Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Rasul TV
- Bismillahirrahmanirrahim,
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillahirobbil alamin
- washolatu wassalamu ala sayyidina
- Muhammad wa ala alihi wasohbihi ajmain.
- Robbi zidni ilman Allahumma anfa'ni bima
- alamtani wa alimni ma yanfa'ni warzuqni
- ilman yanfa'ni. Ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala
- masih dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis,
- Cibubur, Bekasi. Ikhwan akhwat Radio
- Silaturahim di gelombang AM 720
- yang memancar meng-cover area
- Jabodetabek. Di manapun saja Anda berada
- semoga dalam keadaan sehat walafiat. Dan
- siaran Rasul juga di di di-relay atau
- disiarkan juga di daerah-daerah lain
- melalui Radio Sela FM di Batam, ada juga
- Latansa di Sukabumi, Suara Habibullah di
- Banyuwangi, dan juga daerah-daerah
- lainnya Ikhwan Akhwat yang bisa
- menjangkau seluruh daerah melalui siaran
- streaming juga di
- www.radioselawatfm.com.
- Dan Ikhwan Akhwat siaran kami di pagi
- hari ini juga disiarkan secara live
- melalui channel YouTube Rasya TV. Jadi
- Anda yang
- ee nanti tidak sempat mendengarkan
- secara utuh siaran pagi hari ini, Anda
- bisa setelah ini mencari file-file-nya
- di YouTube Rasya TV. Dan Ikhwan Akhwat
- senang sekali saya Angga Aminudin
- ditemani oleh Ondy di kameramen, ada
- juga Anis di meja operator hadir dalam
- acara rutin kita setiap hari Selasa pagi
- menuju siang hari ini kajian ekonomi
- Islam bersama narasumber kita dari Dewan
- Syariah Nasional Ustad Ikhwan Basri yang
- alhamdulillah beliau telah hadir di
- studio. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Pak Ustad.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Apa kabarnya, Pak Ustad?
- Alhamdulillah sehat.
- Sehat, Pak Ustad ya?
- Sehat, insyaallah.
- Alhamdulillah kita dapat kembali
- melanjutkan kajian kita tentang ekonomi
- Islam dan Ikhwan Akhwat
- hal atau isu tentang ekonomi pasti
- selalu menarik bagi masyarakat karena
- ini kaitannya langsung dengan ee
- kehidupanlah gitu, Pak Ustad ya.
- Baik itu yang tatarannya dalam hal
- akademis, praktis, teoritis gitu ya.
- Kita di Rasya ini kita coba
- kita coba ramu itu semua, kita sampaikan
- kepada Ikhwan Akhwat supaya Ikhwan
- Akhwat itu
- paham gitu dan kita bisa mengikuti gitu
- kajian ekonomi itu seperti ini gitu.
- Apalagi landasannya sekarang adalah
- Islam. Dan di kesempatan kali ini Ikhwan
- Akhwat kita akan mengangkat satu topik
- yaitu ekonomi berbasis agama.
- Adakah masa depannya? Hal ini ketika
- kita melihat bukan hanya di bidang
- ekonomi saya ke ke lain ya, Pak ya.
- Iya.
- Seperti di bidang pendidikan, ee
- bidang ee sosial gitu ya, atau
- bidang-bidang lainnya. Sekarang ini
- muncul satu
- bukan sekarang, sebenarnya sudah lama
- gitu ya.
- Sudah lama.
- Muncul sebuah isme gitu ya, sebuah
- pemahaman bahwa ketika segala sesuatu
- bidang itu dikaitkan dengan agama enggak
- akan maju.
- Akhirnya mereka ada yang anti agama gitu
- ya, bahkan anti Tuhan. Dan ini sekarang
- melanda ke pemikiran-pemikiran generasi
- muda nih, Pak Ustaz, gitu ya.
- Sekali.
- Ternyata yang mengkampanyekan itu ee
- bukan kalangan yang biasa-biasa saja,
- ini kalangan akademisi, filsuf, saintis.
- Artis.
- Artis, ekonom, orang-orang terkenal gitu
- ya. Mereka tuh sepertinya anti agama
- gitu ya, karena agama ini dikatakan oleh
- mereka bisa
- ee bukan memajukan, malah menghambat
- kemajuan gitu di berbagai bidang.
- Termasuk ternyata di bidang ekonomi juga
- ada pemikiran-pemikiran seperti ini
- gitu.
- Kalau ekonomi dibasiskan terhadap agama,
- saya mungkin bisa lebih khusus lagi,
- apalagi agamanya tuh Islam gitu ya.
- Ketika mendengar Islam ini sepertinya
- Barat ataupun yang anti Islam tuh
- kayaknya ee berat gitu ya kalau misalkan
- Islam ini bisa masuk ke berbagai hal,
- berbagai bidang kehidupan. Nah, kita
- akan lihat sebenarnya ekonomi berbasis
- agama ini masa depannya seperti apa di
- era
- yang sekarang ini disebut era VUCA, Pak
- Ustaz. Ada satu kata dari VUCA ini
- ambiguity gitu ya. Ketidakpastian itu
- kelihatan banget gitu.
- Ketidakpastian itu terlihat gitu ya.
- Baik. Ee di topik ini kita juga nanti
- akan ee mendengarkan pembahasan dari
- Ustaz dan kami juga menerima masukan,
- komentar, dan pertanyaan dari Anda yang
- bisa Anda sampaikan ke nomor WhatsApp
- Rasil di 08111999720, atau Anda bisa
- komen langsung di live YouTube kami di
- Rasil TV. Baik, Pak Ustaz, bagaimana Pak
- Ustaz bisa menjelaskan mengenai ekonomi
- berbasis agama masa depannya seperti
- apa?
- Terima kasih, Mas Angga.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillahirobbil alamin.
- Washolli wasallim sholatan wa tasliman
- ya likoni bi maqomi amiril anbiya wal
- mursalin
- Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi
- ajmain amma ba'du.
- Para pemirsa Rasail TV dan para
- pendengar Radio Silaturahim yang
- dirahmati Allah subhanahu wa taala.
- Alhamdulillah
- kita bersyukur ke hadirat Allah
- subhanahu wa taala
- atas segala limpahan rahmat-Nya
- yang terus dicurahkan kepada kita
- sekalian
- sehingga pada hari ini, pada pagi hari
- ini
- antara lain kita bisa menyimak ya siaran
- Rasail TV
- dan Radio Silaturahim
- secara live yang minggu lalu kita off ya
- karena ada hambatan teknis itu dan
- akhirnya pada minggu sekarang ini kita
- bisa siaran online, eh siaran eh
- langsung atau siaran live dan semua itu
- karena
- curahan daripada
- rahmat Allah subhanahu wa taala.
- Para pemirsa dan para pendengar Radio
- Silaturahim yang dirahmati Allah
- subhanahu wa taala.
- Mas Angga tadi memberikan mukadimah ya,
- yang
- eh merupakan suatu fenomena ya,
- seolah-olah eh melihat suatu fenomena di
- mana
- pada masa sekarang ini
- kita
- hidup dengan berpijak pada nilai-nilai
- agama itu
- sukar atau
- tidak PD atau dibuat tidak percaya
- atau bingung jadinya ya
- karena banyak sekali
- hal-hal ya yang datangnya dari sains
- datangnya dari seni
- datangnya dari pemikiran-pemikiran
- yang berbasis kepada materialisme
- berbasis kepada ateisme
- atau berbasis kepada
- atau berbasis kepada
- apa itu namanya keragu-raguan atas
- wujudnya Tuhan ya, agnostisisme ya. Ini
- merajalela
- di mana-mana bahkan kalau rata-rata kita
- ketemu orang
- dari Barat atau dari orang-orang yang
- sudah berpendidikan Barat
- kata-kata Tuhan itu sudah tidak ada bagi
- mereka
- ya, yang ada itu alam ya
- seolah-olah alam itu adalah Tuhan karena
- alam yang yang yang perkasa
- di mata mereka ya, yang bisa mengubah
- ini mengubah itu
- itu adalah alam dan karena itu maka
- dalam pandangan mereka alam itu
- Mahakuasa
- ini adalah sebuah keyakinan yang
- meniadakan Tuhan ya, semakin hari kita
- datang semakin kita lihat
- keyakinan ini makin banyak ya
- makin banyak sehingga kalau kita lihat
- ateistik ya, orang-orang yang menjadi
- ateis di negara-negara Eropa dan Jepang,
- di Korea Selatan
- ya, itu banyak sekali di atas ada yang
- di atas 40%
- ada yang di atas 25% dan lain sebagainya
- dan parahnya lagi adalah
- ide-ide yang beraliran ini
- berbasiskan materialisme, ateisme,
- agnostisisme ini
- diterjemahkan dalam bentuk ya,
- katakanlah
- jurnal, katakanlah eh artikel dan seni
- ya
- film ya, kemudian
- apa karya sastra ya dan lain sebagainya
- dibaca oleh oleh jutaan orang
- didengar oleh jutaan orang
- dan memberikan pengaruh kepada pemikiran
- mereka yang mengakibatkan merajalela.
