Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Ahlan wa sahlan.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Anda tentu hafal suara tadi
- adalah suara almarhum Gus Dur ya.
- Untuk Anda yang akan dan kangen dengan
- Gus Dur, tadi kita sudah dengar
- suaranya. Gus Dur sedang bershalawat.
- Dan itu panjang ada 11
- menit, tapi kita kita out saja sampai
- kira-kira 3 menit.
- Baik, kita jumpa lagi dalam acara Ahlan
- wa Sahlan. Alhamdulillah di sini
- sudah ada Ustaz Heri Nurdi, Ustaz
- Firman, Uncle Firman, dan Kang Musa.
- Semuanya berpakaian putih dan
- berblangkon yang oleh-oleh dari Demak
- ya. Kita akan bincang-bincang tentang
- Nusantara berkisah.
- Sebuah karya dari Ustaz Heri Nurdi,
- sebuah buku cerita tentang perjalanan
- Islam
- di Nusantara. Pakai di ya, di Nusantara
- bukan Islam Nusantara, tapi Islam di
- Nusantara. Kita tahu Ustaz Heri Nurdi
- ini kalau Anda pernah ke rumahnya
- kalau kita ke rumah orang yang pertama
- ditemui adalah halaman, terus teras.
- Tapi begitu datang langsung
- perpustakaan.
- Di depan rumahnya penuh dengan buku-buku
- dan Anda boleh baca-baca di sana.
- Oke, kita akan bincang-bincang tentang
- Nusantara berkisah tentang Ustaz Heri
- Nurdi dengan Ustaz Heri Nurdi, Ustaz
- Uncle Firman, dan
- Musa. Assalamualaikum. Ustaz Heri Nurdi
- dan Uncle Firman. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Ahlan wa sahlan Mas Krisna. Ahlan wa
- sahlan.
- Ini ada siapa nih? Sunan Kaliman.
- Sunan Kalideres, Sunan Kalimanggis,
- Sunan Kalimalang.
- Kalideres.
- Sunan California.
- Karena semuanya pakai blangkon,
- blangkonnya hitam.
- Eh, dari Firman dulu deh mengenai ini
- filosofi dari blangkon. Blangkon kan ada
- kalau di Jawa kan enggak pakai kepelan
- tuh kalau di Jawa Barat ya. Kalau di
- Jawa Tengah itu pakai kepelan
- belakangnya.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Mungkin
- kalau beda-beda kepelan itu
- eh, saya kurang paham Mas kenapa
- beda-bedanya.
- Eh, ada yang pakai kayak telur, ada yang
- enggak gitu ya.
- Tapi yang saya tahu kalau blangkon ini
- nih
- eh
- kreativitas dari Sunan Kalijaga
- di mana para wali dulu kan
- memakai imamah.
- Jadi para murid-murid murid-murid wali
- ini
- kalau sekarang kali ingin mengikuti
- sunah ya, sunah Rasul pakai imamah
- para wali juga pakai imamah
- murid-muridnya juga ingin mengikuti
- mungkin susah akhirnya ini kreativitas
- dari
- eh, Sunan Kalijaga untuk mempermudah
- pemakaian imamah ini jadi blangkon.
- Bagian imamahnya apa? Tarikannya atau
- susunannya atau libatannya itu memang
- arahnya ke sana ya? Eh, yang pasti
- menyilang yang ini ya. Menyilangan
- silang. Silangannya.
- Terus. Eh, sebetulnya kalau pemakaian
- imamah tuh macam-macam Mas. Ada yang
- bilang
- eh
- ini tingkatannya tujuh.
- Eh, ada yang kalau belum masih murid
- tingkatannya lima atau enam gitu.
- Macam-macam gitu Mas. Ada yang yang
- penting menyilang gitu.
- Gitu sih Mas filosofinya. Kalau nanya
- filosofi jangan saya langsung teringat
- ini Mas.
- Dan saya kira sih ke Ustaz Heri ini.
- Ustaz Heri Nurdi kan ada orangnya ya
- tidak meyakini adanya Walisongo karena
- tidak adanya bukti-bukti yang otentik.
- Apa peninggalan beliau tuh? Eh, mestinya
- harus nanya Uncle Firman. Lho, Firman
- ini enggak enggak percaya Walisongo ini.
