Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil
- alamin. Wasalatu wasalamu ala asrofil
- iyaai wal mursalin wa ala alihi
- wasohbihi ajmain. Amma ba'du. Masih
- dipancar luaskan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis,
- Cibubur, Bekasi. Inilah radio
- silaturahim untuk Islam yang satu, untuk
- Indonesia bersatu. Ikhwan akhwat, para
- pendengar Radio Silaturahim dan juga
- pemirsa Rasil Visual di mana pun Anda
- berada. Bagaimana kabar Anda di siang
- hari ini?
- Semoga di siang hari ini, Ikhwan Akhwat
- masih dalam keadaan sehat walafiat dan
- mudah-mudahan masih dalam bersyukur
- kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan
- dengan mengucapkan kata alhamdulillahi
- rabbil alamin di edisi hari ini yaitu di
- hari Senin di tanggal 11 Rajab
- 1440 Hijriah bertepatan di tanggal 18
- Maret 2019 dengan izin Allah Subhanahu
- wa taala kita dapat dipertemukan kembali
- di ruang dengar Anda tentunya dalam
- program tausiah siang.
- Dan di siang hari ini telah hadir juga
- guru kita insyaallah yang akan
- memberikan kajiannya atau ilmunya kepada
- kita semuanya bersama Ustaz Ahmad Zaki.
- Kita sapa terlebih dahulu.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Pak Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Sehat
- walafiat, Ustaz. Ya, siang hari ini
- berjalan lancar, Ustaz, ya.
- Alhamdulillah. Alhamdulillah.
- Masyaallah, ya. Kami juga e berdoa untuk
- ikhwan akhwat yang mungkin sedang
- e lagi sakit. Kita doakan semoga Allah
- subhanahu wa taala mengangkat sakitnya
- dan mudah-mudahan dengan sakit ini
- yangbabnya kita tergugur juga dosa-dosa
- kita, Pak Ustaz ya. Dan juga
- mudah-mudahan untuk ikhwan akhwat yang
- sedang di perjalanan mudah-mudahan
- diberikan kelancaran oleh Allah
- subhanahu wa taala hingga sampai
- tujuannya. Baik ikhwan akhwat pendengar
- radio silaturrahim dan juga pemirsa
- rasil visual di manap pun Anda berada di
- siang hari ini. Ustaz insyaallah masih
- membahas dalam kitabnya yaitu kitab
- Mukhtarul Ahadis An-Nabawiyah.
- Insyaallah di sesi yang kedua kami akan
- membuka sesi tanya jawab. Dipersilakan
- untuk Ikhwan Ahmad kita menyimak
- bersama-sama kajian yang akan
- disampaikan oleh Ustaz Ahmad Zaki. Dan
- untuk yang ingin memberikan pertanyaan
- bisa di sesi yang kedua. Baik kita buka
- untuk acara tausiah siang ini dengan
- kita membaca doa thaabul ilmi.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- il allah bimamani waimni mafuni warzuqni
- ilman aminfad ustaz kajian
- minasyaitanirrajim
- bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahi
- hamdan yuwafi niamahu wa yukafiu
- mazidah ya rabbana lakal hamdu wakukru
- kama
- yagalik
- waikh
- Subhanakallahummaanika anta
- kamaita
- nafsik wa ashadu alla ilahaillallahu
- wahdahu la
- syarikalah wa ashadu anna sayyidana wa
- nabiyana muhammadan abduhu wa rasuluh.
- Allahumma fasolli wasallim wabarik
- waadzim ala habibika Muhammadin wa ala
- alihi
- wasahbih shatan wasalaman daimaini
- mutalazimaini ila
- yaumiddin. Amma
- ba'ad. Para
- pendengar radio silaturahim yang
- dirahmati
- Allah.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Syukur
- alhamdulillah kita sudah berada di bulan
- Rajab, salah
- satu bulan haram dari empat bulan yang
- diharamkan oleh Allah Subhanahu wa
- taala.
- bulan di
- mana
- kita dianjurkan untuk mempersiapkan
- diri sebelum kita
- [Musik]
- memasuki gerbang bulan suci
- Ramadan. Terlebih dahulu Rajab ini
- sebagai
- pemanasan latihan.
- Karena bulan Ramadan adalah puncaknya
- kita
- beramal. Sebelum kita sampai ke
- puncak terlebih dahulu kita sudah
- bersiap-siap.
- Seperti biasa sebelum kita mulai kajian
- ini, terlebih dahulu kita awali dengan
- suratul
- fatihah. Semoga Allah subhanahu wa
- taala memberikan petunjuk bimbingan
- kepada
- kita dan semoga kita semuanya dapat
- memanfaatkan bulan Rajab sebagaimana
- mestinya.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi
- rabbil alamin arrahmanirrahim.
