Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil alamin. Allahumma
- sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali
- sayyidina Muhammad. Ikhwan dan akhwat
- yang dirahmati Allah subhanahu wa taala
- yang dapat mereka mi lewat radio maupun
- lewat channel Rasya di YouTube.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Mudah-mudahan dalam dalam
- keadaan sehat dan bahagia dan
- alhamdulillah pada siang hari ini kita
- live bersama guru kita Ustadzah Herlini
- Amran dengan Fiqih Wanita. Kami sapa
- terlebih dahulu. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh Ustadzah.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah senang sekali ketemu lagi.
- Bini'matihi tatimusholihat.
- Masyaallah alhamdulillah. Dan Ustadzah
- insyaallah selama kurang lebih 90 menit
- ke depan tema yang akan dibahas adalah
- delapan cara menghadapi ujian kehidupan.
- Mengenai ujian pasti kita mau contekan
- ya Ustadzah ya.
- Sekarang dikasih contekan dulu ya.
- Dikasih contekan ya supaya kita bisa
- melalui ujian dengan mudah insyaallah.
- Tafadhol Ustadzah.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirobbilalamin,
- hamdan naimin, hamdan katsirin, hamdan
- yuwafini ama Allah wa yukafi mazidah.
- Allahumma sholli wasallim wabarik ala
- sayyidina Muhammadin wa ala alihi
- wasohbihi ajmain wa ba'd. Allahumma inna
- nas aluka ridhoka wal jannah wa
- na'udzubika min sakhotika wan nar.
- Alhamdulillah, pada Jumat yang dirahmati
- Allah ini, di hari yang terbaik, di
- bulan yang terbaik, mudah-mudahan kita
- menjadi hamba Allah yang terbaik dan
- kita menjadi umat Muhammad Shallallahu
- alaihi wasallam yang terbaik, menjadi
- ibu yang terbaik bagi putra-putri kita,
- istri yang terbaik bagi suami kita,
- insyaallah.
- Eee, tema kita pada pagi hari ini adalah
- rambu-rambu, ya, untuk kita semua, saya
- dan kita semua. Saya sampaikan ini juga
- untuk saya dan kita semua saling
- mengingatkan. Wa innadzikro tanfaul
- mukminin.
- Karena mengingat itu sangat baik bagi
- orang yang beriman.
- Delapan cara menghadapi ujian kehidupan.
- Ini luar biasa ujian kehidupan, ya.
- Kalau kita ujian sekolah saja, itu
- persiapannya jauh-jauh hari. Apalagi
- yang kuliah di kampus, ujian terakhir,
- waduh, itu siang malam barangkali eee
- begadang, ya, kita mempersiapkan diri.
- Nah, dalam ujian kehidupan ini, dalam
- surat Al-Mulk, itu firman Allah,
- audzubillahiminasyaithonirojim.
- Tabarokalladzi biyadihil mulku wahuwa
- ala kulli syaiin qodir. Alladzi kholaqol
- mauta wal hayata liyabluwakum
- ayyukum ahsanu amala. Wahuwal azizul
- ghofur.
- Maha suci Allah yang menguasai segala
- kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala
- sesuatu, yang menciptakan
- mati dan hidup untuk menguji kamu. Siapa
- di antara kamu yang lebih baik amalnya
- dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.
- Jadi Allah telah menciptakan kita, telah
- menciptakan hidup dan mati ini adalah
- liyabluwakum ayyukum ahsanu amala, untuk
- melihat, menguji, ya, siapa yang terbaik
- amalan kita. Maka pada prinsipnya hidup
- di dunia ini penuh dengan ujian dan
- cobaan. Tidak ada satupun makhluk,
- terutama manusia yang diberikan akal
- yang tidak diuji, yang tidak dicoba.
- Bahkan
- Itu sudah dapat dipastikan ya, semua
- makhluk hidup ini, manusia, yang Allah
- ciptakan untuk beribadah kepada-Nya,
- pasti akan diberikan ujian. Ujian itu
- bermacam-macam, tidak sama setiap orang,
- eh, tergantung dari eh, kehendak Allah.
- Artinya ujian ini pasti ada. Setiap
- kegem, kegembiraan pasti ada duka,
- setiap perjumpaan ada, pasti ada
- perpisahan. Setiap yang sulit pasti ada
- yang mudah, itu selalu ada, ya. Bahkan
- tidak ada satu rumah pun yang penuh
- dengan kebahagiaan, kecuali akan
- dipenuhi pula oleh kesedihan. Artinya
- itu adalah sunatullah. Nah,
- permasalahannya adalah sejauh mana kita
- mampu menghadapi ujian kehidupan
- tersebut. Dan
- eh, kita tahu ujian yang paling berat
- itu adalah ujian yang dialami oleh eh,
- para anbiya. Jadi ada eh, pertanyaan
- dari Mus'ab bin Sa'id,
- eh, seorang tabi'in, dia bertanya kepada
- ayahnya, tentu saja ayahnya adalah
- seorang sahabat. Eh, ayahnya ini
- bertanya kepada Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam, "Ya Rasulullah,
- ayyu an nas asyaddul bala'an?"
- Wahai Rasulullah, manakah
- eh, yang, manusia manakah yang paling
- berat ujiannya dalam kehidupan ini, mana
- yang paling berat? Kemudian Rasulullah
- menjawab, "Al anbiya, tsummal amtsalu
- fal amtsalu."
- Yaitu nabi kemudian yang semisalnya dan
- semisalnya ini maksudnya
- yang seperti nabi kemudian ulama yang
- tingkat keimanannya itu tinggi sekali
- fayubtala
- arrojulu ala hasabi dinihi
- jadi seseorang itu akan diuji sesuai
- dengan kondisi agamanya
- fain kana dinuhu sulban isytadda balaahu
- apabila agamanya kuat kuat ya agamanya
- tuh kuat itu semakin berat pula ujiannya
- ya wa in kana fi dinihi
- riqqoh ibtala ala hasbi dinih tapi kalau
- agamanya cetek gitu ya agamanya lemah
- agamanya itu ya tidak kuat maka ia akan
- diuji sesuai dengan kualitas agamanya
- ya
- kemudian famayabrohul bala bil abdi
- hatta yatrukuhu yamsyi alal ardhi ma
- alaihi khotiinah ini luar biasa di sini
- seorang hamba
- senantiasa akan mendapatkan cobaan
- hingga dia berjalan di muka bumi dalam
- keadaan bersih dari dosa
- jadi ujian yang Allah berikan kepada
- hamba-hambanya itu adalah tujuannya
- untuk membersihkan hamba tersebut itu
- yang memiliki agama yang kuat itu akan
- paham dan dia tidak ingin sia-sia bala
- itu ujian itu nah kita lihat orang yang
- tidak tahan dengan ujian atau orang yang
- tidak memahami bahwa ujiannya adalah
- bentuk penghapusan dosa tentu
- persikapannya lain coba kita lihat
- sekarang yang Mbak ya banyak sekali
- ujian yang diberikan kepada siapapun ya
- baik itu besar atau kecil tergantung
- kadar keimanan dan tergantung kadar
- agama itu persikapannya beda
- na'udzubillah min dzalik nih anak-anak
- kita nih yang kemarin anak SD ya Mbak
- patah hati gantung diri ya na'udzubillah
- min dzalik artinya ketika cintanya
- tertolak
- akhirnya mereka patah semangat hidupnya
- na'udzubillah min dzalik SD ya ini
- sekarang luar biasa tingkat eee apa
- namanya perilaku anak-anak kita ini
- perlu evaluasi ini apanya yang salah di
- sini ya. Atau mungkin ee, suami yang
- membunuh istri, anak yang membunuh orang
- tua karena ada satu yang tidak dia sukai
- atau apapun itu kan naudzubillah min
- dzalik ya. Ya ini ujian yang dia tidak
- sanggup menghadapinya akhirnya bunuh
- diri juga ada yang seperti itu. Nah ini
- kita akan bahas ini bahwa setiap manusia
- itu pasti punya, pasti diuji oleh Allah.
- Permasalahannya adalah sanggupkah dia
- menghadapinya atau bagaimana dia
- menyikapi ujian tersebut ya.
- Kita lihat misalnya ya memang-memang ada
- juga pertanyaan gini Mbak ya, mungkin
- ee, saudara-saudara kita yang baru
- hijrah ya. Ee, mulai mentaati Allah
- dengan ibadah-ibadahnya
- kemudian ujian itu bertubi-tubi datang.
- Sehingga timbul pertanyaan, kenapa ya
- semakin kita dekat dengan Allah kok
- semakin banyak ya ujiannya? Bukankah
- ketika kita dekat dengan Allah, Allah
- akan berikan jalan keluar? Ternyata kok
- ujian bertubi-tubi. Begitu barangkali
- ya. Nah kita pahami bahwa sebenarnya
- memang setiap manusia itu punya ujian,
- semakin berat
- agamanya semakin kuat ujiannya juga
- semakin berat ya. Makanya dalam sebuah
- riwayat dalam hadis Nabi yang
- diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi
- Inna idzamal jaza,
- ma'a idzamil bala. Bahwa balasan
- terbesar dari ujian, bahwa sesungguhnya
- balasan yang terbesar itu dari ujian
- yang berat. Jadi semakin berat ujian
- yang dia dapat kan pahalanya juga
- semakin besar. Jadi ketika seorang hamba
- itu hendak mendekat kepada Allah, taat
- kepada Allah itu ujiannya berat
- pahalanya juga besar.
- Ya contoh misalnya gini ya. Ada seorang
- ee, wanita di masa Nabi sakit ayan.
- Kita pernah bahas waktu itu ya ee, bah
- topiknya itu waktu itu sakit dan
- penyakit ya.
- Dia datang kepada Rasulullah itu sakit
- itu adalah ujian ya. Kita sih penginnya
- sehat-sehat saja tidak sakit, Tapi ini
- Allah berikan ujian sakit. Dia minta
- disembuhkan. Datang kepada Rasulullah
- minta doa, "Ya Rasulullah, sembuhkanlah
- aku. Doakan aku agar Allah
- menyembuhkanku." Rasul kasih pilihan,
- "Engkau aku doakan agar sembuh atau
- engkau bersabar, bagimu surga."
- Nah, tentu saja wanita shahabiyat ini
- memilih
- surga.
- Artinya, kita bisa bayangkan surga itu
- adalah janji yang diberikan tapi dia
- mengalami dulu bagaimana rasa ayan,
- penyakit yang tiba-tiba kambuh dan tidak
- tahu sampai kapan
- Allah ambil ajalnya itu kan cukup butuh
- luar biasa, Mbak, ya. Nah, itu artinya
- semakin bisa menghadapi ujian ini dengan
- baik, maka semakin besar pula pahala
- yang didapatkan.
- Eh, jadi ini memang eh permasalahan kita
- bersama, pasti dapat ujian. Tinggal
- bagaimana cara menyikapi ujian tersebut.
