Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
2:04 Bismillahirahmanirahim, assalamualaikum 2:05 warahmatullahi wabarakatuh. Allahuma 2:07 shali ala sayyidina Muhammad ala 2:09 sayyidina Muhammad. Alhamdulillah kita 2:11 berjumpa lagi hari ini hari Rabu tanggal 2:13 14 Ramadan 1444 Hijriah atau tanggal 5 2:17 April 2023. Seperti biasa Radio 2:20 Salaf Tarim menampilkan kembali acara 2:22 tamu kita. 2:24 Dulu kita pernah menghadirkan 2:27 Bapak Profesor Wisnu Garjito, beliau 2:30 adalah ahli kelapa. Beliau sekarang 2:32 beliau sudah almarhum. Ahli kelapa bukan 2:35 saja se-Indonesia tapi sedunia. 2:38 Oke, sekarang kami hadirkan ahli 2:41 kedelai. Jadi Indonesia tidak perlu 2:43 impor kedelai 2:45 kalau ditanamkan semestinya. Bahkan kita 2:48 bisanya malah ekspor kalau bisa. Kami 2:50 menghadirkan ahli kedelai yaitu 2:54 seorang pria muda yang lahirnya di Demak 2:57 tanggal 11 Mei tahun 72. SD-nya di 3:00 Bakung, Mijen, Demak. SMP-nya di Mijen, 3:03 SMA 1-nya di SMA 1 Kudus. Kemudian 3:07 kuliah di Unsoed ambil jurusan pertanian 3:10 teknologi pertanian. 3:12 Kemudian S2-nya di IPB bioteknologi, 3:15 S3-nya juga di IPB. 3:19 Nah, tolong siapkan pulpen sama kertas 3:21 karena nanti kami akan bacakan nomor HP 3:23 beliau. 3:25 Beliau adalah ahli kedelai. 3:27 Profesor Ali Zum Mas'ar yang tinggalnya 3:30 di Serang. Profesor Ali Zum Mas'ar 3:34 tinggal di Serang. Assalamualaikum. 3:36 Waalaikumsalam Ustaz. 3:38 Prof Ali. 3:39 Alhamdulillah baik. 3:40 Selamat datang di Rasil. 3:42 Terima kasih Ustaz. 3:43 di Rasil ya, sekarang kita balik lagi di 3:44 Rasil. Cuma 3:45 dulu di Radio-nya 3:46 di Radio-nya, oke. 3:48 Pertanyaan-pertanyaan, kenapa kok 3:50 tinggalnya di Serang Prof Ali? 3:52 Iya. 3:53 Ya, karena Serang bagi saya itu menarik 3:55 karena laboratorium saya ada di Serang, 3:57 di Banten. 3:58 Di lahan seluas 60 hektar. 4:01 60 hektar, ya? 4:02 Yang saya kelola dua 4:03 lebih dari 20 tahun yang lalu. Ya, dari 4:05 tempatnya ekstrem menjadi menjadi bagus. 4:08 Jadi, saya mendekatkan pada pusat 4:09 penelitian saya dan di sana juga 4:12 bahwa Banten itu bagus untuk menjadi 4:14 penyangga 4:16 pangannya untuk Jakarta karena dekat, 4:18 kan? 4:19 Heeh. 4:20 Dia juga menjadi daerah transitor antara 4:23 eh Lampung dengan ibu kota yang 4:25 pemusatan penduduk di situ. Dan Banten 4:28 itu dulu adalah tempat pertama kali 4:29 penjajah datang, loh. 4:31 Heeh. 4:31 Yaitu untuk mencari apa itu? Eh, lada. 4:34 Heeh. 4:34 Itu juga basis eh transitnya di Banten. 4:38 Mudah-mudahan dari Banten ini kita bisa 4:40 go internasional. 4:41 Amin. 4:43 Hidup Banten, Pak. 4:44 Dan alhamdulillah kemarin juga dengan 4:46 kita punya tempat di Banten itu sudah 4:48 dikunjungi juga Menteri Pertanian 4:50 Malaysia 4:51 Heeh. 4:51 eh beberapa minggu yang lalu. 4:53 Kok Menteri Pertanian Malaysia gitu, 4:54 loh? 4:55 Iya. 4:56 Nah, ya itu karena Menteri Pertanian 4:58 Malaysia ini yang sekarang ini Pak Datuk 5:01 eh Sri eh 5:04 Bang Mat Sabu kalau saya eh sebut, ya. 5:07 Eh, Abang Mat Sabu atau Muhammad bin 5:09 Sabu, Datuk Sri Muhammad bin Sabu. Itu 5:13 sangat berminat untuk membangun 5:14 negaranya sekarang ini untuk menjadi 5:16 negara yang bisa mandiri pangan. Maka 5:19 beliau melihat teknologinya itu ada di 5:22 tempat kita semua gitu. 5:24 Mulai padi yang umurnya sangat pendek di 5:27 mana penanaman setahun bisa empat kali. 5:30 Kan Malaysia juga mau penanaman padi 5:32 yang umurnya eh 5:34 dia memprogramkan dalam dua tahun bisa 5:36 lima kali panen. 5:37 Masyaallah. 5:37 Nah, terus saya jawab 5:39 di saya itu bukan dua tahun lima kali 5:41 panen, tapi di tempat saya sudah dua 5:43 tahun delapan kali panen. 5:45 Kaget itu. 5:46 Yang dua tahun lima kali panen saja di 5:48 sana belum ketemu itu. 5:49 Heeh. Belum selesai. Akhirnya ya sudah 5:53 eh potong kompas kalau mereka eh sega eh 5:56 semua lembaga risetnya di sana diajak ke 5:58 tempat laboratorium kita mulai dari 6:00 Mardi, kemudian DOE dan 6:02 dan semua lembaga risetnya untuk melihat 6:05 dan membuktikan sendiri Indonesia bisa 6:08 dan kita dianggap sebagai abangnya harus 6:10 memberikan bantuan kepada adiknya untuk 6:13 keperluan padi itu ya untuk kemajuan 6:16 bangsa dan negaranya. 6:17 Ini dia tipe alumni IPB yang berkiprah 6:21 di dunia pertanian karena yang lainnya 6:22 ada yang jadi 6:24 wartawan, ada yang kerja 6:27 di bank. Ini IPB yang benar-benar me apa 6:30 me 6:31 menelurkan pikiran untuk dunia pertanian 6:33 kita. 6:34 Eh Profesor Ali Zum Mashar 6:38 dulu zaman Pak Harto kita kan kedelai 6:40 itu produksinya bisa satu berapa? 6:44 Dalam tanah 1 juta hektar tanah ya? 6:46 Iya, lebih dari 1 juta hektar. 6:48 Jadi kita bisa ekspor ya kedelai. 6:50 Ya kalau waktu itu sudah swasembada. 6:52 Swasembada. 6:53 Iya. 6:53 Artinya? 6:54 Artinya semua kebutuhan kedelai di dalam 6:57 negeri di Indonesia ini sudah bisa 6:58 dicukupi produksi dari lokal karena pada 7:01 tahun 90-an 92 khususnya 7:03 penanaman kedelai di Indonesia ini zaman 7:06 Pak Harto itu sudah mencapai 1,2 juta 7:09 hektar walaupun produktivitasnya itu 7:11 masih sekitar rata-rata 1 sampai 1,2 7:15 itu. 7:16 Itu karena belum ketemu Migo itu. 7:18 Sekarang kan ada 7:20 ada Migo ya? 7:21 Ya kalau sudah ketemu Migo mungkin 7:23 lain cerita. Dikembangkan 1 juta hektar 7:26 kita langsung melompat bisa ekspor. 7:29 Migo itu apa Migo itu? Ada yang belum 7:31 tahu Migo. 7:31 Eh Migo itu brand name atau semacam 7:34 istilah ya penyebutan terhadap teknologi 7:37 yang saya punya yang namanya hasil 7:39 penemuan teknologi mikroba Google atau 7:41 Google mikrob. Kalau di Indo 7:43 Kok ada Google-Google nya sih? 7:44 Ya karena gini Pak, mikroba yang saya 7:46 temukan itu 7:48 dia 7:49 identik atau mirip seperti mesin pencari 7:52 Google. Kalau mesin pencari Google kan 7:53 dalam dunia software. 7:55 Iya. 7:55 Tapi kalau ini kan dalam dunia mikroba. 7:57 Heeh. 7:57 Nah, dia itu mencari unsur-unsur yang 7:59 diperlukan oleh tanaman yang berasal 8:02 dari tanah, air dan udara kemudian 8:04 dikumpulkan dan itu menjadi nutrisi yang 8:06 membuat 8:07 percepatan tumbuh kembang tanaman itu 8:09 sehingga bisa maksimal hasilnya dan 8:11 tanaman menjadi subur. 8:12 Heeh. 8:13 Nah, itulah Google kan juga brand 8:15 internasional. 8:16 Nah, jadi ini istilah yang kita gunakan 8:19 ini adalah sebagai implementasi dari 8:22 hasil paten internasional yang saya 8:25 punya yang pada tahun 2003 8:28 lah saya patenkan itu 8:30 yang ber 8:31 nama dengan teknologi bio perforasi, the 8:34 bio bio perforation technology and 8:36 organic bio fertilizer. 8:38 Masya Allah. 8:40 Beliau juga ke Arab Saudi juga loh. Bisa 8:43 ditanam Arab Saudi ternyata bisa 8:46 bertanam kedelai di sana. 8:49 Eee 8:51 ini varietasnya varietas kedelai eee 8:54 mikroba Vigo 2 eee di desa 8:59 apa Panca? 9:00 Rancasangal. 9:01 Eee Rancasangal Kecamatan Cinangka 9:03 Kabupaten Serang. 9:05 Iya. 9:05 45 ton per 1 hektar bisa dihasilkan ya? 9:09 4 setengah sampai 6,4 ton per hektar. 9:12 per hektar luar biasa ini dan tidak 9:14 menggunakan pupuk kimia ya? 9:16 Kita lebih cenderung lebih banyak 9:18 menggunakan sistem mikroba tadi. 9:20 Jadi kimia pun kita tidak anti atau 9:23 tidak menolak, tetap menggunakan kalau 9:25 diperlukan tapi tidak sebanyak yang 9:27 direkomendasikan, bisa separuhnya, bisa 9:30 sepertiganya. 9:31 Lah, ini adalah cerita kedelai itu 9:34 merupakan hasil dari eee inovasi saya 9:39 mungkin 20 tahun yang lalu itu. Jadi 9:41 pada waktu 9:42 mengikuti pembukaan lahan sejuta hektar 9:45 lahan gambut zaman Pak Harto itu di 9:47 Kalimantan Tengah tahun 98 ya. 9:50 Saya menemukan teknologi tadi mikroba 9:53 yang unik yang bisa membuat tanah gambut 9:55 itu bisa ditanami untuk segala macam 9:58 jenis tanaman pangan kita. 10:01 Nah, alhamdulillah di situ juga saya 10:04 mencoba kedelai dan kedelai itu dia 10:07 menggunakan teknologi mikroba Google ini 10:09 bisa tumbuh setinggi 3 m. 10:11 Padahal yang biasa kan 40 cm ya. 10:13 Ya 40 60 cm itu sudah baguslah itu. Ini 10:16 sampai 3 m lah. 10:18 Artinya 10:19 banyak biji-biji yang bisa bisa 10:21 dihasilkan dari 10:23 sebatang pohon kedelai ya. 10:24 Benar, kalau yang normal itu kan paling 10:27 hasilnya 20 10:29 polong sampai 60 polong ya kalau kedelai 10:31 rata-rata di Indonesia itu. Lah ini satu 10:34 pohon 10:35 itu bisa sampai 3.030 10:38 polong. 10:39 Jadi berapa kali lipat ya. 10:41 Satu pohon satu pohon bisa berapa 10:42 polong? Bisa berapa polong? 10:45 Bisa 3.000 10:47 30 polong. 10:48 Satu pohon? 10:49 Satu pohon. Yang normal kan cuma 20 10:51 sampai 60. 10:52 Tingginya 3 m. 10:53 Tingginya 3 m. 10:54 Wah. 10:54 Jadi ratusan kali lipat ini 10:56 Nah, apakah kedelai itu harus bisa 10:59 hanya-hanya bisa ditanam di tempat di 11:01 tanah-tanah tertentu saja apa di Jakarta 11:03 bisa enggak? 