Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Apa namanya? Politik itu apa menurut 0:01 Abang? 0:02 Ya, kalau begini. 0:04 Politik itu bagaimana kita melaksanakan 0:07 perintah Allah. Oh, gitu ya. 0:09 Iya. 0:10 Karena begini, jangan lupa. 0:12 Ketika Allah, ya, berfirman, "Wa idz 0:16 qola robbuka lil malaika, inni ja'ilun 0:19 fil ardhi kholifah." 0:21 Itu berbicara tentang kekuasaan. Mmm. 0:25 Itu berbicara tentang kekuasaan, 0:26 berbicara tentang politik. 0:29 Program saya yang paling pertama sekali 0:31 di kehutanan itu adalah bagaimana 0:33 membasmi illegal logging. Mmm. Nah, gitu 0:36 kan. Nah, kenapa illegal logging? Karena 0:38 selama saya di DPR 5 tahun, 0:41 saya di ada di panitia anggaran, 0:43 nah, itu isu illegal logging selalu 0:46 muncul. 0:46 Lawan naga raksasa itu. Oh, iya. 0:49 Ya, jadi nah, saya bilang, "Saya akan 0:51 babat habis, saya akan sikat habis ini 0:53 masalah illegal logging." Oh, ternyata 0:55 jadi berita. 0:55 Mmm. 1:33 Bismillahirrahmanirrahim. 1:34 Assalamualaikum warahmatullahi 1:35 wabarakatuh. 1:36 Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad 1:38 ala sayyidina Muhammad. Alhamdulillah 1:40 kita jumpa lagi dalam RBT, 1:43 Ramadhan bersama tokoh. Di sini ada Kang 1:46 Atep Setiabudi, alhamdulillah malam ini 1:48 kita 1:49 yang kita hadirkan di sini, yang kita 1:51 jumpai adalah seseorang yang Anda begitu 1:54 kenal dulunya, ya. 1:55 Eee, beliau ini lahirnya 1:58 tanggal 5 Agustus tahun 58 di Medan. Di 2:01 Binjai. Oh, di Binjai. Salah saya. 2:04 Di Binjai. SD-nya di Sungai Sungai 2:08 Karang. Sungai Karang di Deli Serdang, 2:10 ya. Kalau SMP juga di sana. 2:13 Di Deli Serdang, SMA-nya SMA 7 Medan. 2:15 Kemudian juga S1-nya di Jayabaya. 2:18 Kemudian S2-nya di IPB. Pernah jadi 2:21 Menteri Kehutanan di zamannya Pak SBY. 2:24 Pernah juga jadi anggota DPR. 2:27 Karena tentu sudah kenal dengan baik 2:30 eee, MS Kaban. Assalamualaikum. 2:33 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:35 wabarakatuh. 2:36 MS agak unik juga namanya MS itu malam 2:38 sambat. Kok malam, ya? Malam 2:40 Iya, jadi gini. Nama itu adalah nama 2:42 ketika eee, kami masih animisme. 2:46 Oh. 2:46 Nah. 2:47 Jadi itu bahasa daerah itu. Malam itu 2:50 malam waktu-waktu, Mas. Bukan. Malam ma 2:52 malam malam malam itu artinya sebetulnya 2:55 kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia 2:58 baik. Kalau ke bahasa Arab itu ihsan. 3:00 Oh, ihsan. 3:02 Sambat itu nolong, nyambung. Oh. 3:06 Nah, gitu. Jadi sambat itu dia 3:08 menyambung dan menolong, gitu. 3:12 Itu waktu ketika masih animis. 3:14 Jadi kakek saya itu eee, animisme. 3:17 Animis tulen. He Sama dengan 3:21 eee, nenek eee 3:23 bapak saya, emak saya, gitu. Jadi 3:25 makanya waktu nama itu memang dulu di 3:28 eee, di bukan sembarang bikin, tapi 3:31 memang memanggil 3:33 kalau sekarang tuh dukunlah, gitu. Jadi 3:35 dukun itu dipanggil apa yang paling 3:37 cocok untuk anak yang lahir tanggal 5 3:40 Agustus 3:41 tahun 58 itu, gitu. Apakah begitu terus 3:44 sampai sampai enggak ada atau lalu ada 3:46 hidayah yang yang berubah itu semuanya? 3:49 Ya, jadi inilah. Jadi saya kalau cerita 3:53 masalah eh nama itu memang 3:57 eh 3:58 itu dari kakek ya 4:00 kakek yang memang dia 4:02 ahli di bidang itu 4:04 ya, kalau saya cerita ini 4:05 menarik sebenarnya, ya menarik 4:08 eh jadi kakek saya itu 4:10 dia animis 4:12 animis kerjanya adalah 4:14 cenderung meramal-ramal 4:16 cenderung mengobat-ngobatin orang 4:19 dalam pakem apa dalam pakem suku ya 4:23 suku Karo lah waktu itu di sana gitu 4:27 nah tetapi uniknya uniknya ini tapi 4:30 keunikan ini saya tahu setelah sekarang 4:33 jadi walaupun kakek saya itu dia 4:37 animis 4:38 tetapi peralatan-peralatan yang dipakai 4:41 untuk menolak-nolak bala 4:44 itu saya lihat 4:46 piring-piringnya itu yang usianya sudah 4:48 hampir 100 tahun 4:50 itu eh banyak berisi rajah-rajah Islam 4:55 tapi itu saya ketahui setelah 4:57 eh 4:59 saya di ditunjukkan piring-piring itu, 5:01 jadi saya ingat waktu kecil masih ada 5:03 itu masih ada 5:05 eh masih, makanya saya bilang ini harus 5:06 dijaga karena setelah saya perhatikan 5:09 piring itu itu ternyata berisi 5:11 rajah-rajah 5:13 dan tulisan-tulisan dan di dalamnya ada 5:14 doa-doa 5:16 doa-doa yang itu kalau menurut saya 5:17 setelah eh 5:19 mempelajari Islam mendalam 5:21 eh itu 5:22 banyak apa istilahnya amalan-amalan 5:25 nabi, jadi saya bilang ini kakek saya 5:27 animis kakek saya animis tapi kenapa 5:30 peralatan yang dipakai untuk menolak 5:32 bala ya kan kalau orang berobat kemudian 5:35 menaruh sesuatu di atas itu dan dia 5:36 yakin 5:38 itu akan menyembuhkan, unik juga kan itu 5:40 ciri-ciri animisnya apa? hah? 5:41 ciri-cirinya apa yang mau? 5:43 eh karena kakek saya 5:44 itu satu kampung animis semua? iya 5:47 eh jadi itu memang eh itulah waktu itu 5:49 ya. Jadi memang 5:51 eh saya bilang animis itu karena memang 5:53 eh tidak ada agama. Oh. Tidak agama. 5:55 Yang ada itu ya misalnya roh-roh ya. 5:58 Eh memanggil roh-roh orang yang sudah 6:01 eh mati ya dan percaya sekali terhadap 6:04 hal-hal seperti itu dengan 6:05 sesajen-sesajen itu. 6:07 Ya, itu luar biasa eh waktu itu gitu. 6:10 Nah, 6:11 eh hanya saja memang eh setelah saya 6:14 eh 6:16 berproseslah ya, berproses panjang 6:19 eh waktu SD pun misalnya saya sudah 6:21 dikondisioning, dikondisioning 6:24 eh oleh 6:25 keluarga untuk eh 6:29 dibimbing oleh semua 6:30 rohaniwan-rohaniwanlah gitu. 6:33 Kristen. 6:34 Ya, tapi itu berproses saja semua gitu 6:36 kan. Nah, sampai akhirnya ketika kuliah 6:38 di Jakarta 6:39 eh berinteraksi, banyak bertemu, 6:42 berdialog, berdiskusi 6:45 eh sampai saya 6:46 eh apa namanya berkesimpulan wah 6:49 eh saya harus memilih. He eh. Nah, 6:51 memilih 6:52 eh dengan apa dengan apa namanya dengan 6:55 eh kajian yang sangat rasional. 6:58 Karena semua saya pelajari ya, semua 7:00 saya pelajari, saya 7:02 saya apa ya bandingkan dengan apa yang 7:04 selama ini sudah saya pahami dari kecil 7:07 gitu. 7:08 Nah, sampai akhirnya 7:10 eh 7:11 saya mentok mentok bahwa 7:14 saya 7:15 tidak ada kekuatan, tidak ada power eh 7:19 yang bisa ditandingi terus kuat 7:21 saingannya satu kekuatan yang absolut. 7:23 Nah, itulah 7:24 Allah itu gitu. Nah, dari situlah 7:26 kemudian saya kalau begitu saya harus 7:27 memilih Islam gitu. Nah, itulah jadi 7:30 jadi itunya. Makanya nama itu 7:33 eh tetap nama lama tapi ketika saya 7:36 sudah jadi muslim 7:38 nah, nama itu sebenarnya MS-nya tetap 7:40 MS. Nah, cuman di oleh guru saya, oleh 7:43 guru 7:44 ee apanya ya, guru ngaji 7:47 itu diganti nama jadi Mahmud Sadiq, 7:49 cuman terlalu keren ngeri saya 7:52 Mahmud Sadiq jadi terlalu keren ngeri 7:55 saya makainya, jadi udahlah enggak usah 7:56 pakai ee Mahmud Sadiq pakai kabar aja 7:59 deh gitu terus kan di kampung itu apa 8:01 kabar mah apa masih animis apa sudah 8:04 sudah ada perubahan? kalau sekarang 8:07 boleh dikatakan di kampung kakek saya 8:10 itu 8:12 ee sudah ada masjid sudah ada gereja 8:16 jadi antara 8:19 yang animis mungkin sekarang sudah 8:22 kecil sekali lah ya, tapi masih ada 8:25 ya masih ada karena dari dari trah nenek 8:28 saya itu 8:29 ee masih ada yang 8:31 masih belum mau gitu ya, masih masih 8:33 percaya dengan agama nenek moyang lah 8:35 gitu 8:36 tapi di Sumatera Utara itu toleransinya 8:38 bagus ya antara Islam dan Kristen 8:39 kalau itu sih 8:41 begitu? kalau itu sih sudah 8:43 betul-betul apa menyatu 8:47 jadi kalau ee 8:49 keluarga saya dengan semua keluarga 8:51 ibu-ibu saya yang berbeda agama itu 8:53 akrab 8:55 dan sangat saling menghormati 8:57 dan dalam acara-acara apa katakanlah 8:59 acara-acara pesta saja 9:02 nah kita yang muslim itu untuk makan dan 9:04 itu sudah dipisahin 9:06 gitu, jadi itu sudah otomatis itu enggak 9:08 perlu diperintahkan enggak perlu dikasih 9:10 tahu tahunya kalau saudara kita yang 9:12 sudah muslim itu mereka makannya jangan 9:14 dikasih yang ini ini makanan mereka 9:16 gitu, malah kadang-kadang 9:18 ee untuk 9:20 ee makanan seperti ayam saja atau sapi 9:22 saja 9:23 karena dia tahu yang akan diundangnya 9:25 itu ada juga saudara-saudaranya yang 9:27 muslim itu yang nyembelih itu muslim 9:29 gitu sampai-sampai begitu nya 9:31 jadi itu rasa kebersamaan jadi memang 9:35 ee ada ada tertanam juga di kalangan 9:38 masyarakat kita di sana itu bahwa 9:40 ya sebelum agama datang ada adat, gitu 9:42 kan. Nah, jadi adat ini harus kita 9:44 hormati, nah gitu. Nah, jadi 9:45 Itu tanpa slogan ya, alami saja begitu. 