Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Asalamualaikum warahmatullahi 0:01 wabarakatuh. 0:02 Berharap rida Allah subhanahu wa taala 0:06 dan juga mendapatkan kebaikan dengan 0:08 kesempatan yang Allah berikan kepada 0:10 kita akan umur. Pada kesempatan ini saya 0:15 Prof. Dr. Muhammad Kana Sutrisna 0:18 Suryadilaga, MAG, MMC 0:21 mengucapkan selamat menyambut bulan 0:24 Ramadan 1447 0:28 Hijriah. atau pada tahun 2026. [musik] 0:33 Mudah-mudahan Ramadan tahun ini akan 0:35 jauh lebih baik dibandingkan Ramadan 0:37 pada tahun-tahun yang lalu [musik] 0:39 sehingga membawa dampak perubahan agar 0:42 kita menjadi jauh lebih produktif 0:44 dibandingkan dengan masa yang lalu 0:48 sambil menatap optimisme dengan masa 0:51 depan dan juga menikmati [musik] 0:54 Ramadan tahun ini. Terima kasih. 0:57 Asalamualaikum warahmatullah. 0:59 wabarakatuh. 1:04 [musik] 1:10 Asalamualaikum warahmatullahi 1:11 wabarakatuh. 1:12 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:13 wabarakatuh. 1:14 Pendengar pemirsa ee Rasil, 1:17 hari ini di bulan Ramadan yang mulia ini 1:21 kita dengan izin Allah 1:25 dipertemukan 1:26 dengan Kang Kana. 1:29 karena itu kalau saya baca gelarnya itu 1:32 profesor, doktor, master pendidikan, 1:35 komunikasi, penyiaran sebagainya. 1:38 Kemudian beliau ternyata dalam 1:40 keseharian lebih fokus pada bagaimana 1:45 memperbaiki pemikiran umat agar bisa 1:48 lebih produktif, bisa lebih berdaya guna 1:53 dalam rangka meningkatkan kemaslahatan 1:56 umat khususnya bangsa Indonesia. Kurang 1:57 lebih gitu ya, Prof. 1:58 Betul. Insyaallah mudah-mudahan. 2:00 Baik. Jadi, sore ini ee pada hari ini di 2:03 bulan Ramadan ini kita berbincang kepada 2:05 beliau topiknya adalah bagaimana bulan 2:08 yang mulia ini 2:10 bisa kita jadikan sebagai 2:16 langkah-langkah untuk meningkatkan 2:18 produktivitas umat Islam di Indonesia. 2:22 Karena tingkat produktivitas kita 2:25 ternyata jauh di bawah tetangga-tetangga 2:28 kita. 2:28 Padahal kita seogianya Prof kan kuntum 2:31 khairul ummah, sebaik-baik ummah. 2:33 Betul. 2:34 Nah, jadi pendengar pemirsa sekalian di 2:36 sini ada teman-teman ada Kang Agus, ada 2:41 teman-teman dari yang sedang PKL bersama 2:45 kita. 2:46 Jadi kita mau bahas tentang 2:49 produktivitas 2:51 sehingga 2:53 ujungnya kita berharap bahwa 2:56 ee pendengar akan meningkat 3:00 kesadaran 3:02 tentang pentingnya produktivitas 3:04 menuju kemaslahatan umat dan bisa 3:07 berperan lebih baik, lebih banyak dalam 3:11 penanggulangan kemiskinan. Itu yang 3:13 pertama 3:14 Prof. Yang kedua adalah bahwa umat Islam 3:18 ini adalah sebaik-baik umat. 3:20 Heeh. Khairu ummah. 3:21 Khairu ummah. 3:22 He. 3:22 Nah, dalam konteks ini kan kita perlu 3:25 melakukan satu perbuhan pemikiran. 3:27 Betul. 3:27 Nah, makan hari ini sebagai pakar dalam 3:29 bidang itu kita mau mohon dan semoga 3:33 dicatat Allah sebagai amal saleh dan 3:35 ilmu yang diamalkan. Prof. 3:36 Am. Amin. Amin. Amin. 3:37 Baik, silakan Profesor. Oke, terima 3:40 kasih pendengar Rasil dan juga pemirsa 3:44 TV Rasil. 3:46 Selamat kita hari ini sudah memasuki 3:49 bulan Ramadan dan kita mudah-mudahan 3:52 dengan Ramadan yang kita jalani pada 3:54 tahun 1447 ini jauh lebih baik 3:57 dibandingkan dengan Ramadan-Ramadan 3:59 tahun lalu. 4:00 Amin. 4:00 Karena perintah Nabi, siapa yang hari 4:03 ini sama maka dia termasuk orang yang 4:05 merugi. Siapa yang hari ini lebih buruk 4:08 dia orang celaka. 4:10 Orang beruntung itu adalah orang yang 4:16 itulah orang yang beruntung itu. Nah, 4:18 sebab itulah 4:19 jangan sampai kita sudah mengulangi 4:21 puasa ada yang 60 kali berarti sudah 4:23 usianya di atas 60 tahun kan. 4:25 Iya. 4:25 Karena kan puasa wajib itu sudah harus 4:27 akil balig dulu. 4:29 Akil balik itu kan rata-rata yang usia 4:31 15-an yaitu 4:32 ya. Berarti di atas 10 kan. Berarti 4:34 kalau 60 kali berarti usianya sudah 4:37 70-an lebih ya kan. Nah, sudah 4:40 diulang-ulang puasa ini, apakah kemudian 4:43 membangkitkan kesadaran kita untuk 4:45 menjadi berproduktif ataukah justru 4:48 malah sebaliknya? 4:50 Karena kalau saya coba amati ketika saya 4:52 ngisi di banyak-banyak perusahaan ketika 4:54 Ramadan itu bukannya meningkat aslinya 4:57 produktivitas malah tambah turun. 5:00 Kenapa? Kenyataannya kalau bulan Ramadan 5:03 masuk kerja lebih siang, pulang kerja 5:05 lebih awal. Iya. 5:07 Harusnya itu saya pernah mengusulkan di 5:09 perusahaan-perusahaan ketika saya 5:10 diundang datang lebih pagi, pulang lebih 5:14 sore. Alasannya kenapa? Woh, diprotes 5:17 kita. Karena di rumah itu biasanya 5:20 apalagi di awal-awal Ramadan ikut 5:23 tarawih bersama gitu. Padahal tarawih 5:26 tuh sunah. 5:27 I 5:27 iya kan? Tarawih kan bisa di rumah. Ini 5:30 mohon maaf bukan dalam rangka untuk 5:33 mengkritisi ya. Tapi mau jadi kritisi 5:35 juga enggak apa-apa sih. 5:37 Sepanjang kan lebih baik. 5:38 Iya. Selama itu untuk perbaikan. Kenapa 5:42 saya ini termasuk bukan hanya di Ramadan 5:45 yang saya coba amati dan juga saya 5:48 kritisi. Termasuk yang saat ini lagi 5:51 ramai dan dengan waiting list namanya 5:53 haji. 5:54 Iya. 5:55 Ya kan? Karena setelah Ramadan itu kan 5:58 ada yang namanya Syawal. Setelah Syawal 6:01 ada Zulhijah. 6:02 Zulhijah 6:03 itu orang ngantri. gitu nungguin 6:05 bertahun-tahun begitu sudah haji 6:06 begitu-begitu aja. 6:07 Iya. Iya. I 6:08 itu. Nah, sebab itulah makanya kenapa 6:11 itu ada bulan haji diawali dengan 6:13 Ramadan dulu. Harusnya diperbaiki dulu 6:14 di Ramadan. 6:16 Maka ada seorang ulama namanya Abu Bakar 6:18 Al-Waraq Albalhi. 6:20 Beliau ini adalah pamannya Imam 6:22 Tirmidzi. 6:23 Beliau itu menyampaikan 6:26 Rajab itu syahru zar'i. 6:29 Rajab ini bulannya menanam. He. 6:32 Iya kan? Gitu. tu. Dan ketika datang 6:36 bulan Syakban itu bulannya untuk merawat 6:40 ya, bannya untuk menyiram, bulannya 6:43 untuk menjaga. Begitu datang bulan 6:46 Ramadan itu bulannya bulan panen. 6:49 Nah, termasuk berarti panen 6:51 produktivitas 6:53 gitu kan. 6:54 Iya. 6:55 Nih kenyataan enggak dibalik 6:57 gitu kan. 6:59 Bulan Ramadan bulan tiduran. Karena 7:02 katanya tidur adalah ibadah. 7:04 Itu itu masalah yang harus diluruskan. 7:08 Harusnya Ramadan tuh bulannya produktif. 7:11 Karena Nabi yang menjadi uswahnya kita, 7:15 Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam 7:17 itu memberikan kepada kita sebuah 7:20 pembelajaran. Apa pembelajarannya? Ada 7:23 sebuah perang besar namanya perang 7:26 Badar. itu perang Badar itu bukan perang 7:29 main-main. Itu perang besar dan itu 7:32 terjadi di bulan Ramadan 7:35 yang kemudian memang gini itu kan karena 7:37 membangun tentang sebuah kesadaran 7:39 memang tidak mudah. Saya seringki untuk 7:43 membangun sebuah karakter itu perlu 7:45 tahapan. 7:46 Apa tahapan-tahapan yang harus dilakukan 7:48 itu? Ada enam tahapan saya menyebutnya. 7:51 ada yang namanya to know, 7:54 kemudian to learn, to feel, to act, to 8:00 habit, and to karakter. Kalau sudah pada 8:03 level karakter, maka awareness itu akan 8:05 muncul gitu. 8:08 Awareness untuk apa? Awareness sesuai 8:10 dengan apa yang kita harapkan. 8:12 Jadi memang untuk bisa memunculkan 8:15 produktivitas di kalangan orang-orang 8:17 yang beragama ya. Karena selama ini yang 8:22 menjadi sorotan bahkan mohon mohon maaf 8:24 ya mungkin ini akan menuai kritik gitu 8:28 ada yang kemudian menyampaikan seorang 8:30 pakar dan saya sependapat sebetulnya 8:33 gini negara mana yang dengan menggunakan 8:36 konsep ajaran Islam negaranya maju 8:39 i 8:40 gitu. Negara mana yang negara dengan 8:43 menggunakan konsep Islam negaranya maju. 8:46 Nah, sementara dan 8:48 dan statement itu sering digunakan untuk 8:50 mendiskreditkan Islam juga. 8:51 Iya. Tapi sebenarnya kalau saya, saya 8:53 bukan dalam rungkuk bukan dalam rangka 8:55 mendeskreditkan karena ini sekarang 8:57 sudah mulai 8:58 ada terjadinya pergeseran 9:00 ya. 9:01 Sementara gini, kalau kita coba 9:02 flashback ke belakang meskipun ini 9:04 adalah pernah terjadi tapi ini yang 9:07 menjadi sebuah kebanggaan itu kan dulu 9:09 gitu. Kalau anak sekarang itu 9:10 kayak ibarat orang-orang tertentu bilang 9:12 gini, "Ini kan dulu 9:15 sawahnya engkong saya, ini kan dulu 9:17 kebunnya ayah saya, ini kan dulu rumah 9:21 punya bapak saya." Kemudian dijawab sama 9:24 yang sudah punya rumah, "Itu kan dulu. 9:26 Sekarang ini rumah saya." 9:27 Dulu. Iya. Iya. 9:29 Nah, itu jangan sampai seperti itu umat 9:30 Islam sekarang kita hanya sekedar bangga 9:33 masa lalu. Harusnya masa lalu itu kan 9:36 sejarah. 9:37 Makanya Nabi menyampaikan 9:40 harusnya kita ini hari ini lebih baik 9:42 dibandingkan hari kemarin gitu kan. Dan 9:45 orang beruntung itu adalah orang yang 9:46 hari ini lebih baik dibandingkan hari 9:48 kemarin. 