Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
1:31 [Musik] 1:58 Bismillahirrahman 1:59 Asalamualaikum warahmatullahi 2:01 wabarakatuh. Allahumma shalloli ala 2:02 sayyidina Muhammad wa al sayyidina 2:04 Muhammad. Alhamdulillah kita berjumpa 2:06 lagi hari ini hari Rabu tanggal 13 2:10 Jumadil Akhir 1445 Hijriah atau tanggal 2:13 27 Desember 2:16 23. Di akhir tahun ini mari kita 2:19 manfaatkan waktu kita untuk mendengarkan 2:21 hal-hal yang positif. Kita akan bicara 2:23 soal 65 juta UMKM menuju perubahan. 2:30 65 juta UMKM menuju perubahan. Kami 2:33 hadirkan seorang pemuda ganteng lahir di 2:35 Jakarta tanggal 20 Juni 2:38 75. Dari SD sampai SMA di Leab School, 2:42 kemudian di Trisakti, 2:44 kemudian sekolah di Amerika di DCEN DC, 2:48 kemudian S3-nya di bisnis eh apa 2:52 namanya? BINUS. Kemudian S3-nya 2:54 diselahikan di Setia Surabaya tahun 97 2:57 Kam. 2:59 Beliau sering dipanggil namanya sih 3:03 Farans ya Jaya. Iya. 3:08 Farans Jaya. 3:11 Sekarang dipanggilnya Kos Faran. 3:13 Asalamualaikum Kos Faran. Waalaikumsalam 3:15 warahmatullah. Masyaallah. Makasih Ana 3:17 waktu telepon antum dado-dado kena sono 3:20 nih. Bisa enggak ya? Soalnya orang 3:22 sesibuk ini alhamdulillah bisa juga. 3:24 Bisa. Insyaallah. 3:25 Untuk Anda yang bergerak di UMKM, ada 3:29 baiknya dengarin acara ini. Kita akan 3:31 bicara 65 UMKM menuju perubahan. Oke. Ee 3:36 Coach para kita mulai dari UMKM itu 3:39 pengertian apa? UMKM itu apa? Makasih. 3:42 Ee aku panggil Mas aja biar sama. Boleh, 3:44 boleh. 3:46 Izin, Mas. Betul. Ee jadi masih banyak 3:48 kesalahan persepsi UMKM itu apa. Heeh. 3:50 Ee yang paling fatal menurut saya ee 3:53 justru penggabungan nama itu sendiri. 3:55 Oh, jadi WMKM ini kan sebenarnya sebuah 3:56 singkatan ya ee usaha mikro, kecil dan 4:01 menengah. Hm. Nah, cuma tantangannya 4:03 kalau kita membahas omset berarti mereka 4:05 yang omsetnya mulai dari 0 sampai 4,5 4:08 miliar sebulan. Oh. Nah, itu digabungkan 4:12 menjadi sebuah sebuah satu kata UMKM 4:15 gitu. Nah, ini ini makanya akhirnya 4:18 pelakunya juga mungkin ee salah 4:20 persepsi, pemerintahnya juga salah 4:22 persepsi. semuanya penggiatnya, 4:25 akademisinya bingung. Karena mestinya 4:28 kalau menurut saya yang pertama ya 4:30 karena dia ada tiga tiga apa ee pembeda 4:34 kan berarti kan ada usaha mikro, ada 4:36 usaha kecil, ada usaha menengah. Cuma 4:38 saat ini misalnya di Jakarta lah paling 4:40 gampangnya ya ada pelatihan UMKM. Jadi 4:43 yang datang Mas ada yang ibu-ibu mungkin 4:46 masih punya warung sembako, he. Ada 4:49 mungkin yang bisnisnya punya ee toko di 4:52 mall. He. Ada juga mungkin satu yang 4:54 sudah punya mobil gitu. He. Kenapa 4:56 mereka datang? Karena mereka masih dalam 4:58 lingkup UMKM. Nah, ini yang ini yang 5:00 saya pikir kesalahan fatal dan kesalahan 5:03 besar yang perlu segera diperbaiki. Nah, 5:04 itu yang pertama. Yang kedua, ini 5:06 mungkin mungkin saya selalu bilangnya 5:08 lebih sedih lagi. Saya bilang, "Kenapa 5:09 sedih?" Karena jadi ada kementeriannya, 5:12 Mas. Oh, namanya Kementerian UKM tapi 5:16 ya. Oh, bedanya apa tuh? M-nya 5:18 kelewat kan? Mestinnya kan 5:21 kementerian. Uh. usaha, M-nya mikro. 5:24 Jadi mikronya ini kelewat. Oh, jadi UKM 5:27 jadi mestinya saat ini namanya 5:28 Kementerian UKM. Hm. Dan koperasi. He. 5:31 Mestinya kan nama lengkapnya kan 5:33 mestinya Kementerian UMKM dan Koperasi. 5:36 Nah, kenapa perlu saya tekankan? Karena 5:38 kalau dilihat di data UMKM yang tadi ada 5:40 mikro kecil menengah itu mikronya kalau 5:42 di atas saya itu besarannya itu 88%. 5:47 80%. Iya. Dari total UMKM-nya ya. Jadi 5:50 kalau misalnya UMKM itu ada, maaf ada 5:53 100 88 orangnya itu mikro, skala mikro. 5:56 Hm. Nah, berarti kan ee 12-nya itu baru 5:59 yang kecil dan menengah. Jadi bisa 6:01 dikasih kesimpulan setiap pedagang 6:03 adalah UMKM gitu enggak? Semua yang ee 6:05 tidak digaji, tidak digaji iya berarti 6:08 masuk kategori itu. Tinggal omsetnya 6:09 yang mana nih? Oh, jadi misalnya ee ada 6:12 orang saya omsetnya R5 juta, berarti 6:14 kamu usaha mikro. H tapi karena 6:16 penggabungannya UMKM, gabunglah dia 6:18 omset R juta sama omset 2 miliar sebulan 6:21 pun tap dianggapnya UMKM. Nah, ini 6:23 termasuk yang online itu termasuk UMKM 6:25 juga. Semua yang enggak digaji 6:26 sebenarnya. Oh, semua yang tidak digaji 6:28 tinggal bedanya punya izin apa tidak. 6:30 Yang tidak digaji dan menghasil tapi 6:31 menghasilkan uang. Iya, itu sebenarnya 6:33 sudah dibilang pengusaha. Nah, nanti ada 6:35 lagi bedanya pengusaha sama entreprenur. 6:37 Nah, itu nanti kita perlu bedah lagi 6:38 tuh. Hm. 6:40 Lalu 65 6:42 juta UMKM menuju perubahan angka 65 juta 6:47 dari mana ini? Data BPS itu BPS kalau 6:49 datanya data online seluruh Indonesia 6:51 ya. Seluruh Indonesia kalau datanya 6:53 online gabungan semua marketplace yang 6:55 tadi digabung gabung gabung gabung sama 6:57 pasar dan lain-lain. Katanya nih ini 6:59 masih sedikit gaib datanya karena enggak 7:01 ada yang punya titik komanya. maksudnya 7:03 hanya kumpulan-kumpulan data lalu 7:05 muncullah ee kompilasi data kan mestinya 7:08 ada titik komanya, ada namanya, KTP-nya 7:11 ya. Karena kalau berdasarkan data ini B 7:13 UMKM belum sebanyak itu datanya saya 7:15 lupa persisnya cuman kalau enggak salah 7:17 baru R juta R juta. Ee jadi 65 juta itu 7:20 data BPS memang data survei. Nah, 7:22 sebenarnya kalau kita data online itu 7:24 mereka yang melakukan penjualan melalui 7:25 marketplace, sosial media dan lain-lain 7:26 itu katanya 100 sampai R10 juta. Jadi 7:29 jumlahnya banyak sekali ya gitu. 7:31 Sekarang kalau kita jalan di Jakarta 7:33 melewati jalan-jalan yang dilewatin Jak 7:36 Lingko apalah yang kendaraan umum pasti 7:39 sudah enggak ada rumah lagi. Rumah sudah 7:40 jadi tempat usaha semua. Ini siapa 7:42 pembeli? 7:45 Enggak tetap pembeli. Jadi gini itu 7:46 banyak yang nanya kalau semuanya jualan, 7:49 siapa pembelinya? Yang pembelinya si 7:50 penjual itu juga. Oh gitu. Kan ee selalu 7:53 ada pembeli, selalu penjual kan. Enggak 7:55 mungkin penjual lalu enggak beli kan 7:57 gitu. Nah, yang menjadi tantangannya 7:59 produk dia apa gitu. J gini, kalau dia 8:02 yang jualan sembako kan dia enggak 8:03 mungkin jualan baju, dia pasti beli 8:05 baju. He. Nah, yang saat ini terjadi 8:07 memang ekosistemnya belum kebentuk. 8:09 Maksudnya apa? Dia jualannya misalnya 8:12 dia jualan sembakau kepada yang jualan 8:15 baju. He. Mestisnya kan jualan baju beli 8:18 sembakau sama yang ee jualan sembakau 8:20 gitu kan terjadi namanya close ekonomi 8:22 saling belanja. Nah, ini enggak ya. Jadi 8:24 misalnya dia beli baju sama tukang baju, 8:26 tukang baju beli sembakau enggak ke dia, 8:28 belinya ke Alfamat, 8:30 keart ini itu terjadi muter ekosistemnya 8:33 ya. Ee saya mungkin lompat sedikit ya 8:35 sama dengan ekosistem koperasi simpan 8:37 pinjam. He ya simpannya di bank 8:40 bank-bank BCA misalnya kalau kita 8:41 sebutin nama minjam jadi koperasi. 8:43 Makanya banyak koperasi akhirnya enggak 8:44 berembang karena jadinya koperasi 8:46 pinjam-pinjam itu. Tapi kita lompat 8:47 sedikit ya dari segmennya. Nah ini mirip 8:49 sama UMKM. 8:51 kamu belinya sama saya, tapi enggak 8:53 sebaliknya. Nah, ini ini yang 8:55 ekosistemnya memang idealnya diatur. 8:56 Mestinya gimana? Iya. Ya, mestinya 8:59 belinya juga kayak kedua ya. Kalau 9:01 ekosistem ekonominya mau tumbuh mestinya 9:03 saling belanja. Nah, pertanyaannya saya 9:05 kan enggak tahu Bapak jualannya apa. 9:07 Bapak juga enggak tahu saya belanja. 9:08 Nah, ini makanya perlu yang namanya 9:10 digitalisasi. Nah, ini ini memang perlu 9:12 perannya pemerintah. Nah, ini intinya 9:14 sih secara secara garis besar ya kalau 9:16 bahasa Inggrisnya perlu change ya, perlu 9:18 perubahan. Nah, tinggal pertanyaan yang 9:20 paling sulit dijawab adalah berubah dari 9:22 mana? Kan ini ini H karena kalau ngomong 9:24 secara statistik sedikit 65 juta ini kan 9:27 kalau dipecah provinsi kan 38, kalau 9:29 dipecah kabupaten kota kurang lebih 9:31 514-an. H kalau dipecah pulau, dipecah 9:35 itu ee tantangan ee UMKM di Indonesia 9:38 memang ada sisi demografinya, ada sisi 9:41 geografinya, ada sisi pendidikannya, ada 9:44 sisi usianya, jenis kelamin. Nah, cuman 9:46 tantangan terbesar adalah semuanya 9:47 digabung menjadi UMKM gitu. Jadi saya 9:50 kasih contoh yang paling gampang. 9:51 Misalnya ada pelatihan ee online gitu 9:54 ya, masuk ke sebuah marketplace. Buat 9:56 beberapa anak muda gampang banget. ini 9:58 mah bukan buat saya nih, cuman buat 10:00 berapa ibu-ibu susah banget ya gitu. Hm. 10:03 Nah, ee ada beberapa mungkin ee contoh 10:05 yang ekstremnya sedikit ada pelatihan 10:07 ekspor h untuk UMKM kan kalimatnya UMKM 10:10 bukan usaha besar misalnya pelatihan 10:13 ekspor khusus usaha besar itu benar 10:15 usahanya sudah besar sudah siap ekspor. 10:17 Nah, ada beberapa saya misalnya kemarin 10:18 ke sebuah kota cukup jauh di Sulawesi 10:22 pelatihan UMKM go eksport. Saya tanya 10:24 Bapak omsetnya berapa sebulan? R juta. 10:26 Hm. lah kalau yang mau dieksport apanya? 