9:47 Alami saja. 9:48 Alami saja. Jadi tidak ada tidak ada 9:52 konflik ya, tidak ada konflik ee, dalam 9:55 kita beragama dengan saudara-saudara 9:58 kita yang berbeda-beda. Saudara 10:00 ya, bagus ya. 10:01 saudara saya yang Kristen itu ada yang 10:02 Katolik 10:03 He ada yang Protestan, ada yang 10:05 di Eropa 10:06 Tapi akur mereka tuh. Akur. Kalau ketemu 10:09 itu enggak berjarak. Ngobrol tuh 10:12 betul-betul bersaudara gitu kan. Nah, 10:14 jadi kadang-kadang dalam interaksi 10:16 itulah saling memberikan penilaian 10:18 sehingga banyak juga saudara-saudara 10:20 saya yang tadinya itu non muslim ya kan, 10:23 dengan interaksi yang sedemikian rupa 10:25 prosesnya itu akhirnya banyak juga masuk 10:27 Islam gitu. 10:29 Apa yang Abang rindukan dari kampung 10:31 itu? 10:32 Ee, jadi se, kalau di kampung kita itu 10:35 memang semangat kebersamaan itu sudah 10:38 dari dulu. 10:39 Jadi artinya kalau mau mengerjakan 10:41 pekerjaan-pekerjaan apa saja 10:44 itu memang sudah ada 10:46 institusi adat yang pekerjaan itu kalau 10:49 misalnya saya melakukan 10:51 kegiatan misalnya 10:53 ee 10:54 membikin upacara adat untuk anak itu 10:56 saya ke kampung tinggal ngasih tahu saya 10:58 mau bikin upacara untuk anak saya yang 11:00 gini-gini, nanti semua teman-teman itu 11:02 saudara-saudara itu mereka sendiri yang 11:03 itu. 11:04 Mereka sendiri yang sudah bersiap-siap 11:06 dan kemudian sudah mempersiapkan semua 11:08 acaranya, kita tinggal melaksanakan anu, 11:11 mengikuti saja gitu. Jadi itu memang 11:12 sudah tertanam. Nah, menurut saya 11:15 hal-hal nilai-nilai seperti itu dengan 11:17 apa yang diajarkan oleh agama kita, 11:20 agama Islam itu ee 11:23 tidak ada masalah menurut saya ya. 11:25 Kenapa? Karena ini persoalan hablum 11:27 minannas. 11:29 Ya, persoalan hablum, hablum minannas. 11:31 Nah kemudian kita dengan akidah dan 11:33 keyakinan kita tetap tetap terjaga 11:36 termasuk yang menarik belakangan ini 11:38 makanan he em ya makanan-makanan itu 11:41 sesembelihan-sesembelihan itu pun itu 11:43 sudah sangat menghormati sangat 11:46 menghargai kalau yang muslim itu jangan 11:48 kasih mereka yang tidak dipotong dengan 11:50 bismillah misalnya ya gitu jadi jangan 11:53 dikasih mereka misalnya eee 11:56 babi apa dan sebagainya itu sudah sudah 11:58 sudah itu sudah 11:59 sudah tertanamlah gitu rata-rata mata 12:01 pencaharian mereka apa bertani atau apa 12:03 banyak ada yang jadi PNS ya jadi PNS 12:07 banyak jadi PNS banyak kemudian mereka 12:11 juga ada bertani berkebun gitu kan 12:14 nah jadi 12:15 kehidupan itu eee secara dunianya 12:19 menurut saya itu normal gitu kan 12:21 kemudian dalam proses kita 12:23 berinteraksi sesama warga 12:26 muslim non muslim itu itu saling 12:29 saling menghormati dan juga sama-sama 12:32 menjaga 12:34 marwah agama masing-masing kalau dalam 12:36 perkawinan ada perbedaan agama enggak 12:37 gimana itu nah jadi memang eee kalau di 12:41 sekarang ini ya eee kalau dulu masih 12:44 tahun 70-an 12:45 itu masih terserah 12:47 ya masih terserahlah gitu yang mana pun 12:50 itu kalian pilih baik gitu tapi sekarang 12:52 itu sudah 12:53 eee sudah mulai memang sudah pilihlah 12:56 sesuai dengan agamamu nah gitu nah jadi 12:59 eee saling itu saling eee saling 13:02 menjelaskan saling memberikan pengertian 13:04 gitu he em 13:06 oke kalau boleh tahu he em 13:08 ada istilah ini Medan bung itu istilah 13:10 itu gara-garanya apa itu ini Medan bung 13:13 ya itu banyak persepsi ya tapi yang 13:16 jelas menunjukkan eee orang Medan itu 13:19 orang yang punya harga diri he em ya kan 13:21 jadi eee istilahnya enggak bisa 13:24 diatur-atur begitu saja gitu kan 13:27 Hormatilah ee 13:29 ee apa namanya itu ee 13:31 harkat 13:33 kita sebagai 13:34 ee manusia yang punya adat, nah itu 13:37 dihormati lah, gitu. 13:39 ditujukan kepada orang yang di luar di 13:41 luar Sumatera Utara mungkin ya. 13:42 paling tidak supaya orang tahu bahwa 13:45 orang Sumatera Utara itu cenderung dia 13:48 harga dirinya memang agak 13:51 agak tinggi, gengsinya agak agak tinggi. 13:53 Jadi ee itu memang sudah tertanam. Ya, 13:57 sudah tertanam sebagai anak Medan itu 13:59 atau orang Sumatera Utara itu ee apalagi 14:02 bermarga kan. Nah, jadi masing-masing 14:04 marga itu punya punya apa ya, kalau saya 14:07 bilang itu punya izzah, punya 14:09 kehormatan, kemuliaan tersendiri karena 14:11 kita ketika bertemu dengan orang 14:13 bermarga 14:14 itu kita selalu cari misalnya saya 14:17 bertemu dengan 14:18 ee marga Purba misalnya kan, nah saya 14:21 kan Kaban. 14:22 Ee dia Purba, nanti saya tanya itu Purba 14:25 nya Purba mana? 14:27 Purba Simalungun atau Purba Tanah Karo? 14:29 Nah, jadi kalau itu ditanya nanti akan 14:31 ketahuan jangan-jangan secara marga saya 14:34 dengan dia adalah abang beradik. 14:36 Ee panggilannya gitu-gitu, jadi 14:38 ee itu yang disebut jadi kalau dibilang 14:41 ini Medan Bung itu artinya kita itu 14:43 punya nilai-nilai yang harus dipahami, 14:45 harus dihormati gitu. 14:48 Saya waktu tahun berapa pernah ke Medan 14:50 ada suatu bangunan banyak orang ini 14:53 pakai bus, pakai ini 14:55 ee orang-orang rupanya itu ada wisuda. 14:58 Jadi ya saat orang diwisuda tapi 14:59 saudaranya semua ikut ngantar. Ya. Kayak 15:02 di sini orang pergi haji satu yang 15:03 ngantar banyak. 15:04 Benar-benar ini ya, luar biasa ya. 15:07 Itulah rasa apa namanya 15:08 ee menghormati ya, menghormati dan 15:12 kebanggaan. Jadi ada penghormatan, ada 15:14 kebanggaan 15:15 terhadap kesuksesan gitu. 15:17 Makanya itu semua ikut merasakan gitu 15:20 ya. 15:21 ada apa orang di sini sudah ini semua. 15:23 Saudara-saudara ini ikut semua. 15:24 haji lah. 15:26 Luar biasa. Nah, kenapa di Medan ee bika 15:29 Ambon kenapa banyak di Medan? Ah, ini 15:32 mungkin banyak yang belum ngupas nih. 15:34 Ah, kenapa itu? 15:36 Tapi kan itu bika Ambon ini ee ya saya 15:40 juga 15:41 hanya mencoba me apa Reka-reka. Me bukan 15:45 reka, me me me menghayati. Gini. 15:49 Seingat saya waktu kecil 15:51 semua orang Ambon yang ada di Sumatera 15:53 Utara itu orangnya hitam. 15:55 Oh, gitu. Bukan keling, bukan keling? 15:57 Bukan. Keling lain lagi ya? Lain lagi. 16:00 Nah, jadi semua orang Ambon yang ada di 16:02 Medan waktu itu badannya tinggi-tinggi, 16:04 gagah-gagah 16:05 ganteng gitu kan, tapi hitam. Ehm. Ah, 16:08 gitu. 16:09 Nah, kemudian 16:11 kue Ambon ini kan dia 16:13 ee 16:14 di bawah dibakar Hah. 16:16 Ya kan, di bawah dibakar, di atas juga 16:18 dipasang arang kan. Hah. Ah, jadi hitam. 