- Nah, kita mulai ada delapan, ya.
- Ada delapan eh bagaimana kita menghadapi
- eh ujian, ya, kehidupan ini. Pertama,
- ya, kita menghadapinya adalah kita
- yakinkan, kita yakini pada diri kita
- bahwa ujian ini adalah ekspresi cinta
- Allah kepada hamba-Nya.
- Jadi, ketika kita mendapatkan ujian,
- kita langsung, "Ya Allah, ini karena
- Engkau cinta padaku." Karena ada hadis,
- ya, dari Rasulullah dari riwayat
- Tirmidzi, hasan shahih.
- Iza aradallahu bi abdihil khair, ajala
- lahu al uqubah. Ya, itu, ya. Itu satu
- sisi itu hadis hadisnya, ya. Eh, jika
- Allah menginginkan kebaikan pada seorang
- hamba, itu disegerakan eh uqubahnya,
- hukumannya. Atau hadis lain, ya,
- innallaha iza ahaba qauman ibtalahum.
- Eh, Allah kalau ingin eh
- barang barangsiapa yang dikehendaki
- Allah menjadi orang yang baik. Jadi,
- innallaha iza ahaba
- qauman, kalau Allah cinta dengan suatu
- dengan suatu kaum, ibtalahum, Allah akan
- uji dia.
- Jadi, kalau Allah cinta kepada suatu
- kaum, kepada orang, kepada siapapun,
- Allah itu cinta tuh dengan orang itu,
- maka apa yang dilakukan Allah?
- Ibtalahum. Allah itu berikan dia ujian.
- Faman radhiya falahur ridha. Kalau orang
- itu, kaum itu eee menerima ujian itu
- dengan ridha, dengan sabar, maka eee
- falahur ridha, maka dia akan mendapatkan
- ridha Allah. Waman sakhita falahu as
- sikhthu. Kalau dia tidak ridha, dia
- berkeluh kesah, dia eee tidak menerima
- ujian dari Allah itu, maka dia pun
- mendapatkan murka Allah. Jadi, salah
- satu bentuk ujian, apa namanya, cinta
- Allah kepada hambanya itu dengan diuji.
- Jadi, ketika Allah Allah memberikan kita
- ujian, kita langsung punya keyakinan,
- ini Allah cinta denganku nih, Allah
- ingin melihat bukti cintaku. Karena
- cinta itu butuh eee pembuktian. Tidak
- hanya sekedar omongan atau mungkin kita
- merasa ini sudah merasa taat, merasa
- dekat gitu ya. Mana bisa kita merasa
- dekat kalau tidak dibuktikan dengan
- ujian. Ya, bahkan dalam surat Al Ankabut
- itu ya, eee apakah seseorang itu
- dikatakan dibiarkan mengatakan amanah
- wahum la yuftanun, dia kami beriman tapi
- tidak diuji. Jadi, itu yang pertama ya.
- Jadi, insyaallah mudah-mudahan
- kita ketika mendapatkan bentuk ujian
- apapun, ini adalah bagian dari ekspresi
- cinta Allah kepada kita. Sehingga tentu
- kita akan ridha dengan ujian tersebut
- dan kita yakin badai pasti berlalu,
- begitu ya. Itu yang pertama.
- Kemudian yang kedua,
- eee bahwa dengan ujian ini, makin besar
- pula dan sayang Allah kepada kita. Jadi,
- semakin kita diberikan ujian dan kita
- semakin ridha dan ikhlas, insyaallah
- pahala pun kita dapatkan. Ya, dengan
- catatan tentu saja kita eee menghadapi
- ujian ini dengan baik ya, tidak berkeluh
- kesah. Karena yang namanya sabar itu ada
- di tiga di tiga hal, lisannya, hatinya
- dan eee anggota tubuhnya. Itu itu yang
- namakan sabar. Orang sabar itu tidak
- hanya ngomong doang. Orang yang sabar
- itu hatinya juga bisa sabar dan
- dibuktikan oleh anggota tubuh. Misalnya
- gini, kita ditinggal wafat dengan oleh
- orang yang kita cintai.
- Sebenarnya
- kita ridho ya, tapi kadang-kadang
- lisannya enggak ridho.
- Kenapa sih cepat sekali diambil apa
- pokoknya gitu ya. Jadi lisannya tidak
- menunjukkan bahwa dia itu sabar. Atau
- mungkin lisannya tidak ngomong nangis,
- hatinya juga sedih, tapi perbuatannya
- dia menampar-nampar apalah pokoknya
- kalap gitu ya. Itu juga tidak
- menunjukkan sabar.
- Jadi
- yang namanya
- sabar dalam menghadapi ujian itu adalah
- dengan ee tiga hal tadi, lisan, hati dan
- perbuatan. Nah, kita yakini bahwa pahala
- kita pasti akan
- besar diberikan oleh Allah ya. Jadi
- ujian itu
- ya besarnya pahala tergantung dari
- besarnya ujian.
- Semakin
- besar ujian itu, maka semakin besar pula
- pahala yang didapat. Jadi kita yakin itu
- yang pertama tadi ini ekspresi cinta.
- Yang kedua kita yakin pahalanya besar
- ketika mendapatkan ujian. Karena ujian
- kita kan banyak ya macamnya jenisnya
- juga beda-beda. Tiap orang tuh enggak
- sama ya karena Allah ciptakan manusia
- itu kan berbeda-beda. Tentu setiap orang
- pasti berbeda ujiannya. Satu keluarga
- dengan keluarga lain tuh pasti diberikan
- ujian bentuknya beda. Mungkin diuji
- dengan suaminya yang suami diuji oleh
- istrinya atau anaknya atau orang tua,
- mertua atau mungkin ekonomi, tetangga.
- Banyaklah semuanya pasti ada. Nah,
- ketika kita mendapatkan ujian itu
- ya mau enggak mau ya sabar ya Mbak ya.
- Dengan harapan kita dan sudah ada di
- benak kita ini Allah cinta dengan kita
- nih. Insya Allah kalau saya sabar
- pahalanya besar.
- Saya katakan memang mudah ya meng
- mengatakannya. Tapi dengan konsep
- seperti ini kita berusaha untuk bisa Ya
- Allah ini mudah-mudahan ujian diberikan
- kesabaran ya Allah begitu ya. Sambil eh
- tiga hal tadi, hati, lisan, dan eh
- anggota tubuh tuh menunjukkan bahwa kita
- sabar. Sabar sih sabar, tapi lisannya
- tidak sabar, gitu ya. Eh
- ada batasnya.
- Padahal sabar enggak ada batasnya, ya.
- Kadang-kadang eh ketika mm melihat apa
- kita diuji oleh anak yang mungkin anak
- ini tidak bisa diatur, ya, Mbak, ya. Itu
- mungkin menyakitkan bagi orang tua, ya.
- Eh
- mungkin lisannya itu enggak tahan, gitu
- ya. Sambil teriak mengucapkan istigfar
- melengking.
- Bisa enggak, Mbak? Gimana, Mbak?
- Istigfar melengking.
- Ya, begitu, ya. Itu juga bukan
- menunjukkan dia itu berzikir kepada
- Allah.
- Astagfirullahalazim,
- anak ini. Nah, itu tidak ya sa Ya Allah,
- saya sabarkan saya dengan anak Ya,
- sabarkan saya dengan anak kita, tapi
- lisannya melengking, gitu. Jadi, ini
- juga menunjukkan eh belum, ya, optimal
- sabarnya. Nah, jadi itu yang kedua.
- Insya Allah pahala akan kita dapatkan
- apabila kita yakin bahwa ujian ini
- mudah-mudahan eh bagian dari eh pahala
- yang Allah berikan kepada kita, ya.
- Jadi, gini.
- Eh mungkin bisa jadi Allah melihat kita
- itu
- enggak cukup amal ibadah kita.
- Ini kalau untuk ke surga, ini belum
- belum cukup. Jadi, bagaimana Allah tuh
- sayang dengan kita, cinta dengan kita,
- tapi dengan ibadah yang kita lakukan
- sehari-hari itu belum bisa untuk
- memenuhi kriteria masuk surga. Maka
- untuk bisa langsung ke surga atau masuk
- surga, itu dengan diberikan ujian.
- Nah, dengan ujian ini adalah Allah itu
- sayang dengan kita itu supaya kita
- bersabar, supaya kita bisa masuk ke
- surganya, begitu. Itu adalah ujian dari
- Allah. Jadi, enggak semata-mata kita
- bersandar dengan ibadah kita. Siapa yang
- bisa jamin, Mbak? Kita beribadah
- sekarang ini sudah menjamin kita ke
- surga
- dengan salat kita, baca Quran kita,
- enggak bisa, belum tentu, gitu ya. Nah,
- karena cintanya Allah kepada kita,
- sayangnya kepada kita, Allah ingin kita
- masuk ke surga-Nya, diberikanlah
- ibtalahum, diberikan ujian.
- Nah, dengan ujian itulah kemudian ee
- berharap kepada Allah, dibuktikan
- sabarnya, mudah-mudahan itulah yang
- memberat timbangan amal kita. Karena
- dengan ujian yang Allah berikan, itu
- hapus, itu kafarat dari dzunub, itu
- penghapus semua dosa.
- Ya, syaratnya tadi sabar ya, begitu. Itu
- yang kedua.
- Kemudian yang ketiga.
- Ujian ini akan menghapus dosa-dosa yang
- pernah kita kerjakan, ya.
- Dalam hadis Bukhari Muslim itu
- Rasulullah mengatakan, seorang muslim
- yang tertimpa penderitaan, kegundahan,
- penderitaan, kegundahan, kesedihan,
- kesakitan, gangguan, risau, ee galau
- begitu ya, ee bahkan hanya terkena duri
- sekalipun, duri yang kecil halus itu,
- itu semuanya merupakan kafarah dari
- dosa-dosanya.
- Jadi, semua yang menimpa kita, baik yang
- gede, yang besar, sampai yang
- kecil-kecil, sampai tersandung, itu
- tujuannya adalah untuk penghapus dosa
- kita. Dosa kita banyak, Mbak. Enggak
- kehitung, Mbak. Kemarin kita bahas
- tentang dusta, kadang-kadang enggak
- sengaja kita lakukan, tetap tercatat loh
- itu. Itu mulai dari kita baligh sampai
- saat ini banyak banget dosa kita, ya
- Allah. Dosa mata karena melihat, dosa
- lisan mengghibah orang, barangkali kita
- pernah menyakiti hati orang tua,
- tergores, sudah
- banyak sekali. Nah, bisa jadi ketika
- Allah berikan kita ujian, walaupun
- kecil, walaupun tersandung, terantuk
- kepala atau mungkin terjatuh, apapun ya,
- itu sebenarnya Allah ingin dosa kita
- terhapus.