9:49 Dan untuk tetap baik stabil itu Allah 9:52 memberikan kepada kita sebuah 9:53 pembelajaran melalui ayat Al-Qur'an yang 9:57 seringki kita hanya dibaca di bulan 9:59 Ramadan hanya mengejar khatam. 10:01 Hm. H. Enggak pernah coba kita dalami 10:06 tentang kandungan apa yang terkandung di 10:08 dalam Al-Qur'an. 10:10 Sebab itulah maka sekarang mohon maaf 10:13 banyak saya sekali lagi mohon maaf ribu 10:15 maaf bukan melemahkan para rumah tahfiz 10:20 yang banyak menghafal Al-Qur'an tapi 10:23 tidak sedikit yang hafal Al-Qur'an 10:24 ngelawan sama orang tua 10:27 dan kemudian ketika bekerja enggak 10:29 nguasain apa-apa. 10:31 Yang cakep itu adalah mereka juga hafal 10:33 Quran, akhlaknya bagus, kemudian 10:36 preditivitasnya bagus. Kan saya malu 10:39 Indonesia yang konon katanya mayoritas 10:41 Islam gitu, tapi angka korupsinya 10:44 tinggi. 10:45 Iya. 10:45 Tadi saya sampaikan di salah satu 10:47 perusahaan BUMN, 10:50 saya miris gitu loh ngelihatnya. Belum 10:52 lama ini kan hari ini pun ada dua yang 10:54 ketangkap. 10:55 I 10:55 lah. Iya. Ya kan [tertawa] 10:58 ott gitu kan. Dan itu biasanya pakai 11:00 nama-nama Islam. 11:02 Iya, betul gitu. Makanya nama saya 11:05 enggak pakai nama Islam. Saya agak umum. 11:07 Kana Suryadilaga. Persis seperti jawara 11:10 lah. Seperti Safril. Kalau Safril Lubis 11:13 ada Safrilnya [tertawa] masih ada. 11:16 Iya. 11:17 Kalau saya betul-betul kayak orang Hindu 11:20 lah. [tertawa] 11:21 Iya. Mangkan atau Prof 11:24 ini kan hari ini kita berbincang yang 11:26 mendengar kita itu ada para profesional. 11:28 Heeh. Heeh. 11:29 Karena ini pada di rumah nih. 11:30 Betul. 11:31 Kemudian ada ibu-ibu yang tidak muda 11:34 lagi. 11:35 Heeh. 11:36 Ada juga ibu-ibu yang masih muda sekali. 11:38 Ada remaja dan sebagainya. 11:40 Tentu kita dalam bincang kita ee pada 11:44 saat ini 11:47 apa namanya? Bincang di mana tamu-tamu 11:50 Rasil. 11:51 Heeh. 11:51 Kita namanya bincang bersama Rasil. 11:54 Betul 11:54 ya. Memahami bisa merenungkan. bisa 11:59 membangun image 12:00 di pikiran kita. 12:01 Heeh. 12:02 Bahwa ternyata umat Islam itu dengan 12:05 kaidah yang digambarkan oleh agama 12:07 bisa menjadi benar-benar sebaik-baik 12:09 umat karena produktif, bekerja keras dan 12:12 sebagainya. Betul. 12:13 Saya ingat di dalam surah Albalad, 12:15 Ustaz, falaq tahamal aqabah. 12:17 Heeh. 12:18 Ternyata kan Allah mau kita itu 12:20 mengambil jalan yang mendaki dan sukar, 12:22 kan? 12:23 Betul. Memang untuk sukses itu harus 12:24 begitu. Nah, jadi artinya 12:28 kalau Allah mendorong kita semua 12:31 Heeh. Heeh. 12:32 untuk siap-siap bekerja keras. 12:34 Heeh. 12:35 Bukan bekerja keras, Ustaz. Bekerja 12:36 ekstra keras. 12:37 He. 12:38 Istilahnya sekarang itu adalah 12:41 apa namanya? All out. 12:42 All out ya. 12:43 Nah, dalam konteks ini mungkin Prof. 12:47 apa kira-kira yang para pendengar kita 12:49 dengan segala level ee kompetensi dan 12:52 usia tadi 12:53 perlu melakukan perubahan dalam 12:55 pemikirannya 12:57 agar elemen produktivitas ini mulai bisa 13:00 bergulir 13:01 he 13:02 di kalangan umat Islam 13:03 yang menjadi bagian juga berkulirnya 13:06 produktivitas bangsa ini gitu. 13:08 Betul. Betul. Maka saya bilang tadi 13:11 sebagaimana pendiri pada apa para 13:13 pendiri negeri ini, founding father 13:15 negeri ini itu untuk membangun agar 13:17 Indonesia tetap jaya menjadi Indonesia 13:19 Raya. Maka strategi para founding father 13:22 ini dia membuat ee sebuah statement yang 13:27 kemudian diabadikan menjadi lagu 13:28 kebangsaan yaitu Indonesia Raya 13:31 itu. Maka yang harus dibangun adalah 13:33 bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. 13:36 Sekarang ini kebalik badannya dulu, 13:39 jiwanya terabaikan. 13:41 Yang repot jangan-jangan badannya juga 13:43 enggak dibangun. 13:44 Nah, iya badannya pun enggak terbangun 13:46 ya kan. Akhirnya apa? Berantakan. 13:48 Maaf mumpung begini. Bagaimana sekarang 13:50 masih remaja di rumah sakit apa beberapa 13:53 waktu yang lalu bagaimana banyak sekali 13:55 remaja yang sakit gula misalnya. 13:56 Betul. 13:57 Nah, artinya saya konsern masalah 13:59 bangunlah badannya ini saja pun 14:02 memprihatinkan. 14:04 Nah, jadi tentu ini dua-dua harus 14:06 dibangun. 14:07 Betul. Itulah konsep keseimbangan. Saya 14:09 nulis ee Bang Lubis, saya nulis buku 14:12 judulnya The Balance W, jalan 14:14 keseimbangan. Di dalam buku The Balance 14:16 W itu itu ada konsep namanya map to 14:18 rich, peta menuju kaya. Dan orang Islam 14:22 itu memang harus kaya. supaya menjadi 14:25 kaya itu harus cerdas dan supaya 14:28 kekayaannya sustin itu bukan hanya 14:31 sekedar cerdas secara intelektual, tapi 14:33 cerdas secara emosi, cerdas secara 14:34 spiritual. Itulah yang namanya konsep 14:36 keseimbangan. 14:37 The balance of 14:38 Iya. The balance wise. 14:40 The balance. 14:41 The balance wise itu ada konsepnya 14:44 namanya map to reach concept ya, peta 14:47 menuju kaya. Tapi itu akronim. Eh, 14:49 maximiz action itu ma-nya kan map to itu 14:53 kan. 14:54 Kemudian ada namanya ee cuma di sini map 14:57 tois singkatannya P-nya double. Kalau 15:00 map dalam bahasa Inggris kan P-nya satu 15:02 kan. Kalau ini P-nya double. 15:03 Map. 15:04 Iya. Memang saya memiliki pemahaman 15:06 petanya lebih gede gitu. 15:07 Oke. [tertawa] Oke. 15:09 Itu bisa-bisanya aja itu akronim 15:10 sebetulnya kan. Tapi memang memiliki 15:12 makna peta menuju kaya. Orang meskipun 15:15 ada peta ya itu peta yang menunjukkan 15:18 kekayaan. Kalau orang enggak bisa baca 15:20 peta ya enggak ketemu itu kekayaannya. 15:23 Jadi harus dua-duanya. Maka cerdas 15:24 secara intelektual, cerdas secara 15:25 emosional, cerdas secara spiritual. 15:28 Nah, di dalam e menerapkan map to itu, 15:32 itu diawali dengan action dulu. Jangan 15:35 ke planning. Kalau yang namanya konsep 15:37 manajemen pada umumnya planning pertama. 15:40 Kalau saya enggak, 15:41 saya rubah action dulu karena Islam 15:43 mengajarkan action dulu. 15:44 Oh, gitu ya. Oke. Oke. 15:45 Iman itu enggak akan ada manfaatnya 15:47 kalau kemudian tidak diwujudkan dalam 15:49 bentuk praktik. 15:51 Makanya yang namanya iman itu atasdiq 15:53 biqolbi aqwalu bilisan wa aqwalu bil 15:57 af'al atau bil arkan. 15:59 Jadi harus action dulu. Bagaimana 16:02 mungkin kita akan tahu tentang kesalahan 16:04 kalau kita enggak melakukan. Nah, 16:06 setelah salah baru kita rencanakan 16:08 bikin perencanakan perbaikan. 16:09 Nah, perbaikan. 16:11 Setelah planning ada yang namanya prop. 16:14 Propur itu adalah peduli kepada 16:15 orang-orang yang kekurangan gitu. propah 16:19 propur ya kan propur ya. 16:22 Nah, bagaimana wujudnya untuk menjadi 16:25 propur itu ya kita harus kaya, 16:28 harus kaya gitu kan. Nah, supaya menjadi 16:30 kaya kita ini harus berproduktivitas 16:34 gitu. 16:37 yang benar itu harus didasari dengan 16:40 ilmu. Makanya Allah dalam Alquran surat 16:42 16 ayat 78 itu Allah menyampaikan 16:56 itu produktivitas 16:58 gitu. Nah, itu perangkat yang diberikan 17:01 oleh Allah yang selama ini perangkat ini 17:03 mubazir 17:05 enggak pernah dipakai 17:07 gitu. Mubazir kenapa? Kita dikasih 17:09 pendengaran hanya mendengar hal-hal yang 17:13 menyenangkan saja perasaan kita gitu 17:15 kan. Ngedengerin lagu sambil rebahan 17:17 gitu kan. Makanya lihat anak-anak yang 17:20 genzy ini pakai headset ya kan? Pakai 17:24 apa? 17:25 Pakai headset. 17:26 Iya headset ya kan itu coba aja. Nah, 17:29 kalau kita generasi-generasi itu mungkin 17:31 saya enggak begitu betah gitu kan. 17:32 Sama Ustaz 17:33 sama [tertawa] 17:34 saya enggak begitu betah. Saya justru 17:37 kayak belanja aja saya enggak pernah 17:38 yang namanya online-online. 17:40 Oh, gitu. 17:41 Iya. Saya lebih senangan offline 17:43 supaya ada uang baru belanja gitu. 17:45 Iya, [tertawa] ada uang ada belanja gitu 17:48 kan. Nah, jadi kembali lagi kita ini 17:51 untuk supaya menjadi cerdas itu ya 17:53 memang harus dipakai itu perangkat itu 17:56 yang sudah diberikan oleh Allah 17:57 supaya apa nanti? Nah, kan Allah sudah 18:01 menciptakan kita itu kan klaim dari 18:04 Allah kuntum khairu ummah ukhrijat 18:06 linas. Tapi itu kan ada syarat itu untuk 18:09 menjadi khairu ummah itu apa itu? 18:11 Tamuruna bil maruf watanhaun munkar. 18:15 Sekarang itu jarang orang untuk mencegah 18:18 kemungkaran karena resikonya besar ya. 18:22 Kalau mencampaikan yang menyampaikan 18:23 yang makruf masih banyak yang berani ya 18:26 sehingga tidak balance gitu. 18:29 Iya, 18:29 Prof. Ini kan kaitan dengan keseimbangan 18:32 yang yang Mang Kana sampaikan tadi. 18:34 Heeh. 18:35 Ee kan dikatakan bahwa kemiskinan itu 18:39 dekat sekali dengan 18:40 kekufuran. 18:41 Kekufuran. 18:42 Heeh. Nah, berarti dalam konteks 18:45 pembicaraan kita pada Ramadan ini, 18:48 Heeh. 18:48 Kalau perubahan tentang produktivitas 18:53 di dalam diri setiap muslim 18:55 itu bisa berujung pada upaya-upaya 18:58 mencegah kemungkaran melalui 19:00 pengentetasan kemiskinan. Kurang lebih 19:02 gitu. 19:03 Betul. 