Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:01 [Musik] 0:06 [Musik] 0:54 Brail 1:03 [Musik] 1:29 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 1:31 warahmatullahi wabarakatuh. Allahumma 1:33 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali 1:35 sayyidina Muhammad. Alhamdulillah kita 1:37 berjumpa lagi hari ini hari Rabu eh Rabu 1:43 Selasa. Selasa ya, hari Selasa tanggal 1:48 7 Februari 2023 atau tanggal 16 Rajab 1:55 1444 Hijriah. Kita jumpa lagi dalam 1:58 acara tamu kita nih. Salah catat ni 2:01 mestinya ahlan wasahlan. Tapi enggak 2:03 apa-apa deh yang penting kan kontennya 2:05 ya. Ee siapkan Bu sama kertas. Kami akan 2:08 membacakan nanti nomor HP narasumber 2:11 kita 2:12 ya. Akhir-akhir ini ramai di media 2:16 sosial tentang penculikan 2:19 anak. 2:21 Anaknya terus katanya dibunuh organnya 2:23 diambil dijual karena harganya 2:25 tinggi. Itu juga pengaruh dari medsos. 2:29 Saya mau konfirmasi nih ke narasumber 2:31 kita itu benar enggak 2:32 ya ee kejadian itu beliau juga yang 2:36 pernah ngurus orang yang kena itu loh 2:38 apa bayi yang sol jiwanya tuh spirit 2:41 doll apa bayi berjiwa boneka berjiwa 2:44 boneka arwah kan ada selebritis tuh pada 2:49 pada punya boneka itu seolah-olah kayak 2:52 kayak kayak anak beneran kayak bayi 2:54 beneran naruhnya juga pelan-pelan enggak 2:57 boleh luka, enggak boleh sembar orang 2:59 gendong itu beliau juga pernah 3:01 menghandle ini. Pernah juga 3:03 ada musisi yang terkenal sekali di 3:06 Indonesia ini. Anaknya punya traumatik 3:09 beliau juga yang handle. Alhamdulillah 3:11 sekarang sudah normal 3:13 kembali. Setelah di apa namanya? 3:17 Diterapi oleh di apa dikasih 3:18 omong-omonglah sama narasumber kita. 3:21 Narasumber kita 3:23 adalah seorang wanita yang selalu rapi. 3:26 Lahirnya di Sumenep tanggal 22 Januari 3:30 tahun 50. SD-nya di Surabaya, SMP-nya di 3:33 Surabaya, SMA-nya Surabaya, kemudian di 3:37 IKIP Surabaya, sastra 3:39 Inggris. Ee pernah juga ngajar di Lia. 3:42 aktif juga di apa jajasan yang di bawah 3:46 pimpinan Ibu Jenderal 3:49 Nasution ee aktivis 3:52 sosial 3:53 dan banyak 3:56 lagi. Ee beliau pernah juga kita undang 3:58 di 4:00 sini Mbak Rustin Ilyas. Asalamualaikum 4:04 Mbak Rustin. Waalaikumsalam 4:05 warahmatullahi wabarakatuh. yang seran 4:07 dari Mbak Arustin 4:08 ini ngumpulnya di baw dengan anak-anak 4:12 bawah kolong, dengan anak-anak 4:14 gelandangan lah tuh yang yang 4:16 kacau-kacau, yang enggak enggak kenal 4:17 mandi. Sampai dia 4:21 ada nulis buku ya ee yang ditulis oleh 4:23 Azzaki Zaki Zurham. Heeh. Nasin Azizarjo 4:28 judulnya Tuhan. Kenapa kenapa salat itu 4:31 mahal? Ya. Jadi ini diambil dari 4:34 pembicara dengan Mbak Rustin di mana 4:36 anak gelandang itu kalau mau salat emang 4:39 saya punya duit artinya karena salat kan 4:41 dia harus bayar airnya itu wudu bayar 4:44 apa wuh. Jadi orang yang salat bagi dia 4:46 tuh itu bawa barang mewah ya. Sebuah 4:49 kemewahan. Sebuah kemewahan ya. Oke, 4:52 pertanyaan pertama saya kan sekarang 4:55 ramai nih masalah penculikan di mana itu 4:58 ee itu HW apa benar-benar ada emang 5:01 penculikan. Benar. Betul. Ada ada. 5:03 Benar. Benar. Sebetulnya ini bukan hal 5:07 baru ya gitu loh. Dulu dulu juga sudah 5:11 ada gitu ya cuman kan medsos belum ada 5:15 gitu dan apa ee 5:19 belum bisa ada viral di sana. Viral 5:21 belum ada. Tapi kalau sekarang kan sudah 5:23 ada gitu kan ya memang ada kalau 5:26 penculikan itu banyaklah gitu loh dengan 5:28 motifnya macam-macam gitu. ada yang 5:31 karena apa? Butuh duit kemudian dia 5:34 minta tebusan gitu kan. Bahkan ada yang 5:37 mereka apa ingin menjual organnya juga 5:41 gitu kan. Dulu pun ada sebelum ada 5:43 medsos ini gitu. Tapi kalau yang 5:46 sekarang ini yang saya tahu pernah ada 5:50 justru dilakukan oleh masih anak remaja. 5:53 Bahkan yang satu atau dua orang itu 5:56 masih di bawah umur ya. 6:00 tanpa berpikir panjang dia hanya ingin 6:03 mengambil organ tubuh dan dijual. He 6:07 dipikir semudah itu untuk menjual organ 6:10 gitu kan. Nah, ternyata setelah dia 6:12 lakukan pembunuhan dan kemudian organnya 6:15 diambil habis itu bingung dia mau 6:17 ngapain nih ya sudah dibuang aja di 6:20 selokan kayak g jadi enggak berhasil ini 6:21 enggak enggak sukses ya angan-angan dia 6:23 untuk dapat uang dari organ itu. Iya. 6:25 Iya. Tapi image itu sudah sampai ke 6:29 mana-mana kan berarti gitu kan dan itu 6:31 sangat mengerikan sekali. Iya. Hm. K itu 6:34 kan satu itu yang terekam dan itu yang 6:36 terangkat. He. Nah, yang enggak Hm. Yang 6:39 Mas ini kan seperti puncak gunung es 6:41 aja. Heeh. Oke. Oke. Masih banyak yang 6:44 belum kita ketahui. Oke. Gitu. Dan ini 6:47 memang enggak enggak mudah. Oke. Ngeri 6:49 emang. Oke. Baik. Saya pentah saya akan 6:52 ee menghubungi dulu ini seorang hamba 6:55 Allah ya yang dia juga punya cerita 6:57 tentang anaknya yang sampai hilang 6:59 nyawanya. Oke. Ee Mas Anis bisa 7:02 dihubungi 7:05 ee ee kita karena dia waktunya terbatas 7:08 jadi kita dahulukan si hamba Allah ini. 7:12 Ibu hamba Allah yang anaknya tuh 7:15 sampai 7:18 hilang belum terbung. 7:20 belum terbung. Oke. Ee jadi sebetulnya 7:24 kasus penculikan ini sudah lama ya? 7:26 Sudah lama. Sudah lama 7:28 dan dan enggak enggak sedikit sih ya 7:31 gitu. Tapi ya memang memang ee ini kita 7:35 seperti menghadapi sesuatu yang baru 7:38 selalu begitu. Padahal sebetulnya di 7:42 mana pun itu bisa diredam, bisa ada 7:45 preventif edukatif seharusnya kalau kita 7:47 mau kan gitu. 7:50 Oke. Baik, kita sudah terhubung. Halo. 7:54 Asalamualaikum. Waalaikumsalam. 7:56 Asalamualaikum, Ibu. I Waalaikumsalam. 7:58 Oke, mohon maaf mengganggu waktunya. 8:01 Iya. Ee Ibu itu kejian anak Ibu sampai 8:04 hilang nyawanya itu pada tahun berapa 8:06 kejadiannya? Itu di tahun 2017, Pak. 23 8:11 September. Oke. Du 2017. Anak Ibu berapa 8:15 usianya pada itu? Ee 16 tahun. 16 tahun. 