Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Rasul TV
- untuk Islam yang satu.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillah rabbil
- alamin. Allahumma sholli ala Muhammad wa
- ala ali Muhammad. Dipancarluaskan dari
- Jalan Masjid Silaturahim nomor 36
- Kalimanggis, Cibubur, Bekasi. Radio
- Silaturahim untuk Islam yang satu.
- Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah
- subhanahu wa taala.
- Bagaimana kabar Anda di sore hari ini?
- Semoga selalu dalam lindungan Allah
- subhanahu wa taala dan semoga selalu
- senantiasa
- mendapatkan curah kasih sayangnya.
- Ikhwan dan akhwat di sore hari ini kita
- kembali lagi berjumpa dalam tausiah
- sore. Tausiah bersama narasumber kita
- Ustaz Amin Nuroni. Alhamdulillah ikhwan
- dan akhwat beliau saat ini sudah bersama
- dengan kita di studio. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat, Ustaz, ya?
- Alhamdulillah bi khair.
- Baik.
- Dan tema kita di sore hari ini
- melanjutkan tema pada pekan sebelumnya,
- Ustaz, ya?
- Ya.
- Yaitu tema tentang
- eee
- adab di dalam
- rumah.
- Ya.
- Diambil dikutip dari Kitab Hayatul
- Ahkam.
- Hayatul Ahkam.
- Ahkam.
- Kajian tentang ayat-ayat hukum.
- Nah.
- Insyaallah itu dia ya ikhwan dan akhwat
- jadi tema kita di sore hari ini adalah
- tentang adab di dalam rumah.
- Baiklah ikhwan dan akhwat saya pun tidak
- sendiri di sore hari ini eh rekan-rekan
- para pejuang dakwah ada
- Neza kemudian ada Pak Haji dan juga
- Fajar.
- Di meja switcher Rasio Visual serta
- rekan pejuang dakwah yang ada di
- Sukabumi, Semarang dan juga di Batam.
- Radhitu billahi rabba wabil islami dina
- wabi Muhammadin nabiyya wa rasula rabbi
- zidni ilman warzuqni fahman. Tafadhol
- Ustad.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirobbil alamin.
- Wasolat wasalam ala nabiyinal karim
- Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi wa
- man tabi'ahum bi ihsanin ila yaumiddin
- amma ba'd.
- Inna asdaqol hadis kitabullah.
- Wa khairul hadyi hadyu Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam.
- Wa syarrul umuri muhdasatuha wa kullu
- muhdasatin bid'ah wa kullu bid'atin
- dholalah.
- Alhamdulillah pendengar Rasio dan
- pemirsa Rasio TV yang dimuliakan oleh
- Allah.
- Di manapun kita berada mudah-mudahan
- Allah selalu melindungi kita
- menguatkan iman kita
- dan membimbing kita
- semakin menjadi orang-orang yang
- bertakwa kepada-Nya. Amin ya rabbal
- alamin.
- Pada ketempat pada kesempatan yang
- baik ini
- kita akan melanjutkan kajian tentang
- ayat-ayat ahkam.
- Dan pada sore hari ini secara khusus
- kita akan membedah surat An Nur ayat
- yang ke
- 58,
- 59 sampai dengan ayat yang ke 60.
- Dan ayat-ayat ini
- seperti
- Mas Susilo
- Mas Agus Susilo
- Bukan Agus Bambang Susilo
- Bukan Mas Agus Bambang Susilo bukan, Mas
- Susilo, Mas Agus Susilo
- temanya tentang aturan di dalam rumah.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim
- Bismillahirrahmanirrahim
- Ya ayyuhalladzina
- amanu liyastadzinkumulladzina
- malakat aimanukum walladzina lam
- yablughul huluma minkum salas marrat
- min qabli salatil fajri wahina tadha'una
- tsiyabakum minaz zahirati wa mim ba'di
- salatil asha
- salasu awratin lakum laisa alaikum wala
- alaihim junahun
- ba'dahunn
- tawwafun alaikum ba'dukum ala ba'din
- kadzalika yubayyinullah
- kadzalika yubayyinullahu lakumul ayat
- wallahu alimun hakim
- wa idza balaghal atfalu minkumul huluma
- falyastadzinu
- qablihim kadzalika yubayyinullahu lakum
- ayatihi wallahu alimun hakim
- wal qawaidu minan nisaillati
- la yarjuna nikahan falaisa alaihinna
- junahun falaisa alaihinna junahun ay
- yabda'na tsiyabahunna ghaira
- mutabarrijatin
- bizinah wa ay yasta'fifna khairul
- Shadaqallahuladzim.
- Allahumma arhamna bil Quran.
- Inilah masa Gus yang akan kita bedah
- bersama pada sore hari ini.
- Surat An Nur ayat 58, 59 sampai dengan
- ayat yang ke 60.
- Dan memang ayat-ayat ini secara khusus
- tentang adab, tentang aturan di dalam
- rumah. Masyaallah, ini penting sekali.
- Subhanallah, mungkin
- kalau di
- dalam agama atau pada agama-agama yang
- lain, pada kitab-kitab suci selain
- Islam, mungkin tidak sedetail seperti
- ini.
- Dan ini kayaknya ya hanya ada dalam
- Alquran, hanya ada dalam
- kitab Alquran.
- Dan ini patut kita bangga dan berbahagia
- utamanya.
- Karena Allah
- dalam agama Islam itu
- memberikan apa? Banyak
- tuntunan-tuntunan.
- Dan agama Islam itu sendiri berfungsi
- antara lain ya memperbaiki
- juga memberi tuntunan etika yang sangat
- baik dan tinggi. Maka
- sering dibacakan kan
- ee innama buistu
- liutammima makarimal
- akhlak.
- Rasul sampai menyebutkan hanya saja aku
- diutus ke dunia ini sebagai Rasul
- menyampaikan wahyu untuk menyempurnakan
- akhlak.
- Nah, makanya agama Islam itu
- berfungsi ya di antaranya memperbaiki
- dan memberi tuntunan etika atau akhlak
- yang sangat tinggi.
- Ini salah satunya ini, masya Allah.
- Maka di dalam Islam itu kita akan
- dapatkan
- tentang berbagai macam aturan-aturan dan
- prinsip-prinsip yang baik.
- Dalam Islam.
- Dalam Alquran itu kita akan dapatkan
- berbagai macam aturan dan
- prinsip-prinsip hidup yang sangat mulia.
- Juga dalam dalam Alquran kita akan
- dapatkan
- bagaimana aturan-aturan akhlak yang
- mulia.
- Dan juga
- memiliki aturan yang sangat sangat
- istimewa.
- Kalau bolehlah dikatakan bahwa memang
- Alquran itu adalah aturan-aturan
- atau risalah yang berisi tentang
- keutamaan dan
- tentang keutamaan akhlak dan
- kesopanan-kesopanan dalam hidup.
- Masya Allah, ini salah satunya nanti.
- Tentang bagaimana
- adab berumah tangga.
- Atau bagaimana aturan
- di dalam rumah tangga seorang muslim.
