Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Brail TV.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam. Alhamdulillah kita
- berjumpa lagi di pagi hari ini dalam
- acara psikologi keluarga di studio 3.
- Alhamdulillah di sini juga hadir Ustaz
- Hasan Sjali, ada Ustaz Ayib, ada Ustaz
- Junaidi, Ustaz Kiki, alhamdulillah dan
- juga teman-teman dari SMK 4
- Kranggan Gu juga Atep Setiabudi dan
- Robi. Alhamdulillah memeriakan acara
- ini. Kita akan nanti berjumpa dengan
- Ustaz Husin Alatas dan Ustaz Abu Bakar
- Baraja dan Mbah Hajah Nur Nuring.
- Alhamdulillah sudah hadir di sini
- semuanya. Asalamualaikum Husin.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Sedang berada di studio 3.
- Ee baik ya kita mulai dulu dengan
- membaca al-Fatihah.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim maiki
- yaumiddin iyyaka na'budu wa iyyaka
- nasta'
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina an'amta
- Aiin.
- Amin. Alhamdulillah kita sudah membaca
- alfatihah. Mudah-mudahan Allah mudahkan
- kita dalam menghadapi berbagai persoalan
- yang kita hadapi sehari-hari. Ada dua
- kasus yang masuk. Yang pertama, seorang
- istri yang merasa kehidupan rumah
- tangganya hampa. Ada istri, ada anak,
- tapi rasanya suami lebih sibuk main HP.
- Kemudian yang kedua, Bapak Ayub baru
- saja kehilangan istrinya. Istrinya baru
- saja wafat sebulan lalu dan dia rumah
- yang ditinggalin adalah rumah istrinya.
- Nah, dia bingung soal warisnya. Sekarang
- anak apa keponakannya itu ingin
- menguasai rumah itu. Ee mohon
- penjelasannya dan bagaimana agar bisa
- menjelaskan kepada ponakannya karena
- ponakannya tidak mengerti agama. Bahwa
- hak ee suami juga walaupun cuma numpang
- ibaratnya dia punya hak gitu. Silakan
- Mbak Nuning dibacakan kasusnya seperti
- apa. Baik, terima kasih Mas Krishna.
- Untuk kasus yang pertama tadi ini
- keluhan dari seorang ibu punya tiga anak
- saat bicara responnya begitu-begitu aja,
- suaminya biasa-biasa aja. Jadi ini
- membuat saya merasa resah dan tidak bisa
- dikendalikan perasaan saya itu pada
- mereka. Enggak enak dan enggak enak
- terus, Ustaz. Mereka menghadapi saya
- biasa aja. Kalau di rumah enggak pernah
- ngobrol yang suami main HP dan kalau
- malam saya juga tertidur sebentar.
- Setiap kali bangun ada sesuatu yang
- hilang belum terkunci dan masih banyak
- lagi. Dan anak saya itu mahasiswa SMA
- dan SMP. Saya harus bagaimana, Ustaz?
- Mereka tuh enggak mau tahu untuk makan
- aja saya makan setelah mereka, enggak
- bersama mereka. Jadi dua tiga suap sudah
- hidup saya enggak tenang, Ustaz. Dan
- saya mau tenang harus
- bagaimana? Itu yang dan yang kedua
- seperti yang Mas Krishna bilang sudah
- jelas bagaimana seorang suami yang
- rumahnya punya istrinya terus
- keponakannya mau menguasai sementara
- mereka enggak punya anak. Begitu, Ustaz.
- Silakan.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil
- alamin hamdan katsiran thayyiban
- mubarokan fi kama yuhibabbuna.
- Allahumma sholli wasallim wabarik ala
- abdika wa
- rasulika sayyidina wa nabiina Muhammadin
- wa alih thyibin wasohabatihil gurril
- mayamin wasyairina ala nahjihil qoimi
- ila
- yaumiddin. Subhanaka la ilma lana illa
- ma alamtana innaka antal alimul hakim.
- Wala haula wala quwwata illa billahil
- aliyilim. Allahumma atina minika rahma
- waimna ladunka ilman nafi
- bimaam. Asalamualaika ya rasulullah.
- Assalamu alaina wa ala ibadillah shihin.
- Wasalamualaikum. Ayyuhal ikhwah wal
- akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
- taala.
- Allah Subhanahu wa taala menerangkan
- kepada
- kita
- satu-satunya cara untuk membuat jiwa
- kita, hati kita
- tentram hanya dengan menghubungkannya
- kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Sebagaimana firmannya, "Alladzina
- amanu watatmainu qulubuhum bidikrillah."
- Orang-orang yang
- beriman, kalbu mereka, jiwa mereka akan
- tentram di saat dia mengingat
- Allah. Tempat dia berharap, tempat dia
- berlindung, kepadanya dia berserah diri
- dan Allah senantiasa akan betul-betul
- menaungi dirinya, melimpahkan rahmatnya.
- ubun-ubun kepalanya. Begitu pula
- ubun-ubun kepala suaminya, anak-anaknya
- dan seluruh
- makhluk di atas muka bumi ini semua
- dalam genggaman Allah. Wama min dabatin
- illa hua akhidum binasiha
- inbiati mustaqim. Tidak ada satuun
- makhluk yang melata kecuali ubun-ubunnya
- dalam genggaman
- Allah. Sesungguhnya Tuhanku berada di
- atas jalan yang lurus. Maksudnya rahmat
- Allah,
- keberkahannya, dukungannya untuk yang
- berjalan di atas jalan yang lurus.
- Oleh karena itu, apabila ibu ingin hidup
- tenang, bahagia, harmoni bersama suami,
- bersama
- anak, cara
- satu-satunya hanya dengan kembali
- bersama-sama, bersatu di jalan
- Allah,
- mengingatnya, kemudian mendirikan salat
- dengan penuh kekhusyukan. Dia berdiri di
- hadapan
- Allah. Bisa diberikan kelebihan zakat,
- dia berinfak.