16:20 Ehm. Ah, jadi maksudnya 16:21 ah bika Ambon. 16:24 Oh, gitu. 16:26 Tapi ah itu kan anu lah ee ya mungkin 16:29 itu asal muasal ceritanya karena seingat 16:31 saya 16:32 ee 16:34 dulu ada wasit sepak bola di Sumatera 16:36 Utara waktu itu namanya 16:38 ah Pincimatualesi. Ehm. Orangnya gagah 16:41 Ehm. ah gagah sekali. Kalau dia mimpin 16:44 pertandingan itu sangat tegas gitu kan. 16:47 Ah, itu orang Ambon. Nama Matualesi kan. 16:49 Ah, jadi ee 16:52 kata-kata bika Ambon itu ya Ehm. karena 16:55 itu tadi. 16:56 Ya, mungkin di Medan juga ada istilah 16:57 pisang Ambon itu karena orangnya 16:58 gagah-gagah, besar-besar. 17:00 Gede-gede. Jadi pisang Ambon gitu kan. 17:02 Kalau sini kan jadi pisang lumut gitu. 17:04 Oh, dulu itu banyak orang Ambon di sini 17:06 ya? 17:06 He 17:07 Kenapa kenapa banyak orang Ambon nih? 17:09 Kenapa? Kan kenapa banyak orang Ambon 17:10 kan dari 17:11 Ya, itu mungkin proses panjang lah ya 17:13 karena di kita ini kan di negara kita 17:15 ini kan proses 17:16 ee perpindahan itu ada dan apa juga dulu 17:19 ada mungkin 17:21 apa istilahnya ya eh sultan-sultan ya 17:23 sultan-sultan kemudian 17:25 ada juga waktu itu mungkin kantor-kantor 17:28 perkebunan Belanda dan sebagainya 17:30 eh saya kira itu banyak hal kalau 17:31 Sumatera Utara saya kira itu 17:33 eh kaya dengan 17:35 hasanah seperti itu jadi misalnya 17:38 eh orang India sehingga ada namanya 17:40 Kampung Keling ya kan 17:42 nah kemudian malah disebut Kampung 17:44 Madras ya 17:45 kemudian 17:47 pecinaan misalnya itu itu sudah 17:50 sudah dari dulu gitu kan nah begitu juga 17:53 eh 17:54 kantor-kantor perkebunan banyak sekali 17:56 di 17:57 di apa di Sumatera Utara itu eh yang 18:00 ada London Match banyaklah ya PT PT PP 18:03 London Sum dan sebagainya itu yang 18:05 dulu-dulu dulu saya kemudian ada Rumah 18:07 Sakit Uniroyal misalnya di daerah Asahan 18:10 ya itu 18:12 mungkin waktu itu mereka merekrut semua 18:14 warga negara Indonesia dari manapun ya 18:16 termasuk orang-orang Ambon gitu mmm 18:19 masya Allah itu cerita Medan ya 18:21 tempat eh di mana dulu pernah lama ya di 18:24 SMA 7 Medan 18:27 nah terus Abang kan 18:30 pernah kuliah di IPB iya kenapa alumni 18:33 IPB kebanyakan kok enggak ke di 18:34 pertanian malah kerja jadi wartawan di 18:37 bank kenapa begitu katanya Institut 18:39 fleksibel banget 18:41 itu kan apa namanya ya profesi ya nah 18:44 karena begini saya sangat dapat 18:46 menghayati karena 18:48 Institut Pertanian Bogor itu eh 18:52 sangat cepat 18:54 ya mengembangkan program-program 18:57 ya jadi 18:58 eh kemudian tidak bisa dihindari IPB itu 19:03 sangat kuat sekali statistiknya mmm ya 19:06 dengan saya dulu dapat dari Dokter 19:09 Aunudin ya kemudian 19:11 eh banyak senior-senior yang misalnya 19:14 dapat dari Andi Hakim Nasution ada juga 19:17 ada dari Profesor Macik, itu semua 19:19 jago-jago statistik 19:21 yang melatih cara berpikir ilmiah itu 19:24 gitu yang menurut saya 19:26 itu luar biasa. 19:28 Nah, ketika itu dimasukkan ke hampir 19:30 semua program studi statistiknya sangat 19:33 Ehm. sangat kuat. Jadi metodologi ya 19:36 penelitiannya itu. Nah, saya kira 19:39 ehm ketika mereka mengambil 19:41 program-program studi yang sesuai dengan 19:44 bakat dan minatnya lalu itu dikembangkan 19:47 dengan kebutuhan 19:48 pasar, saya kira itu 19:50 ehm matching saja. Ah, misalnya gini, 19:53 kan kenapa kok banyak kerja di bank? Ya, 19:55 karena di bank itu kan butuh data. Ehm. 19:57 Nah, 19:59 data-data dan banyak ehm 20:01 perhitungan-perhitungan 20:02 dan orang-orang yang masuk ke IPB itu 20:04 kalau S1 itu kan enggak enggak boleh 20:06 dikatakan matematikanya ter 20:09 terkualifikasilah gitu kan. 20:11 Pemikiran-pemikiran 20:13 IPA-nya itu luar 20:15 luar biasa gitu. Nah, jadi 20:17 ehm apa saja bidang studi yang sudah di 20:21 programkan di IPB, itu adalah menjawab 20:24 tuntutan kebutuhan yang terjadi pada 20:27 ehm saat sekarang ataupun masa yang akan 20:29 datang. Misalnya gini, 20:31 saya ketika mengambil 20:33 program 20:34 ehm 20:36 perencanaan pembangunan 20:38 dan wilayah pedesaan. 20:41 Nah, lalu ya lalu 20:44 ketika mau bikin tesis 20:47 profesor saya itu 20:50 menyuruh saya melakukan studi 20:52 dalam kawasan Taman Nasional. Ehm. 20:55 Gitu. 20:56 Mula-mula saya berpikir, apa sih maksud 20:58 profesor ini? 21:01 Perencanaan pembangunan pedesaan kok 21:02 saya disuruh 21:04 mempelajari studi kasus tentang kawasan 21:07 Taman Nasional. 21:09 Nah, 21:10 tapi setelah dia kasih referensi, 21:13 dia kasih referensi buku-buku textbook 21:15 dan referensi-referensi dan 21:17 yang begitu luas, baru saya sangat 21:19 memahami. Ternyata 21:21 pembangunan pedesaan itu dimensinya 21:24 sangat luas. 21:25 Nah, 21:26 begitu juga dengan Taman Nasional. 21:29 Eh, 21:31 dengan Taman Nasional itu, waktu itu 21:33 saya disuruh analisa ekonomi, analisa 21:36 ekonomi wilayah studi kasus 21:38 eh Taman Nasional 21:40 eh Gunung Leuser, ya kan? Eh, studi 21:42 kasusnya itu adalah 21:44 di daerah 21:46 eh Pema Semelir. 21:48 Nah, 21:49 jadi setelah 21:50 saya 21:52 ikutin, saya baca referensi yang dikasih 21:54 oleh 21:55 eh profesor, 21:57 nah kemudian dengan metodologi ilmu yang 21:59 diajarkan oleh para ahli-ahli itu, 22:02 saya dapat 22:03 berkesimpulan bahwa ternyata 22:05 untuk membangun sebuah wilayah itu, 22:08 ternyata semua potensi wilayah itu 22:11 harus diperhitungkan. 22:13 Harus dan semua punya nilai. Karena 22:16 sebenarnya, nah makanya kemudian 22:18 nah kemudian setelah saya tamat, 22:20 kadang saya mikir, 22:21 untuk apa ilmu saya ini? 22:25 Karena saya bicara tentang, jadi waktu 22:27 itu saya disuruh mengukur, meng- meng- 22:29 menilai 22:30 bagaimana menghitung kekayaan satu 22:32 kawasan hutan, 22:34 ya di plot, 22:36 yang dinilai adalah bukan timber-nya. 22:39 Jadi bukan timber-nya, bukan kayunya 22:41 yang di ini. Nah, karena selama ini 22:42 orang berorientasi timber. Nah, tapi 22:45 saya disuruh yang spesial non timber. 22:47 Nah, ternyata dengan metodologi 22:50 eh ilmu yang diberikan, ya dengan 22:53 referensi yang cukup, nah sehingga saya 22:55 dapat mem- mengetahui bahwa untuk 22:58 menilai kekayaan satu wilayah, 23:01 maka bisa kita lihat bagaimana kondisi 23:03 hutannya dan bagaimana kondisi non 23:06 timber-nya, bagaimana dampaknya terhadap 23:09 masyarakat. Nah, 23:11 itu menurut saya sesuatu yang 23:14 eee 23:15 luar biasa dari program perencanaan 23:18 pembangunan pedesaan yang digagas oleh 23:20 IPB beberapa eee puluh tahun yang lalu 23:23 gitu. Nah, jadi kalau tadi ditanya 23:25 kenapa ya gitu ya? Karena IPB itu dia 23:27 menjawab Ehm. menjawab apa yang menjadi 23:30 tantangan 23:31 eee masa depan 23:33 jurusan? Hampir sesuai dengan jurusan 23:35 gitu. Dan menurut saya itu dia hampir 23:37 terintegrasi ya, hampir terintegrasi 23:41 antara program-program keilmuan dasarnya 23:44 dengan tuntutan 23:46 zaman, tuntutan keadaan gitu. Lalu yang 23:48 bermain di pertanian sendiri berapa 23:50 persen itu? 23:51 Nah, 23:52 ini 23:53 pertanyaan yang menurut saya harus jadi 23:57 eee serius. 23:58 Ya, harus serius karena 24:00 ketika saya mengadakan kunjungan ke 24:03 beberapa negara 24:06 saya melihat bahwa di banyak 24:08 negara-negara maju 24:10 mereka yang 24:12 master 24:13 mereka-mereka yang doktor itu malah di 24:16 lapangan. 