- Nah,
- kemudian bukan hanya dalam hal itu saja,
- pemikiran-pemikiran ini masuk ke dalam
- sektor-sektor
- eh dunia pendidikan,
- dunia kita, dunia ekonomi,
- sehingga kita dapatkan bahwa semua
- ajaran-ajaran ekonomi yang kita pakai,
- yang kita ambil dari Barat itu
- semuanya sudah mencampakkan nilai-nilai
- agama
- di dalamnya.
- Sehingga apa yang diharapkan oleh agama
- dibenarkan berdasarkan ilmu,
- apa yang dilarang oleh agama
- dianggap baik, dianggap memberikan
- manfaat dan itu harus berlaku
- di seluruh dunia
- lewat
- pendidikan, lewat lembaga keuangan dan
- lain sebagainya.
- Sehingga kalau kita kembali kepada agama
- dalam bidang apapun, ya banyak
- tantangannya.
- Terutama apabila kita ini bersinggungan
- dengan
- peradaban Barat, ya.
- Nah, salah satu yang menjadi concern ini
- adalah apa namanya tadi itu?
- Adakah masa depan
- ekonomi yang berbasis agama, ya?
- Ya, apakah ada masa depannya sampai
- segitu?
- Karena
- eh bagi mereka agama itu
- adalah sudah tidak ada peran lagi.
- Apalagi kalau kita melihat teori
- Auguste Comte
- Auguste Comte itu kalau kita baca, ya.
- Tapi kalau kita orang Indonesia biasanya
- menggunakan kita
- pronunciation-nya itu Auguste Comte.
- Sesuai tulisan.
- Iya.
- Karena saya belajar di SMA dulu juga
- namanya begitu. Guru saya juga bilangnya
- Auguste Comte. Tapi kalau kita lihat di
- Google pronunciation-nya itu Auguste
- Comte, ya, gitu.
- Nah, itu dia menulis sebuah buku tebal
- sekali tentang filosofi tentang
- filsafatnya
- filsafat positif ya, jadi menurut dia
- itu
- semua peradaban manusia ini melewati
- tiga tahap ya
- yang pertama adalah apa ya mythological
- state ya
- yang theological state yang kedua adalah
- eee philosophical state kemudian yang
- terakhir adalah
- eee positive state ya jadi tiap-tiap
- bangsa
- tiap-tiap peradaban itu melalui seperti
- ini tiga tahapan
- tiap tahapan theological state itu pada
- prinsipnya adalah
- masyarakat ketika masyarakat kemajuan
- peradabannya masih sangat rendah dia
- percaya bahwa ada kekuatan gaib yang
- menguasai dan itu membuat mereka membuat
- suatu ajaran atau ritual yang intinya
- adalah
- keagamaan semua agama tanpa kecuali baik
- itu agama politeisme atau agama
- monoteisme di mata August Comte ini
- sama saja itu state-nya sama ya
- kemudian yang kedua adalah filosofi ya
- philosophical state nah ini kalau-kalau
- kita lebih
- sering kita baca itu lebih kepada eee
- referensi di Romawi, di Yunani di mana
- August Comte ini orang Perancis ini
- tinggalnya di sana jadi tahu ya
- bahwa zaman Democritus, zaman Plato,
- zaman
- apa namanya sebelum Plato itu apa
- Socrates ya Socrates, Plato kemudian
- Aristoteles dan seterusnya dan
- seterusnya banyak lagi ratusan filsafat
- ahli filsafat Yunani
- yang itu adalah tahapan di mana mereka
- berfilsafat artinya menolak bahwa apa
- namanya segala kekuatan yang tidak bisa
- kita terjemahkan ini diakibatkan oleh
- oleh Tuhan oleh dewa-dewa ya mereka itu
- adalah orang-orang yang tidak percaya
- pada itu semua, tapi bicara bahwa ee ada
- filosofinya. Makanya kita kenal dengan
- filosofi apa namanya dari Socrates, ada
- dari Plato, dari
- ee Aristoteles yang kemudian
- di
- diterjemah atau dipelajari oleh kaum
- muslimin
- sehingga melahirkan
- Ibnu Sina, melahirkan
- Al-Kindi,
- Al-Farabi, ya.
- Dan lain sebagainya. Ya. Bahkan
- Al-Farabi
- disebut Al-Mu'allim Ats-Tsani.
- Ya, guru kedua. Al-Mu'allim Al-Awwal itu
- Aristoteles.
- Kemudian Al-Farabi itu Al-Mu'allim
- Ats-Tsani, ya.
- Itu karena Al-Farabilah yang
- me-me-menyelamatkan
- pikiran-pikiran
- daripada Aristoteles itu dan
- menterjemahkan dalam bahasa Arab
- dan menjadi sangat terkenal di kalangan
- kaum muslimin, ya.
- Ya.
- Ya, itu.
- Nah,
- itu adalah ee pada waktu itu dianggap
- sebagai ee ee state yang kedua atau
- philosophical state.
- Yang ketiga adalah positif, ya.
- Ee state atau apa namanya tahapan
- positif. Nah, tahapan positif ini adalah
- kalau di di Eropa itu ya mungkin dimulai
- dari sebelum
- zamannya Auguste Comte itu sendiri
- karena
- sudah mulai ada apa namanya gerakan
- Renaisans, ada gerakan ee positivis itu
- sudah mulai semenjak Roger Bacon,
- semenjak Descartes, semenjak Newton, ya.
- Ya, ini sampai kepada masa dia 1800-an
- gitu. Dan di situ adalah abad pencerahan
- yang sangat ee keras penentangannya
- terhadap agama
- dan kuatnya
- ee kuatnya dorongan untuk menggunakan
- akal atau reason
- sebagai sumber kebenaran, ya.
- Ee banyak sekali ahli filsafat pada masa
- itu, ya. Ada Immanuel Kant, ya.
- Kemudian yang yang ahli-ahli filsafat
- tapi masuk dalam kategori sosial,
- kemudian ekonomi kayak Karma, Friedrich
- Engels, dan dan masih banyak lagi, ya.
- Banyak sekali, ya.
- Nah, ini adalah sudah tahapan positif.
- Dalam tahapan seperti ini menurut
- Auguste Comte itu, ya, agama tidak ada
- tidak ada lagi peranannya, ya.
- Makanya ada judulnya dalam buku Islam
- The Misunderstood Religion, itu judul
- yang pertama is religion obsolete?
- Apakah agama itu sudah kuno, ya? Enggak
- perlu lagi kita pakai agama, ya? Atau
- agama itu masih kita perlukan
- pada saat di mana pun manusia itu
- hidupnya?
- Banyak ini ulama atau cendekiawan muslim
- itu menanggapi apa namanya klasifikasi
- dari Auguste Comte ini dengan mengatakan
- bahwa
- itu tidak harus menjadi
- suatu hal yang berurutan dari 1 2 3,
- enggak.
- Di setiap masyarakat ada tiga itu.
- Kayak misalnya sekarang ini, ya.