11:04 Bisa. 11:05 Bisa? 11:05 Saya menanam di bawah pohon di di bawah 11:07 gedung waktu itu di dekat Menara 11:09 Imperium itu pun tanaman kedelai saya 11:11 pada waktu itu tahun 2004 11:13 2003 itu ya itu sudah 2 1/2 m-an itu 11:17 padahal di bawah gedung Imperium yang 11:19 sebelumnya dibangun itu tahun 2003 11:21 Daerah Kuningan? 11:22 Daerah Kuningan ya. Di kota pun kita 11:24 bisa tanam. Jadi 11:26 kedelai itu bisa ditanam di lahan yang 11:28 luas dalam bentuk farm ataupun di dalam 11:32 rumah itu bisa ya? Di pekarangan rumah 11:33 bisa bisa. 11:34 Dan untuk di seluruh Indonesia ini tidak 11:36 ada daerah yang tidak bisa ditanami 11:38 kedelai, kecuali tidak mau ditanami 11:40 kedelai ya. 11:42 Itu saja. 11:43 Nah, kenapa kok kita kok masih impor? 11:47 Nah, itulah yang kita menjadi prihatin 11:50 ya dan miris. Dengan adanya impor yang 11:53 berlebihan ini sudah mematikan atau 11:56 membunuh petani kedelai kita yang 11:58 tadinya 1,2 juta hektar penanam 12:02 misalnya 1 hektar saja berkontribusi 12:04 menyerap 12:05 3 orang keluarga tani ya. Kalau misalkan 12:09 1,2 kan sudah banyak banget itu sudah 12:12 jutaan kan? Sudah bisa 3 juta orang yang 12:14 bekerja di kedelai itu lebih. 12:16 Nah, ini dengan adanya impor sekarang 12:20 itu tinggal hanya 10% petani di seluruh 12:23 Indonesia yang menanam kedelai. 12:25 Dan itu menjadi kurang diminati karena 12:28 tadi kepentingan impor lebih besar 12:31 daripada kepentingan memakmurkan petani 12:33 itu. 12:34 Kepentingan memakmurkan segelintir orang 12:37 itu lebih utama daripada memakmurkan 12:40 jutaan orang petani. 12:41 Pak Ihsan komisi komisi komisi. 12:43 Nah, itu silakan diterjemahkan sendiri. 12:47 Karena 12:47 Sudah terjemahannya sudah sudah 12:49 dipahami. 12:52 Oke Iwan dan kawan kami 12:54 di acara tamu kita ini mengundang 12:56 Profesor ahli Profesor Ali Zoom Mashar. 13:01 Ini beliau lahir di Demak ya. Beliau 13:04 adalah ahli tanaman kedelai. Menurut 13:07 beliau kita sebenarnya tidak perlu 13:10 eh perlu tidak perlu impor tapi bahkan 13:12 bisa mengekspor kedelai. Dia punya 13:15 metode 13:17 apa Migo itu. 13:19 Tingginya bisa 3 meter dan bisa 13:22 menghasilkan berapa polong tadi itu 13:24 3.000 polong ya? 13:24 3.030-an lebih. 13:26 3.030 polong. 13:27 Satu pohon. Satu pohon. Sedangkan kalau 13:29 kedelai yang biasa itu cuma 40 senti. 13:32 Cuma berapa dua? 13:34 20 sampai 60 pohon. 13:35 Kecil sekali. Masya Allah. Kami akan 13:38 membacakan nomor HP beliau, Profesor Ali 13:41 Zum Masar. Bisa lihat di Google tuh, 13:43 Profesor Ali Zum Masar. Kami akan 13:46 bacakan nomor HP-nya. Siapkan pulpen 13:48 sama kertasnya. 13:50 Beliau adalah ahli 13:53 tanaman kedelai. 13:54 Ini nomornya. 08 13:56 Sudah? 13:58 111. 13:59 Satunya tiga kali. 14:01 3 14:03 44 14:06 62 08 111. 14:10 Satunya tiga kali. 3 14:13 kemudian 44 62. Profesor Ali Zum Masar. 14:18 Nah, tadi ya Prof kan bilang mau 14:20 diundang ke Arab Saudi ya. Emang di sana 14:23 bisa ditanamin kedelai? 14:25 Ya, kalau kedelai itu bisa hidup di 14:27 daerah tropis sampai subtropis. Jadi 14:29 hampir seluruh permukaan bumi di 14:31 Indonesia itu bisa. Hanya tinggal 14:33 mencari jenisnya. 14:35 Dan alhamdulillah kalau 14:36 kedelai ini sudah eh bukan barang yang 14:40 eh aneh karena Amerika pun sudah 14:43 mengembangkan Brazil, kemudian 14:45 Argentina, Kanada 14:48 dan semua negara meng 14:49 Dan kita impor 14:50 impor dari sana lagi. 14:51 Dan kita impor dari sana. 14:52 Ya, impor kita besar sekali, Pak. Ustaz 14:55 itu setahun itu hampir lebih dari 2,5 14:58 juta ton. 2,7 juta ton. 15:01 Nah, coba dengan harga yang sekarang ini 15:03 mencapai 14.000 15:06 per kilogramnya ya. Berapa banyak uang 15:08 devisa yang keluar? Kan hampir 40 15:10 triliun ya, 30 triliun lebih kan 15:12 setahunnya. Nah, kalau tinggal kali 15:14 berapa 15:15 berapa lama kita itu tergantung. Mau 10 15:18 tahun atau mau mau 15 tahun. Nah, ini 15:23 ee adalah 15:25 pemborosan ataupun pengeluaran yang 15:27 harusnya tidak perlu diberikan kepada 15:30 negara lain. Karena negara kita, petani 15:32 kita masih butuh banyak dana untuk ini 15:35 Pak Ustaz, supaya 15:38 angka yang sebanyak itu paling tidak 15:39 bisa untuk mensejahterakan petani lah 15:41 ya. 15:42 Oke, Prof ada yang tanya nih. 15:43 Assalamualaikum Prof, Prof Ali. Saya 15:46 ingin tanya 15:47 ee kedelai itu bisa dibuat selain untuk 15:50 tempe dan 15:52 tahu, untuk apa lagi katanya. 15:54 Banyak sekali kedelai ini apa 15:56 keperluannya ya. Ee bisa mulai dari yang 15:58 produk primer, sekunder, bahkan tersier. 16:01 Sehingga derivat satu, derivat dua, dua, 16:03 tiga, empat. Yang paling 16:05 katakanlah yang paling sederhana adalah 16:07 dipakai langsung ya. Dari kedelai 16:09 dipakai langsung untuk tahu, untuk 16:11 tempe. Itu tinggal difermentasi. Tahu, 16:14 tofu, tauco. Kemudian 16:16 Tauco juga ya? 16:17 Iya, susu kedelai, kemudian ada juga 16:19 perasa. Nah, penyedap rasa yang non MSG 16:22 itu dari kedelai. Dan juga enzim kedelai 16:24 itu bisa diekstrak juga untuk 16:27 kosmetik, untuk kecantikan, untuk 16:29 menyuburkan ee 16:32 regenerasi perempuan maupun laki-laki. 16:35 Jadi 16:36 besar sekali manfaat kedelai. Yang 16:38 paling utama kedelai itu adalah sumber 16:40 protein termurah di Indonesia. Yang dari 16:42 dulu 16:44 zaman kita orang tua dan nenek moyang 16:46 kita itu kecerdasannya paling banyak 16:48 dari kedelai. 16:49 Karena dulu kedelai sudah menjadi 16:51 tanaman yang familiar bagi masyarakat 16:53 desa ya, khususnya di Jawa itu. 16:55 Oke, assalamualaikum Prof Ali. Saya mau 16:57 tanya, kedelai itu ada berapa macam? 17:00 Ee 17:02 dan bagaimana cara penanamannya? 17:04 Dan kedelai, beli bibitnya di mana 17:06 katanya. 17:07 Oke. 17:08 Kalau kedelai, lain macam-macam kedelai 17:10 itu banyak sekali Pak. Mau kedelai yang 17:12 warnanya 17:14 kuning biasa, soya apa yang green ee 17:17 yellow soya yang kita pakai untuk itu. 17:20 Kemudian ada yang hijau seperti edamame. 17:23 Yang langsung dimakan, direbus, dimakan 17:25 langsung. Ada yang kedelai hitam yang 17:27 dipakai untuk susu. 17:28 Buat kecap itu apa itu? 17:29 Kecap ya, itu. 17:30 Kedelai, itu tergantung dari jenisnya. 17:32 Itu 17:32 kalau di Indonesia saja sudah ada 17:34 ratusan varietas. Di dunia ini ada 17:36 ribuan varietas. 17:38 Oh, begitu ya. 17:39 Jadi, tergantung dari 17:41 sumber pemuliaannya. Kalau misalkan kita 17:44 memuliakan 17:46 ya, selama ini kan dulu kedelai 17:47 Indonesia itu terkenalnya 17:48 kedelai-kedelai kecil ya. 17:50 Di mana itu kemudian menjadi perolokkan 17:53 dari orang-orang importir bahwa atau 17:55 orang-orang negara subtropis, kedelai 17:58 Indonesia adalah kedelainya kecil-kecil. 18:00 Kemudian hitam atau jelek. 18:03 Itu kan zaman dulu. 18:05 Dengan 18:06 perubahan 18:07 teknologi, 18:09 kita sudah menguasai bioteknologi, 18:11 perkawinan kedelai antara subtropis 18:13 dengan tropis ini bisa menghasilkan 18:15 kedelai-kedelai yang besar. Di saya 18:17 sendiri 18:18 saya punya 21 18:20 galur varietas kedelai, mau yang jenis 18:22 macam apa saja. 18:24 Dan itu 18:25 produktivitasnya di atas 3 ton per 18:27 hektar. Bahkan yang 18:29 yang di kemarin dipanen Pak Menteri 18:31 Pertanian itu yang tanggal 24 18:34 tanggal 14 September 18:36 Menteri Pertanian kita. Menteri Malaysia 18:38 kalau Menteri Pertanian Malaysia di 18:39 bulan Maret kemarin. 18:42 Itu produksinya sudah bisa mencapai 6,4 18:44 ton per hektar. 18:45 Itu di Serang semua apa di mana-mana? 18:46 Itu di Serang. Kalau yang di beberapa 18:48 daerah itu sudah berkembang di di 18:50 berbagai daerah di Indonesia juga ada. 18:52 Tapi yang spot-nya kecil-kecil. Dan itu 18:55 dulunya. Sekarang kita mulai lagi dengan 18:58 memfokuskan di Serang sebagai pusat 19:00 perbenihan kedelai unggul. 19:02 Nah, nanti kalau mencari kedelai unggul 19:04 yang dari saya itu adalah ada namanya 19:07 kedelai Migo Ratu Serang yang tingginya 19:09 rata-rata kalau petani ya 19:11 bisa 1,2 m. Nah, 19:13 Hmm. 19:14 produktivitasnya rata-rata 4,5 ton per 19:16 hektar. Minim 3 ton lah, bisa dapat itu. 19:20 Nah, ini sudah lebih tinggi daripada 19:22 kedelai 19:23 Amerika. Rata-rata Amerika itu masih 19:25 antara 2,7 sampai 3,7 ton per hektar. 19:29 Kita sudah bisa 4,5 sampai 6,4. Jadi, 19:32 Hmm. 19:33 enggak ada lagi yang dipertanyakan 19:34 tentang teknologi kita itu lebih lebih 19:37 rendah dari mereka. Dan kita justru 19:39 lebih untung. Kenapa? 19:40 Kedelai kalau kita tanam di daerah 19:41 subtropis hanya setahun sekali. 19:43 Hmm. 19:44 Kalau di daerah kita ini, saya itu 19:46 menanam kedelai dengan yang varietas 19:48 umur pendek, Pak Ustaz ya. 19:50 Setahun empat kali. Sekarang saya 19:51 kerjakan. 19:52 Hmm. 19:52 Untuk yang kedelai Migo ini bisa paling 19:54 tidak dua kali atau tiga kali. 19:56 Setahun? 19:56 Setahun. Sehingga 19:58 kalau di Amerika setahun per hektarnya 20:00 itu 3,7 ton, 20:02 3,75, di kita per tahunnya kalau dua 20:05 kali kan, ambil andaikan 4 ton saja, 20:07 sudah bisa 8 ton. 20:09 Jauh lebih tinggi. 