Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Brail TV.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz Husein, Ustaz Abu Bakar, Ikhwan
- Akhwat rahimakumullah. Alhamdulillah ya
- kita di bulan yang berlimpah berkah di
- Ramadan ini bersamai kembali di acara
- psikologi keluarga yang mudah-mudahan
- akan mempersuasi kita, menjadikan kita
- lebih paham akan banyak hal terkait
- dengan kasus yang dibahas.
- di bulan Ramadan, bulan di mana kita
- dilatih untuk bisa menahan diri. Bukan
- cuma dari lapar dan haus dari subuh
- sampai magrib, tetapi juga biasanya
- terkait dengan emosi. Itu
- pembelajarannya luar biasa. Dan kasus
- hari ini juga terkait dengan emosi.
- Tidak lupa salam selawat kita lantunkan
- untuk junjungan umat kekasih kita
- Muhammad Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam. Semoga kelak kita mendapatkan
- syafaat beliau. dan dipertemukan dengan
- beliau di saat yang sangat kita rindukan
- di yaumil akhir.
- Terima kasih sekali untuk bersama
- psikologi keluarga Radio Silaturahim,
- Ustaz Husein, Ustaz Abu Bakar siap untuk
- membersamai kita. Tapi sebelumnya kita
- awali dengan umul kitab.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil
- alamin
- arrahmanirrahim
- maiki yaumiddin
- iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'
- ihdinasirathal
- mustaqimathalladzina
- an'amta alaihimil
- in.
- Amin.
- Jadi, Ustaz dan Ikhwan akhwat, ada dua
- kasus yang akan dibahas hari ini. Yang
- pertama dari seorang istri menikah 4
- tahun, punya anak 3 bulan kemudian
- meninggal. Kebetulan kedua orang tuanya
- hanya menginginkan anak ee laki-laki,
- cucu laki-laki. Sementara dia dengan
- saudara laki-lakinya yang sering
- mendapatkan perhatian adalah saudara
- laki-lakinya. itu dari ayah keluarga
- kami. Sementara dari
- kondisi itu, di dalam kondisi keluarga
- saya yang seperti itu, sejak kecil saya
- juga sudah dipukul dan dimarahin.
- Sampai kemudian saya berjuang untuk bisa
- kuliah, saya dibantu dibiayai oleh dosen
- saya. Dan ketika menikah itu kebetulan
- pemisanan dengan orang tua yang ibunya
- adalah ee seorang TNI yang bikin saya
- kaget itu mau melecehkan saya juga.
- Kemudian akhirnya kami tinggalkan rumah
- itu. Di kehidupan yang berikutnya ketika
- di luar rumah, pernikahan saya yang
- sebetulnya kurang disetuju oleh papa itu
- meskipun akhirnya dinikahkan punya anak
- hamil ee 3 bulan kemudian terlihat suami
- saya itu selalu marah dan KDRT. Meskipun
- dia baik sekali ketika anak saya lahir,
- tetapi ketika meninggal bukan main. Ya
- Allah, Ustaz KDRT dan suka marahnya luar
- biasa. Saya tidak tahu harus bagaimana,
- Ustaz. Apa yang harus saya lakukan? Saya
- sering putus asa dan
- saya rasanya tapi saya tidak mau
- menyerah, Ustaz. Tolong saya. Itu yang
- pertama, Ustaz. Kemudian yang kedua dari
- Ibu Ati di Bogor.
- Sekarang ini banyak sekali kasus anak
- yang tidak berbakti kepada orang tua.
- Anak enggak takut sama orang tua malah
- kebalik orang tua yang takut sama anak.
- Bagaimana, Ustaz, sebagai orang tua
- bagaimana kita harus bersikap?
- Kalau kita yang sebagai anak juga
- bagaimana agar bisa tetap berbakti
- kepada orang tua?
- Itu kasus kita, Ustaz.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma
- sholli ala Muhammadin wa ali Muhammad.
- Allahumma atina minika rahmah waimna
- minadunka ilman nafiana bimaamtana.
- Rbanaidna ilmanika
- ya rasullaham. Assalamualaina wa ala
- ibadillahi shihin. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah.
- Ikhwan akhwat,
- pendengar
- pemirsa
- umatan wahidah yang dirahmati Allah.
- Begitu pula pendengar pemirsa radio
- silaturahmi
- yang diberkahi dirahmati Allah.
- Banyak
- orang tua lebih peduli terhadap anak
- laki-laki daripada terhadap anak-anak
- wanita.
- Dan ini
- terjadi hampir di setiap bangsa, di
- setiap suku.
- Di tengah-tengah bangsa Arab juga kita
- jumpai bagaimana orang-orang tua lebih
- peduli, lebih perhatian terhadap anak
- laki-laki daripada terhadap anak
- perempuan mereka.
- Ini merupakan sisa-sisa jahiliah
- dengan anggapan bahwasanya perempuan
- akan pergi bersama suaminya. Perempuan
- tidak akan menjadi tulang punggung bagi
- keluarganya. Beda dengan anak laki-laki
- yang dibanggakan.
- Berbeda dengan sikap Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wa alihi wasallam yang
- hidup dengan tuntunan wahyu.
- Bila putrinya Sayidah Fatimah
- alaihialatu wasalam datang, beliau
- bangun
- mengecup keningnya kemudian dipeluknya
- ditempatkan di tempat duduknya.
- Dan dia selalu mengatakan, "Fatimah
- bidatun minni
- yasurun."
- Fatimah bahagia dari hatiku, bahagian
- dari diriku. Apa yang membahagiakan
- dirinya membahagiakan aku. Apa yang
- menyakiti dirinya menyakiti aku.
- Dan makanan yang paling disukai, makanan
- yang dihidangkan oleh putrinya.
- Kalau dia ingin pergi
- dalam satu perjalanan umpamanya
- berperang,
- maka rumah Sayidah Fatimah itu merupakan
- rumah yang terakhir yang dikunjungi.