- Kita sudah menurut menurut Auguste Comte
- ada di alam positif, ya. Yang semua akan
- dipecahkan dengan sains, ya. Tapi
- masyarakat kita percaya dukun, percaya
- kerumbul, percaya pohon, dinamisme,
- animisme ada di mana-mana, ya. Walaupun
- kita terang benderang di alam sains
- Jadi, tidak benar itu, ya. Dan saya
- setuju dengan pendapat ini bahwa apa
- yang dikatakan itu oleh Auguste Comte
- itu bukan merupakan tahapan yang harus
- kita lalui dari mito apa namanya
- theological state, kemudian baru ke
- philosophical state, kemudian baru yang
- ketiga yaitu positive state. Enggak
- begitu. Karena tiga-tiganya itu ada pada
- adanya masa sekarang sekarang, ya.
- Jadi, ahli yang masih percaya kepada
- kekuatan magic, kekuatan di luar sana,
- banyak ya.
- Baik, apa namanya kepercayaan ke Tuhan
- itu mungkin mitos bagi sebagian orang,
- tetapi penggemarnya banyak ya.
- Ataupun tidak ya, karena bagi orang yang
- percaya kepada kekuatan ilmu pengetahuan
- sebagai satu-satunya sumber kekuatan,
- maka selain daripada itu dianggap
- sebagai mitos ya, tidak ada peranan.
- Tetapi, sekarang semua ada di dalam alam
- kita sekarang ini. Ketiga-tiganya itu
- ada, jadi tidak harus itu berurutan.
- Dan itu bukan berarti bahwa setiap
- masyarakat itu mengalami tiga itu secara
- berurutan, tidak. Tetapi, semua fenomena
- ketiga-tiganya itu ada dalam satu waktu
- ya.
- Itu maka tidak benar. Bahkan kalau
- menurut Islam ya, manusia pertama kali
- ke dunia itu bukan dalam keadaan gelap,
- terang benderang karena manusia pertama
- itu Adam alaihissalam Adam itu seorang
- rasul, seorang nabi dan seorang rasul.
- Dan beliau diberikan
- pengetahuan tentang semua nama.
- Wa allama Adamal asmaa kullaha.
- Tsumma aradahum alal malaikati.
- Faqala ambiuni
- bi asmi haula.
- Dan seterusnya ya.
- Dan jadi dalam ayat itu dikatakan bahwa
- Allah telah memberikan
- membekali pengetahuan
- tentang nama-nama semua kepada Nabi
- Adam.
- Jadi, dalam Nabi Adam sebagai manusia
- pertama dalam persepsi kita, maka
- manusia pertama itu bukan turun ke dunia
- ini dalam keadaan gelap,
- dalam keadaan tidak tahu apa-apa.
- Sudah tahu semuanya, mana yang baik mana
- yang buruk ya gitu.
- Jadi, seperti inilah keyakinan kita itu.
- Kalau semua manusia dipanggil Bani Adam,
- berarti seluruh keturunannya itu adalah
- anak Adam dan Nabi Adam adalah orang
- yang pertama diturunkan ke dunia dan
- sudah berposisi sebagai nabi, sebagai
- rasul, tentunya dia punya risalah,
- tentunya dia
- tahu bagaimana harus menyebarkan Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala dan lain sebagainya
- dan lain sebagainya. Jadi intinya adalah
- itu. Kita tidak ke sana lebih detail ya,
- tapi itu pandangan kita.
- Jadi seperti yang dikatakan oleh August
- Comte ini
- oleh para ulama Islam dianggap sebagai
- suatu hal yang
- ya istilahnya pateluwangan akal yang
- spekulatif ya, spekulatif ya sifatnya.
- Orang boleh saja berpikiran demikian,
- tapi kita juga boleh berpikiran yang
- berbeda dari itu berdasarkan
- data yang atau berdasarkan hujah yang
- lebih lebih kuat, yaitu kita ambil dari
- Alquran dan As-Sunnah. Jadi intinya
- bahwa eee
- tidak benar bahwa kita harus melalui
- tiga tahapan itu. Karena ketiga-tiganya
- itu ada pada zaman sekarang ini.
- Dan karena itu juga bahwa
- tidak berarti bahwa peranan agama ini
- berkurang karena kemajuan teknologi,
- kemajuan ilmu pengetahuan. Bahkan
- semakin hari semakin menunjukkan kepada
- kita
- bahwa peranan agama begitu penting dalam
- kehidupan, ya. Karena
- ada faktor yang
- dalam diri manusia yang tidak akan bisa
- digantikan oleh
- kemajuan teknologi,
- kemajuan eee ilmu pengetahuan.
- Kalau itu diganti oleh pengetahuan, maka
- manusia itu menjadi tidak sempurna dan
- mereka akhirnya menderita secara
- intelektual, secara batin dan lain
- sebagainya, ya.
- Samalah dengan kita itu menga mengubah
- mengubah alam, mengubah karena kemampuan
- manusia mengubah alam bisa
- eee apa namanya membikin benih-benih
- yang begini-begini-begini itu bisa
- semua. Tapi
- kalau mengedit
- mengedit apa DNA dan lain sebagainya
- sebenarnya manusia itu bisa. Tapi kalau
- dilakukan kan berbahaya bagi manusia,
- ya.
- Berbahaya, ya. Karena manusia menjadi
- unpredictable, ya perilakunya nanti apa
- kita tidak tahu, karena itu menyalahi eh
- apa namanya
- sunatullah, ya.
- Nah, oleh karena itu maka kita rasakan
- bahwa sekarang ini peranan agama justru
- banyak, ya.
- Kalau kita lihat dari data saja orang
- yang masuk Islam orang yang mencari
- kebenaran, bukan hanya mencari kebenaran
- Islam, tapi orang mencari-cari yang
- benar itu yang mana di antara agama ini
- itu setiap saat ada, ya. Meskipun
- berakhir atau berlabuh dengan Islam
- mayoritasnya seperti itu berlabuh kepada
- yang lain seperti itu, kayak misalkan
- sekarang ini kata Mas Angga tadi
- Oppenheimer, ya. Itu sebelum mati, ya,
- sang pembuat bom atom pertama ini kan.
- He eh.
- Dia cari kebenaran
- karena enggak tenang hatinya kata
- He
- katanya karena dia akan eh melihat
- begitu masal, begitu hebatnya senjata
- pembunuh bom atom ini.
- Dia akhirnya tidak tenang. Tapi apa yang
- dia cari?
- Kan dia cari buku namanya Bhagavad Gita.
- He eh.
- Iya.
- Bhagavad Gita itu yang di yang terakhir
- dicari, bukan Alquran. Maknanya apa?
- Orang itu siapapun juga akan
- mencari-cari
- pembenaran untuk eh me apa namanya
- menenangkan batinnya. Nah, dia belum
- ketemu, ya, belum ketemu.
- Eh belum ketemu eh sumbernya sudah sudah
- meninggal, ya.
- Kalau di ilmuwan-ilmuwan yang lain kan
- banyak, ya. Kemudian dikasih Alquran
- ceritanya seperti itu dia kagum terhadap
- Alquran. Tapi ini kayaknya belum ketemu
- tadi kita cerita itu, ya.
- Saya belum lihat filmnya.
- Ya, jadi
- intinya adalah bahwa
- sulit kita katakan bahwa peran agama itu
- tidak diperlukan dalam kehidupan modern
- karena semuanya akan bisa dipecahkan
- oleh sains. Baik itu natural sciences
- atau social sciences, ya.
- Itu tidak akan bisa. Dan buku yang saya
- baca dulu judulnya adalah
- Is Religion Obsolete, ya. Apakah agama
- itu ketinggalan zaman? Artinya bahwa
- kita beragama ini adalah berada pada
- pada abad yang sebelumnya seharusnya.
- Karena sekarang ini
- era kita, era ilmu pengetahuan, tidak
- perlu lagi manusia berpegangan pada
- kitab suci, berpegangan kepada agama,
- karena semua toh bisa diselesaikan
- dengan sains. Semua bisa diselesaikan
- dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Sehingga tidak perlu agama itu menjadi
- pegangan kita. Nah, pernyataan ini
- pernyataan yang sebetulnya gegabah, ya.
- Ya. Karena kapan pun kita ini akan perlu
- kepada agama.
- Karena kepercayaan kepada agama itu
- ada dalam diri manusia.
- He eh.
- Walaupun dia dilahirkan di komunis, di
- alam komunis, di alam ateis,
- ada itu, ya. Ada keba- fitrah itu ada.