20:10 Iya. 20:11 Nah, tetapi di Amerika dike dikembangkan 20:13 bisa ju ratusan atau puluhan juta 20:16 hektar. Di Indonesia paling puluhan 20:19 ribu. 20:20 Hmm. 20:20 Beda sekali kan? 20:22 Padahal tanah kita luas kan, gitu. 20:24 Profesor Ali sudah pernah mengetuk pintu 20:27 pemerintah belum dalam hal ini 20:29 pengembangan? 20:30 Ya, berkali-kali saya mengetuk pintu ke 20:31 pemerintah. Baik baik ada kemarin eh 20:35 baru saja di bulan Maret juga kunjungan 20:37 saya tunjukkan kepada Bapak eh Doktor 20:40 Andi Widjayanto, Gubernur Lemhannas, 20:42 agar melihat bahwa kita itu bangsa yang 20:45 sejatinya bisa berdaulat dan mandiri 20:47 pangan baik padi maupun kedelai. Dan 20:49 saya tunjukkan hasil-hasil karya saya 20:50 kepada beliau, Gubernur Lemhannas, agar 20:53 ini bisa memot membuat dorongan ke 20:56 optimisme 20:58 bangsa ini, khususnya dari sisi 21:00 pemerintah, untuk memberdayakan dan 21:03 kembali kepada kito, kita sebagai bangsa 21:07 agraris yang 21:09 dianugerahi sumber daya alam pertanian 21:12 berlimpah itu agar disyukuri. 21:14 Cara mensyukuri bagaimana? Ya, 21:16 memakmurkan dan memuliakan petani. Salah 21:18 satunya petani kedelai. 21:20 Dengan kita itu bisa memuliakan petani, 21:23 maka petani sebagai pejuang bersemangat 21:25 dong untuk nanam kedelai karena hidupnya 21:26 sejahtera. 21:27 Dan dengan 21:29 sejahteranya petani, maka otomatis 21:32 bangsa ini 21:33 menjadi lebih betul-betul mandiri dan 21:35 berdaulat pangan. 21:37 Dan kita semua bangsa di seluruh dunia 21:40 ini akhir-akhir ini banyak prihatin dan 21:43 khawatir dan krisis pangan yang sudah 21:45 mulai melanda di beberapa negara. 21:48 Khususnya karena perubahan iklim yang 21:51 menyebabkan Amerika saja, Pak, ya, 21:53 produksi kedelai itu turun, loh. 21:55 Ehm. 21:56 1 juta 21:57 Karena apa? 21:58 Ya, 21:59 pertama perubahan iklim. Yang kedua 22:01 memang 22:02 apa itu kondisi eee 22:05 adanya perang Rusia-Ukraina ini, sarana 22:08 input produksi itu juga terhambat 22:10 seperti pupuk-pupuk kimia. 22:11 Ehm. 22:12 Nah, kebetulan mereka kan negara-negara 22:13 yang mengandalkan pupuk kimia yang 22:15 berasal dari gas. Dan itu dengan adanya 22:18 perang 22:20 Rusia-Ukraina ini, 22:21 input pupuk dunia itu rata-rata naik 22:24 300%. 22:25 Ehm. 22:26 Loh, bagaimana bisa meng-cover produksi 22:28 kalau dia itu mengandalkan kekuatan di 22:30 pupuk kimia. Nah, syukur Indonesia ini 22:33 ada 22:35 tanah yang begitu subur dan kita 22:38 memiliki teknologi mikroba seperti 22:40 mikroba Google ini. Jadi, saya kira 22:43 petani di Indonesia ini 22:45 nanti kalau mau mengembangkan kedelai 22:46 tidak tergantung dengan pupuk kimia 22:49 Ehm. 22:49 semata itu. Karena sudah ada 22:51 alternatif-alternatif. Lah, itulah 22:52 anugerah 22:54 Tuhan yang ada di bumi Indonesia. 22:56 Masya Allah. 22:56 Dan cara mensyukurinya apa? Ya, 22:57 dikembangkan. Pemerintah mengembangkan 22:59 teknologi yang saya temukan ini secara 23:01 massal, kemudian dibuat suatu gerakan. 23:04 Kalau Pak Harto saja bisa membuat yang 23:06 namanya gerakan Bimas, ya, masa zaman 23:09 sekarang itu enggak bisa membuat gerakan 23:11 kedaulatan pangan dengan intensifikasi 23:14 tadi. Kalau 23:17 kita kesulitan membuka lahan baru di 23:19 Indonesia ini, maka dengan cara 23:21 intensifikasi dengan teknologi yang 23:23 membuat produktivitas bisa melompat tiga 23:26 kali lipat dalam sekali kali tanam, 23:27 apalagi kalau dengan kita temukan 23:30 varietas-varietas baru yang umurnya 23:32 pendek ini, 23:33 maka otomatis 23:35 walaupun lahan kita itu sempit, Pak 23:37 Ustaz, itu bisa mencukupi kesejahteraan 23:40 petani. Tetapi kalau kita biarkan lahan 23:42 petani kita itu kan kurang dari 3 23:44 0,3 hektar per 23:47 petani. Kalau kita biarkan dengan cara 23:49 konvensional, yang jadi petani makin 23:51 miskin, jadi buruh yang tidak akan naik 23:53 kelas. 23:54 Tetapi dengan 23:56 menerapkan atau dengan adanya sumbangan 23:58 dan bantuan teknologi 24:01 untuk produktivitas itu kepada petani 24:03 yang dilakukan secara masif dalam bentuk 24:04 gerakan, 24:05 maka walaupun lahan petani kecil, kita 24:07 bisa berkontribusi meningkatkan dua kali 24:10 tiga kali lipat. 24:11 Hitungan saya sih sederhana. 24:13 Kalau kita 24:15 lahan kita itu 1 juta hektar, 24:18 misalkan, ya, dalam 1 hektar, 24:20 yang selama ini produksinya katakanlah 24:22 misalkan hanya 1 ton, kan cuma 1 juta 24:24 ton. 24:25 Nah, kalau kita mau mengejar produksi 3 24:29 juta ton, 24:31 maka kita kan harus menambah luas lahan 24:33 2 juta hektar. 24:35 Menambah membuka lahan 2 juta hektar, 24:37 biaya awalnya itu luar biasa lebih besar 24:39 daripada biaya memproduksi. 24:41 Nah, saya punya solusi. 24:43 Enggak usah itu 24:45 nanti dulu ditunda dulu. Nah, untuk 24:48 tambah hari lagi. Sekarang terapkan di 24:50 lahan yang ada tadi 1 juta hektar dengan 24:53 intervensi atau dengan inputan teknologi 24:55 baru, yaitu bioteknologi benih unggul 24:59 yang dari Miko itu yang bisa potensinya 25:01 sampai 6 ton, ya. 25:03 Kalau pun di lapangan dapat 4 ton, 3 ton 25:05 kan alhamdulillah. Lebih sudah bagus. 25:08 Dan yang kedua, itu dengan menggunakan 25:11 ma masukan-masukan yang pertanian yang 25:13 lebih ramah lingkungan, yang regeneratif 25:15 dengan menggunakan teknologi mikrobak 25:17 Google. Nah, kalau itu dari 1 hektar 25:19 bisa menjadikan, katakanlah enggak usah 25:21 6 ton. 3 ton aja untuk kedelai. 25:24 Maka setara kita itu menutup 25:27 eee 25:29 pengeluaran untuk buka lahan baru setara 25:31 dengan 2 2 juta hektar kan. 25:34 Nah, padahal 25:35 dengan peningkatan produksi sat 2 25:38 tambahan 2 juta ton, itu berarti petani 25:41 meningkat pendapatannya menjadi 4 kali 25:43 lipat. Nah, inilah dengan lahan sempit. 25:46 Katakanlah seperempat hektar, nilainya 25:48 hanya seperempat. 25:50 Tapi kalau 25:51 in eee produktivitasnya naik dan in 25:54 produktivitasnya 25:55 bisa sampai 3 kali lipat, maka 25:58 keuntungan atau income petani itu akan 26:00 naik 4 kali lipat. Jadi setara dia itu 26:02 memiliki pendapatan dari 1 hektar 26:04 walaupun dia yang mengelola tanah cuman 26:07 0,25 hektar. Misalnya begitu. 26:09 Masya Allah. 26:10 Sederhana sekali. 26:11 Dan Miko itu hasil dari 26:14 Prof sendiri ya? 26:15 Alhamdulillah itu penemuan yang saya 26:18 sudah tekuni dari tahun 2 99, 2000 ya. 26:22 Dan itu adalah anugerah dari Allah 26:25 Subhanahu Wa Ta'ala di tengah 26:28 keprihatinan saya melihat 26:31 petani transmigran yang selalu gagal 26:34 tanam karena tanahnya enggak bisa 26:36 ditanami 26:37 oleh zat asam di dalam lahan gambut 26:39 sejak di Kalimantan itu. 26:41 Nah, ini 26:42 Allah menurunkan di dalamnya sana itu 26:45 sebagian kecil dari makhluk-makhluk yang 26:48 penyeimbang atau sebagai obatnya untuk 26:51 tanah yang marginal itu. Nah, itulah 26:53 yang kemudian yang bisa saya dapatkan 26:55 yang kemudian saya kasih nama dengan 26:57 eh mikroba bio P2000Z atau yang sekarang 27:01 dikenal dengan nama mikroba Google itu. 27:04 Nah, mikroba Google ya. 27:06 Oke, luar biasa Iwan dan pemirsa kami 27:08 masih berbincang-bincang dengan 27:10 Profesor Ali Zoom 27:12 Mas'har. Beliau adalah ahli tanaman 27:14 kedelai. Menurut beliau kita sebenarnya 27:16 tidak perlu mengimpor kedelai, malah 27:19 kita mungkin bisa meng- ekspor kedelai 27:22 karena kedelai kita kualitasnya bagus, 27:25 lebih banyak eh polong-polongnya. 27:29 Oke, nanya Assalamualaikum Prof. Apakah 27:31 bisa diselang-seling dengan tanaman 27:32 padi? 27:33 Itu sangat memungkinkan sekali karena 27:36 justru itu yang terbaik menurut saya ya. 27:38 Selama ini kalau kita itu eh menanam 27:41 padi, 27:42 itu padi-padi, 27:44 padi itu kan tanahnya 27:46 satu unsur hara terserap terus. Nah, 27:48 kalau kita bisa sering padi-padi 27:49 kedelai, maka akan terjadi keseimbangan 27:52 dan dan inilah yang kemudian menjadi 27:54 bahwa 27:55 eh kita akan me- membuat klaim kepada 27:58 dunia bahwa 28:00 pertanian kita itu bukan sebagai 28:02 pe- peng- eh apa sumber pe- penghasil 28:05 emisi emisi gas rumah kaca. 28:08 Bayangkan kalau tanah itu digenangi 28:10 terus, kita kasih masukan bahan organik 28:12 mungkin dari sisa tanaman maupun kimia. 28:15 Apa yang terjadi? Terjadi 28:17 metanogenesis atau keluarnya gas metan. 28:20 Tetapi kalau penanaman kita itu tidak 28:23 cara menggenang di padi maupun kedelai, 28:25 maka tidak ada keluar gas metan. Dan itu 28:27 kita bisa diklaim bahwa pertanian 28:29 Indonesia sudah pertanian regeneratif 28:30 yang tidak 28:32 memberikan kontribusi eh emisi 28:35 gas rumah kaca. Justru sekarang ini saya 28:37 sudah menemukan baru lagi yang namanya 28:40 padi yang 28:41 yang yang eh ramah 28:44 ramah lingkungan. Hmm. 28:45 Pertama karena dia umurnya pendek tapi 28:47 hasilnya setinggi. 28:48 Hmm. 28:49 Yaitu bisa sampai 16 ton per hektar, 28:52 tapi umurnya 2 setengah bulan sudah bisa 28:54 dipanen. 