Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- dan rasil visual untuk Islam yang satu.
- Baik, Iwan Akhwat. Terima kasih masih
- bersama kami di tausiah siang bersama
- Ustaz Ahmad Zaki. Dan alhamdulillah kita
- memasuki sesi kedua dan sudah ada
- beberapa pertanyaan nih Ustaz ya. Iya.
- Baik kita mulai dari hamba Allah di
- Jakarta Selatan. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ingin bertanya, Ustaz.
- Mendirikan salat dan menutup aurat
- sama-sama ibadah yang wajib bagi
- muslimah. Apakah berdosa jika belum bisa
- menutup auratnya secara sempurna? Dan
- bagaimana pahala salatnya? Apakah
- berkurang? Syukran, Ustaz.
- Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma
- alhimna rusdana waimna ma
- yunfauna wazidna ilma.
- Masalah salat dan menutup
- aurat ini sama-sama perintah Allah,
- sama-sama wajib.
- Jadi karena ini sama-sama perintah Allah
- yang harus kita
- laksanakan dan tidak
- ada tawar-menawar dalam masalah hukum
- Allah Taala.
- Bagi
- kita para dai, para
- asatizah cuma punya kewajiban
- menyampaikan dengan cara-cara yang
- lembut, cara-cara yang santun yang bisa
- diterima oleh orang
- banyak. Tapi saya dan orang lain,
- siapapun juga tidak bisa meringankan,
- tidak bisa mengubah ketetapan Allah
- Subhanahu wa taala.
- Tapi kita juga tidak boleh memutuskan
- harapan. Saya mengatakan, "Percuma, Ibu
- salat kalau enggak menutup aurat." Itu
- juga enggak boleh. Saya sudah
- melebih-lebihkan. Akhirnya ada orang
- berbalik dengan jawaban-jawaban yang
- kasar. Mending enggak usah salat
- sekalian ketimbang enggak menutup
- aurat. Itu juga enggak boleh. Jadi,
- menutup aurat hukumnya wajib.
- Salat juga wajib. Ini
- terpisah. Salatnya wajib, tutup auratnya
- wajib. Jadi karena ini terpisah,
- masing-masing berdiri
- sendiri. Kita tidak bisa mengatakan
- kalau tidak tutup aurat berarti percuma
- kita salat. Berarti mendingan enggak
- usah salat sekalian. Itu enggak boleh.
- Saya juga kalau saya mengatakan seperti
- itu, saya akan berdosa. Apalagi dengan
- sebab saya sampaikan seperti itu, banyak
- orang yang tadinya salat akhirnya enggak
- salat karena jawaban-jawaban saya yang
- kasar. Jadi, tetap ibu tetap wajib
- salat. Jangan terpengaruh. Oh, karena
- saya belum belum bisa tutup aurat.
- Jangan terpengaruh dengan itu. Yang ada
- ibu hanya berusaha
- terus-menerus. Salat tetap.
- Kemudian ibu perbaiki sambil banyak
- baca-baca buku-buku agama, bertanya,
- bergaul, bercampur, bermuamalah dengan
- orang-orang yang
- berhijab yang insyaallah sedikit demi
- sedikit ibu akan mampu menutup aurat
- berhijab dengan hijab yang
- syar'i. Jadi jangan ibu juga bapak
- semuanya jangan
- dengarkan orang-orang yang memberikan
- komentar percuma salat kalau tidak tutup
- aurat. Ini dua hal yang
- berbeda. Seandai
- kata ada orang salat tapi masih mabuk,
- salat tapi judi, saya tidak akan
- mengatakan lebih baik enggak usah salat
- sekalian. Saya enggak boleh mengatakan
- begitu. Salat tetap wajib, judi tetap
- haram. Bagaimana kalau saya salat juga
- tapi saya judi juga? Itu urusan saya
- kepada Allah. Seandai kata saya enggak
- salat, saya dapat dua dosa. Dosa judi
- dan dosa tinggalkan salat. Tapi kalau
- saya salat tapi saya berjudi, walaupun
- saya tetap berdosa karena perjudian
- saya, tetap saya mendapatkan pahala
- karena salat saya. Jadi ini dua hal yang
- berbeda. Nah, jadi insyaallah saya hanya
- bisa berhusnudzan, berdoa, berusaha.
