuk orang ngeklik, gitu. Ya. 34:46 Kurang lebih beginilah, nanti di kelas 34:47 kita bisa bahas lebih banyak. 34:48 Iya, mantap. 34:50 [tertawa] 34:51 Eh, ada lagi Bang Fawaz. Assalamualaikum 34:53 warahmatullahi wabarakatuh. Maaf, Ibu 34:55 lagi dengerin Radio Rasheed sekarang. 34:58 Eh, tentang cara memasarkan produk 34:59 online. Ibu belum bisa nih, 35:02 eh, untuk ikut jualan online. Ibu ini 35:04 tukang jahit. Ibu bisa bikin baju apa 35:08 saja, seperti baju muslim dan kemeja 35:09 batik, juga baju-baju lainnya. Bagaimana 35:12 caranya Ibu menaruh produk di online? 35:14 Dari Ibu Yus di Depok, yang mendengarkan 35:16 Rasheed sejak tahun 2011. 35:19 Masyaallah. 35:20 Disebutkan oleh beliau. 35:22 Dari 2011 ya, iya. 35:23 Jadi Ibu Yus nih udah, eh, sudah, sudah 35:26 sepuh, eh, Bang Fawaz. Beliau nih, 35:30 eh, bikin produk-produk baju, baju-baju 35:34 muslim, kemeja batik. Tapi bingung cara 35:37 naruh produknya tuh di online. 35:39 Apakah ada caranya? Atau mungkin 35:42 pertanyaannya lebih ke, kalau seandainya 35:44 bukan Ibu yang menjalankan, apakah ada 35:46 tempat-tempat yang, "Nih saya punya 35:47 produk nih, tolong dong dijualin." Nanti 35:49 ada dropshipper-dropshipper yang meng, 35:51 meng, mengambil produk barang itu. 35:54 Baik, sebelumnya terima kasih, Ibu, ya. 35:57 Eh. 35:58 Jadi gini, eh, Bang Musab. 36:01 Di, ketika saya buka pelatihan bisnis, 36:03 He eh. 36:04 Ya. 36:05 Udah 3 tahun lebih ya. 36:07 He eh. 36:08 Saya punya, eh, cukup banyak peserta, 36:13 yang bahkan email aja enggak bisa bikin, 36:15 gitu ya. 36:15 Oh, gitu. 36:16 Yes. 36:16 Dari nol banget berarti ya. 36:17 Sampai sekarang admin saya ini masih 36:19 ngantri puluhan email untuk dibuatin. 36:22 Oh. 36:23 Yes, sampai sampai seperti itu. 36:25 Ya. Nah, itu positifnya adalah 36:28 minat belajar bisnisnya tinggi. 36:31 Oh. 36:32 Gitu ya, minat belajar bisnisnya tinggi. 36:33 Memang eh 36:35 dari sayanya, ya jadi jadi konsekuensi 36:37 yang harus diterima adalah orang jadi 36:39 lambat masuknya kan. 36:40 Iya. 36:40 Karena dia harus nunggu dulu admin bikin 36:43 email dan lain-lain. Nah, enggak masalah 36:45 gitu ya, nanti pun di program belajar 36:47 kita pun nanti akan ada fasilitas untuk 36:49 itu. 36:50 Heeh. 36:50 Dibantu betul-betul ya. 36:52 Heeh. 36:52 Lalu yang berikutnya gini, 36:55 kalau Ibu betul-betul sendirian, tidak 36:58 ada yang bisa bantu untuk 37:00 meng-online-kan gitu ya, nah itulah 37:04 eh salah satu alasan kenapa kita akan 37:07 keluarkan ini nanti nih, insyaallah yang 37:09 bulan depan kita jalan gitu ya, di mana 37:11 orang-orang yang bisa produksi itu bisa 37:14 kita promosikan secara cuma-cuma. 37:16 Oh. 37:17 Jadi kita bantu promosikan di platform 37:19 kita, jadi peserta didik kita yang belum 37:22 punya produk ya, yang minat untuk 37:25 menjadi dropshipper atau reseller dari 37:28 si Ibu itu kan juga bisa ketemu nanti 37:30 gitu loh. 37:30 Jadi Bu Yus nanti bisa ikutan tuh kalau 37:32 punya produk. 