- iki
- yaumiddin iyaka na'budu wa iyaka
- nasta ihdinasirathal
- mustaqim shathalladzina an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim
- [Musik]
- waladin.
- Amin. Para pendengar radio
- silaturrahim, marilah kita mulai dengan
- hadis yang pertama.
- Yang pertama diriwayatkan oleh al Imam
- albukhari wa Muslim an ibni
- umar ruwya an Rasulillahi sallallahu
- alaihi
- wasallam khaliful
- musyrikin akhfus
- syawarib wafirul
- liha. Ini
- perintah perintah dalam Islam.
- Ada yang hukumnya wajib lil wujub, ada
- yang sifatnya lil
- ibahah. Khaliful
- musyrikin. Berbedalah dengan kaum
- musyrikin. Bedakan diri kalian, diri
- kita semua. Jangan sampai ada
- keserupaan dengan kaum
- musyrikin.
- Bagaimana akhfus syawarib?
- tipiskan
- kumis atau mungkin dihabiskan sama
- sekali. Wairul
- liha dan
- lebatkanlah. Aliha jamak dari lihya,
- jenggot.
- Hadis tersebut
- tentunya lil ibahah. Jadi ada perintah
- tapi perintahnya lil
- ibahah ya atau sekedar anjuran sunah
- rasul tidak sampai derjat
- wajib. Karena setiap orang tidak sama.
- Mungkin kalau Rasulullah memang orang
- Arab punya jenggot yang lebat kemudian
- cambang. Ah, demikian juga secara umum
- bangsa Arab atau di dunia Barat pun
- seperti itu. Tapi
- kita
- orang-orang
- Asia lebih
- banyak yang tidak lebat. Walaupun ada,
- tapi hanya
- sebagian. Karena memang
- ini
- merupakan iradah dari Allah Subhanahu wa
- taala. Ada orang yang sudah berusaha
- untuk melebatkan jenggotnya, tapi
- memang enggak ada atau terlalu sedikit.
- Nah, termasuk saya juga, saya sudah
- waktu sebelum nikah senang dengan
- jengkot, senang dengan melihat orang
- bercambang. Saya sudah mungkin
- berpuluh-puluh botol ya saya beli obat
- untuk melebatkan jenggot dan cambang
- termasuk bulu dada. Ya, saya senang
- banget sudah berpuluh-puluh botol tapi
- enggak ada hasilnya yang akhirnya saya
- stop.
- Saya juga sadar tidak semua orang itu
- sama. Walaupun kita usahakan
- bagaimanapun juga
- tetap karena memang ini bukan sesuatu
- yang bisa
- diusahakan seperti kita salat atau
- enggak salat itu pilihan. Orang
- maksiat, berjudi, mabuk-mabukan itu juga
- pilihan. Bisa melakukan, bisa enggak
- dilakukan.
- Tapi kalau soal seperti jenggot,
- cambang, dan lain-lain termasuk paras
- seseorang,
- penampilan walaupun kita usahakan
- bagaimanapun juga belum tentu sesuai
- dengan
- keinginan. Nah, karena memang ini bukan
- sesuatu yang bisa diusahakan, maka
- sifatnya enggak diwajibkan.
- Tidak
- harus seorang yang
- mungkin yang jenggotnya hanya
- sedikit kemudian dia harus biarkan tanpa
- dicukur seumur hidup.
- dari sisi
- penampilan mungkin kurang menarik atau
- kurang indah dipandang atau mungkin
- juga seorang punya kebiasaan yang
- berbeda. Ada orang yang merasa senang
- miara jenggot, ada orang yang mungkin
- enggak suka miara
- jenggot. Ada orang yang senang miara
- kumis, ada juga yang enggak senang.
- Seandai kata hukumnya wajib, maka
- orang-orang yang enggak berjengkot
- berarti
- berdosa. Nah, karena ini bukan keinginan
- seseorang. Jadi, ini lebih
- kepada
- sunatullah, kehendak Allah Subhanahu wa
- taala.
- Maka dalam hal ini perintahnya walaupun
- Rasulullah perintahkan lebatkan atau
- biarkan jenggot tapi lil ibahah ini
- hanya
- pilihan. Jadi derjatnya hanya sampai di
- sunah tidak sampai wajib.
- Apalagi memang Rasulullah dan para
- sahabatnya orang Arab yang memang
- punya jenggot, punya
- penampilan seperti
- itu. Nah,
- bahkan kalau saya tidak
- berlebihan ada yang mengatakan bahwa itu
- memang jibilli ya. Jadi sesuatu yang
- enggak bisa diusahakan maka enggak
- sampai derjat sunah. Tapi ini juga saya
- enggak setuju ya, terlalu berlebihan.
