Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad
- wa ala ali sayyidina Muhammad.
- Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari
- ini hari Rabu tanggal 16
- Maret 2022 atau tanggal 12 Syakban 1443
- Hijriah.
- Ya. Ee tadi Anda mungkin terkaget-kaget
- nih suara penyar siapa [tertawa]
- itu suaranya tentu Anda sudah kenal ya.
- Bagi Anda yang dulunya suka nonton TVRI
- tadi adalah suaranya
- Bung Yasir Denas.
- kami cuplikan dari YouTube untuk
- mengenang Anda ee tentang Yasir Denhas
- sekarang sudah ada berada di samping
- saya menjadi bintang tamu kita dalam
- acara TU kita.
- Beliau lahir di dekat Sawah Luntu itu
- apa namanya tuh? Mm
- Silungkang. Silungkang. Sawah Lunto.
- Kira-kira 9 km dari
- apa tuh? ee
- tambang, Batubara, Umbilin. Tapi lebih
- banyak besarnya tuh di Bukittinggi, SD
- di Bukittinggi, SMP di Bukittinggi, SMA
- di Bukittinggi, kemudian kuliah di UI di
- FH UI Fakultas Hukum.
- Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam.
- Bung Yasir Denhas
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Kemarin kami bertanya, saya manggilnya
- apa nih? Uda, Abang, atau Bung?
- diulang bung aja
- lebih nasional
- lebih nasional Bung Bung Yasir Denha
- Anda tentu mengenalkan baik ya ee kalau
- Anda adalah penggembar dunia dalam
- berita. Saya termasuk penggemar acara
- dunia dalam berita walaupun acara itu
- cuma setengah jam dari ee jam 09.00
- malam sampai jam 21.30 ya sampai jam
- 09.30 cuma setengah jam tapi gemanya
- luar biasa itu ya mungkin karena
- satu-satunya dulu kan
- oke
- kan belum ada stasiun TV yang lain
- [tertawa]
- [terkesiap]
- dan ee
- Bung Yasir ini sekarang usianya sudah 78
- tahun alhamdulillah masih diberi
- kesehatan sementara ee teman-teman lain
- Tati Tito sudah enggak ada, Anita Rahman
- sudah enggak ada, Sri Mariati juga sudah
- enggak ada. Kemudian
- ee Sam Amir juga sudah enggak ada.
- Heeh.
- Sambas sudah enggak ada. Kemudian Idrus
- ini guru bahasa Indonesia saya waktu SMA
- 8 sudah enggak ada. Rusdi Saleh masih
- ada ya?
- Masih. Masih.
- Alhamdulillah.
- Kemudian Ahmad Syahrif sudah enggak ada
- juga.
- Almarhum
- sudah. Hasan Ashari Oramahi
- masih ada.
- Masih ada. Kemudian Sazli Rais
- masih.
- Masih ada.
- Kemudian Yan Partawijaya
- juga masih ada.
- Masih. Anita Rahman sudah enggak ada.
- Ahmad Sarif juga sudah enggak ada. Tuti
- Aditama juga sudah enggak ada. Hasan
- Asari e Hasan Asari Rahma ini orang NTT
- ya.
- Iya.
- Kemudian Dian Budiargo
- masih
- sekarang sudah dokter komunikasi nih
- beliau nih ya.
- Iya.
- Kemudian Mak Sopak
- sudah
- sudah enggak ada juga ya.
- Inkemaris juga sudah enggak ada
- Inkemaris. Saya terkesan waktu beliau
- mewawancara Margaret Teacher ya, PM
- Inggris dan juga Yasera Arafat.
- He
- pimpinan waktu itu. Subhanallah.
- Ee ini para penyiar ini suka ada yang
- masih hidup ya? Suka ada perkumpulan
- enggak sih? Suka arisan. Ada.
- Ada ada
- ya di mana biasanya?
- Ya enggak tentu aja. Kadang-kadang bisa
- di ee mana?
- di Plaza Senayan bisa di mana-mana lah,
- di restoran, di Cikini atau di mana gitu
- ya tergantung sponsornya. [tertawa]
- Biasanya antar antar ee rekan sendiri
- sih
- sponsornya.
- Heeh. Kalau lagi ngobrol kenangan apa
- biasa yang suka dibicarakan ke
- teman-teman?
- Ya paling lebih banyak cerita soal apa
- sih? paling soal pertelevisian sekarang
- ini, kemudian juga ya kenangan-kenangan
- kita masa lalu,
- terutama barangkali ya mungkin ee
- yang lebih agak pribadi. He.
- Hmm.
- Punya anak berapa, punya cucu berapa,
- [tertawa]
- kesehatan berapa
- eh kesehatan gimana kesehatannya? Ya.
- Iya. Ee Anda juga boleh mengirim apa
- namanya WA ke Rasil ke 081199
- 9720.
- Apa perbedaan penyiar TVR dulu dengan
- penyiar-penyiar sekarang? Kalau yang
- saya lihat ya, kalau penyiar
- dulu pun beda dengan artis. Pakaiannya
- sopan, gitu, santun.
- Kalau sekarang penyiar dengan artis sama
- itu cara berpakaiannya, sisiran
- rambutnya.
- He he.
- Udah kayak artis juga gitu kalau
- sekarang kan.
- Iya.
- Kalau dulu kan
- jaz-nya apa semuanya terus ada.
- Kalau dulu itu memang
- ada ketentuan ya, ada aturannya ya.
- Ada ada. Jadi ada ada pakemnya, ada
- prasyaratnya.
- Heeh. Kalau kita dulu mau siaran itu ya
- memang harus harus tampil tuh prima
- gitu. Heeh.
- Cara berpakaian segala macam itu memang
- harus pakai jaz.
- Itu jaz disediakan oleh kantor atau ee
- bawa sendiri rumah?
- Iya bawa sendiri dari rumah. Tapi kita
- biasanya sih dapat jatah gitu berapa
- bulan sekali dapat jatah gitu.
- Tinggal ngukur aja ke Taylor.
- Heeh.
- Dan nah itu jadi hak milik ya mungkin
- lusinanlah jaz-nya gitu. Makanya saya
- tadi kalau Anda bilang kemarin itu
- bahwa ini ada
- ada syuting saya pakai jaz lah [tertawa]
- supaya orang lebih
- lebih ingat gitu.
- Kalau sekarang ini dengan ee casual
- begini kan beda ya. [tertawa]
- Tapi ingatlah wajah kan enggak bisa
- lupalah. Ee
- dan kemudian begini, prasyarat utama
- dulu itu penyiar itu adalah voice,
- suara gitu.
- Suara ya.
- Nah, kemudian yang kedua itu baru ee
- profile penampilan
- performanya kira-kira kena masuk enggak
- di
- ee di kamera gitu kan.
- Itu jadi prasyarat utama. Tapi yang
- paling utama itu adalah suara.
- Suara
- beda dengan sekarang kan. He.
- Sekarang suara apa aja boleh gitu.
- Yang penting penampilan.
- Heeh. Penampilannya juga penampilan cuek
- kan lebih banyak. Kalau yang agak formal
- itu kalau saya lihat ya kalau boleh saya
- sebutkan he
- antara lain adalah Metro TV.
- Heeh.
- Itu lebih lebih bagus. Kemudian juga ee
- Kompas TV.
- Ee barangkali juga satu dua ada di TV1.
- Tapi yang lain-lain tuh
- Heeh.
- kayaknya
- modis semua ya. Ah, betul. [tertawa]
- Rambut di chat gitu ya.
- Kita enggak bisa bedain ini penyiar
- berita, pembaca berita atau artis gitu.
- Iya. Kalau saya bilang dulu kan beda
- antara
- artis dengan dengan penyar berita tuh
- beda kostumnya ya.
- Beda. He kostumnya beda.
- Jadi ya kan dunia dalam berita tuh
- ditayangkannya jam 09.00 live ya. Jam
- 09.00 itu jam berapa sudah berada di TV?
- 2 jam sebelumnya kita sudah harus.
- Terus berita diterimanya kapan? 2 jam
- itu
- ee enggak kira-kira 1 jam sebelumnya
- kita korek.
- Jadi 1 jam itu
- 1 jam pertama itu
- ya kita make up dulu lah gitu.
- Oh make up dulu terus
- ya dandan dulu, make up segala macam.