10:29 Kan eksp itu kan idealnya minimal satu 10:30 kontainer saya bilang ya minimal R juta 10:32 lah kalimatnya. He. Emang secara 10:34 kolektif itu bisa e tapi nanti 10:36 definisinya tidak lagi ekspor. Oh. Nah, 10:38 jadi kan banyak juga orang pikir justif 10:39 itu ekspor. Jastip kan bukan jasip 10:41 titipan. Tolong dong titip kalau ke 10:42 Malaysia titip ya. Nah, itu kan definisi 10:45 ekspor itu menurut Bea Cukai adalah 10:47 mereka yang mendaftarkan ee dan memiliki 10:50 izin ekspor lalu ekspornya melalui ee 10:52 apa bea cukai lah kalimatnya ya. dan 10:54 mesti daftarin tuh itu baru dianggap 10:56 ekspor di dalam e bukunya pemerintah. 10:58 Kalau semua tolong dong kamu mau ke mana 10:59 Malaysia tolong titip dong ke 11:00 teman-teman sana dia sudah mengklaim itu 11:03 ekspor ya itu namanya ee produknya 11:05 jalan-jalan aja cuman ya enggak apa-apa 11:07 memang ee betul sekali ee banyak yang 11:10 perlu diedukasi menariknya tidak hanya 11:13 pelaku usahanya, pemerintahnya juga 11:15 perlu diedukasi. Oh ya ee banyak 11:18 penggiat-penggiat ya mungkin yayasan 11:19 perlu diedukasi. Edukasi mulai dari 11:21 mana? Definisi aja dulu. tolong bedakan 11:23 usaha mikro kecil menengah. Jadi kalau 11:25 bikin pelatihan ekspor contohnya jangan 11:27 ke mikro ya kan percuma. H ya mungkin 11:29 khusus yang besar tapi khusus yang 11:30 onboarding mungkin yang ee mindset ya 11:32 itu ke mikro. Karena yang besar enggak 11:34 usah diajarin lagi mindset udah dia 11:35 besar udah pintar gitu. Misalnya 11:37 pelatihan keuangan, pelatihan laporan 11:39 apa. Nah ini menjadi tantangan gitu. Nah 11:41 tantangannya kembali lagi database-nya 11:43 enggak ada tuh Mas. Rp5 juta ini tolong 11:45 dong kumpulin di daerah sini UMKMnya. 11:48 Bingung mereka database-ya enggak ada. 11:49 Hanya database penduduk. Heeh. ya 11:51 usahanya apa sudah berapa lama harusnya 11:53 ada di mana tuh database-nya tuh ya 11:55 mestinya di kementerian kan kemarin Pak 11:58 Pak Presiden sebenarnya minta ya minta 12:00 Pak Menteri tolong dong ee kumpulin 12:02 database kalimat database ya bukan hanya 12:05 data ya ada base-nya gitu. Jadi idealnya 12:07 sih ya sama kalau kita bikin rekening di 12:10 bank kan ada nama KTP tinggal di mana, 12:12 suaminya di mana, kayak Kak lah cuman 12:14 saat ini enggak. Jadi sempena ada 12:15 kompilasi-kompilasi aja misalnya data 12:17 Tokopid berapa? R30 juta. Contoh aja 12:19 data Shopee berapa? R3 juta. Oke. R 12:21 juta. Cuma kalau tanya rumahnya di mana, 12:23 anaknya berapa kan enggak punya dia. 12:25 Nah, ini ini jadi tantangan terbesar 12:26 karena kalau kita enggak punya itu juga 12:27 harus dimasukin juga ya data itu ya. 12:30 Iya. Karena kalau enggak nanti tidak 12:31 tepat daya kan ya. Kita contohin ada 12:33 data BLT, ada data ee PKH ya apa yang ee 12:37 orang butuh dibantu. Ada data sosial, 12:39 data kemiskinan kan ada titik komanya 12:41 ada. Cuma data UMKM yang lengkap ya 12:43 maksudnya data lengkap itu tidak punya. 12:45 Data duktabil kan hanya lebih ke nama, 12:46 tempat tinggal mungkin anak berapa gitu 12:49 ada. cuman kalau sampai spesifik 12:50 usahanya apa, tantangannya apa, itu 12:52 enggak punya. Nah, ini ini saya pikir 12:54 perubahannya memang dua. Jadinya 12:56 pelakunya sendiri sama penggiatnya 12:57 sendiri. Nah, ini perlu 12:59 diperbaiki ya kalau kalimat ngetrennya 13:01 perlu dililakukan ee gerakan perubahan 13:03 gitu, Mas. Waduh ini wah sudah langsung 13:07 SMS WA yang masuk nih ya. Asalamualaikum 13:11 Rasil, alhamdulillah bisa menghadirkan 13:13 Kosparan ini. Beliau ini bagus loh, 13:15 katanya. Saya pernah lihat ee kosparer 13:19 mau tanya, apakah untuk ee UMKM untuk 13:21 menjadi UMKM harus bermodalkan uang 13:24 banyak atau bagaimana? Kalau dari ide 13:26 saja boleh tidak? Bisa enggak? Betul. 13:28 Betul. Ee tergantung yang tadi lagi ee 13:32 kelasnya. 13:34 Kelas mikro itu omsetnya R25 juta 13:36 sebulan. 13:38 Mikro itu mikro. Jadi mikro itu mereka 13:40 yang omsetnya Rp25 juta per bulan. Yang 13:42 gampangnya gitu ya. Kalau kecil itu R00 13:44 juta per bulan. 13:46 Kalau menengah baru 4,5 miliar sebulan. 13:48 Nah, jadi kalau ditanya ee ditanya balik 13:51 usahanya mau yang kelas mana? Kalau 13:53 kelasnya mikro enggak perlu modal juga 13:55 bisalah kalimatnya ya. He. Cuman kalau 13:57 yang mau kelas mana? Saya mau kelasnya 13:58 4,5 miliar sebulan. Nah, itu tentu saja 14:01 butuh modal yang besar. H. Nah, jadi 14:03 kalau misalnya modalnya hanya ide saat 14:05 ini mesti dibikin yang namanya kalau 14:08 bahasa Inggris kerennya sih bisnis plan. 14:09 Kalau bahasa Indonesianya perencanaan 14:10 bisnis. He. Nah, itu ee tentu saja 14:13 modalnya misalnya nih, saya mau 14:15 bisnisnya kuliner, saya jago bikin nasi 14:17 goreng. Logikanya kan di rumah sudah 14:19 punya wajannya, sudah punya rice 14:22 cooker-nya. Jadi, bisa dibilang modalnya 14:24 paling beli nasi sama beli bumbu. Yang 14:26 saya yakin Rp500.000 juga cukup. He. 14:28 Nah, cuma saya mau bikin restoran 14:30 misalnya restoran Pak Krishna. Nah, h 14:34 target omset R miliar sebulan. Nah, itu 14:35 butuh modal. Nah, kalau modal juga nanti 14:38 ada beberapa ya, ada modal investor, ada 14:40 modal perbankan. Nah, itu bedahannya 14:41 banyak. Makanya kalau ditanya emang bisa 14:43 direncanakan ya? Artinya langsung harus 14:44 direncanakan. Saya untungnya min segini 14:46 itu bisa ya? Bisa jadi ini juga 14:49 lompat-lompat dikit enggak apa-apa ya, 14:50 Mas ya? Iya. Oke. Oke. Jadi saya bilang 14:51 sama UMK ini, "Saya sering banget ngisi 14:53 acara. Kamu kalau jalan-jalan contohnya 14:55 ke Jogja deh atau ke Bali bikin enggak 14:57 perencanaan nanti mau naik apa sama 14:59 siapa? Makan di mana? Jalan-jalan di 15:01 mana, bikin enggak? Bikin. Nah, itu kan 15:04 ngabis-ngabisin duit. Betul enggak?" 15:05 Betul. Nah, kamu oke kita balik. Kalau 15:06 kamu bikin usaha, bikin perencanaan. 15:08 Enggak. Enggak. Modalnya apa? 15:09 Bismillahirrahmanirrahim. 15:11 Oke. Kalau bikin perencanaan apa-apa 15:13 yang item-itemnya apa saja yang mesti di 15:15 yang pertama ee ya kalau secara keilmuan 15:18 ada namanya 4P atau 5P. Ini ini sedikit 15:20 lompat-lompat bahasanya ya karena memang 15:22 teoritisnya memang dalam bahasa Inggris. 15:24 P yang pertama kan produk ya. Bahasa 15:26 Inggris itu produk kita produk kita tuh 15:29 apa dan kelebihannya apa? Hm. Contohnya 15:31 K saya kebetulan e aslinya Bapak Ibu 15:33 Sumatera jadi Palembang lah. Kalau kita 15:35 tanya Mas K suka pempe? pasti suka. 15:38 Cuman pempekenya kan ada pempek si A, 15:40 pempe si B. Jadi produk itu mengatakan 15:43 kelebihan pempek kamu apa? Apakah lebih 15:45 banyak ikannya? Apakah lebih pedas? 15:47 Apakah jadi kayak GPIK lah dulu terkenal 15:49 keripik maic terkenalnya itu bukanik 15:51 karena pedasnya minta ampun. Nah, itu 15:53 itu contohnya produk. Harus ada 15:55 kelebihan ya. Harus ya harus bisa 15:57 dibedakan kelebihannya. Karena kalau 15:58 enggak yang terjadi orang beli produk 16:00 kita sekali, besok-besok beli sama orang 16:02 yang lain. Beli pempek pertama kita. 16:04 Saya senang pempek. Saya hobi pempek. 16:06 Besok-besok enggak beli sama kita. 16:07 Oh, oke. Karena dia pikir produknya 16:09 sama-sama pempek, Bro. Bedanya apa sama 16:11 pempek yang nah dengan kawaman? 16:13 Bagaimana dia supaya punya nilai lebih 16:16 itu bagaimana? Nah, makanya lanjut ke P 16:18 selanjutnya. Paj. Oh, oke. Yaitu place. 16:20 Place ini kalau bahasa Indonesia berarti 16:22 jualannya di mana? Nah, ini ini menarik. 16:24 Misalnya di daerah sini ada pempe yang 16:26 enak. Saya makan nih pas pulang, "Ih, 16:28 enak banget nih. Saya besok-besok mau ke 16:30 sini lagi. Aduh, 1 jam macet akhirnya 16:32 enggak jadi." Hm. Oke, jadi itu juga 16:34 penting. Nah, place ini saat ini dibantu 16:36 dengan digitalisasi. Ada marketplace, 16:38 kita enggak mesti datang dikirim. Nah, 16:40 tantangannya makin jauh makin mahal. 16:42 Nah, itu juga ada tantangan-tantangan. 16:43 Tapi enggak apa-apalah e kita minimal 16:45 tahu identifikasi masalahnya. Nah, MP3 16:47 baru harga. Jadi banyak teman-teman UMKM 16:51 itu takut harganya kemahalan. 16:53 Hm. Contohnya yang paling ekstrem deh 16:55 kalau Mas Kisa naik pesawat yang air 16:57 mineral itu kan kalau harganya Rp50.000 16:59 Ibu kalau udah aus banget ya kita beli 17:01 lah. Karena ada sisi terpaksa kan. Ee 17:04 ada enggak lebih murah? Ada R5.000 cuma 17:06 masih keluar dulu bandara cari pojokan 17:08 warung R5.000 tuh gitu. Nah ini ini jadi 17:10 memang ee psikologisnya yang jadi yang 17:13 paling penting itu produknya. Paling 17:14 penting kedua adalah tempat jualannya di 17:16 mana. Paling ketiga baru harga. He. 17:18 Karena harga ini sebenarnya teman-teman 17:20 yang namanya mahal murah itu kan 17:22 relatif. Ada yang namanya kepaksa kan. 17:24 Kalau sudah kepaksa ya sudah deh. Kalau 17:25 kita bannya kembes. Ada tukang tumble 17:28 ban dia bilang R.000 kita mau. Kalau 17:30 bilang Rp100.000 sejuta juga. Ya udahlah 17:33 dibanding ada nilai sisi keterpaksaan. 17:35 Cuman ya ini tapi ilmu-ilmu maksa ini 17:37 memang enggak bisa selamanya kan suka 17:39 banyak terkenal lagi ke puncak katanya 17:41 tiba-tiba makan nasi uduk atau apa 17:43 ditembaknya R juta. Cuman karena kalau 17:45 enggak dikasih pulang kan cuman 17:47 ilmu-ilmu tidak tidak sustain apa tidak 17:50 tidak panjang. Yang terakhir itu baru 17:52 promosi. Nah, promosi ini penting karena 17:54 orang Indonesia ini kalau enggak ada 17:56 kata diskon enggak enggak kena. Jadi 17:58 saya tempelkan harga ini sama promosi. 