- Enggak percaya. Enggak percaya. Ya, saya
- tanya yang yang percaya yang yang bisa
- menjelaskan dong. Nah, eh
- bismillahirrahmanirrahim. Mudah-mudahan
- apa yang kami tuturkan, apa yang kami
- ceritakan ini sahibul kisah
- ridho.
- Eh, artinya para wali, para sunan, para
- aulia, para
- eh, eh ulama yang telah mendahului kita
- ini mudah-mudahan kita tidak
- melebih-lebihkan dan juga tidak
- mengurang-ngurangkan.
- Supaya kita juga mendapatkan hikmah dan
- berkah dari sejarah yang kita pelajari
- itu Mas.
- Kan kadang-kadang kita ini ingin bikin
- orang menangis lalu kisahnya
- dilebih-lebihkan disedih-sedihkan.
- Didramatisir. Didramatisir sampai jatuh
- pada kebohongan.
- Nah, kita tidak ingin itu. Kita
- kami tepatnya yang sedang menjelajah
- dan mewujudkan eh, eh cita-cita untuk
- menghidupkan kembali hikmah
- dakwah Nusantara ini adalah ingin
- menghadirkan
- potret besar
- perjuangan dan perjalanan dakwah para
- alim ulama terutama para wali di zaman
- itu. Nah, eh
- argumentasi orang-orang seperti Uncle
- Firman ini adalah
- biasanya mereka tidak percaya karena
- Walisongo itu tidak punya
- sejarah, tidak punya bukti sejarah.
- Tidak ada literatur yang di buku. Tidak
- ada tidak ada kitab yang pernah dia
- tulis, tidak ada ya
- tidak ada bukti-bukti yang mengokohkan
- eh, apa secara intelektual. Nah, salah
- itu.
- Menurut saya harus ada proses lebih
- rendah hati untuk menangkap itu.
- Misalnya ini ini ini warisan intelektual
- blangkon ini warisan intelektual.
- Warisan intelektual ketika filosofi
- menyilangkan
- pertemuan dua garis di kepala itu
- artinya adalah secara filosofis
- akalmu, kepalamu
- harus menerima perbedaan-perbedaan
- pendapat dan harus kamu cari titik
- tengahnya dari perbedaan pendapat.
- Karena itu kalau kalau blangkon dan eh,
- apa terutama yang dikenakan oleh Sunan
- Kalijogo itu kan simbolis sekali.
- Persilangan persilangannya itu ada di
- tengah dahi.
- Pikiran. Pikiran.
- Lapisannya seperti kata Uncle Firman
- tadi tujuh melambangkan banyak hal,
- tujuh lapis bumi, tujuh lapis langit,
- tujuh hari. Tujuh ayat Al Fatihah. Eh,
- macam-macam dan ketika persilangan
- persilangan itu Mas Krisna itu warisan
- intelektual
- yang tidak akan dilihat oleh orang-orang
- yang hatinya tinggi.
- Orang-orang yang hatinya tidak mau
- merendahkan diri
- enggak ketemu itu. Begitu juga eh
- warisan para wali dalam bentuk
- arsitektural
- eh, bangunan.
- Eh, kami kemarin melakukan perjalanan ke
- Sunan Kalijogo baru kemarin
- ke Sunan eh
- ke Demak ke Sultan
- eh, Raden Fatah lalu kemudian ke
- Sunan Kudus.
- Warisan arsitekturnya itu melambangkan
- ada satu paseban. Paseban itu tempat
- duduk bertemu dan berkumpul para para
- wali.
- Itu pasebannya enak sekali untuk
- dijadikan duduk. Tapi
- Paseban itu adalah tempat duduk.
- Sebo. Sebo. Sebo itu tempat untuk
- bersila. Tempat untuk bersila.
- Biasanya kalau orang bersila ngapain?
- Ya, di di di lantai biasanya ya.
- Ngobrol, curah pendapat, saling
- berdiskusi, saling menyapa. Nih, paseban
- ini Mas enak sekali tempat duduknya ada
- tiang yang untuk bersandar. Tapi untuk
- masuk ke paseban ini
- eh, din eh atap tajuknya
- eh, atap gentingnya itu rendah sekali
- sehingga orang-orang harus menunduk
- dulu.
- Itu warisan intelektual.