- Mudah-mudahan banyak wanita-wanita yang
- muslimah yang sampai saat ini belum bisa
- berjilbab, berhijab dengan cara yang
- syari, tapi mereka salat. Mudah-mudahan
- salat mereka akan menarik mereka ke arah
- yang lebih baik lagi. Akan memperbaiki
- kekurangan-kekurangan mereka dan
- menutupi aurat-aurat mereka. Innasata
- tanha anil fahya wal munkar. Insyaallah
- salat yang baik, kualitas iman yang baik
- akan mencegah seseorang melakukan
- larangan-larangan Allah Subhanahu wa
- taala, bukan
- sebaliknya. Yang
- akhirnya maksiat mereka justru
- menyebabkan mereka tidak
- salat. Wallahuam. Demikian dari hamba
- Allah di Jakarta Selatan ya. Semoga
- terjawab pertanyaannya dan kita memasuki
- pertanyaan kedua. Namun sebelum saya
- bacakan, kami mengundang kembali Iwan
- Ahot yang ingin mengirimkan
- pertanyaannya. Barangkali tadi lupa
- di-save ya nomornya di
- 0811999720. Nah, ini pesan apa? Pesan
- WhatsApp ya. Jadi, Wawat bisa
- mengirimkan pertanyaannya melalui nomor
- WhatsApp yang tadi atau ingin
- berinteraksi langsung bersama kami
- studio dapat melalui nomor telepon
- 0218451512. Baik, untuk pertanyaan yang
- kedua, Ustaz. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah. Saya mau
- bertanya, berdosakah saya yang tidak
- mengenalkan anak saya kepada bapaknya
- yang dari bayi sudah berpisah karena
- perceraian? Iya, karena setelah
- perceraian putus, Karena setelah
- perceraian putus komunikasi sama sekali.
- Anak saya sekarang sudah 4 tahun tapi
- belum tahu dan belum pernah ketemu
- bapaknya. Ini bagaimana, Ustaz? Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Memang perceraian sesuatu yang
- sebenarnya enggak
- diinginkan itu merupakan musibah bencana
- buat rumah tangga kita. Anak yang akan
- menjadi korban.
- Tapi ini juga merupakan solusi ketika
- rumah tangga sudah lagi enggak bisa
- disatukan, enggak ada keharmonisan rumah
- tangga
- bagaikan neraka, maka tetap Islam
- memberikan solusi, yaitu alfiraq,
- berpisah demi menyelamatkan akhirat
- kita, masa depan kita. Tapi tetap saja
- anak akan menjadi korban.
- Anak tetap tidak
- putus. Kalau suami istri itu bisa
- bercerai, bisa berpisah. Suami bisa
- nikah lagi, istri pun bisa nikah
- lagi. Enggak ada istilah bekas anak,
- bekas orang tua. Tapi kalau bekas suami,
- bekas istri
- ada. Jadi anak tetap anak, bapak tetap
- bapak, ibu tetap ibu, anak juga tetap
- wajib taat kepada ibunya.
- Begitu juga anak
- walaupun ibu bapak sudah berpisah, tetap
- anak pada satu saat dia akan wajib taat
- kepada
- bapaknya. Siapapun bapaknya walaupun
- beda agama, beda
- akidah. Jadi,
- Ibu kalau memang ibu tidak
- sengaja, bukan ibu
- menghalang-halangi, jangan sampai anak
- ini kenal bapaknya. Insyaallah enggak
- masalah. Itu nanti akan proses ya.