8:18 Bagaimana kejadian sampai nyawanya 8:20 hilang anak Ibu? Iya. Waktu itu kan ee 8:24 dari malamnya dulu ya, malamnya itu jam 8:27 12.00 itu dia masih pinjam HP saya ya. 8:30 Saya bilang, "Jangan ke mana-mana, tidur 8:32 ya gitu kan." Iya, gitu kan. Nah, enggak 8:36 tahu mungkin pas saya sudah tidur dia 8:37 mungkin ee katanya sih ada temannya 8:39 nyamper gitu karena malam minggu waktu 8:42 itu ee malam liburlah gitu ya. Sabtu 8:44 kalau enggak salah jatuhnya itu malam 8:47 apa paginya tuh Sabtu. Jadi malam Sabtu 8:49 ya? H katanya sih kata temannya nih pas 8:53 sudah kejadian katanya nongkrong di ee 8:56 daerah apa itu pemadam gitu ya. He. Ee 9:02 terus apa namanya ee ya pagi-pagi tuh 9:05 saya dikabarin He 9:07 gitu jam jam .00 lah temannya itu ada 9:10 yang datang ke rumah he jam .00 Pas saya 9:13 mau salat subuh. Tapi jam .00 itu saya 9:16 ini terbangun gitu ya, tiba-tiba ke 9:18 kegentak gitu lagi tidur. Ih, ke mana ee 9:22 si ini ke mana ya? Kata saya tiba-tiba 9:24 saya ngomong begitu ternyata itu 9:26 ternyata pas sama saat anak saya sudah 9:28 enggak ada gitu. Jadi kayak mungkin dia 9:30 pamit kali gitu ya. 9:33 Saya lihat gini, "Eh, ke mana anak saya 9:35 ya?" gitu kan. Saya cari di kamarnya 9:36 ternyata enggak ada gitu kan. 9:38 Terus saya pikir karena dia suka nginp 9:40 di rumah temannya yang ada tuh yang ee 9:44 dekat rumah gitu, saya pikir di situ 9:45 kan. Ya udah deh nanti pagilah saya 9:47 pikir saya cari. Ternyata jamjam. Deh, 9:51 .30 pagi itu ada temannya bertiga datang 9:54 ke rumah. He. Katanya, "Mah, ee kan 9:57 manggilnya pada mama semua, sama saya 9:59 temannya, Mah." Katanya, "Itu si ee anak 10:03 saya itu disebut aja Hilman lah namanya 10:05 gitu ya." 10:06 Si katanya ada di rumah sakit Polri kat 10:09 gitu kan. Ya Allah. Kata saya gini, 10:12 "Hah, di rumah sakit Polri kenapa gitu 10:14 kan. Pada diam aja tuh anak-anak tuh 10:16 enggak berani jawab." Cuman dalam 10:18 pikiran saya saat itu, waduh kalau di 10:20 Polri nih kalau enggak meninggal apa ee 10:23 parah meninggal nih gitu ya. Tapi saya 10:26 masih berusaha tenang. Saya bilang, "Ya 10:28 udah, kamu pada tunggu aja di Polri deh, 10:30 tungguin." Saya bilang itu saya karena 10:32 dalam pikiran saya mudah-mudahan ee apa 10:35 masih lah, masih selamat gitu ya. Enggak 10:37 tahu deh pikirannya begitu gitu kan. Ee 10:40 terus saya ee habis itu enggak lama saya 10:43 mandi, saya ke Polri. Heeh. Saya ke 10:46 Polri tapi di udah lemas sih sebenarnya 10:48 badan, tapi saya kuat-kuatin gitu ya 10:51 sambil berusaha berdoa terus, istigfar 10:53 terus dia minta kekuatan gitu ya. 10:56 Kemudian akhirnya ditunjukinlah sama 10:58 pihak rumah sakit itu ke rumah apa? Ke 11:01 ruang belakang tuh di belakang Bu kat 11:03 gitu. Saya sudah enggak sadar pas sampai 11:05 sudah enggak sadar kalau itu ruang 11:07 jenazah udah enggak kelihatan deh gitu 11:09 ya. Ee ternyata mereka temannya sudah di 11:12 situ. Saya bilang ke mana sih Ilman gitu 11:14 kan. Itu mah di dalam itu. Saya enggak 11:17 enggak enggak kepikiran kalau itu ruang 11:19 jenazah tuh. Enggak ini enggak tahu 11:20 benar-benar gitu kan. Enggak tahunya 11:22 lama keluar tuh. Heeh. Udah, udah enggak 11:25 ada anak saya. Ya Allah. Oh, udah ini 11:27 deh apa namanya ya? Enggak keruan ya. 11:30 Wah, udah enggak keruan deh perasaan 11:31 gitu ya. Udah nangis tapi ya saya masih 11:33 berusaha tegar gitu ya. Berusaha tegar 11:37 gitu. Tapi ada yang bikin saya senang 11:40 itu kenapa ya kok saya lihat kok 11:42 almarhum itu jenazahnya bersih banget, 11:44 tenang banget gitu ya. Ee apa 11:48 namanya? Ee ganteng banget gitu deh. 11:51 Usia 16 tahun itu ya. Iya. 16 tahun. He. 11:55 Nah, udah gitu kan ya udahlah saya belum 11:57 nanya-nanya tuh sama tuh anak sama 11:59 anak-anak temannya itu kenapa 12:00 meninggalnya gitu kan. Heeh. Akhirnya 12:03 saya nanya katanya di bacok gitu di 12:07 mana? Saya bilang gitu kan. H dia di 12:10 dekat rumah sebenarnya itu Mas 12:11 kejadiannya gitu ya. 12:14 Ternyata katanya yang bacoknya juga udah 12:17 ketangkap gitu. 12:19 Nah, akhirnya setelah ee urusan pokoknya 12:23 ya saya berusaha tegar aja terus tuh ya, 12:25 istigfar terus deh. Tapi pas sampai 12:27 rumah sih ya kelenger juga gitu ya, Mas 12:30 ya. Heeh. Sambil berusaha tetap ikhlas, 12:32 tetap tegar, nyadar-nyadarin diri gitu 12:34 ya untuk jangan sampai saya itu stres 12:38 atau gimana gitu ya. Nah, akhirnya tuh 2 12:42 hari berikutnya atau ya du hari 12:44 berikutnya tuh saya tuh mengunjungi ee 12:47 panti anak tuh. Heeh. Si payung 12:50 mengunjungi si pembunuhnya ini gitu kan. 12:54 Heeh. Ternyata yang bunuhnya yang satu 12:56 umurnya baru 13 tahun. Heeh. Ya. Dia 13:00 kelas 1 SMP. He. Yang satu 13:04 ee kelas 1 SMA. He he. Yang ternyata itu 13:09 temannya si almarhum. Jadi si almarhum 13:11 itu kalau makan minum apa waktu SMP-nya 13:13 tuh suka di rumah dia tuh. Saya baru 13:15 tahu gitu ya. Nah, kemudian saya 13:17 berusaha untuk wawancara mereka berdua 13:20 gitu ya. Saya bilang, "Kenapa?" Saya 13:22 bilang sampai terjadi ini enggak saya 13:24 enggak marahin mereka sedikit pun enggak 13:26 ada. Heeh. Masyaallah gitu ya. Cuma saya 13:29 tanya malah dengan baik-baik. Saya 13:30 bilang gini, "Kenapa gitu kan ee kalian 13:34 ee berbuat seperti itu ya saya gitu kan 13:36 apa salah apa gitu kan. Terus yang ada 13:40 tuh yang badannya gede tuh satu kan yang 13:42 bunuhnya itu dia enggak salah apa-apa 13:45 katanya gitu ya. H dia cuma lagi lewat 13:48 katanya gitu. Ya Allah. Terus kenapa 13:51 orang lagi lewat diituin dibacok gitu 13:53 kan sampai meninggal gitu. Kamu enggak 13:55 tahu kamu udah berusak menghancurkan 13:58 masa depan orang tuanya gitu saya bilang 14:00 kan. 14:02 Tapi pas dia bilang apa? Anak saya itu 14:06 enggak lagi salah apa-apa gitu ya. Saya 14:08 tuh berucap alhamdulillah gitu Pak. He. 14:11 Karena berarti anak saya enggak lagi 14:13 makud berbuat onar gitu kan ya. Iya, 14:16 saya berucap alhamdulillah gitu. Berarti 14:18 anak gue sakit gitu. Heeh. Enggak lagi 14:21 mau tawuran atau apa gitu tapi korban 14:24 gitu. Korban daripada keberingasan 14:28 anak-anak yang ya yang begitulah gitu. 14:31 Saya enggak enggak nyalahkan orang tua 14:32 mereka juga enggak. Karena orang tua di 14:35 mana pun pasti nyuruh anaknya itu benar 14:37 gitu kan. Enggak ada yang ini. Cuma 14:39 karena mungkin mereka itu apa umur 14:41 segitu kan lagi ego-egonya ya Pak ya. 14:44 Lagi apa sih? Wah, pengin dibilang 14:45 jagoan lah gitu kan. Jadi yang lewat 14:49 asal yang lewat main bacok-bacok aja 14:51 gitu kan. Nah, itu ee si anak saya itu 14:54 boncengan tuh, Pak gitu ya. Yang satu 14:58 mah selamat tapi ini urat urat apa 15:01 lehernya itu putus juga. Ya Allah. Cuma 15:04 sekarat aja dia gitu loh. 15:08 Cuma sekarat. Jadi enggak sampai 15:09 meninggal. Nah, kemudian ee setelah itu 15:13 saya kan bertemu dulu nih sama ibunya 15:15 ya, sama ibunya si yang bacok anak saya 15:18 itu ya, Pak ya. He. Saya survei ke 15:21 rumahnya juga gitu. Ke rumahnya si yang 15:24 bacok ini. Aduh, saya bilang kasihan 15:26 banget ya rumahnya aja kayak begini 15:28 gitu. Bukannya ini anak bukannya bener 15:31 kok malah kayak gini gitu ya. Akhirnya 15:34 di situ saya ketemu lagi sama tu anak. 15:37 besoknya. Ee tapi itu, Pak, pas yang 15:40 hari pertama ke apa si panti itu saya 15:43 peluk-pelukan sama mereka itu, Pak. 15:45 