17:59 Saya bilang, "Coach, gimana sih ee 18:02 strategi harga?" Saya selalu bilang, 18:03 "Bikinlah harga semal-mahalnya, Mas." 18:06 Oh, semahal-mahal. Semmahalnya. Tapi 18:08 kasih dia diskon sebesar-besarnya, 18:10 gitu. Saya kasih contoh. Misalnya produk 18:14 UMKM istilahnya harga jual biasa 18:16 Rp25.000. Mas Krisna beli dong Rp25.000 18:18 Ibu langsung mik aduh mahal juga nih 18:20 gitu. Cum izin beli dong ee apa nih sih 18:23 ee makanan saya harga normalnya Rp50.000 18:25 khusus Mas Krisna diskon 50% Rp25.000 18:29 langsung mikir wih se psikologislah ini. 18:31 Mumpung nih 50% gitu. Itu sih contoh 18:33 ekstrem aja ya. Jadi banyak UMKM saat 18:35 ini harganya sudah sangat murah pada 18:37 saat suruh promosi, suruh diskon lagi 18:39 mentok Mas. Kalau dia paksa rugi. Nah 18:41 ini ini jadi tantangan. Jadi strategi 18:43 harganya memang tidak 18:44 tidak pas lah ini. Kenapa kalau ditanya 18:47 kenapa begitu? karena tidak direncanakan 18:48 bisnisnya. Jadi, mohon maaf memang 18:50 banyak sekali kenapa ibu-ibu ee banyak 18:53 usahanya tiba-tiba mungkin stop kerjaan 18:55 karena masih gedein anak. Ada beberapa 18:57 mohon maaf sedikit tereny ada berapa 19:00 UMKM ee kos tolong ajarin saya bisnis 19:02 dong katanya. UMKM kenapa? Karena suami 19:04 saya baru meninggal katanya minggu lalu, 19:07 2 minggu lalu dan enggak meninggalkan ya 19:09 mungkin adalah dana-dana cuman enggak 19:10 enggak cukup kali Masnya. Jadi saya baru 19:12 mau belajar usaha. Maksudnya apa? 19:13 Akhirnya banyak ibu-ibu terutama ya 19:16 masuk ke dunia UMKM karena terpaksa. He. 19:19 Ee kedua tidak ada yang ngajarin. Nah, 19:20 ini tantangannya. Kalau misalnya anak 19:22 muda ilmunya sudah ada, dia bingung 19:24 Google, YouTube ada. Nah, ini ini 19:26 segmentasi usia juga jadi menantang juga 19:29 ya karena ee mereka masuk ke dunia 19:31 bisnis ini karena terpaksa. Nah, ini 19:34 sebenarnya saya pikir enggak apa-apa. 19:35 Makanya perlu jadi tanggung jawab 19:36 pemerintah daerah ya. Mungkin levelnya 19:37 paling rendah mungkin kepala desa lah 19:39 gitu ya. atau Pak Lurah lah nanti naik 19:41 lagi Pak Camat, Walikota, Bupati, 19:43 Gubernur baru mestinya idealnya karena 19:45 jumlahnya banyak sekali. Enggak mungkin 19:47 satu menteri bisa handle semua, enggak 19:48 mungkin gitu. Ini ini jadi tantangan. 19:49 Makanya saya pikir sih ya karena memang 19:52 lagi zaman-zaman Pilpres saya pikir ya 19:54 mindsetnya perlu dirubah. Tapi tidak 19:55 hanya pelakunya, pelakunya, 19:57 pemerintahnya. Saya bilangnya penta 19:59 Heleix ya. Penta Helix itu pemerintahan, 20:01 swasta, akademisi, ee komunitas e dan ee 20:04 tentu saja media massa karena tidak ada 20:06 yang mengedukasi. Makanya waktu saya 20:07 diundang sama Rasel saya bilang saya 20:08 perlu datang. 20:10 Saya masih mengedukasi apa itu UMKM, 20:12 bagaimana bisa berkembang. Lompat lagi 20:15 nih. Menurut data 10 bahkan 15 tahun 20:17 terakhir UMKM tidak berkembang. Kita 20:20 kasih contoh yang gampang aja. Mas 20:21 Krisna mungkin di depan rumahnya dulu 20:23 ada tukang gorengan deh. Heeh. 15 tahun 20:25 kemudian masih ada enggak dia? Belum 20:26 tentu enggak ada. Enggak ada. Ya kan pun 20:28 masih ada ya tetap jadi tukang gorengan. 20:29 Ditanya Pak enggak buka cabang? Sudah 20:31 punya restoran belum? Setelah 15 tahun 20:33 belum? Berarti secara tirti langsung dia 20:35 tidak naik kelas ya. Bahkan bisa jadi 20:37 tutup atau berpindah ke tempat lain 20:38 karena enggak punya izin ya mungkin 20:39 enggak punya modal dan lain-lain. Ini 20:41 ini jadi tantangan ekosist. Kenapa 20:42 begitu? Maksudnya dia enggak enggak 20:44 punya ide untuk berkembang atau gimana? 20:46 Kalau konsep besarnya ekosistemnya tidak 20:47 terbentuk. Jadi kan mereka yang mikro 20:50 ini memang perlu dibantu. Makanya tadi 20:52 saya bilang kalau yang kecil menengah 20:53 yang omsetnya sudah R00 juta sebulan R 20:55 miliar kan enggak usah dipapain juga 20:56 sudah pintar. Cuman tantangannya karena 20:58 nama kementeriannya usaha kecil menengah 21:01 mikronya ini suka terlewat. Hm. He. Jadi 21:04 mohon maaf kayaknya sering dinaikin di 21:05 TV, sering naik ketemu Pak ya mungkin e 21:08 pejabat-pejabat itu biasanya yang kecil 21:10 yang menengah yang enggak perlu 21:11 diapa-apain aja udah udah udah udah udah 21:13 pintarlah gitu ya. Mikro ini yang 21:15 ibu-ibu tadi yang mungkin suaminya baru 21:17 meninggal yang enggak bisa ninggalin 21:19 anak. E itu kompleksitasnya. Di situ 21:22 saya memang punya yayasan namanya 21:23 yayasan ee Wiranesia wirausaha 21:25 Indonesia. Jadi fokusnya kita ke mikro 21:27 mikro dan pemula bahkan. Nah itu 21:29 ditemukan banyak sekali ibu-ibu. Dan 21:31 mulanya dari mana? Saya bilang mindset. 21:33 mental pola pikir itu yang paling sulit. 21:36 Samalah ya mungkin Pak Ustaz biasa pakai 21:38 baju koko. Pak Ustaz jangan koko dong 21:41 kaos dong. Kan kelihatannya tinggal 21:42 ganti baju tapi susah 21:44 susah. Dan sama ya ibu-ibu yang tadinya 21:47 mungkin pakai dress lalu biasanya 21:49 keluarannya paling jauh warung tetangga 21:51 tiba-tiba mesti ikut pelatihan mungkin 21:53 di kelurahan kecamatan, masih ketemu 21:55 kementerian pasti kan lalu masih ke 21:57 sebuah gedung tinggi parkiran, AC tug ke 21:59 KTP dulu. Itu sesuatu yang sederhana. 22:02 Nah, jadi saya bilang jangan kasih ilmu 22:03 dulu. Mindsetnya masih dirubah dulu. 22:05 Kalau enggak nganti mindset kan aduh 22:07 udah ngomongin hati, kepala. Nah, itu 22:09 juga enggak mudah. Makanya saya akhirnya 22:11 dikenalnya dengan nama coach karena saya 22:12 spesialis rubah mindset dulu. Karena 22:14 kalau mindsetnya enggak berubah, mental 22:16 pola pikirnya enggak berubah, berat tuh 22:17 ilmunya gitu. Itu itu oke dunianya 22:20 menarik dan alhamdulillah sudah hampir 22:22 10 tahun saya dulu. 22:24 Iwan dan awat. Kami masih 22:26 berbincang-bincang dengan Coach Faran. 22:29 Silakan ada yang mau konsultasi, mau 22:30 tanya-tanya soal UMKM karena temanya 22:33 adalah 65 juta UMKM menuju perubahan. 22:38 Kita akan tanya sejauh mana perubahannya 22:41 yang bisa dijanjikan. Ya, kami juga akan 22:44 membacakan nomor HP beliau. Silakan 22:46 disiapkan purpet sama kertas. Nanti akan 22:48 kami bacakan. Ee 65 juta UMKM menuju 22:54 perubahan. Asalamualaikum. Konsparan. 22:57 Kparan sekarang ke Tanabang sepi. Apakah 22:59 ada hubungan dengan pembelanjaan secara 23:01 online atau bagaimana UMKM di sana? 23:04 Betul. Betul. Tanabang sepi. Jadi, oke. 23:08 Tanah Bang ini kalau kita profiling ada 23:10 dua pembeli. He. Ee karena dia grosiran 23:13 kebanyakan pedagang lagi. Jadi dia 23:15 datang pedagang beli. Ee nah belinya di 23:18 mana? Kadang dia jual lagi sesama sama 23:20 kayak pasar induk lah kalimatnya itu ya. 23:22 Kalau kita mau beli buah beras biasanya 23:23 ada pasar induknya. Tanah Abang itu 23:25 sebenarnya kayak pasar induknya tapi 23:26 khusus busana. Fashion lah bahasa 23:27 Inggrisnya itu kebanyakan yang mana? 23:29 Kebanyakan beli memang dari luar negeri 23:31 eh sori dari luar kota. Ada mungkin yang 23:34 ya pokoknya di luar kota lah ya ee dia 23:36 beli lalu jual di sana. Nah, ada dua ee 23:39 yang bikin dia sepi. Yang pertama memang 23:40 online ya orang udahlah enggak usah 23:43 ketan abang deh gitu. Tapi yang membunuh 23:45 itu memang e import ya. Ee barang-barang 23:47 import yang datang dengan kualitas yang 23:50 mungkin sama bahkan lebih dan jauh lebih 23:52 murah. Hmm. Nah, menariknya apa? Dia 23:55 belanjanya mereka ini belanjanya 23:57 marketplace yang kita pikir produknya 24:00 produk dalam negeri, tiba-tiba kok 24:01 kirimnya dari luar negeri. Nah, ini ini 24:03 kan sempat terkenal namanya cross 24:05 borders kan. Jadi ee marketplace lintas 24:09 negara. Istri saya juga sering beli-beli 24:11 produk ini bagus ya, lucunya. Dia beli 24:12 alamatnya di mana misalnya di di apa 24:15 Cibubur itu. Pas datang kok ada cap-cap 24:17 bahasa asingnya. Nah, itu itu cross 24:19 borders namanya lintas negara. Nah, 24:21 maksudnya apa? kita kan enggak bisa 24:24 komplain juga pembeli ya kalau lebih 24:25 bagus lebih murah ya pasti belilah gitu. 24:28 Nah berarti perlu apa yang dilakukan ini 24:30 langkah perlindungan. Nah ini pemerintah 24:31 kembali lagi masih berperan di sini. 24:33 Jadi yang bisa dilakukan oleh 24:34 pedagang-pedagang di Tanah Abang apa 24:37 itu? Iya. Jadi Tanah Abang akhirnya ya 24:39 mohon maaf akhirnya ekstremnya kalau dia 24:40 mau bersaing akhirnya dia ikutan beli 24:42 produk luar 24:43 negeri. Akhirnya kan kalau hilirisasinya 24:46 kan akhirnya kan ya pedagang-pedagang 24:47 yang memang konveksi akhirnya kena kena 24:49 imbasnya gitu. Nah tapi ada beberapa kan 24:51 halnya terlalu besar. memang pemerintah 24:52 mesti turun tangan. Nah, itu yang 24:54 pertama. Kedua, memang ee digitalisasi 24:57 ini memang sangat mengurangi ya. Ee jadi 24:59 banyak pabrikan ini tidak lagi menjual 25:01 produknya ke grosiran, Mas. He. Jadi 25:03 misalnya punya pabrikan jilbab lah ya, 25:06 ngapain ke tanah bank lagi kena biaya, 25:07 kena potong langsung aja. Jadi saat ini 25:09 pun yang namanya marketplace ada 25:10 marketplace B2B, marketplace grosiran 25:13 lah kalimatnya. Kalau kita belinya 25:15 banyak lebih murah. Nah, ini memang 25:17 otomatis tanah bank akan sepi. Nah, 25:19 pertanyaannya kalau memperbaiki dari 25:22 mana? Nah, kalau saya selalu bilang 25:23 ekosistemnya masih dirubah. Apakah 25:25 dijadikan showcase, apakah dijadikan 25:28 misalnya e tempat distribusi online. 