Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:07 [musik] 0:09 Brail TV. 0:16 Asalamualaikum warahmatullahi 0:18 wabarakatuh. Apa kabar Bang Ihsanuddin 0:21 Nursi? [berdehem] 0:23 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:25 wabarakatuh. 0:27 Masyaallah. 0:27 Alhamdulillah. 0:30 Amin. Amin. 0:31 Eh, luar biasa kita akhirnya mengalami 0:34 zaman yang Anda sudah tulis dalam 0:36 buku-buku terdahulu, ya. Luar biasa 0:40 17.300 0:41 akankah mengarah ke 20.000 atau apa yang 0:44 terjadi? Bagaimana pondasi ekonomi 0:47 domestik yang buruk yang pernah Anda 0:49 tulis juga struktur yang rapuh tapi 0:54 sudah diakui oleh BOS BI maupun BOS ee 0:57 Menteri Keuangan dunia sedang tidak 1:00 baik-baik saja. Apa yang mesti 1:02 dipersiapkan? mental apa yang akan kita 1:04 hadapi di tengah spiral kekerasan yang 1:09 terang terjadi antara Iran dan Amis, 1:11 Amerika dan Israel ini ya yang terus 1:14 bergulir. Dan apa pula yang Bang 1:17 Iksanuddin Nursi bisa sampaikan dalam 40 1:20 menit ke depan mengenai survival mode 1:23 yang diingatkan. Survival mode itu kan 1:26 kalau di handphone itu kayak tahan 1:28 napaslah begitu ya. ini kayak deg-degan 1:31 pula ini kayak apa yang terjadi gitu 1:33 kan. Senilai miliaran barel minyak yang 1:36 tidak bisa keluar. Mulai pakai sawitlah, 1:38 pakai inilah, pakai wah macam-macamlah 1:41 ee yang sedang di ee diusahakan. Mungkin 1:44 akankah kita diambang kebangkrutan? 1:47 Silakan Bang Ihsanuddin Norsi 40 menit 1:50 ke depan menemani Anda, menemani 1:52 pendengar di 28 negara dan del station 1:56 yang sudah merele kita pagi hari ini. 1:58 Tafadol, Bang. [mendengus] 2:00 Bismillahirrahmanirrahim. 2:03 Subhanakbana 2:20 Muhammad. 2:23 Yang pertama soal tukar rasanya enggak 2:27 bosan saya 2:29 menilai tukar. [tertawa] 2:32 Karena mesti diingatkan lagi. Pengingat 2:35 harus ada pengingat terus, Bang. 2:39 Di buku saya di presentasi 2:43 saya presentasi sudah ratusan persentasi 2:46 h 2:47 bicara tentang kejatuhan nilai 2:51 61 ya. Mulainya tahun 61 ya. Betul. 2:54 di TV saya sebutin lagi 2:58 semuanya saya ingetin. 3:01 He 3:02 saya aja kali ahli monitor untuk dialog 3:06 ada kayak gitu kelakuan 3:12 kayaknya kayak sumumpukum 3:15 [tertawa] 3:19 jadi 3:20 pendidik 3:21 jadi 3:22 jadi ee 3:26 [mendengus] 3:26 [berdehem] dalam presentasi saya di 3:28 mana-mana saya bilang ini kuliah satu 3:31 semester Saya bikin hanya beberapa menit 3:33 ya. 3:34 H 3:35 bahwa nilai tukar itu berhubungan dengan 3:37 inflasi dan suku. Jadi nilai tukar itu 3:41 punya saudara dua, 3:43 suku bunga dan inflasi 3:46 itu dimoneter 3:49 lalu kalau ke lari ke sektor rel 3:53 dia nilai tukar berhubungan dengan 3:56 ee tiga, 3:58 dengan energi, dengan emas. 4:01 dengan komoditas strategis lain. 4:04 Komoditas strategis pasti berhubungan 4:06 dengan hajat hidup orang banyak. 4:08 Kalau pada nilai tukar dia 4:12 ee karena masing-masing saya bikin 4:15 segitiga gitu ya. 4:16 He 4:16 segitiga nilai tukar infosisi ke bunga. 4:19 Di tengahnya saya sebut pedal reserve 4:21 menjadi pada 4:23 He. [berdehem] 4:24 Lalu kalau pada komoditas saya sebut itu 4:26 sebagai penguasa pasar ya. 4:29 Heeh. Maka [berdehem] 4:31 itu yang yang sejak awal saya sebut 4:35 kepada mereka yang percaya bahwa pada 4:37 hukum free market mekanisme itu 4:40 pada hukum mekanisme pasar bebas biarkan 4:43 pasar mengambil keputusan sendiri. 4:46 Akhirnya saya bilang pasar itu tidak 4:48 pernah netral. 4:51 dan di balik dan tapi ketika membongkar 4:56 bahwa premarket mekanism itu bahwa e 4:59 biarkan pasar mencari keseimbangan diri 5:00 itu tidak pernah ada gitu ya dan pasar 5:03 itu saya bilang saya jawab dengan pasar 5:05 itu tidak pernah netral. Mereka baru 5:07 tersadar ketika Trump menetapkan tarif. 5:10 Hm. 5:13 harusnya ada. [berdehem] Oh iya, pasar 5:14 tidak netral. 5:16 Dan yang sudah sadar nampaknya Iran yang 5:18 sudah sadar akan hal ini. Begitu kan? 5:21 Ee Iran sudah sadar sejak 49 tahun lalu. 5:26 Iran sadarnya bukan sekarang. Iran sadar 5:28 49 tahun lalu. 5:30 H 5:30 ee ada 5:33 minimal ketika Amerika menyatakan ada 5:38 delapan negara 5:40 yang 5:40 yang ee 5:42 ya tidak tersentuh 5:44 itu adalah negara yang tidak mau 5:46 menggunakan model ee dolar sebagai 5:49 penimbang. 5:50 He. 5:51 Tidak tidak mau bersentuhan dengan 5:52 sistem moneter dengan sistem fiskal yang 5:55 mereka tentukan. H 5:56 maka delan negara itu semuanya diganggu. 6:00 Itu yang kemudian dituang dalam nation 6:03 defense strategic yang asal muasal 6:06 disebut dengan war on terror pada 6:08 2001 kebus. 6:11 Nah, sekarang kalau kita balikin lagi ke 6:14 Indonesia dengan posisi seperti sekarang 6:16 gitu ya, ngebalikinnya repot banget 6:18 gitu. 6:21 Ngebalik ini repot banget. Itu yang 6:22 pernah saya bilang pada pada 6:25 forum Sugeng Sariadi sekian belas tahun 6:28 lalu ngebalikin ekonomi politik itu 6:33 hanya bisa dengan revolusi. 6:35 Duh kebalikin ekonomi politik itu hanya 6:38 bisa dengan revolusi. 6:40 Karena sebagian orang sedang dalam 6:42 posisi menikmati kekuasaan. Anda lihat 6:44 aja 6:45 yang menikmati kekuasaan kayak gimana. 