Heeh. Saya peluk-pelukan. Saya bilang, 15:46 "Saya tidak akan memperpanjang sama si 15:48 pelaku itu ee apa kasus." Saya bilang 15:51 gitu. Tapi mama mau. Saya bilang, "Saya 15:55 membahasakan mama ya gitu. Tapi mama mau 15:58 kalian jadi orang berguna ya gitu kan. 16:00 Masyaallah. Jangan 16:02 sia-siain apa? Maaf ya. sudah mama kasih 16:05 ke kalian. Saya bilang gitu ya. Kamu 16:08 harus jadi orang. Saya bilang gitu ya. 16:10 Harus bisa banggain orang tua. Saya 16:12 bilang gitu. Yang sudah terjadi ini. Ya 16:15 udahlah mungkin ini ada sisi positifnya 16:18 buat anak saya. Saya bilang gitu. Anak 16:19 saya jadi enggak terjerumus pergaulan 16:22 yang tidak baik. Saya bilang mungkin 16:24 Allah melindungi anak saya dengan cara 16:26 seperti ini. Saya bilang gitu kan. Kamu 16:28 harus bisa jadi anak yang banggain orang 16:31 tua. Ya saya peluk tuh Pak anak anak dua 16:33 itu, Pak. Benar. Sampai itu si orang 16:36 Cipanti itu sampai gini, "Ya Allah, 16:38 katanya Bu, baru kali ini katanya 16:40 kejadian saya lihat di panti nih ya." 16:43 Katanya ibunya korban kok malah kayak 16:46 begini katanya gitu ya. Ya udah, Pak, 16:49 saya sudah ikhlaskan. Saya bilang gitu. 16:52 Ee saya enggak tahu ya, Pak. Pokoknya 16:54 saya ikhlas banget gitu maksudnya ya 16:57 udah ketentuan Allah gitu ya. Reaksi 17:00 Bapak gimana? Suami Ibu gimana 17:01 reaksinya? 17:03 suami itu ya saya bisa pasrah karena 17:05 saya ngelihat suami saya itu Pak dia itu 17:08 yang orang itu yang pasrah yang udah 17:11 mingat gitu kita rida kata ini mungkin 17:13 yang terbaik dari Allah gitu ya dia juga 17:16 sama justru saya tuh bisa begitu karena 17:18 lihat suami saya kayak gitu gitu loh 17:20 karena dia yang apa namanya yang sabar 17:23 yang ini begitu sampai ngelihatin anak 17:25 saya pun dia cuman keluar air mata 17:27 enggak yang nangis ngeraung-ngeraung 17:28 gitu enggak saya juga enggak gitu karena 17:32 Ya udah langsung apa sih komunikasi diri 17:35 ini takdir Allah, takdir Allah gitu 17:37 istigfar terus gitu ya, Pak. Kemudian 17:41 sampai ibu korban juga sampai nangis 17:42 peluk-pelukan sama saya tuh ya. He. 17:46 Sampai ibu-ibu yang ada di situ tuh 17:48 banyak itu, Pak. Ya, pelakunya juga 17:50 sampai minta-minta maaf. Maafin, Ma. 17:52 Maafin gitu. Iya, Mama maafin. Tapi kamu 17:55 keluar dari sini harus jadi orang ya 17:57 gitu. Belajar yang benar. Mama enggak, 17:59 Mama enggak apa enggak laporin kamu ke 18:02 polisi. Jadi, kamu namanya masih bagus 18:04 gitu. Jadi, jadi orang ya, jadi polisi 18:06 kayak jadi tentara. Saya bilang gitu ya, 18:08 Pak sama anak-anak itu ya. Eh, ternyata 18:12 saya kecewa banget ya. Kita maafin. 2 18:14 tahun kemudian dia dipenjara, Pak. Bunuh 18:16 orang lagi. Ya Allah, Karim. Iya. Saya 18:20 itu saya bukan dari mana-mana ya. Jadi 18:23 kalau kabar begitu kan karena rumah juga 18:25 enggak terlalu jauh sama dia kan. kabar 18:27 cepat nyampainya ya. Aduh di situ saya 18:29 kecewa banget deh. He sampai keluar dari 18:32 mulut saya itu katakan saya rasain loh 18:34 gitu gitu sampai kayak gitu gitu saking 18:36 ketelnya gini udah disayang-sayang ya. 18:39 Ya Allah Pak Bapak enggak percaya Pak 18:41 saya enggak punya dia takut enggak punya 18:42 duit saya anterin ke rumahnya Pak. Demi 18:44 Allah enggak bohong. Anak saya beli baju 18:47 batik nih ya. Beli kaos saya samain sama 18:50 anak saya yang masih ada nih ya apa yang 18:52 laki ya. Saya anterin ke rumahnya 18:55 itu ya. benar-benar sampai di rumahnya 18:58 juga dia kan udah keluar tuh ya saya 18:59 sayang-sayang saya bilang a manggilnya 19:01 juga saya aa ke dia ya a gitu ya ingat 19:05 ya enggak boleh terpengaruh lagi 19:07 pergaulan begitu ya a gitu kan kasihan 19:09 mama coba gitu kan kasihan mama gitu kan 19:13 ee mamnya dia maksudnya gitu karena kan 19:15 mamanya tuh cuman tukang urut gitu he i 19:17 kan udah gitu rumahnya juga kecil isinya 19:20 ramai-rame gitu kan maksud saya tuh saya 19:23 maafin supaya dia tuh bisa jadi orang 19:25 Kalau kan badannya tinggi gede gitu ya, 19:27 Om ya. Hm. Maksudnya tuh biar jadi ABRI 19:30 kek atau jadi polisi gitu ya. Eh enggak 19:33 tahunya dia enggak bisa memanfaatkan h 19:36 maaf dari kita gitu. Sekarang dia sudah 19:38 masuk penjara setelah yang kedua kalinya 19:40 ya. Seudah udah iya. Jadi sama anak saya 19:42 ini dia ini lagi cuman saya enggak tahu 19:45 nih korban itu mati atau enggak tapi 19:46 katanya sih pokoknya di penjara dia 19:48 nginiin anak jenderal katanya Mas anak 19:51 Kopasus. He. Karena dia lagi main futsal 19:54 itu diciduk tuh katanya sama propos. Hm. 19:57 Gitu beritanya yang dengar saya 19:59 anak-anak terus enggak lama pun kemarin 20:01 nih saya ketemu sama tetangganya dia 20:04 yang kebetulan teman saya gitu ya. Dia 20:06 cerita 20:08 ya itu katanya si itu sekarang lagi di 20:11 penjara karena ngebunuh orang lagi gitu. 20:14 I bahkan saya tuh sudah berniat kemarin 20:17 mau ngedatangin ibunya gitu tapi belum 20:19 sempat aja gitu ya. 20:22 Ya, gitu sih, Pak. Kejadiannya yang 20:24 menimpa saya ya gitu. Baik, Ibu. Terima 20:28 kasih atas ranya. Kami turut prihatin 20:30 ya. Iya. Ya, terima kasih. Nah, Ibu 20:32 sekarang jadi anak berapa? Tinggal 20:33 berapa sekarang, Ibu? Anak Ibu. Anak 20:35 saya sekarang tinggal dua. Tadinya tiga 20:37 ya. Tadinya tiga 20:40 gitu. Oke. Mudah-mudahan yang dua ini 20:43 menjadi anak yang saleh dan salehah ya. 20:45 Amin. Amin. Amin. Terima kasih, Bos. 20:47 Laki sama perempuan, Pak. Oke. Bar ya. 20:49 Saleh dan salehah ya. Iya. 20:51 Amin. Marabahaya ya. Terima kasih Ibu 20:54 atas sharingnya ya. Salam buat makasih 20:57 banyak Abah ya. Katanya Abah juga kami 21:00 doakan mudah-mudahan luka sembuh ya. 21:02 Amin. Sekali lagi terima kasih. Iya. 21:05 Asalamualaikum. Waalaikumsalam. 