25:31 Jadi kayak gudang online. Apakah kita 25:32 perlu bikin jadi tempat-tempat pokoknya 25:34 perlu di apa ya? Inovasi ya, perlu 25:37 dirubah. Nah, merubahnya dari mana? Ya 25:39 memang ya saya sih bilang mulanya 25:41 mestinya dari ee pimpinannya. ee apakah 25:45 kalau di Jakarta apakah kepala dinasnya, 25:47 kalau di negara apakah Pak Menterinya? 25:49 Nah, ini kan kita sendiri kadang-kadang 25:50 kalau mulai dari mana saya bilang ya 25:52 biasnya dari pejabat dong. Kenapa 25:53 pejabat dia punya aturan kedua punya 25:55 anggaran. Kalau mulai dari kita ya mulai 25:57 dari bismillah dari doa kan. H nah ini 26:00 jadi tantangannya ee dan saya yakin 26:02 kejadian Tanah Abang ini akan 26:04 menduplikasi atau terjadi di 26:06 tempat-tempat gosiran lainnya gitu. Oke. 26:09 Asalamualaikum Coach Faran. 26:12 Mm. Apa 26:14 nih? Apakah UMKM itu dimulainya 26:17 gara-gara ada pandemi sehingga 26:19 berkembang atau apa? Iya. Ee ada data 26:24 yang masuk ke saya, banyak yang tadinya 26:27 karyawan jadi pengusaha juga ada ya. 26:29 Karena e dan tidaknya di Indonesia itu 26:32 kita pernah lihat mungkin berita 26:34 pramugarih, pramugara bahkan pilotnya 26:37 itu Mas akhirnya jadi pengusaha. itu 26:40 contohnya ya. Di Indonesia otomatis 26:41 lebih banyak lagi. Nah, tantangannya 26:43 memang di kita ini kalau dulu ada P4 ya 26:47 pendidikan morok Pancasila tidak ada 26:49 pendidikan persiapan usaha. Ini juga 26:51 saya lagi gaungkan ke dunia vokasi 26:53 pendidikan entrepreneurship ini, 26:55 kewirausahaan ini kalau bisa sejak dini. 26:57 Hm. Maksudnya apa? Jadi tiba-tiba yang 27:00 namanya pandemi kan tidak bisa ditolak. 27:02 Yang namanya mungkin kejadian-kejadian 27:04 luar biasa tidak mungkin ditolak. Jadi 27:06 saya bilang ilmu kewiraan ini adalah 27:08 ilmu apa yang namanya itu kalau naik 27:10 pesawat itu selalu diajarin kan nanti 27:12 kalau pesawatnya goyang-goyang siap-siap 27:13 pakai ini. Nah mesti begitu. Karena 27:16 ekonomi kan enggak linear dia pasti ada 27:17 aja gangguan-gangguan ya. Mungkin 27:19 tetangga ada peranglah ada apa dan apa. 27:21 Minimal ilmunya paham ya ilmu ilmu 27:24 kewirausahaan ini alias mulai bisnis 27:26 dari mana? Saya saat ini banyak bantu 27:28 teman-teman Purnebakti teman-teman 27:29 pensiunan Mas mohon maaf ya pensiunnya 27:32 505 tiba-tiba masih mulai usaha. Hm. 27:35 kita yang muda-muda aja mau 20 30 tahun 27:37 aja 27:39 ngos-ngosan. Aduh ini berat juga ya gitu 27:42 ya. Tiba-tiba mesti belajar TikTok, 27:44 mesti belajar Tokopedia, masih, masih 27:46 belajar ilmu-ilmu beli, masih belajar 27:49 dompet digital, istilah-istilah yang 27:50 memang ya yang saya aja juga kadang 27:52 bingung. Saya tadi ada chat GPT, ada 27:54 Bard, ada waduh mulanya dari mana ini? 27:57 Ini jadi PR itu kalau orang mau dari 27:59 awal mau belajar kayak gitu-gitu ke 28:00 siapa? Ada enggak sih lembaga yang Oh 28:02 iya betul. Ada enggak? Kalau di di saya 28:04 kebetulan punya yayasan namanya 28:05 Wiranesia. Kalau di website itu 28:07 wiranesia.org. Cuman paling gampang itu 28:09 lihat IG saya aja, Instagram aja 28:11 Faransajaya semuanya di sana. Dan karena 28:13 yayasan itu jadi kalau mau belajar 28:15 TikTok apa di sini bisa ya. Ee jadi ada 28:17 beberapa yang saya berikan langsung oleh 28:19 saya ada beberapa yang bersama mitra. 28:22 He. Mitra itu bisa juga organisasi bisa 28:24 juga mentornya. Saya memberikan 28:25 pelatihan kepada UMKM-nya gratis, kepada 28:27 mentornya juga gratis. Ee saya bilang 28:30 mentornya, "Saya kasih ilmu kamu gratis. 28:31 Kamu ngasih ngelatih juga gratis." 28:33 Ini kan sosialnya saya bilang gitu. Oke. 28:35 Oke. Nanti perkembangannya seperti apa. 28:37 Kalau usahanya naik, bisnisnya naik, 28:38 lalu mereka bayar, ya silakanlah. Nah, 28:40 ini jualan di TikTok bukannya sudah 28:41 enggak boleh, P. Masih boleh. Sudah 28:42 boleh lagi. Sudah boleh lagi. Nah, ini 28:44 juga ya begitu ya. Ya, saya enggak tahu 28:46 apakah namanya konsistensi cuman ya kita 28:48 pahamlah gitu. Oke, seperti itu. Baik, 28:49 kita baca ya selanjutnya dari pendengar 28:52 dari Bapak Herman Drajat. Asalamualaikum 28:54 Radio Rasil. Mohon maaf dan mohon izin. 28:57 Apa bisa mendapat ee kami berkomunikasi 28:59 lewat WA? bisa atau hubungi nomor HP 29:02 berapa ini? Kami akan bacakan nomor HP 29:04 yang bisa Anda hubungi. Coach Faran. 29:06 Coach 29:08 Faran ini dulu pernah sekolah di Amerika 29:10 ya, di Washington kalau enggak salah. 29:13 Angkatan lama Anis sama Anis Beswedan 29:15 ya. Ee tahunnya sama cuma angkatannya 29:16 beda. Beliau lebih senior 7 tahun 29:19 kayaknya. Tapi sempat anu ee lumayan 29:21 sering berpapasan kebetulan saya waktu 29:22 itu ketua ketua Farmiah. Waduh. Jadi 29:25 kegiatan-kegiatan mahasiswa cuma beliau 29:27 sudah senior saya masih unyu-unyu bar 29:29 lulus S1 kan du waktu sayanya kalau 29:31 waktu itu Pak Anis S3 antum S2 S3 Iya 29:35 saya saya S2 saya mulai S2 oke coach 29:38 Faran ini nomor teleponnya kalau Anda 29:40 punya usaha konsultasilah dengan beliau 29:42 nih 29:45 0811 sudah kemudian 29:49 98 sudah kemudian 29:53 96 sudah ya 99 jadi 29:57 0811 30:00 98 30:02 96 30:04 99 ya sudah 30:07 081198 30:09 9699 coachparan hari ini kita ngomongin 30:12 tema 65 juta UMKM menuju perubahan. 30:17 Perubahannya di mana ini? Oke. Nah, 30:20 ini jadi perubahan ini kan 30:24 ee ya pertama mulainya dari mana, lalu 30:27 siapa saja yang mesti berubah ya. Ee 30:29 jadi memang ada berapa pihak dan banyak 30:30 pihaklah kalau saya bilangnya pentah 30:32 helix ya. Pentah itu tentu saja pertama 30:34 pelaku usahanya sendiri, kedua 30:36 pemerintahnya, ee ketiga akademisi ya 30:39 dunia pendidikan, lalu nanti juga ada 30:40 swasta, terakhir itu media massa. Iya. 30:43 Nah, cuma masalahnya kan sebelum berubah 30:45 kan mesti ada ekosistem 30:46 dulu petanya gitu, Mas. Kalau enggak ada 30:49 petanya kan kita bingung ya gitu. Nah, 30:51 petanya dari mana ya sebenarnya sudah 30:53 banyak kajian-kajian ya ee ya baik S1, 30:55 S2, S3. Kalau kita cari di internet, di 30:58 Google pasti muncul bagaimana 31:01 memperbaiki UMKM Indonesia. Pasti sudah 31:02 banyak kajiannya ya. Heeh. Cuman saya 31:05 merasa satu katanya itu ekosistem. 31:06 Ekosistemnya mesti dirubah. Ekosistem 31:08 itu apa? Ya berarti si penta Helix ini 31:10 mesti ditemukan lalu di apa? Di 31:13 diselaraskan ya, dibenang merahkan. Nah, 31:16 cuma tantangannya pimpinan terbesarnya 31:17 ya masih presiden. Masih presiden yang 31:19 yang memulainya gitu. Ee kenapa presiden 31:22 yang pertama kita ngomong angka sedikit 31:24 ya, PMKM itu jumlahnya R5 31:26 juta. Jadi kalau kita tadi kan saya 31:29 jelaskan usaha mikro, kecil menengah, 31:31 satu lagi tuh B, Mas. Enggak masuk. 31:33 Usaha besar namanya. Usaha besar ini 31:35 kalau dipentasikan 0,01 31:38 kalau dijumlahkan mungkin 5.000 sampai 31:40 10.000 saja dalam bentuk PT. UMKM ini 31:43 65%. 31:45 menguasai 60% 31:47 ekonomi jumlahnya 31:50 99,9 kalau kita gabung ya. Sedangkan 31:53 usaha besar ini 0,01 Mas menguasai 40% 31:57 ekonomi. He. Jadi kalau ditanya pejabat 32:00 bahkan mungkin Pak Presiden kalau 32:01 ditanya mau ketemu yuk UMKM sini datang. 32:03 Kalau UMKM datang, kalau dia mengundang 32:05 UMKM yang mesti datang kan R5 juta, gitu 32:07 kan. Cuman mereka menguasai ekonomi 40% 32:10 ini. Oo semua pengusaha besar datang 32:12 hanya 5.000 satu ruangan masih cukup 32:14 gitu. 32:15 Nah, ini jadi tantangan yang 32:16 kedengarannya kan malah yang yang 5.000 32:18 orang ini yang terkesan menguasai 32:20 ekonomi negara. Jawabannya iya tapi dan 32:23 tidak ya karena jumlah mereka sedikit 32:25 jadi lebih terlihat. Sedangkan 65 juta 32:26 yang banyak ini karena kecil-kecil gitu 32:28 ya. Padahal menguasa ekonomi dan UMKM 32:30 ini telah terbukti menyelamatkan 32:32 Indonesia berkali-kali. H oke ya. 65 32:35 juta orang ini kan karena memang 32:36 pendapatannya rendah, untungnya juga 32:39 kecil, tapi kan enggak mungkin nabung 32:40 dia. Jadi misalnya ada pengusaha UMKM 32:43 untungnya R5 juta R10 juta kan enggak 32:44 mungkin nabung dia belanja terus tuh. 32:46 Dan pengusaha besar yang biasanya 32:48 belanja mungkin Rp50 juta tiba-tiba 32:51 krisis kan di stop. Nah, itu ekonominya 32:52 langsung langsung apa namanya nurun 32:54 gitu. Nah, cuman kan ya kembali lagi ya 32:56 ee mungkin belum jadi anak kesayangan. 32:58 Nah, ini mudah-mudahan ya mungkin kalau 33:00 nyolek-nyolek Bel sedikit mudah-mudahan 33:02 pemimpin ya presiden selanjutnya 33:05 insyaallah ee mudah-mudahan sangat 33:07 sangat fokus ke perubahan, sangat niat e 33:10 bantu UMKM karena data sudah ada ilmunya 33:13 tinggal tanya dosen-dosen tinggal tanya 33:15 semua akademisi sudah ada jawabannya 33:17 tinggal kesungguhan keniatannya 33:20 ee Bapak Presiden yang baru ini saja 33:22 gitu rencananya. 