Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:41 [musik] 0:45 [musik] 0:55 [musik] 1:18 Bismillahirahmanirahim. 1:19 Assalamualaikum warahmatullahi 1:21 wabarakatuh. 1:22 Allahumma sholli ala Muhammad ali 1:23 Muhammad. Alhamdulillah kita berjumpa 1:26 lagi hari ini hari Rabu tanggal 29 1:29 Dzulhijjah 1441 Hijriah atau tanggal 19 1:33 Agustus 2020. Seperti biasa Radio 1:36 Silaturahim dan Rasio TV melalui YouTube 1:38 kembali mengudara acara tamu kita. Tamu 1:41 yang kita hadirkan ini luar biasa. 1:42 Siapkanlah saja pulpen dan kertas ya. 1:45 Dan untuk Anda yang lagi pusing-pusing 1:46 karena Covid-19, rezeki sepertinya agak 1:49 berkurang, ekonomi terganggu, dengerin 1:51 acara ini deh. 1:53 Bagaimana 1:54 Allah dengan mudah membagi 1:56 akan membagi rezeki kepada kita. 1:59 Beliau lahirnya di Bogor 2:03 tanggal 2:05 16 April tahun 75, SD-nya di Ciherang 3. 2:10 Kemudian SMP-nya di SMP 2 Bogor. 2:13 SMA-nya di SMA 5 Bogor. Kemudian kuliah 2:16 di IPB S1, S2 diambil di sana. 2:20 Eh, kemudian beliau juga sering mendapat 2:22 penghargaan 2:24 eh, dari Republika ya. Eh, penghargaan 2:27 apa waktu itu ya? 2:29 Penghargaan Pra- Satya Lencana Wirakarya 2:32 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2:35 tahun 2007. 2:37 Kemudian tokoh perubahan Republika tahun 2:40 2003 2013. Kemudian Anugerah Peduli 2:43 Pendidikan dari Mendikbud tahun 2014. 2:48 Penggagas Kampung Matematika 2:50 yang diresmikan oleh Mendikbud tanggal 2:53 11 April 2015. Saat ini sedang 2:56 mengembangkan Kampung Pendidikan 2:58 Seikhlasnya. Mereka juga eh, Pak ini 3:00 juga punya warung bayar seikhlasnya, 3:03 punya restoran bayar seikhlasnya. 3:05 Beliau menyelenggarakan International 3:07 Mathematics and Science Olympiad 3:10 tahun 2016. 3:12 Pokoknya dia membuat kursus pendidikan 3:13 yang bayarnya itu seikhlasnya. 3:16 Tapi para anak didiknya berkiprah di 3:19 dunia internasional. 3:21 Kami tidak bisa bacakan satu persatu 3:23 prestasinya karena banyak sekali nih 3:25 kalau ditulis di buku 3:26 ada berapa halaman? 3 halaman. 3:29 Beliau juga banyak menulis buku dan buku 3:30 yang terbaru adalah Karakter Supra 3:32 Rasional Menjadi Pemenang di Masa 3:35 Krisis. Anda tentu masih ingat namanya 3:37 karena sudah beberapa kali di Rasio ya. 3:39 Namanya Bapak Ridwan Hasan Saputra. 3:42 Assalamualaikum Kang Ridwan. 3:44 Waalaikumsalam warahmatullahi [tertawa] 3:45 wabarakatuh Pak Krisna. 3:46 Sudah lama juga kita enggak ketemu ya. 3:48 Ya, betul. 3:48 Ehm, tapi teman-teman dan juga 3:52 keluarga di IMC masih teringat-ingat 3:53 dengan 3:55 dengan apa pemikiran-pemikiran Pak 3:57 Ridwan ya. 3:58 Pak Ridwan ini orang banyak pusing nih. 4:02 Iya. 4:02 Dengan adanya Covid kadang di PHK kadang 4:05 tadinya 4:07 tokonya lari sekarang enggak restorannya 4:09 tiba-tiba ambruk semua. Pada pusing. 4:12 Iya. 4:13 Dalam hal mencari rezeki. Apa yang bisa 4:15 diatasi [berdehem] 4:16 dengan apa karakter suprarasional 4:19 menjadi pemenang di masa krisis? 4:22 Terus terang Pak Krisna awalnya pun saya 4:23 juga pusing. 4:24 [tertawa] 4:25 Ya. 4:26 Saya tuh punya murid les ya di Bogor nih 4:29 seribuan lebihlah. 4:30 He em. 4:31 Ya. 4:32 Terus bayarannya sih ikhlasnya. 4:34 Gara-gara Covid itu enggak ada yang les 4:36 jadi murid langsung nol muridnya tuh. 4:38 Artinya pemasukan juga tidak ada. 4:40 Pemasukan juga tidak ada. 4:41 seikhlasnya tuh. 4:42 Bayar seikhlasnya tiap datang. Jadi 4:43 ketika enggak datang enggak ada 4:44 pemasukan. 4:46 Saya juga pusing. 4:47 [tertawa] 4:48 Sampai berapa lama pusingnya? 4:50 Nah, tapi tidak lama pusingnya. 4:52 Karena saya alhamdulillah 4:54 Itu kan Maret tuh mulainya tuh. 4:55 Iya. 4:56 Saya menguasai ilmu suprarasional gitu. 4:59 Jadi saya langsung praktekkan ilmu itu. 5:01 He em. 5:02 Jadi begini filosofisnya itu. 5:04 Jadi kalau kita misalkan kurang rezeki 5:07 ya kurang rezeki gara-gara misalkan kita 5:09 di PHK atau gara-gara Covid ini 5:11 bisnisnya tidak lancarlah. 5:13 He em. 5:14 Itu filosofisnya rezeki kita tuh 5:16 wadahnya mengecil Pak secara gaib ini. 5:18 mengecil 5:19 Wadahnya mengecil. Jadi kalau misalkan 5:21 wadahnya mengecil 5:23 sehingga nikmat dari Allah tuh 5:25 tertampungnya sedikit. 5:26 Oh sekarang gimana supaya wadah wadahnya 5:29 tuh menjadi besar? 5:30 Nah ini. 5:31 Ini caranya begini ini harus dipahami 5:34 dulu ini konsepnya cara berpikir 5:36 suprarasional. Jadi kalau cara berpikir 5:38 suprarasional tuh 5:39 pakai hati ini. 5:41 Jadi pakai hati itu istilahnya tuh 5:43 jangan cuma pakai akal saja. 5:45 He em. 5:46 Jadi dalam cara berpikir suprarasional, 5:48 wadah rezeki manusia itu berbentuk tiga 5:50 dimensi. 5:52 Ada sumbu X, sumbu Y, sama sumbu Z. Ini 5:55 karena saya orang matematik nih, jadi 5:56 [tertawa] 5:57 Pakai istilah matematik jadinya. 5:58 matematik. Nah, sumbu X ini saya 6:01 menyebutnya itu istilahnya 6:03 faktor-faktor yang kita harus besarkan. 6:06 Hmm. 6:06 Saya mulai dari sumbu Y dulu deh. 6:08 Sumbu Y. 6:09 Sumbu Y itu sebenarnya awalnya nih ada 6:12 tiga antena manusia. 6:14 Pertama X itu panca indra, Y itu 6:17 hati, Z itu akal. 6:19 Hmm. 6:20 Nah, 6:21 kalau dihubungkan dengan ilmu 6:22 suprarasional, kita fokus dulu Y. 6:25 Y itu sumbu beriman, hubungannya dengan 6:27 hati. 6:29 X itu sumbu amal saleh. 6:31 Hmm. 6:32 Hubungannya dengan fisik, panca indra. 6:35 Terus, Z itu sumbu akal, hubungannya 6:39 dengan saling nasehat dan dalam kebai ke 6:42 benaran ya dan saling menasehati dalam 6:44 kesabaran. 6:45 Hmm. 6:46 Nah, 6:47 terus terang wadah rezeki itu tuh yang 6:49 kita kurang itu dibesarkan. Makanya 6:52 ketika masa krisis, yang kita lakukan 6:54 adalah 6:55 Y, imannya ditambah, berimannya 6:57 ditambah. Misalkan rajin puasa, jadi 7:00 rajin salat berjamaah, salat tahajud, 7:03 sedekah dan lain-lain. Terus amal saleh. 7:05 Nah, amal saleh juga di sini sedekah, 7:06 bantu orang, tetangga dan lain-lain. 7:09 Nah, ini. 7:10 Berikutnya akal, saling menasehati. Itu 7:12 yang harus kita lakukan. 7:13 Hmm. 7:14 Nah, makanya sekarang ketika nih, ketika 7:17 sedang susah begini Pak, 7:19 perbanyak puasa, 7:20 Hmm. 7:21 perbanyak sedekah dan fokusnya ke anak 7:23 yatim sama fakir miskin. 7:25 Hmm. 7:26 Dan saya fokusnya anak yatimnya, mohon 7:27 maaf, yang dibina oleh orang ibadahnya 7:30 rajin. 7:31 Hmm. 7:31 Saya rada malas kalau ngasih anak yatim 7:33 salat enggak, misalkan ini enggak, malas 7:35 semua. 7:35 Oh, ada yang seperti itu juga ya? 7:36 Ada juga yang tidak dibina. Jadi, kita 7:38 kirimkan ke panti asuhan yatim yang 7:40 anaknya disuruh ngaji, salat, ibadah. 7:43 Karena gini, kita ingin memberikan 7:45 sesuatu itu kepada orang-orang yang tahu 7:47 bersyukur kepada Allah, Pak. 7:49 Ehm. 7:49 Dia nanti rezekinya ditambah, rezeki 7:50 kita juga ditambah. 7:51 Ehm. 7:53 Itu seharusnya dilakukan di masa krisis. 7:55 Nanti balasan Allah ada yang tak terduga 7:57 nanti, Pak. 7:58 Itu caranya. 7:59 Ehm, masyaallah. 8:01 Terus ehm, apa yang dimaksud dengan tiga 8:03 antena manusia? 8:05 Manusia itu punya antena ya? Tiga antena 8:07 manusia itu apa tuh? 8:08 Nah, gini jadi. 8:09 Jadi tiga antena manusia sebenarnya yang 8:11 paling berpengaruh penting dalam 8:13 kehidupan manusia. 8:15 Saya menyebutnya ada panca indra, 8:16 Ehm. 8:17 akal, sama hati. 8:19 Nih yang jadi masalah tuh di negeri 8:21 kita, Pak. 8:22 Yang diaktifkan tuh panca indra, fisik 8:24 sama akal saja. 8:25 Ehm. 8:27 Hati kurang, makanya negeri kita jadi 8:28 seperti sekarang, Pak. 8:29 Ehm. 8:30 Kalau zaman dulu hati diaktifkan, 8:33 makanya kan gotong royong, tolong 8:34 menolong tuh jalan. Zaman sekarang mah 8:37 tolong menolong, gotong royong enggak 8:38 jalan. 8:39 Ehm. 8:39 Karena 8:41 sekarang kan akal. 8:42 Kalau ditanya bantu orang, "Wanu piro?" 8:44 Wah, berani dibayar berapa? 8:47 Enggak ada yang sifatnya diajak gotong 8:48 royong sekarang orang mau ikhlas. Pasti 8:51 nanya ada duitnya enggak? Ini enggak 8:53 gitu, Pak. Karena sudah main akal. 8:55 Padahal kalau kita berpikir dengan hati, 8:57 Pak. Ketika kita bergotong royong, itu 8:59 dapat pahala. 9:00 Ehm. 9:00 Dan dalam keyakinan secara suprarasional 9:02 ya, Pak. Pahala itu bermanfaat buat 9:04 kehidupan kita. Makanya kalau ada kerja 9:06 bakti, tolong menolong, nyumbang tuh 9:08 kalau orang sudah berpikirnya pakai 9:09 hati, ya semangat, Pak. 9:11 Ehm. 9:12 Nah, harusnya manusia itu tiga antenanya 9:14 diaktifkan. 9:15 Akal, panca indra, sama hati. 9:17 Itu juga berhubungan. Kalau hati itu 9:19 saya menyebutnya hubungannya dengan 9:20 beriman. 9:22 Akal itu ber, saling menasehati. 