- Semua ada Sebelum duduk bersama-sama
- untuk berdiskusi dan barangkali berardu
- argumentasi,
- orang-orang harus tunduk dulu Mas.
- Menunduk menundukkan bukan hanya
- badannya tapi hatinya, jiwanya, akalnya,
- pikirannya. Baru nanti ketemu diskusi.
- Tapi kalau datang untuk mubahalah enggak
- ketemu.
- Enggak ketemu.
- Nah, tadi juga kita bincang-bincang itu
- menjadi pertanyaan kan kenapa tidak ada
- istana Raden Demak?
- Nah, Uncle Firman mau jawab? Musa saja
- Musa.
- Ustaz Heri bilang enggak.
- Ini enggak enggak Jadi pertanyaan
- kemarin kemarin itu.
- tujuan siaran ini.
- Eh
- perlu juga di karena itu kalau
- pertanyaan yang diajukan Mas Krisna ini
- sebaiknya diawali dengan baca buku
- Nusantara berkisah Mas. Iya. Dan masih
- terus beredar.
- Eh, betul. Kalau tanpa membaca buku ini
- pertanyaannya itu tiba-tiba muncul di
- tengah jalan. Kita enggak tahu apa
- background-nya, bagaimana menjawab.
- Tiba-tiba muncul pertanyaan itu.
- Tiba-tiba muncul. Enggak ada
- background-nya ya.
- Eh, Majapahit itu di tengah-tengah
- eh, dinamis di ujung umurnya
- dia mendapatkan
- eh, gejolak secara internal.
- Yang pertama dari Kediri yang nanti
- kelak melahirkan eh, kerajaan Daha atau
- Dhoho.
- Kemudian Dhoho ini mengangkat Sultan
- mengangkat rajanya eh, dan memberi nama
- gelar rajanya sebagai
- eh, apa namanya Raja Majapahit ke enam.
- Padahal Raja Majapahit itu berhentinya
- di lima. Iya. Tapi kemudian disisir oleh
- Dhoho menjadi eh, Majapahit yang ke
- enam. Dan di saat yang bersamaan sedang
- dirancang kerajaan Islam Demak.
- Lalu kemudian terjadi dakwah yang sangat
- masif terhadap terhadap eh, eh Majapahit
- sendiri. Majapahit sendiri itu Mas
- kunci dakwahnya ada di dua tokoh. Yang
- pertama namanya Raden Hasan. He eh.
- Yang kedua namanya Raden Husein. He eh.
- Kira-kira nyontoh siapa nih Om Krisna?
- Nama Hasan dan Husein.
- Keluarga Rasul, cucu Rasul. Parahnya
- kalau kita cerita begini disebut Syi'ah.
- disebut Syi'ah. Itu problemnya, itu
- problemnya.
- Tidak ada orang yang mau mendengar
- dengan merendahkan hati lebih dulu.
- Raden Hasan ini nanti
- eh dikirim kembali ke Raden Brawijaya
- kelima atau Raden Angkawijaya itu untuk
- mendakwahi bapaknya karena dia ini anak
- Prabu Brawijaya eh Prabu Brawijaya
- kelima. He eh.
- Lalu kemudian eh menjawab pertanyaan
- maksudnya ini enggak bisa tanpa cerita,
- harus diceritain, harus diceritain. Lalu
- kemudian enggak enggak bisa tiba-tiba
- kenapa kok ada muncul simbol Majapahit
- di
- Masjid Demak? He eh. Itu enggak mungkin
- enggak mungkin eh
- kenapa begitu harus diceritakan. He eh.
- Nah, ketika dakwah berhasil Raden Hasan
- itu
- menembus barikade dakwah politik
- sementara adiknya Raden Husein atau
- saudara sepersusuannya menembus dakwah
- militer. He eh.
- Berdakwah di militer Majapahit
- mengislamkan masyarakat, mengislamkan
- prajurit, mengislamkan perwira
- lalu membumikan Alquran dan menghidupkan
- sunah. Wah, keren Mas.
- Sementara Raden Hasan nanti dilantik
- kemudian menjadi Raden Fatah He eh. yang
- menjadi Sultan Panodomat Panotogomo di
- Demak.
- Lalu diusunglah simbol-simbol tunggul
- wulung itu namanya.
- Simbol-simbol eh
- kejayaan sebuah kerajaan pindah ke
- Demak.