- Setelah dari masjid, ya dia datangi
- Fatimah.
- Kemudian dari sana baru dia berangkat.
- Pada saat pulang dari perjalanan setelah
- masuk ke masjid salat, rumah pertama
- yang dikunjungi rumah Asayidaah Fatimah.
- Hingga Ummul Mukmin Asayidah Aisyah
- radhiallahu anha cemburu melihat
- bagaimana perhatian Rasul kepada
- putrinya Fatimah. Betul-betul gambaran
- yang amat hangat mesra dari seorang ayah
- bersama putrinya. Ini berbeda dengan
- tataran jahiliah.
- Waktu Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam akan meninggalkan dunia, dia
- berbisik di telinga Sayidah Fatimah.
- Oh, aku siap untuk memenuhi panggilan
- Tuhanku. Beliau menangis. Sayidah
- Fatimah menang. Kemudian beliau kembali
- berbisik, "Dan kamu orang yang pertama
- yang akan menyusul aku dari keluargaku."
- Langsung beliau tertawa.
- Coba lihat, dia memiliki suami, memiliki
- juga anak-anak, tapi ternyata hubungan
- kecintaan antara anak dan orang tua,
- orang tua dan anak begitu luar biasa.
- Tidak lama beberapa bulan kemudian,
- Sayidah Fatimah menyusul sang ayah
- meninggalkan dunia
- dengan penuh kerinduan untuk berkumpul
- bersama sang ayah.
- Kenapa ini tidak menjadi contoh di
- tengah-tengah kita semuanya?
- Dan Rasul mengatakan apabila seorang
- memiliki tiga putri dijaga, dirawat,
- dibesarkan dengan baik dalam keridaan
- Allah.
- Bila
- bila apa? Datang hari akhir nanti
- ketiga putrinya ini yang akan membuka
- pintu rahmat dan keberkahan dari Allah.
- Sahabat bertanya, "Bagaimana kalau dua
- wahai Rasulullah?" Walaupun dua,
- bagaimana satu? Walaupun satu
- dan kalau anak laki-laki keluar ke dunia
- ini, sebagaimana yang kita saksikan dari
- seorang saleh alim yang sedang mengajar
- di tengah-tengah muridnya atau datang
- pembantunya mengatakan, "Ya Fulan
- Absyir,
- bergembiralah kamu istri kamu melahirkan
- anak." Ditanya oleh orang alim tersebut,
- "Dakar am unsa laki atau perempuan?"
- Dia mengatakan zakar
- diberikan kepadanya satu syiling.
- Dia terus melanjutkan mengajar.
- Tahu-tahu berapa tahun kemudian kembali
- datang memberikan kabar gembira. Ya
- fulan absyir
- ditanya zakar unta. Dia bilang unsa.
- Langsung dia bangun. Ketika disebutkan
- perempuan langsung dia bangun. Dia
- pulang dia berikan hadiah dua kali lipat
- buat pembantunya. Dia pulang langsung ke
- rumahnya baru melanjutkan mengajar.
- Si pembantu bertanya, "Kok
- waktu kamu dikabarkan dengan anak
- laki-laki, kamu berikan hadiah saya cuma
- satu syiri.
- Tapi begitu dikabarkan anak perempuan,
- kamu berikan hadiah dua kali lipat dan
- kamu langsung bangun meninggalkan
- majelis kamu. Dia mengatakan, "Tahu
- tidak kamu apabila anak laki-laki
- keluar, Allah berkata kepadanya, ukhruj
- wa anta aun li abik." Keluar kamu jadi
- pembantu orang tua kamu. Tapi kalau anak
- perempuan keluar, ukhruji wa ana aun di
- abik keluar kamu, saya yang akan bantu
- orang tua kamu.
- Lebih enak mah dibantu sama Allah. Apa
- siapa? Iya. Iya.
- Dan perempuan ini sering dipandang
- remeh. Padahal pada saat ini kita lihat
- berapa banyak perempuan yang lebih
- peduli pada orang tua daripada anak
- laki-lakinya yang dibawa lari sama
- istrinya.
- Ada kisah yang terjadi pada masa-masa
- ee lalu di tengah-tengah bangsa Arab.
- Ini true story yang diceritakan.
- Seorang ayah menantikan kelahiran
- anaknya. Istrinya sudah berada pada
- saat-saat ya mau melahirkan anak.
- Begitu
- anaknya lahir ternyata perempuan.
- Akhirnya waktu dikabarkan, "Ya Fulan,
- istri kamu telah melahirkan anak."
- Laki-laki atau perempuan? Dia mengatakan
- perempuan langsung dia menjerit, "Ya
- lailatus sauda, betapa buruknya malamku
- ini yang hitam dan gelap gulita."
- Jadi bukan bilang alhamdulillah, bukan
- gembira, tapi dia mengatakan ya lailatis
- sauda.
- Akhirnya anak tersebut besar, anak
- laki-lakinya dapat perhatian yang luar
- biasa. Yang perempuan disepelekan.
- Subhanallah. Di hari tua si ayah buta
- matanya.
- Si ya Bu.
- Anak laki-lakinya yang dibanggakan semua
- sibuk dengan urusan mereka masing-masing
- dengan istri sama anak-anaknya.
- Yang membersihkan badan si bapak ini
- perempuan
- yang memberikan makan. Perempuan yang
- peduli anak perempuannya
- tapi karena dia buta dia enggak tahu
- siapa ini. Ditanya mana anti? Ya binti
- siapa kamu? Dia mengatakan ana lailatuk
- sauda. Saya malam kamu yang gelap
- gulita.
- Si bapak matanya berlinang-linang. Dia
- mengatakan, "Ya laita layali kullaha
- sauda." Coba seluruh malamku, maksudnya
- seluruh anak-anaknya apa?
- Perempuan.
