Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Brail TV.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ikhwan akhwat rahimakumullah.
- Syukur alhamdulillah kita dikaruniai
- kesempatan berada bersama-sama di
- psikologi keluarga bersama Ustaz Husein
- Alatas dan Ustaz Abu Bakar Barasa yang
- insyaallah bahasannya akan membuat kita
- terpersuasi,
- mampu menjaga diri dan hati melangkah
- lebih baik menuju rida Allah Subhanahu
- wa taala. Tidak lupa tentu saja salam
- selawat kita lantunkan kepada junjungan
- umat kekasih kita Muhammad Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak
- kita dipertemukan dengan beliau di saat
- yang sangat kita rindukan di yaumil
- akhir.
- Untuk pagi ini Ustaz Husein dan Ustaz
- Abu Bakar Baraja sudah siap untuk kita
- semuanya. Tetapi
- sebelumnya kita bersama-sama
- membaca ummul kitab.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim
- maiki yaumiddin
- iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'
- ihdinasirathal
- mustaqimathalladzi
- giril magdubi alaihimadin.
- [Musik]
- [Tertawa]
- Amin. Allahumma amin. Jadi, Ustaz, ada
- dua kasus tapi sewarna karena dua-duanya
- terkait dengan
- rumah jompo.
- Yang pertama, ikhwan akhwat, berita yang
- sedang viral nih tentang anak yang
- mengirimkan orang tuanya ke Rumah Jompo
- terus membuat surat perjanjian. Kalau
- orang tuanya meninggal, enggak usah atau
- jangan memberi kabar.
- Pakai surat perjanjian ini, Ustaz. Salah
- orang tua jugaah anak menjadi seperti
- ini? Bukankah buah jatuh tak jauh dari
- pohonnya? atau mohon pencerahannya.
- Kemudian yang satunya lagi, Ustaz, saya
- punya sahabat setelah anak-anaknya
- menikah dan pisah rumah, waktu suaminya
- meninggal, sahabat saya ini diminta
- tinggal sama anaknya. Ya ampun, Ustaz.
- Bayangan bahagia berkumpul dengan anak
- cucu berantakan.
- Anak kerja, menantu kerja, cucu sudah
- terkontaminasi dengan gadget, semua
- semaunya sendiri, susah dinasehati.
- Sahabat saya jujur, Ustaz, merasa tidak
- nyaman. Pertanyaannya, apakah sebaiknya
- dia tinggal saja di panti jompo? Itu
- yang dia tanyakan.
- Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil
- alamin
- hamdan katsiran thyiban.
- yuhibbuna
- ya rabbana lakal hamdu kama yambagalali
- wajhikalim waliadimi sultanik
- subhanaka la nuhsi tsanaan alaika anta
- kamaita ala nafsik falakal hamdu hatta
- tard wakal hamdu idza rit wakal hamdu ba
- allahumma sholli ala muhammadin
- Muhammadamuika
- ya rasullaham
- ibadahin wasalamualaikum
- ayyuhal ikhwa wal akhwat warahmatullah
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam
- atina minika rahmah waimna minadunka
- ilman nafi bimaam.
- Allahumdina subulasalam wa akrijna
- minadulumatian nur wahdina ilaatikal
- mustaqim.
- Amma ba'du. Ikhwan akhwat
- pendengar pemirsa,
- umatan wahidah begitu pula radio TV
- silaturahmi yang dirahmati Allah
- subhanahu wa taala.
- Kehidupan
- umat Islam pada saat ini
- amat amat jauh dari nilai-nilai Islam.
- Di mana kebanyakan kita beragama
- mempelajari
- hukum-hukum agama, tapi hati kita tidak
- terhubung dengan Allah.
- hati kita
- tidak diingatkan kepada hari akhir
- seolah-olah kita hidup hanya untuk
- kehidupan dunia ini.
- Ini bukan hanya di tengah-tengah
- masyarakat awam, bahkan di tengah-tengah
- lingkungan orang-orang yang beragama.
- Walaupun mereka belajar agama,
- menyampaikan agama, tapi perhatian
- mereka tertuju pada kehidupan dunia dan
- kesenangan.
- Sehingga seolah-olah agama itu hanya
- merupakan kendaraan
- untuk mendapatkan
- hiasan dan kepingan dunia.
- Padahal mereka seharusnya di barisan
- terdepan dalam memberikan bimbingan dan
- pendidikan kepada umat agar mereka
- mengenal Tuhan mereka.
- Agar mereka menyadari betapa besarnya
- nikmat yang Allah anugerahkan atas
- mereka.
- Telah menciptakan mereka sebagai manusia
- yang mulia. Menerima nikmat karunia yang
- tak terhingga. Menempatkan mereka di
- muka bumi sebagai khalifah.
- di mana makhluk-makhluk yang lain Allah
- Subhanahu wa taala kerahkan untuk
- melayani dirinya.
- Begitu juga pemandangan alam yang begitu
- indah Allah sediakan bagi siapa kalau
- bukan bagi umat manusia agar mereka
- bersyukur kepada Allah subhanahu wa
- taala.
- Allah anugerahkan mereka
- akal.
- Allah utus rasul-Nya. Turunkan kitabnya.
- Janjikan bagi mereka kehidupan yang
- lebih indah, lebih mulia di hari akhir
- nanti.
- Tapi semua ini ternyata tidak menjadi
- perhatian kita.
- Beramai-ramai kita mengejar kehidupan
- dunia, mengoleksi hiasan-hiasannya.
- Sehingga agama hanya sekedar apa?
- basa-basi.
- Bukan lagi sebagai pedoman hidup yang
- mendidik kita.
- Hingga akhirnya banyak orang tua
- tidak lagi mendidik anak mereka untuk
- menjadi anak-anak yang saleh
- yang dapat betul-betul menjalankan
- amanat Allah, berbakti kepada kedua
- orang tua mereka.
- Dan anak-anak juga hidup ya sesuai
- dengan pendidikan yang mereka terima,
- lingkungan tempat mereka berkumpul
- masing-masing disibukkan dengan
- kehidupan dunia. perhatian mereka
- tertuju ke sana hingga mereka tidak
- merasa sama sekali memiliki rasa
- tanggung jawab untuk berbuat baik kepada
- kedua orang tuanya sebagai ungkapan
- syukur mereka kepada orang tua yang
- telah melahirkan, membesarkan, dan
- mendidik mereka.
- Ini merupakan betul-betul tanda-tanda
- yang tidak sehat
- yang bisa menimbulkan petaka.
- dan membuat umat di tengah-tengah cobaan
- yang semakin sulit pada saat ini akan
- terpuruk dan terjerumus dalam kondisi
- keadaan yang lebih mengerikan.
- Oleh karena itu seharusnya orang-orang
- tua juga mereka yang bertanggung jawab
- dalam mendidik, mereka berupaya untuk
- betul-betul memperhatikan pendidikan
- anak-anak mereka,
- jemaah dan lingkungan mereka agar
- pertama-tama yang mereka kenal adalah
- Allah Subhanahu wa taala.
- Maka Imam Ali mengatakan, "Awwaluddin
- makrifatu."
- Langkah pertama orang masuk ke dalam
- agama tu bukan mempelajari hukum-hukum
- yang bermacam-macam,
- yang berbelit-belit, ya.
- Kemudian mulai ya membanggakan dirinya,
- membanggakan kelompoknya menyerang ke
- sana dan kemari. Ini bukan merupakan
- tuntunan agama.
- Tapi bagaimana ya Rasul mendidik
- sahabat-sahabatnya untuk memulai dengan
- mengenal Allah, kebesarannya,
- keagungannya. Ayat Al-Qur'an yang turun
- pada periode Makkah selama 13 tahun
- merupakan pendidikan yang amat indah.