28:54 2 setengah bulan? 2 setengah bulan? 28:56 Cepat sekali. 28:56 Padi normal itu paling cepat di atas 3 28:58 bulan itu. 28:59 Hmm. 29:00 Itu sudah genjah. 29:02 Oke. 29:02 Padi yang sekarang ini adalah padi yang 29:04 ultra genjah. Namanya padi Trisakti. Dan 29:07 itu tidak butuh banyak air. 29:08 Oke. Baik, kita terima telepon dulu ya. 29:10 Halo, asalamualaikum. 29:11 Waalaikumsalam. Halo. 29:13 Dengan siapa ini? 29:14 Bu Asniati, Mas Krisna. 29:17 Halo, dengan siapa ini, maaf? 29:18 Bu Asniati. 29:19 Oh, silakan, Ibu. Radionya bisa tolong 29:21 dikecilkan supaya tidak feedback. 29:22 Silakan, Ibu Haji. 29:23 Iya, kecilin ya. 29:27 Iya, ya. 29:29 Halo, suara Ali, Zoom, Mas Har, silakan. 29:32 Assalamualaikum, Prof. 29:34 Waalaikumsalam, Ibu. 29:36 Kedengaran enggak, Mas Krisna? 29:37 Kedengaran, kedengaran. Silakan. 29:39 Iya, saya kan ibu rumah tangga biasa, 29:41 Mas Krisna. Cuma saya juga heran, negara 29:43 kita kan yang subur, ya. Masa kedelai 29:45 saja kudu diimpor, kata saya gitu. Saya 29:47 pernah tahu dari tahun 70 di 29:50 samping rumah ponakan saya itu yang 29:52 suaminya memang orang Jawa, nanam 29:54 kedelai itu subur, Mas Krisna. 29:57 Nah, sekarang bagaimana, Prof ini, yang 30:01 dari komunitas bergabung untuk tempe 30:04 supaya pemerintah jangan ngimpor melulu 30:05 gitu. Bagaimana, Mas Krisna? Coba 30:08 Pak Prof ini berpikir gitu. Dari 30:10 komunitas untuk anu yang tempe anu tempe 30:13 gitu, ya kan. Pengrajin-pengrajin itu di 30:16 komunitas supaya jangan mengandalkan 30:19 impor, impor memperkaya orang-orang di 30:21 atas saja, Mas Krisna. Kasihan kita 30:23 rakyat kita ini. Itu saja tanggapan 30:26 saya, Mas Krisna. Makasih. 30:27 Asalamualaikum. 30:28 Masukan-masukannya. Ini bisa bisa 30:29 ditanam di pekarangan, ya? 30:31 Bisa, di pot pun bisa, Pak. 30:32 Di pot bisa, ya? 30:33 Di pot pun bisa, Mas. 30:34 Itu ada yang tadi tanya bibitnya dari 30:35 mana, ya? 30:36 Nah, bibit itu mudah. Kita bisa kalau 30:38 mencari bibit dari kami itu dari 30:40 komunitas kami di masyarakat petani dan 30:42 pertanian organik Indonesia itu sudah 30:44 ada di 34 kabu provinsi ada juga kita 30:48 sedang kembangkan dari 1 30:50 kg benih itu nanti pada periode 30:54 berikutnya kita bisa menanam 3 ha 30:56 setelah 3 ha kita bisa menanam 125 31:00 ha 31:01 untuk bibit nah di situ 31:03 jadi kita bisa mandiri benih 31:05 dan bisa juga untuk mandiri memasok ee 31:09 kedelai untuk pengrajin tahu tempe 31:12 karena apa kalau kedelai kita ini sudah 31:14 pastilah dijamin kualitasnya jauh lebih 31:17 bergizi dan lebih bagus daripada peng 31:19 dari kedelai yang digunakan pengrajin 31:21 yang berasal dari impor hanya bedanya 31:23 kan masalah keseragaman itu mudah karena 31:26 keseragaman itu hanya 31:27 masalah di sortir ah ada ayakan 31:32 dan di grader mana yang kecil dan mana 31:34 yang besar dan pada umumnya kedelai kita 31:36 ini sudah ukurannya sama bahkan lebih 31:39 besar daripada kedelai-kedelai yang 31:40 diimpor itu 31:42 ukurannya sudah lebih besar daripada 31:43 yang diimpor karena yang kedelai Migo 31:46 itu contohnya itu sudah 19 gram kedelai 31:49 impor masih 17 gram rata-rata per 100 31:51 biji kedelai Dega itu misalkan 22 gram 31:55 per 100 biji bahkan ada kedelai saya itu 31:57 yang 32 gram per 100 biji dua kali 32:00 kedelai impor 32:02 nah sekarang 32:03 yang menjadi 32:05 ee 32:06 apa itu kalau Ibu mau membantu 32:09 ya upayakan bahwa kedelai yang ditanam 32:12 petani itu itu dipakai oleh para 32:15 pengrajin jangan pengrajin itu pada 32:17 takut kepada 32:20 takut diputus pasokannya oleh kedelai 32:22 impor karena mau menggunakan kedelai 32:24 lokal sementara ini kan begitu ada 32:26 pengancaman-pengancaman pada pengrajin 32:29 kalau menggunakan kedelai lokal 32:31 atau kalau menggunakan 32:33 tidak menggunakan impor atau dia pernah 32:36 menggunakan kedelai lokal itu nanti 32:39 berikutnya bisa diputus itu suplainya 32:42 nah kalau impor mah memang gudangnya 32:44 sudah disiapkan sampai ke tingkat 32:45 kecamatan 32:46 nah ini yang terbaik adalah kita bekerja 32:49 dengan hati untuk kesejahteraan dan 32:51 kemakmuran semuanya caranya gimana? kita 32:54 harus membuat emosional ee 32:57 sense of of belonging lah 32:59 kita merasa bahwa kedelai itu adalah 33:01 milik kita 33:03 berasal dari bangsa kita ditanam oleh 33:06 tetangga saudara kita dan oleh bangsa 33:08 kita maka itu yang lebih utama digunakan 33:10 dulu sebelum kita menggunakan yang impor 33:13 itu kecuali kalau kita itu enggak mampu 33:16 atau kekurangan baru impor 33:18 nah kalau sudah pertama yang impor itu 33:20 diutamakan ya tentu yang 33:23 kita itu petani kita yang kurang modal 33:26 ya pasti kalah 33:28 bersaing ya 33:30 untuk bisa memasok secara kontinu nah 33:32 ini sebetulnya tanggung jawab 33:34 pemerintah maupun tanggung jawab kita 33:36 semua juga lembaga-lembaga yang peduli 33:39 pada ekonomi kerakyatan ekonomi 33:41 masyarakat 33:42 mari kalau kita mau membenahi ini 33:45 membuat suatu ikatan sirkular 33:49 ee sirkular 33:51 ee agriculture artinya apa? 33:54 kita menanam dan kita mengolahnya 33:56 sendiri atau mulai dari pengolah itu 33:59 mengandalkan dari pasokan petani dan 34:02 nanti dari pasokan petani itu akan 34:04 mensuplai 34:06 pengrajin nah kekurangannya baru boleh 34:08 mengambil dari 34:10 tempat lain jangan dibalik maka dengan 34:12 demikian akan 34:14 semua hidup kalau pengrajin hidup 34:16 berarti ada tenaga kerja yang ter ee 34:21 terhidupi nah kalau pengrajin itu 34:23 menggunakan 34:24 kedelai 34:26 produksi petani berarti ada petani 34:29 pekerjaan petani yang terhargai ada 34:30 keuntungan di situ 34:32 Ehm. 34:32 Beda kalau menggunakan kedelai impor, ya 34:34 untung siapa? Petani di luar. Kenapa 34:37 tenaganya dari luar, nah ini dewe, kita 34:39 tinggal suruh membeli saja. Ya memang 34:41 enak, gampang. 34:42 Tetapi dalam jangka panjang, ini tidak 34:45 membuat Indonesia lebih baik, tapi 34:48 justru membuat kita makin tidak 34:50 mandiri dan tidak berdaulat pangan. 34:53 Kenapa? Karena 34:54 kalau kita itu mau menjadi bangsa yang 34:57 berdaulat, nomor satu yang dibenahi 34:58 adalah pangannya berdaulat. 35:00 Kalau yang lain-lain itu 35:02 lebih mudah daripada pangan. Begitu 35:06 orang mengatakan bahwa kalau mau 35:07 menguasai dunia 35:09 menguasai orang seluruh dunia maka 35:11 kuasailah pangannya. 35:12 Ehm. 35:13 Tetapi Indonesia sangat memungkinkan 35:15 itu. 35:15 Nah, Indonesia memungkinkan. Dan kalau 35:17 kita mau menguasai suatu bangsa, kuasai 35:20 energinya. 35:22 Satu bangsa loh ya. Kalau satu dunia 35:24 atau semua orang 35:26 zaman Nabi Yusuf saja 35:28 sudah memberikan ibrah kepada kita. 35:31 Di saat negara-negara lain itu 35:33 kekurangan pangan dan tidak bisa di 35:36 mem-menghidupi 35:37 rakyatnya 35:39 maka enggak usah pakai perang, rajanya 35:41 itu sudah tunduk, minta-minta untuk 35:44 menjadi negara bagian dari kerajaan 35:47 Yusuf untuk diberi makan, kan gitu. 35:50 Jadi 35:51 beda dengan misalkan energi. Kalau untuk 35:52 menguasai negara harus menggunakan 35:54 perang. 35:56 Baru energinya dikuasai 35:58 tambah-tambahnya. Tapi kalau pangan 36:00 buat negara itu 36:02 kelaparan, nanti tinggal bernegosiasi 36:04 saja. 36:05 Mau enggak itu, apa, ikut 36:08 kasih kami, ya kan kayak gitu. 36:10 Nah, Indonesia mau enggak menjadi negara 36:11 yang 36:14 katakanlah tadi tergantung atau menjadi 36:16 dijajah secara halus. 36:19 Gitu. Kalau sudah pangannya 36:21 itu kalau satu bangsa enggak bisa 36:24 membiayai makan rakyatnya, maka 36:26 berapapun kekayaan yang ada di dalam 36:28 negara itu enggak ada enggak ada 36:30 harganya. 36:31 Punya emas satu gunung pun bisa 36:32 diserahkan begitu saja demi satu kilo 36:36 makan untuk hidup satu tahun kan begitu, 36:38 betul enggak itu? 36:40 Oke, ada pertanyaan dari Bapak Amir Zaki 36:42 Mubarak. Assalamualaikum, Prof. 36:45 Pak, untuk kedelai Migo bisa mencapai 36:48 berapa kali panen per tahun? Untuk satu 36:51 kali tanam dan dengan kondisi negara 36:53 kita saat ini cenderung untuk disabotase 36:56 pihak tertentu. Kenapa pejabat maunya 36:58 impor? 36:59 Ya. 37:01 Inilah kita harus sadar ya, sadar dengan 37:03 sadar-sadarnya bahwa kedelai di 37:05 Indonesia itu bisa ditanam sepanjang 37:07 tahun. 37:08 Jadi kalau umur kedelai Migo 37:11 Ratu ini umurnya tiga bulan, paling 37:13 tidak kita bisa setahun menanam tiga 37:15 kali. Dan saya sudah buktikan musim 37:17 hujan kita tanam juga berhasil panen, 37:20 musim kemarau apalagi atau apalagi musim 37:22 yang cocok. 37:23 Yang terpenting adalah kita masih kalah 37:27 dengan negara produsen kedelai. Kenapa? 37:29 Karena 37:30 infrastruktur untuk kedelai khususnya di 37:33 pasca panen itu tidak diperhatikan, 37:34 terjun bebas. Misalnya kan begini, 37:37 kalau kita panen di musim hujan, 37:39 apa yang paling utama 37:41 masalah di musim hujan? Kan masalah 37:42 pengeringan. 