- Jadi
- Majapahit itu tidak dan bukan
- diruntuhkan oleh Demak.
- He eh. Tidak. Majapahit itu
- tidak runtuh tapi bersambung menjadi
- Kesultanan Islam Demak.
- Maka saya lebih eh nyaman menyebutnya
- Demak itu adalah Majapahit yang
- bersyariat.
- Demak adalah Majapahit yang bersyariat.
- Betul. Karena itu
- ada Suryo Suryo Majapahit namanya.
- Matahari Majapahit itu adanya di mihrab
- tempat sujud
- para imam di Masjid Demak.
- Karena itu ditanya
- kalau semua kerajaan punya istana kenapa
- Kesultanan Islam Demak enggak punya
- istana? He jawabannya? Jawabannya adalah
- istana raja istana sultan ada di masjid.
- He eh he eh
- oh kalau begitu.
- membangun istana.
- Bagaimana di dengan singgasananya?
- Singgasananya adalah mihrab dan mimbar
- tempat dia mengeluarkan titah.
- Subhanallah
- Allahu Akbar. Bagaimana masjid ini
- berdiri? Masjid ini berdiri ditopang
- kokoh dengan
- sembilan
- tiang yang di
- bangun merepresentasikan
- masing-masing ulama termasuk Sunan
- Kalijogo yang membangun satu tiang
- namanya Soko Tatal yang dibuat dari
- serpihan-serpihan
- tiang-tiang yang lain. He eh. Dia
- kumpulkan, dia ikat dan jadi satu tiang
- yang kokoh di Masjid Agung Demak. He eh.
- Ayo ikut kami. Wali Wali Songo sembilan
- teman-teman sembilan apa memang sembilan
- itu apa? Sembilan itu cuman angka
- terakhir saja. Jangan fokus pada number.
- Oke.
- Baik Iwan Anawat, kalau kita mendengar
- Ustaz Heri cerita sejarah karena beliau
- ini adalah pencinta buku-buku sejarah
- ada 30.000 buku sejarah yang sudah
- dibacanya dan nancep
- di hati.
- Nah, nah ini Musa nih bagian
- orang kalau membaca buku Nusantara
- berkisah jadi kepengin jadi punya
- apresiasi terhadap
- apa sejarah Wali Songo
- Iya. Menarik memang Om Krisna karena
- memang eh sebagian besar peninggalannya
- masih ada sampai sekarang termasuk yang
- tadi Ustaz Heri ceritakan di Demak itu
- yang tiang-tiang Ustaz Heri ceritakan
- masih ada walaupun di dalam masjidnya
- sekarang hanya tersisa empat ya Ustaz
- ya. Tapi sisa-sisa lima tiangnya itu ada
- di museum di sekitarnya.
- Jadi di samping masjid itu ada museum
- dan sisa-sisa lima tiangnya itu ada di
- situ. Bisa langsung kita ambil pelajaran
- dari situ.
- Tapi menarik nih Ustaz, buku Nusantara
- berkisah kan lengkap banget lengkap
- banget buku Nusantara berkisah ini
- tentang kisah masuknya Islam di
- Nusantara. Di awal buku Ustaz Heri
- menceritakan tentang muslim Indonesia Om
- Krisna.
- Di situ diceritakan tentang eh
- pemusnahan juga perampasan naskah-naskah
- eh keilmuan termasuk eh naskah-naskah
- Keraton Jogja yang dirampas oleh Raffles
- Ustaz ya.
- Kalau dari sudut pandang Ustaz Heri
- gimana sih Ustaz kisah ini Ustaz?
- Eh kita ini Om Musa kehilangan eh mohon
- maaf kita ini eh Sunan Kalideres
- Gimana Sunan Kalimanggis ceritanya?
- Eh kehilangan ilmu pengetahuan dan
- hikmah ada tiga sebabnya. Yang pertama
- adalah eh di zaman
- penjajahan Portugis
- Spanyol masih membawa
- sentimen anti Islam ke seluruh negara
- jajahannya.
- Ketika itu ketika mereka sampai di
- Nusantara mereka merampas dan membakar
- memusnahkan seluruh buku-buku Islam
- kitab-kitab. Karena itu dulu kita punya
- semua kitab panduan mulai dari fikih
- sampai makrifat.
- Mulai dari
- buku apa maksudnya karya dari siapa?