- Dia juga membaca ayat-ayat Quran,
- direnungkan bersama-sama. Ini akan
- menumbuhkan rasa
- cinta, rasa rahmat. Walaupun sudah usia
- lanjut, tapi ternyata ikatan di antara
- mereka bukan melemah malah semakin
- kuat. Akan memudahkan urusan mereka,
- menentramkan jiwa
- mereka. Ini merupakan janji Allah
- Subhanahu wa taala. Allah juga ingatkan,
- "Fadkuruni waskuruli
- wfu." Ingatlah kalian padaku,
- banyak-banyak mengingatku. Aku akan
- selalu mengingat kalian. Kalau kita
- lupakan Allah, Allah tidak akan
- dirugikan. Tapi kalau kita mengingat
- Allah, kita yang akan diuntungkan. Kita
- akan terbebas dari
- penjajahan-penjajahan makhluknya.
- Harapan kita hanya kepada Allah.
- Takut kita juga dari Allah Subhanahu wa
- taala dengan iyaka na'budu wa iyaka
- nastain. Hanya pada-Mu ya Allah
- kami menyembah hanya kepada-Mu. Kami
- mohon pertolongan. Insyaallah seluruh
- urusannya akan dimudahkan Allah. Hatinya
- akan
- ditenteramkan. Dia berumah tangga tidak
- menggantungkan hidupnya pada anak atau
- pada
- suami. Mereka merupakan makhluk-makhluk
- yang lemah. yang tak berdaya walaupun
- punya keinginan tapi mereka tak mampu
- untuk melaksanakan keinginan mereka
- melainkan dengan izin
- all. Oleh karena itu, jadikan Allah
- sebagai harapan, sebagai tumpuan
- pegangan hidup kita, niscaya rasa rahmat
- akan mengalir ke dalam hati kita. Dan
- rahmat tersebut juga akan apa? Akan
- terus terbias dalam rumahnya pada
- suaminya, pada anak-anaknya.
- Jadi kalau saya perhatikan dari
- pertanyaan ibu ini, Ibu berumah tangga
- tapi kehilangan
- kehangatan. Kehilangan anak yang
- seharusnya bersikap baik memuliakan
- kedua orang tuanya, tapi anak tidak
- melakukan hal tersebut. Suami juga yang
- sibuk ya dengan jajatnya.
- Kalau seandainya ibu bisa melihat lebih
- betul-betul dalam lagi, sebetulnya apa
- yang dilakukan suami ibu itu
- pelarian. Pelarian. Kalau ada sesuatu
- yang menarik dirinya, yang membuat
- hatinya hangat dan
- tentram, dia akan tinggalkan
- jaj. Anak-anak ibu juga dengan
- kesibukannya mereka menjalani kesibukan,
- kegiatan, aktivitas apa yang mereka
- terima dari pendidikan.
- dan
- kebiasaan. Jadi apa yang Ibu lihat pada
- anak-anak Ibu itu merupakan tanaman yang
- ditanam oleh ibu dan bapak
- bersama-sama. Kalau Bapak Ibu menanam
- padi yang tumbuh padi. Kalau membiarkan
- dan tak bernanam yang tumbuh nanti
- duri-duri dan alang-alang. Jadi pada
- saat seperti ini, Ibu jangan hanya
- melihat keadaan seperti ini tanpa
- kembali ke belakang.
- Apa yang dilakukan anak-anak itu
- merupakan hasil dari tanaman yang kita
- tanam. Apa yang kita terima hari ini itu
- merupakan tanaman kemarin yang kita
- terima pada hari esok, tanaman pada hari
- ini. Maka mari bersama-sama kita kembali
- pada Allah.
- Coba ibu ubah gaya hidup ibu daripada
- ibu bersedih, berkeluh kesah, kehilangan
- harapan, kehilangan gairah dalam hidup
- ini. Banyak
- hal, banyak hal sebetulnya yang harus
- ibu lakukan sebagai seorang wanita
- muslimah. Ibu kelakan kembali pada
- Allah. Di saat ibu kembali, anak-anak
- ibu ya amat betul-betul apa? Butuh
- tempat bersandar, berpegang yang aman
- bagi mereka.
- tempat bersadar mereka adalah Allah.
- Oleh karena itu, coba Ibu mulai mengajak
- anak-anak dengan penuh kesabaran untuk
- salat berjamaah
- bersama-sama. Membaca Al-Qur'an tidak
- perlu banyak-banyak baca beberapa ayat,
- terjemahkan maknanya agar mereka
- mendengarkan ayat-ayat Allah.
- Ajak mereka untuk menghadiri
- majelis-majelis taklim yang membawa
- pencerahan, membawa
- kesejukan, yang membuat mereka merasa
- bangga bersyukur dengan ajaran agama.
- Jangan biarkan mereka menghadiri
- majelis-majelis yang menyebarkan fitnah,
- pertentangan atau menaburkan kebencian.
- Ini bukan ajaran Allah maupun sunah nabi
- kita yang dikenal sebagai rahmat bagi
- seluruh alamin. Bukan pembawa rahmat.
- Kalau pembawa rahmat, pembawa dan rahmat
- terpisah. Kalau nabi itu rahmat dalam
- arti yang sebenarnya. Wama arsalnaka
- illa rahmatan
- lil alamin. Jadi, Ibu kalau Ibu berharap
- suami berubah tidak mudah. Ibu berharap
- juga anak-anak ibu mengubah kebiasaan
- mereka. Peduli terhadap ibu tidak mudah.
- Ini berkaitan dengan hati.
- Oleh karena itu, Ibu kembali pada Allah.
- Mohon pada Allah agar memberikan hidayah
- pada suami ibu, pada anak-anak. Ajak
- mereka dengan penuh kesabaran untuk
- mendirikan
- salat. Ada waktu untuk berzikir
- mengingat Allah subhanahu wa taala.