- Ya, jadi ada ee apa namanya gambaran ya,
- bagaimana dosa yang dianggap kecil
- misalnya. Ada seorang sahabat,
- itu ee dalam sababun nuzulnya surat An
- Nur ayat 30 ya, Mbak ya. Wa qulil
- mukminin ya ghuddu min absharihim. Jadi,
- ada seorang ee pemuda, seorang sahabat
- lagi jalan di jalan.
- Kemudian berpapasan dengan mantannya,
- ee yang dulu dekat sama dia ya, kan
- sekarang sudah sudah hijrah, sudah Islam
- itu enggak boleh lagi ya dekat-dekat
- dengan lawan jenis ya, itu enggak
- kalau dulu di masa jahiliyah mungkin
- hubungan agak enggak ada batasnya ya,
- tapi setelah Islam itu dibatasi. Mandang
- saja enggak boleh. Mandang itu hanya
- sekali laka, kalau yang kedua kali
- alaika, enggak boleh tuh. Nah, ini
- karena mantan, mantan itu kan adalah
- kenangan yang enggak bisa dihapus ya,
- namanya juga manusia digoda oleh setan.
- Nengok tuh dipapasan, tapi enggak negur
- ya, nengok yang perempuannya juga
- nengok. Jadi, sampai perempuan itu
- berjalan, yang laki-laki juga jadi apa
- berjalan sambil nengok ke belakang,
- saling tengok-tengokan. Pas laki-lakinya
- itu balik lagi ke depan, kebenturlah
- dinding hidungnya. Berdarah. Ya,
- berdarah hidungnya. Akhirnya dia
- menyadari bahwa itu adalah dosa ya,
- karena melihat eee lawan jenis ya,
- enggak boleh kan itu. Di situ tuh kan
- disebutkan, eee waqulil mukminin
- yaghudlu min absharihim, jaga pandangan.
- Nah, ini kan enggak dijaga karena
- penasaran gitu ya.
- Terbentur kena hidungnya berdarah. Terus
- katanya, "Wallahi, saya enggak akan
- hapus darah yang mengenai hidung saya
- ini sampai saya ketemu dengan
- Rasulullah." Nah, sampai di Rasul dia
- ceritakan bahwa saya apa kata Nabi ini
- dan itu. Jadi, artinya
- benturannya sampai berdarah itu adalah
- kafarah dari dosanya yang memandang yang
- bukan mahram.
- Begitu, Mbak. Itu kan itu yang yang tahu
- yang enggak tahu coba. Maka, ketika kita
- ditimpa ujian oleh Allah, musibah, kita
- yakinkan bahwa ini adalah kafarah
- lidzunubina, kafarah dari dosa-dosa
- kita, penghapus dosa-dosa kita.
- Supaya eee hilang semuanya dosa-dosa
- dosa kita kan enggak ketahuan, Mbak,
- banyak. Mungkin kalau lagi hujan
- misalnya kita naik motor misalkan,
- lewatin yang becek, ada orang jalan kena
- kecipratan. Kita kan enggak tahu, tapi
- apakah ketidaktahuan kita enggak
- dihitung? Orangnya gedumel gitu ya. Bisa
- jadi kita terbentur terantuk kepala gitu
- ya, lagi jongkok pas berdiri aduh
- sakitnya. Astaghfirullahaladzim,
- mudah-mudahan ini adalah bagian dari
- penghapus dosa kita.
- Jadi memang
- ee ujian yang Allah berikan ini
- mudah-mudahan penghapus dosa. Jadi kalau
- kita lagi sakit gitu ya, enggak enak
- banget kalau batuk ya, Mbak ya. Enggak
- enak lagi pusing, ya Allah mudah-mudahan
- Engkau hapuskan dosaku, begitu. Jadi
- keluhannya enggak aduh-aduh. Aduh, aduh,
- ya artinya sakit banget sih, kenapa ya?
- Enggak, ya Allah mudah-mudahan habis
- semua dosa-dosaku.
- Kita lihat kesabarannya Nabi Ayub.
- Nabi Ayub itu 20 tahun loh
- merasakan sakitnya ee yang luar biasa
- sakitnya itu ya hanya yang yang yang
- sehat itu hanya lisan dan hatinya.
- Hatinya dan lisannya karena lisannya itu
- untuk berzikir kepada Allah, badannya
- semuanya habis. Tapi beliau sabar sekali
- dan doa, apa yang beliau doakan kepada
- Allah? Rabbi anni masani ad-dhurru wa
- anta arhamur rahimin. Ya Allah, aku ini
- sakit loh, gitu bahasa kita ya. Ya
- Allah, aku ditimpa penyakit wa anta
- arhamur rahimin. Engkaulah yang rahim di
- antara semua yang rahim. Artinya yang
- keluar itu adalah pujian kepada Allah.
- Dan dia tidak mengeluhkan sakitnya, dia
- hanya memberitahu, ya Allah aku sakit
- gitu. Tapi Engkaulah yang Maha
- Penyayang. Jadi enggak ngeluh. Ya Allah
- sakit banget ya Allah, kenapa sih ya
- Allah ini kok Engkau enggak sayang sama
- aku ya? Jangan begitu ya. Nah jadi mmm
- dengan Allah berikan ujian kepada kita,
- mudah-mudahan penghapus dosa kita. Kita
- misalnya difitnah oleh tetangga
- di apa dimaki-maki, dibully atau
- digibah,
- terus sampai ke telinga kita, ya sudah
- enggak usah dibalas. Mudah-mudahan
- penghapus dosa, mudah-mudahan pahala
- dapat, sudah selesai. Enggak usah
- ditanggapin. Apalagi kalau kita dapat
- ujian difitnah paling enggak enak banget
- loh.
- Difitnah, padahal kita enggak
- melakukannya tapi dituduh, sampai kita
- ya sudah serahkan saja pada Allah.
- Karena dengan difitnah itu orang yang
- memfitnah itu akan menyumbangkan amal
- salehnya kepada kita dan dia akan
- mendapatkan dosa kita
- amal saleh kita kepadanya. Jadi
- transferan gantian. Jadi dosa kita
- dikasih dikasih ke dia, nanti kalau
- sudah dosa kita sudah enggak ada lagi
- pahala dia buat kita. Gitu kan itu
- menguntungkan.
- Tapi jangan diladeni. Nah, ini.
- Itu yang ketiga.
- Kemudian yang keempat.
- Berpikir positif. Maksudnya di sini,
- apapun yang menimpa diri kita ini adalah
- pasti akan menjadikan kebaikan. Ya.
- Eh, pasti ujung-ujungnya baik. Artinya
- tidak mungkin ujian itu akan terus
- diuji. Pasti akan ada masanya puncaknya
- itu semuanya membawa kebaikan untuk
- kita.
- Eh.
- Saya lihat eh contoh ini bisa menjadikan
- contoh buat kita, Ibunda Hajar ya.
- Ibunda Hajar ini mendapatkan ujian dari
- Allah. Itu ditinggalkan, ditempatkan di
- padang yang tandus. Itu ujian berat loh,
- Mbak. Enggak ada satupun manusia.
- Mungkin kalau sekarang ditinggalkan di
- eh perumahan yang belum ada penghuni
- gitu ya. Enggak ada pedagang, berdua
- aja. Itu luar biasa itu ujian kehidupan
- itu ya yang di yang dialami oleh Ibunda
- Hajar. Tapi beliau tidak berkeluh kesah.
- Beliau yakin ini adalah perintah Allah.
- Kemudian bu ketika tidak ada lagi
- makanan dan minuman, beliau mencari air
- itu kan usaha. Itu enggak ngeluh. Beliau
- mencari air itu ditinggalkan eh putranya
- Nabi Ismail di Baitullah di samping
- Baitullah itu. Beliau pergi ke Bukit
- Safa. Itu bayangkan, Mbak. Safa Bukit
- Safa dan Bukit Marwah sekarang itu
- enggak sama dengan yang dulu.
- Dulu itu yang di masa Nabi Ibrahim yang
- kurang lebih 30 generasi baru sampai
- kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi
- Wasallam. Itu tandus banget. Padang
- Sahara. Panas ya. Beliau cari itu cari
- sampailah ke Bukit Safa. Naik ke Bukit
- Safa lihat enggak ada orang. Pergi lagi
- ke Bukit Marwah. Itu tujuh tujuh kali
- dan saat jaraknya itu kurang lebih 400
- meter. Itu bentuk bagaimana ujian yang
- dialami oleh Ibunda Hajar ini tidak
- menyurutkan keinginannya untuk mencari
- yang terbaik. Artinya berusaha keluar
- dari ujian tersebut.
- Tuh.
- Sudah ditinggalkan berdua, enggak ada
- air lagi. Bagaimana? Mungkin kalau
- imannya enggak kuat, sudah mati sajalah
- begitu ya. Cuma hidup
- Ya sudah, artinya kenapa sih hidup kayak
- begini amat susah? Sudahlah. Nah, itu
- orang yang enggak ada imannya ya. Tapi
- beliau tidak. Beliau masih melakukan
- usaha sampai titik terakhir. Artinya itu
- perjalanan tujuh tujuh kali Mbak, itu
- masa dulu tuh luar biasa. Sampai batas
- maksimalnya Allah berikan solusi jalan
- keluar. Keluarlah air di kaki.
- Sebenarnya kalau tahu, enggak usahlah
- kita ini ya. Enggak usahlah Ibunda Hajar
- itu bolak-balik dari Bukit Safa ke
- Marwah. Tunggu saja, biarkan saja Nabi
- Ismail nangis, nanti kakinya
- dihentak-hentakkan keluarkan tidak. Ini
- menunjukkan bahwa kita perlu ikhtiar.
- Harus ikhtiar supaya ada jalan keluar.
- Dan Allah sendiri yang akan turun tangan
- untuk mencarikan jalan keluarnya. Yang
- penting Allah hanya ingin lihat sejauh
- mana batas titik maksimal usaha hamba
- tersebut. Nah, sekarang kita lihat
- Ibunda Hajar kan jadi ujian itu pasti
- berakhir manis.
- Setiap ujian yang Allah berikan ketika
- kita yakini bahwa ini adalah ekspresi
- cinta Allah kepada kita, bahwa ini
- adalah mem memperbanyak pahala untuk
- kita dan penghapus dosa kita, insya
- Allah ini adalah kebaikan untuk kita.
- Jadi pasti dalam setiap kepahitan ada
- manisnya begitu ya. Itu kita yakin. Maka
- dalam hadis Rasulullah mengatakan ajaban
- li amril mukmin. Sungguh aneh dan ajaib
- seorang beriman itu. Ketika dia ditimpa
- ujian cobaan, dia bersabar dan itu baik
- untuknya. Ketika diberikan karunia,
- rahmat ya, dia bersyukur dan itu baik
- untuknya. Jadi orang beriman itu hanya
- dua saja Mbak. Kalau enggak bersyukur ya
- sabar. Subhanallah ya ini ini yang
- keempat.
- Kemudian yang kelima.
- Yang kelima
- innamal usri yusra. Kita yakini itu ya.