24:17 Ehm. 24:18 Malah di lapangan. 24:20 Itu yang saya waktu itu ter 24:22 terkesan. 24:23 Jadi eee saya ambil contoh kasus waktu 24:26 itu adalah 24:28 eee 24:30 di Indonesia 24:32 eee 24:34 di zaman Pak Harto itu 24:37 proses pengembangan kehutanan itu 24:40 cukup bagus, maju. 24:43 Nah, sehingga mereka menemukan namanya 24:45 Eucalyptus Pelita. Ehm. 24:47 Ya. 24:48 Jadi Eucalyptus Pelita, jadi kayu 24:50 Eucalyptus yang sudah di mungkin dikawin 24:53 silang berapa kali gitu eee 24:56 sehingga mereka menemukan satu ekaliptus 24:59 baru yang 25:00 5 tahun 6 tahun itu sudah bisa panen. 25:03 Emm. Pelita gitu kan. 25:05 Nah, jadi pada waktu saya pergi ke 25:07 Brazil, ya. 25:09 Waktu saya pergi ke Brazil, eee kemudian 25:11 dibawalah saya ke lapangan. 25:14 Ternyata orang-orang di lapangan itu 25:17 semuanya adalah 25:19 S1, S2, ada yang S3. Emm. 25:22 Nah, dan kemudian begitu saya 25:24 diperkenalkan dengan ekaliptusnya itu. 25:26 Eee ini apa ekaliptus apa? Dia ketawa. 25:30 Ini dulu dari Indonesia, tapi kami 25:32 kembangkan dia bilang gitu. Ah, jadi dia 25:34 adaptasi itu ekaliptus pelita itu dengan 25:37 situasi di di Brazil. Sehingga kalau 25:40 kita terbang di Brazil itu, wah ka 25:43 seperti karpet hijau. Eee tinggi 25:45 pohonnya eee seragam, besar pohonnya 25:48 seragam dan itu adalah dulu hasil 25:51 Indonesia. 25:52 Eee Indonesia. Ekaliptus nah, karena 25:54 mereka tadi itu tadi eee selevel doktor 25:58 pun 25:59 mereka mau 26:01 eee ke lapangan. Saya sampai dibawa 26:03 betul itu oleh mereka. Bagaimana eee 26:06 mereka juga bisa nyetir traktor. 26:08 Ya, nyetir traktor itu untuk membajak 26:11 itu. Nah, sehingga satu hari paling 26:13 tidak mereka bisa dapat paketan. Nah, 26:15 itu juga pernah saya obrolkan. Nah, saya 26:17 obrolkan dengan teman-teman IPB 26:20 yang doktor-doktor. Nah, saya bilang eee 26:23 bagaimana gitu, bagaimana supaya 26:26 alumni-alumni IPB itu mereka tuh eee 26:30 bisa langsung 26:32 eee artinya ke lapangan dan mereka bisa 26:34 betul-betul menjadi petani yang unggul 26:36 gitu. Walaupun sebenarnya 26:38 dalam banyak apa, dalam banyak 26:41 eee kasus, ada juga yang secara individu 26:45 ya mereka kembangkan ilmunya gitu. Emm. 26:48 eee terus eee mulai dari menanam sampai 26:52 eee produksi yang menjual ada juga gitu 26:54 kan. Nah, cuman karena lebih banyak 26:56 kerja di bank ya kan. Nah, jadi kita 26:58 sorotin itunya. 26:59 Wartawan juga ada. Jadi wartawan juga. 27:01 Wartawan ya wartawan hebat semua itu. 27:04 Oke ya. 27:05 Gimana Nawaf masih bersama Bapak MS 27:09 Kaban. 27:10 Saya mau tanya lagi dulu bagaimana 27:11 ceritanya Anda bisa terpilih menjadi 27:13 Menteri Kehutanan? 27:15 Ah, kalau itu saya 27:18 susah menjawabnya. Hmm. Kenapa? 27:21 Karena tidak pernah membayangkan. Hmm. 27:23 Ya. Jadi saya tidak pernah membayangkan 27:27 ee 27:29 untuk menjadi seorang menteri. 27:31 Jadi itu betul-betul mungkin 27:34 kalau dalam bahasa husnuzonnya itu 27:37 blessing. 27:39 Anugerah Allah. 27:41 Tapi kalau dalam bahasa anunya, ini 27:43 mungkin kecelakaan sejarah. 27:46 Waktu kecil cita-citanya apa sih? 27:48 Saya tuh waktu kecil itu cita-citanya 27:51 pemilik kebun. Hmm. Nah. 27:53 Karena lingkungan saya itu memang dari 27:55 kecil kebun. 27:56 Ya kan karena 27:58 ee jadi orang kebun itu di daerah saya 28:00 itu kaya gitu kan. 28:02 Jadi saya itu ber pengin jadi 28:05 ee pemilik kebun lah. Jadi kalaupun 28:07 kerja jadi ADM gitu, administrator 28:09 perkebunan gitu kan. Itu keren-keren 28:11 dulu biasanya. 28:12 Nah, tapi kemudian 28:14 setelah 28:16 apa namanya niat itu enggak kesampaian 28:18 ya akhirnya ngikutin jalan proses Allah 28:21 saja. Tapi saya mensyukuri 28:23 ee 28:25 mungkin kalau saya waktu itu langsung ke 28:27 IPB 28:28 saya mungkin barangkali karena 28:31 full itu enggak sempat mencari. Nah, 28:33 tapi karena Tuhan takdirkan saya 28:36 ee di Jayabaya gitu kan sehingga saya 28:38 akhirnya saya mencari apa pedoman hidup 28:40 saya gitu kan. 28:41 Apa keyakinan saya harus saya 28:44 pegang dalam menghadapi kehidupan ini. 28:46 Nah, ternyata 28:47 Allah berikan 28:48 eh kesadaran bahwa Islamlah menjadi 28:51 eh menjadi pilihan, kan gitu kan. 28:53 Nah, sehingga eh ya akhirnya dari situ 28:56 banyak saudara-saudara saya ketika saya 28:58 ceritakan gitu kan, mereka juga pindah 29:01 gitu kan 29:02 ngikutin ajaran Islam. Kemudian kakak 29:04 saya yang paling tua 29:06 yang tadinya enggak beragama jadi 29:07 beragama gitu kan. Jadi KTP-nya apa 29:09 kalau enggak beragama gitu KTP-nya apa 29:11 ya? 29:12 Waktu itu memang 29:13 mereka ah 29:15 kadang-kadang ada juga saudara-saudara 29:17 saya itu yang dia belum Islam tapi dia 29:19 bikin Islam di situ. 29:23 Itu yang namanya Islam KTP itu. Iya. 29:25 Jadi dia belum tapi dia sudah dia bikin 29:27 gitu 29:29 kadang masa saya tanya juga pernah itu 29:31 ini sebagai selak apa selingan. 29:34 Kok pakai Islam kan belum Islam, saya 29:35 bilang gitu. Ya, cocok kurasa katanya 29:38 gitu. 29:39 Itu kan doa juga tuh. Cocok kurasa 29:41 katanya gitu. 29:42 Nah, malah sampai nenek saya loh. 29:45 Nenek-nenek saya itu saya godain masuk 29:47 Islam itu waktu umurnya hampir 90 tahun. 29:50 Ya. 29:51 Itu simpel 29:53 ya karena dia sudah tua, ngeluh ya 29:56 sering 29:57 eh 29:59 dan dia nenek saya ini 30:01 kalau disuruh jemput ke kampung dia 30:03 hanya mau saya yang jemput. He eh. Nah, 30:05 jadi bapak saya itu kalau misalnya ada 30:06 acara apa jemput nenek maka saya yang 30:09 disuruh. Nah, nenek itu enggak mau yang 30:10 lain kalau terkecuali saya gitu kan. 30:12 Nah, jadi saya jemputlah nenek itu. Nah, 30:14 satu ketika 30:15 nenek ini tinggal di rumah bersama bapak 30:17 dan emak, saya kuliah Jakarta. 30:19 Nah, kemudian suatu ketika eh liburan 30:23 saya pulang ke ke Binjai 30:25 nah, nenek saya ada di situ. 30:27 Nah, sep panjang pagi itu dia sedang 30:30 kalau begini terus aku mati sajalah gitu 30:33 ya. Kalau begini keadaannya aku mati 30:35 sajalah. 30:36 Saya dengerin kata-kata mati itu ini 30:38 nenek ini kok 30:40 ya tapi sudah tua gitu. Akhirnya bilang, 30:42 "Nek, 30:43 nanti nenek 30:45 kalau mati, saya bilang itu enggak kami 30:48 urus." Dia langsung, 30:50 "Kok begitu?" katanya gitu kan. 30:52 "Kok begitu kau bilang?" katanya gitu. 30:54 "Karena nenek belum Islam." Saya bilang 30:56 gitu kan. 30:57 "Karena nenek belum Islam." "Kalau Islam 30:58 kenapa rupanya?" katanya gitu kan. 31:01 "Ya, kalau Islam tuh, Nek, 31:02 dia dimandikan." Saya bilang itu. 31:05 "Dibersihkan." 31:07 "Terus dipakaikan pakaian yang rapi." 31:10 "Dipakai kapan?" saya bilang. "Terus 31:11 disembahyangkan." "Nah, kalau nenek 31:13 enggak Islam, kayak mana?" saya bilang 31:15 gitu. 31:16 Itulah kalau hidayah. 31:18 Dia terdiam sebentar. 31:21 Terdiam dia sebentar. 31:23 Terus apa dia bilang? 31:25 "Mau lah aku Islam." Bayangkan itu. Itu 31:27 untuk umur sudah hampir 90. 31:30 Terselamatkan Terus karena saya telepon 31:33 abang saya paling tua, ya, saya telepon 31:36 abang saya paling tua. 31:37 "Bang, saya bilang aku ngomong sama 31:39 nenek. Nenek bilang dia mau Islam." 31:40 "Yang benar?" kata abang saya gitu kan. 31:42 Terus saya kasih tahu sama bapak saya 31:43 kan, "Pak, tadi aku cerita sama nenek. 31:45 Nenek mau Islam." "Ah, 31:46 ah, alhamdulillah. Cepat urus, cepat 31:49 urus." katanya. 