- Di mana sebelumnya mereka
- didominasi oleh nilai-nilai jahiliah.
- Secara perlahan-lahan nilai-nilai
- jahiliah digantikan dengan nilai-nilai
- Islam yang begitu indah.
- Mereka dikeluarkan dari wawasan dunia
- yang sempit menuju dunia dan akhiratnya.
- Ya, dunia untuk kehidupan akhirat.
- Kemudian bagaimana Nabi menumbuhkan
- kecintaan di antara sesama mereka.
- Bagaimana kecintaan ya seorang terhadap
- sahabatnya yang beriman apalagi terhadap
- orang tuanya. Bahkan Quran memerintahkan
- anak-anak manusia untuk bersikap baik
- pada ayah ibunya walaupun kedua orang
- tuanya dalam keadaan musyrik.
- diperintahkan memperlakukan mereka
- dengan baik dan mulia kecuali kalau
- mereka memerintahkan perintah yang tidak
- benar dan tidak tidak sesuai dengan
- tuntunan Allah.
- Orang tua juga diperintahkan untuk
- memperlakukan anak mereka dengan mulia.
- Begitu pula pasangan-pasangan hidup
- mereka menjadi contoh di tengah-tengah
- mereka. mengingatkan mereka agar mereka
- melindungi keluarga mereka dari azab api
- neraka dengan cara hidup yang Allah
- tunjukkan,
- dengan cara hidup yang akan mensucikan
- jiwa mereka dan mendidik anak-anak
- mereka untuk betul-betul
- menghormati Allah dan mendambahkan
- kehidupan akhirat. Ya ayyuhalladzina
- amanu
- anfusakum wa ahlikum.
- Wahai orang yang beriman, lindungi diri
- kalian dan keluarga kalian dari azab api
- neraka.
- Perhatikan bagaimana Nabi Allah Nuh
- yang hidup selama 950 tahun
- tak jemu-jemunya untuk memberikan
- peringatan kepada umat siang malam baik
- secara terang-terangan atau pendekatan
- ya yang sifatnya pribadi.
- Tak pernah jemu memberikan peringatan
- kepada kaumnya. Begitu pula pada anaknya
- sampai saat-saat terakhir ketika azab ya
- telah datang. Nuh memanggil anaknya
- mengatakan, "Ya bunarkam wum maal
- kafirin." Wahai anakku, bergabung naik
- ke dalam bahtera bersama kami. Jangan
- kau bergabung dengan orang yang kafir.
- Arti bagaimana perhatian orang tua untuk
- memberikan peringatan pendidikan
- terhadap anaknya? Dan kata ya bunai Mbak
- Nuning dalam bahasa Arab itu panggilan
- orang tua yang mesra pada anaknya.
- Padahal anaknya kafir,
- istrinya pun dalam kekafiran. Tapi
- bagaimana Nuh bersabar menghadapi
- penyimpangan dari anaknya dengan tetap
- hangat mengatakan, "Wahai anakku sayang,
- naik ke dalam bahtera. Jangan kalian
- bergabung bersama orang kafir." Si anak
- mengatakan, "Saawi jabalimallah.
- Saya akan naik ke puncak gunung yang
- melindungi saya dari air." Mengatakan,
- "Laimal
- min amrillahi illa man rahim."
- Tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu
- dari ketentuan Allah kecuali kalau kamu
- masuk dalam rahmatnya.
- Di depan mata si ayah, anak dipisahkan
- dengan gelombang yang menelan dirinya.
- Wahala bainahumal mauju.
- Nuh bersedih, berduka bukan untuk
- dirinya.
- Bersedih menyaksikan anaknya binasa dan
- di hari akhir nanti dia akan tergolong
- orang-orang.
- Artinya orang tua dalam mendidik anaknya
- betul-betul harus mengutamakan
- kelurusan anaknya,
- cara hidupnya yang benar, diperlakukan
- dengan kasih sayang, tidak menggunakan
- kata-kata yang kasar untuk menumbuhkan
- rasa cinta di hati mereka.
- Tapi kalau orang tua tidak
- memperkenalkan anaknya kepada Allah,
- walaupun sekolahnya tinggi, sukses
- setiap tahun kembali kepada orang tua
- membawa angka yang terbaik tapi tidak
- pernah diperkenalkan kepada Allah. Ini
- akan menjadi bom waktu. Satu hari nanti
- si anak akan lupa kepada orang tuanya
- sebagaimana anak lupa untuk mendidik
- anaknya agar mengenal Tuhan.
- Dan ini yang terjadi. Ini yang terjadi.
- Satu hari
- seorang ayah yang punya beberapa anak
- yang semuanya sukses.
- Salah satunya belajar di Jerman.
- Akhirnya si ayah bilang sama anaknya,
- "Saya akan berangkat menggunakan pesawat
- luftansa,
- penerbangan nomor sekian. Tolong jemput
- saya di airport."
- Si ayah terbang
- sebelum dia bercerita mengenai
- anak-anaknya semua yang sukses. Di
- antaranya yang belajar di Jerman.
- Berangkat tiba di Frankfurt, di airport.
- Dia nengok ke sana kemari tidak
- menjumpai anaknya.
- Dia telepon si anak mengatakan, "Ya,
- saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan."
- Jadi ayah masuk ke hotel. Saya sudah
- siap booking hotelnya. Nanti selesai
- kerja saya datang. Si ayah pikir benar.
- Oh, ini anaknya enggak bisa meninggalkan
- pekerjaannya.
- Dia berangkat menuju hotel. Tinggal di
- hotel dengan penuh kerinduan menantikan
- anaknya kembali dari pekerjaan.
- Akhirnya
- si anak
- selesai kerja menuju ke hotel tempat
- kediaman sang ayah. Si ayah merangkul
- anaknya dengan penuh kerinduan.
- Sedangkan si anak tidak merasakan
- kehangatan biasa.
- Lalu si ayah mengatakan apa? Kapan saya
- bisa ke rumah kamu? Dia mengatakan
- tunggu. Pada saat weekend
- karena dia menikah dengan seorang wanita
- dari Jerman.
- Saya enggak bisa bawa ayah apa namanya
- tinggal di sana karena saya sudah
- berumah tangga. Jadi ayah tetap tinggal
- di hotel. Pada saat weekend mampir ke
- rumah.
- Si ayah langsung terpaku pada saat itu.
- Dia bilang, "Saya ini datang bukan untuk
- apa?
- Sekedar datang ke Jerman, tapi ingin
- melihat kamu karena merindukan kamu." Si
- anak langsung membuka buku cek dulu
- berapa biaya yang ayah keluarkan untuk
- saya?
- Astag.
- Akhirnya
- Siaya mengatakan
- dalam keadaan terpukul yang luar biasa,
- yang salah selama ini saya bukan kamu.
- Saya hanya perhatikan pendidikan kamu
- agar kamu sukses. Saya banggakan
- bercerita di tengah teman-teman, tapi
- saya lupa untuk memperkenalkan kamu
- kepada Tuhan,
- mengajarkan kamu apa yang sewajibnya
- kamu lakukan. Ini kesalahan saya.
- Dia pesan langsung sama anaknya booking
- tiket untuk penerbangan yang pertama
- menuju Jakarta.
- Dia kembali terbang menuju Jakarta.
- Siarak enggak memahami kenapa orang
- tuanya seperti ini. Menurut dia tindakan
- dia benar.
- Begitu pulang ke Indonesia
- dia bertemu dengan teman-temannya.
- Dia mengatakan, "Kalian belajar dari
- pengalaman saya. Jangan sekali-kali
- kalian mengulang.