- Setelah dalam kesulitan pasti ada
- kemudahan. Jadi memang ee fakta
- menunjukkan benar ya, ketika apa ide-ide
- yang cemerlang itu lahir ketika kita
- berada di dalam puncak kesulitan. Ini
- kalau anak mahasiswa itu biasanya last
- minute ya, deadline.
- Diuber-uber gitu, sudah bingung,
- akhirnya keluar sesuatu yang ee di luar
- dugaan. Itu sudah sudah sudah ini ya, ee
- sudah jelas ya, apa pun bentuknya.
- Innamal usri yusro. Setiap kesulitan
- sampai disebutkan dua kali ya, innamal
- usri yusro. Jadi, kita yakin ujian yang
- Allah berikan kepada kita insya Allah
- nanti ada kemudahan. Mesti mungkin ada
- ee orang tua yang mengeluhkan anaknya.
- "Anak saya dididik dari kecil di sekolah
- Islam, diberikan contoh, diberikan ee
- apa namanya kasih sayang, tapi kok
- balasannya seperti ini?" Mungkin karena
- pergaulannya
- kurang ee kurang baik, kemudian sikap
- kepada ya sabar saja orang tua. Insya
- Allah suatu saat dengan ujian anak ini,
- siapa tahu ini anak jadi anak yang
- saleh, gitu ya. Atau ujian ekonomi,
- susah hidupnya ya. Ketika kita bersabar
- dengan ujian ini, terus berusaha dan
- memohon kepada Allah ee jalan keluar,
- insya Allah suatu saat pasti Allah
- berikan jalan keluar. Karena pada setiap
- kesulitan itu pasti ada kemudahan.
- Bagaimana menghadapi mertua, menghadapi
- orang tua, menghadapi adik, insya Allah
- selalu ada kemudahan setelah kita
- mengalami kesulitan. Nah, itu yang
- kelima. Nanti yang ke berikutnya kita
- lanjutkan ya, Mbak.
- Karena sudah ada lima, berarti ada tiga
- lagi seperti yang tadi disampaikan Ustaz
- saja, ada delapan ee kiat-kiat ee untuk
- tips untuk kita menghadapi ujian
- kehidupan. Kami undang ikhwan dan akhwat
- untuk menyampaikan pertanyaannya.
- Silakan untuk nomor WhatsApp dan nomor
- SMS sama, 08111999720.
- Atau silakan hubungi kami di nomor
- telepon 0218451512.
- Insya Allah kami kembali setelah jeda
- nasyid berikut ini.
- Kalian silaturahim juga Rasil Visual
- Ikhwan dan Akhwat saat ini live
- mengikuti Fiqih Wanita bersama Ustadzah
- Herlini Amran dengan tema kita yaitu 8
- cara menghadapi ujian kehidupan. Sebelum
- masuk ke tema karena sudah ada 5 yang
- sudah dipaparkan Ustazah, saya akan
- menyampaikan pengumuman penting insya
- Allah. Ini ada
- event atau acara yang akan
- diselenggarakan oleh Radio Silaturahim
- yaitu motivasi salat khusyuk. Insya
- Allah akan dibawakan oleh dua guru kita
- bersama Ustaz Husein Alatas dan Ustaz
- Zein Al Hadi. Masya Allah. Beliau
- merupakan narasumber Radio Silaturahim
- 720 dan pasti yang pendengar setia sudah
- tidak asing lagi dengan nama-nama
- tersebut. Diadakan di Pendopo
- Silaturahim di Jalan Masjid Silaturahim
- Kalimanggis Cibubur. Pada hari Sabtu
- yaitu pada hari Sabtu ini 10 Agustus
- 2019 dimulai insya Allah pukul 09.00
- sampai sebelum zuhur 11.30. Dan karena
- akan diselenggarakan motivasi salat
- khusyuk ini, maka
- eh biasanya satu pagi linting kung ya
- senam ya. Sini ada salah satu gurunya
- Ondy. Ayo silakan di sini eh bilang
- bahwa Ondy nanti tidak akan beraksi
- karena senam linting kung akan
- ditiadakan untuk sementara. Insya Allah
- di minggu berikutnya ya. Baik, Ustazah
- mungkin kita lanjutkan kembali setelah 5
- cara tadi masih 3 lagi berarti.
- Yang keenamnya
- selalu optimis.
- Optimis bahwa kita bisa menyelesaikan
- setiap ujian yang Allah berikan. Karena
- Allah tidak akan memberikan ujian di
- luar kemampuan hamba-Nya. Jadi kita
- optimislah dan dari sikap optimis ini
- itu bisa melahirkan energi yang
- tersembunyi dalam diri kita.
- Karena itu optimisme bisa menjadi bahan
- bakar untuk menyelesaikan segala
- persoalan. Optimis. Apalagi ada dalam
- Alquran surat Al Baqarah 286 ya. La
- yukallifullahu nafsan illa wus'aha laha
- ma kasabat wa'alaiha maktasabat. Ya.
- Allah tidak membebani seseorang
- melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
- Ia mendapat pahala dari kebaikan yang
- dia usahakan dan dia akan mendapatkan
- siksa dari kejahatan yang dia kerjakan.
- Jadi, prinsipnya ketika ada ujian yang
- Allah berikan kepada kita, kita optimis
- ya ini insyaallah kita bisa
- menyelesaikannya insyaallah. Jadi, sikap
- optimis ini sangat baik buat kita. Jadi,
- jangan larut, jangan merasa down ya.
- Kita harus bangkit dan kita harus
- optimis diiringi dengan yang ketujuh
- husnuzan kepada Allah ya, kita berbaik
- sangka kepada Allah. Bahwa Allah
- memberikan ujian insyaallah kita sanggup
- kok insyaallah dan kita layak
- mendapatkan ujian ini karena Allah cinta
- dengan kita, karena kita akan diberikan
- pahala yang berlipat, karena kita
- setelah diberikan ujian ini akan
- diberikan karunia yang mengejutkan yang
- di yang di luar dugaan kita. Jadi,
- husnuzan.
- Jangan eh suuzan.
- Kalau suuzan itu begini "Kenapa ya ujian
- Allah berikan seperti ini? Kayaknya
- Allah enggak sayang ya sama saya." Bukan
- begitu.
- Kan ana inda zanni abdi bi. Aku tuh kata
- Allah dalam hadis qudsi ya, sesuai
- dengan sangkaan hambaku kepadaku. Kalau
- dia
- enggak suka, ya iya berarti memang Allah
- enggak suka. Tapi ketika kita katakan
- Allah pasti eh punya rencana tersendiri
- untuk saya. Mudah-mudahan begitu.
- Jadi, jangan berburuk sangka atau
- mungkin sangkanya gini Mbak, "Ya dosaku
- banyak kali ya diberikan ujian seperti
- ini." Ya mudah-mudahan saja dengan
- dengan kita bersangka eh dosanya banyak
- ya jadi banyak benar ya. Tapi ketika
- kita optimis, husnuzan, Allah ingin
- menghapus dosa kita kan insyaallah
- begitu. Jadi, husnuzan itu penting.
- Dan eh biasanya kalau kita sudah tahu ya
- bahwa ujian yang diberikan Allah itu
- adalah penghapus dosa, kita jangan
- menilai pula orang lain. Ketika orang
- lain dapatkan ujian, langsung kita
- katakan dosanya banyak kali itu. Enggak
- boleh juga tuh. Kita tidak dilahirkan
- untuk menilai orang lain. Lana amaluna
- walakum amalukum. Bagimu agama eh bagimu
- amalmu, apa yang kamu kerjakan, bagiku
- apa yang aku kerjakan. Enggak boleh
- nilai. Kita tuh bukan penilai. Bisa jadi
- orang yang kita lihat bagus zahirnya,
- ternyata jelek.
- Atau bisa jadi kita lihat dzohirnya itu
- tidak baik, justru itulah yang paling
- baik. Ya.
- Eee saya contohkan ya, kadang-kadang
- orang suka menilai ya. Contohnya kalau
- kita pernah bahas ya, Mbak ya. Eee
- manusia yang pertama kali dihisab dengan
- amalan yang pertama kali dihisab itu kan
- beda ya. Kalau amalan yang pertama kali
- dihisab itu sholat. Tapi kalau manusia
- orang yang pertama kali dihisab itu tiga
- orang itu. Yang mati syahid, yang hafal
- Alquran dan meng-mengamalkan ilmu dan
- dermawan yang dermawan. Pernah kan kita
- bahas ya.
- Ternyata kan
- ternyata di hadapan Allah baru
- terbongkar isi hati nurani yang paling
- dalam. Orang yang mati syahid itu tentu
- dia berjihad kepada Allah ya. Dia sudah
- mengorbankan harta dan nyawanya sudah
- dapat syahid. Mungkin manusia mengira ih
- hebat ya mati syahid ya. Ternyata di
- hadapan Allah ketika ditanya, "Kenapa
- engkau mati dalam keadaan ini?" Dia
- katakan, "Ujahid fisabilillah, aku mati
- syahid berjihad di jalan Kau."
- "Kadzabta." Allah katakan, "Dusta.
- Masuklah ke neraka." Itu coba ya.
- Artinya kita enggak tahu isi hati orang.
- Jadi artinya di sini kita husnudzon
- kepada Allah, enggak usah nilai orang.
- Kalau kita lihat dzohirnya begitu kita
- doakan mudah-mudahan kalau dia lagi
- sakit mudah-mudahan diberikan
- kesembuhan. Kita doakan saja yang
- baik-baik, enggak usah pakai-pakai
- zon-zon gitu ya.
- Ya mudah-mudahan itu kalau zon itu sudah
- diam saja lah enggak usah diumumin ya.
- Saya juga dulu sakit. Misalkan gini kita
- sekeluarga masuk rumah sakit lihat orang
- mah iya kayaknya dosanya banyak kali itu
- ya. Dia sampai dirawat semua. Ya sudah
- itu dalam hati sudah enggak usah diini
- lagi.
- ujian orang lain malah jadi ujian buat
- kita.
- Iya. Iya. Itulah kita kadang-kadang
- comel ya, maksudnya gampang sekali
- menilai. Padahal kita belum tentu juga
- baik ya. Jadi hati-hati ya, jangan
- sampai pernah menilai orang lain.
- Allahlah yang paham dengan hambanya.
- Masalah hati hanya Dia dengan Allah.
- Itu yang ke
- delapan. Tujuh terakhir nih ya.
- Eee dalam
- eee menghadapi ujian kehidupan ini yang
- terakhir, kita hadapi dengan usaha dan
- doa, ya. Kita kerahkan segala ikhtiar,
- usaha dan kemampuan kita untuk
- menyelesaikan ujian ini, tentu saja
- bingkainya adalah usaha dan doa, ya.
- Jadi memang doa itu penting banget ya.
- Eee kepada Allah kita, pokoknya ujian
- pertama apapun langsung doa. Misalnya
- gini, Mbak. Kita naik motor nih,
- tahu-tahu bannya kempes.