6:47 Anda ngebayang enggak di tengah yang 6:48 namanya ekonomis sekarang mereka masih 6:50 tetap menikmati kemewahan. 6:52 Kalimat-kalimat saya bagaimana ceritanya 6:55 dalam situasi sekarang 6:56 mereka masih menikmati kemewahan 6:58 tidak ada kesederhanaan 7:00 dan kemewahan itu dipakai dari uang 7:02 rakyat tu 7:04 dan ini saya bukan ngomong lagi pihak 7:06 rasil 7:07 saya bukan lagi ngomong via TV saya 7:09 ngomong pernah ngomong sama para pejabat 7:11 bukan lagi pejabat tertinggi pejabat 7:13 tertinggi pernah saya ingetin kayaknya 7:15 head 7:15 to head langsung amar maut kuli 7:18 walamuran gitu loh he 7:21 ah Saya jadi saya ngingetinnya. 7:22 Masyaallah. Jadi watawas bilhaq, 7:25 watwabil itu tidak lagi pakai media 7:28 radio tidak lagi pakai media televisi, 7:31 tidak lagi pakai media massa. Saya 7:33 ingetinnya langsung ke telinga yang 7:35 bersangkutan langsung gitu loh. 7:38 Coba gimana tuh 7:41 artinya 7:43 bahkan 7:45 bahkan saya bilang begini, gimana sih 7:46 ceritanya kok Anda mau sih tertawa 7:48 terbahak-bahak di atas derita rakyat? 7:51 Kok mau sih Anda sedang menikmati makan 7:53 mewah di atas ee meja makan yang 7:56 tersedia berbagai macam ragam hidangan 7:58 di tengah rakyat kempas-kempis 8:00 untuk membayar hutang. 8:01 Kan yang membayar hutang siapa? Rakyat 8:03 kempas-kempis membayar hutang. 8:06 Ceritanya begitu. Jangan bilang rakyat 8:08 sekarang bisa makan karena ee ee ee 8:11 beras sudah tersedia dengan dengan 8:13 cadangan ee pemerintah yang besar, 8:16 dengan cadangan beras pemerintah yang 8:18 sudah sampai 5 juta ton. Jangan gitu 8:20 melihatnya. 8:21 Itu pun cadangan itu tidak menunjukkan 8:23 ee ee bahwa Anda sungguh-sungguh sudah 8:25 mencapai suasana pendapangan. 8:27 H 8:28 jadi ada ada hal yang saya kira ee 8:32 begitu the hotomis gitu, 8:34 begitu kontradiksi. 8:36 He. 8:38 Nah, nilai tukar rupiah itu 8:41 lagi-lagi menggambarkan struktural 8:43 fundamental kita lemah. Oke. Anda 8:46 membandingkan dengan cadangan devisa 8:48 yang katanya sekarang tadi sudah 140 8:50 triliun eh 140 miliar ya turun gitu ya. 8:54 Kebetulan saya belum melihatnya karena 8:56 buat saya 8:58 dari 156 miliar itu cadangan devisa 9:00 ambruk sampai akhirnya tinggal. Itu coba 9:02 hitungan berapa bulan 16 miliar US PS 9:04 dolar dipakai untuk intervensi tapi 9:06 tetap tetap tidak bisa menguat. 9:10 Berapa [berdehem] belas miliar itu 9:12 hilang untuk mengintervensi gitu. Oh, 9:15 dan 9:16 kan sudah saya bilang ini teman-teman B 9:19 ini gitu ya, sudah diingatin baik-baik. 9:21 Ini enggak mungkin lagi Anda nerapin 9:23 kayak gini. Ee saya yang pernah bicara 9:28 tentang undang-undang ini di DPR ketika 9:30 saya jadi anggota dewan yaitu 9:32 Undang-Undang 2499. 9:34 Saya yang merancang bersama beberapa 9:36 sejumlah teman walaupun teman-teman itu 9:38 kabur ketika bermaksud menggugat 9:40 undang-undang ini ke Mahkamah Konstitusi 9:42 gitu. H 9:44 loh 9:45 benar. Baca buku saya deh, Pak. Makanya 9:48 tadi kalau aing santai buku ini yang 9:51 saya tulis dalam buku saya semuanya 9:52 sudah kejadian nih gitu. [tertawa] 9:54 Dunia amburadu 9:55 sudah saya tulis duluan gitu. 9:57 Republik amburado. Tapi ya hidup kita di 9:59 sini, Bang. Jadi kadang kita ini aduh ya 10:03 Allah hasbiallah wanikmal wakil. Tapi 10:05 lanjut Bang silakan. Heeh. Jadi ketika 10:09 sampai pada Allahikmal wakil, cukuplah 10:11 Allah yang menjadi penolong kita, 10:13 cukuplah Allah yang menjadi pelindung 10:15 kita. Begitu 10:16 ya mesti 10:19 pertanyaan berikutnya, bagaimana kita 10:20 bisa menyerahkan diri pada Allah sebagai 10:22 pelindung kita kalau kita kemudian 10:23 sendiri hidup dalam sebuah sistem yang 10:25 berkali-sekali saya bilang dihasil sejak 10:27 saya bicara negara ini tidak sedang 10:30 melindungi rakyatnya. 10:32 itu. Makanya saya kemudian protes 10:34 tentang bagaimana penegakan kata 10:35 pembukaan karena negara ini tidak sedang 10:38 melindungi rakyatnya. Terkesan 10:40 melindungi dengan bantuan sosial, 10:42 terkesan melindungi dengan subsidi, 10:44 terkesan melindungi dengan MBG, terkesan 10:46 melindungi enggak kok. 10:48 Ini kan ratusan triliun tapi tidak 10:50 feedback, tidak ada uang kembali. Kalau 10:52 proyek kan ada uang kembali ya. Tapi ini 10:54 kan apa ya, apalagi nanti apa koperasi 10:58 yang akan terjadi lagi ee bancakan yang 11:02 luar biasa. Lanjut. [berdehem] 11:05 Jadi kalau kalau kita melihat ee 11:09 alokasi 335 triliun ee yang kemudian 11:14 tadi lebih banyak untuk proyeknya 11:18 daripada untuk makannya. [tertawa] 11:21 Saya dalam sebuah presentasi saya 11:23 banding-bandingin berapa kemiskinan. 11:26 Pernah saya bilang saya rasa di ras juga 11:28 pernah saya bilang 11:29 berapa kemiskinan 11:31 kita buletin aja 25 25 juta deh gitu. 25 11:34 juta. Oke. 11:35 Kemiskinan 25 enggak usah ikutin lembaga 11:38 dunia lah gitu ya. [berdehem] 11:39 Iya enggak usahlah kita pakai data kita 11:41 aja 11:42 pengangguran. 11:43 Oke. Berapa batas kemiskinan? Hm. 11:46 Batas kemiskinan R juta. Kita turunin 11:48 sedikit deh. 11:48 Oke. Kita ikut R juta enggak apa-apa 11:50 juga. 11:51 25 juta k juta berapa? 