- Sering kita
- bahas Mas Agus bahwa
- salah satu
- cara metode
- memastikan bahwa
- kita rencanakan, kita programkan
- anak-anak kita menjadi anak yang saleh.
- Pertama kan dekatkan dengan Alquran.
- Yang kedua dekatkan dengan
- masjid.
- Yang ketiga
- pastikan bahwa lingkungan di mana dia
- hidup dan bergaul adalah lingkungan dan
- tempat yang baik.
- Nah, ini coba kita renungkan masya Allah
- luar biasa.
- Jadi bagaimana kita mendekatkan anak
- kita dengan Alquran tidak hanya
- mengajarinya untuk membaca, menuntunnya
- untuk selalu bersama Alquran
- tidak sebatas itu, tapi juga bagaimana
- aturan-aturan adab akhlak dalam Alquran
- itu disampaikan
- diinformasikan
- kemudian diteladankan, begitu.
- Subhanallah.
- Jadi kalau lah
- mungkin tidak kira-kira di rumah baca
- Quran
- nah sekelas anak kita membaca Alquran
- kan belum tentu bisa memahami
- iya kan, belum tentu juga bisa
- menerapkan
- maka maiyatuhu bagaimana menjadikan
- Quran selalu bersamanya, ya
- diantaranya bagaimana membumikan akhlak
- Alquran dalam kehidupan.
- Nah dunia anak yang terlama dan
- terbanyak kan di
- di rumah tangga
- nah maka ini salah satu tadi bagaimana
- Islam mengajarkan tentang adab di dalam
- rumah
- yang itu bagian dari isi Alquran
- jadi upayanya simultan memang dalam
- Islam itu mempersiapkan
- tadi ya tiga tadi, masih ingat Mas Agus
- tadi? Apa tadi pertama?
- mendekatkan
- mendekatkan anak dengan Alquran, yang
- kedua
- ajak ke masjid
- ajak ke masjid, nah jadi itu termasuk
- bagian Masyaallah
- baru bagian dari dua tempat ini kan
- kalau di rumah tangga kita
- selalu terdengar bacaan Alquran
- kemudian diterapkan tentang
- aturan-aturan Alquran
- kemudian kita pindah anak ini kepada
- lingkungan yang kedua, selalu didekatkan
- dengan masjid, kan luar biasa tiga
- potensi itu kan ada
- mendekatkan Alquran, mendekatkannya
- kepada masjid, mendekatkannya kepada
- lingkungan orang-orang yang ba yang
- baik. Subhanallah.
- Betapa indahnya itu Al-Qur'an.
- Kalau kita baca dalam tafsirnya nih.
- Ayat ini munasabah dengan ayat
- sebelumnya, kita sudah bahas itu pada
- ayat yang ke-28, 29, 30 tentang aturan
- masuk rumah sudah kita bahas gitu ya.
- Bagaimana
- muslim itu diajarkan aturan masuk ke
- dalam rumah, iya kan?
- Kalau itu rumah
- apalagi orang lain, diwajibkan kita
- untuk memberikan salam.
- Setelah memberikan salam baru kita
- berkewajiban untuk permisi, diizinkan
- atau tidakkah kita masuk ke dalamnya.
- Bahkan kemarin diterangkan
- in qila arji'u, kalau lah kita bertamu
- itu belum dikehendaki oleh penghuninya,
- kita diminta pulang, pulang. As khairul
- lakum itu lebih baik bagi kita. Coba
- ajaran Islam luar biasa.
- Karena
- itulah adab.
- Beda ketika masuk ke rumah sendiri.
- Mengucapkan sa salam tuh. Nah sekarang
- bagaimana dalam rumah? Masyaallah, maka
- disebutkan di sini wa bayyana anna fi
- dzalikal khair kullu khairul lahum jadi
- baru aturan adab untuk bertamu, untuk
- memasuki rumah dengan mengucapkan salam
- itu adalah kebaikan dan kebaikan bagi
- mereka. Masyaallah.
- Fa in lam yajidu fiha ahadan raja'u,
- kalau tidak mendapatkan siapa-siapa
- dalam rumah mereka pulang.
- Iya kan, itu aturan yang kemarin.
- Lima dzalika minal kabiril atsar bil
- mujtama' al islami, yang demikian itu
- adalah
- pengaruh yang sangat besar untuk
- kebaikan dalam masyarakat Islam.
- Istasna fi hadihil ayat ad dukhul aqarib
- ba'dahum ala ba'd.
- Dan ayat ini secara khusus, ya kan,
- bagaimana mengatur
- tentang interaksi dalam berumahtangga
- itu.
- Nah, ini disebutkan oleh tafsir Al
- Maraghi.
- Maka kita terjemahkan dahulu Mas Agus
- nih. Ini yang menjadi landasan kajian
- kita tentang aturan di dalam rumah.
- Diawali dengan
- kalimatun nida.
- Kalimatun nida itu seruan, seruan yang
- sangat indah.
- Ya ayyuhalladzina amanu.
- Hai orang-orang yang beriman.
- Liyastadzinkum.
- Nah, ini menggunakan fi'il amar, artinya
- perintah, hendaknya meminta izin kepada
- kamu.
- Nah, ini kan, hendaknya meminta izin
- kepadamu.
- Alladzina malakat aimanukum. Siapa yang
- hendaknya di meminta izin kepada
- orang-orang yang beriman dalam rumah
- tangganya?
- Alladzina malakat aimanikum, orang-orang
- yang menjadi malakat. Menjadi hamba
- sahaya.
- Dalam tafsir sini
- eh disebutkan aimanukum yasyamilul abid
- wal ima aidz dzukron wal inats.
- Yaitu
- eh pembantu apa budak, baik dia
- laki-laki maupun perempuan. Abid wal
- ima.
- Nah,
- kalau dalam tafsir mutaakhirin, eh bisa
- saja di sini dimaknakan pembantu rumah
- tangga. Termasuk dalamnya harus
- mengikuti aturan ini.
- Yastadzim.
- Nah, pembantu rumah tangga atau budak
- yang dimiliki oleh kaum muslimin
- liyastadzim, hendaknya mereka ketika
- berada di rumah tuannya itu meminta
- izin.
- Meminta izin.
- Ya.
- Walladzina lam yablughul huluma minkum.
- Dan yang diminta untuk selalu minta izin
- juga adalah orang-orang yang di sana
- anggota keluarga itu lam yablughul hulum
- yang belum mencapai usia baligh.
- Al hulum. Maka di sini
- al hulum bi makna ay waktul bulugh. Imma
- bil ihtilam wa imma yablughul khamisata
- asyrota sanah min halimin bifathil lam.
- Ah, halam, halam, hulam, hulam.
- Bifathil lam dengan fathahnya lam
- kalimat hulum.
- Yang dimaksud di sini belum baligh itu
- bisa dengan mimpi, mimpi yang kemudian
- mengeluarkan ya bermimpi artinya tanda
- dewasa.
- Dewasa gitu.
- Mimpi basah ya.
- Atau kesepakatan para ulama hulum itu
- menurut adat, menurut kebiasaan yang
- dihitung oleh para ulama.
- Dan ini juga kemudian menjadi pendapat
- jumhur ulama hulum itu ya saat usia 15
- tahun. Nah, itulah rata-rata, rata-rata.