33:24 Oke, tadi nomor teleponnya sudah yang ee 33:27 tadi bertanya itu ee nomor teleponnya 33:31 Coach Faran adalah 33:36 08119896 33:38 99. Koresparan apabila ada 33:42 pameran kesempatan kerja itu ramai 33:45 sekali tapi UMKM juga ramai. Jadi 33:49 sebetulnya bagaimana dia gambling atau 33:53 bagaimana ini apa dia pelarian menjadi 33:55 UMKM atau bagaimana? Betul. Karena kalau 33:57 ada apa pameran apa lapangan kerja ramai 34:01 juga tu yang jadi ya ini banyak yang 34:03 bertanya kepada saya ini ee UMKM pemula 34:05 atau UMKM anak muda? Heeh. Ee jadi saya 34:09 bilang gini ke mereka anak muda ya. Saya 34:10 bilang anggap saja keduanya ini sebuah 34:13 skill. Istilahnya gini kita bisa lari 34:15 bisa juga berenang. Heeh. Atau kita bisa 34:17 nyanyi juga, bisa juga ngelawak gitu ya. 34:19 Jadi kita dianggap a semuanya skill. 34:21 Jadi jangan hanya salah satu. Jadi 34:23 khusus anak muda saya seakan gini karena 34:25 kan kalian juga butuh pengalaman di 34:27 dunia nyata mungkin dunia swasta, dunia 34:30 pemerintah. Silakan. Kalau tanya ke 34:32 saya, "Kach bagusan jadi pengusaha 34:34 langsung gitu maksudnya lulus SMA, SMK 34:36 langsung jadi pengusaha atau bekerja?" 34:37 Saya bilang bekerja. He. Tantangannya 34:40 jumlah pekerjaannya kan enggak cukup 34:41 gitu. He. Nah, jadi saya bilang sambil 34:43 nunggu interview, sambil nunggu 34:46 panggilan, mulailah berusaha. Nah, 34:48 enaknya saat ini jadi pengusaha itu 34:50 enggak perlu lagi bikin toko, bikin 34:51 warung, cukup bikin toko online. 34:54 Produknya dicari yang mana yang paling 34:55 lagi laku, kan gampang ya. Sekarang saya 34:57 banyak riset-reset yang lagi laku. 34:58 Misalnya lebaran otomatis kurma misalnya 35:01 atau misalnya karangan bunga. Nah, itu 35:03 kan tinggal ditentukan. Jadi, kita 35:04 tinggal adaptasi aja tuh. Adaptasi mana 35:07 sih yang paling lagi laku kita ikuti 35:08 aja. Jadi banyak ilmu-ilmu kewirasaan 35:11 juga salah. 35:12 harus passionate, harus fokus ke satu 35:14 usaha. Jadi banyak yang akhirnya ya kan 35:18 katanya sesuai passion, tapi passionnya 35:20 apa? Melukis kan pada saat lukisannya 35:22 jadi bagus kan enggak ada yang beli 35:23 lukisan. Contohnya seperti itu ya atau 35:24 belinya mungkin satu dua. Nah, jadi saya 35:26 bilang ya passion-nya boleh satu cuman 35:28 kalau bisa tambahin satu lagi deh. Saya 35:30 bilang usahanya pakai. Jadi ada yang 35:32 satu mungkin yang mainstream mainstream 35:34 tuh yang ya mau sembakau k pulsa kayak 35:36 gitu. Satu lagi yang benar-benar 35:37 passion. Passion-nya apa dan apa dan 35:39 boleh digabung-gabung kok. idealnya 35:41 maksimal tiga ya. Ee ini ini ya karena 35:44 ada ilmunya harus fokus. Akhirnya pada 35:47 saat ilmu yang atau bisnis yang 35:48 difokusin enggak jalan ya enggak ini. 35:50 Nah, kedua saya bilang pada saat dia 35:51 bekerja dia juga bisa jualan. H kan 35:53 temannya banyak nih ada 20 30 orang ya. 35:56 Ya. Nah, tinggal produksinya siapa 35:58 produksinya? Kalau dia enggak bisa 35:59 produksi bisa misalnya kakaknya, ibunya. 36:01 Nah, itu dia jadi namanya istilahnya 36:03 reseller gitu ya. Jadi sebenarnya banyak 36:05 ilmunya, banyak kok. Nah, cuma mulai 36:07 dari mana? Saya selalu bilang mulai 36:09 langkah pertama adalah mindset mental 36:11 pola pikir kalau enggak enggak ketemu 36:13 karena saat ini UMKM khususnya ibu-ibu 36:15 memang mindsetnya karena terpaksa 36:17 pendapatan suami kurang atau bahkan 36:19 suaminya sudah tidak ada kalau nah ini 36:21 ini jadi tantangan jadi kalau mindsetnya 36:22 berubah biasanya cepat kok 36:26 Asalamualaikum saya senang sekali 36:28 mendengar acara ini karena anak saya 36:30 terancam kena PHK. Nah, bolehkah kami 36:34 konsultasi untuk masalah ini supaya 36:36 nanti ketika di PHK enggak ada kerjaan 36:38 dia bisa berkmak. 36:41 Betul, betul. Oh, iya. Ee paling gampang 36:44 kalau boleh izin ee teman-teman 36:46 bisa mengunjungi Instagram saya 36:49 Faransyah Jaya atau Coach Faran juga 36:51 boleh nanti muncul tuh di situ banyak 36:53 kegiatan-kegiatan saya baik online 36:55 ataupun offline ya ee silaturahu kami 36:57 dengan UMKM. Dan saya selalu bilang 36:59 gini, Mas. Semua ilmu wiruranesia atau 37:03 dari Kosfan gratis bayarannya cuma satu. 37:06 Saya bilang, "Kamu masih ngajarin lagi 37:07 yang lainnya, Mas." Oh, karena jumlahnya 37:09 Rp5 juta. Kalau semuanya ke saya 37:12 pusing juga saya bilang. Jadi, saat ini 37:14 saya ngajarin UMKM. Setelah itu saya 37:15 minta UMKM jadi mentor. Besoknya jangan 37:18 nanya saya lagi ya. Mau ajak teman-teman 37:19 kamu 10. Jangan. Kalau nanya ke saya 37:21 semua waktunya habis. Saya bilang yang 37:23 paling diminati untuk UMKM produknya 37:26 apa, Pak? Kuliner apa? produk-produk 37:29 baju atau apa saat ini ya secara data 37:31 itu ee kuliner tuh 65%. Oh terbit tinggi 37:35 ya. Heeh. Iya. Karena kan ee sebenarnya 37:38 bukan karena kalau dia senang dia beli 37:40 lagi. Heeh. Misalnya Mas Kesna senang 37:42 baju kokonya ini baju putih nih keren 37:44 banget nih dari misalnya dari Faran 37:46 Yunas misalnya. Cuma kan enggak mungkin 37:48 tiap hari beli. He numpuk. Kalau numpuk 37:50 diin istri kan. 37:52 Cuma kan kalau makanan kan, wah nih saya 37:53 enak nih ee kurmanya ataupun ini enak 37:55 nih e nastarnya. Mau numpuk satu gudang 37:58 juga enggak apa-apa kan. Ah kalau enggak 37:59 habis juga nanti saya kasih orang deh 38:00 gitu. Kalau baju kan ah kalau enggak 38:02 kepakai juga saya kasih orang. Tapi kan 38:03 ukurannya beda istilnya kayak gitu. Jadi 38:05 kuliner ini memang paling tinggi 65%. 38:07 Sisanya itu memang busana ee busana 38:09 fashion lalu sisa paling bawah itu 38:11 kerajinan tangan. Ya ini secara umum ya 38:13 sisanya sih banyak sih ya jasa ya salon 38:15 cuci mobil ya tadi ya e pedagang pasar. 38:18 Tapi kalau dikumpulkan ee segmennya 38:20 kuliner. Kenapa? Karena siapa sih yang 38:22 enggak makan, siapa sih enggak ngemil, 38:24 siapa sih yang enggak jaj gitu macam 38:26 kedai-kedai kopi sekarang menjamur di 38:28 mana-mana. Betul. Betul. Tapi ada ininya 38:31 interiornya bagus tapi kok sepi-sepi 38:33 aja. Tapi ada yang laku banget. Bahkan 38:36 di kedai kopi itu di depannya kan dibuat 38:39 selokan yang lebar tuh sehingga mobil 38:42 enggak bisa parkir. Tapi tetap ramai 38:44 berarti ini benar-benar digemarin. Udah 38:47 parkir susah masih tetap orang yang ng 38:48 beda-bedain itu gitu. Jadi ee saat ini 38:52 ini lompat-lompat enggak apa-apalah ya. 38:54 Jadi orang ini saat ini datang bukan 38:55 karena kopinya, Mas. Datang karena 38:57 viral. 38:59 Kalau viral ini saya harus datang gitu. 39:01 Lalu datang jadi dia ngopi foto. Belum 39:04 belum tentu kopinya diminum gitu. Cuman 39:07 dia bikin konten, "Saya sudah hadir di 39:09 sini." Kenapa? Karena tren masyarakat 39:11 lagi enak nih, Bro, di daerah sini nih. 39:13 Aduh, kalau lu enggak datang, lu enggak 39:15 gaul nih. Gitu. Jadi ada apa ya namanya? 39:17 Sosial apa ya? social punishment ya. 39:19 Nah, jadi kita kena hukuman nih. Oh, 39:21 enggak tahu lu enggak gul lu engak kan 39:23 terutama anak muda ya. Nah, cuma anak 39:25 muda ini nanti ngajak kakaknya, ngajak 39:26 ibunya, ngajak bapaknya, akhirnya 39:28 semuanya ketarik. Nah, maksudnya apa? 39:30 Berarti teman-teman ya tadi mau di 39:32 pinggir got kek, pinggir jalan kek, 39:34 kuncinya memang bikin viral. Nah, bikin 39:36 viral ini enggak sulit. Kenapa? Karena 39:37 sudah ada sosial media, sudah ada 39:39 influencer, sudah ada ada orang lagi 39:42 rapat gini, bajunya ditarik langsung 39:44 viral ya. Ada yang pokoknya jadi viral 39:47 ini sebenarnya mudah sekali dan enggak 39:48 perlu mahal. Kalau zaman dulu YouTube 39:49 kan mohon maaf kameranya masih bagus, 39:51 kualitas ngeditnya. Sekarang pakai 39:52 handphone murah meriah, makin burem 39:55 makin enggak jelas makin viral. I 39:58 majumacumu ulah-ulahnya. Ya, ini 40:00 menarik. Tapi saya masih tambahkan satu 40:01 lagi. Indonesia ini sudah mulai seperti 40:03 Singapura. E Singapura sudah seperti 40:05 Amerika. Maksudnya apa? Orang tidak ada 40:07 lagi yang masak, Mas. Ya, kalau zaman 40:09 dulu mungkin ibu kita masih ngejahitin 40:10 baju buat kita, ya. Kalau sepatu mungkin 40:13 enggak. Cuman banyaklah, ya. Dulu bahkan 40:14 ibu kita ngerajut kaos kaki, sweater 40:16 sekarang enggak. Sekarang masak pun 40:18 enggak. Saya berapa kali ketemu su-supir 40:20 Grab, Gojek, dia sama sekali enggak 40:22 masak karena buat dia lebih murah jajan 40:25 pinggir jalan dibanding ya beli gas dan 40:28 waktu lebih lama. Oh ya. Nah, ini ini 40:30 jadi tantangan. Jadi, teman-teman UMKM 40:32 juga mesti paham polanya. Trennya itu 40:35 mulai berubah kabur. Benar. Udah enggak 40:38 ada lagi. Misalnya dulu kan ya saya 40:39 ingatlah ee ibu kita udah mungkin ngejah 40:42 sendiri ini sendiri. Kalau bolong-bolong 40:43 udah deh dibenerin aja deh sekarang kan 40:45 ya udahlah ke tukang tukang jahit lewat 40:48 jalan tukang permak lebus lah itu 40:50 sebenarnya W seang ada kos kaki pos 40:52 10.004 2004 apa tuh ya? Iya. Iya. Nah, 40:54 tantangannya memang kita ini dibanjiri 40:56 produk-produk luar negeri. Nah, ini saya 40:58 bilang perlu perlindungan. Tapi 40:59 perlindungan UMKM-nya sudah heboh-heboh. 