37:33 Tentu bisa. 37:34 Heeh. 37:35 Gitu Ibu Yus. 37:36 Jadi memang pada intinya adalah tidak 37:38 ada tidak ada yang tidak mungkin di 37:40 dunia online ini Bang ya. Dari apapun 37:42 kondisi kita se se 37:45 segaptek apapun ya, selalu ada jalan. 37:49 Ada lagi WhatsApp dari 37:54 eh 37:55 dari Bang Andi di Tambun. 37:59 Oh, mendengarkan banyak yang absen nih 38:00 Bang Fawaz, mendengarkan. 38:02 Terima kasih banyak. 38:04 Terima kasih dari komunitas pendengar 38:06 grup komunitas pendengar hasil juga 38:07 banyak yang mengirimkan WhatsApp. 38:11 Heeh, banyak yang banyak yang justru 38:14 banyak yang baru tahu Bang Fawaz 38:15 ternyata memang digital marketing tidak 38:18 sesulit itu 38:19 Iya. 38:19 dan digital marketing ternyata tidak eee 38:23 tidak se tidak seribet itu dan sangat 38:27 prospek ya. Tadi sempat bahas WhatsApp 38:29 bisnis, WhatsApp bisnis itu cara 38:31 mengaktifkannya bagaimana, Bang? 38:33 Jadi gini, jadi emm ini sekali lagi saya 38:36 tidak mewakili dari pihak WhatsApp gitu. 38:39 Betul, betul. Informasi umum ini. 38:40 Iya, ini informasi umum saja gitu ya. 38:42 Anda search di Google juga sepertinya 38:44 bisa. Cuman intinya 38:47 eee WhatsApp itu sebuah platform 38:48 komunikasi dan interaksi gitu ya. Untuk 38:52 berdagang, tapi kan di Indonesia ini 38:54 dipakai untuk berdagang tinggi kan. 38:57 Nah, mereka keluarkan satu platform baru 38:59 namanya WhatsApp bisnis. Sebenarnya 39:00 tidak baru-baru banget, ini sudah lama 39:01 gitu ya. 39:02 Di mana lebih banyak dipergunakan untuk 39:05 fitur-fitur kita berdagang gitu ya. Nah, 39:08 fitur berdagang ini maksudnya gimana? 39:11 Yang namanya kita mau berjualan, kita 39:12 kan harus promot kan. Kita harus 39:15 promosi, kita harus mengkomunikasikan 39:17 eee produk kita 39:19 ke semua kontak kita. Makanya Anda 39:21 perhatikan kalau di WhatsApp biasa, 39:24 fitur teruskannya kan sudah 39:26 terbatas. 39:26 Tidak seperti dulu kan. 39:27 Iya. 39:28 Kalau dulu kita bisa broadcast ke semua 39:29 orang kan. Nah, itu fiturnya dipisahlah 39:31 sama mereka. 39:32 Kalau di WhatsApp bisnis itu kita tetap 39:34 bisa broadcast dan per label kan. Jadi 39:36 label itu pengkategorian. 39:38 Oh, ini ada nomornya Bang Fawas. Bang 39:40 Fawas itu apa? Konsumen. Oh, ini ada eee 39:42 nomornya Bang Musa nih. Ini apa nih? Ini 39:45 pelan eee calon pembeli. Katakanlah gitu 39:48 ya. Jadi ada yang sudah beli, ada yang 39:49 belum. Begitu kan. Kalau yang beli, 39:51 nanti Anda mau kirimkan pesan tentang 39:53 apa ke mereka. Kalau untuk yang belum 39:54 beli, nanti Anda kirimkan pesan apa 39:56 seperti apa eee ke ke mereka semua. Nah, 39:58 itu memungkinkan dikelola pakai WhatsApp 40:00 bisnis. 40:01 Emm. 40:02 WhatsApp bisnis itu juga kan mereka 40:03 punya fitur katalog produk gitu kan. 40:06 Jadi kita bisa taruh katalog produk kita 40:08 ya di eee WhatsApp bisnis ya dan lengkap 40:12 juga tuh sama tombol-tombolnya. Jadi 40:14 kita bisa konekin dia. 40:16 Kita kirimkan begini ya. kalau WhatsApp 40:18 biasa kita biasanya hanya berkirim 40:20 gambar, berkirim video. Ya kalau 40:22 WhatsApp biasa kita bisa berkirim 40:23 produk. 