- Yang pertama kali kita ingat siapa?
- Allah harusnya.
- Harusnya Allah.
- Biasa nya kan enggak tuh lagi kondisi,
- ini kan ujian nih.
- Siapa yang mau lagi jalan jauh apalagi
- enggak ada orang gitu ya, tahu-tahu
- bannya kempes ada paku gitu. Mestinya
- yang pertama kali kita ingat adalah
- Allah. Langsung kita doa, "Ya Allah,
- mudahkanlah urusanku." Bahkan Ibunda
- Aisyah juga mengatakan begitu,
- "Is'alullah salullah." Minta sama Allah
- walaupun hanya sedikit hanya tali sendal
- atau apapun. Maka apalagi ujian yang
- besar. Ujian mendengarkan suami.
- Misalnya ada isu-isu selingkuh, itu
- langsung minta sama Allah. "Ya Allah,
- berikan jalan keluar jalan yang terbaik,
- berikan solusinya." Pokoknya mintanya
- sama Allah. Ingat Allah, kemudian minta
- diberikan jalan keluar yang terbaik dan
- jangan pula sampai ini ya, tadi
- hati-hati itu yang tiga itu ya, hati,
- lisan, eee hati, lisan dan perbuatan.
- Tubuh itu perlu, itu bentuknya sabar dan
- orang yang sabar itu akan mendapatkan
- eee balasan yang bi ghairi hisab, yang
- tak terbatas pahalanya, ya. Sebagaimana
- pahalanya Ibunda Hajar tadi, itu kan
- yang dilakukan Ibunda Hajar tuh kan
- hanya itu ya.
- Hanya itu tapi luar biasa bolak-balik
- Safa dan Marwah. Tapi apa yang beliau
- dapatkan balasannya?
- bahwa dengan berikhtiar kalau Allah
- berkehendak.
- Nah, beliau tuh kan enggak tahu nanti
- suatu saat geraknya Safa eee dari Sa'i
- dari Safa dan Marwah itu akan menjadikan
- umat Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- nanti di generasi berikutnya itu akan
- ditiru. Kan beliau enggak berpikir
- seperti itu. Beliau hanya bisa lakukan
- apa yang beliau bisa lakukan, beliau
- hanya berikhtiar kemudian berdoa, apa
- yang beliau dapatkan? Seluruh umat Islam
- yang sa'i dari Bukit Safa dan Marwah,
- itu Ibunda Hajar kebagian pahalanya.
- Pahala yang mengalir terus-menerus luar
- biasa. Itu beliau tuh artinya hanya bisa
- di beliau lakukan saat itu, tapi karena
- kesabarannya membawa keberkahan,
- pahalanya terus mengalir. Luar biasa.
- Gimana cara kita dapat amal jariyah yang
- enggak putus-putus sampai
- Insya Allah bisa kalau
- Kalau kita melahirkan anak, maksudnya
- tiga hal tadi ya, ilmu yang bermanfaat,
- ya kita ajarkan atau misalnya sekarang
- kita enggak bisa ngapa-ngapain, misalnya
- cuma upload status apa gimana ya, upload
- aja yang se-se-se status atau tulisan
- yang me-mengajak orang untuk ee
- melakukan kebaikan yang siapa tahu di
- antara sekian yang baca itu kan banyak
- kan kalau Facebook kan 5.000 orang
- batasannya ya, kalau fanspage kan banyak
- lagi ya. Ketika dia membaca tulisan kita
- atau apalah yang kita ee upload yang
- bagus-bagus kemudian terinspirasi dia
- mengamalkan kan pahalanya jariyah. Terus
- dia
- sampaikan kepada yang lain, diamalkan
- juga itu terus mengalir. Kita sudah
- meninggal mengalir. Itu namanya pahala
- jariyah. Tapi dosa jariyah juga ada,
- Mbak.
- Ketika meng-upload hal-hal yang tidak
- baik, ternyata hoax, kita sebarkan,
- setiap orang yang melihat, nah itu
- nauzubillah min zalik. Nah, inilah Mbak
- ya, jadi inilah cara kita menyikapi ee
- ujian kehidupan, menghadapi ujian
- kehidupan yang sebenarnya ujian
- kehidupan itu selalu ada dan pasti ada,
- tapi setiap kesulitan insya Allah ada
- kemudahan dan setiap ujian itu pasti ada
- akhirnya. Dan akhir yang baik itu adalah
- orang untuk orang-orang yang bertakwa,
- insya Allah.
- Insya Allah, amin. Dan ee memang yang
- paling digaris bawahi di sini kalau saya
- simak pemaparan Ustazah adalah keyakinan
- dan keimanan bahwa ee itu tadi bahwa
- ujian itu akan berlalu, keyakinan bahwa
- Allah pasti akan mendatangkan
- pertolongannya, Ustazah ya.
- Pasti, insya Allah.
- Ee sebelum saya lempar ke ikhwan dan
- akhwat saya masuk ke ke ee pertanyaan
- ini dari ikhwan dan akhwat saya mungkin
- ada pertanyaan bahwa disebutkan bahwa
- kan Allah tidak akan memberikan ujian
- kepada hamba-hambanya yang memang punya
- kesanggupan. Namun kenapa pada
- kenyataannya banyak yang mengklaim dia
- tidak sanggup kemudian berputus asa,
- padahal di dalam ayat itu tersebut sudah
- disebutkan bahwa
- kita-kita akan diuji sesuai dengan
- kemampuannya.
- Iya.
- Nah, batas kemampuan itu kan Allah yang
- tahu. Namun
- ya itu, tapi kok enggak mampu saya
- enggak kuat gitu kan yang sedang
- menerima ujian.
- Jadi begini Mbak, pasti ya karena dalam
- Alquran pasti
- la yukallifullahu nafsan illa wus'aha
- itu sudah pasti itu. Allah akan
- memberikan ujian itu sesuai dengan
- kemampuan manusia. Nah, sekarang manusia
- merasa enggak mampu itu kan sangkaannya
- dia saja.
- Allah itu sudah
- paham paham banget hambanya. Kenapa dia
- tidak mampu? Nah, ada penyebabnya.
- Bisa jadi dia enggak punya ilmu. Padahal
- Rasulullah mengatakan tholabul ilmi
- faridhotun ala kulli muslimin. Menuntut
- ilmu itu wajib. Nah, kenapa dia dia
- tidak tidak menuntut ilmu gitu ya?
- Artinya kenapa dia tidak cari tahu?
- Is'alu ala dzikri inkuntum la ta'lamun
- gitu. Artinya
- persiapan dirinya itu ya memang ilmu
- lagi Mbak. Kan segala sebelum amal itu
- al ilmu qobla amal ya, ilmu sebelum
- amal. Jadi ketika dia tidak mengilmui,
- enggak paham ilmunya, dia enggak
- ngamalin terus diberikan ujian oleh
- Allah terus dia bilang enggak mampu itu
- dia sendiri yang keliru gitu. Sebenarnya
- dia mampu, contoh gini deh.
- Ketika ada beban
- karung kali ya
- yang
- beratnya itu misalnya 10 kilo.
- Sebenarnya dia tuh bisa sebenarnya
- mengangkat kalau kalau dia mau.
- Masalahnya dia enggak mau. Bisa jadi
- karena malas, karena enggak punya
- motivasi, karena merasa enggak butuh,
- bisa jadi. Tapi orang yang paham yang
- punya ilmu, wah ini 10 ini isinya yang
- enggak ini emas gitu ya. Dikasih 10 bisa
- diangkat. Jadi semua kembali kepada
- individu. Tapi sebenarnya begini,
- ujian yang Allah berikan itu sebenarnya
- pertama pasti mampu manusia itu. Cuman
- yang masalahnya dia enggak mau.
- Nah kan afala taqilun, tidakkah kalian
- berpikir? Allah kan kasih kita modalnya
- sama.
- Modal akal, modal semuanya kan diberikan
- sama. Masalahnya kita mau atau tidak?
- Gini aja deh Mbak,
- ketika ada lima orang
- wanita
- muslim
- ketika dikatakan kepada mereka menutup
- aurat wajib loh, tutupi seluruh tubuhmu
- dengan
- apa namanya dengan pakaian dengan
- jilbab. Nah ini lima orang nih,
- kira-kira lima orang ini akan segera
- menutup enggak?
- Belum tentu semuanya, tergantung kadar
- keimanannya. Ya imannya dari mana? Dari
- ilmu. Ya enggak semua, padahal kan ini
- untuk semua gitu. Allah turunkan
- perintah, larangan,
- semuanya kan untuk manusia. Allah kan
- Maha tahu dengan makhluk ciptaannya. Nah
- kenapa dia tidak mau? Karena memang dia
- tidak membekali diri. Ya bisa jadi yang
- satu
- tidak berminat, yang satu lagi hawa
- nafsunya lebih kuat gitu ya. Yang satu
- lagi bisa jadi
- sangat responsif kemudian dia langsung
- pakai. Jadi kan berbeda-beda. Nah itu
- semua tergantung kadar keimanan. Maka
- Allah akan menguji manusia itu itu
- sejauh mana agamanya.
- Jadi kalau agamanya paling kuat pasti
- cobaannya paling berat gitu. Dan pasti
- dia akan mampu. Tapi kalau imannya
- cetek, dikasih ujiannya juga yang
- cetek-cetek Mbak. Nah kalau memang
- imannya itu bisa jadi enggak mampu dia.
- Padahal itu ujiannya belum seberapa
- gitu.
- Gitu jadi artinya
- Allah pasti memberikan ujian sesuai
- kemampuan. Cuman masalahnya manusia itu
- sendiri yang tidak memampukan dirinya.
- Saya jadi teringat ada istilah tadi
- Ustadzah bilang bahwa makin besar
- keimanan seseorang maka makin besar pula
- ujian akan didapatkan. Sehingga ada
- semacam bercandaan bahwa kita
- beriman atau beragama biasa-biasa
- sajalah supaya hidup juga tenang.
- Kalau begitu nanti biasa-biasa saja lah
- nanti kalau nanti kepeleset ke neraka
- gitu.
- Nah, nauzubillah min zalik. Nah, itu-itu
- yang mungkin mungkin buat mereka itu
- bercandaan tapi jadi doa, jadi keyakinan
- saja.
- Kalau dalam masalah-masalah keislaman
- ini memang tidak pantas dan tidak patut
- kita bercanda ya.
- Eee daripada nanti ujiannya berat, ya
- sudah kita sudah tahu lebih berat sudah
- mending enggak usah justru
- Biasa-biasa saja ibadahnya.
- Justru nanti
- paling gampang tuh digoda setan tuh yang
- biasa-biasa begitu.