- Insyaallah tetap anak ini akan mencari
- siapa
- bapaknya. Tapi yang terpenting ibu
- jangan menghalang-halangi karena memang
- dia tetap anak bandar bapaknya tetap
- bapak. Begitu juga ibu. Ibu punya hak
- untuk ditaati sama anak. Tetap ibu punya
- hak sebagai seorang ibu dan anak ibu
- juga tetap anak sampai kapanpun juga
- masing-masing punya hak. Jadi, selagi
- ibu memang tidak ada usaha untuk
- mencegah anak ini, jangan sampai
- terkenal siapa bapaknya, insyaallah ibu
- enggak apa-apa, ibu enggak dosa. Dan
- kalau memang nanti pada satu saat pasti
- anak ini akan bertanya, anak-anak orang
- lain punya bapak manggil papa, papa,
- abi, aba, kemudian anak ini akan
- bertanya nanti, "Bu, papa saya siapa
- sih? Kok saya enggak punya Bapak dan
- lain-lain? Itu pasti akan bertanya
- nantinya. Nah, nanti boleh Ibu sampaikan
- jangan Ibu cegah-ceah. Nah, nanti tetap
- perkenalkan. Insyaallah akan menjadi
- kebaikan. Walaupun katakan suami, mantan
- suami ibu sudah menikah lagi atau ibu
- sudah menikah lagi, enggak masalah.
- Jangan hal ini menjadi penghalang untuk
- kebaikan. E jadi yang terpenting ibu
- jangan ada usaha untuk
- menghalang-halangi. Insyaallah walaupun
- sampai saat ini karena anak mungkin
- masih terlalu kecil atau pada satu saat
- mantan suami
- ibu kepengin
- kenal yang tadinya waktu masih bayi atau
- mungkin masih di perut dia sudah
- berpisah. Sekarang ada penyesalan
- kepengin ketemu anaknya darah dagingnya
- sendiri.
- Jadi enggak apa-apa, Ibu jangan
- menghalangi. Insyaallah ibu akan
- mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu
- wa taala. Wallahuam. Baik. Tadi juga
- disebutkan bahwa ibunya sedang merantau
- di Bogor dan bapaknya di Jawa Timur.
- Cukup jauh juga, Ustaz. Oh, iya. Iya.
- Baik, pertanyaan selanjutnya.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullah. Dari Setu, Ustaz. Semoga
- selalu diberikan kesehatan. Amin. Waak.
- Saya mau bertanya, Wahabi itu apa ya,
- Ustaz? Kok setiap saya dengar dakwahnya
- orang-orang itu kok aneh ya, ekstrem.
- Mohon bimbingannya karena baru belajar
- dari Ridwan dietu. Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim. Masalah
- Wahabiyah. Sebenarnya ee saya termasuk
- orang yang enggak mau berbicara soal
- masalah ini, apalagi radio kita ini
- radio pemes 1 ya. Dan saya juga enggak
- mau menghujat, menyalahkan, mengklaim
- sama sekali enggak. Tapi ini hanya
- sedikit sebagai
- wawasan. Jadi kalimat wahabi ini berasal
- dari nama orang. Ada
- seorang
- yang ini soal sudut pandang ya, ada yang
- mengatakan mujadid dan lain-lain itu
- terserah. Jadi ada seorang dari Saudi
- Arabia kalau sekarang tempatnya di Riyad
- itu seorang yang bernama Muhammad bin
- Abdul
- Wahab. Muhammad bin Abdul Wahab ya. Ada
- yang mengatakan imam, mujaddid dan
- sebagainya ya. Tapi namanya aja saya ya.
- Jadi namanya Muhammad bin Abdul
- Wahab. Dari kata Abdul Wahab ini di
- Wahabi dinisbahkan ke sana.
- Jadi wahabi orang yang menganut atau
- yang berada dalam lingkaran ini
- dikatakan
- Wahabi. Ya, termasuk katakan ada orang
- Sunni atau Asy'ari nisbah kepada Abul
- Hasan
- al-Asy'ari. Saya seorang Sunni Asy'ari
- berarti saya pengikut Abul Hasan
- al-Asy'ari.
- Saya adalah Asyafi'i. Berarti saya
- penganut mazhab Muhammad bin Idris
- Assyafi'i. Dan lain sebagainya. Begitu
- juga kalau ada seorang dikatakan fulanun
- wahabiyun. Fulan adalah seorang wahabi.
- Berarti dia yang mengikuti atau berada
- dalam lingkaran atau mazhab Muhammad bin
- Abdul Wahab.
- itu makna asal kata dari makna
- Wahabi. Soal perbedaan itu sangat banyak
- dan enggak akan ada
- habisnya. Saya juga termasuk ini terus
- terang saya termasuk orang yang sering
- dihujat
- Wahabi-wahabi karena bukan karena saya
- Wahabi, cuma karena saya pernah di
- Libia. Anak saya juga di Libia.