- Terus nanti kira-kira selesai make up ya
- kita koreksi dulu beritanya.
- Hm. He.
- Nah, tapi kalau saya
- he
- mungkin sudah menjadi kebiasaan ya.
- Heeh.
- Saya misalnya siaran nanti malam
- Heeh.
- Tapi pagi ini saya dengerin dulu stasiun
- radio
- Heeh.
- dari luar negeri BBC London,
- Deutche Veller atau Radio Australia.
- Saya dengar dulu
- karena saya ee perkirakan nanti malam
- pasti beritanya itu yang keluar gitu.
- He.
- Nah, yang saya utamakan itu adalah
- pronounciation-nya.
- He.
- Ini bacanya ben kayak gimana gitu. Oh,
- begini. Yang benar.
- He.
- Jadi, alhamdulillah begitu saya on air
- di jam 09.00 di TVRI
- rasanya sih jarang saya salah baca gitu.
- Terutama pronunciation untuk bahasa atau
- istilah-istilah asing gitu ya. N seperti
- router itu bacaannya gimana?
- Reuter.
- Reuter yang betul Reuer karena itu
- bahasa Belanda ya.
- Iya.
- Terus ada kota di Ukraina kan orang
- bacanya KIF.
- He.
- Harusnya
- kalau kita biasanya dari dulu bacanya
- Kiev.
- Kiev. He
- bukan KIF ya.
- K I.
- Nah, itu
- orang bacanya KI.
- Sekarang ini kan di Mandalika tanggal 18
- sampai 20 Maret ini kan ada
- MotoGB itu
- MGB. Iya. sebelum ini kan sudah ada kan
- minggu-minggu yang lalu kan sudah ada
- beritanya
- mereka ee latihan kan.
- He.
- Nah, saya dengar itu di televisi mana
- aja selalu bacanya Grank Prik. Grand
- prick gitu.
- Grand prick. Harus salah itu ya?
- Salah
- harusnya
- Grand Prix itu.
- Iya, itu kan bahasa Perancis.
- Grand Oh, bukan bahasa Inggris ya.
- Bukan bahasa Inggris.
- Oh, ground pre.
- Grand Prix.
- Grand Prix.
- Heeh.
- Hm. H.
- Saya sampai saya kirim WA ke Ros
- Silalahi,
- saya bilang,
- "Kuping saya enggak salah dengar." Saya
- bilang,
- "Apa teman-teman Anda tuh bacanya grank
- prik prik semua.
- Yang betul tuh saya kasih tahu grong pr.
- Nah, kemudian ada yang merubah gitu."
- Nah, kan di dalam berita kan ada dari
- bahasa Belanda, Prancis apa dari mana
- bagaimana untuk mendapatkan pronation
- yang yang betul? Bagaimanainya? Kuncinya
- sebetulnya di situ.
- Dapat dari mana tuh?
- Kalau di TVR itu kan ada ini ada ee apa
- namanya? Ee
- alat yang
- bukan ada perpustakaan dan di
- perpustakaan itu ada ensiklopedi.
- He.
- Saya lebih banyak belajar dari situ.
- Hm.
- Jadi kalau misalnya saya temukan pada
- waktu ngecek berita itu ada istilah yang
- agak aneh gitu ya yang belum pernah saya
- dengar. Saya buka dulu ensiklopedi.
- Hm.
- Kemudian bagaimana pronunciation-nya?
- Oh, begini. Terus saya ingat itu. Jadi
- begitu baca udah enggak salah gitu.
- Ditambah lagi pagi-pagi sebelumnya saya
- sudah dengar stasiun luar negeri dulu. H
- banyak belajar. Karena kita penyiar tuh
- sebetulnya harus terus-menerus
- belajar gitu. Enggak boleh kita merasa
- diri kita udah wah gue udah mapan nih
- jadi penyiar
- enggak perlu lagi belajar gitu. Enggak
- ada nonsens itu.
- Oke Iwan. Kami masih berbincang-bincang
- dengan Bung Yasir Denas. Dannya dipisah
- Denas.
- Iya.
- Yasir. Denas.
- Beliau juga menulis buku judulnya Kiat
- Sukses menjadi presenter profesional
- edukasi di balik biografi Yasir Denas.
- Penyiar teladan kaya pengalaman.
- Pengantar dan penulis ada Taufik Ismail
- budayawan. Dia juga ikut ee memberikan
- sambutan.
- Ken kenapa saya ee klaim penyiar teladan
- kaya pengalaman?
- Karena
- karena pada waktu tahun 8 ada pemilihan
- penyiar ee radio penyiar terbaik radio
- non RRI dulu tuh Radio Swasta Niaga.
- Heeh.
- Ee se DKI Jakarta dan saya juara satu.
- Oh gitu.
- Jadi penyiar teladan pertama gitu. Oke.
- Nah, karena itu makanya saya klaim
- penyiar teladan kaya pengalaman.
- [tertawa]
- Bagaimana saya enggak kaya pengalaman?
- Saya sudah siaran di radio itu sejak
- tahun 1964.
- 64 di radio radio apa?
- Lagi bukan radio Angkatan Udara.
- Angkatan udara. Terus radio belum?
- Angkatan udara berapa tahun?
- Ee lama juga sih.
- Lama ya.
- Sekitar
- angkatan udara tu di mana? Di Polonia
- atau di mana?
- Polonia. Polonia
- sekarang masih ada. Dan sekarang saya
- masih siaran. Oh, masih di sekarang ya.
- Airman 107,9 ya. Masih siaran dalam
- bahasa Padang ya.
- Oh, enggak
- enggak yang acara Padangnya
- itu acara padangnya juga ada itu
- seminggu sekali tapi saya program biasa.
- He.
- Ee Selasa, Kamis.
- Ee nama acaranya apa?
- Selamat pagi Jakarta, selamat pagi
- Indonesia, selamat pagi dunia.
- Masyaallah.
- Selasa dan Kamis jam .00 sampai jam 10.
- Kemudian Sabtu pagi jam 0. 10
- acaranya mari bernostalgia.
- Jadi lagu-lagu tempo dulu gitu.
- H seperti lagu siapa? Titi Sasandora
- gitu
- ya. Titi Sandora, Erni Johan segala
- macamlah [tertawa]
- [berdehem]
- Indonesia, Ridi Suryani.
- Nah, itu saya siaran berdua sama istri
- saya.
- Oh, gitu. He
- kemudian Minggu malam juga
- kembali bernostalgia bersama Yasir
- Denhas dan Rina Denhas
- istri.
- Iya.
- Masyaallah. Yang beli nyerta ini.
- Iya.
- Oke ya. Yang lawat beliau ee Bapak Yasir
- dan Yasin datang bersama istrinya di
- sini ya. Eh, dan Bung Yasir ini menulis
- buku judulnya Kiat Sukses menjadi
- presenter profesional edukasi di balik
- biografi. Yasir Denhas penyiar teladan
- kaya pengalaman. Yang bilang teladan
- bukan Pak Yasir sendiri. Memang pernah
- ada yang pemilihan mengenai itu. Dan eh
- Bung Yasir Denas terpilih menjadi
- penyiar teladan. Di halaman 133 buku ini
- ada contoh melafazkan kayak ini aja
- huruf ibzaiyah ya. Bagaimana A B C D
- ada pengucapannya seperti apa? A gitu.
- I
- seperti B gitu.
- Itu perlu diajarkan juga ya.
- Iya dong.
- Kan kalau kita dengar cuplikan tadi dari
- TV itu Bung Yasir masyaallah kata demi
- kata begitu jelas banget dengan suara
- baritonnya. Tidak ada suatu kata pun ya
- ngomong apa tadi ituak enggak semuanya
- kata demi katanya jelas.
- Nah sekarang contoh aja ya misalnya ee
- ee akronim DPR ya.
- Orang bacanya DPR
- itu salah. Yang betul tu DPR.
- DPR.
- D-nya itu tajam gitu.
- DPR DKI.
- Oh, gitu.
- Bukan DPR, bukan DKI.
- Nah, itu yang banyak penyiar-penyiar
- sekarang enggak enggak tahu.
- Enggak kurang kurang begitu diperhatikan
- ya.
- Iya. He.