41:02 Yang lainnya luar dulu datang lebih 41:03 bagus, lebih murah ya kitanya kena. Di 41:05 negara lain dilindungi. Kita belumlah. 41:07 Mudah-mudahan segera gitu. Oke. Baik. 41:11 Ini masih banyak yang nanya nomor 41:12 teleponnya. Ini kosparannya. Silakan 41:15 saya akan bacakan lagi. Yang mau tanya 41:17 boleh silakan. Ee nomor ee HP-nya Coach 41:22 Faren adalah 41:25 0811 kemudian 41:30 98 41:33 86 41:37 99. Gosparan 41:40 ee bagaimana untuk memulai usaha? Apakah 41:44 dimulai dengan hobi kita atau apa yang 41:47 sedang ramai di pasaran? Betul. Betul. 41:50 Jadi secara teori ada dua. He. Ee kita 41:53 mengikuti kata hati, He. Kita mengikuti 41:56 pasar. Saya selalu tanya gini, kalau 41:59 kata hati kamu atau passion kamu topet, 42:01 yakin banget boleh. Misalnya saya punya 42:03 resep nasi goreng yang semua orangnya 42:04 makan pasti langsung tergila-gila ter 42:08 apa namanya? Kecanduan. Itu boleh. Cuman 42:10 kalau kita bisa bikin nasi bisa. Rasanya 42:12 sama yang udah ini sama aja ya. Nah, 42:15 kalau gitu gimana tuh? Pilih pasar. 42:17 Pasar itu berarti apa? Jadi banyak 42:19 teman-teman pasar itu merasa bazar, 42:22 pasar itu online, enggak. Pasar itu saya 42:23 selalu bilangnya ee saudara, teman, 42:26 tetangga itu aja dulu. Kalau di tootal 42:29 ada berapa? Ya, masa kita enggak punya 42:30 saudaraan, enggak juga. Masa sih enggak 42:32 punya teman? Ya, itu paling enggak 50 42:33 orang, 100 orang. Jadi tanya 51 orang 42:36 ini ee misalnya teman SD, SMP, SMA ee 42:40 bro-bro ya kalau anak muda kan. He. 42:41 Kalian lagi senang apa sih? Saya lagi 42:43 senang yang pedas-pedas keripik. Nah, 42:44 kita bikin keripik ya. Tapi adaptasi 42:46 penting ya. Jangan sampai kita ngikutin 42:48 tren tapi lupa. Jadi kita masih siap 42:50 juga berubah. Lagi ngetren apa kemarin 42:52 pandemi masker segera masker. Lagi 42:53 ngetren apa? Hand sanitizer. Hand 42:56 sanitizer. Ya, tapi jadi selalu saya 42:57 bilang ada dua. Satu yang mainstream itu 43:00 yang memang yang pasar laku. Satu lagi 43:02 memang yang kita senanglah itu boleh 43:04 gitu. Dari Umi Yasir tadi apa IG-nya 43:07 katanya? Iya. Bisa bisa dicari ee 43:10 Faransah Jaya atau Coach Faran? Boleh. 43:13 Faransah Jaya. Faransah Jaya atau Coach 43:16 Faran juga atau Coach Faran ya di IG di 43:19 Google dicari-cari nanti ketemu 43:20 kegiatan-kegiatan saya. Oke 43:23 silakan. 43:24 Oke. Terus ada ini apa namanya? Mm apa 43:29 namanya itu? Factory atlet itu kan udah 43:31 udah pasaran ya di Bandung. Di sini juga 43:34 ada banyak. Sekarang ternyata dibikin 43:36 lagi di pelosok di Depok apa namanya? 43:39 Bella Ross apa? Bela bela bela apa itu 43:43 ya? Bela Cus. Iya. Iya. Wah itu ada tiga 43:47 rumah ramai orang parkir. Jadi ee bisa 43:50 gitu ya padahal udah udah habis mestinya 43:52 masa itu kan masa 43:54 vor ya. Saat ini muncul karena viral 43:57 aja. Semua yang viral itu semua yang 43:59 muncul tiba-tiba biasanya habisnya juga 44:01 cepat. Oh gitu. Karena orang datang 44:03 bukan karena beli. Oh. Jadi misalnya 44:05 lagi ngetren tempat ini karena 44:07 makanannya enak, pas dicoba ah 44:09 biasa-biasa aja itu. Cuman karena merasa 44:10 wajib datang karena tadi ada social 44:12 punishment. Kalau lu enggak datang, lu 44:14 enggak keren, akhirnya dia datang. Nah, 44:16 tokoh-tokoh buah yang viral-viral kita 44:18 paling ya mungkin 2 3 tahun ya. Setelah 44:20 itu dia mesti berubah. Kalau dia enggak 44:21 berubah, dia mati. Saat ini pun kita 44:23 punya tempat di mall yang bagus pun he 44:25 ee tidak sustain. Kalau tanya kenapa 44:27 sustain? E kenapa tidak bertahan lama? 44:30 Karena sifat manusia itu bosenan. Hmm. 44:32 He gitu. Dia akan bosan dan dia akan ee 44:35 istilahnya ganti andaiun dia senang 44:38 banget dia yang tadinya beli tiap hari 44:40 jadi tiap minggu, tiap minggu jadi tiap 44:41 bulan, tiap bulan jadi tiap tahun. 44:43 Contoh seperti itu. Jadi buat 44:44 teman-teman memang langkah selanjutnya 44:46 memang mesti memahami pembeli kita siapa 44:48 gitu dan kita mesti tahu karena kita 44:49 juga pasti bosan. Maaf ada aja kan kita 44:52 kadang-kadang ah bosan baju putih 44:53 kadang- baju hijau deh gitu kan sama. 44:55 Nah ini memang sifatnya manusia. Nah 44:57 otomatis kita masih apa? Jadi, jadi saya 44:59 selalu 45:00 bilang ee bagaimana sih agar bisnis naik 45:03 terus? Saya bilang yang pertama cari 45:06 pembeli baru ya, lalu jadikan pembeli 45:08 baru ini jadi pelanggan. Jadi paling 45:10 sering itu pembeli barunya beli, kita 45:13 terus saya cari pembeli baru. Jadi tidak 45:14 punya namanya pelanggan gitu ya. Nah, 45:16 padahal kalau ilmunya ilmu bisnis itu 45:19 pembeli dijadikan pelanggan. H ee 45:23 pelanggannya ini di dipastikan dia beli 45:25 lagi. He. Nah, itu yang bikin omset naik 45:27 terus. Yang terjadi dia setiap hari beli 45:29 pembeli baru itu namanya bazar. He. Ya, 45:31 jadi dia tidak punya pelanggan tetap ya. 45:34 Ee kita lihat yang ekstrem deh misalnya 45:37 ee produk-produk susu bayi, 45:39 produk-produk apa namanya makanan 45:41 instan. Dia jaga tuh pelanggannya. Dia 45:43 bikin komunitasnya bahkan karena dia 45:45 tahu kalau pelanggannya pergi hilang tuh 45:46 semua. Hm. Komunitas mobil, komunitas 45:48 motor, komunitas sepeda, dia bikin 45:50 komunitasnya. Karena kalau enggak pergi, 45:52 nah UMKM belum punya atau memiliki fan 45:54 base kalimatnya ya komunitas-komunitas 45:56 itu. Nah, ini pelan-pelan perlu di 45:58 pikiran bagaimana pembeli yang sudah 46:00 pernah beli sama UMKM ini dimaintain. 46:02 Mainten paling gampang ya kirim WA 46:04 selamat pagi Masan sehat? Sehat gimana 46:06 ya? Jamunya habis. Habis habis tolong 46:08 kirimnya. 46:10 Nah, kita kadang-kadang takutnya enggak 46:11 enak takutnya enggak ganggu. Nah, itu 46:13 kadang-kadang ada mindset juga itu. Kos 46:15 Farahan saya mau cerita nih ya. Teman 46:17 saya bikin semacam UMKM dan selongirim 46:21 lewat link WA ee makanan yang dia jual 46:26 selalu dikirimin. Lama-lama sangat 46:28 mengganggu gitu. Dikirimin ke ini itu 46:30 bagaimana menghadapi teman yang seperti 46:32 ini yang selalu mengirim produknya ke 46:34 kami dan enggak berhenti-berhenti? 46:37 Itu juga saya selalu bilang ke 46:38 teman-teman UMKM ya ee namanya strategi 46:41 database. Heeh. Jadi gini contoh gampang 46:44 satu mingguan ada 7 hari. He ya misalnya 46:47 kita bagi deh database kita jadi tujuh 46:49 Mas. He. Contohnya teman TK, teman SD, 46:51 teman SMP, teman SMA, teman pengajian, 46:54 teman arisan, ya. Teman demo demonstrasi 46:56 boleh demo masak boleh. Pokoknya dibo. 46:57 Ada juga ya. Iya. Maksudnya apa? Senin 47:00 khusus 11 teman SMA. Heh. Selasa jadi 47:03 yang sering terjadi tujuh-tujunya 47:04 dibelah semua. H. Akhirnya tadi itu 47:06 karena pertamanya senang lama-lama kesal 47:08 kan. Lama-lama antara di live kalau 47:10 enggak dia. Jadi teman-teman blokir 47:13 lakukan e namanya penjadwalan. Jadi 47:15 khusus teman SD mungkin setiap Senin, 47:18 khusus teman SMP setiap Selasa. Contoh 47:20 seperti itu. Jadi maksimal itu seminggu 47:23 sekali. Lebih dari itu sudah kebangetan 47:25 ya. Itu pertama. Yang kedua, menggunakan 47:28 ilmu 4P tadi ada promosi. He. Maksudnya 47:31 apa? Khusus ee teman-teman SD saya 47:34 diskon 5% 10%. Jadi dibikin custom 47:37 teman-teman SD-ku gitu ya. Ini ya khusus 47:39 teman-eman SD diskon 5% 10%. Jadi ada 47:42 tambahan manfaat. He. N yang terjadi kan 47:44 udah panjang lebar plus fotonya lima, 47:46 videonya 47:48 10 langsung paket datanya habis hari itu 47:50 juga. Nah, ini sebenarnya ilmunya benar, 47:52 Mas. Ilmunya sangat gampang kok. Oh, 47:55 cuma yang terjadi apa? Ee UMK kami ini 47:57 mohon maaf keliling-keliling YouTube 47:58 ketemunya motivator. Keliling 48:00 keliling-keliling e Google ketemunya 48:03 kelas-kelas berbayar. Rp100.000 awalnya 48:06 lama-lama R juta gitu. Jadi saya sih 48:08 bilang ilmunya sangat gampang. Saya 48:10 bilang ya. Lalu nanti ada ilmu 48:11 marketplace. Kok saya sudah jualan di 48:13 salah satu marketplace tapi kok enggak 48:14 laku-laku? Nah, itu juga pertanyaannya 48:16 banyak tuh. Bisa jadi udah ada yang 48:17 nanya saya bilang ilmunya gampang 48:19 banget. Saya bilang itu. Itu kenapa jadi 48:21 dia udah di marketplace sering ilmu apa 48:24 jadi yang penyebabnya apa? Ilmu ilmu 48:26 warung sepi, Mas. Heeh. Tak tahu toko 48:28 sepi misalnya Mas Ihsan jalan mewah 48:31 megah tapi pakirannya kok usah masuk 48:33 enggak? Iya. Iya. Enggak. Ini 48:35 jangan-jangan banyak setan ini. 48:36 Jangan-jangan enggak enak. Jangan-jangan 48:37 makanannya basi. Sama. Jadi kalau kita 48:39 bikin akun di marketplace, penjualnya, 48:42 sori, pembelinya baru 1 2 10. Ah ini 48:45 jangan-jangan hoaks. Ah, ini 48:46 jangan-jangan penipuan. Jadi saya selalu 48:49 kasih ilmunya paling enggak teman-teman 48:51 mesti transaksi 50. 48:54 Paling tidak 50 transaksi terjadi di 48:56 toko kita di marketplace. Oke. Oh, gitu. 48:59 Caranya gimana, Coach? Ya, caranya 49:00 terserah ya. Ee paling gampang kita 49:02 jualannya lewat WhatsApp, transaksinya 49:04 di marketplace. 