- Jadi
- para ulama terdahulu sehingga menjadikan
- jumhur ulama ini memilih ya kira-kira
- usia 15 tahun.
- Walaupun bisa saja kasus adanya
- anak-anak sebelum usia itu sudah mimpi
- basah.
- Atau anak-anak wanita sebelum usia itu
- sudah haid dan seterusnya itu hulum
- jadi.
- Nah, bagi anak-anak kita yang belum
- mencapai baligh itu pun hendaknya
- meminta izin kepadamu. Nah.
- Maka ayat ini dengan seruan nida
- sebagian ulama menyebutkan khitab yang
- diajak bicara ayat ini siapa? Nah, ada
- yang mengatakan pembantu, ada yang
- mengatakan tadi anak-anak. Tapi ketika
- menafsirkan masing-masing ya jumhur
- ulama lagi-lagi memilih kepada makna
- awal saja. Ya ayyuhalladzina amanu,
- artinya khusus, ya.
- Artinya bermakna am, artinya bermakna
- am, umum. Semua orang-orang yang
- beriman, baik laki-laki maupun
- perempuan, ya, kan?
- Walaupun pada aturan-aturan ini nanti
- kaitannya lebih banyak kepada wanita.
- Nah,
- berarti ini inas, wanita kepada inas
- mukmin, wanita-wanita mukmin. Tapi
- dilihat dari
- bentuk ayat awalnya, ya ayyuhalladzina
- amanu,
- para ulama mufasirin jumhur ee mengambil
- makna bimana am, khusus semua yang
- mukmin, apakah dia laki-laki maupun
- perempuan. Mengapa demikian?
- Karena pada ayat ini, pada ayat ini,
- perintah izin belum dikatakan perintah
- wajib atau bukan dikatakan perintah
- wajib.
- Tapi izin di sini bermakna bimbingan,
- pengajaran, dan pendi pendidikan. Nah,
- bimana pendidikan.
- Makanya siapa yang berkewajiban
- menerapkan pembinaan, pendidikan, dan
- pengajaran, tentu orang-orang yang
- beriman yang dalam rumah itu dikatakan
- sebagai
- sebagai kepala rumah tangga, orang-orang
- yang beriman, begitu. Maka kalimat
- liyastadzim walaupun bentuknya fi'il
- amar dengan lam amar, liyastadzim,
- hendaknya meminta izin.
- Perintah hendaknya meminta izin. Tapi
- meminta izin di sini nanti ada
- keterangan ayat berikutnya, karena
- kalimat perintah di sini disebutkan
- dengan falaitsa alaikum junah, itu
- menunjukkan bahwa di sini adalah izin
- dalam rangka mendidik, izin dalam rangka
- mmm apa? Pembelajaran
- dan bimbingan, dan bimbingan. Itu jelas
- sekali pada ayat ini. Jadi,
- bagaimana peran izin itu menjadi bagian,
- karena memang kalau dilihat secara apa?
- Secara ilmu pendidikan
- sebenarnya dalam mendidik itu
- ikhlas,
- dengan latar belakang keikhlasan atau
- keterpaksaan?
- Keikhlasan.
- Keikhlasan apa keterpaksaan?
- Ayo.
- Mendidik.
- Mendidik.
- Oh, keterpaksaan.
- Keterpaksaan. Begitu.
- Karena anak dengan diberi secara
- bertahap, kemudian sesuai dengan
- kemampuan, memang dipaksa. Dipaksa untuk
- patuh.
- Dipaksa untuk teratur.
- Heeh.
- Karena kalau berdasarkan kepada
- keikhlasan,
- siapa ada anak yang ikhlas bangunnya
- lebih pagi
- Heeh.
- dari kebiasaannya? Enggak, saya enggak
- ikhlas.
- Apa ada anak yang ikhlas suruh mandi
- lebih pagi?
- Padahal sebelumnya kalau tidak dia
- sekolah, tidak pagi.
- Artinya memang di aturan itu menjadi
- bagian membiasakan untuk terdidik, untuk
- teratur. Nah, itu dalam pendidikan.
- Kalau yang mendidik harus ikhlas.
- Iya.
- Tapi proses dalam pendidikan itu anak
- supaya dia terdidik, teratur, itu menja
- melalui
- proses
- proses
- pemaksaan
- pemaksaan.
- Walaupun dalam kata kutip, tanda petik
- ya, dipaksanya tanda petik. Masya Allah,
- begitu.
- Begitu sampai di sekolah
- terlambat lima waktu, nah, di warning.
- Ayo, berdiri depan. Itu dalam rangka
- begitu besok dia akan protes sama
- ayahnya ya, "Jangan sampai terlambat
- bangun." Nah, itu namanya dipaksa untuk
- mendidik. Nah, begitu kira-kira.
- Beda dari efektifnya begitu.
- Ah, itulah.
- Maka bagi umat Islam kalau ingin menjadi
- muslim yang terdidik, nah, terdidik
- dalam artian
- eh, mampu menjalankan
- peraturan syariat Allah dengan baik, ya
- harus memaksa dirinya.
- Begitu. Harus memaksa dirinya.
- Baca Quran berat.
- Heeh.
- Karena ini supaya menjadi kebiasaan,
- menjadi terdidik, harus dipaksa, begitu
- ya.
- Tahajud malam, berat. Nah.
- Kalau tidak untuk di ya dipaksa dirinya
- untuk menjadi kebiasaan, tidak akan
- pernah terjadi. Nah, itu namanya.
- Maka, pada ayat liyastadzinkum,
- itu sesungguhnya perintah.
- Kalau kita kembalikan kepada kaidah
- ushul gitu, al amru fil ashli wajib, ya
- kan.
- Namanya perintah, asalnya itu wajib.
- Tapi kalau ada qarinahnya, di sini ada
- qarinah laisa alaikum junahun, itu
- qarinah namanya. Artinya, perintah di
- sini bukan perintah wa wajib, tapi
- perintah sun sunnah. Karena tujuannya
- adalah tadi, membimbing, mengajar, dan
- mendidik.
- Nah.
- Bagaimana anak itu punya aturan.
- Kalau kita baca beberapa tafsir
- seumpama, contoh yang tafsir
- mutaakhirin.
- Dalam apa dalam dalam fi zilalil Qur'an
- seumpama. Kita akan dapati di sana,
- sebagian analisa ternyata.
- Secara psikologi modern, psikologi
- termodern.
- Anak ini juga amat sangat dipengaruhi
- dengan apa-apa yang mereka lihat ketika
- masa kecil.
- Dalam rumah tangga, tuh.
- Masya Allah.
- Makanya kan ada istilah kalau mendidik
- berantem sama suami pasangan sedang
- tidak ah tidak ada masalah, jangan di
- depan anak-anak.
- Karena ini akan mempengaruhi secara
- psikologis tentang bagaimana nanti anak
- ketika dewa dewasa, masya Allah. Nah,
- ini juga termasuk. Bagaimana didikan
- dalam rumah tangga, keteraturan gitu ya,
- adab, etika, itu itu akan membekas pada
- dirinya sampai dia dewa dewasa, coba.