- Jadi kita ambil
- tengah-tengah. Jadi jangan sampai kita
- katakan yang tidak diwajibkan kemudian
- kita angkat sampai derjat wajib. Begitu
- juga yang disunahkan jangan sampai kita
- lebihkan atau kita
- kurangi. Jadi
- tetap kita
- memposisikan perintah-perintah yang
- memang itu wajib tetap wajib. Yang
- memang itu sunah tetap pada posisi
- sunah. Jangan karena kesukaan seseorang,
- kecenderungan seseorang kemudian sampai
- kita angkat sampai derajat wajib atau
- yang tidak suka mengatakan tidak sunah,
- tidak wajib dan sebagainya. Jadi tetap
- kita harus jujur dalam bersikap, jujur
- dalam menyampaikan.
- Jangan sampai kita tataruf tanat ekstrem
- berlebihan atau
- menyepelekan. Jadi yang telah ditetapkan
- sunah tetap hukumnya sunah sampai hari
- kiamat. Yang hukumnya wajib tetap akan
- wajib ila
- yaumilqiamah. Memang kita tidak
- mengingkari apa yang dianjurkan, yang
- disunahkan, apalagi yang diwajibkan.
- sudah
- pasti ada manfaatnya, sudah pasti
- mengandung nilai-nilai yang
- luhur.
- Terbukti apa yang dianjurkan oleh
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Orang yang berjenggot
- ternyata punya
- kekebalan yang lebih dibanding yang
- tidak berjenggot.
- Setelah hal ini ditemukan, ini sebagai
- bukti bahwa apa yang dikatakan oleh
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- itu adalah
- mukjizah. Rasulullah di zaman beliau
- tidak
- ada teknologi
- kedokteran. Tidak ada yang namanya
- laboratorium untuk meriset sesuatu. Tapi
- kok Rasulullah bisa tahu tentang anjing
- babi dan sebagainya?
- Nah, ini tentunya
- mukjizah. Setelah ilmu pengetahuan
- membuktikan bahwa apa yang disunahkan,
- yang dianjurkan, apalagi yang diwajibkan
- oleh
- agama, ternyata mengandung hikmah yang
- luar biasa.
- Jadi ternyata dunia Barat sudah
- menemukan bahwa orang
- yang memelihara
- jenggot itu lebih tahan
- fisiknya, lebih
- imun
- terhadap
- penyakit. Makanya banyak kita saksikan
- saat ini banyak
- artis-artis, banyak dari dunia Barat
- yang akhirnya mereka pun miara jenggot.
- Nah, tapi sampai di
- mana kondisi seseorang enggak sama. Ada
- yang
- memang secara kodrat seperti orang-orang
- Arab dan orang-orang Barat memang
- berjenggot. Beda dengan kita orang
- Indonesia yang hanya mungkin
- sebagian, yang lainnya tidak. Nah, dari
- itu kembali lagi makanya hukumnya bukan
- lil wujub.
- Karena kalau memang wajib berarti
- berdosa orang-orang yang tidak
- berjenggot. Enggak
- usah bicara sesuatu yang memang sudah
- ketentuan dari Allah
- Taala. Yang pilihan juga ini belum
- tentu menjadi satu
- keharusan seperti menikah.
- Banyak orang mengatakan bahwa nikah itu
- wajib. Ini
- tergantung. Ada orang banyak saya punya
- kawan yang sampai umur 40, 50 belum
- nikah karena memang enggak punya biaya.
- Atau mungkin
- karena
- ada
- kelainan, hanya yang punya diri yang
- tahu. Nah, dari itu seandai kata nikah
- itu diwajibkan harus, maka orang-orang
- yang tidak menikah
- berdosa. Walaupun
- Rasulullah
- mengatakan tanakahu tanasalu, menikahlah
- kalian dan sebagainya, tapi bukan lil
- wujub karena kondisi orang berbeda. Jadi
- yang pilihan pun masih belum tentu
- wajib. Bisa wajib untuk siapa?
- Kemudian
- berikutnya ruwya rasulillahi sallallahu
- alaihi
- wasallam khiarukum
- manzakkarakumullahu billahi
- ryatuh waada fi ilmikim ilmikum mantiqu
- waragakum fil akirati amaluh
- khiarukum jamak dari khair khairukum
- khiarukum sebaik-baik
- kalian atau orang yang terbaik di antara
- kalian
- manzakkarakumullahu billahi
- rukyatuh yang memang
- penampilannya dapat mengingatkan
- seseorang akan Allah subhanahu wa taala
- Memang tidak semua
- bahkan ustaz atau kiai juga belum tentu.
- Tapi saya juga pernah menjumpai
- seseorang yang memang penuh dengan
- wibawa. Ada seorang ulama, seorang yang
- alim, yang
- saleh. Ketika kita melihat, kita
- berhadapan dengan beliau.