- Kalau kita memang dulu itu belajar gitu
- ee artikulasi
- h
- ya pengucapan kat apa ee kata demi kata,
- huruf demi huruf
- itu dipelajari dulu gitu.
- Oke. Baik, kita akan bacaan W. Silakan
- Anda mau kirim WA. Oh ya, nanti kami
- juga akan membacakan nomor HP Bung Yasir
- Denas. Barangkali Anda mau telepon, mau
- tanya-tanya silakan siapkan pulpen
- keratan kertas. Saya akan bacakan dulu
- ee WA yang masuk. Asalamualaikum, Bung
- Yasir. Senang sekali Bang Yasir. Bung
- Yasir bisa ada di
- Rasil. Selamat datang di Rasil.
- Ee Bung Yasir, bisakah Anda cerita
- bagaimana ceritanya Anda bisa gabung di
- TVRI? Silakan.
- Ya, tadi ee off air saya sudah cerita
- sama Anda kan? H
- ee dulu itu saya kan ee
- saya memang mungkin karena berkah ya
- dari Allah Subhanahu wa taala saya
- diberi suara baron.
- He.
- Dan kalau dulu itu
- itu diseleksi gitu untuk pembaca iklan.
- H.
- Nah, kebetulan
- mungkin lebih dari 60% iklan yang
- beredar di Indonesia, baik di radio, di
- televisi, maupun di bioskop itu adalah
- suara saya.
- He.
- Dan itu kita itu di di dites dulu ya,
- dipitching dululah gitu. Di antara
- sekian penyiar siapa yang suaranya cocok
- untuk membacakan iklan A gitu. Prof.
- Iklan apa yang yangang diingat diingat
- oleh Bung Yasir ini? Banyak sekali ya.
- Ya, ribuan.
- Ribuan. He.
- Dan ee mungkin Anda kalau di layar kaca
- eh TV RRI dulu pernah nonton Kate
- Pacific.
- Oh, itu suaranya Yasin tu.
- Panam Pan American.
- Nah, banyak sekali deh rokok apalagi
- [tertawa]
- jadi ee produk-produk ee segala macam
- produklah Pak. Oke,
- saya pernah bacakan.
- Nah,
- jadi kau kembali ke pertanyaan tadi
- bagaikan sejarahnya Bung Yasir bisa
- gabung di TVI seperti apa?
- Ya itu kebetulan karena memang hari-hari
- itu saya kan sering rekaman di Sanggar
- Pra TV ya.
- Nah, kebetulan salah satu penyiar ee TV
- RI waktu itu Rini Sutomo.
- Rini Sutomo. Istri dari Dedi Sutomo.
- Iya, betul. Heeh. Ee dia telepon saya
- untuk bacain salah satu produk dari
- Unilever.
- Hm.
- Dia kan ee memang radio producernya
- Unilever.
- Terus datang ketemu baca. Selesai baca
- dia bilang sama saya
- kalau di radio itu kan dulu dikenal
- orang saya tuh Denny Denhas ya. Den
- bukan diasir den.
- Dia bilang, "Den, ee ini ada TVRI lagi
- nyari penyiar
- untuk siaran berita." Katanya,
- "Anda mau enggak?" "Ya mau dong." H
- ini kesempatan saya pikirkan.
- "Ya udah bikin aja CV." Tapi saya belum
- yakin juga itu omongan Rini waktu itu
- benar apa enggak ini apa cuman dia guyon
- atau bercanda gitu.
- Saya penasaran. Saya kebetulan dari ee
- Pasar Baru Timur itu ke Gunung Sahari
- itu dekat gitu rumahnya Ahmad Syarif
- almarhum ya.
- Heeh. Saya mampir ke rumah Ahmad Syarif.
- Saya bilang, "Apa benar, RIP TVRI cari
- penyiar untuk pembaca berita." Oh, iya.
- Katanya ente bikin deh ee lamaran.
- Katanya bikin CV
- ee besok bareng sama aneh, aneh anterin
- katanya.
- Dia kan ngomongnya Betawi banget.
- [tertawa]
- Ya udah besoknya kita ketemu. Saya
- datang lagi ke tempat dia nih
- bareng-bareng deh.
- Nah dikenalin sama ee Kasub berita waktu
- itu. Pak Adi Kasno.
- Adi Kasno
- dia bilang, "Pak Adi selamat pagi. Ini
- ee teman saya. Sebetulnya bukan teman
- ini guru saya." K [tertawa]
- dia bilang guru saya. Memang dia justru
- belajar siaran itu sama saya waktu saya
- di Antarnusa itu.
- Oke.
- Ini guru saya nih, Pak Adi katanya
- kepengin jadi pembaca berita di sini.
- Ya. Oke. Mana CV-nya? Udah saya serahin.
- Nanti tanggal sekian hari hari ini jam
- sekian datang ya tes katanya. Oke saya
- siap dulu ya.
- Begitu Hari H-nya itu saya datang
- kemudian dites yang tes mengetes saya
- itu Pak Viktor Kue
- Dr. Edwin Saleh Indra Praja
- Indra Praja
- itu penyiar dari Radio Australia kan
- dulunya tuh.
- Terus Tuti Aditama.
- Tuti Aditama.
- He. Sudah dites ada 60 orang.
- Ternyata yang lulus cuman saya sama Didi
- Yuda Prawira.
- He.
- Almarhum juga.
- Dan tapi saya dikasih kesempatan, "Anda
- tinggal pilih, Anda mau pembaca berita
- atau menjadi penyiar kontinuity katanya.
- karena dia lihat gaya saya atau cara
- saya berbicara mungkin cocok juga bisa
- buat jadi pembawa acara kan
- cara hiburan, cara musik kayak gitu.
- Saya bilang, "Saya mau jadi pembaca
- berita aja
- karena saya pikir pembaca berita kan
- lebih enak."
- Iya.
- Jam sekian sampai jam sekian tugas kita
- selesai itu pulang.
- He.
- Kalau jadi penyiar continuity dari pagi
- standby.
- Enggak tahu jam siaran berapa, jam
- berapa gitu onir-nya. Makanya saya pilih
- itu.
- Nah, Idrus bilang sama saya,
- "Bagus deh Anda pilih ee penyiar berita
- kata Idrus." Nah,
- jadi akhirnya masuklah ke TV RI kan.
- Nah, sebelum saya tune in di TV R
- yang paling ngetop itu Idrus itu sendiri
- gitu. [berdehem]
- Tapi sebulan 2 bulan akhirnya dia
- bilang, "Ya, karena saya tuh sudah kena
- lama sama dia ya." He.
- Saya kan sering main di R-RI ketemu di
- mana aja sama dia gitu.
- Dia bilang, "Hampir setiap hari itu
- surat masuk [tertawa]
- melulu."
- Dia bilang, "Den, gua udah kalah sama
- lu. [tertawa]
- Pada guru Anda, ya?"
- Heeh.
- Kenapa? Iya.
- Yang jadi fans favorit itu sekarang
- Anda, katanya jadi primadonanya TV. Dia
- bilang, "Ya, syukur alhamdulillah aja."
- Saya bilang gitu
- ya. Tapi ya persahabatan saya sama
- Idrusi tetap baik gitu.
- Oke.
- Baik. gitu jawabannya ya
- untuk Ibu Mino. Oke. Ee
- dari Bapak Asep ee
- Bang Krishna dan Om Yasir Rin Khas. Saya
- terakhir lihat Om saat nonton film G30
- SPKI tahun ' eh sesekolah SMA Sukabumi.
- Saat itu Om sedang membacakan berita.
- Betulkah? Senang bisa dengar suaranya eh
- Mbak Unun Sugianto dan Mbak Rini semua
- masih adaah
- Mbak Bu Rini enggak ada ya
- Mbak Unun masih ada.
- Iya di film itu ada cuplikannya itu
- sedang membaca berita dan Yasenas.
- Hm
- ada ya
- enggak tahu. Saya sudah enggak ingat
- deh.
- Jadi di film itu ada cuplikan.
- Eh, jadi terakhir lihat Om saat nonton
- film G13 PKI tahun 5 sekolah di Sukabumi
- itu Om sedang membacakan berita.
- Hm. Jadi bukan pemain filmnya, tapi
- film itu mencuplik ee gambar
- mungkin juga mungkin juga
- gambar itu
- lu udah lupa itu ya.
- Tapi ada yang lucu kalau bicara soal
- Sukabumi.