- Masya Allah, betapa indahnya.
- Belum diperoleh aturan yang sedemikian
- detail, kecuali dalam Islam.
- Lalu bagaimana Ustadz dengan anak-anak
- yang tidak mau dipaksa?
- Ah, ini. Makanya tanda petik tadi
- kata-kata paksa itu tanda petik.
- Nah, bagaimana? Nah, ini dituangkan
- dalam.
- Aturan, dituangkan dalam apa ya? Dalam
- tata tertib, diatur lah dia. Nah, begitu
- kira-kira.
- Dengan bahasa ya tidak seperti apa ya?
- Eee
- top down tidak. Tapi bagaimana
- bersahabat tapi di dengan bahasa yang
- asertif dan komunikatif itu seakan-akan
- tidak memaksa tapi itu menjadi aturan.
- Kalau tidak bisa begitu, ya coba
- sekarang seperti sekolahan.
- Memberi aturan anak-anak kan itu enggak
- enggak semacam tadi dipaksa. Bahasa nya.
- Setiap masuk jam 07.00 pagi. Nah, kan?
- Masya Allah ini baru kelas 1 tadinya
- kalau bangun jam 07.00 gitu seumpama kan
- Subhanallah walaupun nanti ada hadis
- muru auladakum bisholah, ya kan?
- Eee ajari anak-anak kalian ketika masih
- kecil sab'a sana
- sab'a sanawat 7 tahun itu sudah dilatih
- ya.
- Tapi tidur lagi gitu seumpama tidur
- lagi. Nah, dia bisa bangun jam 08.00.
- Nah, sekarang begitu masuk sekolah
- anak-anak mulai masuk jam pelajaran jam
- 07.00. Maka jam 07.00 kurang 10 sudah
- sampai di sekolahan. Loh, itu bagi
- anak-anak bukan pemaksaan.
- Gitu kan bukan pemaksaan dia merasa wah
- ini yang baru ini yang baru. Walaupun
- berat, nah ini namanya aturan.
- Jadi yang makanya dalam tanda petik tadi
- dipaksa itu.
- Nah, jadi sebenarnya ya proses begitu.
- Tidak hanya ketika waktu anak-anak,
- ketika kuliah juga kan sebenarnya unsur
- pemaksaan. Siapa yang mau bikin makalah
- kemudian enggak ada.
- Yang mau itu kalau kita ini namanya
- belajar ya kan? Belajar itu maunya itu
- yang enak yang cepat pintar. Nah, kan
- kira-kira begitu.
- Yang enak yang cepat pintar. Menghafal
- Quran itu maunya enggak menghafal
- tahunya sudah hafal. Begitu. Enggak ada
- yang susah.
- Enggak mau kerja tapi
- Enggak mau kerja tapi nah, begitu
- kira-kira. Nah, termasuk masuk kuliah
- pun harus dipaksa dengan bahasa apa?
- Kalian sekarang sudah tidak lagi seperti
- SMP dan SMA ya kan?
- Metode pelajaran kita adalah dengan
- banyak membaca, banyak buku, banyak
- literasi, gitu kan?
- Maka buatlah masing-masing makalah. Nah,
- kan dipaksa itu untuk membuat. Yang
- tadinya enggak mau menulis jadi nulis,
- ya kan? Dibagi per tema. Walaupun
- dikasih tahu sebenarnya pemaksaan.
- Lihat rujukannya buku ini, buku ini,
- buku ini, tema tentang ini. Nah, kan?
- Dipaksa. Terpaksa dia ngetik dan
- menulis. Nah.
- Enggak terasa saja gitu.
- Nanti ketika sudah pintar,
- "Oh, begini proses belajar." Nah, begitu
- kira-kira. Nah, sekarang bagaimana
- mendekatkan anak itu kepada Alquran
- tidak hanya dalam ranah belajar,
- membaca, tahsin, hafal, tapi bagian dari
- Alquran itu penerapan salah satu
- akhlaknya juga diajarkan sejak ke kecil.
- Masyaallah.
- Sebelum dewasa, sebelum balig di sini
- disebutkan. Masyaallah.
- Salasa marrot, tuh. Aturannya ini belum
- semuanya. Salasa marrot.
- Baru tiga waktu saja.
- Tiga kali izinnya nih.
- Jadi kalau
- mau apa? Mau masuk ke kamar orang tua,
- tiga kali.
- Tuh, kan waktunya kan 24 jam. Ini tiga
- kali yang di Kan batasannya begitu. Ini
- namanya belum hulum.
- Belum
- Belum dewasa.
- Nah.
- Apa kemudian? Min qobli sholatil fajri.
- Pertama, hendaknya ia izin masuk ke
- kamar orang tua sebelum waktu fajar,
- waktu subuh.
- Jelas kan? Aturannya jelas sekali. Waktu
- subuh.
- Wahina tadauna siyakum min dzohiroh.
- Yang kedua, waktu saat
- kalian menanggalkan pakaian.
- Minadzohiroh umumnya setelah waktu salat
- dzuhur.
- Wamin ba'di sholatil isya, dan yang
- ketiga, waktu salat Isya.
- Salat waktu aurat ilakum. Itulah tiga
- waktu aurat. Nah, disebutkan tiga kali
- do izin ini, itu waktu-waktu au aurat.
- Waktu-waktu aurat.
- Masya Allah.
- Laisa alaikum juna, alaisa alaikum wala
- alaihim junahun ba'dahum.
- Nah, ditegaskan di sini. Walaupun tadi
- kan kok perintah kok jadi bukan wajib,
- tapi sunah karena di laisa alaikum wala
- alaihim.
- Tidak mengapa?
- Tidak alaikum atas kalian dan juga tidak
- atas mereka junahun menjadi satu dosa
- ba'dahuna selain tiga ini. Nah,
- masya Allah. Ini yang menunjukkan bahwa
- junahun laisa alaikum wala alaihim
- junahun ini menjadikan perintah itu
- perintah posisinya sun sunah ba'dahum.
- Tawwafuna alaikum ba'dukum ala ba' Nah,
- karena tiga waktu selain tiga waktu itu
- tawwafun
- namanya pelayan namanya anak-anak itu
- kan orang-orang yang selalu hilir mudik
- masuk keluar masuk keluar alaikum atas
- kalian ba'dukum ala ba'din iya kan?
- Masuk ke kamar bapak, masuk ke kamar ibu
- gitu kan? Atau pelayan yang untuk
- melayani untuk kasih makan, kasih minum
- dan seterusnya itu sangat menyulitkan
- jika seluruh waktunya.
- Maka di sini ada dua pembahasannya.
- Pertama
- untuk para pelayan.
- Nah, untuk para pelayan
- tiga waktu aurat itu berlaku selamanya.
- Di sini tiga aurat tadi.
- Pelayan di sini pembantu begitu
- Pembantu kalau kita terjemahkan
- pembantu, tapi kalau ngelihat ayatnya
- sebenarnya
- malaikat apa? Malakat aimanukum itu
- artinya artinya adalah budak.
- Budak. Malakat aimanukum.
- Tapi sekarang enggak ada budak Ustaz.