100 triliun kan? 11:54 Heeh. 11:55 100 triliun. 11:57 Jadi 25 juta. 11:59 He. 12:02 Heeh. 12:03 Kalau 100 triliun itu multiplayer 12:06 effectnya multiplayer effect 3 bulan. 12:09 Jadi kalau kemudian kita hitung 335 12:12 triliun itu dalam rangka memberi 12:13 lapangan kerja kepada 25 juta itu 12:16 efeknya itu bukan efek 1 tahun itu efek 12:19 bergulir lebih panjang. Coba kebayangkan 12:21 itu yang lebih tegas dalam pasal e dalam 12:25 apa yang disebut dengan pasal 27 ayat 2. 12:28 Tiap-tiap warga negara berhak atas 12:30 pekerjaan dan penghidupan yang layak 12:31 bagi kemanusiaan. ya. Nah, ketika kita 12:34 balikin ke dalam nilai tukar 12:37 itu karena sejak awal Ihsan menyatakan 12:41 masyaallah dirasil aja ngomongnya sudah 12:44 2 tahun lalu nih persentasinya dihasil. 12:47 Aduh gitu 12:49 [tertawa] 12:51 padahal sebelum ngomong di rasil sudah 12:52 ngomong di lembaga keuangan mana-mana 12:54 gah kondisinya begini 12:56 ada ada Ferihin bilang eh batas 13:00 psikologisnya R.000 Bu diurs bilang 13:03 enggak batas psikologisnya 17.500 13:06 18.000. 13:08 Nah, sekarang orang baru terakyam 13:10 melampaui e sejarah kejatuhan paling 13:13 tinggi ya. Iya karena batas ekologisnya 13:15 17.500 13:17 sampai dengan 18.000 gitu loh. 13:20 Hidup sehari ini baru disebut miskin ya. 13:24 [tertawa] 13:24 Baru baru kemudian diakui sebagai 13:27 survival mut harus hidup gitu. Misalnya 13:29 ketika survival mode harus hidup, itu 13:32 menunjukkan Anda punya gambaran 13:34 kelumpuhan ekonomi. Kelumpuhan ekonomi 13:36 itu menggambarkan yang namanya 13:38 melemahnya paru-paru, melemahnya aluran 13:40 darah. Maka Anda harus menggunakan kejut 13:43 jantung untuk tetap beredar di 13:45 paru-parunya. Dalam bahasa lain, Anda 13:46 harus menggunakan ventilator. Itulah 13:48 survival mode. Coba kayak gitu. Coba 13:51 terjemahannya tuh. 13:53 Oh, [erangan] 13:55 terjemahan itu sampai kayak gitu gitu 13:56 loh. Memahamin. H 13:58 jadi ee artinya ketika ya saya 14:03 ada orang berkomentar begini ya 14:06 pendengarnya disursi kan berhasil berapa 14:11 paling 4.000 paling 5.000 14:14 sekian ribu enggak enggak kayak yang 14:16 lain kan viral jutaan. 14:18 Iya. Tapi pada saat yang sama juga e 14:20 bahasa gu tempat juga viral jutaan juga 14:22 sama aja gitu 14:23 kalau mau dibanding kalau saya bukan 14:25 soal itunya. Yang penting 14:27 soalnya adalah Al-Qur'an menyatakan 14:29 begini, mereka yang tetap tenang dan 14:31 bersyukur dalam kesunyian, tapi 14:33 terus-menerus melakukan ee melakukan 14:36 pernyataan, terusmenerus menyampaikan ee 14:39 pesan Allah kepada mereka bahwa 14:40 kebenaran itu adalah kebenaran dan yang 14:43 batil adalah batil dan itu harus 14:44 disingkirkan yang batil. Itu lain 14:46 ceritanya. 14:48 Lain ceritanya. Jadi apa ketika A Santel 14:52 bertanya, "Gimana mengatasinya sekarang 14:54 bagi rakyat?" Loh, ini domainnya bukan 14:57 domain rakyat, 14:59 ini domainnya domain domain 15:01 pemerintahan. He. 15:03 Nah, domain pemerintahan K sudah harus 15:05 menyatakan sudah harus menyatakan ini 15:07 survival mode. Maka Anda harus mendaya 15:10 gunakan segenap kekuatan 15:13 dari moneter fiskal dan sumber daya yang 15:16 ada untuk menahan menahan laju 15:19 kejatuhan, 15:21 menahan laju yang namanya the weakest 15:24 currency. Karena memangnya memang the 15:26 weakest currency, memang currency 15:27 terlemah. dan studingan tentang rupiah 15:30 sebagai nilai tukar itu kan bukan 15:33 sekarang 15:34 h 15:35 itu sudah terjadi beberapa waktu lalu 15:38 gitu 15:39 itu artinya artinya lebih banyak para 15:43 pejabat penikmat kekuasaan daripada 15:46 pejabat yang sadar bahwa dia punya 15:48 tantangan besar 15:50 dalam menjalankan pemerintahan saya saya 15:53 kita berdua nih 15:54 iya 15:55 kita berdua de sekarang ada Ihsan Talib 15:57 ada Ihsan Nur, 15:58 mari kita ngobrol berdua sekarang. 16:00 Mari kita mari kita berpikir sekarang 16:02 biar pendengar hasil [mendengus] ee 16:04 mendengar sebagai saksi. 16:07 Hm. 16:07 Mana pejabat yang sungguh-sungguh dalam 16:09 rangka memenuhi sumpah jabatan dan mana 16:12 mana lebih banyak pejabat yang dalam 16:14 rangka memenuhi sumpah jabatan atau 16:16 pejabat yang lebih menikmati kekuasaan 16:18 gitu. 16:19 Mana lebih banyak? 16:20 Iya. 16:21 Enggak ada pejabat yang bilang 16:23 innalillahi waktu dilantik apalagi 16:25 kemarin itu kan selamat semua. Wah. 16:27 Sukses. Hah. [menghela napas][terkesiap] 16:30 Apalagi terus ada perayaan makan-makan 16:31 besar. 16:32 Ada pasang apa [tertawa] 16:34 makan besar orang lagi rumit. 16:37 Ada perayaan. Ada perayaan dengan 16:39 sejumlah makan-makan besar gitu ya. 16:40 Sejumlah sudah fotonya beredar gitu. 16:43 Masyaallah. 16:44 Orang lagi ruet pakai kondangan segala. 16:46 Itu kan lucu lagi kan. [tertawa] 16:50 Luar biasa. 16:53 Artinya artinya ketika kita lihat lebih 16:56 banyak yang menikmati kekuasaan daripada 16:58 yang peduli dengan upaya menandakan hak 17:00 martabat bangsa. 