37:44 Tidak ada fasilitas pengeringan, tidak 37:46 ada fasilitas untuk melindungi tanaman 37:49 yang dipanen itu kena hujan. Nah, 37:51 makanya kedelainya menjadi kualitasnya 37:53 jatuh di musim hujan. Nah, kalau itu 37:56 fasilitasnya dibuat sama seperti negara 37:58 produsen kedelai yang lain atau mungkin 38:01 bahkan lebih baik karena kita bisa 38:03 setahun bisa menanam dua tiga kali, itu 38:06 bukan mustahil. 38:07 Jadi 38:08 sangat sangat 38:10 eee ideal orang bisa menanam 38:14 kedelai 38:15 paling tidak dua kali tanam kedelai, 38:18 satu kali selingan tanaman lain. 38:19 Bolehlah misalnya kacang tanah ataupun 38:21 jagung. 38:23 Nah, ini 38:24 bisa kita kerjakan. Nah, untuk 38:26 mendapatkan bibit ini juga bukan hal 38:28 yang sulit. 38:30 Hanya dibuat sulit karena apa? Tidak ada 38:33 satupun industri perbenihan kedelai yang 38:36 ada di Indonesia ini. 38:38 Meskipun pemerintah memiliki BPSB dan 38:41 sebagainya, tapi tidak mengembangkan 38:44 eh swasta pengembang benih kedelai. 38:47 Dan petani 38:49 penanam kedelai itu hanya secara naluri 38:51 aja menyimpan benihnya paling satu blek, 38:53 dua blek ya. 38:54 Satu blek itu sama saja satu 38:57 satu kantong, dua kantong hanya untuk 38:59 keperluan dia sendiri nanti di musim 39:02 awal musim kemarau itu secara mandiri. 39:04 Nah, sekarang ada enggak seperti 39:07 industri di 39:08 negara tetangga itu ya. 39:10 Bahwa benih itu sudah betul-betul 39:12 dilakukan diindustrikan secara 39:13 profesional dan kapanpun ada kebutuhan 39:17 ready. Lah, sekarang 39:19 pada saat kita mau mengembangkan kedelai 39:20 besar-besaran semua bingung tidak ada 39:22 benihnya. Kenapa? Karena enggak ada 39:24 industri benih yang didukung 39:26 oleh pemerintah 39:27 apalagi difasilitasi untuk menjadi maju. 39:31 Paling tidak kalau ada industri benih 39:33 kedelai itu ya diberi pasar yang 39:36 kontinyu dan difasilitasi dengan 39:39 infrastruktur seperti apa itu? 39:42 Kalau di Malaysia itu yang saya lihat 39:43 itu namanya ada loji. Loji itu 39:46 pusat perbenihan. Kalau dulu kita itu 39:48 seperti Sang Hyang Seri tapi 39:49 peralatannya di sana lebih canggih. 39:51 Semua dari Jerman. Di kita 39:53 masih tradisional itu bedanya. 39:56 Oke, selanjutnya dari 40:00 Assalamualaikum Prof Ali. Saya tahu para 40:02 pengrajin tempe tidak mau menggunakan 40:04 kedelai 40:06 eh lokal karena kedelainya 40:09 eh kedelai lokal kecil-kecil. Betul 40:10 enggak begitu? 40:11 Itu 40:13 opini yang dibangun memang dan itu saya 40:16 katakan ya 1000% tidak benar, ya. 40:20 Kalau memang kedelai kita kecil itu 40:22 memang kedelai zaman bahula yang zaman 40:23 Majapahit itu. Ini sudah zaman modern, 40:26 teknologi pemuliaan bertanam 40:29 pemuliaan benih itu ber berkembang 40:31 pesat. 40:32 Ya contohnya saya sendiri, dulu memang 40:34 saya menanam kedelai yang kecil-kecil 40:36 karena memang eranya ya. Kedelai kecil 40:38 masih dipakai untuk sa susu, tahu 40:41 seperti kedelai Slamet, Wilis. Dan itu 40:44 dulu dipakai untuk tempe pun gurih. Lah 40:46 sekarang pengrajin menggunakan kedelai 40:48 besar. Kita pun sudah mengikuti bahwa 40:50 kita punya kedelai yang biji besar. Nah 40:52 hanya permasalahannya ini masih ke 40:54 kehabisan akal lagi ini apa para 40:57 importir untuk membangun opini me untuk 40:59 mendiskreditkan bahwa kita itu enggak 41:02 mampu gitu ya. 41:04 Silakan cari akal untuk mengatakan bahwa 41:07 kedelai kita tidak ada yang besar. Tapi 41:09 faktanya sudah ada banyak jadi sudah 41:11 sudah mulai terbalik itu. 41:13 Jadi sekarang sudah mulai bingung 41:14 mencari alasan untuk ini. Ya karena 41:17 memang selama ini kenapa kok kita pakai 41:19 kedelai itu? Itu adalah opini yang 41:21 dibangun agar 41:23 bahwa kedelai impor yang dipakai 41:25 Pebenaran ya? 41:25 Pebenaran agar kedelai impor yang 41:27 dipakai yang memiliki ukuran seragam, 41:29 bijinya besar. Lah sekarang kita sudah 41:32 ada kedelai lokal yang bijinya besar dan 41:33 rasanya jauh lebih enak. 41:35 Mau apa lagi yang ditanyakan? Kan tidak 41:37 ada lagi. 41:38 Itu. 41:39 Dulu memang 41:40 Luar biasa. 41:41 kedelai lokal yang besar itu kan untuk 41:43 membangun opini 41:44 bahwa 41:46 agar pengrajin tergantung dengan 41:47 kedelai-kedelai ukuran besar. 41:51 Padahal untuk tahu tempe 41:53 tidak ada alasan kedelai kecil tidak 41:55 bisa dipakai, justru lebih gurih kan 41:57 gitu. 41:58 Oke, ada telepon lagi. Halo, 42:00 asalamualaikum. 42:02 Halo, asalamualaikum. 42:03 Waalaikumsalam warahmatullahi 42:05 siapa ini maaf? 42:06 Pak Krisna. 42:08 Mau dengan Prof Ali, Pak Krisna. 42:09 Dengan Pak siapa? 42:11 Dengan Pak Hidayat. 42:12 Pak Hidayat, silakan Pak Hidayat. 42:14 Assalamualaikum, Prof. 42:16 Waalaikumsalam. 42:18 Ini gini, tadi saya 42:20 menyimak tadi bahwa ada juga padi 42:23 namanya padi Trisakti. 42:25 Nah, ini saya petani padi nih di Subang, 42:27 Pak Prof. 42:30 Nah, itu sudah bisa dibeli di di pasar 42:32 umum itu apa bibitnya? Tentang itu apa? 42:36 Dan bagaimana rasa itunya nasinya? 42:40 Terus tadi Prof bilang kan hanya 2 1/2 42:43 bulan. 42:45 Terus rasanya gimana gitu? Pera apa 42:48 enggak gitu? 42:50 Bisa didapatkan di mana itu beli 42:52 bibitnya gitu, Prof? Saya itu saja, 42:54 terima kasih. Assalamualaikum 42:55 warahmatullahi wabarakatuh. 42:57 Waalaikumsalam warahmatullahi 42:58 wabarakatuh. Mas Anis, kalau bisa 43:00 nomornya dicatat nih Pak Hidayat nih 43:01 petani dari Subang. 43:03 Iya, Pak Hidayat. 43:04 Memang yang cukup spektakuler dari 43:08 penemuan saya adalah padi yang memiliki 43:10 brand atau menjadi menjadi ciri 43:12 pencirinya adalah padi yang 43:14 umur ultra genjah yang itu belum ada 43:17 yang orang lain yang pertama kali 43:19 menemukan 43:20 ini. Saya meneliti dari tahun eee 43:24 2003 dan kemudian saya lanjutkan 2000 12 43:27 dan 2014 sudah saya 43:29 coba kembangkan. 43:31 Nah, ini yang disebut dengan nama padi 43:32 Trisakti. Kalau di Google Bapak cari, 43:35 pasti banyak yang mau akan jualan itu di 43:37 marketplace itu ya. 43:38 Padi Trisakti padi Trisakti 43:40 tapi mungkin itu banyak yang tidak ori 43:41 ya. 43:42 Ehm. 43:42 Karena bukan dari kami langsung itu. 43:45 Jadi sudah banyak ber menyebar 43:48 getok tular dari masyarakat. Nah, benih 43:51 yang ori itu ada di kami di Asosiasi 43:53 Petani Miggu Indonesia, Amiggo ya. 43:57 Bisa bergabung di Amiggo 44:00 atau 44:01 ambil di Serang itu karena ini padi juga 44:05 sudah eh, sudah kita didaftarkan 44:08 melalui Ibu, Pak, Ibu Bupati Serang, 44:11 saya kasihkan atau saya hibahkan hasil 44:13 penemuan padi Trisakti 1 44:15 He eh. 44:16 ini kepada Ibu Bupati untuk menjadi 44:19 padi revolusioner kesejahteraan. 44:21 Masya Allah. 44:22 Walaupun penelitian itu panjang, tapi 44:24 kalau ada pejabat atau pada pimpinan 44:27 yang baik, akan saya berikan, Pak. 44:29 Akan saya hibahkan itu hasil, hasil 44:31 penemuan saya itu. Yang penting untuk 44:33 masyarakat. Ini sudah, di Serang sudah 44:36 banyak berkembang, ya. 44:38 Kemudian melalui petani asosiasi Amigo, 44:42 kemudian Mapurina 44:44 kemudian, eh, 44:46 jemaah-jemaah yang lainlah. Intinya ada, 44:49 adalah kita sebagai, eh, komunitas 44:53 yang peduli untuk 44:55 kedaulatan pangan dan kemandirian pangan 44:58 Indonesia boleh menggunakan padi 45:01 Trisakti ini. 45:02 Baik, untuk Pak Hidayat dicatat saja 45:03 nomor telepon Profesor Ali Zoom Mazhar 45:06 Profesor Ali Zoom Mazhar 45:09 nomornya 08111 45:14 satunya tiga kali 45:15 kemudian tiga 45:17 kemudian empat-empat 45:20 kemudian enam dua. 08111 45:23 satunya tiga kali 45:25 tiga 45:26 empat-empat 45:28 enam dua. 45:30 Eh, Asalamualaikum, Prof Ali. Prof Ali, 45:32 selain ngurusin kedelai 45:35 tanaman apa lagi yang 45:37 menjadi perhatian, eh, 45:39 Prof Ali? 45:41 Saya lebih banyak di, kalau untuk yang 45:43 sekarang fokusnya ke tanaman pangan, 45:45 Pajale, ya. Padi 45:47 kedelai dan jagung. 45:49 Pajale? 45:49 Ya. 45:51 Nah, padi itu sudah menjadi prioritas 45:54 juga karena 45:56 padi ini menjadi solusi bagi pangan, eh, 45:59 bangsa-bangsa Asia, ya. 46:00 He eh. 46:01 Eh, dan itu produktivitasnya yang saya 46:04 temukan, saya jamin lebih tinggi 46:06 daripada padi hibrida. 46:07 Eee. 46:08 Eee, produktivitasnya 46:08 Tingginya berapa? 46:10 Lebih tinggi, maksudnya produksinya, ya, 46:12 Pak, ya? 46:12 Enggak tahu, tinggi tanamannya? 46:14 Tinggi tanaman ada yang 90, ada yang 46:17 paling tinggi 150. Ada yang bisa ditanam 46:20 di tanah sawah, rawa, tanah Contoh 46:23 misalkan padi Trisakti Tornado, itu kan 46:25 daerah yang asam, kemudian daerah pasang 46:28 surut, daerah kering, bisa tumbuh. Dan 46:30 padinya rasanya enak sekali, ya. 46:32 Eee. 46:33 Eee, padi Trisakti itu rasanya seperti 46:35 IR 4 gabungan antara antara IR 4 sama 46:39 Cerang, lah. 46:39 Sekarang sudah diproduksi berapa banyak? 