- Iya, enggak ada ya. Makanya masuk dalam
- kategori pembantu karena dia yang
- melayani tuannya.
- Melayani tuannya. Nah, untuk mereka ini
- waktunya tetap itu menjadi ketapan. Beda
- ketika nanti anak-anak ini. Nah.
- Maka kemudian Allah terangkan,
- "Kadzalika yubayyinullahu lakumul ayat,
- wallahu alimun hakim." Demikianlah Allah
- jelaskan ayat-ayatnya, kebesaran tanda
- kebesarannya, alimun hakim dalam aturan
- itu Allah Maha Mengetahui lagi Maha
- Bijaksana. Aturan yang sangat indah.
- Ustaz, kenapa mesti tiga kali
- kesempatan? Subuh,
- He eh.
- tengah hari, kemudian petang.
- Nah, itu salah satu aurat.
- Malam.
- Nanti kita akan bedah tentang asbabun
- nuzulnya nih.
- Boleh, Ustaz.
- Asbabun nuzulnya.
- Nah, dalam da dalam tafsir Al-Maraghi
- diterangkan di sini,
- "Ruwiya anna sababan nuzulil ayat."
- Diriwayatkan bahwa sebab turunnya ayat
- ini,
- "Anna Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam ba'atsa waqta dzahirah ila Umar
- bin Khattab radhiallahu anhu laman minal
- Anshar yuqallahu Mudlij."
- Suatu ketika, Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam memerintahkan ghulam,
- seorang anak-anak, seorang anak
- untuk menemui, untuk bertemu Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam eh untuk
- menemui Umar bin Khattab setelah salat
- dzuhur, di rumahnya.
- "Yuqallahu Mudlij." Namanya ada yang
- menyebut dia namanya Mudlij.
- "Wakana Umar naiman fadaqqa alaihil bab
- wadakhala."
- Nah.
- Ketika anak ini datang ke rumah Umar bin
- Khattab atas perintah Rasulullah, Umar
- sedang tertidur. Ini waktu dzuhur nih,
- dzahirah.
- Tadi disebutkan waktu dzuhur itu apa?
- Nah.
- Waktu tidur.
- "Wahina tadha'una tsiyabakum."
- Waktu dzuhur itu umumnya waktu kita
- menanggalkan pakaian untuk istirahat.
- Ketika anak itu tiba, daqqa, dia
- mengetuk pintu, wadakhala, kemudian
- masuk.
- "Wastaikadzha wajalasa."
- Sehingga Umar karena ketukan itu dan
- masuknya anak itu, terkejut dia bangun
- dan duduk.
- "Fankasyafa minhu sayyi.
- Maka tersingkap
- aurat.
- Mmm.
- Nah, jadi dilihat oleh anak itu.
- Auratnya Umar.
- Auratnya Umar.
- Waqola, kemudian beliau berkata,
- lawudit annallah ta'ala naha abana wa
- abnaana wa khodimana an dukhuli alaina
- fi hada sa'ah illa bi.
- Fantolaqoma.
- Dia ya?
- Anda, alangkah indahnya kalau
- Allah
- menurunkan ayat-ayat yang mengatur
- tentang
- ini. Di mana para pembantu khususnya
- anidukhuli alaina
- dilarang untuk atau ada aturan untuk
- masuk pada waktu-waktu seperti ini
- dengan izin Allah.
- Fantolaqomahu ila nabi sallallahu alaihi
- wasallam.
- Nabi, maka kemudian Umar bin Khattab
- pergi bersama gulam itu
- kepada Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam.
- Fawajadal ayah, kemudian beliau
- mendapatkan ayat qot nazala.
- Fakhara sajidan.
- Kemudian padahal tadi di rumah Umar baru
- baru apa? Bergumam. Baru menga andaikan
- ada aturan.
- Mmm.
- Gitu ya. Enggak boleh bludas-bludus
- bludas-bludus gitu kan. Seperti ini gitu
- kan. Masya Allah, seandainya Allah
- menurunkan ayatnya tentang aturan ini
- sangat ini. Eh, begitu dia sampai kepada
- Rasulullah ternyata belum disampaikan
- sudah turun ayat ini. Masya Allah,
- fakhara maka kemudian beliau khara
- langsung sajidan.
- Apa artinya? Tunduk dan kemudian sujud,
- tanda syukur. Alhamdulillah sudah ada.
- Wa ada dua fiqot ra'yatu shohib
- radhiyallahu anhu wahai ini salah satu
- tentang kelebihan Umar bin Khattab
- tentang
- turunnya ayat.
- Banyak banyak sebab-sebab nuzul tentang
- ayat itu karena ya tadi ada saran dari
- Umar, ada
- apa? Harapan dari Umar salah satunya
- ini. Ini termasuk ayat yang berkaitan
- tentang keinginan Umar dikabulkan oleh
- Allah subhanahu wa ta'ala.
- Begitu ya, ini sebab-sebab nuzul.
- Ada lagi yang lebih masyhur, ini sebab
- nuzul adalah marwiyah min anna asma
- bintu abi mursyid dakhola alaiha ghulam
- kabirullah.
- Fi waqti
- karahat dukhuluhu fihi fa'atat
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- faqalat inna khadimana wa ghulamana wa
- ghulamanina
- yadkhuluna alaina fi halin nukriha
- nukarihuha fanuzilat ayat.
- Nah, ini kasus ini berkaitan tentang
- Asma binti Mursyid.
- Nah, yang dia sangat prihatin karena
- selalu bludas-bludus masuk nah, begitu
- kan, kepadanya ghulam yang namanya anak.
- Ya kan, ghulamun
- kabirulaha fi waqti karih, dalam
- waktu-waktu yang dia sendiri tidak
- senang kalau ada orang yang masuk pada
- waktu itu.
- Ya kan, maka ia datang kepada Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam dan berkata
- dia ceritakan tentang kasus itu,
- kemudian turunlah ayat ini.
- Nah, jadi ketidak senangan Asma binti
- Mursyid anak-anak
- maupun para pembantunya yang masuk-masuk
- padahal itu adalah waktu-waktu yang
- Nah, ini pernah saya sampaikan di sini
- bahwa memang tradisi orang Arab dulu itu
- di rumah ada semacam tirai, semacam
- pintu, jadi sehingga namanya anak-anak
- itu ya tadi sangat mudah untuk masuk.
- Nah, makanya dalam kondisi semacam itu
- turunnya ayat ini menjadi aturan yang
- indah
- dalam rumah tangga umat Islam saat itu
- pertama adalah mengantisipasi tadi salah
- satu aurat.
- Maka turunlah ayat ini, itu kalau
- dilihat dari asbabul nuzul.
- Baik.
- Maka bagi anak-anak
- itu ketika khulum dia dibatasi dengan
- tiga kali saja dia izin
- pada waktu-waktu aurat. Tapi bagi para
- para apa, malakat aimanukum, khadim itu
- selamanya itu jadi tiga tiga waktu.
- Baik, Ustaz saya ingin bertanya, Ustaz.
- Iya.
- Tentang anak-anak. Eee
- ayatnya sungguh indah, Ustaz. Dan memang
- seperti inilah adab di dalam eh rumah
- tangga.