9:25 Panca indra itu 9:27 istilahnya itu apa? 9:28 Amal saleh. 9:29 Ehm. 9:29 Makanya teorinya gini, Pak. Di surat 9:31 Al-Asr kan demi masa, sesungguhnya orang 9:34 tuh akan merugi kan? 9:35 Dalam keadaan merugi kecuali yang 9:37 beriman, beramal saleh, saling 9:39 menasehati dalam 9:40 kebenaran ya dan saling menasehati dalam 9:43 kesabaran. 9:44 Itu sebenarnya gini Pak. 9:46 Jadi orang itu 9:48 kalau misalkan setiap waktu wadah 9:50 rezekinya enggak membesar, dia rugi. 9:52 Ehm. 9:53 Jadi rezeki dari Allah itu ketampungnya 9:54 sedikit saja. 9:55 Ehm. 9:56 Seperti halnya orang kerja nih. Misalkan 9:58 sehari dikasih 100.000 dari jam 08.00 10:00 sampai jam 04.00 sore. 10:02 Iya. 10:02 Terus jam 08.00 sampai jam 10.00 malam 10:04 tetap 100.000 dikasihnya, rugi tidak? 10:06 Rugi. 10:07 Rugi. 10:08 Ehm. 10:08 Sama, kita pun rugi. Jadi wadah rezeki 10:11 kita itu terus saja enggak 10:12 berubah-rubah. 10:13 Ehm. 10:13 Harusnya kan berubah, membesar. Jadi 10:15 wadah rezeki kita membesar, kita enggak 10:17 rugi. 10:18 Sama. 10:19 Tiap waktu iman kita enggak nambah. 10:21 Ehm. 10:21 Y-nya enggak nambah. 10:22 Ehm. 10:23 X-nya enggak nambah, amal salehnya 10:25 enggak nambah. Z-nya enggak nambah. 10:27 Rugi. Makanya terus terang ini menurut 10:30 saya ini penafsiran surah Al-Ashr nih 10:31 Pak, teori 10:32 istilahnya itu wadah rezeki ini, 10:35 hubungannya dengan X, Y, Z. 10:36 Ehm. 10:37 Makanya saya melihat bahwa 10:40 orang Islam nih khususnya 10:42 tiap hari itu tingkatkan iman 10:44 amal saleh dan istilahnya yang tadi saya 10:47 bilang saling menasehati karena wadah 10:49 rezekinya membesar. 10:50 Ehm. 10:50 Makanya enggak ada loh Pak orang yang 10:52 misalkan pintar 10:53 ibadahnya rajin 10:55 terus fisiknya bagus 10:57 hidupnya susah enggak ada Pak, pasti 10:59 hidupnya bahagia. 10:59 Ehm. 11:00 Kalau hidupnya susah pasti ada yang 11:01 tidak beres diantara tiga antena tadi. 11:03 Nah, tapi banyak orang-orang saleh, 11:05 rajin ke masjid tapi kok kehidupannya 11:07 susah ekonominya toh. 11:09 Nah. 11:09 itu? 11:11 Kalau saya lihat ini yang saleh ini 11:14 ya Y-nya yang tinggi nih Pak. 11:15 Ehm. 11:17 Ibadahnya tinggi tapi X sama Z-nya nih 11:19 kecil biasanya. 11:20 Ehm. 11:21 Jadi misalkan X-nya itu 11:23 eh yang pertama nih 11:25 si panca indera mungkin bagus tapi 11:27 akalnya nih. 11:28 Ehm. 11:29 Akalnya ini ibaratnya deh kurang 11:31 terasah, kurang terlatih, kurang pinter, 11:33 kurang banyak belajar gitu. Itu 11:35 biasanya. Seandainya, oh Pak, dia rajin 11:38 belajar gitu, rajin nuntut ilmu. Ada 11:41 satu lagi rahasia, Pak, 11:42 Ehm. 11:43 tentang masalah uang. 11:44 Ehm. 11:45 Jadi, uang itu hubungannya 11:48 bukan dari hanya ibadah, Pak, 11:51 Ehm. 11:51 tapi keberanian kita bersedekah. 11:53 Ehm. 11:54 Ada orang rajin ke masjid, giliran 11:56 sedekah mah males, Pak. 11:57 Ehm. 11:58 Kan gini, kalau menurut saya ini masalah 12:00 beriman nih, Pak. Ini agak melantur 12:02 sedikit, enggak apa-apa ya, Pak? 12:03 Enggak. 12:04 Iman itu kan cirinya apa? 12:07 Dia mendirikan salat. 12:08 Iya. 12:09 Ya, terus menafkahkan sebagian rezekinya 12:11 ke 12:12 Nah, orang mena- mendirikan salat itu 12:14 kan ada yang memang mendirikan salat itu 12:17 bener salatnya, 12:19 ada yang sudah males nih, Pak. Denger 12:20 adzan males. 12:21 Ehm. 12:22 Ada orang denger adzan ke masjid. Nah, 12:24 mendirikan salat ada dua, Pak, ke masjid 12:25 itu. 12:27 Ada memang dia hatinya tuh ada Allah, 12:29 jadi Allah tuh tegak berdiri di hatinya, 12:31 jadi fokus. Jadi, ketika misalkan beres 12:34 salat pun, mau mencuri enggak jadi, 12:36 Ehm. 12:36 mau berbuat jahat enggak jadi. Terus dia 12:39 mau berbuat baik ada orang lihat atau 12:40 tidak, dia tetep ngasih, tetep melakukan 12:42 hal kebaikan. 12:44 Ada yang salat tapi 12:46 hatinya enggak ber- enggak enggak salat. 12:49 Pas lagi salat, mikir, "Duh, sendal 12:51 bagus itu kayaknya harus saya ambil 12:53 tuh." Bisa jadi gitu itu. Beres salat 12:54 langsung kabur ngambil sendal. 12:57 Nah, yang kita maksud misalkan orang 12:59 salat itu sudah mendirikan salat nih, 13:01 tidak mau berbuat jahatlah. Nah, yang 13:04 menafkahkan sebagian rezeki ini, Pak, 13:05 yang kadang-kadang orang tidak paham. 13:07 Ehm. 13:07 Gini nih, Pak, ini mohon maaf sekali. 13:09 Ehm. 13:10 Nih, si A sama si B nih, Pak. Bapak 13:12 punya kenalan A sama si B. 13:14 A orangnya jujur, 13:15 Iya. 13:16 B orangnya suka bohong. 13:17 Iya. 13:18 Kalau Bapak punya uang 100.000, mau 13:20 dititipin ke si A atau ke si B? Yang 13:22 jujur atau si A yang jujur kan? Oke. 13:25 Nah, sekarang begini, Pak. 13:27 Kalau Bapak punya uang 100.000 sama 10 13:30 sama 1.000. 13:32 Nih, si A sama si B ibaratnya sama Bapak 13:34 dititipin. 13:35 Ehm. 13:36 Yang 100.000 dititipin si A yang jujur 13:38 atau si B yang pembohong? 13:40 Ke yang jujur. 13:40 A yang jujur. 13:42 Terus yang ini 13:43 1.000 kasih B yang pembohong, kan? Nah, 13:45 gini sebenarnya ini ada hal yang sangat 13:47 penting. 13:49 Gini nih, Pak. 13:50 Ehm. 13:52 Bank sama Allah. 13:53 Ehm. 13:55 Allah itu pasti jujur dong ya, Pak. 13:58 Ehm. 13:59 Bank juga orang masih percaya jujur. 14:00 Ehm. 14:01 Nih, setelah kita 14:03 punya kebutuhan hidup sehari-hari, sisa 14:05 uang 500.000 nih, Pak. 14:06 Ehm. 14:07 Mau disedekahkan dititip ke Allah atau 14:09 ditabung ke bank yang 500.000 itu? 14:11 Banyakan orang ke bank. 14:12 Ke bank. 14:13 Ehm. 14:13 Berarti nganggap bank bisa dipercaya 14:15 terus Allah. 14:17 [tertawa] 14:19 Nah, itu kan? 14:19 Ehm. 14:20 Nah, maksud saya gini. Setelah saya 14:22 lihat 14:23 kebanyakan kita orang tuh miskin. 14:26 Biasanya mereka tidak berani sedekah. 14:28 Ketakutan biasanya Bapak. 14:30 Ehm. 14:31 Ketakutan, lho, nanti gimana nih? 14:32 Padahal kan sebenarnya itu nitip uangnya 14:35 kepada Allah, pasti yakin nanti Allah 14:37 jamin. Nah, itu kebanyakan tidak. 14:39 Saya survei nih, Pak. Kebetulan saya 14:41 pernah melatih 14:42 ehm, ini 14:44 para marbot masjid. 14:45 Ehm. 14:47 Saya nanya, "Pak, gimana nih jadi marbot 14:49 masjid, hidupnya susah enggak?" "Susah, 14:51 Pak." 14:51 Ehm. 14:52 "Padahal saya suka salat duluan, Pak." 14:53 Ehm. 14:54 Azan duluan. 14:56 Ehm. 14:56 Tukang [berdehem] azan, tukang jadi 14:57 imam, tapi hidup saya susah. 14:59 Saya tanya. 15:01 Suka sedekah? Bahasa Sunda, sok sedekah 15:03 tara? 15:05 "Teu eta, Pak, tara, Pak, saya kudu 15:06 diberi sedekah atuh, Pak." Nah, jadi dia 15:08 bilang 15:09 suka sedekah? Enggak, Pak, harusnya saya 15:10 dikasih sedekah. Itu masalahnya, saya 15:12 bilang tadi karena 15:13 karena tidak pernah sedekah jadi susah. 15:15 Ehm. 15:16 Ada marbot satu lagi, Pak, gagah itu mah 15:18 pakai batik. 15:19 Ehm. 15:19 "Oh, saya mah enggak susah, Pak." "Emang 15:21 kenapa?" saya bilang. "Saya mah suka 15:22 sedekah, Pak, suka ngasih duit saya mah 15:24 ke orang-orang. 15:25 Nah, ini benar. 15:26 Ehm. 15:26 Jadi, orang rajin sedekah itu 15:27 hubungannya dengan kaya dan tidak. Jadi, 15:31 ini tuh tidak ada hubungan dia rajin 15:32 ibadah, salat segala macam, hidupnya 15:35 bakal sukses, bakal kaya. Hubungan kaya 15:38 mah sedekah atau tidak. Karena urusan 15:39 sedekah mah, Pak, 15:42 orang yang jarang salat ke masjid ge 15:43 kalau rajin sedekah mah bisa kaya. 15:45 Hehe. 15:46 Oh, begitu ya. 15:47 Karena hukumnya seperti itu, Pak. 15:48 Masya Allah. 15:51 Terus ada lagi tabungan jiwa. Apa yang 15:54 dimaksud dengan tabungan jiwa nih, 15:55 Ustaz? 15:56 Nah, ini nih. 15:57 Jadi, tabungan jiwa tuh begini, Pak. 15:59 Inilah istilahnya teh 16:01 Allah itu ini, Pak, Maha Adil. 16:04 Ehm. 16:05 Ini yang kadang-kadang kita tidak tidak 16:07 memahami Allah tuh Maha Adil. 16:09 Terus yang jadi masalah pendidikan kita 16:10 saat ini itu 16:12 hanya kepada 16:15 fisik dan akal. 16:16 Ehm. 16:16 Jadi, begini. 16:18 Kan tidak semua minta dilahirkan di 16:21 keluarga miskin. 16:22 Ehm. 16:23 Ada yang di keluarga kaya, gitu kan. 16:24 Nih, yang keluarga kaya orang tuanya 16:26 pintar, kaya. 16:27 Pas lahir udah kaya. 16:29 Terus nanti pas beli rumah ini gampang, 16:31 segala macam gampang. 16:32 Ehm. 16:33 Gitu kan. 16:34 Nih, yang keluarga miskin udah lahir 16:35 miskin. 16:36 Ehm. 16:37 Mau sekolah enggak bisa. Gimana bisa 16:38 jadi kaya? Nah, gini, Pak. 16:41 Jadi, kalau orang yang mengandalkan akal 16:43 saja rasional, dia nyari duit, nyimpen 16:45 uang di bank. 16:47 Nah, 16:48 kalau dalam ilmu suprarasional ada yang 16:50 namanya antena hati tadi, Pak. 16:52 Jadi, kalau kita berbuat baik itu jadi 16:54 pahala. 