19:03 Apa yang perlu kita lakukan lagi tu? 19:05 Nah, sebab itulah maka harus dicerdaskan 19:07 dulu. Karena tanpa ada kecerdasan 19:10 maka kita enggak bisa ngapa-ngapain. 19:12 Maka gini, sebetulnya kalau dari sisi 19:15 apa yang dilakukan oleh pemerintah 19:16 dengan MBG, saya setuju. 19:19 Karena kan gini, otak itu perlu nutrisi, 19:21 otak ini perlu vitamin. Nah, cuma nanti 19:24 pelakunya nih, pelakunya ini bertanggung 19:26 jawab apa enggak, terus anggarannya itu 19:29 dari mana? Harus dipikirkan itu. Kenapa? 19:32 Ya memang kalau ngikutin alur ini 19:35 strukturnya ya secara hukum alam ya 19:39 secara hukum alam tubuh ini akan sehat 19:42 kemudian bisa menerima terhadap ilmu 19:44 yang disampaikan oleh para pengajar oleh 19:46 siapapun kemudian ditangkap dan disimpan 19:49 dalam memori otak besar kita jadilah 19:51 orang yang cerdas gitu kan dengan 19:53 perangkat tadi yang sudah diberikan oleh 19:55 Allah pendengar penglihatan hati 19:57 gitu 19:58 maka bagaimana mungkin bisa belajar 20:00 perut keroncongan nih I kan. Kemudian 20:03 otak enggak ada nutrisinya kan. Otak ini 20:06 kan yang sekian jumlah miliar neuron itu 20:09 i 20:10 itu kan perlu ada namanya sinep medan 20:12 magnet yang memang disatukan ada yang 20:14 namanya celah supaya itu menyatu antara 20:17 newuron yang satu dengan nyoron yang 20:18 lainnya mis menyatu maka itu perlu 20:21 nutrisi, perlu vitamin, perlu protein 20:24 gitu kan. Maka kemudian dibuatlah itu ya 20:27 oleh pemerintah namanya MBG gitu kan. 20:29 Meskipun ya dalam prosesnya ada yang 20:32 keracunan, ada yang ini dan itu. Nah, 20:35 itu tinggal perbaikan ya mungkin ya. 20:37 Nah, untuk bisa meningkatkan 20:39 produktivitas memang harus dicerdaskan 20:41 dulu. Enggak bisa. Makanya Rasulullah 20:44 itu konsen dalam pembinaan SDM 20:47 yang awalnya tuh menyadarkan orang-orang 20:49 masyarakat di Makkah meskipun kelihatan 20:52 dalam sejarah Nabi Muhammad itu dalam 20:54 tanda petik itu mental ya kan dari 20:56 Makkah 20:57 i 20:57 selama 13 tahun dan kalau dalam proses 21:01 itu penyadaran itu dianggap para 21:03 sejarawan tidak berhasil secara kasat 21:06 mata meskipun kalau saya ngelihatnya 21:09 cukup berhasil karena ditanamkan nanti 21:11 tentang awareness Makanya di sana enggak 21:13 ada ayat-ayat perintah tentang ibadah 21:14 kan kebanyakan tentang akidah, 21:17 tentang keyakinan. Baru setelah Madinah, 21:20 periode Madinah itu lebih banyak memang 21:23 aplikasi kan tentang ibadah [berdehem] 21:26 kan segala macam action yang Mangkana 21:28 sebut tadi. 21:29 Betul. Nah, itu maximize action. Nah, 21:31 dilakukan maka 21:33 yang tadinya Yastrib yang begitu sangat 21:35 luar biasa porak-porandanya. Jangankan 21:38 orang datang memikirkan aja ogah gitu 21:40 kan bahasa Betawi itu kan datang aja 21:43 ogah gitu memikirkan aja jangankan 21:45 datang gitu tapi begitu datang Nabi 21:47 dirubah yang jadinya Yasrib jadi 21:49 madinatun nabi menjadi madinatul 21:51 munawarah sampai saat ini. Dan itu 21:54 menjadi sebuah percontohan bagi 21:55 masyarakat Barat yang disebut dengan 21:57 civil society 21:59 ya. Masyarakat madani masyarakat yang 22:01 luar biasa. Kenapa? karena pasar 22:04 dibangun, tatanan pemerintah sistem yang 22:06 begitu luar biasa, modern sampai 22:09 kemudian itu tatanan politik pun sangat 22:11 luar biasa. Ekonomi begitu sangat maju. 22:14 Belum ada pernah terjadi pasar yang luar 22:16 biasa kecuali yang dibangun oleh Nabi. 22:18 Kalau enggak salah namanya pasar Ukas. 22:20 Betul. Betul. Itu itu luar biasa yang 22:23 belum pernah terjadi. Yang sekarang 22:24 sudah mulai hilang kali kan. 22:26 Betul. 22:27 Iya. 22:27 Iya. Prof. pendengar ee 22:31 Rasil 22:32 dan TV Rasil 22:34 kita berbincang-bincang dengan Profesor 22:37 Kana. Nama beliau lengkapnya adalah Kana 22:40 Sutrisna, Master of Pendidikan. Kemudian 22:45 sarjana komunikasi, Magister Manajemen, 22:48 kemudian psikologi ekonomi Islam. He 22:53 ini kehadiran beliau mari kita jadikan 22:57 sebagai 22:59 trigger. 23:00 Heeh. 23:00 Mendorong bahwa kita mulai memahami. He. 23:04 Karena tadi ustaz kan mengatakan masalah 23:06 kecerdasan. 23:07 Betul. 23:07 Kecerdasan dengan ilmu inilah baru 23:09 produktivitas itu bisa didorong untuk 23:11 lebih tumbuh. 23:12 Betul. Nah, pendengar pemirsa sekalian, 23:15 mari kita dengarkan lanjutan dari 23:17 bagaimana Mangkana bisa mengajak kita 23:23 supaya lebih cerdas. 23:24 Heeh. 23:25 melalui pertambahan ilmu tentunya, 23:27 Ustaz. 23:28 Ee agar ujungnya menjadi lebih 23:31 produktif. 23:32 Arti mengadopsi 23:34 pola pikir, pola kerja yang lebih 23:37 produktif. 23:38 Silakan teruskan. Jadi pengalaman saya 23:40 gini kan, kembali lagi saya coba ee 23:42 angkat bahwa saya dulu dilahirkan dari 23:45 keturunan orang yang di orang tua di 23:48 bawah garis kemiskinan 23:51 untuk saya bisa keluar dari sana garis 23:55 itu, 23:56 saya menanamkan di dalam benak mindset 23:59 saya kebencian terhadap miskin. 24:02 Oke. 24:03 Iya. Kebencian terhadap kemiskinan. 24:05 Dan sebab itulah memang Allah membimbing 24:07 saya untuk masuk ke sebuah pondok, 24:09 pondok pesantren. 24:10 Oh, gitu. 24:11 Karena memang saya awalnya benci 24:12 terhadap kondisi di mana saya pengin 24:14 sekolah tapi orang tua enggak sanggup. 24:16 Maka kemudian saya kabur dibawa ee oleh 24:21 orang yang jualan minyak dari Tasik 24:23 gitu. Karena saya pesantrennya di Tasik 24:26 Ciawi ya kan 24:28 itu cukup lumayan lama karena sebenarnya 24:29 menghindari kekecewaan gitu kan awalnya. 24:31 Tapi ternyata memang Allah berkehendak 24:33 lain. 24:35 Dan dari sana kemudian saya bisa 24:37 melanjutkan sekolah, bisa sampai 24:40 kemudian kuliah sampai seperti saat ini. 24:43 Dan alhamdulillah 24:45 itu memang dengan saya memiliki 24:48 pendidikan, dengan memiliki ilmu 24:49 pengetahuan 24:51 orang menyebutnya sekarang namanya 24:52 kompetensi kan itu kan ee dengan 24:55 memiliki kompetensi 24:57 maka orang mulai melirik saya gitu. 25:00 Mengundang saya sebagaimana saat ini 25:02 rasil kemudian menganggap saya sebagai 25:03 tokoh padahal sebenarnya biasa saja gitu 25:05 kan. 25:06 Nah, ini tokoh beneran [tertawa] karena 25:07 merasa dirinya biasa saja gitu ya. Kalau 25:10 tokoh yang banyak itu merasa dia seperti 25:12 tokoh yang diangkat diri sendiri. 25:15 Diangkat oleh diri sendiri. [tertawa] 25:17 Aduh. 25:17 Ya, silakan. Terus 25:19 jadi saya kemudian diundang di mana-mana 25:22 bahkan diminta untuk membenahi sebuah 25:25 perusahaan BUMN yang sempat agak drop 25:28 gitu kan. Alhamdulillah dengan izin 25:30 Allah kemudian naik lagi gitu kan. Dan 25:33 kemudian kemarin saya juga diminta oleh 25:35 pemerintah Jakarta untuk ngebenahi ee 25:39 BUMD. 25:41 Saya diminta kemudian saya tawarkan 25:43 dengan sebuah program namanya 25:44 transformasi corporate culture 25:47 ya, perubahan tentang ee budaya 25:49 perusahaan gitu kan. 25:51 Dan supaya apa? Tentang produktivitasnya 25:53 naik gitu kan. Nah, produktivitas secara 25:55 personal itu kan ketika seseorang tidak 25:59 memiliki pemahaman dan pengetahuan. 26:01 Sehingga dengan minimnya pemahaman dan 26:03 minimnya pengetahuan itu enggak akan ada 26:06 yang namanya kesadaran karena enggak ada 26:07 informasi saya harus berubah tuh seperti 26:10 apa gitu kan. Nah, itu harus dikasih 26:11 tahu dulu. Makanya kan prosesnya to know 26:14 ya kan setelah to know ada to learn, ada 26:17 pembelajaran gitu kan dikasih tentang 26:19 yang namanya kasus-kasus. Kemudian 26:21 setelah dia belajar, coba dia rasani 26:24 gitu kan. Makanya to feel gitu kan. 26:27 Setelah dia oh iya kok enak ya 26:29 dibandingkan dengan coba dia 26:30 banding-bandingan meskipun kadang-kadang 26:32 ada orang ojo dibanding-banding kek gitu 26:33 kan ya memang harus dibandingkan gitu 26:36 memang Tuhan Allah Subhanahu wa taala 26:38 itu 26:39 itu menciptakan selalu 26:40 berpasang-pasangan. Ada susah, ada 26:42 senang, ada miskin, ada kaya, ya kan? 26:46 Ada siang, ada malam. sama itu. Coba 26:48 bandingkan kita bagaimana hidup yang 26:50 kemarin dengan hidup yang saat ini. Maka 26:53 itu Al-Qur'an melarang kita untuk 26:56 melupakan masa lalu. Meskipun memang 26:58 kadang ada orang yang coba melupakan 27:00 karena masa lalunya tidak mengenakkan. 27:03 Tapi sebenarnya masa lalu itu memang 27:05 enggak boleh dilupakan. 27:07 Sesuai dengan ayat Al-Qur'an surat 27:08 Al-Hasr ayat 18 itu kan. Wal tangur 27:11 nafsu ma qodamq. sudah kau perhatikan 27:13 tentang sesuatu yang sudah kau lakukan 27:15 untuk hari esok gitu kan. 27:18 Jadi jangan pernah alergi dengan masa 27:20 lalu. Saya enggak pernah melupakan tuh 27:22 masa lalu itu. Saya tetap saya ingat 27:25 untuk apa? Membandingkan dengan saat ini 27:27 sehingga kita nih bisa bersyukur. Oh, 27:29 thank you God. Terima kasih Tuhan, 27:31 terima kasih Allah. Hari ini engkau 27:34 memberikan kepadaku dengan sesuatu yang 27:36 terbaik. Tapi kita terus harus ikhtiar. 