- Perempuan.
- Dan ini subhanallah kalau ini terjadi di
- masa lampau, ini terjadi baru-baru ini
- belum lama. Artinya yang ibunya saya
- jumpai hidup.
- Bagaimana seorang bapak yang tadinya
- kalau disebutkan anak laki-lakinya w
- naim w naim disebutkan perempuan hmm
- anak laki-laki diberikan modal anak
- perempuannya tidak dapat perhatian. Eh
- subhanallah si bapak stroke keluar air
- liurnya enggak bisa apa-apa. Si anak
- yang mandikan, bersihkan, berikan juga
- pengharum ya yang berikan makan.
- Si ibu langsung berkata pada bapaknya,
- Pak, lihat tuh, siapa yang peduli anak
- laki-laki apa perempuan? Si bapaknya
- bisa meneteskan air mata.
- Orang kalau peduli terhadap anak
- perempuannya, menggauli mereka dengan
- cara yang baik, memperlakukan ibunya
- dengan cara yang baik, Allah bakal buka
- pintu rahmatnya. Tapi di saat dia
- meremehkan wanita, putri-putrinya dan
- menganggap bahwa ini pembawa kesialan,
- Allah akan angkat rahmat dari dirinya.
- Jadi sayang sungguh sayang kita tidak
- menghargai nikmat
- yang Allah berikan. Di rumah ni kalau
- ada laki-laki enggak ada perempuan,
- enggak ceria.
- Yang bikin terang rumah itu perempuan,
- istri dan anak perempuan. Sedekah anak
- laki-laki kan di luar.
- Betul gak?
- Begitu juga ada anak perempuan, enggak
- ada laki-laki juga kurang apa? Kurang
- sempurna. Tapi kehadiran perempuan itu
- yang membuat rumah itu bercahaya.
- Makanya Rasulullah contoh yang
- sebaik-baiknya memperlakukan wanita
- dengan mulia. Nah, apa yang dialami oleh
- penanya? Dia diperlakukan dengan pilih
- kasih oleh orang tuanya. Hanya anak
- laki-laki yang diperhatikan. Sedangkan
- dia selalu menerima pukulan.
- dan KDRT.
- Kemudian dia keluar dari rumah karena
- dilecehkan. Kemudian dia menikah.
- Pertama tidak disetujui orang tuanya.
- Kemudian orang tuanya menikahkan dia.
- Ketika dia melahirkan anak, suaminya
- begitu peduli. Tapi begitu anaknya
- meninggal dunia kembali, dia disakiti
- dan dianiaya.
- Dia putus asa dalam kondisi seperti ini.
- Sebetulnya Allah tidak memaksa kamu
- untuk melanjutkan hidup seperti ini.
- Mungkin ibu memilih pasangan juga
- mungkin tidak memilih-milih
- atau mungkin hanya lihat penampilan.
- Coba ibu kalau memilih pasangan minta
- sama Allah petunjuknya. Istikharah.
- Kemudian juga kita bertanya-tanya
- bagaimana pribadinya. Jangan lihat
- tongkrongannya dulu.
- Jangan lihat juga uangnya. Akhirnya ibu
- dijadikan sebagai apa? Sebagai komoditas
- yang disepelekan. Tapi pilih pria-pria
- yang mulia yang menghargai pasangannya,
- yang menyadari bahwa hidup ini merupakan
- amanat dan tanggung jawab. Jadi kalau
- memang suami ibu KDRT
- tidak memperlakukan ibu dengan mulia,
- ibu bisa berpisah sama dia dengan sikap
- perbuatannya. Ibu punya alasan untuk
- mengajukan gugatan. Kemudian setelah itu
- kalau ibu ingin berumah tangga lagi,
- coba ibu minta kepada orang-orang yang
- bijak untuk mencarikan buat ibu. Saya
- pernah satu hari satu kali ya ee seorang
- wanita datang ke tempat saya. Namanya
- juga cukup bagus Khadijah. Dia
- mengatakan, "Ustaz, saya sudah ingin
- berumah tangga tapi tolong pilihkan buat
- saya."
- Berti dia terserah.
- Kebetulan pada saat pengajian
- ketemu satu orang kebetulan baru
- ditinggalkan istrinya. Istrinya
- meninggalkan dia. Mungkin karena status
- ekonominya tidak mencukupi atau
- katakanlah kurang menjanjikan. Karena
- perempuan sekarang bukan kebutuhan
- pokok. Dia mau bersaing dengan
- teman-teman bisa punya ini, punya itu.
- Betul gak? Selalu banding-bandingkan
- suaminya dan membodoh-bodohkannya
- dibandingkan suami orang lain. Tuh sudah
- punya ini, sudah punya itu, dan lain
- sebagainya.
- Kalau suami bilang, "Ya, mereka kan
- jalannya enggak bagus. Saya kan usaha
- yang halal. Kamu sok tahu ah. Sok alim."
- Betul enggak? Banyak yang seperti ini.
- Subhanallah. Saya panggil, "Ya Fulan,
- kamu mau nikah kan?" Tib coba kamu temui
- dia bagaimana? Cocok enggak? Ni
- perempuan minta saya carikan suami
- ngobrol cuma setengah jam. T dua-duanya
- bilang, "Cocok, Ustaz.
- Cocok langsung kita nikahkan.
- Allah kasih. Alhamdulillah. Setelah itu
- dia apa? Bekerja maju usahanya
- dengan rahmat Allah. Punya beberapa
- anak, anak-anaknya juga pendidikannya
- juga cukup bagus.
- Jadi kalau kita lihat rahmat keberkahan
- tu turun pada pasangan yang betul-betul
- memilih atas dasar apa? Keridaan Allah.
- Saya waktu menikah
- saya memilih beberapa orang tanpa
- sebelumnya kenal tapi istikharah. Ya
- Allah kalau cocok mudahkan, kalau tidak
- jauhkan. Melamar satu ditolak, melamar
- dua ditolak. Jadi jangan dianggap ustaz
- nih apa namanya gampang-gampang menikah.