- Adik saya juga pernah di
- Lipia, tapi tidak ada kaitan dengan itu.
- Dan orang yang keluar dari sana pun
- tergantung nanti macam-macam. Ada yang
- ke Salafi Wahabi karena mereka cenderung
- ke sana. Ada yang tetap berada di
- bingkai ke NU-nya. Tetap
- mereka ee apa? Maulidan,
- tahlilan. Ada nanti yang sifatnya itu
- harakah. lari ke politik, ke partai, itu
- nanti tergantung orangnya. Dan saya
- lihat juga waktu saya masih di Lipia itu
- tidak semua dosen-dosen yang di Timur
- Tengah itu satu paham. Yang dari Mesir
- walaupun sama mengajar di situ, ada yang
- Sunni, Syafi'i,
- Asy'ari, nanti ada lagi yang
- macam-macamlah. Jadi dosen-dosen saja
- enggak ada yang sama. bahkan yang
- sama-sama dari Saudi Arabia juga itu
- juga
- berbeda-beda. Nah, nanti yang saya lihat
- di sana banyak ini yang dosen-dosen dari
- Saudi yang dinisbahkan kepada
- Wahabi. Ada dosen yang sejak dia datang
- sampai
- terus itu tidak ada yang berubah
- pakaiannya tetap. Mereka menggunakan
- pakaian putih gamis.
- Mereka tidak mau pakai celana karena
- memang itu keyakinan mereka. Jadi, sunah
- Rasulullah enggak pernah menggunakan
- celana dan bagi mereka haram pakai
- celana karena membentuk apa namanya?
- Pinggul kita. Itu enggak apa-apa bagi
- mereka. Silakan mereka mau apa bermazhab
- atau mereka meyakini seperti itu. Tapi
- mereka juga enggak menghujat. Banyak
- siswa-siswa bahkan dosen-dosen dari
- Saudi sini yang pakai celana.
- Jadi sama-sama Wahabi, tapi yang satu
- pakai celana, yang satu tetap bersih
- keras dengan pakaian adat mereka, tapi
- enggak ada perbedaan di antara mereka.
- Begitu juga ada dosen-dosen dari Saudi
- yang nisbahnya kepada Wahabi. Mereka
- ganti pakaian dengan safari, dengan
- pakai celana panjang dan normal seperti
- kita pakai celana panjangnya di apa? di
- bawah mata kakiah. Tapi ada lagi nanti
- yang memang dari siswa-siswa yang memang
- sudah punya cara yang berbeda. Mereka
- pakai celana tapi cingkrang. Tapi enggak
- ada masalah di antara kita
- semua. Walaupun berbeda, tapi enggak
- masalah.
- Dalam perbedaan pandangan
- mazhab benar terjadi perbedaan tapi
- secara praktik kita tetap sama-sama
- muslim kita tetap beri salam. Jadi
- enggak no problem sama sekali. Nah, jadi
- itulah masalah
- apa? Wahabi, sekte Wahabi. Dan kalau mau
- lebih lanjut lagi silakan deh baca
- buku-buku itu nanti sudut pandang itu
- macam-macam. Dan saya sarankan walaupun
- yang namanya buku ini karya manusia,
- pandangan
- manusia, tapi coba kalau mau tahu lebih
- jauh lagi tentang sekte
- Wahabi, baca buku Ahlusunah Wal Jamaah
- yang ditulis oleh KH Sirajuddin Abbas.
- Itu orang NU, orang Padang,
- Muhammadiyah. Tapi ee mirip seperti
- kita. dia tidak bicara soal
- perbedaan-perbedaan,
- tapi ee apa hanya
- fakta-fakta. Dan juga enggak cukup hanya
- dengan satu buku. Silakan baca-baca dari
- referensi dan sumber-sumber yang lain
- untuk memperkaya pandangan kita,
- khazanah keilmuan kita, wawasan
- keagamaan kita. Wallahuam.
- Demikian ee jawaban untuk hamba Allah
- ya. Eh, diu tadi Pak Ridwan ya. Dan kita
- ke pertanyaan selanjutnya.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullah. Dari Ibu Rosita di
- Cikarang. Mau tanya, Pak Ustaz, maaf di
- luar tema. Bagaimana hukumnya anak
- perempuan yang waktu bayi tidak disunat?