17:01 Heeh. 17:02 Kita sebenarnya kalau saya bilang umat 17:04 Islam di Indonesia secara menyeluruh 17:07 gitu ya. 17:08 Tidak peduli menuding Sunni, tidak 17:10 peduli menuding anda aliran apa. Itu 17:14 sedang dikasih pembelajaran oleh Iran. 17:17 Itu 17:18 sedang dikasih contoh oleh Iran. 17:19 He gila ya. harga harga ya kita ada 17:23 beras tapi harganya Cing yang enggak ada 17:26 yang [tertawa] 17:28 itu sekarang baru 17:29 itu nanti [berdehem] itu itu nanti akan 17:31 saya e bisa saya bahas sekarang tapi 17:34 cukup panjang gitu ya 17:36 nanti akan saya bahas di sebuah stasiun 17:37 TV swasta pada 17:38 pada Rabu besok gitu ya. Nah, ee yang 17:42 saya mau bilang adalah 49 tahun 17:47 Iran bertahan itu bertahan dari lima 17:50 hal. 17:51 Hm. 17:52 Iran menolak menerapkan sistem yang 17:54 mereka paksakan. 17:56 Hm. 17:57 Sistem fiskal dan sistem moneter. 18:00 Iran menolak 18:02 kebijakan dan regulasi yang mereka 18:04 paksakan. H 18:06 uang, keuangan, politik, maupun yang 18:09 namanya uranium. 18:11 Iran menolak 18:14 standarisasi yang mereka terapkan 18:17 tiga tuh. 18:18 Hm. 18:18 Yang pertama sistem, yang kedua 18:20 kebijakan dan regulasi, yang ketiga 18:24 standarisasi. 18:26 Iran menolak e di sini nih akuntabilitas 18:29 yang mereka terapkan. Akuntabilitasnya 18:31 akuntansi. 18:33 Hm. He 18:34 akuntabilitas yang keempat. Yang kelima, 18:38 Iran menolak standar reputasi. 18:41 H 18:41 karena standar reputasi mereka standar 18:43 reputasi materialisme. 18:45 Standar reputasi. 18:46 Standar reputasi ee bagaimana seseorang 18:49 bisa dinyatakan sebagai sukses atau 18:51 tidak. Ukuran sukses adalah ketika 18:53 seseorang punya jabatan, jabatan di 18:56 dunia tercapai sebagai sorry to say, 18:59 sebagai presiden, sebagai menteri gitu 19:01 atau sebagai dirjen gitu atau sebagai 19:03 deputi gitu. 19:04 Itu standar kesuksesan. 19:06 Standar kesuksesan Anda punya mobil 19:08 bagus-bagus gitu. 19:10 H 19:10 keren, harta takah cukup gitu. 19:13 H 19:13 Iran menolak lima-limanya ini. Tapi 19:16 bukan berarti Iran kemudian memiskinkan 19:18 diri. Karena memang Iran dipaksa untuk 19:21 miskin. 19:22 Makanya ada orang bilang, "Wah, ketika 19:24 kita bawa kita bawa uang kita ke Iran, 19:27 waduh katanya uang kita menjadi 19:29 demikian." Wah, kayak seperti menghina 19:33 karena uang Iran tidak berharga gitu ya. 19:36 Padahal pada saat yang sama Iran tetap 19:39 bertransaksi dengan mitra-mitranya. Jadi 19:41 embargo dan sanksi ekonomi yang kita 19:43 pernah sebut dialogkan sebagai your 19:46 embar, your economic chang is our 19:49 blessing. Ingat enggak? Iya. pernah 19:50 bicar itu betul 19:51 ingat ya 19:52 ingat ya silakan dicari itu 19:55 itu dijadi kenyataan sekarang 19:57 apa buktinya 19:59 Iran mengumumkan dia masih punya 500.000 20:03 rudal balistik untuk antar benua coba 20:05 mengerikan enggak 500.000 saya bilang 20:08 kami masih punya 500.000 ruda balistik 20:11 antar benua ngeri enggak? 20:13 He. 20:13 Dan kalau kami dihajar kami akan 20:15 menghajar New York dan Washington. Jadi 20:17 bukan lagi dihajar pangkalan-pangkalan 20:19 militer di negara teluk. H. 20:22 Jadi dari dari konyolnya negosiasi 20:25 kemarin Iran menunjukkan bahwa dia tetap 20:28 menjaga harkat martabat dirinya. 20:30 Apa poinnya? 20:32 Itulah yang disebut dengan kesabaran. 20:36 Kesabaran tiga T. Ada cara tangguh, ada 20:40 cara teguh, ada cara teduh. Tapi cara 20:43 tepat juga untuk melakukan tindakan gitu 20:45 loh. [tertawa] 20:48 Jadi dia punya sikap syukur. Makanya 20:50 begitu mau melunjurkan rudal, bismillahi 20:53 Allahu Akbar. Coba 20:56 ini ini. 20:58 Nah, [mendengus] pada saat yang sama 20:59 sejumlah Islam di Indonesia masih 21:00 menyebut itu Syiah 21:04 Suni. Masyaallah. 21:07 [berdehem] Saya di depan korp. Saya di 21:09 depan korp mubalig. Saya di depan 21:11 berbagai jemaah 21:13 dalam presentasi saya, dalam ceramah 21:15 saya, dalam diskusi saya. Mbok yang 21:17 ngebedain ngebandinginnya jangan begitu. 21:21 Anda masuk dalam dalam posisi hijib 21:24 taparok dia sudah ya Allah ini artinya 21:28 Iran mengajarkan 21:30 bahwa 21:32 tekanan yang besar itu tidak berarti 21:34 sebuah kematian. Loh, itu pernah terjadi 21:37 ketika Rasulullah juga ditekan oleh 21:39 Makkah habis-habisan kan? He 21:41 ditekan habis-habisan. 21:43 Tapi justru Rasulullah bangkit. Iran 21:46 sama 49 tahun ditekan dia bangkit, dia 21:48 nunjukin gitu. 21:50 H 21:50 walaupun dalam serangan serangan 21:52 serangan Iran ke berbagai tempat ada 21:55 bantuan dari sistem satelitnya, 21:58 sistem GPS-nya, 22:00 sistem radarnya Cina. 22:01 H. Tapi paling tidak di situ menunjukkan 22:04 bahwa 22:06 teknologi perang yang lebih murah tidak 22:09 berarti kalah dibanding dengan teknologi 22:11 perang yang dimiliki lebih mahal oleh 22:12 Amerika gitu. 22:14 Tapi yang paling penting lagi adalah 22:16 terbukti di sini bahwa yang kecil itu 22:19 belum tentu kalah dengan sesuatu yang 22:21 canggih gitu. Itu tulisan saya sudah 22:22 berkali-kali deh kalau begitu beredar 22:24 kayak gitu. Silakan baca tulisan saya 22:26 kayak gitu-gitu ya bersama ee Arif 22:28 Pranoto gitu ya. 22:30 He. 22:31 Nah, kalau kita ngelihat sekarang nilai 22:33 tukar lagi jatuh, maka berarti kita 22:35 salah dalam lima. Kita salah sistem gitu 22:38 kan. Kita salah kebijakan regulasi, 22:42 I kan. Kita salah standarisasi, 22:44 kita salah akuntabilitas, 22:47 kita salah reputasi. Maka pernah saya 22:49 bilang 22:50 seorang seperti Ihsanuddin Mursi tidak 22:53 akan masuk dalam radar reputasi mereka. 