27:38 Jangan kemudian kita nih mengeluh, 27:41 mengeluh mengeluh. menyalahkan siapapun, 27:43 menyalahkan orang, menyudutkan orang, 27:46 mendiskreditkan orang. Ah, itu kan 27:47 masalah. Nah, sebab itulah memang kalau 27:50 Allah itu menyampaikan ku anfusakum 27:53 waahlikum 27:54 wa ahlikum diri, 27:56 keluarga baru yang lain gitu kan. Maka 27:59 kalau kita naik pesawat, pesawat ketika 28:01 turbulen ya kan sang awak pesawat 28:03 pramugari atau pramugaranya nanti kalau 28:05 ada terjadi sesuatu ee apa namanya? 28:08 goncangan itu akan turun namanya untuk 28:10 alat pernapas sebelum yang lain pakai 28:12 dulu sendiri baru yang lain gitu kan 28:16 harus perhatiin diri sendiri dulu. 28:18 Jadi kalau kita pengin sedekah ya kayain 28:20 dulu sendiri gitu kan. 28:22 Kalau kita pengin memajukan perusahaan 28:24 ya kasih contoh dulu gitu kan. Berarti 28:27 kan kita dulu yang ngelakuin kan action 28:29 dulu. Makanya setelah ee to act eh apa 28:33 ee to know, to learn, to feel, to act, 28:38 lakukan gitu kan. Nah, kalau ngelakukan 28:40 sekali itu belum profesional namanya. 28:43 Profesional itu kan sudah dilakukan 28:44 berkali-kali terus 28:45 menjadi habit. 28:46 Menjadi habit. 28:47 Oke. 28:47 Iya kan? Kalau sudah jadi habit 28:49 sebagaimana kita dulu mungkin Bang Lubis 28:51 waktu kecil sama orang tuanya pagi-pagi 28:54 makan mangga gitu diomelin kan makan 28:57 mangga pagi-pagi. Emang kenapa? Mencret 29:00 kamu entar. Iya kan doktrin begitu kan. 29:02 Dan mencret beneran. [tertawa] 29:03 Mencret beneran gitu kan. Terus besoknya 29:06 makan pepaya. Kamu makan pepaya 29:08 pagi-pagi buta begini orang masih dingin 29:11 begitu kan. Terus ngapain dong Bu? Makan 29:14 nasi. Wah gitu kan. Pagi-pagi suruh 29:16 makan nasi kan? 29:18 Nasi nasi doktrin terus terus itu 29:20 dikasih terus nasi. Akhirnya sampai 29:23 sekarang itu doa nasi. 29:25 Baik. Ini menarik sekali 29:27 Profesor Kana. 29:28 Tadi kita Prof bicara tentang habit H 29:31 ya kan salah satu waktu tidur yang enak 29:35 sekali itu habis sahur. 29:37 Betul 29:38 bahkan sebelum matahari terbit. 29:40 Sedangkan Rasulullah menggambarkan itu 29:42 adalah salah satu waktu yang dilarang 29:45 tidur. 29:45 Betul. 29:46 Nah, ini sekalian mengingatkan [musik] 29:48 pendengar kita. 29:50 Jangan tidur setelah sahur sampai 29:51 matahari terbit. 29:52 Saya ingat Dok suatu waktu di Vietnam 29:55 Heeh. 29:56 Ini jam .00 Pagi ini suara orang senam 29:58 ini ada apa gitu ya. 29:59 Terus kita lihat itu mereka senam jam 30:02 0.30 pagi mereka sudah senam. H 30:05 senam kira-kira 45 menit baru mereka 30:07 bekerja. 30:09 Menjadi pertanyaan saya begini, Dok. Lah 30:11 umat Islam sendiri kan sudah disuruh 30:12 bangun pagi. 30:13 Heeh. 30:14 Dan jangan tidur lagi sampai matahari 30:16 terbit. 30:17 Nah, ini kan bagian dari habit yang 30:20 menjadi ciri dari orang-orang yang 30:23 produktif gitu. Apa yang perlu dilakukan 30:26 para pendengar kita 30:27 tentang menata habit supaya 30:30 menggambarkan habit yang produktif ini? 30:32 Ayo. Tadi kan saya bilang tahapan itu 30:34 tetap harus dilakukan yaitu dengan to 30:36 know itu. To know itu adalah transfer 30:38 knowledge. 30:40 Kita ngasih tahu sama mereka dengan 30:42 keilmuan, dengan dasar rujukan yang 30:44 baik, dengan dasar rujukan yang benar 30:47 gitu kan. Kita umat Islam itu kan punya 30:49 Al-Qur'an. Makanya saya bilang gini, di 30:51 Ramadan ini tolong sekarang rubah 30:53 paradigmanya. Bukan hanya sekedar 30:55 mengkhatamkan jumlah ayat yang dibaca, 30:58 tapi kita coba dalami tentang makna. 31:02 Karena Al-Qur'an ini kan syahru ramadan 31:04 alladzi unzila fihil Quran hudan linnas. 31:09 Ya kan? Al-Qur'an itu petunjuk bagi 31:11 manusia. Bagaimana mungkin Al-Qur'an 31:13 bisa menjadi petunjuk kita kalau hanya 31:15 baca Arabnya doang 31:17 gitu kan. Cobalah K sekarang itu kan 31:19 dengan kemudahan teknologi kita pakailah 31:22 gitu kan. 31:24 Kita bisa menggunakan handphone, bisa 31:26 menggunakan laptop, bisa menggunakan 31:28 komputer. Kita buka itu Al-Qur'an, kita 31:32 baca itu tentang asbabun nuzulnya, baca 31:34 tentang terjemahnya, baca tentang maksud 31:37 tujuannya. sehingga itu Al-Qur'an bisa 31:40 menjadikan guiden gitu kan untuk bisa 31:42 menjadi orang-orang yang berubah dengan 31:44 Al-Qur'an itu. Karena Al-Qur'an itu 31:46 memang petunjuk. Hudan linnas wainatil 31:50 huda wal furqan. Bisa membedakan mana 31:52 yang hak, mana yang batil gitu kan. 31:55 Selama ini enggak gitu kan. 31:57 Al-Qur'an itu ya woh kalau baca satu 32:00 huruf pahalanya 10. Saya bukan 32:02 mendiskreditkan tentang hadis, enggak 32:05 itu. Nah, itu pemahamannya harus jauh 32:07 lebih holistik gitu, harus jauh lebih 32:09 mendalam supaya apa? Orang lain sudah 32:12 bisa sampai ke bulan gitu. Kita masih 32:14 mikirin aja tentang itu. 32:18 Iya kan? Nah, zaman ini mohon maaf Bang 32:21 Lubis di abad keet7uh 32:24 karena memang gayanya para sahabat, para 32:27 ulama saat itu memahami Al-Qur'an secara 32:31 mendalam maka kemudian sudah bisa ngukur 32:33 jarak matahari dengan bumi. 32:37 Mana ada sekarang ulama kayak model 32:38 sekarang begitu. 32:40 Sekarang disebut ulama itu kalau bisa 32:41 ceramah 32:42 dan mengutip banyak ayat-ayat. 32:44 Ah, hafal ayat, hafal dalil. Tapi kalau 32:47 ada orang yang kemudian dia mampu 32:50 menghasilkan tentang karya yang kemudian 32:53 bisa menentaskan kemiskinan, enggak 32:55 disebut ulama 32:58 gitu. Saya dekat sama Pak Kiril Tanjung 33:00 saya. Pak Hiril Tanjung saya bilang, 33:01 "Keren Pak, 33:02 Bapak lanjutkan. Itu jauh lebih ulama 33:05 dibandingkan ulama." Saya bilang, 33:06 "Karena Bapak bisa menghimpun orang 33:10 banyak untuk bisa menjadi wakilnya 33:12 Allah, membagikan rezekinya Allah." 33:16 itu kalau Pak Ceteng ngedengar saya 33:17 kebetulan suka kajian sama beliau 33:19 sama beliau. Oke 33:20 gitu. 33:20 Iya iya iya iya. 33:23 Baik. Ee [berdehem] Mangkana 33:26 topik kita pada saat ini di bulan 33:29 Ramadan yang mulia ini adalah bagaimana 33:31 kita menata pikiran. 33:33 Betul 33:33 supaya 33:35 paham to know yang tadi saya katakan. 33:38 Betul. 33:38 Kemudian dari situ menjadikan [berdehem] 33:40 itu sebagai pembelajaran to learn. 33:44 Ya kan? Memang dari learning itulah 33:46 datang ilmu. 33:47 Heeh. 33:48 Yang dengan ilmu itu kita menjadi cerdas 33:51 bisa memilah-milah bagaimana kita harus 33:53 bertindak. 33:54 Betul. 33:54 Nah, khususnya di bulan Ramadan ini 33:56 ternyata masalah proses pencerdasan itu 33:58 kan kerja dari semua orang 34:02 khususnya ulama 34:04 ya memang dihasil. 34:06 Kita sekarang sedang menggalakkan bahwa 34:10 semua narasumber 34:13 hendaknya berbicara tentang bagaimana 34:16 meningkatkan kemaslahatan umat termasuk 34:19 berbicara tentang produktivitas. 34:21 Heeh. He. 34:21 Nah, jadi pendengar pemirsa sekalian. 34:23 Heeh. 34:24 Saat ini 34:26 dengan kehadiran Profesor Kana. Heeh. 34:28 Kita berharap 34:29 kita mengambil satu pelajaran 34:31 learning tadi. Katakan 34:34 dengan pelajaran ini kita mulai merubah 34:37 mindset kitaul 34:38 menjadi satu habit. 34:39 Betul. 34:40 Yang produktif. 34:41 Betul. 34:41 Nah, salah satu seperti tadi contoh 34:43 sederhana 34:44 tidak tidur pada saat momentum itu 34:47 seharusnya adalah optimal 34:49 produktivitasnya gitu ya. 34:50 Betul. Betul. Betul. Jadi kan gini, 34:52 makanya kenapa Allah itu kan bersumpah 34:54 dengan menggunakan nama waktu kan. 34:56 Walas. 34:57 Iya. Dan waktu yang dipakai itu ada 34:59 empat kan yang dipergunakan oleh Allah 35:01 untuk bersumpah itu. Yang pertama adalah 35:04 wal fajar. Waktu fajar itu adalah waktu 35:06 produktif. 35:08 Yang kedua adalah ee wadduha. 35:12 Itu bagus. E waktu waduha itu 35:14 produktivitasnya harus lebih tinggi. 35:17 Kemudian wal asri itu waktu asar. 35:20 Iya. Ya. Kemudian yang keempat, wallail. 35:23 Oh, wallail. Ya, 35:23 wallail itu adalah waktunya istirahat. 35:26 Jadi kalau mau istirahat ya di lail itu 35:29 jangan dirubah Ramadan kemudian kita 35:32 melek malam i kan siangnya itu 35:36 amburadul. 35:38 Nah, itu dia gambaran dari tidur pun 35:40 sebagai ibadah itu. Ustaz. 