- Jadi
- penampilannya itu menjadi ilmu buat
- kita karena
- memang sangat
- harismatik,
- berwibawa. Ketika kita melihat ada
- cahaya
- ilmu,
- ada takwallah di sana, ada kesalehan.
- Jadi ketika kita melihat sangat-sangat
- berwibawa
- sehingga kita melihat orang
- tersebut itu sudah menjadi
- pelajaran sikapnya, tingkah
- lakunya, pelajaran buat kita.
- Bahkan kita melihat orang
- tersebut ada satu
- haibah yang membuat
- kita enggak berdaya, yang membuat kita
- merasa hina, yang membuat kita merasa
- banyak
- dosa. Memang tidak semua, tapi ada di
- antara
- ulama-ulama yang seperti itu
- keberadaannya.
- Di sini dikatakan
- manzakkarakumullahu billahi
- ryatuh. Ketika kita melihat dan bertemu
- orang tersebut membuat kita berzikir
- kepada Allah, membuat kita mengucapkan
- subhanallah,
- masyaallah, membuat kita ingat kepada
- Allah, ingat dengan dosa-dosa
- kita. Karena orang tersebut benar-benar
- yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa
- taala.
- Kalau kita bicara di masa
- lalu Rasulullah, para
- sahabat itu mungkin terlalu
- jauh, tapi masih ada sosok-sosok orang
- yang saleh, sosok orang yang alim di
- zaman
- sekarang yang memang ketika kita
- melihat sudah menjadi pelajaran buat
- kita ya tutur katanya, sikapnya bahkan
- sampai orang tersebut diam, tidak
- melakukan sesuatu, tidak mengatakan
- sesuatu, sudah sangat berwibawa dan
- seolah-olah pelajaran buat kita.
- Jadi kita melihat orang
- tersebut, kita melihat dapat
- mengingatkan kita kepada
- Allah, dapat membawa kita kembali kepada
- Allah. Ada rasa rindu kepada Allah, rasa
- ingin tobat, rasa ingin memperbaiki
- amal, meningkatkan amal saleh, rasa
- ingin belajar, datang ke majelisnya dan
- sebagainya.
- Bahkan waktu saya masih kecil ya, umur
- saya sekitar 7 atau 8
- tahun, saya pernah ada seorang
- ulama yang memang
- penampilannya ketika dia
- lewat itu banyak ibu-ibu yang tidak
- pakai kerudung, yang enggak pakai
- jilbab, semua masuk ke
- rumah merasa takut. Begitu juga
- anak-anak
- tongkrongan ya yang lagi main krambol,
- yang lagi
- ngobrol-ngobrol itu langsung bubar
- ketika orang tersebut lewat. Padahal
- orang tersebut tidak mengatakan apa-apa,
- belum pernah membentak, belum pernah
- maki-maki, tapi terlalu berwibawa,
- sangat harismatik.
- Jadi
- ketika kita melihat orang tersebut dapat
- mengingatkan kita kepada Allah Subhanahu
- wa
- taala. Nah itulah yang dikatakan oleh
- Rasulullah khiarukum. Sebaik-baik
- kalian. Tapi untuk mencapai derajat ini
- saya kira cukup sulit.
- Ustaz atau kiai juga belum tentu seperti
- ini. Kemudian wazada fi ilmikum mantiq.
- Dan ketika dia
- berbicara, berbicaranya itu benar-benar
- ilmu. Ketika dia
- berbicara, ilmu pengetahuan agama kita
- bertambah. Itu hanya
- bicara, bukan sedang ngajar.
- bukan sedang
- berceramah, bukan sedang mengkaji satu
- masalah,
- tapi sekedar orang tersebut bicara
- biasa, bicara sehari-hari tapi
- mengandung
- ilmu. Itulah seorang kalau sudah
- benar-benar bertakwa kepada Allah
- Subhanahu wa taala, orang yang saleh
- yang mengamalkan ilmunya yang lillahi
- taala segala-galanya maka akan ada satu
- kelebihan yang Allah berikan. Jadi
- harismatik
- berwibawa. Warobakum fil akhirati
- amaluh.
- dan
- amalnya,
- perbuatan-perbuatannya bahkan yang
- mubah-mubah seperti makannya, minumnya,
- berjalannya, tidurnya, berumah
- tangganya,
- bermasyarakat
- dapat membawa satu semangat buat kita
- untuk
- beramal. Yang tadinya kita malas-malasan
- ibadah.
- yang malas-malasan bangun
- malam melihat orang
- tersebut ada satu gairah, ada satu
- semangat. Nah, itulah yang kata
- Rasulullah,
- khiarukum. Orang yang terbaik di antara
- kalian. Walaupun mungkin sulit buat
- kita, tapi semuanya tidak ada yang
- mustahil.