- Justru yang kita inginkan itu adalah
- keimanan yang kuat dan kokoh sehingga
- dengan keimanan kuat dan kokoh kita akan
- mampu menghadapi sebuah bentuk ujian dan
- cobaan. Tapi sebenarnya enggak perlu
- takut ya. Kalau orang yang eee memiliki
- keimanan yang kuat dengan ujiannya ujian
- tuh enggak seberapa gitu dibandingkan
- eee pahala yang kita dapatkan
- dibandingkan balasan yang Allah berikan
- kepada kita gitu. Jadi kalau orang yang
- enggak diberikan merasa sudah mendingan
- biasa-biasa saja, itu enggak teruji
- nanti kalau ada sedikit sedikit saja
- ujian itu bisa murtad ya.
- Itu yang di
- Jadi lemah.
- Jadi lemah, tidak tidak ter apa tidak
- ban tahan banting gitu ya.
- Baik. Oke, eee Ikhwan dan Akhwat eee
- kami akan ngambil jeda eee sebentar.
- Saya masih akan undang Ikhwan dan Akhwat
- untuk menyampaikan pertanyaannya.
- Silakan di WhatsApp dan SMS 08111999720
- atau silakan hubungi kami lewat telepon
- di 021 8451512.
- Radio Silaturahim untuk Islam yang satu
- Ikhwan dan Akhwat saat ini mengikuti
- sesi terakhir Fiqih Wanita dengan tema
- delapan cara menghadapi ujian hidup dan
- kita masuk ke tanya dan jawab saya akan
- tanyakan dari hamba Allah bertanya
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustadzah.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Apa bedanya ujian dan hukuman Ustadzah?
- Oh iya, jadi ujian dan azab ya.
- Eee benar ini dua dua dua hal yang
- bentuknya sama bentuknya bentuknya sama
- tapi berbeda pensikapannya ya. Misalnya
- eee gempa yang terjadi ya, kemudian
- menimpa eee satu satu satu satu kawasan
- satu daerah, atau satu kampung. Eh,
- misalnya gempa bumi ya. Itu, di antara
- yang ditimpa musibah itu, banyak
- orang-orang yang saleh.
- He eh.
- Nah, ini ujian atau azab? Gitu ya. Jadi,
- ini masalah pensikapan kita. Jadi,
- begini.
- Ketika ada ujian menimpa orang-orang
- yang beriman, itu bukan, bukan azab.
- Tapi, itu adalah ujian yang Allah
- inginkan, karena Allah sayang dengan
- hamba tersebut, Allah ingin semua
- dosa-dosanya dihapus, itu bentuk ujian,
- bukan azab. Nah, azab itu adalah bagi
- orang-orang yang tidak beriman, itu
- azab. Jadi, yang membedakan antara ujian
- dan azab itu tergantung hamba itu
- sendiri.
- Ujian bagi hamba yang beriman, ketika
- Allah berikan ujian itu ujian buat dia.
- Itu dia akan mendapatkan eh, ampunan
- dosa, derajatnya di, ditinggikan oleh
- Allah, Allah cinta dengan dia, karena
- memang mendapatkan ujian yang sama,
- gempa gitu ya. Tapi, bagi hamba yang
- lain, yang dia itu ingkar pada Allah,
- tidak patuh, ya, enggak salat, pokoknya
- dia tidak, bukan, bukanlah hamba Allah
- yang beriman, yang dia itu Islamnya
- Islam KTP atau abangan, ketika gempa
- menimpa dirinya, itu adalah bagian dari
- azab, gitu loh, Mbak. Jadi, yang
- membedakan itu adalah tergantung hamba
- itu sendiri, sejauh mana tingkat
- agamanya, tingkat keimanannya. Itu yang
- membedakan. Maka, kita ketika
- mendapatkan ujian dari Allah, jangan
- bilang, "Ini azab kali ya." Gitu,
- jangan. Ini adalah ujian yang Allah
- ingin hapus dosa kita, berbaik sangka,
- gitu. Tapi, ketika Allah berikan,
- misalnya ada orang munafik, dan memang
- eh, dalam beberapa pandangan, Mbak ya,
- eh, ujian itu
- eh,
- bahkan orang yang beriman itu kan,
- ujiannya memang agak berat ya, lebih
- berat ya. Tidak seberat orang munafik,
- gitu ya.
- Memang dapat juga ujian ya, orang
- munafik. Tapi, itu memang beda, kalau
- orang-orang yang di luar, yang tidak
- beriman itu, nanti sekali Allah berikan
- sesuatu, langsung
- langsung habis, gitu.
- Nah, jadi artinya yang membedakan antara
- ujian dan azab itu adalah hamba itu
- sendiri.
- Kalau menimpa ujian itu kepada hamba
- yang beriman, itu adalah ujian yang
- Allah ingin hapuskan dosanya, angkat
- derajatnya. Ketika ujian itu diberikan
- kepada hamba Allah yang tidak taat, yang
- tidak beriman, yang tidak melaksanakan
- perintah Allah, itu adalah azab buat
- dia.
- Begitu. Balik lagi tadi ke yang Ustadzah
- tekankan bahwa manusia tidak punya hak
- untuk menilai dan memberi kesimpulan.
- kita tidak berhak untuk menilai, tapi
- wattaqu fitnatan la tusibannalladzina
- dzolamu minkum khossoh. Takutlah kalian
- terhadap eh ujian eh atau fitnah yang
- tidak hanya menimpa orang-orang yang
- dzolim saja. Orang beriman, orang sholeh
- juga menimpa. Makanya di sini ada eh
- kita penting dakwah kita amar ma'ruf
- nahi munkar gitu.
- Ya, jadi begitu Mbak. Jadi artinya apa
- bedanya ujian dan azab itu tergantung eh
- ditimpakan kepada siapa itu ujian.
- He em. Iya. Baik, Ustadzah ini saya
- beralih ke pertanyaan berikutnya dari
- Rahadian Gemadi, Cileungsi. Eh ketika
- didzalimi orang lain, Ustadzah.
- Pertanyaan saya, apakah kita boleh
- mendoakan orang yang mendzalimi kita
- dengan doa yang baik? Misalnya doa yang
- mendzalimi kita mendapatkan hidayah dan
- diampuni dosa-dosanya.
- Eh luar biasa ya.
- Padahal eh ada hadis Nabi yang
- mengatakan ittaqu da'watul madzlum.
- Takutlah kalian kepada doa doa orang
- yang didzalimi. Jadi artinya eh secara
- eh manusiawi ya, dari hadis ini, orang
- yang didzalimi kemudian berdoa minta
- Allah turunkan eh balasannya atau dia
- serahkan kepada Allah, "Ya Allah, aku
- serahkan orang dzolimiku mendzalimiku
- kepadamu." Ah, itu hati-hati banget tuh.
- Artinya boleh aja ketika dia sudah
- merasa kedzaliman yang luar biasa itu,
- dia serahkan kepada Allah. Nanti dengan
- cara Allahlah Allah balas itu ya
- kedzaliman tersebut. Tapi ketika orang
- mendzalimi kita, kemudian kita doakan
- dia, luar biasa pahalanya itu. Ada unsur
- pemaafnya, ada unsur rahimnya. Itu luar
- biasa itu. Masya Allah ya imannya luar
- biasa ya.
- Masya Allah.
- Itu itu masya Allah ya. Artinya memang
- eh seperti itulah yang yang mestinya
- kita bisa lakukan ya, tidak balas dendam
- ya. Kan itu menunjukkan sayangnya kepada
- sesama hamba Allah. Gitu, itu bagus itu
- ya.
- Itu bukan boleh lagi tapi bagus.
- Masyaallah teruskan. Baik Ustadzah
- kemudian pertanyaan berikutnya hamba
- Allah bertanya, "Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh."
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- "Ustadzah kami memiliki kerabat
- terdekat, nampaknya kehidupannya susah
- susah terus. Adakah memang manusia yang
- terlahir,
- mohon maaf jadi berlibet. Terlahir
- dengan kesulitan yang dibawa
- terus-menerus. Misalnya kesulitan uang,
- penyakit, kemudian pernikahannya goyang.
- Kami sampai bingung kenapa dia seperti
- itu Ustadzah, mohon pencerahannya."
- Iya.
- Ketika ada suatu keluarga hidupnya susah
- terus.
- Kemudian timbul pertanyaan, "Apa ada ya
- Allah menciptakan suatu keluarga, suatu
- rumah tangga susah terus?"
- Allah itu tidak menginginkan hambanya
- itu dalam keadaan susah, tapi hamba
- itulah yang yang membuat dirinya susah.
- Coba cek salatnya, coba cek bagaimana
- tingkat kepatuhannya kepada Allah, coba
- cek maksiat apa yang telah mereka
- lakukan. Karena maksiat itu akan
- berdampak kepada diri dan keluarga. Jadi
- Allah itu menciptakan baik untuk semua,
- tapi ketika ada masalah dan kasus dalam
- suatu keluarga sulit sakit, coba
- introspeksi diri ya. Evaluasi diri. Apa
- dosa yang telah dia lakukan? Gitu ya.
- Jadi artinya Allah itu tidak tidak tidak
- menginginkan buruk kok. Yuridullahu
- khairon gitu ya, Allah itu ingin kamu
- itu baik kok, tapi kamu sendiri yang
- telah rusak apa namanya apa yang ada di
- kot apa di bumi ini sudah rusak, itu
- karena ulah kamu sendiri ulah tanganmu
- sendiri. Jadi enggak ada tuh ya
- apa namanya
- suatu keyakinan bahwa
- dia sudah ditakdirkan hidupnya susah
- terus, enggak.
- Bukankah kita lahir dalam keadaan
- bersih? Kullu mauludin yuladu al fitrah,
- fitrah. Tinggal bagaimana dia menjadikan
- anak ini menjadi baik, bersih, kemudian
- berkembang dengan baik.
- Itu kalau begitu nanti menyalahkan Allah
- lagi, kenapa aku takdirnya kayak begini?
- Cek dulu.
- Lihat salatnya. Apakah
- perilakunya itu sesuai dengan ajaran
- Islam? Dia ngelawan enggak sama orang
- tua? Hati-hati nih. Kalau kita dengan
- orang tua durhaka, ini hati-hati, bala,
- bencana itu tidak akan ee hilang dari
- rumah tangga kita. Jadi artinya
- setiap dosa-dosa yang kita lakukan itu
- akan membawa
- hidup kita itu sulit.
- Jadi coba dicek dulu itu atau bisa jadi
- dia pernah menzalimi orang.
- Ya. Menzalimi orang dan orang itu berdoa
- untuk buruk untuk kehidupannya. Biar
- hancur semua keluarganya, biar kayak
- gitu ya.
- Maka tinggal evaluasi diri, kemudian
- tobat setobat-tobatnya. Artinya setelah
- evaluasi diri, Bapak, Ibu, anak
- sekeluarga itu atau mungkin ada makanan
- haram yang dia makan.
- Nah itu jadi itu
- enggak ada ya Allah ciptakan orang itu
- susah terus.
- Yang ada itu manusia itu sendiri yang
- menyusahkan dirinya sendiri.