- Jangan pernah lupakan Allah
- dalam setiap langkah dan perjalanan
- hidup Anda. Baik terhadap diri Anda,
- anak Anda, keluarga Anda. Kalau tidak,
- Anda akan menyesal sebagaimana Anda
- meninggalkan Allah. Anda akan
- ditinggalkan Allah.
- Jadi kejadian yang kita jumpai dari
- cerita Mbak Nuning tadi, dua orang anak
- ya membawa ibunya ke tempat penampungan
- orang tua.
- Karena kedua anak ini anak perempuan
- lagi, tidak mau merawat anaknya, orang
- tuanya.
- Akhirnya pihak atau pemimpin
- dari
- tempat tersebut,
- Panti Jompo mengatakan kalau Anda
- serahkan orang tua Anda, maka Anda harus
- ikhlas rela bahwa Anda tidak akan
- dihubungi pada saat
- orang tua Anda meninggal.
- Saya perhatikan di YouTube, ternyata
- anak perempuannya tertawa senang.
- katanya
- tertawa dan tersenyum.
- Tidak sendiri. Tidak.
- Waktu diminta tanda tangan mereka setuju
- dan saya lihat yang kedua mukanya
- berbunga-bunga
- sumringah ketika diminta untuk
- menandatangani hal tersebut.
- Padahal menggunakan jilbab.
- Saya lihat. Lalu di mana letak
- kesalahannya? Karena saya jumpai
- biasanya
- anak laki-laki
- banyak yang begitu sudah menikah
- kurang perhatian semua orang tuanya.
- Tapi anak-anak perempuan saya jumpai dia
- yang memandikan orang tuanya yang
- memberikan perhatian secara penuh pada
- orang tuanya. Tapi kejadian ini ya
- terjadi di tengah-tengah kita. Dan
- mungkin bukan hanya kasus yang ganjil,
- banyak kejadian semacam ini. Saya lihat
- orang tuanya juga bersedih ya.
- Dia juga menggunakan jilbab.
- Saya bertanya-tanya
- apakah kesalahan dari orang tua yang
- tidak mendidik anaknya
- untuk betul-betul mengenal Allah,
- mengenal Tuhannya, mengenal kehidupan
- dunia, mengenal juga kehidupan akhir?
- Apakah dari pengaruh lingkungan
- atau karena pribadi anak tersebut ya
- yang memang tidak baik karena pengaruh
- pendidikan lingkungannya atau setelah
- dia berumah tangga dia tidak ingin
- terganggu padahal merawat orang tua itu
- betul-betul membawa keberkahan yang tak
- terhingga. Tidak ada seorang anak yang
- berbakti pada orang tuanya,
- merawatnya, membesarkannya, kecuali
- Allah akan buka pintu rahmatnya di dunia
- maupun di akhirat. Bila dia panjang
- umur, Allah akan buka pintu
- keberkahannya
- di dunia. Bila tidak di hari akhirat
- nanti Allah Subhanahu wa taala masukkan
- dirinya ke dalam golongan orang-orang
- yang dimuliakan Allah.
- Ada tiga orang
- bersahabat dan ketiga-tiganya ini orang
- yang berbakti pada ibunya.
- Ketiga-tiganya ini bukan dari latar
- belakang orang
- yang dekat dengan agama. Dia salat ya
- sebagai seorang muslim ya, tapi bukan
- orang yang termasuk dalam lingkungan
- yang agamis.
- Ketiga-tiganya berawal dari orang tidak
- punya.
- Orang tidak bu punya. Saya enggak
- sebutkan jenis pekerjaannya
- agar orang tidak tahu ya siapa mereka.
- Tapi saya ceritakan bagaimana berawal
- dari orang tidak punya. Tapi
- kebaktiannya terhadap ibunya luar biasa.
- Perlahan-lahan. Nasibnya apa? Nasibnya
- berubah dari orang yang tidak punya
- mulai menjadi orang yang punya.
- Si ibu selalu ingatkan anak-anak ini
- untuk perhatian pada siapa? Pada
- adik-adiknya
- yang perempuan.
- Begitu juga adik-adiknya yang laki-laki.
- Subhanallah.
- Ketiga-tiganya ini betul-betul mentaati
- ibunya.
- apa yang ibunya inginkan diutamakan
- melebihi
- apapun juga.
- Bahkan ketika dia menikah,
- dia wanti-wanti pesan pada istrinya,
- "Kamu
- bantu saya untuk betul-betul menjadi
- orang yang bakti pada orang tua. Saya
- bisa maafkan kesalahan kamu dalam urusan
- lain, tapi menyangkut ibu, ya saya tidak
- akan toleransi."
- Suaminya betul-betul sayang sama
- istrinya,
- tapi dia ingatkan istrinya bahwa masalah
- yang berhubungan dengan orang tuanya ini
- di mana merupakan khat ahmar, garis
- merah yang tidak boleh sama sekali
- dilangkahi.
- Jadi si istri juga karena orang karena
- suaminya berbakti pada ibunya dan dia
- jaga perasaan ibunya dihormati si istri
- juga apa demi mendapatkan kecintaan
- suami ya dia juga menunjukkan perhatian
- pada ibunya tapi kalau suaminya kurang
- ajar pada orang tuanya si istri akan
- lebih kurang ajar lagi. Jadi si istri
- bagaimanapun keras tetap dia apa menjaga
- dirinya di saat berhubungan dengan orang
- tua suaminya.
- Allah kasih subhanallah nasibnya
- berkembang dengan pesat.
- Berkembang dengan
- besar. Allah kasih hartanya melimpah.
- Kalau si ibu mengatakan belikan adik
- kamu rumah langsung diberikan. Bahkan
- adik-adiknya semua pekerjaan mereka dia
- yang berikan.
- Malah salah satu dari mereka ini kalau
- malam mabuk,
- kalau pagi tidur, siang baru bangun.
- Tapi yang aneh orang berkumpul di
- rumahnya.
- Ada yang menawarkan tanah, menawarkan
- bangunan, ada yang mau beli tempat dia.
- Jadi, seolah dia tuh bukan orang yang
- bekerja dengan serius, tapi Allah
- kirimkan yang menawarkan barang, yang
- mau beli barang dia.
- Tapi kalau kita lihat ke belakang, arang
- ini,
- begitu bangun buka matanya pertama
- dilihat ibunya. Dia datangi rumah
- ibunya, dia lihat kebutuhan ibunya baru
- beli kendaraan mewah.
- Meri yang pada saat itu baru keluar
- dengan tipe yang terbaik. Sibuk bilang
- kasih saudara kamu diberikan pada
- saudara.
- Sedangkan saudara laki-laki ini bangun
- malam
- puasa. Kalau siang
- dia sudah lebih maju daripada saudaranya
- sebelumnya. Dia bangun rumah
- bertahun-tahun enggak laku-laku.
- Sedangkan ini bangun rumah baru sebentar
- sudah ada yang beli. Sampai sudah
- laki-lakinya bilang sama
- saudaranya ini yang tangannya dingin,
- "Kamu beli rumah saya, kamu bayar harga
- modalnya." Dia bilang, "Baik, saya beli
- dengan harga modalnya. Nanti kalau saya
- jual ada untung, kita bagi dua." Baru
- dipegang beberapa hari, orang sudah
- tawar rumah.
- Padahal orang ini kalau malam mabuk
- berjudi,
- kalau siang tidur,
- tapi Allah kasih di akhir umurnya dia
- bertobat.
- Sedangkan saudaranya yang siang puasa
- malam bangun bilang, "Ya Allah, saudara
- saya yang mabuk kamu luaskan rezeki.
- Sedangkan saya ini yang puasa di waktu
- siang, bangun di waktu malam. Kenapa kau
- biarkan saya seperti ini?" Ternyata apa?