- Saya kan pernah buka stasiun radio FM
- itu di Sukabumi.
- SMS itu.
- Nah, SMS FM gitu. Jadi fans saya,
- orang-orang Sukabumi itu cerita sama
- saya
- di buku itu saya ceritain gitu. Dia
- cerita
- karena di radio SMS tuh saya bikin
- program berita
- jam .00 pagi sama jam .00 malam. Jadi
- dua kali sehari gitu
- yang bacakan Bungi Yasir.
- Ya kadang-kadang kalau saya lagi di
- Sukabumi saya yang baca gitu. Jadi kalau
- saya yang baca, kalau saya siaran gitu
- di sana,
- mm mereka bilang,
- "Saya nyalain TV katanya."
- Tapi blank aja. Cuman saya bayangin Pak
- Yasir Denhas lagi baca berita. Padahal
- yang saya dengar radio SMS. Dia bilang
- [tertawa] gitu sampai kayak begitu. Saya
- bilang, "Waduh, bukan main deh."
- Oke.
- Ee, dari siapa ini? Dari Ibu Etius.
- Assalamualaikum Mas Krishna dan Yasir
- Denas. Saya lagi nyimak acara tamu kita
- Radio Rasil. Alhamdulillah hari ini Uda
- Yasir Denas diundang di Rodasil sebagai
- bintung tamu. Udah Yasir Denas juga
- sekarang ngisi acara Minangka Minang
- Maimbo setiap hari Selasa jam .00 sampai
- jam 5.00
- saya sering request lagu
- dari ee dari orangur Silungkang. Urang
- Silungkang ada lagunya. Saya masih
- menyimpan kasetnya. Saya senang banget
- udah Yasir Denhas hari ini bisa
- hadirasi. Terima kasih. Terima kasih
- dari Ibu Eti Rustan.
- Oh, Eti Rustam.
- Heeh.
- Ee sama Uni Awati Sari Rawamangun.
- Iya.
- Pengemar acara Minang Maimbau
- Airman Radio di Polonia.
- Hm.
- Kemudian dari Bapak Avianto. Salameng
- Bung Yasir dan Has. saya berapa kali ee
- Pak Yasir tugas liputan ke luar negeri
- ke mana saja dan ada kesankah yang
- menarik dari Pondok Cabe ini karena
- liputan ke luar negeri
- ee bukan liputan sih sebetulnya
- jalan-jalan gitu. H
- ee pernah saya waktu itu ee berada di ee
- ibu kota Belgia Brussel.
- Nah, ceritanya kayak di alun-alun lah
- gitu ya.
- Saya lagi jalan sama istri saya,
- kemudian ada keponakan
- ee kita ya bertiga gitu lagi jalan
- semacam alun-alun lah. Kalau di
- Indonesia ini di kota besarnya
- ee dari jauh kira-kira jarak 50 m ada
- rombongan turis gitu. Rombongan turis
- tuh orang-orang Jepang.
- Heeh. He.
- Tapi ada orang Indonesianya
- di situ. Suami istri.
- Heeh. Dia teriak dari jauh. Dia bilang,
- "Pak Yasir dan khas
- saya kaget juga. Eh, ini orang kok tahu
- saya." H
- dia lari dia nyamperin gitu. Aduh, lagi
- ngapain, Pak, di sini? Katanya, "Ya,
- saya lagi jalan-jalan aja."
- Eh, Anda ngapain? Ya, kita turour lagi
- turour katanya. Dia bilang, "Aduh,
- senang banget saya bisa ketemu." Saya
- kenalin sama istri saya, saya kenalin
- sama keponakan kan. Keponakan kan
- orang sana, lahir di sana gitu.
- [berdehem]
- Jadi,
- orang habis ngobrolngobrol
- ngobrolngobrol dia pamit. Nah, si
- keponakan saya ini kan orang Belgia,
- dia enggak bisa bahasa Indonesia,
- bisanya bahasa Inggris.
- Dia tinggi besar kayak ee siapa? Ada
- bintang film action di
- di bintang film Stepen Seagle. Kira-kira
- mirip kayak gitulah. Rambut panjang itu
- dia tanya sama saya ee Om tante dalam
- bahasa Inggris. Kalau sama istri saya
- dia ngomong bahasa Belanda. Istri saya
- bisa
- sama saya. Dia tanya itu tadi siapa?
- Enggak kenal. Kita enggak kenal katanya.
- Karena sebelum beberapa hari sebelumnya
- sejak saya datang itu
- di di rumahnya dia,
- He.
- Dia enggak percaya kalau saya tuh
- penyiar televisi gitu.
- Ya, kata istri saya, "Ini, ommu ini nih
- orang terkenal katanya di Indonesia,
- penyiar televisi."
- Dia enggak percaya. Jadi, ee akhirnya
- ketemu orang itu. Dia tanya, "Itu siapa?
- Justru saya enggak tahu itu siapa.
- Justru dia kenal saya. Nah, sekarang
- terbukti kan kata tantenya
- bahwa ini om itu dikenal orang.
- Enggak harus dia harus mengenal itu
- orang karena memang dia itu
- ee apa? Penyiar televisi. Baru dia
- yakin,
- baru dia percaya.
- Kalau kunjungan ke daerah tentu lebih
- dikenal lagi dong. Kunjungan ke daerah.
- Gimana kesan penggemarnya Bung Yasir?
- Waduh, kalau ke daerah sih udah banyak
- sebetulnya ceritanya.
- [tertawa]
- Banyak banget cerita.
- Heh.
- Ya,
- langsung dikerubungin tuh ya.
- Iya. Pernah juga lagi 17 Agustus ya di
- Jawa Timur gitu.
- Nah, jadi ada apa? Pawai. Pawai 17-an.
- He.
- Kita jalan pelan-pelan nih. Pawai yang
- sebelah kanan gitu. Kita jalan
- pelan-pelan kemudian
- ee kaca kita buka.
- He.
- Saya kan duduk di pinggir di samping
- sopir.
- Heeh.
- Begitu lihat wajah saya pada
- teriak-teriak tuh yang di pinggir jalan
- yang lihat pawai itu. He.
- Yasir Den Yasir Denas katanya pada
- teriak-teriak. Saya kasih tangan aja
- gini.
- He.
- Nah, saya kan waktu itu foto session.
- Heh.
- Fotografer saya orang Singapura, Cina.
- Singapura gitu.
- Dia tanya, "Itu siapa?" Kok dia tahu
- katanya. He,
- ya bagaimana enggak tahu orang saya
- setiap hari muncul di televisi. Saya
- bilang gitu.
- Wih, hebat ya katanya Yu katanya.
- [tertawa]
- Terus sampai mereka enggak lihat pawai
- justru melihat saya. Tapi kita mobil
- kita jalan pelan-pelan aja.
- Saya kasih tangan-tangan aja gini
- ya.
- Banyak sih sebetulnya
- tapi ada satu dua saya ceritakan di buku
- ini ya. Ya,
- oke, untuk Anda yang ingin mendapatkan
- bukunya atau ingin bertanya kepada
- Bung Yasir Rena, saya akan bacakan nomor
- HP-nya. Silakan siapkan pulpen sama
- kertas ya. Yasir Denas. Dennya dipisah.
- Denha ini kenapa dipisah nih?
- Ya memang dari orang tua begitu.
- Oh, begitu. Yasir. Denh
- nomornya 0815.
- Sudah. Kemudian 63.
- Kemudian 13.
- 24
- 6 3 0815
- 63
- 24 63.
- Oke.
- Kenapa nama Denhas itu memang dari
- sononya ada kayak begitu gitu?
- Den D-nya huruf besar. E N huruf kecil
- biasa. H-nya huruf besar. H S huruf
- kecil
- memang dari orang tua saya ngasih nama
- begitu. He.
- Dan kenyataannya
- 3 tahun yang lalu waktu saya buka Google
- itu saya cari itu nama Denhas itu ada
- 100 lebih gitu.
- Hm.
- Tapi depannya ada Arif Denhash ada
- macam-macam.
- He.
- Ada yang di Amerika, ada yang di
- Belanda, ada yang di Australia, ada yang
- macam-macamlah gitu
- lokasinya.