46:42 Kalau mau produksi di tempat kami selalu 46:44 ada, banyak, ya. 46:45 Eee. 46:45 Kalau 46:46 padi ini sudah diterima juga oleh Bulog, 46:51 Food Station, ataupun Topi Koki, itu 46:53 menggunakan brand kita yang apa, beras 46:56 merahnya. 46:56 Itu sudah pada bisa mendengar hasil mau 46:58 beli, itu ada yang jual? 47:00 Ya, tentu mungkin kalau di lapangan 47:02 Enggak ada, ya? 47:03 mengatakan langsung kan enggak ada, 47:04 karena 47:05 beras di lapangan ini sudah 47:06 dicampur-campur, Pak, ya. 47:07 Oh, iya. 47:07 Tapi kalau mau langsung ke tempat kami 47:09 yang beli langsung itu langsung. 47:11 Silakan datang ke Serang. 47:12 Siap, itu ada berapapun ada. 47:14 Eee. 47:15 Itu. 47:16 Oke, ya. 47:18 Salam, asalamualaikum, Prof. Untuk 47:20 kedelai, penyakit apa yang sangat 47:22 mengganggu penyakit untuk kedelai, 47:24 tanaman kedelai? 47:26 Tanaman kedelai itu sama seperti tanaman 47:28 kacang-kacangan yang lain. 47:30 Penyakitnya itu sebetulnya sudah diatasi 47:32 dengan varietas yang unggul, ya, seperti 47:34 misalkan penyakit yang karat daun. 47:36 Sekarang kedelai-kedelai kita harus 47:37 lebih tahan karat daun, itu hasil 47:39 penyilangan. Itu sudah bisa teratasi, 47:41 jadi 47:43 enggak ada masalah. Yang kedua itu 47:44 paling walang sangit. 47:46 Walang sangit. 47:46 Paling banyak. Walang sangit itu karena 47:48 kalau kita membiarkan kayak semacam 47:49 walang angin, walang sangit itu pada 47:51 masa berbunga atau berbuah, eee, 47:55 kemudian dia itu menghisap 47:57 eee, polongnya, maka dia akan hitam atau 47:59 bahkan kosong, kempes itu saja. 48:01 Yang atas ini gimana? 48:03 Ya, sekarang sudah banyak sekali 48:04 obat-obatan ya, pestisida yang 48:05 berkembang. Walang sangit itu tanaman 48:07 yang apa, hama yang paling gampang 48:09 dimatikan kok, obat-obatan yang murah 48:11 juga. 48:12 Yang organik ada? 48:13 Ada. 48:13 He eh. 48:13 Itu banyak kalau organik itu, kita 48:15 menggunakan 48:16 eh sereh ya, eh 48:19 semacam apa itu, ekstrak dari sereh itu 48:23 selesai, hilang. 48:24 Atau selesai 48:27 dengan katakanlah nimba, daun nimba sama 48:29 sereh, itu kita ekstrak, kita fermentasi 48:32 dengan mikroba Google, setelah 3 hari 48:34 kita pakai, semprotkan. Hilang atau itu 48:37 hama juga akan mandul itu. 48:39 Kalau burung enggak ya? 48:40 Burung, burung enggak makan, Pak. Burung 48:42 itu karena kalau mau makan gimana, dia 48:44 kan di dalam polong, harus dicek-cek 48:46 dulu itu. 48:48 Kecuali burung. 48:51 Assalamualaikum, Prof, visi dan misi 48:55 surat inovasi untuk kemandirian tentang 48:58 kedelai sangat baik, namun oknum para 49:00 penyelenggara negara justru mematikan 49:03 hal baik itu karena setan menguasainya 49:06 dan tidak menguntungkan pribadi oknum. 49:08 Bila gerakan ini sebagai aksi massal 49:10 rakyat, bagaimana pemasarannya, siapa 49:13 yang fasilitasi 49:15 menampung panen ini? 49:18 Ya, baik, terima kasih. Ini pertanyaan 49:21 yang tajam dan bagus, Pak Rahman ya. 49:23 Pertama kalau saya sih mengajak kita 49:26 semua, mari kita doakan para pimpinan 49:28 pejabat kita yang masih apa itu, yang 49:31 masih lupa 49:33 terhadap kebutuhan masyarakat terutama 49:35 kedelai ya. 49:36 Mari kita doakan agar sadar, agar insaf 49:39 mengutamakan kepentingan bangsa dan eh 49:42 rakyat khususnya di bidang pangan itu 49:44 lebih di atas dari kepentingan 49:45 segala-galanya. 49:47 Nah, kalau mereka sudah sadar, kemudian 49:48 mari kita buat gerakan. 49:51 Paling tidak 49:52 kita akan mendoakan ke depan ada 49:54 pemimpin yang baik yang 49:57 lebih peduli dan 49:59 mensejahterakan atau memuliakan 50:01 para pejuang pangan bangsa ini. Karena 50:04 moto kita apa? 50:06 Saya dari inovasi itu 50:08 misi saya atau moto saya adalah 50:10 untuk menyelesaikan 50:13 agar 50:14 tidak ada kelaparan dan kekurangan 50:16 pangan di dunia. 50:17 He em. 50:18 Dengan penemuan-penemuan inovasi 50:20 teknologi baik varietas maupun pupuk 50:22 yang revolusioner yang memiliki 50:24 produktivitas yang tinggi. 50:26 He em. 50:26 Nah, 50:27 misi ini 50:29 agar 50:30 kenapa? Karena 50:32 dalam hadis Rasulullah pun bahwa 50:35 kemiskinan atau kelaparan itu 50:37 mendekatkan pada kekufuran. 50:38 He em. 50:39 Paling gampang orang kufur adalah 50:41 apabila dia kelaparan itu kan. Betul. 50:44 He em. 50:44 Betul enggak Pak Ustaz? 50:45 Iya. 50:45 Nah, oleh karena itu jawaban nomor satu 50:47 supaya kita harus menjadi orang-orang 50:49 yang beriman menjadi bangsa yang 50:51 yang baldatun thayyibatun wa rabbun 50:53 ghafur itu yang penuhilah 50:56 Perutnya. 50:56 isi perut dari rakyat kita 50:59 agar tenang berpikir, tenang beribadah, 51:02 tenang membangun 51:04 yang lain-lain. 51:05 Pendidikan juga baik. Nah, supaya itu 51:08 baik dari mana? Maka supaya itu baik 51:10 adalah maka kita belilah makanan ya kan, 51:13 makanan rakyat itu dari yang halalan 51:16 thayyibah. Yang bagaimana? Yang 51:17 diproduksi sendiri oleh bangsa sendiri. 51:20 Amin. 51:21 Sehingga kita tahu kejelasan 51:22 asal-usulnya. Tidak ada unsur 51:25 yang me untuk mengacaukan pikiran 51:29 bangsa ini. 51:30 Boleh loh saya membuat apa itu satu 51:33 alibi kecurigaan. 51:34 Silakan. 51:34 Suatu negara yang dikasih makan oleh 51:36 negara lain bisa jadi di dalam 51:38 makanannya itu diinjeksi kan atau 51:40 disisipkan 51:41 apakah itu gen, apakah itu racun supaya 51:45 bangsa yang diberi makan tadi makin lama 51:48 makin lemah kan, terjadi lost generasi 51:49 kan, bisa terjadi kan. 51:50 Iya. 51:51 Genocide. 51:51 Bisa terjadi. 51:52 Tetapi itu kan jangka panjang. 51:53 He eh. 51:53 Kita enggak tahu. Lah apakah kita mau 51:55 tergantung negara lain yang akan 51:57 menjajah secara halus melalui pangan. 52:00 Kan kita enggak mau. Kalau kita enggak 52:01 mau ya mari kita menanam sendiri. 52:03 Membangun pangan itu dari hasil 52:06 karya-karya inovasi yang unggul dari 52:08 bangsa sendiri. 52:09 He eh. 52:09 Dan itu diberikan kepada rakyat kita 52:11 agar rakyat petani dan 52:14 eh masyarakat bisa mengkonsumsi makanan 52:17 yang jelas asal-usulnya dan yang 52:20 baldatun thayyibatun itu yang 52:23 untuk dimulai dari eh makanan yang 52:26 halalan thayyibah kan itu. 52:27 Oke. 52:28 Dari hasil petani kita. 52:30 Assalamualaikum Prof, apakah Prof juga 52:32 punya varietas untuk jagung yang bagus? 52:36 Nah, kalau jagung secara khusus saya 52:38 tidak ada. Tapi banyak teman-teman 52:40 breeder saya 52:42 ada teman breeder saya memiliki banyak 52:44 varietas jagung yang juga belum 52:46 berkembang. 52:47 Saya dulu meneliti jagung memang ya. 52:50 Tahun 2004-2006-an. 52:52 Menghasilkan jagung yang lebih besar 52:54 dari jagung-jagung yang dijual oleh 52:56 multinasional. 52:58 Namun karena 53:00 sulitnya birokrasi untuk mendapatkan 53:02 rilis izin eh keluar varietas ya 53:06 induknya saya musnahkan. 53:08 He eh. 53:08 Karena saya daripada nanti dimanfaatkan 53:10 orang lain. 53:10 He eh. 53:11 Dan itu memang konyol dan merugikan saya 53:13 juga. 53:14 He eh. 53:15 Kalau jadi sekarang saya enggak tak 53:17 musnahkan, saya jual kepada negara yang 53:20 mau mengembangkan kan begitu. 53:21 He eh. 53:22 Supaya riset saya juga terbayarkan kan 53:24 gitu. 53:26 Nah, untuk jagung ada banyak. Enggak 53:28 usah khawatir. Sepanjang kita mau 53:30 memanfaatkan dan mau menggunakan dengan 53:32 sungguh-sungguh kita ada semua. 53:35 He eh. 53:37 Jadi kesimpulannya bertani dengan ilmu 53:40 nih ya. 53:41 Harus Pak. 53:42 Beda, ya. 53:43 Karena man aradadunya fa alaihi bil ilmi 53:45 wa man aradal akhirat fa alaihi bil 53:46 ilmi. Kalau kita mau dunia bagus, punya 53:48 ekonomi bagus, ya pakai ilmu, lah. 53:50 Ehm. 53:50 Masa kita hanya menonton, ikut, mengekor 53:53 saja. 53:54 Supaya dapat ilmu yang bermanfaat apa? 53:57 Banyak-banyak melakukan inovasi, itu 53:58 baru keren, punya ilmu yang bermanfaat. 54:01 Karena tidak ada yang namanya inovasi 54:03 itu 54:04 tidak memberikan ilmu yang bermanfaat 54:06 atau dia memberikan manfaat. Inovasi 54:07 tujuannya adalah menyelesaikan masalah 54:10 manusia supaya jadi lebih baik. 54:13 Dulu kalau saya jalan-jalan ke Karawang 54:15 tuh lewat di galengan sawah, itu sawah 54:17 itu tinggi-tinggi. Jadi, kita ketutupan 54:19 itu. Sekarang sudah enggak ada 54:20 sawah-sawah yang tinggi-tinggi gitu, 54:22 sudah enggak ada lagi, ya? 54:24 Yang tinggi maksudnya yang bagaimana, 54:25 Pak? 54:25 Pohonnya tinggi, Pak, tinggi. 54:27 Oh. Ya, memang kalau dulu, ya, kita itu 54:30 eh tanah kita masih luas, masih subur, 54:33 ya. 54:34 Nah, memang terakhir-terakhir ini kita 54:36 prihatin bahwa 54:38 eh 70% lebih tanah 54:41 produktif pertanian kita itu 54:42 menjadi-menjadi tanah yang sakit. Kalau 54:44 dulu tanamannya bisa tinggi-tinggi, 54:45 tentu sekarang banyak yang kerdil-kerdil 54:47 dan 54:49 apa tergantung pada pupuk kimia serta 54:51 pestisida. 