- Kalau Bapak dan Ibu tidak menghadiri
- majelis taklim di luar, melalui YouTube
- banyak ceramah-ceramah yang sifatnya
- mendidik, mengingatkan kita, menyejukkan
- hati. Jadi sebetulnya pada saat ini
- kondisi
- manusia beda dengan manusia kira-kira 40
- tahun yang lalu, 50 tahun yang
- lalu. 50 tahun yang lalu kita rasakan
- kehidupan itu berharga luar
- biasa. Penuh
- harapan. Mereka belum dikuasai oleh
- hirup pik kehidupan dan persaingan yang
- ketat. Tetangga
- itu penuh kepedulian terhadap
- tetangganya. Kalau lihat saudaranya
- susah, dia langsung berikan
- bantuan. Kalau satu sakit, beramai-ramai
- mereka
- mendukung. Jadi, kebersamaan itu pada
- saat itu membuat hidup itu menjadi
- indah. Kalau sekarang tingkat stres yang
- amat tinggi membuat akhirnya bukan hanya
- orang-orang tua, anak-anak muda sampai
- remaja pun sekarang apa? mengalami stres
- berat. Akhirnya apa? Mereka berusaha
- melarikan diri mereka dengan
- kesibukan-kesibukan ya yang sifatnya
- hiburan. Sampai banyak yang menggunakan
- obat karena melarikan dari diri
- sendiri. Orang tua di rumah, Bapak, Ibu
- di saat berkomunikasi dengan anaknya
- dengan bahasa yang kurang baik. Kenapa?
- Mereka juga tertekan di luar dengan
- pekerjaan
- mereka. Suami bekerja di luar dengan
- berbagai macam persoalan, pulang ke
- rumah. rumah menjadi pelampiasan,
- akhirnya ibu juga tertekan hatinya.
- Akhirnya komunikasinya dengan
- lingkungannya kurang baik. Nah, anak
- juga akhirnya menjadi korban. Kalau kita
- tanamkan kehangatan di hati anak kita,
- rasa rahmat diingatkan kepada Allah,
- anak tersebut akan tahu kewajibannya
- pada orang tua. Tapi sekarang bukan lagi
- kehangatan, bukan lagi rahmat yang
- menjadi perhatian kita, tapi materi di
- atas segala-galanya.
- Dulu anak di saat mulai
- tumbuh ya, anak tersebut kalau minta
- sesuatu yang diminta
- sederhana. Orang tua mendampingi anaknya
- terkadang membuat mobil-mobilan dari
- jeruk Bali. Ya. Ya. Orang tua yang tu
- membuatkan layangan buat anaknya,
- bermain
- bersama-sama ini jangan dianggap sepele.
- Ini memberikan kehangatan dan kenangan
- yang amat indah.
- berolahraga
- bersama-sama. Olahraganya pun
- sederhana. Kebutuhan hidup juga amat
- sederhana. Orang walaupun bekerja, jam
- kerjanya tidak panjang, tapi pulang ke
- rumah bisa menikmati makan
- bersama. Mereka juga bisa untuk beli
- rumah. Kalau sekarang ini dengan gaji
- yang nampaknya besar angkanya, tapi
- nilainya tidak berarti.
- biaya hidup yang semakin mahal,
- pendidikan anak-anak juga yang semakin
- sulit, belum lagi transportasinya. Nah,
- kalau gaji seorang ayah
- Rp150.000, sedangkan anaknya tiga,
- masing-masing butuh biaya transportasi
- untuk pendidikannya Rp50.000. Nah,
- bagaimana untuk
- makannya? Jadi, tingkat stres yang amat
- tinggi ini membuat orang kehilangan
- kendali dirinya. Oleh karena itu, mari
- bersama-sama dalam menghadapi kehidupan
- jangan pernah melupakan Allah Tuhan
- kita. Kita kepadanya berpegang di bawah
- naungan rahmatnya kita bernaung. Hati
- kita sepenuhnya berserah diri kepada
- Allah sambil kita berusaha semaksimal
- kemampuan kita. Jadi kita rasakan
- akhir-akhirnya Mbak Nunik rasa rahmat
- dicabut dari kehidupan kita. Keberkahan
- waktu juga hilang. Dulu orang belajar
- pagi-pagi jam
- .00 zuhur pulang ke rumah SMP maupun
- SMA. Tapi kenapa pelajaran yang kita
- pelajari bermanfaat? Guru itu sabar
- mengajarkan
- anaknya. Adapun mengenai kursus itu
- hanya orang-orang yang mampu. Adapun
- kebanyakan orang tidak mampu untuk
- kursus. Tapi kenapa mereka belajar?
- Mereka kuasai pelajaran mereka dan
- mereka juga beradab dari adab guru-guru
- mereka yang baik.
- tetangga penuh
- kehangatan. Mereka beramar makruf,
- bernahi mungkar. Walaupun pada saat itu
- belum banyak ustaz apalagi yang bergelar
- master atau
- PhD. Dulu kalau orang bisa mengaji
- Al-Qur'an ya bisa sedikit berbicara
- tentang agama sudah dianggap orang
- alim. Kalau sekarang kenapa ulamanya
- semakin banyak, kiainya semakin banyak,
- tapi manusianya justru apa?
- Jauh dari tuntunan Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Padahal Nabi
- mengatakan, "La yukminu ahadukum hatta
- yuhibak
- yuhibfsih." Standar yang mudah. Tidak
- beriman seorang dari kalian sampai kamu
- tuh mencintai bagi saudara kamu apa yang
- kau cintai bagi dirimu. Yang kamu tidak
- sukai bagi dirimu jangan kamu lakukan
- terhadap orang lain. Ini kan sederhana
- kan.
- Nah, sekarang ini hilang berganti dengan
- berbagai macam
- permainan-permainan seperti katakannya
- kita lihat bagaimana anak-anak dari
- mulai kecil ya yang didambahkan sama
- mereka
- permainan-permainan apa namanya
- permainan yangsing bukan yang di
- televisi apa
- apa TikTok bukan apa dong bukan PSPS PS
- Heeh dari mulai PS PS1, PS2, PS3 sampai
- orang-orang dewasa pun di Jepang antri
- untuk beli PS yang apa yang terbaru
- antum bangun PS5. Jadi anak-anak juga
- apa hidup dalam lingkungan seperti ini.
- Orang tuanya main, anaknya menyaksikan,
- kemudian anak-anak juga bermain.
- Akhirnya waktu mereka habis untuk
- hal-hal seperti kecerdasan spiritual
- mereka turun, emosi mereka meningkat.
- Nah, di rumah dengan suasana seperti
- ini, ayah, ibu, maupun anak, apa
- jadinya? Jadi, ibu tidak perlu lagi
- berkeluh kesah. Ini merupakan kenyataan
- pahit hasil dari apa? Dari tanaman
- sebelumnya. Nah, sekarang bagaimana kita
- menghadapi masa depan dengan penuh rasa
- apa?