- Iya.
- Adab di dalam rumah bagi anak-anak. Tapi
- melihat fakta yang ada sekarang, seperti
- misalnya begini.
- Banyak rumah-rumah petakan atau
- rumah-rumah kontrakan gitu.
- Heeh.
- Nah, kadang-kadang mereka hanya satu
- kamar.
- Betul, iya.
- Jadi, di kamar itu buat tempat tidur,
- kadang buat masak.
- Iya.
- Kalau mandi di luar, mohon maaf. Atau
- ada tiga-tiga petak. Ada kamar tamu, ada
- kamar tidur, terus kemudian ada eh kamar
- mandi. Tapi tetap
- Heeh.
- tidak ada tirai ataupun tidak ada
- Heeh.
- eh pintu yang menghalangi. Nah, ini
- bagaimana dengan kondisi saat ini,
- Ustaz?
- Alhamdulillah, pertanyaannya. Maka kita
- bahas sesuai dengan ayat ini.
- Itu ya dengan kehendak Allah setelah
- kemarin anjuran untuk menikah. Iya kan,
- kemarin kan sudah kita bahas tentang
- anjuran untuk menikah.
- Dan salah satu motivasi kenapa
- dianjurkan untuk menikah, "Iyaakunu
- fuqaraa, yughnihimullah."
- Heeh.
- Jika mereka ketika mau menikah itu masih
- dalam kondisi miskin, nanti Allah akan
- kayakan.
- Heeh.
- Itu sudah menjadi janji Allah.
- Nah, sekarang proses anu, kondisinya
- adalah ketika sudah menikah masih dalam
- keterbatasan.
- Artinya itu secara khusus dia punya
- rumah kecil atau berada dalam satu rumah
- yang nyewa kecil dan di situ tidak
- sangat minim tentang batasan-batasan itu
- kecuali hanya tirai semacam kain, gitu
- kan.
- Iya.
- Masyaallah. Nah, inilah dulu prosesnya
- di masa masa ayat ini turun.
- Oh, Subhanallah.
- Ternyata orang Arab dulu
- Nah.
- belum ada tirai yang yang anu, artinya
- belum ada pintu yang permanen.
- Tapi orang Arab dulu ngontrak juga,
- Ustaz?
- Nah, enggak. Memang begitu kondisi
- rumahnya, terbuka.
- Iya.
- Masyaallah. Sehingga dengan aturan ini
- minimal ini menjadi pintu pertama
- sebelum pintu yang sesungguhnya secara
- zahir.
- Tapi bagaimanapun inilah aturan.
- Makanya dengan tadi, seumpama jika hanya
- terhalang dengan apa ini? Dengan tirai.
- He em.
- Tapi kemudian disosialisasikan bagaimana
- adab etika dalam rumah. Itu sudah
- menjadi sudah menjadi apa? Pintu itu
- sudah luar biasa. Apalagi sudah
- disampaikan tentang itu, adab itu sudah
- dilaksanakan, sudah berjalan dalam rumah
- tangga, plus rumah itu juga berpintu
- permanen. Wah, itu lebih hebat lagi.
- Subhanallah. Jadi andaikan tidak
- permanen, perhatikan yang dikeluhkan itu
- kan.
- Iya.
- Tapi kemudian baru pada pintu-pintu
- aturan ini, waduh luar biasa.
- Subhanallah.
- Nah, jadi
- Ayolah, ya ini bagian dari apakah kita
- sudah sempurna? Belumlah, justru kita
- ini ingin memperbaiki dalam agama kita.
- Adab pertama dari rumah tangga kita.
- Inilah ayatnya yang begitu indah. Masya
- Allah.
- Maka Subhanallah surat An-Nur ayat 80
- 58, 59 dan 60 ini mengajarkan tentang
- itu.
- Seandainya kaum muslimin dia eh belum
- sampai atau eh tidak sempurna dalam
- melaksanakan ayat ini, apakah mereka
- berdosa Ustaz?
- Nah, makanya tadi
- Bagaimana pertanyaannya?
- Dalam ayat ini apakah perintah untuk
- meminta izin itu hukumnya wajib?
- He em.
- Atau sunah?
- He em.
- Nah, makanya tadi kita bahas. Itulah
- kaitannya tentang pertanyaan itu.
- Karena orang-orang yang beriman, dia
- akan menjadikan
- ayat itu tanda keimanannya itu tertegur
- dia.
- Ternasehati dia, ya kan? Ya Allah,
- ternyata indah sekali.
- Kenapa masih belum bisa aku lakukan
- dalam rumah tangga? Sehingga pertanyaan
- kan dosakah saya?
- He em.
- Kalau tidak melakukan?
- Makanya ayat ini kita bahas. Kalimat
- perintah pada liasta'zinkum
- yang menunjukkan perintah untuk meminta
- izin ternyata di sini bukan perintah
- wajib.
- Yang ketika tidak terlaksana atau tidak
- terlaksana secara sempurna atau mungkin
- belum dilaksanakan itu menjadi dosa.
- Gitu kan, makanya kenapa ada laisa
- alaikum junah, laisa alaikum wala
- alaihim junah. Iya, tidak ada dosa bagi
- kamu dan bagi mereka ba'dahuna.
- Masya Allah, artinya menunjukkan bahwa
- perintah di sini adalah perintah sun
- sunnah.
- Karena dimensinya lebih kepada
- bimbingan, pengajaran dan pendidikan.
- Subhanallah. Jelas ya?
- Jelas.
- Nah, itu yang pertama. Jadi
- kalaupun belum secara teknis
- memungkinkan diterapkannya ayat ini, ayo
- kita justru membangun secara ilmu,
- secara norma, secara akhlak
- pintu-pintu yang permanen dalam hati.
- Nah, kira-kira begitu. Pintu-pintu yang
- permanen dalam hati melalui ilmu. Nah,
- Nak, Nak, Nak, kan begitu. Ini kan yang
- di siapa tadi yang menjadi khitab?
- Memang yang menjadi khitab di sini
- adalah jelas ya ayyuhalladzina amanu
- tadi jumhur ulama sudah menyebutkan
- secara umum itu. Oh, artinya ini adalah
- kewajiban. Bagaimana sebagai tujuan
- membentuk anak yang saleh itu
- mendekatkan anak kepada bacaan Alquran.
- Baik bacaan dalam makna lafdhiyah maupun
- mem apa mendekatkan pada aturan-aturan
- yang ada dalam Alquran. Subhanallah,
- betapa indahnya ayat ini kan.
- Nah, jadi
- nah, jadi kalaupun
- akhlak atau aturan adab ini sudah
- dikomunikasikan dengan baik, sudah di
- apa, sudah ditanamkan secara baik. Masya
- Allah, di manapun dalam kondisi seperti
- apapun situasinya, bagaimanapun juga itu
- sudah menjadi pintu-pintu dalam hati dan
- dalam pikirannya, menjadi etika.