- Yang kakak ini yang maju tadi. Kalau
- ibunya tanya, "Kamu punya uang?" Lagi
- enggak ada umi, lagi begini, lagi
- begitu. Sedangkan yang satu ini kalau
- ibunya butuh sesuatu ada walaupun enggak
- punya dia pinjam-pinjam.
- Jadi kita lihat bagaimana kebaktian
- terhadap orang tua itu akan membuka
- pintu rahmat dan keberkahan. Sampai Nabi
- mengatakan, "Sungguh rugi seorang anak
- dia menjumpai orang tuanya dalam keadaan
- lanjut usia tapi tidak bisa masuk surga
- dengan sebab orang tuanya.
- Karena kalau dia berbakti pada orang
- tuanya itu merupakan jalan yang paling
- pintas menuju surga."
- Cuma sayang orang sekarang memperhatikan
- kesenangan dirinya, ketenangannya, rumah
- tangganya enggak mau terganggu.
- Padahal keberadaan ibu jadi cahaya dalam
- rumah. Memberikan kehangatan. Kalau anak
- kita sakit, ada ibu kita perasaan
- dia meringankan beban kita. Terkadang
- cuma diolesin bawang sama minyak
- itu anak sembuh.
- Dan subhanallah adanya orang tua dalam
- rumah itu baru kita rasakan begitu dia
- meninggal dunia.
- Nah, yang saya jumpai dari orang-orang
- yang berbakti ini Allah murahkan
- rezekinya sampai orang berpikir ini
- orang kerja biasa-biasa aja, tapi kok
- kenapa rezekinya?
- Ada orang banting tulang siang malam
- bekerja,
- ternyata apa? Rezekinya bukan hanya
- pas-pasan, bahkan tidak cukup.
- Jadi bukan hanya bergantung pada usaha
- ya secara langsung berhubungan dengan
- materi kita. Siapa yang ingin diberkahi,
- dilapangkan rezekinya, dipanjangkan
- umurnya,
- berbakti pada orang tuanya.
- Dan langsung sebelum di akhirat Allah
- berikan balasan baginya. Kalau dia non
- muslim, di dunia Allah berikan
- keberkahan yang tak terhingga. Dan kita
- temukan banyak pengusaha-pengusaha
- Cina di Indonesia.
- Allah murahkan rezeki mereka. Waktu
- diteliti ternyata mereka betul-betul
- perhatian terhadap orang tua mereka.
- Sedangkan sekarang banyak orang Islam
- katanya ingin diberkahi hidupnya, ingin
- diluaskan rezekinya, ingin disehatkan
- badannya.
- [Musik]
- Tapi ternyata harapan mereka setelah
- mereka berusaha siang malam segitu-gitu
- aja. Padahal ada orang tua di
- sampingnya. Kalau dia ambil keridaannya,
- berbakti padanya, insyaallah Allah
- bukakan pintu rezekinya. Ada contoh yang
- lain, Mbak Ruli.
- Seorang perempuan datang kepada saya,
- dia menikah dengan seorang.
- Kebetulan dia janda, dia menikah dengan
- seorang ya
- yang cukup terpandang.
- Lalu suaminya mengajak dia berinvestasi
- di Nekel.
- Istrinya kebetulan orang yang beruang.
- Dia masukkan uangnya mungkin puluhan
- miliar masuk.
- Setelah investasi
- ternyata
- tidak kunjung sama sekali apa
- keuntungan datang padanya. Malah dia
- khawatir kalau duitnya tidak kembali.
- Allah kasih subhanallah datang ke tempat
- saya diceritakan keadaannya bahwa dia
- investasi bersama suaminya. Suaminya
- juga anggota TNI ya
- yang cukup tinggi jabatannya.
- Dia enggak sebutkan siapa namanya.
- Kemudian dia bilang, "Saya ingin, Ustaz,
- uang saya kembali walaupun enggak ada
- keuntungan."
- Dia mulai khawatir, kan?
- He.
- Apalagi status dia sebagai istri. Dan
- investasi ini atas dasar suka sama suka
- bukan menggunakan apa? Menggunakan
- artinya bukti tertulis. Tapi karena
- istri cinta pada suaminya,
- diinvestasikan uang.
- Saya bilang, "Mau enggak kamu jalan
- keluar? Kalau saya paling cuma bisa
- berdoa sama kamu.
- Tapi hati orang kan di tangan Allah.
- Kamu punya orang tua enggak? Punya, di
- mana tinggal di Purwokerto?" "Baik, kamu
- pulang sekarang ke Purwokerto."
- "Berapa lama kamu sudah enggak menemukan
- orang tua?" Kamu sudah cukup lama,
- Ustaz. Nah, sekarang kamu pulang ke
- Purwokerto,
- kamu senangkan orang tua kamu, ibu kamu
- nih. Perhatikan dia, berikan apa-apa
- yang menyenangkan dia. Kemudian kalau
- perlu kamu berikan sesuatu agar orang
- tua kamu juga berbagi terhadap orang di
- sekitar supaya orang-orang di sekitarnya
- apa?
- Dan orang tua kamu juga merasa bahagia
- dengan apa yang dilakukan.
- Duduk sama-sama dia sementara waktu.
- J kalau enggak salah duduk sama ibunya
- seminggu atau 2 minggu.
- Setelah itu dia pulang ke Jakarta, minta
- doa dari ibunya. Pulang ke Jakarta.
- Tidak lama kemudian si perempuan telepon
- saya mengatakan, "Ustadz, alhamdulillah
- sebagian uang yang diinvestasikan
- sudah dikembalikan dan dia akan apa
- namanya mengembalikan dengan harapan
- juga ada keuntungannya.
- Jadi terkadang rezeki kita ini seret,
- kita mengalami cobaan karena kita
- mengabaikan orang yang seharusnya
- mendapatkan perhatian terbesar dari
- kita, orang tua kita. Begitu juga
- saudara-saudari kita. Apalagi kalau
- saudari perempuan kita, ibu kita sudah
- meninggal, ada saudari perempuan kita
- atau saudari laki-laki kita susah.
- Kita tidak berikan perhatian buat mereka
- pada saat mereka susah. Itu bisa menjadi
- kendala bagi kita untuk mengalami cobaan
- demi cobaan. Bahkan sempitnya rezeki
- kita juga susahnya hidup kita.
- Tapi kalau kita memperbaiki hubungan
- rahim kita dengan keluarga kita, apalagi
- saudara perempuan kita, saudara kita, di
- saat mereka butuh kita mampu berikan
- bantuan untuk mereka. Itu langsung ya
- lebih ampuh daripada doa yang kita
- panjatkan ya
- tanpa kita melakukan tawasul kepada
- Allah dengan amal-amal saleh. Allah
- perintahkan kita untuk bertawasul kepada
- Allah. Ya ayyuhalladzina amanutaqulah
- wabagu ilaihil wasah. Nah, bertawasul
- kepada Allah dengan amal yang Allah
- cintai.
- Berdoa merupakan tawasul. Sebelum berdoa
- coba sedekah ya, silaturahmi.
- Datang semua orang tua kita senangkan
- hati. Itu namanya tawasul dengan amal
- yang Allah ridai. Begitu juga kita
- membaca Al-Qur'an, berselawat pada
- Rasul, bersikap baik pada tamu,
- tetangga, kita menguji orang yang sakit
- itu merupakan amalamal saleh yang bisa
- menjadi wasilah kita untuk membuka pintu
- rahmat Allah. Jadi, kesimpulannya dua
- kasus yang kita dengar tadi
- sebetulnya kembali kepada pengabaian
- kita. Yang pertama ibu yang dibuang ke
- rumah jompo.
- Kedua anak ini seharusnya diingatkan.