- Itu apa namanya sudah dipatri oleh Allah
- subhanahu wa taala bahwa setiap jiwa itu
- fitrahnya itu salimah, fitrah itu
- hanifah. Fitrahnya itu lurus, yaitu
- percaya kepada Tuhan, percaya kepada
- Allah subhanahu wa taala. Nah,
- berdasarkan itu maka peran agama terus
- ada. Nah, karena kita ini tadi bercerita
- tentang ekonomi yang berdasarkan agama,
- ini kita kaitkan dengan itu. Lalu,
- apakah
- eh apakah eh ekonomi yang berbasiskan
- agama punya masa depan, ya.
- Kalau dikaitkan dengan Islam, ya,
- Islam itu
- masa depan. Kalau kita baca bukunya
- Sayyid Qutb, ya, yang judulnya apa saya
- lupa. Al Mustaqbal Li Hadza Ad Din.
- He eh.
- Masa depan untuk Islam, ya. Kemudian
- kita buku baca buku-buku yang
- senada seperti itu, kan, misalkan hampir
- semua buku Muhammad Qutb itu itu judul
- akhirnya itu
- masa depan untuk Islam, masa depan untuk
- Islam. Apa pun buku itu yang Anda baca,
- mulai Syubhat Syubhat Haulal Islam,
- eh kemudian Jahiliyatul Qarn Al-Isyrin,
- Jahiliyah abad 20 dan lain-lain
- sebagainya. Maka kalau kita baca buku
- itu di bab akhir, selalu beliau katakan
- bahwa
- jika semuanya seperti ini, ya, maka
- solusinya cuman ada satu, yaitu Islam,
- ya. Kemudian kalau kita baca bukunya
- eh Nadwi, ya, Abul Hasan Ali An-Nadwi,
- judulnya
- Maza
- Khasirat Dunya Bi Inhitatil Muslimin.
- Apa kerugian dunia
- akibat kaum muslimin merosot.
- Apa yang menyebabkan dunia ini rugi
- ketika kaum kaum muslimin merosot. Nah,
- itu Anda akan diberikan jawaban yang
- luar biasa. Seorang alim, eh Abul Hasan
- Ali An-Nadwi rahimahullah, ulama dari
- India yang tulisannya sangat tajam
- melihat peradaban, apa namanya, abad 20
- ini, abad 21 sekarang, ya.
- Di mana
- materialisme, sekularisme,
- ateisme, agnotisme, semua membanjiri
- muka bumi ini. Seolah-olah manusia itu
- tidak lagi perlu kepada Tuhan dan
- seolah-olah manusia itu mampu mengatur
- semua peradabannya menjadi nyaman,
- menjadi makmur, menjadi damai. Ternyata
- itu semuanya tidak ada.
- Dan itu semuanya terjadi karena kaum
- muslimin merosot. Peran mereka di dalam
- dunia
- eh mengecil, mengecil dan minimal.
- Sehingga tidak ada peran sedikitpun
- dalam percaturan dunia dan akibatnya
- dunia menjadi menderita begitu dalam,
- ya, meluas, ya.
- Itu bukunya menarik sekali.
- Maza Khasirat Dunya
- Bi Inhitatil Muslimin.
- Apa
- eh kerugian dunia ketika kaum muslim
- merosot. Artinya ketika kaum muslimin
- itu sudah tidak punya peran.
- Dikerdilkan, bahkan negara-negara Islam
- ini menjadi jajahan daripada negara
- Barat. Dan itu bukan hanya rugi kita
- sebagai muslim, tapi dunia pun rugi.
- Nah,
- sebelum-sebelumnya kan ada buku-buku
- seperti "Mada
- Limada Ta'akhkhara Muslimuna wa
- Taqaddama Ghairuhum?" Kenapa kaum
- muslimin mundur sementara selain mereka
- maju? Eh, Amir Syakib Arsalan itu
- ditulis tahun
- '45, pas Perang Dunia Kedua itu ya.
- Dan itu mungkin menginspirasi banyak
- penulis belakangan. Yang intinya adalah
- bahwa tidak
- tidak ada alasan bahwa
- tidak ada hujjah, tidak ada alasan,
- tidak ada
- eh, bantahan yang cukup bahwa agama itu
- surut ya. Justru peranan agama semakin
- hari semakin
- eh, diperlukan dalam kehidupan kita.
- Dan se- setiap hari kita melihat betapa
- banyaknya orang
- non-Islam masuk Islam.
- Bukan hanya orang awam, tapi
- para apa, ulama, para ilmuwan,
- pendeta, pastur,
- ya, dan lain sebagainya
- berbondong-bondong masuk Islam di Barat
- dan di Timur dan di
- dan juga di Indonesia. Ini menunjukkan
- bahwa
- peranan agama ke depan itu
- sangat besar.
- Dan manusia haus akan peranan agama ini.
- Manusia sebetulnya sudah lelah dengan
- materialisme.
- Iya.
- Eh, sudah capek dengan ini semuanya.
- Tapi
- penggantinya ini belum nampak ya, harus
- diusahakan datang.
- Oleh karena itu maka kita yakin bahwa
- sebuah ekonomi yang didasarkan pada
- ajaran agama yang benar itulah ekonomi
- masa depan. Sekalipun sekarang ini belum
- bisa kita melihat bagaimana kekuatannya.
- Sebab
- riba masih merajalela.
- Dan riba didukung oleh orang-orang yang
- bodoh dari umat Islam mendukung riba,
- mendukung gharar,
- dan tidak ada upaya dari mereka untuk
- menggali bahwa justru sistem ekonomi
- Islam yang kita bangun dari Alquran dan
- Asunnah ini, inilah penyelamat ekonomi
- dunia.
- Itu sedikit sekali orang yang ke sono,
- ya. Tetapi orang yang sedikit yang
- mencoba untuk sibuk menyediakan sistem
- agar supaya ekonomi Islam ini berjalan
- dengan baik atau berkembang dengan baik,
- nah sekarang ini dibuat ragu-ragu, ya.
- Dibuat ragu-ragu
- kemudian dicemooh, mungkin dibully juga
- begitu, ya.
- Iya.
- Sampai ada kata-kata
- riba bank syariah lebih riba daripada
- bank konvensional, ya ini kacau balau,
- ya, ya.
- Iya.
- Jailun Jailun Murakkab.
- Iya, iya.
- Wong Islam melarang melarang riba maka
- bank syariah menjadi riba yang lebih
- besar daripada yang lain ini
- Jailun Murakkab kalau saya katakan
- demikian. Ya ini ini termasuk
- kekuatan-kekuatan atau apa namanya
- teriakan-teriakan yang ingin melemahkan
- semangat mereka yang berjuang menegakkan
- ekonomi Islam. Tapi ya enggak apa-apa.
- Salah, memang seperti ini ada
- eh dalam hal perjuangan di dalam
- memperjuangkan kebenaran pasti ada yang
- yang meledek, ya. Meledek atau
- merendahkan dan lain sebagainya. Tapi
- kita yakin bahwa
- Al Mustaqbal li hadza din
- Al Mustaqbal eh lil iqtisad al
- Islamiyah. Kalau dikatakan bahwa masa
- depan
- The future is Islam masa depan adalah
- untuk Islam, maka the future is Islamic
- economy.
- Ya, begitu, ya karena bagian daripada
- Islam itu ekonominya, maka ekonomi yang
- berdasarkan Islam dia punya masa depan
- sebagaimana Islam punya masa depan,
- begitu Mas Angga.
- He
- Ya, penjelasan yang menjawab bagaimana
- sebenarnya tadi diawali dengan tahapan
- peradaban dari
- pendapat yang mewakili
- orang-orang barat, bisa begitu, Pak
- Ustaz, ya.
- Dan juga kita melihat bagaimana cara
- berpikir eh seperti itu
- eh menjadikan eh semua paham yang
- berbasis materialisme ini
- mereka berharap gitu punya masa depan
- sementara mereka itu meninggalkan
- agamanya mereka. Padahal bagi
- orang-orang yang beragama gitu ya, semua
- berasal dari kepercayaan
- ehnya agama itu pasti memiliki masa
- depan yang sangat jelas. Dalam hal ini
- ketika kita melihat bagaimana ekonomi
- Islam ini basisnya dari agama.