16:54 Ehm. 16:55 Pahala itu masuk jadi tabungan jiwa. 16:58 Ehm. 16:58 Nah, tabungan jiwa itu nanti yang 17:01 memenuhi kebutuhan kita, Pak. 17:03 Ehm. 17:04 Itu tabungan jiwa kalau sudah cukup 17:05 kuotanya, kita minta rumah dikasih 17:08 rumah, minta mobil dikasih mobil, minta 17:10 motor dikasih motor. Asal syaratnya apa? 17:12 Kuotanya cukup. 17:14 Ehm. 17:14 Jadi, dalam pemahaman saya nih, Pak, 17:17 Misalkan harga motor lah 25 juta. 17:21 Kalau kita nabung 17:23 misalkan punya uang di bank 30 juta. 17:26 Kita pasti gampang beli motor. 17:28 Ehm. 17:29 Dan enggak minta doa sama Allah kan ya, 17:30 Pak? 17:31 Ehm. 17:32 Kalau kita punya uang 30 juta di bank 17:34 harga motor 25 juta. Berdoa enggak sama 17:36 Allah? Ya Allah semoga saya enggak kan? 17:37 sudah bisa 17:39 tercukupi sudah. 17:40 Sudah bisa tercukupi. 17:41 Tapi kalau misalkan uangnya cuman 10 17:43 juta harga motor 25 juta berdoa enggak 17:45 sama Allah? 17:45 Berdoa. 17:46 Berdoa kan? 17:47 Karena itu ketika kuotanya kurang dia 17:50 berdoa. 17:50 Ehm. 17:51 Ketika kuotanya lebih dia tidak berdoa. 17:52 Ehm. 17:53 Sebenarnya nih di dunia lain nih dunia 17:56 gaib dunia suprarasional [tertawa] 17:58 saya nyebutnya dunia suprarasional. 18:00 Itu tabungan jiwa juga sama, Pak. 18:02 Misalkan gini 18:03 harga motor 25 juta. 18:05 Ehm. 18:06 Itu dikuotakan jadi 25 X misalkan. 18:08 Ehm. 18:09 Nah kalau kita amal ibadah kita misalkan 18:11 bantu orang, sedekah, ngaji segala macam 18:13 ini versi yang saya pahami loh ya serame 18:15 ini sudah mempraktekkan. 18:17 Dapat 50 X. 18:18 Ehm. 18:19 Bilang sama Allah ya Allah saya pengen 18:20 motor. 18:21 Dikasih sama Allah Pak motor dengan 18:24 jalan yang tidak pernah kita pikirkan. 18:25 Di situ Maha Adilnya Allah. 18:28 Cuman yang jadi masalah kenapa misalkan 18:30 Pak saya sudah minta motor kok belum 18:31 dikasih-kasih? 18:33 Karena harga motor 25 X 18:35 kuota kita 10 X. 18:37 [tertawa] 18:37 Enggak cukup. 18:38 Enggak cukup. 18:41 Dan hebatnya nih, Pak tabungan jiwa itu 18:44 bisa membuat kita tuh mendapatkan 18:46 sesuatu yang sifatnya non fisik. 18:49 Seperti misalkan pengen dapat 18:51 penghargaan dari pemerintah itu kan non 18:53 fisik itu bisa dikasih. 18:54 Pengen mendapatkan 18:57 apa misalkan yang sifatnya non fisik itu 18:59 dikasih. Tapi kalau uang belum tentu 19:00 misalkan 19:02 kita pengen dapat penghargaan dari 19:04 presiden pakai uang 19:06 kayaknya sulit, Pak. 19:08 Nah itu Pak mungkin penjelasan tabungan 19:10 jiwa. Jadi tabungan yang sebenarnya 19:12 Allah berikan kepada setiap manusia. 19:14 Jadi 19:15 istilahnya itu semua bisa dapat 19:17 dan semua bisa memanfaatkan. 19:19 Gitu, Pak. 19:20 Oke, baik. 19:21 Eh, saya tadi janji ya mau ngasih nomor 19:24 teleponnya Pak Ridwan. Ini nomor 19:26 teleponnya siapkan pulpen sama kertas 19:28 saya akan bacakan ya. 19:29 Beliau yang menulis buku Karakter Supra 19:31 Rasional Menjadi Pemenang di Masa 19:34 Krisis. 19:36 Ini nomornya 0812 19:41 Sudah belum? 19:42 Kemudian 80 19:45 34 1100 19:48 0812 19:51 80 19:52 3411 19:55 00 Kami masih berbincang-bincang dengan 19:58 Bapak Ridwan Hasan Saputra, tidak mau 20:01 disebut profesor 20:02 walaupun di luar negeri suka 20:04 dipanggilnya profesor ya. 20:07 Beliau sering mengadakan apa-apa serba 20:09 gratis, kursus matematika gratis tapi 20:12 murid-muridnya banyak dikirim ke luar 20:14 negeri untuk 20:16 Olimpiade Matematika dan banyak menjadi 20:19 pemenang. 20:20 Oke, sekarang saya tanya-tanyakan lagi 20:22 mengenai 20:24 eksplorasi alam gaib. 20:26 Itu seperti apa ya? Abang bisa Bapak 20:29 jelaskan mengenai eksplorasi alam gaib. 20:32 Ini terus terang hal yang menarik tapi 20:34 Katanya ada mesos dalam alam gaib juga 20:36 ya? 20:37 [tertawa] 20:38 Ini ini, Pak. Ini mungkin perlu 20:41 keyakinan dulu nih, kesepakatan bersama. 20:43 Ibaratnya tolong jangan diprotes gitu 20:45 ya. 20:45 He em. 20:46 Ini kan saya menuliskan berdasarkan 20:47 Istilah saja ya. 20:48 Ya, pengalaman. 20:49 Jadi begini, Pak Krisna. Yang tadi dulu 20:51 nih. 20:53 [berdehem] 20:53 Ketika kita misalkan dengar azan 20:56 terus langsung berangkat ke masjid 20:59 terus ketika kita tuh misalkan sedekah 21:00 tidak ragu sama Allah gitu loh. 21:02 Yakin Allah ngebalas. Itu kita tuh sudah 21:05 punya handphone alam gaib namanya, Pak. 21:08 Nah, handphone alam gaib itu yang 21:09 istilahnya teh nanti akan terbentuk yang 21:12 namanya medsos alam gaib. 21:16 Apa sih medsos alam gaib itu? Jadi, saya 21:18 terpikirnya begini bahwa nanti kan di 21:20 akhirat itu manusia ada bersaf-saf gitu. 21:23 Manusia dan malaikat, ruh dan malaikat 21:24 bersaf-saf. Nah, bersaf itu berarti 21:27 bergrup-grup. 21:28 Ehm. 21:29 Nah, mereka bergrup-grup itu di hari 21:30 kiamat berarti waktu zaman di dunia itu 21:32 pun satu grup, Pak. 21:33 Ehm. 21:34 Malaikat dengan itu. 21:35 Nah, malaikat dengan 21:37 eee manusia itu satu grup. Grupnya apa? 21:41 Grup yang nilai tabungan jiwanya besar 21:44 atau sama gitu loh. Jadi, sama nanti 21:47 ketika tabungan jiwanya sama dia satu 21:49 grup. Nanti manfaatnya apa? 21:52 Nih, saya punya pengalaman pribadi. 21:55 Jadi, pada saat istilahnya tuh 21:58 saya sedang memperbaiki ruko nih. 22:01 Itu saya 22:02 ternyata butuh AC 13 buah. 22:05 Staf saya bilang, "Pak, kita butuh AC 13 22:07 buah." 22:08 Saya cuma dalam hati bilang, "Ya Allah, 22:10 saya butuh AC 13 buah." 22:12 Itu mungkin 5 menit kemudian Pak Krisna 22:15 ada orang tua siswa nelpon saya. 22:18 "Pak Ridwan lagi renovasi ruko ya? 22:20 Kalau misalkan butuh AC bilang ke saya." 22:24 [tertawa] 22:24 Saya tuh bingung kan saya enggak bilang 22:26 ke orang. 22:28 Terus saya bilang, "Iya, saya butuh AC." 22:29 Dia nanya, "Butuhnya berapa?" 22:32 Saya bilang 13. Jawabnya, "Oke, besok 22:35 eee saya kasih 13 13. Saya belikan 13 22:38 13-nya." 22:38 Masya Allah. 22:39 Saya tuh bingung. Terus dia nanya lagi, 22:41 "Butuhnya kapan?" 22:42 "Minggu ini." "Oke, besok saya kirim." 22:44 Ehm. 22:45 Nah, itu medsos alam gaib, Pak. Jadi, 22:46 ketika 22:47 baik dengan yang memberi itu? Kenal 22:48 baik? 22:49 Itu kenal, tapi kan saya enggak bilang 22:50 ke dia saya butuh AC. 22:51 Oh, gitu. 22:52 Yang ini kenal nih, Pak. 22:53 Ehm. 22:54 Jadi, ketika hati saya bilang saya butuh 22:56 AC, bilang ke Allah nih, nih malaikat 22:58 tuh nge-share di grupnya. 22:59 Ehm. 23:00 Mungkin grupnya level malaikatnya sama. 23:02 ada malaikat yang ini kayaknya orang 23:04 tuanya kenal sama tukang AC nih toko AC, 23:07 bilang tiba-tiba suruh nelpon saya Pak. 23:10 Ada lagi yang kedua nih Pak, 23:12 tentang [berdehem] medsos alam gaib. 23:14 Waktu saya di Afrika Selatan nih. 23:16 He 23:16 Ini mah menurut saya 23:18 termasuk aneh banget. 23:20 Saya di Afrika Selatan 2 tahun lalu 23:21 karena ada konferensi matematik saya 23:23 dari Indonesia satu-satunya nih, dari 23:24 daerah 23:25 Sendiri nih 23:25 Sendiri Itu di kota Durban, terus teman 23:28 saya bilang Pak Ridwan kalau bisa ziarah 23:30 ke makam Syekh Yusuf Al Makassari. 23:32 He 23:32 Di Cape Town tuh 2 jam perjalanan naik 23:34 pesawat. 23:34 He 23:35 Saya tuh bingung kan Pak, bingungnya tuh 23:36 pertama 23:37 gimana 23:38 gimana siapa yang nganter kan itu harus 23:39 naik lagi pesawat, apalagi apa naik 23:42 mobil. 23:43 Terus kan besok itu apa 23:45 ada acara lagi gitu. 23:47 Saya lagi di mall tuh merenung cuma 23:48 gini, ya Allah saya pengen 23:50 ziarah ke makam Syekh Yusuf Al 23:52 Makassari. 23:54 Itu Pak tiba-tiba saya ada orang 23:56 Afrika Selatan tuh jalan sama istrinya 23:58 tuh di mall. 24:00 Ketemu saya, bilang "Assalamualaikum" 24:02 Karena saya pakai peci. 24:03 He 24:03 Saya bilang "Waalaikumsalam, Anda dari 24:05 Singapura atau Malaysia?" gitu kan. 24:07 He 24:07 Terus saya bilang "Saya dari Indonesia" 24:09 "Wah" Terus saya tanya kan "Anda dari 24:11 mana?" "Dari Cape Town" 24:13 Terus saya bilang "Wah Cape Town itu 24:15 tempat itu ya Syekh Yusuf Al Makassari, 24:17 saya pengen ziarah ke sana cuma saya 24:19 bingung" 24:20 Jawabnya "Bismillah bismillah nanti Anda 24:21 bisa berangkat" 24:24 Cuma bismillah 24:25 Dalam arti bismillah gimana saya bilang, 24:27 saya bingung gitu. 24:29 Itu 24:30 10 menit ngobrol terus dia minta 24:33 eh nomor HP 24:35 terus minta dikirimkan ini 24:37 paspor saya. 24:38 He 24:39 Nah saya pulang ke penginapan 24:41 saya kirim tuh foto foto paspor saya. 24:44 Sejam kemudianlah kayaknya tuh, dia 24:46 kirim balik Pak 24:47 tiket pesawat pulang [berdehem] pergi 24:51 Durban Cape Town Cape Town Durban dan 24:52 dia bilang ini gratis buat Anda. 24:55 Masya Allah 24:55 Terus yang kedua 24:57 dia bilang nanti ada yang jemput Anda 24:59 gitu. 24:59 He 24:59 diantar ke sana bolak-balik. 