35:41 Iya. Nah, itu coba pelajari apakah Nabi 35:45 itu lebih banyak melek di malam hari apa 35:48 enggak gitu kan. Karena memang banyak 35:50 yang dijadikan dalil-dalil gitu kan 35:52 sehingga di malam hari itu dimaksimalkan 35:56 untuk melek. Begitu siang harusnya 35:58 memang yang ee secara hukum alam 36:02 diciptakan oleh Allah untuk 36:03 berproduktivitas 36:05 itu malah dirubah. Malam juga enggak 36:07 bisa berproduktif karena memang gini 36:09 siklus tubuh itu malam itu memang 36:11 diciptakan oleh Allah untuk istirahat 36:13 gitu. Kalaupun tidak istirahat, Nabi pun 36:17 mengambil contoh hanya sepertiga malam 36:19 terakhir ya. Itu enggak full semalaman 36:23 gitu kan, melek semalaman gitu. Maka 36:25 tidak heran ada orang iktikaf dari sore 36:27 sampai pagi besoknya kerja itu masuk 36:30 semaunya 36:32 gitu. 36:33 Jadi, jadi Profesor karena dalam 36:36 pembicaraan kita malam ini pada waktu 36:38 ini ee kita banyak berbagi 36:42 he 36:42 pemikiran, diskusi 36:44 yang kita harapkan pendengar-pendengar 36:46 kita 36:47 berapapun umum mereka, apapun profesi 36:50 mereka, 36:51 tapi mampu mengadopsi perubahan ini 36:54 dalam pemikiranul. 36:55 Betul. 36:56 Yang ujungnya adalah 36:58 memperbaiki diri agar lebih produktif. 37:00 Betul. Mudah-mudahan dengan niat kepada 37:02 Allah ingin menjadi lebih produktif 37:05 dalam rangka 37:06 mencari rida Allah. 37:07 Betul. Betul. 37:08 Dengan rida Allah itu bisa berperan 37:10 dalam upaya baik penanggulangan 37:12 kemiskinan 37:13 maupun upaya-upaya peningkatan 37:15 kemaslahatan umat. Betul. Betul. 37:17 Dan dengan demikian kita berharap bahwa 37:19 Ramadan kali ini 37:20 Allah betul-betul tolong kita menjadi 37:23 insan yang lebih baik dari waktu ke 37:25 waktu 37:27 dalam refleksi sebagai insan yang 37:29 produktif. 37:29 Betul. Betul. Beliau menyampaikan, 37:32 "Sudah, bertindaklah, 37:35 take action." 37:36 Heeh. 37:37 Dan dari action itu nanti lakukan 37:41 perbaikan-perbaikan, bikin perencanaan 37:43 untuk melakukan perbaikan 37:45 dan seyogyanya perbaikan itu adalah 37:47 perbaikan yang berkesinambungan agar 37:49 hasilnya lebih baik, lebih baik, lebih 37:51 baik. Dan dengan gambaran seperti ini 37:54 umat akan meningkat kadar 37:57 produktivitasnya. 37:59 Nah, barangkali ee Mang Kane bisa 38:01 menjelaskan 38:03 langkah-langkah spesifiknya 38:05 apa yang perlu dilakukan 38:08 ya. Dan mungkin Mangkana juga bisa 38:10 cerita kalau dalam kondisi seperti ini 38:12 sehari-hari apa yang 38:14 yang Ustaz lakukan supaya jadi 38:16 pembelajaran bagi kita semua? 38:17 Oh iya. [berdehem] Saya biasanya kalau 38:18 Ramadan memang banyak kegiatan yang 38:21 memang saya lakukan dari sejak habis 38:24 subuh. Bahkan ada yang orang minta ngisi 38:27 untuk pencerahan di tengah malam gitu. 38:29 Oke. Oke. 38:30 Biasanya 10 malam terakhir gitu kan itu 38:32 full ya. meskipun kadang ya istirahatnya 38:36 jadi kurang gitu kan, tapi ya sudah 38:38 karena memang itu di kehendaki oleh umat 38:41 ya saya ikutin aja gitu kan sambil untuk 38:44 memberikan sebuah pencerahan kepada 38:47 masyarakat ya meskipun memang gini saya 38:50 sadar bahwa saya ini bukan siapa-siapa 38:52 gitu kan karena jangankan saya yang 38:54 bukan siapa-siapa, nabi saja kan sempat 38:56 ditegur ketika ee ya sebagai sosok 39:00 manusia ketika sudah berdakwah kok 39:02 hasilnya begini-begini saja. Allah 39:04 menyampaikan 39:05 anta mudakir 39:07 musitir. Hai Muhammad tugasmu hanya 39:10 menyampaikan yang merubah itu adalah 39:12 biar saya saja yang memberikan petunjuk 39:14 gitu kan. Nah dengan landasan itu saya 39:17 coba ikutinlah apa yang disampaikan oleh 39:19 baginda Nabi Muhammad sallallahu alaihi 39:20 wasallam dalam Al-Qur'an itu. Nah 39:23 biasanya kalau Ramadan itu kan kadang di 39:25 sebelum Ramadan aja ada namanya tarhib 39:28 Ramadan ya. Tarhib Ramadan itu jadwal 39:31 sudah penuh. Betul. Ah ya ya ya ya. 39:33 Terhib Ramadan. Setelah masuk Ramadan 39:36 itu ada kultum tarawih. Setelah tarawih 39:40 ada yang namanya kultum habis tarawih. 39:44 Oh masih [tertawa] ada lagi. 39:45 Ada itu. I kan 39:47 kemudian pulang nanti subuh ada kajian 39:49 subuh ya kan. Ada kajian duha, ada 39:52 kajian zuhur itu kemudian ada kajian 39:56 menjelang buka 39:58 sehari itu bisa enam tempat gitu. Jadi 40:01 kalau Ramadan itu saya memang 40:03 betul-betul bulan bergerak 40:05 produktivitas. Iya, action gitu kan. 40:08 Sehingga 40:09 bagi saya dan juga gini ee Bang Lubis, 40:12 saya ini sudah 7 tahun fitness. 40:15 Ah si. 40:17 Jadi meskipun Ramadan saya tetap lakukan 40:19 fitness. 40:20 Ah iya iya. 40:21 Yang kata orang puasa itu lemas itu 40:24 ternyata mindset 40:26 gitu. Mindset gitu kan. Nah, sebab 40:28 itulah 40:30 Islam melalui ajaran dari Allah yang 40:33 diturunkan kepada Rasulullah sadar betul 40:35 bahwa manusia itu punya kelemahan secara 40:37 fisik kalau enggak makan. Maka kemudian 40:41 disunahkan sahur gitu. Jangan 40:43 mentang-mentang karena kita ini kuat 40:45 enggak sahur. Kalau yang kuat ya ngarap 40:48 ngalap berkah gitu kan namanya itu 40:50 ngalap berkah sahur gitu kan. 40:52 Jadi ngalap berkah bukan jauh-jauh lah 40:54 di sahur tuh ada keberkahan gitu kan. 40:57 Nah. Nah, kemudian selain ngalap berkah, 41:00 kita kan dikasih oleh Allah tenaga 41:03 dengan makanan yang masuk ke fisik kan. 41:06 Nah, kemudian begitu sore kalau orang 41:08 yang memang biasa hanya sekedar 41:10 mengedepankan dimensi fisik dengan 41:12 makanan terus, mindset kita kebawa oleh 41:15 fisik. 41:16 Jadi fisik yang menguasai nurani. 41:19 Iya, fisik nguasai ruh kita 41:21 ya kan? Menguasai jiwa kita yang 41:23 akhirnya jadi lemah. Padahal, nah kita 41:26 ini harusnya kuat sesuai dengan mindset 41:29 kita. Saya coba lakukan itu, Bang Lubis. 41:32 Saya kalau Ramadan itu fitness, saya di 41:35 rumah kan punya alat beban, ada treatmal 41:37 meal 41:37 itu 1 jam menjelang buka itu saya 41:40 lakukan kalau lagi enggak ada isi 41:41 undangan ceramah. 41:43 Oke. 41:43 Tapi kalau ada undangan ceramah saya 41:45 biasanya lebih awal gitu kan saya 41:47 lakukan gitu untuk apa ya supaya tetap 41:49 menjaga ee kebugaran gitu kan. Dan itu 41:53 biasa aja gitu sebenarnya enggak membuat 41:56 diri kita menjadi lemas gitu. Biasa aja 41:59 ya dengan catatan tadi saya bilang 42:02 aturan-aturan yang sudah memang 42:04 Rasulullah contohkan diikutin sahur 42:07 kemudian begitu buka kita dengan cepat. 42:09 Tapi yang memang yang cepat diserap juga 42:12 apa itu kurma ya kan yang alami gitu kan 42:15 bukan teh manis bukan yang manis-manis 42:18 buatan gitu bukan. itu malah justru 42:20 merusak. Apalagi buka lontong 42:25 kemudian goreng-gorengan lagi 42:26 goreng-goreng 42:28 itu yang bikin mencret. 42:29 Iya. [tertawa] 42:31 I 42:31 gitu. 42:32 Ee Ustaz ini kan tadi Ustaz katakan 42:35 bahwa sahur itu kan salah satu yang ada 42:38 keberkahan di situ. 42:39 Heeh. 42:40 Dan kita tentu sudah pernah dari 42:42 kajian-kajian sebelumnya, rangkaian dari 42:46 ee amal ibadah di Ramadan ini 42:49 ternyata bisa diisi dengan berbagai 42:51 kegiatan. 42:52 Betul. 42:52 Yang punya nilai ee amal ibadah yang 42:56 tinggi gitu ya. 42:56 Betul. mulai dari berbagi takjil, salat 43:01 tarawih, 43:02 kemudian bersedekah, 43:04 kemudian ee tadarusan, 43:07 kemudian salah satunya adalah sahur. 43:09 Heeh. 43:10 Nah, barangkali dari rangkaian ini 43:13 makannya bisa mencerahkan kita semua. 43:16 Heeh. 43:17 Bagaimana 43:19 dari rangkaian-rangkaian yang kita bahas 43:21 ini 43:22 produktivitas itu semakin baik, semakin 43:24 baik ke depannya. 43:25 Heeh. He. 43:25 Sehingga pada akhir Ramadan kualitas 43:28 kita 43:29 sudah 43:30 memperoleh perbaikan yang baik sekali 43:33 dalam aspek produktivitas. 43:35 Heeh. 43:36 Dan makanya gini saya bilang Ramadan itu 43:39 disetting oleh Allah, dibuat oleh Allah 43:42 menjadi tatanan supaya kita menjadi 43:46 orang-orang yang beramal saleh ya dengan 43:49 menjalankan risalahnya Allah. Karena 43:52 puasa di dalamnya itu begitu banyak 43:54 hikmah yang bisa kita ambil untuk kita 43:56 bisa menatap selama 11 bulan ke depan. 43:59 Sehingga kita melalui puasa itu akan 44:01 terlihat gambaran kita bahwa kita 44:03 menjadi pribadi sukses atau tidak 44:05 kelihatan di Ramadan. Kalau di 44:07 Ramadannya kita banyak tidur, di 44:09 Ramadannya kita banyak leha-leha, hanya 44:12 nungguin buka gitu kan sambil kita tidak 44:15 bekerja gitu, itu lelah. 44:17 dan lelahnya ditampilkan betul-betul 44:20 seperti orang lapar sekali gitu ya. 44:22 Padahal kalau misalnya action ini 44:24 digulirkan seperti yang ustaz lakukan 44:26 dengan fitness berarti bisa lebih fit 44:28 gitu. 44:29 Betul. Betul. Jadi sebetulnya kan coba 44:32 ee ada orang yang kemudian di bulan 44:35 Ramadan itu hanya memindahkan tentang 44:37 pola makan yang harusnya di siang 44:39 dipindahkan ke malam. 44:41 Padahal kan enggak sebetulnya kan gini, 44:43 kapasitas tubuh ini kan kalau kelihatan 44:45 Nabi ketika makan itu kan bahkan sampai 44:47 Rasulullah itu kan ngatur dalam ajaran 44:50 Islam itu kan perut ini punya tiga 44:52 kapasitas. Adauliuami 44:57 nafsihi sepertiga untuk makanan, 44:59 sepertiga untuk minuman, sepertiga untuk 45:01 udara. 