22:56 H 22:56 pulang. Seorang seperti Mursi tidak akan 22:59 masuk dalam masuk dalam radarnya masuk 23:02 tapi ditolak gitu loh. Ditolak 23:05 mengganggu frekuensi ini. [tertawa] 23:07 Iya mengganggu frekuensi. 23:11 Walaupun mereka sadar juga oh kan mereka 23:14 menentang ketika saya sebut tentang 23:16 kelumpuhan ekonomi, tentang 23:17 ketersendatan 23:18 itu industri salah baca data kan begitu 23:21 ngomongnya. sekarang timbul tuh mod apa 23:23 namanya eh [tertawa] 23:25 eh istilah yang mereka gantilah itu sama 23:28 juga kan 23:29 lah survival mod survival mode itu kalau 23:32 kita gunakan dalam kesehatan itu 23:34 ventilator 23:35 tuh 23:36 itu kejut jantung 23:39 yang sudah 50% 23:41 [tertawa] lanjut lanjut atau tidak ini 23:43 hidupan 23:46 sudah begitu kita mode bertahan namanya 23:49 mode bertahan 23:50 saya kan 23:52 eh iya 23:54 saya kan 23:55 tapi kok saya bukan saya kan selalu 23:57 bertanya kalau alat kesehatan dipakai 23:59 ini tujuannya apa kalau alat kesehatan 24:01 ini dipakai untuk apa kalau ini begini 24:02 kenapa apa efektivitasnya berapa kan 24:04 kita kejar kita bertanya habis-habisan 24:06 di situ. Lalu kita tahu di sini oh 24:09 secara ekonomi begit eh secara kesehatan 24:11 begitu secara ekonomi begini gitu 24:13 [tertawa] loh. 24:15 Oh iya. Oh lupa saya ucapan belas 24:17 sungkawa atas wafatnya antum punya 24:20 saudara ya enggak apa-apa masyaallah 24:22 inillah. 24:24 Nah dari situ sesungguhnya problem 24:26 besarnya yang kita hadapi adalah kita 24:29 tidak sadar 24:31 bahwa Iran berhasil keluar dari lima 24:33 tekanan dan kita tetap tetap bertahan 24:36 dalam lima tekanan tadi. Itu yang saya 24:38 bilang 24:39 betapa Indonesia tidak perlu dijajah 24:41 dengan senjata. Cukup disejajah dengan 24:43 lima hal lagi gitu. He. 24:45 Lalu bagaimana Anda bisa memperkuat 24:46 rupiah kalau lima tekanan tadi Anda 24:48 terima? Kan Anda bangga. 24:50 H. 24:51 MSCI menyatakan ini, wih semua ribut 24:53 soal MSCI. Fit rating menyatakan ini, 24:56 weh. Ribut cuma soal fit rating. Itu 24:59 yang namanya standarisasi untuk menekan. 25:02 Hmm. 25:04 Kredit rating begini turun ambuk. Wah, 25:06 kita belum wah sibuk. Eh, itu 25:08 standarisasi untuk menekan. 25:10 Hm. Anda patuh pada tekanan 25:13 eksternalitas lewat standarisasi. 25:16 Hm. 25:17 Para pendengar rasil yang saya hormati, 25:20 saudara saya sesama seiman yang sadari 25:26 bahwa ketika eksternalitas berbicara 25:30 tentang kondisi kita, dia tidak sedang 25:33 menunjukkan kebaikan. 25:34 Hm. 25:35 Dia sedang menunjukkan betapa pentingnya 25:37 kita ditekan. 25:41 itu itu harus dipahami gitu, harus harus 25:43 dilihat dulu dengan begitu. Nah, itu 25:45 yang 25:47 yang dibilang kemudian gitu kalau kita 25:49 ngambil situasi situasi sekarang gitu, 25:53 kita enggak bisa masuk dalam alam pikir 25:55 mereka. 25:57 Coba sebuah koran di 25:59 Jakarta menyebut di tengah situasi serba 26:02 tidak pasti. Coba kalimatnya di tengah 26:05 di saat di saat suasana serba tidak 26:07 pasti kalimat 26:09 kalimat awalnya begitu saya tersenyum. 26:11 Kalau saya pakai menggunakan istilah 26:13 bahasa Al-Qur'an suasana serba tidak 26:15 pasti itu kegelapan. 26:18 Itu berarti zulumat kan terjemahannya 26:20 begitu. Jadi kalau mereka seperti saya 26:23 bilang pada sebuah TV swasta ketika 26:26 ketika Fuad menyatakan Fuad wazir 26:29 menyatakan Bang Fuat Anda kan saya tidak 26:32 begitu dari Menteri Keuangan sebelum 26:34 anda suasana ketidakpastian itu sudah 26:36 terjadi dan ketidakpastian itu 26:38 terus-menerus berlanjut itu artinya 26:40 kegelapan. Cuma tidak saya terus tidak 26:43 saya terusin bahwa kegelapan itu 26:45 pengakuan sebagai sebuah tegaknya sistem 26:47 zalim 26:49 yah. Waduh, apa ya apa yang salah? Ya 26:53 memang ee pendidikankah ketika kita 26:56 mengagungkan kalimat-kalimat di lembaga 26:59 fatonah, 27:01 sidik, tablig, amanah, tapi keberanian 27:04 gak ada yang seperti Rasul sampaikan 27:07 sujah. Jarang didengar kita nampaknya 27:10 jarang ya. Baru kemarin ada seorang 27:12 siswa dari NTT yang menulis keberanian 27:15 tentang 3T. Enggak sampai tuh urusan MBG 27:18 ke kampungnya. Eh, pendidikan kah atau 27:21 macam mana, Bang? Atau kita mesti riset 27:24 lagi? Tapi 202 kan sudah di depan mata 27:27 seperti yang Antum sering ingatkan. 27:31 Oke. 27:32 Jelas ini soal pendidikan. 27:34 He 27:35 berkali-kali kita bicara tentang kita 27:37 bicara pendidikan bukan bukan dengan 27:39 jari tangan nih. 27:40 Iya. Iya. [tertawa] 27:42 Dan harus kita selalu ingatkan, Bang 27:44 karena ini banyak orang bisa bikin anak 27:46 tapi gak bisa mendidiknya. Kebingungan 27:48 mendidiknya itu. [berdehem] 27:50 Betul. Betul sekali itu. Karena karena 27:55 kita punya Al-Qur'an tapi kita jarang 27:58 sekali membacanya. 