25:01 He 25:02 Di situ saya bilang, "Loh, kok bisa 25:03 begitu ya?" 25:04 Nah, itu tadi. Jadi, bisa jadi medsos 25:06 alam gaib itu ada anggota medsos itu 25:09 tidak mengenal saya, Pak, tidak saling 25:10 mengenal. Tapi pas itu ada perintah 25:12 mungkin dari malaikatnya untuk 25:14 mendatangi saya gitu. Istilahnya itu. 25:16 Makanya saya berkeyakinan gini, Pak, 25:18 jangan-jangan nih 25:19 itu kan kita ada malaikat nih, Pak, yang 25:21 jaga siang dan malam. Ini malaikat ini, 25:24 Pak, nanti yang nemenin kita juga nanti 25:26 di sana. 25:27 He 25:27 Dan malaikat itu yang menunjukkan 25:28 medsosnya. Makanya nanti gini, Pak, ada 25:30 strategi nih, Pak. 25:31 Jadi, medsos alam gaib itu ada 25:32 tingkatannya, Pak. 25:33 He 25:34 Ada tingkatan kopral tingkatan letnan, 25:37 mayor, kolonel, jenderal, Pak. 25:40 He 25:41 Makanya nanti saya punya teori begini, 25:42 Pak, dari medsos alam gaib itu. 25:45 Jadi, kalau kita ingin naik derajat nih 25:47 misalkan kita teh orang miskin, enggak 25:49 punya enggak punya harta banyak, enggak 25:51 pintar, enggak punya jabatan. Bagaimana 25:53 bisa selevel dengan yang orang menjadi 25:55 jabatan jabatan tingkatkan ibadahnya, 25:57 Pak. Berarti nanti medsos alam gaib kita 25:59 juga berpindah ke level yang lebih 26:00 tinggi. 26:01 He 26:01 Di sini saya bilang adilnya Allah, Pak. 26:04 Jadi, Allah tuh sudah siapkan sebuah 26:05 perangkat di mana semua orang bisa jadi 26:07 orang besar. 26:09 He 26:09 Itu, Pak. Orang kampung pun bisa jadi 26:10 orang besar, Pak. 26:12 Nah, boleh enggak kita beribadah dengan 26:13 niatan itu? Dengan niatan akan nanti 26:16 akan 26:17 mengganggu keikhlasan apa tidak itu? 26:20 Sebenarnya tidak boleh, Pak. Tapi yang 26:21 lebih utama laksanakan dulu, Pak. 26:23 He 26:24 Misalkan begini, "Aduh, saya salat ke 26:25 masjid takut disebut ria." 26:28 Udah berangkat dulu aja ke masjid, nanti 26:29 perbaikin niat lebih baik, Pak, di situ. 26:31 Daripada, "Ah, malas ke masjid ah, takut 26:33 disebut ria." Itu lebih bahaya. 26:35 [tertawa] 26:36 Mending ke masjid dulu aja gitu. 26:38 Oke. 26:40 Eh, sekarang apa? Karakter yang 26:42 terlupakan. 26:45 Gimana 26:46 suka orang 26:47 katanya suka 26:48 apa? 26:49 Karakter yang terlupakan itu maksudnya 26:51 apa? 26:52 Nih, dalam karakter itu gini, Pak, 26:53 menurut saya nih. 26:55 Bahwa bangsa kita ini sebenarnya adalah 26:57 bangsa suprarasional, Pak. Bangsa yang 26:59 hubungannya dekat sama alam-alam gaib. 27:01 He em. 27:02 Cuman gara-gara modernisasi sekarang itu 27:04 dilupakan. Padahal kita tuh udah enggak 27:06 bisa lepas sebagai bangsa ini itu, Pak. 27:09 Jadi gini contoh nih, kita bicara dulu, 27:10 misalkan ya. 27:12 Eee 27:14 di cerita rakyat kita itu 27:16 pasti ceritanya itu seseorang berhasil 27:18 dengan bantuan hal yang gaib. 27:20 Seperti Sangkuriang. 27:22 Sangkuriang tuh istilahnya mau 27:24 ngebendung sungai jadi danau pakai 27:26 bantuan jin. Bandung Bondowoso 27:28 He em. 27:29 bikin istilahnya tuh candi, 1.000 candi 27:32 pakai bantuan jin. Nah, sekarang mah 27:34 gali dibalik jadi pakai bantuan Allah 27:35 gitu loh. 27:36 Nah, 27:38 dulu mah kita kan melakukan sesuatu 27:40 takut, kenapa? Pamali, 27:41 He em. 27:41 kualat. Sekarang dihilangkan, Pak. 27:43 He em. 27:44 Makanya kan sekarang Indonesia tuh yang 27:45 bebas banget, enggak ada polisi juga 27:47 langsung dilabrak sekarang mah karena 27:49 enggak takut pamali, enggak takut 27:50 kualat, apalagi takut Allah gitu loh. 27:52 Nah, 27:53 maksud saya tuh karakter yang harus kita 27:55 bangkitkan lagi itu karakter 27:56 suprarasional yang salah yang utama nih. 27:59 Jadi, 28:00 harus benar-benar banyak percaya sama 28:02 yang gaib ini, Pak. 28:04 Nih, contoh sekarang nih, Pak, menurut 28:05 saya nih. 28:08 Di zaman yang sekarang ibaratnya tuh 28:11 Covid, 28:12 menurut saya kita jarang-jarang bawa 28:13 nama Allah nih, Pak, untuk menyelesaikan 28:15 masalah. 28:15 He em. 28:16 Menurut saya sih. 28:17 Contohnya seharusnya kan misalkan 28:19 tolong misalkan jaga jarak, 28:21 bersihkan tangan gitu kan, terus 28:24 apalagi? Eee pakai masker. 28:26 He em. 28:27 Tapi jarang misalkan 28:29 tolong ya, istilahnya teh banyakin 28:31 sedekah nih karena lagi kena krisis 28:33 banyak orang yang istilahnya teh susah, 28:36 banyakin sedekah pasti akan kaya lagi. 28:38 Terus banyakin ibadah ke masjid. 28:40 Nih, menurut saya nih, ini mohon maaf 28:42 sekali jangan dituduh saya ini ya. 28:45 [tertawa] 28:46 Nih, ada Covid itu ada lagi tambahan 28:49 menurut saya yang harus dibuat tuh. 28:51 Kayak misalkan kan olahraga sama imun 28:52 sering disebutkan ya, suplemen. Kalau 28:55 saya sih minum suplemennya madu sama 28:56 garam kalau 28:58 Madu sama garam? 28:58 Ya, sedikit garam. Kalau lagi agak 29:00 kurang sehat nih, makan itu, minum itu 29:03 biasanya sembuh. 29:04 Terus kalau kalau kita sakit yang susah 29:07 disembuhkan pakai doa ini Pak, yang Nabi 29:09 Yunus. 29:10 Yunus itu. Ya Allah ini 29:12 penyakitnya sudah mengganggu saya ibadah 29:13 nih, jadi dipermudah. 29:15 Tapi ada satu yang sangat penting Pak 29:16 dalam teori suprarasional. 29:19 Jadi, 29:19 musibah atau sakit kita pun bisa jadi 29:22 karena wadah rezeki kita tuh mengecil. 29:25 Jadi, tetap perbanyak ibadah Pak. 29:27 Makanya menurut saya nih 29:29 kalau boleh saran nih, Satgas itu tidak 29:31 hanya Satgas penanganan Covid Pak sama 29:34 pemulihan ekonomi, 29:35 tapi Satgas peningkatan keimanan dan 29:37 ketakwaan. 29:39 Mmm. 29:39 Jadi, dibuat sama Satgas teh anak rajin 29:41 orang teh rajin ke masjid, rajin 29:42 sedekah, rajin infak, rajin baca Quran, 29:45 Quran, rajin segala macam, sehingga 29:48 wadah rezeki kita membesar nanti 29:49 pertolongan Allah datang Pak. Nah, itu 29:51 saya bilang karakter yang mulai di 29:53 lupakan bahwa kita teh dekat sama yang 29:56 gaib, 29:58 percaya sama yang gaib gitu Pak. Itu 30:00 sudah dilupakan orang gitu loh Pak. Itu 30:02 mungkin maksud 30:03 pertanyaan dari penanya, 30:03 "Assalamualaikum Pak Ridwan. Pak Ridwan 30:06 kan mengajarnya di dunia matematika, kok 30:08 masuk-masuknya ke dunia gaib? Tolong 30:10 penjelasannya bagaimana hubungannya Pak 30:12 Ridwan?" 30:13 Oke, ini pertanyaan menarik nih. 30:16 Matematika kan ini apa? Eksak gitu ya? 30:19 Iya. Nah, gini. 30:21 Eee, saya ini kan dunia matematikanya 30:23 tuh dunia olimpiade matematik Pak atau 30:25 itu yang ke Bapak penanya, siapa namanya 30:27 ya Pak? 30:28 Hamba Allah tadi saya. 30:29 Hamba Allah. 30:30 Saya tuh dunia olimpiade matematik. Itu 30:32 olimpiade matematik tuh soalnya 30:33 susah-susah banget Pak. 30:35 Nah, ketika susah banget tuh 30:37 kadang-kadang saya bingung 30:38 mengerjakannya. Akhirnya, "Ya Allah 30:41 tolong saya Allah, Semoga saya bisa 30:43 mengerjakan soal ini. Nah, 30:45 kedekatan kepada Allah jadi semakin 30:46 tinggi, Pak. 30:47 Ehm. 30:48 Nah, lama-kelamaan setelah merenungkan, 30:50 oh iya ya, harusnya kita harus 30:51 mendekatkan kepada Allah dulu baru 30:53 ngurusin urusan dunia. 30:54 Ehm. 30:54 Nah, di situlah akhirnya saya banyak 30:56 berkontemplasi, ya akhirnya banyak 30:58 pengalaman-pengalaman hidup yang 31:01 ah saya rasakan, oh kayaknya nih yang 31:03 gaib jauh lebih penting daripada dunia 31:05 nyata, Pak. 31:06 Itu proses awalnya gitu loh. 31:09 [tertawa] 31:09 Oke. 31:10 Oke, baik. Saya akan bacakan lagi nomor 31:11 HP dari 31:13 Bapak Ridwan Hasan Saputra. Ini 31:16 nomornya, 0812 31:20 Sudah? Kemudian 80 31:24 34 31:27 11 31:28 00 31:30 0812 31:32 80 31:34 kemudian 34 11 00. Kami akan kembali 31:39 setelah yang 32:24 [musik] 32:32 [musik] 32:44 [musik] 32:48 Radio silaturahim yang dipancarkan dari 32:49 Jalan Masjid Silaturahim 36 Kalimanggis 32:52 Cibubur. Kami masih berbincang-bincang 32:55 dengan Bapak Ridwan Hasan Saputra atau 32:57 Insinyur R. Ridwan Hasan Saputra M.S.I. 33:02 yang lahir di Bogor tanggal 16 April 33:04 tahun 75. Beliau adalah pembina 33:06 kompetisi studi Islam dan Matematika 33:09 Fakhruddin al-Razi Competition. 33:12 Penyelenggara Pesantren Matematika tahun 33:13 2011 sampai dengan 2000 33:16 18. Murid-muridnya sering dilombakan di 33:20 acara Olimpiade Internasional dan 33:22 alhamdulillah menang terus, ya. 33:25 Dan dia juga membuka 33:27 tempat kursus matematika gratis, eh 33:30 bukan gratis, bayar seikhlasnya. 33:33 Oke. Silakan yang mau telepon, silakan 33:37 kami tunggu untuk telepon di Rasil 081 33:40 eh 33:41 telepon 021 8451512 33:44 atau kirim WA di 08111 33:48 999 33:50 7 20. 