45:02 Ketika perut ini diisi semuanya oleh 45:04 makanan karena lapar seharian, maka yang 45:07 ada tepar 45:08 bisa susah bernapas juga k. 45:09 Iya. Dan susah bernapas karena 45:11 kekenyangan ini akhirnya menjadi 45:12 ngantuk, produktivitas menjadi lemah. 45:15 Maka sebab itulah maka sahur yang baik, 45:19 kemudian buka yang baik ya kan. Maka 45:22 kenapa? Sahur sunah sudah masa-masa agak 45:25 kritis waktuy dikit gitu kan. 45:27 Ah itu kenapa? Itu sangat masuk akal 45:29 gitu kan. Bukan jam . Sahur ya kemalaman 45:32 itu 45:33 karena jam .00 masih tidur gitu. 45:35 Ini sahur jam . Dia bilang enggak takut 45:37 kesiangan. Ya jangan begitu mindsetnya 45:39 di setting minta sama Allah berdoa ya 45:41 Allah tolong bangunkan aku sepertiga 45:43 malam terakhir gitu kan. 45:44 Begitu waktu buka, nah kita pun 45:46 disegerakan. 45:48 Apa kurang logisnya ajaran Islam coba? 45:51 Iya kan? Sehingga kenapa? Karena tidak 45:53 mengikuti aturan yang sudah dicontohkan 45:55 oleh Nabi. Akhirnya produktivitas di 45:57 bulan Ramadan menjadi lemah gitu. 46:00 Kenapa? Karena memang begitu malam ada 46:03 orang yang kemudian begitu buka seperti 46:06 mohon maaf seperti orang kesetanan 46:09 barang. Iya. Balas dendam gitu. 46:12 Apa aja dimakan gitu kan. Minuman aja 46:14 sampai empat macam gitu kan. Ada es 46:16 kelapa muda, kelapa tua ya kan. Setengah 46:18 tua semua ini dimakan gitu kan. Nah 46:22 belum lagi makanan-makanan yang lain 46:23 segala macam. Perut diisi dengan yang 46:25 berat-berat. Kalau saya biasanya punya 46:27 ee kebiasaan kalau ee buka puasa ataupun 46:31 sahur saya biasanya ee satu butir atau 3 46:35 butir kurma ya kan. Kalaupun karena 46:38 memang orang Indonesia ini kebiasaan 46:40 makan karbohidrat ya, saya sudah cukup 46:42 lama makan nasi merah. Kayak tadi saya 46:45 di restoran apa namanya? Oh iya, bawa 46:49 pohon tuh waktu saya ngisi ee datang ke 46:51 Rasil itu 46:52 ya itu 46:54 makan nasi merah 46:56 ya kan yang di bawah pohon tuh ketika 46:57 saya ngisi di Rasil tuh 46:59 saya sudah cukup lama makan itu 47:02 dan itu gitu 47:04 cocok aja 47:05 dan saya juga sudah terbiasa sudah 47:08 hampir 7 tahun tuh kalau sarapan pagi 47:09 tuh hanya cukup satu pisang yang dikukus 47:13 gitu kan pisang uli sama satu cangkir 47:17 kopi 47:18 cukup itu sampai siang itu. Iya. I 47:21 gitu. Tapi proteinnya tetap saya masuk 47:24 ada susu protein gitu kan 47:26 dan alhamdulillah bugar gitu. 47:28 Baik 47:29 gitu. 47:30 Ee pemirsa pendengar sekalian 47:35 dari diskusi ini kita bisa ambil 47:37 pelajaran bahwa bukan masalah makan 47:40 banyaknya itu yang membuat badan fit 47:42 gitu. 47:43 Betul. Betul. Dan dengan kebugaran ini 47:47 bagian dari gerak kita, action kita itu 47:50 menjadi lebih produktif sebetulnya. 47:51 Ustaz, 47:51 betul, betul, betul, betul. 47:53 Jadi mungkin dengan gambaran itu bisa 47:55 Ustaz pertegas lagi bercontoh-contoh 47:57 agar 47:58 agar 47:59 pendengar pemirsa kita 48:01 bisa mengelola atau membuat perencanaan 48:04 tentang dirinya yang lebih 48:06 ee segar, sehat, 48:07 supaya bisa lebih produktif. Makanya 48:09 gini, Bang Lubis. Di Ramadan tuh cobalah 48:12 ada tradisi-tradisi. Dulu waktu saya 48:13 masih kecil itu kan kalau habis subuh 48:15 jalan kaki. 48:16 Hm. 48:16 Ramai itu bukan hanya sore menjelang 48:19 buka itu ngabuburit gitu kan. 48:21 He. 48:21 Tapi habis ini supaya enggak tidur lagi 48:24 jalan kaki. Woh. Di pinggir sawah jalan 48:26 kaki. Jadi enggak tidur. 48:28 I i. 48:29 Nah, kenapa saya bilang sekarang begitu 48:31 kita sudah tinggal di kota punya 48:33 pekerjaan habis subuh tidur lagi gitu 48:36 kan. Makanya saya bilang yang cakep tuh 48:37 perusahaan-perusahaan itu buat aturan 48:41 masuk kerjanya lebih pagi. 48:42 Iya 48:43 gitu. 48:44 I 48:45 saya setuju itu. Cuman memang pasti akan 48:47 diprotes oleh 48:49 karena merubah tentang kebiasaan yang 48:52 ada. Karena merubah kebiasaan yang ada 48:54 itu pasti mengalami yang namanya 48:56 penolakan luar biasa gitu kan. 48:59 Itu baik. ke 49:02 Mangkana. Tadi kita sudah diskusi 49:04 he 49:05 bahwa umat Islam di Indonesia, saya mau 49:07 kembali ke aspek produktivitas he 49:10 dibandingkan dengan beberapa negara 49:11 ASEAN itu kan 49:13 bukan terendah tetapi kategori rendah 49:15 sekali. He he he. 49:17 Nah, tentu ini membutuhkan 49:20 aspek kebersamaan. Heeh. 49:22 Karena masalah produktivitas ini contoh 49:24 saja, Ustaz, yang satu sudah mau 49:26 berkegiatan, 49:27 tapi yang satu tidur. Rasanya kok godaan 49:30 untuk tidur ini kuat sekali, Gu. Ya. 49:31 Iya, benar. Benar. 49:32 Nah, kira-kira 49:35 [batuk] 49:35 maaf bagaimana perilaku kita ini kita 49:39 tata sehingga cenderung kepada arah 49:41 produktif, 49:42 tetapi kuat menghadapi godaan yang 49:46 membuat kita itu malas. Misalnya, 49:48 Nah, kira-kira langkah-langkah apa? 49:50 Kalau saya di perusahaan itu gini, untuk 49:52 menjadikan bahwa karyawan ataupun SDM di 49:55 perusahaan itu menjadi produktif itu 49:57 harus ada yang namanya role model. 49:58 I oke 49:59 contoh gitu kan. Tapi contoh ini akan 50:02 menjadi contoh ketika memang sudah 50:04 terbangunnya value. Maka kita punya 50:06 konsep namanya VSL. VSL itu kan 50:10 singkatan dari value system leadership 50:12 ya. Value itu adalah sesuatu yang 50:15 mendasari. Kalau dalam konsep ajaran 50:17 agama itu value itu adalah keimanan ya. 50:21 Kalau enggak ada keimanan dengan 50:23 nilai-nilai yang tertanam di dalam 50:24 dirinya, maka salat yang menjadi sesuatu 50:28 yang dianggap berat. Puasa apalagi, ya 50:31 kan? Yang biasanya orang makan tiba-tiba 50:33 enggak makan di siang hari. 50:35 Ada habit yang harus dirubah gitu kan. 50:38 Mau salat apalagi itu yang namanya zakat 50:41 ya, ngeluarin harta. Orang sudah 50:43 pentang-panting nyari kerja susah, 50:45 tiba-tiba sudah dapat terus dibagi ke 50:47 orang gitu kan. 50:48 Enggak enggak enggak enggak rela gitu. 50:50 Iya enggak rela. Sebab itulah harus 50:51 dibangun tentang value. Makanya kalau 50:53 diorganisasi kuatkan dulu value-nya ya. 50:57 Kemudian maka visi misi itu akan 50:59 terjalankan. Cuman gini, value itu akan 51:02 bisa terjalankan ketika ada sebuah 51:04 tatanan aturan yang mengguid gitu yang 51:08 dalam bahasa agama disebutnya hikmah 51:11 gitu kan. Hikmah itu asal kata dari HK 51:14 tali kekang gitu kan. 51:16 He. 51:16 Itulah yang namanya sistem. Sistem 51:19 itulah yang mengekang kita. Cuman sistem 51:22 ini tidak akan bisa jalan kalau kemudian 51:26 yang menjalankannya itu 51:28 tidak siap. 51:28 Ee tidak siap. Dan juga tidak ada orang 51:32 yang menjadi seorang leader 51:35 yang kemudian mengarahkan dan meskipun 51:37 ada leader tapi leadernya tidak 51:39 memberikan contoh. Contoh 51:41 he 51:41 maka kemudian leadernya bisa dilawan 51:44 gitu. Nah, sebab itulah makanya 51:45 keberhasilan Nabi membangun yang namanya 51:47 peradaban yang disebut dengan madinatul 51:50 munawarah atau masyarakat madani itu 51:54 karena nabinya melakukan 51:56 pantas menjadi contoh. 51:57 Pantas menjadi contoh makanya menjadi 51:59 uswatun hasanah. Nah, sebetulnya kita 52:02 bisa nyontek itu gitu kan. Enggak usah 52:04 jauh-jauh ngapain buat susah-susah gitu 52:07 nyontek aja udah gitu kan secara apa 52:10 namanya 100% kita contek gitu kan. apa 52:13 yang sudah dilakukan oleh Nabi, maka 52:15 insyaallah kita akan menjadi orang-orang 52:16 yang sukses. Karena Nabi ini manusia 52:19 yang sangat produktif. 52:21 Saking produktifnya, sendal putus saja 52:24 benerin dirinya sendiri, enggak pernah 52:25 nyuruh orang. Bajunya bolong jahit 52:27 sendiri. 52:28 Jahit sendiri. 52:29 I 52:29 saya di rumah itu meskipun sibuk saya 52:31 masih nyetrika sendiri. Oke. 52:33 Kadang saya bantuin nyuci itu beneran 52:35 bukan bohongan itu. Saya ee ketika 52:38 siaran di sini sahur nih, saya bawa 52:40 asisten saya boleh tanya sama asisten 52:42 gitu atau kali-kali datang ke rumah. 52:45 Baik, baik baik. Pendengar Rasil dan 52:48 pemirsa TV Rasil dalam acara sahur 52:52 bersama Rasil ini 52:54 ya kita banyak mendapat insight dari 52:57 Profesor Kana. He 52:58 tentu saja ini baru bermanfaat kalau 53:02 betul-betul kita serap dalam pikiran 53:04 kita 53:04 dan kita rubah menjadi satu komitmen 53:07 untuk menggunakannya agar bisa lebih 53:09 baik ke depan. 53:10 Insyaallah. 53:11 Kurang lebih seperti itu. 53:12 Insyaallah. Insyaallah. 53:13 Dan tentu saja itu mudah enggak 53:15 perubahan itu? 53:17 Mudah. 53:17 Karena katanya kan 53:19 gini perubahan itu mudah dan tidak 53:21 tergantung 53:22 niat dan tekad. 