54:52 Itu salah satu juga 54:55 eh perubahan yang terjadi. Yang inilah 54:58 yang harusnya kita pikirkan bagaimana 55:00 mengembalikan tanah yang Bapak lihat di 55:02 Karawang tadi, tadinya bagus-bagus, 55:05 hijau, pupuknya enggak banyak, kemudian 55:07 apa hasilnya melimpah. 55:09 Nah, sekarang 55:11 semakin lama semakin tergantung pupuk, 55:13 itu harus kita kembalikan. Cara 55:14 mengembalikan gimana? Kita kembalikan 55:17 makhluk-makhluk yang Tuhan berikan untuk 55:19 keseimbangan di dalam tanah itu ke 55:21 dalamnya kembali. 55:22 Ehm. 55:23 Ya, kalau kita contohnya kalau manusia 55:24 ditransmigrasikan, ya. 55:26 Nah, kita harus mentransmigrasikan juga 55:29 mikroba Google itu kepada tanah-tanah 55:31 yang rusak, sakit tadi. Supaya subur dan 55:34 tanamannya bagus. 55:35 Dulu kan di sawah tuh banyak belut, 55:36 banyak burung, banyak 55:38 Iya. 55:39 sampai ular juga ya. 55:40 Nah, itulah. 55:42 Sekarang ada 55:42 Karena revolusi hijau yang mengandalkan 55:45 pestisida tadi dan pupuk kimia 55:47 menyebabkan makhluk-makhluk yang hidup 55:50 bersama dalam 55:52 ekosistem tadi banyak yang tergeser, 55:55 hilang. 55:56 Nah, itu yang menyebabkan kita prihatin 55:58 sehingga kita banyak 56:00 eee 56:01 ya bisa jadi ya, 56:03 mohon maaf. 56:05 Banyak mungkin pejabat-pejabat yang 56:07 istrinya, saudaranya kena kanker itu 56:09 karena dari makanannya. 56:11 Eee. 56:12 Ya. 56:13 Kenapa kok dari makanannya? Kalau-kalau 56:14 makanan misalkan 56:16 tadi makan tidak bagus yang tidak 56:17 organik, ada residu pestisida dan 56:21 racun-racun yang ada di tanaman yang 56:23 dimakan terus-menerus secara masif ya 56:25 dari jenis itu. 56:27 Lama-lama kan akan berpindah ke dalam 56:28 tubuh manusia kan. 56:29 Iya. 56:30 Di dalam tubuhnya itu sepanjang melebihi 56:32 dari kekuatan tubuh itu kan malah akan 56:35 mengganggu sel-sel tadi untuk menjadi 56:37 hiperaktif sehingga menjadi kanker atau 56:40 tumor itu. 56:41 Dan itu dari 56:43 ulah, kesalahan kita sendiri. Kenapa 56:45 kita 56:46 mengembangkan teknik kimia dan pestisida 56:48 itu yang menjadi utama itu. Mestinya itu 56:51 adalah sebagai solusi yang 56:53 terakhir ya. 56:54 Oke. Kemudian dari Bapak Heri, 56:56 "Assalamualaikum Prof Ali. Prof Ali, 56:58 berapa harga normalnya, idealnya untuk 57:00 kedelai per kilo? 57:02 Kedelai lokal dan kedelai impor berapa 57:05 harganya?" Demikian. Oh, dari Wahyu. 57:07 Dari Pak Wahyu. 57:09 Itu ya, kalau kedelai lo impor kalau 57:12 enggak disubsidi itu harganya 15.000 per 57:14 kilogram, Pak. 57:16 Karena pemerintah memberikan subsidi 57:17 Eee. 57:18 1.000 perak sehingga bisa turun kan. 57:20 Eee. 57:21 Normalnya kalau kita menanam kedelai 57:24 yang paling tidak kan 12-13.000. 57:26 Itu harga jualnya ya, harga di ini. 57:29 Tidak sampai seperti itu. Tapi kondisi 57:32 perang Rusia-Ukraina ini membuat pasokan 57:36 yang tidak stabil dan di Amerika sendiri 57:39 produksinya kan 57:41 turun besar sekali 1 juta 57:44 hektar itu 57:46 penurunan lahan produksinya. 57:48 Eee 57:49 ya ada 1 juta tonan lebih turun. Eee 57:53 nah yang lagi naik itu 57:56 dari Brazil itu sampai 150-an 58:00 juta ton. Kalau Amerika sekarang turun 58:02 menjadi 100 58:04 ya 117-an, 115 juta ton lah. 58:06 Itu. Yang tadinya dia 120-an. Jadi cukup 58:09 besar penurunan. 58:11 Nah, Indonesia ini tergantung 58:13 hampir 70 58:15 persen 58:17 lebih kedelai yang kita impor dari 58:19 Amerika. 58:20 Mmm. 58:20 Itu. 58:21 Nah, 58:22 kalau kedelai kita 58:25 yang saya produksi 58:27 itu 58:28 cost produksinya paling sekitarannya 58:31 7.000 kan? 58:33 Nah, kalau ini bisa kita jual 12.000 58:36 ada keuntungan yang di situ yang bisa 58:38 dinikmati oleh petani. 58:39 Mmm, oke. 58:40 Nah, 58:41 bisa dijual 58:43 harga 12.000 sampai sekarang saya 58:44 menyerap 58:46 kedelai petani itu antara rata-rata 14, 58:48 minimal 12. 58:49 Mmm. 58:49 Itu. Yang kemudian kita pakai untuk 58:52 kebutuhan kita. Itu. 58:54 Tentu kedelai lokal kita ini. 58:56 Assalamualaikum Prof. Apakah betul 58:57 pertanian di Vietnam lebih maju dari 58:59 Indonesia? 59:01 Ah, sebetulnya pertanian di Indonesia 59:03 ini sudah cukup maju. Cuman tidak 59:05 terorganisir dan tidak dikelola dengan 59:07 baik. 59:08 Tidak Vietnam tidak berarti lebih maju 59:11 dari kita. Kenapa? Saya pernah ke 59:12 Vietnam 59:13 mungkin 8 tahun yang lalu lah 59:16 memberikan advice 59:17 untuk merubah lahan 59:20 eee karet mereka dirubah menjadi lahan 59:22 padi 59:23 Mmm. 59:24 dan jagung. 59:25 Saya datang langsung ke sana. 59:27 Bedanya fasilitas pemerintah terhadap 59:30 petani itu di sana jauh lebih besar 59:33 dibanding di Indonesia. Di Indonesia 59:35 petani support-nya di Indonesia itu 59:37 sangat kecil untuk tanaman pangan, 59:40 paling 1 hektar enggak ada lah 1 juta 59:43 1 juta rupiah. Beda dengan 59:45 Malaysia. Malaysia support-nya 1 hektar 59:48 10 juta lebih. 59:50 Support pemerintah terhadap petani padi 59:51 misalnya ya. 59:52 Itu di atas 10 juta. 59:55 Bahkan ada yang namanya di luar negeri 59:56 itu di contohnya di Malaysia itu subsidi 1:00:00 eh output. Jadi siapa yang bisa menanam 1:00:03 yang menghasilkan produk 1:00:05 eh sekian ton per 1 ton-nya dapat 1:00:08 tambahan lebih dari 1 juta rupiah itu. 1:00:12 Lah kalau dapat 10 ton kan berarti 1:00:14 tambahnya lebih dari 10 juta. 1:00:16 Plus input-nya tadi di subsidi atau di 1:00:20 diberikan oleh pemerintah itu. 1:00:23 Di Amerika, di Vietnam, peralatan 1:00:26 mekanisasi dan tanah disiapkan oleh 1:00:28 negara. Di kita sawah sewa. 1:00:31 Ah. 1:00:32 Dan itu menjadi mahal kan jadinya. 1:00:34 Dan di sana bisa jadi lebih murah. 1:00:36 Intinya apa? 1:00:38 Cost produksi itu di seluruh dunia itu 1:00:41 sama. 1:00:42 Yang beda adalah 1:00:43 eh insentif yang diberikan untuk 1:00:47 memproduksi itu masing-masing negara 1:00:48 berbeda dan itu yang menjadikan 1:00:50 disparitas harga. 1:00:52 Kalau negara yang memberikan fasilitas 1:00:55 input atau fasilitas insentifnya untuk 1:00:57 produksi petani itu besar, tentu dia 1:01:00 bisa berani menurunkan produksi. 1:01:02 Bayangkan enggak ada lagi kan biaya 1:01:04 produksi yang dikeluarkan petani. Contoh 1:01:06 di Malaysia. 1:01:07 Seandainya pemerintah 1:01:09 di sana itu mewajibkan 1:01:11 petani menjualnya harga lebih murah 1:01:15 dari cost produksi 1:01:16 kan enggak ada masalah. 1:01:19 Karena 1:01:20 Dia sudah dapat cover. Dia kan 1:01:22 hanya dapat untungnya saja. 1:01:24 Betul ya, Pak? Tidak mikir mengembalikan 1:01:25 modal gitu. 1:01:27 Nah, di Indonesia beda. 1:01:29 Indonesia itu mulai dari 1:01:31 menyiapkan lahan 1:01:33 Sewa 1:01:35 kan? Satu hektarnya mahal lagi lahan di 1:01:37 Indonesia itu, lahan subur kayak di 1:01:38 Karawang. Pasti 20-an juta per tahun 1:01:42 lebih atau 15 juta ke atas. 1:01:44 Belum bibitnya. 1:01:45 Belum beli bibit, pupuk, tenaga kerja 1:01:48 juga makin mahal kan gitu. 1:01:50 Lah, bagaimana mau disuruh harganya 1:01:51 menjadi lebih murah? 1:01:53 Siapa yang akan tombok? Kecuali sewa 1:01:55 tanah dibayar pemerintah. 1:01:57 Mekanisasi pengolahan tanah dibayar 1:01:59 pemerintah. 1:02:00 Wong mereka pengolahan tanah juga 1:02:01 dibayar oleh negara itu loh, disiapkan 1:02:03 oleh negara. 1:02:04 Termasuk Thailand, Vietnam, 1:02:07 Malaysia, itu saya hanya berkiblat di 1:02:09 negara-negara tetangga saja. 1:02:11 Jadi, jangan kemudian dikatakan bahwa 1:02:13 petani kita itu 1:02:15 apa manja, enggak mampu memproduksi 1:02:17 harga lebih murah. Lihat dulu dong, apa 1:02:19 yang diberikan kepada petani dulu baru 1:02:22 petani bisa memberikan harga yang murah. 1:02:24 Oke. 1:02:24 Kalau pemerintah, contoh Malaysia, kalau 1:02:27 dia 1:02:27 subsidi output-nya pun ada, subsidi 1:02:29 input-nya ada, insentifnya. 1:02:31 Ya, kalau dia mau disuruh menurunkan 1:02:33 harga 1:02:34 pasaran untuk konsumen, untuk rakyat 1:02:36 seluruh Malaysia itu harganya lebih 1:02:38 murah dari Indonesia ya bisa saja. 1:02:41 Dan tetap untung. Lah, petani disuruh 1:02:43 menurunkan di Indonesia itu 1:02:45 di di 1:02:46 apa lebih dari cost produksinya. Masa 1:02:49 petani harus makin kere gitu. 1:02:51 Itu peran pemerintahnya itu. 1:02:55 Eee 1:02:57 Eee asalamualaikum, eee Prof, eee 1:03:01 di Indonesia di kota mana saja yang 1:03:03 penghasil kedelai? 1:03:06 Kedelai ini hampir di seluruh Indonesia 1:03:08 itu eee bisa tumbuh ya. Dulu banyak 1:03:12 sekali juga berkembang di Aceh. Wilayah 1:03:14 Aceh, wong saya tanam di Tulang Bawang, 1:03:17 eee apa itu di 1:03:19 Lampung juga ada banyak, Medan di daerah 1:03:23 eee 1:03:24 Palukuro, kemudian di eee 1:03:27 apa itu 1:03:28 yang daerah kebun sawit yang dulu itu 1:03:31 eee 1:03:32 sekarang ini jadi kebun sawit itu dulu 1:03:33 daerah kedelai. Kemudian di daerah Jawa 1:03:36 Tengah mau di Grobogan, mau di daerah 1:03:38 Wonogiri, daerah Bantul 1:03:41 itu juga daerah kedelai daerah timur. 