33:54 Pak Ridwan, ada ya juga yang ingin 33:56 bertanya tentang 34:00 eh kapita selekta dari supra rasional. 34:05 Itu apa saja kapita selekta dari supra 34:08 rasional? 34:10 [berdehem] 34:10 Nah, di sini ada istilahnya 34:13 saya tuliskan solusi-solusi krisis guru 34:15 mahad supra rasional, kementerian wakaf, 34:17 anak yatim, dan lain-lain ini 34:19 terus terang 34:20 semacam analisa saya dari sisi supra 34:23 rasional, Pak. 34:24 Ehm. 34:24 Jadi, banyak solusi-solusi dalam 34:26 kehidupan ini yang 34:28 istilahnya agak berbeda 34:30 Ehm. 34:30 dengan istilahnya tuh kebanyakan orang. 34:34 Seperti dibangun Kementerian Wakaf atau 34:36 seperti sekarang saja, Pak. Ini menurut 34:38 saya loh, Pak. 34:40 Bantuan pemerintah yang 600.000 per 34:43 bulan itu 34:44 ya 34:45 He em. 34:45 kalau dalam kacamata suprarasional 34:48 ketika bantuan itu tidak memperbesar 34:50 wadah rezeki orang yang menerimanya 34:53 itu tidak akan punya dampak signifikan, 34:54 Pak, terhadap perbaikan ekonomi nanti di 34:56 masa depan. Ini menurut saya. 34:58 Supaya bisa jadi besar wadah rezekinya 35:01 seperti apa? 35:02 Jadi ini seharusnya nih, Pak, seharusnya 35:04 pemerintah itu kalau sepakat dengan 35:06 konsep yang saya bangun 35:08 mungkin ini 35:10 kita ingin bahwa 35:12 yang menerima bantuan ini dia harus 35:14 paham bahwa ini rezeki dari Allah. Dia 35:17 harus banyak bersyukur kepada Allah. 35:19 Caranya adalah harus rajin ibadah, kalau 35:21 yang beragama Islam rajin salat. Makanya 35:23 kalau saran saya ini isengnya nih, Pak 35:25 harusnya ini yang penerima 35:28 istilahnya bantuan 600.000 juga harus 35:29 ada dapat surat rekomendasi dari ketua 35:31 DKM orang yang rajin salat ke masjid 35:33 gitu. 35:34 Jadi istilahnya tuh 35:36 eee 35:38 untuk memaksa dia rajin ke masjid, terus 35:40 rajin sedekah juga karena katanya mau 35:42 ngasih juga ke masjid ini 100.000 atau 35:44 berapa gitu. 35:45 Karena ini penting, Pak. Kalau misalkan 35:47 nih dalam teori saya ketika 35:49 wadah rezekinya enggak membesar, Pak, ya 35:51 tetap akan begini terus. Menurut saya 35:54 loh, Pak. 35:55 Gitu. 35:55 Oh, gitu ya. 35:57 Oke. 35:59 Ada yang tanya soal 36:00 Assalamualaikum, Pak Ridwan, dari Bapak 36:02 Bambang. Pak Ridwan masih membuka 36:05 tempat kurs matematika untuk anak-anak 36:06 masih dibuka apa tidak, Pak? 36:09 Eee jawabnya masih buka, cuman sekarang 36:11 secara online, Pak, karena 36:13 terus terang kalau offline tuh masih 36:15 tidak boleh oleh pemerintah ya. 36:16 Istilahnya sekolah saja banyak yang 36:18 ditutup tidak boleh, nah termasuk 36:21 kursus. Jadi kita bukanya online. 36:23 Nah, itu bisa dilihat di www .kpm 36:27 .ridwan institute, ridwan institute-nya 36:30 itu r e a d 1 institute .org, jadi 36:34 kpm.ridwaninstitute.org 36:38 Kemudian dari Bapak Bambang S Gunawan, 36:41 assalamualaikum Pak Ridwan, saya ingin 36:43 bertanya kalau kita sudah rajin ibadah, 36:45 rajin salat dan tiap hari membaca 36:47 Alquran, bagaimana kita bisa tahu bahwa 36:50 kita punya kemampuan suprarasional? 36:54 Sebenarnya 36:55 istilahnya tuh kita tidak usah tahu kita 36:58 punya kemampuan suprarasional atau tidak 37:00 Pak, sebab nanti itu tuh sudah kayaknya 37:02 tuh akan nempel sesuai dengan apa yang 37:06 kita lakukan dan keikhlasan kita Pak, 37:08 istilahnya teh. 37:09 Cuman ini bedanya kalau yang saya tekuni 37:12 itu 37:13 tidak untuk sesuatu, misalkan orang 37:15 misalkan mau puasa biar punya ilmu 37:16 kebal, bisa apa, enggak. 37:18 Jalani saja, nanti istilahnya tuh yang 37:21 dimaksud kekuatan suprarasional tuh 37:24 banyak keinginan kita, doa-doa kita yang 37:26 dikabulkan Allah. 37:27 He eh. 37:28 Pengin anak kita tuh misalkan masuk 37:29 sekolah favorit, dapat beasiswa atau 37:31 apa, itu terkabul oleh Allah, nah itu 37:33 tuh berarti sudah menunjukkan kita tuh 37:36 ibaratnya punya jiwa suprarasional. 37:38 Pokoknya kita jalankan saja ya gitu ya, 37:40 enggak usah mikir 37:41 Betul, saya malah suka dapat hal yang 37:43 aneh-aneh Pak. 37:44 Apa misalnya? 37:45 Ini contoh tapi saya ini bukan masalah 37:47 mendukung atau tidak ya. 37:49 Dulu waktu tahun 2012 deh, saya tuh di 37:52 bandara Solo tuh. 37:53 He eh. 37:54 Kalau enggak salah Pak Jokowi masih jadi 37:56 Walikota. 37:57 Walikota, enggak sekarang sudah jadi 37:58 itu, jadi gubernur Pak, gubernur DKI 38:00 kalau tidak salah. 38:01 Terus saya waktu di bandara Solo bilang 38:02 begini, ya Allah 38:04 saya dengar Pak Jokowi mau jadi presiden 38:06 dalam hati. 38:07 He eh. 38:07 Saya pengin salaman sama Pak Jokowi ya 38:09 Allah gitu. 38:09 He eh. 38:10 Itu di bandara Solo Pak setelah saya doa 38:13 begitu dalam hati saya tuh 38:15 tiba-tiba ada orang jalan masuk ke ruang 38:18 tunggu 38:19 pakai baju putih celana hitam 38:22 He eh. 38:22 duduknya sebelah saya, Pak. 38:23 Hmm. 38:24 Saya lirik Pak Jokowi. 38:26 [tertawa] 38:27 Langsung saya salaman tuh sama Pak 38:28 Jokowi. 38:29 Hmm. 38:30 Terus pas mau foto bareng 38:32 Hmm. 38:32 keduluan sama orang, Pak, mau selfie 38:34 teh. 38:35 [tertawa] 38:35 Terus hati saya berbisik, "Kamu kan 38:37 doanya cuman minta salaman doang, 38:40 bukan foto bareng." Ya bikin salaman 38:42 Jokowi begitu. 38:43 Dan doa harus lengkap. Jadi banyak 38:46 hal-hal yang tidak mungkin nanti bisa 38:49 terwujud. Kalau saya sudah sangat banyak 38:51 minta apa minta apa tuh terwujud karena 38:53 tadi sebenarnya nanti di suprarasional 38:55 itu ada yang namanya kuota tabungan jiwa 38:57 kita yang untuk membeli banyak hal. 39:00 Hmm, itu bukan soal dukung-mendukung 39:02 atau soal feeling, ya. 39:03 Feeling saja itu mah. 39:03 Oke, pesan dari Amir di Bekasi. 39:06 Assalamualaikum 39:07 Ustaz Ridwan. Ada buku dari Ustaz Ridwan 39:10 yang bisa jadi panduan dalam menyalami 39:13 menyalami alam suprarasional? 39:16 Terima kasih, Pak, dari Pak Amir, 39:18 Bekasi. 39:19 Bukunya ada dua nih, Pak Amir. Yang 39:21 pertama itu cara berpikir suprarasional 39:24 itu terbitan dari Republika. 39:26 Yang kedua adalah karakter 39:28 suprarasional. Itu terbitan dari Klinik 39:30 Pendidikan MIPA. Itu kalau yang satu tuh 39:33 cara berpikir suprarasional sangat 39:34 matematis banget karena saya dulu 39:37 bikinnya dengan banyak rumus. 39:39 Kalau yang ini 39:40 lebih umum lah, tapi emang ini 39:42 kelanjutannya. 39:44 Jadi silakan saja mungkin dicari di 39:46 di mana ya? Di KPM Mart, Tokopedia tuh 39:48 ada. 39:49 Di sini saja di Etara Rasail. 39:51 Oh, ya, nanti di sini. Nanti nanti taruh 39:52 di Etara Rasail nanti hubungin ke Etara 39:54 Rasail. 39:55 Ya, di Rasail saja nanti. 39:56 Eh, silakan dicatat nomor Etara Rasail, 39:58 ya. 0812 40:02 94 40:04 99484. 40:06 Ini ada yang juga tadi nanya radio tuh. 40:08 Silakan hubungi yang berminat untuk 40:10 berbelanja di Etara Rasail. Semua ada 40:12 radio, ada buku-buku. Nanti Pak Ridwan 40:14 juga bukunya insyaallah ada di sana 40:16 juga. 40:17 Ya. Karakter suprarasional 40:20 menjadi pemenang di masa krisis. Nomor 40:22 telepon Etara 0812 40:25 9499 40:28 484. Berapa harganya, Pak? 40:30 Ini harganya 60.000, Pak. 40:32 60.000, ya? 40:33 60.000 ada berapa halaman, nih? 40:36 Ehm. 40:37 Sekitar 150-an lah. 40:39 Kemudian ehm 40:42 jaringan gerakan suprarasional itu apa? 40:45 Apa yang dimaksudkan jaringan gerakan 40:46 suprarasional? 40:47 Jadi, saya tuh ingin nanti orang-orang 40:49 yang ibaratnya tuh secara hati sudah 40:52 cerdas, sudah yakin ya itu jadi satu 40:55 komunitas gitu, Pak. 40:56 Ehm. 40:57 Jadi, nanti saya misalkan pengin ketemu 40:58 orang tuh nanti dia guru bahasa Inggris 41:00 ngajar seikhlasnya karena sudah 41:02 suprarasional. 41:02 Ehm. 41:03 Guru sejarah ngajar seikhlasnya, tukang 41:06 pijit seikhlasnya, gitu. Tukang ojek 41:08 seikhlasnya. Itu mulai bergabung tuh. 41:11 Terus orang-orang yang suka donasi, 41:13 donatur tuh bergabung. Lembaga-lembaga 41:16 yang modelnya suprarasional bergabung. 41:18 Misalkan lembaga untuk donor darah kah, 41:21 lembaga misalkan ada pejuang subuh, ada 41:24 misalkan mungut sampah yang sifatnya 41:26 untuk kebaikan, itu menjadi sebuah 41:28 jaringan, Pak. 41:29 Ehm. 41:29 Yang artinya tuh nanti 41:30 Sekarang sudah terbentuk belum? 41:32 Sekarang sudah terbentuk cuman masih 41:33 sedikit. 41:34 Ehm. 41:34 Masih sedikit lah. Jadi, ada ojek supra 41:37 rasional, ojek seikhlasnya. Yang tadi 41:39 misalkan rumah makan seikhlasnya, tukang 41:41 pijit seikhlasnya. Belum banyak. Kenapa 41:43 belum banyak? Karena meyakinkan orang 41:45 tuh susah, Pak. 41:46 Ehm. 41:47 Yang biasa nyari duit terus nyari pahala 41:49 tuh rada 41:50 [tertawa] 41:52 Rada angel, ya? 41:56 Oke. 41:57 Jadi, solusi krisis 41:59 ini gimana kita bisa mengatasinya? 