21:09 Gimana itu Mbak Rusin bisa begitu? Kan 21:11 di Amerika pernah juga ada kejadian yang 21:13 orang dibunuh tapi lalu dimaafkan itu 21:15 aja sudah seru. ini bukan saja 21:17 dimaafkan, tapi juga di disantuni gitu. 21:19 Dikasih malaikat tak bersayap itu ibu 21:23 ini hiburan itu ya memang ada sih tapi 21:26 ya itu 1 juta banding satu kali ya ibu 21:31 yang seperti ini ya. Suaminya juga gitu 21:33 lagi sama-sama memaafkan malah dipeluk 21:37 malah ya Allah. Oh ya memang kalau anak 21:38 di bawah usia apa 13 tahun tadi yang 21:42 yang pelakunya itu H itu memang ee belum 21:48 belum belum belum tentu dipenjara tapi 21:52 bisa direhabilitasi seperti itu. Karena 21:54 memang di dalam Undang-Undang 21:55 Perlindungan Anak He. Setiap anak itu 21:58 adalah peniru 22:00 dari dari orang tua bukan lingkungan 22:02 kita. Iya dari lingkungan. He artinya 22:05 anak ini punya sifat yang imitatif. He. 22:09 Dia akan meniru apa yang ada di 22:11 lingkungan itu. Makanya kalau kita 22:13 sebagai orang tua ya ee harusnya menjaga 22:17 anak dari lingkungan yang tidak baik kan 22:19 itu Mas. H memang seperti itulah 22:24 macam-macam yang kita hadapi. Anak ini 22:27 sekarang semakin semakin harus kita 22:30 tangani dengan serius ya. Enggak bisa 22:33 secara sporadis. Belum lagi yang 22:36 stunting, belum lagi yang kurang gizi, 22:39 belum lagi dan sebagainya dan 22:40 sebagainya. Sekolah juga masih acakadul 22:44 juga meskipun tidak bayar gitu ya, tapi 22:46 kan keperluan yang lain masih banyak 22:48 gitu ya. Hal-hal kayak begitu. Padahal 22:51 ya paling mudah untuk merusak bangsa 22:54 ini, rusaklah anak-anak itu. Maka kita 22:56 gak punya masa depan. Oke, gitu. Jadi 22:59 memang anak harus menjadi prioritas 23:03 harusnya ya gitu loh bagi negara ini. 23:06 Nah, dari anak-anak berandel, anak-anak 23:09 yang di bawah kolong yang Heeh. Mbak 23:12 Rusin tangan, ada enggak dari mereka 23:15 yang bakat mohon maaf, Mbak agar 23:17 bakat-bakat menghabisi nyawa orang? Ada 23:19 enggak? Ya lah, Mas. Enggak usah dari 23:21 kolong. Bagaimana di bisa dilihatnya? Ee 23:24 kenapa ee sebetulnya gini deh, itu 23:26 sebetulnya bisa terjadi pada siapa aja. 23:29 Apakah itu anak kolong jembatan, apakah 23:31 itu anak jenderal, apakah anak siapa pun 23:33 bisa kalau dia mendapatkan satu fooding 23:37 ya, satu masukan sesuai dengan 23:40 lingkungan misalnya di lingkungan dia ya 23:43 lingkungannya semuanya perokok misalnya. 23:45 Terus tiba-tiba si ayah ini mengatakan, 23:48 "Ah, kamu jangan merokok ya, Nak." 23:49 Padahal lingkungannya semuanya merokok. 23:51 Omnya merokok, mamnya merokok, papanya 23:53 sendiri merokok. Gimana mau kasih contoh 23:55 seperti itu? Ya, sama aja kalau anak 23:57 dimasukkan di dalam penjara itu. Dulu 23:59 kan saya paling juga anti ya. Saya 24:01 betul-betul aku tuh sudah keliling ke 15 24:07 lapas, Mas. Heeh. Untuk lepas anak, 24:10 lapas semua orang dewasa. Karena begini, 24:12 kalau lapas anak tuh yang ada cuman satu 24:14 di Tangerang sana. Kalau yang lain tuh 24:17 dikumpulin sama lapas orang dewasa. 24:19 hanya dibedain ininya selnya aja. Tapi 24:22 di dalam lapas itu anak-anak ini bukan 24:24 semakin baik, He. Tapi malah semakin 24:27 cerdik karena nyontoh. Heeh. Dari 24:30 cerita-cerita abang-abangnya yang ada di 24:32 situ keluar dan cerdik dalam membuat 24:34 membuat kejahat. Membuat kejahatan. Iya. 24:36 Misalnya ini anak habis nyolong semangka 24:39 ya itu dia masuk penjara. Nanti keluar 24:41 dari penjara dia bukan nyolong semangka, 24:43 dia nyolong gerobak sama 24:45 semangka-semangkanya gitu loh. Saking 24:46 sudah cerdiknya git. Heeh. Gitu. Nah, 24:49 ini saya enggak sepakat gitu. Memang 24:52 anak itu adalah imitatif. Dia akan 24:54 mencontoh apa yang ada di lingkungannya. 24:56 Jadi sebaiknya kalau anak berbuat 24:58 seperti itu memang betul direhabilitasi 25:00 atau waktu itu ya saya sarankan titipkan 25:04 aja kepada apa ee pegawai-pegawai Lapas 25:07 yang ada di sekitar situ ada di 25:08 rumah-rumah dinas itu kan titipkan di 25:10 situ sebagai anak negara 25:12 gitu istilahnya begitu. Jadi mereka 25:14 dididik di situ di apa melalui segi 25:17 agama, dari segi apapun di situ. Sebab 25:20 kalau anak sudah dimasukkan di dalam 25:21 penjara itu stempel narapidana itu akan 25:25 terus sampai dewasa dan itu gak membuat 25:28 dia baik. Hm. 25:30 Justru itu akan membuat dia karena 25:32 ketraumaan itu ada di alam bawah dan 25:34 terlanjut. Iya. Heeh. Jadi dia akan 25:36 menjadi brutal gitu. Terlanjut. Heeh. 25:38 Nah, itu yang harus kita jaga. Memang 25:40 sulit. He. Makanya yang paling benar 25:42 adalah melaksanakan penanganan anak itu 25:45 secara preventif, edukatif, pencegahan 25:48 dan pendidikan. He. Cuman kalau 25:51 pencegahan dan pendidikan itu gak seksi. 25:54 He. Karena enggak ada victim, enggak ada 25:57 darah-darah gitu loh. Hm. Jadi memang 26:00 apa ee ee secara politik juga enggak 26:04 menarik kalau ini dalam tahun kampanye 26:07 nih ya, Mas ya. Orang kan paling suka 26:09 kalau kampanye itu terus bawa apa? 26:11 Sembakau ya kan dibagi-bagiin, difoto 26:14 gitu kan difoto uh banyak orang gitu 26:16 antre sembako ini dapat dari partai Ai U 26:19 EO gitu kan. Tapi kalau untuk anak-anak 26:21 apa lucunya gitu loh. Dia juga bukan 26:23 pemilih pemula. Heeh. Gitu loh. Enggak 26:26 menguntungkan dari segi politiknya gitu. 26:28 Nah, kalau kita berpikir seperti ini, 26:31 ini adalah politik praktis, ya habislah 26:33 negara ini. Harusnya kita mulai berpikir 26:37 secara politik, berbangsa dan bernegara. 26:40 Bagaimana nation and character building 26:42 itu dibangun sedini mungkin gitu loh. 26:45 Nah, ini harus wajib hukumnya. Kalau 26:48 enggak hancur negara ini, Mas. Gitu loh. 26:51 Benar. Kalau tadi yang Mas tanyakan 26:53 tentang penculikan itu gak cuman satu 26:56 dua sih he banyak gitu loh dengan iming 26:59 ee mereka minta adanya di kota-kota 27:01 besar saja atau juga di desa-desa juga 27:04 desa sekarang sudah penetrasi sudah ke 27:07 mana-mana di desa pun siapa yang enggak 27:08 pegang HP heeh tukang cabe juga pegang 27:11 HP sekarang itu loh itu yang keluarga 27:14 gerobak yang keluarga di dalam gerobak 27:17 pakai HP jangan salah gitu loh jadi 27:21 kalau mau cari keluarga gerobak tuh di 27:23 mana? Kalau pagi tuh di Jalan Sumenep 27:24 tuh kan ada ada kali tuh. Nah, itu di 27:27 situ karena mereka mandi di situ. H 27:29 sudah itu keliling mereka gitu. Hm. 27:33 Jadi, jadi komunikasi itu sudah sampai 27:36 ke mana-mana dengan cara yang 27:38 sepotong-sepotong itu tadi. Nah, 27:40 sekarang ustaz juga ngambilnya cuman 27:42 dari apa namanya? Google tahu-tahu jadi 27:45 ustaz kan gitu. Jadi mana ada kalau 27:48 kayak gitu ya. Kalau kita dulu ya, dulu 27:51 di NU sama Muhammadiyah gitu kan enggak 27:53 ada kayak gitu. Artilah nyantri dulu ada 27:56 proses gitu loh. Kalau sekarang kan 27:58 semuanya instan. He. Sehingga 28:00 membuat apa? Keinginan itu makin 28:04 menjadi-jadi dan enggak masuk di nalar 28:06 gitu loh, Mas. 28:08 Itu negara betul-betul harus hadir. Oke, 28:12 Iwan dan Ahot. Kami masih 28:13 berbincang-bincang dengan Mbak Rustin 28:15 Ilyas. Dia adalah dia adalah pegiat 28:18 sosial yang menangani 28:22 anak-anak terminalkan, anak-anak yang 28:25 dilepeh lah ya, anak-anak gerandangan 28:27 yang kalau salat 28:29 saja dianggapnya itu barang mewah. 