- Kalau kita benar-benar ada satu
- usaha, kita jaga diri
- kita, jauhkan yang
- dilarang,
- insyaallah kita akan punya satu
- kelebihan.
- Terus
- berikutnya,
- khairukum khairukum
- liahlih. Sebaik-baik kalian adalah orang
- yang
- terbaik
- sikapnya, akhlaknya,
- perbuatannya terhadap keluarganya.
- Ahlihi.
- keluarga yang mencakup anak dan
- istri. Nah,
- bagaimana sikap kita terhadap istri?
- Sikap kita terhadap
- anak. Kalau kita koreksi diri kita
- masing-masing
- ini kayaknya masih cukup jauh.
- Bahkan saya sudah berulang kali katakan
- di radio
- ini yang paling membuat saya menyesal
- bahkan sampai seringkiali kalau selagi
- sendiri mungkin saya menangis
- berulang-ulang persis apa yang pernah
- dialami oleh Amirul Mukminin Umar bin
- Khattab radhiallahu
- anhu. Siapa yang tidak kenal beliau?
- Amirul mukminin. Orang yang sangat
- bijak. yang sangat tegas, yang latar
- belakangnya pun kita tahu seperti apa.
- Beliau seorang
- jagoan yang tidak diragukan
- kehebatannya. Sebelum beliau masuk Islam
- atau di zaman
- jahiliah, beliau pernah melakukan
- kebiasaan atau budaya jahiliah yang
- namanya wa'dul banat, mengubur gadis
- cilik hidup-hidup.
- Karena memang ini sudah
- budaya di sebagian orang
- Arab pernah beliau juga melakukan itu
- ketika anak gadisnya ya mungkin berumur
- 2 apa sampai 5
- tahunan dia bicara kepada istrinya, "Bu,
- tolong
- dirapikan, tolong
- didandani biar
- cantik. Saya mau ajak jalan-jalan.
- Tanpa curiga, istri beliau merapikan
- anak
- gadisnya. Sudah cantik, rapi, wangi,
- mungil,
- imut. Lalu Sayidina Umar mengajak ke
- satu tempat yang
- sepi. Di sana ternyata beliau menggali
- lubang.
- Anaknya pun membantu
- ayahnya menggali lubang, mengangkat
- bebatuan. Setelah sudah cukup untuk
- mengubur anak gadisnya, lalu anak
- gadisnya itu didorong. Bahkan ada
- riwayat ditendang sampai jatuh ke dalam
- lubang. Kemudian diinjak-injak sambil
- diuruk sambil diinjak-injak. Sang anak
- menangis. Tolong-tolong bapak-bapak.
- Tapi karena memang sudah
- budaya, sudah jadi satu
- keyakinan, tetap tega atau enggak tega
- diteruskan. Dan setelah Amirul Mukminin
- Umar bin Khattab radhiallahu anhu masuk
- ke dalam
- Islam, itulah peristiwa itulah yang
- seringki membuat Sayidina Umar menangis.
- Bukan masalah-masalah yang lain, bukan
- masalah masa lalunya, tapi perbuatan
- kepada
- anaknya. Ini bukan sekali dua kali, tapi
- terus-menerus. setiap kali dia ingat,
- setiap kali lagi seorang diri kemudian
- menangis lagi, menangis
- lagi. Nah, bahkan kalau kita mau jujur
- termasuk saya
- pribadi, penyesalan yang terbesar buat
- saya bukan masa lalu
- saya, bukan dosa-dosa saya yang lain,
- maksiat saya, kesalahan saya dan
- sebagainya itu enggak masalah.
- Tapi kesalahan dalam mendidik anak,
- sikap kita terhadap anak, terkadang kita
- kasar tanpa kita sadari. Terkadang kita
- sebagai orang tua ego, sebagai orang tua
- mentang-mentang orang tua merasa benar.
- Mentang-mentang orang tua pasti enggak
- salah. Yang salah pasti
- anak. Belum tentu juga anak salah
- tergantung didikan.
- Kalau anak sampai durhaka, mungkin
- karena ibu bapaknya juga yang
- mengajarkan durhaka kepada
- anaknya. Nah, saat ini banyak orang tua
- hanya minta hak, minta
- dihormati. Anak harus berbakti kepada
- ibu bapak. Itu itu betul. Anak wajib
- berbakti kepada ibu bapak. Tapi sebelum
- anak berbakti kepada ibu bapak, anak
- itu melalui proses, melalui
- tahapan-tahapan. Kalau memang sejak
- kecil enggak dididik dengan baik secara
- islami, tidak dikenalkan
- agama, apakah anak ini akan kenal agama
- ketika sudah
- dewasa? Setelah anak ini enggak kenal
- agama, anak tidak menghormati ibu
- bapak, lalu sebagai bapak dan ibu
- mengatakan anak durhaka, enggak tahu
- diri, enggak mikir dan sebagainya.