49:07 Oh, jadi kadang-kadang teman-teman kita 49:08 ini jualannya di WhatsApp transaksinya 49:10 langsung tanpa marketplace. 49:11 Marketplace-nya kosong, enggak ada yang 49:13 beli. H atau ya minta tolong temannya 49:16 lah, Mas Susan tolonglah suruh 49:18 adik-adiknya beli di sini nih atau ya 49:20 gimanalah gitu. Tapi marketplace kalau 49:23 pembelinya 0 du bahkan di bawah 10 sudah 49:25 pasti enggak. Di atas 10 masih ragu. 49:27 Cuman kalau 50 insyaallah setelah itu e 49:29 organik dia akan beli beli terus. Kalau 49:31 sampai 49:32 10000.000 dia paling atas. 49:35 Jadi ada ilmu yang gampang banget. Kalau 49:37 ada yang nanya ke saya 1 menit terjawab 49:39 tuh ilmunya gitu. 49:41 Oke. Asalamuala anak saya ingin e 49:46 berusaha berwiraswasta tapi produk yang 49:49 di 49:51 mau ditawarkan adalah sesuatu yang 49:54 banyak sekali didapat dan mudah didapat. 49:57 Bagaimana pendapat konsum ini? Jadi ini 49:59 kan 50:00 ee kalau ilmu mengatakannya ilmu 50:03 cocokologi Mas. H cocok loginya nih 50:05 antara penjual dan pembeli. Saya selalu 50:07 bilang produknya boleh apa aja? Boleh 50:09 jasa, boleh produk, boleh makanan, boleh 50:11 minuman. Teman-teman masih riset 50:14 pasarnya itu siapa, pembelinya siapa. 50:16 Tadi saya bilang pembeli itu mulai dari 50:17 saudara dulu. He. Setelah saudara ya 50:20 teman, setelah itu tetangga, setelah itu 50:22 komunitas, setelah itu teman kerja dan 50:24 lain-lainnya. Tanya mereka ee misalnya 50:27 nih, saya suka ngejahit baju ya, 50:29 senangnya apa? Yang panjang, yang 50:30 pendek, suka pakai organik apa enggak. 50:31 Nah, itu perlu ditanya dulu. Jadi enggak 50:33 langsung bikin lalu jual. Yang sering 50:34 terjadi ini mungkin kepedan ya, mungkin 50:37 ini langsung bikin lalu jual. Tidak 50:39 ketemu pasarnya gitu ya. Sama kayak 50:40 misalnya kita jual sembakau. Kalau jual 50:43 sembako warung-warung cuma tempatnya 50:45 mewah, orang pasti enggak beli karena 50:46 dia mendingan beli ke ee tempat-tempat 50:48 yang besar dan sebaliknya. Kalau memang 50:50 kesannya mahal atau gimana? Enggak. Ini 50:52 masalah cocok logi aja. Oh, jadi memang 50:54 idealnya kita tahu kita jualnya ke 50:56 siapa. Jadi contohnya gini yang sedikit 50:59 lompat mainan ya. Misalnya kalau kita 51:01 beli mainan anak-anak, contohin kalau 51:02 Lego lah gitu ya, Mas, ada tulisan 51:04 enggak, Mas, umur berapa? Ada tulisan 51:06 kan 3 plus, 5 plus, 6 plus. Padahal 51:08 logikanya kan ya lego kan lego. Tapi 51:10 enggak ternyata gitu. Nah, di kita kan 51:12 tidak ada tulisannya. Kadang-kadang 51:13 misalnya ada keripik, dibungkus aja 51:15 keripik tidak ada tulisannya ini keripik 51:17 pedas apa keripik pisang apa apa pepaya 51:20 pisang kan enggak tahu. Pokoknya ini 51:22 keripik aja gitu. Akhirnya orang mau 51:23 beli ragu-ragu, "Ah, ini benar enggak 51:25 ya? Enak enggak ya?" gitu. Nah, akhirnya 51:26 muncul yang namanya kemasan atau 51:28 informasi lebih e lebih lengkap ya. Lalu 51:30 nanti kadang-kadang izinnya sudah ada 51:32 belum? Ini benar enggak ya? Ee kemasan 51:36 kok kayaknya masuk angin. Jadi pas sudah 51:37 dibeli pas dibuka apa tuh namanya? 51:39 Melempem contohnya gitu. Hm. Jadi memang 51:41 banyak sekali keilmuan-keilmuan yang 51:44 sebenarnya basisnya tadi 4P tadi Mas. E 51:47 produk eh PR sama promotion kalau bahasa 51:49 Inggrisnya. Karena ini kenapa mesti 51:50 pakai bahasa Inggris? Karena memang asal 51:52 ilmunya di dari luar negeri gitu. Nah, 51:54 jadi teman-teman mulainya dari situ 51:56 dulu. Nah, tinggal P yang selanjutnya 51:57 memang kalau kita ngomong 5P people atau 51:59 pembeli. Pembelinya masih dicocokin 52:01 gitu. Jadi jangan sampai kita jualan 52:03 baju ke orang yang lagi butuh makanan 52:06 gitu atau jualan makanan orang yang lagi 52:08 butuh baju gitu. Nah, bagaimana 52:09 langkahnya? Ya memang ya kita masih gaul 52:11 kalimatnya masih sering ikut acara 52:14 sosialisasi ya ketemu misalnya ketemu 52:16 pejabat jangan hanya foto ditanya, "Pak, 52:18 di sini ada kebutuhan apa lagi? Butuh 52:20 nasi bok enggak? Lagi butuh seragam 52:22 enggak? Saya bisa bantu dong gitu." He. 52:24 Kalau misalnya kita enggak bisa bantu 52:25 pun nanti saya cariin teman saya. Nah, 52:27 kita bermitra kita jadi marketingnya 52:28 lah. Kita dapat FE-nya deh. Itu kan juga 52:30 bisa. Nah, cuman cuman semua yang tadi 52:32 saya jelaskan ujung-ujungnya apa? 52:34 Mindset aja. Kalau mindset sudah ketemu 52:35 udah udah udah selesai. Itu gampanglah 52:37 insyaallah gitu. Ilmunya hanya 52:39 sesederhana itu kalimatnya seperti itu. 52:43 Oke. Asalamualaikum Rasil. Titip salam 52:46 kenal dengan Coach Faran. Ini enggak 52:49 enggak pakai H ya. Bukan Farhan tadi 52:51 Farhan enggak hanya diangin Farhan adik 52:53 kelas di Live School 84. Siap. Siap. 52:56 Kami juga pelaku UMKM insyaallah bisa 52:58 bertemu dari Mas. Siapa kenal? Iya. Saya 53:03 di left School ee kemarin sempat jadi 53:05 pengurus tapi baru berganti pengurus ya. 53:07 Sama di bidang kewirasaan juga di bidang 53:09 masih Pak Arif ya Pak ee ya 53:12 strukturalnya sih sudah berubah ya. Eh 53:14 kan ada lab school-nya sudah 53:15 pindah-pindah berapa titik. Kalau saya 53:17 dulu masih labip. Oh iya. yang jalan 53:20 pemuda ya masih yang cuma satu-satunya 53:21 saat ini kan kalau tanya live school 53:23 mana saya bilang dulu ada satu live 53:25 school cuman ya itu. Nah cuman ya saya 53:28 mau tambahkan memang saat ini 53:29 alhamdulillahnya sudah mulai banyak ee 53:32 SMK ya kampus-kampus memberikan ilmu 53:34 kewirausahaan gitu ya. Ee jadi saya 53:36 bilang mindset aja dulu ilmunya minimal 53:39 ngertilah. Jadi pada saat tiba-tiba kena 53:41 PHK 53:42 tiba-tiba ya mungkin bosan kerja ya bisa 53:46 melakukan usaha gitu dan platformnya 53:48 sudah sangat banyak. online, offline, 53:50 mitra udah udah sangat banyak. Tinggal 53:52 mulainya dari mana mindset lalu ikutan 53:54 komunitas, Mas. Itu paling gampang tuh. 53:56 Komunitas sudah banyaklah bejibun di 53:58 Google aja udah udah banyak sekali 53:59 komunitas-komunitas UMKM atau komunitas 54:01 kewirausahaan. 54:03 Eh, asalamualaikum e Konsan. Bagaimana 54:06 cara 54:07 memilih franchise? Karena kami tidak 54:10 punya ide untuk jualan apa. Ee kami 54:13 ingin franchise saja. Ee bagaimana cara 54:16 memilih franchise? Betul. ee bukan 54:18 memilih ya, dipelajari dulu. Sama kayak 54:20 kita beli rumah aja, Mas. He. Kita kan 54:22 ngambil brosurnya, ngelihat-lihat 54:24 interview gitu ya. Kalau bahasa kerennya 54:26 kan riset, ya. Jadi teman-teman gali 54:28 datanya, bandingkan, lalu tanya-tanya 54:30 kalau perlu datang sebagai misterios 54:32 buyers. Jadi beli-beli sosok jadi 54:34 pembeli gitu. Lalu kita lihat enak apa 54:36 enggak, ini apa enggak. Karena 54:37 frentchise ini kan juga modelnya banyak. 54:39 Ada yang hanya pelang nama aja bayarnya. 54:42 Ada yang sampai alatnya, ada yang sampai 54:43 karyawannya, ada yang sampai bagi 54:45 hasilnya. He ya. Contohnya Alfamat 54:47 Indomat tuh kalau enggak salah ya kita 54:49 kasih duit ke mereka, mereka yang 54:51 semuanya kerjain pokoknya dapat bagi 54:52 hasil segini gitu. Nah, bisa enggak 54:55 kalau kita jalan lebih gede? Bisa lebih 54:56 gede cuman hasilnya belum tentu lebih 54:58 gede. Nah, gitu. Tapi kan ada yang paket 55:00 R jutaan gitu, martabak apa begitu. Itu 55:03 gimana? Nah, itu biasanya enggak enggak 55:04 enggak bertahan lama. Oh, karena 55:06 manajemennya manajemen kita. Kita beli 55:08 paket lalu setelahnya manajemennya kita. 55:10 Yang susah itu kan bukan bukan 55:12 jualannya, susah manajemennya. Misalnya 55:14 komitmen misalnya setiap hari pakai baju 55:17 seragam itu kadang-kadang kan gampang 55:19 tapi susah. Akhirnya pakai kaos misalnya 55:21 setiap pagi mandi dulu ya pakai sabun 55:23 gitu. Kadang-kadang enggak sempat nih 55:25 akhirnya kan baru 2 jam keringetan udah 55:27 mulai hawa-hawanya akhirnya kan konsumen 55:30 kita itu kan beda sama konsumen luar 55:31 negeri ya. Kalau dikit-dikit komplain 55:33 ngomong konsumen kita kan enggak kalau 55:34 enggak senang mundur teratur lalu ya 55:37 enggak meniatkan tidak akan kembali lagi 55:39 ke sana. Kalau yang saya bilang gini, 55:41 kalau komplain itu bagus, berarti dia 55:43 kasih masukan. He. Kalau dia diam dan 55:45 pergi itu biasanya trauma dari zaman 55:48 enggak mau beli lagi. Nah, ini ini yang 55:50 sering terjadi ya. Ini ya makanya saya 55:52 bilang mulainya dari mana? Yang pertama 55:54 ee mental pola pikir, kedua memang 55:56 perencanaan. Minimal kalau setelah 55:58 berencana salah belok, nyasar dikit bisa 56:01 kembali lagi. Kalau enggak punya 56:03 perencanaan ini yang akhirnya nabrak 56:04 kanan nabrak kiri bingung sendiri gitu. 56:06 Nah, cuman yang ketiga saran saya ikut 56:08 komunitas di Wiranesia sih kita punya 56:10 bikin komunitas e Wiranesia inkubator 56:12 mungkin insyaallah akan launching tahun 56:14 depan. Dari mereka-merek yang 56:17 sudah berkonsultasi sejauh mana 56:20 perkembangannya tadinya apa lalu 56:21 bagaimana? Yang kalau serius 2 minggu 56:24 omset naik. Oh iya. Ee ada yang sebulan 56:26 kan gampang. Apa yang diperbaikinya? 