28:32 Karena kan untuk ee ngambil air apa kan 28:34 mesti bayar enggak punya MCK bayar kan? 28:38 Bayar. Jadi orang-orang yang salat, 28:40 "Wah, hebat lu punya duit loh gitu." 28:42 Heeh. Jadi barang mewah itu salat ya, 28:44 karena harus bayar. Salat bagi mereka 28:46 adalah kemewahan. Ayo salat yuk, Nak. 28:48 Ngapain sih, Bu? Kayak yang punya duit 28:49 aja. Loh, ini gimana sih? Terus 28:51 bagaimana cara mengatasi itu supaya dia 28:53 bisa salatan? 28:55 Pertama saya syok ya dan saya agak marah 28:58 juga sama Tuhan gitu loh. He dalam hati, 29:01 "Ya Allah, gimana sih ini?" He. Sampai 29:04 saya tuh habis salat saya kunci pintu 29:07 saya tuh dalam tanda petik tuh ngadu 29:10 sama nangis ke Allah itu ya Allah yang 29:12 nyuruh aku begini itu engkau gitu loh. 29:15 Terus sekarang aku dihadapan terus aku 29:17 mesti gimana? He mau menghadap kamu aja 29:21 mereka harus bayar. Harus bayar. Heeh. 29:25 Akhirnya saya berpikir gini. Ah gini 29:29 deh. Saya bilang gitu. Se se sekeluarnya 29:32 mulutku aja gini ya, Nak. Aku bilang 29:34 gitu. Itu yang namanya masjid yang 29:36 bagus-bagus tuh Allah tuh gak di situ. 29:38 Aku bilang gitu. Allah tuh ada di hati 29:40 kita masing-masing. Kamu mau salat di 29:43 mana pun itu Allah ada dengan kamu. 29:47 Sudah sekarang kita pakai tiker kita 29:50 salat di sini. Karena waktu itu kita mau 29:52 mengadakan pesantren Ramadan untuk anak 29:55 jalanan. Aku dipinjamin tenda pleton 29:58 sama teman-teman dari kepolisian. 30:01 Ya udah kita salat di di ini aja kayak 30:05 salat gitu. Saya bilang, "Sudah itu 30:08 langit dan Allah langsung ke kita." 30:10 Heeh. Dan Allah enggak selalu ada di 30:13 sana loh. Ada di sini, ada di hati kita. 30:15 Yuk, kita salat. Jadi seperti itu yang 30:18 saya inikan. Iya, gitu loh. Nah, ya 30:21 memang step by step. Jadi misalnya 30:24 seperti saya bilang, kalau kamu bilang 30:27 enggak punya duit, sebetulnya kalau mata 30:30 kamu itu didonorkan itu sudah berapa 30:32 miliar? 30:34 Terus kemudian apa? Jadi saya hitung aja 30:37 ee apa organ tubuh mereka itu kalau 30:39 dirupiah, he dirupiahkan tuh berapa? 30:42 Sehat itu mahal. He. Dan itu adalah 30:44 karunia yang terindah dari Allah. Ya, 30:48 step by step Mas. Karena anak-anak itu 30:50 maunya kalau ee jawaban itu yang 30:53 kelihatan. Hm. Yang nyata gitu loh. 30:56 Jangan bilang dosa, dosa enggak 30:57 kelihatan. H ya kan gitu loh. Tapi apa 31:00 sih kok enggak boleh? Kenapa sih gitu? 31:04 Sangat sangat apa ya kompleks. Anak itu 31:07 unik. He enggak ada yang sama. Semua 31:11 punya karakter masing-masing. Jadi kita 31:13 menanganinya pun juga harus satu-satu. 31:15 Saya kalau bikin ke pesantren Ramadan, 31:18 satu mahasiswa terutama dari UIN ya, 31:21 relawan kami itu ee itu 10 anak. Satu 31:26 mahasiswa 10 anak. Jadi kalau 1000 anak 31:29 itu 100 mahasiswa. Satu mahasiswa 10 31:31 menghandle 10 anak gitu. Heeh. Hm. Itu 31:34 mereka adanya di mana saja itu anak-anak 31:36 itu? Banyak Mas gitu loh. Kalau di 31:39 Kerama Jati ya ada gitu kan. Ee jadi 31:42 mereka tidur di mana? 31:44 ya di 31:45 mana-mana. Tapi kalau sekarang 31:47 mudah-mudahan enggak enggak netap kata 31:48 di enggak enggak enggak mereka itu anak 31:50 yang sudah sangat sulit ya. Ada yang 31:54 mengatakan kenapa kok enggak dimasukkan 31:55 di panti asuhan. Mereka bukan anak bukan 31:58 anak rumahan. Mereka adalah anak yang 32:00 sudah terbiasa terbiasa mendapatkan uang 32:04 kerja dan dapat uang. H. He. Nah, di 32:06 situ saya bilang ini anak harus 32:08 diarahkan karena mereka tahu how to get 32:12 money dan itu moneynya itu untuk apa. 32:15 Jangan cuman buat main. Kalau dulu zaman 32:17 dulu itu dindong gitu kan main apa gitu 32:19 PlayStation kayak gitu-gitu. Nah, ini 32:22 kita arahkan. Jadi aku ajarkan mereka 32:24 untuk ke apa bank gitu caranya gimana 32:27 gitu. Di diantar sama kalau bank mesti 32:29 ada alamat apa KTP? Iya. alamatnya kan 32:31 pakai alamat yayasan kami gitu loh. Oh 32:33 oke. Oh sekarang anak-anak sudah 32:35 gede-gede tapi ya alhamdulillah ke sini 32:37 ke sini ke sini memang makin sedikit 32:39 jumlahnya gitu kan ya. Enggak tahu 32:42 apakah ee karena bagaimanapun juga bagi 32:44 saya untuk mendidik anak-anak ini harus 32:47 tetap dia berpendidikan karena dia 32:48 enggak sekolah ya aku ambil aja kejar 32:50 paket A B C. Hm. Oke. Kalau sekarang 32:53 homeschooling kali ya gitu loh. Ya apa 32:56 sih bedanya? He. Nah, jadi saya pikir ya 32:59 begitu kalau kita mau tapi memang enggak 33:01 seksi. Heeh. Sulit kalau kayak begitu 33:03 itu karena memang secara politis enggak 33:06 bagaimana solidaritas di antara mereka? 33:09 Luar biasa. Bagus. Bagus. Iya. Bagus. 33:11 Jadi ee mereka ee sangat sangat apa? 33:15 Sangat ini ya kuat ya mengkristal mereka 33:18 itu dalam satu komunitas gitu. Oke. 33:22 Asalamualaikum Mbak Rustin Ilyas. Terima 33:24 kasih atas kader yang dihasil memberikan 33:26 penyerahan. Kami sebagai orang tua resah 33:29 dengan penculikan ini. Apa yang kamu 33:30 harus lakukan? Apakah ee kami anggap 33:33 angin lalu saja atau bagaimana kami cara 33:36 memprotek anak-anak kami supaya enggak 33:38 gelisah? 33:39 Iya, pertanyaan dari Ibu Narti. 33:43 Biasanya penculik itu biasanya ya kalau 33:46 di luar negeri di negara-negara maju itu 33:50 anak sudah diberikan satu password ya 33:53 karena biasanya anak-anak itu didekati 33:56 oleh orang asing. Jadi selalu orang 33:59 tuanya mengatakan, "Get away from the 34:01 strangers. Jauhin orang yang enggak kamu 34:03 kenal." Lah sementara kalau di Indonesia 34:07 ini kebanyakan orang yang sudah dikenal. 34:09 He gitu. orang yang sudah dikenal mak. 34:12 Iya. 34:13 Jadi, jadi biasanya pelakunya itu orang 34:16 yang sudah dikenal. Heeh. Bukan orang 34:18 yang asing gitu loh. Jadi apa seperti 34:20 yang yang kejadian di Jakarta Pusat itu 34:23 ya itu yang menculik orang yang sudah 34:27 dikenal dia mengambilnya memanggilnya 34:30 paman atau apa gitu ya. Enggak perlu 34:31 dibius dong. Enggak perlu diajak aja yuk 34:34 beli permen gitu yuk beli ini gitu. Jadi 34:37 sudah ikut aja karena sudah kenal gitu 34:39 loh. Sama juga dengan pemerkosaan yang 34:42 terjadi di Indonesia terhadap anak kecil 34:44 pedofilian itu siapa pelakunya? Kalau 34:47 enggak pamannya bahkan bapaknya atau 34:50 kakeknya kayak begitu sepupunya. Karena 34:53 itulah gitu loh kita ini kekerabatannya 34:56 sangat tidak terbatas. 