42:03 Gimana? 42:04 Krisis yang mana, nih? Krisis ekonomi 42:06 atau 42:06 Ekonomi lah. 42:06 Ah, ekonomi, ya. 42:08 Jadi, ini solusi krisis tuh ada ada dua 42:11 hal nih, Pak. Ada dari sisi rakyat 42:15 ada yang kedua dari sisi pemerintah. 42:18 Jadi kalau dari sisi rakyat itu, Pak, 42:20 istilahnya tuh yang harus mulai 42:22 didengungkan tuh adalah 42:23 keinginan untuk banyak bersedekah, Pak. 42:26 Ehm. 42:27 Jadi kalau sudah semakan sedekah itu di 42:29 digulirkan 42:31 dimana pokoknya beli deh warung ke 42:33 tetangga, beli tukang gorengan, tukang 42:34 apa 42:35 enggak butuh juga beli aja gitu loh. 42:37 Nanti kasih ke orang lain itu nanti 42:39 terjadi perputaran suprarasional, Pak. 42:41 Akan ada rezeki baru yang masuk dari 42:43 langit gitu loh. 42:44 Sehingga nanti krisis cepat beres. 42:48 Yang kedua dari sisi pemerintah. 42:50 Pemerintah tuh kalau bisa yang tadi saya 42:52 bilang ketika ngasih bantuan nih ke para 42:55 pekerja 42:56 tolong lihat ini dibelanjakan untuk ke 42:58 fakir miskin. Nah, untuk melatih 42:59 kejujuran tuh kalau bisa sambil disuruh 43:01 ibadah, Pak. 43:03 Terus kasih ke UMKM juga nih bantuan 43:04 untuk mereka usaha harganya turunin dong 43:06 supaya saling membantu. Itu juga harus 43:08 juga dibuat untuk rajin ibadah, Pak. 43:11 Nanti kalau sudah rajin ibadah tuh saya 43:13 buat wadah rezeki bangsa ini besar pasti 43:15 Allah akan memberikan solusi karena 43:18 menurut saya nih, Pak 43:20 bahwa masalah yang ada di bumi saat ini 43:22 tuh sudah sulit pakai akal manusia 43:24 biasa, Pak. 43:25 Harus dengan bantuan Allah plus akal 43:27 manusia gitu loh. Ini yang jadi masalah 43:29 kalau saya lihat baru mengedepankan akal 43:32 kita nih bangsa kita negeri kita ini, 43:34 Pak. 43:35 Hatinya kurang. Padahal nih kalau ingat 43:37 penjajahan di atas dunia ini nih 43:40 di pembukaan kita kan apa, Pak? Berkat 43:42 rahmat Allah yang Maha Kuasa gitu 43:43 selesai. Tapi saat ini rahmat Allah 43:46 jarang dipakai nih, Pak. 43:48 Menurut saya 43:49 saya juga terus terang nulis buku ini 43:51 kan berkat rahmat Allah, Pak. Pas lagi 43:53 Covid 43:55 malah ada buku dan gara-gara Covid juga 43:57 bisa masuk TV saya, Pak. 43:59 Iya. 43:59 Ada acara TV namanya Gemar Matematika 44:01 bersama Pak Ridwan tuh masuk TVRI. 44:04 [tertawa] 44:04 Padahal sebelumnya acara itu enggak akan 44:06 pernah bisa masuk TVRI, Pak, katanya 44:07 gara-gara Covid. Ini karena berkat 44:10 rahmat Allah jadi hal yang positif. 44:11 Makanya 44:12 ketika kita coba membawa Allah dalam 44:14 menyelesaikan masalah ini 44:17 pasti cepat selesai, Pak. 44:19 Oke. 44:21 Pak Ridwan, saya dari hamba Allah nih, 44:24 saya sedang kena problem rumah tangga. 44:26 Bagaimana cara mengatasi menurut metode 44:28 yang Pak Ridwan tawarkan? 44:31 Oh, ini harus ditanya dulu problem rumah 44:33 tangganya apa ini ini. Karena 44:35 terus terang 44:37 istilahnya kan ada yang namanya fungsi 44:39 akal 44:40 fungsi hati, fungsi panca indra. Jadi 44:42 kan harus dikaji dulu secara akal tuh. 44:44 Masalahnya ini apa gitu kan. 44:46 Masalahnya apa setelah dikaji kalau 44:48 misalkan masih bisa pakai akal, pakai 44:49 akal dulu, Pak. 44:50 He 44:51 Kalau sudah berat nih pakai akal baru 44:54 pakai hati. 44:55 He 44:55 Seperti kalau mengerjakan soal matematik 44:57 gitu, Pak. Misal 5 * 7 berapa? Kan 44:59 enggak usah pakai hati, Pak. 45:00 [tertawa] 45:00 Pakai akal bisa. 45:02 Tapi satu hal sih kalau misalkan kita 45:05 misalkan punya masalah nih baik masalah 45:07 rumah tangga atau apa 45:08 berarti perbaiki dulu akal kita nih 45:10 sikap kita seperti apa ke pasangan atau 45:12 ke anak gitu kan. 45:14 Terus yang kedua misalkan ya panca indra 45:17 kita kita harus sehat. 45:19 Yang berikutnya adalah ibadah, Pak. Nah, 45:21 biasanya sih yang pengalaman saya secara 45:22 pribadi 45:23 kalau kita punya masalah itu perbanyak 45:26 sedekah, Pak. 45:26 He 45:28 Perbanyak sedekah jadi kan nanti wadah 45:30 rezeki kita membesar tuh. 45:31 He 45:32 Karena sedekah itu keimanannya ada, amal 45:34 salehnya ada menasehatinya juga ada gitu 45:36 loh. Ketika kita menasehati orang kita 45:38 berikan sedekah 45:40 insya Allah nanti Allah berikan jalan 45:41 keluar dari masalah yang sedang kita 45:43 hadapi. 45:44 Cuman kan karena saya tidak tahu 45:45 masalahnya kan jadi 45:47 susah ininya. 45:48 He, oke baik. Selanjutnya dari Ibu 45:50 Syarifah di Semarang. Assalamualaikum, 45:53 Pak Ridwan. Bagaimana jika kami 45:54 mengamalkan teori-teori ilmu alam gaib 45:57 dari suprarasional 45:59 di eh supaya tidak dikategorikan ilmu 46:01 syirik. Terima kasih. 46:04 Sebenarnya ini bukan ilmu syirik kalau 46:06 menurut saya, karena memang ini semuanya 46:08 masuk akal dan dalilnya tuh ada. Cuman 46:10 kan istilahnya 46:12 kata suprarasional tuh 46:14 di atas rasional, gitu loh. 46:16 Kalau prosesnya mah sangat alamiah, Pak. 46:19 Sangat tidak syirik. Cuman memang nanti 46:21 ada hal-hal yang sifatnya 46:24 keajaiban-keajaiban saja yang di situ 46:26 kita harus ibaratnya tingkatkan syukur 46:29 kita. 46:30 Bukan malah jadi sombong. Malah itu 46:32 nanti jadi bola salju, Pak. Ketika kita 46:33 semakin bersyukur, nikmat semakin 46:35 ditambah terus. 46:37 Di mana syiriknya? Orang kita mintanya 46:38 kepada Allah, kan? 46:39 [tertawa] 46:40 Mintanya kepada Allah, enggak kepada jin 46:41 segala macam, enggak. 46:42 Ini harus disuruh salat itu. Kalau salat 46:45 di mana syiriknya ya? Enggak ada ya? 46:46 Iya, enggak ada, enggak ada. 46:48 Oke, baik. Kemudian 46:51 dari Bapak Zaki di Tangerang. 46:54 Assalamualaikum, Pak Ridwan. 46:56 Eee mohon dijelaskan prinsip hidup X 46:59 plus Y plus Z. 47:01 Itu maksudnya, Pak. Silakan. 47:03 Gini. 47:03 Jadi kan tadi saya bilang ada yang 47:05 namanya wadah rezeki. Wadah rezeki itu 47:07 bentuknya kan wadah tuh tiga dimensi. 47:10 Ada sumbu X, sumbu Y, sama sumbu Z. 47:13 Sebelumnya saya tadi menerangkan ada 47:14 tiga antena manusia tuh. Antena panca 47:17 indra, itu secara syariat tuh sumbu X. 47:20 Terus antena 47:22 eee 47:23 akal, saya nyebutnya sumbu Z, dan antena 47:26 hati sumbu Y. 47:27 Nah, ketika bicara wadah rezeki ya. 47:30 Sumbu X, Y, Z ini saya ubah, Pak. 47:33 Sesuai dengan surat Al-Ashr sebenarnya. 47:35 Jadi sumbu Y itu beriman. 47:37 Jadi beriman Y. Y kepada Allah nih, Y 47:39 beriman. 47:41 Sumbu X itu amal saleh. 47:44 Sumbu Z itu istilahnya itu 47:47 eee ini, saling menasihati dalam 47:49 kebaikan, kebenaran ya, dan saling 47:51 menasihati dalam kesabaran. 47:52 Jadi kalau dikaji setelah saya melihat 47:54 ya surat Al-Ashr itu berhubungan dengan 47:56 wadah rezeki. 47:57 Ehm. 47:58 Jadi orang itu akan merugi ketika si 48:00 wadah rezekinya itu tetap. 48:03 Jadi ketika orang itu imannya tetap, 48:05 amal salehnya tetap, enggak 48:07 nambah-nambah gitu. Saling menasehatinya 48:10 tetap malah enggak menasehati. Nah itu 48:11 tuh disebutnya berarti wadah rezekinya 48:13 kecil. 48:14 Nah supaya kita tidak merugi, kalau bisa 48:16 setiap masa, setiap waktu berubah itu 48:20 berimannya nambah. Contoh beriman nambah 48:22 teh gimana sih? Karena kita semakin 48:24 yakin kepada Allah. 48:25 Awalnya puasanya Senin Kamis jadi Nabi 48:28 Daud gitu loh. 48:29 Ehm. 48:30 Jadi awalnya zikirnya cuma 48:31 Subhanallahnya misalkan cuma 11 kali 48:33 jadi 33 kali. Ditambah tuh. Amal saleh 48:36 juga sama. Kalau misalnya kita biasa 48:37 sedekah sehari 1.000 ya jadi 2.000. 48:41 Tambahin gitu loh. 48:42 Termasuk saling menasehati. Nah saling 48:44 menasehati itu kan butuh akal, butuh 48:46 ilmu, butuh kepintaran. Makanya mohon 48:48 maaf, orang yang rajin ibadah itu kalah 48:50 sama orang yang ibaratnya rajin ibadah 48:52 dan berilmu. 48:53 Ehm. 48:54 Karena 48:55 kalau yang rajin ibadah doang mah Y-nya 48:57 sama X-nya doang mungkin yang kuat. 48:59 Z-nya kurang. Kalau ini mah X Y Z yang 49:01 besar. 49:02 Ehm. 49:02 Makanya ada hal yang menarik nih. Mohon 49:04 maaf nih, saya ngomong sedikit politik 49:05 tapi dari sejarah. 49:08 Pak Prabowo sama Pak Jokowi kan sowannya 49:10 ke Mbah Moen. 49:11 Ehm. 49:12 Almarhum. 49:12 Ehm. 49:13 Mbah Moen tuh kenapa jadi sowan? Enggak 49:15 ke profesor mana gitu loh. Itu dua orang 49:17 calon presiden datang ke sowan ke Mbah 49:19 Moen. 49:19 Mbah Moen itu pertama Y-nya tinggi tuh. 49:21 Orangnya berilmu. 49:22 Ehm. 49:23 Terus istilahnya tuh 49:26 akal nya, amal salehnya juga bagus. 