31:51 Akhirnya dibawa pulanglah nenek itu ke 31:53 kampung, ya kan. Saudara-saudara di 31:56 angkatan dia yang sepuh-sepuh juga 31:58 dikasih tahu. Nah, di situ juga ada 32:00 nenek-nenek saya yang lain yang satu 32:02 sebaya dengan dia. 32:03 "Ngapain kalian Islamkan dia?" katanya. 32:06 "Sudah lah, biar ada kawanku." katanya. 32:11 Masya Allah. Alhamdulillah, di situlah 32:13 saya menyaksikan bagaimana orang yang 32:15 sudah sepuh pun, 32:17 ya, ketika dia bersyahadat itu dituntun, 32:20 "Asyhadu alla ilaha illallah." 32:22 "Asyhadu alla ilaha illallah." Nah, 32:24 setelah dituntun dia tiga kali dituntun 32:26 "Asyhadu alla ilaha illallah." waktu 32:28 Muhammad Rasulullah itu nyambung tuh. 32:30 Masya Allah. 32:32 Nah, jadi terus setelah dia masuk Islam, 32:35 ya, kita-kita, "Gimana nenek?" Ya sudah 32:37 lah, yang penting dia syahadat, nanti 32:38 urusan dia dengan Tuhan saja lah, 32:40 begitu. Yang penting dia dikuburkan 32:42 sebagai muslim, kan, begitu. Nah, jadi 32:44 itu satu 32:46 satu apa tadi? Cerita selingan tadi itu, 32:48 cerita selingan. 32:49 Lalu gimana ceritanya kok bisa masuk 32:52 dunia politik itu gimana? 32:53 Nah, jadi itu tadi. Jadi saya tidak 32:56 pernah memimpikan menjadi menteri, 32:59 itu ee 33:01 pernah juga ini dulu Yusril, ya, 33:04 saya manggil Bang Yusril lah, ya. 33:06 Bang Yusril pernah, "Bang, nanti kalau 33:07 kau jadi menteri, menteri apa?" Kan saya 33:08 enggak kebayang jadi menteri. 33:10 Ya. 33:11 Nah, saya bilang, "Bang, kalau menteri 33:12 yang paling enak itu menteri peranan 33:14 wanita," saya bilang begitu. "Kok 33:15 kenapa?" "Yang paling tahu perempuan kan 33:17 laki-laki," saya bilang. 33:18 "Ah, dasar lu," katanya. "Bisa saja lu," 33:20 katanya. Nah, terus yang kedua itu 33:22 Menhan Kam, saya bilang begitu. "Loh, 33:24 kalau Menhan Kam kenapa?" "Aku ini kan 33:25 resimen," saya bilang begitu. Nah, kalau 33:27 resimen itu ee 33:29 ya kita beli senjata lah," saya bilang 33:30 begitu. "Bikin Indonesia negara kuat. 33:32 Ah, tidak ada negara yang kuat itu tanpa 33:35 persenjataan," saya bilang. 33:36 Kalau itu saya ada gini, "Oh, sudah, 33:38 begitu saja." Ehm. Nah, jadi ternyata 33:42 ee setelah beberapa saat itu ada 33:44 pemilihan presiden, kita dukung SBY, 33:46 kan, begitu. 33:48 Kita dukung SBY. Saya dukung SBY itu 33:49 tulus. 33:50 Tidak ada pretensi, tidak ada 33:53 ee keinginan jadi apa-apa. Saya karena 33:55 sudah jadi anggota dewan, kan. Cuman 33:57 saya lihat waktu itu SBY 33:59 tampilannya bagus, bahasanya bagus, 34:01 komunikasinya bagus, kemudian ibadahnya 34:05 bagus. Bagi saya itu sudah 34:06 kriteria begitu, kan. 34:08 Kalau orang sudah ibadahnya bagus, nah, 34:10 kemudian bagaimana dia 34:12 ee bisa menempatkan diri, menghormati 34:15 para ulama. Nah, jadi saya pikir ketika 34:18 saya ditanya beberapa kalangan, 34:21 "Siapa ya, Pak Kaban, Mas Kaban, 34:23 presiden Indonesia ke depan?" Ya, kalau 34:25 saya ditanya saya bilang orang yang 34:26 paling pas itu SBY, saya bilang begitu. 34:29 Nah, tapi saya tidak pernah bertemu 34:30 dengan SBY ngomong itu. 34:32 Gitu kan. Ah, hanya saja 34:34 pada waktu partai-partai, nah 34:37 nah, kita 34:39 mengusung beliau. Nah, lalu 34:41 eh dengan satu keyakinan, dengan 34:43 tampilan dia, kita yakin rakyat 34:46 mudah bersimpati. Alhamdulillah. 34:49 Nah, kemudian tengah malam, bukan tengah 34:50 malamlah, kira-kira jam 10-an malam 34:54 eh ketika pembentukan kabinet, saya itu 34:56 di Bogor. 34:58 Saya di Bogor, di Bogor sudah mau tidur 35:00 lah gitu kan. 35:02 Tahu-tahu dapat telepon. Eh dapat 35:04 telepon bukan dari Pak SBY. 35:06 Dari orang lain. 35:08 Eh 35:09 kapan disuruh ke istana? Ngapain? Anda 35:11 ditunggu presiden. 35:13 Setengah jam, bayangkan dari Bogor 35:14 setengah jam. 35:16 Nah, akhirnya waktu itu, itulah pertama 35:18 kali saya dibawa 35:19 pakai mobil ke Jakarta itu kecepatan di 35:21 atas 100. 35:24 Karena ditunggu 30 menit, sampailah di 35:25 istana. Sampai di istana, 35:27 oh Anda Pak Kaban ya? Iya. Eh ditunggu 35:30 presiden. Nah, sampai di istana, Pak SBY 35:32 cuma bilang "Terima kasih sudah eh 35:34 datang memenuhi undangan saya. Eh saya 35:37 minta bantu." Cuma gitu aja. Ehm. Nah, 35:39 tapi bantunya di mana? Tunggu aja. 35:43 Nah, jam 12.30 diumumkan presiden, saya 35:46 jadi menteri kehutanan gitu kan. 35:48 Waktu itu ya terus-terang aja, saya 35:50 cubit juga badan saya, benar enggak gua 35:51 jadi menteri? 35:55 Terus dikasih tahu kan 35:57 eh besok 35:58 Anda 35:59 eh jam 10.00 ada serah terima, eh 36:01 pelantikan gitu kan di istana. Ya sudah, 36:03 malam itu 36:04 pulang. Nah, begitu saya pulang di 36:06 tengah jalan, itu kan sudah jam 01.00 36:08 lebih kan. 36:10 Masuk ke dalam HP saya itu pesan. "Anda 36:14 tidak cocok jadi menteri kehutanan." 36:15 Coba tuh, belum apa-apa sudah digituin. 36:18 Sama? Sama orang. Oh, he eh, he eh. 36:21 Ya sudahlah. Saya agak anu juga digituin 36:24 kan terus sebelah. "Saya tahu kelemahan 36:26 eh hutan. 36:28 Nah, saya akan pakai politik gergaji. 36:30 Ah, gitu. 36:33 Nah, itu asal kalau cerita jadi jadi 36:36 menteri itu enggak enggak pernah 36:37 terbayanglah gitu kan. Tapi ya itu sudah 36:39 merupakan garis ya, garis Allah 36:43 yang harus kita 36:44 kita jalani saja gitu. Nah, ternyata 36:46 memang ya alhamdulillah bisa sampai 36:48 akhir periode. Jadi, 5 tahun penuh 36:51 yang kita jalani dengan segala 36:54 liku-likunya. Saya waktu itu hanya 36:56 berpikir meminta pada Allah, ya Allah 36:59 jika amanat ini baik untuk saya untuk 37:02 keluarga 37:03 dan untuk bangsa ini berikan saya 37:06 kekuatan. 37:07 Tapi jika ini tidak bermanfaat untuk 37:09 negara dan bangsa saya maka cabutlah 37:12 kembali jabatan ini. Itu saja. 37:15 Ah, itu saja ee, doa saya terus kepada 37:18 Allah. Maka apa pun yang terjadi yang 37:21 menimpa, saya selalu mengatakan saya 37:22 kembalikan pada Allah. Ya Allah 37:25 Engkau paling tahu apa yang ku kerjakan. 37:28 Engkau melihat apa yang ku kerjakan ya 37:29 Allah. Nah 37:31 ee, bimbing aku, tuntun aku ya, karena 37:33 ini semua adalah amanahmu. Itu saja. 37:35 Prinsip yang 37:37 ee, sering saya lontarkan dalam semua 37:40 keadaan. Nah, alhamdulillah 37:43 ee 37:45 selesai saya pelantikan itu 37:47 saya kan masih blank. 37:49 Ya kan, aku jadi Menteri Kehutanan. 37:52 Apa ya gitu. 37:53 Nah, tahu-tahu begitu selesai saya 37:55 pelantikan diserbu sama wartawan. 37:58 Wah, itulah ujian pertama kan. 38:02 Ada yang manggil abang gitu, "Bang, 38:03 kapan Anda jadi Menteri Kehutanan?" Ya 38:06 kan. "Apa program Anda?" gitu kan. 38:09 Untuk kehutanan tuh, karena background 38:10 saya kan bukan kehutanan ya kan. 38:13 Nah, tapi mereka lupa tesis saya itu kan 38:15 tadi tentang hutan kan. 38:17 Tentang bagaimana menganalisa ekonomi 38:19 produk-produk non timber kawasan Taman 38:21 Nasional kan gitu. Jadi itu 38:25 Nah, saya bilang gini deh 38:27 program saya yang paling pertama sekali 38:29 di kehutanan itu adalah bagaimana 38:31 membasmi illegal logging. Hmm. Nah, gitu 38:34 kan. Nah, kenapa illegal logging? Karena 38:36 selama saya di DPR 5 tahun 38:38 saya di ada di panitia anggaran 38:41 nah, itu isu illegal logging selalu 38:43 muncul. 