- Mengaitkan
- masa depan agama berarti kan
- mengaitkan juga keberadaan Tuhan gitu
- ya, Pak Ustaz ya.
- Saya jadi teringat satu buku Masa Depan
- Tuhan yang Karen Armstrong itu.
- Buku yang menjawab sebenarnya pemikiran
- para kaum fundamentalis dan para ateis
- gitu ya. Buku yang menjawab itu.
- Ada satu eh pertanyaan yang selalu
- muncul ketika mereka membandingkan
- bagaimana
- eh masa depan agama lalu dengan mereka
- yang berkecimpung dalam sains. Karena
- tadi kan mereka
- berpatokannya hanya kepada
- sains
- yang terbukti gitu, nyata, langsung
- terlihat, goals-nya ada gitu.
- Mereka tidak tidak mengambil indikator
- masa depannya itu misalkan ada ada hari
- akhir gitu ya, ada amal baik, ada amal
- buruk yang akan dihitung.
- Nah, itu jadi mereka tuh betul-betul
- materialismenya itu
- jadi jadi jadi pemikiran paling depanlah
- buat mereka gitu ya. Akhir akhirnya
- mereka melihat fakta aja gitu, Pak
- Ustaz. Ya, lihat aja faktanya, pasti
- begitu aja. Lihat aja faktanya, pasti
- begitu.
- Gimana itu, Pak Ustaz?
- Jadi, mereka itu membuat kacamatanya.
- Kacamatanya dibuat dari sains ya.
- Ehm.
- Dan dengan kacamata sains itu atas atas
- nama sains, mereka mem melihat semua
- fakta, melihat suatu fenomena
- ditafsirkan berdasarkan
- sains.
- Iya.
- Sains sendiri
- didasarkan pada
- aga- agama ateis sebetulnya.
- Ketidakpercayaan. Pak, eh sains ini
- meskipun ada ya apa namanya
- saintis-saintis yang muslim, yang
- mungkin beragama Katolik atau Kristen
- dan lain sebagainya, banyak masih. Masih
- kita lihat itu seperti itu. Tapi yang
- leading, ya. Yang leading dan yang
- berkoar-koar terang-terangan
- itu adalah ateisme.
- Hmm.
- Ya, kayak misalkan yang Stephen Hawking,
- Stephen Hawking.
- ya istilahnya panglimanya fisika abad 21
- misalnya, itu kan ke mana-mana
- menunjukkan bahwa tidak ada Tuhan dalam
- semua terjadi dengan sendirinya. Alam
- semesta membikin dirinya sendiri tanpa
- campur tangan Tuhan dan mendekati
- kematian dia sangat yakin bahwa tidak
- ada Tuhan. Subhanallah, lailahaillallah,
- masyaallah. Sekarang maksudnya
- eh seperti yang dikatakan Alquran
- bersama orang-orang yang senasib dengan
- dialah. Tidak percaya kepada Tuhan. Nah,
- semua fenomena
- bahkan juga semua ajaran yang ada dalam
- agama itu ditinjau kembali dengan
- kacamata sains.
- Gitu loh.
- Di paling tidak diragukanlah, ya. Kan
- kalau kepercayaan agama itu nomor satu
- adalah adanya Tuhan.
- Hmm.
- Itu nomor satu, ya.
- Pasti ada Tuhan ini adalah rukun yang
- pertama, ya.
- Nah, ini coba dilihat oleh mereka dengan
- kacamata sains yang baru bahwa Tuhan itu
- enggak perlu ada. Nah, itu kan sudah
- lama sebenarnya 300 tahun yang lalu.
- Hmm.
- Mulai apa namanya mulai eh kelompok yang
- ingin mengembalikan kemegahan eh apa
- namanya Barat ya, Renaisans,
- Renaisans.
- itu yang mulai eh mulai menjadikan
- apa namanya kebenaran dari gereja, dalam
- hal ini agama itu tidak perlu dipercaya.
- Hmm.
- Awalnya halus, awalnya halus. Ya,
- kasusnya misalkan
- Giordano Bruno,
- ya. Yang menceritakan bahwa bumi ini
- bulat itu bertentangan dengan
- kepercayaan gereja disuruh harus disuruh
- bertobat ya, kalau enggak dihukum mati
- ya. Kemudian
- Ya, Copernicus ya misalnya itu juga yang
- menemukan bahwa
- Matahari itu adalah pusat tata surya
- yang bertentangan dengan keyakinan
- gereja pada waktu itu disuruh tobat,
- suruh narik kembali dan semua
- ilmuwan-ilmuwan yang terkenal di Eropa
- itu yang mempunyai keyakinan berbeda
- dari gereja disuruh tobat. Kalau enggak
- dibunuh. Ya. Tetapi klaim-klaim gereja
- ini kan dari hari ke hari Salah. Eee dan
- sementara klaim daripada sains semakin
- hari semakin benar.
- Dan itu berjalan 200 tahun mulai dari
- 1806,
- 1600-an sampai 1700-an awal daripada
- 1800 nah itu sudah mencapai puncaknya,
- gereja kalah ya.
- Timbullah sekularisme di situ bahwa
- selama ini katanya kita ini salah karena
- menjalankan kehidupan berdasarkan agama
- dan ternyata agama itu mitos belaka
- tidak ada kebenarannya
- apalagi kemudian dengan teori Agus Comte
- tadi tamatlah agama itu, sekarang sudah
- enggak waktunya lagi kita beragama, kita
- waktunya untuk percaya kepada sains.
- Semua akan selesaikan dengan sains. Nah
- sekarang ini lagi hot-hotnya ini.
- Itu. Tapi kita sudah tahu bahwa
- tidak mungkin menghapuskan agama itu
- dari apapun juga.
- Kalau kita kalau kita kalau kita percaya
- bahwa agama itu Eee mudah dihapuskan
- harusnya sudah selesai ketika Uni Soviet
- itu menguasai dunia, karena pada waktu
- Uni Soviet itu semua orang beragama
- disikat.
- Revolusi Lenin eee kemudian dilanjutkan
- Stalin kalau dihitung berapa korban umat
- Islam karena itu kebanyakan terjadi di
- negara-negara Islam, Kazakhstan,
- Turkmenistan ya termasuk Chechnya dan
- lain sebagainya Kaukasus Kaukasia.
- Armenia, Azerbaijan dan ini tuh
- negara-negara Islam semua. Itu menjadi
- komunis lewat revolusi Lenin itu kan
- sebetulnya memakan puluhan juta.
- Wallahualam, hanya Allah yang tahu
- berapa kaum muslimin dibantai, menjadi
- korban revolusi
- komunis. Tapi begitu kejamnya komunis
- termasuk yang terjadi di Indonesia,
- itu juga gagal. Enggak hanya kembali
- kepada agama. Jadi,
- kalau saya enggak saya katakan bahwa
- apapun kekuatannya untuk menghilangkan
- agama itu enggak bisa.
- Yuriduuna ayyutfi'uu nuurallahi bi
- afwaahihim. Ya.
- Wallahu mutimmu nuurihi walau karihal
- kaafirun. Ya. Ya. Mereka ingin
- menghapuskan agama.
- Mereka ingin menghapuskan Islam.
- Tetapi Allah tidak
- apa berkehendak berbeda. Justru Allah
- menyempurnakan agama. Ya.
- Wallahu mutimmu nuurihi walau karihal
- kaafirun. Ya.
- Meyakinkan
- eh kita bisa menjelaskan sekarang ke
- posisi ekonomi Islam nih, Pak Ustaz.
- Ya.
- Posisi ekonomi Islam dalam menumpas
- argumen-argumen itu tuh bagaimana gitu
- ketika mereka langsung menyampaikan,
- "Oh, lihat datanya seperti ini, faktanya
- begini."
- Pada saat sekarang kita kalau berbicara
- tentang
- keberhasilan ekonomi Islam enggak ada.
- Enggak ada.