- Karya para ulama.
- Para ulama Indonesia?
- Indonesia bukan Saudi
- Islam ini bukan Saudi Mas. He eh.
- Gitu Islam nih Islam. Sama aja jangan
- jangan pakai Islam Nusantara.
- Eh. Jangan pakai Islam Saudi. Islam udah
- cukup tidak. Nah.
- Eh nanti enggak boleh umrah kita.
- Nah, eh
- periode pertama
- para kolonial ini membawa sentimen anti
- Islam.
- Karena Raja Ferdinand dan Ratu Isabel
- mengeluarkan
- edict of expulsion itu impulsion
- habiskan Islam.
- Maka ketika mereka sampai di Nusantara
- dan ketemu jejak-jejak Islam
- Kardinal Geminis juga memerintahkan di
- manapun kamu ketemu Moor
- selesaikan.
- Termasuk buku-bukunya habis. Periode
- kedua periode penjajahan Belanda
- Inggris.
- Dirampak dirampoklah kita.
- Raffles
- Raffles itu berkuasa enggak lama tapi
- buku yang di eh bawa lari oleh Raffles
- jumlahnya puluhan ribu.
- Padahal itu satu-satunya buku Mas
- tulisan tangan.
- Begitu juga di zaman Belanda.
- Mereka mengumpulkan
- sejarah
- Islam ini
- di Leiden University.
- Baru periode yang kedua ketiga
- ketika kita sudah tidak punya sumber
- karena dibakar dan diambil
- penyakit ketiga malas belajar
- malas mencari
- lalu jadilah kita seperti ini.
- Pada periode
- booming informasi tahun 2000-an ke sini
- datang lagi ilmu-ilmu pengetahuan yang
- baru He eh. yang tidak disertai hikmah
- tentang
- Kearifan. nilai-nilai lokal.
- Maka terjadi banyak benturan Om Musa
- eh Sunan Kalideres.
- Mungkin saya mau sedikit nambahin cerita
- Mas.
- Eh
- ada orang-orang yang berpikiran kaku
- mungkin seperti saya itu ya waktu kalau
- Ustaz Heri cerita eh
- blangkon
- sorjan
- eh paseban itu salah satu peninggalan
- eh
- mungkin banyak juga orang yang berpikir
- seperti
- seperti saya.
- Eh kalau bangunan itu terkadang
- mengikuti culture
- penduduk asli setempat.
- Ada enggak sih literasi atau tulisan
- atau karya mereka
- para wali ini sebenarnya?
- Akhirnya kemarin kita ngelihat ya di
- museum Masjid Demak.
- Ada Alquran tulisan tangan Mas. Iya.
- Itu kebagi ada beberapa Quran yang
- mungkin kebagi berjuz-juz
- ada ke eh Quran yang saya lihat itu saya
- potret
- juz 15 sampai 30. Iya. Dan bukan hanya
- Alquran aja Mas yang ditulis tangan.
- Alquran dan tafsir bukan arti Mas.
- Tafsir
- Jadi jadi kalau lihat ada catatan kecil
- catatan kecil tafsir siapa? Bukan
- terjemah tafsir
- waktu itu Raden Fatah kali ya Ustaz ya.
- Tafsiran mereka menulis segala macam
- diartikan ditafsirkan Ustaz.
- Jadi udah jelas Mas ini peninggalannya
- Bu
- dulu belum ada percetakan Alquran harus
- ditulis gimana caranya menyebarkan Islam
- Mas?
- Yang kita
- kitab sucinya Alquran mau enggak mau
- ditulis. Mau enggak mau para wali itu
- berusaha semaksimal mungkin menulis
- Alquran
- Dan tulisannya tulisan bagus ya. Tulisan
- bagus mengajarkan ke orang-orang yang
- mau belajar. Saya melihat Masya Allah.
- Enggak dikit Mas tiga 15 juznya itu
- tebal karena kan tulisan tangan ya.
- Tinta dan kertasnya bagaimana bisa kuat
- sampai sekarang ya bisa jelas.
- Emang tulisan kertasnya sih udah udah
- mulai kuning-kuning udah mulai ada yang
- dikikis gitu rapuh. Itu saya rasa tuh
- kalau kita giniin ini
- hancur itu. Hancur itu Mas. Tapi benar
- ada bukti
- tertulisnya mengenai
- keilmuan mereka karya mereka gitu, Mas.