38:44 Lawanan raksasa itu. 38:45 Oh, iya. 38:47 Ya, jadi nah, saya bilang saya akan 38:49 babat habis saya akan sikat habis di 38:51 masalah illegal logging. Oh, ternyata 38:52 jadi berita. Hmm. 38:55 Hampir seluruh media meng-quote 38:57 eh pernyataan itu eh media-media 39:00 mainstream meng-quote itu termasuk juga 39:02 media-media asing. Hmm. 39:04 Nah, ternyata itu nah, rupanya 39:07 Presiden Pak SBY 39:09 membaca itu juga ada respon 39:12 yang cukup positif dari publik tentang 39:14 pemberantasan illegal logging. Nah, 39:16 dalam sidang kabinet Pak SBY itu 39:18 langsung perintah 39:20 ini program. Hmm. Gitu. Nah, jadi 39:23 program pemberantasan 39:25 illegal logging itu 39:26 ide saya 39:28 secara spontan merespon 39:31 wartawan 39:32 menjadi berita tapi kemudian itu menjadi 39:35 menjadi masalah kemudian oleh Pak SBY 39:37 diarahkan ini jadi program. Hmm. Bantas 39:40 illegal logging. Nah, apa yang menarik 39:42 dan menjadi perhatian dunia 39:44 illegal logging waktu itu kasusnya per 39:46 tahun hampir 3.900 kasus. 39:48 Iya. 39:49 Ya. Nah, di akhir periode di akhir 39:52 periode 39:54 eh 2009 itu 39:56 masalah kasus illegal logging itu 39:58 menurun sampai hanya tinggal 300-an 40:01 kasus. Nah, itu oleh dunia 40:03 eh dianggap sebagai sesuatu 40:05 yang luar biasa karena tidak diduga. 40:09 Nah, waktu itu pun saya sempat diundang 40:10 ke apa? 40:12 Ke forum United Nation. 40:14 Eh, ada satu forum yang khusus diundang 40:17 kita eh saya diundang waktu itu untuk 40:19 membicarakan tentang apa program 40:21 kehutanan Indonesia gitu. Nah, salah 40:24 salah satu poin yang saya jelaskan waktu 40:26 itu adalah menyangkut masalah 40:28 pemberantasan illegal logging ini itu 40:30 tidak bisa diselesaikan Indonesia. 40:33 Gitu, saya bilang ini tidak bisa karena 40:34 ini eh menyangkut hukum ekonomi supply 40:38 and demand saya bilang gitu. Nah, oleh 40:39 karena itu kalau mau illegal logging ini 40:43 betul-betul teratasi oleh Indonesia maka 40:45 negara-negara 40:46 yang memproduksi menggunakan kayu-kayu 40:49 ilegal jangan ditampung. 40:51 Nah, itu dapat applause. 40:54 Saya bilang omong kosong kita bisa mem 40:56 memberantas illegal logging kalau 40:58 negara-negara industrinya itu menampung 41:01 kayu-kayu ilegal. 41:02 Ah, ternyata oleh beberapa negara itu 41:04 direspon eh di applause gitu ya. 41:07 Nah, sehingga ketika saya turun dari 41:08 mimbar itu beberapa negara nyalamin 41:10 excellent minister katanya. Saya bilang 41:12 kenapa kan biasa aja. Saya kami enggak 41:14 pernah dengar Indonesia pidato begitu 41:18 Nah, itu 41:20 eh jadi menurut saya waktu itu mungkin 41:22 karena selalu minta kepada Allah gitu 41:24 jadi ada di berikan kesempatan sehingga 41:27 eh akhirnya Indonesia mendapat perhatian 41:29 eh dan kemudian ya alhamdulillah kan 41:32 waktu itu kan siapa nyangka eh dengan 41:34 prestasi SB sebagai presiden dengan 41:37 program illegal logging yang dia support 41:39 habis ya saya ingat bagaimana Pak SB 41:42 mengundang Panglima TNI mengundang 41:44 Menkopolhukam mengundang Kapolri untuk 41:48 mensupport 41:49 illegal logging ini harus dibasmi dan 41:52 itu alhamdulillah 41:54 eh bisa. 41:56 Nah, sehingga kemudian kita tuh 41:57 banyaklah kalau diceritakan ini 42:00 eh sebagai satu apa namanya terobosan 42:02 yang dibikin oleh Pak SB waktu itu dan 42:05 kita saya sebagai menteri merasa 42:07 betul-betul terlindungi karena yang 42:09 dihadapi ini luar biasa. Siapa pemain 42:11 itu? Waduh, tahunnya itu 42:13 eee apa namanya itu eee awalannya pakai 42:16 A semua tuh ada 42:18 ada 42:19 ada apa Abi, ada Abun, ada apa semualah 42:23 gitu kan. 42:25 Banyak itu pemain-pemainnya gitu. Tapi 42:27 eee 42:29 tapi mereka sebenarnya kalau kita tegas, 42:31 mereka juga hormat. 42:32 Jadi kalau kita konsisten menegakkan 42:34 hukum, mereka juga berpikir kok. 42:36 Ya. Jadi kuncinya satu, penegakan hukum 42:39 itu konsisten. Jangan kita tergoda. 42:42 Apa tidak ada sosialisasi 42:45 regulasinya? 42:46 Jadi sebenarnya bukan. Regulasi itu 42:48 Indonesia sudah cukup lengkap. 42:50 Indonesia, persoalannya adalah dari law 42:53 enforcement-nya. 42:54 Dari penerapan hukum itu sendiri yang 42:57 kadang-kadang 42:59 eee terlalu banyak kompromi gitu. Nah, 43:02 terlalu banyak kompromi ini tadi mungkin 43:04 karena banyak pihak yang terlibat. Nah, 43:07 alhamdulillah di zaman itu 2004-2009 43:11 Pak SBY itu tegas. 43:13 Ya, dia tegas. Dia eee dia tegas 43:16 mengingatkan bahwa 43:18 eee 43:19 kita jangan lagi mentolerir 43:22 hal-hal yang eee melanggar hukum. Jadi 43:25 korps kita, nah dia bilang korps kita 43:27 itu jangan dikorbankan 43:30 untuk melanggar hukum gitu. Jadi nah ini 43:33 bagus karena waktu itu Pak SBY itu satu, 43:35 dia 43:36 persoalan law enforcement dia pegang 43:37 teguh, kedua dia sangat menghormati 43:40 sistem. 43:41 Nah, jadi sistem itu adalah bagaimana 43:43 undang-undang. Kemudian dia juga sangat 43:45 menghormati kebijakan yang positif. 43:49 Nah, jadi maksudnya apa? Apa 43:51 program-program pemerintah di masa lalu 43:53 yang positif yang itu bermanfaat 43:55 masyarakat, oleh Pak SBY itu terusin. 43:57 Nah, itu jadi nyambung. 43:59 Nah, nyambung. Jadi kita sebagai menteri 44:01 juga 44:02 eee bukan eee beda menteri beda 44:05 kebijakan, jangan begitu gitu. Jadi kita 44:07 apa yang diarahkan presiden sesuai 44:09 dengan undang-undang jalan gitu. Nah, 44:11 itu yang saya rasakan gitu. Jadi, kalau 44:13 eh pengalaman jadi menteri ya 44:16 ya begitulah. Jadi, itu di luar 44:18 eh mimpi pun enggak pernah. Jadi, 44:21 tugasnya menteri kehutanan sebenarnya 44:22 apa itu? 44:23 Menjaga hutannya atau enggak? Iya, jadi 44:25 memang akan ada undang-undang kehutanan 44:27 ya. Waktu itu saya masih berpedoman pada 44:30 undang-undang 41 lah ya. Undang-undang 44:33 41 memang 44:35 eh di situ melindungi ya, melindungi, 44:38 menjaga, memelihara, melestarikan, 44:41 mengembangkan eh semua eh yang 44:44 berhubungan dengan eh kawasan-kawasan 44:46 hutan kita. Hutan kita ini terlalu luas. 44:49 Ya, terlalu luas. 44:50 untuk industri? 44:52 Nah, sebenarnya eh ini kan hulu-hilir 44:56 ya. 44:57 Jadi, hutan itu katakanlah di hulunya eh 45:00 kemudian di hilirnya kan industri semua. 45:02 Ya, banyak sekali industri-industri 45:04 kehutanan yang 45:06 eh sangat 45:08 eh membuka lapangan pekerjaan, bisa 45:11 kelas menengah, juga bisa kelas bawah. 45:14 Nah, cuman masalahnya kita ini selama 45:17 eh 20 tahun reformasi ini tidak serius. 45:21 Eh tidak serius membenahinya. 45:23 Jadi, semua masih administratif tapi 45:25 kondisi kehutanannya sendiri itu tidak 45:28 ada perhatian yang sangat serius. Nah, 45:30 sehingga ini selalu menjadi eh 45:32 rebutan-rebutan saja. Eh kalau saya 45:35 prinsipnya sebenarnya semua hutan kita 45:37 ini apapun statusnya yang rusak itu 45:39 harus ditanami. 45:41 Ya, harus ditanami. Jangan tawakal. 45:43 Jangan jangan di 45:45 diserahkan kepada alam. Serahkan kepada 45:46 alam sih bisa, tapi butuh 100 sampai 200 45:49 tahun. Tapi, kalau kita 45:51 ikut ya ya pemerintah eh ikut bersama 45:55 apa ikut memprogramkan itu memang harus 45:57 ditanam, 45:58 saya yakin eh 20 tahun 46:02 itu bisa pulih, tapi konsisten ya. 46:05 Nah, harus konsisten. Jadi, 20 tahun 46:07 harus konsisten. Karena saya lihat ada 46:09 beberapa pemegang-pemegang HPH 46:11 yang mereka berani melakukan penanaman 46:13 kembali. 