- Sebelumnya anak enggak kenal
- durhaka, sebelumnya anak tidak kurang
- ajar, tapi karena kita sebagai ibu bapak
- salah asuh, salah didik, dan masih
- banyak lagi kalau kita perhatikan,
- terkadang saya nangis kalau ada seorang
- ibu nampar anaknya padahal anak itu baru
- 45 tahun. Wajar kalau anak kecil suka
- nangis, minta ini, minta itu,
- merongrong. Terkadang dia menginginkan
- sesuatu tapi dia enggak bisa ungkapkan
- lalu diempos, dicubit,
- ditampar. Ini terkadang saya kalau
- melihat ini bisa apa langsung menangis.
- Terkadang ada rasa pengin rebut itu
- anak. Tapi karena saya juga enggak kuasa
- anak orang, begitu juga bapaknya dan
- sebagainya. Nah, ini sikap-sikap yang
- enggak bagus. Menamkan anak sikap keras.
- Dan tidak
- mustahil karena memang seorang bapak dan
- Ibu membiasakan anak seperti itu. Dari
- mulai mulutnya
- membentak, matanya
- membelalak,
- tangannya
- main, tidak mustahil anak akan
- berperilaku sebagaimana sikap ibu
- bapaknya.
- Jadi saya juga sebagai
- manusia bukan berarti enggak pernah
- salah kepada anak, kepada istri. Tetap
- saya akui kesalahan saya,
- kekurangan-kekurangan saya. Dari itu
- yang membuat saya paling menyesal adalah
- kesalahan saya dalam menyikapi
- anak-anak. Anak yang tadinya enggak tahu
- apa-apa. Umpama kita pernah emp, kita
- pernah kita cubit, mungkin kita pernah
- bentak, mungkin pernah kita tampar dan
- sebagainya.
- Itulah
- yang membuat saya terus-menerus menyesal
- dan terkadang saya
- menangis. Jadi, wa ana khairukum liahli.
- Dan aku kata
- Rasulullah orang yang
- terbaik bagaimana aku menyikapi
- anak-anak, menyikapi keluarga, anak dan
- istri.
- Apalagi anak
- perempuan yang
- memang
- perempuan
- lemah, perempuan lebih main perasaan.
- Nah, sampai-sampai kata
- Rasulullah ini lanjutan dari hadis
- tersebut, ma akraman nisaa illa karim.
- tidaklah ada orang yang
- memuliakan
- menghargai kaum
- wanita, melainkan karim, laki-laki yang
- bermartabat, laki-laki yang
- terhormat, laki-laki yang
- berpendidikan, yang
- beragama, laki-laki yang punya
- jiwa bagus.
- Hanya laki-laki yang baik yang dapat
- menghormati wanita, menjaga kaum
- wanita. Sebaliknya w ahanahunna
- illa laim. Tidak ada
- yang menghinakan kaum
- wanita, melainkan laki-laki yang hina
- juga.
- Jadi kalau ada yang kasar terhadap
- perempuan, tidak menghormati
- perempuan, kasar terhadap perempuan baik
- sikapnya,
- mulutnya, melainkan laki-laki tadi
- laim yang enggak punya martabat, enggak
- punya harga diri.
- Nah, saat ini kalau kita
- perhatikan walaupun banyak di antara
- mereka yang tobat, yang kembali,
- tapi kita berbicara saat ini, bukan
- berbicara nanti, esok, lusa, itu ghaib
- buat kita. Kita enggak tahu apa yang
- akan terjadi di kemudian hari. Walaupun
- banyak orang-orang yang tidak baik
- kemudian tobat kepada Allah Subhanahu wa
- taala.
- Nah, saat ini kalau kita perhatikan
- banyak
- laki-laki yang belum menjadi istri,
- belum menikah, belum halal, tapi
- seenaknya
- melakukan hal-hal yang kurang baik
- terhadap wanita. Yang sebenarnya hanya
- suami istri yang bisa melakukan itu.
- Tapi banyak laki-laki yang tidak
- menghargai kaum wanita. Dia coba sebelum
- dia
- beli, dia gunakan, dia manfaatkan
- sebelum dia halalkan.
- Dan juga di samping
- laki-laki yang memperlakukan wanita
- kurang baik, tidak sopan, yang
- seharusnya dihargai
- benar-benar, dia
- lindungi. Yang saya heran juga di mana
- bapak-bapak mereka?