- Belum lagi kalau masalah arsitektural
- ee
- yang tak tak yang takjub benar-benar
- saya waktu dibawa sama Ustaz Heri sama
- Sayyid Musa. Saya akan memperkenalkan
- kata Sayyid Musa. Kenapa? Ini
- berhubungan banget. Ini Sayyid Musa.
- Kenapa? Karena namanya Muhammad Musa
- Alkaf. Alkaf. Alkaf itu adalah sebuah
- marga. He eh.
- Marga Habaib.
- Nama depannya
- Sayyid. Sayyid. Marganya.
- Ada istilah kalau ulama disebutnya
- Habaib gitu ya, Mas ya.
- Kalau belum menjadi ulama disebutnya
- Sayyid. He eh. Itu orang sekarang. Kalau
- zaman dulu, Mas, pokoknya keturunan
- Rasul disebutnya Sayyid.
- Pada saat kita kunjungan ke
- Kudus. Sunan Kudus.
- Disambutlah kita masuk dengan Menara
- Kudus.
- Enggak ada arsitektural Islam sama
- sekali, Mas.
- Sama sekali tidak ada. Ada Hindu itu.
- Hindu. Hindu.
- Masuk.
- Kita masuk ke pintu.
- Langsung kita jalan sedikit ke ada
- tempat wudu. Tempat wudu.
- Jog pal joglo ya, Ustaz ya? Apa?
- Paseban? He eh. Pasebannya pisah antara
- paseban untuk Wali. Ada ada tiga
- paseban. Yang besar di tengah, dua yang
- kecil.
- Kita pun bertanya, "Apa ini? Kenapa ada
- tiga paseban ini?" Yang di tengah ini
- untuk para wali ngobrol. He eh. Para
- wali diskusi. Ini untuk
- santri-santrinya.
- Oke, mempersingkat waktu kita masuk ke
- dalam.
- Saya langsung lihat, saya nanya, "Ini
- apa?"
- "Ini kuburan Sunan Kudus."
- Masuk, ditutup kain putih.
- Bangunannya ditutup.
- Nah, di situ ada tulisan dilihat.
- Sayyid Ja'far Shadiq.
- He eh. Artinya apa, Mas? Sunan Kudus itu
- adalah Habaib, keturunan Rasulullah. He
- eh.
- Seperti Sayyid Musa Alkaf.
- Paling jago Kemong kalau ngasih beban
- nih, Ustaz.
- Oke, tentu pendengar pengin tahu nih
- kapan nih kita bisa
- melihat langsung
- dari bukti-bukti sejarah Nusantara
- berkisah ini.
- Ee ada banyak ee kita jadi membagi
- perjalanan ini ke beberapa bagian, Om
- Krisna. Karena memang ee mempelajari
- sejarah Wali Songo yang begitu kaya
- jika kita tuangkan hanya dalam satu
- waktu akan terlalu berat untuk peserta.
- Di samping ee waktunya juga kalau
- terlalu lama tidak lagi fleksibel. Oleh
- karena itu, kita membagi perjalanan
- ee Wali Songo yang tertuang dalam buku
- Nusantara berkisah menjadi beberapa
- bagian. Kita punya tur Banten, kita
- punya tur Jawa Barat, ee kita punya tur
- Jawa Timur dan juga tur Jawa Tengah.
- Untuk terdekat, insyaallah tur Jawa
- Barat. Insyaallah. Insyaallah kita
- Cirebon. Syarif Hidayatullah. Syarif
- Hidayatullah, Sunan Gunung Jati. Atau
- Wali Songo termuda, Ustaz ya.
- Betul. Wali Songo termuda ini menarik,
- Ustaz Om Krisna, kisahnya. Nanti Ustaz
- Heri kisahkan tentang Sunan Gunung Jati.
- Kenapa yang bilang menarik? Siapa?
- Karena memang ee Sunan Gunung Jati ini
- perpaduan ee dua darah biru.
- Oh, seru banget ceritanya kalau
- diceritakan langsung dari sana. Nah,
- insyaallah nanti kita akan adakan
- perjalanan perjalanannya di tanggal 11,
- 12 Agustus.
- Jadi, kita nanti ee berangkat Sabtu
- pagi, pulang Minggu malam. Masyaallah.