- Ada ulama atau ustaz setempat memberikan
- peringatan, "Kamu sudah mengalami
- kerugian besar. Kerugian yang luar
- biasa. Di mana ibu kamu akan menjadi
- pembuka pintu rahmat, ampunan, dan
- kemurahan dari Allah. Tapi kau buang
- kunci tersebut. Berikan peringatan
- padanya. Jangan kita biarkan ya.
- Kemudian juga Pak pemilik atau pengusaha
- jompo tersebut ya juga diingatkan kalau
- anaknya ingin kembali bertobat mengambil
- ibunya kembali diberikan agar mereka
- tidak menjadi anak yang durhaka. Adapun
- yang kedua, Mbak Nuning,
- ibu yang suaminya meninggal dunia diajak
- oleh anaknya tinggal di rumah.
- Kemudian menghadapi cucu yang
- kocar-kacir, masing-masing membawa
- dirinya yang jejet dan lain sebagainya.
- membuat ibu tidak merasa nyaman dalam
- rumah. Di sini dengan sendirinya
- anak dan mantunya salah. Seharusnya ya
- mereka memberikan perhatian yang
- betul-betul apa besar buat ibunya,
- memberikan nasihat buat anak-anaknya.
- Tapi karena suami istri sibuk bekerja
- untuk membuat anak betah di rumah,
- mereka berikan jejet tanpa kendali.
- Tidak diingatkan juga akan kewajiban
- untuk hormat pada orang tuanya. atau
- orang tua, ayah maupun ibunya akhirnya
- seperti ini. Ini semua akibat dari
- pengabaian
- dan kita rasakan betul-betul ya kita
- mengenal kebaktian pada orang tua juga
- karena pendidikan orang tua dengan
- cerita-cerita yang baik, perlakuan baik
- dari orang tua. Kita ini anak idola kita
- pertama orang yang dalam rumah,
- bukan orang lain. Kita selalu
- beranggapan orang tua kita atau nenek
- kita merupakan orang yang terbaik.
- Walaupun belum tentu mereka terbaik
- dalam arti sebenarnya, tapi buat kita
- merupakan orang yang terbaik. Jadi apa
- yang mereka ucapkan kita percaya, apa
- yang mereka ceritakan langsung masuk ke
- dalam hati kita.
- Nah, kalau orang tua bersikap baik,
- lemah lembut ya dalam berbicara,
- memberikan perhatian itu subhanallah
- apa yang diucapkan orang tua akan betul
- menjadi perhatian kita. Oleh karena itu,
- Rasul dalam mendidik anaknya maupun
- cucunya mendidik mereka dengan penuh
- kecintaan.
- Dan kita harus ingat bahwa rahmatrahmat
- yang kita taburkan
- semuanya akan kembali pada kita. Hingga
- Allah Rasulullah bersabda, "Irhamu man
- fil ardhi yarhamkum man fisama."
- Innallaha yarhamu min ibadihir ruhama.
- Man la yarham la yurham. Kasihi sayangi
- yang di bumi, yang di langit akan
- mengasihi, menyayangi kalian. Allah
- merahmati, mengasihi, menyayangi
- hamba-hambanya yang pengasih dan
- penyayang. yang tidak punya rasa rahmat.
- Orang yang jauh dari rahmat Allah. Dalam
- sebuah riwayat hadis walaupun sanadnya
- lemah, arahmatu maubatin illaatu. Rahmat
- ini kalau diletakkan pada sesuatu
- walaupun sesuatu tersebut merupakan hal
- yang tidak menarik berubah menjadi
- indah.
- Wama nuziat min. Tapi kalau rahmat
- dicabut dari sesuatu walaupun dia cantik
- tampan, hilang keindahan.
- Seekor harimau menyeramkan. Tapi pada
- saat dia berburu
- kemudian membuka beru aja dihidangkan
- pada anaknya si anak makan sambil
- dijilati itu suasana yang mengharukan.
- Padahal harimau itu merupakan binatang
- yang menyeramkan. Betul gak?
- Tapi kalau seekor kambing katakan
- anaknya mau mendekatus ditendang, diusir
- ya katakan umpamanya langsung pandangan
- kita kambing tersebut apa?
- langsung
- perasaan antipati muncul di hati kita.
- Jadi, rahmat ini sebetulnya dicintai,
- disukai, disambut oleh setiap orang.
- Walaupun dia seorang kafir. Walaupun
- seorang kafir, tapi sikap kasar yang
- tidak baik, tidak disukai oleh setiap
- orang, walaupun oleh pasangan kita
- maupun apa anak kita sendiri. Maka gauli
- anak-anak kita dengan penuh rahmat.
- Allah subhanahu wa taala akan
- menumbuhkan rasa rahmat di hati mereka.
- Inna rahmatallah qoribun minal muhsinin.
- Nah, di tengah-tengah pendidikan yang
- begitu maju, Mbak Nuning, zaman dulu
- kita tuh kalau memegang alat elektronik
- takut. Takut rusak, takut salah, takut
- ini. Sekarang anak kecil kita lebih
- canggih dibandingkan kita. Betul gak?
- Kemajuan yang begitu pesat tapi dengan
- jiwa yang rapuh akan menjadi ancaman dan
- bahaya.
- Oleh karena itu yang sekarang dibutuhkan
- di tengah-tengah umat nasihat,
- bimbingan, kelembutan yang menyembut
- menyentuh hati ini yang akan menjadi
- benteng yang kuat bagi mereka. Jadi
- bukan hanya kecerdasan mereka,
- pengetahuan mereka luas, tapi jiwa
- mereka penuh dengan rasa rahmat,
- kelembutan, kemudian juga bekal
- keyakinan akan kebenarannya, dan selalu
- melihat hari akhirat hingga tidak
- menjadi orang yang culas, egois, dan
- arogan. Wallahuam.
- Ikhwan akhwat, ternyata agar terbuka
- pintu rahmat itu tidak bisa tidak satu.
- Yang pasti adalah berbakti kepada ayah
- dan bunda. Semoga kita semua belum
- terlambat ya. Insyaallah.
- Insyaallah.
- Tanpa pula yang akan disampaikan oleh
- psikolog kita. Mari kita simak.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum
- warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah,
- segala puji yang mempunyai rahmat yang
- besar. Segala puji yang berbagai macam
- rahmatnya datang
- kepada kehidupan kita, kepada
- kebahagiaan kita, kepada ketentraman
- kita. Rahmat itulah yang akan mencerna
- dalam kehidupan.
- Ketika rahmat itu datang kepada kita,
- kita akan senang, kita akan bahagia.
- Seperti yang tadi dikatakan
- ketika rahmat itu ada yang jelek, yang
- tidak menarik akan menjadi menarik.
- Dia akan menjadi menarik dan menarik
- menjadikan kehidupan yang menyenangkan.
- Tapi ketika rahmat itu dicabut, yang
- cantik, yang manis akan menjadikan jenuh
- dan kita malas melihatnya
- karena rahmatnya Allah.
- Ketika kita melihat kasus yang terjadi,
- seorang ibu
- dengan
- tenang, dengan diam, dan tidak
- memberontak,
- tidak marah,
- dia diam saja.
- Ketika dia dititipkan di panti jompo
- oleh dua orang anaknya,
- bukan tetangganya,
- bukan temannya, bukan tetapi anaknya.
- anaknya yang menyerahkan kepada panti
- jompo.
- Sesuatu yang luar biasa yang kita tidak
- masuk di akal.
- Seorang ibu
- yang dengan sendirinya dia sudah harus
- dipanti jompo.
- Sebaiknya kalau ibu itu mengatakan,
- "Saya mau dipanti jompo, itu akan lebih
- baik daripada diantarkan oleh
- anak-anaknya ke panti jombo."