- Kenapa bapak-bapak mereka membiarkan
- anak gadisnya dibawa ke sana kemari
- diperlakukan hal-hal yang kurang
- baik? Bahkan seringkiali kalau saya
- lihat saya lewat di depan rumah
- seseorang, ada
- anak perempuan gadis didatangi laki-laki
- dengan pakaian yang seronok, duduk
- berdekatan, lampu di
- redupkan. Di mana kehadiran seorang
- bapak? tidak ada curiga, tidak ada
- khawatir, tidak ada girah, tidak ada
- kecemburuan, berarti bapak tersebut juga
- termasuk bapak yang
- menjerumuskan dengan alasan
- sayang, dengan
- alasan menjaga perasaan anak, masa depan
- dan sebagainya. Tapi dia biarkan anak
- gadisnya dibawa laki-laki ke sana
- kemari. Padahal belum, belum halal.
- boncengan motor
- berpelukan
- itu mencerminkan Bapak yang kurang
- baik. Bahkan kita
- pernah atau sering dengar
- kalimat dayut.
- Dayut,
- laki-laki yang tidak ada kepedulian,
- tidak ada girah, enggak ada cemburu,
- tidak ada rasa marahnya ketika istrinya
- ngobrol dengan
- laki-laki, apalagi sampai bersentuhan
- dengan
- laki-laki, digoda sama laki-laki lain,
- diam, istri berpakaian yang kurang
- sopan.
- keluar
- rumah tidak ada marahnya, enggak ada
- cemburunya, enggak ada girahnya sama
- sekali. Itu laki-laki yang dayut, yang
- enggak punya harga diri, yang enggak
- terhormat. Begitu juga seorang bapak
- ketika melihat anak gadisnya keluar
- rumah dengan pakaian yang mungkin ya,
- pakai rok yang sangat ketat, yang sangat
- pendek.
- Kemudian apa? Pakaian yang melukiskan
- bentuk
- tubuhnya. Ini seorang
- bapak ketika melihat anak gadisnya
- seperti itu, tapi dibiarkan apalagi dia
- bangga anaknya cantik, anaknya
- seksi. Ini adalah
- musibah. Musibah agama bukan musibah
- fisik.
- bukan musibah yang kecil, tapi musibah
- agama, musibah
- akidah. Dan memang banyak sebagian kaum
- muslimin belum paham masalah-masalah
- atau persoalan seperti ini. Dia anggap
- itu hal biasa. Ah, sekedar bahkan saya
- pernah mendengar langsung, "Ah, yang
- penting enggak
- hamil. Kok segampang itu sebagai ibu
- bapak yang penting enggak hamil."
- Nah, kita yang ngasih tahu dianggap
- terlalu fanatik, ekstrem. Padahal kita
- hanya mengingatkan, ngasih tahu sebelum
- terjadi. Tapi ternyata segitu mudahnya
- orang tua mengatakan asal jangan
- hamil. Nah, ini juga musibah agama. Kok
- sampai sebegitu jahilnya terhadap agama?
- Sampai sebegitu tega kepada anak
- perempuannya. Diperlakukan apa saja oleh
- laki-laki yang bukan mahramnya?
- laki-laki yang bukan
- suaminya, tapi si Bapak Ibu enggak punya
- kepedulian. Nah, jadi melalui radio ini
- saya juga sampaikan kepada Bapak Ibu
- yang punya anak gadis, termasuk saya
- juga punya anak
- gadis, kita punya tanggung jawab yang
- besar terhadap anak-anak gadis kita,
- terhadap istri-istri kita. Jadi, jangan
- kita biarkan mereka keluar rumah tanpa
- menutup aurat.
- Kita perhatikan, lindungi. Sebagaimana
- Allah katakan, "Ya ayyuhalladzina amanu
- qu anfusakum wa ahlikum naro." Wahai
- orang-orang yang beriman, yang berakal
- sehat, yang punya hati nurani, jagalah
- diri
- kalian, jagalah keluarga kalian, anak,
- istri kalian. Jangan sampai tersentuh
- panasnya api neraka yang mana neraka
- Allah siapkan untuk orang-orang yang
- menolak kebenaran, yang tidak mau
- beramal, menolak
- Quran.
- Waquduhanas. Bahan bakarnya api neraka
- adalah annas, manusia. Siapa saja
- manusianya termasuk orang-orang Islam
- yang hanya mereknya Islam, zahirnya
- Islam. tapi menolak Islam sebagai agama,
- menolak Al-Qur'an sebagai kitab suci.
- Dan ini sudah cukup banyak marak
- wanita-wanita
- muslimah begitu berani keluar dengan
- membuka aurat setengah bugil tanpa rasa
- malu, tanpa bersalah.