- Ya mungkin dalam tingkat yang sangat
- sangat kecil, individual, korporasi dan
- lain sebagainya. Atau ajakan ajakan
- dalam bidang ekonomi untuk kembali
- kepada agama. Tapi ini kan belum belum
- ada
- penganutnya yang setia gitu loh. Maka
- itu semuanya akan bisa dibantai oleh
- oleh data, oleh oleh apa namanya bukti
- kehebatan ekonomi yang sekarang. Ekonomi
- kapitalis misalnya. Yang
- yang ciri khasnya ya kalau kita lihat
- adalah
- riba.
- Ya. Yang ciri khasnya adalah riba. Dan
- riba sendiri dilarang oleh Islam. Nah,
- sekarang ini ekonomi Islam berusaha
- untuk menghilangkan riba.
- Tetapi tidak banyak orang yang
- memberikan sambutan,
- hatta ulama sendiri, ya. Karena mereka
- mengartikan riba itu berbeda. Nah,
- start-nya sudah sudah berbeda ini. Jadi,
- mereka melegalisasikan yang ada ini
- sesuai dengan syariat. Bahwa riba adalah
- terma tidak termasuk bunga bank dan lain
- sebagainya.
- Kalau kita ikuti pemikiran mereka ini,
- riba itu akhirnya enggak ada maknanya
- sama sekali.
- Iya.
- Enggak ada maknanya. Kalau bunga bank
- tidak riba, kalau bunga-bunga itu bukan
- riba, lalu riba itu apa? Enggak ada
- jadinya.
- La madlula,
- ya, fil hayat. Tidak ada bukti
- apa yang dimaksud dengan riba itu apa?
- Enggak ada, ya.
- Jadi, kita jadi bingung, ya. Lalu,
- kenapa diharamkan? Makanya kita kembali
- kepada ee dasar, ya. Riba itu kayak apa,
- ya. Nah, ekonomi Islam ini
- kalau kita lihat dari sejarahnya, ya,
- sekira-kira 40 tahun yang lalu,
- misalnya. Kalau kita lihat ee konferensi
- Mekah tahun 1900
- 75, ya,
- yang melahirkan tokoh-tokoh ekonomi
- Islam, kayak misalkan
- Khurshid Ahmad, Umar Chapra, Nejatullah
- Siddiqi,
- Anas Zarqa dan lain sebagainya,
- ya,
- banyak sekali, ya.
- Itu
- mereka ini adalah
- tokoh-tokoh ulama semuanya
- yang meyakini bahwa
- apa namanya ekonomi Islam itu adalah
- sangat berbeda
- Ehm.
- dari ekonomi yang sekarang ada,
- ya.
- Bahwa Islam mengharamkan riba harus
- segera kita implementasikan.
- Tapi, bagaimana kita akan
- mengimplementasikan larangan riba
- kalau seluruh dunia, seluruh
- pojok bumi ini
- tidak ada satupun wilayah yang di
- dalamnya tidak ada riba. Ya itu perlu
- suatu mental yang kuat.
- Apa mungkin kita bisa
- keluar dari riba, misalnya begitu ya.
- Itu loh, jadi
- dari awalnya itu bagi orang yang tidak
- tahu masalah itu akan terasa sangat
- berat, bagaimana kita akan keluar dari
- kungkungan riba atau dominasi riba ini.
- Karena kita hampir tidak bisa hidup
- tanpa riba. Di saat itu kita harus hidup
- tanpa riba. Kita harus kembali kepada
- Alquran bahwa
- Allah mengharamkan riba.
- Iya.
- Makanya kemudian timbul konferensi
- banyak sekali. Berkali-kali, kalau kita
- lihat eh bukunya Yusuf Qardhawi itu
- kesepakatan ulama zaman sekarang tentang
- haramnya bunga bank itu adalah seperti
- ijmak.
- Iya.
- Ya seperti ijmak.
- Ya, saya baca bukunya itu.
- Iya.
- Jadi sudah berkali-kali mereka kaum
- muslimin mengada kan
- apa namanya mengadakan eh konferensi
- eh muktamar ulama untuk membahas tentang
- riba dan semua konferensi itu
- menyepakati bahwa termasuk riba adalah
- bunga bank. Hatta
- eh ini Syekh Wahbah Zuhaili
- Wahbah
- Syekh Wahbah Zuhaili itu dalam kitabnya
- Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu itu
- tentang bank periba itu tentang faedatul
- buluk ya.
- Iya.
- Faedatul buluk ya. Eh bunga bank itu
- beliau katakan "Huwa haramun haramun
- haramun." Tiga kali.
- Kemudian yang lain-lain banyak sekali.
- Jadi kalau seperti ini saya sudah eh eh
- mereka berangkat dari dari kaum muslimin
- yang menyen men mencetuskan ekonomi
- Islam ini berangkat dari pemahaman riba
- yang benar dan berusaha untuk
- menghindarkan diri dari riba dan
- bagaimana kita membuat sebuah
- perekonomian atau sebuah gagasan ekonomi
- yang bebas dari riba, yang bebas dari
- goror, yang bebas dari maisir dan lain
- sebagainya, itu adalah satu saat yang
- pertama. Dan ini kita sudah berada pada
- dekade yang kelima misalnya. Ya,
- harusnya sudah ada bukti
- sedikit-sedikit. Tapi dominasi riba tadi
- masih begitu dominan.
- Kita sulit sekali untuk menghindarkan,
- apalagi kemudian pada periode yang
- sekarang ini
- buli-buli yang disampaikan oleh
- orang-orang yang ragu terhadap Islam itu
- mulai mulai apa? Mulai bermain di dalam
- pikiran mereka yang bergerak dalam
- ekonomi Islam, sehingga lama-kelamaan
- mereka semangatnya
- luntur-lunturlah.
- Tapi saya yakin bahwa ini adalah suatu
- periode di mana kita akan tetap bertahan
- dan kita akan melihat itu sebagai suatu
- tantangan saja. Dan kelanjutannya kita
- akan lihat bahwa yang benar adalah ini.
- Fa amma azzabad
- fayadzhabu fayadzhabu jufa. Adapun buih
- ini dia akan hilang. Tapi waamma
- mayanfaunnas, apa yang bermanfaat bagi
- manusia akan tetap
- tsabit tsabit tsabit.
- Baik.
- Sangat berbeda kita lihat masa depan ya.
- Mungkin masa depan ekonomi Islam itu
- akhirat, masa depan ekonomi selain Islam
- Ya, tapi kita sebelum ke akhirat ini
- jaya dulu.
- Oh, iya. Sebelum ke akhirat jaya dulu.
- Yang belum merasakan kejayaan masih
- nanti
- Baik, Pak Ustaz.
- Ah, tidak terasa ya. Studi studio ini
- sudah menunjukkan pukul 10.11. Kita
- langsung saja ke beberapa komentar dan
- pertanyaan sudah masuk dari Ikhwan dan
- Akhwat, Pak Ustaz ya.
- Silakan.
- Ini saya akan pertama ke
- komentar-komentar yang masuk melalui
- akun YouTube Rasya TV di siaran live
- kita di pagi hari ini.
- Ada Pak Ilham, ada juga Pak Qosim, ada
- juga Ibu Rusdiati.
- Kalau Pak Ilham ini menuliskan
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Pak Ustaz. sebagaimana
- kajian
- di dalam fikih muamalah, maka berbagai
- transaksi di dalam kegiatan ekonomi yang
- mengandung aspek goror, riba, maisir,
- secara tegas dilarang di dalam Islam,
- karena bisa menyebabkan hal yang tidak
- baik. Tapi kita sudah ketahui, namun
- masih saja dijalankan ini, Pak Ustaz,
- ya.
- Lalu, Pak Qasim, assalamualaikum, Pak
- Ustaz, yang dirahmati Allah, dewasa ini
- perkembangan ekonomi syariah menuai masa
- yang membanggakan.
- Mulai dari dukungan pemerintah, misalnya
- keterlibatan OJK, MUI, organisasi
- percepatan
- perekonomian syariah, seperti KNKS
- Komite Nasional Ekonomi Syariah dan
- Keuangan Syariah yang dipimpin langsung
- oleh Presiden dengan wakil ketua
- dan dengan wakil Presiden K.H. Ma'ruf
- Amin.