27:59 Itu itu dia. 28:01 Jangan membaca, [mendengus] menyentuhnya 28:02 pun jangan. 28:03 He 28:04 ada handphone di dalamnya ada Al-Qur'an 28:07 dalam sehari tidak tidak pernah dibuka 28:09 gitu. H. 28:12 Dan namanya Quran. Quran itu namanya 28:14 bacaan. Dibaca tidak. 28:16 Hm. 28:17 Jadi pertama memang problem pendidikan. 28:19 H. 28:20 Nah, ketika masuk problem pendidikan, 28:22 saya kan membagi pendidikan itu dalam 28:24 lima di lima wilayah. Pemerintah itu 28:28 perilakunya, kebijakannya, 28:31 perilaku politik mereka, ucapan politik 28:34 mereka, kebijakan dan regulasi mereka 28:37 itu adalah pendidikan. Jadi ketika kita 28:40 menyaksikan kesulitan luar biasa lalu 28:42 mereka bermewah-mewah, mereka sedang 28:44 mendidik kita. Hiduplah hedonis. Ketika 28:47 yang namanya tekanan hutang sedemikian 28:49 tinggi, tapi setiap pejabat menggunakan 28:51 mobil premium, hiduplah hedonis. He. 28:54 Anda Anda menderita silakan saja Anda 28:56 menderita enggak ada urusan kami. 28:59 Kan gitu melihatnya itu. Itu bukti bahwa 29:01 pemerintah itu sesungguhnya sedang 29:03 melancarkan pendidikan 29:06 melalui tadi yang saya bilang perilaku 29:09 ucapan dan kebijakan serta regulasi yang 29:13 mereka buat. Satu. Yang kedua 29:17 itu lembaga-lembaga formal. 29:19 H. lembaga-lembaga formal 29:23 dari PAUD gitu ya. 29:25 Iya. 29:25 Pendidikan anak-anak usia dini sampai 29:28 dengan pendidikan tinggi. 29:31 Tidak peduli apakah itu pendidikan umum 29:33 atau pendidikan e pendidikan umum atau 29:35 pendidikan agama. itu masuk ke dalam 29:40 situasi yang diterjang oleh sistem 29:43 sekularisme. 29:45 Saya menyebut misalnya gitu ya, 29:48 pesantren di mana-mana gitu ya, itu 29:51 memang mengajarkan keagamaan, betul. 29:55 H 29:56 mengajarkan pendidikan ibadah, betul. 29:59 Tapi tidak diajarkan pendidikan secara 30:00 dalam muamalah. 30:03 H 30:03 tidak diajarkan secara benar. Misalnya 30:06 kuntumir umat ukrijatas. 30:09 Ah yang diajarkan takuruna bil maruf 30:12 h 30:13 tidak diajarkan watanunail munkar 30:17 tidak kemudian ditegakkan bagaimana 30:18 tminuna billah billahnya balik lagi ke 30:21 butir pertamaurun biluf. 30:26 Jadi persentase ketiganya 30:33 itu tidak imbang. 30:35 itu segitiga 30:37 puncaknya tukmin nabillah 30:40 sudut dasarnya adalah tamurun maruf dan 30:43 watan munkar 30:45 siapa penentunya pengelola pendidikan 30:49 ah itu kalau pesantren itu mesti 30:51 ngelihatnya begitu gitu ya supaya kita 30:52 jadi umat kita menjadi hor bariah gitu 30:56 [mendengus] olehnya oke itu di lembaga 30:58 formal kita turun sedikit lembaga 31:01 masyarakat ketiga media sosial 31:06 berantakan semuanya 31:08 gitu ya. 31:09 Ih ng 31:10 apalagi media informalnya. 31:12 Media informalnya itu masjid, gereja, 31:15 tempat-tempat ibadah hanya menyampaikan 31:18 tekstual. 31:19 Hm. 31:20 Kajian-kajian seperti yang kita lakukan 31:22 umatan Wahidah secara mendalam dimusuhi 31:24 sebagai Syiah. Ketika kita ajak bicara 31:28 bahwa kita bukan Syiah, kita menegakkan 31:29 umatan Wahidah. Tutup telinga, tutup 31:32 mata. 31:34 Ini fakta nih yang karena Anda berapa 5 31:39 tahun menjadi lawyernya Rasil untuk yang 31:41 satu ini. Tapi ya sudah dunia yang 31:43 menjawab. Lanjut lagi. Bang. [tertawa] 31:46 Oke. Itu 31:48 apalagi satu stasiun lain itu Syiah itu 31:52 itu. Waduh gitu. Ya sudahlah, 31:55 sudah, sudah lanjut. 31:55 Kalian kami ajak tangi, kalian kami ajak 31:57 bicara, kalian enggak mau, ya sudah 31:59 enggak apa-apa 32:00 gitu loh. Kami tetapah [berdehem] 32:03 jamiah. Sudah 32:04 kami dalam posisi itu gitu. Kami dalam 32:06 posisi 32:08 kami dalam posisi umatan wahidah. Kami 32:10 dalam posisi 32:13 sudah jelas 32:15 itu posisi kami gitu kan. 32:17 Jelas itu gitu [berdehem] 32:19 dalam posisi. Nah, itu lembaga 32:23 masyarakat. Yang kedua turun komunitas 32:26 komunitasnya sama mainnya cuma saya baru 32:28 menyampaikan ke pengurus Masjid Namira 32:30 saya pemilannya di situ. Betul. 32:32 Kami baru memilih DKM. 32:34 Enggak mungkin lagi masjid itu cuma 32:36 tempat cuma sebagai tempat untuk 32:38 mengajarkan tekstual gitu ya. 32:40 Tidak mungkin lagi masjid hanya bicara 32:41 dalam perspektif ibadah. Masjid harus 32:43 mencerdaskan umat. 32:45 Hm. 32:46 Harus. 32:47 Hm. 32:48 Tidak bisa lagi. Jadi tidak mungkin 32:50 masjid hanya mengambil aliran NU. Masjid 32:53 hanya mengambil aliran Muhammadiyah. 32:55 Enggak ada itu aliran dalam 32:58 enggak ada aliran. 32:59 Enggak gampang, Bang. Sabar. 33:02 Enggak gampang. [tertawa] 33:05 Enggak benar enggak gampang. Tapi kan 33:07 bilquran 33:10 saya harus nyampaikan saya karena saya 33:12 pembina di masjid itu gitu. 33:14 Enggak bisa ini kan kami terus 33:16 kami terus konsisten menjalankan 33:18 [berdehem] 33:18 anggaran dasar yayasan. Jadi kami 33:20 lakukan itu gitu. He 33:22 itu [mendengus] kayak gitu ya. 33:23 Berikutnya turun komunitas kayak gitu 33:25 turun lagi sekarang ke keluarga. 