- Optimis kembali kepada Allah. Mohon
- ampun selama ini kita lupa dan lalai.
- Mulai kita salat ya, menjaga waktunya
- dengan baik. Kemudian juga kita
- berzikir, membaca Al-Qur'an, meresapi
- ayat-ayatnya. Ajak anak-anak kita
- bersama-sama. Jangan ibu beranggapan
- anak-anak Ibu tuh bahagia dengan apa
- yang mereka lakukan. Mereka lagi mencari
- kebahagiaan yang belum mereka temukan.
- Kalau Ibu bisa memberikan kehangatan,
- ibu menjadi pahlawan dalam rumah.
- Menjadi ibu dari suami, ibu juga dari
- anak-anak.
- Jadi, coba rubah suasana kehidupan ibu
- yang bisa mengubah kegelisahan ibu
- menjadi ketentraman hanya Allah. Allah
- bilang, "Ala bidikrillahi tatmainulub."
- Ketahuilah hanya dengan berzikir kepada
- Allah baru kalbu kita akan merasa terap
- jalan yang lain. Kalau kesenangan dengan
- harta, aset, perhiasan itu sesaat tidak
- memberikan ketenangan. Malah orang yang
- semakin banyak yang dimiliki semakin
- juga apa? Beragam ketakutannya.
- Ketakutan, keresahan,
- kegelisahan. Tapi orang yang ingat
- Allah, bersama Allah walaupun hidup
- sederhana, dia akan menjadi orang yang
- paling berbahagia dan aman
- hidupnya. Jadi kita tidak bicarakan
- tentang suami ibu yang sibuk dengan jej,
- anak-anak ibu juga yang acuh tak acuh.
- Tapi mari kita kembalikan ya segala
- sesuatu kepada pemilik dan penguasanya
- yang menguasai hati suami ibu, hati
- anak-anak ibu termasuk hati ibu. Bila
- ibu bangun malam gelisah, ibu bangun
- berwudu, salat. Karena kita semua juga
- pernah mengalami pengalaman-pengalaman,
- keresahan, kegelisahan, tidak dapat
- tidur. Kalau kita perhatikan semua
- disebabkan hati kita lengah dan lupa
- kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Jadi mudah-mudahan Ibu diberikan
- hidayah, petunjuk untuk menemukan jalan
- ibu agar rumah tangga Ibu kembali
- harmoni, kembali penuh kehangatan dan
- jangan fokus pada materi. Materi ini
- semakin banyak yang dimiliki, semakin
- banyak keluh kesah seseorang. Tapi
- semakin dekat kita kepada Allah, semakin
- aman hidup kita, jiwa kita akan
- diterangi hingga kita bisa membedakan
- mana yang benar, mana yang salah. Begitu
- kita lupa kepada Allah, cahaya jiwa kita
- rend. Akhirnya apa? Yang menyelinf
- setan mengajak kita kepada kesesatan.
- Tapi di mata kita apa? Seolah-olah itu
- merupakan petunjuk dan
- kebaikan. Nah, kasus yang
- kedua, seorang
- suami istrinya meninggal dunia
- meninggalkan
- rumah. Rumah tersebut milik istrinya.
- Begitu wafat sekarang kepanakan istri ya
- karena dia tidak punya anak kemanakan
- istri ingin menguasai peninggalan bibik
- mereka. Seolah-olah suami tidak punya
- hak pada rumah tersebut. Padahal dengan
- tegas Allah dalam Al-Qur'an mengatakan,
- "Walakum nisfu ma taraka
- azwajukum am
- yaakl lahunnawarat." Kalian memiliki hak
- seperdua dari peninggalan istri kalian.
- Kalau mereka tidak punya
- anak. Fainana lahunna
- waladun fakum mimma ba'di wasatin yusina
- bihain. Kalau mereka memiliki anak baik
- dari suami tersebut atau anak dari suami
- sebelumnya, maka bahagian suami hanya
- seperempat dari peninggalan istri.
- ba'di wasin yusina bihain. Setelah
- wasiatnya dilaksanakan dan hutangnya
- dilunasi. Wasiah di sini ya dengan
- sendirinya bukan untuk ahli waris yang
- sudah ada
- bahagianya. Nabi mengatakan innallaha
- qad a likulli innallah qod a likulli bi
- haqqin haqqohu fala wasiatawarid. Allah
- telah memberikan setiap orang yang
- berhak-haknya. maka enggak boleh lagi
- ada wasiat untuk ahli waris. Jadi kalau
- anak kita dapat bahagiaan, tahu-tahu
- diberikan lagi wasiat ya di samping apa
- yang sudah Allah berikan itu enggak
- boleh sama sekali. Tapi kalau di luar
- ahli waris, contohnya kita mau berikan
- wasiat buat bibi kita atau saudara kita,
- saudari ayah kita itu dibolehkan dengan
- syarat tidak melebihi
- sepertiga dari
- hartanya. Jadi jangan sampai menimbulkan
- ijhaf, kezaliman pada ahli waris. Saad
- bin Abi Waqqas ketika dia sakit setelah
- Fathu Makkah didatangi oleh Nabi kita
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam di
- jengguk. Dia mengatakan, "Ya Rasulullah,
- saya memiliki harta yang amat banyak dan
- saya tidak memiliki kecuali anak
- perempuan.
- Apakah saya sedekahkan seluruh harta
- saya?" Rasulullah
- mengatakan, "Sesemua harta kamu ini
- banyak. Bagaimana kalau 2/3? 2/3 pun
- banyak. Bagaimana kalau seperdua?
- Seperdua pun
- banyak. Bagaimana sepertiga? Ya
- Rasulullah. Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam mudah-mudahan kamu dipanjangkan
- umur. Kamu akan hidup lebih lama lagi.
- Ya.
- Saat kalau kamu meninggalkan ahli
- warismu dalam keadaan cukup dan mampu
- itu lebih baik daripada kau tinggalkan
- mereka mengeluarkan tangannya meminta ke
- sana kembali.
- Jadi ketika sampai sepertiga, Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam setujui. Tapi
- ini juga harus
- diingat. Kalau seandainya kita punya
- harta katakan sebanyak 300
- juta. Kalau kita wasiatkan 100 juta
- sepertiganya 200 juta dibagi untuk ahli
- waris sebanyak 5 orang. Katakan
- laki-laki semuanya.