56:28 Database aja. Oh. Pertama database dulu 56:31 saya tanya kamu punya temannya berapa 56:32 banyak? Oh iya, saya pikir-pikir saya 56:34 punya teman 1.000 ya kali 1000 kan 56:36 enggak laku. Nah, tinggal 1000 ini 56:38 bagaimana yang tadinya belum beli jadi 56:39 beli. Nah, strateginya apa? 4P itu tetap 56:41 balik lagi, Mas. Produknya diperbaiki 56:43 ya, kemasannya diperbaiki ya, gitu ya. 56:45 Lalu tempat jualannya kalau bisa ada 56:47 online, ada offline. Setelah itu kalau 56:49 bisa harganya ya bersaing atau ya tadi 56:51 kasih diskon sisanya memang promosinya 56:53 apa. Nah, memperbaiki 4P-nya ini memang 56:57 ada yang 2 minggu, ada yang sebulan ya. 57:00 Kalau buat terbuah kemasan kan ya kalau 57:01 mau ngegas mungkin 1 du hari. Cuman kan 57:03 kalau yang Nah, ini ini kembali lagi 57:05 jadi dia rubah dulu 4P-nya lalu cocokin 57:09 dengan pembelinya setelah itu biasanya 57:11 langsung berubah gitu. Oke, ini dari 57:14 tadi nih saya ini Kacharif Muslim Arif 57:19 Simanjuntak dari Live School. Lupa ya 57:22 ingat kok. 57:26 Oke, Pak Haji Muslim Arif Simanjuntak. 57:30 Eh, asalamualaikum e Kos Faran, 57:32 bagaimana mengenai reseller? Apakah 57:35 reseller akan bisa lebih kaya dari yang 57:38 punya merek? Iya, reseller gitu. Iya. 57:42 Eh, skillnya aja. Eh, kalau kita senang 57:45 jualan, jadilah reseller. Kalau senang 57:47 produksi, jadilah produsen. Segampang 57:49 itu. Jangan kebolak-balik. Oh, gitu. Ee 57:52 semua yang di Tanah bank itu kan 57:53 reseller sebenarnya. Kemungkinan besar 57:55 dia tidak punya pabrik. Dia hanya 57:57 menjualkan produknya orang. semua yang 57:59 di mall-mall apa plazo senayan situ kan 58:01 sebenarnya kalimatnya reseller ya cuman 58:03 ada yang reseller dia rubah namanya 58:05 namanya maklon ada yang produk 58:08 kecantikan produk makanan juga ada jadi 58:10 dia belinya dari pabrikan lalu dia 58:11 bungkus sendiri pakai mereknya di 58:12 labelnya dia namanya Maklon ada juga 58:15 produsen murni benar-benar dari awal 58:17 namanya dia dipatenin itu juga ada nah 58:19 jadi buat teman-teman kalau mau masuk 58:22 bisnis reseller memang senang jual 58:23 senang ketemu orang senang ngobrol ya 58:26 mungkin punya pengalaman dulu jual 58:27 asuransi jual jual MLM. Nah, itu 58:28 contohnya reseller. Karena semakin 58:31 banyak jualan dia semakin senang. Enggak 58:32 laku pun dia senang karena nambah teman 58:34 gitu. He. Nah, kalau produsen biasanya 58:36 enggak begitu senang kebalikannya. He. 58:38 Senangnya tuh produksi, bikin, coba-coba 58:40 bikin kue. Nah, itu produsen ini 58:42 biasanya omsetnya susah naik. He. Karena 58:45 enggak punya tim penjual. Nah, sarankan 58:46 saya kenalan itu sama reseller berbagi 58:49 gitu. Nah, ini e di Wiranesia juga kita 58:51 rencana mau bikin program pelatihan 58:53 reseller karena di database saya 58:54 mengatakan 20% itu memang enggak bisa 58:56 produksi. Dia senangnya jualan. Oh. Nah, 59:00 yang biasanya produksi biasanya bukannya 59:02 enggak senang jualan ya. Enggak sempat 59:03 jualan kan tiap hari kan ngadon terus. 59:05 Bisa jadi dia jualan bakso, dia sendiri 59:07 enggak bisa bikin bakso. Bisa bisa 59:08 begitu ya? Bisa. Sudah banyak sudah 59:10 banyak. Jadi dia disuplly aja. Dia punya 59:12 restoran Padang di sini dia enggak bisa 59:13 masak. Kan pilihannya antara setiap pagi 59:16 bangun pagi bikin bakso atau ada yang 59:18 pabrik bakso jam 59:21 5. kuahnya dari dia. Nah, itu saat ini 59:24 makanya ee kalimat-kalimat inovasi sudah 59:26 semakin baik, semakin semakin tinggi. 59:28 Keilmuan enggak bisa masak, belajar dari 59:30 YouTube. Ee komunitas juga sudah semakin 59:32 banyak gitu. Kalau UMKM seperti yang 59:34 kita bicarakan gini, di luar negeri 59:36 bagaimana sih? Di Amerika ada juga 59:38 enggak sih? Ee banyak, tapi lebih 59:40 teratur ya. Lebih teratur ya. E jadi 59:42 semua pengusaha di luar negeri harus 59:45 punya izin dulu. Jadi mereka selalu 59:47 mulai dari izin. Ya, kalau enggak punya 59:49 izin bikin katering di rumah aja izinnya 59:51 susah. Enggak berani masang plang dia 59:53 tanpa izin dia enggak bisa. Anda pun 59:55 bisa mungkin enggak lama karena dan 59:56 dapurnya diperiksa toh kalau itu. Nah, 59:57 setelah itu memang ya makanya jadi di 59:59 sana kan ada dua perlindungan. 1:00:01 Perlindungan sebagai penjual, 1:00:03 perlindungan sebagai konsumen. He. Di 1:00:05 sini kan kita kadang-kadang nunggu kapok 1:00:07 lalu enggak beli 1:00:08 lagi ya. Cuman balik lagi mulai dari 1:00:11 mana? Saya sih enggak pernah menyalahkan 1:00:12 siapa-siapa leman, Mas. Kalau enggak 1:00:15 perubahan berat ini ya. Rp5 juta ini kan 1:00:17 datanya kan ya kurang lebih dari dulu 1:00:19 segitu aja kan. Enggak enggak 1:00:20 nambah-nambah datanya pemerintah ya 1:00:21 walaupun katanya di luar sana nambah. 1:00:22 Jadi nah jadi memang perubahan ini ee 1:00:25 perlu segera dilakukan. Kenapa? Karena 1:00:28 otomatis kesejahteraan UMKM-nya naik. 1:00:30 Kalau UMKM sejahtera bayar pajaknya 1:00:32 naik. Kalau pajaknya naik berarti kan 1:00:33 pendapatan UMK naik. Perbatanan P naik 1:00:35 infrastruktur bisa lebih banyak, bisa 1:00:36 lebih bagus. Jadi fungsi UMKM itu tidak 1:00:38 menggerogoti, tapi justru kontribusin 1:00:40 akan semakin tinggi. He. Nah, sekarang 1:00:42 untuk 2024 ini bagaimana perumahan UMKM 1:00:46 di sana nanti di tahun depan ini? Iya. 1:00:48 Ee UMKN sangat terbantu dengan 1:00:50 digitalisasi cuman kembali lagi ee 1:00:52 pemimpinnya ini mesti pro UMKM ya. Eh, 1:00:56 jadi tidak hanya apa seremonial, tidak 1:00:59 hanya datang ngikutin pita. UMKM itu 1:01:01 selalu dihadirkan di setiap-setiap 1:01:02 acara-acara kegiatan pejabat, 1:01:04 pemerintah, swasta cuman ya setelah 1:01:06 pulang kasih ongkos oke bye gitu ya 1:01:08 gitu. Atau dikasih hibah oke terima 1:01:10 kasih gitu. Nah, tidak dikembangkan 1:01:12 secara tulus passionet ya gitu. Jadi 1:01:14 saya teruskan membantu salah satu paslon 1:01:17 yang memang dari dulu sangat fokus ke 1:01:20 UMKM gitu ya. ee pas luelinya saya 1:01:22 berkomunikasi ya masih general lah belum 1:01:25 terlalu detail. Padahal saya pikir 1:01:26 momentum ini kan momentum pergantian 1:01:28 pemimpin ini. Saya kalau tanya Kos 1:01:30 kenapa milih paslon yang salah satu ini? 1:01:32 Ya sementara ini engagement saya 5 tahun 1:01:35 terakhir, 7 tahun terakhir memang sangat 1:01:36 pro UMKM dan sudah terbukti. H enggak 1:01:39 hanya iklan yang lain sih bukannya tidak 1:01:40 ya tapi mungkin apakah keseriusan apa 1:01:43 bukti nyatanya saya belum terlihat ya. 1:01:44 Jadi ya terusnya saya juga ditawarkan ke 1:01:46 semua pas bilang saya yang paling proya 1:01:49 sudah terlihatlah gitu muda ya udah udah 1:01:52 lumayan lama gitu ya. Cuma saya pikir 1:01:54 saya selalu bilang, "Kos, nanti kalau 1:01:56 kalah gimana?" Oh, kalah menangnya UMKM 1:01:58 itu kalau Omsetan naik. Saya bilang, 1:02:00 "Kalau pas menang, bonus aja 1:02:02 alhamdulillah. Berarti kan lebih banyak 1:02:03 ininya." Nah, ini yang saya lakukan ee 1:02:05 saat ini dengan e teman-teman UMKM gitu, 1:02:07 Mas. Oke, ini ada tanya nomor HP-nya 1:02:11 Coach Faran ya. Silakan disiapkan PP 1:02:14 kertas. Ni terakhir nih karena waktu 1:02:16 kita sudah dibatasi ya. 1:02:18 Nomor HP Coach Faran kalau di game-nya 1:02:22 tadi Faransah Jaya ya. Farsah Jaya atau 1:02:24 di coach Faran di C juga bisa ada Faran 1:02:27 bukan, bukan Fahran bukan Faran pakai N 1:02:30 Farans. Varan ya. Oke. Ini nomornya 1:02:36 0811 sudah. Kemudian 1:02:39 98, kemudian 1:02:41 96 99 1:02:44 0811 1:02:47 98 96 99. Ini ada yang tanya terakhir 1:02:51 nih. Coachpar sendiri punya ini enggak? 1:02:53 Katanya punya toko atau restoran atau 1:02:55 apa yang dikerjakan sendiri? Iya. Apa 1:02:59 cuma jadi motivator aja? Oh enggak, 1:03:00 enggak punya dong. Punya saya e 1:03:02 backgroundnya investment sebenarnya. Oh, 1:03:03 jadi saya punya perusahaan investasi ee 1:03:07 melakukan investasi ke banyak perusahaan 1:03:09 besar ya, tapi sekalian mungkin miliaran 1:03:10 gitu. Memang idenya saya itu harapannya 1:03:12 ke depannya saya bisa investasi namanya 1:03:14 microinvestment. Investasi ke 1:03:15 teman-teman UMKM ini. Ee semuanya 1:03:17 kembali lagi ekosistemnya kan belum 1:03:18 terbentuk. Nah, kalau usaha nyatanya ee 1:03:22 istri punya toko kue ee 2 bulan terakhir 1:03:25 saya baru bikin ee kafe di kafe di 1:03:28 Jakarta Selatan. Nah, mau datang boleh. 1:03:30 E sebenarnya depan kantor ya. Jadi saya 1:03:32 kantor saya namanya Grahawiranesia. 1:03:34 Depannya dibikin kafe. Kafenya itu bisa 1:03:36 dibilang harganya pecelele tapi 1:03:38 suasananya kafe. Nahnya jadi tempat 1:03:41 nongkrongnya UMKM harapannya gitu. 1:03:44 Tanggal 31 besok saya mau bikin refleksi 1:03:47 UMKM menghadapi 2024. Oke, monggo. Oke, 1:03:51 silakan kontak Coach Farhani 1:03:54 0811 1:03:57 98 96 1:04:00 99. Coach kita sayang sekali sudah 1:04:03 dibatasi oleh waktu. Mohon maaf untuk 1:04:05 Anda yang belum sempat dijawab ya. Saya 1:04:09 Muhammad Krisna. Terima kasih eh K 1:04:11 Faran. Saya Muhammad Krisna. Eh, Neza, 1:04:15 kemudian siapa namanya nih teman kita 1:04:17 nih? Morina. Muliana. Oh, Muliana. 1:04:21 Kemudian juga Fahri. Mohon pamit. 1:04:23 Wabillahi taufik walhidayah. 1:04:24 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:04:25 wabarakatuham.