33:27 Keluarga kayak gitu juga. 33:29 H 33:29 sampai pada level ke terakhir individu. 33:32 Iya. 33:33 Bagaimana individu ber diri sendiri 33:34 membangun disiplin diri sendiri. Salah 33:36 satu salah satu sederhananya misalnya 33:39 satu model pembelajaran ya tadi yang 33:41 Rasil selalu ingatkan salatlah awal 33:44 waktu. Nah, 33:46 berjamaah di masjid itu pendidikan itu 33:50 itu pendidikan pendidikan bagaimana kita 33:54 secara secara vertikal kita sedang 33:57 menghormati, menghargai, dan memenuhi 34:00 janji terhadap 34:02 amat sangat Maha Pencipta. Tetapi secara 34:06 horizontal kita sedang menunjukkan sikap 34:09 saling menghormati, menghargai, dan 34:11 berjamaah, 34:13 bersilaturahim cuma di masjid gitu. Nah, 34:16 ini kan berantakan semua dari level 5 34:18 tadi sampai level 1 berantakan dia rusak 34:20 pendidikan. Akibatnya apa? Enggak ada 34:23 keberanian untuk 34:25 Indikator sederhana. Jangan cerita 34:27 tentang komitmen berperang. Komitmen 34:30 memegang janji tepat waktu aja itu 34:32 susah. 34:34 Hm. 34:36 Itu itu sederhana aja. Jangankan 34:38 komitmen untuk berperang, komitmen 34:40 memegang janji tepat waktu saja susah 34:43 gitu. 34:45 Apa poinnya? Peradaban yang kita bangun 34:49 ketika diterjang oleh sebuah sistem 34:52 materialisme dan sekularisme itu adalah 34:54 sebuah peradaban. Kalau saya menyebutnya 34:56 nih, maaf ya, 34:57 memang peradaban yang melawan Tuhan. 35:01 Nah, diam-diam kita sesungguhnya sedang 35:02 melakukan yang namanya sikap syirik. 35:05 Cuma secara terselubung. Itulah yang 35:07 berkali-kali kita bilang. 35:09 Sikap syirik yang paling paling lembut 35:11 itu adalah 35:13 rambut di telapak tangan di dalam 35:17 kegelapan malam. Telapak tangannya saja 35:19 tidak terlihat apalagi rambutnya. Itulah 35:20 kesirikan sampai begitu. J 35:22 proses berjalannya seperti semut yang 35:25 sedang mendekati makanan. 35:26 Pelan, lembut, tapi pasti. 35:29 Hm. Loh, itu itu hadisnya begitu 35:31 bunyinya. Sadari coba kalau begitu 35:34 begitu. Masyaallah. 35:37 Jadi, 35:38 jadi problem kita sampai kayak gitu 35:39 gitu. 35:41 Problem kita hadapi. Nah, di situlah 35:44 peran rahasil dengan umatan wahidahnya 35:46 gitu ya. 35:47 Gua cerita sederhana misalnya tentang 35:50 ee seorang 35:53 ya saya saya seorang khalif basalamah 35:55 yang berbeda [tertawa] dengan Ustaz 35:56 Husein kan ramai tuh gitu ya. 36:01 Ya, i gimana ceritanya kelasnya begitu 36:04 gitu loh. Sudah 36:06 ya. Untung untung untung alhamdulillah 36:08 kita bersyukur Ustaz Husan begitu gitu 36:11 ya. Ustaz Husat 36:13 tapi coba bayangkan memang perilaku yang 36:15 namanya Khalid Basal mah seorang diri 36:17 banyak rombongannya gitu kan? [tertawa] 36:21 Banyak [berdehem] banyak sekali. 36:23 Betul. Kami tidak sedang, kami tidak 36:25 sedang 36:27 dan saya percaya seluruh narasumber 36:29 tidak bermaksud mendiskreditkan para 36:31 pihak lain. Tidak. 36:32 Tapi mari duduk bersama dalam rangka 36:34 umatan wahidah. Mau enggak? 36:35 Itu dia penting. 36:36 Engak mau. 36:39 Itu dia tadi. 36:40 Jadi itu problem besar kita. Nah, dari 36:42 [berdehem] situlah sesungguhnya Yahudi 36:44 bertepuk tangan, setan bertepuk tangan. 36:46 Kalian berhasil kami pecahlah di domba. 36:49 He. 36:49 Kalian berhasil kami 36:51 h 36:51 ee masukkan dalam suasana peperangan 36:53 dalam tubuh kalian. Peperangan internal 36:56 itu. Kalau baca [berdehem] R corporation 36:59 dokumen R Corporation itu memang 37:02 strategi kesinambungan, strategi mereka 37:05 yang dalam bahasa mereka ciptakan 37:07 konflik dalam 37:09 hmm 37:10 internal mereka. 37:12 Ciptakan konflik di internal mereka. 37:14 Artinya apa? Bikin pecah belah adu 37:15 domba. Jangan pernah berhenti. Itu itu 37:18 melihat. Nah, dampaknya tadi 37:20 dan tidak disangka solidnya sebuah 37:22 negara seperti Iran ini mengacaukan 37:24 proyek-proyek itu semua gitu. 37:26 Solidnya sebuah bangsa. 37:29 Jadi, jadi walaupun ada seorang teman oh 37:31 di saat yang sama juga di Iran 37:34 terjadi bagai macam aliran yang enggak 37:37 saya tidak mau ngebantah kajian dia gitu 37:39 ya. Karena yang saya saksikan adalah 37:41 Iran berhasil menyatukan semangat 37:43 melakukan perlawanan. Jadi pecah belah 37:46 di antara mereka sendiri gitu ya. Kalau 37:48 dengan macam-macam itu terbukti 37:49 terbalik. 37:51 Iran sendiri mampu menyatukan 37:53 menyatukan masyarakatnya, menyatukan 37:55 seluruh warga negaranya untuk melakukan 37:57 perlawanan dengan semangat dan dengan 37:59 kemampuan yang ada. 38:00 Maka sebagian besar masyarakatnya 38:02 menolak dilakukan yang namanya 38:03 pembicaraan kedua dan Iren tidak hadir 38:05 gitu. [tertawa] 38:08 Narasi beda-beda. 38:09 Artinya di situ, 38:10 artinya di situ gitu ya. 38:12 Ini yang disebut dengan totality war. H 38:16 Iran itu sudah melakukan dalam posisi 38:17 totality war. 38:19 Sementara yang namanya Israel dan 38:21 Amerika sudah dalam posisi connectivity 38:24 war. 38:24 Hm. 38:27 Ah, itu beda. Beda banget. 38:29 H 38:29 beda banget. 38:31 Oh, 38:32 Amerika Israel dalam posisi istilahnya 38:34 connectivity war nyeret-nyeret. 