- Menarik ketika Ustazah menyebutkan
- tentang makanan haram. Selama ini kita
- berpikir makanan itu cuma bentukannya
- saja halal, tapi kadang-kadang kita
- terlupa bahwa sumbernya juga itu yang
- harus diperhatikan.
- Makanan halal itu ada tiga, Mbak.
- Dananya halal,
- barangnya halal, bendanya halal, dan
- cara pengolahannya juga halal ya. Gitu.
- Jadi itu yang disebut keberkahan.
- Sekarang gini, kalau kita ee banyak lho,
- Mbak, sekarang ini ya. Misalnya
- menyekolahkan anak biar masuk ke sekolah
- itu pakai sogok-sogok. Itu kan berkah
- enggak tuh ilmu anaknya tuh?
- Nah kayak gitu. Jadi memang di era
- sekarang ini untuk kehalalan itu wah
- luar biasa ya.
- Itu itu satu sisi, belum yang lain.
- Betul, betul. Jadi masyaallah jawaban
- dari pertanyaan ini ee solusinya cukup
- luas dari Ustadzah. Intinya adalah
- evaluasi, tidak benar bahwa ada makhluk
- yang diciptakan diciptakan Allah untuk
- sengsara di bumi ini dengan kehidupannya
- yang seharusnya memang
- begitu bertentangan dengan Alquran
- innama al usri yusro. Itu sudah pasti
- Allah ciptakan setiap kesulitan pasti
- ada kemudahan, enggak ada tuh sulit
- semua.
- Atau mungkin dia hanya berbagi
- kesulitan, tidak berbagi kesenangan. Ada
- orang yang kalau ketemu kita tuh susah,
- padahal enggak gitu ya.
- Nah, padahal kan dia ada masanya senang
- cuma tidak terlihat.
- Atau bisa jadi dia tidak bersyukur.
- Betul.
- Jadi kan hidup kita kan cuma dua, kalau
- enggak syukur ya sabar. Jadi karena
- karena dia itu kurang syukurnya, jadi
- ngeluh saja.
- Barangkali begitu ya. Evaluasi balik
- lagi. Baik,
- izinkan saya membacakan di luar tema
- namun nampaknya cukup penting ini datang
- dari Ibu Nia, Ustadzah. Saya mau
- bertanya Ustadzah karena sangat
- mengganjal di hati saya. Pertanyaan saya
- memiliki teman mengikuti keluarga
- berencana dengan metode suntik yang 3
- bulan. Setelah itu ia mengalami
- pendarahan terus namun sedikit-sedikit.
- Bagaimanakah apakah wajib salat atau
- tidak? Apakah itu dinamakan darah
- penyakit atau dia mesti mengqadanya,
- Ustadzah? Terima kasih.
- Iya.
- Sesuatu yang mengganggu haid kita itu
- berarti memang tidak baik ya.
- Artinya kalau sampai mengganggu
- keluar flek terus ya.
- Ini berarti ada tiga hal yang membuat
- kita ragu ya. Pertama jadwal salat kita.
- Yang kedua suaminya kali ya, kapan
- bersihnya gitu ya.
- Kemudian yang ketiga berdampak enggak
- kepada fisik kita? Apa mungkin karena
- keluar biasanya kan kalau suntik tuh ada
- paling tidak ada yang tidak haid-haid
- ya. Kalau tidak haid itu enggak masalah
- ya karena karena memang
- apa itu bukan penyakit tapi kalau keluar
- darah terus itu yang membuat tidak
- mungkin tidak cocok ya. Jadi kalau saya
- sih menyarankannya kalau ada pertanyaan
- gitu mendingan tidak
- diganti saja, jangan pakai lagi ini akan
- membawa madharat ya. Nah, tinggal
- masalah salatnya. Kapan salatnya
- bagaimana dilihat saja kebiasaannya,
- kebiasaannya berapa hari. Nah, di
- hari-hari kebiasaan itulah tinggalkan ee
- salat. Di hari setelah itu salat. Jadi,
- flek-flek yang ada itu dianggap
- istihadhah. Karena ada seorang
- shahabiyat bukan seorang ada beberapa
- shahabiyat di masa Nabi mustahadhah itu
- namanya orang yang beristihadhah itu
- setiap hari dalam bulan itu
- keluar darah terus.
- Tapi enggak bukan KB ya di sana belum
- ada ininya ya. Mungkin sejenis tumbuhan
- dulu itu ya. Jadi, shahabiyat ini
- istilahnya keluar darah terus. Nah,
- ketika ditanyakan kepada Rasulullah ada
- hadis riwayat Ummu Salamah, ada Ummu
- Athiyah gitu ya. Ee kata Nabi
- lihat saja ee haidnya, catat tanggalnya
- bilangan waktunya. Jadi, kebiasaan itu
- ya. Nah, 6 atau 7 hari biasanya haid
- kemudian ee mandi dan salatlah dan itu
- di dibersihkan. Nah, itu dianggap
- istihadhah.
- Begitu.
- He em.
- Jadi, tadi enggak dijelaskan kan berapa
- hari haidnya.
- enggak salat apa enggak.
- Kemudian ee itu kan keluar darah
- flek-flek itu banyaknya kapan kan enggak
- ada. Jadi, biasanya lagi haid kan banyak
- keluarnya. Nah, itu hari-hari yang
- banyak itu dianggap haid. Kemudian mandi
- bersih ee sudah salat dan salat dan
- wudhunya itu pada saat akan salat.
- Karena namanya istihadhah kan keluar
- terus darahnya.
- Atau dihitung maksimal 15 hari gitu
- saja?
- Tidak. Kalau 15 hari itu kalau yang
- enggak punya kebiasaan tetap. Kalau ini
- kan dia punya kebiasaan. Dan sebelum
- jadi perhatikan sebelum dia suntik
- dengan ee setelah suntik. Sebelumnya itu
- berapa biasanya seperti itu.
- Baik Ustazah, ini kemudian ada
- pertanyaan ee ee
- saya enggak tahu ini apakah pertanyaan
- atau pernyataan ini dari hamba Allah.
- Ini ada bertentangan dengan pertanyaan
- tadi Ustazah, saya memiliki tetangga
- malahan sepertinya hidupnya bahagia
- terus padahal dia memiliki rumah mungkin
- lebih kecil dibandingkan kami, kehidupan
- perekonomian perekonomiannya lebih
- prihatin dibandingkan kami namun
- masyaallah sekeluarga sangat periang,
- bahkan sering berbagi-bagi makanan. Kami
- sering dikirimi singkong, dikirimi apa
- saja dari hasil kebunnya. Masyaallah
- memang cara menyikapi kehidupan itu
- berbeda-beda, Ustazah.
- Ya, sepertinya itu tetangganya rasa
- syukurnya luar biasa ya. Jadi seseorang
- yang memiliki rasa syukur mampu
- mengatasi atau menyikapi ujian kehidupan
- dengan baik. Ya orang melihatnya itu
- kayaknya bahagia saja. Memang begitulah
- ini ya, kenyataan hidup kita. Bahkan
- banyak kita temukan keluarga yang kaya,
- yang secara ekonomi mapan, tapi kayaknya
- gitu ya sering bertengkar antara suami
- dan istri atau anak-anak. Ya itu artinya
- masalah materi itu memang bukan
- satu-satunya yang membuat orang itu
- bahagia. Bahagia itu ada di hati. Ketika
- rasa syukur dan sabar ada, insyaallah
- itu hamba itu sudah memiliki dunia dan
- seisinya.
- Masyaallah, memang materi bukan jaminan
- Ustazah bahagia itu ya.
- Bahkan kalau orang kafir itu mungkin ada
- yang bertanya orang kafir tapi diuji
- Allah enggak ya gitu. Manusia yang hidup
- pasti diuji. Ada sakit segala macam.
- Cuma
- untuk orang yang kafir ini ujian itu
- bukan ujian untuk menghapuskan dosa,
- tapi itu bagian dari azab. Tapi kalau
- kita lihat orang kafir sekarang hidupnya
- kayaknya enggak pernah diuji, hidupnya
- senang, hartanya banyak, ke mana-mana
- bisa, mereka akur, kayaknya baik-baik
- saja tuh padahal mereka tidak beriman.
- Bisa jadi
- Allah berikan balaskan semua
- kebaikannya. Jadi kan orang-orang di
- luar Islam itu kan tidak semuanya jahat
- ya, pasti ada yang baik. Kita lihat
- misalnya ada yang dermawan, bahkan ada
- yang nyumbang
- kurban begitu ya, ngasih sapi gitu ya.
- Nih kasih sapi, artinya dia tuh dengan
- tetangganya baik. Nah, Allah akan balas
- kebaikannya di dunia ini cash.
- Tapi kalau urusan meninggal nanti urusan
- Allah ya itu. Jadi tidak sia-sia
- kebaikan orang yang di luar Islam selama
- dia berbuat baik di dunia ini dia akan
- dia akan Allah balas
- sesuai dengan kebaikannya. Atau
- barangkali kita lihat ya, orang di luar
- Islam itu kok matinya kok kayaknya
- gampang gitu ya. Kok lihat orang Islam
- kok sakitnya bertahun-tahun enggak
- mati-mati misalnya begitu ya. Padahal
- kayaknya dia orang alim, taat, tapi kok
- sakitnya sampai sampai begitunya enggak
- bisa ngapa-ngapain padahal dia baik.
- Kita melihatnya enggak begitu kacamata
- nya.
- Ketika kita lihat orang di luar Islam
- non muslim, orang kafir itu eh gampang
- matinya, meninggalnya. Eh bisa jadi
- kebaikan-kebaikan nya itu salah satu
- termasuk dengan mudahnya dia meninggal
- itu ya. Eh itu adalah bagian dari
- balasan
- perbuatannya selama di dunia yang
- kebaikan jadi Allah mudahkan. Tapi
- urusan akhirat beda lagi.
- Sedangkan orang Islam, orang beriman
- diberikan ujian sakit bertahun-tahun
- padahal orang alim, orang baik. Itu
- sebenarnya dengan sakitnya itu tuh untuk
- penghapus dosanya. Setelah dia meninggal
- tuh enggak ada dosanya lagi.
- Hisabnya sudah mudah, sudah ringan
- begitu. Itulah bentuk keadilan Allah.
- Balik lagi memang sudah urusan untuk
- analisa nilai-nilai manusia sudah kita
- sudah enggak usah deh karena banyak
- faktor yang kita enggak lihat dan tidak
- terlihat. Jadi enggak usah sok tahu kan
- misalnya
- Jadi enggak usah mikirin orang deh. Kita
- saja belum jelas nih. Nih kita nih yang
- masih menjadi perhatian besar kita, nih
- kita meninggal nih husnul khotimah atau
- tidak ya. Itu dulu yang kita persiapkan.
- Enggak usah nilai-nilai orang, kita
- enggak tahu bagaimana nanti akhir hidup
- kita.