- Semoga negara kita istikamah berjuang
- untuk meningkatkan ekonomi yang berbasis
- agama, dalam kata lain, ekonomi Islam.
- Benarkah begitu, Pak Ustaz? Ada juga ini
- dari Wali, assalamualaikum, Pak Ustaz,
- senang sekali melihat dari data yang
- dikeluarkan oleh berbagai lembaga
- ekonomi syariah global berdasarkan
- Global Islamic Finance, Indonesia berada
- di posisi ke-1 pada tahun 2021.
- Di mana tahun sebelumnya berada di
- urutan 2 berdasarkan Global Islamic
- Economy Report, Indonesia berada di
- urutan 4 tahun 2021 dan sebelumnya juga
- berada di urutan 5. Sedangkan
- berdasarkan Islamic Finance, Indonesia
- berada di urutan kedua. Mohon
- tanggapannya, Pak Ustaz.
- Terima kasih, ini data-data yang bagus
- sekali, ya.
- Eee sudah lama kita mendapatkan
- selalu nomor posisi, kalau nomor 1,
- nomor 2, gitu, ya.
- Iya.
- Bahkan kalau kita lihat eee
- kepatuhannya kepada syariah, Indonesia
- nomor 1.
- Eee.
- Bank Sentral Indonesia atau Bank
- Indonesia itu adalah bank sentral yang
- paling taat kepada syariah sebetulnya,
- kalau dikaitkan dengan itu.
- Eee.
- Yang kita bukan kita persoalkan, yang
- kita ceritakan adalah bahwa sekalipun
- begitu banyak pihak-pihak yang sudah
- memberikan support kepada apa
- perkembangan ekonomi Islam misalkan ada
- OJK terus kita sudah meloloskan
- undang-undang perbankan, asuransi
- pegadaian dan lain sebagainya semuanya
- menunjukkan ada perbankan syariah bahkan
- perbankan syariah bagian daripada
- perbankan nasional asuransi juga
- syariah juga sebagai bagian daripada
- asuransi nasional dan lain sebagainya
- alhamdulillah seperti itu sudah cukup
- banyak kemudian mata kuliah ekonomi
- Islam diterima sebagai mata kuliah yang
- ada di perguruan tinggi negeri, swasta,
- Islam bahkan
- perguruan tinggi yang dikelola oleh
- orang-orang non muslim ya banyak seperti
- itu
- nah
- namun demikian kalau kita lihat di dalam
- pencapaian atau performa itu kan
- share daripada keuangan syariah
- dalam hal ini perbankan syariah atau
- misalkan asuransi syariah relatif
- dibandingkan dengan yang konvensional
- itu belum ada perubahan
- hmm
- ya
- ada dalam perbankan signifikan ya
- misalkan dari dulu kita itu angkanya
- belum dari 5%
- atau kalaupun pernah 5% di atas 5% itu
- balik lagi
- hmm
- kepada di bawah 5% jadi kalau dilihat
- dari indikasi seperti itu sepertinya
- kita ini stagnan ya stagnan tidak begitu
- maju tapi dalam hal lain konsep misalnya
- dalam hal pendidikan
- itu itu sangat sangat apa ya kita lihat
- bahwa
- peminatan kepada ekonomi Islam dan
- keuangan syariah itu terjadi di
- mana-mana ya di Indonesia di luar negeri
- tetapi tidak diimbangi dengan atau tidak
- ditunjukkan dengan share
- atau market share daripada
- keuangan syariah di dalam
- hubungannya dengan
- konvensional gitu ya
- hmm
- tapi itu bisa kita
- tambahin lagi dengan tidak harus itu
- saja yang kita
- include atau kita
- eh subordinasikan ke dalam ekonomi
- Islam, tapi ada misalkan halal industri
- itu juga penting untuk kita masukkan dan
- kalau kita itu masukkan itu jadi
- jumlahnya
- lumayan ya
- tinggi gitu ya, berbeda dari yang tadi
- itu.
- Ya makanya ada Komite Nasional untuk
- Ekonomi Islam seperti itu itu penting
- sekali. Ya ini dulu
- diusahakan supaya ada untuk
- menghilangkan
- apa ya namanya egoisme sektoral gitu loh
- supaya departemen atau kementerian ini
- bisa sinergi sama-sama untuk
- memajukan ekonomi syariah itu tapi
- walaupun sudah dibentuk itu antara
- periode sebelumnya dengan sudah dibentuk
- ini
- melihat kalau saya lihat itu belum ada
- perubahan
- signifikan
- gitu.
- Belum ada perubahan signifikan dan juga
- mungkin
- belum ada hasil yang bisa dirasakan oleh
- masyarakat sekarang.
- Ada ada ada ya masa enggak ada sama
- sekali adalah
- ada ya maksudnya.
- Ini ada hamba Allah nih Pak Ustaz yang
- menyampaikan WhatsApp-nya
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Izin cerita Pak Ustaz kami pernah
- mempunyai usaha grosiran
- tapi pada waktu itu
- usaha ini tidak lepas dari ribawi
- iya
- dan ujung-ujungnya habis Pak Ustaz
- bahkan masih meninggalkan hutang yang
- tidak sedikit
- tapi alhamdulillah saat ini ada usaha
- kecil-kecilan yang melibatkan
- pedagang-pedagang keliling
- dan saya berusaha untuk mengikuti
- aturan-aturan yang sesuai syariah
- alhamdulillah dari usaha kecil-kecilan
- tersebut pelan-pelan sudah bisa membantu
- membayar sisa-sisa hutang
- dari supplier yang dulu
- apakah memang seperti itu Pak Ustaz,
- sunatullah menjalankan
- ekonomi sesuai dengan syariah? Mohon
- pencerahan.
- Alhamdulillah. Jadi,
- yang ee saya tanggapi dari statement ini
- adalah bahwa
- kalau niat kita itu ingin menerapkan
- ekonomi Islam
- dan ekonomi Islam itu yang kita pahami
- He eh.
- ya. Jadi, pertama-tama kita pahami
- ekonomi Islam seperti itu.
- Lalu, kita ingin mengimplementasikannya
- seperti yang kita
- konsepkan itu
- berjalan dengan baik. Nah, di sini ee
- terlihat apa namanya, terlihat hasilnya
- kan ya. Sudah bisa begini begini.
- He eh.
- Jadi, ee adalah ada keberkahan.
- Dalam pengertian bahwa
- berkah itu kalau kita terjemahkan dari
- dari bahasa Arab, berkah itu kasratul
- khair ya.
- Ke banyak banyak banyak kebaikan.
- Kasratul
- Nah, artinya adalah
- ee dengan dengan kita melazimi, mentaati
- apa yang boleh, apa yang tidak boleh
- dalam muamalah ini
- ya, semata-mata kita ingin taat kepada
- Allah subhanahu wa taala
- maka muamalah yang kita lakukan ini
- selain kita transaksinya sesuai dengan
- syariah, ada keberkahan di sana ya.
- Karena keberkahan itu terjadi kalau kita
- itu taat kepada aturan Allah ya. Nah,
- ini terbukti kalau ini saya lihat sih Bu
- seperti itu ya.
- He eh.
- Nah, saya juga merasakan bahwa
- misalkan saja
- kita punya janji untuk membayar utang
- kepada suatu kelompok atau teman kita
- atau orang yang kita hutangi. Sementara
- kita itu enggak punya uang untuk
- membayar
- deadline-nya tinggal satu hari, kita
- enggak punya enggak kebayang
- besok tinggal besok saya harus bayar apa
- pada teman. Tapi, kalau kita itu apa
- namanya
- ee berserah kepada Allah subhanahu wa
- taala
- itu akan ada jalan keluar ya.
- He eh.
- Ya.
- Itu apa namanya, namanya keberkahan di
- pertolongan Allah itu ada di situ gitu
- loh maksudnya.
- Jadi, ee selama kita ini mentaati Allah
- dalam hal muamalah,
- selama itu kita akan berharap bahwa
- keberkahan itu ada.
- Dan keberkahan itu akan memberikan
- kebaikan yang banyak kepada diri kita.
- Bisa berupa
- uang, bisa berupa rezeki yang lain.
- Rezeki Allah jangan hanya kita
- definisikan uang, ya. Banyak sekali, ya.