- Bolehkah dalam Islam? Mohon
- pencerahannya, Pak Ustaz. Terima kasih.
- Iya. Bolehkah? Berarti itu bolehkah
- hukumnya anak perempuan yang waktu bayi
- tidak disunat? Jadi, bolehkah enggak?
- Maksudnya pertanyaannya bolehkah enggak
- disunat gitu? Heeh. Oh iya dalam Islam.
- Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alkitan
- sunatun lirrijal makrumatun
- linnisa.
- Khitan. Kalau bahasa kita susah ya
- diartikannya khitan. Kalau saya artikan
- sunat. Sunat itu sunah nabi susah juga
- ya. Jadi apa tuh bahasa kedokterannya
- sih ada ya tapi bahasa Indonesia bahasa
- kampungnya tuh saya belum dapat.
- E jadi khitan itu bisa juga wajibah
- lirrijal. Wajib karena ee tentu ada
- faktor-faktor ya. Walaupun sebenarnya
- katakan ada yang mengatakan enggak wajib
- ya, tapi ujung-ujungnya juga akhirnya
- wajib ya.
- Jadi merupakan keharusan buat
- laki-laki karena laki-laki berbeda ya
- alat vitalnya itu berbeda. Jadi kalau
- memang enggak dipotong anak laki ya
- enggak
- dikhitan kencingnya itu enggak tiris.
- Banyak sisa-sisa air kencing yang
- mengendap di sana.
- Mau tidak mau itu
- yang menyebabkan air tiris itu enggak
- enggak enggak
- tiris. Akhirnya harus dipotong demi
- kebersihan, demi kesucian. Karena di
- antara syarat sahnya salat itu adalah
- attaharah. Harus
- suci. Nah, mau tidak mau itu harus
- dipotong ya.
- Berarti bisa kita katakan wajib ya.
- Walaupun sudut pandang berbeda, tapi
- tetap ujung-ujungnya saya bilang tetap
- aja wajib
- nanti makrumatun linnisa. Kalau untuk
- wanita itu enggak menyebabkan seperti
- laki-laki. Dia enggak
- menghalangi keluarnya air seni dan
- enggak menjadi penyumbat karena
- beda-beda ya. Nah, jadi kalau untuk
- wanita ini hanya digores dikit makrumah.
- sebagai
- kehormatan karena itu alat vital ee bagi
- wanita yang disebut albadar ya klitoris
- itu itu apa? Sumber
- syahwat. Nah, oleh karena itu untuk
- takdilus syahwah untuk menyederhanakan
- jangan sampai anak perempuan kita ini di
- masa ketika sudah gadis jadi brutal,
- syahwatnya terlalu besar. Kalau
- syahwatnya terlalu besar itu enggak
- terkendali. Jadi enggak punya malu
- nantinya. Jadi itu makrumah untuk
- mempersiapkan masa depan anak. Jadi
- wanita yang terhormat, enggak mengikuti
- nafsunya, enggak menjual dirinya dengan
- harga murah menjadi tempat pelampasan
- laki-laki karena syahwatnya terlalu
- tinggi. Akhirnya itu harus
- digores. Jadi takdilus syahwah untuk
- menyederhanakan, untuk menjadikan dia
- menjadi wanita yang terhormat.
- Jadi kalau bagi perempuan memang benar.
- Kalau dikatakan enggak wajib memang
- benar tapi makrumah. Apakah kita mau
- anak kita ini punya kelainan, kebutuhan
- seks yang terlalu tinggi? Jadi mau tidak
- mau sekedar
- digores. Andai kata masih kecil enggak
- sempat disunat, enggak apa-apa terlambat
- sedikit. Pas sudah gadis atau ketika mau
- menikah enggak masalah juga. Boleh-boleh
- saja. Gimana kalau enggak dikitan?
- Enggak di ikhtan boleh juga apalagi
- sudah berumah tangga, sudah punya suami,
- sudah punya tempat pelampiasan, tapi
- tetap ini makrum
- linisa. Seperti ini deh, seperti kuping.