40:24 Berkirim foto produk lengkap dengan 40:25 tombolnya. Jadi ke selengkapnya atau 40:27 beli nanti 40:29 tombol tersebut langsung mengarah ke 40:32 apa yang mau Anda tuju. Contoh Anda 40:34 punya Tokopedia tapi jualannya pakai 40:36 WhatsApp itu bisa gitu ya. 40:37 Oh jadi nanti ketika diklik langsung 40:39 mengarah ke Tokopedia atau ke Shopee 40:41 gitu ya. 40:42 Iya. 40:43 Menarik Bang Fauz. 40:45 Bang tadi kan juga 40:47 eh 40:48 sempat dibahas tentang 40:50 Bang Fauz bilang kalau seandainya kita 40:52 mau posting di marketplace 40:54 gambar sudah menarik nih tapi kalau 40:55 copywriting atau tulisannya enggak 40:57 menarik kan jadi jadi mentah juga. 40:59 Iya. 41:00 Nah gimana caranya bikin copywriting 41:01 biar menarik Bang? 41:03 Baik jadi gini. 41:05 Eh. 41:07 Kita 41:09 sebelumnya gini ya teman-teman ya. 41:10 Teman-teman jangan berpikir bahwa saya 41:13 mampu menjawab semuanya. 41:14 He eh. 41:15 He eh. 41:16 Ya tapi 41:17 He eh. 41:17 kenapa saya perlu sampaikan itu? Karena 41:19 toh di hari demi hari Anda sendirian. 41:21 Betul betul. 41:22 Ya maka 41:24 banyak-banyaklah mengambil pandangan 41:27 dari perspektif kalau Anda itu pembeli. 41:30 He eh. 41:30 Maka apa yang akan Anda cari gitu kan? 41:32 He eh. 41:33 Ya satu kita kita lihatnya dari ini aja 41:36 dari kita mencari informasi di Google ya 41:38 kita ketik apapun di Google kita butuh 41:40 informasi tentang apapun 41:42 itu kan akan keluar banyak ke listingan 41:45 informasi bentuknya artikel dan 41:47 lain-lain. 41:47 He eh. 41:48 Ya kan enggak mungkin dong Anda cari 41:50 sampai ke ya walaupun ada ya orang 41:52 begitu dicari sampai halaman ke delapan 41:54 gitu. 41:55 He eh. 41:55 Atau ke 12 ke ujung. 41:57 He eh. 41:57 Ya paling akhir cuma siapa yang cari 41:59 artikel sampai ujung sana gitu 42:00 Jarang. 42:01 Mahasiswa lagi ngerjain skripsi. 42:03 Iya. 42:03 [tertawa] 42:06 Kecuali 42:07 mahasiswa tahap akhir gitu kan. 42:09 He eh. 42:09 Lagi mengerjakan skripsi dia cari 42:12 artikel dari yang paling ujung gitu kan, 42:14 biar dosennya enggak lihat gitu kan. 42:16 Iya, betul. 42:16 [tertawa] 42:17 Nah, 42:18 yang eh 42:20 diprioritaskan untuk diklik sama orang 42:22 adalah artikel yang di paling depan, ini 42:24 dulu. 42:25 Lalu dari banyaknya artikel yang paling 42:27 depan, apa yang membuat kita memilih 42:30 salah satunya? 42:30 Ehm. 42:31 Tentu kan judul. 42:32 Betul. 42:33 Judul. Nah, kenapa judul tersebut eh 42:37 kita pilih, ya? Karena kita menilainya 42:39 judul itu paling relevan dengan 42:41 kebutuhan kita. 42:42 Apa itu relevan gitu ya? Maksudnya 42:44 paling sesuai dengan kebutuhan kita. 42:46 Ehm. 42:46 Maka kenapa tadi saya bilang di 42:48 marketplace eh lebih mudah gitu 42:50 teman-teman ya, 42:51 Ehm. 42:51 karena orang eh kalau mencari informasi 42:55 ya atau mencari produk di langsung di 42:58 marketplace-nya, yang dia ketik adalah 43:00 nama produknya. 