- Nah, sehingga nanti muncul apa sih makna
- akhlak? Nah, kan begitu kan. Makna
- akhlak itu bukan satu perbuatan yang
- dilakukan dengan pertimbangan matang
- tidak. Justru yang dikatakan akhlak itu
- jika tertanam dalam dirinya sesuatu yang
- tidak lagi berpikir panjang, tapi memang
- sudah membentuk pada dirinya. Oh, ini
- waktu enggak boleh.
- Coba sampai begitu kira-kira, itu
- namanya akhlak.
- Jadi, kalau seumpamanya eh anak gitu,
- secara reflek mau masuk, "Uh, ini waktu
- enggak boleh." Nah, gitu luar biasa itu.
- Jadi, kata-kata akhlak itu bukan sesuatu
- yang dia masih di dalam tuntunan, masih
- dia berpikir, mempertimbangkan, itu
- bukan belum akhlak namanya.
- Tapi, kalau kita kaji secara mendasar,
- apa itu akhlak, definisi akhlak? Sesuatu
- hai'at, satu kondisi yang tidak lagi
- berpikir panjang, tapi reflek, itu
- akhlak.
- Nah, jadi
- Di sini pendidikannya bukan hanya untuk
- anak, tapi juga untuk orang tua, Ustaz.
- Orang tua, betul. Orang tua itulah yang
- berperan sebagai pendidik. Dan bagaimana
- dia mensosialisasikan
- adab, akhlak dalam di rumah tangga itu
- kepada anak-anak, di sinilah perannya.
- Dan itu sudah menjadi pelajaran dan
- pahala yang luar biasa.
- Iya.
- Masya Allah. Lanjut, ya.
- Lanjut, Ustaz.
- Wa idza balaghal atfalu minkumul huluma.
- Nah.
- Apabila anak-anak yang tadi tiga kali
- itu, waktu untuk minta izin, telah
- mencapai huluma, nah, balig.
- Falyastadzinu kamastadzanal ladzina min
- qablihim.
- Maka, hendaklah dia
- diterapkan hukum seperti orang dewasa di
- dalam ru- rumah. Tidak lagi kenal waktu
- tadi. Nah, coba sekarang.
- Jadi, kalau sudah dewasa, sudah huluma,
- itu tidak lagi ada waktu bada salat
- Isya, waktu menjelang sebelum subuh,
- waktu bada zuhur, tidak. Tapi, setiap
- waktu dia harus minta izin kepada orang
- tua untuk masuk ke dalam rumahnya,
- kamarnya. Subhanallah, setelah dewasa.
- Ini kan pertimbangannya, ayolah.
- Inilah aturan Allah yang amat sangat
- indah
- dalam berumah tangga. Masya Allah.
- Kalau kemudian anak-anak kita, itulah PR
- bagi kita.
- Jangankan Ustaz, anak-anak yang masih
- kecil, yang masih dewa yang sudah dewasa
- saja masih belum tahu. Nah, itulah
- kewajiban kita. Makanya ayat itu kita
- baca, kita bedah untuk menjadi aturan
- kita ber bersama. Subhanallah, aurat.
- Salat aurat.
- Bagi anak-anak yang lam yablughul hulub
- tiga waktu itu adalah waktu aurat.
- Ini anak-anak yang diwajibkan dengan
- tiga waktu subuh,
- kemudian siang hari dan malam hari ini
- anak-anak usia berapa tahun sampai
- berapa tahun?
- Sebelum sebelum sebelum baligh.
- Seperti yang tadi itu, Ustad.
- Betul betul ya.
- Nah, itu mazhab Imam Syafi'i dan jumhur
- ulama itu ya kira-kira usia 15 tahun.
- Tadi.
- Nah, ketika wa idza balaghul atfalu
- minkumul hulub
- apabila anak-anak yang tadi itu gitu
- kan, sudah mencapai baligh. Nah,
- falyastadzim kamastadzim
- hendaknya setelah itu mereka meminta
- izin sebagaimana orang-orang dewasa
- meminta izin.
- Jadi berlaku untuk semua waktu.
- Semua waktu. Subhanallah. Betapa ini
- bertahap kan. Jadi tak kita oh
- tahapannya begini. Masya Allah memang
- betul tidak ada sesuatu yang
- menjadi bagian hidup kecuali ya
- dia memang ya di apa dibidik secara
- terus-menerus dan kontinu.
- Sebagaimana ajaran Rasul bagaimana
- menjadikan waj'al ya robbi aj'alni
- muqimasholah itu mulai dari 7 tahun
- He em.
- 10 tahun, baru 12 tahun setelahnya kan
- sampai begitu tahapannya ya kan.
- 7 tahun anak-anak ketika bisa diajak
- komunikasi bahkan kalau Umar bin Khattab
- sudah tahu namanya kanan kiri itu sudah
- mulai diajarkan kan.
- He em.
- Umar bin Khattab tapi kalau hadis Nabi
- kan
- sab'u sanawat ya. 7 tahun kemudian boleh
- dipukul pukul dalam makna pendidikan
- ketika 10 tahun
- atau bahkan 12 tahun kemudian ketika
- wajib. Artinya memang berangsur. Masya
- Allah bertahap bagaimana kondisi itu
- dibentuk secara bertahap. Aturan-aturan
- itu. Masya Allah kalau berjalan indah
- sekali.
- Ehm.
- Nah, ini kan boleh jadi
- eh kerusakan-kerusakan akhlak, kemudian
- apa?
- Masyaallah ini kan karena ini tadi, ya
- kan. Contoh saja sekarang kenapa orang,
- ya kan. Kenapa orang sekarang begitu
- gencar, artinya menjaga anak-anak dari
- pandangan pornografi, ya kan. Dari
- melihat pornografi. Baik melihat melalui
- media massa dan seterusnya. Nah, dalam
- Alquran coba kita bayangkan preventifnya
- luar biasa.
- Ya kan. Jadi pornografi yang mungkin
- hari ini bisa saja dihadirkan lewat
- dunia maya, justru diantisipasi betul
- dalam berumah tangga.
- Karena secara psikologi apa yang dia
- lihat ketika belum balig itu sangat
- mempengaruhi. Coba bayangkan.
- Dan bahkan bisa menjadikan krisis besar.
- Nah.
- Ini luar biasa nih.
- Subhanallah. Kenapa anak-anak sekarang
- sangat dijaga betul supaya tidak melihat
- hal-hal yang haram untuk mereka lihat,
- apalagi sebelum dewasa. Dewasa. Itu kan
- bisa merusak semua.
- Merusak pikirannya, merusak khayalannya,
- merusak daya pikirannya, merusak
- kejernihan jiwanya, merusak kejernihan
- pikirannya. Wah, bahaya sekali.
- Karena anak-anak lebih cepat nangkap,
- Ustaz.
- Nah, lebih jangankan anak-anak yang
- dewasa saja kalau melihat yang tidak
- benar itu
- hilang apa?
- Hilang satu ayat.
- Hilang bukan
- Hafalannya.
- Bukan satu, hilang apa? Apa?
- Menghilangkan penglihatan itu kan lama
- prosesnya.
- Teringat terus.
- Nah, itu. Kan di mana daya tarik
- syahwatnya ada, syaitonnya juga
- menggoda. Coba. Ini yang dewasa,
- kira-kira.
- Ehm.