- He em. Betul. Baik eh Ustazah saya akan
- membacakan ini pertanyaan dari hamba
- Allah. Eh berkenankah Ustazah untuk
- menjelaskan tentang hari tarwiyah
- Ustazah? Syukron. Tarwiyah.
- Tarwiyah itu adalah hari di mana pada
- saat Rasulullah itu membawa membawa air
- ya. Karena air itu susah eh ke Mina gitu
- ya, ke Arafah itu ya. Jadi eh
- persiapan-persiapan menjelang wukuf di
- Arafah. Itu ya hari tarwiyah itu tanggal
- 8, 8 Zulhijah. Jadi pada dulunya tuh
- begitu.
- Mulai persiap-siap mau ke Arafah, bawa
- air gitu, bawa bekal, bawa ke Mina.
- Makanya Rasul kan ke Mina dulu, ya.
- Artinya buat bekal-bekal kan susah air,
- ya. Biar ada bekal di situ. Nah, nanti
- baru setelah itu
- Rasul ke Arafah, wukuf. Nah, sekarang
- ini
- sebagian jemaah haji ada yang ke Mina
- dulu, ya, untuk tarwiyah. Kemudian
- setelah itu ke Arafah, tapi mayoritas
- yang dari pemerintah langsung ke Arafah
- karena masalah eh transportasi yang
- sulit gitu. Itu asal muasalnya. Adapun
- saum atau puasa di tarwiyah itu eh
- berbagai riwayat itu ada, tapi sebagian
- ulama mengatakan hadisnya daif. Paling
- tidak kita mengambil eh hadis Nabi yang
- amalan yang dicintai Allah tuh ya di
- hari-hari 10 awal ini, termasuk puasa.
- Jadi, dalam riwayat hadis itu ada yang
- menyebutkan Rasul itu dalam awal-awal
- tuh puasa seluruhnya, kemudian ada yang
- mengatakan tidak, hanya sebagian. Ya,
- iyalah, kan kita tahu kalau haji itu
- sebenarnya tuh eh haji Rasul itu kan
- tanggal 10 tahun 10 Hijriah.
- Itu Rasul itu haji pertama kali dan
- terakhir, hanya sekali haji. Sementara
- kewajiban haji sebagian ulama mengatakan
- diwajibkan tahun ke-6 Hijriah.
- Itu Rasul belum haji itu karena hanya
- perintahnya saja, tapi belum karena
- nanti ada Perjanjian Hudaibiyah, ya.
- Nanti setelah itu baru Rasulullah
- mengutus Abu Bakar As-Siddiq untuk eh
- menjadi Amirul Haj. Jadi, beliau haji ya
- dengan 1.500 rombongan. Nah, ketika
- Rasul berhaji tuh lebih dari 10.000-an
- gitu, ya. Jadi, artinya eh
- puasanya Rasulullah itu
- dalam beberapa riwayat itu dari awal,
- ada yang tidak sama sekali hanya di
- sini. Jadi, itu riwayat itu berbeda, ya,
- yang yang saya pahami seperti itu. Maka,
- kita ini saum enggak puasa enggak hari
- ini? Sangat dianjurkan.
- Kalau mengatakan hadisnya daif atau
- tidak kuat, kita mengambil hadis yang
- beramal saleh di 10 awal pertama itu
- sangat dicintai Allah. Begitu itu
- tarbiyah.
- Jadi kalau sekarang pada di Mina ya, di
- Mina bagi yang akan yang bagi yang akan
- melaksanakan wukuf besoknya insya Allah.
- Insya Allah baik. Insya Allah terjawab
- pertanyaannya hamba Allah saya akan
- membacakan dari Ibu Suroso 65 tahun
- Pondok Kelapa Jakarta Timur. Ustazah
- mohon dong dibacakan diulang secara
- singkat kembali delapan cara menghadapi
- ujian katanya.
- Pertama
- ee ketika kita diberikan ujian oleh
- Allah maka kita meyakini bahwa ini
- adalah ekspresi cinta Allah kepada
- hambanya. Itu yang pertama ya. Jadi
- Allah itu cinta loh sama kita maka
- dikasih ujian. Mestinya ketika diberikan
- ujian makasih ya Allah diberi ujian
- begitu ya. Itu yang pertama. Kemudian
- yang kedua kita meyakini bahwa ee ujian
- ini musibah yang Allah berikan ini
- kepada kita itu adalah ee bagian dari
- pahala yang akan kita dapatkan. Jadi
- ketika ujian Allah berikan pahala itu
- mengalir terus. Begitu ya. Jadi setiap
- rasa sakit tadi ya kesulitan, kesusahan,
- galau pokoknya kesulitan ujian yang kita
- rasakan ini adalah ujian itu pahala ada
- di situ. Itu yang kedua. Pahala akan
- mengalir terus. Kemudian yang ketiga ee
- bahwa ujian ini adalah penghapus
- dosa-dosa kita apabila kita tidak
- mengeluh sabar ya. Jadi artinya jangan
- sampai tiga anggota tubuh kita itu
- mengeluh. Lisan, hati atau anggota
- tubuh. Insya Allah itulah bentuk
- kesabaran dan orang yang sabar itu
- innama yuwaffa shabiruna ajruhum bi
- ghairi hisab. Orang yang sabar itu
- ganjaran pahala buat mereka tuh tidak
- terhingga tanpa hisab begitu ya. Jadi
- itu yang ketiga. Kemudian yang
- keempatnya kita berpikiran positif bahwa
- dengan ujian ini insya Allah pasti ada
- kebaikan yang berlipat. Jadi suka ada
- omongan ambil hikmahnya saja begitu ya.
- Insya Allah deh. Mudah-mudahan ee dengan
- ujian yang Allah berikan kita ini pasti
- ada kebaikan. Mungkin kita diuji oleh
- suami, kenapa? Jangan pula nyesal gitu
- ya, kok dapat suami yang kayak begini,
- perasaan dulu baik dah gitu ya. Ya ini
- ujian, ya sudah mudah-mudahan dengan
- kita bersabar Pak, adalah hal-hal yang
- kebaikan yang kita dapatkan ya atau
- sebaliknya gitu ya, istri atau mungkin
- mertua kok kayak begini anaknya baik
- misalnya begitu. Ya sudah mudah-mudahan
- ada kebaikan di balik ini.
- emang
- Masya Allah.
- Kalau sampai ngomongnya tidak baik itu
- habis itu pahala enggak dapat tuh ya.
- Itu yang ke berapa tadi tuh keempat ya?
- Keempat.
- Kemudian yang kelimanya
- kita yakin bahwa ujian yang Allah
- berikan ini pasti ada kemudahan. Innamal
- usri yusro, pasti ada batas waktu di
- mana kita akan menerima mendapatkan
- pahala yang berlipat ya, pasti ada itu
- ya. Itu yang kelima, yang keenamnya kita
- optimis, optimis kita mampu menghadapi
- ujian ini, jangan pesimis kalau orang
- yang pesimis itu yang tadi ya, yang
- enggak sanggup menghadapi ujian kemudian
- bunuh diri gitu ya, itu naudzubillah min
- dzalik itu. Itu yang ke
- Eee keenam.
- Enam, yang ketujuh husnudzon kepada
- Allah, kita berbaik sangka kepada Allah
- dan yang terakhir yang kedelapan kita
- hadapi ujian ini dengan ikhtiar dan doa,
- mudah-mudahan ujian yang Allah berikan
- apapun bentuknya, bagaimanapun besarnya
- mudah-mudahan dengan ikhtiar yang kita
- lakukan dengan doa itu semua kembali
- kepada kita kebahagiaan, pahala,
- ampunan, sayang Allah, cinta Allah, itu
- pahala yang terus mengalir akan kita
- dapatkan insya Allah.
- Insya Allah, masya Allah. Dan nampaknya
- ini merupakan eee penutup pertanyaan
- kita pada siang hari ini dari Ibu saya
- kelupaan tadi namanya sudah tenggelam di
- pertanyaan-pertanyaan yang lain. Terima
- kasih Ibu dan eee mungkin bukan cuma
- saya saja yang akhirnya ada
- pertanyaan-pertanyaan ganjalan selama
- hidup ini yang terjawab pada sesi hari
- ini, masya Allah. Syukron Ustadzah,
- mudah-mudahan Allah berikan eee apa
- berkah dan rezeki, panjang usia untuk
- Ustadzah supaya saya bisa terus-menerus
- menuntut ilmu sama Ustadzah dan juga
- Ikhwan dan Akhwat. Eh, kesimpulan
- Ustadzah?
- Ya, baik. Eh, pendengar dan pemirsa
- Rasil eh, yang dirahmati Allah bahwa
- kita sebagai hamba Allah pasti akan
- diberikan ujian oleh Allah. Dan bentuk
- ujian itu bermacam-macam dan ujian itu
- yang Allah berikan pasti sesuai dengan
- kemampuan yang kita miliki. Dan Allah
- tidak akan memberikan ujian yang tidak
- bisa
- kita mampu. Pasti Allah akan berikan
- ujian yang sesuai dengan kemampuan kita.
- Maka oleh karena itu, kita hadapi ujian
- ini dengan kesabaran yang berlipat,
- kemudian ketawakalan yang tinggi,
- berpasrah kepada Allah, berhusnuzon, dan
- kita berdoa kepada Allah mudah-mudahan
- dengan ujian ini Allah akan tinggikan
- derajat kita di hadapan Allah, Allah
- ampuni, Allah habiskan, Allah selesai.
- Semua dosa-dosa kita akan terhapuskan,
- insya Allah. Dan kita kembali kepada
- Allah tanpa dosa sedikitpun dan kita
- mendapatkan syafaat dari Rasulullah dan
- bertetangga dengan Rasulullah
- Shallallahu Alaihi Wasallam. Aqulu qauli
- hadza, astaghfirullah li walakum.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillah Ikhwan dan
- Akhwat telah kita ikuti bersama kajian
- hari ini, insya Allah bermanfaat besar.
- Dan juga saya ingatkan kembali, jangan
- lupa esok tidak ada Lintingkung, yang
- ada adalah pelatihan shalat khusyuk jam
- 09.00 dimulai, insya Allah di Pendopo
- Rasil oleh guru kita Ustad Husein Alatas
- dan Ustad Zen Alhadi. Dan eh, Ikhwan dan
- Akhwat dinanti, mudah-mudahan bisa
- meluangkan waktunya esok hari. Juga
- terima kasih bagi para eh, kru Rasil
- yang mendampingi saya pada hari ini ada
- Atep, kemudian juga tadi ada Ondy, ada
- Bang Usup tadi sudah menggantikan Fahri.
- Terima kasih, mohon maaf apabila ada
- kesalahan. Beberapa kali juga tadi ada
- keselip menyebutkan nama juga pertanyaan
- apabila eh, tidak menyinggung perasaan,
- mudah-mudahan berkenan dimaafkan. Saya
- Caroline undur diri. Subhanakallahumma
- wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa
- anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
- Billahi taufiq wal hidayah.
- Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.