43:01 Ehm. 43:02 Ya. Jadi langsung saja bikin nama 43:04 produk, ya. Ehm, biasanya gini, nama 43:07 produknya, ya, nama brand-nya, 43:11 ya. Lalu kasih eh embel-embel kayak 43:17 apa ya? Kayak kayak value-nya gitu loh. 43:19 Ehm. 43:19 Premium, gitu ya. 43:21 Ehm. 43:21 Eh 43:22 Eksklusif. 43:23 Eksklusif, ya. Murah. 43:25 Murah. 43:26 Murah gitu. By the way, Pak, masukan itu 43:28 juga bagus gitu loh. Walaupun kebanyakan 43:31 saya tidak jual barang murah. 43:33 Ehm. 43:33 Karena kalau misalkan kita jual barang 43:34 murah, kita bikin eh kita tidak jual 43:37 barang murah gitu ya. 43:38 Lalu kita bikin salah satu judulnya itu 43:40 pakai kata murah. 43:41 Ehm. 43:42 Yang enggak yang enggak relevan lah gitu 43:44 kan. 43:44 Enggak relevan. Lagi pula kalau kita 43:45 enggak jaga brand juga nanti kan agak 43:47 susah. 43:47 Iya. 43:48 Nah, tapi untuk memulai sekali lagi 43:49 judul enggak usah neko-neko enggak 43:51 masalah. 43:51 Ehm. 43:51 Nama produk Anda, ya, satu nama produk 43:55 Anda, yang kedua nama brand-nya, yang 43:57 terakhir adalah kasih eh value yang Anda 43:59 janjikan 44:01 dari produk tersebut. Premium, original, 44:03 dan lain sebagainya. Itu untuk judul, 44:06 ya. Tapi kalau untuk bikin judul sekali 44:09 lagi perlu riset. 44:11 Cara merisetnya dari mana? Salah satunya 44:13 adalah dari pencarian yang dimiliki oleh 44:15 marketplace-nya sendiri. 44:17 Itu yang paling gampang. Kita ketikkan 44:18 saja produk yang mau kita jadikan judul 44:20 tadi di kolom pencarian barang. Nanti 44:23 dia akan rekomendasikan ya. 44:25 Iya. Rekomendasi contoh ya, ee inilah 44:29 handphone atau smartphone 44:32 ee Samsung kata gitu ya. Samsung 44:36 baru Anda ketik sampai Samsung ujungnya 44:38 langsung direkomendasikan sama mereka 44:39 kan. 44:40 Iya betul. 44:40 Apa nih? S apa gitu kan. 44:42 Iya S apa. 44:43 Nah, 44:44 seperti itu. 44:45 Anda masukkan nama produk yang mau Anda 44:47 pakai, Anda lihat nanti ya yang 44:48 direkomendasikan pertama kali sama dia 44:50 apa ya. Nah, 44:52 itu bisa jadi referensi. Kalau mau lebih 44:56 ee ini lagi, lebih tepat sasaran lagi, 44:59 Anda butuh pakai platform pihak ketiga. 45:01 Yaitu 45:02 Seperti pakai Google Trends ataupun 45:03 Google Keyword Planner. 45:05 Mmm. 45:06 Begitu ya, cuman sekali lagi ya 45:08 nanti jelimet gitu ya. 45:09 Iya iya iya [tertawa] iya iya. 45:10 Nanti terlalu jelimet. Yang paling basic 45:12 itu dulu saja ya. Judul langsung nama 45:15 produk, brand dan value yang Anda 45:17 janjikan. 45:18 Mmm, jangan lupa kasih judul, kasih nama 45:20 produk dan juga 45:21 Iya. Value yang kita janjikan. 45:22 janjikan. 45:24 Jadi kalau jualan baju koko, baju koko 45:26 mereknya misalkan Adinda, baju koko 45:28 Adinda 45:29 Iya. 45:30 premium. 45:30 Iya, itu bisa. 45:31 Limited design gitu ya. 45:33 Yes. 45:33 Oh, gitu. 45:34 Cakep. Dan jangan takut salah. 45:36 Iya. 45:37 Sudah bikin judul enggak kunjung datang, 45:38 rubah judulnya gitu kan. 45:40 Betul [tertawa] betul betul betul. 45:41 Jangan takut salah. 45:42 Oke, jadi jangan kebanyakan mikir. Ayo 45:44 Iwan lewat, take action. 45:45 Joget saja. Do it. 45:46 Take action, make it happen. 