- Apalagi pada saat itu ustaz itu namanya
- kurang bagus.
- Dianggap ustaz tukang kawin entar nguruk
- istrinya, ustaz kurang tanggung jawab.
- Ini kejadian kurang lebih hampir 40
- tahun yang lampau kan.
- Anak saya yang paling besar sudah hampir
- 40 tahun. 38 tahun 39.
- Allah kasih
- melamar yang terakhir tanpa melihat sama
- sekali mukanya. Cuma orang ceritakan
- kebaikannya ya diterima.
- Pada saat itu satu peser pun saya enggak
- punya uang. Mau naik mikrolet masih
- belum punya uang. Jadi kalau ngajar itu
- terkadang kita enggak punya ongkos.
- Allah kasih alhamdulillah.
- Begitu kita diterima datang rezekinya
- dengan murah. Karena kita nikah dengan
- istikharah minta sama Allah. Jadi coba
- istikharah jangan tergesa-gesa
- pacar-pacaran dengan alasan untuk lebih
- mengenal. Bukan saling mengenal malah
- makin tidak tahu. Karena dua-duanya
- menutupi apa?
- Menutupi hakikat dirinya. Yang suka
- ngomong kasar kalau ngomong alus
- gemulai. Ternyata begitu berumah tangga.
- Waliyadubillah. Ucapannya bagikan
- sembilu.
- Jadi mohon petunjuk dari Allah Subhanahu
- wa taala. Tinggalkan suami-suami yang
- betul-betul tidak bertanggung jawab
- memperlakukan istri dengan cara yang
- kasar. Suami semacam ini tidak ada
- harganya. Ora anarkone katanya.
- Adapun kasus yang kedua,
- banyak anak-anak zaman sekarang
- membuat takut orang tuanya. Apalagi
- kalau sudah punya pekerjaan mapan, punya
- usaha, dia yang memberikan nafkah buat
- orang tuanya. Kalau orang tua dulu
- memberikan nafkah buat anaknya, ngalah
- sama anak. Anak nakal sabar, anak bantah
- sabar. Betul gak? Malah orang tua bilang
- lucu. Betul gak? Iya. Tapi begitu si
- anak mulai kuat, mulai dewasa, mulai
- mampu, mulai menindas orang tuanya,
- bahkan sampai-sampai ibunya dijadikan
- pembantu rumah tangga untuk mengurus
- anak-anaknya.
- Nah, ini sering kita jumpai kasus
- seperti ini.
- Anak menjadikan ibu sebagai pembantu
- rumah tangga, mending digaji.
- Jadi, seharusnya dia perintahkan anaknya
- untuk menghormati neneknya, tapi
- sebaliknya dia sepelekan ibunya.
- Akhirnya anak-anaknya juga kurang ajar
- terhadap ibunya. Ini kedurhakaan tiada
- tara yang bisa menjerumuskan orang kekal
- dalam azab api neraka.
- Karena setelah hak Allah kita
- menyembahnya, tidak mempersekutukannya
- dengan sesuatu,
- yang kedua adalah hak orang tua. Waqbuka
- alla tabudu illa iyah wabil walida
- ihsana. Sampai dalam bicara kita
- diperintahkan lemah lembut, bahkan
- merendahkan sayap kita. Wagfir lahuma
- jana minarahmah. agar kita mengenang
- kebaikan dia. Terutama ibu hamil 9
- bulan, menyusui 2 tahun, ternyata sudah
- bapak-bapak pun ibu masih khawatir kalau
- anaknya sedih atau susah. Kenapa, Nak?
- Ada apa, Nak? Kita lihat bagaimana ibu
- tuh perhatian sama anaknya walaupun
- sudah lanjut usia.
- Kalau dia susah gara-gara istrinya, si
- ibu lebih sedih hatinya. Tapi bahagia
- bahagia yang didapatkan lebih banyak ke
- istrinya daripada ke ibunya. Kalau
- ngasih ibu kok terus-terusan Mi. Baru
- kemarin anak kasih. Tapi kalau sama
- istrinya, sama anaknya tiap pagi belanja
- sekian. Dikurangi belanjanya
- ngamuk-ngamuk. Betul gak? Tapi kalau Ibu
- coba lihat sudah ngasih senyum lagi
- penuh kepedulian. Jadi kalau
- sampai-sampai
- anak-anak seperti ini ya ada sebabnya.
- Mungkin tidak idik agamanya dengan baik
- untuk takut pada Allah. untuk mengenal
- kewajiban dia hanya disenangkan,
- dimanjakan, diberikan macam-macam, tapi
- enggak diingatkan kepada Tuhannya.
- Atau akibat dari pergaulan di luar.
- Biasanya kalau anak-anak kena narkoba,
- kena minuman keras, kena pergaulan sama
- perempuan enggak karuan, itu sikapnya
- berubah.
- Jadi pendidikan agama itu merupakan hal
- yang pertama kita berikan buat anak kita
- sebelum belajar di SD, di SMP, SMA atau
- perguruan tinggi. Kalau itu anak tahu
- agama, takut kepada Allah, hormat
- padanya, walaupun enggak tamat SD bisa
- jadi anak yang saleh. Masyaallah.
- Ilmu menyempurnakan dia. Tapi walaupun
- pendidikannya tinggi,
- tamat dari Harfat, tapi kalau tidak
- kenal Allah dan takut padanya, dia bisa
- kurang ajar terhadap orang tuanya.
- Memandang remeh dianggap ibunya dari
- kampung, bapaknya petani. Kalau datang
- ke rumahnya bawa ayam, bawa apa? Bawa
- ayamnya hidup-hidup sama bawa singkong.
- Si anak malu. Ditanya sama tamunya,
- "Siapa itu?" Pembantu saya.