- Dan anak-anak itu mentandatang
- mentandatangani
- bahwa kalau meninggal
- dia tidak perlu dikabari.
- Luar biasa
- itu tanda tangannya itu merupakan suatu
- hal yang tidak baik.
- Ibunya itu dia dengan tenang, dengan
- senang, dengan diam, dengan tiap enggak
- ada air mata, tidak ada gerakan apapun.
- Dan kedua anak itu tersenyum
- seakan-akan
- permasalahannya dia sudah selesai.
- Apa permasalahan dirinya?
- Kita lihat seorang anak ketika ibunya
- sudah dititipkan,
- dia merasa nyaman, merasa senang, merasa
- bahagia.
- Apakah dia senang dan bahagia? Kita
- tidak tahu
- ketika dia titipkan dia sudah lepas
- seakan-akan sudah bebas dari penderitaan
- yang diterima dirinya. Siapa itu yang
- diterima? Seorang ibu.
- seorang ibu yang masih
- ya masih semangat untuk hidup
- tapi sudah dipisahkan di panti jompo dan
- tidak diketahui.
- Nah, kita ketahui sekarang apa yang
- terjadi.
- Apa yang terjadi ketika itu dia bisa
- menitipkan? Apa yang terjadi ketika dia
- bisa menitipkan?
- Mungkin pertama kali mungkin
- ibunya di rumah
- cerewet
- minta ini, minta itu, minta itu.
- Akhirnya anak itu enggak mampu menerima.
- sudah dikasih minum minta minuman yang
- lain, dikasih makan minta makan yang
- lain.
- Mungkin cerewet pada saat itu.
- Nah, kecerewetan ini yang membuat
- anak-anak itu enggak sanggup. Mungkin
- bisa juga karena ibunya suka
- marah-marah.
- momel, enggak benar,
- dan selalu tiap pulang dari mana ke
- mana, ngapain aja dan sebagainya.
- Itu yang membuat dirinya menjadi susah.
- Kalau kita mendengarkan semua ini,
- bagaimana hati kita?
- Kalau kita sebagai seorang yang ibu itu
- apa yang kita pikirkan?
- Mungkin juga karena si ibu
- selalu mengganggu
- apa yang dilakukan anaknya. Ketika anak
- lagi melakukan sesuatu, ibu tu datang
- langsung mengikut sertakan. Dan itulah
- akibatnya.
- Ini kita lihat kejadian yang terjadi
- mungkin.
- Tapi yang kita lihat ke belakang
- ketika dia masih kecil, ibunya itu yang
- selalu ramai ke sana kemari memberikan
- makan, menyuapin. Masih kecil kita
- disuapin, disusui,
- pergi ke sana bekerja lari ke sini
- mendengarkan suaminya datang langsung
- berkata berk. Mungkin saja si ibu itu
- sambil marah-marah, "Ayo makan yang
- benar, ayo." Tujuannya adalah untuk
- makan.
- Tujuannya adalah kebaikan. Mungkin saja
- caranya yang tidak baik,
- mungkin caranya masih kecil, tidak
- menyenangkan.
- Sampai sudah mulai SMP, SMA dia selalu
- ribut.
- Jadi keributan-keributan itu bisa saja
- itu yang terjadi si ibunya langsung ke
- sana kemari meninggalkan pergi bekerja
- terus balik lagi dan anak-anaknya tidak
- diketahui
- karena bebas.
- tidak dikenalkan Allah, tidak dikenalkan
- kebaikan, tidak dikenalkan sesuatu yang
- menarik, tetapi keduanya menggunakan
- hijab.
- Mereka mempunyai ketentuan yang baik.
- Dari sini kita akan lihat. Bisa juga si
- ibu itu dengan diam enggak pernah
- memberikan sesuatu, hanya menyampaikan.
- Oh ya, ini ada anak itu pergi ke sana,
- pergi berusaha sendiri. Masih SMP, dia
- pergi ke sana. Ibu itu cuman bilang, "Ya
- sudah, mau sekolah ya oke diberikan."
- Hanya sebatas sebatas yang ringan.
- Dan anak itu bekerja sendiri, melakukan
- sendiri, melakukan ambil ini, mengambil,
- makan-makan sendiri semuanya sendiri
- mandiri.
- Dan ibu itu memberikan makan cukup tapi
- untuk yang lain-lainnya anak itu
- mandiri.
- Sampai sudah besar pun dia mandiri
- sendiri.
- Nah, kalau kita melihat semua ini karena
- tidak adanya interaksi
- antara ibu dan anak.
- Karena tidak ada interaksi ibu dan anak
- yang menyebabkan kedekatan, kelekatan
- itu hilang.
- Apakah dia mendekat kepada ibunya,
- sayang, merangkul, memegangkan
- terus membuat dia bahagia? Apakah itu
- yang terjadi?
- Itu tidak pernah terlihat.
- Kita tidak melihat gambaran-gambaran itu
- yang sebenarnya, tapi kita melihat
- bagaimana ibu itu dititipkan di panti
- jompo
- untuk di panti jompo
- dan ditinggal. Setelah itu dia tidak
- pernah tahu siapa orangnya, anaknya
- siapa,
- siapa dirinya.
- Apakah dia punya saudara, apakah dia
- punya keluarga, sepupu dan sebagainya
- itu tidak pernah terlihat. Dia di panti
- jombo.
- Ini yang kita harus perhatikan.
- Kalau si ibu datang misalnya mendidiknya
- dengan mengarahkan begitu anak lahir dia
- gendong, dia susui, kemudian dia mau
- berjalan, dikatakan, "Yo hati-hati.
- Coba lihat itu Allah, itu punyanya
- Allah.
- Kenangkan Allah
- mulai bicara Allah. Coba lihat,
- hati-hati di situ ada air. Oh, ada air.
- Anak itu akan bahagia
- ketika dia lagi jalan megang sesuatu.
- Nah, itu gelas. Oh, iya. Gelas sampai
- besar. Sampai sudah besar. Anak itu
- mengenal semuanya dengan baik.
- Ketika lagi pergi sekolah ditungguin,
- pulang sekolah disambut dengan baik. Itu
- seorang ibu
- diberikan makan, minum, dimandikan,
- terus semuanya itu seorang ibu.
- Tiba-tiba dia sudah mulai besar kembali
- si ibu itu lelah.
- Siapa yang menggantikannya? Anaknya.
- Ketika anak yang sudah besar, dia
- perawat ibunya, dia tungguin makan, dia
- tungguin, dia bekerja, dia balik, dia
- tungguin, dia lihat ibunya yang
- menyenangkan.
- Itu hasil
- pendidikan yang terbaik.
- Tapi apa jadinya ketika itu dia
- dititipkan?
- Subhanallah.
- Dari berbagai macam peristiwa yang
- terjadi, kita akan lihat bahwa
- ketentuan
- pendidikan,
- arahan itulah yang paling terpenting
- ketika dia mendidik, mengarahkan itu
- yang baik
- insyaallah.
- Dan yang kedua, yang kedua unik, dia
- pergi ke tempat anak-anaknya,
- ternyata
- anak dan istrinya memantunya pergi
- bekerja. Anak-anaknya sekolah, pulang
- sekolah main gadget, enggak ada
- interaksi, enggak ada komunikasi.
- Ditanyain, "Nak, mau makan?"
- Entar
- jawabannya entar ya. Sebentar lagi. Oke.
- Boleh ambilin makan. Lagi ngambilin
- makan. Kita taruhkan makanan di meja.
- Udah ditaruh aja di meja. Oke. Taruh di
- sini. Sini. Sini. Saya lagi main. Lagi
- main gadget.
- Bagaimana kita menghadapinya? Nah,
- ketika itu bukan kita menyerah.
- Ini merupakan perjuangan diri kita.