45:48 Assalamualaikum Bang Fawaz, saya 45:49 Anugerah di Tangerang. Salam hormat 45:51 untuk Bang Fawaz. 45:53 Masyaallah. 45:53 Bang Fawaz, saya mau bertanya. Menurut 45:55 Bang Fawaz lebih baik jual produk di 45:57 online 45:59 contoh misal di Facebook atau Instagram 46:01 atau WhatsApp, memakai akun pribadi atau 46:04 akun nama toko kita? Syukron. 46:07 Ya. 46:07 Misalkan Pak Anugerah nih, Bang Fawaz. 46:09 Dia mau jualan di WhatsApp. Dia namanya 46:12 di WhatsApp tuh tetap [berdehem] 46:13 Anugerah kah, atau nama tokonya? 46:15 Misalkan tokonya Jaya Makmur, atau nama 46:17 Jaya Makmur yang dicantumkan. 46:19 Baik. 46:20 Begini. Jadi, soal akunnya akun pribadi 46:24 atau akun toko, itu mungkin ya. 46:27 Iya. 46:27 Akun pribadi, saya pakai akun pribadi 46:28 atau akun toko nih? Karena kalau soal 46:30 nama, 46:31 He em, he em. 46:31 namanya saja Pak Anugerah, sudah 46:32 masyaallah bagus tuh. 46:33 Betul. 46:34 Anugerah. [tertawa] 46:35 Ya kan? Sudah masyaallah bagus tuh. Jadi 46:37 gini memang, 46:38 eee 46:40 Anda mau main yang mana saja, ya, pada 46:44 akhirnya adalah yang Anda butuhkan 46:46 transaksi. 46:47 Ya. Mau pakai eee Anda contohnya begini, 46:51 di Instagram bikin dua akun. 46:53 Satu akun pribadi, satu akun toko. Kan 46:56 biasa seperti itu ya, begitu saya. 46:57 betul. 46:58 Nah, akun pribadi orang-orang biasanya 47:01 hanya untuk keperluan pribadi saja nih. 47:03 Untuk produk dikhususkan sendiri, kan 47:05 begitu. 47:06 He em. 47:06 Ya. Anda mau main pakai yang mana, 47:08 bebas. 47:09 He em. 47:09 Terserah, begitu ya. 47:10 [tertawa] 47:11 He em. 47:11 Jadi, itu eee enggak apa-apa Pak, Bapak 47:14 mau eee main pakai foto Anda pribadi, ya 47:18 eh sori, akun Anda pribadi, atau bikin 47:21 satu akun toko baru, begitu ya. Saran 47:23 saya, lihat dulu. Pak Anugerah ini brand 47:26 owner atau reseller? Nah, begitu. 47:28 He em. 47:29 Kalau Bapak brand owner, berarti Bapak 47:32 punya kepentingan untuk membesarkan nama 47:35 brand-nya. 47:36 He em. 47:37 Kalau Bapak reseller, maka Bapak punya 47:40 kepentingan untuk membesarkan nama 47:42 tokonya. Nah, itu beda. 47:44 He em. 47:45 Paham Pak Fawaz? Jadi, sama-sama jual 47:48 teh, 47:49 tapi yang toko pertama namanya toko 47:51 Anugerah, 47:52 toko yang kedua namanya toko Kharisma, 47:55 kan begitu ya? Tapi sama-sama jual 47:58 barang yang sama gitu loh. 47:59 He em. Nah, Pak Anugerah ini statusnya 48:01 brand owner atau distributor. 48:04 Ehm. 48:05 Begitu. Kalau distributor 48:06 nama tokonya, kalau produk ya langsung 48:09 main di nama produknya. Eh, sori kalau 48:11 brand owner langsung main di brand 48:13 produknya. Berarti akun mengikuti itu, 48:15 gitu. 48:16 Oh, paham paham. 48:17 Akunnya mengikuti itu. Instagram-nya 48:19 berarti dibikin atas nama akun toko. 48:21 Toko Anugerah ya, toko Anugerah. 48:23 Kalau komen eh brand kan brand-nya apa? 48:25 Brand-nya Anugerah. Ya sudah, Anugerah 48:28 gitu loh. 48:28 Iya. 48:28 Jadi antara nama brand eh produk atau 48:31 brand tokonya. 