- Astagfirullah. Padahal orang tua terus
- ti dia merasa malu ibunya dari kampung
- ya sama bapaknya penuh kecintaan datang
- bawa ayam bawa hasil sayur-mayur masuk
- ke rumahnya disuruh jalan belakang
- dia enggak sambut sama sekali orang tua
- kita lihat ya bagaimana perbedaan orang
- tua yang tidak berhitung dengan anak
- yang selalu dalam tindak tanduknya
- memperhitungkan kehormatan dia, nama
- baik dia. Kalau Bapak, Ibu semua itu
- dikorbankan untuk anak-anaknya. Maka
- anak-anak yang durhaka semacam ini
- walyadillah.
- Bahkan kita lihat anak-anak perempuan
- memasukkan ibunya ke rumah jombo. Sampai
- akhirnya kepala rumah jompo mengatakan,
- "Kalau kamu serahkan, kamu jangan ambil
- kembali.
- Senang ketawa lagi. Bukan nangis malah
- guyuh. Kan aneh luar biasa kan? Jadi ke
- mana rasa rahmat saat ini? Begitu juga
- kalau enggak tahu agama, tamat dari
- Harvard, tamat dari apa? Oxford,
- berdasi, berilmu, korupsi.
- Kalau mau jadi korupsi enggak harus
- belajar di Harvard. Betul gak?
- Belajar sama kalangan-kalangan bawah
- bisa lebih ahli.
- Tapi sayang semua itu ternyata tidak
- berguna. Kecuali kalau hati seseorang
- takut kepada Allah, hormat padanya, baik
- dalam kesendirian maupun dalam
- keramaian. Maka untuk orang-orang tua
- sekarang, bagaimana bisa menjadi anak
- yang saleh? Didik dari mulai kecil untuk
- takut pada Allah. Utamakan Allah
- daripada yang lain.
- Kalau dia salatnya tidak perhatian,
- marahin boleh.
- Lebih utamakan hal ini. Nah, baru nanti
- dengan sendiri dari hatinya muncul rasa
- peduli, takut pada orang, takut pada
- Allah, sayang pada orang tuanya. Bahkan
- ada anak-anak yang keras, luar biasa
- keras. Tetapi kalau dapat penghasilan
- semua diserahkan pada ibunya. Ibunya
- yang bagi,
- istrinya
- terima bahagiaan dari ibunya. Si ibu
- kebetulan orang bijak, cuma
- menggambarkan bagaimana hormat anak pada
- ibunya dan dibilang sama istri, "Saya
- bisa maafkan kamu kalau menyangkut
- urusan saya. Tapi kalau terhadap ibu
- saya kamu main-main, saya tidak akan
- lagi pedulikan kamu." Kita lihat.
- Akhirnya karena si anak hormat pada
- orang tuanya, istrinya juga apa? Untuk
- mendapatkan kecintaan dari suami dia
- ambil hati mertuanya.
- Jangan kalau orang tua datang enggak
- disambut, enggak dihormatin, bahkan suka
- ngerutu, "Ibu nih, ibu nih, bapak nih,
- bapak nih." Nah, istri kita belajar
- kurang ajar.
- Belajar kurang ajar terhadap orang tua
- kita. Jadi, didik anak kita untuk
- hormat, takut kepada Allah. Insyaallah
- mereka akan hormati kamu, akan sayang
- kepada kamu, akan mempedulikan kamu,
- mengutamakan kamu dari yang lain.
- Wallahuam.
- Masyaallah.
- Waktu yang kita miliki, yang memberikan
- pengingat ini sungguh sangat luar biasa.
- Jadi mudah-mudahan kita semakin mampu
- mengoptimalkan bakti kita kepada ayah
- bunda. Sementara sebagai ayah bunda kita
- juga semakin mampu menjadikan anak-anak
- kita mengenal Allah lebih dekat.
- Dan
- susah banget mau ngomong rasanya.
- Bagaimana yang akan disampaikan oleh
- Ustaz Abu Bakar terkait dengan perilaku
- pria yang sedemikian rupa terhadap
- istrinya. tinggalin aja kali ya atau ee
- bagaimana anak-anak terhadap orang tua
- dan sebaliknya. Yuk kita simak dengan
- telinga jiwa kita. Silakan.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah. Segala puji dan syukur
- kepada Allah.
- Ketika kita mendapatkan
- pujian
- dari orang-orang,
- kita akan merasa senang. Tapi ketika
- kita tidak mendapatkan pujian, kita
- merasa jenuh.
- Nah, ini tandanya bahwa pujian-pujian
- dari Allah dia tidak pernah dapatkan.
- karena dia membutuhkan orang lain. Maka
- dari itu ketika kita mendapatkan pujian
- dari Allah, ketentuan dari Allah,
- semua-semua yang dapatnya dari Allah,
- kita ucapkan alhamdulillah.
- Ketika kita mengucapkan alhamdulillah,
- kita bersyukur kepada Allah.
- Ketika kita bersyukur kepada Allah, di
- situ rahmatnya Allah penuh dengan
- berbagai macam.
- Ketika kita melakukan sesuatu, kita
- mendapatkan kita bersyukur kepada Allah.
- Ini yang pertama kita lihat
- seorang yang berjuang.
- berjuang dari kecil, besar, SMP, SMA,
- kuliah dan kemudian dia berkeluarga.
- Perjuangannya dia bukan sia-sia.
- Dia berjuang terus, dia putus asa, dia
- enggak bisa. Dia selalu dari SMP, dari
- SD, SMP, SMA dapat marahan yang luar
- biasa. Dari siapa? Dari papanya.
- Dia dimarahin,
- dipukul,
- dia enggak mau menyerah. Dia berjuang
- dapat nilai, "Ha kamu apaan sih?
- Dikatakan apaan sih?