- Ketika anak itu mengatakan,
- "Taruh di meja, oke, taruh di meja." Dia
- makan, dia tidak makan. Kita enggak
- perlu mikirin
- anak itu bergerak.
- bergerak masuk mengambil makanan. Hei,
- kamu makan. Kita kenalkan bukan kita
- diamkan.
- Bukan aduh udah deh diam deh. Kita
- langsung ke panti jompok aja deh
- daripada sumpek di rumah kayak gini.
- Tidak,
- tidak seperti itu. Tapi bagaimana kita
- hidupkan
- diri kita, kita semangatkan bagaimana
- kita mendidik anak ini yang dididikan
- orang tuanya yang salah, kita didikan
- yang benar.
- Insyaallah kita enggak akan mikir ke
- panti jompo.
- Karena pikiran kita ke panti jompo itu
- merupakan suatu hal yang
- luar biasa. Enggak nyaman, enggak enak.
- Jadi, bagaimana ketika kita bersama di
- rumah anak
- kita perhatikan satu persatu? Oh, anak
- kita enggak benar, kita benarkan. Oh,
- dia salah, kita benarkan.
- Oh, naruh tempatnya salah, kita
- benarkan.
- Kita sebagai orang tua membenarkan
- dirinya,
- insyaallah
- keluarga itu akan menjadi mak senang.
- Insyaallah.
- Masyaallah. Jadi, ikhwan akhwat sebagai
- ayah bunda membekali anak, mengenalkan
- anak dengan Allah. Jadi, PR orang tua
- zaman milenial jauh lebih sulit
- dibanding orang tua kita dulu. Ya, Ustaz
- Husin. Kayaknya ada yang perlu
- ditambahkan deh.
- Kesimpulannya memang ya barang siapa
- yang ingin mendidik anaknya menjadi anak
- yang berbakti
- he
- dia harus lebih dekat kepada anaknya
- dibandingkan dengan kesibukan yang lain.
- Jadi kalau anaknya lebih dekat dengan
- berbagai macam kesibukan yang lain, tapi
- kedekatan emosi ber emosi bersama
- anak-anaknya kurang dengan sendirinya
- perhatian anak kepada apa?
- Kepada apa yang lebih akrab bersamanya.
- Nah, kalau kita kan dulu
- kita merasakan kedekatan emosional
- bersama orang tua dan keluarga di rumah
- itu luar biasa. Kita bermain di luar
- tapi kita cerita ke rumah.
- Kejadian di sekolah bersama teman-teman
- ya. Kita mendengarkan cerita dari nenek
- kita,
- dari orang tua-tua di sekelit kita.
- Mereka bercerita bukan lebih banyak
- ceramah. Kalau kita diceramahi itu
- sebetulnya merupakan tekanan.
- Iya.
- Tekanan ya. Seperti orang yang diadili.
- Kecuali kalau pendekatannya pendekatan
- emosional dalam bentuk cerita yang
- menyenangkan.
- Perhatian yang diberikan oleh orang tua
- itu betul-betul masuk ke dalam hatinya.
- Jadi samping menanamkan nilai-nilai iman
- dalam hatinya, ketauladanan
- dari Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam, orang tua di rumah harus
- menjadi tauladan yang menarik.
- Contohnya dia ingin anaknya menjadi anak
- yang berbakti. Dia tunjukkan kebaktian
- dia pada orang tuanya depan anaknya.
- ikut sertakan anak-anak juga dalam apa?
- Dalam melayani kakeknya supaya ini
- menjadi kebiasaan bukan melalui ceramah
- yang rutin,
- tapi melalui pendekatan yang langsung.
- Dilihat, disaksikan bagaimana orang
- tuanya begitu perhatian pada kakeknya.
- Kemudian
- kalau bisa antara orang tua sama anak
- ada transparansi pada hal-hal yang
- harusnya kita transparan
- karena anak terus memperhatikan orang
- tuanya.
- Jangan kita lebih banyak bicara dengan
- tekanan dan bersifat dogmatis tanpa si
- anak memahami ya
- apa ya hikmah di balik apa bimbingan
- petunjuk orang tuanya. Nanti orang anak
- juga apa pada saat dia punya anak juga
- akan berbuat seperti itu. Sehingga satu
- orang tua
- dia pukul anaknya dengan gasper sampai
- berdarah-darah. Beliau mengatakan, "Dulu
- Abah ini bisa berhasil seperti ini
- karena orang tua keras."
- Dia menganggap dirinya berhasil
- karena apa? Karena materi yang dia
- punya. Padahal di mata istrinya, di mata
- anaknya dia orang gagal.
- Karena istri melihat laki-laki ini sama
- sekali bukan orang yang bagaimana yang
- peduli terhadap anaknya pun hanya satu
- arah. Tapi kalau orang tua membangun
- betul-betul apa? kedekatan emosional
- melalui apa? Melalui ee curhat anak.
- Ketika anak curhat, anak memberikan
- pendapat, kita bisa mendengarkan
- bahkan kita bisa ikuti pendapatnya. Di
- saat dia melakukan perbuatan yang baik,
- kita berikan apresiasi.
- Semoga Allah berikan keberkahan buat
- kamu. Banyak ayah juga bangga dengan
- kamu. Lisa dia salah, jangan kita
- ulang-ulang kesalahan dia. Berikan
- nasihat dengan cara yang baik ya. Bahkan
- kalau bisa jangan di depan orang.
- Panggil anak tersebut. Beritahukan bahwa
- kamu salah dalam hal ini. Dia tidak
- merasa dipermalukan. Apalagi depan
- saudara-saudaranya, apalagi depan
- keluarganya yang lain.
- Karena anak kecil mulai tumbuh. Nah,
- rasa apa? Rasa ee kehormatannya pada
- saat dari mulai dini. Kalau dia biasa
- dicemohkan, biasa dilecehkan, biasa
- dipermalukan, lama-kelamaan dia
- menganggap ini perbuatan biasa.
- Tapi di saat ayahnya, ibunya menjaga
- perasaan anaknya,
- di saat dia memberikan pendapat, ya
- didengarkan ada yang perlu
- penyempurnaan, ada yang perlu
- diluruskan. Jadi antara orang tua sama
- anak pada usia-usia di mana anak bisa
- memberikan pendapat ada hubungan apa?
- Hubungan ee seorang ya dengan temannya.
- Kita mencari teman di luar, Pal di rumah
- kita bisa berteman dengan istri kita,
- berteman dengan anak kita. Dan
- subhanallah orang tua yang mengajak
- anaknya untuk berdialog, berpikir,
- mengajukan pendapat, anak tersebut
- subhanallah dari mulai usia dini punya
- rasa percaya diri, kepribadian yang
- kuat. Tapi orang tua yang selalu
- menakut-nakuti anak apalagi menyalahkan
- pendapatnya, "Kamu tahu apa? Anak kecil
- tidak merasakan perasaan orang tua, itu
- akan membuat si anak hilang rasa percaya
- dirinya. Di saat nanti tampil di muka
- umum kalau anaknya jadi seorang yang
- penakut, yang malu-malu, tidak punya
- keberanian, jangan salahkan anaknya.
- Itu semua sebab dia. Oleh karena itu,
- kita sering jumpai orang tua masa
- anaknya baru tambah SD,
- si orang tua ngajak bicara anaknya
- seperti orang dewasa. Betul enggak,
- anak? Pendapat kamu bagaimana?
- Nah, kalau salah ya diingatkan sama
- orang tua itu anak Subhanallah
- kecil-kecil bicaranya seperti orang
- dewasa.
- Nah, saya lihat di Mesir
- anak-anak seusia seperti ini bicaranya
- dewasa luar biasa.