48:32 Iya iya. Karena kalau toko menjual 48:34 banyak produk-produk orang lain, kalau 48:37 produk itu yang produk kita. Misalkan 48:39 tadi Anugerah Madu, Madu Anugerah atau 48:41 Anugerah gitu. 48:42 Sarung Anugerah. 48:43 Betul. 48:43 Gitu. Atau rapid test Anugerah. Karena 48:46 sekarang rapid test banyak mereknya, 48:47 Bang. 48:47 Oh, begitu [tertawa] ya. 48:48 Hehe, oke. 48:49 Ada dari Bu Hani, Bang Fauz. 48:52 Assalamualaikum warahmatullahi 48:53 wabarakatuh, Bang Fauz dan Bang 48:53 Musawwam. Bagaimana agar kata-kata yang 48:56 kita gunakan untuk mempromosikan produk 48:58 kita bisa menarik dan efektif dan tidak 49:01 membuat orang malas membaca. Karena 49:03 biasanya deskripsi yang terlalu panjang 49:06 membuat orang lain malas untuk membaca. 49:08 Mohon nasehatnya. 49:10 Baik, ini berarti jualan di manapun lah 49:13 ya, anggap lah ya. Anggap anggap di 49:14 manapun. Jadi gini, 49:16 eh 49:18 soal ehm membuat kata-kata yang orang 49:22 itu tidak jenuh. 49:24 Ehm. 49:24 Jadi teman-teman gini, 49:26 kita belajar menyampaikan apa yang eh 49:29 orang mau tahu itu aja. 49:31 Iya. 49:32 Iya. 49:32 [tertawa] 49:32 Begitu ya. 49:33 Iya. 49:33 Jadi kita hanya menuliskan hal-hal yang 49:36 orang itu mau tahu tentang itu. 49:39 Berarti kalau baju, ya kita cukup 49:41 sampaikan eh kira-kira kalau orang itu 49:44 perlu tahunya tentang apa sih? Ukuran 49:46 Ehm. 49:47 size-nya, bahannya. 49:48 Modelnya. 49:49 Nah, jadi harus detail gitu ya. Enggak 49:52 usah pakai storytelling maksudnya. 49:53 He em, he em. 49:54 Toko kami berdiri sejak 49:56 He em. 49:56 Itu kayaknya belum perlu. 49:58 Terlalu panjang. 49:58 Itu terlalu panjang. Karena orang 50:00 sifatnya gini, Bung. Ya, sifatnya eh 50:03 calon pembeli kita itu dia mau 50:05 instan. 50:06 He em. 50:07 Dapat informasinya pun instan. Gitu ya. 50:10 Dia datang ke eh marketplace, dia lihat 50:13 produk, ada banyak pilihan produk. 50:15 Kenapa dia buang waktu untuk baca 50:16 deskripsi Anda? Kan katakanlah gitu ya. 50:19 Nah, makanya 50:20 foto produk, video produk, dan detail 50:23 produk di deskripsi itu satu kesatuan. 50:26 Apa yang belum bisa kita sampaikan di 50:27 foto, nah itu kita sampaikan di 50:29 deskripsi. 50:30 Ya, contoh kalau di foto kita cuman bisa 50:33 tuliskan ketersediaan ukuran itu S, M, 50:37 L, XL. 50:38 Tapi kan 50:40 ukuran detail berapa senti, berapa 50:41 sentinya kan enggak bisa. 50:43 Iya. 50:43 Ya. Bisa, tapi akan memakan banyak space 50:45 kan di foto kan. Nah, itu sampaikan di 50:47 deskripsi. 50:48 He em. 50:49 Begitu. 50:50 Lalu jam buka toko, jam tutup toko, gitu 50:52 ya. 50:52 Dan eh apa namanya 50:55 peraturan toko. 50:56 Itu di deskripsi. 50:57 Itu di deskripsi. Kayak contoh visi misi 50:59 kami itu kayaknya 51:01 Itu di profil perusahaan nanti beda lagi 51:03 [tertawa] ya. 51:03 Itu di profil perusahaan itu di hati 51:05 hati pedagang ya gitu ya. 51:07 Karena memang deskripsi itu orang yang 51:09 membuka memang orang yang benar-benar 51:11 mencari informasi itu, Bang ya. 51:12 Yes. 51:12 Jadi ketika orang tidak tertarik memang 51:14 dia tidak akan membuka deskripsi. 