- Dia masih berjuang, dia sedih, dia
- nangis, dia enggak tahu apa yang dia
- harus lakukan. Dia menyerah.
- Tapi panggilan, perjuangan dia
- terus-menerus
- lagi berjalan, lagi melakukan sesuatu,
- dia pukul, tidak boleh pergi, tidak
- boleh main.
- Bagaimana kehidupan seperti itu?
- Mamanya diam saja, tidak berkutik
- terhadap papanya.
- Tapi kalau sama adiknya luar biasa.
- Kalau ngomong lembut, sayang, memberikan
- sesuatu. Tapi kalau sama anak perempuan
- ini dia minta tidak pernah ada. Paling
- seadanya. Seadanya.
- Makan pun seperti itu baru mau
- mengambil. Eh, jangan dihabisin tuh.
- Hati-hati.
- Lihat adikmu kasihan tuh belum makan.
- sampai seperti itu
- dia tidak pernah merasakan
- rasa senang, rasa bahagia dan dia tidak
- pernah bisa menikmati, tapi dia
- menikmati apa yang Allah berikan.
- Dia berjuang terus. Dia berjuang terus.
- Dia berjuang terus. Dia sampai ke
- sekolah SMP, mukanya ditabuk sampai
- merah, tangannya sudah penuh dengan
- berbagai macam perlakuan dari papanya.
- Tapi dia tetap teman-temannya
- mengatakan, "Kenapa kamu?" "Oh, saya
- jatuh." Dia tidak pernah bilang dari
- papanya
- dan dia tidak pernah mengadu sama
- siapapun.
- sampai kuliah. Sampai kuliah dia diam,
- dia menangis sama salah satu dosen. Dia
- menangis, dia merintih, "Saya sudah
- tidak sanggup." Kemudian dosen tersebut
- memberikan dia untuk kuliah
- sampai selesai.
- ketika selesai sebelum lagi asik kuliah
- karena jauh rumahnya. Maka ketika kuliah
- dia tinggal bersama di misanan dari
- ibunya. Dia tinggal di sana.
- Belum seminggu
- laki-laki itu mulai menggerayangi
- dirinya. Dia tolak. Dia langsung pergi
- baik banget.
- Tapi dia tidak pernah. Ini adalah ujian.
- Setelah selesai dia akan berusaha bahwa
- saya ingin keluar dari rumah ini. Saya
- ingin keluar dari rumah ini. Bagaimana
- saya harus menikah?
- Ketika ketemu seorang laki-laki, dia
- lihat bahwa udah yuk kamu nikah. Tidak
- terjadi beberapa bulan dia sudah
- menikah.
- Ketika dia menikah dengan senang
- walaupun papanya tidak suka,
- papanya tidak menyenangkan,
- papanya tidak suka,
- papanya tidak bermarah-marah,
- dia kesal, dia yakinkan sama dirinya.
- bahwa saya harus keluar.
- Dia keluar, dia menikah.
- Ketika dia menikah, dia senang. Dia
- bersenang, bergembira, dia bangga, dia
- bahagia karena suaminya baik banget.
- Ketika hamil dia senang.
- Dan ketika itu berbagai macam peristiwa
- yang terjadi pada dirinya.
- Walaupun dalam kehamilan, orang tuanya
- tidak mensetujui, tidak suka dengan
- kehamilannya. Dia
- suaminya suka dan tidak suka, apa yang
- terjadi kita enggak tahu.
- Dia menangis, dia berjuang terus sampai
- akhirnya melahirkan. Waktu melahirkan
- sebulan, 2 bulan, 3 bulan Allah uji lagi
- diambillah anak itu.
- Dia sedih, dia enggak bisa berbuat
- apa-apa. Dia baru bisa berbahagia tapi
- kemudian dia ambil. Kemudian suaminya
- tidak bisa diam. Dia marah, dia kesal,
- dia KDRT. Tapi sayang. Tapi sayang. Tapi
- dia marah.
- Apa yang terjadi pada saat itu?
- Kalau kita perhatikan
- seorang anak yang sedang berjuang, yang
- tidak tahu bagaimana hidupnya di
- kemudian hari, dia tidak pernah
- merasakan
- karena orang tuanya,
- tapi dia berjuang, dia ber dia tidak
- pernah bisa menolak
- perbuatan-perbuatan itu. itu. Tapi apa
- yang terjadi? Dia terus terima terima
- terima terima, terima, terima. Dia
- enggak pedulikan
- apa yang terjadi.
- Yang terjadi ketika suaminya berbicara,
- dia mulai menunjukkan
- tidak suka.
- Tidak suka. Suaminya berbicara sedikit,
- dia menunjukkan tidak suka. Ini seperti
- papa.
- Akhirnya diperlakukan seperti papa.
- Ketika ngelihat papanya dia akan
- dilakukan sama seperti papa. Pada
- misanannya pun akhirnya dia dilecehkan
- dan semuanya yang terjadi
- karena bayangan pikirannya dia adalah
- papanya.
- Bayangan-bayangan yang terjadi adalah
- papanya. Dia enggak tahu bagaimana dia
- bisa bertemu dengan seorang laki-laki
- yang baik.
- Tiap dia melihat laki-laki pasti ini
- papanya. Pasti terbayang adalah papanya.
- Dan dia tidak suka
- tapi dia pengin berkeluarga.
- Karena bukan berkeluarga yang
- diinginkan. bukan berkeluarga yang
- diinginkan dia keluar dari rumah itu
- yang diinginkan dia keluar dari rumah
- itu dan dia bisa bersama seorang suami.
- Ternyata apa yang terjadi?
- Tersiksa. Dan yang paling
- penting di sini bagaimana
- dirinya bisa bersih dari papanya.
- Papanya yang harus kita bersihkan.
- Pikiran dari papanya itu yang harus
- dihilangkan baru dia bisa bertemu
- seorang laki-laki yang baik.