- Apa? Dan yang sudah berkeluarga. Lah,
- apalagi kalau itu anak-anak. Coba.
- Makanya tadi secara psikologi, saya baca
- ini dalam tafsir Fi Zilalil Quran.
- Ternyata apa yang mereka lihat pada masa
- kanak-kanak itu akan
- berpengaruh besar ketika dia dewasa.
- Masyaallah.
- Allah.
- Coba. Ini termasuk hal-hal yang sifatnya
- preventif, 14 abad yang lalu. Bagaimana
- anak-anak itu terlindungi dari hal-hal
- yang mestinya tidak ia lihat, bisa dia
- lihat.
- Lalu bagaimana ketika anak-anak, mungkin
- di luar tema Ustaz, ketika anak-anak
- melihat sesuatu yang tidak pantas di
- sekarang zaman now gitu, anak-anak
- kadang anak-anak kecil itu mereka lebih
- suka memegang gadget atau sudah dikasih
- gadget sama orang tuanya atau mereka
- melihat sesuatu yang tidak pantas di
- layar kaca misalnya.
- Nah, itu bagian dari
- kan
- salah satu mukjizat Alquran itu kan
- sumber ilmu, termasuk mengantisipasi
- hal-hal yang jauh masanya sejak
- diturunkannya ayat-ayat ini.
- Coba peristiwa fenomena tentang gadget,
- tentang ini kan tahun 19-an sekian
- sampai sekarang 2000-an. Padahal 14 abad
- yang lalu antisipasinya nih ayat ini.
- Masyaallah.
- Jadi betapa indahnya itu Alquran.
- Ya kan?
- Jadi sejak 14 abad yang lalu tentang
- berkeluarga ini adabnya ini sudah
- diterapkan.
- Masyaallah. Dengan ya kasus-kasus di
- masa lalu tadi seperti Umar bin Khattab,
- kemudian kasus siapa tadi yang satu Asma
- bin Mursyid.
- Yang kemudian eh hal-hal yang tidak
- nyaman bagi orang-orang yang baik kan
- itu hal-hal yang tidak nyaman bagi
- orang-orang yang yang baik, yang
- berpikir yang jernih jiwanya gitu ya.
- Wah, ini kayaknya kalau begini terus
- enggak ada aturan ini bahaya. Kan
- begitu. Kan bahasa kitanya mungkin
- begitu Umar bin Khattab kan. Waduh, ini
- kalau begini terus enggak ada aturan
- gitu kan rumah bludas-bludus enggak ada
- aturan. Alangkah indahnya jika Allah
- menurunkan aturan ya kan. Muncul aturan
- ini. Nah, atau tadi Asma bin Mursyid
- yang dia mengalami sendiri sebagai
- wanita yang salihah, mukminah gitu ya.
- Ternyata tidak nyaman hadirnya
- orang-orang yang meskipun itu anggota
- keluarganya tapi secara privasi ah itu
- belum waktunya dan itu enggak enggak
- baik gitu kan. Sehingga nah diadukan
- kepada Rasul turunlah ayat ini. Ini yang
- menjadi asbabun nuzul. Coba masya Allah.
- Tidak terbayang mungkin saat itu kalau
- gadget-gadget itu yang sekarang
- berpotensi untuk melihat hal-hal yang
- dikhawatirkan oleh mereka, justru
- sekarang ada di tangan anak-anak kita.
- Coba bayangkan, subhanallah.
- Secara psikologi, coba tadi.
- Kalau anak-anak ini sejak kecil melihat
- hal-hal yang haram baginya, masya Allah
- bisa kita bayangkan.
- Kan kemudian muncul praduga, praduga.
- Boleh jadi ini adalah upaya
- bagaimana supaya generasi muslim itu
- secara akhlaknya han hancur sejak dini.
- Kan bisa saja.
- Nah, nyatanya ya seringkali kita dengar
- bagaimana LGBT menjadi bagian dari upaya
- merusak akhlak. Tentu dari
- sektor-sektor, dari sisi-sisi yang lain,
- dari segi-segi yang lain kemungkinan, ya
- kan?
- Apakah aturan itu tidak ada dalam
- Alquran? Ternyata di sini masya Allah
- betapa indahnya Allah menerangkan
- tentang itu. Bagaimana
- Alquran itu menjadi bas
- is, menjadi basic pertumbuhan anak yang
- saleh.
- Ya kan? Dengan tadi memperdekatkan dia
- kepada Alquran, mendekatkan maiyahnya
- dengan membaca, dengan banyak menghafal,
- juga termasuk di dalam keluarga itu
- sudah muncul aturan-aturan dari Alquran
- itu sendiri.
- Artinya
- keluarga ini bisa menjadi lingkungan
- yang baik bagi dirinya.
- Kemudian
- aktivitas kedua, kenalkan dengan masjid,
- menjadi lingkungan yang baik yang kedua
- setelah rumahnya. Atau mak Atau boleh
- saja dibalik, lingkungan yang pertama di
- masjid yang dia kenalkan, baru
- lingkungan di rumah yang so yang saleh.
- Subhanallah.
- Jadi ternyata subhanallah, luar biasa.
- Karena dalam salah satu
- eh, dalam ayatnya
- itu kalau kita baca tentang apa sih yang
- menjadi tujuan kita berumah tangga?
- Salah satunya dalam berumah tangga kita
- mengharapkan lahirnya anak keturunan dan
- generasi yang saleh. Kan begitu jelas.
- Ini kayaknya ujung-ujungnya adalah
- peradaban.
- Peradaban, betul. Subhanallah.
- Bagaimana kita kemudian dari
- generasi-generasi yang ada saat ini,
- generasi-generasi yang baru bisa
- tercipta peradaban-peradaban Islam.
- Sangat betul itu. Subhanallah.
- Jadi kalau kita baca literasi-literasi
- itu, kita baca di sini. Apa sih yang
- diharapkan dalam Alquran? Gitu kan. Yang
- diharapkan dalam Alquran tentang
- masyarakat ini adalah
- keluarga yang saleh.
- Karena keluarga yang saleh ini adalah
- cikal bakal masyarakat yang saleh.
- Dan pintu gerbang memasuki keluarga yang
- saleh dengan pernikahan. Itu sampai
- diatur begitu. Subhanallah.
- Makanya yang
- belum menikah rugi Ustaz ya.
- Makanya kemarin anjuran menikah. Kenapa
- anjuran menikah? Lho karena untuk
- membangun masyarakat ini itu dianjurkan
- untuk untuk menikah. Ini pintu gerbang
- perkawinan. Nah, ternyata luar biasa, ya
- kan.
- Itu saja dulu Ustaz.
- Iya, oke.
- Baik, ikhwan dan akhwat yang dirahmati
- Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Eee
- Subhanallah. Begitu banyak pelajaran
- yang Ustaz sampaikan yang dikutip dari
- Alquran surah An Nur ayat 58 sampai
- dengan ayat 60. Bagaimana proses
- menciptakan generasi-generasi muda dan
- bagaimana kita menjaga generasi-generasi
- muda kita dari hal-hal yang negatif.
- Kami akan segera kembali setelah Nada
- Taqwa berikut ini.