53:24 Kenapa niat dan tekad? seseorang itu 53:27 kalau enggak punya tekad untuk berubah 53:28 ya susah. Kayak saya dulu ee ini ambil 53:32 pengalaman tentang apa yang sejalin 53:33 dengan hidup gitu kan. Untuk yang 53:36 namanya keluar dari kesusahan itu harus 53:38 punya tekad kuat ya kan. Termasuk ketika 53:42 saya sudah punya uang badan menjadi 53:44 besar gitu ya ee perut buncit gitu kan. 53:48 Mohon maaf yang buncit jangan 53:49 tersinggung gitu karena saya pernah 53:51 ngalamin gitu kan. 53:53 itu kemudian saya asam urat, kolesterol, 53:56 wah udah e merah semua tuh hasil hasil 54:00 lebit tuh. Kemudian kata dokter, saya 54:03 dinasin sama dokter, "Bapak mau milih 54:06 minum obat seumur hidup atau Bapak 54:08 olahraga?" Itu kan keputusan yang ada di 54:11 dokter hanya ngasih saran saja. 54:13 Ee saya menimbang-menimbang mana gitu, 54:16 saya mendingan memilih ee olahraga saja. 54:19 itu bukan perkara yang mudah untuk 54:21 merubah itu. Itu dari tahun 2006 54:24 berhenti. I kan olahraga cuman sebulan. 54:27 Selanjutnya lebih banyak istirahatnya. 54:29 2008 mulai lagi berhenti lagi. 2009 54:32 mulai lagi berhenti lagi. Sampai agak 54:34 konsern itu 2018 54:38 sampai saat ini 54:39 berarti dibutuhkan satu komitmen yang 54:42 kuat. 54:43 Betul. Betul. 54:45 Untuk diri sendiri dan oleh diri sendiri 54:46 gitu. 54:46 Betul. Betul. Makanya saya kemudian 54:48 komitmen itu dibagi menjadi tiga. Ada 54:50 namanya intelektual komitment, ada 54:51 namanya emosional komitment, ada yang 54:53 namanya spiritual komitment. 54:54 Spiritual komitment. Oke. 54:55 Jadi kalau intelektual komitmen 54:57 hitung-hitungan gitu kan. Untung rugi 54:59 kan itu matematik kan. Karena isinya 55:01 intelektual itu kan angka 55:03 gitu kan. Makanya orang yang IQ-nya 55:05 tinggi angkanya sekian ya. He 55:07 gitu IQ. Kemudian ada namanya emotional 55:09 commitment. Ah saya nimbang-nimbang 55:11 perasaan saya untungnya apa saya kalau 55:14 kemudian saya sehat gitu. Oh, ternyata 55:16 memang saya rasain lebih enak gitu kan. 55:18 Tapi setelah sehat, nah untuk apa gitu 55:21 kan. Saya bertanya kepada dia sendiri. 55:23 Oh, ternyata saya kalau sehat saya bisa 55:26 sujud lama, saya bisa ruku lama, saya 55:30 bisa bersila lama ketika ngasih ceramah. 55:34 Jadi, bagaimana mungkin orang akan bisa 55:36 khusyuk ibadah kalau badannya sakit? 55:38 Ya, 55:39 itulah yang kemudian saya tanamkan yang 55:41 namanya spiritual komitmen gitu. 55:43 Sehingga 55:45 jangan pernah kita ini berdoa kepada 55:48 Allah supaya diberikan umur yang panjang 55:50 sementara kita makan sembarangan. 55:53 Boleh jadi 55:54 itu itu paradoks gitu. 55:56 Bisa enggak itu umurnya panjang tapi di 55:58 tempat tidur karena sakit. 55:59 Ih enggak bisa. Enggak bisa. Meskipun 56:01 tuh umur 56:03 i kan itu di tangan Allah. Iya. 56:05 Tapi itu ada yang namanya hukum alam 56:07 yang memang enggak bisa dilawan. Hukum 56:10 alam itu dalam bahasa agamanya 56:11 sunatullah kan. Sunatullah itu mengikat 56:14 kita nih berada di alam ini. Nah, siapa 56:19 orang beragama tidak beragama ketika dia 56:21 menjalankan tentang konsep hukum alam? 56:24 Kalau dia memang pengin kaya, dia 56:26 bekerja. Kalau dia pengin pintar, ya dia 56:29 belajar. Kalau dia pengin sehat, ya dia 56:31 makanan yang sehat. Dia berolahraga, dia 56:33 mau beriman ataupun enggak beriman, 56:35 tetap berhasil. 56:37 Hukum alam. Nah, cuman bedanya kalau 56:39 yang ng agama tentu ada nilai lebih. 56:42 Nilai lebihnya apa? Kita ada imbalan 56:46 secara keimanan bahwa kita ini memang 56:49 melakukannya kerja pun adalah karena 56:51 ibadah, olahraga pun karena niat ibadah. 56:55 Ya, bagi orang-orang yang tidak iman 56:57 kepada Allah kan dia enggak ada yang 56:59 namanya kehidupan setelah kematian. 57:02 Kalau kita kan ada. Maka ada kalimat 57:05 dari baginda Nabi, adunia majraatul 57:07 akhirah. Dunia itu adalah ladangnya 57:10 untuk menuju negeri akhirat. Maka 57:11 produktivitas pun harusnya di ee 57:14 tanamkan dalam mindset kita, asosiasi 57:16 pikiran kita bahwa produktivitas ini 57:19 adalah bagian daripada sunatullah. 57:21 bahwasanya sebagai orang yang dipilih 57:23 oleh Allah menjadi khalifatul fil ard 57:26 untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat 57:29 bagi yang lain. Makanya Nabi 57:31 mengeluarkan statement melulisannya 57:33 koirun nas anfauhum linnas. Sebaik-baik 57:37 manusia ini yang bermanfaat bagi yang 57:39 lain. Bagaimana mungkin akan memberikan 57:42 manfaat kalau produktivitasnya kita nih 57:44 hancur-hancuran gitu. 57:47 I 57:47 harus harus lebih bagus gitu. 57:50 Eh pemirsa pendengar, 57:54 baru saja Profesor Kana bercerita 57:56 tentang manfaat. 57:57 He 57:57 dan sebaik-baik manusia dalam bermanfaat 57:59 bagi orang lain. 58:01 Dalam kesempatan ini kita ingin mengajak 58:04 pendengar pemirsa mulai melakukan 58:07 introspeksi barangkali Pak. 58:08 Betul. Betul. Betul. 58:09 Hal-hal apa yang perlu kita perbaiki 58:13 sehingga kualitas kita di 58:16 saat kita meninggalkan Ramadan. 58:18 Heeh. sudah menjadi lebih baik dan mampu 58:21 menjadi orang bermanfaat bagi orang 58:23 lain. 58:23 Tentu saja dalam konteks manfaat ini 58:25 apalagi dikaitkan dengan penunggalan 58:27 kemiskinan, upaya-upaya meningkatkan 58:30 kemaslahatan umat adalah bagian dari 58:34 memperbaiki tingkat produktivitas kita. 58:36 Begitu kan? Betul. Betul. Ee ada lagi 58:38 yang ustaz ingin tekankan tentang 58:40 perbaikan 58:43 menjadi sebaik-baik umat yang 58:46 landasannya adalah menjadi orang yang 58:48 bermanfaat bagi orang lain. 58:50 Heeh. 58:50 Kemudian 58:52 menjadi teladan dalam perilaku 58:55 produktif. 58:56 Heeh. 58:57 Sehingga bisa membawa manfaat bagi 58:59 keluarga kita, bagi saudara-saudara 59:02 kita, bagi perusahaan di mana kita 59:03 bekerja. yang ujungnya adalah perubahan 59:06 yang kita lakukan terhadap diri kita 59:08 sendiri 59:09 membawa manfaat yang seluas-seluasnya. 59:11 Karena gini ee Bang Lubis, bahwa saum 59:14 ini itu luar biasanya ketika kita pahami 59:17 secara baik dan benar. Kenapa saya 59:19 bilang saum ini ee tidak membawa dampak 59:23 kepada kita terhadap perilaku? Karena 59:25 memang saum hanya sekedar tatanan ritual 59:29 gitu kan. Tatan ritual itu ya seperti 59:31 layaknya kita melakukan ya ritual gitu 59:34 kan. Ritual 59:37 bangun sahur 59:38 kita makan sahur kemudian setelah sahur 59:39 salat subuh setelah salat subuh udah 59:41 sudah dianggap gugur kewajiban kita 59:43 tidur iya kan bangun tidur kerja gitu 59:46 kan setelah kerja e masuk kantor ee 59:49 melakukan pekerjaan sesuai dengan apa 59:51 yang sudah ee tersedia dikerjakan gitu. 59:54 Mau kualitasnya bagus apa enggak bodo 59:56 amatlah. Yang penting saya hadir di 59:57 situ, saya bekerja di situ, saya 59:59 melakukan pekerjaan yang ada karena di 1:00:02 sini ada sesuatu yang harus diperbaikan, 1:00:03 bukan tanggung jawab saya. Ah, saya ini 1:00:05 kan kerja di sini aja 1:00:06 itu bodo amat gitu kan. Yang penting 1:00:08 saya kerja formalitasnya sudah kerja 1:00:10 gitu. 1:00:11 Tapi tidak membawa dampak kepada 1:00:12 perusahaan. Perusahaan itu maju apa 1:00:14 enggak. Sama halnya pada tatanan 1:00:16 personal. Puasa ini untuk memunculkan 1:00:19 sebuah awareness kesadaran kita bahwa 1:00:22 ternyata memang manusia ini luar biasa 1:00:24 gitu. Luar biasanya apa? 1:00:27 Kita diciptakan oleh Allah dengan f 1:00:29 ahsani takwim fisik. Cuman kalau kita 1:00:31 nih hanya sekedar bangga dengan fisik, 1:00:34 woh kita kalah sama singa 1:00:36 ya, kalah sama yang gajah yang jauh-jauh 1:00:38 gede gitu kan. Kalah sama burung 1:00:40 meskipun kecil bisa terbang 1:00:42 ya. Kalah sama cacing yang bisa masuk ke 1:00:43 dalam tanah. Kalah sama ikan kita apa 1:00:45 masuk di dalam ee air gitu. 1:00:48 Tapi manusia dengan intangible-nya, yang 1:00:51 tangible ini kan fisik dengan 1:00:53 intangibnya bisa mampu mengalahkan 1:00:55 semuanya. 1:00:56 Makanya kenapa ini jailun fil ardi 1:00:58 khalifah. Maka manusia dijadikan sebagai 1:01:00 khalifah. Supaya khalifah ini membawa 1:01:03 manfaat dan kemaslahatan bagi seluruh 1:01:05 alam. Karena Rasulullah kan diutus oleh 1:01:07 Allah wama arsalnaka illa rahmatan lil 1:01:10 alamin. 1:01:11 Meskipun banyak diklaim bahwa Nabi itu 1:01:13 hanya untuk kalangan orang Islam. Itu 1:01:15 bertentangan Al-Qur'an. Rasulullah 1:01:17 Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu 1:01:19 itu diutus untuk seluruh alam. Cuman 1:01:21 bagi orang yang ngikutin Nabi itulah 1:01:22 orang yang selamat. yang dalam bahasa 1:01:24 agama namanya agama Islam gitu kan. 1:01:26 Iya. Iya. 1:01:27 Nah, kembali lagi puasa itu untuk 1:01:30 mengembalikan tentang kesadaran agar 1:01:32 kita ini kita ini memang awalnya adalah 1:01:35 makhluk surga yang hidup dalam 1:01:38 kebahagiaan gitu kan. 1:01:40 Yang oleh seorang filosuf dari Yunani 1:01:44 itu ada namanya 1:01:46 siapa? Dante apa? Dia menulis bahwa kita 1:01:50 ini adalah makhluk paradiso 1:01:53 ya, Firdaus sebetulnya kalau gitu. 1:01:55 Aslinya dari 1:01:56 kemudian lahir ke dunia melakukan sebuah 1:02:00 kesalahan-kesalahan, maka ada yang 1:02:01 namanya ee purgatorio, 1:02:05 ya kan? Eh, karena purgatorio itu maka 1:02:08 kemudian harus melakukan pertobatan 1:02:10 namanya impirno supaya kembali lagi ke 1:02:13 paradiso. 