46:14 He eh. Wah, itu alhamdulillah. Nah, jadi 46:16 Pak Krisna, jadi saya dalam masalah ini 46:19 tadi 46:20 ee, saya katakan bahwa ee 46:23 kondisi hutan Indonesia itu, apapun 46:25 statusnya, mau produksi, mau lindung, 46:28 mau taman nasional, 46:29 ya, itu tidak ada rumus yang paling 46:32 tepat terkecuali selalu 46:35 program tanam paksa. Ah, kalau bahasanya 46:37 He eh. Jadi, memang harus ada pemaksaan 46:40 program itu harus ditanami kembali gitu. 46:43 Nah, kalau ini kontinu dilakukan selama 46:45 20 tahun, saya yakin itu bisa pulih. He 46:48 eh. Kalau diserahkan alamiah, itu butuh 46:51 80 sampai 100 tahun ya. 46:53 Nah, tapi kalau kita ikut serta 46:56 ada tanam paksa itu, saya yakin loh. 46:58 Nah, kenapa? 46:59 Karena saya coba, ya, saya mempraktekkan 47:02 menanam. Ya, menanam kayu yang punya 47:05 nilai ekonomi. Kayu jati? Enggak. Ee, 47:07 saya tanam ee, kayu meranti, ya, kayak 47:10 saya tanam kayu meranti. 47:12 Saya tanam kayu meranti itu jenisnya 47:14 Leprosula. 47:16 Nah, itu sekarang baru berumur 47:18 17 tahun, diameternya sudah hampir 30 47:21 lebih. Uh, luar biasa. Ah, dengan apa, 47:24 dengan bebas cabang, 47:26 ah, bebas cabangnya lebih dari 20 meter. 47:28 He eh. Jadi, saya saya bilang sama anak 47:30 saya, 47:31 "Kalian 47:33 untuk anak-anak kalian enggak usah 47:34 dipikirkan lagi." saya bilang. "Ini aja 47:36 nih dari tanaman pohon kayu ini." saya 47:37 Kaya itu. 47:39 Ah, jadi udah selesai. Tinggal kalian 47:41 sekarang tugas kalian adalah bagaimana 47:43 menanami kembali di daerah-daerah yang 47:46 ah, belum tertanam, saya bilang gitu. 47:48 Jadi, supaya ada kesinambungan. Nah, 47:49 jadi kalau seluruh pengelola-pengelola 47:52 kawasan hutan dipaksa, He eh. ya, 47:55 dipaksa mereka harus menanam kembali, 47:57 saya yakin 20 tahun. Nah, dan nah 48:01 sekarang sesuai dengan tren baru, kan 48:03 semuanya ini ee 48:05 hasil 48:06 tanam-tanaman itu, itu kan bisa di apa, 48:09 ditukar 48:11 dengan istilahnya carbon trade. Nah, itu 48:13 perlu kajian tersendirilah ya. Tapi saya 48:16 lihat bahwa Indonesia ya, ini kita perlu 48:20 memberdayakan seluruh komponen bangsa 48:22 ini bahwa hutan itu adalah masa depan. 48:26 Jadi generasi-generasi 48:28 bangsa ini ke depan, maka kita harus 48:31 wariskan hutan itu kepada mereka. Yang 48:33 kita wariskan adalah tanaman. Jangan 48:36 kita wariskan tanah-tanah gersang yang 48:38 menimbulkan malapetaka dan bencana 48:40 banjir dan sebagainya begitu. Ya, tadi 48:43 sebelum rekaman saya dengan Bapak MS 48:46 Kaban ngomong-ngomong soal zakat karbon, 48:49 itu apa maksudnya zakat karbon? Menarik 48:51 juga ini. 48:51 Iya, jadi gini ee jadi karbon itu bisa 48:55 diperdagangkan. Jadi misalnya ee 48:59 saya pernah bertemu dengan orang Jerman 49:02 ya, 49:02 dia punya kawasan luasnya sekitar 4 49:05 hektar saja. 49:07 Nah, lalu kemudian di tanah 4 hektar itu 49:09 dia tanami ada pohon-pohon, pohon-pohon 49:12 kayu yang tingginya lebih dari 5 meter. 49:15 Nah, ternyata 49:17 ee 49:19 areal yang 4 hektar tadi itu, dia kan 49:21 itu 49:22 ee apa ya, menyerap ya, menyerap 49:26 menyerap karbon dioksid dan mengeluarkan 49:28 oksigen. Nah, di situ ada ada 49:31 hitungannya ya. Jadi luas itu 49:34 berapa ee 49:37 kemampuan serap karbonnya. Nah, itu 49:41 kemudian industri-industri 49:43 yang mengeluarkan apa namanya, ee 49:46 polusi-polusi, nah itu kan diserap oleh 49:48 areal itu. Nah, nah di situ ada 49:50 harganya. 49:52 Nah, ada harganya. 49:53 Pak, jadi 49:55 ada ada ada produksinya, ada volumenya. 49:58 Ada harganya, kan ada duitnya. Ehm. Ya, 50:00 kan? Ada duitnya. Nah, jadi dari hasil 50:04 uang perdagangan karbon ini, ah itulah 50:06 yang kemudian mesti ada zakatnya. Oh, 50:08 begitu. 50:10 Nah, ini sudah kita kaji dengan apa? 50:12 Kiai-kiai NU, ya, dengan Kiai-kiai NU 50:15 waktu itu saya begitu. 50:16 Sudah sudah berjalan ini? Nah, jadi 50:18 paling tidak kajiannya untuk perhitungan 50:20 zakatnya sudah ada. Ah, yang belum itu 50:23 menurut saya intensitas 50:26 intensitas mana kawasan-kawasan hutan 50:29 yang sudah diperdagangkan karbonnya dan 50:32 kemudian hasilnya berapa. Ya, hasilnya 50:35 berapa dan kemudian apakah 50:37 pengelola-pengelola kawasan itu mau 50:39 menzakatkannya. Tapi kalau cara 50:41 menghitung zakat karbonnya sudah ada. 50:43 Ehm. Ah, sudah ada. Jadi sebetulnya ini 50:46 ah, ya ulama-ulama kita cepatlah 50:48 merespon kemajuan itu gitu. Ah, ini 50:52 salah satu salah satu bagaimana hutan 50:54 memberikan manfaat dia tidak ditebang. 50:57 Ya, kan? 50:58 Ehm. Tapi kemampuan dia menyerap itu 51:00 Ehm. ya, dengan apa? Apa? Dengan 51:04 asap-asap industri, polusi-polusi yang 51:06 dikeluarkan oleh banyak hal. 51:07 Katakanlah ah, Singapore Airlines tiap 51:10 tahun tuh berapa 51:12 berapa jumlah penerbangan yang lewat di 51:15 wilayah Indonesia misalnya. Kemudian ah, 51:21 ah, air super jet, ya. 51:24 Berapa penerbangan itu? Nah, berapa ribu 51:28 ton 51:29 ya, kan? Ah, avtur yang dibakar. Ah, itu 51:32 kan polusi. Nah, kemudian itu bisa 51:34 diserap oleh berapa puluh ribu hektar 51:37 hutan. Ah, yang di yang menyerap itu. 51:40 Nah, nanti itu ada harganya. Nah, 51:42 kemudian itu ada hasilnya. Nah, itu yang 51:43 sekarang lagi sedang bergulir yang 51:46 disebut orang dengan carbon trade itu 51:49 tadi gitu. Nah, jadi mudah-mudahan ini 51:51 eh ke depan ya, saya sangat berharap 51:54 memang 51:55 eh 51:58 masyarakat harus betul-betul diberi 52:01 insentif. Nah, jadi masyarakat yang dia 52:05 menanam areal-areal kawasannya itu 52:07 dengan tanam-tanaman pepohonan 52:09 ya sampai umur tertentu dia itu harus 52:13 mereka harus menghasilkan. Mmm. Ada 52:15 carbon trade-nya gitu. Nah, dengan 52:17 demikian potensi zakatnya juga 52:19 eh sudah bisa dikeluarkan gitu kan. Nah, 52:22 ini 52:23 menurut saya sesuatu terobosanlah gitu. 52:26 Ijtihad, ini ijtihad baru gitu. 52:28 Nah, saya mau ke Kebun Raya Bogor di 52:30 tempat di mana Abang tinggal di Bogor 52:32 ya. Itu Kebun Raya Bogor kan 52:34 pohon-pohonnya sudah tua-tua itu. Iya. 52:36 Saya suka khawatir itu kalau tumbang 52:38 gimana itu 52:39 gimana Pak? 52:40 Begini Pak Kiai itu. Kalau Kebun Raya 52:42 Bogor itu dulu langsung di bawah LIPI. 52:45 Mmm. Ya, jadi eh pengelolaannya di bawah 52:48 LIPI dan itu sebetulnya pusat riset ya. 52:52 Jadi Kebun Raya Bogor itu adalah pusat 52:54 riset karena tanaman-tanaman 52:56 pohon-pohonan yang ada di sana itu 52:58 banyak yang berasal dari negara lain. 53:01 Mmm. Yang dicoba ditanam 53:03 di daerah tropis ini gitu. Nah, itu saya 53:05 kira banyak. Nah eh kemudian proses 53:08 regenerasinya saya kira ahli-ahli LIPI 53:11 eh sudah mengenal lah hampir semua jenis 53:15 tanaman yang ada situ karakternya sudah 53:16 dipelajari dan saya kira eh apa namanya 53:19 itu proses regenerasinya itu juga sudah 53:23 sudah ada ilmunya. Kalau itu saya sangat 53:25 yakin karena 53:26 eh LIPI yang khusus menangani Kebun Raya 53:29 Bogor itu 53:31 itu cukup apa 53:33 cukup komplitlah. Hanya saja sekarang 53:35 ini pengelolaannya. Mmm. Eh hanya saja 53:37 pengelolaan Kebun Raya Bogor itu 53:40 yang eh menurut saya 53:43 eee 53:44 sudah menyimpang dari pakem kehadiran 53:47 Kebun Raya itu sendiri. 53:49 Dia dimanfaatkan sebagai kawasan wisata, 53:52 oke. Tapi harus ada batas. 53:55 Nah, supaya 53:57 eee, apa? Supaya eee 54:01 kawasan Kebun Raya itu sebagai kawasan 54:03 biosfer kita katakan, itu tetap terjaga, 54:06 terpelihara 54:08 eee, tidak hanya dari segi habitat 54:11 tapi juga untuk menjaga idealisme 54:15 kenapa Kebun Raya itu di dijaga. Jadi, 54:18 di sini memang mencari titik 54:19 keseimbangannya itu 54:21 eee, perlu betul-betul bijak. Jangan 54:23 semata-mata komersial. 