- Padahal nama Denhas tuh setahu saya di
- dunia cuman ada satu. [tertawa]
- Iya. Tapi mereka enggak bikin ee huruf D
- dan huruf Huruf besar. Enggak. Denhas
- biasa gitu. Nah, di situ bedanya.
- Oke. Di meja ini ada koran Republika.
- Barangkali
- Bung Yasir Denas bisa membacakan untuk
- mengenang bagaimana Bung Yasir Denas
- dalam membacakan berita nih. Mata masih
- awas enggak nih? Lum
- sudah 78 tahun loh.
- Lumayan. Sebetulnya ini kacamata saya
- kacamata
- ee tahun 2000 ini.
- Hm.
- Karena kacamata saya yang terakhir itu
- hilang gitu. Hm.
- Saya pulang siaran dari radio Airmen itu
- malam enggak tahu jatuhnya di mana,
- hilangnya di mana.
- Jadi ini kacamata kira-kira 22 tahun
- yang lalu. Enggak tahu masih bisa bisa
- baca tapi agak susah gitu. Tapi saya
- berusaha untuk sebaik mungkin.
- Oke, kita dengar ya bagaimana ya Denas
- diakan berita.
- Kementerian Kesehatan Palestina
- mengatakan pasukan Israel menembak
- hingga tewas seorang remaja dalam
- penyerbuan ke tenda-tenda pengungsian
- Palestina pada hari Selasa, 15 Maret
- dini hari tentara Israel juga melukai
- tiga orang lainnya. Remaja yang
- meninggal dunia diidentifikasi
- bernama Nader Ryan berusia 16 tahun.
- Militer Israel menunjuk merujuk kami
- maksudkan pertanyaan seputar kematiannya
- pada para militer polisi.
- Perbatasan yang tidak menjawab
- permintaan komentar. Penyerbuan itu
- terjadi di Balata kam pengungsi di
- sebelah utara kota Nablus tepi barat.
- Pasukan Israel yang beroperasi di daerah
- padat penduduk itu kerap dilempari batu,
- petasan, dan berhadapan dengan tembakan.
- Israel menduduki tepi barat dalam perang
- 1967
- berdasarkan konsensus internasional,
- negara Palestina kelak meliputi tepi
- barat dan jalur Gaza dengan Yerusalem
- Timur sebagai ibu kotanya. Israel
- mengatakan operasi militer dan polisi
- bertujuan untuk mengatasi terorisme.
- Sementara itu, Palestina memandangnya
- sebagai sarana untuk mempertahankan
- pendudukan militer yang berlangsung
- hampir 55 tahun dan tidak menunjukkan
- tanda-tanda akan berakhir.
- Mantap, [tertawa]
- Bung Yasir Denhas. Oke, ini ada Ibu Juni
- di Ciputat. Asalamualaikum Bung Yasir
- dan Has dan Mas Krishna. Alhamdulillah
- Bung Yasir
- dikaruniai oleh Allah
- subhanahu wa taala suara yang sangat pas
- dan cocok serta enak didengar sebagai
- pembaca berita. Betul Bung Yasir. Banyak
- pembaca berita sekarang yang bacaannya
- asal-asalan terutama pengucapan istilah
- asing intonasi dan tanda baca. Termasuk
- pembaca berita Rasil. tolong kasih
- masukan bagaimana harus menjadi seorang
- profesor Profesional
- agar enak didengar bukan hanya dari
- suaranya tapi juga cara membacanya. Oke.
- Kesalahan apa lagi yang ee Bung Yasir
- pernah temui di TV-TV swasta kita atau
- di radio tentang membacakan berita?
- Oh, banyak sekali ya
- terutama pronunciation. He.
- Kemudian kadang kala itu tidak ee
- mengikuti pakem gitu. Sebetulnya membaca
- itu juga ada ada pakemnya. Jadi ada
- titik ada koma kan.
- Ee kalau koma bagaimana kita membaca itu
- pada saat koma. Kemudian pada saat titik
- bagaimana nada baca kita gitu.
- Itu ada ada aturannya.
- Cuman sekarang ini kelihatannya
- kadang-kadang dibaca aja semau-maunya.
- enggak ada titik komanya sehingga orang
- susah nangkap gitu.
- Ini apa sih yang dimaksud gitu?
- Nah, kalau saya pada waktu membaca
- memang saya pelajari dulu sehingga saya
- mengerti betul dan saya paham betul
- kontens isi dari berita itu apa yang
- maksudnya yang dimaksud gitu. Nah,
- sesudah saya pelajari baru saya baca.
- H.
- Jadi, ya ada istilahnya kalau orang
- menyanyi itu ada penjiwaannya gitu.
- Heeh. He.
- Justru sekarang ini enggak ada penjiwaan
- itu sama sekali.
- H.
- Kalau saya lihat
- di situlah kelemahannya.
- Oke. Baik. Ini ada yang tanya lagi nomor
- telepon dari Bung Yasir Denas. Silakan
- siapkan pumpulan sama kertas. Saya akan
- bacakan kembali. Nomor HP Bung Yasir
- Denhas adalah 0815
- kemudian
- 63
- kemudian 13
- 24
- 6315
- 63
- 24 63
- Bung Yasir saya ingin tanya kalau Bung
- Yasir sendiri siapa penyiar favoritnya
- di TV itu zaman itu.
- Zaman itu saya suka Edwin Saleh Indra
- Praja.
- H. Kenapa?
- Karena kalau dia baca berita ya mungkin
- juga orang mendengarnya sama kayak
- mendengarkan saya gitu.
- Ee jelas gitu apa yang dia sampaikan
- itu.
- H
- titik komanya bagus, intonasinya bagus.
- Saya sudah mengagumi beliau itu sejak
- beliau itu masih siaran di radio
- Australia.
- Hm.
- Kalau di radio Australia itu memang ada
- beberapa penyiar yang bagus-bagus ya
- seperti Ebet Kadarusman.
- H.
- Terus Nuim Hayat.
- He.
- Itu penyiar bagus-bagus sih.
- Iya. Noim sekarang di sini setiap hari
- Senin.
- Hm.
- Oke. Kemudian dari Bapak Samsul Iimen.
- Asalamualaikum Bang Yasir.
- Waalaikumsalam. Pak Lut sekalian numpang
- tanya, kok rambut enggak berubah sejak
- dulu? Resepnya apa? Saya sudah mulai
- putih dan berguguran dari Samsul
- Sipinong. Benar rambutnya tetap hidam,
- hitam, tetap sehat dalam usia 78 tahun.
- Apa resepnya?
- Ya resepnya mungkin ya
- walau alam ya. H
- kalau menurut saya sebetulnya
- ee supaya kita sehat, supaya kita tatap
- bugar, fisik itu kan harus dijaga, harus
- dirawat ya.
- Jadi perawatan fisik dengan olahraga he
- secara rutin, kemudian ee apa pola makan
- juga begitu.
- Harus jelas gitu aturannya.
- Begitu juga pola istirahat. He
- itu aja sebetulnya. [berdehem]
- Dan kemudian mungkin ya mungkin karena
- saya ini seorang penggemar musik,
- penggemar lagu.
- Lagu lagu apa?
- Lagu apa aja?
- Kalau Anda mau tahu seluruh lagu yang
- ada di Nusantara ini mulai dari Aceh
- sampai ke Papua sana itu saya suka
- semua.
- Oh
- di samping lagu barat ya.
- He.
- Lagu barat saya juga suka lagu klasik.
- He.
- Lagu rock saya juga suka. Hanya metal
- yang saya
- ada koleksinya di rumah.
- Ya, sedikit-sedikit sih ada L. He.
- Dan kebetulan kalau ada yang mau dengar
- saya siaran
- boleh ya.
- Ya boleh.
- Dengarin radio Airman Radio
- 107,9 MHz
- secara streaming juga bisa.
- Oke,
- Bung Yasir. Salam. Apakah Bung Yasir
- masih merokok sekarang? Dari Bapak Edi
- Mariadi. Ini orang TV juga nih
- Depok ya.
- Nah,
- Edi Mariadi.
- Alhamdulillah saya sudah 8 tahun tidak
- merokok
- sejak tahun 19 eh 2014.
- Jadi 8 tahun sudah saya stop merokok.
- He.
- Dulu memang saya perokok berat gitu.
- Oke. Ini ee komentar. Kalau mau tahu
- rahasianya
- kok bisa berhenti merokok. E cuman satu
- saja.