- Pertolongan Allah,
- pertolongan orang lain kepada kita ya
- rezeki. Ilmu kita rezeki, suara kita
- rezeki, dan lain sebagainya.
- Itu jangan kita mengartikan rezeki dalam
- bentuk materi saja, tapi banyak sekali
- di luar daripada itu, ya.
- Saya kira ini pengalaman yang perlu,
- perlu dilanjutkan dan perlu kita yakin
- bahwa muamalah yang kita lakukan dengan
- melazimi, mentaati daripada ketentuan
- agama, haram tidak boleh kita
- tinggalkan,
- halal boleh kita lakukan dan lain
- sebagainya, maka itulah yang akan
- mendatangkan
- berkah.
- Insya Allah.
- Selanjutnya Pak Ustaz ada Pak Mas'ud ini
- di Batam. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Pak Ustaz, kebenaran bisa saja kalah,
- tetapi tidak pernah salah. Alhamdulillah
- sekarang ekonomi Islam mulai menyadarkan
- umat di bumi ini. Secara tidak sadar
- insya Allah ekonomi Islam akan diakui
- dunia.
- Sekarang yang saya baca dengan
- keterbatasan saya di dunia
- mulai sadar bahwa kemunafikan itu tidak
- baik. Walau ditutupi kebenaran pasti
- akan muncul.
- Akan muncul dengan kebenaran.
- Begitu, Pak Ustaz.
- Iya, terima kasih.
- Ustaz, apakah sifat Allah qiyamuhu
- binafsihi bisa ditiru oleh sebuah
- negara? Diterjemahkan bahwa negara harus
- qiyamuhu binafsihi, kemandirian
- maksudnya.
- Iya. Qiyamuhu binafsihi ini artinya
- Allah itu tidak butuh kita lah. Allah
- ghani. Allah itu tidak membutuhkan
- makhluknya.
- Iya.
- Ya, seperti itu. Kalau kita ini fakir,
- ya, membutuhkan Allah kapan saja tanpa
- terkecuali, ya.
- Begitu. Tapi bahwa kita itu diminta
- untuk qiyam ala nafsi, berdiri sendiri
- dalam pengertian kita mencukupi
- kebutuhan kita sendiri itu wajib
- hukumnya,
- Setiap individu dalam Islam ini
- diwajibkan untuk bisa memenuhi
- kebutuhannya.
- Hajatuhu, ya, ad-dharuriyat,
- hajatuhu al-hajiyat, hajatuhu
- at-tahsiniyat. Semua ini harus dia
- penuhi
- dari dirinya sendiri, maksudnya itu.
- Begitu yang dimaksud. Tapi qiyamuhu
- binafsihi dalam pengertian sifat Allah
- seperti itu, maksudnya Allah itu tidak
- butuh kepada hambanya, tidak butuh
- kepada makhluknya.
- Ya, dia berdiri sendiri tidak
- membutuhkan yang lain gitu loh. Tapi
- kalau kita maksudkan dengan dalam diri
- kita, maksudnya adalah kita wajib
- memenuhi kebutuhan diri kita sendiri
- dengan
- diri kita.
- Jangan kita menganggap apa
- apa menyandingkan atau jangan sampai
- kita itu menggantungkan
- pemenuhan kebutuhan diri kita dari pihak
- lain, itu maksudnya.
- Ini Mas Angga, ya.
- Begitu, Pak Masud, semoga terjawab tadi
- mengenai
- bagaimana sebenarnya ekonomi Islam ini
- walaupun kalah gitu, ya, tapi tidak
- pernah salah.
- Itu pernyataannya bagus, ya.
- Bahwa yang yang yang benar tidak selalu
- menang, ya.
- Iya.
- Kalau kita lihat sejarah manusia itu
- dari zaman dulu
- lebih dominan yang kalah yang yang salah
- yang menang, ya.
- Iya.
- Periodenya lebih lama seperti sekarang.
- Periode yang apa namanya yang baik itu
- sebentar, ya.
- Tidak tidak tidak banyak, tetapi yang
- dicatat Alquran seperti itu. Ya,
- misalkan
- periode Nabi Sulaiman menjadi raja
- itu berapa 45 tahun. Sebelumnya kayak
- apa?
- Dan setelahnya jadi kayak apa Bani
- Israel?
- Tidak ada dalam sejarah, ya. Ribuan
- tahun setelah itu enggak dikenal, ya.
- Ya, kemudian Islam juga begitu.
- He eh.
- Nah,
- 700 tahun pertama,
- ya, kalau kita lihat Baghdad 1258
- Masehi jatuh.
- Nah, sekarang sampai sekarang belum
- bangkit-bangkitnya.
- Nah,
- kita lihat bahwa seperti itu. Tapi bukan
- berarti bahwa
- yang benar itu apa namanya yang salah
- itu benar gitu loh dalam pengertian ini.
- Tapi yang yang yang yang benar itu bisa
- kalah, ya.
- Nah,
- hukumnya kan
- al haqqu bila nidzamin yaghlibu al
- bathilu binidzamin.
- Kebenaran
- tapi tidak diatur dengan baik akan
- dikalahkan oleh kebatilan yang diatur
- dengan baik. Ya, seperti itulah.
- Ya, itu tidak menunjukkan apa-apa bahwa
- apa namanya al Islam ya'lu wala yu'la
- itu itu sudah menjadi apa namanya sudah
- menjadi kebenaran.
- Bahwa konsep dalam pengertian konsep
- dalam pengertian ajaran Islam itu luhur
- tidak ada yang lebih luhur daripada
- Islam.
- Tapi sebagai seorang muslim, ya, kalah
- dari orang kafir itu itu
- sangat terjadi, sangat mungkin terjadi,
- ya.
- Baik, Pak Ustaz, ini itu menjadi
- pertanyaan terakhir yang bisa kita
- jawab. Mohon maaf eh
- pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak
- sempat terjawab. Sebagai penutup, Pak
- Ustaz, dari pembahasan kita.
- Terima kasih, Mas Angga. Jadi,
- eh topiknya pada hari ini agak agak
- berat ya karena
- Mas Angga memberikan topik bahwa apa
- namanya
- ilmu ekonomi yang atau ilmu ekonomi yang
- didasarkan pada agama itu enggak punya
- masa depan. Padahal kalau kita eh cek
- dengan baik bahwa tidak ada masa depan
- agama yang
- terang kecuali Islam. Al mustaqbalu al
- mustaqbalu li ad din.
- Masa depan eh isme atau paham apapun
- kalau dilihat kita kaitkan dengan Islam,
- maka yang lainnya itu tidak masa depan.
- Ini hanya sekonyong-konyong menang,
- sebentar-sebentar menang, tapi tidak
- akan kekal.
- Kan, karena yang memberikan manfaat
- kepada manusia hanya Islam dan
- hanya Islamlah yang punya masa depan.
- Oleh karena itu, jika ekonomi ini
- didasarkan pada ajaran Islam, maka dia
- akan kekal
- sekekal agama Islam itu sendiri. Jika
- Islam is our future, then Islamic is
- also our future.
- Ya, kita lihat. Jika Islam adalah masa
- depan, maka ekonomi Islam adalah masa
- depan kita. Dan tidak ada yang lain, ya.
- Setelah itu kita akan runtuh dunia ini
- menjadi kiamat, ya,
- ke alam yang berbeda. Tapi, kita sangat
- yakin sebelum itu terjadi, Islam akan
- memimpin dunia dan ekonomi Islam akan
- memimpin ekonomi dunia.
- Saya kira itu, ya.
- Baik. Terima kasih banyak, Pak Ustaz,
- atas ilmunya dan juga waktunya.
- Eh, Ikhwan Akhwat, demikianlah kajian
- ekonomi Islam edisi hari ini. Semoga apa
- yang disampaikan oleh Ustaz Ikhwan Basri
- dapat bermanfaat bagi kita semua. Mohon
- maaf atas segala kesalahan kata. Kami
- undur diri. Billahi taufiq wal hidayah.
- Subhanakallahumma wa bihamdika. Asyhadu
- alla ilaha illa anta. Astaghfiruka wa
- atubu ilaik. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.