- Jadi apa yang terjadi? Karena
- pikiran-pikiran, perbuatan-perbuatan
- papanya itu yang membuat dirinya
- tersiksa.
- Jadi yang perlu diperhatikan adalah
- bagaimana dia menghilangkan pikiran
- papanya. Katakan dia papaku bukan aku.
- Dia jahat dia itu dulu bukan sekarang.
- Saya harus berjuang. Teruskan
- kata-katakan itu papaku bukan aku. Itu
- tekankan apa-apa yang terjadi pada
- dirinya dia bahwa itu tidak pernah
- terjadi. Itu dia tidak inginkan. Dia
- katakan tidak pernah terjadi. Lakukan
- sesuatu. Biarkan saja pikiran itu
- mengejar mengejar dia, dia tinggalkan.
- Yang dia pikirkan adalah kebaikan.
- Yang diperhatikan adalah kebaikan.
- Bagaimana papanya bisa memberikan
- kebaikan? Ada. Walaupun
- sejahat-sejahatnya
- pasti ada kebaikan. Sedikit. Sedikit. 5%
- atau 2% atau 1%
- pasti ada kebaikan yang terjadi pada
- papanya.
- Itu yang kita lihat.
- Itu yang kita perhatikan. Yang kita
- perhatikan kebaikannya.
- Kalau kebaikan itu yang kita perhatikan,
- kita sayangin, kita tentukan, pasti kita
- akan mendapatkan kebaikan.
- Karena kebaikan itu akan mendatangkan
- kebaikan-kebaikan.
- Jadi yang paling penting di sini adalah
- bagaimana dia menghilangkan
- perbuatan-perbuatan yang negatif, yang
- menyakitkan dirinya, yang dia tidak
- sukain. Dia hapuskan. Hapuskan.
- dia bisa menghapuskan, melepaskan,
- dia bisa melepaskan, maka dia akan
- menjadi yang terbaik.
- Lakukan satu hal yang terbaik. Jangan
- rasakan penyakit ini adalah dirinya.
- Katakan itu tidak pernah terjadi.
- Itu tidak pernah terjadi. Yakinkan bahwa
- perbuatan-perbuatan yang dia terima,
- yang dia lakukan, yang dari papanya
- menjadikan kepada suaminya, pada
- teman-temannya yang seorang laki-laki
- yang dianggap dia itu papanya, dia akan
- hilang.
- Perhatikan, kalau kita lakukan perbuatan
- baik,
- insyaallah perbuatan baik itu yang
- terjadi.
- Perbuatan baik yang seperti mana?
- Seperti yang tadi kita dengarkan dari
- Ustaz Husin, bagaimana seorang bapak
- terhadap anak putrinya,
- pada anak putranya kita harus bisa
- bedakan. Itu yang penting.
- Kalau kita bisa lakukan, insyaallah
- bisa. Namun ini yang terjadi pada
- dirinya seorang putri. Lepaskan
- perbuatan-perbuatan negatif, katakan itu
- tidak pernah terjadi. Yakinkan. Lakukan
- perbuatan yang baik, perbuatan yang
- baik. Perbuatan yang baik. Insyaallah
- dia akan menjadi yang baik.
- Satu lagi
- insyaallah. Oke. Satu lagi.
- Yang satu lagi
- bahwa bagaimana merasa merawat anak-anak
- kita agar supaya dia bisa benar-benar
- menjadi orang-orang yang terbaik.
- Jadi, ada tiga poin atau tiga ee tahapan
- yang kita harus lakukan ya. 7 tahun
- pertama, 7 tahun kedua, 7 tahun ketiga.
- 7 tahun pertama kita ketahui anak itu
- masih berkeinginan, masih mau ke sana,
- mau ke sini, lari ke sana, lari ke sini,
- kita biarkan.
- Jadi anak-anak 7 tahun pertama itu
- bagaikan seorang raja, bagaikan seorang
- yang penuh dengan berbagai macam. Dia
- semangatkan, dia lari. Bukan langsung
- salat dulu umur 4 tahun, ayo salat, ayo
- salat. Bukan.
- Jadi berikan kebebasan. Dia bermain, dia
- lari ke sana, dia lari ini. Bebaskan
- dirinya.
- Nah, itu yang akan kita dapatkan setelah
- 7 tahun dia sudah merdeka, dia sudah
- bebas, dia sudah melakukan segala
- sesuatunya, maka dia senang.
- Masuk pada 7 tahun berikan pengertian.
- Jadi 7 tahun dengan sampai 14 tahun
- berikan pengertian-pengertian
- dirinya.
- kita berikan mulai sedikit demi sedikit
- kenalkan di usia 7 tahun mulai
- dikenalkan
- apa itu salat. Sebelumnya kita kenalkan
- Allah, kenalkan Allah semuanya kita
- perhatikan di 7 tahun sampai 14 tahun
- kita berikan pengertian
- mulai memberikan informasi. Oh, Nak,
- kalau kamu melakukan itu nanti bahaya.
- Oh, iya. Nah, itu 7 tahun kedua. 7 tahun
- pertama enggak perlu gitu. Nanti bahaya
- nanti bahag
- nanti. Jangan kita ambil, kita taruh
- yang baik, kita terahkan kepada yang
- baik. Ketika dia memegang gelas yang
- besar, kita pegang gelas yang besar,
- kita tunjukkan dia gelas yang kecil agar
- supaya megang.
- Anak itu lari lari lari ke sana. Kita
- bilang, "Yuk, kita lari ke sini.
- Lari-lari di rumah. Eh, coba kita main
- di luar yuk." Jadi jangan kita marah
- ketika dia seperti itu.
- Jadi, kita enggak perlu marah.
- Yang kedua adalah memberikan pengertian.
- Yang pertama berikan dia kebebasan.