- Jumlah ahli waris sebanyak 5 orang
- berapa dia menerima dari R00
- juta? Nilainya lebih kecil daripada
- harta yang
- diwasiatkan. Ini dengan sendirinya
- menimbulkan tekanan dan kezaliman pada
- ahli waris. Jadi tidak mutlak sepertiga
- dibolehkan, tapi jangan sampai wasiat ya
- membuat ahli waris ya tidak mendapatkan
- hak mereka yang cukup. Bisa membuat
- mereka memiliki rumah, bisa membuat
- mereka berumah tangga bagi yang belum
- berumah tangga. Karena sebelum keluar
- seharusnya orang dalam waul arhami
- ba'buhum aula bibin fi kitabillah.
- Jadi jangan wasiat akhirnya menimbulkan
- kezaliman pada ahli waris. Tapi kalau
- dia punya uang katakan 50
- miliar kemudian sepertiga diinfakkan
- untuk pembangunan masjid, untuk
- perjuangan, untuk orang-orang enggak
- mampu. Yang 2/3 ahli waris cuma dua
- orang ya otomatis
- apa? Mereka bakal mendapatkan bahagiaan
- yang cukup. Jadi sebelum keluar
- perhatikan yang dekat, jangan sirami
- yang jauh. Yang dekat apa?
- Jadi jangan kita beranggapan kalau
- nyumbang masjid ya itu lebih utama
- daripada kita meninggalkan ahli waris
- bahagiaan dan hak mereka. Jadi Islam
- agama yang penuh keadilan dan penuh
- rahmat. Jadi Bapak memiliki hak dari
- peninggalan istri sebanyak seperdua
- seperdua dibagi di antara
- kemenakan. Mudah-mudahan bermanfaat.
- Jadi rupanya dunia ini memang ya dunia
- ini sebetulnya bukan merusak seseorang,
- tapi dunia
- mengungkapkan keaslian seseorang. Kalau
- pribadinya busuk, begitu dapat dunia
- kebusukannya
- kelihatan. Kalau pribadinya baik,
- diberikan harta ternyata tidak lupa.
- Malah semakin dekat ingat pada Allah.
- Jadi terkadang orang tidak diberikan
- banyak harta itu kebaikan buat dia.
- Karena begitu diberikan banyak harta
- kalau dulu waktu enggak punya niatnya
- mau sedekah, mau berbuat kebaikan, mau
- bantu ini, bantu itu, begitu dapat harta
- langsung mau ke Bali, mau ke Eropa, mau
- ke Hongkong jalan-jalan. Betul enggak?
- Jadi, bagaimana ee harta ini ujian dari
- Allah Subhanahu wa taala dan harta bukan
- tujuan, hanya sarana.
- Oleh karena itu, tempatkan harta kita di
- tempat yang baik, mendidik keluarga
- kita, berbuat kebaikan, membantu sesama,
- Allah akan ganti satu berbanding 700
- kali lipat. Lebih besar daripada
- deposito berjangka kita.
- Wallahuam. Ustaz Ab Bakar, masyaallah
- ternyata memang ya betapa pentingnya
- kebersamaan, kehangatan, dan kepedulian
- dalam keluarga. Dan apakah gerangan yang
- akan kita dengar dari Ustaz Abu Bakar
- Baraja? Mari kita simak.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah kenikmatan yang
- datang itu adalah suatu hal yang
- baik. Kenikmatan itu adalah berkat apa
- yang kita
- lakukan. Ketika kita melakukan
- sesuatu, di situlah tempat nikmatnya.
- Karena Allah memberikan
- kenikmatan-kenikmatan yang baik pada
- orang-orang yang
- beriman. Ketika kita berdekatan kepada
- Allah, Allah berikan kenikmatan. Ketika
- kita jauh dari Allah, Allah tinggalkan
- kenikmatan. Dia menunggu nikmatnya.
- Kenikmatan itu menunggu. Ketika
- kenikmatan itu tidak
- diambil, apa yang terjadi?
- Ketika kenikmatan itu hadir, maka dengan
- sendirinya nikmat itu akan
- mempengaruhi kehidupan dalam diri
- kita. Begitu
- juga kepada kasus yang pertama yang kita
- dengarkan, dia merasakan
- resah, merasa bingung.
- menghadapi kehidupan
- ini punya suami, punya
- anak, tapi mereka semuanya
- hilang. Mereka semua itu tidak ada
- melayani kepada suami makan, minum,
- berbuat sesuatu, melayani tapi resah
- hidupnya. Kehidupannya dia resah.
- Punya suami main gadget, punya anak-anak
- sibuk dengan masing-masing. Kenapa kok
- mereka
- sibuk? Apa yang terjadi ketika mereka
- sibuk?
- Karena karena kehidupan dirinyalah yang
- tidak pernah mau menyatu.
- Jadi dia hidupnya resah, enggak bisa
- tidur. Bagaimana bisa tidur? Kok ini
- kurang dikunci? Oh, kurang melakukan
- sesuatu. Apa yang
- menyebabkan? Karena keresahan di hatinya
- yang membuat hidupnya resah.
- Keresahan-keresahan ini terjadi karena
- dirinya tidak
- mampu, tidak bisa. Padahal sudah
- dijelaskan bahwa keresahan,
- ketenangan itu akan
- datang. Jadi, ketenangan itu akan
- datang kalau dia benar-benar
- memperhatikan.
- Hidup tenang. Bagaimana bisa tenang?
- Orang ngelihatin suami begini, anak-anak
- begitu, semuanya yang dilihat. Apa yang
- dilihatnya itu yang tidak
- benar. Padahal ada satu ungkapan
- bagaimana kita mau
- tenang. Dijelaskan dalam ketenangan itu
- pertama kita rasakan aman. Oh, bagaimana
- merasakan
- aman? Ketenangan itu adanya rasa aman.
- Oh, bagaimana saya bisa aman? Suami main
- gadget, anak-anak sibuk
- sendiri-sendiri. Itu kenapa kok dia
- tidak bisa
- aman? Enggak merasa nyaman hidupnya.
- Berkomunikasi dengan suami. Eh, asik
- dengan gadgetnya dia toh. Oh, iya. Oh,
- begitu. Dengan mudahnya suami, "Oh, ya.