34:59 Ada plus minusnya. Kalau di luar negeri 35:02 dia itu akan punya password. Jadi kalau 35:05 misalnya ee dia dijemput oleh seseorang 35:08 gitu, dia akan tanya ee misalnya saya 35:11 disuruh jemput kamu oleh ibu kamu. He. 35:14 Ibu saya kodenya apa gitu. H itu bisa 35:18 ganti-ganti lagi ya. Bisa. Iyalah gitu 35:20 loh. Kalau dia enggak tahu lari nih anak 35:23 gitu loh. Oh gitu. Bisa juga di tarapkan 35:26 di sini kali gitu ya. Ya kalau di sini 35:28 kan yang jemput 35:30 omnya, adiknya, mamnya gitu kan. Oh ya 35:33 Allah. itu itu hal-hal yang seperti ini. 35:36 Tapi memang harus kita lakukan juga 35:39 meskipun itu terhadap omnya sekalipun 35:42 kalau misalnya dalam situasi seperti itu 35:44 ya ee mau enggak mau ya kita harus 35:47 berikan password juga yang tiap hari 35:49 berganti password-nya. Jadi misalnya nih 35:52 si Toni. 35:54 Toni dia sekolah di SD taruhlah kelas 1, 35:58 kelas 2 ya kan. Terus tiba-tiba omnya 36:01 datang menjemput. Ayo gitu. Dia tahu ini 36:04 omnya adiknya atau sepupunya atau apa 36:06 keluarga kerabat gitu kan. Nah dia tanya 36:08 aja Om, Om jemput aku yang suruh siapa? 36:11 H Mama atau papa? Terus kalau papa 36:17 password-nya apa? Atau kalau papa ee 36:19 kodenya apa gitu? Hm. Nah, kalau si anak 36:23 itu apa kodenya? Apa kodenya apa? ee 36:26 lari aja gitu loh. Jadi ini orang tua 36:29 sekarang sudah harus berubah caranya 36:31 untuk melindungi anaknya itu. Jangan ee 36:35 konvensional lagi. Hm. Sudah harus juga 36:37 jadi intel juga gitu. H. Oke. Heeh. 36:42 Asalamualaikum Mbak Rustin. Masyaallah 36:45 bagus banget nih kontennya. Saya sampai 36:48 khawatir saya sampai membelikan anak 36:50 saya kafe dua biji. Satu ditahan oleh 36:53 gurunya. satu lagi biar dia pegang 36:55 supaya saya bisa kontrol anak saya. 36:59 Alhamdulillah. Iya. Alhamdulillah. Kalau 37:01 yang punya HP ya memang seperti itu. 37:02 Jadi HP-nya satu dipegang sama sekolah, 37:05 satu lagi dipegang dia. Heeh. Iya. Iya. 37:07 Untuk ibu-ibunya supaya bisa kontrol. 37:09 Jadi banyak cara sekarang ini. 37:14 Oke. Dari Iis mana? dari Pak Ibu 37:20 ni. Oke, saya akan bacakan nomor HP dari 37:24 narasumber kita pagi ini yaitu Mbak 37:28 Rustin Ilyas. Terusin R O S T I 37:34 Nlyasa Rustinlyas ini nomornya 37:39 0812 sudah kemudian 88 88 8-nya 4 kali 37:45 kemudian 11 45 37:50 0812 37:53 88 37:56 1145 Terima kasih Rasil telah menghadir 37:59 Irkan Mbak Rosen Ilyas. Ceritanya sangat 38:03 inspiratif. Kemudian dari Pak Iis, sedih 38:06 sekali kisahnya. Sangat pedih kehilangan 38:08 anak. jauh lebih pedih daripada seorang 38:10 anak yang ditinggal orang tua. Terima 38:13 kasih, Pak 38:15 Iis Bubur. 38:18 Kemudian, 38:20 mm 38:22 ee ee 38:25 Asalamualaikum, Mbak 38:29 Rustin. Bagaimana anak saya 38:33 yang suka dibeli oleh teman-temannya di 38:37 sekolah? Apa yang harus dilakukan? 38:40 Lawan. Lawan. Lawan. Oh, gitu. Ajar 38:43 melawan nanti kalau dia kenapa-kenapa 38:47 dikerjain kan biasanya mau lawan dan 38:49 laporkan lebih. Oh. Ke bu gurunya. 38:52 Lawan, Bu. Lawan dilaporkan dan 38:55 tereak. Kalau dibully harus dilawan. 38:57 Karena kalau enggak dilawan ya dia akan 39:00 jadi objek terus. He memang ngelawan 39:03 kemudian dia melaporkan ke gurunya. 39:05 Memang ini apa namanya? satu yang apa 39:08 harus ada keberanian ya untuk melawan. 39:12 Sebab kalau enggak itu akan 39:14 terus-menerus seperti itu. He. Karena 39:16 begitu anak ini dibully dan anak itu 39:19 kelihatan ketakutan itu makin lucu bagi 39:21 si pembully. Kita makin suka 39:23 ngebullyinya gitu loh. Nah, sekarang 39:25 kita aja gangguin anak kecil. Kalau anak 39:27 kecilnya tuh enggak bereaksi kan kita 39:30 ngalah ngonda ya. Malas gitu kan kalau 39:33 enggak bereaksi. Tapi kalau dia bereaksi 39:35 lucu gitu. 39:37 Jadi harus melawan sebisa-bisanya. 39:40 Apakah dengan menggigit ataukah dengan 39:43 apa gitu boleh. 39:46 Oke. Asalamualaikum, Mbak Rustin. 39:50 Mem apa pekerjaan anak-anak ee yang di 39:54 bawah kolam jembatan itu? Pekerjaan 39:56 mereka apa? 39:58 Mereka ini 40:00 ee anak ya. Ee begini, kalau saya 40:04 mengatakan adalah pekerja anak sektor 40:07 informal ya. Bayangkan ya, Mas, anak 40:11 kecil umur 8 tahun dia sudah bisa ngamen 40:15 dan cara ngamennya itu dia kumpulin 40:18 tutup-tutup botol terus dia kasih lubang 40:21 tengahnya tuh dia bikin ecek-ecek kayak 40:23 gitu. Itu dalam benaknya sudah ada sense 40:25 of business. Hm. Udah make money itu ya. 40:28 Iya. I do something. I get something 40:30 gitu. I get money. Kan gitu. Jadi di 40:32 pikiran saya ini anak-anak yang harus 40:34 kita apa bantu meningkatkan kualitas 40:38 sense obis-nya dengan cara tetap 40:40 membelajarkan mereka melalui kejar paket 40:42 A, kejar paket Bisa gitu. Karena apa? 40:46 Banyak kan Mas yang sudah SMA lulus 40:49 sarjana masih nemplok ke mamanya 40:52 bapaknya. Cariin koneksi dong Pak. Masa 40:54 Papa, Papa kan kenal sama Om itu yang di 40:56 direktur ini. Minta coba masih 40:59 tergantung. He. Tapi ini anak dia enggak 41:02 tergantung lagi. He. Nah, kenapa kita 41:05 justru enggak memulai dari mengangkat 41:08 anak-anak ini menjadi anak yang 41:09 berkualitas? Jadi, anak yang misalnya 41:12 jual koran, anak itu mempunyai ofis yang 41:15 kuat di dalam benaknya yang masih kecil. 41:18 Dia sudah mengerti caranya mencari uang. 41:21 Dia bisa enggak mage uangnya? Gak. Gak 41:23 bisa. Makanya itu yang kita ajarkan. 41:25 Lah, uangnya yang didapat ya buat main. 41:28 Buat main. Kalau zaman tahun 19 ee ee 41:32 1995-an gitu ya, masih ada Dingdong 41:35 terus ada PlayStation, ada macam-macam 41:36 lah di situ ya. Mereka punya handphone 41:38 enggak? Nah, sekarang punya punyalah 41:40 gitu loh. Kan handphone harganya mahal 41:42 ya. Kalau kalau yang di pasaran kan 41:45 sudah ada yang second gitu kan terus 41:47 bisa nyicil macam-macam Mas di situ bisa 41:50 mereka gitu. Nah, ini juga merupakan 41:52 satu tantangan ya bagi ee kita yang 41:55 bernegara ini gitu bahwa anak-anak ini 41:58 mempunyai hak juga he untuk dia 42:02 dilindungi. Mereka juga harus mempunyai 42:05 hak apa? Tumbuh kembang, berpendidikan 42:07 dan tidak didiskriminasi. He. Karena itu 42:10 hak anak yang sudah termaktuk dalam 42:12 Undang-Undang Dasar gitu. Oke. Kalau 42:14 mereka sakit, bagaimana cara menghandel 42:16 apa? Ya, kalau ee kalau siapapun yang 42:19 melihat anak ee terlantar yang sakit 42:23 langsung aja ditolong ya. Bagi saya sih 42:25 ya masukkan ke rumah sakit dan kalau 42:28 rumah sakit itu nolak cari pers ngomong 42:31 aja diviralkan. Udah deh gitu aja karena 42:34 memang harus seperti itu. Heeh. 42:40 Oke dari terima kasih banyak atas acara 42:43 siang ini. Terima kasih Rasil. Terima 42:45 kasih dari Pak Andi Cipadu Celeduk, 42:47 Tangerang. Acaranya sangat penting dan 42:49 bermanfaat. Terima kasih Bapak Andi di 42:52 Celeduk. 42:56 Oke. Wah, ibu tadi luar biasa anaknya 43:00 dimatikan hidupnya sampai kok dia 43:03 memaafkan. Bahkan mengelus-ngelusi 43:05 pelakunya, bahkan memeluknya, bahkan 43:07 memberi makan dan baju. Luar biasa. 