49:28 Terus akalnya juga bagus. Menasehatinya 49:30 kan beliau ulama. Wadahnya gede banget 49:33 sampai narik yang namanya calon presiden 49:34 datang. 49:35 [tertawa] 49:36 Kalau saya mah yang datang paling kepala 49:38 desa Pak kalau saya mah ibaratnya 49:40 atau ya murid-murid matematik gitu. 49:43 Oke. 49:44 Baik selanjutnya Assalamualaikum Pak 49:46 Ridwan. Kalau berhubungan dengan hutang 49:47 riba dan hutang bukan riba bagaimana 49:50 solusinya? Apa hanya dengan bersedekah 49:52 saja, Pak Ridwan? 49:54 Nah, ini ada yang menarik nih, Pak. Ini 49:57 juga pengalaman pribadi. 49:59 Jadi, tadi yang saya ceritakan tentang 50:00 tabungan jiwa tuh ada kode unik, Pak. 50:04 Jadi, kode unik tabungan jiwa itu 50:05 begini. 50:06 Kalau kita sedekah uang dapat uang. 50:08 Kalau kita misalkan bantu orang punya 50:10 hutang kita lunasin, hutang juga hutang 50:13 kita juga lunas, Pak. 50:15 Kalau misalkan kita nih ngembantu anak 50:17 orang lain misalkan disekolahin sama 50:19 kita dikasih beasiswa, nanti anak kita 50:21 pun bisa dapat beasiswa, Pak. 50:22 Mmm. 50:23 Nah, masalah hutang begini. Dulu saya 50:24 waktu beli ruko tiga, Pak. 50:27 Mmm. 50:27 Saya masih ada hutang tuh. 50:29 Istilahnya 800 jutaan itu tuh. 50:31 Mmm. 50:32 Terus saya bingung nih nyicilnya gimana 50:33 walaupun 50:34 [tertawa] 50:34 yang ngasih sih terserah, Pak. Mau 50:36 nyicilnya kapan saja lah, cuman saya 50:38 enggak enak gitu. 50:39 Apa yang saya lakukan, Pak? 50:41 Kan ada yang berhutang ke saya tuh. 50:43 Mmm. 50:43 Orang minjam uang ke saya gitu. 50:45 Nah, satu hari saya teleponin semua yang 50:47 punya hutang ke saya, Pak. 50:48 Mmm. 50:48 Hutang ke saya berapa lagi? 5 juta? Oke, 50:50 lunas. 50:51 Sini telepon. Berapa? 50 juta? Lunas. 50:54 Uh. 50:55 Iya, Pak. Ada yang 50 juta. Ini berapa? 50:56 20 juta? Lunas. 5 juta? 50:58 Sehari itu, Pak, 100 juta lebih yang 51:00 hutang ke saya saya anggap lunas. 51:01 Mmm. 51:02 Tinggal saya punya hutang ke orang. 51:04 [tertawa] 51:04 Terus yang terjadi? 51:06 Seminggu kemudian tuh saya ketemu orang 51:07 tua siswa yang minjemin itu. Dia nanya, 51:09 "Pak, ini kan rumah buat umat ya?" Iya, 51:12 Pak. Saya ini ruko buat umat. Saya juga 51:13 mau wakafkan. "Udah, saya juga wakaf 51:15 deh. Enggak usah dibayar." 51:16 Gitu, Pak. [tertawa] 51:19 Jadi, 51:20 kalau bisa istilahnya tuh 51:22 eh bantu orang yang punya hutang kita 51:24 bantu. Tapi itu tadi niatnya harus 51:26 karena Allah. Jangan sampai nanti 51:27 "Saya udah ikut Pak Ridwan nih, udah 51:29 bayarin orang punya hutang hutang saya 51:30 enggak bisa enggak lunas juga." Gitu 51:32 jadi 51:34 bertahaplah. Jangan dulu se-ekstrem itu 51:35 nanti takut makamnya belum nyampe. 51:38 [tertawa] 51:38 Nyesel lagi 51:40 jadi enggak ikhlas jadi mengganggu ya. 51:41 Iya, betul. 51:42 Oke, selanjutnya dari Bapak Sofyan di 51:44 Tangerang. Assalamualaikum Pak Ridwan. 51:46 Saya sangat setuju dengan Bapak Ridwan, 51:48 semakin banyak kita bersedekah semakin 51:50 luas dibuka rezeki ya Allah ya Allah. 51:53 Itu yang saya doakan. Saya termotivasi 51:55 dari motivator Merry Riana, jangan 51:58 bersedekah menunggu kaya. Dan jangan 52:01 bersedekah akan menjadi kaya. Dari Bapak 52:03 Sofyan di Tangerang mau tanggapannya. 52:05 Ya, jadi gini Pak sebenarnya dalam 52:07 konsep suprarasional nih. 52:09 Tadi X Y Z. 52:11 Jadi ketika kita bersedekah menurut saya 52:13 iman kita tuh tinggi karena yakin sama 52:15 Allah berarti Y nya naik. 52:17 Terus amal saleh itu sedekah itu X nya 52:19 naik. 52:20 Jadi membesar tuh memanjang X nya, Y nya 52:22 membesar. Nah Z nya itu akan sangat 52:24 bagus kalau kita sedekah sambil bilang 52:26 eh nanti tolong ya. Nih rajin salat. 52:29 Z kita naik berarti apa? X Y Z nya 52:32 membesar atau nambah man panjang berarti 52:34 volume atau wadah rezekinya itu tambah 52:37 besar berarti berkah pun tambah banyak 52:40 Pak. 52:40 Ehm. 52:40 Gitu logika suprarasionalnya Pak. 52:43 Ehm. 52:43 Jadi jangan takut sedekah makanya terus 52:45 terang. 52:46 Pada saat krisis ini uang jangan 52:48 ditahan-tahan, jangan disimpan di bank, 52:50 ditumpuk-tumpuk jangan banyakin sedekah 52:52 aja bantu orang. 52:53 Ehm. 52:53 Ngasih beras, ngasih apa, ngasih apa 52:55 gitu loh. 52:56 Oke. 52:57 Kemudian dari Ibu Yani di Batam. 52:59 Assalamualaikum Pak Ridwan, saya Ibu 53:02 Yani dari Batam benar apa yang sudah 53:04 diuraikan Bapak. Saya pernah berdoa 53:06 ingin sekali selalu bersedekah tapi 53:09 enggak punya uang, enggak enggak punya 53:10 penghasilan. Sehingga Allah jawab 53:12 kemampuan keterampilan. Dan di waktu 53:14 Covid ini saya mendapat konektor masker 53:18 sampai sekarang. 53:21 Lebih kurang 1.400. 53:23 Pcs. 53:24 Dan bersyukur. 53:26 Saya sudah sedekah kepada mobil jenazah. 53:29 Untuk beli Alquran, mukena juga anak 53:31 yatim dan rumah sakit di Palestina. Saya 53:34 ingin bergabung insyaallah. 53:38 Oke, soal tanggapannya. 53:39 gini yang jelas memang sedekah itu. 53:42 Punya dampak besar. Cuman kalau ada 53:43 pertanyaan nih, Pak Ridwan 53:45 kalau orang miskin gimana? Kan dia 53:47 enggak bisa sedekah. Nah, saya ingin 53:49 bilang di sini juga Pak Krisna Maha 53:51 Adilnya Allah. 53:53 Jadi dalam ilmu super rasional itu ada 53:54 yang namanya kode khusus. Ya. 53:57 Jadi kalau misalkan kita misalkan 53:58 orang pengen kaya dengan sedekah kalau 54:01 yang miskin enggak bisa sedekah gimana 54:02 cara jadi kaya? 54:04 Caranya gampang, Pak. 54:06 Sering wirid Ya Ghani Ya Mughni Ya Ghani 54:08 Ya Mughni gitu loh. Istilahnya tuh. Jadi 54:10 kayak 54:12 bilang Allah Yang Maha Kaya gitu kan. 54:13 Sering dibaca itu. Nanti kita jadi kaya 54:16 dengan syarat ada usaha, Pak. 54:18 Jadi kalau pengen pintar baca Ya Alim Ya 54:20 Alim Ya Alim. Pengen kaya baca Ya Aziz 54:22 Ya Aziz Ya Aziz gitu loh misalnya tuh. 54:23 Ya Ghani Ya apa? 54:25 Ya Ghani Ya Mughni gitu. 54:27 Jadi istilahnya tuh 54:28 kita akan baca sesuai dengan apa yang 54:31 kita inginkan. Kalau pengen pintar Ya 54:32 Alim gitu. Ini yang salah kadang gini, 54:34 Pak. Guru, Pak. 54:36 Guru harusnya wiridnya Ya Alim Ya Alim 54:38 Ya Alim supaya jadi pintar. Ini misalnya 54:40 Ya Ghani Ya Ghani Ya Ghani. [tertawa] 54:42 Jadi ke sekolah jadi bawa barang 54:43 dagangan. 54:45 Tapi dia jarang belajar gitu. 54:47 Kalau pengen pintar sama pengen kaya 54:49 berarti bacanya Ya Alim sama Ya Ghani 54:51 gitu. 54:52 Oke. 54:53 Selanjutnya dari Ibu Abu Zahid. 54:55 Assalamualaikum, Pak Ridwan. 54:57 Waalaikumsalam. 54:58 Menurut Bapak menurut Bapak nih yang 55:00 paling baik itu jadi orang sukses atau 55:02 jadi orang beruntung? 55:04 Kalau menurut saya sih yang paling bagus 55:06 adalah jadi orang bermanfaat, Pak. 55:09 Jadi atau jadi orang yang bernilai. 55:11 Jadi orang yang bernilai itu orang yang 55:13 bermanfaat. 55:15 Jadi kalau misalnya orang sukses bisa 55:16 jadi sukses untuk dirinya sendiri tapi 55:18 dia tidak bermanfaat buat untuk orang 55:19 lain gitu. Itu tidak bagus. Makanya kan 55:22 dalam istilah tuh 55:23 kalau ini ya istilahnya tuh 55:27 Albert Einstein bilang lebih baik jadi 55:28 orang yang bernilai gitu loh daripada 55:30 orang sukses. Yang saya baca kemarin 55:32 juga 55:33 Kiai yang dari di tuh bilang 55:36 lebih baik orang yang kaya dan berjasa 55:39 Ehm. 55:40 daripada kaya doang gitu loh. 55:41 Ehm. 55:42 Makanya kalau saya lebih suka jadilah 55:43 orang yang bernilai atau orang yang 55:45 bermanfaat, Pak. 55:46 Ehm. 55:47 Pinter bermanfaat bagus, pinter tidak 55:49 bermanfaat tidak bagus. 55:50 Ehm. 55:51 Orang yang tidak pinter bermanfaat jauh 55:52 lebih bagus daripada orang pinter tidak 55:54 bermanfaat. 55:54 Masyaallah. 55:57 Assalamualaikum Pak Ridwan, maaf 55:58 bagaimana bersedekah sementara utang 56:00 banyak? Ehm, Pak Ridwan bagaimana ingin 56:03 sekali bersedekah tapi utang banyak? 56:05 Ehm. 56:06 Ini pertanyaan menarik nih. 56:08 Jadi kalau misalkan kita itu punya 56:11 banyak utang ya 56:13 utamakan itu adalah istilahnya itu bayar 56:16 utang dulu. 56:17 Tapi kalau pakai teori saya yang tadi 56:19 coba bantu orang juga yang berutang ke 56:21 kita, Pak. 56:22 Ehm. 56:22 Jadi misalnya dilunaskan atau ada orang 56:24 saudara kita punya utang yang lebih 56:25 kecil dari kita nih bantuin gitu. 56:27 Ehm. 56:28 Terus karena yang sudah seperti ini, Pak 56:29 berarti Bapak teh harus pakai 56:32 ilmu suprarasional yang lain. Artinya 56:34 apa? 56:35 Bermainnya tuh di doa, Pak. Sering 56:37 bershalawat, sering berpuasa, 56:39 mendekatkan diri kepada Allah supaya 56:41 sumbu Y-nya yang gede. 56:42 Ehm. 56:42 Karena ketika untuk bersedekah kan uang 56:44 kita enggak cukup nih. 56:45 Ehm. 56:45 Ibaratnya X-nya enggak bisa berkembang 56:46 nih karena uang kita sempit, Y-nya yang 56:48 diperbesar. 