- Oh, begitu. Oke. Hanya sebatas itu.
- Tidak. Karena rasa nyaman itu ada pada
- diri
- kita. Rasa nyaman, aman, tentram itu
- hidup menjadi tenang. Itu yang pertama.
- Jadi rasa aman itulah yang penting.
- Ketika kita aman, kita merasa nyaman,
- kita akan merasa
- tenang. Bagaimana kita terang? Oh, dekat
- dengan Allah kita
- nyaman. Perhatian kita kepada Allah kita
- nyaman. Karena ketika kita diri kita
- nyaman, kita dekat sama Allah. Ketika
- kita aman, kita dekat kepada Allah,
- tidak dekat kepada orang-orang yang
- menyibukkan dirinya. Siapa yang
- menyibukkan? Anak-anak, suami. Dia
- menyibukkan. Kalau kita berdekatan
- kepada Allah, berdekatan kepada diri
- kita, maka dengan
- sendirinya yang tadi lagi sibuk, dia
- akan menyibukkan dengan diri kita.
- Karena diri kita aman, karena diri kita
- nyaman, maka orang yang sibuk dia akan
- mendekatkan dirinya kepada diri
- kita. Maka itu amankan diri kita,
- rasakan aman. Maka dari ketenangan itu
- satu, merasa
- aman. Yang kedua, karena kita sehat.
- Karena diri kita sehat, tidak terganggu
- apapun, maka kita aman. Pilek sedikit
- kita katakan
- sehat. Kita merasa pegal sedikit kita
- katakan kita sedang
- sehat. Kita sedang sehat. Ketika kita
- sehat, kita berkomunikasi pun enak. Kita
- berkomunikasi dengan anak-anak enak,
- dengan suami
- enak,
- menyambung. Kalau kita lagi sakit, lagi
- enggak enak, lagi badan lagi merentek,
- bagaimana kita bisa berkomunikasi?
- Kepala kita pusing, kepala kita pusing,
- kita aduh ini pusing banget ini. Yang
- kita keluarkan adalah keluhan.
- Ketika badan kita tidak nyaman, kita
- tidak enggak enak merasa sakit, yang
- kita keluarkan adalah
- keluhan. Keluhan-keluhan ini kalau masuk
- kepada orang, orang tidak mau
- mendengarnya. Mendengarnya juga, oh ya.
- Hmm.
- Oke. Karena keluhan. Tapi kalau keluhan
- itu ditutup dengan semangat karena kita
- sehat, kita
- senang, berkomunikasinya juga
- menyenangkan.
- Dan yang
- ketiga, kita saat ini, saat ini sedang
- di sini, saat ini sedang berbicara, saat
- ini saya sedang makan, saat ini sedang
- berkomunikasi sama suami, berkomunikasi
- dengan anak-anak. Di saat
- ini, di saat inilah kita
- ada, kita berada di dalam kehidupan.
- Bukan kita tidak ada karena dia main
- gadget terus kita bilang, "Aduh, kenapa
- kok main gadget?" Tidak. Kita hadirkan
- diri
- kita, kita hadirkan diri kita, maka kita
- akan tenang.
- Jadi kehidupan tenang
- itu tiga poin. Merasa
- aman, sehat, dan hadir pada saat
- ini. Itu kita akan senang tenang. Coba
- hadirkan diri kita. Kita akan merasakan
- sehat dan rasa nyaman. Kita tidak punya
- apa-apa.
- ada. Karena kehidupan itu
- ada. Jadi ketiga poin inilah yang
- membuat hidup kita senang,
- tenang, aman,
- nyaman, dan
- menyenangkan. Untuk apa kita merasakan?
- Oh, dia
- sibuk. Sibuk apa? Sibuk main gadget. Oh,
- itu dia
- sibuk. Bukan diri
- kita itu dirinya kita tetap dengan diri
- kita. Kita hadirkan ketika lagi makan
- bersama. Jangan kita lihatin dia makan.
- Aduh, makannya kok begitu. Oh, makan
- begini. Makanan dirinya tidak
- diperhatikan.
- [Musik]
- Bagaimana kita bisa
- berkomunikasi kalau dirinya saja tidak
- diperhatikan. Oleh karena
- itu, merasa senang, merasa
- nyaman adalah
- ketenangan. Bagaimana ketenangan itu
- hadir?
- ketika aman, kedua sehat, dan ketiga
- hadir pada saat ini bisa makan. Hari ini
- kita makan, besok pasti kita akan makan.
- Yang akan datang pasti kita akan
- datang. Yang akan datang kita akan
- duduk, kita akan
- tersenyum. Kita bisa. Oleh karena itu,
- tiga
- poin aman, sehat,
- dan hadir diri kita di sini. Di sinilah
- kehidupan kita akan
- meningkatkan. Apalagi yang kita akan
- cari.
- Apalagi kalau ketenangan itu sudah
- hadir,
- insyaallah semua itu
- hadir. Dan
- ingat apa yang menjadikan resah,
- gelisah, bingung, sumpek. Karena itu
- masa lalu tinggalkan masa
- lalu. Karena kita sudah
- aman, sehat dan hadir, maka tinggalkan
- masa lalu. Masa lalu yang tidak berguna,
- yang tidak nyaman, tinggalkan. Maka kita
- hadirkan diri kita, kita bertemu dengan
- diri kita, insyaallah kita akan lebih
- baik.
- Oke. Dan yang
- kedua, yang kedua ini
- ee perhatikan diri kita. Kalau namanya
- ponakan itu ada bagian-bagian yang
- tersendiri sebagaimana yang tadi sudah
- dijelaskan sama Ustaz Tusin itu adalah
- haknya.
- Nah, tinggal bagaimana kita mampukah
- kita mampu
- melakukan seorang suami punya haknya,
- seorang ponakan punya
- haknya. Oleh karena itu, jangan kita
- lari dari hak-hak yang kita punya.
- Jangan kita pergi ke mana-mana, kita
- langsungkan masukkan kepada hak-haknya.
- Ketika hak-hak itu hadir, maka dengan
- sendirinya kehidupan itu akan lebih
- tenang.
- Insyaallah.