43:10 Jarang-jarang ibu seperti itu. Malaikat 43:14 jarang-jarang tuh ya. Heeh. 43:16 [Musik] 43:19 Oke. 43:21 Ee asalamualaikum Mbak Rustin. Mbak 43:23 Rustin biasanya di mana saja mengghandle 43:25 anak-anak ini? 43:28 Kalau sekarang saya mengghel-nya lebih 43:31 ke luar Jakarta. Oh. Di mana? Di Bogor. 43:34 Di mana? Iya, di Bogor. Kemudian di 43:36 daerah Daru. Daru ya, Bu? Ya, daerah 43:39 Daru, Tangerang. Ee Daru kemudian di apa 43:44 ee daerah Karawang gitu Bekasi. Di 43:49 Karawang ada juga ya, Mas? Namanya 43:52 anak-anak telantar okeh di mana-mana 43:54 tuh. Tanya tuh yang orang Karawang tuh 43:56 gudang beras ada juga ya? Ada juga 43:59 kelaparan ya? Ada. Heeh. Masyaallah. 44:02 Kelaparan sih mungkin enggak kekurangan. 44:04 Iya. Kekurangan. Heeh. Kekurangan. Iya. 44:08 Dan itu memang harus kita tangani karena 44:11 itu termasuk juga apa ee hak anak yang 44:13 diterlantarkan kan kalau seperti itu 44:16 mereka masih punya ayah ibu ada yang 44:18 masih ada yang enggak gimana tuh 44:21 berpencaran ya ibunya ibunya itu kalau 44:26 yang saya tangani ya misalnya pertama 44:28 kali masuk ke mereka di waktu di pasar 44:31 induk kramaajati dulu gitu ya itu 44:34 tantangan kita itu satu he orang tuanya 44:37 Heeh. Karena orang tuanya gak 44:38 menghendaki anaknya itu ikut belajar. 44:41 He. Dikejar paket A, kejar paket B gitu. 44:43 Enggak. Enggak. Jangan. Enggak tertarik 44:45 ya. Enggak tertarik karena ya berkurang 44:47 waktunya untuk nyuruh anaknya untuk 44:49 kerja. Hm. Cari duit gitu. Jadi kan 44:52 repot kalau kayak gitu. Jadi harus kita 44:55 parenting dulu, harus kita ajak ngobrol 44:57 dulu si ibu ini. Bu, kalau anak Ibu 44:59 pintar ini cuma 2 jam aja Bu anaknya itu 45:01 belajar. Habis itu kerja lagi sama Ibu 45:04 gak apa-apa gitu. Paling enggak bisa 45:05 baca tulis. gitu. Jadi paling enggak dia 45:08 bisa lulus kejar paket A B itu sudah 45:11 modal. Jadi punya ijazah SM SD dan SMP. 45:14 Anak-anak itu melihat orang-orang yang 45:16 bermobil, bermotor, bagaimana dia 45:18 memandangnya? Ee iri enggak atau gimana? 45:21 Gini ya, 45:22 semua anak itu sama. He. Ada rasa 45:26 kepengin ini, kepengin itu sama, cuman 45:28 dapatnya yang beda kan gitu. He. Nah, 45:32 kalau mereka itu sudah ada di dalam 45:34 sebuah pair group ya ee satu 45:37 komunitasnya mereka itu bisa terlupakan 45:39 karena mereka asyik dengan PE grumnya 45:41 sendiri dan mereka merasa mempunyai 45:43 kekuatan di situ gitu loh. Dan bahkan 45:46 ada ya apa enggak enggak enggak terlalu 45:49 pedulilah hal-hal seperti itu. Cuman 45:52 jangan mereka disakitin itu aja. 45:54 Disakitin apa misalnya dihina di Iya. 45:57 Iya. Kayak gitu. He. Jadi itu yang yang 46:00 harus kita kita tahu dari mereka ini 46:04 semua anak sama, Mas. Kepengin main, 46:06 kepengin disayang, kepengin dilindungi, 46:09 kayak gitu. Jadi kalau saya membuat 46:11 pesantren Ramadan itu hanya 5 hari untuk 46:15 anak-anak ini. Begitu pulang tuh mereka 46:17 nangisnya udah enggak keru-keruan. apa 46:19 yang dia ada ya dia kebayang waktu dalam 46:22 5 hari itu dia mendapatkan haknya gitu 46:25 loh kita sayang di situ kita ajak dia 46:28 belajar ayo baca apa Al-Qur'an ya 46:31 surat-surat pendek gitu kemudian belajar 46:34 salat di masjid yang bagus gitu boleh 46:37 gitu kan jadi ya setelah itu dia harus 46:41 kembali lagi ke rumah yang bedeng-bedeng 46:44 tadi gitu tapi ya itulah that's life 46:46 gitu kan dan itu yang kita selalu ingat 46:48 ingatkan pada saat kita ee malam 46:51 terakhir di pesantren Ramadan kita bikin 46:54 api unggun dan kemudian kita duduk 46:56 bersama dan kakaknya yang senior dari 46:59 UIN itu selalu memberikan semacam 47:01 tausiah ya bahwa ee kalian kembali lagi 47:06 kehidupan yang seperti kemarin-kemarin 47:09 dan syukurilah 5 hari ini bahwa ini 47:12 adalah karunia dari Allah yang nanti 47:15 tahun depan kita dan sebagainya dan 47:16 sebagainya 47:18 bahwa kalian harus lebih baik lagi 47:21 kepada ibu dan ayah dan sebagainya 47:23 seperti itu. Oke. Apa pendapat Mbak 47:25 Rustin mengenai anak-anak di jalanan itu 47:28 yang badannya dicet abu-abu dan para 47:31 badut-badut yang pakai kostum Iya. 47:34 tertentu itu apa ada koordinasinya atau 47:36 bagaimana itu? Iya koordinasinya sih 47:39 enggak ada. Mereka itu kan sudah tua-tua 47:40 juga sih gitu loh. Kalau anak-anak kecil 47:43 enggak sedikit ya persentasenya kecil. 47:46 itu juga saya apa ee apa sih namanya 47:50 prihatin ya gitu 47:52 loh. Badan dicat itu aja sudah merusak 47:56 badan merusak badan mereka sendiri gitu 47:58 kan. Iya, sempat loh saya itu sempat 48:01 bilang gini, 48:02 gimana kalau misalnya dan itu ada 48:04 modalnya itu kan ada gimana kalau 48:06 misalnya gini ini misalnya dia di 48:08 kelurahan taruhlah di kelurahan di 48:11 daerah 48:12 Cibubur Heeh gitu itu kan kan ada 48:15 lurahnya di situ ya kan kalau aku nih ya 48:18 ini ini tak datangin yang di daerah 48:20 kelurahanku yang ada yang kayak 48:21 gitu-gitu ayo kumpul sini saya Pak Lurah 48:24 mau ngomong gitu kan. Nah, gimana kalau 48:27 yang cat-cat apa itu dirubah mereka 48:30 pakai 48:31 baju Betawi misalnya gitu? Silakan di 48:35 pinggir-pinggir jalan enggak apa-apa, 48:36 tapi dengan membawa message, pesan moral 48:40 gitu kan. Hati-hati di jalan, jangan 48:42 lupa berdoa atau apakah ee apa ya 48:46 macam-macam kata-kata bijak kata bijak. 48:48 Iya. Yang di pinggir-pinggir jalan. Nah, 48:51 berilah mereka itu makan atau honor. Apa 48:54 bedanya gitu loh. Oh. Oke. Oke. Bagus 48:56 kan? Bisa enggak bayangin, Mas? Bisa. 48:59 Iya kan? Kebayang kan di pinggir-pinggir 49:01 ini ada anak-anak yang pakai baju Betawi 49:04 atau baju Madura atau baju apa bawa 49:07 tulisan pesan moral. Nah, sudah k Anda 49:09 salat. Nah, kayak gitu-gitu. Jangan lupa 49:11 sarapan adik-adik. Nanti di sekolah 49:14 harus pintar, enggak boleh nyontek dan 49:15 sebagainya. Macam-macam lupa berdoa di 49:17 perjalanan. Iya. Kayak gitu-gitu. Waduh. 49:20 Nah, kenapa enggak ke situ gitu loh 49:22 kalau setiap satu kelurahan begitu, 49:24 setiap kelurahan lain begitu enggak ada 49:26 ini semua gitu loh. Aku tuh heran barang 49:29 yang gampang dibikin susah ya ini gitu 49:31 loh. Sebel aku kadang-kadang tapi karena 49:34 aku bukan lurah ya. 49:37 Oke, ini ada yang nanya lagi nomor 49:39 teleponnya Mbak Rustin. Saya akan 49:41 bacakan ya. Rustin Ilyas. Beliau adalah 49:45 seorang pegiat sosial dulunya lulusan 49:47 sastra Inggris di IKIP 49:50 Surabaya. Kemudian dia juga bikin Ismilo 49:53 eh Hismilo Himpunan Sekolah dan Madrasah 49:57 Nusantara. Pengurus di situ. AK Oh, 49:59 pengurus ya. Pernah juga bantu-bantu Ibu 50:02 Nasution ya. Bantu-bantu apa waktu itu? 50:05 Sekretariat. Sekretariat ya di Jalan 50:07 Tung Umar kalau enggak salah. Iya. Jadi 50:09 saya waktu itu ee karena sering sekali 50:12 nyeletuk pada saat Ibu Nasution itu 50:14 rapat. He. Oh, jenderal-jenderal semua 50:16 enak. Iya, istri semuanya nyonya-nyya 50:18 jenderal. Dan kalau makin seru rapatnya 50:21 mereka rapat dalam bahasa Belanda. Makin 50:24 Holland speken ya. Holland spreaken. 