- Apa?
- Saya pernah dicek kesehatan jantung sama
- dokter jantung di rumah sakit haji.
- Kemudian
- dia bilang, "Anda perokok ya?" Saya
- bilang, "Iya."
- Terus ah sekarang gini aja. Kalau Anda
- masih ingin ee merokok terus dan tidak
- ingin umur panjang,
- rokok aja terus dibilang gitu terus.
- Tapi kalau Anda ingin sehat,
- stoplah itu rokok. Katanya
- kata-kata itu aja itu
- beliau itu sudah almarhum sih.
- He.
- Berapa tahun yang lalu sudah meninggal
- gitu.
- Saya
- saya pulang ke rumah saya mikir-mikir
- omongan itu dokter benar juga ya. Hari
- itu kebetulan ada rokok di kantong saya
- Malboro Putih ya. Masih ada kira-kira ee
- berapa batang lagi?
- 12 batang gitu.
- 12 batang lagi.
- Hari itu saya habisin sampai malam sat.
- Terus bungkusnya saya buang ke tempat
- sampah. Besok pagi saya enggak ngerokok
- lagi. Saya enggak beli rokok lagi.
- Stop sampai detik.
- Masyaallah.
- Boleh ditiru tuh ya.
- Jadi bukan bukan harus makan permen
- segala macam. Udah
- kata-kata dokter itu aja tuh.
- H. Oke. Ini dari komentar dari YouTube
- ya. Aku nangis ingat zaman dulu nonton
- TVRI sekampung. TV ditaruh di halaman
- semua
- rukun. Hidup sederhana tapi bahagia.
- Kalau ingat-ingat masa itu hatinya
- terasa tenang, damai, khusyuk, tidak
- seperti zaman akhir ini.
- Ee kemudian terima kasih TVRI sudah buat
- masa keci saya begitu bahagia.
- Tiada kesombongan demi dari cara mereka
- berbicara. Ee adem dengarnya
- dan enak memandangnya. Waduh, itu
- komentar dari YouTube.
- Oke. Mm. Bung Yasir hobinya apa?
- Tadi saya sudah sebut
- apa?endengarkan lagu.
- Nyanyi, dengar musik, dengar lagu.
- Dengar lagu
- dan nyanyi.
- Heeh.
- Makanya di radio itu di Airmen itu saya
- kadang-kadang saya putar saya punya lagu
- lagu karangan beng ya.
- Bukan lagu lagu-lagu pop, kemudian lagu
- karaoke saya isi vokal gitu.
- Hmm. Hm. Gitu. Biasanya lagu-lagu apa?
- Lagu pop ya?
- Dan Iya, betul. He dan sebetulnya karier
- saya ini ee bukan sebagai penyiar
- awalnya. Saya itu penyanyi.
- Oh.
- Di buku biografi saya itu saya cerita,
- saya itu SMP kelas 2 sudah nyanyi
- sebulan sekali di RRI Bukittinggi.
- Hm.
- Masih pakai celana pendek.
- Oh, lagu apa itu waktu itu?
- Dulu kan lagi musim ee pop daerah.
- He. Bisa diperdengarkan sedikit?
- Hm.
- Macam-macam sih. [tertawa]
- Ee ya mungkin kalau mau tahu ya silakan
- dengar aja ya.
- Airman radio aja.
- Oke.
- Tapi ada juga di YouTube juga ada tuh.
- Di YouTube ada ya?
- Heeh. Lagu Juita Malam. Cari aja Yasir
- dan Khas ada di situ.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Yasir danas. Masyaallah
- subhanallah dari saya masih kecil
- sehingga sekarang masih terengiang suara
- khas dan merdunya. Syukron Rasul sudah
- mengundang Bapak Yasir Denas. Salam
- silaturahim dari kami pendengar hasil
- yang ada di Singapura dari Nurjamah
- binti Madiu di Singapura.
- Sedangar kitaasih.
- Hm.
- Kemudian Bang Yasir ee alhamdulillah
- diberikan umur yang barokah. Semoga
- sehat selalu. Saya dulu senang melihat
- berita. Terima kasih TVRI mengingatkan
- saya waktu kecil dari Ibu Yuti Reni
- Jaya.
- Oh Jaya Ciputat ya.
- Eh Pamulang dekat Pamulang.
- Pamulang.
- Asalamualaikum. Semoga tetap sehat ya.
- Saya merinding dengar baca beritanya
- dari Bapak Muhammad Irfan.
- Minta nomor teleponnya Yasir Den has
- dong. Oke saya akan bacakan lagi.
- Siapkan sama kertas ya. Mm. 0815.
- Sudah.
- Kemudian 63.
- Kemudian 13
- 24
- 6315
- 63
- 2463.
- Saya juga ingin menyapa teman-teman TVRI
- ya yang masih mungkin seniornya eh
- juniornya Bung Yasir tuh. He
- Mbak Inta Nugraha.
- Oh
- In Sukandar. Mbak Bonita masih ada
- enggak?
- Siapa?
- Bonita.
- Oh masih.
- Masih ya Bonita ya.
- Baru
- inesandar
- Desember kemarin saya ketemu di Hotel
- Sultan itu
- ada fotonya.
- Oh iya
- di situ juga ada. Saya saya suka kirim
- suka saya posting gitu di Facebook saya.
- Terus Malinda, Tengku Malinda. Malinda.
- Terus siapa anaknya almarhum rumah
- Farida Masyah?
- Mm.
- Ya Allah karim. Astagfirullahalazim.
- Siapa?
- Gina. Gina.
- Oh Gina.
- Gina. Apa kabar? Terus ee Mas Kepra juga
- apa kabar ya? Ya, Mas Kepra. Apa kabar?
- Mas Helmi Yahya. Halo, Mas Helmi.
- Kemudian udah bagaimana caranya menjaga
- suara tetap stabil walaupun usia sudah
- 78 tahun. Merokok pula apa dengan
- merokok suara jadi bagus? Dari Iwan
- Nurid. Dari Iwan Nur Said sekarang sudah
- enggak ngerokok kok ini.
- 8 tahun.
- Bagaimana cara merawat suara supaya
- tetap bariton itu? Iya. Sebetulnya sih
- kalau menurut saya itu berkah ya.
- berkah aja itu dan
- merawatnya ya mungkin karena
- saya suka nyanyi
- h
- jadi terlatih terus kan itu suara
- kemudian saya siaran gitu siaran itu
- juga
- ee besar pengaruhnya terhadap
- kondisi rongga dada, tenggorokan segala
- macam.
- Hm.
- Katanya pang ee Bang Yasir pernah ketemu
- Bang Luim Hayap waktu di Sukabumi ya?
- Bukan. Bukan di Sukabumi.
- Bukan. Bukan. Ee Nuim Hayat. Nuim Hayat.
- Bang Nuim itu telepon saya.
- Oh, telepon.
- Nah, dulu ada utusan beliau siapa sih
- namanya saya lupa itu.
- Dari Austral dari Rasi.
- Rupanya begini ceritanya.
- Mereka itu sudah survei gitu seJawa
- Barat. radio-radio mana yang baik
- menurut ee
- Rasi yang akan diajak kerja sama untuk
- siaran gitu.
- Rupanya mereka pilih radio saya itu
- SMS itu
- dan akhirnya datang itu ke Sukabumi.
- Ee sebelumnya mereka kirim program
- kemudian ceritanya mau tukar program
- gitu kita.
- Dan
- rencana juga seminggu sekali, setiap
- hari Minggu kita mau siaran langsung
- live
- dari Australia ee siaran langsung, kita
- dari Sukabumi siaran langsung kemudian
- dipancaruaskan gitu.
- He.
- Sama Radio Australia
- mereka pasang semacam apa itu parabola
- ya?
- Heeh.
- Tapi enggak jadi, enggak berlangsung
- karena saya sudah keburu ee angkat kaki
- dari situ, share saya, saham saya saya
- jual gitu.
- Oh, kalau di radio SK itu kan radio
- humor. Siapa yang
- me apa namanya
- mencanangkan ini jadi radio humor?
- Itu ide dari saya sendiri
- tahun.
- Oh, jadi dari dulu sebelum ada bagi
- sebelum ada sudah radio humor ya. 73
- kalau saya tidak salah itu
- sudah sudah r humor itu ya SK ya.