- Masyaallah. Dari apa yang kita dengar
- tadi, siapa menanam dia menuai. Ustaz
- Husein bilang, "Jadi kalau kita nanamnya
- pare enggak mungkin kita menuai
- stroberi." Ustaz, masih ada waktu
- sedikit boleh ditambahkan? Baik.
- Kita kalau membaca Al-Qur'an kita akan
- jumpai pelajaran yang penuh hikmah dalam
- Al-Qur'an. Tapi sayang Quran hanya
- menjadi bacaan. Quran hanya menjadi
- bacaan. Bukan sebagai cahaya hidup kita
- yang membantu untuk menerangi perjalanan
- kita. Mai lihat mana yang baik, mana
- yang tidak
- baik, mana yang akan membawa kebahagiaan
- buat kita, mana yang akan mencelakakan
- kita. Padahal Allah jadikan dia sebagai
- nur, sebagai petunjuk, juga sebagai
- rahmat dan penyembuh.
- Oleh karena itu, siapa saja yang dalam
- keadaan sakit
- jiwanya, rumah tangganya juga dalam
- keadaan sakit, coba kembali kepada
- Al-Qur'an untuk menjadi sebaik-baiknya
- penyembuh. Quran menceritakan kita
- kisah-kisah
- pengalaman Nabi di manus dan manusia di
- masa
- lampau. Kita
- lihat bagaimana kakek dan nenek kita
- Adam alaihialatu wasalam.
- ditempatkan di taman surga dengan
- berbagai macam keindahannya tanpa dia
- harus berletih lelah. Dia tidak
- merasakan sengatan matahari, tidak
- merasakan juga dingin yang
- menusuk. Semua didapatkan di
- sana tapi disebabkan
- karena nafsunya
- dikilik oleh
- setan. Penasarannya juga diungkit ya.
- Dan dia belum pernah punya pengalaman
- sebelumnya dalam menghadapi setan yang
- musuh datang pura-pura memberikan
- nasihat yang
- tulus. Akhirnya dia terjebak oleh
- perangkap setan. Dia melakukan
- pelanggaran terhadap larangan Allah. Apa
- hasilnya? Apakah dia merasa
- bahagia? Tidak.
- Apakah mereka lebih puas dengan apa yang
- mereka rasakan? Ternyata yang dinikmati
- hanya kenikmatan sesaat membuat
- kehormatannya tersingkap. Pakaian yang
- menutupi auratnya
- terbuka. Dari tempat yang
- mulia turun ke bumi harus melangsungkan
- penderitaan.
- Ini menjadi pelajaran karena memang
- Allah menetapkan Adam ditempatkan di
- muka bumi dan untuk kembali ke tempat
- yang mulia tersebut harus berjuang.
- Jadi kalau kita lupa bahwa kita ini
- sedang
- berjuang menghadapi ujian untuk meraih
- tempat yang lebih indah, lebih mulia,
- kekal dan
- abadi. Seandainya manusia hidup 1000
- tahun dalam kehidupan dunia dalam
- keadaan
- senang, kesenangan dunia tidak sebanding
- dengan sekejap kesenangan, kebahagiaan
- di hari akhirat nanti.
- Akan kalau orang yang paling senang
- dalam kehidupan
- dunia menyaksikan kenikmatan surga
- sekejap saja, dia tidak lagi akan merasa
- apa? Tidak akan merasa merasa senang,
- bahagia dengan apa yang dimiliki. Dia
- ingin segera meninggalkan dunia ini
- menuju ke tempat kehidupan
- tersebut. Nah, kalau kita selalu ingat
- Allah, mengingat juga tujuan hidup kita
- yang sebenarnya, bukan di sini. Ini
- kalau kita di sini kurang ekonomi kita,
- pekerjaan kita yang kurang begitu baik
- ya, rumah kita yang
- kecil, Anda melalui kehidupan sebentar,
- Anda akan menuju kehidupan yang lebih
- indah, kekal dan abadi. Anda akan
- menempati taman-taman surga dengan
- istana yang megah. Di bawahnya mengalir
- sungai yang bermacam-macam.
- Oleh karena itu, jangan berkecil hati,
- jangan berputus asa, jangan kita
- kehilangan gairah hidup kita disebabkan
- karena kehilangan sesuatu dari dunia ini
- yang hilang bagi orang yang beriman akan
- berkumpul
- kembali. Tapi walaupun berkumpul
- bersama-sama dengan kita lupa pada
- Allah, kita akan kehilangan semuanya.
- Maka Allah Subhanahu wa taala selalu
- mengingatkan kita dalam Al-Qur'an agar
- menjadikan Allah sebagai tujuan hidup
- kita, menjadikan hari akhirat perhatian
- kita. Dan Nabi sebagai imam kita yang
- mengajarkan kita hikmah-hikmah
- kehidupan.
- Nah, kita perhatikan banyak orang
- hidupnya sederhana tapi anak-anaknya
- sukses. Istrinya juga bersyukur atas
- kebaikan
- suaminya. Suaminya bersyukur atas
- kebaikan istrinya yang mulia yang
- menghargai kebaikan yang diberikan
- padanya. Jadi, pada kesimpulannya
- kebahagiaan bukan pada materi, bukan
- pada pemuasan nafsu. Tidak ada orang
- yang memuaskan nafsunya di jalan yang
- salah melainkan gelisah. Tapi tidak ada
- orang bersabar menghadapi cobaan
- melainkan dia akan menuju kemudahan.
- Fainna maal usri inna maal usliri yus.
- Sebagai
- contoh kalau
- kita setiap hari ya mencari kesenangan
- dari makanan yang kita makan dan
- pemuasan nafsu lama-kelamaan semua itu
- menjadi siksaan buat kita.
- Tapi kalau kita berpuasa di pagi hari,
- berbuka di waktu sore, subhanallah
- makanan biasa yang tidak pernah kita
- senggol, ternyata pada saat itu kok
- nikmatnya por. Orang Tegal bilang
- nikmatnya apa? Por. Luar biasa.
- Jadi sebetulnya nafsu semakin ditahan,
- begitu diberikan sedikit nikmat luar
- biasa dia minum kopi nikmatnya seperti
- baru pertama kali minum kopi. Dia
- mengatakan, "Ini kopi yang terenak yang
- saya minum. Makan kurma satu juga enak.