- Tapi begitu itu anak berada pada usia
- dewasa karena lingkungan pendidikan yang
- tidak baik, anak tersebut kedewasaannya
- hilang kematangannya.
- Jadi pada saat anak tersebut kecil
- sampai orang bilang jenius anak tersebut
- bicara sama orang tuanya apa. Tapi
- lingkungan pendidikan di sekolah itu
- pada saat saya di Mesir ya saya enggak
- tahu sekarang ini itu anak lebih banyak
- punya kecenderungan menghafal
- daripada memahami sesuatu. Dia menguasai
- materi dia tapi urusan yang lain dia
- tidak kuasai. J kalau kita tanya tahu
- enggak di mana Indonesia? Dia berpikir
- di wilayah negerinya. Sampai kalau kita
- bilang Indonesia tuh di samping Tonto,
- Tonto itu merupakan kota yang kurang
- lebih sekitar 1 jam dari Kairo. Dia
- percaya.
- Jadi pengetahuan umum tidak dikuasai
- karena fokus pada pelajaran sekolah. dia
- harus mendapatkan pelajaran yang e angka
- tertinggi untuk bisa masuk ke sekolah
- yang yang dia pilih.
- J rata-rata orang-orang Mesir begitu
- masuk usia dewasa ya kita saksikan
- kecerdasan yang tumbuh pada masa-masa
- katakan SD, SMP itu lama-kelamaan bukan
- berkembang malah menurun karena
- karena apa? Karena pendidikan dan
- lingkungan serta sistem yang salah.
- Anehnya begitu dia tamat katakan dari S1
- dia melanjutkan ke luar negeri katakan
- ke Amerika ke Eropa itu anak berubah
- menjadi orang yang cemerlang kalau dia
- belajar ya kenapa di sana terbuka.
- Jadi ternyata pendidikan yang tidak
- mengajak orang berpikir
- yang tidak mengasah itu bakal membuat
- orang betul-betul stakna dan tidak akan
- berkembang sama sekali. Nah, pendidikan
- yang terbaik orang tuanya. Bagaimana
- orang tua bisa mengajak anaknya
- berkembang? Bukan bangga anaknya bisa
- meraih matematik dengan angka katakan
- 10, fisika 10. Ya, dia banggakan. Tapi
- anaknya yang tumbuh dalam kedewasaan,
- kebijakan itu yang betul-betul harus
- mendapatkan perhatian. Dari mulai
- hubungan dia dengan Allah, hubungan
- dengan orang tuanya, hubungan dengan
- orang di sekitarnya. Karena ini yang
- akan menjadikan dia sebagai seorang
- leader
- dan akan disambut. Begitu orang melihat
- kedewasaan
- dan kepercayaan kejujuran itu akan
- menjadi orang yang dibutuhkan di mana
- pun dia berada.
- Jadi kita harapkan betul-betul apa orang
- tua nih
- dalam mendidik anaknya jangan seperti
- masa lampau.
- Menggunakan cara yang kasar dianggap ini
- merupakan perbuatan yang benar kemudian
- tidak berikan kesempatan buat anaknya
- untuk berdialog karena dianggap nanti
- anak jadi kurang ajar. Akhirnya banyak
- orang tua yang jaim. Begitu anaknya
- tumbuh dewasa, anaknya jauh dari orang
- tua.
- Betul-betul tapi orang tua yang dekat
- sama anaknya menjadi pendamping orang
- tuanya. Kita jumpai pada saat
- acara-acara pergi ke mana-mana, si anak
- selalu mendampingi orang tuanya. Dan
- saya lihat sendiri bagaimana orang tua,
- Bapak Ibu bicara sama anaknya,
- pendapat kamu gimana nih? Coba kamu
- berikan masukan. Dia lebih banyak
- menerima masukan anaknya bukan karena
- apa? Bukankah dia tidak tahu, tapi ingin
- membuat anaknya apa? Percaya diri. Dari
- mulai kecil dipupuk sampai ketika dewasa
- jadi orang yang betul-betul berbakti
- pada ayah ibunya dan semua permintaan
- orang tuanya untuk saudara-saudaranya
- mendapatkan perhatian yang besar.
- Jadi sebetulnya anak tumbuh tergantung
- bagaimana pendidikan dan lingkungan.
- Nah, saya kebetulan pada saat masa
- kanak-kanak nih hidup dalam lingkungan
- yang saya anggap agak semeraut sedikit.
- Agak semeraut ya. Kemudian juga ya
- banyak kontradiksilah kita hadapi itu
- membuat kita terlambat dewasa.
- Membuat kita apa? Terlambat dewasa.
- Waktu saya berangkat ke Mesir, Mbak
- Runing itu kita punya jiwa masih dalam
- keadaan apa? Kontradiksi.
- Karena apa? Yang ini maunya begini, yang
- ini maunya begini. Kita tidak punya
- kepribadian yang solid, kuat untuk bisa
- mengambil keputusan. Baru setelah kita
- ke Mesir menghadapi cobaan yang
- bermacam-macam,
- kita yang menyenangkan orang di sini,
- ya. Mengecewakan yang di sini, akhirnya
- hati kita enggak pernah nyaman sama
- sekali.
- Subhanallah. Begitu kita dekat dengan
- Al-Qur'an, meresapi ayat Allah, di sana
- terbangun kepribadian kita. Saya pikir
- daripada kita cari kesenangan manusia
- yang tidak akan sama sekali bisa
- dipuaskan, mendingan kita cari keridaan
- Allah. Walaupun orang enggak suka, no
- problem. Dan mulai saat itu Allah kasih
- subhanallah kita tidak lagi terganggu
- dengan pendapat orang,
- bahkan pendapat keluarga. Selagi kita
- yakin di benar, orang boleh memberikan
- penilaian
- tapi tidak berpengaruh terhadap sikap
- kita. Selagi kita mengambil sesuatu atas
- dasar kebenaran, diiringi dengan
- bukti-bukti yang jelas. Nah, setelah itu
- justru apa? Sikap kita bukan lagi
- mencari keribuan manusia,
- tapi kita berusaha mencari keridaan
- Allah dan memperlakukan manusia juga
- dengan perlakuan yang sama dan baik.
- Jadi saya merasa saya mengalami
- keterlambatan dewasa karena berada pada
- lingkungan juga keadaan yang
- kontradiksi. Ini merupakan fakta yang
- kita enggak bisa ingkari. Tapi kalau
- kita bisa membentuk mendidik anak kita
- untuk tumbuh kepercayaannya, kedekatan
- bersama orang tua, insyaallah
- mudah-mudahan
- orang tua tidak bersusah paya mendidik
- anaknya, tapi dia akan petik buahnya
- setiap saat. Inilah yang diajarkan Nabi
- kita Muhammad sallallahu alaihi wa alihi
- wasallam. Wallahuam.
- Masyaallah. Ikhwan akhwat, bahasan hari
- ini enggak tahu deh apa kita kecubit apa
- seperti apa. Yang jelas bahwa berbakti
- kepada ayah bunda membuka pintu rahmat
- dari Allah Subhanahu wa taala dan PR
- kita, kita harus bekali anak-anak kita
- agar mampu menjadi sosok sebagaimana
- yang tadi digambarkan oleh Ustaz Husein
- dan juga Ustaz Abu Bakar. Oh ya, kalau
- ada di antara
- ikhwan akhwat yang ingin menyampaikan
- sesuatu boleh kirim ke WA. Mungkin
- minggu depan bisa dibahas karena siaran
- kali ini rekaman ya. Ke 0811
- 999720.
- Terima kasih Ustaz Husein, Ustaz Abu
- Bakar dan semua yang bersama-sama acara
- psikologi keluarga. Billahi taufik wal
- hidayah. Wasalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh. Alhamdulillah.