- I
- hmm
- dan kenapa saya saya bikin radio humor?
- Karena saya melihat orang Jakarta ini
- kan sibuk ya
- siang malam dari pagi siang sore malam
- kemudian stres gitu
- stres.
- Aduh apa ya kalau siaran biasa-biasa aja
- enggak ada manfaatnya buat orang banyak
- gitu. Saya pikir kita bikin humor aja
- deh
- bercanda-bercanda gitu.
- Eh, ternyata animanya besar sekali gitu.
- Sambut.
- Jadi
- responnya besar luar biasa sehingga
- akhirnya radio itu jadi populer, jadi
- terkenal. Bahkan kawan-kawan
- di stasiun-stasiun radio yang lain,
- terutama dari dulu di ee Melawa itu ada
- radio, Anda mungkin ingat ya, radio apa
- sih namanya? Saya juga lupa nama
- penyiarnya. cewek
- ya. Iya, ya.
- Yang centil yang centil itu tuh
- dulu dia alumni SMA 11. Jadi saya lupa
- namanya itu. Per sama dia itu setiap
- hari kalau kalau kita siaran itu
- terutama kalau saya siaran ya
- dia monitor gitu. H
- terus Anda ingat enggak radio Amigos?
- Heeh. Radio Amigos
- Arman Donida.
- Iya iya. Arman Donida.
- Nah itu dia bilang, "Den, kalau elaran,
- gua monitor loh." Padahal gua lagi
- siaran.
- [tertawa]
- Kenapa enggak enak aja, senang aja
- dengerinnya. Kocak di bilang gitu.
- Oke, dari YouTube lagi dari Yulni Welisa
- Jonggol menyimak. Oh, masyaallah yang
- ada di acara dunia dalam berita nih ya.
- Heeh. Oke. Kemudian dari
- Tangsel Monitor dari Bapak Muhammad
- kemudian masyaallah dari Amin Zuhri.
- Masyaallah, wajah dan suara Bung Yasir
- Danas masih seperti yang dulu waktu
- siaran di TVRI. Semoga sehat walafiat
- dan tetap istikamah.
- Amin. Amin.
- Dari Edmar. Salam Bung Yasir. Eh, dari
- Dalmin. Alhamdulillah nyimak. Kebetulan
- dulu suka nyimak. Sehat selalu ya. Ee
- Bung Yasir. Ee dari Elice suaranya yang
- khas masih teringat dari dulu sampai
- sekarang. Asma Wildati. Masyaallah luar
- biasa suaranya enggak berubah. Semoga
- beliau sehat selalu dan mungkin Rasil
- bisa buat jadwal beliau.
- Andrini Anjar Rini Depok hadir nyimak
- masih ingat wajah gantengnya. Dwi
- Ismanto ingat zaman masih kecil
- tahun-an.
- Chark Diajah Charkidi setia mendengar
- hasil Marita Zat penyiar favorit saya
- ini suaranya tenang banget. Adam Hawa
- Pondok Ranggon Nyiwak Rizka Rizka Rizka
- Rizka Pasar Minggu nyimak Syarif Hidayat
- setiap sore sehabis mandi pukul 17 saya
- pantengin TV untuk lihat Bung Yasir.
- Mantap
- Sarif Hidayat kala itu saya masih
- berusia 8 tahun saya suka dengan Yasir
- Denhas. Yasir Denhas sekarang saya
- umurnya 48 tahun. Oh 40 tahun yang lalu
- itu saya mendengar dunia dalam Lita.
- [tertawa]
- Luar biasa nih pendengar Rasil banyak
- juga ya.
- Hm. Banyak. H. Oh, Radio Monalisa nih.
- Ada ingat?
- Ah, iya Monalisa. Benar.
- Ini penyiar yang pernah baca berita di
- RRI ya maksudnya.
- Siapa sih cewek itu yang kenipu? Ya
- Allah. Saya padahal pernah MC sama dia
- tuh. Lupa namanya.
- Namanya lupa saya.
- Pokoknya
- Endang. Endang Monalisa.
- Endang Monalisa.
- Iya. Halo, Endang. Apa kabar Endang?
- Enggak tahu, sudah enggak pernah dengar
- suaranya dia lagi gitu.
- Hm.
- Dari Ibu Tia Legend ini Mat Pitung masih
- ingat dengan suaranya. Wah.
- Hmm. Ada yang nanya nomor telepon lagi.
- Oke. tadi saya sudah bacakan padahal
- nomor ee nomor telepon dari Bung Yasir
- Denas adalah 0815
- 63
- kemudian 24
- 63
- 63815
- 63
- 13
- 2463
- Bung Yasir e suruh diminta ini coba
- siaran dalam bahasa Padang sedikit aja
- Selamat siang sanak-sanak pandanga k
- nyobaa kab siangko. Mudah-mudahan sanak
- lahat-sehat
- sajo
- [tertawa]
- nama-nama pendengarnya sudah lupa tuh
- ya.
- Iya sudah lupa.
- Banyak sekali ya. Oke.
- Dan boleh dong ee saya promoin kalau mau
- dengar saya siaran di siaran musik ya di
- di Ermen Radio 107,9
- ee
- FM ya. He.
- Atau bisa ee secara live streaming bisa
- melalui HP.
- Heeh.
- Oke.
- Setiap hari Selasa pagi, Kamis pagi,
- kemudian juga Sabtu pagi dan Minggu
- malam. Yasir Denhas.
- Asalamualaikum.
- Menyimak dan mendengar salam Yasir
- Denhas dari Tuti dan Tuti Aditama Sukron
- dari Pak Sunan
- Batam. Ee Pak Yasir punya kenangan
- enggak dengan Syambas Penyar
- sepak bola acara desa ke desa pokoknya
- olahraga lah. Punya kenangan dengan
- Sambas. ee kebetulan enggak ada kenangan
- sih,
- cuman
- saya itu juga salah seorang yang suka
- kalau beliau itu sedang membawakan acara
- dari desa ke desa gitu.
- H ee siapa namanya
- ee Mas Anis bisa diputar enggak yang
- cuplikan TVRI itu yang lengkap itu yang
- ada belnya sampai penyiar-penyiara lain
- bisa diperdengarkan?
- Kita dengar ya.
- He.
- Hah?
- bisa ya. Oke. Enggak bisa.
- M
- oke,
- Bang Yasir. Ee
- sama sekali Bang Yasir bisa berada di
- Rasil. Kalau bisa siaran sering di sini.
- Ee [berdehem]
- nanti bosan kalau saya sering-sering
- gitu. Enggaklah. Kalau dulu di TVRI
- bagaimana bergiliran ee penyiarnya
- setiap hari apa di TV?
- Ada jadwal gitu.
- Ada jadwal
- setiap minggu itu diolling terus.
- He.
- Jadi enggak tentu harinya. He.
- Karena kalau ditentukan hari orang
- nonton dia aja gitu.
- Oh. Jadi
- diolling terus
- semua. Ada berapa penyiar sih untuk
- dunia dalam berita?
- Waduh banyak sih kalau penyiar beritanya
- itu banyak sekali sih. Mungkin sekitar
- 20 sampai 30 orang. Seluruhnya
- itu berita itu di Tier ada berapa macam
- kan dunia dalam berita yang
- bawah-bawahnya itu yang jam . Apa itu 5,
- jam . jam 09.00 terus .30 malam.
- Hm.
- Terus pagi jam 6.00
- pagi.
- Nama-namanya lain-lain kan ya?
- Lain-lain.
- Pinyarnya juga lain-lain ya.
- Iya. He.
- Oke. Ee ada yang tanya nih, bagaimana
- hubungan
- ee Bung Yasir Denas dengan para artis
- pada zaman itu? Karena kan juga mereka
- sering ke TV.
- Oh iya, sering ketemu ya
- dengan Eli Kasim dekat mungkin ya
- almarhumah.
- Oh iya kalau ada acara-acara beliau
- biasanya saya diundang gitu.
- H
- sampai sekarang ini pun juga masih masih
- terjalin hubungan baik dengan para
- artis.
- He.
- Karena saya punya program ee lagu-lagu
- lawas ya di radio.
- Heeh. Jadi
- seperti di Johan masih kali ya.