1:03:43 Ya? 1:03:43 Kualitasnya beda-beda antar antar daerah 1:03:45 itu? 1:03:45 Masalah kualitas itu tergantung dari 1:03:48 satu 1:03:50 eee varietas ya. Yang kedua adalah 1:03:53 perlakuan di pasca panen. 1:03:56 Jadi kalau genetiknya sama ya 1:03:57 kualitasnya sama, varietas sama pasti 1:03:59 kualitasnya sama. 1:04:01 Karena memang itu kandungan protein, 1:04:04 lemak dan 1:04:04 Ehm. 1:04:05 nutrisinya itu pasti stabil. 1:04:07 Yang beda itu juga akan ya 1:04:10 cara perlakuan teknologinya. 1:04:12 Kalau teknologinya dibuat bagus 1:04:14 kualitasnya lebih baik. Kalau 1:04:15 teknologinya itu setengah-setengah ya 1:04:17 hasilnya setengah-setengah. 1:04:18 Dia doyan air enggak sih ini kedelai? 1:04:20 Enggak. 1:04:21 Makanya di daerah NTB itu daerah 1:04:23 kedelai, daerah Lombok, daerah itu 1:04:25 daerah kedelai. NTT pun bisa ditanami 1:04:27 kedelai. 1:04:28 Ehm. 1:04:28 Itu kemudian di daerah Jawa Timuran juga 1:04:30 banyak kedelai di daerah 1:04:32 kebun daerah-daerah yang kering itu. 1:04:35 Justru ini kedelai itu 1:04:37 bagus untuk eee rotasi tanaman ya. 1:04:40 Setelah padi musim keringnya kedelai. 1:04:43 Atau daerah-daerah yang 1:04:45 kering itu ditanami kedelai karena di 1:04:47 samping dia itu menghasilkan 1:04:49 eee protein 1:04:51 dia juga menyuburkan tanah. 1:04:53 Jadi setelah kedelai untuk ditanami apa 1:04:54 saja tanahnya lebih subur itu. 1:04:58 Oke, baik minta nomor teleponnya Prof 1:05:01 dong. Oke ini 1:05:03 silakan dicatat ya. Profesor Ali Zum 1:05:07 Mashar nomor teleponnya. Beliau 1:05:09 beralamat di Serang. 1:05:12 Nomornya 08. 1:05:15 Kemudian 111, 1:05:17 satunya tiga kali. 1:05:19 Kemudian tiga. 1:05:21 Kemudian 44. 1:05:23 Kemudian 62. 08111, 1:05:27 satunya tiga kali. 1:05:29 Tiga. 1:05:30 44. 1:05:33 62. 08111, 1:05:37 tiga, 44. 1:05:39 62. 1:05:41 Ini ada yang tanya lagi. Jadi, 1:05:43 kesimpulannya 1:05:45 kedelai itu umurnya berapa yang 1:05:47 menggunakan teknologi Amigo? 1:05:50 Eh, kedelai di Indonesia ini ada yang 1:05:53 umurnya 72, ada yang 90, ada yang 90 1:05:59 eh, lima ya. 1:06:01 Yang kedua, jadi banyak pilihan, Pak. 1:06:04 Kalau kedelai Amigo ini yang saya buat 1:06:07 umur 87-90. 1:06:09 Ada juga kedelai yang umurnya kurang 1:06:11 dari itu. Itu 1:06:13 sudah ada di beberapa varietas eh, galur 1:06:15 yang kita punya. 1:06:17 Jadi, 1:06:19 maksimal di Indonesia itu yang paling 1:06:21 100 hari kedelai. 1:06:23 Se-se-setahu saya ya. 1:06:26 Beda dengan yang di eh, daerah subtropis 1:06:29 di Jepang, itu kedelainya 4 bulan, Pak. 1:06:32 Lama ya? 1:06:33 Iya. 1:06:34 Eh, 150-an, 160 hari. 1:06:37 Di situ. 1:06:39 Eh, Prof, apa kelebihan dari susu 1:06:41 kedelai? 1:06:42 Dibanding dengan susu kedelai. 1:06:45 Nah, 1:06:46 susu kedelai ini itu ada kandungan 1:06:49 lisinnya. 1:06:51 Jadi, itu tidak dimiliki di susu-susu 1:06:55 eh, dari hewani ya. 1:06:57 Yang kedua, untuk 1:06:59 eh, 1:07:02 ibu-ibu yang katakanlah 1:07:04 menyusui yang anaknya itu ada alergi 1:07:07 terhadap susu sapi maka susu kedelai 1:07:10 tidak itu 1:07:12 dan yang lebih bagus lagi 1:07:15 ini adalah kedelai ini bukan untuk susu 1:07:18 kedelai bukan hanya sekedar untuk 1:07:20 anak-anak ya tapi ibu-ibu itu sebetulnya 1:07:23 harusnya wajib itu kalau mau 1:07:25 supaya 1:07:25 supaya kulitnya halus karena vitamin E 1:07:28 nya kan tinggi dan dia punya genistein 1:07:30 dan progesteronnya itu ada tinggi ya itu 1:07:33 semacam hormon 1:07:35 untuk reproduksi atau 1:07:38 ee regenerasi sel 1:07:40 sehingga akan kelihatan 1:07:42 lebih 1:07:43 muda kemudian juga reproduktifnya repro 1:07:47 ee organ reproduksinya itu juga menjadi 1:07:50 lebih sehat untuk lebih subur ya 1:07:54 lah kalau 1:07:55 yang seperti itu kan banyak disukai sama 1:07:58 wanita ibu-ibu kan 1:08:01 Prof saya punya tanah bagaimana saya 1:08:03 enggak ngerti soal pertanian saya bisa 1:08:05 tertarik dengan kedelai apakah saya bisa 1:08:07 menanam kedelai 1:08:09 dan mohon sarannya 1:08:11 gampang Bu Ibu bisa menanam kedelai di 1:08:13 mana saja kalau kalau Ibu mau 1:08:16 menseriuskan ini 1:08:18 kita ada tempatnya untuk vokasi dan 1:08:20 untuk pelatihannya 1:08:22 biasanya magang pun kita terima di 1:08:24 tempat pusat pelatihan tempat B ya pusat 1:08:27 penelitian pengembangan dan penerapan 1:08:29 bioteknologi 1:08:30 kita yang ada di Serang 1:08:32 itu lahannya 60 hektar jadi bisa untuk 1:08:34 pelatihan untuk magang nah kalau sudah 1:08:37 paham di situ 3 bulan minimal 1 bulan 1:08:41 ditempatkan di mana saja insya Allah 1:08:43 enggak dia mintanya nanti make money 1:08:45 enggak 1:08:46 ya pastilah 1:08:47 kalau kita nanam kalau tidak 1:08:49 menghasilkan duit untuk apa gitu 1:08:51 oh gitu pasarnya sudah ada ya 1:08:53 pasar enggak usah khawatir 1:08:55 karena dari impor saja kita 2,7 ya kan 1:08:58 kalau kita mau kerjakan sendiri juga 1:09:00 lebih banyak lagi 1:09:01 kita 1:09:01 bisa membangun juga nanti dengan 1:09:03 teman-teman di 1:09:05 Parade Nusantara, kemudian di Desa Emas, 1:09:08 kemudian di Amigo, di Maporina itu 1:09:11 dengan pesantren-pesantren kita bikin 1:09:13 sendiri yang namanya apa itu eh 1:09:16 pengrajin tahu tempe yang berasal dari 1:09:17 kedelai lokal. 1:09:18 Ehm. 1:09:19 Nah, ini 1:09:20 setidaknya bisa ngukur kebutuhan lokal 1:09:23 kecilnya berapa sehingga pasokannya 1:09:24 berapa. Nah, itulah yang harus kita 1:09:25 hitung. 1:09:27 Nah, sehingga 1:09:28 misalkan kalau saya kiai di satu pondok 1:09:30 pesantren 1:09:32 punya apa itu santri saya kan 3.000 atau 1:09:35 4.000 1:09:36 pasti kan tiap hari ada menu tahu tempe 1:09:39 toh. 1:09:39 Iya. 1:09:40 Lah, itu daripada 1:09:41 lagi 1:09:41 enggak perlu lah beli lagi. Suruh nanti 1:09:43 unit usahanya dari pesantren itu membuat 1:09:46 produksi tahu tempe, tapi kedelainya 1:09:48 suruh tanam dari petani sekitar kan ini 1:09:50 selesai urusan. 1:09:51 Waduh, mantap. 1:09:52 Dan kedelai Amigo kita ini. 1:09:54 Ini ada yang mau tanya, ada yang tanya 1:09:55 kalau mencari pekerja tani susah enggak 1:09:58 sih katanya agak susah sekarang. 1:10:00 Iya, kalau sekarang ini memang terjadi 1:10:03 pergeseran ya shifting dari 1:10:04 Mereka sudah kenal HP 1:10:06 Iya. 1:10:06 Sudah kenal HP soalnya. 1:10:07 Iya. 1:10:08 Tani-tani 1:10:08 Oleh karena itu kita juga sudah 1:10:10 mengajarkan sekarang aplikasi teknologi 1:10:12 untuk eh kedelai ini sudah menggunakan 1:10:15 digital juga. 1:10:16 Oh. 1:10:17 Jadi 1:10:19 eh ada aplikasi untuk kontrol tanaman, 1:10:21 untuk mengingatkan 1:10:23 kapan harus dilakukan 1:10:25 tindakan-tindakan itu. 1:10:26 Penyiraman enggak perlu ya penyiraman 1:10:27 tiap berapa lama sekali enggak perlu. 1:10:30 Sepanjang ada musim hujan itu enggak 1:10:31 perlu. 1:10:32 Katanya enggak ada yang nanam kedelai 1:10:33 tanpa air. 1:10:34 Memang. 1:10:34 Ehm. 1:10:36 Kedelai tidak memerlukan penyiraman yang 1:10:37 khusus, tetapi kalau kita nanam musim 1:10:39 kemarau paling tidak di setiap 1:10:41 katakanlah seminggu sekali bolehlah itu 1:10:43 di intermiten dikasih air masuk itu ya. 1:10:45 Ehm. 1:10:45 Supaya enggak terlalu kering, kalau 1:10:46 terlalu kering juga 1:10:47 Ehm. 1:10:48 enggak produksinya kurang bagus. 1:10:49 Ehm. 1:10:50 Itu. 1:10:51 Ini ada yang tanya 1:10:51 Kalau yang modern kita bisa menggunakan 1:10:53 ini ya sprayer pakai 1:10:55 Dok, bagaimana eh Prof bagaimana kalau 1:10:57 daerah eh pada larang karena di sana ada 1:10:59 tanah kapur, apakah bisa tumbuh? 1:11:02 Nah, kedelai ini bisa tumbuh mulai dari 1:11:04 pH 4 1/2 1:11:07 atau 4 ya. 1:11:09 Pada kedelai tertentu sampai pH 8. Jadi, 1:11:13 bisa sepanjang di situ jangan kapur 1:11:15 murni. Harus ditambahkan komposlah. 1:11:17 Oh, gitu. 1:11:18 Ya. Atau tambahkan bahan organik. Kalau 1:11:20 kapur murni kan ya panas ya ada. 1:11:23 He em, he em. 1:11:24 Itu. Kalau tanahnya mengandung kapur, 1:11:26 misalkan pH-nya ada sekitar di atas 7, 1:11:28 tidak ada masalah malah bagus kedelai 1:11:30 itu. Nanti bijinya itu 1:11:32 apa? Padat. 1:11:35 Dan berisi. 1:11:36 Oke, aduh kalau 1:11:38 cerita sama Prof Ali enggak habis-habis 1:11:40 ini. Kita sudah dibatasi oleh waktu. Ini 1:11:43 terakhir sekarang saya akan bacakan lagi 1:11:44 nomor HP dari Profesor Ali Zum Mashar. 1:11:49 Beliau adalah ahli eh tanaman kedelai. 1:11:53 Silakan dicatat nomornya. 08 111, 1:11:58 satunya tiga kali. 1:12:00 Kemudian tiga. Kemudian 44. 1:12:04 62. 08111, 1:12:07 satunya tiga kali. Tiga. 44. 1:12:11 62. Profesor Ali Zum Mashar. Silakan 1:12:16 lihat di Google juga ada. Terima kasih, 1:12:18 Prof, sudah memberi pengetahuan kepada 1:12:20 kita semua ini. 1:12:21 Oke, kawan-kawan mau diundang lagi ya? 1:12:23 Eh, monggo. 1:12:25 Saya Muhammad Krisna, juga Reza, juga 1:12:29 Anis. Dan kami terima kasih kepada Aang 1:12:31 Kecil yang sudah menghadirkan Prof ini 1:12:34 ya. 1:12:35 Oke, kita jumpa lagi di lain waktu. Saya 1:12:37 Muhammad Krisna. Assalamualaikum 1:12:38 warahmatullahi wabarakatuh. 1:12:39 Waalaikumsalam.