- Dan itu sebetulnya bekal
- buku Nusantara berkisah ini penting nih,
- Mas. He eh. Bekal buku ini. Sebetulnya
- ee bagi banyak yang sudah membaca, tapi
- akan lebih enak kalau sudah baca, ikut
- duduk bermajelis, apalagi ikut
- berziarah. Betul. Nah, Uncle Firman
- sedang merancang Majelis Nusantara
- berkisah ini setiap Sabtu ketiga. Sabtu
- ketiga, mudah-mudahan.
- Insyaallah. Di mana? Ee di Masjid
- Silaturahim, sedang dirancang. Setiap
- Sabtu ketiga ba'da Isya
- Majelis Nusantara berkisah.
- He eh. Mudah-mudahan
- bisa terlaksana, insyaallah.
- Ada enggak perbedaan antara satu dengan
- yang lain ini? Di Cirebon dengan yang di
- Demak.
- Apanya barangkali?
- Semuanya beda.
- Karena tidak ada yang sama. Misalnya
- contohnya Sunan Muria itu
- menikahi
- adik dari Sunan Kudus.
- Itu saja konektivitas keluarga itu
- penting. Iya.
- Jadi, kita belajar bahwa
- supporter utama dalam
- program dan perjuangan dakwah ini
- keluarga, Uncle Firman. He eh.
- Satu, kedua
- Sunan Muria itu adalah
- putra dari Sunan Kalijogo. He eh.
- Sementara kita tahu lagi Sunan Kudus
- adalah putra dari Sunan Ampel.
- Kalau putranya
- Sayyid Ja'far Shadiq itu Sayyid
- bagaimana lagi bapaknya? He eh. He eh.
- Juga Sayyid, Ustaz ya. Juga Sayyid.
- Benar, Sayyid Musa.
- Tapi tidak
- orang tidak banyak mengenal ini karena
- memang betapa low profilnya para Sayyid
- ini.
- Para Habaib ini. Jadi, kalau Sayyid Musa
- tinggi hati, itu bukan Sayyid kalau kata
- Ustaz Husein. Ustaz, manggilnya Musa
- saja, Ustaz. Beban
- Bukan mental nih dipanggil Sayyid.
- Akhlaknya masih jauh nih, Ustaz. Ini kan
- kalau kata Ustaz Husein itu Habib itu
- bukan gelar. He eh. Habib itu tanggung
- jawab. Oh. Habib itu bukan gelar, tapi
- tanggung jawab.
- Tanggung jawab. Karena ketika orang
- disebut Habib, harus apa itu?
- Representasi representasi Rasulullah.
- Harus menjadi teladan. Betul. Nah,
- ee Sunan Muria
- itu dakwahnya untuk masyarakat agraris,
- Mas.
- Petani, pekebun, pekerja ladang, orang
- yang tinggal di pinggir hutan, di bawah
- gunung. He eh. Sementara
- Wali Songo yang bapaknya, Sunan
- Kalijogo, tugasnya adalah keliling
- melakukan supervisi dakwah.
- Ketemu Sunan Kudus, gimana?
- Apa yang bisa kita lakukan bersama-sama?
- Ketemu Sunan Drajat, gimana? Masyarakat
- pesisir akhlaknya, adabnya, agamanya
- gimana? Ketemu lagi Sunan Giri, gitu.
- Berbeda tugasnya masing-masing. Sunan
- Drajat tugasnya adalah
- Menteri Sosial dari struktur susunan
- para ulama.
- Dan semua enggak ada kandungan magis,
- kan?
- Misalnya bisa jalan di atas air gitu.
- Kenapa enggak boleh?
- Pertanyaan Mas Krisna harus dikoreksi.
- Oh, gitu. He eh. Kenapa enggak boleh?
- Karena enggak enggak masuk akal.
- Apa yang tidak masuk akal? Bumi
- menggantung tanpa tali, masuk akal?
- Ini artinya bisa juga dilakukan oleh
- manusia. Kalau pertolongan Allah datang,
- semuanya bisa selesai. Mmm, jadi
- memungkinkan dia Aneh agak ajaib kalau
- wali enggak salat itu mah.
- Aneh ajaib tuh. Kedekatan seorang hamba
- kepada Rabb-nya
- membuat Rabb ini cinta.