38:36 Sementara yang namanya h 38:39 Iran sudah dalam posisi totality war. 38:42 Nah, Totality War itu masing-masing 38:44 memberikan menginjeksikan semangat 38:46 berperang. Masing-masing menginjeksikan 38:49 ketahanan ketahanan ee berperang, 38:53 semangat berperang sampai keluar kalimat 38:55 kami akan berperang hingga prajurit 38:57 terakhir menghembuskan nafas. 38:59 Masyaallah. 39:01 Masyaallah. [berdehem] 39:02 Itu [terkesiap] 39:05 nah dari situ dari situ memang akhirnya 39:08 saya merujuk ke Al-Qur'an. Jangan 39:11 dibilang pejuang Allah yang 39:12 menghembuskan nafasnya itu adalah 39:15 kematian. Mereka justru telah menuju 39:17 kehidupan yang begitu melapangkan. Itu 39:20 kalimatnya begitu. 39:21 Masyaallah. Kematian yang dicita-citakan 39:24 malah eh luar biasa. 39:25 Kematian yang dituju. Dan itu pernah 39:27 terjadi di Indonesia 39:28 weh. 39:29 10 November ya 39:30 pada 10 November 45. H. He. 39:34 Sehingga pasukan Gurka 39:36 sebagai tentara bayaran 39:38 sekutu 39:39 itu 39:40 Bin 39:41 berdidik menyaksikan keberanian rakyat 39:44 menyerahkan nyawanya melawan sekutu. Itu 39:47 berdidik. Itu pengakuan seorang seorang 39:49 tentara guru kayak itu tentara bayaran. 39:51 Kami berdidik melihat keberanian bangsa 39:54 Indonesia melawan kami sehingga kami 39:56 akhirnya mundur. Itu kekalahan [tertawa] 39:59 bahkan berbalik. banyak guru yang 40:01 berbalik waktu itu. [berdehem] 40:03 Weh, luar biasa. 40:05 Saya kira begitu, Pak. Jadi ini bukti ee 40:09 situasi survival mode. Survival mode itu 40:13 adalah bukti ucapan, kajian-kajian 40:17 dirahtil, penyampaian kita berbasis 40:20 Al-Qur'an, merujuk Al-Qur'an, 40:22 mendapatkan bukti-bukti empiris. 40:24 Masyaallah. 40:25 Jadi bukan omon-omon. 40:27 Hm. 40:28 [tertawa] 40:29 bukan omon-omon, bukan sesuatu yang kita 40:32 kita ciptakan dalam rangka ngebangun 40:34 sikap diimisme. Al-Qur'an mengajarkan 40:37 kita waspada karena memang peperangan 40:40 terjadi setiap detik. 40:42 Musuhmu ada di depan, ada di belakang, 40:44 ada, ada kanan, dan kiri. Musuhmu 40:46 melihatmu kamu tidak. Tapi jangan takut 40:49 sepanjang engkau bersama aku dengan 40:51 keimanan yang engkau jaga. Wah, 40:54 luar biasa itu di situ artinya apa? 40:58 Di situ artinya kita harus waspada 41:00 karena pertarungannya tiap detik 41:03 peperangannya, pertempurannya tiap detik 41:06 yang sampai akhirnya terkitab peperangan 41:07 besar. 41:08 H. 41:08 Nah, sebagai penutup 41:10 apa, Bang? 41:12 Dalam posisi seperti sekarang di mana 41:16 saya mengingatkan lewat tiga buku saya, 41:18 minimal empat buku. 41:19 Heeh. Ya, maksimal empat buku, minimal 41:22 dua buku. 41:24 Buku saya, kita belum merdeka. Selamat 41:26 datang di negeri amburadul, 41:29 bangsa terbelah, prahara bangsa. Maka 41:32 sesungguhnya indikasi 41:33 peperangan-peperangan itu sudah saya 41:36 jelaskan, saya terbuka habis-habisan 41:39 ya. [berdehem] 41:41 Bahkan kalau konstruksi sekarang krisis 41:44 5F saya sudah menulisnya 7 tahun lalu. 41:49 7 tahun lalu. Kalau Aisyalib mungkin 41:52 ingat ketika saya bawakan bangsa 41:54 terbelah gitu ya 41:55 dengan krisis 5F. krisis financial, 41:58 krisis, krisis food, krisis frekuensi, 42:03 krisis 42:04 peradaban 42:05 itu kita sudah ingatkan bangsa 42:09 ini sebenarnya sunat 42:12 materialisme itu pasti kalaha 42:16 inal 42:19 kenapa masyarakat Islam sendiri tidak 42:21 pegang pedoman itu bahwa segala sesuatu 42:24 yang Allah juga sebutkan sebagai 42:25 dipergilirkan 42:28 Nah, kita mesti waspada ketika sampai 42:30 pada posisi inal 42:32 bahwa segala sesuatu pasti 42:33 dipergilirkan, umat Islamnya harus 42:36 waspada, harus bersiap diri menghadapi 42:38 pergiliran itu. 42:40 Seperti kita waspada setiap waktu, 42:43 setiap hari. Waspada di waktu magrib, 42:46 waspada di waktu subuh. 42:48 Heeh. 42:49 Gitu loh. Di balik kewaspadaan itu kita 42:52 dikasih kekuatan. Makanya dikasih 42:55 gambaran, salatlah kamu dua rakaat 42:57 sebelum subuh. 42:58 H. 42:59 Nah, setelah asar bacalah ayat-ayat ee 43:02 suci supaya kamu dikasih kekuatan. Itu 43:04 kita dikasih gambaran seperti itu loh. 43:06 Diinformasikan 43:07 gambarnya sudah clear, keren. Tapi 43:09 kita enggak pegang, 43:10 kita enggak pegang itu gitu loh. 43:13 Jadi sebagai penutup, yuk kita kembali 43:14 ke Al-Qur'an dan hadis. H 43:16 karena Al-Qur'an dan hadis adalah dua 43:18 perkara 43:19 yang akan menyelamatkan kita, yang akan 43:21 kita membawa kita ke jannah di dunia dan 43:24 di akhirat 43:25 yang memang itu disediakan bagi 43:27 orang bertakwa. 43:30 Masyaallah. 43:30 Kalau di di ayat Al Imranidatul Muttaqin 43:34 itu disediakan bagi mereka 43:38 yang memang bersegera untuk mencari 43:40 ampunan Allah. 43:44 ini kan dan asil mohon maaf lahir batin 43:47 kalau salah 43:48 itu karena kekurangan, kebodohan dan 43:51 kekeliruan saya gitu tapi kalau benar 43:54 total hanya karena Allah 43:56 subhanahu wa taala amin 43:58 subhanakallahumma wabi asadu ilaagfir 44:01 wuai wasalamualaikum 44:04 warahmatullah 44:06 wabarakatuh 44:07 waalaikumsalam warahmatullahi 44:10 wabarakatuh tu