50:25 Nah, aku ngertinya cuman Holland Bakere 50:27 kan gitu. Nah, itu tahunya cuman 50:28 perboden doang. 50:30 Nah, itu ibunda Sutian bilang kamu itu 50:32 otaknya meledak-ledak gitu. Kau bikinlah 50:35 sendiri apa ee yayasan kau pimpin 50:38 sendiri pasti. Jadi bikinlah saya 50:41 yayasan. Waktu itu gampang banget bikin 50:43 yayasan kan. Tapi kan rumah saya di 50:45 Halim Perdana Kusuma. Suamiku tentara 50:47 kan gitu. Kantornya di mana? Ya di rumah 50:50 Bu. Hah? Itu kan rumah Halim Perdana 50:52 Kusuma. Iya ibu. Tidak boleh. Itu rumah 50:56 apa? Ee dinas ya. Saya mesti ke mana? Di 50:59 rumah Ibu saja gitu. Jadi saya di dapat 51:02 di Tengku Umar 42. Saya di rumah Ibu 51:06 Nasution itu dapat kantor ruangan untuk 51:09 kantor saya pribadi gitu selama 17 tahun 51:13 sampai rumah itu dijual. Heeh. Heeh. Ibu 51:16 Nasution itu betul-betul sangat mendidik 51:19 saya. Ibu ibu saya yang kedua itu 51:21 betul-betul masyaallah saya belajar 51:23 kesederhanaan dari beliau. He seorang a. 51:27 Iya. Dan Pak Nasution juga begitu Pak 51:29 Nasution. sering sekali ke kam ke 51:32 ruangan kami gitu. Kemudian beliau, "Kau 51:35 tahu?" Kemudian beliau cerita tentang 51:37 sejarah. Nah, kalau nanti sudah cerita 51:40 tentang sejarah, kita harus ingat beliau 51:42 pulang besoknya datang lagi harus ingat 51:44 sampai ke mana 51:46 kemarin. Itulah Pak Nusition. 51:49 Masyaallah, begitu istimewa bagi saya ya 51:52 gitu loh. Dan Ibu Nas tidak pernah 51:54 mengeluh. He tidak pernah mengeluh pada 51:57 waktu itu. Banyak cerita cuman ini saya 52:00 kalau cerita sekarang jadi enggak seru. 52:02 Bukan enggak seru saya jadinya nangis. 52:04 Saya enggak mau nangis. Oke. Jadi 52:07 kesimpulannya mengenai penculikan 52:09 bagaimana ibu-ibu harus khawatir atau 52:11 harus tenang-tenang saja? Tetap 52:12 berwaspada. Khawatir. Iya. Waspada dan 52:16 mulailah tidak tidak apa tidak kuno 52:20 dalam mendidik anak itu. Mulailah kita 52:21 tidak kuno yang gimana yang kun ya. 52:23 Ya sudah hati-hati jangan gak gak cukup 52:25 kasih dia password. H password ya 52:27 meskipun itu yang akan jemput itu ee 52:30 adiknya ibunya atau yang terdekat 52:33 sekalipun tet password dari ibunya tok. 52:36 He. Hanya dari ibunya atau hanya dari 52:39 ayahnya gitu loh. Password itu harus dia 52:41 pegang gitu. Nah, ini ini memang memang 52:44 enggak enggak lucu. Tapi ya memang harus 52:46 seperti itu. Sebab kita ini ya, Mas, 52:48 kita ini beda loh sama orang yang di 52:50 luar sono di kita kalau coba sekarang 52:53 kalau orang barat mau kedatangan famili 52:57 atau saudara pasti ngomong dulu kan. 53:00 Nanti saya datang saya akan oke tapi 53:02 saya cuman bisa J berapa orang bla bla 53:04 bla kan begitu. Kalau kita kan enggak 53:06 tahu-tahu di depan dulu sudah datang 53:07 pakai koper lagi gitu kan. Ya, aku 53:09 nginap sini. Ya udah, enggak apa-apa 53:11 tante. Wis, pokoknya kita apa pakai 53:13 karpet di sini ramai-ramah. Itulah 53:15 Indonesia kita. Iya, itulah kita. Dan 53:18 dari seperti ini ada ekses yang seperti 53:21 itu. Makanya saya sangat setuju banget 53:25 harusnya yang namanya lapor 24 jam 53:29 kepada Pak RT ya itu dihidup-hidupkan 53:32 lagi gitu loh. Kayak begitu. Sali 24 53:34 jam. Heeh. Harus melapor gitu. Dan Pak 53:37 RT ini jangan cuman nyetempel doang. Pak 53:40 RT ini punya sebuah identity dan sebuah 53:44 kewenangan untuk masuk ke semua rumah. 53:46 He. Jadi kalau misalnya ada apa, ada 53:49 apa, dia tahu. Hm. Ini lebih memudahkan 53:51 lagi untuk ee ee menengarai ada apa di 53:55 ee ke RT-an dia gitu. 53:58 Oke, ini ada lanjut nomor 54:03 telepon. Terima kasih atas cara ini. 54:05 Luar biasa. Oke, ini nomor teleponnya. 54:07 Eh, silakan dicatat ya. Nomornya namanya 54:12 Ibu Rustin Ilyas. Tulisannya R O S T I 54:18 N. Ilyas. Rustinlyas. Nomornya beliau 54:22 adalah seorang pegiat sosial nomornya 54:26 0812. 54:28 Kemudian 8 54:32 8-nya 4 kali. Kemudian 54:37 1145 54:39 0812 88 54:43 8 11 54:46 45. Rustin Ilas seorang pegiat sosial 54:51 yang walaupun berkumpul dengan anak-anak 54:54 kumul-kumpul ya, tapi selalu pakaiannya 54:57 Raffi Necis seperti mau 54:59 kondangan. Kenapa begitu? 55:02 Em ya, kita juga harus memberikan 55:04 contoh. H contohnya enggak boleh mahal 55:07 karena ini nih gelang saya nih gelang 55:09 tolak miskin nih, Mas. Nih. Ini dari apa 55:11 ee kayu-kayu limbah. Heeh. Nah, ini juga 55:14 dari apa? Ee kurungannya murah meriah 55:17 juga. Pokoknya semuanya harus dalam 55:19 negeri aja dan gak boleh rapi. Gak boleh 55:22 mahal. Jangan mahal. Karena mahal gak 55:25 menjamin untuk dia kelihatan rapi. 55:28 Oke. Baik. Terima kasih Mbak Arsin. Kita 55:31 sudah dibatasi oleh waktu. Sekali lagi 55:34 nomor teleponnya ini 55:36 0812. Kemudian 55:38 888nya 4 kali. Kemudian 55:42 1145 namanya Mbak 55:45 Rustin Illyas. Tulisannya R O S T I E 55:53 Nlyas. 55:55 Oke. Terima kasih Mbak Vivi. Terima 55:58 kasih ya Mbak Vivi kan. Terima kasih 56:00 sudah mengantar Mbak Rustin. 56:02 Mudah-mudahan kita bisa jumpa lagi 56:03 kapan-kapan ya. Oke, ada pesan terakhir 56:07 yang mau disampaikan? Iya, pesan terak 56:10 pesan-pesan hari ini ya. Heh. Emm, 56:13 Ibu-ibu sekalian yang mempunyai 56:16 putra-putri tolong dijaga putra-putrinya 56:20 untuk kalau pulang sekolah jangan 56:24 sendiri. 56:25 Ramai-ramailah bersama teman-temannya. 56:28 Ada mobil jemputan atau dia dijemput 56:29 sendiri? Kalau ada mobil jemputan beda. 56:32 Tapi kalau yang pulang jalan kaki itu 56:34 ramai-ramah sama temannya atau lewatkan 56:37 dia di jalan yang ramai. Kasih tahu kamu 56:39 pulangnya lewat sini, jalan sini. Hm. 56:41 Oke. Jangan lewat yang jalan yang sepi. 56:43 Heeh. Itu satu. Yang kedua, berikan 56:46 password seperti yang saya katakan tadi. 56:48 Karena mau enggak mau kita harus 56:50 berhadapan dengan tantangan zaman 56:53 sekarang ini. Oke, jadi seperti itu. 56:55 Mudah-mudahan semuanya sehat, semuanya 56:57 selamat, dan insyaallah kita ketemu 57:00 lagi. Oke, terima kasih sekali lagi Mbak 57:03 Rustin Ilyas. Saya Muhammad Krishna 57:07 Saputra dan Anis Mualim mohon pamit. 57:09 Wabillahi taufik walhidayah. 57:10 Wasalamualaikum warahmatullahi 57:11 wabarakatuh.