54:25 Iya, kan? Kalau dia semata-mata 54:27 komersial, nanti ada eee, apa 54:29 istilahnya? Ada efek negatif kepada 54:32 kawasan itu sendiri dan untuk 54:34 membenahinya butuh waktu yang panjang, 54:36 gitu. Nah, Bapak kan boleh dibilang 54:38 bekas menteri itu, kan? 54:41 Masya Allah, itu luar biasa. Kok enggak 54:43 begitu turun, enggak enggak power 54:44 syndrome sih? 54:46 Waktu katanya waktu jadi anggota DPR 54:48 juga masih sempat naik kereta, gitu. 54:51 Gimana? 54:51 Ya, alhamdulillah. Jadi, saya kira gini. 54:53 Eee 54:55 saya dari awal, ya kan kita ini dari 54:58 muda, sejak zaman mahasiswa sudah 55:01 sudah terbiasa, ya terbiasa dengan 55:04 eee, semua dengan apa? Teman-teman gaul 55:08 lah, ya teman-teman gaul. 55:10 Eee 55:11 jadi 55:13 ya, banyak orang 55:15 memang nanya, kok tidak? Saya bilang, 55:17 kenapa harus post power syndrome? Saya 55:19 bilang, orang eee, ini semua kehidupan 55:21 yang harus kita jalani, saya bilang. 55:23 Enggak ada yang bagi saya jadi menteri 55:25 itu, jadi menteri itu istimewa, tuh 55:27 biasa saja, saya bilang gitu. Karena 55:29 orang yang datang ke rumah semua 55:31 teman-teman, oke saja, welcome saja, 55:33 gitu kan? Mau di di mau di musala 55:36 ketemu, ngobrol, biasa aja. Jadi, begitu 55:39 selesai pun jadi menteri, ya saya dengan 55:42 semua pegawai-pegawai di kehutanan itu 55:44 santai aja, biasa aja. Nah, sampai 55:46 sekarang, ya sampai sekarang itu 55:49 walaupun sudah lama gitu kan, kalau 55:50 ketemu masih masih kayak gimana ya? 55:54 Kayak kawan gitu. 55:55 Karena dia merasa bahwa eh dulu mereka 55:58 enggak pernah dipaksa-paksa, mereka 56:00 enggak pernah ditarget-targetin, apa 56:02 yang penting you kerja ikutin prosedur, 56:04 gitu aja. 56:05 Eh aman gitu, jadi aman. Jadi, eh post 56:09 power syndrome itu kan kalau kita merasa 56:10 kekuasaan adalah segala-galanya. Tapi 56:12 bagi kita kan enggak, bahwa kekuasaan 56:15 itu adalah amanah. 56:16 Ya kan, ketika amanah itu diberikan, 56:18 kerjakan, ya kan. Kalau kita ada salah, 56:20 minta ampun. 56:24 Gitu. Masya Allah. Ya simpel aja gitu 56:26 ya. Ya kita kan sebagai manusia enggak 56:28 mungkinlah tidak punya salah. Ya, 56:30 sebagai pejabat juga 56:32 eh kan kalau pejabat itu kan ngelihat 56:35 dari atas itu semua indah, kan gitu kan. 56:37 Nah, setelah kita jalanin baru ternyata 56:39 banyak liku-likunya kan gitu. Nah, jadi 56:41 oleh karena itu 56:42 eh prinsipnya sebagaimana saya katakan 56:44 tadi, begitu saya mendapat 56:47 eh apa diumumkan itu, saya mintanya 56:49 kepada Allah, kalau ini bermanfaat untuk 56:51 saya, 56:52 keluarga, untuk negara dan bangsa, 56:55 berikan saya kekuatan. 56:56 Kalau enggak, ya Allah cabut aja. 56:58 Gitu. Jadi, karena 57:00 tadi enggak membayangkan, ya tidak 57:02 pernah membayangkan, memimpikan untuk 57:04 mendapatkan jabatan yang begitu 57:07 terhormat, apalagi 57:09 tugas yang dihadapi 57:11 dengan situasi 57:13 2002, 2004, 2009, 57:15 itu kita ini kan betul-betul transisi, 57:18 betul-betul transisi. 57:20 Bagaimana otonomi daerah itu semua 57:23 bupati, gubernur merasa berkuasa, 57:25 sehingga areal itu tumpang tindih, jadi 57:28 konflik. Nah, itu harus di di kita 57:30 tangani. Nah, ketika kita tangani itu 57:32 pun orang curiga, jangan-jangan ini ada 57:34 uangnya. Ah, kan begitu. 57:37 Itu itu yang Nah, jadi saya pikir nih 57:41 obrolan kita ini ya mudah-mudahan 57:43 obrolan yang bisa 57:45 ee 57:47 mengajak kita untuk selalu apa? Selalu 57:51 libatkanlah Allah, ya. Ya. 57:53 Libatkanlah Allah dalam semua apapun 57:55 kegiatan yang kita kerjakan. Terakhir 57:57 Bang, saya ingin tanya nih kepada Bang 57:59 MS Ka'ban, ya. Apa namanya? Politik itu 58:02 apa menurut Abang? 58:03 Ya, kalau begini. 58:05 Politik itu bagaimana kita melaksanakan 58:08 perintah Allah. Oh, gitu ya. 58:10 Iya. 58:11 Karena begini, jangan lupa. 58:13 Ketika Allah, ya, berfirman, "Wa idz 58:17 qola robbuka lil malaikah, inni ja'ilun 58:20 fil ardhi kholifah." 58:22 Itu berbicara tentang kekuasaan. Ehm. 58:26 Itu berbicara tentang kekuasaan, 58:27 berbicara tentang politik. 58:29 Ya. Jadi cerita kekuasaan itu cerita 58:31 politik. Nah, jadi oleh karena itu ee 58:36 kita sebagai seorang muslim, ya, sebagai 58:39 seorang muslim apapun posisi kita, 58:42 jangan lupa kau didatangkan oleh Allah 58:44 itu untuk memimpin. Ehm. Untuk 58:46 menggantikan. 58:48 Menggantikan apa? Menggantikan semua 58:50 perubahan-perubahan yang ada. 58:52 Jadi enggak? Ee saya menghayati itu. 58:55 Jadi ketika Allah "Wa idz qola robbuka 58:58 lil malaikah, inni ja'ilun fil ardhi." 59:01 Ya, kan? 59:03 Kau aku turunkan ke bumi 59:05 untuk jadi 59:07 penguasa. 59:09 Jadi politik itu kekuasaan. 59:13 Ini klimaks. 59:16 Ini klimaks. Jadi kalau cerita kekuasaan 59:18 itu selalu timbul ramai, ya memang dari 59:20 awalnya ramai karena belum apa-apa sudah 59:22 diprotes, kan? Ya, masa kok ciptakan ya 59:24 Allah, kan begitu, kan? Nah, itu kan 59:25 bukti ramainya itu. Nah, jadi 59:28 kita politik itu adalah 59:30 cerita kekuasaan dan kita harus terlibat 59:34 dalam kekuasaan itu. 59:36 Nah, yang penting bagaimana kekuasaan 59:38 itu menjadi sebuah 59:39 amanah gitu. Nah, ini yang 59:42 eh jadi saya berharaplah eh kita jangan 59:44 alergi cerita politik ya, karena politik 59:47 itu cerita kekuasaan dan kita harus 59:49 terlibat di dalamnya. Ehm. 59:51 Jadi, sekarang kesibukan Abang apa ini? 59:54 Saya tetap ngajar ya, saya tetap ngajar 59:56 di kampus di enggak di kampus 59:57 Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Nah, 59:59 tapi 1:00:00 eh setiap 1:00:02 dua minggu saya ke ladang. Ehm. Nah, 1:00:05 jadi saya sekarang itu ngajar hanya satu 1:00:08 minggu satu kali. 1:00:10 Jadi, saya banyak luang waktu. 1:00:11 Mata kuliah apa itu? Eh saya sengaja 1:00:13 ngambil bisnis karena saya ingin 1:00:15 mengajak 1:00:16 eh umat ini 1:00:18 bahwa 1:00:19 7/8 dari rezeki itu disebarkan oleh 1:00:23 Allah dalam dunia perdagangan dalam 1:00:25 dunia bisnis. 1:00:26 Jadi, umat Islam harus merebut dunia 1:00:29 bisnis ini. 1:00:31 Karena di situ ada 7/8. Nah, sayangnya 1:00:34 kita ini banyak sekali 1:00:36 yang masih terpaku untuk merebut rezeki 1:00:39 yang 1/8. 1:00:42 Allah membuka rezeki 7/8 di dunia 1:00:45 perdagangan, di dunia bisnis tapi kita 1:00:48 ini lebih senang di yang 1/8. 1:00:50 1/8 itu jadi amilin. 1:00:55 Gitu. Ehm. Nah, jadi gitu. Jadi 1:00:58 eh saya sengaja mengambil kuliah masalah 1:01:00 bisnis ini karena 1:01:02 eh 1:01:03 ya banyak hikmah 1:01:05 Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke 1:01:07 Madinah, dia bangun masjid, setelah dia 1:01:09 bangun masjid dia rebut pasar. 1:01:12 Jadi, harusnya kita kaum muslimin itu 1:01:15 eh sangat logik. Indonesia mayoritas 1:01:18 muslim, maka resources itu harus 1:01:20 dikelola oleh kaum muslimin ini, gitu. 1:01:23 Baru makmur. 1:01:26 Masya Allah. Oke, 1:01:28 demikian tadi bincang-bincang kami 1:01:31 dengan 1:01:32 MS Kaban, ya. Banyak pengetahuan yang 1:01:35 kita dapat tadi dan juga hikmah, ya. 1:01:37 Terima kasih. 1:01:38 Alhamdulillah, alhamdulillah. Bang 1:01:39 Kaban, mudah-mudahan sehat, salam buat 1:01:41 keluarga. 1:01:42 Baik, saya Muhammad Krisna, Asep 1:01:46 Cia Budi, mohon pamit. Wabillahi 1:01:47 Wabillahi taufik walhidayah. 1:01:48 Assalamualaikum warahmatullahi 1:01:49 wabarakatuh. Waalaikumsalam 1:01:50 warahmatullahi wabarakatuh.