- Enggak masuk akal, Mas. Nabi Ibrahim
- dibakar dengan api selamat. Apinya itu
- bukan api unggun, apinya itu sebesar
- istana. Dibakarnya tidak 1 jam, 2 jam.
- Dibakarnya berhari-hari.
- Di mana letak masuk akalnya? Mmm, oke,
- oke. Jadi, pertanyaannya jangan juga
- dipisahkan antara pertolongan Allah
- hasil dari
- tirakat
- melatih diri, menahan nafsu,
- menggembleng, beribadah.
- Kalau dulu Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam salat
- Allahumma sholli ala salat malam, rakaat
- pertama dia membaca Al Baqarah. Al
- Baqarah dan Ali Imran.
- Kira-kira kekuatan Rasulullah gimana?
- Fisiknya prima. Fisiknya prima.
- Kira-kira keturunannya
- yang membawa nama Sayyid
- Sayyid Musa.
- punya
- ee kewajiban untuk mengikuti beliau
- enggak? Iya.
- Kalau mengikuti Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam
- kira-kira pertolongan Allah datang
- enggak? Datang. Datang. Jadi, kalau soal
- terbang, Superman terbang enggak kita
- gugat.
- Enggak kita gugat. Superman terbang
- enggak kita gugat.
- Iya, Iron Man terbang bisa.
- Iron Man terbang, Batman yang bukan
- superhero
- punya macam-macam kekuatan, buat kita
- biasa saja. Wonder Woman, kita senang
- banget.
- Tapi begitu ulama bisa terbang, kita
- tanya, "Benar enggak?" Gitu loh. Gitu.
- Oke, makin menarik, Ustaz ya. Menarik
- dong, Om Krisna. Ee sedikit ditambahkan,
- di perjalanan nanti kita akan ke Gua
- Sunyaragi, Om Krisna, di tanggal 11, 12
- Agustus. Di Cirebon. Di situ mungkin
- akan sedikit menjawab pertanyaan kita
- tadi. Karena di situ nanti akan ada di
- dalam guanya ini kan banyak banget
- ruangan. Di beberapa ruangan itu memang
- spesifik tujuannya. Ada ruangan yang
- untuk melatih fisik, ada ruangan yang
- untuk ee meditasi, dalam arti
- menyendiri, mungkin bertahanus,
- bertafakur, tahanus di tengah malam
- sehingga membentuk kekuatan fisiknya.
- Jadi, nanti ee ketika kita mengetahui
- Wali Songo sangat kuat dan ee kita akan
- dapat jawabannya di situ. Di Gua
- Sunyaragi salah satunya. Dan ada banyak
- tempat-tempat lainnya yang nanti akan
- kita kunjungi yang akan menjawab dari
- pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
- Justru ini yang harus kita lakukan.
- Membersihkan
- kisah sejarah dakwah
- dari hal-hal seperti ini. Kerjaan saya
- nih, Mas, kalau pergi ke tempat-tempat,
- mungkin Sayyid Musa dengan Uncle Firman
- tahu nih.
- Kerjaan saya itu kalau ke ke makam-makam
- ini, saya bersihin bunga-bunga. He eh.
- Nah, dikemarin
- kembang-kembang itu saya kumpulin, saya
- masukin sorban saya, saya buang ke
- tempat sampah. He eh.
- Bukan tidak menghargai. Tolonglah,
- tolonglah ini ini bukan soal ini. He eh.
- Ee uang-uang recehan disempilin di
- makam-makam, saya bersihin, saya masukin
- kotak amal.
- He eh.
- Ada kotak amal disediakan. Bukan
- Penjaganya enggak marah di
- diambil-ambilin gitu? Iya, nanti kita
- dialoglah. Bukan marah soal marah ini.
- Kerendahan hati itu perlu lah.
- Recehan sih, Ustaz ya. Kalau uang gedean
- kita buat makan.
- Oke, Wahanan Nahar, kita break dulu. Om
- Ndi sudah ngasih
- Oke, para narasumber kita break dulu.
- Andi sudah ngasih kode. Siapkan
- pertanyaan Anda untuk Mas di seputar
- Nusantara berkisah. Silakan kami tunggu.
- Nanti akan dijawab oleh Ustaz Eri, Angga
- Firman, dan
- Oke, kami akan kembali setelah yang
- berikut ini.
- Ahlan wa sahlan.