51:15 Betul. 51:16 Cakep Bang Fawaz. 51:18 Eh ada lagi, Bang Fawaz. Wah, banyak 51:21 sekali Bang Fawaz nih WhatsApp-WhatsApp 51:22 yang masuk. 51:23 Jadi jam 07.00 nih kita nih. 51:25 [tertawa] 51:25 Sampai maghrib. Berapa menit lagi? 51:27 4 menit lagi. 51:28 Oke, baik. Kita 4 menit lagi kita, Bang 51:30 Fawaz. Ada banyak WhatsApp masuk, Bang 51:32 Fawaz, yang bilang terima kasih ilmunya, 51:35 insya Allah segera dipraktikkan. Penting 51:36 nih, Bang ya? 51:37 Yang paling penting dipraktikkan ya? 51:39 Yes. 51:40 [tertawa] 51:40 Itu penting banget. 51:41 Betul sekali. 51:42 Ada dari 51:43 Kita kasih PR nanti di ujung. 51:44 Wah, mantap. 51:45 PR. 51:46 Baik, karena waktu sudah 4 menit lagi, 51:47 [tertawa] Bang Fauz. Mungkin bisa eh 51:49 kesimpulan. Kesimpulan apa, Bang Fauz, 51:51 yang ingin disampaikan pada pertemuan 51:52 hari ini? Dan PR-nya apa, Bang Fauz? 51:54 Iya. 51:55 [tertawa] 51:56 Baik, jadi eh 51:58 teman-teman pendengar Hasil semuanya, 52:00 terima kasih banyak sebelumnya sudah 52:02 mendengarkan eh obrolan kita ini yang ke 52:04 mana-mana gitu. 52:05 [tertawa] 52:06 Jadi, saya saya dengerin Hasil dari dari 52:08 subuh, itu ulama-ulama, ustaz-ustaz 52:12 semua, terus tiba-tiba kedatangan dua 52:14 [tertawa] 52:15 Jadi, sebelumnya mohon maaf gitu ya. 52:18 Saya lagi aja nih. 52:20 [tertawa] 52:20 Biasanya saya kalau siaran memang 52:21 begitu, Bang Fauz, kebanyakan 52:22 bercandanya. Mohon maaf ya, Bang Danang. 52:25 Gimana-gimana, Bang? 52:25 Jadi, emm untuk teman-teman semua yang 52:29 mau memulai usahanya di dunia online 52:32 gitu ya, pertama-tama ya 52:35 eh 52:36 satukan dulu pemahaman bahwa bisnis is 52:38 bisnis. Online dan offline itu hanya 52:41 sebatas metodologinya aja. 52:44 Metodologi kita untuk melakukan promosi. 52:47 Kalau dulu offline, sekarang online. 52:48 Jadi, enggak ada tuh yang namanya bisnis 52:50 online, bisnis offline. Bisnis ya bisnis 52:53 gitu. 52:54 Online, offline hanya sebatas 52:55 metodologinya saja. Satu itu. Yang 52:57 kedua, teman-teman, ya jangan pernah 53:01 malu untuk belajar gitu ya. 53:04 Kenapa demikian? Karena sesungguhnya 53:05 Anda tidak tertinggal apapun kok. 53:08 Iya. 53:09 Sebenarnya itu enggak tertinggal apapun. 53:10 Saya punya cukup ya katakanlah ada 53:13 beberapa klien gitu ya. 53:14 Eh kebetulan pedagang-pedagang di Depok 53:18 yang 53:19 seakan-akan mereka eh 53:23 menutup 53:24 eh apa namanya? Menutup usahanya 53:28 gara-gara 53:29 enggak online. 53:30 Oh. 53:31 Jadi gini. 53:32 Eh banyak istilah-istilah baru 53:35 yang seakan-akan itu hal baru buat 53:37 mereka, padahal itu sudah dari dulu. 53:38 Contoh, dropshipper kan kayaknya baru 53:40 kan. 53:41 Iya. 53:41 Apa itu dropshipper? Saya enggak paham. 53:42 Ngembangun dropshipper makelar? 53:44 Makelar 53:44 iya. Dan lain sebagainya lah. 53:46 Begitu teman-teman sekalian. Nah. 53:51 Ya, jadi eh 53:54 eh untuk teman-teman saya enggak apa-apa 53:56 share nomor saya di sini. 53:57 Oh enggak apa-apa, justru banyak yang 53:58 nanya Bang Fawaz. Boleh tolong di-share 54:01 nomornya ada dari Ibunda Habibah, ada 54:03 dari ada dari Pak Ridwan. 