56:49 Ehm. 56:49 Jadi bahasanya gini, Pak. 56:52 Kalau misalkan panjang X kita cuman 1 m 56:54 Ehm. 56:55 enggak bisa dikembangkan lagi karena 56:56 kita enggak punya uang nih. 56:58 Ehm. 56:58 Z-nya cuman 1 m, Y-nya dibuat jadi 10 m. 57:01 Jadi volumenya kan jadi 10 nih. Bisa 57:03 jadi ketika 10 itu akan ada rezeki tak 57:05 terduga. 57:06 Ehm. 57:07 Seperti yang saya alami kan saya enggak 57:08 bayar utang saya loh, Pak. Yang punyanya 57:10 bilang "Sudah, Pak gratis." 57:13 Ehm. 57:13 Saya juga wakaf selesai berarti. 57:15 Ehm. 57:16 Nah itu keajaiban itu terbentuk karena 57:17 kita punya wadah rezeki yang membesar 57:19 sesuai dengan kebutuhan utang kita tadi, 57:21 Pak. 57:21 Oke. Selanjutnya assalamualaikum Ustaz 57:23 Ridwan. Jika ibu hamil bayi di dalam 57:26 kandungannya terlilit tali pusar menurut 57:29 dokter karena bayi masih putar-putar 57:32 menurut supranatural bagaimana 57:34 solusinya? dari Ibu di Bekasi? 57:36 Supra rasional gitu ya. 57:38 Eh, supra iya supra rasional. 57:40 Nah, ini terus terang kalau sudah 57:42 hubungannya dengan yang 57:44 medis gitu kan, terus misalkan 57:46 dokter sudah bilang begini dan begitulah 57:49 istilahnya teh. 57:50 Jadi, kita mungkin pasrahkan kepada 57:52 Allah dan ada upaya Pak, Bu. Jadi, upaya 57:56 supra rasionalnya 57:58 perbanyak selawat istilahnya gitu. 58:00 Mungkin perbanyak sedekah dan mohon 58:02 kepada Allah bahwa dimudahkan urusannya 58:04 kepada saat melahirkan. Nah, 58:07 sedekah, terus bisa jadi mungkin kita 58:10 berselawat, ngaji, puasa dan lain-lain 58:12 tuh memperbesar wadah rezeki kita 58:15 sehingga doa kita supaya kita teh nanti 58:17 tidak ada masalah dalam pada saat 58:19 melahirkan itu terkabul. 58:22 Saya pun sama Pak, eh Bu. Ketika saya 58:24 sudah punya masalah yang 58:26 ibaratnya teh 58:27 sudah tidak bisa lagi dipikirkan 58:31 ya saya larinya itu apa ke doa dan zikir 58:34 seperti kasus 58:36 waktu istri saya mau melahirkan anak 58:38 kedua itu 58:39 eh 58:41 sudah mungkin lebih dari seminggu enggak 58:42 melahirkan-melahirkan saya bingung itu. 58:44 Waduh, ini gimana nih? Saya agak malas 58:46 dioperasi caesar gitu. Banyakin doa 58:49 ajalah banyak doa. 58:51 Pas mau dioperasi caesar 58:53 ada yang unik. 58:55 Dokter bilang awalnya perempuan anaknya 58:56 jadi laki-laki terus katanya ini enggak 58:58 usah dioperasi Pak kayaknya lancar gitu. 59:00 Jadi, 59:01 perbanyak doa aja diperbanyak tuh doa 59:03 dan zikirnya diperbanyak. 59:05 Ini sudah mulai banyak yang pesan buku 59:07 ini karakter supra rasional nih dari Pak 59:09 Slamet 59:11 di Megamendung apa di mana nih? 59:13 Assalamualaikum, saya berniat membeli 59:15 buku cara berpikir supra rasional 59:18 tulisan Ridwan Hasan Saputra. 59:20 Slamet Mega, ya eh harganya 60.000 ya. 59:23 Silakan hubungin ke 0812 9499484 59:28 itu 59:29 ee Etara ya. 59:33 Kelihatannya enggak bisa dijawab semua 59:34 ini, kita keterbatasan waktu nih. 59:37 Nanti juga Pak Ridwan juga akan memberi 59:40 materi ya 59:41 di IMC ya. 59:43 Ee 59:44 oke. 59:49 Wah, 59:50 sayang kalau enggak diulang acara ini, 59:51 acara ini mesti diulang-ulang. 59:52 [tertawa] 59:53 Dari Rizal 59:55 insyaallah Evergreen ditanya oke baik. 59:59 Ee jadi kesimpulannya bagaimana Pak 1:00:01 Ridwan untuk orang yang sekarang 1:00:03 kesulitan kesulitan rezeki ketika masa 1:00:05 pandemi ini? Yang harus diperhatikan 1:00:07 yang seharusnya difokuskan apa? Nah, 1:00:10 jadi gini 1:00:11 kesimpulan akhir ya, jadi Bapak Ibu 1:00:13 ketika misal masa pandemi ini yang 1:00:15 banyak pengangguran dan segala macam 1:00:18 ya yang artinya penghasilannya 1:00:19 kuranglah. 1:00:20 Gini, 1:00:21 jadi pertama 1:00:23 tingkatkan keimanan. 1:00:26 Tingkatkan keimanan dari aktivitas 1:00:27 ibadah ya. 1:00:29 Perbanyak puasa, zikir, ngaji dan 1:00:31 lain-lain itu 1:00:33 sangat pentingnya harus untuk 1:00:34 mendapatkan rida Allah. 1:00:36 Yang kedua, 1:00:37 ya istilahnya tuh 1:00:40 perbanyak amal saleh. 1:00:42 Bantu tetangga, 1:00:44 orang tua, 1:00:46 bantu apa untuk kepentingan masjid apa 1:00:47 segala macam amal saleh tuh dilakukan. 1:00:51 Yang berikutnya adalah 1:00:52 saling menasihati. 1:00:54 Nah, saling menasihati di sini yang 1:00:56 sangat penting adalah 1:00:58 berprasangka 1:01:00 baik kepada Allah bahwa sebenarnya 1:01:03 Covid-19 atau krisis ini anugerah. 1:01:06 Saya terus terang secara pribadi sudah 1:01:07 menganggap Covid-19 ini adalah anugerah 1:01:10 buat saya pribadi, buat saya keluarga 1:01:12 dan buat lembaga saya. 1:01:14 Dan seharusnya ketika bangsa Indonesia 1:01:16 itu sudah berubah cara berpikirnya, ini 1:01:18 anugerah loh Pak, benar. 1:01:20 Salah satu contoh ya anugerahnya apa 1:01:21 yang? 1:01:22 Yang saya rasakan ya. 1:01:24 Pertama gara-gara Covid-19 saya masuk 1:01:26 TVRI, Pak. 1:01:27 [tertawa] 1:01:28 Berseri dan malah sekarang saya syuting 1:01:30 lagi, Pak. 1:01:30 Oh gitu. 1:01:31 Dibayar lagi secara khusus istilahnya 1:01:32 tuh. 1:01:32 Oke. 1:01:33 Itu yang pertama. 1:01:35 Bisa bikin buku, Pak. Buku karakter 1:01:37 suprarasional gara-gara Covid. Saya 1:01:38 enggak ke mana-mana ngetik terus. 1:01:40 [tertawa] 1:01:41 Oke, terus? 1:01:42 Yang ketiga ini bisnis saya nih di 1:01:44 bidang online malah sekarang maju nih, 1:01:46 Pak. Alhamdulillah. 1:01:47 Jadi sudah yang dulu beberapa orang yang 1:01:49 saya rumahkan sudah saya panggil-panggil 1:01:51 lagi untuk masuk kerja. 1:01:53 Yang berikutnya nih, Pak. Saya sama 1:01:54 Kemendikbud sudah diundang lagi untuk 1:01:56 ngisi karakter suprarasional. 1:01:58 Beberapa angkatan lagi. 1:02:00 Jadi saya [tertawa] bilang ini malah 1:02:01 jadi rezeki banyak yang tidak saya 1:02:03 pernah pikirkan sebelumnya. Dan yang 1:02:05 terakhir, Pak. 1:02:06 Dulu saya bingung buka cabang KPM 1:02:08 seperti apa. Sekarang alhamdulillah 1:02:10 insya Allah gampang. Orang gampang buka 1:02:12 cabang KPM. Bisa ratusan sebentar lagi 1:02:14 se-Indonesia. Insya Allah, amin. 1:02:16 ya Covid ya. 1:02:16 Iya, anugerah. 1:02:17 Iya. 1:02:18 Nanti ya 1.30 juga Pak Ridwan ditunggu 1:02:21 di aula Insan Mandiri ya. 1:02:24 Iya. 1:02:24 Untuk kita akan mendengarkan sebuah 1:02:25 orasi dari Pak Ridwan nanti. 1:02:27 Pukul pukul 1.30. 1:02:30 Oke, Pak Ridwan katanya suka mencari 1:02:33 penderitaan malah dicari. Kok 1:02:34 penderitaan dicari? 1:02:35 Nah, gini Pak. Itu namanya merencanakan 1:02:38 kesusahan. Jadi dalam teori saya gini. 1:02:40 Ketika ingin memperbesar sumbu X, Y dan 1:02:43 Z itu harus menderita, Pak, syaratnya. 1:02:46 Kan ibaratnya 1:02:48 teori itu pasangan susah senang atau 1:02:50 pepatah kita mah berakit-rakit ke hulu 1:02:53 berenang-renang ke tepian 1:02:55 bersakit-sakit dahulu bersenang-senang 1:02:57 kemudian. 1:02:58 Jadi untuk meningkatkan sumbu Y misalkan 1:03:00 itu, Pak. Itu kan harus menderita. 1:03:02 Contoh puasa gitu kan. Kan menderita 1:03:04 puasa Senin Kamis. Salat tahajud 1:03:06 malam-malam harusnya tidur bangun kan 1:03:07 menderita. [tertawa] 1:03:09 Terus amal saleh nih sedekah 100.000 1:03:11 nyarinya susah gitu kan. 1:03:13 [tertawa] 1:03:13 Kan menderita gitu loh. 1:03:15 Tapi hasilnya masya Allah 1:03:16 Hasilnya benar gitu. 1:03:17 Oke. 1:03:19 [tertawa] 1:03:20 Aduh, sebenarnya masih banyak yang ingin 1:03:21 ditanyakan ke Pak Ridwan ya, Pak Ridwan 1:03:24 Hasan Saputra 1:03:27 Tapi kita sudah dibatasi oleh waktu, 1:03:29 terima kasih. Ada kesimpulan yang mau 1:03:30 disampaikan terakhir? 1:03:32 Kesimpulan saja Bapak Ibu, terus terang 1:03:33 pertama hidup ini sekarang kita tidak 1:03:35 punya pilihan kecuali kembali kepada 1:03:37 Allah Dan berpikir positiflah kepada 1:03:39 Allah, jangan menggerutu kepada Allah, 1:03:41 jangan mengeluh. 1:03:42 Saya jangan suuzonlah kepada Allah, gitu 1:03:44 saja 1:03:45 Baik, terima kasih Pak Pak Ridwan, 1:03:47 mudah-mudahan keluarga juga kru dari Pak 1:03:49 Ridwan juga hadir di sini, terima kasih 1:03:50 sudah bersama-sama datang ke Rasil 1:03:53 Saya Muhammad Krisna dan Anis mohon 1:03:56 pamit, wabillahi taufik walhidayah. Eh, 1:03:58 juga Andi ya Andi, terus bagi yang mau 1:04:00 memesan bukunya Pak Ridwan karakter 1:04:03 supra rasional menjadi pemenang di masa 1:04:06 krisis harganya 60 ribu, hubungi 1:04:08 0812-9499-484, 1:04:12 Etara Terima kasih, wabillahi taufik 1:04:15 walhidayah, wassalamualaikum 1:04:16 warahmatullahi wabarakatuh