- Kuping kalau anak perempuan kan ditindik
- ya, dibolongi kupingnya. Sekarang kalau
- andai kata enggak ditindik, ya enggak
- dosa sih, enggak masalah, enggak ada
- kelainan. Dia enggak bakal sakit karena
- kuping enggak enggak ditindik. Cuma kan
- pada umumnya di Indonesia atau di muka
- bumi semua saya kira itu perempuan itu
- harus ada perbedaan dengan laki. Jadi
- kupingnya harus bolong. Walaupun enggak
- harus dibolongkan sebenarnya
- tapi apa? Sudah menjadi adah. Al-adah
- muhakamah. Ah jadi tetap sebaiknya
- walaupun tidak wajib sebaiknya tetap
- walaupun sudah gadis tetap harus di
- khitan. Sekedar syarat doangan. Bukan
- seperti laki-laki dipotong, tapi sekedar
- ya katakan dipencet pakai kuku sedikit
- atau digores pakai ya pakai benda yang
- tajam sedikit ya. Tapi itu nanti rumah
- sakit atau dokter yang lebih memahami
- masalah melaksanakannya. Wallahuam.
- Baik, pertanyaan selanjutnya Ustaz dan
- mungkin menjadi pertanyaan terakhir di
- acara tausiah siang ini sebelum Ustaz
- memasuki kesimpulannya. He. Baik.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Dari Bapak Suroso, 64 tahun
- Pondok Lap. Alhamdulillah nih ya
- pendengar kita ee ada seseorang yang
- ahli zikir tapi masih ada rasa egois
- tidak mau musyawarah. Mohon
- pencerahannya ini bagaimana Ustaz? Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim. Memang
- akhir-akhir ini saya perhatikan banyak
- orang yang masuk dalam kelompok zikir,
- tarekat, tapi mereka enggak pelajari
- agama, enggak pelajar, enggak hadir ke
- majelis taklim.
- itu
- mengkhawatirkan. Jadi
- dalam agama ini rukun agama ada tiga.
- Ada Islam, iman, Islam, dan ihsan. Ini
- enggak bisa
- dipisah-pisahkan. Kita ingin beribadah
- kepada Allah, tapi harus ada tata
- caranya. Zikir juga ada tata caranya,
- ada etikanya, ada adabnya.
- Kalau cuma
- zikir tanpa kita mengikuti, tanpa ada
- adabnya, kemudian terpisah.
- Jadi hanya
- satu, hanya katakan kita beriman kepada
- Allah Taala tapi ada tata cara
- pelaksanaan ibadahnya. Kita enggak mau
- pakai ngikuti ajaran Islam yang sudah
- digariskan oleh Allah Taala. Enggak
- bisa. Jadi ibadah juga harus ada tata
- caranya. Nah, apalagi cuma karena
- masalah zikir, akhirnya jadi angkuh. Ini
- enggak lepas dari
- setan. Ego yang ada pada diri kita
- sendiri itu masing-masing ada. Kemudian
- setan pun akan menyesatkan kita melalui
- zikir kita karena kita enggak belajar
- agama. Jadi, yang namanya ilmu
- pengetahuan agama, kita pelajari
- tasawuf, pelajari fikih, pelajari
- akidah, itu merupakan satu keharusan.
- Karena Allah katakan dalam Al-Qur'an,
- innama yaksyallaha min ibadihi al ulama.
- Yang bertakwa, yang mengerti takwa, yang
- takut kepada Allah hanyalah orang-orang
- yang berilmu. Adapun yang tidak berilmu,
- ahli-ahli ibadah ini berapa kali setan
- mendatangi ahli-ahli ibadah dan masih
- banyak ahli ibadah yang terjebak oleh
- setan. Al Imam Assyafi'i radhiallahu
- anhu pernah didatangi oleh iblis.
- Iblis mengatakan, iblis memberikan
- pertanyaan kepada
- Assyafi'i. Itu macam-macam
- pertanyaannya. Akhirnya kata Iblis
- dengan pertanyaan ini itu di zaman Imam
- Syafi'i. Di zaman beliau, Iblis
- mengatakan, "Dengan pertanyaan ini, aku
- telah menyesatkan 70.000 ahli ibadah."