- Kemudian berikutnya hadis ke yang
- ketiga. Ruiya an rasulillahi sallallahu
- alaihi
- wasallam. Khairukum man lam yatruk
- akhiratahu lidunyahu wala dunyahu
- liakhiratih. Walam yakun
- alanas khairukum. Sebaik-baik kalian
- adalah manam yatruk akhiratahu
- lidunyahu. Orang yang tidak meninggalkan
- akhiratnya hanya untuk dunianya. Hidup
- hanya untuk dunia, untuk materi,
- jabatan, senang-senang,
- berfoya-foya. Wala dunya liak akhiratih.
- Dan juga orang yang tidak meninggalkan
- dunianya hanya untuk akhirat.
- untuk apa dunia kita bakal mati, kita
- bakal tinggal semuanya. Lalu dia enggak
- ambil bagian sama sekali. Padahal kita
- hidup di dunia perlu biaya hidup, perlu
- makan minum, perlu tempat tinggal,
- kendaraan, kemudian perlu biaya anak
- untuk pendidikan sekolah dan sebagainya.
- Jadi kita hidup di dunia tentu perlu
- biaya. Tetap kita harus cari
- dunia. Kita harus menjadi orang yang
- terhormat. Jangankan sampai
- ngemis-ngemis. Nah,
- sebagaimana ada riwayat juga yang
- mengatakan, "I'mal lidunyaka kaaka
- ta'isu abadan." Carilah duniamu
- seolah-olah Anda hidup selamanya.
- Waalakiratik kaaka tamutu dan bekerjalah
- untuk
- akhiratmu seolah-olah engkau mati besok.
- Nah, jadi perintah ini kita
- diperintahkan tetap kita mencari dunia,
- kita
- bekerja agar kita menjadi orang yang
- terhormat. Kalau kita orang yang
- berkecukupan, tapi juga bukan sekedar
- kita menimbun
- harta. Sisahnya setelah sudah kebutuhan
- kita sudah terpenuhi, maka kita berikan
- kepada orang-orang yang membutuhkan
- untuk menjaga kehormatan kita juga.
- Di samping kita menjaga kehormatan diri
- kita, jangan sampai mengemis, jangan
- sampai
- minta-minta ngutang ke sana kemari,
- apalagi sampai menipu orang. Itu yang
- pertama. Ketika kita sudah kecukup,
- apalagi orang-orang kaya, pejabat yang
- memang melimpah, bukan sekedar cukup
- tapi melimpah. Nah, untuk apa sisanya?
- Nah, sisanya Allah berikan kesempatan
- kepada kita untuk perhatikan fuqara
- masakin. Allah ciptakan lapangan
- sedekah. Allah ciptakan kemiskinan,
- kekayaan. Ada orang miskin, ada orang
- kaya. Itu iradah Allah Taala, takdir
- Allah Taala. Kalau enggak ada orang
- miskin, nah bagaimana kita orang-orang
- kaya akan bersedekah? Nah, begitu juga
- orang-orang kaya juga kehendak Allah
- Subhanahu wa taala. Walaupun memang
- kekayaan juga harus
- dicari, tapi semuanya
- kesempatan, ujian,
- kesempatan. Ada orang yang Allah berikan
- kekayaan,
- kelebihan, tapi cinta dunia, rakus.
- Akhirnya kekayaannya membawa dirinya
- berdosa yang seharusnya kekayaannya
- dapat membuat orang tersebut mendapatkan
- pahala dari Allah Subhanahu wa taala.
- Tapi justru sebaliknya membuat orang
- tersebut
- berdosa. Bahkan enggak
- sedikit orang yang punya harta, punya
- jabatan, bukan saja berdosa karena
- enggak memberikan orang lain, bukan saja
- pelit, tapi serakah.
- sudah kaya raya kemudian tha serakah
- rakus menghalalkan berbagai
- cara boro-boro
- memberikan yang ada di tangan orang
- kalau bisa menjadi
- miliknya belum cukup sampai di situ
- berkhianat banyak jabatan-jabatan ini
- lelang jabatan yang memang bukan hak
- miliknya melakukan kecurangan di sana
- sini untuk menduduki 1 jam jabatan sogok
- ke sana kemari jadi
- penjilat. Waliyadubillah. Itulah berawal
- dari cinta dunia. Jadi cinta dunia ini
- ru kulli khatiah sumbernya kesalahan,
- sumbernya dosa. Nah, karena gila
- jabatan. Karena memang orang punya
- jabatan enak,
- terhormat, duangnya
- banyak dihormati oleh
- orang, luar biasa. Bahkan tanda
- tangannya pun
- berlaku itu ketika orang punya jabatan.
- Dari itu yang namanya jabatan ini
- sangat-sangat
- menggiurkan. Orang rela mengorbankan apa
- saja demi
- jabatan. Orang menghalalkan halal
- haram
- bebas, tidak lagi
- kenal, tidak lagi punya belas kasih,
- nipu sana sini.
- berbohong, kecurangan, semuanya karena
- jabatan.