- Berikan tidak ada larangan. Yang kedua
- adalah memberikan pengertian. Ketika
- pertama kali dia belum bisa memahami,
- belum mampu mengerti, kita berikan
- pengertian sekali, dua kali, tiga kali,
- teruskan sampai dia masuk.
- Kenalkan
- itu salat, mama lagi salat. Bukan ayo
- salat di umur 7 tahun, 8 tahun harus
- salat. Tidak.
- Ketika dia mau salat, biarkan salatnya
- dia. Berikan kesempatan dia kita
- berikan. Nah, salat itu seperti ini.
- Bagaimana salat?
- Kenalkan Allah. Ingatkan bahwa ini semua
- dari Allah. Jadi dari 0 tahun sampai
- dengan 14 tahun sampai dengan 21 tahun
- kenalkan Allah pasti
- dalam 14 tahun adalah berikan pengertian
- di 14 sampai 21 adalah proses di mana
- dia akan mengaplikasikan.
- Kita hanya menunggu.
- Ketika dia melakukan kesalahan, kita
- sebutkan coba kamu lakukan itu yang itu
- salah.
- Jadi kita tegaskan
- itu salah. Cuman sedikit saja kita
- tegaskan itu salah. Kamu lakukan ini.
- Kerjakan. Dia masih melakukan lagi
- katakan itu salah. Lakukan yang baik.
- Ada kata-kata yang baik dan kerjakan,
- kerjakan, kerjakan yang baik, yang baik,
- yang baik sampai 21 tahun. Jadi kita
- ketahui 7 tahun pertama, 7 tahun kedua,
- 7 tahun ketiga, didiklah anakmu agar
- supaya sampai dengan 21 tahun dia
- menjadikan merdeka dan dia akan dan dia
- akan benar-benar kepada orang tuanya dan
- dia akan sayang sama orang tuanya.
- Dan yang lebih penting, yang lebih
- penting ketika kita melihat dari 0 tahun
- sampai besar sampai 21 tahun sampai 21
- tahun tidak ada yang namanya marah,
- melarang
- dan bertindak yang kasar tidak terjadi.
- Dan yang kedua tidak menyalahkan
- dirinya.
- Dan yang ketiga, tidak banyak bertanya,
- berikan pernyataan-pernyataan.
- Kalau tiga poin ini tidak marah, tidak
- memberikan penyalahan, dan tidak banyak
- bertanya, insyaallah anak-anak kita akan
- menjadi yang baik.
- Insyaallah. Amin.
- Amin. Hari ini, Ikhwan Akhwat, wahai
- para pria, coba dengarin dari apa yang
- Ustaz ee Husein katakan tadi dan mungkin
- masih bisa closing statement, Ustaz. Ada
- kalimat yang mengatakan surga di bawah
- telapak kaki ibu. Luar biasa nilainya
- seorang ibu. Tapi dari faktanya seperti
- yang kita dengar seperti tadi. Silakan.
- biasanya ya ini menjadi satu
- sunah
- anak-anak yang berbakti pada orang
- tuanya
- dengan segala kekurangan orang tuanya
- di saat dia punya anak-anak yang
- berbakti padanya. Dan saya saksikan
- depan mata saya sendiri
- seorang ayah bakti kepada ibu bapaknya
- yang luar biasa,
- terutama kepada ibunya.
- kebaktian yang orang anggap mungkin
- dianggap tidak waras karena ibunya di
- atas segala-galanya.
- Subhanallah. Begitu dia berumah tangga,
- dia memiliki anak di terhadap
- anak-anaknya keras yang luar biasa.
- Mungkin kalau saya ngalami saya enggak
- sanggup.
- Tapi ternyata anak-anaknya itu luar
- biasa cinta pada orang tuanya. Cinta
- pada orang tua yang luar biasa.
- Orang tua bersikap apapun si anak tidak
- berubah cintanya. Penuh rasa khawatir
- orang tua. Kenapa?
- Karena dia
- orang tuanya pada saat ibunya masih
- hidup luar biasa kebaktiannya. Biru
- abakum tabarukum abnaukum. Berbaktilah
- pada orang-orang tua kalian. Anak-anak
- kalian akan berbakti pada kalian. Jadi
- kalau seandainya ada orang tua merasa
- dikurang ajari oleh anak, perlu juga
- ngoreksi. Mungkin dia terhadap orang
- tuanya dulu
- tidak memberikan perhatian.
- Padahal orang tua itu betul-betul
- setelah Allah hak mereka itu mesti kita
- penuhi.
- Kita bersyukur kepada mereka.
- Sampai-sampai seandainya mereka orang
- kafir pun Allah tidak rida kalau kita
- sakiti mereka.
- Jangan ikuti permintaan mereka, tapi
- tetap kita harus menggauli mereka
- sebagai orang tua kita. Inilah indahnya
- ajaran Islam tidak pernah melupakan budi
- kebaikan seseorang.
- Demikianlah ikhwan akhwat yang dirahmati
- Allah, insyaallah kita berjumpa kembali
- ee di bulan Ramadan mungkin bisa tiga
- kali mungkin ya.
- Insyaallah dengan kehadiran Ustaz Abu
- Bakar yang penuh senyum Puning juga
- dengan pancaran cahayanya insyaallah
- dapat memberikan solusi buat
- problema-problema
- mereka-mereka yang mendengarkan kajian
- kita. Subhanakallahumma wabihamdik
- ashadu alla ilahailla anta astagfiruka
- wa atubu ilaik walu minkum.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz Husein,
- Ustaz Abu Bakar Baraja dan Ikhwan
- akhwat. Mudah-mudahan di Ramadan yang
- berlimpah berkah ini kita dapat lebih
- optimal bukan hanya melakukan hal-hal
- yang akan memudahkan terbukanya pintu
- surga, tetapi juga hal-hal yang membuat
- kita menjadi lebih bermanfaat di dalam
- menjalani hari-hari kita. Sekali lagi
- terima kasih. Billahi taufik wal
- hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.