- Itu tingkatan tinggi ahli ibadah.
- Apalagi kalau orang-orang kita ya, yang
- belum seberapa ibadahnya. Ini abid. Abid
- yang ahli
- ibadah itu 70.000 di zaman Imam Syafi'i
- disesatkan oleh iblis. Kalau sudah sesat
- itu sudah keluar dari
- agama. Nah, apalagi kita. Nah, oleh
- karena itu yang namanya belajar agama,
- akidah syariah itu enggak bisa enggak.
- Jadi kalau kita cuma zikir, saya enggak
- mau ke masjid, saya enggak mau belajar
- agama, enggak mau mendalami ilmu-ilmu
- agama, berarti saya masuk dalam
- perangkap setan. Itulah yang namanya
- azzanadiqah. Zindik. Berada ah menjadi
- ahli ibadah, tapi tidak berdasarkan
- agama. Hanya iblis yang mengarahkan,
- yang menuntut. Jangan-jangan mungkin
- saja menjadi penyembah-penyembah iblis
- karena enggak ada ilmu. Akhirnya mereka
- menjadi penyembah iblis. Dan ini banyak
- sekali. Saya juga punya teman, saya
- punya kenalan. Ini bukannya omongan
- tanpa fakta. Memang benar anti salat.
- Bahkan orang salat dilarang. Buat apaan
- salat? Enggak ada aturannya dalam
- Al-Qur'an, enggak ada dalam Islam. Yang
- disuruh adalah zikir. Siapa yang
- mengatakan begitu? Jadi enggak salat,
- enggak puasa, tapi zikir sampai begadang
- sampai pagi itu yang dikerjakan. Apa
- arti ini semuanya? Zikir amalan tanpa
- tuntunan. Akhirnya dolla faollanas,
- sesat dan menyesatkan orang lain. Para
- pendengar pemirsa TV Rasil
- rahimakumullah. Inilah yang bisa saya
- sampaikan
- menjelang awal tahun, akhir dan awal
- tahun. Marilah kita baca muhasabah diri.
- Dosa kita banyak, salah kita banyak.
- Marilah kita belajar agama. Perbaiki
- agama kita, akidah kita. Jaddidu
- imanakum. Hayya nujaddid imanana. Ayolah
- kita perbaharui agama kita, perbaharui
- keimanan kita dengan cara kita belajar
- agama, tobat kepada Allah, muhasabah
- diri. Itulah yang namanya atajdid. Kita
- memperbaharui agama kita. lagi. Tapi
- bukan berarti membawa agama yang baru
- bukan ya. Tapi diri kita ini
- masing-masing kita perbaiki. Insyaallah
- kita akan terlahir sebagai manusia yang
- mendapatkan limpahan rahmah dan magfirat
- taala di akhir dan awal tahun ini.
- Semoga kita semuanya mendapatkan apa
- yang sudah menjadi kebutuhan kita di
- masa depan kita. Amin. Allahumma amin.
- Wama taufiq illa billah alaihi tawakaltu
- wa ilaihi unib. Subhanakallahumma
- wabihamdik ashadu alla ilaha illa anta
- astagfiruka wa atubu ilaik. Wasallallahu
- ala nabiyana Muhammadin wa ala alihi
- wasahbihi wasallam. Walhamdulillahi
- rabbil alamin. Wasalamualaikum
- warahmatullah wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Demikian Wanwat tausiah
- siang kali ini bersama Ustaz bersama
- Ustaz Ahmad Zaki dan tentunya kita juga
- mengucapkan banyak terima kasih kepada
- Ustaz yang sampai akhir tahun hijriah
- ini masih bersama kami di situ ya dan
- semoga selalu diberi kesehatan agar Ahad
- depannya kita masih bisa berbincang
- mengenai kitab Mukhtarul Ahadis
- Annabawiyah dan kita juga mengucapkan
- terima kasih banyak kepada para ikhwan
- dan akhwat yang telah berpartisipasi
- pada ke siang kali ini. Dan akhirnya
- saya PJ Ahmad bersakur yang bertugas ada
- Ondi dan Yusuf Subangkit di meja
- operator. Mohon undur diri.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilaha illa antubu ilaik. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- H
- [Musik]