- Makan tahu goreng juga luar biasa.
- Seperti pertama kali dia menikmati tahu.
- Tapi kalau terus-terusan nafsu diikuti,
- tubuh kita terbakar.
- Bahkan sudah loyo tak berdaya, nafsunya
- pun masih
- menggelihat. Saya pernah melihat orang
- sudah loyo stroke lagi air liur tu dari
- begini masih mencari-cari perempuan.
- Bayangkan perempuan-perempuan ini yang
- mengharapkan uangnya kumpul sekali dia
- merayu begini begitu. Si laki-laki
- sambil terseok-seok air liurnya keluar
- sama tangannya pun dalam keadaan kaku.
- Menderita gak?
- kehilangan kehormatannya, kehilangan
- harga dirinya. Tapi di rumah bersama
- istrinya, istrinya yang melayani. Dia
- masak, berharap suaminya menikmati
- masakannya. Begitu suami bilang,
- "Masyaallah
- salimatiqi. Semoga kedua tangan kamu ini
- selamat. Luar biasa masakan kamu itu
- buat istri bunga yang luar biasa." Betul
- gak?
- Tapi kalau orang yang makan di restoran
- terus-terusan, istri semangat enggak
- makan.
- Kita malas masak, Ustaz. Kenapa? Habis
- terus-terusan maunya di luar makannya.
- Akhirnya kehangatan rumah tangga itu
- yang bisa didapatkan melalui makan
- bersama atau mencic hilang
- semuanya. Dia lebih suka mencari apa?
- Kesenangan sesaat walaupun dia keluarkan
- sekali makan sejuta, 2 juta malam ini
- mau makan di mana ya? Orang miskin lagi
- bingung untuk mendapatkan seliter 2
- liter beras. Dia lagi bingung mau makan
- apa, mau makan di mana. Oleh karena itu
- biasakan makan di rumah.
- kumpul barang istri, barang anak-anak.
- Kalau kaki kita mau melangkah keluar,
- jangan dibiasakan. Oleh karena itu,
- jangan kita buka jalan bagi kita
- melakukan kebiasaan yang menghilangkan
- kebahagiaan kita. Oleh karena itu, istri
- mesti di rumah menyambut, hangat,
- senyum, kalau bisa jangan menunjukkan
- muka asam di hadapan suami. Nanti suami
- yang akan menyenangkan, membahagiakan
- dirinya. Kegelisahan, kegundahannya
- bakal hilang. Jadi kesimpulannya hidup
- ini sebetulnya murah, ringan, tapi gaya
- hidup kita ini yang membuat kita tidak
- pernah tenang membanding-bandingkan
- dengan orang lain. Si fulan sudah punya
- ini, kita belum punya apa-apa. Si fulan
- sudah punya mobil mewah, kita masih
- punya mobil kijang biasa. Kalau dituruti
- sampai kapan? Betul gak? Tapi kalau kita
- punya mobil sederhana, sehat, kita pakai
- bekerja, kita renungkan, alhamdulillah.
- Orang-orang naik bus, gelantungan,
- desak-desakan, kita dikasih kenikmatan
- yang lebih. Dia bisa lebih bahagia
- daripada yang punya mobil mewah. Betul
- enggak? Sudah punya mobil Porsche, minta
- lagi hammer, minta lagi ini. Yang ini
- belum dipakai. Betul. Betul gak?
- Akhirnya tiap hari kerja dimarasin
- mobil.
- Mau pakai mobil mewah ya untuk apa?
- Untuk ngebut jalan macet. Betul gak?
- Untuk bangga-banggaan jalan macet.
- Akhirnya mobilnya bermacam-macam dibeli
- tapi enggak bisa
- dinikmati. Mendingan naik sepeda kita
- nikmati. Betul gak? Daripada kita punya
- mobil macam-macam tapi enggak ada
- kenikmatan. Jadi
- kesimpulannya kalau kita ingin bahagia
- dan
- damai, sembah Allah Subhanahu wa taala.
- Jangan persekutukan Allah. Jadikan Allah
- sebagai pegangan hidupmu di mana pun
- kamu berada. Dalam kesendirian maupun
- dalam keramaian, dalam keadaan lemah
- maupun kuat, jangan kamu pernah
- melepaskan Allah. Mohon padanya
- rahmatnya. Kemudian baca ayat Al-Qur'an,
- dirikan
- salat bukan salat rutinitas, tapi salat
- yang kamu rasakan kamu berhadapan dengan
- Allah. Lalu gauli manusia dengan akhlak
- pekerti yang luhur. Karena akhlak ini
- jangankan orang yang dekat dengan kita.
- Orang di luar Islam pun kalau
- menyaksikan akhlak yang baik akan
- tertarik. Betul enggak? Walaupun ulama
- besar hafiz Al-Qur'an kalau akhlaknya
- buruk akan membuat jangankan orang lain
- yang dekat dengan dia bakal menjauh.
- Betul gak? Tapi akhlak pekerti yang
- luhur ini yang menjadi penarik persona,
- pemikat
- sukma. Pemikat sukma yang amat indah.
- Oleh karena itu, mari kita hiasi diri
- kita dengan akhlak pekerti yang baik.
- Dan hendaklah kita ingat ucapan Rasul
- ittaqillah haitsu
- ma. Bertakwalah kepada Allah di mana pun
- kamu
- berada. Hasanah. Kalau kamu berbuat
- buruk segera susul dengan kebaikan.
- Wqinas buluqin hasan. Gauli manusia
- dengan akhlak yang baik. Insyaallah kita
- temukan kebahagiaan kita.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta
- astagfiruka.
- Wasalamualaikum warahmatullah wam.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Masyaallah, Ustaz. Terima
- kasih banyak karena kembali kepada
- Al-Qur'an sebagai pedoman sekaligus
- menyembuh duka lara itu betul-betul luar
- biasa. Mas Krishna sayang waktu kita
- habis ya. Alhamdulillah Iwan akhwat
- telah kita dengar tadi nasihat dari
- guru-guru kita tentang dua kasus yang
- masuk. Mudah-mudahan apa yang tadi
- disampaikan dapat menjadi jalan keluar
- bagi kita ya. Terima kasih atas
- perhatiannya. Saya Muhammad Krishna Budi
- dan Alhon
- pamitalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.