- Heeh. Jadi mereka
- ikut dengar kemudian saya putar lagu
- mereka gitu. Wah senang banget. Hm.
- Dan kebetulan ada ada grup
- Gentra Lestari Budaya itu kumpulan
- seniman budayawan di situ.
- Dan saya sebetulnya saya enggak minta
- saya di
- nama saya, nomor telepon saya dimasukin
- di situ.
- H
- ya udah sampai sekarang pun ya tetap aja
- terjalin hubungan baik dengan mereka
- gitu. Jadi kalau ada album mereka yang
- baru atau anaknya yang jadi penyanyi,
- putterin dong lagu anak saya nih
- dikirim. Iya, saya putar gitu.
- [berdehem]
- Kemudian dari
- Mas Nano di Citereup, Asalamualaikum.
- Masyaallah, alhamdulillah masih bisa
- dengar suaranya Bung Yasir Denhas.
- Teringat ketika kelas 6 SD tahun 1 saya
- mulai suka dengan dunia dalam berita
- TVRI. Sementara teman-teman masih main
- dijalanin ini gara-gara dengar suara
- Bung Yasir Denas. Salam sehat selalu
- buat Bung Yasir Denhah. Oke,
- saya jadi pengin kehasil katanya. Pengin
- ketemu Yasir Denas. Boleh, boleh.
- Ini penyar yang pernah baca berita RRI
- pernah di RRI enggak sih, Bung Yas?
- Enggak, enggak,
- enggak enggak pernah. Ya,
- saya pernah dites di RRI pernah
- sama-sama Ahmad Syarif.
- Tapi saya mengundurkan diri
- diterima. Tapi saya enggak mau gitu.
- He
- ya. Kalau dulu itu ya kita
- berkubang di
- broadcasting ya di radio gitu kan.
- Hm.
- Ya mungkin ee selerinya belum memadai
- barangkali waktu itu. Jadi saya
- mengundurkan diri.
- Ini ada yang tanya Bang Bung Yasrias di
- TVRI selerinya bagus enggak waktu baca
- dunia dalam berita?
- Iya
- ya lumayan. [tertawa]
- itu rahasia perusahaan.
- Oke. Bang Yasir pernah enggak makan di
- restoran? Enggak enggak boleh dibayar
- sama yang punyanya karena dia penggemar
- Bang Yasir.
- Ada juga sih
- gitu ya.
- Heeh.
- He.
- Pernah juga
- makan.
- Heeh.
- Di restoran.
- Iya.
- Tahu juga sih.
- Oh, gitu ya.
- H.
- Tapi yang yang lebih ekstrem lagi juga
- pernah.
- terutama cewek-cewek nih
- kalau ketemu main peluk aja gitu.
- Jadi ya
- pernah sekali waktu saya diundang
- yang undang saya itu Dedi Miswar.
- H
- Dedi Miswar anaknya nikah gitu
- di Balai Kota.
- Iya
- DKI.
- Jadi saya datanglah saya sama istri kan.
- Hm.
- Tiba-tiba begitu kita naik tangga, ada
- cewek teriak, "Ya sir, Denh dia langsung
- [tertawa] saya, saya gelagapan dong."
- Terus habis itu aduh bisa ketemu di sini
- ya? Katanya, "Aduh terima kasih. Terima
- kasih." Ya udah, terima kasih. Maaf ya.
- Saya kan ada istri saya. Saya bilang
- gitu, "Hm, kenalin dong istri saya."
- Saya kenalin.
- Udah. Terus dia pamitan.
- Istri saya tanya, "Itu tadi siapa?"
- Enggak tahu [tertawa] ya? Memang enggak
- tahu.
- Eh, tapi istri enggak cembur waktu itu.
- Enggak.
- Udah memaklumi ya?
- Sudah memaklumi.
- Memaklumi.
- Eh,
- wah, banyak sih cerita-cerita lucu
- begitu. Ketemu sama artis pun juga
- begitu.
- Pernah sama Roy Martin.
- He.
- Waktu itu di Carrefour ya.
- H.
- Ee kita tuh sudah dikasa ya, mau bayar
- gitu.
- Terus anak saya colek, "Pak, tuh ada Roy
- Martin tuh sebelah sana tuh."
- Ya, jarak jauhlah jaraknya mungkin ada
- di kasir sebelah lain ya.
- Gak, bukan di kasir. Dia lagi
- milih-milih barang gitu
- sama keluarganya
- kira-kira sekitar 30 40 m gitu.
- Udah biarin aja. Saya bilang gitu. Kalau
- papa balik badan entar pasti dia angkat
- tangan itu.
- H
- sombong juga dikit [tertawa]
- sama anak tapi ngomongnya.
- Ya udah terus sebelah mana tuh? Sebelah
- kiri papa lihat aja ke sana saya meleng
- gitu. Ya benar dia begini-begini Roy
- Martin
- saya balas lagi kan. Terus saya bisikin
- anak saya benarkan apa? [tertawa]
- Jadi kadang kala kita itu lebih lebih
- apa ya, lebih populer daripada artis
- sendiri
- karena setiap hari berkunjung ke rumah
- ya.
- Nah, itu dia
- redan
- lebih bermanfaat.
- Iya. Yang lucunya lagi ee Bung Kris,
- saya tuh
- pernah ee dapat informasi ini dari
- musika studio,
- studio rekaman kan.
- Jadi ee pada waktu ketemu sama salah
- satu produsernya, dia bilang,
- dia sebut namanya ini penyanyi si anu
- katanya. Saya sebut aja namanya Koni
- Konstantia.
- Heeh.
- Penyanyi tahun 90-an kan.
- Dia kalau lagi take vokal pas jam dunia
- dalam berita,
- dia lihat dulu. Dia bilang
- h
- lihat dulu ya.
- Dunia dalam berita siapa yang baca? Ada
- Yasir Dian enggak?
- H.
- Kalau ada Yasir Dian Khas kita break.
- Dia bilang gitu sampai kayak begitu.
- Yang syuting film pun juga ada yang
- begitu.
- Masyaallah
- ya. Alhamdulillah aja mungkin orang
- senang barangkali cara saya baca mungkin
- saya pikir begitu gitu.
- Oke saya bacakan berikutnya.
- Asalamualaikum
- Yasir. Saya sangat suka mendengar dunia
- dalam berita TV. Apagi kalau udah
- penyiarnya pada saat siaran tersebut
- sama ayah kami semua dikumpulkan untuk
- mendengarkan saat saya tinggal di
- Jakarta. Salam takzim Hirnal Savei di
- Kota Batam. Ini dari Batam ini
- jauh ya.
- Mm. Oke, Bung Yasir. Ee kita sudah
- mepet waktunya ya. Silakan yang mau
- mendapatkan buku kiat sukses menjadi
- presiden terprofesional edukasi di balik
- biografi Yasir Denas. penyiar teladan
- kaya pengalaman pengantar Taufik Ismail.
- Silakan bisa kontak ke nomor telepon
- Yasirdena sendiri di 0815
- 63
- 24
- 6 3 0815
- 63
- 24 63
- Ee terakhir ada yang mau disampaikan
- enggak ada sih Ya,
- kalau memang
- saya diberi kesempatan ya saya juga
- terima kasih banget [tertawa]
- karena saya dengar kelihatannya Rasil
- nih fansnya banyak juga ya.
- Iya ya. Tadi ada dari Singapura, dari
- Batam, dari Sukabumi.
- Ee
- oke dari Bapak Ibrahim. Masyaallah
- legend barokah.
- buat acara rutin dong dirasil katanya.
- Bang Cilandak C menyimak luar biasa
- salah seorang legenda penyerta zaman
- dulu suaranya khas banget sijah
- alhamdulillah bisa menyimak Bung Yasir
- danas.
- Oke terima kasih sekali lagi kami
- ucapkan kepada Bung Yasir Denas saya
- juga terima kasih
- walaupun di tengah kesibukannya masih
- menyempatkan diri untuk datang ke Rasil.
- Baik terima kasih perhatian Anda ee
- pendengar istri siapa namanya
- ya?
- Istri siapa namanya? Rina
- Rina. Terima kasih Ibu Rina sudah
- menemani Bengiastir di sini. Saya
- Muhammad Krishna kemudian juga Neza dan
- Anis Mali. Mohon pamit. Wabillahi taufik
- walhidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.