54:06 Baik, jadi eh bisa untuk lebih lanjut 54:10 Iya. 54:10 Tapi sebelum ke situ saya minta waktu 30 54:12 detik saja. 54:12 Siap. 54:13 Untuk nyampein PR-nya. 54:14 Oh iya benar. 54:15 Lupa ini ya. 54:17 [terkesiap] 54:17 Kalau kita mau jualan online enggak 54:19 terlepas dari kita bikin konten. Gitu 54:21 ya, bikin konten berarti bikin apa? 54:23 Bikin foto atau bikin video. Mulainya 54:25 dari mana? Mulainya dari handphone yang 54:28 teman-teman punya sekarang. Gitu ya, 54:29 insyaallah kita bisa ketemu lagi di 54:31 program yang sama ya. 54:33 Harapan saya Anda sudah menerapkan bikin 54:36 video produk 54:39 unboxing 54:40 Hmm. 54:40 tapi produk Anda sendiri. 54:41 Oh. 54:42 Jadi caranya kemas produk Anda 54:44 seakan-akan mau dikirim, setelah itu 54:46 Anda rekam dan Anda buka lagi. 54:48 Hmm. 54:48 Begitu, nanti akan canggung rasanya 54:50 gimana gitu ya. Ya, ini produk 54:52 [tertawa] 54:53 Itu yang kita butuhkan gitu ya. Rasa 54:55 canggung dan Anda tetap mau paksa diri 54:57 Anda melakukan, itu yang kita butuhkan. 54:59 Begitu. Jadi mudah-mudahan eh 55:03 program belajar yang tadi kita janjikan 55:05 gitu ya, itu cepat eh berlangsung 55:07 insyaallah di bulan depan. Tapi untuk 55:09 untuk sharing-sharing untuk tanya jawab 55:10 lebih lanjut bisa saya kasih nomor gitu 55:13 ya. 55:13 berapa Bang Fawaz? 55:14 Bisa hubungi saya di 0813 55:17 8111 55:20 8591. 55:22 Saya ulangi. 55:24 0813 55:26 8111 55:29 8591. 55:32 Ya, atas nama Fawaz. 55:35 Fawaz. 55:35 Fawaz. 55:36 F A U W A Z E. 55:38 F A U W A Z E dan mohon jangan WA di 55:40 atas jam 11 malam. 55:42 Waduh. [tertawa] 55:46 Terima kasih banyak Bang Fauwas ilmunya 55:48 hari ini. Terima kasih banyak Ikhwan dan 55:50 Akhwat di manapun Anda berada. Jadi jika 55:52 memang ada pertanyaan-pertanyaan lebih 55:54 lanjut bisa langsung menghubungi Bang 55:55 Fauwas di 081381118591. 56:01 Iya. 56:01 Jangan lupa Ikhwan dan Akhwat PR-nya. 56:04 Kemas produk Anda. 56:05 Iya. 56:06 Buka lagi tapi dengan video, 56:09 divideo-kan. 56:10 unboxing. 56:11 Unboxing, setelah itu diupload di 56:14 Instagram. 56:15 Iya. 56:16 Tag nama saya @fauwas f a u w a z e gitu 56:20 ya. 56:20 F A U W A Z E, tag ke Instagram-nya Bang 56:22 Fauwas. Bisa juga tuh berarti kalau mau 56:24 nanya-nanya di Instagram Bang Fauwas ya. 56:25 Bisa langsung. 56:26 @ 56:27 @ 56:27 Fauwas. 56:27 F A U W A Z E, Fauwas. 56:31 Terima kasih banyak sekali lagi Bang 56:32 Fauwas. 56:32 Sama-sama. 56:33 Mohon maaf Ikhwan dan Akhwat apabila ada 56:35 pertanyaan-pertanyaan yang belum 56:37 terjawab karena keterbatasan waktu. 56:39 Terima kasih banyak 56:40 eee Bang Anis di meja operator, Fajar di 56:44 bagian produksi video, dan terima kasih 56:48 banyak kepada seluruhnya yang 56:49 mendengarkan. Saya Muhammad Musa Alkaf 56:51 undur diri 56:52 bersama narasumber kita Bang Fauwas. 56:54 Wabillahi taufik walhidayah. 56:55 Wassalamualaikum warahmatullahi 56:57 wabarakatuh.