1:02:15 Dalam konsep Islam sebetulnya kita ini 1:02:17 memang makhluk firdaus di ruh ya kan 1:02:21 ketika di alam ruh itu kita nih makhluk 1:02:23 yang memang jujur, taat ya mengakui 1:02:27 tentang keberang begitu masuk ke dunia 1:02:29 kita berada di jasad, jasad itu harus 1:02:32 makan. Begitu apa aja dimakan rohnya 1:02:35 kalah. 1:02:37 Nah, supaya mengembalikan roh itu pada 1:02:40 tataran yang lebih baik, maka 1:02:42 diistirahatkan makan 1:02:44 itu 1:02:45 supaya ah adanya puasa 1:02:47 yang kita lakukan. 1:02:47 Nah, yang kita lakukan saat ini ya kan. 1:02:50 Nah, kemudian lihat maka kenyataan yang 1:02:54 ada orang ketika puasa 1:02:57 itu memang kepedulian kepada masyarakat 1:02:59 itu lebih tinggi sedekah naik gitu kan. 1:03:02 Cuman sayangnya produktivitas kok nurun 1:03:05 gitu loh. 1:03:05 Iya. Iya. 1:03:06 Nah, produktivitas itu awalnya dari 1:03:09 semangat. Semangat itu adanya dari jiwa 1:03:11 ini. Jiwanya kalau dikuasai oleh yang 1:03:14 namanya fisik, jasad ini 1:03:16 kalah. 1:03:16 Kalah udah rohnya, rohnya tenggelam. 1:03:20 Nah, sebab itulah maka harus dilawan 1:03:22 gitu kan di bulan Ramadan ini ya kan 1:03:24 dari sejak sahur yuk meskipun ngantuk 1:03:27 kita makan. kalahkan itu kan dengan kita 1:03:30 bersahur sebagaimana saat ini kita tetap 1:03:33 bersemangat gitu kan di waktu sahur ini 1:03:36 kan gitu Bang Lubis sehingga kita ini 1:03:39 enggak banyak ngeluh gitu aduh Ramadan 1:03:43 kita orang lagi tidur suruh makan ya 1:03:44 orang lagi tidur-tidur enak-enak suruh 1:03:46 bangun gitu 1:03:47 iya 1:03:48 tapi itu kan pagi bukan tengah malam 1:03:51 iya iya 1:03:51 gitu kan pagi sahurnya disuruh udah agak 1:03:54 mepet-mepet lah gitu kan ya ya kalau 1:03:57 bisa ya agak jedalah lah gitu kan. Maka 1:04:00 kalau di Indonesia ada namanya imsak 1:04:01 meskipun imsak itu ada istilah yang 1:04:03 salah kan. 1:04:04 Imsak itu justru tertahan kan. 1:04:05 Iya. 1:04:06 Ya itu 1:04:06 padahal masih boleh makan. 1:04:07 E Ramadan itu al-imsak namanya artinya 1:04:10 ya. Nama lain dari Ramadan itu Al-Imsak. 1:04:12 Nah sebab itulah 1:04:14 supaya di Ramadan ini betul-betul 1:04:15 mengantarkan kita menjadi 1:04:17 pribadi-pribadi yang produktivitas. Maka 1:04:19 saya bilang pemahaman tentang saum itu 1:04:22 sendiri harus dipahami secara baik dan 1:04:25 benar gitu. Sehingga jangan kemudian 1:04:28 gini diajarin kita ini bahwa Ramadan itu 1:04:31 bermalas-malasan, Ramadan itu 1:04:33 berleha-leha, Ramadan itu mikirin pulang 1:04:36 kampung. [tertawa] 1:04:38 Pulang kampungnya boleh, tapi jangan 1:04:39 jadi mengganggu Ramadannya, gitu. 1:04:41 Iya, benar. Ya, ee pendengar pemirsa 1:04:44 sekalian 1:04:45 ee mudah-mudahan bincang-bincang ini 1:04:49 yang pada dasarnya adalah mendorong 1:04:51 peningkatan produktivitas melalui 1:04:54 perubahan, melalui bertambahnya ilmu 1:04:57 Heeh. 1:04:58 bisa 1:05:00 diserap oleh pendengar pemirsa He. 1:05:03 Sehingga melakukan perubahan dalam 1:05:04 dirinya, 1:05:05 keluarganya, lingkungan kerjanya, 1:05:08 lingkungan tempat tinggalnya. I 1:05:10 dengan perubahan ini mudah-mudahan 1:05:13 turunlah rahmat Allah. 1:05:15 Karena orang-orang yang di bulan Ramadan 1:05:17 ini 1:05:18 bersyukur 1:05:20 dengan memperbaiki dirinya. 1:05:22 He. 1:05:22 Karena kan Ramadan ini adalah pahalanya 1:05:24 kan itu yang untuk apa? Yang lain kan 1:05:26 untuk kita sendiri gitu ya. 1:05:26 Betul. Betul. Betul. Betul. Nah, jadi 1:05:28 pendengar pemirsa sebelum kita akhiri 1:05:32 kita coba ya bagaimana upaya mengadopsi 1:05:38 perubahan pemikiran ini sehingga mampu 1:05:41 bertindak lebih produktif melalui 1:05:45 serapan ilmu. 1:05:46 Heeh. 1:05:47 Kemudian kita tidak izinkan tubuh kita 1:05:50 itu 1:05:51 menguasai 1:05:53 heeh 1:05:53 pemikiran kita. Tapi sebaliknya, 1:05:55 pemikiran kitalah yang mengendalikan 1:05:57 fisik. 1:05:58 He. 1:05:58 Sehingga pemikiran yang mestinya 1:06:00 senantiasa tunduk, taat, patuh kepada 1:06:03 Allah itu membawa fisik kita di bulan 1:06:05 Ramadan ini menjadi turut, tunduk, patuh 1:06:09 kepada Allah. Silakan dibuat penutup. 1:06:11 Nah, sebab itu lagi nih, 1:06:12 sahabat-sahabatku dan Bang Lubis yang 1:06:15 baik ya dan juga para pendengar ee dan 1:06:18 juga pemirsa TV Rasil yang saat ini 1:06:22 sedang menikmati hidangan sahur. 1:06:25 Puasa ini diciptakan oleh Allah untuk 1:06:29 tujuan agar kita kembali menjadi 1:06:32 manusia. 1:06:34 Karena kalau kemudian tidak ada puasa ya 1:06:38 yang secara saat ini hanya sekedar pada 1:06:40 tataran pada umumnya ritual manusia ini 1:06:44 sebenarnya kalau kita mau jujur kan sama 1:06:46 dengan binatang pada umumnya. 1:06:49 Para ahli ilmu mantik disebutnya 1:06:52 alhayawanun natiq. Iya. 1:06:55 Iya kan? Yaitu hewan yang bisa berpikir. 1:06:57 [berdehem] 1:06:58 Iya kan? Nah, itu kalau berpikirnya 1:07:01 berpikir yang negatif ya lebih hewan 1:07:05 itu. Tapi kalau berpikirnya positif ya 1:07:09 itulah menjadi manusia. Maka disebut 1:07:11 dengan insan kamil itu antara ruh, 1:07:14 jasad, dan jiwa itu menjadi satu 1:07:17 kesatuan yang dikendalikan oleh ruh. 1:07:20 Karena ruh adalah makhluk yang paling 1:07:22 baik, makhluk yang paling taat. Ya, tapi 1:07:26 ini roh bisa terpenjara di dalam jasad 1:07:28 yang memang serakah. 1:07:31 Nah, kalau jasad sudah serakah, jiwanya 1:07:33 dikendalikan oleh jasa, jadilah orang 1:07:35 yang greedy, kan serakah gitu kan ya. 1:07:38 Kalau kerja meskipun gajinya besar, gaji 1:07:40 bawahannya dipotong. 1:07:42 Iya, 1:07:43 gitu. Nah, Ramadan harusnya janganlah 1:07:45 kan. Sehingga orang itu kan bangga 1:07:47 dengan materi, bangga dengan yang 1:07:49 namanya fisik gitu kan. fisik man alaiha 1:07:53 wabq wajhuika dul jalali wal ikram. Nah, 1:07:56 sebab itulah maka ini dengan datangnya 1:07:59 Ramadan ya kan kita ini diajarkan oleh 1:08:03 Allah agar kita ini mampu mengendalikan 1:08:06 yang namanya nafsu yang ada di dalam 1:08:09 jiwa. 1:08:10 Yang mengendalikan siapa? Ruh. Allah 1:08:13 sudah meniupkan gitu ke dalam diri kita. 1:08:16 Ruh itu adalah memang ciptaan Allah. 1:08:18 makhluk yang memang harusnya menguasai 1:08:20 tubuh. Jangan sampai kemudian sadar tuh 1:08:23 jiwa kita setelah ruhnya mau pergi 1:08:26 terlambat. 1:08:26 Terlambat itu sebagaimana layaknya 1:08:28 Firaun kan. 1:08:29 Amantu birabbi Musa wa Harun tapi sudah 1:08:31 finish gitu kan. Nah sab itulah mari 1:08:35 kita jadikan bahwa Ramadan itu untuk 1:08:37 mengendalikan nafsu supaya nafsu ini 1:08:40 nurut sama ruh sehingga jasadnya jadi 1:08:44 nurut. meskipun lelah nanti begitu 1:08:47 datang hayya al shah dia tetap salat ya 1:08:51 kan meskipun dia lapar lupa sahur dia 1:08:53 tetap puasa jasadnya ngikutin apa yang 1:08:56 dimaui oleh ruh ruh yang sudah 1:08:58 memberikan pencerahan kepada jiwa jiwa 1:09:00 itu nafs dalam bahasa Arab gitu kan 1:09:03 makanya dalam Al-Qur'an surat Yusuf ayat 1:09:04 53 ya ayat tuhan nafsul mutmainah 1:09:07 ya eh surah surat Yusuf kalau surat 1:09:10 Yusuf kan bahwa innan nafs amar bisu 1:09:13 bahwa nafsu itu cenderung kepada yang 1:09:15 negatif. Ilahimbi kecuali yang 1:09:17 mendapatkan pencerahan dari Allah. Nah, 1:09:19 begitu nafsu sudah mendapatkan 1:09:21 pencerahan dari Allah, Allah berkata, 1:09:23 "Ya ayat tuhan nafsul mutmainah irji 1:09:27 mardhakuli 1:09:29 fi ibadi waduli jannati." Itu akan nurut 1:09:32 sama Allah ketika ruh itu sudah 1:09:35 menguasai jiwa 1:09:37 sehingga jiwanya menjadi jiwa yang 1:09:39 selamat. Hatinya hati yang selamat ya 1:09:42 kan. 1:09:48 gitu. 1:09:49 Baik, Mang Kana atau Profesor Kana. Ee 1:09:53 mudah-mudahan bincang kita di acara 1:09:56 sahur bersama Rasil ini 1:09:58 membawa manfaat bagi pendengar pemirsa 1:10:01 ee TV [mendengus] Rasil. 1:10:02 Heeh. 1:10:03 Nanti setelah selesai ee sahur 1:10:06 Heeh. 1:10:07 teruslah beribadah. 1:10:08 Heeh. 1:10:09 teruslah berupaya produktif. 1:10:11 Betul. sehingga keberadaan kita dalam 1:10:15 kehidupan ini menjadi keberadaan yang 1:10:17 diridai Allah. 1:10:18 Amin. Amin. 1:10:19 Di mana roh kitalah yang mengatur jasad 1:10:23 kita 1:10:24 yang senantiasa patuh taat 1:10:26 kepada Allah 1:10:27 dan mudah-mudahan hingga akhir Ramadan 1:10:31 kita bisa menjalankan Ramadan dengan 1:10:34 lebih baik 1:10:35 termasuk di dalamnya perilaku yang 1:10:37 produktif. 1:10:38 Betul. Betul. Betul. Kepada pendengar 1:10:39 pemirsa sekalian, sampai bertemu di ee 1:10:44 acara sahur bersama Rasil berikutnya. 1:10:46 Mari kita tutup dengan doa kabaratul 1:10:48 majelis. Subhanakallahum 1:10:50 wabihamdamahamdika asadu allaha anta 1:10:53 astagfiruka. 1:10:55 Billahi taufik wal hidayah. 1:10:57 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:10:59 wabarakatuh. 1:11:01 Terima kasih.